• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN - Penerapan Preventive Maintenance Untuk Meningkatkan Reliability Pada Boiler Feed Pump PLTU Tarahan Unit 3 & 4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN - Penerapan Preventive Maintenance Untuk Meningkatkan Reliability Pada Boiler Feed Pump PLTU Tarahan Unit 3 & 4"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

Gambar 2.1 PLTU Tarahan

Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Tarahan adalah salah satu dari

sektor pembangkit Sumatera Bagian Selatan dengan unit operasi 3 dan 4 yang

berkapasitas 2 X 100 MW. PLTU ini berlokasi di desa Ranggai Tri Tunggal (desa

Tarahan), Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung

dan terletak di tepi teluk Lampung yang berjarak ±15 km dari pusat kota Bandar

Lampung ke arah timur dengan lahan seluas ±62,84 Ha yang digunakan untuk

Power Plant, Intake, Discharge dan Base Camp.

Pembangunan fisik PLTU ini dimulai sejak tahun 2001 (Lot I : Site

Preparation). Kemudian diteruskan pada tahapan pembangunan sipil yang resmi

mulai dilakukan pada tanggal 15 September 2004 yaitu pemasangan tiang pertama

secara simbolik oleh Wakil Gubernur Lampung, Syamsurya Ryacudu didampingi

(2)

Proyek ini dibiayai oleh JBIC ODA LOAN No.IP-486 dengan alokasi

sebesar 6,41 milyar JPY atau 176,97 Juta USD, dana pendamping dari

pemerintah RI ( APBN ) senilai 332,85 milyar diluar biaya perolehan tanah dan

pekerjaan persiapan.

Pembangunan PLTU Tarahan ini merupakan kebijakan Pemerintah

Indonesia yang ditindak lanjuti oleh PT. PLN (Persero) supaya mengembangkan

pembangkit listrik non-BBM dengan memanfaatkan batu bara berkalori rendah.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar batu bara, PT. PLN (Persero)

mengadakan kontrak pembelian dengan PT. Bukit Asam supaya menyuplai batu

bara untuk PLTU Tarahan dengan pertimbangan lokasi stockpile batu bara yang

berasal dari tambang terbuka Tanjung Enim berdekatan dengan PLTU Tarahan.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Tarahan adalah perusahaan yang

bergerak di bidang pengolahan listrik. Adapun ruang lingkup bidang usaha pada

perusahaan ini adalah :

1. Air laut dirubah menjadi air tawar dengan sistem desalination.

2. Air tawar dirubah menjadi air murni dengan sistem Water Treatment Plant

3. Air murni dipanaskan menjadi uap untuk memutar turbin yang akan

menghasilkan listrik.

2.3. Visi dan Misi Perusahaan

Visi PLTU Tarahan ialah: “Menjadi PLTU Batubara dengan Kinerja Kelas

(3)

Misi dari PLTU Tarahan ialah:

1. Melaksanakan tata kelola pembangkit kelas dunia didukung oleh SDM

profesional

2. Menyediakan Energi Listrik yang andal dan efisien

3. Melaksanakan kegiatan pembangkitan yang berwawasan lingkungan

4. Menjadikan budaya perusahaan sebagai tuntutan di dalam melaksankan tugas.

2.4. Letak Geografis Perusahaan

Lokasi PLTU Tarahan berlokasi di desa Ranggai Tri Tunggal (desa

Tarahan), Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung

dan terletak di tepi teluk Lampung yang berjarak ±15 km dari pusat kota Bandar

Lampung ke arah timur

(4)

2.5. Daerah Pemasaran

Setelah PLTU Tarahan menghasilkan energi listrik, maka listrik akan di

salurkan ke jaringan tranmisi. Listrik yang di hasilkan dengan tegangan 11kV,

dengan menggunakan travo step up maka tegangan 11 kV di naikan ke 150 kV

dan disalurkan melalui tranmisi ke P3BS dan kemudian disalurkan ke pelanggan.

Harga jual kwh produksi dari pembangkit ke P3BS sebesar Rp 877,-/kwh.

2.6. Organisasi dan Manajemen Perusahaan 2.6.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi bagi suatu perusahaan mempunyai peranan yang

penting dalam menentukan dan memperlancar jalannya roda perusahaan.

