DARI PENULIS
Sejarah yang hampir selalu berada pada frame masa-masa sulit dan berbagai bentuk keterbatasan seringkali membuat saya terkagum-kagum terhadap para pelaku sejarah dengan segala bentuk keputusan dan tindakan yang mereka buat, apalagi jika di kemudian hari saya menyaksikan sendiri buah keberhasilan dari keputusan dan tindakan tersebut. Sejarah tidak hanya terbatas pada sekumpulan kisah heroik jaman perjuangan negeri ini ataupun kisah-kisah kebesaran kerajaan dan kesultanan di masa lampau, namun segala bentuk peristiwa yang terlewati oleh waktu meskipun itu hanya satu detik berlalu adalah sebuah sejarah.
Sejarah pembangunan lokal sangat jarang diekspose dan terdokumentasi, sehingga menarik perhatian saya menggali dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Dalam menyusun tulisan ini, saya merasa seperti menyusun sebuah mosaik cerita dari serpihan-serpihan kisah yang terserak dari berbagai macam sumber dokumen sehingga menjadi sebuah satu kesatuan cerita yang utuh. Sebagai seorang yang bukan pelaku sejarah, maka perlu ada catatan bahwa tulisan ini lebih mengarah pada
rewrite dari semua serpihan-serpihan kisah tersebut.
Proyek-proyek besar yang digagas dan dilaksanakan di Kalimantan Selatan oleh para pendahulu beberapa diantaranya memiliki pengaruh yang amat significant terhadap kemajuan daerah serta memberikan kontribusi yang tidak kecil terhadap perekonomian secara nasional, meskipun begitu ada pula yang berakhir seperti yang tidak diharapkan. Penilaian sukses atau gagal dari semua usaha pembangunan yang telah dilakukan dalam upaya memajukan daerah ini di masa lalu tidaklah menjadi hal yang teramat penting artinya, karena memang sudah selayaknya sejarah diposisikan menjadi sebuah pengalaman untuk bertindak lebih bijak dan bersikap yang lebih baik ke depan.
Erwan Nurindarto
DAFTAR ISI
DARI PENULIS 2
DAFTAR ISI 3
LADANG MINYAK TABALONG (1898 – SEKARANG) 4 PABRIK GULA PELAIHARI (1982 – 2002) 9 PABRIK KERTAS MARTAPURA (1960 – 1978) 13 PROYEK BESI BAJA KALIMANTAN (1956 – 1965) 16 PIONER INDUSTRI KAYU LAPIS KALIMANTAN SELATAN (1971 –
2008) 20
LADANG MINYAK TABALONG
(1898 – SEKARANG)
Minyak bumi atau petroleum berasal dari kata “petros” dalam bahasa Yunani berarti batu dan “oleum” dalam bahasa Latin berarti minyak. Jauh sebelum minyak bumi dieksploitasi dan dipergunakan secara luas pada abad 19, pemanfaatan mineral bumi diawali dengan penambangan aspal alami oleh bangsa Iraq di tepian sungai Euphrate pada tahun 4.000 sebelum Masehi. Aspal alami ini digunakan sebagai mortar atau peluru api dalam peperangan dan juga digunakan sebagai penambal anti air di kapal, tempat-tempat penampungan serta bangunan. Kemudian berabad-abad setelah itu minyak bumi mulai ditambang dan dimanfaatkan oleh bangsa Cina pada tahun 347 Masehi, minyak bumi di Cina ini ditemukan pada kedalaman 240 meter dan ditambang secara sederhana dengan menggunakan bambu. Dan tercatat juga pada tahun 1594 minyak bumi ditambang dengan penggalian secara manual oleh bangsa Persia di daerah bernama Baku dan minyak bumi ditemukan pada kedalaman 35 meter.
Sampai pada akhir abad 19, hasil utama olahan minyak bumi yang dimanfaatkan hanya berupa paraffin untuk pemanas dan kerosene
(minyak tanah) untuk penerangan/lampu. Akan tetapi ternyata minyak bumi yang berasal dari Indonesia terutama Sumatera banyak mengandung gasoline (bensin) yang kemudian banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan di Eropa. Baru pada awal abad 20 pada saat perang dunia kedua berkecamuk ditemukan diversifikasi baru olahan minyak bumi yang menghasilkan minyak dengan oktan tinggi berupa avtur untuk bahan bakar pesawat terbang serta butadiene sebagai bahan baku karet sintetis.
Atmodjo. Sedangkan Bupati pertama pemerintah daerah kabupaten Tabalong yang masa itu disebut sebagai Penguasa Daerah yaitu Bapak Usman Dundrung, dilantik pada tanggal 1 Desember 1965 dan mengakhiri masa jabatan pada 14 Maret 1972.
Masa-masa awal eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi di Indonesia dimulai pada kurun waktu 1871 – 1885, seorang pengusaha perkebunan tembakau Belanda bernama A.J Zijkler memulai pengeboran minyak bumi di desa Telaga Said wilayah Kesultanan Langkat Sumatera Utara dan berhasil mengeluarkan minyak dari dalam bumi tepatnya tanggal 15 Juni 1885 pada kedalaman 121 meter dengan hasil minyak yang diperoleh 180 barrel per hari (1 barrel = 159 liter). Dan saat itulah pertama kali minyak bumi di Indonesia berhasil dieksploitasi dan diusahakan secara komersial. Sumur minyak pertama di Indonesia tersebut ditinggalkan pada tahun 1934, dan kini pada tempat tersebut berdiri sebuah monumen berupa tugu Telaga Tunggal.
Untuk wilayah Kalimantan, konsesi komersial minyak bumi pertama adalah konsesi milik Sultan Kutai Kalimantan Timur dengan orang Belanda bernama JH Meeten di daerah Sanga sanga pada tahun 1888. Karena besarnya potensi minyak bumi di Kalimantan maka pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk membangun sebuah instalasi penyulingan minyak yang dekat dengan pelabuhan sehingga memudahkan untuk kegiatan ekspor minyaknya, sehingga pada tahun 1894 dibangunlah kilang minyak di Balikpapan oleh perusahaan minyak Belanda bernama Royal Dutch Shell dan kilang minyak ini mulai beroperasi pada tahun 1898. Pemerintah Hindia Belanda saat itu terus giat melakukan eksplorasi sumber-sumber minyak baru di wilayah Kalimantan, hingga pada tahun 1898 dilakukan pengeboran lapangan minyak baru di Tanjung Kalimantan Selatan oleh perusahaan bernama Minj Bouw Maatschapij Martapoera. Minj Bouw Maatschapij Martapoera beroperasi di Tanjung yang berakhir masa kontraknya tahun 1912, dan kemudian sumur minyak lapangan Tanjung beralih pengelolaannya oleh Dotsche Petroleum Maatschapij hingga awal tahun 1930 an.
memiliki unit kerja yang lain yaitu instalasi pipa-pipa penyalur serta operasional pengolahan berupa kilang-kilang penyulingan minyak bumi. Pada rentang waktu tahun 1930 – 1939 di bawah pengelolaan BPM, di daerah Tabalong ditemukan pula sumur-sumur minyak yang lain yaitu lapangan Warukin, lapangan Dahor dan lapangan Kambitin.
Pada periode 1942 – 1945 saat perang dunia kedua pecah yang ditandai dengan invasi masif balatentara Jepang yang bergerak dari Filipina, Sarawak dan masuk wilayah Kalimantan Indonesia melalui Tarakan hingga akhirnya menguasai seluruh wilayah Hindia Belanda, maka secara otomatis unit-unit bisnis milik kerajaan Belanda jatuh ke tangan Jepang termasuk lapangan minyak Tanjung. Pada periode ini kegiatan operasional oleh BPM terhenti, akan tetapi aktivitas eksploitasi tetap dilanjutkan oleh Jepang dengan tetap memakai tenaga kerja lokal yang ada. Aktivitas eksploitasi di lapangan Tanjung oleh Jepang pun berakhir seiring dengan bertekuk lututnya balatentara Jepang oleh tentara sekutu pada tahun 1945.
