• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asesmen Penetapan Prioritas Lokasi Pemba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asesmen Penetapan Prioritas Lokasi Pemba"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ASESMEN PENETAPAN PRIORITAS

LOKASI PEMBANGUNAN PUSAT TIK DESA / TELECENTER

DI LIMA KECAMATAN DI KABUPATEN SERANG DENGAN METODE AHP DAN GIS1

Unggul Sagena2

Abstrak

Artikel ini adalah mini project sistem informasi geospasial dengan menerapkan teknik Analytical Hierarchy Process (AHP) dan ArcGIS (Teknik Overlay : Weighted dan Intersect) terhadap desa di lima kecamatan di kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Indonesia. Penggunaan AHP dan GIS dalam proyek asesmen penetapan prioritas lokasi pembangunan pusat teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pusat TIK merupakan telecenter yang dapat membantu masyarakat desa mengakses internet sebagai infrastruktur yang membantu aktivitas masyarakat perdesaan khususnya untuk membantu peningkatan perekonomian melalui sarana informasi dan produktivitas melalui pemasaran melalui internet.

Kata Kunci : Analytical Hierarchy Process, Teknik Overlay, GIS

PENDAHULUAN Latar Belakang

Desa dan Internet : Malaysia dan Indonesia

Malaysia sudah lama memulai program internet masuk desa dengan program PID (Pusat Internet Desa) yaitu sejak tahun 2003. Projek Pusat Internet Desa (PID) atau Rural Internet Centre ini adalah salah satu program pemerintah Malaysia yang membangun basis telecentre yg ada di sejak bulan April oleh Kementerian Tenaga, Air dan Komunikasi Malaysia (KTAK). Terdapat 42 PID diseluruh negara dan disetiap PID dikelola oleh 2 orang yaitu

“penyelia” (supervisor) dan penolong penyelia (asisten supervisor).

PID ini adalah salah satu inisiatif Pemerintah Malaysia dalam rangka mencapai lima tujuan yaitu menjembatani digital gap antara perkotaan dan perdesaan bridging digital divide between rural and urban), menciptakan kesadaran pembangunan TIK (create awareness of ICT development), melatih masyarakat pedesaan (training the rural community), meningkatkan akses kepada aplikasi TIK (increase the access to technology and the internet application), dan menciptakan kelompok relawan yang mendukung keberlanjutan program TIK (create a group of committee volunteers to support a sustainable ICT program. (ITU, 2010).

Lazimnya, PID tersebut terletak berdekatan dengan kantor balai desa dan memiliki sekitar 5-7 komputer, sebuah printer dan sudah tersambung ke Internet. Di tahun 2008, PID

1 Paper Akhir Mini Project Simulasi Penggunaan Metode AHP dan GIS Dalam Penetapan Prioritas Pusat

(2)

memperoleh penambahan infrastruktur yaitu mesin faks, LCD Proyektor dan juga Webcam, serta peralatan Wireless dari KTAK. Program-program yang dilaksanakan PID antara lain berbagai pelatihan seperti Internet, Dasar-dasar TIK, Pembuatan Web dan pelatihan blog. Juga menyediakan pelayanan service komputer untuk masyarakat setempat. Aktivitas di luar

TIK adalah misalnya “Hari PID” dimana masyarakat bersama PID membuat berbagai

Workshop dan Seminar umum untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat tentang TIK (E-literasi atau Melek IT). Badan Usaha yang ditunjuk untuk mengelola program PID adalah Warisan Global Sdn Bhd. Situs desa antara lain http://www.e-desa.net.my/ dan situs PID di http://www.pid.net.my

Sepuluh tahun kemudian, Indonesia baru memulai secara swadaya dengan program Desa Membangun yang dipelopori melalui inisiatif gerakan “Desa Membangun” www.desamembangun.or.id pada tahun 2013. Gerakan ini dipelopori oleh beberapa Desa di Indonesia yang dimulai sejak 24 Desember 2011 di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas dengan perwakilan Desa Mandalamekar, Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya yang

hadir pada “Lokakarya Desa Membangun” yang di inisiasi oleh Pemerintah Desa Melung.

Disana, tukar-pikiran terjadi dan lahirlah gerakan yang disebut Gerakan Desa Membangun (GDM).

