BAB II KONSEP DASAR
A. Konsep Keluarga 1. Pengertian
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing
– masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998).
Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama,
sehingga mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam interelasi
social, peran dan tugas (Spredley, 1996 dalam Murwani, 2008).
Menurut Salvicion G. Bailon & Aracelis Maglaya (1989) dalam
Murwani (2008) menjelaskan bahwa keluarga adalah dua atau lebih dari dua
individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu
sama lain, dan di dalam perannya masing – masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah
beberapa individu yang tinggal dalam sebuah keluarga yang mempunyai ikatan
perkawinan, ada hubungan keluarga, sanak famili, maupun adopsi yang hidup
2. Tipe-tipe keluarga
Tipe-tipe keluarga secara umum menurut Friedman tahun 1998 yang
dikemukakan untuk mempermudah pemahaman literatur tentang keluarga adalah :
a. Keluarga inti (konjugal) adalah keluarga yang menikah, sebagai orang tua atau
pemberian nafkah. Keluarga inti terdiri dari suami, istri dan anak mereka (anak
kandung, anak adopsi atau keduanya).
b. Keluarga orientasi (keluarga asal) adalah unit keluarga yang di dalamnya
seseorang dilahirkan.
c. Keluarga besar adalah keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh
darah), yang paling lazim menjadi anggota keluarga orientasi yaitu salah satu
teman keluarga inti.
Sedangkan menurut Wahid Iqbal (2006) tipe keluarga ada 15 antara
lain :
a. Tradisional nuclear
Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu
rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan,
satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.
b. Extended family
Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya.
c. Reconstituted nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan suami / istri, tinggal
dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari
perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya
d. Niddle age / aging couple
Suami sebagai pencari uang, istri dirumah / kedua-duanya bekerja di rumah,
anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah / perkawinan / meniti
karier.
e. Dyadic nuclear
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya / salah
satu bekerja diluar rumah.
f. Single parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian / kematian pasangannya dan
anak-anaknya dapat tinggal di rumah / di luar rumah.
g. Dual carrier
Suami istri / keduanya orang karier dan tanpa anak.
h. Commuter married
Suami istri / keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu,
keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
i. Singgle adult
Wanita / pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan
untuk kawin.
j. Three generation
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
k. Institusional
Anak-anak / orang dewasa yang tinggal dalam suatu panti.
l. Comunal
Satu rumah terdiri dari dua / lebih pasangan yang monogami dengan
m. Group marriage
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunananya di dalam satu
kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua
adalah orang tua dari anak-anak.
n. Unmarried parent and child
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
o. Cohibing couple
Dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
Menurut Murwani (2008) tipe keluarga dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Tipe keluarga tradisional
1) Keluarga inti yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan
anak (kandung atau angkat).
2) Keluarga besar yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang
mempunyai hubungan darah, missal kakek, nenek, paman dan bibi.
3) Keluarga Dyad yaitu suatu keluarga yang terdiri dari suami dan istri tanpa
anak.
4) Single parent yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
(ayah / ibu) dengan anak (kandung / angkat). Kondisi ini dapat disebabkan
oleh perceraian / kematian.
5) Single adult yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa
(misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja
b. Tipe keluarga non tradisional
1) The unmarriedtrenege mather yaitu keluarga yang terdiri dari orang tua
(terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2) The stepparent family yaitu keluarga dengan orang tua tiri.
3) Commune family yaitu beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya)
yang tidak ada hubungan saudara hidup bersama dalam satu rumah,
sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama : sosialisasi anak
dengan melalui aktivitas kelompok atau membesarkan anak bersama.
4) The non marital heterosexual cohibitang family yaitu keluarga yang hidup
bersama dan berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
5) Gay and lesbian family yaitu seseorang yang mempunyai persamaan sex
hidup bersama sebagaimana suami istri (marital partners).
6) Cohabiting couple yaitu orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan
perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7) Group marriage family yaitu beberapa orang dewasa menggunakan
alat-alat rumah tangga bersama yang saling merasa sudah menikah, berbagi
sesuatu termasuk seksual dan membesarkan anak.
8) Group network family yaitu keluarga inti yang dibatasi aturan atau
nilai-nilai, hidup bersama atau berdekatan satu sama lainnya dan saling
menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan
tanggung jawab membesarkan anak.
9) Foster family yaitu keluarga yang menerima anak yang tidak ada
hubungan keluarga atau saudara didalam waktu sementara, pada saat
orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan
10) Homeless family yaitu keluarga yang membentuk dan tidak mendapatkan
perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan
dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
11) Gang yaitu sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda
yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian
tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupan.
3. Tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga menurut Friedman (1998) adalah :
a. Tahap 1 : Keluarga pemula
Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah
keluarga baru, keluarga yang menikah atau prokreasi dan perpindahan dari
keluarga asal atau status lajang ke hubungan baru yang intim.
b. Tahap II : Keluarga yang sedang mengasuh anak
Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi
berumur 30 bulan. Biasanya orang tua bergetar hatinya dengan kelahiran anak
pertama mereka, tapi agak takut juga. Kekhawatiran terhadap bayi biasanya
berkurang setelah beberapa hari, karena ibu dan bayi tersebut mulai mengenal.
Ibu dan ayah tiba-tiba berselisih dengan semua peran-peran mengasyikkan
yang telah dipercaya kepada mereka. Peran tersebut pada mulanya sulit karena
perasaan ketidakadekuatan menjadi orang tua baru.
c. Tahap III : Keluarga yang anak usia prasekolah
Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama
berusia 2,5 tahun dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun. Sekarang, keluarga
anak laki-laki – saudara, anak perempuan – saudari. Keluarga menjadi lebih
majemuk dan berbeda.
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah
Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun dan
mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa
remaja. Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota maksimum, dan
hubungan keluarga di akhir tahap ini.
e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja
Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari
siklus kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7
tahun, meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan
keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih tinggal dirumah hingga
brumur 19 atau 20 tahun.
f. Tahap VI : Keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda
Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak
pertama meninggalkan rumah orang tua dan berakhir dengan rumah kosong,
ketika anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak
panjang, tergantung pada berapa banyak anak yang ada dalam rumah atau
berapa banyak anak yang belum menikah yang masih tinggal di rumah.
g. Tahap VII : Orang tua pertengahan
Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia pertengahan
dari bagi oarngtua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini
biasanya dimulai ketika orangtua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir
h. Tahap VIII : Keluarga dalam masa pensiun dan lansia
Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu
atau kedua pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah
satu pasangan meninggal, dan berakhir dengan pasangan lain meninggal.
4. Tugas perkembangan keluarga
Tugas perkembangan keluarga menurut Friedman (1998) yaitu :
a. Tahap I : Keluarga pemula
1) Membangun perkawinan yang saling memuaskan.
2) Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.
3) Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orangtua).
b. Tahap II : Keluarga yang sedang mangasuh anak
1) Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap
(mengintegrasikan bayi baru kedalam keluarga).
2) Rekonsilisiasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan
kebutuhan anggota keluarga.
3) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
4) Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan
peran-peran orangtua dan kakek-nenek.
c. Tahap III : Keluarga dengan anak usia pra sekolah
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain,
privasi, keamanan.
2) Mensosialisasikan anak.
3) Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan
4) Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan
perkawinan dan hubungan orangtua dan anak) dan diluar keluarga
(keluarga besar dan komunitas).
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah
1) Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan
2) Mempertahankan hubungan perkawinan bahagia
3) Memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin meningkat
4) Meningkatkan komunikasi terbuka
e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja
1) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan semakin mandiri
2) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
3) Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak
f. Tahap VI : Keluarga dengan melepaskan anak usia dewasa muda.
1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
2) Mempertahankan keintiman pasangan
3) Membantu orang tua suami/isteri yang sedang sakit dan memasuki masa
tua
4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
g. Tahap VII : Orangtua usia pertengahan.
1) Mempertahankan kesehatan
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan
anak-anak
h. Tahap VIII : Keluarga dengan masa pensiun dan lansia.
1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
2) Adaptasi dengan perubahan, kehilangan pasangan, teman, dll
3) Mempertahankan keakraban suami-isteri dan saling merawat
4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
5) Melakukan “ Life Review”
5. Masalah-masalah kesehatan
Masalah-masalah kesehatan pada keluarga yang muncul menurut Friedman (1998)
yaitu :
a. Tahap I : Keluarga pemula
1) Penyesuaian seksual dan peran perkawinan
2) Penyuluhan dan konseling keluarga berencana
3) Penyuluhan dan konseling prenatal
4) Komunikasi
b. Tahap II : Keluarga yang sedang mangasuh anak
1) Pendidikan maternitas yang berpusat pada keluarga
2) Perawatan bayi yang baik
3) Pengenalan dan penanganan masalah-masalah kesehatan fisik secara dini
4) Imunisasi
5) Konseling perkembangan anak
6) Keluarga berencana
7) Interaksi keluarga
c. Tahap III : Keluarga dengan anak usia pra sekolah
1) Masalah kesehatan fisik yang utama adalah penyakit-penyakit menular
yang lazim pada anak dan jatuh, luka bakar
2) Keracunan
3) Kecelakaan-kecelakaan yang lain yang terjadi selama usia sekolah
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah
e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja
1) Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
2) Keluarga berencana
3) Kehamilan yang tidak dikehendaki
4) Pendidikan dan konseling seks
f. Tahap VI : Keluarga dengan melepaskan anak usia dewasa muda.
1) Masa komunikasi dewasa muda-orang tua
2) Transisi peran suami-isteri
3) Memberi perawatan (bagi orang tua lanjut usia)
4) Kondisi kesehatan kronis misalnya kolesterol tinggi, obesitas, tekanan
darah tinggi
5) Masalah menopause
6) Efek-efek : minum, merokok, diet
g. Tahap VII : Orangtua usia pertengahan.
1) Promosi kesehatan, istirahat yang cukup, kegiatan waktu luang dan tidur,
nutrisi yang baik, program olahraga yang teratur, pengurangan barat badan
hingga berat nadan yang optimum, berhenti merokok, berhenti atau
mengurangi alkohol, pemeriksaan skrining kesehatan preventif.
3) Komunikasi & hubungan dengan anak-anak, ipar, cucu dan orangtua yang
lanjut usia.
4) Masalah berhubungan dengan perawatan : membantu perawatan orangtua
yang lanjut usia dan tidak mampu merawat diri.
h. Tahap VIII : Keluarga dengan masa pensiun dan lansia.
1) Menurunnya fungsi
2) Menurunkan kekuatan fisik, sumber financial yang tidak memadai, isolasi
sosial, kesepian
3) Kerentanan psiklogis
4) Promosi kesehatan
6. Struktur keluarga
Struktur keluarga menurut Mubarak (2009) antara lain :
a) Struktur komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur,
terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan,
komunikasi keluarga bagi pengirim : memberikan pesan, memberikan umpan
balik dan valid. Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila:
tertutup, adanya issu atau gosip negatif, tidak berfokus pada satu hal dan selalu
mengulang issu dan pendapat sendiri, komunikasi keluarga bagi pengirim
bersifat asumsi, ekspresi perasaan tidak jelas, judgemental exspresi dan
komunikasi tidak sesuai. Penerima gagal mendengar, diskualifikasi, ofensif
b) Struktur peran
Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau
informal.
c) Struktur kekuatan
Struktur kekuatan adalah kemampuan dari individu untuk, mengontrol,
mempengaruhi atau mengubah perilaku orang lain.
d) Struktur nilai dan norma
Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga
dalam budaya tertentu. Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima
pada lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat sekitar keluarga.
7. Fungsi dan tugas keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman (1986) dalam Murwani (2007) sebagai
berikut:
a) Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal
keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna
untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi
afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota
keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif.
Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan
melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan
konsep diri positif.
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan
kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah
keluarga, timbul karena fungsi afektif di dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.
b) Fungsi sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang
dilalui individu, yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan
dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986).
Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan
tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia
akan menatap ayah, ibu dan orang-orang yang disekitarnya. Kemudian
beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan disekitar
meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi.
Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi
atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.
Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku
melalui hubungan dan interaksi keluarga.
c) Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan
menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang
sah, selain untuk memenuhi keebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk
d) Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga seperti memenuhi
kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memnuhi kebutuhan akan
makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat
dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan istri hal ini
menjadikan permasalahn yang berujung pada perceraian.
e) Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan
praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan
kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan
keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan
keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat
dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat
melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah
kesehatan.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut : (Friedman, 1998 dalam
Murwani, 2007)
a) Mengenal masalah kesehatan
b) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
c) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
8. Peran perawat keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan sebagai unit
pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk
mewujudkan keluarga yang sehat. Fungsi perawat adalah membantu keluarga
untuk menyesuaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan
keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan (Murwani, 2007).
