JEJAK
Journal of Economics and Policy http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jejak
EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PELAYANAN RUMAH
SAKIT SETELAH PEMEKARAN WILAYAH
Windhu Putra
Fakultas Ekonomi, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan, Indonesia
Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15294/jejak.v7i1.3596
Received : Juli 2012; Accepted: Agustus 2012; Published: September 2012
Abstract
This study aims to identify the efficiency of health services districts / cities before and after the regional proliferation, understand the indicators that affect the change in efficiency and to design a health cooperative district / town after the regional proliferation. It was conducted in 9 districts; Pontianak, Sambas, Sanggau,
Sintang, Singkawang, Bengkayang, Landak, Sekadau, Melawi. Data Envelopment Analysis is used to calculate
the efficiency at each hospital in the parent division area and regional levels. this study also uses rationality of resource efficiency analysis.The result first, a change in the efficiency of health services after the introduction of regional proliferation. It causes declining health of economies of scale; Second, the seven indicators of input factors; General Practitioners, Specialists, Pharmacists, Nurses , Employees, Total polyclinic, and the Investment Fund for hospital, which most influence the change in efficiency is a specialist doctor, nurse and the number of polyclinics. They influence the level of efficiency. Third, In implementing the policy of expansion, which related to
health care services, need designed a model hospital revitalisai by considering the number of specialist doctors,
nurses and polyclinics. The combination of these factors, will greatly affect the model of health care in the profilferation area.
Keywords: Health services efficiency, Proliferation, Effieciency, Resources Analysis
Abstrak
Penelitian ini lebih diarahkan kepada upaya merevitalisasi kondisi daerah pemekaran melalui kerjasama di bidang kesehatan agar terjadi bentuk kerjasama yang efisien berdasarkan keunggulan aspek kesehatan yang ada pada masing-masing daerah. Penelitian ini mengidentifikasi efisiensi pelayanan kesehatan kabupaten/kota sebelum dan sesudah pemekaran wilayah. Lokasi Penelitian berada di 9 daerah kabupaten yang terdiri dari 4 kabupaten daerah induk, yaitu; Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang. Serta 5 kabupaten daerah pemekaran, yaitu ; Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Melawi. Metode analisis yang digunakan adalah dengan Data Envelopment Analysis (DEA) untuk menghitung efisiensi pada setiap rumah sakit di daerah pemekaran maupun daerah induk. Selain itu penelitian ini juga menggunakan analisis efisiensi rasionalitas sumber daya dalam membentuktata kelola kerjasama kesehatan antara kabupaten.
Kata Kunci: pelayanan kesehatan, pemekaran, efisiensi, analisis sumberdaya
How to Cite: Putra, W. (2012). Efisiensi Dan Efektivitas Pelayanan Rumah Sakit Setelah Pemekaran Wilayah. JEJAK Journal of Economics and Policy, 5 (2): 127-229 doi: 10.15294jejak.v7i1.3596
© 2012 Semarang State University. All rights reserved
Corresponding author :
Address: Jl. Prof. Dr. Haji Hadari Nawawi, Kalimantan Barat 78115 E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Otonomi daerah sebagaimana dia-tur UU No. 32 Tahun 2004 diamanatkan bagi penyelenggaraan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan yang berasas otono-mi daerah dan tugas pembantuan dengan tujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masya ra kat melalui pening-katan, pelayanan, pemberdayaan dan pe-ran serta masyarakat dalam peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demo kratis, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu da-erah. Dengan otonomi daerah berarti telah memindahkan sebagian besar kewe nangan yang tadinya berada di pemerintah pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehing-ga peme rintah daerah otonom diharapkan dapat lebih cepat dalam merespon tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemam-puan yang dimiliki.
Implikasi lain dari otonomi daerah adalah terjadinya pemekaran daerah. Oleh karena Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 jo Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 sangat memungkin daerah untuk me-lakukan perluasanatau pemekaran wila-yah dalam bentuk penggabungan ataupun penghapusan daerah itu sendiri (Pasal 6 Bab III Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999), dalam upaya pencapaian optimalisasi pe-laksanaan pemerintahan dan memu dah kan
public service di daerah yang dimekarkan
(Busrizalti,2006).
Bila dilihat pola pemekarannya, prin-sip peme karan daerah di Indonesia sebagai negara kepulauan daerah tropis, memiliki karakteristik tersendiri, selain ditinjau dari besarnya jumlah penduduk yang ter sebar tidak merata, juga dilihat dari keanekara-gaman sosial budaya, sumberdaya alam, flora dan fauna serta keragaman fisik wila-yah. Berdasarkan kera gaman tersebut, da-lam perspektif geografi, Indonesia memili-ki potensi konflik kewilayahan yang tinggi. Jika dimodelkandengan menggunakan segi enam Christaller, secara teoritis diperlukan paling tidak 2760 bentuk kerjasama antar daerah otonom yang saling berbatasan
un-tuk mengantisipasi peluang terjadinya 2760 spatial conflict (Harmantyo,2007).
Dengan melihat kondisi diatas maka tujuan mulia dari otonomi yaitu untuk mendekatkan agar tercipta efisiensi pelay-anan pada masyarakat akan semakin jauh dari harapan. Oleh karena sumberdaya yang sangat terbatas pada daerah induk harus di-bagi/ disebar ke daerah pemekaran baru. Dengan kata lain bahwa daerah baru harus mengambil sum ber daya manusia yang su-dah sangat terbatas pada daerah lain. Se-hingga banyak daerah pemekaran terbelit dengan problem serius di fase transisi admi-nistratif dari daerah induk ke daerah peme-karan baru.