Distribusi tugas, wewenang dan tanggung jawab serta keselarasan hubungan satu

bagian dengan bagian yang lain dapat digambarkan dalam suatu struktur

organisasi. Dengan demikian diharapkan adanya suatu kejelasan arah dan

koordinasi untuk mencapai tujuan perusahaan dan masing-masing karyawan dapat

mengetahui dengan jelas dari mana perintah itu datang dan kepada siapa harus

dipertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, maka struktur

organisasi yang digunakan oleh PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan

Sumatera Selatan adalah struktur organiasasi campuran antara struktur organisasi

lini dan fungsional (seperti pada gambar 2.2).

(5)

bawahnya menurut garis vertikal. Sedangkan struktur organisasi fungsional adalah

struktur organisasi di mana organisasi diatur berdasarkan pengelompokan

aktivitas dan tugas yang sama untuk membentuk unit-unit kerja seperti,

enginiring, operasi, pemeliharaan, keuangan, personalia, dan sebagainya yang

memiliki fungsi yang terspesialisasi. Spesialisasi di sini akan memberikan

efisiensi kerja yang lebih tinggi lagi.

Dari Gambar 2.2 dapat dilihat bahwa pimpinan tertinggi dipegang oleh

seorang Manager dan dibantu beberapa Asisten Manager dan Supervisior yang

didalamnya telah terlihat batasan-batasan pertanggungjawaban dari setiap bidang

pekerjaan tersebut. Di samping itu, adanya hubungan antara satu seksi dengan

seksi lainnya melalui fungsi masing-masing.

(6)

2.6.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Pembagian fungsi dan tugas pokok dari tiap-tiap jabatan pada struktur

organisasi PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Sumatera Selatan di atas

adalah sebagai berikut:

1. Manajer Sektor

Adapun tugas pokok dari seorang Manager Sektor antara lain:

a. Mengelola pembangkit listrik dengan mengoptimalkan seluruh sumber

daya yang ada, serta memastikan kinerja unit yang handal, efisiensi dan

dikelola menurut manajemen operasi.

b. Ketentuan atau peraturan sebagai pedoman pelaksaan tugas.

c. Melakukan inovasi secara berkesinambungan dalam peningkatan kinerja

unit pembangkit.

d. Memantau, menganalisa dan mengevaluasi sistem serta prosedur kerja

operasi dan lingkungan.

e. Meningkatkan kualitas SDM diunit pembangkit melalui pembinaan,

pengembangan dan pelatihan berdasarkan program yang jelas dan tepat

guna, sehingga dapat tercapai SDM yang proaktif.

f. Memastikan sasaran kinerja yang ditetapkan Direksi dapat dicapai dengan

baik.

g. Memberikan masukan kepada Direksi mengenai langkah-langkah yang

(7)

penyelenggaraan pengoperasian unit pembangkit berlangsung secara

berkesinambungan.

h. Melakukan koordinasi dengan pihak luar yang terkait dengan aspek

pengolahan pembangkit, baik pemerintah daerah maupun phak-pihak

terkait lainnya.

i. Membuat laporan secara berkala sebagai bahan masukan dan pengambilan

keputusan lebih lanjut.

2. Asisten Manager Enjiniring (Asman Enginiring)

Tugas pokok Asisten Manajer Enjiniring adalah melakukan perencanaan

dan evaluasi pengoperasian dan pemeliharaan unit-unit pembangkit tenaga listrik.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Asisten Manajer Enjiniring

mempunyai fungsi:

a. Perencanaan pengoperasian pembangkit tenaga listrik,

b. Perencanaan pemeliharaan pembangkit tenaga listrik,

c. Pengevaluasian pengoperasian pembangkit tenaga listrik,

d. Pengevaluasian pemeliharaan pembangkit tenaga listrik,

e. Pengevaluasian masalah lingkungan dan keselamatan ketenagalistrikan,

(8)

3. Asisten Manajer Operasi (Asman Operasi)

Tugas pokok Asisten Manajer Operasi adalah melaksanakan

pengoperasian unit-unit pembangkit sesuai dengan rencana dan prosedur yang

ditetapkan.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Asisten Manajer Operasi

mempunyai fungsi:

a. Penyiapan kebutuhan untuk operasi pusat pembangkit tenaga listrik yang

meliputi jadwal jaga,

b. Pengoperasian pembangkit tenaga listrik berdasarkan parameter operasi,

c. Pelaksanaan mengatasi gangguan yang terjadi pada pembangkit tenaga

listrik,

d. Pembuatan laporan gangguan, kerusakan dan data operasi,

e. Pembuatan laporan emergency dan tindak lanjut yang telah dilaksanakan,

f. Pengurusan limbah bahan bakar.