Peran perawat menurut Sudiharto (2007) adalah sebagai berikut :
a) Sebagai pendidik
Perawat bertanggungjawab memberikan pendidikan kesehatan
kepada keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat
angora keluarga yang memiliki masalah kesehatan.
b) Sebagai koordinator pelaksana pelayanan keperawatan
Perawat bertanggungjawab memberikan pelayanan
keperawatan yang komprehensif. Pelayanan keperawatan yang
bersinambungan diberikan untuk menghindari kesenjangan antara keluarga
dan unit kesehatan (puskesmas dan rumah sakit).
c) Sebagai pelaksana pelayanan perawatan
Pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga
melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki
masalah kesehatan. Dengan demikian, anggota keluarga yang sakit dapat
menjadi “entry point” bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan
keluarga secara komprehensif.
d) Sebagai supervisor pelayanan keperawatan
Perawat melakukan supervise ataupun pembinaan terhadap
berisiko tinggi maupun yang tidak. Kunjungan rumah tersebut dapat
direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak.
e) Sebagai pembela (advokat)
Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi
hak-hak keluarga sebagai klien. Perawat diharapkan mampu mengetahui
harapan serta memodifikasi sistem pada perawatan yang diberikan untuk
memenuhi hak dan kewajiban mereka sebagai klien mempermudah tugas
perawat untuk memandirikan keluarga.
f) Sebagai fasilitator
Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga dan
masyarakat unruk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang
mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu memberikan jalan keluar
dalam mengatasi masalah.
g) Sebagai peneliti
Perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami
masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga. Masalah
kesehatan yang muncul di dalam keluarga biasanya terjadi menurut siklus atau
budaya yang dipraktikan keluarga. Misalnya, diare pada balita terjadi karena
budaya menjaga kebersihan makanan dan minuman kurang diperhatikan.
Peran sebagai peneliti difokuskan pada kemampuan keluarga untuk
mengidentifikasi penyebab, menanggulangi, dan melakukan promosi kepada
anggota keluarganya. Selain itu, perawat perlu mengembangkan asuhan
B. Proses keperawatan keluarga 1. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil
informasi secara terus-menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya
(Murwani, 2008).
Hal-hal yang dikaji dalam keluarga adalah :
a. Data umum
Pengkajia terhadap data umum keluarga meliputi :
1) Nama kepala keluarga (KK)
2) Alamat dan telepon
3) Pekerjaan kepala keluarga
4) Pendidikan kepala keluarga
5) Komposisi keluarga
6) Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau
masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
7) Tipe bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta
mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.
8) Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan
yang dapat mempengaruhi kesehatan.
9) Status sosial ekonomi keluarga
Status ekonomi sosial keluarga ditentukan oleh pendapatan baik
sosial ekonomi keluarga ditentuka pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang
dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
10) Aktivitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi
bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun dengan
menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
Yang perlu dikaji pada tahap perkembangan adalah :
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua
dari keluarga inti
2) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi oleh keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan
tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga Inti.
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada inti, yang
meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing
anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit ( imunisasi ),
sumber pelayanan kesehatan yang bisa digunakan serta riwayat
perkembangan dan kejadian-kejadian atau pengalaman penting yang
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari
pihak suami dan istri.
c. Data lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah dididentifikasikan dengan melihat luas
rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan,
peletakan perabotan rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank
dengan sumber air, sumber air minum yang digunakan serta denah rumah.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat, yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/ kesepakatan
penduduk setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
3) Mobiltas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan
keluarga berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk
berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana
keluarga interaksinya dengan masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk pada sistem pendukung keluarga adalah jumlah
keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk
psikologis atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau
dukungan dari masyarakat setempat.
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota
keluarga.
2) Struktur kekeuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan
mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku.
3) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik
secara formal maupun informal.
4) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh
keluarga, yang berhubungan denga kesehatan.
e. Fungsi-fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga,
perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga
terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada
anggota keluarga, dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling
2) Fungsi sosialisasi
Hal yang perlu dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam
keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya
dan perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan,
pakaian, perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauh
mana pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit. Kesanggupan keluarga
di dalam melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari
kemampuan keluarga melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu
keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan
untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota
keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan, dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang
terdapat dilingkungan setempat.
4) Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji megenai fungsi reproduksi keluarga adalah:
a) Berapa jumlah anak
b) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga
c) Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan
jumlah anggota keluarga.
5) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah :
a) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan
b) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
f. Stres dan koping keluarga
1) Stresor jangka pendek dan panjang
a) Stresor jangka pendek yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu ± 6 bulan.
b) Stresor jangka panjang yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi / stresor
Hal yang perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga berespon
terhadap situasi / stresor.
3) Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila meghadapi
permasalahan.
4) Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang
digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
g. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode
yang digunakan pada pemeriksaan fisik berbeda dengan pemeriksaan fisik di
klinik.
h. Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga
2. Penerapan prioritas masalah
Skala untuk menentukan prioritas
Asuhan Keperawatan Keluarga
(Bailon dan Maglaya, 1978 dalam Murwani, 2008)
NO KRITERIA BOBOT
1. Sifat masalah
Skala : tidak/ kurang sehat Ancaman kesehatan Keadaan sejahtera 3 2 1 1
2. Kemungkinan masalah dapat dirubah Skala : Mudah Sebagian Tidak dapat 2 1 0 2
3. Potensial masalah untuk dicegah Skala : Tinggi Cukup Rendah 3 2 1 1 4. Menonjolnya masalah
Skala : Masalah berat harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani
Masalah tidak dirasakan
2 1
0
1
Skoring :
a) Tentukan skore untuk setiap kriteria
b) Skore dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot
Skore
X bobot
Angka kematian
3. Prioritas diagnosa keperawatan
Dengan melihat kriteria yang pertama, yaitu sifatnya masalah, bobot
yang lebih berat diberikan pada tidak / kurang sehat karena pertama memerlukan
tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga.
Untuk kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah
perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut :
a) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani
masalah.
b) Sumber daya keluarga : dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga.
c) Sumber daya perawat : dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu.
d) Sumber daya masyarakat : dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam
masyarakat, dan sokongan masyarakat.
Untuk kriteria ketiga, yaitu potensial masalah dapat dicegah,
faktor-faktor yang perlu diperhatikan ialah :
a) Lamanya masalah, yang berhubungan dengan jangka waktu maslah itu ada.
b) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat
dalam memperbaiki masalah.
c) Adanya kelompok “high risk” atau kelompok yang sangat peka menambah
potensi untuk mencegah masalah.
Untuk kriteria keempat, yaitu menonjolnya masalah perawat perlu
menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.
Nilai skore yang tinggi yang terlebih dahulu dilakukan intervensi keperawatan
keluarga (Murwani, 2008).
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai, keluarga,
analisa data secara cermat, memberikan dasar untuk menetapkan
tindakan-tindakan dimana perawat bertanggungjawab untuk melaksanakannya (Mubarak,
2007).
a. Perilaku tidak sehat merokok pada keluarga berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah bahaya merokok dan mengatasi
4. Perencanaan
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus serta
dilengkapi dengan kriteria dan standart yang merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari rencana keperawatan
berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan (Murwani, 2007).