Setelah berakhir perang dunia kedua tahun 1945, BPM kembali beroperasi di lapangan Tanjung hingga tahun 1961. Setelah kembali dioperasikan oleh BPM, maka dimulailah pekerjaan instalasi pipa penyalur minyak mentah dengan diameter 20 inchi dari sumur-sumur minyak dari beberapa lokasi di Tabalong menuju tempat penimbunan di Manunggul dan kemudian disalurkan melalui pipa bertekanan tinggi menuju tempat penyulingan di Balikpapan Kalimantan Timur, pekerjaan instalasi pipa penyalur ini akhirnya selesai dikerjakan pada akhir tahun 1961 dengan total panjang pipa 246 km yang beberapa km diantaranya terpasang di dasar laut. Dapat dibayangkan betapa beratnya pekerjaan instalasi pipa penyaluran minyak ini pada saat itu, selain menembus lebatnya hutan juga harus melewati topografi yang berat melintasi lembah dan perbukitan serta laut di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Pada masa Hindia Belanda wilayah konsesi penambangan minyak di Sumatera, Jawa, Kalimantan serta Papua dikuasai oleh beberapa perusahaan Belanda yaitu Baatatsch Petroleum Maatschappij (BPM), Nederlandsch Indische Ardolie MU (NIAM), Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM) serta Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM). Undang-undang no. 44 tahun 1960 ini menjadi dasar pemerintah Indonesia untuk melikuidasi BPM dan membentuk PN Permindo, dimana sebagian saham PN Permindo adalah milik PT. Shell Indonesia. Namun dalam hal ini PT. Shell Indonesia lah yang melaksanakan kegiatan operasional di Tabalong. PN Permindo adalah perusahaan negara hasil likuidasi dari perusahaan Belanda NIAM, sedangkan PT. Shell Indonesia adalah bentukan baru dari BPM. Kerjasama ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1961 pemerintah Indonesia mengambil alih saham PT. Shell Indonesia, dan mendirikan sebuah Permina. Setelah dua perusahaan negara PN Permina dan PN Pertamin yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilebur menjadi satu perusahaan dengan nama PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Pertamina) dengan dasar Peraturan Pemerintah no. 27 tahun 1968 tanggal 20 Agustus 1968, maka seluruh kegiatan penambangan minyak dan gas di wilayah Indonesia telah dikontrol dan diorganisasikan oleh perusahaan pemerintah Republik Indonesia.
Di era akhir tahun 60 an hingga akhir tahun 80 an adalah masa kejayaan Pertamina di Tabalong karena keuntungan dari semua hasil produksi menjadi milik Pertamina, namun karena telah sedemikian lamanya eksploitasi dilakukan maka sumur-sumur minyak bumi yang ada di Tabalong pun mulai menurun produksinya. Dalam hal ini diperlukan suatu teknologi eksploitasi minyak bumi yang harus diadopsi untuk kembali meningkatkan produksi sumur-sumur minyak di Tanjung. Nama dari teknologi ini adalah Enhanced Oil Recovery (EOR), teknik ini bertujuan agar minyak bumi dalam sebuah sumur dapat berproduksi kembali dengan cara memberikan sebuah energi tekan berupa bahan kimia, air atau lainnya yang diinjeksikan ke dalam sebuah sumur minyak sehingga minyak bumi dapat memancar ke permukaan tanah. Dan pada tahun
Pertamina dan 50% Talisman Energy – Canada. Kontrak EOR dengan Talisman Energy telah berakhir pada tahun 2003. Setelah usai kontrak EOR selama 15 tahun dengan perusahaan asing dan transfer teknologi sudah dianggap memadai maka pada tanggal 11 September 2004 terbit SK Direktur Utama no. Prin-848/Cooooo/2004-S1 tanggal 3 November 2004 tentang pelaksanaan alih kelola Blok Tanjung paska kontrak EOR JOB (Joint Operation Body) antara Pertamina - Talisman (Tanjung) Ltd kepada PT. Pertamina Unit Bisnis EP (Tanjung).
Saat ini lokasi dan jumlah sumur-sumur minyak di Tabalong yang tersebar di beberapa tempat adalah; Tanjung Raya & Murung Pudak dengan jumlah lebih dari 250 sumur minyak, Warukin Selatan 11 sumur minyak, Warukin Tengah 6 sumur minyak, Tapian Timur 8 sumur minyak serta Kambitin dengan 2 sumur minyak. Pada tahun 2007 sumur-sumur minyak yang terdapat di Tabalong mampu menghasilkan minyak mentah 4.800 barrel per hari, jumlah produksi ini menyumbangkan 4,6% dari total rata-rata produksi nasional sebesar 103.000 barrel per hari. Kebutuhan minyak nasional menurut data dari www.esdm.go.id hingga tahun 2007 memperlihatkan bahwa jumlah konsumsi dan ekspor nasional selalu lebih tinggi dari jumlah produksi nasional, sehingga meskipun Indonesia merupakan produsen minyak akan tetapi Indonesia juga tetap melakukan impor minyak dari luar negeri. Salah satu contoh data produksi dan kebutuhan minyak nasional tahun 2007 adalah; produksi nasional 347.493.172 barrel, tingkat konsumsi nasional 321.302.814 barrel, keperluan ekspor 127.134.792 barrel dan impor minyak dari luar negeri 110.448.506,36 barrel.
Di tahun 2010 ini kebutuhan minyak nasional sudah mencapai 1,4 juta barrel per hari, oleh sebab itu PT. Pertamina (Persero) mencanangkan target produksi 1 juta berrel per hari. Sebuah tantangan yang berat bagi PT. Pertamina untuk dapat memenuhi kebutuhan minyak nasional dan kebutuhan ekspor serta sekaligus mengurangi beban impor minyak dari luar negeri. Akan tetapi bukankah negeri ini telah diberkahi dengan kekayaan alam yang sangat besar, tanaman dengan begitu mudahnya tumbuh dan menghasilkan sehingga sudah saatnya sedikit demi sedikit kita mengurangi ketergantungan kita dengan minyak fosil dan segera mengkonversinya dengan biofuel yang berasal dari berbagai macam tanaman seperti jarak, sawit, tebu bahkan singkong.
PABRIK GULA PELAIHARI
“Ada gula ada semut” demikian kata pepatah lama yang amat tepat untuk menggambarkan betapa manisnya gula sehingga mengundang banyak hasrat untuk mencicipinya. Demikian pula besarnya hasrat orang-orang Eropa pada beberapa abad yang lalu telah mulai mengembangkan perkebunan-perkebunan tebu berikut industri pengolahan gula di koloni-koloni mereka di daerah tropis seperti Indonesia, India, Filipina, Kepulauan Karibia dan Kepulauan Pasifik lainnya. Akan tetapi sebenarnya tanaman tebu pertama kali ditemukan dan dimanfaatkan oleh orang Polinesia yang kemudian menyebar ke India. Keberadaan tanaman ini sempat dirahasiakan oleh raja Persia yang menguasai India sekitar tahun 510 sebelum Masehi karena hasil olahannya berharga sangat tinggi pada masa itu. Namun akhirnya rahasia tanaman tebu terbongkar oleh prajurit-prajurit Arab pada abad 7 Masehi, mereka mulai membudidayakan tanaman tebu dan mempelajari cara pengolahannya sehingga mereka mulai mendirikan tempat-tempat pengolahan di wilayah yang mereka kuasai termasuk Afrika Utara dan Spanyol.
Kabupaten Tanah Laut dengan ibu kota Pelaihari sebelum era maraknya pertambangan batu bara dan mineral lainnya saat ini, memang sudah dikenal sebagai daerah penghasil produk-produk pertanian baik itu komoditas pangan, ternak dan perkebunan. Dan salah satu tonggak bersejarah dikenalnya Pelaihari sebagai salah satu daerah industri pertanian di Kalimantan Selatan adalah dengan dibangunnya proyek pabrik gula Pelaihari. Proyek pengembangan pabrik gula Pelaihari secara formal pada awalnya dikelola oleh PT. Perkebunan XXIV – XXV (PERSERO) yang mana pendirian Persero ini dilandasi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1975 tanggal 28 April 1975.
Sedikit tentang PT. Perkebunan XXIV-XXV, perusahaan negara ini memang telah sejak lama berkecimpung dalam perkebunan tebu dan pabrik gula. Berawal dari perkebunan milik Belanda yang beroperasi tahun 1830 dengan nama Anamaet & Co yang berada di Kecamatan Pajarakan Probolinggo Jawa Timur. Pabrik ini terus beroperasi hingga awal pendudukan Jepang tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang pabrik ini tidak beroperasi karena pabriknya beralih fungsi menjadi markas tentara Jepang. Baru pada tahun 1948 pabrik gula ini diambil alih kembali oleh sebuah perusahaan Belanda yang bernama Javanch Kultur Matchapij NV dan baru beroperasi tahun 1951 karena banyak kerusakan akibat perang. Namun perusahaan Belanda ini tidak beroperasi lama karena ada keputusan politik nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia oleh pemerintah Indonesia termasuk pabrik ini pada tahun 1957 berdasarkan Surat Penguasa Militer/ Menteri Pertahanan No.1063/PMT/1957 tanggal 5 Desember 1957. Dan kemudian setelah nasionalisasi perusahaan perkebunan ini berganti nama menjadi Perusahaan Perkebunan Negara Baru atau disingkat PPN Baru yang menjadi cikal bakal PT. Perkebunan XXIX-XXV.
arah swasembada gula. Sedangkan ide pembangunan pabrik gula membangun pabrik gula di Pelaihari untuk penyerapan tenaga kerja dan mempercepat swasembada gula. Dengan ketersediaan lahan seluas 22.000 ha pemerintah pusat menanggapi positip aspirasi masyarakat ini dan mulai merealisasikan pembangunan pabrik gula Pelaihari pada tahun 1982 dengan biaya keseluruhan mencapai US$ 130,2 juta yang mana 60% nya merupakan dana pinjaman dari Bank Dunia, serta menunjuk PT. Perkebunan XXIV-XXV sebagai pengelola proyek pengembangan ini dengan pola perkebunan inti rakyat (PIR). Namun proses pembangunan pabrik ini bukan tanpa kendala di lapangan, kendala yang cukup serius adalah klaim atas lahan 22.000 ha areal perkebunan dimana 11.000 ha nya adalah tanah milik warga. Sehingga gubernur Kalimantan Selatan HM Said saat itu harus turun tangan dengan mengundang Tim Optibsus penertiban pertanahan di Tanah Laut untuk melakukan investigasi dengan hasil 648 sertifikat tanah dinyatakan cacat hukum. Sehingga pada akhirnya giling perdana pabrik gula Pelaihari dari hasil panen 2.350 ha dapat terlaksana pada tahun 1985.