Hal tersebut tercermin pada kondisi pelayanan kesehatan di Provinsi Kaliman-tan Barat. Dimana pada era sebelum peme-karan Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 6 Kabupaten 1 Kota, yaitu; (1) Kota ma dya Pontianak, (2) Kabupaten Pontianak, (3) Kabu paten Sambas, (4) Kabupaten Sang-gau, (5) Kabupaten Sintang, (6) Kabupaten Kapuas Hulu, (7) Kabupaten Ketapang
Implikasi dari otonomi daerah ber-pengaruh pada pemekaran daerah di Pro-vinsi Kalimantan barat, dimana sejak tahun 1999 Kabupaten Kota di Provinsi Kaliman-tan Barat telah melakukan peme kar an se-hingga menjadi 12 Kabupaten dengan 2 Kota, Yaitu; (1) Kabupaten Landak, peme-karan dari Kabu pa ten Pontianak (4 Oktober 1999), (2) Kabupaten Bengkayang, pemeka-ran dari Kabupaten Sambas (20 April 1999), (3) Kota Singkawang, pemekaran dari paten Bengkayang (21 Juni 2001), (4) Kabu-paten Sekadau, pemekaran dari KabuKabu-paten Sanggau (18 Desember 2003), (5) Kabupaten Melawi, pemekaran dari Kabupaten Sintang (18 Desember 2003), (6) Kabupaten Kayong Utara, pemekaran dari Kabupaten Ketapang (2 Januari 2007), (7) Kabupaten Kubu Raya, pemekaran dari Kabupaten Pontianak (17 Juli 2007)
(Grand Strategy) khusus untuk tatakelola kerjasama aspek kesehatan melalui pende-katan Ilmu Ekonomi Regio nal.
Selain melakukan pembahasan ten-tang eva lua si pemekaran yang ada sekarang ini, maka penelitian hanya melihat kondisi eksisting yang ada dan menganggap bahwa kondisi wilayah pemekaran yang ada seka-rang ini adalah kondisi yang given, dan ke-mudian melakukan upaya pendekatan revi-talisasi kondisi yang telah ada menjadi lebih baik.
Penelitian ini lebih memfokuskan pada pelayanan publik khususnya bidang kesehatan, dimana rumah sakit sebagai ob
-jek penelitian pelayanan kesehatan bagi
ma-syarakat. Adapun alasan penulis mengambil topik kesehatan adalah mengingat keseha-tan meru pa kan bidang yang sangat dibutu-han oleh masya rakat.
Permasalahan yang akan dibahas da-lam pene litian ini adalah, turunnya kapasi-tas local kese hatan di daerah sebagai akibat adanya pemekaran daerah. Sehingga yang menjadi pertanyaan adalah, apakah akan terjadi efisiensi pelayan publik akibat terja-dinya penurunan kapasitas lokal tersebut.
Yang dimaksud dengan pelayanan publik disini adalah rumah sakit yang me-rupakan sebagai objek dalam peneltian ini. Adapun yang menjadi ukuran kapasitas lo-kal disini adalah indikator pelayanan yang diberikan oleh tenaga sumber daya manu-sia yang bekerja pada rumah sakit tersebut, yang terdiri dari; Dokter Umum, Dokter Spesialis, Perawat, Apo te ker dan Karyawan Rumah Sakit.
Dengan melihat dari seluruh uraian diatas, ma ka studi didesain untuk memenu-hi beberapa tujuan: (1) Mengidentifikasi efi-siensi pelayanan kese hatan kabupaten/kota sebelum dan sesudah peme karan wilayah. (2) Menganalisis indikator-indikator yang mempengaruhi perubahan efisiensi setelah adanya pemekaran. (3) Merancang model kerjasama kese hat an kabupaten/kota sete-lah pemekaran wilayah.
Efisiensi Dilihat Dari Aspek Teori
Produksi
Secara teoritis dan empiris, prasyarat
agar kegiatan pembangunan ekonomi dapat mencapai kondisi optimal bila terjadi ska-la ekonomi (economies ofscale) dan caku-pan ekonomi (economies of scope) tertentu (Aehyung, 2008). Untuk mencapai tingkat efisiensi (skala) ekonomi, efisiensi biaya, kinerja pembangunan, dan tingkat peme-rataan yang optimal dalam kerangka kebi-jakan desentralisasi, dibutuhkan suatu uku-ran yang optimal (optimal size) dari pemda untuk pembangunan dan pelayanan publik. Meningkatnya skala ekonomi barang dan jasa akan menyebabkan peroduksile-bih murah dengan catatanjika produksidi-lakukandalam skala besar (Dunford, 2005). Secara teoritis, istilah kerjasama (coopera -tion) telah lama dikenal dan dikonsepsikan sebagai suatu sumber efisiensi dan kualitas pela yanan (Rosen,1993). Kerjasama telah di-kenal seba gai cara yang untuk mengambil manfaat dari eko no mi skala (economies of
scales). Pembelanjaan atau pembelian
ber-sama, misalnya, telah membuktikan keun-tungan tersebut, dimana pembelian dalam skala besar atau melebihi “threshold points”, akan lebih menguntungkan dari pada da-lam skala kecil.
Dengan kerjasama tersebut biaya overhead (overhead cost) akan teratasi mes-kipun dalam skala yang kecil. Sharing dalam investasi, misalnya, akan memberikan hasil akhir yang lebih memuaskan seper ti dalam penyediaan fasilitas dan peralatan, serta pengangkatan spesialis dan administrator (Merkel,2006). Kerjasama juga dapat me-ningkatkan kualitas pelayanan, misalnya dalam pemberian atau pengadaan fasilitas, dimana masing-masing pihak tidak dapat membelinya sendiri. Dengan kerjasama, fasilitas pelayanan yang mahal harganya da-pat dibeli dan dinikmati bersama (Madsen.
et al., 2009).
Efisiensi Kerjasama dilihat dari Aspek
Kewilayahan
Alasan penerapan kebijakan desent-ralisasi di berbagai negara umumnya adalah dalam rangka memperbaiki kinerja sektor publik demi mencapai kesejahteraan masy-arakat dengan mendekatkan perencanaan dan pelayanan kepada masyarakat. Alasan lain adalah juga untuk mendukung pemba-ngunan ekonomi yakni percepatan pertum-buhan ekonomi daerah, dengan menye-rahkan sejumlah kewenangan pengelolaan pembangunan kepada pemerintah daerah (pemda) secara otonom (otonomi daerah) (Elhiraika dan Ndikumana,2007). Dengan demikian desentra li sasi juga mengandung konsekwensi bahwa wilayah pengelolaan yang membutuhkan intervensi pemerin-tahan menjadi mencakup area yang sangat luas.