No. Dx. Kep. TUM TUK Evaluasi Intervensi keperawatan
Kriteria Standar
1. Perilaku tidak sehat merokok pada keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah bahaya merokok dan mengatasi masalah merokok. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 minggu 4 kali pertemuan keluarga mampu mengenal bahaya merokok dan mengatasi masalah merokok. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1x30 menit keluarga mampu : 1. Mengenal masalah merokok: a. Keluarga mampu menjawab pengertian rokok b. Keluarga mampu menjawab akibat dari merokok 2. Mengambil keputusan : a. Keluarga mau Respon verbal. Respon verbal. Respon afektif.
rokok adalah salah satu produk industri yang mengandung sekitar 3000 bahan kimiawi. akibat merokok : kanker paru, penyakit jantung, hipertensi, kemandulan, sakit tenggorokan, asma, kerusakan kulit, abortus pada ibu hamil
Mengambil
- Observasi pengetahuan keluarga tentang bahaya merokok.
- Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang bahaya merokok. - Berikan kesempatan pada keluarga
untuk bertanya.
- Berikan pujian pada keluarga.
- Kaji pengetahuan keluarga tentang menggunakan fasilitas kesehatan
kepelayanan kesehatan. b. Keluarga mampu berhenti merokok. 3. Merawat anggota keluarga yang merokok : Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang merokok. Respon verbal. Respon verbal keputusan kepelayanan kesehatan. Cara berhenti dari rokok : Mempunyai tekat untuk berhenti merokok Buanglah semua rokok yang dimiliki Jauhkan asbak dari pandangan mata Minumlah air putih atau sikat gigi jika mulut terasa asam Apabila ada keinginan untuk merokok di ganti dengan permen Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang merokok dan mengganti rokok dengan permen.
- Anjurkan ke keluarga untuk membawa anggotanya ke puskesmas. - Kaji pengetahuan keluarga tentang
cara berhenti merokok yang baik. - Diskusikan kepada keluarga tentang
cara berhenti merokok yang baik. - Berikan kesempatan pada keluarga
untuk bertanya.
- Berikan pujian pada keluarga.
- Kaji pengetahuan keluarga tentang merawat anggota keluarga. - Anjurkan kepada keluarga agar
mengganti rokok dengan permen. - Berikan kesempatan keluarga untuk
bertanya.
4. Memodifikasi lingkungan : Keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumahnya. 5. Menggunakan fasilitas kesehatan: a. Keluarga mampu menggunakan pelayanan kesehatan. b. Keluarga mampu mengungkapka n perasaannya setelah ke puskesmas. Respon verbal Respon verbal Respon psikomotor Keluarga mampu memodifikasi lingkungan dengan cara membuka jendela setiap hari.
Menjelaskan manfaat kesehatan yang dapat digunakan anggota keluarganya yang sakit. Kunjungan keluarga ke fasilitas kesehatan bila anggotanya sakit.
- Kaji pengetahuan keluarga tentang memodifikasi lingkungan
- Anjurkan kepada keluarga agar membuka jendela setiap hari.
- Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.
- Berikan pujian pada keluarga.
- Kaji kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan - Anjurkan keluarga untuk memeriksa
ke puskesmas atau dokter bila anggota keluarganya ada yang sakit. - Tanyakan ke keluarga perasaannya
setelah ke puskesmas.
- Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya.
5. Tahapan tindakan keperawatan keluarga
Tindakan keperawatan terhadap keluarga mencakup hal-hal berikut ini
(Murwani, 2007) :
a) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenal
masalah-masalah kesehatan dengan cara :
1) Memberikan informasi
2) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan
3) Mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah
b) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat,
dengan cara :
1) Mengidentifikasi konsekuensi tidak melakukan tindakan
2) Mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga
3) Mendiskusikan tentang konsekuensi tiap tindakan
c) Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit
dengan cara :
1) Mendemonstrasikan cara perawatan
2) Menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah
3) Mengawasi keluarga melakukan perawatan
d) Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkuan
menjadi sehat, dengan cara :
1) Menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
e) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada,
dengan cara :
1) Mengenakan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga
2) Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil
implementasi dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilannya. Kegiatan evaluasi meliputi mengkaji kemampuan status
kesehatan keluarga, membandingkan respon keluarga dengan kriteria hasil dan
menyimpulkan hasil kemajuan masalah dan kemajuan percapaian tujuan
keperawatan. Bila hasil evaluasi tidak / berhasil sebagian, perlu disusun rencana
keperawatan yang baru. Perlu diperhatikan juga evaluasi yang dilakukan beberapa
kali dengan melibatkan keluarga sehingga perlu pula direncanakan waktu yang
sesuai dengan kesediaan keluarga (Murwani, 2008).
Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP secara operasional
menurut Murwani (2008) :
S : adalah hal-hal yang dikemukakan oleh keluarga secara subjectif setelah
dilakukan intervensi keperawatan.
O : adalah hal-hal yang ditemui oleh perawat secara objektif setelah dilakukan
intervensi keperawatan.
A : adalah analisa dari hasil yang telah dicapai dengan mengacu pada tujuan
yang terkait dengan diagnosis.
P : adalah perencanaan yang akan datang setelah melihat respon dari keluarga
C. Konsep keperawatan keluarga dengan anak remaja 1. Pengertian
Keluarga dengan anak remaja adalah Ketika anak pertama melewati
umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini
berlangsung selama 6 hingga 7 tahun, meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika
anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih tinggal
dirumah hingga brumur 19 atau 20 tahun. Anak-anak lain dalam rumah biasanya
masih dalam usia sekolah. Tujuan keluarga yang terlalu enteng pada tahap ini
yang melonggarkan ikatan keluarga memungkinkan tanggungjawab dan
kebebasan yang lebih besar bagi remaja dalam persiapan menjadi dewasa muda
(Duvall, 1977 dalam Friedman, 1998).
Tahap kehidupan keluarga ini mungkin yang paling sulit, atau sudah
tentu yang paling banyak diperbincangkan dan ditulis. Tantangan utama dalam
bekerja dengan keluarga dengan anak remaja bergerak sekitar perubahan
perkembangan yang dialami oleh remaja dalam batasan perubahan kognitif,
pembentukan identitas, dan pertumbuhan biologis serta konflik-konflik dan krisis
yang berdasarkan perkembangan (Kidwell et al, 1983 dalam Friedman 1998).
Adams (1971) dalam Friedman (1998) menguraikan tiga aspek proses
perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian yakni emansipasi (otonom
yang meningkat), budaya orang muda (perkembangan hubungan teman sebaya),
kesenjangan antar generasi (perbedaan nilai-nilai dan norma-norma antara
2. Tugas-tugas perkembangan keluarga
Tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja menurut Friedman (1998)
yaitu :
a) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan semakin mandiri
Orangtua harus mengubah hubungan mereka dengan remaja
putri atau putranya secara progresif dari hubungan dependen yang
dibentuk sebelumnya ke arah suatu hubungan yang semakin mandiri.
Pergeseran yang terjadi dalam hubungan anak orangtua ini salah satu
hubungan khas yang penuh dengan konflik-konflik sepanjang jalan.
b) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
Banyak sekali pasangan suami istri yang telah begitu terikat
dengan berbagai tanggung jawab sebagai orangtua sehingga perkawinan
tidak lagi memainkan suatu peran utama dalam kehidupan mereka. Suami
biasanya banyak menghabiskan waktu di luar rumah karena bekerja dan
melanjutkan kariernya, sementara itu istrinya juga bekerja meneruskan
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab sebagai orangtua.
