• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN KEPRIBADIAN HARDINESS PADA PENDERITA HIV/AIDS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN KEPRIBADIAN HARDINESS PADA PENDERITA HIV/AIDS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

i

GAMBARAN KEPRIBADIAN HARDINESS PADA PENDERITA HIV/AIDS

Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata I Pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

oleh :

Devina Zahra Santoso F1001320233

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

1

GAMBARAN KEPRIBADIAN HARDINESS PADA PENDERITA HIV/AIDS

ABSTRAK

Penderita HIV/AIDS akan mengalami semua reaksi psikologis seperti terkejut, penyangkalan dan kemarahan, menarik diri dan depresi, membuka diri, mencari teman, dan pada akhirnya menerima keadaan. Dalam menghadapi seluruh reaksi psikologis tersebut, individu dengan kepribadian tahan banting yang tinggi akan memiliki kontrol diri, komitmen dan kemampuan menghadapi tantangan sehingga apabila terjadi perubahan-perubahan di dalam maupun di luar hidupnya akan dilihat sebagai suatu kesempatan untuk tumbuh dan bukan sebagai ancaman bagi dirinya. Sifat tahan banting yang dimiliki oleh penderita HIV/AIDS akan memberikan hubungan yang positif dengan gangguan fisik dan mentalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS. Subjek penelitian sebanyak tiga orang yang merupakan penderita HIV/AIDS dengan usia 30 – 45 tahun yang tinggal di Yayasan Rumah Singgah Lentera Surakarta. Pencarian subjek dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif fenomenologi. Metode pengambilan data yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur dengan data tambahan menggunakan kuesioner skala kepribadian hardiness. Penelitian ini menggunakan analisis data secara induktif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS yaitu mampu melibatkan diri dalam aktivitas yang telah dihadapi, mampu mengendalikan beragam tindakan yang diambil, dan mampu melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS yaitu penguasaan pengalaman, perasaan positif, hubungan yang hangat atau mendukung, dukungan sosial, penerimaan diri, rasa ikhlas dan syukur.

(6)

2 ABSTRACT

People with HIV / AIDS will experience all psychological reactions such as shock, denial and anger, withdrawal and depression, open up, make friends, and eventually accept the situation. In the face of all the psychological reactions, individuals with high-end personalities will have self-control, commitment and ability to face challenges so that when there are changes in and outside of life it will be seen as an opportunity to grow and not as a threat to itself. The resilience possessed by HIV / AIDS sufferers will provide a positive relationship with the physical and mental disorders. This study aims to determine the description of personality hardiness in people with HIV / AIDS and the factors that influence the formation of personality hardiness in people with HIV / AIDS. Research subjects as many as three people who are HIV / AIDS sufferers with age 30 - 45 years who live in Yayasan Rumah Singgah Lentera Surakarta. Subject search is done by using purposive sampling technique. This research uses qualitative approach method of phenomenology. Method of data retrieval used is semi structured interview with additional data using questionnaire of hardiness personality scale. This research uses inductive data analysis. The results of the study show that the personality image of hardiness in HIV / AIDS sufferers is able to involve themselves in activities that have been faced, able to control the various actions taken, and able to see a change that occurs as an opportunity to develop themselves. While the factors that influence the formation of personality hardiness in people with HIV / AIDS is the mastery of experience, positive feelings, warm or supportive relationships, social support, self-acceptance, a sense of sincerity and gratitude.

Keywords: Hardiness personality, people with HIV / AIDS

1. PENDAHULUAN

HIV atau Human Immunodeficiency Virus yaitu sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jenis virus yang menyerang sel darah putih ini yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh manusia menurun. Sedangkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia selama kurang lebih lima hingga sepuluh tahun lamanya. Sistem kekebalan tubuh manusia akan menjadi lemah dan akan mudah muncul banyak penyakit yang menyerang tubuh manusia. Selain itu, penyakit yang muncul akibat kekebalan tubuh yang turun bisa menjadi lebih parah dari biasanya. Sistem kekebalan tubuh manusia berfungsi untuk membuat

(7)

3

antibodi yang berbeda-beda untuk setiap penyakit atau sesuai dengan kuman yang dilawan oleh antibodi tersebut, termasuk dengan antibodi HIV. Antibodi khusus HIV inilah yang terdeteksi saat hasil tes HIV dinyatakan positif (Murni, Green, Djauzi, Setiyanto, dan Okta, 2016). Orang dengan HIV membutuhkan pengobatan dengan Antiretroviral atau ARV untuk menuruknkan jumlah virus HIV dalam tubuh agar tidak masuk dalam stadium AIDS. Orang yang sudah terjangkit AIDS membutuhkan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik atau berbagai macam penyakit infeksi yang dapat berakibat fatal dengan berbagai macam komplikasinya (Departemen Kesehatan R.I, 2014).