Di era otonomi daerah perencanan dan pelak sanaan pembangunan daerah di-hadapkan pada dua kenyataan yakni, batas wilayah administratif (sesuai peraturan pe-rundangan), dan batas wilayah fungsio nal (sesuai hubungan sosial ekonomi lintas batas administratif). Batas wilayah admi-nistratif ditentukan secara formal melalui peraturan perundangan, akan tetapi dalam kenyataan sering kali hubungan fung sional di bidang sosial ekonomi melewati batas-batas wilayah administratif tersebut.
Pengembangan ekonomi regional ada-lah suatu strategi kombinasi kewenangan daerah untuk dapat mandiri dengan basis atau berkah sumberdaya yang dimiliki den-gan kemampuan menciptakan interaksi dan keterkaitan dengan daerah lain disekitarnya atau wilayah ekonomi yg lebih luas. Untuk itu aspek rasionalitas sumber daya merupa-kan unsur penting dalam perencanaan stra-tegi pembangunan ekonomi spasial dalam rangka mendukung pembangunan ekono-mi secara menyeluruh. Rasionalitas sumber daya tidak hanya perwujudan dari keterkai-tan antara pemerintah dengan pemerintah melainkan juga mencakup kerjasama antara pemerintah dengan sektor swasta (Public
Private Partnerships). Dengan demikian
kerjasama pembangunan yang menyeluruh
dapat digambarkan yang mencakup koope-rasi efektif antar otoritas-otoritas publik, sektor swasta dan institusi-institusi lain yang terkait (Lembaga Peneli tian, Akademi-si, NGO, dll). Karenanya rasionalitas sumber daya akan dapat meningkatkan produktivi-tas, daya saing, serta mutu perencanaan dan mencapai satu kohesi antar daerah-daerah secara menye lu ruh.(Abinett, at all,1999).
Dalam Tulisannya (Parr,1978) meneliti model tempat sentral yang memiliki bany-ak kesederhanaan model Christaller, teta-pi yang jauh lebih besar dari umum. Teori Tempat Sentral untuk kasus di Austra lia, menyatakan bahwa tempat pusat (Melbour-ne) menyediakan barang dan jasa dengan biaya yang tinggi dimana kebutuhan biaya yang rendah akan dipasok oleh pasar lokal di pedalaman. Barang dengan biaya tinggi akan dijual di kota-kota besar karena am-bang untuk barang-barang ini cukup tinggi untuk mempertahankan toko. Barang ke-butuhan dengan biaya rendah seperti roti dan susu akan dijual di pasar kecil di kota-kota kecil di sekitar tem pat sentral. Dalam teori dijelaskan bahwa distri busi populasi akan menurun ketika dibuat jalan keluar dari tempat pusat dan kemudian mulai me-ningkat kembali sebagai salah satu menjadi lebih dekat dengan pusat kota berikutnya. Pada titik tengah antara kedua kota pusat Anda akan menemukan tanah paling ma-hal. Karena Tanah disini sering digunakan untuk tujuan seperti pertanian dan peng-gembalaan.
Dikatakan pada (Nakamura, 2008) bahwa inte raksi trade-off antara ekonomi aglomerasi dan biaya transportasi tidak da-pat dikecualikan dari analisis central place
theory. Pertama, akan terjadi model
ekonomi aglomerasi.
Dalam tulisan (Barbetta et al, 2007) telah mengiden tifikasi perbedaan prilaku antar Rumah Sakit Umum dan Swasta yang terjadi di Italia. Hasil penelitian menunjuk-kan terjadi pemusatan skor efesien yang cu-kup berarti antara rumah sakit swasta dan rumah sakit umum yang di kelola pemerin-tah. Dimana disimpulkan terjadi penurunan inefisiensi pada rumah sakit umum dengan cara mengurangi tingkat rawat inap. Ber-kaitan dengan system perawatan terpadu, perawatan kesehatan terpadu merupakan tujuan kebijakan utama pemerintah Skot-landia yang baru didelegasikan (Woods, 2001), Kemitraan bekerja’ adalah mekanis-me yang telah dipilih untuk mekanis-mencapai tu-juan ini. Tiga contoh ilustrasi dari model integrasi perawatan kesehatan yang dikem-bangkan di Skot lan dia yaitu; sistem orga-nisasi dan struktur; Perawat an Kesehatan Lokal Co-operatives (LHCCs); dan Managed Klinis Networks. Penelitian ini lebih meng-eks plorasi sifat ‘kemitraan’ dan perawatan yang terintegrasi.
Dalam tulisannya (Wang,2007) me-nunjukan bahwa tidak ada hubungan yang kointergrasi antara pengeluaran perawa-tan kesehaperawa-tan masyarakat de ngan produk nasional bruto. Dengan menggunakan 50 data Negara bagian menunjukkan bah-wa elastisistas pendapatan dari kesehatan menjadi lebih kecil di era tahun 1990-an. Disamping itu telah diteliti juga hubungan dengan antara efisiensi biaya dengan kiner-ja rumah sakit. Penelitian yang dilakukan di AS diera tahun 1999-2001 ini menghasilkan terdapat pola yang sistematis antara biaya dan hasil inefi siensi kesehatan rumah sakit (McKay,2008). Peneli tian ini tidak meng-kaitkan inefisiensi biaya dengan kematian dan memburuknya tingkat komplikasi yang terjadi. Sedangkan disisi lain penurunan biaya bisa memiliki konsekwensi yang me-rugikan pada hasil kesehatan.
METODE PENELITIAN
Berangkat dari fakta sementara, saat ini konsep desentralisasi dan Otonomi Daerah diartikulasikan untuk menata dan
mempercepat pembangunan di wilayahnya masing-masing, ternyata belum cukup efisi-en dalam mefisi-eningkatkan pelayanan kepada masyarakat, karena tidak dapat dipungkiri bahwa maju mundurnya satu daerah juga bergantung pada daerah-daerah lain, khu-susnya daerah yang berde katan. Tahapan penelitian diawali dengan mengung kap kondisi pemekaran wilayah, dimana pada era sebelum pemekaran Provinsi Kaliman-tan Barat terdiri dari 6 Kabupaten 1 Kota, yaitu: (1) Kotamadya Pontianak, (2) Kabu-paten Pontianak, (3) KabuKabu-paten Sambas, (4) Kabupaten Sanggau, (5) Kabupaten Sintang, (6) Kabupaten Kapuas Hulu, (7) Kabupaten Ketapang.