4. Asisten Manager Pemeliharaan (Asman Pemeliharaan)

Tugas pokok Asisten Manager Pemeliharaan adalah melaksanakan

pemeliharaan mesin unit-unit pembangkit tenaga listrik sesuai dengan rencana dan

prosedur yang ditetapkan.

(9)

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Asisten Manager Pemeliharaan

mempunyai fungsi:

a. Penyiapan kebutuhan bahan untuk pemeliharaan unit-unit pembangkit

tenaga listrik,

b. Pelaksaan pemeliharaan rutin unit-unit pembangkit tenaga listrik,

c. Pelaksaan pemeliharaan periodik unit-unit pembangkit tenaga listrik,

d. Pelaksaan laporan pemeliharaan unit-unit pembangkit tenaga listrik.

5. Asisten Manager Coal dan Ash Handling (Asman Coal dan Ash Handling) Tugas pokok Asisten Manager Coal dan Ash Handling adalah melaksanakan pengoperasian dan pemeliharaan instalasi Coal dan Ash Handling,

serta pengelolaan bahan bakar sesuai dengan rencana dan prosedur yang

ditetapkan.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Asisten Manajer Coal dan Ash Handling mempunyai fungsi:

a. Penyiapan kebutuhan untuk operasi pusat listrik pembangkit tenaga listrik

meliputi bahan bakar dan bahan lain untuk menunjang operasi,

b. Pengoperasi instalasi Coal dan Ash Handling berdasarkan parameter operasi,

c. Pembuatan laporan gangguan, kerusakan dan data operasi Coal dan Ash Handling,

(10)

e. Pengurusan bahan bakar, mulai dari perencanaan, persiapan penerimaan,

penyaluran dan pemakaiannya.

6. Asisten Manager Sumber Daya Manusia dan Administrasi (Asman SDM dan

ADM)

Tugas pokok Asisten Manager Sumber Daya Manusia dan Administrasi

adalah penyelenggarakan tata usaha kepegawaian, kesekretariatan,

logistik/angkutan, pergudangan, administrasi bahan bakar/minyak pelumas,

anggaran dan keuangan serta akuntansi.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Asisten Manajer Sumber Daya

Manusia dan Administrasi mempunyai fungsi:

a. Pelaksanaan tata usaha kesekretariatan,

b. Pelaksanaan tata usaha kepegawaian dan diklat,

c. Pelaksanaan tata usaha anggaran dan keuangan,

d. Pelaksanaan tata usaha logistik/angkutan dan pergudangan.

2.6.3. Jumlah Tenaga Kerja pada Perusahaan

Adapun jumlah keseluruhan pegawai di PT. PLN (Persero) Sektor

Pembangkitan Tarahan pada saat ini adalah berjumlah 176 orang dengan perincian

(11)

Tabel 2.1. Jumlah Pimpinan PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Tarahan

No Keterangan Jumlah Orang

1 Manajer Sektor 1

2 Asisten Enjiniring 1

3 Asisten Operasi 1

4 Asisten Pemeliharaan 1

5 Asisten Coal dan Ash Handling 1

6 Asisten SDM dan Administrasi 1

Total 6

(Sumber : Bagian Kepegawaian PT. PLN (PERSERO)Sektor Pembangkitan Tarahan)

Tabel 2.2. Jumlah Pegawai Pelaksana PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Tarahan

(Sumber : Bagian Kepegawaian PT. PLN (Persero)Sektor Pembangkitan Tarahan)

2.6.4. Jam Kerja

Standar waktu kerja yang berlaku di PT. PLN (Persero) Pembangkit

Sumatera Selatan Sektor Pembangkitan Tarahan adalah 8 jam/hari. Khusus bagian

pegawai kantor (tata usaha), laboratorium dan pemeliharaan adalah 5 hari kerja

(12)