Pada tahun 1987 di Indonesia, pertama kali HIV/AIDS ditemukan di Bali. Berdasarkan provinsi, wilayah Jawa tengah pada tahun 2014 menempati urutan ke enam di Indonesia dengan jumlah kumulatif kasus HIV sebesar 9.032 kasus dan AIDS sebesar 3.767 kasus. Sedangkan menurut resume profil kesehatan di kota Surakarta pada tahun 2014 terdapat 18 kasus HIV dan 47 kasus AIDS yang ditemukan (Departemen Kesehatan R.I, 2014). Sejak tahun 1999 penggunaan narkoba dengan jarum suntik telah menjadi faktor utama meningkatnya kasus HIV/AIDS di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta, Jawa Barat, dan Bali. Infeksi HIV/AIDS menular dari para pengguna narkoba suntik (penasun) kepada mitra mereka yang bukan merupakan pengguna narkoba suntik (non penasun) dan kepada para pekerja seks. Dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan penggunaan secara bersamaan tersebut, para pengguna narkoba jarum suntik sangat rentan terjangkit virus HIV (Wicaksana, 2009). Melakukan hubungan seks dengan pasangan yang bergonta-ganti dan tanpa menggunakan kondom juga menimbulkan resiko terjangkit HIV (Wicaksana, 2009). Selain itu, kelompok masyarakat yang juga berpotensi HIV adalah status donor darah, bayi dari ibu yang dinyatakan menderita AIDS, pecandu narkotik dan melakukan tindik dengan alat yang terpapar HIV/AIDS, dan mereka yang mempunyai banyak pasangan seks di diskotik atau bar, homoseksual dan heteroseksual, pola hubungan seks keluarga dengan penderita HIV/AIDS positif (pasangan penderita misalnya suami/istri) yang tidak menggunakan pelindung. Menurut penelitian,

(8)

4

risiko paling tinggi untuk terinfeksi HIV/AIDS yaitu perempuan pekerja seks. Hasil penelitian yang telah dilakukan di Moscow menemukan 79% dari perempuan pengidap HIV berasal dari kelompok pekerja seks (Villasis-Keever A, Ruiz-Palacios G, 2001).

Sesaat setelah didiagnosa HIV/AIDS, penderita memiliki keinginan untuk memberitahukan kabar tersebut kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, teman dan pasangan. Namun, reaksi yang diberikan kepada penderita terkadang positif dan bermanfaat tetapi juga tidak sedikit yang mendapatkan kekecewaan atau melebihi dari itu (Murni, Green, Djauzi, Setiyanto, dan Okta, 2016). Fleishman (1998) mengemukakan bahwa orang yang terjangkit HIV/AIDS akan berhadapan dengan situasi dimana dia harus berhadapan dengan hasil tes HIV yang positif, berhadapan dengan stigma dan diskriminasi, menghadapi rasa sakit akut yang terus menerus, dan berhadapan dengan berbagai sistem pelayanan medis, sosial dan hukum yang kompleks yang menghasilkan kecemasan dan hambatan secara berlebihan diluar kemampuan mereka.

Masalah yang muncul pada penderita HIV/AIDS selain masalah fisik juga ada masalah sosial. Masalah fisik terjadi akibat kekebalan tubuh yang menurun akibat terjangkit virus HIV/AIDS sehingga penderita juga rentan terkena penyakit lainnya. Sedangkan masalah sosial yang dihadapi penderita cukup memprihatinkan sebagai dampak dari adanya stigma terhadap penyakit HIV/AIDS ini (Purnama & Haryanti, 2006). Masyarakat umum menganggap bahwa penyakit HIV/AIDS ini adalah akibat dari perbuatan yang tidak sesuai dengan moral agama dan bangsa Indonesia seperti perilaku seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan seks dengan sesama jenis (homoseksual). Oleh sebab itu, para penderita dianggap pantas mendapatkan hukuman akibat perbuatan tidak bermoral tersebut. Stigma yang diberikan masyarakat ini muncul karena pemahaman mereka yang kurang terhadap HIV/AIDS. Penyakit ini dinilai sebagai penyakit yang mematikan dan sangat mudah menular melalui kontak sosial biasa seperti bersalaman dan sebagainya sehingga penderita HIV/AIDS sering dikucilkan dan mendapatkan perilaku diskriminatif dari masyarakat di sekitar mereka (Purnama & Haryanti, 2006). Seperti yang diungkapkan oleh Sarafino (1998) bahwa suatu penyakit dan

(9)

5

akibat yang diderita dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, maupun rasa tidak berdaya yang terus-menerus menyerang pasien yang ternyata dapat memperbesar kecenderungan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu. Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Yunita dan Ginanjar (2001) mengenai ODHA memfokuskan pada perkembangan status identitas penderita HIV/AIDS yang hasilnya adalah bahwa ODHA mengalami semua reaksi psikologis yang sebagian besar dialami oleh para ODHA seperti terkejut, penyangkalan dan kemarahan, menarik diri dan depresi, membuka diri, mencari teman, status spesial, tingkah laku altruistik, dan pada akhirnya menerima keadaan. Proses dalam menerima keadaan ini diduga karena adanya faktor kepribadian hardiness yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi semua reaksi psikologis yang terjadi.