Gerakan tersebut menegaskan kembali perlunya desa-desa untuk maju dan mandiri sebagaimana fungsinya terdahulu sebagai pusat ekonomi masyarakat. Suatu masa, desa

menjadi lembaga “governan” yang otonom dan menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

Struktur pemerintahan desa, lengkap dengan berbagai komponen pembantu Kepala Desa (bahasa sekarang; perangkat desa) menjalani pola hubungan simetrikal yang mutualis selama berabad-abad. Selain itu, UU Desa yang disahkan pada tanggal 18 Desember 2013 yang lalu juga menegaskan adanya alokasi dana untuk pengembangan desa dari APBD dan dana dari

pusat melalui dana alokasi desa yang tersedia sebesar 42 trilyun dari 10% dana “on top” dari

APBN (sesuai pasal 72) yang jika dibagi rata kepada 72.000 desa yang ada, maka mendapatkan sekitar 600 juta rupiah per-desa. (Sagena, 2014). Jumlah yang diharapkan cukup untuk gaji perangkat desa dan meningkatkan profesionalisme pelayanan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa bersangkutan melalui berbagai program-program kerja desa. Festival Jawa-Kidul dan kisah Kepala Desa 2.0 dengan program-program

“DemIT” Desa Melek IT menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan dalam “modernisasi”

desa yang dipelopori oleh GDM. Hal ini selain tuntutan perkembangan pelayanan, juga

diamanatkan oleh UU Desa dalam hal “sistem informasi desa” yang mampu menjawab permasalahan perdesaan dari sisi penunjang infrastruktur teknologi.

(3)

tradisional. Sedangkan kota-kota sudah sangat familiar dengan TIK dan menyelaraskan prikehidupan sehari-hari berbasis TIK sehingga lebih efektif, efisien dan produktif.

Program pemberdayaan TIK misalnya, masih seputar perkotaan dengan sebagai contoh, program Pusat Layanan Internet Kecamatan yang berbasis di kecamatan dan lebih banyak berada di kota-kota besar saja dan rentan penyalahgunaan apabila tak diawasi oleh, misalnya, Relawan TIK. Secara struktural, kesenjangan informasi merupakan dampak dari kebijakan telekomunikasi yang sangat liberal. Undang-Undang No 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi menyebabkan seluruh urusan telekomunikasi diserahkan pada sektor privat. Akibatnya, penyelenggaraan layanan telekomunikasi didasarkan pada relasi produsen-konsumen dibanding negara-warganegara. Kegiatan yang dilaksanakan oleh para aktivis Desa Membangun mendapat sambutan yang baik dari masyarakat maupun dunia internasional. Sehingga program ini pun mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melaksanakan berbagai program misalnya Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) serta Desa Berdering dan berbagai program lainnya yang intinya

membuat percepatan “Desa Melek IT” dengan pemberian berbagai infrastruktur TIK ke

masyarakat perdesaan.

Permasalahan

Dalam hal ini, studi mini project ini membahas mengenai kendala dalam menentukan lokasi pemberian bantuan infrastruktur TIK yaitu pembangunan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Desa (Pusat TIK Desa) yang merupakan program yang hampir sama dengan Pusat Internet Desa (PID) milik Malaysia. Penentuan lokasi Pusat TIK Desa (Telecenter Desa) ini menemui kendala karena adanya prioritas anggaran sehingga untuk kabupaten-kabupaten perlu diberikan prioritas pemberian bantuan.

Tujuan

Mini project ini ingin menentukan prioritas pembangunan Pusat TIK (Telecenter) Desa dengan keterbatasan dana dan perlengkapan yang ada sehingga bantuan infrastruktur TIK yaitu pembuatan sebuah kantor Pusat TIK Desa yang memenuhi kriteria-kriteria yang memudahkan bagi Pemerintah menyalurkan bantuan pembuatan gedung/kantor Pusat TIK Desa yang dapat diakses masyarakat.

Studi Kasus

Contoh Mini project ini adalah penentuan prioritas Pembangunan Pusat TIK/Telecenter Desa di desa-desa yang ada diantara lima kecamatan di Kabupaten Serang, yaitu Kecamatan Cinangka, Kecamatan Ciomas, Kecamatan Mancak, Kecamatan Padarincang, dan Kecamatan Pabuaran. Hal ini dikarenakan walaupun berada di Pulau Jawa yang sarat infrastruktur, ternyata masyarakat pedesaan di Provinsi termuda di Jawa, yaitu Banten masih belum memiliki akses ke TIK sehingga tertinggal dengan daerah lain, apalagi dengan Malaysia.

Untuk itu, terdapat bantuan pembangunan infrastruktur TIK Desa dengan nama “Pusat TIK Desa” yang diharapkan dapat dibangun di semua desa di Indonesia, dengan pilot project

adalah desa di pulau Jawa khususnya di Provinsi Banten.