1. Pukul 07.30 s/d 12.00 WIB : Jam Kerja

2. Pukul 12.00 s/d 13.00 WIB : Jam Istirahat

3. Pukul 13.00 s/d 15.30 WIB : Jam Kerja

Waktu kerja untuk karyawan bagian operasi terbagi menjadi 3 kelompok

shift kerja dengan pembagian waktu shift yaitu:

1. Shift pagi pukul 07.30 s/d 15.30 WIB

2. Shift sore pukul 15.30 s/d 22.30 WIB

3. Shift malam pukul 22.30 s/d 07.30 WIB.

2.6.5. Sistem Pengupahan

Sistem penggajian (pengupahan) yang digunakan PT. PLN (Persero)

Sektor Pembangkitan Tarahan adalah sistem pengupahan yang dibayarkan sekali

sebulan sesuai dengan gaji pokok/golongan pegawai.

Kesejahteraan umum bagi staff dan pegawai pembangkit merupakan hal

yang sangat penting. Produktivitas kerja seorang karyawan sangat dipengaruhi

tingkat kesejahteraannya. PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Tarahan

memikirkan hal ini dengan memberikan beberapa fasilitas yaitu:

1.Perumahan bagi staff, karyawan dan keluarganya, yang berada di lokasi

pembangkit sekitar.

2.Sarana kesehatan (rumah sakit) untuk staff dan pegawai beserta keluarga.

3.Membangun sarana olah raga yang tersedia di lokasi sekitar pembangkit.

(13)

2.7. Proses Produksi

Suatu proses produksi diartikan sebagai kegiatan yang mengubah masukan

berupa bahan baku (input) menjadi keluaran (output) yang berupa produk/hasil. Teknologi, mesin, dan peralatan serta berbagai cara kerja direncanakan dan

digunakan untuk proses produksi.

Gambar 2.4. Proses Flow Diagram PLTU Tarahan

Keterangan Gambar :

1. Coal Conveyor 24. HV Switchyard 47. Outlet Discharge 2. Coal Sila 25. Transmission Tower 48. Coal Truck hoppe 3. Coal Crusher 26. CWP Pit 49. Plant Area Silo 4. Coal Bunker 27. CWP 50. Disposal Area Silo 5. Furnace Boiler 28. Condensar 51. Limestone Silo 6. Cyclone Separator 29. Discharge Pipe 52. Limestone Boiler 7. Back Pass 30. PA FAN

(14)

9. ID FAN 32. Air Heater 10.Chimey 33. Ash Dump Truck 11.Condensat Pump 34. Ash Disposal Area 12.Low Pressure Heater 35. Desalination 13.Deaerator 36. Raw Water tank 14.Boiler Feed Pump 37. Water Treatment Plant 15.High Pressure Heater 38. Water Treatment Tank 16.Economiser 39. Make Up Water 17.Steam Drum 40. Chlorination 18.Furnace Superheater 41. Aux Transformer 19.Final Superheater 42. PDC Transformer 20.Steam Turbine 43. MCC

21.Electrical Generator 44. Conection Pit 22.Transformer 45. Intake Tower

23.HV Cable 46. Man Hole

2.7.1. Standar Mutu Produk

Ada komponen kualitas yang dipakai sebagai standar dalam pengendalian

(15)

Tabel 2.3. Pengendalian Mutu Air

Parameter Batasan Satuan

pH 7-8,5

Spec. Conductivity <15 µS/cm

TDS <10 Mg/I

Turbidity <5 NTU

Total Iron <0,3 Mg/I

Total Hardnes 1,54 Mg/I

Ca-Hardness <0,15 Mg/I

Free Res. Chlorine <0,2 Mg/I

Silika <0,1 Mg/I

Total-alkalinity <2 Mg/I

Chloride <4,4 Mg/I

TSS <1 Mg/I

Analisa air dilakukan setiap hari oleh bagian kimia, pagi dan sore hari

untuk mengetahui kualitas air.

Pengambilan sampel batu bara di inlet chruser dilakukan 1 kali per hari

dan tepatnya pada siang hari adapun Standar mutu batu bara yang ditetapkan

(16)

Tabel 2.4. Sampel Batu Bara

Parameter Satuan Standard

Size Particle (Ukuran Partikel)

> 50 mm % Berat < 4

Standar mutu limestone yang ditetapkan PLTU Tarahan sebagaimana tercantum

pada Tabel 3.3.