Maddi dan Kobasa (2005) menyebutkan bahwa individu dengan kepribadian tahan banting mempunyai kontrol diri, komitmen dan mampu menghadapi tantangan sehingga apabila terjadi perubahan-perubahan di dalam maupun di luar hidupnya akan dilihat sebagai suatu kesempatan untuk tumbuh dan bukan sebagi ancaman bagi dirinya. Komitmen erupakan kecenderungan untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang telah dihadapi individu. Individu yang memiliki komitmen tinggi akan selalu melibatkan diri dalam segala aspek kehidupan seperti hubungan interpersonal. Mereka juga meyakini bahwa perubahan yang terjadi dalam hidup dapat membantu mereka berkembang dan belajar dari pengalaman yang telah diperoleh. Kontrol diri dalam individu merupakan kemampuan untuk mengendalikan beragam tindakan yang diambil. Individu yang memiliki kontrol diri mampu mempengaruhi dan mengendalikan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Individu tersebut percaya dirinya mampu menentukan terjadinya sesuatu dalam dirinya sehingga mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tekanan. Sedangkan individu yang mampu menghadapi tantangan mempunyai kemampuan melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Melalui pandangan yang terbuka dan fleksibel yang dimiliki, tantangan dipandang sebagai sesuatu yang harus dihadapai dan tidak dapat dipisahkan dari bagian kehidupan.

(10)

6

Kobasa, Maddi, & Courington (dalam Civitci dan Civitci, 2015) juga menjelaskan bahwa individu yang memiliki hardiness tinggi memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cenderung memandang kehidupan mereka itu menarik dan bermakna. Mereka percaya bahwa mereka mampu bertindak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan, apa yang mereka katakan dan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka menganggap bahwa perubahan yang terjadi memberikan makna dalam hidup, tantangan yang mereka hadapi adalah sebagai suatu yang menarik dan perubahan yang terjadi merupakan rencana kehidupan mereka sehingga mereka tidak mengalami stres dalam menghadapi semua peristiwa di hidupnya. Sebaliknya, menurut Riggio (dalam Evendi & Dwiyanti, 2013), individu yang hardiness-nya rendah kurang mampu mengendalikan dirinya saat menghadapi stres tinggi. Schultz dan Schultz (dalam Nurtjahjanti & Ratnaningsih, 2011) juga menjelaskan bahwa seseorang yang mempunyai hardiness rendah kurang mampu dalam mengendalikan situasi dan memiliki ketidakyakinan dalam kemampuan yang dimiliki sehingga memandang kemampuannya rendah dan tidak berdaya. Oleh sebab itu, individu yang memiliki hardiness yang rendah memiliki pengharapan yang rendah juga, membatasi usahanya dan mudah menyerah saat mengalami kesulitan sehingga mengakibatkan kegagalan.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kepribadian Hardiness menurut Bissonnette (1998), antara lain:

a. Penguasaan Pengalaman. Persepsi kontrol terhadap lingkungan di sekitar mengarah kepada perasaan menguasai menjadi sebuah pengalaman hidup. Penguasaan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil sehingga mengakibatkan meningkatnya kepribadian tahan banting (Brooks dalam Bissonnette, 1998). b. Perasaan Positif. Hubungan orang tua dengan anak yang hangat, peduli,

saling mencintai dan memimpin anak-anaknya akan memberikan penilaian diri yang positif bagi anak. Sikap-sikap tersebut mampu manjadikan seseorang melihat dirinya sebagai orang yang dicintai dan berharga bagi orang lain dan dirinya sendiri sehingga menimbulkan persepsi yang positif

(11)

7

dalam dirinya (Garmezy, Werner, Masten, Seligman dalam Bissonnette, 1998).

c. Pola Asuh Orang Tua. Cara orang tua dalam menunjukkan sikap optimis dan pesimis dapat dikaitkan dengan tingkat optimisme pada anak-anaknya. Hubungan yang hangat, positif, dan saling peduli di dalam keluarga yang berguna untuk kesejahteraan anak dan sesuai dengan kebutuhan anak mampu memberikan kontribusi untuk berkembangnya sikap tahan banting pada anak (Fischer dan Leitenberg dalam Bissonnette, 1998).

d. Hubungan yang Hangat atau Mendukung. Berdasarkan penilaian kognitif, orang yang keras cenderung lebih sehat dan menganggap hidup sebagai hal yang positif dan menantang. Hal tersebut tidak jauh dari peran keluarga yang memberikan sikap yang hangat dan saling mendukung sehingga konsep keluasan keluarga ini dapat menjadi kontribusi dalam membangun sikap hardiness pada anak (Huang dalam Bissonnette, 1998).