(4)

desa di kecamatan yang terpilih di Kabupaten Serang. Dari desa-desa di kecamatan terdapat range antara 8-15 desa sehingga dari bujet pemerintah melalui Kominfo yang bekerjasama juga dengan swasta dapat ter-cover beberapa kecamatan di Kabupaten Serang sebagai pilot project.

Lima kecamatan yang di-asesmen :

Kecamatan Cinangka

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cinangka di Kabupaten Serang, Provinsi Banten :

1. Kelurahan / Desa Bantarwangi (Kodepos : 42167) 2. Kelurahan / Desa Bantarwaru (Kodepos : 42167) 3. Kelurahan / Desa Bulakan (Kodepos : 42167) 4. Kelurahan / Desa Cikolelet (Kodepos : 42167) 5. Kelurahan / Desa Cinangka (Kodepos : 42167) 6. Kelurahan / Desa Kamasan (Kodepos : 42167) 7. Kelurahan / Desa Karang Suraga (Kodepos : 42167) 8. Kelurahan / Desa Kubang Baros (Kodepos : 42167) 9. Kelurahan / Desa Mekarsari (Kodepos : 42167) 10.Kelurahan / Desa Pasauran (Kodepos : 42167) 11.Kelurahan / Desa Rancasanggal (Kodepos : 42167) 12.Kelurahan / Desa Sindanglaya (Kodepos : 42167) 13.Kelurahan / Desa Umbul Tanjung (Kodepos : 42167)

Kecamatan Ciomas

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Ciomas di Kabupaten Serang, Provinsi Banten :

1. Kelurahan / Desa Cemplang (Kodepos : 42164) 2. Kelurahan / Desa Cisitu (Kodepos : 42164) 3. Kelurahan / Desa Citaman (Kodepos : 42164) 4. Kelurahan / Desa Lebak (Kodepos : 42164)

5. Kelurahan / Desa Pondok Kahuru (Kodepos : 42164) 6. Kelurahan / Desa Siketug (Kodepos : 42164)

7. Kelurahan / Desa Sukabares (Kodepos : 42164) 8. Kelurahan / Desa Sukadana (Kodepos : 42164) 9. Kelurahan / Desa Sukarena (Kodepos : 42164) 10.Kelurahan / Desa Ujungtebu (Kodepos : 42164)

Kecamatan Pabuaran

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Pabuaran di Kabupaten Serang, Provinsi Banten :

(5)

Kecamatan Padarincang

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Padarincang di Kabupaten Serang, Provinsi Banten :

1. Kelurahan / Desa Ciomas (Kodepos : 42164) 2. Kelurahan / Desa Barugbug (Kodepos : 42168) 3. Kelurahan / Desa Batukuwung (Kodepos : 42168) 4. Kelurahan / Desa Bugel (Kodepos : 42168) 5. Kelurahan / Desa Cibojong (Kodepos : 42168) 6. Kelurahan / Desa Cipayung (Kodepos : 42168) 7. Kelurahan / Desa Cisaat (Kodepos : 42168) 8. Kelurahan / Desa Citasuk (Kodepos : 42168) 9. Kelurahan / Desa Curug Goong (Kodepos : 42168) 10.Kelurahan / Desa Kadubeureum (Kodepos : 42168) 11.Kelurahan / Desa Kalumpang (Kodepos : 42168) 12.Kelurahan / Desa Kramatlaban (Kodepos : 42168) 13.Kelurahan / Desa Padarincang (Kodepos : 42168)

Kecamatan Mancak

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Mancak di Kabupaten Serang, Provinsi Banten :

1. Kelurahan / Desa Angsana (Kodepos : 42165) 2. Kelurahan / Desa Balekambang (Kodepos : 42165) 3. Kelurahan / Desa Batukuda (Kodepos : 42165) 4. Kelurahan / Desa Cikedung (Kodepos : 42165) 5. Kelurahan / Desa Ciwarna (Kodepos : 42165) 6. Kelurahan / Desa Labuhan (Kodepos : 42165) 7. Kelurahan / Desa Mancak (Kodepos : 42165) 8. Kelurahan / Desa Pasirwaru (Kodepos : 42165) 9. Kelurahan / Desa Sangiang (Kodepos : 42165) 10.Kelurahan / Desa Sigedong (Kodepos : 42165) 11.Kelurahan / Desa Talaga (Kodepos : 42165) 12.Kelurahan / Desa Waringin (Kodepos : 42165) 13.Kelurahan / Desa Winong (Kodepos : 42165)

METODOLOGI

(6)

Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian dilaksanakan di Lima Kecamatan di Kabupaten Serang. Hal ini karena diantara lima kecamatan ini akan dipilih prioritas pengiriman bantuan pembangunan Pusat Internet Desa dengan target masyarakat yang dilayani adalah penduduk usia produktif yang dipelopori oleh pelajar SLTA di desa-desa tersebut. Peta awal diperoleh dari BP DAS Kementerian Kehutanan untuk Geografis dan BPS untuk demografi.