Implikasi dari otonomi daerah ber-pengaruh pada pemekaran daerah di Pro-vinsi Kalimantan barat, dimana sejak tahun 1999 Kabupaten Kota di Provinsi Kaliman-tan Barat telah melakukan peme karan se-hingga menjadi 12 Kabupaten dengan 2 Kota, Yaitu; (1) Kabupaten Landak, peme-karan dari Kabupaten Pontianak (4 Oktober 1999), (2) Kabupa ten Bengkayang, pemeka-ran dari Kabupaten Sam bas (20 April 1999), (3) Kota Singkawang, pemekar an dari paten Bengkayang (21 Juni 2001), (4) Kabu-paten Sekadau, pemekaran dari KabuKabu-paten Sanggau (18 Desember 2003), (5) Kabupaten Mela wi, pemekaran dari Kabupaten Sintang (18 Desem ber 2003), (6) Kabupaten Kayong Utara, pemekaran dari Kabupaten Ketapang (2 Januari 2007), (7) Kabupaten Kubu Raya, pemekaran dari Kabupaten Pontianak (17 Juli 2007).
Banyaknya permasalahan yang mun-cul seiring dengan pelaksanaan pemekaran daerah tersebut telah mendorong penu-lis untuk melakukan revitali sasidari hasil pemekaran daerah yang telah ada dalam rangka merumuskan model Strategi Umum
(Grand Strategy) khusus untuk tatakelola
kerjasama aspek kesehatan melalui pende-katan Ilmu Ekonomi Regional.
kemu dian melakukan upaya pendekatan revitalisasi kondi si yang telah ada menjadi lebih baik.
Penelitian ini lebih memfokuskan pada pelayanan publik khususnya bidang kesehatan, dimana Rumah Sakit sebagai fakus penelitianpelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Penelitian melakukan pengujian ter-hadap per be daan efisiensi pelayanan rumah sakit sebelum dan sesudah adanya peme-karan wilayah. Dari hasil pengujian den-gan pendekatan DEA (Data Envelop ment Analysis) akan diketahui daerah kabupaten mana yang kondisi rumah sakit nya efisien dan daerah mana rumah sakit yang tidak efisien. Suatu rumah sakit dikatakan efisien apabila mempunyai nilai 1. Kondisi rumah sakit dikatakan tidak efisien apabila kurang dari 1.
Setelah diketahui efisiensi masing-masing Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), perlu dipahami indikator-indikator yang membuat rumah sakit terse but menjadi efi-sien. Adapun indikator yang menjadi uku-ran adalah dari aspek pelayanan yaitu Sum-ber Daya Manusia (SDM) yang terdiri dari; Dokter Umum, Dokter Spesialis, Apoteker dan Perawat. Berdasarkan Kep.Men.PAN Nomor: KEP/75/M.PAN/ 7/2004,Tentang
Pedoman Perhitungan Kebutuhan Pegawai Berdasarkan Beban Kerja Dalam Rangka Penyusunan Formasi Pegawai Negeri Sipil, Kemen terian Pendayagunaan Aparatur Ne-gara Republik Indonesia menetapkan stan-dart regional untuk masing-masing indika-tor tersebut.
Indikator tersebut dibuat atas pertim-bangan aspek kwalitas pelayanan. Suatu da-erah dikatakan baik apabila nilainya jumlah beban kerja sama dengan nilai kecukupan minimum menurut standart regional, baik itu untuk dokter umum, dokter spesia lis, apoteker muapun perawat.
Dengan kerangka metodologi evalua-si seperti di atas, maka satu evalua-simpul penting dalam studi ini adalah penentuan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang akan masuk menjadi tempat penelitian. Alasan menilai pelayanan publik kesehatan berada di RSUD adalah karena rumah sakit
meru-pakan sektor penggerak dalam pelayanan langsung kepada masyarakat.
Penilaian Rumah Sakit Umum Daerah yang tidak termasuk dalam analisa ada-lah Kota Pontianak dan Kabupaten Kapuas Hulu. Kota Pontianakdan Kabupaten Kapu-as Hulu tidak dimKapu-asukkan dalam penelitian ini karena tidak termasuk daerah yang di-mekarkan di Kalimantan Barat, Yang dika-tagorikan sebagai daerah daerah penelitian adalah daerah yang sudah dimekarkan lebih dari 5 tahun. Hal ini disesuaikan dengan peraturan pemerintah bahwa kemandiri-an suatu daerah otonomi baru dapat die-valuasi kemandiriannya setelah dilakukan treatment selama 5 tahun. Untuk itu daerah Otonomi baru yang dimekarkan diatas ta-hun 2005 tidak termasuk dalam katagori ini yaitu Kabupaten Kuburaya (2007) dan Ka-bupaten Kayong Utara (2007).
Dengan tahap-tahapan pemilihan tempat seper ti di atas, Secara keseluruhan daerah yang masuk dalam studi meliputi 4 Wilayah Induk, dengan 5 Daerah Otono-mi Baru, yaitu: 1) Kabupaten Pontia nak, 2) Kabupaten Landak, 3) Kabupaten Sambas, 4) Kota Singkawang, 5) Kabupaten Bengka-yang, 6) Kabupaten Sanggau, 7) Kabupaten Sekadau, 8) Kabupaten Sintang, dan 9) Ka-bupaten Melawi.
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data Sekunder, yang mana untuk kese suain penelitian serta me-lihat kondisi objektif dila pangan maka dila-kukan metode pengumpulan data sekunder sebagai berikut: 1) Inventarisasi, Klasifikasi (Classifying) dan Evaluasi Terhadap Sum-ber Daya Kesehatan, yang meliputi: SumSum-ber Daya Manusia dan Sumber Daya Buatan, 2) Melakukan Inventari sasi Aspek Ekonomi yang meli puti; Efisiensi Pelayan an dan Efi-siensi Alokasi, 3) Melakukan pengumpulan
(capturing) data Aspek Kelem bagaan yang
meliputi; Regulasi dan Organi sasi, 4) Me-lakukan perhitungan (calculating) data as-pek lokasi/spasial yang meliputi beberapa faktor antara lain; jarak, waktu tempuh, dan biaya perjalanan.
terhadap situasi dan kondisi pemekaran da-erah dengan melakukan wawancara (data primer) terhadap masyarakat pengguna jasa pelayanan rumah sakit serta ditambah be-berapa studi literatur berupa jurnal-jurnal yang mendukung.