Tabel 2.5. Standar Mutu Limestone

Parameter Satuan Standard

Size Particle (Ukuran Partikel)

(17)

2.7.2. Bahan-bahan yang Digunakan

Dalam menghasilkan produk listik digunakan bahan baku (air murni) yang

mempunyai standard air yang sudah ditetapkan. Bahan baku ialah bahan utama

yang digunakan dalam proses produksi dan berperan dalam penentuan mutu

produk. Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan dan ikut dalam proses

produksi yang meningkatkan kualitas produk. Bahan penolong adalah bahan yang

digunakan sebagai pelengkap pada produk akhir, biasanya untuk pengemasan

produk atau untuk mendukung proses produksi tetapi tidak ikut terlibat dalam

proses.

2.7.2.1. Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam kegiatan

produksi dan memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan bahan-bahan

lainnya. Oleh karena itu bahan baku yang digunakan adalah air murniyang harus

memenuhi standar mutu yang telah ditentukan oleh PLTU

2.7.2.2. Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan dalam proses produksi

dan bercampur dengan bahan baku yang membentuk produk akhir dan diharapkan

dapat meningkatkan mutu produk. Oleh karena itu bahan tambahan yang

digunakan adalah HSD, oli, zat kimia dan batu bara yang harus memenuhi

(18)

2.7.2.3. Bahan Penolong

Bahan penolong adalah bahan-bahan yang diperlukan dalam

memperlancar penyelesaian suatu produk dimana keberadaan bahan penolong ini

tidak mengurangi nilai tambah produk yang dihasilkan tersebut, dan bahan

penolong ini tidak terdapat pada produk akhir. Dalam hal ini tidak ada bahan

penolong yang digunakan dalam proses produksi pada PLTU Tarahan.

2.7.3. Uraian Proses Produksi

Ada beberapa tahapan uraian produksi pada PLTU Tarahan, Adapun tahapan

uraian proses produksi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sirkit Bahan Bakar

Batu bara merupakan bahan bakar pokok dari PLTU Tarahan, yang

menjadi sumber penyuplai batu bara adalah PT. Bukit Asam. Batu bara yang di

transfer dari PT. Bukit Asam dengan menggunakan conveyor. Batu bara yang akan di pergunakan untuk bahan bakar di PLTU Tarahan sebelumnya telah

melalui beberapa tahap seleksi, mulai dari pemisahan logam-logam yang ikut di

transfer bersama batu bara itu. Setelah melalui tahap itu, kemudian batu bara di

transfer ke coal crusher untuk di hancurkan menjadi halus dengan ukuran yang kecil. Selesai di hancurkan, batu bara kemudian di transfer ke coal bunker dan kemudian akan di pergunakan untuk bahan bakar.

Di lain pihak selain batu bara yang di pergunakan sebagai bahan bakar

(19)

pergunakan untuk start awal PLTU Tarahan, setelah temperature dan pressure

furnace sudah bias untuk menggunakan batu bara maka solar di non aktifkan atau

tidak di pergunakan lagi. Solar di transfer dari mobil tank solar ke tank solar

sebagai penampung sebelum di gunakan.

2. Sistem Pengolahan Air

Untuk Pengolahan air kita mulai dari suplai air laut yang di saring sebelum

masuk ke Intake sebagai penampung air laut yang akan di pergunakanpada PLTU

Tarahan. Sebelum di desalination, air laut di injeksikan chorine dengan tujuan memabukkan atau melemahkan biota-biota laut yang ikut tersalur atau lolos dari

penyaringan. Setelah diinjeksi chorin, air laut di salurkan ke desanation untuk di

ubah menjadi air tawar. Proses desalination mengunakan proses evaporasi, dengan

media pemanas yakni steam yang di suplai dari unit.

Setelah melalui desalination, air yang telah menjadi tawar di salurkan ke

raw water tank sebelum masuk ke tahap berikut yakni water treatment plant yang

berfungsi untuk menghilangkan kadar garam mineral yang masih terlarut dalam

air. Setelah melalui tahap water treatment plant kemudian hasil treatment akan di

salurkan ke demin tank. Dan akan di salurkan ke make up water dan siap di

pergunakan untuk keperluan pembangkit.