Waktu penelitian (Wawancara dan Pembuatan Model AHP dan GIS) adalah di Bulan Januari 2014, dan alat bantu yang digunakan dalam menetapkan tempat prioritas di desa dalam membuat Pusat TIK/Telecenter Desa di kecamatan yang ada di Kabupaten Tangerang adalah Teknik AHP dan ArcGIS (Teknik Overlay : Weighted dan Intersect).

Metode AHP

Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, Profesor matematika dari University of Pittsburgh. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, member nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat. (Saaty, 1993).

Penilaian yang diberikan dalam penggunaan metode AHP ini memberikan kita keluwuesan dalam menilai, yaitu AHP menunjukkan pertimbangan dan nilai-nilai pribadi secara logis (Saaty, 1993:23). Proses ini bergantung pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk memberi pertimbangan. Selain itu AHP menunjukkan bagaimana menghubungkan elemen-elemen dari satu bagian masalah dengan elemen-elemen-elemen-elemen dari bagian lain untuk memperoleh hasil gabungan. Prosesnya adalah mengidentifikasi, memahami dan menilai interaksi dari suatu sistem secara keseluruhan. Proses tersebut dilakukan pula pada studi ini, dimana diidentifikasi dahulu kriteria-kriteria yang merupakan faktor penilai dalam penentuan pemilihan lokasi kawasan pusat pemerintahan, kemudian memberikan bobot prioritas dari alternatif lokasi sehingga dari penilaian tersebut akan dicapai duatu lokasi terpilih.

Prinsip Dasar AHP

Prinsip dasar AHP ( (Saaty, 1993:30-39, 102-103adalah sebagai berikut : 1. Menyusun Hirarki (Dekomposisi)

(7)

hirarki dimana tingkat puncak disebut fokus atau tujuan dan hanya memuliki satu elemen dan merupakan sasaran keseluruhan atau tujuan diaplikasikannya model AHPdalam analisis. Tingkat-tingkat berikut masing-masing dapat memiliki beberapa orang yang paham terhadap permasalahan yang dikaji.

2. Pengisian Manusia (responden)

Berhubungan elemen-elemen dalam suatu tingkat akan dibandingkan satu elemen dengan yang lain terhadap satu kriteria, maka pengisiannya dilakukan dengan menggunakan skala 1 – 9. pengisian matriks banding berpasangan merupakan penilaian responden dengan menggunakan metode kuesioner atau simulasi dalam suatu kelompok. Sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, penilaian yang diberikan oleh responden atas dasar persepsinya masing-maing terlebih dahulu diratakan antara satu responden dengan lainnya. Apabila nilai persepsi tersebut telah ditempatkan dalam matriks tertentu sebelum masuk kedalam analisis berikutnya.

3. Perhitungan Bobot atau Nilai Vektor Prioritas dan Penilaian Konsistensi

Perhitungan bobot prioritas maing-masing kriteria pada setiap matriks ditentukan sesuai dengan besarnya nilai eigenvactor, dengan rata-ratanya disebut dengan eigenvalue. Penentuan tingkat konsistensi terhadap penilaian persepsi digunakan perhitungan Indeks Konsistensi ( Consistency Indeks). Rasio konsistensi (Consistency Ratio) harus bernilai 100% atau kurang sehingga dapat dianggap bahwa konsistensi responden dalam memberikan persepsi relatif bernilai sahih atau valid. Apabila nilai ratio konsistensinya

lebih dari 10%, maka pertimbangan itu mungkin agak acak dan mungkin perlu diperbaiki.

4. Pengukuran Prioritas Global (Prioritas Akhir)

Nilai prioritas global diperoleh dari nilai prioritas lokasl (eigen local) dengan perhitungan antara kriteria dengan nilai prioritas pada matriks yang terletak paling bawah dari suatu hirarki.