Dalam situasi seperti ini, hanya tersisa sedikit waktu dan energi untuk
hubungan perkawinan.
c) Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak
Karena ada kesenjangan antar generasi, komunikasi terbuka
sering kali hanya merupakan suatu cita-cita, bukan suatu realita.
Seringkali terdapat saling tolak-menolak antara orangtua dan remaja
menyangkut nilai dan gaya hidup. Orangtua yang berasal dari keluarga
memisahkan diri dari anak mereka yang tertua, sehingga mengurangi
saluran-saluran komunikasi terbuka yang mungkin telah ada.
3. Masalah-masalah kesehatan
Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga dengan anak remaja menurut
Friedman (1998) antara lain :
a) Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
b) Keluarga berencana
c) Kehamilan yang tidak dikehendaki
d) Pendidikan dan konseling seks
D. Konsep tumbuh kembang remaja 1. Pengertian
Remaja (adolescence) adalah masa transisi / peralihan dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek
fisik, psikis, dan psikologis (Agoes Dariyo, 2004).
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa
dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas. Namun demikian, menurut
beberapa ahli, selain istilah pubertas digunakan juga istilah adolesens (dalam
bahasa Inggris adolescence). Para ahli merumuskan bahwa istilah pubertas
digunakan untuk menyatakan perubahan biologis baik bentuk maupun fisiologis
yang terjadi dengan cepat dari masa anak-anak ke masa dewasa, terutama
perubahan alat reproduksi. Sedangkan istilah adolesens lebih ditekankan pada
perubahan psikososial atau kematangan yang menyertai masa pubertas
2. Penggolongan remaja
Penggolongan remaja menurut Thornburg (1982) dalam Agoes Dariyo (2004)
terbagi 3 tahap yaitu :
a. Remaja awal berusia 13-14 tahun, umumnya individu telah memasuki
pendidikan di bangku sekolah menengah tingkat pertama (SMP).
b. Remaja tengah berusia 15-17 tahun, individu sudah duduk disekolah menegah
atas (SMA).
c. Remaja akhir berusia 18-21 tahun, umumnya sudah memasuki duania
perguruan tinggi atau lulus SMA dan mungkin sudah bekerja.
Sedangkan menurut WHO (1995) yang dikatakan usia remaja adalah antara 10-18
tahun. Tetapi berdasarkan penggolongan umur, masa remaja terbagi atas :
a. Masa remaja awal berusia 10-13 tahun
b. Masa remaja tengah berusia 14-16 tahun
c. Masa remaja akhir berusia 17-19 tahun
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja
Menurut pandangan Gunarsa dan Gunarsa (1991) dalam Agoes
Dariyo (2004) bahwa secara umumada 2 faktor yang mempengaruhi
perkembangan individu (bersifat dichotomi) yaitu :
a. Faktor endogen (nature).
Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa perubahan-perubahan
fisik maupun psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter
yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya, misalnya postur tubuh (tinggi
fisik individu dalam keadaan normal berarti ia berasal dari keturunan yang
normal pula yaitu tidak memiliki gangguan. Hal ini dapat dipastikan orang
tersebut akan memiliki pertumbuhan dan perkembangan fisik yang normal.
Hal ini juga berlaku untuk aspek psikis dan psikososialnya. Perlu diketahui
bahwa kondisi fisik, psikis, atau mental yang sehat, normal dan baik menjadi
predisposisi bagi perkembangan berikutnya.
b. Faktor exogen.
Pandangan foktor exogen menyatakan bahwa perubahan dan
perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal
dari luar individu itu sendiri. Faktor ini di antaranya berupa lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik berupa tersedianya sarana dan
fasilitas, letak geografis, cuaca, iklim, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan
sosial ialah lingkungan dimana seorang mangadakan relasi/ interaksi dengan
individu atau sekelompok individu didalamnya. Lingkungan sosial ini dapat
berupa keluarga, tetangga, teman, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan,
dan sebagainya.
c. Interaksi antara endogen dan exogen.
Dalam kenyataannya masing-masing faktor tersebut tak dapat
dipisahkan. Kedua faktor itu saling berpengaruh, sehingga terjadi interaksi
antara faktor internal maupun internal, yang kemudian membentuk dan
mempengaruhi perkembangan individu. Dengan demikian, sebenarnya faktor
yang ketiga ialah kombinasi dari kedua faktor itu. Para ahli perkembangan
sekarang (Berk, 1993 ; Gunarsa dan Gunarsa, 1991 ; Papalia, Olds, dan
Feldman, 2001 ; Santrock, 1999) meyakini bahwa kedua faktor internal
besarnya, bagi perkembangan dan pertumbuhan individu. Oleh sebab itu,
sebaiknya dalam memandang dan memprediksi perkembangan seseorang
harus melibatkan kedua faktor tersebut secara utuh (holistik, integratif, dan
komprehensif), dan bukan partial (sebagian saja).
4. Tugas-tugas perkembangan remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja, menurut Havighurst (dalam
Helms dan Turner, 1995; Suardiman, 1987; Thomburg, 1982), ada beberapa, yaitu
sebagai berikut :
a. Menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis-psikologis.
b. Belajar bersosialisasi dengan seorang laki-laki maupun wanita.
c. Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa
lain.
d. Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
e. Memperoleh kemandirian dan kepastian secara ekonomis.
5. Karakteristik individu yang memiliki identitas diri
Ciri-ciri individu yang memiliki identitas diri yakni individu tersebut
memiliki karakteristik seperti (Agoes Dariyo, 2004) :
a. Konsep diri
Konsep diri yakni gambaran diri tentang aspek fisiologis maupun
psikologis yang berpengaruh pada perilaku individu dalam penyesuaian diri
b. Evaluasi diri
Penerimaan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri individu
yang baik, berarti ia memiliki kemampuan untuk menilai, menaksir,
mengevaluasi potensi diri-sendiri. Kemampuan evaluasi diri tumbuh karena
ada kesadaran akan segera potensi yang dimilikinya. Justru mereka yang
memilikikonsep diri yang baik, karena memang ia telah mampu mengevaluasi/
menilai aspek-aspek dalam dirinya. Dengan demikian, kadang-kadang
evaluasi diri menjadi dasar pembentukan self-consept.
c. Harga diri
Seseorang yang mampu mengevaluasi diri akan memungkinkan
diri individu dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat, artinya sejauh
mana dia dapat menghargai diri sebagai seorang pribadi yang memiliki
kemandirian, kemauan, kehendak, dan kebebasan dalam menetukan perilaku
dalam hidupnya.