Dengan menggunakan DEA proses produksi disajikan dalam sebuah struktur yang menggunakan beberapa input dan output. Beberapa manfaat pada analisa DEA adalah (1) Tidak memerlukan secara ekspli-sit bentuk matematika dalam menentukan fungsi produksi, (2) Terbukti bermanfaat dalam meng ungkap hubungan yang ter-sembunyi dibanding kan dengan metodo-logi lain, (3) Mampu menangani input dan output, (4) Mampu digunakan dengan pen-gukuran input-output, dan (5) Sumber ine-fisiensi dapat dianalisis dan diukur untuk setiap unit yang dievaluasi.
DEA diperkenalkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978). Metode Data
Envelopment Analysis (DEA) dibuat sebagai
alat bantu untuk evaluasi kinerja suatu akti-fitas dalam sebuah unit entitas (organisasi). Pada dasarnya prinsip kerja model DEA ada-lah membandingkan data input dan output dari suatu organisasi data (decision making unit, DMU) dengan data input dan output lainnya pada DMU yang sejenis. Perbandin-gan ini dilakukan untuk mendapatkan sua-tu nilai efisiensi.
Pada model ini diperkenalkan suatu ukuran efisiensi untuk masing-masing de
-cision making unit (DMU) yang merupakan
rasio maksimum antara output yang terbo-bot dengan input yang terboterbo-bot. Masing-masing nilai bobot yang digunakan dalam rasio tersebut ditentukan dengan batasan bahwa rasio yang sama untuk tiap DMU harus memiliki nilai yang kurang dari atau sama dengan satu. Dengan demikian akan mereduksi multiple inputsdan multiple out -putske dalam satu “virtual” input dan “virtu -al” output tanpa membutuhkan penentuan awal nilai bobot. Oleh karena itu ukuran efisiensi merupakan suatu fungsi nilai bo-bot dari kombinasi virtual input dan virtual
output.
Dengan menggunakan data yang di-kumpulkan melalui data sekunder dalam
penelitan ini akan diuji tingkat efisiensi rumah sakit melalui indikator factor input dan output. Kelompok variable input terdiri dari: (1) Dokter. Umum, (2) Dokter Spesalis, (3) Apoteker, (4) Perawat, (5) Karyawan, (6) Jumlah Poliklinik, dan (7) Dana Investasi untuk rumah sakit. Sedangkan yang terma-suk variable output adalah; (1) Jumlah pasi-en rawat inap dan (2) Jumlah pasipasi-en rawat jalan. Dari kedua variable input dan out-put ini akan dike tahui nilai efisiensi untuk masing-masing rumah sakit pada daerah pemekaran.
Untuk membangun suatu model ker-jasama dilakukan melalui pendekatan Mo-del Diskriminat Analisis. Analisis diskri-minan adalah salah satu teknik statistik yang bisa digunakan pada hubungan de-pendensi (hubungan antarvariabel dimana sudah bisa dibedakan mana variabel respon dan mana variabel penjelas). Lebih spesifik lagi, analisis diskri minan digunakan pada kasus dimana variabel respon berupa data kualitatif dan variabel penjelas berupa data kuantitatif. Analisis diskriminan bertujuan untuk mengklasifikasikan suatu individu atau observasi ke dalam kelompok yang sa-ling bebas (mutually exclu sive/disjoint) dan menyeluruh (exhaustive) berdasar kan se-jumlah variabel penjelas.
Ada dua asumsi utama yang harus dipenuhi pada analisis diskriminan ini, yai-tu: 1) Sejumlah p variabel penjelas harus berdistribusi normal. 2) Matriks varians-covarians variabel penjelas berukur an pxp pada kedua kelompok harus sama, 3) Jika dianalogikan dengan regresi linier, maka analisis diskriminan merupakan kebalikan-nya. Pada regresi linier, variabel respon yang harus mengikuti distribusi normal dan ho-moskedastis, sedangkan variabel penjelas diasumsikan fixed, artinya variabel penjelas tidak disyaratkan mengikuti sebaran ter-tentu. Untuk analisis diskriminan, variabel penjelasnya seperti sudah disebutkan di atas harus mengikuti distribusi normal dan homoskedastis, sedangkan variabel respon-nya fixed.
penje-las (Xj) dan data kate gorik/ kualitatif/ non-metrik untuk variabel respon (Y). Secara ringkas, langkah-langkah dalam analisis diskriminan adalah sebagai berikut: 1) Pen-gecekan adanya kemungkinan hubungan linier antara variabel penjelas. Untuk point ini, dilakukan dengan bantuan matriks ko-relasi (pembentukan matriks koko-relasi su dah difasilitasi pada analisis diskriminan). Pada output SPSS, matriks korelasi bisa dilihat pada Pooled Within-Groups Matrices, 2) Uji Vektor Rata-rata Kedua KelompokDiharap-kan dari uji ini adalah hipotesis nol ditolak, sehingga kita mempunyai informasi awal bahwa variabel yang sedang diteliti memang membedakan kedua kelompok. Pada SPSS, uji ini dilakukan secara univariate (jadi yang diuji bukan berupa vektor), dengan bantu-an tabel Tests of Equality of Group Means. 3) Dilanjutkan pemeriksaan asumsi homoske-dastisitas, dengan uji Box’s M. Diharapkan dari uji ini hipotesisi nol tidak ditolak, 4) Pembentukan model diskriminan (Duda, et al., 2001)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Seperti telah diuraikan diatas, impli-kasi dari otonomi daerah adalah mening-katnya pemekaran daerah. Dari 4(empat) daerah sampel yang merupa kan daerah induk pemekaran di Kalimantan Barat, se-lanjutnya dimekarkan menjadi 9 (sembilan) daerah otonomi baru. Hal ini berdampak pada pembagian sumberdaya ekonomi yang berakibat pada mele mahnya basis kapasitas local.