Dengan berdirinya pabrik gula Pelaihari geliat roda ekonomi Tanah Laut menjadi sangat terasa, tercatat pada tahun 1986 jumlah uang beredar di Tanah Laut berupa Tabanas, giro dan pengiriman uang naik dengan pesat 80% per tahun dari Rp. 500 juta menjadi Rp. 1,4 milyar dalam kurun waktu 1982-1985. Dan untuk deposito berjangka naik 2.000 % dari Rp.8,4 juta pada tahun 1982 menjadi Rp. 194 juta pada tahun 1985. Hal ini disebabkan karena pertambahan jumlah penduduk sehubungan dengan segala aktivitas yang ada di pabrik gula, di dalam wilayah kerja pabrik telah bermukim 700 kk petani plasma eks transmigran ditambah dengan 1.437 orang karyawan pabrik tidak termasuk buruh tebang dan tenaga borongan lainnya. Jumlah ini masih akan bertambah dengan rencana kedatangan 400 kk lagi petani plasma serta 350 orang khusus penebang tebu guna memenuhi keperluan tenaga masa giling 1986 dari hasil panen seluas 4.350 ha. Perlu diketahui pada saat itu kota Pelaihari masih
produksinya tidak bisa menutupi ongkos-ongkos tersebut patutlah dicemaskan kelangsungan bisnis yang telah dibangun. Seperti halnya pabrik gula Pelaihari tercatat sejak giling perdana tahun 1985 hingga tahun 1996, pabrik ini cenderung merugi.
Pada tahun 1996 keluar pula Peraturan Pemerintah nomor 16 tahun 1996 tentang merger PT. Perkebunan XX dan PT. Perkebunan XXIV – XXV menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI, dimana masih ada beban hutang dari PT. Perkebunan XX yang harus diselesaikan dan setelah merger hutang tersebut menjadi beban hutang PT. Perkebunan Nusantara XI. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pihak manajemen tentang kisah meruginya pabrik ini. Mulai dari masalah teknis budidaya yaitu permasalahan kurang suburnya lahan perkebunan, curah hujan yang sangat tinggi 1.600 – 3.500 mm per tahun, kebakaran pada saat kemarau, serangan hama penyakit, serta kurangnya tenaga kerja. Pada tahun 1997 tercatat beberapa kerusakan kebun tebu yang diakibatkan beberapa hal, antara lain kerusakan akibat kebakaran 300 – 4.000 ha per tahun, kerusakan akibat serangan hama 400 – 2.000 ha per tahun dan kerusakan akibat hal lain yang mengakibatkan tebu tak layak giling seluas 400 – 2.500 ha per tahun. Tentang masalah tenaga kerja, sebenarnya ada sekitar 5.000 petani peserta PIR gula namun dari jumlah tersebut hanya 40% saja yang mampu memanen sehingga masih diperlukan sekitar 2.000 – 3.000 orang untuk tenaga panen. Hal tersebut masih diperparah dengan ulah tak terpuji oleh segelintir oknum PTP dengan menyelewengkan pupuk dan fasilitas perawatan lainnya yang seharusnya sampai ke lahan tebu melalui para petani peserta PIR. Ini semua mengakibatkan produksi yang tak maksimal dari kapasitas giling terpasang pabrik tebu yang seharusnya sehari bisa menggiling 4.600 ton namun hanya mampu menggiling maksimal 80 % saja dari kapasitas tersebut.
Bukan tidak ada usaha yang dilakukan oleh pihak manajemen PTP untuk mengatasi semua hal tersebut, terobosan pernah dilakukan dengan memanfaatkan Inpres Nomor 9 tahun 1975 tanggal 22 April 1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Inpres ini dikeluarkan dengan maksud meningkatkan produksi gula dan meningkatkan pendapatkan petani tebu. Konkritnya, inpres ini adalah dukungan pemerintah kepada masyarakat dengan menyediakan fasilitas kredit perbankan untuk kegiatan usaha tebu. Peliknya permasalahan internal manajemen pabrik ini menghasilkan suatu rumusan bahwa TRI murni tidak dapat dilaksanakan sehingga diperlukan skema TRI khusus bagi pabrik ini. Skema TRI pola khusus ini didasarkan oleh SK Dirjen Perkebunan Nomor 44 tahun 1993 tentang TRI PIR gula Pelaihari. Hal ini setidaknya memberikan angin segar bagi PIR tebu, sehingga pihak manajemen saat itu memperkirakan bahwa kelak pada tahun 2000 pabrik akan mulai meraih keuntungan.
kemungkinan yang terjadi adalah bahwa kredit TRI pola khusus yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia sudah tidak dapat dikucurkan lagi. Hal ini mengakibatkan dari total 7.450 ha lahan plasma hanya dapat tertanam 1.050 ha saja. Hal lain yang memberatkan dalam sistem plasma, selama 15 tahun beroperasi pabrik gula Pelaihari memiliki kewajiban untuk membayar bagi hasil minimum kepada semua petani peserta plasma termasuk kepada petani yang tidak mau menanam tebu. Baru pada musim tanam 2000/2001 diterapkan pola bagi hasil 65 : 35 kepada petani yang mau menanam tebu, dan jika terjadi kebakaran kerugian ditanggung bersama antara petani dan pabrik gula. Dan ketentuan baru ini dirasakan beresiko bagi para petani plasma sehingga banyak diantara mereka yang menelantarkan lahannya, menjual kepada penambang emas tradisional atau menanaminya dengan komoditas lain. Mengenai petani plasma yang menanami lahannya dengan komoditas lain tidak dapat sepenuhnya dipersalahkan karena ada Undang-Undang no 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman yang telah membebaskan petani untuk mengusahakan lahannya dengan komoditas pertanian berdasarkan pertimbangan ekonomisnya. Dikeluarkannya undang-undang tersebut menambah terpuruknya bukan hanya pabrik gula Pelaihari akan tetapi industri gula secara nasional.
PABRIK KERTAS MARTAPURA
(1960 – 1978)
Meskipun teknologi digital saat ini sudah menjadi hal yang lumrah dan sudah menggantikan sebagian fungsi kertas sebagai media komunikasi tertulis, namun tetap saja tidak dapat menggantikan sepenuhnya fungsi kertas di dalam keseharian aktivitas manusia. Kelebihan media kertas sebagai dokumen dibandingkan dengan media digital adalah akses yang lebih mudah dan fleksibel tanpa memerlukan teknologi tinggi, mengakses dokumen dalam format buku cetak relatif tidak cepat melelahkan bila dibandingkan bila harus menghadapi layar komputer dalam waktu yang lama. Selain berfungsi sebagai media komunikasi tertulis, kertas juga memiliki fungsi-fungsi lain yang tak kalah penting di dunia modern ini misalnya sebagai bahan pembungkus & pengemas barang, kertas tissue hingga kertas-kertas khusus yang dipergunakan sebagai bahan pembuat dokumen-dokumen berharga dan mata uang.
papyrus. Namun tentunya media tulis tersebut disamping mahal juga tentunya sulit didapatkan dalam jumlah besar.