d. Efikasi diri
Efikasi diri yakni kemampuan untuk menyadari, menerima dan
mempertanggungjawabkan semua potensi, keterampilan atau keahlian secara
tepat. Efikasi diri akan mendorong individu untuk menghargai dan
mendapatkan diri pada posisi yang tepat.
e. Kepercayaan diri
Kepercayaan diri tumbuh dari kehidupan kelompok sosial atau
keluarga yang saling mempercayai antara satu dengan orang lain. Orang tua
mempercayai anak, maka anak akan tumbuh kembang dengan karakteristik
f. Tanggung jawab
Rasa tanggung jawab yakni rasa tanggung jawab apa yang menjadi
hak dan kewajibannya. Seseorang yang bertanggung jawab biasanya akan
melaksanakan kewajiban dan tugas-tugasnya sampai selesai.
g. Komitmen
Komitmen yakni tekad atau dorongan internal yang kuat untuk
melaksanakan suatu janji, ketepatan hati yang telah disepakati sebelumnya,
sampai benar-benar selesai dengan baik.
h. Ketekunan
Untuk melakukan suatu tanggung jawab dan komitmen sampai
tuntas, dibutuhkan suatu sifat yang setia dan tekun untuk tetap bertahan pada
kewajibannya. Ketekunan biasanya mengutamakan atau memprioritaskan
tugas utamanya, dan berani mengorbankan hal-hal yang di anggap sekunder
(nomor dua).
6. Perilaku menyimpang pada remaja
Perilaku yang menyimpang pada remaja antara lain :
a. Merokok 1) Pengertian
Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi
internasional yang mengandung sekitar 3.000 bahan kimia (Bustan, 2007).
Merokok adalah hak asasi manusia, tetapi harus diingat bahwa
hak asasi seseorang adalah dibatasi oleh hak asasi orang lain. Sehingga
setiap perokok harus menghargai hak asasi orang lain yang ingin hidup
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui
dalam kehidupan sehari-hari (Bustan, 2007).
Asap rokok adalah sisa pembakaran dari rokok yang kita
nyalakan dan mengandung ± 4.000 bahan kimia beracun, yang secara
umum bahan-bahan kimia tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok
besar yaitu komponen gas (seperti : karbon monoksida, hidrogen sianida,
butan, polonium, ammoniak, aseton), serta komponen padat atau partikel
(seperti nikotin dan tar) (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).
2) Kandungan rokok
Rokok terdapat tiga komponen utama yang sangat berbahaya menurut
Bustan (2007) antara lain :
a) Tar
Tar mengandung ratusan zat kimiawi yang kebanyakan
bersifat karsinogenik.
b) Nikotin
Nikotin merangsang pelepasan catecholamine yang bisa
meningkatkan denyut jantung.
c) Karbon monoksida (CO)
CO merupakan 1-5 % dari asap rokok. Zat ini mengusung
oksigen dalam darah (eritrosit) dan membentuk carboxihaemoglobin.
Seorang perokok akan mempunyai carboxyhaemoglobin lebih tinggi
dari orang normal, sekitar 2-15%, pada orang normal
carboxyhaemoglobin hanya sekitar 0,5-2%. Selain itu CO merusak
dan penyakit jantung koroner. CO juga merusak bayi dalam
kandungan.
3) Bahaya merokok
Bahaya merokok terhadap remaja yang terutama adalah
terhadap fisiknya, seperti yang dijelaskan oleh Depkes RI (2004) yaitu :
“rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia yang berbahaya.
Saat batang rokok terbakar, maka asapnya menguraikan sekitar 4000
bahan kimia dengan tiga komponen utama yaitu nikotin, tar dan karbon
monoksida”.
Efek merokok tidak hanya memengaruhi kesehatan perokok
saja, tetapi juga memengaruhi kesehatan orang sekitarnya yang tidak
merokok, karena terpapar asap rokok tersebut yang disebut perokok pasif
(Depkes RI, 2003).
Adapun bahaya merokok adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2003 dalam
Poltekes Depkes. 2012).
a) Bagi perokok aktif
(1) Meningkatkan resiko dua kali lebih besar untuk mengalami
serangan jantung.
(2) Meningkatkan resiko dua kali lebih besar mengalami stroke.
(3) Meningkatkan resiko mengalami serangan jantung dua kali lebih
besar pada mereka yang mengalami tekanan darah tinggi atau
kadar kolesterol tinggi.
(4) Meningkatkan resiko 10 kali lebih besar untuk mengalami
(5) Meningkatkan resiko lima kali lebih besar menderita kerusakan
jaringan anggota tubuh yang rentan.
b) Bagi perokok pasif
(1) Bahaya kerusakan paru-paru. Kadar nikotin, karbon monoksida,
serta zat-zat lain yang lebih tinggi dalam darah mereka akan
memperparah penyakit yang sedang diderita, dan kemungkinan
mendapat serangan jantung yang lebih tinggi bagi mereka yang
berpenyakit jantung. Anak-anak yang orang tuanya merokok
akan mengalami batuk, pilek, dan radang tenggorokan serta
penyakit paru-paru lebih tinggi. Wanita hamil yang merokok
berisiko mendapatkan bayi mereka lahir kurus, cacat dan
kematian.
(2) Jika suami perokok, maka asap rokok yang dihirup oleh istrinya
akan mempengaruhi bayi dalam kandungan.
4) Faktor-faktor yang mempengaruhi merokok
Menurut Juniarti (1991) dalam Mu’tadin (2002), faktor yang
mempengaruhi kebiasaan merokok adalah sebagai berikut :
a) Pengaruh orang tua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa
anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia,
dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan
memberikan hukuman fisik yang keras, lebih muda untuk jadi
perokok dibanding dengan anak-anak yang berasal dari lingkuangan
Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan
nilai-nilai sosial dan agama yang baik dengan tujuan jangka panjang
lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan
dibandingakan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan
pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri”. Yang paling kuat
pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh, yaitu
sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali
untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak ditemui pada
mereka yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Dari pada
ayah yang perokok, remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai
perokok justru bila ibu merasa yang merokok, hal yang ini lebih
terlihat pada remaja putri (Al Bachri, 1991 dalam Poltekes Depkes,
2012).
b) Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa bila semakin banyak
remaja yang merokok, maka semakin besar kemungkinan
teman-temannya adalah perokok dan demikian sebaliknya. Dari fakta
tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, remaja tadi
terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja
tersebut dipengaruhi oleh remaja tersebut, hingga akhirnya mereka
semua menjadi perokok. Di antara remaja perokok, 87% mempunyai
sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok, begitu pela
dengan remaja perokok (Al Bachri, 1991 dalam Poltekes Depkes,
c) Faktor kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau
ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, dan
membebaskan diri dari kebosanan (Poltekes Depkes, 2012).
d) Pengaruh iklan
Melihat iklan di media masa dan elektronik yang
menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan
atau glamour, membuat remaja sering kali terpicu untuk mengikuti
perilaku seperti yang ada di dalam iklan tersebut (Juniarti, 1991
dalam Poltekes Depkes 2012).