Tingkat efisiensi pengelolaan Rumah Sakit Umum Daerah kebupaten/kota se-belum pemekaran menunjukan rata-rata tingkat efisiensi sebesar 1, yang terdiri dari rumah sakit di Kabupaten Pontianak, Kabu-paten Sambas, KabuKabu-paten Sanggau dan Ka-bupaten Sintang. Dengan tingkat efisiensi sama dengan 1. Sedangkan setelah pemeka-ran nilai rata-rata Efisiensi menjadi 0,6.
Ada perubahan tingkat efisiensi pela-yanan kesehatan setelah adanya pemekaran daerah. Hal ini disebabkan menurunnya skala ekonomi pelayanan kesehatan. Daerah baru (pemekaran) mengalami kekurangan
sumber daya sedangkan daerah induk juga mengalami penurunan sumber daya.
Tenaga kesehatan profesi adalah te-naga kesehatan yang telah melalui pendi-dikan vokasi atau pendipendi-dikan akademis dan profesi di bidang kese hat an. Sedangkan te-naga kesehatan non profesi adalah tete-naga kesehatan yang telah melalui pendidikan vo ka si, pendidikan akademis tanpa melalui pendidikan profesi dalam bidang kesehatan
Tenaga pendukung/penunjang kese-hatan ada lah setiap tenaga yang telah me-miliki ijasah pendi dikan vokasi atau pendi-dikan akademis dan profesi pendipendi-dikan di luar kesehatan dan mengabdikan dirinya di bidang kesehatan sesuai keahliannya serta tenaga lainnya yang telah mengikuti pela-tihan di bidang kesehatan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam men-dukung penyelenggaraan pem bangunan/ pelayanan kesehatan.
Pembangunan kesehatan harus di-dukung dengan pemenuhan seluruh ke-butuhan SDM Kese hatan yang berkualitas, memiliki kemampuan peren canaan yang mantap dengan didukung oleh sistem infor-masi SDM Kesehatan yang efektif dan efisi-en.
Program distribusi dan manajemen karier SDM Kesehatan juga harus dapat dilaksanakan dalam rangka mendukung pemerataan dan peningkatan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya perencanaan, pendayagunaan dan pengadaan, pembinaan dan pengawa-san, SDM Kesehatan yang efektif dan efisi-en.
da-erah Kab. Sambas dan jumlah terkecil pada daerah Kab.Pontianak. (5) Jumlah karyawan rata-rata 44 orang untuk setiap rumah sakit kabupaten dengan jumlah terbanyak pada daerah Kab. Sambas dan terkecil pada da-erah Kab. Pontianak.
Guna mendukung penyelenggaraan pemba ngun an kesehatan juga dibutuhkan pembiayaan kesehatan yang dapat men-jamin kecukupan, pembe lanjaan, ekuitas, portabilitas, berkelanjutan, efektif dan efi-sien, akuntabel, subsidiaritas dan fleksibi-litas.
Pembiayaan kesehatan merupakan suatu pro ses yang terus-menerus dan ter-kendali, agar tersedia dana kesehatan yang memadai dan berkesinam bung an, yang ber-sumber dari masyarakat, pemerin tah, dunia usaha, dan sumber lainnya. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan merupakan hal yang penting agar dapat di-mobilisasi sumber-sumber dana kesehatan, mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efisien dan efektif serta diarahkan pada hal-hal pokok yakni kesinambungan pembiayaan program kes-ehatan prioritas, menghilangkan hambatan biaya untuk men dapakan pelayanan kese-hatan dikarenakan pembia yaan tunai pero-rangan, pemerataan dalam akses pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektifitas alokasi sumber daya serta kualitas pelayanan. Pem-biayaan kesehatan yang mengutamakan pe-merataan serta berpihak kepada masyarakat miskin akan mendorong tercapainya akses yang universal.
Arah kedepan, pengalokasian pem-biayaan kesehatan yang bersumber peme-rintah diharapkan tidak lagi membiayai pelayanan kesehatan kuratif dan rehabilita-tif, sehingga sepenuhnya dapat mem bia yai upaya kesehatan promotif dan upaya kese-hatan preventif. Pemerintah hanya mem-biayai upaya kesehatan kuratif dan rehabi-litatif bagi masyarakat rentan dan miskin, yang dikelola melalui sistem jaminan kese-hatan. Pengelolaan pembiayaan kese hatan melalui sistem jaminan kesehatan nasional diharapkan telah mantap. Semua penduduk juga diharapkan dapat dicakup dalam jami-nan kesehatan nasional.
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa untuk melakukan perubahan efisiensi san-gat tergantung dari faktor input dan output. Faktor input yang digunakan dalam anali-sis disini adalah: 1) dokter umum, 2) dokter spensialis, 3) Apoteker, 4) Perawat, 5) Kary-awan, 6) Jumlah Poliklinik, 7) Dana Investa-si, dan 8) Pasien rawat inap dan Jalan.
Dari hasil perhitungan analisis DEA terhadap indikator yang berpengaruh ter-hadap perubahan efisiensi, menunjukkan kondisi in-efisiensi pada dae rah yang baru dibentuk. Untuk itu perlu adanya perbai-kan (improvement) terhadap indikator agar daerah-daerah yang masih belum efisien di-harapkan menjadi efisien.
Untuk mencapai tingkat efisiensi yang diingin kan secara keseluruhan maka per-lu melakukan pengurangan jumlah dokter umum sebesar 14,07%. Dimana untuk se-lanjutnya diikuti oleh pengurangan jumlah dokter spesialis, sebesar 13,48%, pengu rang-an jumlah apoteker sebesar 13,87%, pengu-rangan jum lah perawat sebesar 13,29%, pen-gurangan jum lah karyawan sebesar 13,09%, pengurangan Jumlah poliklinik sebesar 13,85%, pengurangan jumlah dana investa-si 13, 62%, rawat inap 0% dan peningkatan jumlah pasien rawat jalan sebesar 4,73%.