Kepribadian hardiness menjadi salah satu hal yang terpenting bagi penderita HIV/AIDS. Studi yang dilakukan Patrice, Nicholas, dan Leuner pada tahun 1999 menunjukkan bahwa sifat tahan banting memiliki hubungan yang positif terhadap kesehatan psikologis dan kepuasan hidup individu (dalam Taheri, Ahadi, dan Kashani, 2014) selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Brooks pada tahun 2003 juga menunjukkan hubungan yang positif dengan gangguan fisik dan mental. Sedangkan Nasiri mengungkapkan bahwa belajar meningkakan sikap tahan banting melalui komitmen, kontrol dan tantangan baik secara terpisah maupun kombinasi mampu menurunkan tingkat stres. (Khaledian, Babaee, dan Amani, 2016).

Berdasarkan paparan di atas, maka rumusan masalah yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah apakah ada kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS dan bagaimanakah gambaran kepribadian hardiness itu. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepribadian hardiness yang dimiliki penderita HIV/AIDS, gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang membentuk kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS.

(12)

8 2. METODE PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah penderita HIV/AIDS sebanyak 3 orang. Pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti yaitu penderita HIV/AIDS berusia 30-45 tahun dan tinggal di Yayasan Rumah Singgah Lentera Surakarta serta bersedia menjadi informan penelitian yang telah dinyatakan di dalam informed concent. Berikut adalah tabel data identitas informan penelitian:

Tabel 1. Identitas informan penelitian

Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif fenomenologi yaitu suatu studi untuk memberikan gambaran tentang suatu arti dari pengalaman-pengalaman beberapa individu mengenai suatu konsep tertentu (Herdiansyah, 2015). Metode pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur yang bertujuan untuk mengungkapkan pertanyaan penelitian mengenai gambaran kepribadian hardiness pada informan. Pertanyaan dalam wawancara disusun berdasarkan aspek-aspek hardiness yaitu komitmen, kontrol diri, dan juga tantangan. Selain itu, pertanyaan dalam wawancara juga disusun berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kepribadian hardiness pada informan. Tujuan dilakukannya wawancara ini yaitu untuk mengetahui gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang membentuknya. Kemudian, penelitian ini juga menggunakan bantuan skala kepribadian hardiness yang pernah disusun dan diujicobakan oleh Rania Saleh (2011). Skala terdiri dari 50 item yaitu 25 item favorable dan 25 item unfavorable dengan empat alternatif jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (SS), Tidak Subjek Usia Jenis kelamin Status HIV/AIDS Asal HIV/AIDS

RSR 35 tahun Perempuan Tahun 2012 Suami pertama P 37 tahun Perempuan Tahun 2014 Suami pertama MM 33 tahun Laki-laki Tahun 2015 Seks bebas sesama

(13)

9

Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala ini mempunyai validitas item bergerak dari 0,275 sampai 0,628 dengan p<0,05 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,901. Skala Kepribadian Hardiness ini bertujuan untuk mengungkapkan pertanyaan penelitian mengenai tingkat kepribadian hardiness pada informan. Penelitian ini bersifat kualitatif sehingga menggunakan analisis data secara induktif yaitu proses pengumpulan data menggunakan gambaran cerita dengan melakukan abstraksi setelah rekaman fenomena-fenomena khusus yang dikelompokkan menjadi satu dan didukung oleh instrumen pengukuran.

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS, mengetahui gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS di Surakarta dan faktor-faktor yang dapat membentuk kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS di Surakarta.