Kertas pertama kali diciptakan oleh seorang yang bernama Tsai Lun dari China yang hidup di tahun 105 M pada masa pemerintahan Kaisar Ho Ti. Tsai Lun adalah seorang pegawai pengadilan kerajaan yang mempersembahkan penemuannya kepada kaisar Ho Ti, yang mana kemudian atas jasa tersebut Tsai Lun mendapatkan kenaikan pangkat dan gelar kebangsawanan. Kertas ciptaan Tsai Lun ini dibuat dengan bahan dasar bambu yang ditumbuk hingga lumat, kemudian bubur bambu tersebut disaring dan dicampur dengan kapur, terakhir campuran bubur & kapur dicetak dalam bentuk lembaran-lembaran dan dikeringkan. Penemuan bangsa Cina ini menjadi lahan bisnis yang besar hingga Cina mampu mengekspor produk kertasnya ke negara-negara Asia pada masa itu. Cara pembuatan kertas ini sendiri dirahasiakan selama berabad-abad lamanya oleh bangsa Cina, hingga pada akhirnya pada tahun 751 M beberapa tenaga ahli pembuat kertas Cina tertawan oleh bangsa Arab sehingga kemudian dengan cepat kertas diproduksi di Bagdad dan Samarkhand. Dunia barat baru mengenal teknologi ini di abad 12, dan kemudian teknologi ini berkembang pesat di barat dengan diciptakannya mesin pencetak kertas oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg atau yang lebih dikenal sebagai Gutenberg saja pada tahun 1450.
pabrik ini adalah berasal dari dana pampasan perang Jepang yang tepat sehingga suplai baik bahan baku berupa kayu ataupun bahan-bahan prosesing lain sering tersendat. Hal ini bisa dipahami karena pada masa itu kondisi infrastruktur jalan dan pelabuhan belum cukup memadai. Pada awalnya sumber bahan baku kertas berupa kayu, digunakan kayu yang serat kayunya mirip dengan Pinus yaitu jenis Agathis yang disuplai dari Buntok daerah hulu sungai Barito yang pada saat itu masih masuk wilayah Kalimantan Selatan. Dan di daerah Buntok pula saat itu bibit-bibit
Pinus merkusii mulai ditanami guna keperluan suplai bahan baku selanjutnya. Pernah pula dilakukan suplai kayu Agathis untuk pabrik kertas ini oleh PT. Sampit Dayak sebuah perusahaan patungan swasta dan BPU Perhutani yang telah mengambil alih NV Bruinzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) sebuah perusahaan konsesi kayu milik Belanda yang telah beroperasi sejak tahun 1948 di Sampit Kalimantan Tengah. Jika menilik dari kondisi fisik populasi pohon-pohon pinus yang ada sekarang di kawasan Mentaos Banjarbaru, maka hampir dapat dipastikan bahwa populasi pohon pinus tersebut adalah peninggalan proyek pabrik kertas Martapura.
Sengketa administratif wilayah Buntok yang kemudian masuk menjadi wilayah Kalimantan Tengah telah menimbulkan persoalan baru terhadap suplai bahan baku, sehingga perlu inovasi dalam mengatasi masalah bahan baku ini. Dan ternyata para manajer pabrik kertas ini cukup jeli dan cerdik sehingga sebagai gantinya dipakailah batang-batang kayu karet tua yang akan diremajakan dari ribuan hektar areal Perusahaan Perkebunan Negara Danau Salak sebagai bahan baku pengganti, dengan konsekuensi kapasitas produksinya menjadi jauh menurun hanya 5 ton per hari dan mutu kertasnya juga lebih rendah. Peristiwa itu terjadi pada sekitar tahun 1972, dan pada saat itu tercatat ada sekitar 150 orang karyawan yang bekerja pada pabrik kertas ini. Meskipun dinilai merugi dengan biaya operasional yang tinggi dengan tingkat produksi yang rendah, pabrik kertas ini masih dapat beroperasi karena mendapatkan sokongan dana pemerintah melalui anggaran Pembangunan Lima Tahun (Pelita).
ini jika kepemilikan perusahaan beralih, karena mayoritas karyawan mengharapkan agar perumahan yang berjumlah 120 unit yang mereka tempati saat itu dapat mereka beli dengan uang pesangon mereka. Hingga pada puncaknya setelah menimbang secara teknis dan ekonomis bahwa perusahaan pabrik kertas ini tidak dapat dipertahankan lagi maka pemerintah mengambil keputusan untuk membubarkan perusahaan ini melalui Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1978 tanggal 23 September 1978 tentang Pembubaran Perusahaan Umum Kertas Martapura, dan dengan demikian semua aset dan kekayaan perusahaan tersebut diambil kembali oleh negara. Dan kini pada lokasi eks Pabrik Kertas Martapura tersebut telah berdiri megah sebuah Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha Martapura.
PROYEK BESI BAJA KALIMANTAN
(1956 – 1965)
Hubungan antar negara Indonesia dan Uni Sovyet memang sering mengalami pasang surut, adalah hal yang biasa dalam hubungan antar negara yang dipengaruhi oleh suhu politik dan keamanan internasional. Jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia kontak diplomatik telah dilakukan oleh Kesultanan Aceh pada masa perang Aceh (1874–1904) terhadap negara Uni Sovyet, kontak pertama dilakukan tahun 1879 oleh para wakil pejuang Aceh kepada pemerintah Uni Sovyet yang meminta agar mereka dapat diterima menjadi warga negara Uni Sovyet. Peristiwa tersebut terjadi ketika kapal Uni Sovyet Vsadnik sedang bersandar di pelabuhan Penang Malaysia, namun Tsar tidak dapat mengabulkan permintaan tersebut karena menghindari kesalahpahaman diplomatik antara kerajaan Belanda dengan Uni Sovyet. Surat permohonan resmi Sultan Aceh kembali disampaikan pada Nikolai II melalui Rudanovskiy sebagai konsulat Uni Sovyet di Singapura pada tanggal 15 Februari 1904, yang isi suratnya menyatakan permohonan agar wilayah kesultanan Aceh mendapatkan perlindungan dari Uni Sovyet. Namun kembali permohonan ini ditolak dengan halus dan ramah oleh Uni Sovyet dengan alasan bahwa mengabulkan permohonan ini nantinya akan menyulitkan hubungan Uni Sovyet dan Belanda.
Uni Sovyet yang telah bersimpati dengan Indonesia mengajukan sebuah resolusi kepada dewan keamanan PBB pada tanggal 21 Januari 1946 melalui Manuilsky seorang wakil Uni Sovyet di PBB, resolusi tersebut menuntut kepada dewan keamanan PBB untuk melakukan investigasi terhadap serbuan tentara Inggris di Surabaya tanggal 10 November 1945 serta mengupayakan perdamaian di Indonesia. Namun rancangan resolusi tersebut ditolak oleh PBB. Pada kurun waktu selanjutnya hubungan Indonesia dengan Uni Sovyet sempat menurun setelah terjadi pemberontakan komunis yang dipimpin tokoh komunis Muso di Madiun pada bulan September 1948. Hubungan diplomatik kembali mulai membaik setelah Perdana Menteri M Hatta (merangkap Menlu) waktu itu menerima berita kawat dari Menteri Luar Negeri Sovyet Vashinsky tanggal 25 Januari 1950 yang berisi pengakuan atas pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), yang mana sebelumnya Uni Sovyet menganggap bahwa RIS hanyalah negara boneka bentukan kerajaan Belanda. Republik Indonesia Serikat (RIS) sendiri adalah hasil dari perundingan antara Indonesia dengan kerajaan Belanda atau yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) dari tanggal 23 Agustus 1949 hingga 2 November 1949, dimana dalam perundingan disebutkan tentang pengakuan kerajaan Belanda atas kedaulatan Indonesia di luar Irian Barat.
Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung April 1955, dan terlebih lagi partai komunis diikutsertakan dalam pemilu pertama Indonesia pada akhir tahun 1955. Hubungan mesra ini berlanjut hingga ditanda tangani perjanjian kerjasama pembangunan antara menteri luar negeri Indonesia Roeslan Abdulgani dan menteri luar negeri Uni Sovyet Andrey Gromyko tanggal 11 September 1956, dimana diantaranya adalah proyek pembangunan jalan di Kalimantan Tengah dan industri besi baja di Kalimantan Selatan.
Bumi Kalimantan Selatan memang amat kaya dengan berbagai macam kandungan mineral selain minyak bumi, batu bara, emas dan lain-lain salah satu diantaranya adalah biji besi, biji besi di Kalimantan Selatan pertama kali ditemukan pada masa kolonial Belanda tahun 1847 di daerah Pelaihari Tanah Laut. Dan pada tahun 1942 pada saat pendudukan Jepang, di Pelaihari pernah dilakukan pembuatan tanur peleburan biji besi, namun usaha percobaan pemerintah Jepang ini tidak memberikan hasil yang maksimal. Logam besi baja merupakan material yang amat vital dalam kehidupan modern manusia sehingga dikategorikan kedalam sebuah industri strategis, dimana dari material besi baja ini dimanfaatkan utamanya untuk berbagai keperluan industri konstruksi, peralatan rumah tangga hingga industri lain seperti otomotif & perkapalan.
Kalimantan Selatan memiliki goresan sejarah tersendiri tentang industri strategis besi dan baja ini, dimana cikal bakal indusri nasional besi baja pernah di setting untuk dibangun di daerah ini atas sokongan dana serta bantuan teknis dari negara Uni Sovyet. Memang amat tepat jika industri besi baja kala itu direncanakan akan dibangun di Kalimantan Selatan, mengingat daerah ini memiliki sumber daya mineral berupa bahan baku dan energi yang melimpah untuk mendukung industri tersebut. Meskipun begitu kenyataan sejarah berbicara lain sehingga akhirnya industri raksasa ini tidak terealisasi dibangun di bumi Kalimantan Selatan.