Selain daripada itu analisis ini me-nentukan berapa persen jumlah perubahan efisiensi yang terjadi untuk setiap indika-tor baik dari setiap struktur input maupun struktur output pada masing-masing rumah sakit pada setiap kabupaten. Dalam anali-sis berikutini akan ditunjukkan nilai aktu-al dan target yang harus dicapai dari setiap input maupun setiap output pada setiap ru-mah sakit kabupaten.
Jika besarnya nilai aktual sudah sama dengan nilai targetnya maka efisiensi untuk setiap input atau output sudah terjadi. Seba-liknya jika nilai antara aktual dengan target tidak sama maka efisiensi belum tercapai.
in-dikator input dan output. 2) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Sanggau adalah 100 %. Karena sama dengan 100%, berarti Ru-mah sakit Kabupaten Sanggau telah efisien. Untuk itu tidak perlu dilakukan improve -ment terhadap indikator input dan output. 3) Rumah sakit Kota Singkawang adalah 100%. Karena sama dengan 100%, berarti Rumah sakit Kota Singkawang telah efisien. Untuk itu tidak perlu dilakukan improve -ment terhadap indikator input dan output, 4) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Sambas adalah 100%. Karena sama dengan 100%, berarti Rumah sakit Kabupaten Sam-bas telah efisien. Untuk itu tidak perlu di-lakukan improvement terhadap indikator input dan output. 5) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Sintang adalah 100%. Ka-rena sama dengan 100%, berarti Rumah sa-kit Kabupaten Sintang telah efisien. Untuk itu tidak perlu dilakukan improvement ter-hadap indikator input dan output. 6) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Sekadau adalah 13%. Karena dibawah 100%, berar-ti Rumah sakit Kabupaten Sekadau belum efisien. Untuk meningkatkan efisiensi perlu dilakukan improvement terhadap indikator input dan output. 7) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Bengkayang adalah 11%. Karena dibawah 100%, berarti Rumah sakit Kabupaten Bengkayang belum efisien. Un-tuk meningkatkan efisiensi perlu dilakukan
improvement terhadap indikator input dan
output. 8) Hasil perhi tungan DEA dengan software Banxia Frontier AnalysisSkor efi-siensi Rumah sakit Kabupaten Melawi ada-lah 10%. Karena dibawah 100%, berarti Ru-mah sakit Kabupaten Melawi belum efisien. Untuk meningkatkan efisiensi perlu
dilaku-kan improvement terhadap indikator input
dan output. 9) Skor efisiensi Rumah sakit Kabupaten Landak adalah 4%. Karena diba-wah 100%, berarti Rumah sakit Kabupaten Landak belum efisien. Untuk meningkat-kan efisiensi perlu dilakumeningkat-kan improvement terhadap indikator input dan output
Oleh karena itu harus ada upaya un-tuk memba ngun suatu sistem kerjasama antar rumah sakit. Kerjasama dapat diban-gun melalui Rumah sakit yang efisien den-gan rumah sakit yang tidak efisien. Adapun
indikator yang dapat dikerjasamakan dapat diketahui melalui perhitungan dengan pen-dekatan Linier Deskriminan Analisis (LDA).
Dari hasil data olahan LDA menun-jukkan bahwa yang berpengaruh significant dengan tingkat kesalah dibawah 10% terha-dap efisiensi rumah sakit adalah; 1) Jumlah Dokter spesialis yaitu sebesar 8%, 2) Jum-lah Perawat yaitu sebesar 3% dan 3) JumJum-lah Poliklinik yang ada yaitu 8,9%. Sedangkan tingkat signifikansi diatas 10% adalah; 1) Jumlah Dokter umum sebesar 41,9%, 2) Apoteker sebesar 80%, 3) Karyawan 10,2% dan 4) Dana Investasi 94,8%.
Untuk melihat arah perubahan indi-kator yang significant apakah kearah efisi-en/in-efisien diperlukan functions at group
centroids. Hal ini menunjukan apabila
in-dikator yang mempunyai nilai discriminant bertanda “negatif” maka indikator tersebut akan mengarah ke arah efisien, demikian sebaliknya apa bila indikator tersebut mem-punyai nilai discriminat “positip” maka in-dikator tersebut menuju kearah in-efisiensi.
Berdasarkan data dapat dijelaskan bahwa indi kator yang significant dan mem-punyai berpengaruh untuk meningkatkan efisiensi adalah jumlah perawat. Sedangkan indikator yang significant dan berpenga ruh kepada inefisiensi adalah indikator dokter spesialis dan jumlah poliklinik.
Berdasarkan kondisi diatas dapatlah dirancang suatu model revitalisai rumah sakit kabupaten setelah pemekaran sebagai berikut: 1) Untuk meningkatkan efisiensi rumah sakit perlu penambahan jumlah pe-rawat secara mandiri oleh masing-masing rumah sakit., 2) Diperlukan kerjasama an-tar rumah sakit kabupaten agar pengelolaan dokter spesialis dan poliklinik bisa menjadi efisien.
SIMPULAN
sedangkan daerah induk juga mengalami penurunan sumber daya.
Dari 7 (tujuh) indikator input, yaitu: Dokter Umum, Dokter Spesalis, Apoteker, Perawat, Karya wan, Jumlah Poliklinik, dan Dana Investasi untuk Rumah sakit, yang paling mempengaruhi perubahan efisiensi adalah Dokter spesialis, Perawat dan Jumlah poliklinik.
Dalam melaksanakan kebijakan di-sektor input diatas dirancang suatu model revitalisai rumah sakit kabu paten setelah pemekaran dengan penambahan jumlah perawat dan pengelolaan dokter spesialis dan poliklinik bisa menjadi efisien.