5) Dampak merokok
Dampak merokok menurut Poltekes Depkes (2012) antara lain :
a) Dampak bagi paru-paru
Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi
saluran nafas dan jaringan paru-paru. Pada saluran nafas besar, sel
mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak
(hiperplasia). Pada saluran nafas kecil, terjadi radang ringan hingga
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada
jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan
kerusakan alveoli.
Akibat perubahan anatomi saluran nafas, akan timbul
perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala
klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya Penyakit Obstruksi
penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru,
bronkitis kronis dan asma.
b) Dampak terhadap jantung
Banyak peneliti telah membuktikan adanya hubungan
merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta
kematian pertahun di negara industri maju. WHO melaporkan lebih
dari setengah (6 juta) disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah,
dimana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah
stroke. Survey Depkes RI tahun 1986 dan 1992, mendapatkan
peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7% (peringkat
ketiga) menjadi 16% (peringkat pertama). Merokok menjadi faktor
utama penyebab penyakit pembuluh darah dan jantung tersebut.
Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga
berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer.
c) Stroke
Penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak
atau stroke banyak dikaitkan dengan merokok. Resiko stroke dan
kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan
perokok. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan
Inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan
timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS
timbul rata-rata dalam 8,17 bulan, sedangkan kelompok bukan
perokok timbul setelah 14,5 bulan. Penurunan kekebalan tubuh pada
berhenti merokok merupakan langkah penting dalam pertahanan
melawan AIDS.
6) Perilaku merokok
Menurut Silvan Tomkins dalam Al Bahri (1991), berdasarkan
Management or Affect Thepry, ada empat tipe perilaku merokok antars
lain :
a) Perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif
Mereka berpendapat bahwa dengan merokok seseorang akan
merasakan penambahan rasa yang positif. Green dalam Psychological
Factor in Smoking (1978) menambahkan subtipe berikut ini :
(1) Pleasure relaxation, yaitu perilaku merokok hanya untuk
menambahkan atau meningkatkan kenikmatan yang sudah
didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
(2) Stimulation to pick them up, yaitu perilaku merokok hanya
dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
(3) Pleasure of handling the cigarette, yaitu kenikmatan yang
diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok
pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa
dengan tembakau sedangkan untuk mengisapnya hanya
dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Ada juga perokok yang
lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan
b) Perilaku perokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif
Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi
perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, atau gelisah. Rorko
di anggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila
perasaan tidak enak, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak
enak.
c) Perilaku perokok yang adiktif
Green menyebutkan sebagai kecanduan secara psikologis.
Mereka yang sudah kecanduan cenderung akan menambah dosis
rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang
diisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah
membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena khawatir
rokok tidak tersedia saat ia menginginkannya.
d) Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan
Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk
mengendlikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah
menjadi kebiasaan rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini,
merokok sudah menjadi perilaku yang bersifat otomatis, sering kali
tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan lagi api
b. Seksual
1) Pengertian
Hubungan seksual adalah perilaku yang dilakukan sepasang
individu karena adanya dorongan seksual dalam bentuk penetrasi penis
kedalam vagina (Poltekes Depkes, 2012).
2) Kerugian seks bebas
Kerugian seks bebas pada remaja menurut Poltekes Depkes 2012 adalah :
a) Resiko menderita penyakit menular seksual, misalnya gonore, sifilis,
HIV/AIDS, herpes simpleks, herpes genetalis, dan sebagainya.
b) Remaja putri berisiko mengalami kehamila yang tidak diinginkan.
Bila ini terjadi maka berisiko terhadap tindakan aborsi yang tidak
aman resiko infeksi atau kematian karena perdarahan. Bila
kehamilan diteruskan, maka berisiko melahirkan bayi yang
kurang/tidak sehat.
c) Trauma kejiwaan (depresi, rasa rendah diri, rasa berdosa karena
berzina).
d) Remaja putri yang hamil berisiko kehilangan kesempatan untuk
3) Faktor yang menyebabkan melakukan seks bebas
Faktor-faktor yang menyebabklan remaja melakukan
hubungan seksual pranikah menurut Poltekes Depkes (2012) yaitu :
a) Adanya dorongan biologis
Dorongan biologis untuk melakukan hubungan seksual
merupakan insting alamiah dari berfungsinya organ sistem
reproduksi dan kerja hormon. Dorongan dapat meningkat karena
dari luar, misalnya dengan membaca buku atau menonton
film/majalah yang menampilakan gambar-gambar tersebut melalui
telepon genggam dan akan selalu dibawa dalam setiap langkah
remaja.
b) Ketidakmampuan mengendalikan dorongan biologis
Kemampuan mengendalikan dorongan biologis dipengaruhi
oleh nilai-nilai moral dan keimanan seseorang. Remaja yang
memiliki keimanan kuat tidak akan melakukan seks pranikah,
karena mengingat ini merupakan dosa berat yang harus
dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan Yang Mahakuasa.
Namun, keimanan ini dapat sirna tanpa bersisa tanpa dipengaruhi
oleh obat-obatan misalnya psikotropika. Obat ini akan
mempengaruhi pikiran remaja sehingga pelanggaran terhadap
nilai-nilai agama dan moral dinikmati dengan tanpa rasa bersalah.
c) Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
Kurangnya kemampuan atau mempunyai konsep yang salah
tentang kesadaran reproduksi pada remaja dapat disebabkan karena
tentang kesehatan reproduksi sebagai hubungan seksual. Biasanya
topik terkait reproduksi tabu dibicarakan dengan anak (remaja).
Sehingga saluran informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi
menjadi sangat kurang.
d) Adanya kesempatan melakukan hubungan seksual pranikah
Faktor kesempatan melakukan hubungan seks pranikah
sangat penting untuk dipertimbangkan, karena bila tidak ada
kesempatan baik ruang maupun waktu, maka hubungan seks
pranikah tidak akan terjadi. Terbukanya kesempatan pada remaja
untuk melakukan hubungan seks didukung oleh hal-hal sebagai
berikut.
(1) Kesibukan orangtua menyebabkan kurangnya perhatian pada
remaja.
Tuntutan kebutuhan hidup sering menjadi alasan
suami istri bekerja di luar rumah dan menghabiskan
hari-harinya dengan kesibukan masing-masing sehingga perhatian
terhadap anak remajanya terabaikan.
(2) Pemberian fasilitas (termasuk uang) pada remaja secara
berlebihan.
Adanya ruang yang berlebihan membuka peluang
bagi remaja untuk membeli fasilitas, misalnya menginap di
hotel atau motel atau ke night club sampai larut malam. Situasi
(3) Pergeseran nilai-nilai moral dan etika dimasyarakat dapat
membuka peluang yang mendukung hubungan seksual pranilah
pada remaja.