Sebuah tim telah dibentuk oleh pemerintah Indonesia setelah ditanda tanganinya kontrak antara pemerintah Indonesia dan Uni Sovyet 11 September 1956, dan yang ditunjuk sebagai kepala tim proyek pembangunan pabrik besi baja ini adalah Drs. Soetjipto dengan dibantu oleh Ir. A. Sayoeti, Ir. Tan Boem Liam dan RJK Wiriasoeganda. Pada tahun itu pula dilakukan survey penyelidikan sumber biji besi di beberapa wilayah seperti Jampang Kulon (Jawa Barat), Lampung, Sungai Dua dan Pulau Sebuku (Kalimantan Selatan) serta persediaan batubara di daerah Bayah (Jawa Barat), Bukit Asam (Sumatera Selatan), Pulau Laut (Kalimantan Selatan) dan Gunung Batu Besar (Kalimantan Timur). Survey ini dilakukan oleh Biro Perancang Negara dan Jawatan Geologi yang dibantu oleh konsultan Jerman Barat Wedexro (Westdeutsches Ingenieur Büro) di bawah pimpinan Dr. Rohland KG.
tahun dengan memanfaatkan besi-besi tua (scrap) yang cukup banyak tersedia saat itu ditambah impor sementara besi kasar (pig iron). Fase kedua adalah membangun industri baja yang lebih besar dengan kapasitas 250.000 ton per tahun dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari lokasi hasil survey yang telah dilakukan. Dalam
Pada tahun 1959 tim proyek Indonesia bersama beberapa tenaga ahli dari Uni Sovyet kembali melakukan survey untuk mencari lokasi yang paling layak untuk didirikan industri pabrik baja fase pertama, dimana salah satu syarat yang harus dipenuhi agar dapat didirikan sebuah industri pabrik baja adalah adanya pelabuhan samudera yang cukup dalam agar mampu disandari oleh kapal-kapal bertonase besar. Dan pada akhirnya setelah melalui berbagai macam pertimbangan teknis dipilihlah Cilegon Banten sebagai lokasi industri baja yang dikenal sebagai PT. Krakatau Steel saat ini. Kontrak pembangunan pabrik baja Cilegon ini ditandatangani pada tanggal 7 Juni 1960 antara pemerintah Indonesia dengan Tjazpromex Pert of Moskwa dan proyek pembangunan ini diresmikan pada tanggal 20 Mei 1962 dengan target penyelesaian proyek sebelum tahun 1968. Namun kemudian proyek ini berhenti total pada tahun 1965 saat terjadinya pemberontakan G 30 S PKI. Dan pada akhirnya proyek Krakatau Steel dilanjutkan pembangunanya di era pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1970 dan diresmikan beroperasi pada tahun 27 Juli 1977.
yang sekarang menjadi kolam renang Idaman Banjarbaru, dan satu lagi berada di lapangan STM YPK sekarang. Kedua monumen tersebut sempat penulis saksikan pada tahun 1988, dan di awal-awal tahun 90 an kedua monumen ini sudah tidak berada lagi pada tempatnya.
Sementara itu kompleks perkantoran dan gudang eks proyek besi baja yang terbengkalai dimanfaatkan sebagai sekolah teknik menengah. Ada cerita tersendiri mengenai berubahnya kompleks perkantoran dan gudang eks proyek besi baja tersebut menjadi sekolah teknik menengah. Berawal dari sebuah keprihatinan seorang Indonesianis Belanda bernama Van der Pijl yang sudah menjadi warga Banjarbaru kala itu, dimana beliau sebagai pejabat dinas pekerjaan umum Kalimantan Selatan dimasa pemerintahan Gubernur dr. Moerdjani merasa sangat kesulitan untuk mendapatkan tenaga-tenaga berkualifikasi teknik. Hingga pada akhirnya muncullah ide di benak Van der Pijl untuk membuat sekolah teknik menengah dengan memanfaatkan bangunan perkantoran serta gudang eks proyek besi baja tersebut, dan ide tersebut terealisasi pada tahun 1968 dengan berdirinya sebuah sekolah teknik menengah swasta yang diasuh sendiri oleh Van der Pijl. Sekolah teknik menengah tersebut masih bertahan hingga kini dan dikenal sebagai STM YPK Banjarbaru.
PIONER INDUSTRI KAYU LAPIS KALIMANTAN
SELATAN
(1971 – 2008)
bahan dasar furniture. Di Eropa pembuatan kayu lapis dipelopori oleh perajin-perajin pembuat cabinet Perancis abad 16 yang mana kayu diserut untuk menghasilkan veneer (serutan kayu) secara manual. Prototipe mesin peraut kayu untuk membuat veneer pertama kali dibuat pada tahun 1819 oleh dua negara yaitu Rusia dan Inggris, prototipe mesin ini menghasilkan veneer dengan ketebalan 3 mm. Kayu lapis dipatenkan pertama kali oleh John K Mayo dari New York Amerika Serikat pada tanggal 26 Desember 1865, kemudian dilakukan re-issue paten pada tanggal 18 Agustus 1868. Namun dalam perjalanannya entah kenapa hak paten ini tidak pernah tidak pernah dimanfaatkan oleh Mayo. Pada skala industri komersial, pabrik kayu lapis tertua ada di Tallinn Rusia yang didirikan pada tahun 1887. Pabrik didirikan dengan tujuan sebagai pemasok utama kotak kayu lapis pengepak teh impor yang dihasilkan dari daerah koloni-koloni kerajaan Inggris.
Kayu lapis sebenarnya dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan perkakas dari kayu yang memiliki sifat ringan, kuat, awet, mudah dibentuk serta irit & efisien bahan dasar berupa kayu bulat (log) dan masih memiliki keindahan corak alamiah. Perbandingan efisiensi pemanfaatan bahan baku kayu bulat (log) untuk veneer dan kayu gergajian dari jenis kayu hutan alam dengan diameter di atas 50 cm adalah; veneer dapat memanfaatkan hingga 80% dari bahan baku sedangkan kayu gergajian maksimum hanya dapat memanfaatkan 65% dari bahan baku. Teknologi pembuatan kayu lapis ini secara sederhana adalah meraut kayu bulat (log) hingga menghasilkan lembaran-lembaran dilakukan penghalusan permukaan lembaran kayu lapis tersebut. Jauh sebelum industri kayu lapis diproduksi secara luas di Indonesia, pemenuhan akan kebutuhan kayu lebih ditujukan kepada keperluan akan bahan konstruksi bangunan, pembuatan kapal, bantalan rel kereta api serta bahan bakar (arang) yang kebanyakan berasal dari hutan-hutan Jati di pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda pada kurun waktu tahun 1600 an hingga 1900 an. Nampaknya pada kurun waktu tersebut pemerintah Hindia Belanda belum begitu tertarik untuk komersialisasi produk kayu secara besar-besaran, pemerintah Hindia Belanda lebih condong untuk mengembangkan produksi hasil-hasil perkebunan seperti gula, tembakau, kopra, teh, karet, rempah-rempah (lada, pala, cengkih dll) serta minyak bumi.
didirikannya industri penggergajian kayu mekanis dengan menggunakan mesin uap pada tahun 1900 an di Samarinda Kalimantan Timur, saw mill ini beroperasi dengan baik hingga tahun 1933. Kemudian pada tahun 1914 di wilayah Kalimantan Timur juga berdiri beberapa konsesi dan industri saw mill seperti; Nederlands Indische Exploitastie Mij Nunukan dengan luas konsesi 100.000 ha di Bulungan, J MacDonald Cameron dengan luas konsesi 200.000 ha juga di Bulungan, NV Java and Borneo Olie en Rubber Syndicaat seluas 4.900 ha di kawasan Sambaliung Gunung Tabor, NV Seliman Landbouw Mij seluas 22.000 ha di Sambaliung Gunung Tabor perusahaan ini merupakan perusahaan Amerika dengan industri saw mill nya yang memilki kapasitas produksi 150 m3 per hari, dan VA Cools dengan luas konsesi 6.300 ha juga di Sambaliung Gunung Tabor. Paska kemerdekaan pada tahun 1948 berdiri sebuah saw mill modern milik Belanda bernama NV Bruinzeel Dayak Houtbedrijven yang memproduksi kayu gergajian dari jenis kayu mewah (fancy wood) Agathis di Sampit Kalimantan Tengah, pada masa itu perusahaan ini termasuk perusahaan besar dan modern yang mampu menyerap hingga ribuan tenaga kerja. Perusahaan ini telah mengekspor hasil kayu olahannya ke India dan Cina dengan menggunakan 2 armada kapal milik perusahaan yaitu Leet Bruinzeel dan Neel Bruinzeel, saw mill ini beroperasi selama 13 tahun sebelum akhirnya terkena imbas nasionalisasi dan beralih kepemilikan kepada BPU Perhutani pada tahun 1961. Pada era ini industri saw mill mulai menarik perhatian para investor lokal yang pada tahun 1950 juga mulai banyak berdiri industri yang sama diantaranya adalah; Firma Gani, Lie Sioe Wing & Perjiwa yang ketiganya beroperasi di
Indonesia termasuk Kalimantan Selatan, dan perusahaan yang mayoritas sahamnya pada saat berdiri awal tahun 70 an dimiliki oleh Philipina yaitu PT. Yayang Indonesia dan PT. Aya Timber yang keduanya beroperasi di kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, dan pembeli utama kayu bulat kedua perusahaan konsesi ini adalah Jepang.