Hal yang perlu disarankan dalam pen-elitian ini ; 1) Perlu tindakan kehati-hatian dalam melakukan kebijakan pemekaran daerah baru. Kebijakan dan tindakan peme-karan wilayah dapat merugikan pela yanan publik yang dianalisis melalui pendekatan efisiensi (input dan output). Pemekaran wilayah hanya mampu membagi wilayah tetapi tidak diikuti dengan efisiensi kerja pada daerah baru. Pemekaran wilayah me-nyebabkan ketidakmerataan pada sumber daya manusia pada sektor pelayan publik se-hingga terjadi in-efisiensi pada daerah baru. Ketidakmam puan meningkatkan kemanfaa-tan sumber daya terlihat pada daerah baru. Dimana terdapat sumber daya yang berlebih disatu sisi dan terjadi kelebihan beban kerja pada daerah induk. 2) Diperlukan penam-bahan jumlah perawat secara mandiri oleh masing-masing rumah sakit, serta kerjasa-ma antar rukerjasa-mah sakit kabupaten agar pen-gelolaan dokter spesialis dan poliklinik bisa menjadi efisien, 3) Kerjasama menjadi salah satu titik penting dalam meningkatkan kua-litas pelayanan Rumah sakit, oleh karena hal tersebut berkaitan dengan penyediaan sara-na poliklinik. Sekaligus pengaturan spesia-lisasi tenaga dokter baik untuk daerah yang mempunyai layanan yang efisien maupun yang belum efisien. Untuk itu, demi kelan-caran jalannya pelayanan kesehatan akan lebih efektif diserahkan ke tingkat provinsi. Namun untuk menjamin keadilan, daerah kabupaten/kota seyogianya mendapatkan bagi hasil dari penerimaan yang dihasilkan dari penyeleng garaan urusan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abinett, Gordon D., & Richardson,Tim. (1999). The European Spatial Approach (The Role of Power and Knowledge in Strategic Planning and Pol-icy Evaluation), SAGE Publications (London,
Thousand Oaks and New Delhi) [1356–3890 (199904)5:2; 220–236; 008650], 5(2), 220–236. Barbettaa, Paolo G., Turatib Gilberto., & Zagoc
An-gelo. (2007). Behavioral Differences Between Public And Private Not-For-Profit Hospitals In The Italian National Health Service, Health Economics Health Econ, 16, 75–96.
Building and Reinventing Decentralized Governance Project (2007). Studi Evaluasi Pemekaran Dae -rah. Badan Perencanaan Pemangunan
Nasi-onal bekerjasama dengan United Nation De-velopment Program.
Busrizalti. (2006). Pemekaran Daerah Dalam Pers
pek-tif Otonomi Daerah. Supremasi Hukum, U(I), 9-14.
Buud, Leslie., and Hirmis Amer K. (2004). Concep-tual Framework for Regional Competitiveness.
Regio nal Studies, 38(9), 1015-1028.
Charnes, W.A., W Cooper., and E Rhodes. (1978). Eu -ropean Journal of Operational Research . vol 2 , issue 6, pages 429-444
Duda, R. O. et al. (2001). Pattern Classification. John Wiley & Sons, Inc.
Dunford, Michael. (2005). Theorising regional
econo-mic performance and the changing territorial division of labour, School of European
Stud-ies, University of Sussex, Falmer, Brighton BN1 9QN, Page 5.
Elhiraika, Adam & Leonce Ndikumana. (2007). Re-serves Accumulation in African Countries: Sources, Motivations, and Effects. Economics Department Working Paper Series. Paper 24 Harmantyo, Djoko. (2007). Pemekaran Daerah Dan
Konflik Keruangan (Kebijakan Otonomi Dae-rah dan Implementasinya di Indonesia). Ma
-kara Sains, 11(1), 22-42.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Re-publik Indonesia. (2004). Kep.Men.PAN No-mor: KEP/75/M.PAN/7/2004 Tentang Pedo man Perhitungan Kebutuhan Pegawai Berda sarkan Beban Kerja Dalam Rangka Penyusunan For-masi Pegawai Negeri Sipil. Jakarta
Kim, Aehyung. (2008). Decentralization and the Pro vision of Public Services:Framework and Implementation. Policy Research Working
Paper, 4503, The World Bank Development
Economics,Capacity Building, Partnership,
and Outreach Team, 19.
Krugman, P. (2009). The Increasing Returns Revo-lution in Trade and Geography. American Eco -nomic Review, 99(3), 561–571.
Kuncoro, Mudrajad. (2002). Analisis Spasial dan Re
-gional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri
Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
High Data Rates. Journal Of Communications, 4(3), 194.
Martin P.,& Ottavianno. (2001). Growth and Agglo-meration. International Economic Review,
42(4), 947-968.
Mckay,N.L., & Deily M. E. (2008). Cost Inefficien-cy And Hospital Health Outcomes. Health
Econonomics, 17,833–848.
Merkel, Joel C. (2006). Community Participation In Utility-Scale Renewable Projects: Lessons Learned From The Last Mile Electric Coopera-tive Experience.
Nakamura, D. (2008). Spatial-Competition, Integrat-ed Framework Of Central-Place System With Agglomeration Economies. Région et Dével-oppement, 27: 193-214.
Olawepo, R.A., & Fadayiro, M.O. (2010). The Trend Of Demised Industries In A Nigerian Environ-ment: Implications For Sustainable Develop-ment. Journal of Sustainable Development in
Africa, 12(2).
Ovretveit J. (2008). Effective leadership of Impro-vement: The Research. Int J of Clin Leadersh, 16, 97-105.
Parr, J.B. (1978). Models of the Central Place Sys tem: A More General Approach. Urban Studies, 15(1), 35-49.
Rosen, E.D. (1993). Improving Public Sector Produc-tivity: Concept and Practice. London: Sage Publi cations International Educational and Professional Publisher.
Shell, A., & Ha We P. (1996). Health Promotion Com-munity Development And The Tyranny Of In-dividualism. Health Economics, 5, 241-247. Vlk, Bruce. (2011). Post-New Public Management
under the Obama Administration: An Early Snapshot. Michigan Journal Of Public Affairs,
8.
Wang, Z., & Rettenmaier A. J. (2007). A Note On Coin-tegration Of Health Expenditures And In-come. Health Economics, 16,559–578.
Williams,T. (2005). Cooperation By Design: Structure And Cooperation In Interorganizational Net-works. Journal of Business Research, 58, 223– 231.
Wolman, Hal., & Levy, Alice. (2010). Government, Governance, and Regional Economic Growth. Paper grant by the Surdna Foundation, 6. Woods, K. J. (2001). The Development of Integrated
Health Care Models in Scotland. International