Hasil perhitungan skor skala kepribadian hardiness S1 menunjukan bahwa tingkat kepribadian hardiness yang dimiliki oleh S1 tergolong tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara di lapangan yang menunjukkan bahwa gambaran kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS yaitu komitmen para penderita HIV/AIDS yang mampu melibatkan diri dalam aktivitas yang mereka hadapi yakni S1 bersedia menjadi pengasuh di Yayasan Rumah Singgah Lentera karena panggilan hati dan merasa tidak tega melihat anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang ditinggalkan begitu saja oleh keluarga kandungnya. S1 juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti bergabung dalam KDS (Kelompok Dukungan Sebaya), mengikuti kegiatan dari Dinas Sosial bersama para ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan ADHA (Anak dengan HIV/AIDS) yang lainnya. S1 lebih terbuka dengan keadaannya. Subjek tidak merasa takut maupun minder apabila tetangganya mengetahui status HIV yang ia miliki. Walaupun ada yang mendiskriminasi namun subjek mampu menerimanya, mampu memberikan penjelasan tentang keadaan dirinya dan membela anggota keluarganya serta tetap menjalani hidup sehari-hari apa adanya seperti biasanya sehingga dapat dikatakan subjek mampu dalam mengontrol dirinya. kemampuan subjek dalam merespon

(14)

10

kejadian yang tidak terduga sebagai suatu masalah yang harus ditangani dan kecenderungan dalam melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dapat dilihat dari sikap subjek yang awalnya sangat terpuruk kemudian dapat bangkit dan menerima keadaan dirinya karena adanya dukungan dari teman-teman KDS dan juga anggota keluarganya. Saat mengalami diskriminasi pun juga dapat melalui itu dengan lapang dada dan mampu menjelaskan sendiri tentang keadaan ODHA yang sebenarnya. Subjek sudah mampu menerima keadaan dirinya dengan ikhlas dan saat ini berjuang dan fokus untuk bekerja dan tetap sehat demi merawat anak semata wayangnya dan juga para ADHA di rumah singgah.

S2 memperoleh hasil perhitungan skor skala kepribadin hardiness yang menunjukkan bahwa tingkat kepribadian hardiness yang dimiliki oleh S2 tergolong tinggi. Namun, dalam hal ini tidak sesuai dengan hasil wawancara di lapangan yang menunjukkan bahwa S2 menjalani aktivitas sebagai pengasuh ADHA di rumah singgah hanya karena ditawari bekerja oleh temannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. S2 juga tidak mengikuti organisasi maupun kegiatan sosial lainnya. S2 lebih sering berada di dalam rumah daripada melakukan aktivitas di luar. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa S2 kurang memiliki komitmen dalam hidupnya. Kemampuan subjek untuk mengendalikan beragam tindakan yang diambil, menginterpretasi, menilai, dan menyatukan berbagai peristiwa dalam rencana kehidupan selanjutnya S2kurang mampu mengontrol dirinya. S2 cenderung menutup diri dari lingkungan sekitarnya karena merasa takut apabila dikucilkan oleh tetangga dan keluarganya apabila tahu tentang status HIV yang subjek miliki. Kemampuan subjek dalam merespon kejadian yang tidak terduga sebagai suatu masalah yang harus ditangani dan kecenderungan dalam melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dapat dilihat dari sikap subjek yang awalnya sangat terpuruk dan sudah tidak ada semangat hidup. Namun berkat dukungan dari suami kedua dan anak semata wayangnya subjek mampu bertahan hingga sekarang. Subjek telah memaafkan semua kejadian yang ia alami termasuk HIV yang ditularkan oleh almarhum suami pertamanya dan berusaha untuk menjalani hidup

(15)

11

apa adanya dengan syukur, ikhlas dan bekerja keras. Subjek kedua saat ini juga fokus bekerja agar dapat menjalani pengobatan dan menghidupi anaknya.

S3 memperoleh hasil perhitungan skor skala kepribadian hardiness yang menunjukkan bahwa tingkat kepribadian hardiness yang dimiliki oleh S3 tergolong sedang. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara di lapangan yang menunjukkan bahwa S3 menjalani aktivitas sebagai pengasuh ADHA di rumah singgah karena ingin mencari kesibukan setelah berhenti menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) karena terjangkit HIV. S3 juga tidak mengikuti organisasi apapun dan hanya fokus sebagai pengasuh di rumah singgah membantu keperluan ADHA untuk berobat di rumah sakit. Kemampuan subjek untuk mengendalikan beragam tindakan yang diambil, menginterpretasi, menilai, dan menyatukan berbagai peristiwa dalam rencana kehidupan selanjutnya menunjukkan S3 kurang mampu mengontrol dirinya karena S3 yang memiliki sifat pendiam juga memilih hanya diam saja dalam menghadapi gunjingan masyarakat dan tidak memperdulikannya. Kemampuan subjek dalam merespon kejadian yang tidak terduga sebagai suatu masalah yang harus ditangani dan kecenderungan dalam melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dapat dilihat dari sikap subjek yang awalnya sangat terpuruk kemudian dapat bangkit dan menerima keadaan dirinya karena ketika pertama kali divonis mengidap HIV subjek langsung menghubungi anggota keluaganya dan mendapat dukungan dari kakak kandungnya untuk berobat, maka subjek dapat bangkit dan bertahan. Subjek dengan cepat mampu menyadari kesalahannya bahwa penyakit ini didapatkan dari akibat pergaulan bebas yang selama ini di jalani. Sehingga subjek saat ini mampu menerima keadaannya dan berusaha untuk menikamati hidup, mensyukuri dan menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