Begitu besarnya minat Jepang terhadap kayu tropis Indonesia, maka pada tahun juga 1961 telah dijajaki kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Jepang melalui sistem production sharing bidang eksploitasi kayu. Sistem ini adalah investasi pinjaman perusahaan asing kepada perusahaan Indonesia yang pengembaliannya diatur melalui bagi hasil dari ekspor barang yang diproduksi. Dari beberapa proyek production sharing di Indonesia, salah satunya berada di Pulau Laut Kalimantan Selatan. Perusahaan yang terlibat dalam proyek ini adalah antara Mitsui Overseas Development Company (MOFDECO) dari pihak Jepang dengan BPU Perhutani dari pihak Indonesia.
Mengingat besarnya nilai tambah ekonomi yang akan diperoleh apabila di dalam negeri juga mampu memproduksi kayu olahan sendiri berupa kayu lapis karena pada saat itu kayu lapis harus diimpor dari Jepang sementara bahan bakunya berasal dari Indonesia, maka mulai tahun 1959 dirintislah suatu terobosan untuk membangun industri kayu lapis sendiri di dalam negeri. Melalui Keputusan Menteri Perindustrian Rakyat bulan Januari 1959 ditunjuklah pemerintah daerah Kalimantan Selatan sebagai pemilik proyek dengan lokasi Pulau Laut, keputusan ini dikukuhkan lagi oleh Keputusan Presiden No. 108/1961 pasal VIII/C 11.
Pemerintah daerah Kalimantan Selatan pun harus konsisten dengan disahkannya proyek tersebut, hingga sedikit demi sedikit mesin-mesin kayu lapis tersebut mulai diangkut dan mulai diinstalasi di Pulau Laut hingga 1968. Namun sekali lagi proyek ini tersandung masalah pendanaan hingga pada pertengahan tahun 1968 proyek ini terhenti dan nyaris gagal. Pemda Kalimantan Selatan terus berupaya mencari cara agar proyek ini jangan sampai gagal total, dan akhirnya Soebardjo sebagai Gubernur Kalimantan Selatan waktu itu mengambil inisiatif untuk menyerahkan proyek ini kepada pihak ketiga.
Setelah melalui beberapa pertimbangan, maka proyek ini dipercayakan kepada Hendra Mulyatno seorang pengusaha asal Medan. Dengan meninjau lokasi proyek dan melihat masalah-masalah yang membuat sulitnya proyek ini berjalan maka Hendra membuat suatu keputusan taktis yang cukup berani dengan memindahkan lokasi proyek ini dari Pulau Laut ke Banjarmasin. Hendra Mulyatno menggandeng seorang mitra dari melakukan pemindahan mesin beserta perlengkapan lain dari Pulau Laut ke Banjarmasin berikut re instalasinya akan memakan waktu 2 tahun, namun di tangan seorang ahli Malaysia bernama Foo Ser Chew yang telah berpengalaman di bidang pabrik kayu lapis Hin Giap Kualalumpur proyek pemindahan dan re instalasi dapat diselesaikan hanya dengan waktu 1 tahun. Dalam melakukan pekerjaannya Foo lebih mendahulukan instalasi bangunan pabrik beserta mesin-mesinnya sedangkan dia sendiri beserta para pekerjanya tinggal di gubuk-gubuk darurat. Lokasi pabrik ini berdiri di tepi sungai Barito yang berdampingan dengan Antasan Bromo sebuah terusan yang dikeruk sehingga mempertemukan sungai Martapura dengan sungai Barito. Posisi di tepi sungai ini amatlah strategis sehingga bahan baku kayu bulat yang berasal dari hutan dapat langsung dikumpulkan di log pond (tempat pengumpulan kayu di air) pada samping pabrik.
dan Singapura, sedangkan untuk kebutuhan dalam negeri tak kurang dari 50.000 lembar kayu lapis telah dikirim ke Jakarta. Adalah merupakan suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia saat itu, karena mulai saat itu Kalimantan Selatan Indonesia dikenal oleh dunia sebagai penghasil dan pengekspor produk kayu lapis. Meskipun begitu, persoalan bisnis bagi PT. Hendratna Plywood belumlah usai karena pada saat itu suplai bahan baku berupa kayu bulatbagi industrinya masih dibeli dari para broker kayu sehingga harga produk kayu lapisnya sendiri belum bisa stabil di pasaran. Sektor kehutanan dan perkayuan pada era tahun 70 an telah sedemikian atraktifnya sehingga menarik banyak investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk menginvestasikan modalnya pada sektor ini yang tentunya didukung dengan kebijakan pemerintah pada saat itu. Oleh sebab itu mulailah bermunculan indutri kayu dan ijin hak pengusahaan hutan (HPH) di Indonesia termasuk Kalimantan Selatan. Dari yang semula secara nasional hanya 45 unit HPH yang beroperasi pada tahun 1970 yang kemudian melonjak pesat menjadi 454 unit HPH pada tahun 1980, dan tercatat pada tahun 1979 Indonesia telah menduduki ranking pertama di dunia sebagai negara penghasil kayu tropis.
konsesi hutan beserta industri pengolahan kayu awal tahun 80 hingga akhir 90 an aktivitas ilegal logging dan ilegal trading juga turut semakin marak pada sepanjang era tersebut. Maraknya aktivitas ilegal logging dan ilegal trading pada era tersebut telah menimbulkan bukan hanya isu tentang sulitnya memperoleh bahan baku kayu bulat bagi industri pengolahan kayu dalam negeri, namun juga berimbas kepada persaingan harga produksi kayu olahan di pasar internasional.
Dalam operasionalnya untuk suplai bahan baku kayu bulat PT. Hendratna Plywood telah bekerja sama dengan sebuah konsesi hutan yaitu PT. Sarang Sapta Putra yang memiliki hak konsesi seluas 49.500 ha di daerah kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah, dimana PT. Sarang Sapta Putra adalah pemegang sebagian saham PT. Hendratna Plywood. Namun untuk mengantisipasi kurangnya suplai bahan baku PT. Hendratna Plywood telah melakukan beberapa inovasi seperti pembangunan hutan tanaman industri yang berbasis masyarakat atau yang dikenal dengan community based forest management (CBFM) tahun 1992 berupa Sengon, Karet dan Jabon sebagai penunjang suplai bahan baku di beberapa daerah seperti Balangan, Tabalong dan Tanah Laut. Selain itu PT. Hendratna Plywood juga mendirikan beberapa industri semi jadi berupa veneer di beberapa lokasi seperti PT. Saijaan Pasifik Makmur di kabupaten Pulau Laut, PT. Andalan Balangan Raya di kabupaten Balangan dan PT. Semeru Makmur Kayunusa di kabupaten Tanah Laut.
kebutuhan bahan baku industri pulp dan kertas, sedangkan pengembangan hutan tanaman jenis kayu perkakas sebagai bahan baku kayu lapis jumlahnya tidak sebanding (lebih kecil) dengan kapasitas industri terpasang dari pabrik-pabrik kayu lapis yang ada.
Adalah menjadi suatu beban ekonomi yang berat bagi sebagian besar industri kayu lapis di Kalimantan Selatan dengan produksi yang tidak maksimal sementara manajemen perusahaan harus tetap mengeluarkan upah bagi para pekerjanya yang jumlahnya ribuan. Satu per satu industri kayu lapis di Kalimantan Selatan kolaps dan dengan terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya. PT. Hendratna Plywood pun tidak luput dari kondisi yang sedemikian buruk tersebut, pada sekitar bulan Mei 2008 pabrik PT. Hendratna Plywood telah total kehabisan bahan baku kayu bulat sehingga harus merumahkan sementara ribuan pekerjanya dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan dengan tetap memberikan upah pokok mereka. Namun hanya beberapa bulan berselang sekitar Juli 2008 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banjarmasin telah diminta untuk memfasilitasi antara pihak karyawan PT. Hendratna Plywood yang berjumlah 4.000 orang dengan pihak manajemen perusahaan tentang penyelesaian gaji pokok selama 2 – 4 bulan selama dirumahkan yang belum dibayar oleh pihak perusahaan. Pada pertemuan tersebut pihak perusahaan menyanggupi akan membayar semua kewajibannya dengan cara akan menjual aset-aset milik perusahaan dengan pengawasan para karyawan sendiri, dan pada kesempatan itu pula pihak perusahaan menyatakan pailit. Sebuah akhir cerita yang tragis dan menyedihkan.