Misalnya, dewasa ini pasangan remaja yang menginap
di hotel/motel adalah hal yang biasa, sehingga tidak
ditanyakan/dipersyaratkan menunjukkan akte nikah.
(4) Kemiskinan
Kemiskinan mendorong terbukanya kesempatan bagi
remaja khususnya wanita untuk melakukan hubungan seks
pranikah. Karena kemiskinan ini remaja putri terpaksa bekerja.
Namun, sering kali mereka tereksploitasi, bekerja lebih dari 12
jam sehari, pekerja di perumahan tanpa dibayar hanya diberi
makan dan pakaian, bahkan beberapa mengalami kekerasan
seksual.
c. Narkoba 1) Pengertian
Menurut para ahli (Gordon dan Gordon, 2000 dalam Agoes
Dariyo, 2004) perlu dibedakan antara pengertian istilah yang berkaitan
dengan pengguna obat-obatan (drug user), penyalahgunaan obat (drug
abuser) dan ketergantuangan obat (drug addicts).
a) Pengguna obat (drug user)
Mereka yang tergolong pengguna obat-obatan (drug user
adalah) mereka yang menggunakan obat-obatan atau alkohol dengan
kepenatan setelah bekerja, atau mengatasi rasa stress dan cemas
dalam hidupnya. Ciri-cirinya, mereka ini tidak hidup bergaul
maupun tidak hidup dalam lingkungan yang menggunakan
obat-obatan dan alkohol. Kehidupan pribadi maupun kehidupan keluarga
dari drug user, bukanlah orang-orang yang mengalami
ketergantungan obat dan alkohol. Mereka menggunakan obat atau
alkohol mungkin hanya saat menghadapi suatu masalah dalam
hidupnya, tetapi dalam keseharian mereka tidak menggunakannya.
Jadi disini obat-obatan atau alkohol, sebagai sarana pelarian pada
saat menghadapi masalah hidup saja.
b) Penyalahgunaan obat (drug abuser)
Penyalahgunaan obat-obatan adalah mereka yang dalam
hidupnya, memang memiliki masalah dengan obat-obatan dan
alkohol, yakni baik secara fisik, mental, emosional, maupun
spiritual. Dalam kehidupan sehari-hari mereka telah terkondisikan
sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menggunakan
obat/alkohol. Mungkin mereka hanya menggunakan obat/alkohol itu
2-3 hari sekali atau seminggu sekali, namun mereka tidak dapat
menghentikan kebiasaan itu. Mereka secara kognitif, tahu bahwa
obat-obatan atau alkohol itu dapat menyebabkan suatu masalah
dalam kehidupan, namun mereka tidak mampu mengontrol diri
untuk tidak menggunakannya. Mereka tidak dapat membayangkan
hidup tanpa obat dan alkohol. Karena itu mereka tidak dapat bergaul
Biasanya, pergaulan mereka pun bersama dengan pengguna
obat/alkohol.
c) Ketergantungan obat (drug addicts)
Addiction berasal dari kata addict, yang berati
ketergantungan terhadap sesuatu. Addiction mengandung pengertian
ketergantungan terhadap sesuatu. Jadi secara harfiah drug addistion
berarti ketergantungan terhadap obat-obatan. Gordon dan Gordon
(2000) dalam Agoes Dariyo (2004) menganggap ketergantungan
obat-obatan atau alkohol merupakan suatu gangguan atau penyakit
individu yang bersifat fisik, mental dan emosional, sehingga
individu merasa tidak mampu menghentikan kecenderungan untuk
menggunakan obat/alkohol itu.
2) Karakteristik pengguna atau penyalahgunaan narkoba
Secara umum, seorang ahli psikolog, Kartono (1992) dalam
Agoes Dariyo (2004) mengungkapkan karakteristik orang yang
mengalami ketergantungan obat, yakni :
a) Mempunyai keinginan yang tak tertahankan untuk menggunakan
narkoba, sehingga berupaya memperoleh dengan cara yang halal.
b) Cenderung menambah dosis sesuai dengan toleransi tubuh.
c) Menjadi ketergantungan secara psikis dan fisik, akibatnya individu
3) Jenis-jenis pecandu
Ketergantungan obat atau alkohol, secara singkat, dapat
disebut sebagai pecandu. Gordon dan Gordon (1999) dalam Agoes Dariyo
(2004) membedakan 5 jenis pecandu yakni :
a) Pecandu derelict
Pecandu derelict adalah para pecandu yang berasal dari
orang-orang pinggiran, seperti orang jalanan atau pecandu jalanan,
peminta-minta, pengamen, pengemis, orang-orang kumuh. Mereka
ini kalau mengalami sakaw, mungkin karena tidak memiliki cukup
uang untuk membeli obat atau alkohol, maka mereka dapat
menggantinya dengan menggunakan lem, minum arak tradisional
(ciu, oplosan bodrek, coca-cola/sprite/bir). Jumlah mereka berkisar
5% dari total pecandu.
b) Pecandu kronis
Pecandu kronis adalah mereka yang setiap kali
menggunakan obat atau alkohol, selalu mengalami high, fly, atau
mabuk. Setiap harinya, mereka berusaha untuk menggunakan obat
atau alkohol untuk mencapai high/fly. Bagi mereka tiada hari tanpa
narkoba.
c) Pecandu periodik
Pecandu periodik yaitu mereka yang menggunakan obat /
alkohol, secara periodik, berkala yakni berhenti,
pakai-berhenti. Mereka ini akan berhenti untuk beberapa saat guna
pecandu murni, karena mereka bisa berhenti. Namun beberapa
waktu kemudian, mereka akan menggunakan narkoba lagi.
d) Pecandu situasional
Mereka yang tergolong pecandu situasional adalah mereka
yang menggunakan narkoba pada situasi tertentu. Bukan sembarang
situasi, tetapijenis sitiasi yang darurat, dramatis/traumatis, ketika
menggunakan narkoba itu. Misalnya saat merasa kecewa, stress,
sedih, bosan total (bete).
e) Pecandu sosial
Tipe pecandu ini hidup normal dan penggunaannya hanya
untuk kehidupan sosial, artinya bersama dengan orang lain. Mereka
sering kali menggunakan narkoba hanya pada malam minggu, akhir
minggu, pesta atau situasi sosial lainnya. Para pecandu ini seringkali
sulit diidentifikasi (dikenali) dan seringkali mereka terdiri atas para
penguasa, orang-orang yang sukses, orang-orang penting/selebritis.
4) Dampak penggunaan narkoba
Secara umum ada 2 dampak yang ditimbulkan dari
penyalahgunaan narkoba menurut Agoes Dariyo (2004) yaitu :
a) Kepribadian adiksi (addiction personality)
Individu yang mengalami kepribadian adiksi ditandai
dengan suka menyembunyikan tindakan/ motif perilaku,
berpura-pura, berbohong, menipu, ingkar janji. Secara intelektual, individu