Penjelasan tersebut membuktikan bahwa S1 memiliki karakteristik kepribadian hardiness yang sesuai dengan pernyataan dari Maddi dan Kobasa (2005) yaitu bahwa karakteristik pertama dalam kepribadian hardiness yaitu komitmen dimana seseorang yang memiliki hardiness yang tinggi mampu melibatkan diri dalam aktivitas yang telah dihadapi, percaya terhadap nilai-nilai kebenaran, kepentingan dan apa yang mampu dia lakukan. S1 juga memiliki

(16)

12

karakteristik kedua dari kepribadian hardiness yaitu kontrol diri dimana seseorang yang memiliki hardiness yang tinggi mampu untuk mengendalikan beragam tindakan yang diambil. Individu juga berkeyakinan bahwa dirinya mampu menentukan terjadinya sesuatu dalam dirinya sehingga mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tekanan. Individu dengan hardiness tinggi juga memandang bahwa semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya mampu ditangani oleh dirinya sendiri dan ia bertanggungjawab atas apa yang harus dilakukannya sebagai respon atas stres. Sedangkan karakteristik ketiga dari kepribadian hardiness juga dimiliki oleh ketiga subjek yaitu tantangan dimana seseorang yang memiliki kepribadian hardiness yang tinggi dalam melihat suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Hal-hal yang sulit untuk dilakukan adalah sesuatu yang umum terjadi dalam kehidupan. Namun, melalui pandangan yang terbuka dan fleksibel yang dimiliki, tantangan dipandang sebagai sesuatu yang harus dihadapai dan tidak dapat dipisahkan dari bagian kehidupan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tergambarannya kepribadian hardiness penderita HIV/AIDS dapat dilihat dari kemampuan penguasaan pengalaman subjek dalam mengendalikan hidupnya dengan cara mereka dalam menerima dan menjalani kehidupan mereka saat ini sebagai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Kedua subjek menjalani hidup apa adanya, menerima dan menikmati hidup mereka saat ini dengan dukungan-dukungan dari teman dan keluarga dekat. Penyakit HIV yang mereka dapat tidak dijadikan beban pikiran, tidak peduli dengan omongan negatif orang dan menerima segala resikonya. Namun, satu orang subjek masih merasa sangat ketakutan untuk didiskriminasi apabila status IV yang subjek derita diketahui oleh orang-orang terdeatnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Brooks (dalam Bissonnette, 1998) bahwa keadaan yang terjadi memungkinkan seseorang untuk dapat menumbuhkan rasa kendali dalam dirinya. Persepsi kontrol terhadap lingkungan di sekitar mengarah kepada perasaan menguasai menjadi sebuah pengalaman hidup. Penguasaan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil sehingga mengakibatkan meningkatnya kepribadian tahan banting.

(17)

13

Perasaan positif yang dimiliki subjek juga diperoleh dari kedua orang tua, keluarga dan teman-teman dekatnya. Penilaian diri yang positif juga didapatkan dari dua subjek perempuan yang sudah memiliki anak. Keduanya dalam menjalani hidup berskap untuk selalu sabar dan ikhlas menerima keadaan dan tetap berjuang demi anak-anak mereka. Kedua subjek merasa harus bertahan karena ingin anak mereka tidak kehilangan sosok ibu yang masih dibutuhkan dan ingin merawat anak-anaknya hingga dewasa kelak. Begitu pula dengan subjek laki-laki yang dapat mensyukuri dan menikmati hidupnya. Ketiga subjek juga mendapat dukungan dari orang-orang terdekat mereka seperti suami, anak, dan anggota keluarga lainnya sehingga mereka mendapatkan motivasi untuk berjuang agar dapat bertahan hingga sekarang. Hal ini sesuai dengan penyataan Garmezy, Werner, Masten, dan Seligman (dalam Bissonnette, 1998) bahwa hubungan orang tua dengan anak yang hangat, peduli, saling mencintai dan memimpin anak-anaknya akan memberikan penilaian diri yang positif bagi anak tersebut. Sikap-sikap tersebut mampu manjadikan seseorang melihat dirinya sebagai orang yang dicintai dan berharga bagi orang lain dan dirinya sendiri sehingga menimbulkan persepsi yang positif dalam dirinya.