WADUK RIAM KANAN
(1958 – SEKARANG)
Keberadaan air di muka bumi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis makhluk hidup yang ada akan tetapi juga memerankan peranan yang amat penting dalam hal menjaga keseimbangan alamiah sehingga kelangsungan makhluk hidup di muka bumi dapat terjaga. Demikian pentingnya peranan air sehingga umat manusia telah sejak lama berusaha agar ketersediaan air dapat terjamin setiap saat, salah satu caranya adalah dengan membuat bendungan. Bendungan, dam atau reservoir secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah badan air buatan ataupun danau buatan. Danau buatan ini dapat dibuat dengan membangun bendungan di sungai atau dengan melakukan penggalian tanah.
itu bernama Ma’Rib. Bendungan ini dimanfaatkan sebagai sumber air minum, pengairan pertanian dan pengendali banjir saat musim hujan. Tenaga yang dihasilkan oleh aliran air pun telah dimanfaatkan oleh manusia sejak lama untuk meringankan beban kerja manusia seperti yang dilakukan bangsa Yunani sejak 2.000 tahun yang lalu dengan menciptakan roda air guna menggiling gandum menjadi tepung. Setelah listrik sebagai sumber energi ditemukan oleh Michael Faraday tahun 1821 maka dimulailah perkembangan pemanfaatan energi air menjadi listrik secara meluas, diawali oleh sebuah perusahaan Appleton Edison Light Company yang memanfaatkan listrik yang dihasilkan dari bendungan sungai Fox di Appleton Wisconsin pada tanggal 30 September 1882. Dan saat itulah dalam sejarah dikenal pertama kalinya sebuah pembangkit listrik tenaga air. Dalam perkembangan sejarah selanjutnya teknologi PLTA memang banyak didominasi di negara Amerika Serikat yang hingga tahun 1889 saja sudah membangun 200 unit PLTA.
Adalah jasa seorang terpelajar putra daerah Kalimantan Selatan yang bernama Ir. Pangeran Muhammad Noor sehingga Kalimantan Selatan memiliki sebuah pembangkit listrik tenaga air untuk menyuplai kebutuhan listrik daerah Kalimantan Selatan dan Tengah. Pangeran Mohammad Noor adalah putra Pangeran Muhammad Ali seorang wakil Kalimantan dalam voolksraad (DPR) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pangeran Mohammad Noor lahir di Martapura tahun 24 Juni 1901, pendidikan dimulai HIS lulus tahun 1917 kemudian MULO lulus tahun 1921 dan HBS lulus tahun 1923. Setelah lulus dari HBS beliau melanjutkan studi di sekolah tinggi teknik Bandung hingga meraih gelar Insinyur pada tahun 1927. Pada periode 1935 – 1939 Pangeran Mohammad Noor menggantikan kedudukan ayah beliau di voolksraad, dan pada tahun 1945 beliau diangkat oleh Soekarno menjadi gubernur pertama Kalimantan. Di masa kemerdekaan Pangeran Mohammad Noor pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Ali Sastromijoyo tahun 1956 – 1959. Ketika itulah beliau memberikan gagasan dan berhasil merealisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga air Riam Kanan. Pangeran Muhammad Noor wafat pada tanggal 15 Januari 1979 pada usia 78 tahun. Untuk mengenang jasanya, nama beliau kini diabadikan sebagai nama waduk serta jalan raya menuju waduk tersebut di Kalimantan Selatan.
kelayakan dan enginering design pada tahun 1962 – 1964. Terpilihnya daerah aliran sungai Riam kanan sebagai sumber tenaga air serta desa Arinawai (Aranio) sebagai site project tak lepas dari berbagai pertimbangan bahwa bagian hulu sungai Riam Kanan adalah merupakan daerah tangkapan air yang berupa hutan tropis lebat di jajaran pegunungan Meratus, bentang alam (topografi) calon waduk berupa lembah yang cukup luas serta dikelilingi perbukitan yang cukup tinggi, tidak terdapat deposit alami berupa mineral yang potensial pada areal calon waduk serta yang tak kalah penting adalah tingkat kepadatan penduduk yang rendah pada areal yang terkena dampak pembangunan waduk. Mengenai nama desa Arinawai sendiri konon adalah nama asli dari desa Aranio sekarang ini, tak diketahui dengan pasti mengapa perubahan nama itu bisa terjadi, tetapi diperkirakan karena lidah para ekspatriat Jepang yang bekerja di proyek ini kesulitan mengeja Arinawai sehingga berubah menjadi Aranio hingga sekarang. stasiun transmisinya dikerjakan oleh kontraktor Indonesia yaitu PT. Wijaya Karya. Banyaknya keterlibatan kontraktor Jepang pada proyek pembangunan waduk Riam Kanan ini kemungkinan bahwa proyek ini dibangun atas bantuan pemerintah Jepang yang berupa dana hibah atau pinjaman.
mulailah pekerjaan pengurukan badan sungai Riam kanan dengan menggunakan jutaan kubik material berupa batu dan tanah yang ditumpahkan dan dipadatkan ke dalam badan sungai. Hingga hasil pekerjaan pengurukan membentuk sebuah badan bendungan, dan air sungai Riam Kanan pertama kali mulai mengalir melalui terowongan pengalih pada tanggal 18 Juli 1969.
Setelah aliran air sungai berhasil dialihkan, pekerjaan pembangunan konstruksi badan bendungan terus dilanjutkan hingga dimensi ukuran badan bendungan ini sesuai dengan enginering design yang telah ditetapkan hingga kelak benar-benar kuat untuk menahan tekanan air waduk, pekerjaan konstruksi badan bendungan ini dilaksanakan pada kurun waktu Agustus – Oktober 1969 . Pada fase ini dilaksanakan pula konstruksi terowongan tekan (pressure tunel) sepanjang 270 meter dan diameter 4,8 meter, dimana pada saat pembangunan terowongan ini telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa seorang juru ukur dari kontraktor Hazama Gumi yang bernama Mr. Hikawa. Karena bisingnya kondisi di dalam terowongan dari alat-alat pemecah batu dan kompresor yang sedang bekerja, juru ukur ini diperkirakan tidak mendengar adanya alat berat berupa shovel dozer dengan mengangkut batu-batu hasil galian yang sedang berjalan mundur, shovel yang dioperasikan oleh operator Jepang dari kontraktor Hazama Gumi ini akhirnya menggilas sang juru ukur malang tersebut. Jenazah Mr. Hikawa dikremasi di desa Tambela dan abunya dikirim ke keluarganya di Jepang. Peristiwa kecelakaan tersebut terjadi pada tanggal 20 Oktober 1969. Pada bulan Januari 1970 pekerjaan pondasi bangunan stasiun tenaga pembangkit mulai dikerjakan dan secara simultan mulai pada tahun ini dibangun jaringan transmisi Cempaka dan Banjarmasin. Pembangunan jaringan transmisi dari stasiun pembangkit Riam Kanan hingga menuju stasiun Banjarmasin juga penuh tantangan terutama pembangunan jaringan transmisi tegangan tinggi yang melalui daerah rawa gambut yang kondisinya tidak stabil. Hingga perlu mendatangkan pakar konstruksi sipil legendaris bapak Profesor Sedyatmo dengan pondasi cakar ayam nya yang terkenal itu.
Periode Mei - Oktober 1971 adalah periode tahap penyelesaian akhir konstruksi badan bendungan yang selanjutnya dilakukan pekerjaan logam yang berupa konstruksi dan instalasi gates (pintu air), penstocks (pipa pesat) dan turbine generators yang dimulai pada bulan Desember 1971. Pekerjaan konstruksi logam ini memakan waktu kurang lebih enam bulan hingga rampung pada pertengahan 1972. Setelah pemasangan pintu air, pipa pesat dan turbin generator selesai maka pada tanggal 30 Juni 1972 dilakukanlah penutupan pintu air pada terowongan pengalih aliran sungai guna memulai menampung air waduk, peristiwa ini ditandai dengan upacara bersama semua pekerja proyek dengan seremonial minum Sake (minuman Jepang) bersama. Dengan ditutupnya terowongan pengalih aliran sungai yang berarti sungai Riam Kanan beserta 8 anak sungainya tersumbat maka muka air mulai merambat naik dan akhirnya menggenangi kawasan seluas 92 km2 yang mana termasuk di dalamnya tercatat 9 kawasan perkampungan beserta lahan perkebunan & pekuburan.
Diperlukan waktu enam bulan penampungan air hingga ketinggian muka air waduk mencapai level minimum untuk menggerakkan turbin generator. Masih diperlukan beberapa waktu lagi hingga tinggi muka air mencapai kestabilan pada level minimum, dan pada tanggal 29 Maret 1973 tinggi muka air telah stabil mencapai ketinggian minimum 52,5 meter hingga dapat dilaksanakan testing pengoperasian 2 turbin generator, jaringan transmisi serta stasiun transmisinya dan hari itu pula sukses mengalirkan energi listrik di wilayah Banjarbaru, Martapura dan Banjarmasin. Hingga selesai bendungan ini dibangun, bendungan ini memiliki ukuran lebar puncak bendungan 10 meter, panjang puncak bendungan 195 meter, tinggi hingga puncak 66 meter serta volume bendungan 670.000 meter kubik dan menghabiskan biaya pembangunan sebesar US$ 2.944.000.000 (kurs saat itu).