3. Siklus Air dan Uap

Prinsip kerja dari PLTU adalah dengan menggunakan siklus air-uap, air

yang merupakan suatu sistem tertutup. Air kondensat atau air dari hasil proses

pengondensasian di condenser dan air dari make up water (air yang telah

(20)

tekanan rendah (low pressure heater). Disini air dipanasi kemudian dimasukkan

ke deaerator untuk menghilangkan gas udara (oksigen), kemudian air ini dipompa

oleh boiler feedwater pump masuk ke pemanas tekanan tinggi (high pressure heater) lalu menuju ke economizer. Dari economizer yang selanjutnya masuk ke

boiler drum, di boiler drum masih terbentuk dua fasa, yakni fasa air dan fasa uap, yang masih berbentuk fasa air dialirkan ke pipa down comer untuk dipanaskan pada wall tubes oleh boiler. Uap air ini dikumpulkan kembali pada steam drum,

kemudian dipanaskan lebih lanjut pada superheater. Keluar dari superheater

sudah berubah menjadi uap kering yang mempunyai tekanan dan temperature

tinggi dan selanjutnya uap ini digunakan untuk menggerakkan sudu-sudu turbin.

Di dalam turbin uap bertekanan memutar turbin. Turbin berputar,

generator pun berputar di karenakan turbin dan generator satu poros. Dengan

putaran 3000 rpm dan frekuensi 50 hz maka di hasilkan beban dengan besar 100

MW per unit.

Setelah menghasilkan energy listrik, listrik akan di salurkan ke jaringan

tranmisi. Listrik yang di hasilkan dengan tegangan 11kV. Dengan menggunakan

travo step up maka tegangan 11 kV di naikan ke 150 kV dan disalurkan melalui

tranmisi ke P3B dan kemudian ke pelanggan.

2.8. Safety and Fire Protection

Kecelakaan kerja yang terjadi dapat mengakibatkan hambatan-hambatan

(21)

akan menyebabkan tingginya biaya produksi. Keselamatan kerja merupakan

sarana utama untuk pencegahan kecelakaan kerja, cacat dan kematian yang

diakibatkan oleh kecelakaan kerja.

Safety and fire protection adalah upaya yang dilakukan agar keselamatan tetap terjaga selama proses produksi berlangsung, dalam hal ini adalah proses

pengolahan dari air tawar menjadi listik baik bagi karyawan dan bahan yang

terdapat di PLTU Tarahan.

2.9. Limbah

Limbah yang di hasilkan dari proses produksi pembangkit listrik ada dua

jenis yakni limbah padat dan cair. Limbah padat berupa abu, di hasilkan dari sisa

pembakaran di dalam furnace ada dua jenis abu yakni bottom ash dan fly ash

Bottom ash dialirkan melalui ash screw cooler mengunakan belt menuju bottom

ash silo, sedangkan fly ash dilewatkan baghouse untuk ditampung dalam fly ash

silo , lalu bottom ash dan fly ash dari masing-masing silo diangkut menuju

disposal silo untuk kemudian dibuang di ash disposal. Abu yang di buang itu

sebagian telah di pergunakan untuk membuat batako dan bahan bangunan lainnya.

Selain limbah padat ada juga limbah cair yakni air-air yang bercampur

dengan minyak bekas proses di turbin dan boiler. Air itu di salurkan ke system

waste water treatment plant. Bak penampung limbah cair dari unit pembangkit

sebelum di salurkan ke WWTP dialirkan dulu ke UNP (Unit Netralising Pit). Air dari ) kemudian dilakukan pengolahan Proses pengolahan limbah menggunakan

(22)

mengendapkan lumpur dan memisahkan sebagian logam . Setelah melalui semua

proses netralisasi dan pengolahan di sistem WWTP, air yang dihasilkan

diharapkan telah memenuhi baku mutu limbah sesuai keputusan Menteri Negara

Gambar

Gambar 2.1 PLTU Tarahan
Gambar 2.2 Lokasi PLTU Tarahan
Gambar 2.3.  Struktur Organisasi PLTU Tarahan
Tabel 2.1. Jumlah Pimpinan PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan
+4

Referensi

Dokumen terkait