Hubungan yang hangat dan mendukung dari keluarga dan orang-orang sekitar yang bersikap saling mendukung dan memberikan keluasan dalam mengambil keputusan juga mampu membuat subjek dapat bertahan. Kedua subjek perempuan bertahan demi anak-anak mereka agar dapat tumbuh dan menamani hingga dewasa kelak. Satu subjek laki-laki juga mampu bertahan berkat saudaranya yang mau menerima dan selalu mendukung agar subjek dapat terus sehat dan sembuh. Ia juga mengatakan bahwa anak-anak di rumah singgah sangat memotivasinya untuk selalu semangat, kuat dan ceria. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Huang (dalam Bissonnette, 1998) bahwa orang yang keras cenderung lebih sehat dan menganggap hidup sebagai hal yang positif dan menantang. Hal tersebut tidak jauh dari peran keluarga yang memberikan sikap yang hangat dan saling mendukung sehingga konsep keluasan keluarga ini dapat menjadi kontribusi dalam membangun sikap hardiness.

(18)

14

Selain keempat faktor di atas, faktor lain yang menjadi temuan baru dari penelitian ini dan mendukung terbentuknya hardiness pada penderita HIV/AIDS yaitu faktor eksternal berupa dukungan sosial yang diperoleh ODHA dari teman-teman dan lingkungan sekitar juga berkontribusi untuk membangun hardiness para penderita HIV/AIDS. Ketiga subjek dapat bertahan hingga saat ini karena adanya dukungan sosial dari berbagai pihak seperti keluarga, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dan teman-teman di rumah singgah. Adanya dukungan sosial tersebut juga menumbuhkan hardiness dari dalam diri penderita yaitu faktor internal yang berupa sikap penerimaan diri dari para penderita HIV/AIDS. Ketiga subjek mampu menerima keadaan dirinya yang telah divonis positif HIV. Penerimaan diri yang ada pada diri penderita HIV/AIDS juga disertai dengan rasa nikmat, syukur, dan ikhlas dalam menjalani setiap jalan kehidupan. Ketiga subjek mampu menikmati hidupnya saat ini, selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan dengan status HIV yang mereka miliki.

4. PENUTUP 4.1. Simpulan

Gambaran kepribadian hardiness yang dimiliki para penderita HIV/AIDS yaitu mampu melibatkan diri dealam aktivitas yang telah dihadapinya dengan menjadi pengasuh di Yayasan Rumah Singgah Lentera Surakarta dengan merawat dan memberikan kasih sayang mereka untuk anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) disana, menjalin hubungan yang baik dengan keluarga walaupun hanya beberapa anggota keluarga saja yang mengetahui status HIV yang dimiliki oleh para penderita. Penderita HIV/AIDS mampu mengontrol dirinya dengan mengendalikan beragam tindakan yang diambilnya dengan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidupnya dan mampu bertanggungjawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Selain itu, dalam menghadapi diskriminasi para ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) tetap sabar dan ikhlas, tidak ambil pusing dan tidak dibawa stres, menerima segala resikonya, dan tetap menjalani hidup mereka dengan bersyukur atas nikmat dan karunia masih diberikan umur panjang dan dapat bertahan hidup hingga saat ini. Hasil pengukuran skor skala kepribadian

(19)

15

hardiness menunjukkan bahwa S1 memiliki tingkat kepribadian hardiness yang tinggi sesuai dengan hasil wawancara dalam penelitian. Sedangkan S2 memiliki tingkat kepribadian hardiness yang tergolong tinggi namun tidak sesuai dengan hasil wawancara penelitian. S3 memiliki kepribadian hardiness yang tergolong sedang dan sesuai degan hasil wawancara penelitian.

Faktor yang mempengaruhi timbulnya kepribadian hardiness para penderita HIV/AIDS yaitu penguasaan pengalaman, perasaan yang positif, pola asuh orang tua, dan hubungan yang hangat atau mendukung. Selain itu, terdapat faktor lain yang menonjol yang menguatkan kepribadian hardiness pada penderita HIV/AIDS yaitu adanya dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman terdekat serta orang-orang di Yayasan Rumah Singgah Lentera, adanya penerimaan diri oleh penderita terhadap keadaannya saat ini, rasa ikhlas dan syukur yang ditanamkan pada diri penderita sehingga dapat bertahan hingga sekarang.

4.2. Saran

Untuk para penderita HIV/AIDS tetap mempertahankan dan bisa mengembangkan sikap tahan banting yang dimiliki dengan cara menambah kegiatan sosial dan mencari lebih banyak teman lagi untuk menambah dukungan dan wawasan yang luas tentang HIV/AIDS sehingga nantinya dapat berguna untuk saling memberikan dukungan dan motivasi kepada para ODHA yang lain di luar sana. Penderita juga perlu meningktakan rasa syukur, nikmat, sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupannya.