Bendungan ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 30 Juni 1973 yang didampingi oleh Menteri PUTL Ir. Soetami dan Gubernur Kalimantan Selatan Kolonel Soebardjo. Pada saat diresmikan bendungan ini memiliki 2 mesin pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 10 MW. Dan untuk menghormati jasa-jasa penggagas pembangunan waduk Riam Kanan maka pada tanggal 19 Januari 1980 nama PLTA Riam Kanan diganti menjadi PLTA Ir. Mohammad Noor. Pada kurun waktu Juli 1980 – Mei 1981 dilaksanakan pembangunan tahap II dengan penambahan instalasi satu unit pembangkit lagi dengan kapasitas yang sama dengan 2 mesin terdahulu sehingga total kapasitas mesin pembangkit listrik PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor adalah 30 MW.
besar dan sentra-sentra pemukiman yang sudah barang tentu banyak memerlukan energi listrik. Seiring dengan bertambahnya usia maka produksi listrik yang dihasilkan dari ketiga turbin PLTA tidak lagi mampu maksimal dari kapasitasnya 30 MW, kini kisaran produksi listrik PLTA ini hanya 20 – 22 MW saja. Hal ini tentu saja sudah diantisipasi oleh pemerintah dengan membangun pembangkit-pembangkit listrik lain guna menambah pasokan listrik, tercatat di Kalimantan Selatan dan Tengah terdapat beberapa pembangkit listrik seperti PLTU (uap) Asam Asam dengan kapasitas 130 MW, PLTD (diesel) Trisakti dengan kapasitas 30 MW, PLTD Banua Lima dengan kapasitas 30 MW, PLTD Kuala Kapuas dengan kapasitas 20 MW serta PLTD Palangkaraya dengan kapasitas 30 MW. Akan tetapi dari keseluruhan total pasokan listrik dari beberapa pembangkit listrik tersebut belumlah mampu mencukupi permintaan akan listrik di Kalimantan Selatan dan Tengah yang mencapai 300 MW, sehingga Kalimantan Selatan dan Tengah saat ini masih mengalami defisit listrik sekitar 30 – 50 MW. Dari semua pembangkit listrik yang ada di Kalimantan Selatan dan Tengah ini masing-masing terkoneksi satu sama lain untuk saling menyokong, dan apabila ada pemeliharaan (overhaul) pada salah satu pembangkit setelah beberapa ribu jam beroperasi maka pemadaman bergilir tidak dapat dihindarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1972. Bubur Martapura. Tempo Online. 19 Agustus 1972.
Anonim, 1973. Setelah Melewati Liku-Liku. Tempo Online 8 September 1973.
Anonim, 1974. Tarik Tambang Dengan Jepang. Tempo Online 3 Agustus 1974.
Anonim, 1976. Kisah Kisah Serba Puing. Tempo Online 20 Maret 1976. Anonim, 1978. Setelah PKM Tidur. Tempo Online 26 Agustus 1978. Anonim, 1986. Tiada Resesi di Pelaihari. Tempo Online 12 Juli 1986. Anonim, 1989. Pahitnya Gula Pelaihari. Tempo Online 4 Maret 1989.
Anonim, 1997. PIR Gula Pelaihari dan TRI Pola Khusus. Kompas 13 Januari 1997.
Anonim, 2001. Ekspor Kayu Olahan Menurut Negara Tujuan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Dephut RI.
Anonim, 2003. Buku Profil Penataan Ruang Kalimantan Selatan 2003. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Direktorat Penataan Ruang Wilayah Tengah.
Anonim, 2004. Waduk Riam Kanan Makin Kritis (2 Habis). Banjarmasin Post Agustus 2004 dalam Berita Lingkungan Indonesia 10 Agustus 2004. Anonim, 2005. Profil Pabrik Gula Padjarakan.
Anonim, 2007. Hendratna Plywood. WWF, Indonesia Forest & Trade Network.
Anonim, 2008. Data Kebutuhan Minyak Mentah Indonesia 2000-Maret 2008. Jurnal Ekonomi Ideologis 21 Mei 2008.
Anonim, 2008. Ribuan Karyawan Plywood Dirumahkan. APIndonesia.com 23 Mei 2008.
Anonim, 2008. Riwayat Asal Usul Suku Dayak Ma’anyan. 7 Mei 2008. Anonim, 2008. Sejarah Bangsa-bangsa Arab Bagian I. Sejarah. 8 November 2008.
Anonim, 2008. Sejarah Pertamina. Profil Pertamina 2008. Anonim, 2009. 2014 Pabrik Baja Kalsel Diproduksi.
www.banjarmasinpost.co.id 2 Juli 2009.
Anonim, 2009. Kalsel Bangun Pabrik Baja Rp. 950 Miliar. www.mediaindonesia.com 4 April 2009.
Anonim, 2009. Notulen Pertemuan LSM Dengan Pertamina. LangsaT Lampiran 1 9 Agustus 2009.
Anonim, 2009. Pertamina Optimis Mampu Perpanjang Produksi Lapangan Tanjung. Berita Daerah.com 10 Desember 2009.
Anonim, 2010. EOR Tapian Timur: Pertamina EP Optimalkan Lapangan Minyak Tua. Pertamina EP 14 Juli 2010.
Anonim, 2010. Mengenai Sejarah Hubungan Rusia – Indonesia. Kedutaan Besar Federasi Rusia di Jakarta.
Anonim, 2010. Pangeran Muhammad Noor. Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 21 Juni 2010.
Anonim, 2010. Pertambangan Biji Besi. BKPMD Propinsi Kalimantan Selatan, 31 Maret 2010.
Anonim, 2010. Produksi Minyak dan Gas Bumi Pertamina Masih di Bawah 150.000 barrel per Hari. Trading News 6 Mei 2010.
Anonim, 2010. Royal Dutch/Shell Group. Answer.com 2010.
Anonim, 2010. Sejarah Berdirinya Kabupaten Tabalong.
www.pu.tabalongkab.go.id 31 Agustus 2010.
Anonim, 2010. The Appleton Edison Light Company. Hari Ini dalam Sejarah: 30 September. Perpustakaan Konggres Amerika.
Anonim, 2010. Tragedi Minyak Nasional. Bataviase.co.id 1 Februari 2010. Anonim. Sejarah Gula. Food-info.net The Wageningen University, Netherlands.
Anwar R, 2010. Bruinzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau. 1 Maret 2010. Benyamine HE, 2009. Banjarbaru Bongkar Sejarah Kotanya. BORNEOJARJUA2008’S WEBLOG 20 Februari 2009.
Dephut RI, 2009. Rendemen Kayu Olahan Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IPHHK). Peraturan Direktur Jendral Bina Produksi Kehutanan no. P.13/VI-BPPHH/2009, 9 November 2009.
Faridhan, 2010. Riam Kanan Our Service Memory – 37 Tahun Riam Kanan. Website Paguyuban Riam Kanan 30 Juni 2010.
Fauzianoor S, 2009. Riam Kanan. 21 Januari 2009.
Hardikin MI et al, 2009. Perendaman Paraffin Solvent Sebagai Peningkatan Produksi Sumur Minyak Di Lapangan Tapian Timur. Makalah Profesional IATMI 08-037 Desember 2009.
Ikatan Akuntan Indonesia, 1994. Pernyataan Standar Akuntansi dan Keuangan (PSAK) no. 29 Akuntansi Minyak dan Gas Bumi 7 September 1994.
Ivanov A, 2010. Pidato Duta Besar Rusia untuk Indonesia pada Yubileum Yang ke 60 Hubungan Rusia Indonesia 3 Februari 2010.
Lasmianti H, 2010. Jalur Pipa Migas Riwayatmu nanti. Berita Daerah.com 20 September 2010.
Mardianto S et al, 2005. Peta Jalan (Road Map) Dan Kebijakan Pengembangan Industri Gula Nasional. Forum Penelitian Agroekonomi Vol. 23 No. 1 Juli 2005.
Nasution A et al , 1989. Pembebasan Irian Sampai G30S PKI. Tempo Online 16 September 1989.
Nuralang A, 2008. Pemanfaatan Sumber Daya Alam Sebagai Pendukung Budaya di Pegunungan Meratus (Revisi 1). Balai Arkeologi Banjarmasin 8 Januari 2008.
Sahriadi AM (Re publish), 2010. Hikayat Datu Banua Lima. FB Group 26 Februari 2010.
Suhaili H, 2008. Difasilitasi Disnakertrans Jual Aset Perusahaan, PT. Hendratna Sanggupi Bayar Gaji. Elshinta.com 4 Juli 2008.
Sumardjani L, 2005. Sejarah Kehutanan. Konflik Sosial Kehutanan.
Susanto D, 2009. Puluhan Pembangkit Listrik di Kalsel Tua. Media Indonesia 6 November 2009.
Susanto D, 2010. 50 Ribu Hektar Hutan Lindung Sultan Adam Rusak. Media Indonesia 12 Februari 2010.
Totten GE, 2004. A Timeline Highlight From The History of ASTM Commitee DO2 and The Petroleum Industry. ASTM International.
Widiyanti A, 2006. Pabrik Gula Banyuwangi Dibangun Tahun Ini. Detikfinance.com Selasa 14 Februari 2006.