Pemerintah diharap memberikan bantuan secara moril dan meteril yang mendatangkan psikolog untuk memberikan konseling terhadap para ODHA yang membutuhkan untuk meningkatkan penerimaan diri penderita, sikap sabar, syukur dan ikhlas. Memberikan lebih banyak sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat luas sehingga dapat mengurangi diskriminasi kepada para ODHA dan tercipta hubungan yang saling mendukung antara para ODHA dan masyarakat normal lainnya.

(20)

16 DAFTAR PUSTAKA

Bissonnette, M. (1998). Optimism, Hardiness, and Resiliency: A Review Of The Literature. Prepared For The Child and Family Partnership Project. Civitci, N., Civitci, A. (2015). Social Comparism Orientation, Hardiness, and Life

Satisfaction in Undergraduate Students. Procedia-Social Behavioral Science 205, 516-523.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodati n%20AIDS.pdf. Diakses pada tanggal 5 April 2017.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_KOT A_2014/3372_Jateng_Kota_Surakarta_2014.pdf . Diakses pada tanggal 5 April 2017.

Evendy, R. Dwiyanti, R. (2013). Hubungan Antara Hardiness (Kepribadian Tahan Banting) dengan Intensi Turnover Pada Karyawan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk di Wilayah Gombang Kabupaten Kebumen. Psycho Idea Journal, 11 (2), 10-18.

Herdiansyah, Haris. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika

Khaledian, M., Babaee, H., Amani, M. (2016). The Relationship of Psychological Hardiness with Irrational Beliefs, Emotional Intelligence and Work Holism. World Scientific News 98, 86-100.

Maddi, S. R., Kobasa. (2005). The Story Of Hardiness: Twenty Years Of Theorizing, Research and Practice. Consulting Psychologi Journal Practice and Research, 54 (3), 175-185.

Murni, Suzana., Green, Chris W., Djauzi, Samsuridjal., Setiyanto, Ardhi., Okta, Siradj. (2016). Hidup Dengan HIV-AIDS. Jakarta Pusat: Yayasan Spiritia.

Purnama, A., Haryanti, E. (2006). Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA. Saleh, Rania. (2011). Hubungan Antara Kepribadian Hardiness dengan

Optimisme Masa Depan Pada Remaja Tuna Rungu. Skripsi. Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(21)

17

Sarafino, E.P. (1998). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction. New York: John Wiley & Sons Inc.

Taheri, A., Ahadi, H., Kashani, F. L., Kermani, R. A. (2014). Mental Hardiness And Social Support in Life Satisfaction Of Breast Cancer Patients. Procedia-Social Behavioral Sciences, 159, 406-409.

Villasis-Keever A, R.-F.S., Ruiz-Palacios G, de Leon-Rosales SP. (2001). Clinical Manifestations and Survival Trends During The First 12 Years of AIDS Epidemic in Mexico. Archives of Medical Research, 32, 62-65.

Wicaksana, J. F. P., Kusumawati, Y., Ambarwati. (2009). Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Voluntary Counseling and Testing (VCT), Kesiapan Mental, dan Perilaku Pemeriksaan di Klinik VCT Pada Para Mitra Pengguna Obat dengan Jarum Suntik di Surakarta. Jurnal Kedokteran Indonesia, 01 (2), 179-184.

Yunita, B.S., & Ginanjar, A.S. (2001). Perkembangan Status Identitas Pada Penderita HIV & AIDS. Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Gambar

Tabel 1. Identitas informan penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Pada akhirnya, para siswa akan memiliki sikap menghargai matematika karena dengan masalah realistik yang berkaitan dengan kehidupan nyata sehari-hari proses

Hasil wawancara terhadap Ibu Su menyimpulkan bahwa terdapat dinamika kesulitan hidup berupa pelabelan teroris pada anaknya. Seperti biasa penuduhan tanpa bukti oleh pihak

Salah satu bentuk upaya kepala desa dalam memelihara adat istiadat, yaitu ikut hadir dalam penyelenggaraan acara adat istiadat, diantaranya: (1) munit, atau munit adat, adalah upacara

Gaharu adalah salah satu hasil hutan non kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan kadar damar wangi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

BERDIKARI Membuat sesuatu perkara sendiri tanpa mengharapkan orang lain/gosok baju/basuh kasut. BERTOLERANSI /

Sementara itu resolusi konflik yang dicapai dalam konflik sumber daya alam di Kabupaten Batanghari khususnya mengenai konflik Suku Anak Dalam dengan PT Asiatic Persada

4.2.1 Analisis Pelaksanaan Pengolahan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi dengan Fasilitas Drop Box pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees Berdasarkan

Menurut pendapat Mahmudi dalam bukunya Manajemen Kinerja Sektor Publik mendefinisikan efektivitas, sebagai berikut: “Efektivitas merupakan hubungan antara output