(8)

Diagram Alir Pemikiran

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian

LANGKAH DAN HASIL ASESMEN PRIORITAS PUSAT TIK DESA

Langkah-langkah AHP

Langkah – langkah dan proses Analisis Hierarki Proses (AHP) adalah sebagai berikut :

1. Memdefinisikan permasalahan dan penentuan tujuan. Jika AHP digunakan untuk memilih alternatif atau menyusun prioriras alternatif, pada tahap ini dilakukan pengembangan alternatif.

2. Menyusun masalah kedalam hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat ditinjau dari sisi yang detail dan terukur.

3. Penyusunan prioritas untuk tiap elemen masalah pada hierarki. Proses ini menghasilkan bobot atau kontribusi elemen terhadap pencapaian tujuan sehingga elemen dengan bobot tertinggi memiliki prioritas penanganan. Prioritas dihasilkan dari suatu matriks perbandingan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama.

(9)

Sedangkan langkah-langkah “pairwise comparison” AHP adalah :

1. Pengambilan data dari obyek yang diteliti.

2. Menghitung data dari bobot perbandingan berpasangan responden dengan

metode“pairwise comparison” AHP berdasar hasil kuisioner.

3. Menghitung rata-rata rasio konsistensi dari masing-masing responden.

4. Pengolahan dengan metode “pairwise comparison” AHP.

5. Setelah dilakukan pengolahan tersebut, maka dapat disimpulkan adanya konsistensi dengan hasil “tidak”, bila data tidak konsisten maka diulangi lagi dengan pengambilan data seperti semula, namun bila sebaliknya “iya” maka digolongkan data terbobot yang selanjutnya dapat dicari nilai beta (b).

Penentuan susunan prioritas elemen adalah dengan menyusun perbandingan berpasangan yaitu dalam bentuk berpasangan seluruh elemen untuk tiap sub system hierarki. Perbandingan tingkat kepentingan antar variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Intensitas

Sebuah variabel lebih lemah nilai atau tingkat kepentingannya dibanding yang lain

Sebuah variabel adalah essensial atau mempunyai tingkat kepentingan yang

(10)

Didapat informasi bahwa terdapat tiga parameter dalam menentukan kecamatan dimana desa-desa dibawahnya layak untuk diberikan bantuan fasilitas Pusat TIK Desa. Yaitu :

1. Aspek Demografis, yakni adanya penduduk yang usia produktif, dimana dikerucutkan lagi secara spasial menjadi adanya sekolah-sekolah SLTA disebabkan target pengguna adalah kalangan pelajar yang sudah mengerti TIK dan secara hukum sudah boleh melakukan aktivitas Internet seperti browsing dan chatting, mencari bahan di search engine dan seterusnya.

2. Aspek Geografis, yakni adanya Akses desa-desa dengan infrastruktur layanan TIK misalnya daerah fisik desa yang merupakan daratan landai. Lalu struktur masyarakat desa yang dilihat secara spasial dari penggunaan lahan (land use) dimana karena adanya target penduduk yang mengakses Internet, maka permukiman, perkebunan dan pertanian menjadi acuan untuk prioritas dibanding desa yang masih banyak hutan dan lain sebagainya.

3. Aspek Kelembagaan, yakni adanya jaminan kesinambungan program yang ditunjukkan dengan perlunya Kas Desa untuk biaya koneksi karena pemerintah hanya menyediakan peralatan infrastruktur namun tidak biaya operasional bulanan. Kemudian adanya peraturan yang dapat menjamin keberlangsungan kegiatan di Pusat TIK Desa ini kelak.

Dari hasil wawancara kepada narasumber, kemudian disusun penentuan prioritas dengan skema AHP sederhana.

Gambar 2.

Skema Hirarki AHP dalam Asesmen Prioritas Pusat TIK Desa

Apabila diasumsikan Geografis 3 kali lebih penting daripada Kelembagaan sedangkan Demografis 2 kali lebih penting dari Geografis, maka Demografis 6 kali lebih penting dari Kelembagaan. Berdasarkan ilustrasi ini didapat pairwise comparison sebagaimana Tabel 2.

Fokus Kelembagaan Geografis Demografis Prioritas

Kelembagaan 1 1/3 1/6 0.1

Geografis 2 1 3/6=1/2 0.3

Demografis 3 6/2=2 1 0.6

Tabel 2.

(11)

Untuk menentukan skala prioritas yang merupakan Eigen Vector dengan rumus sbb : AW = nW

Matriks tersebut dikalikan dan dicari matrik “W” nya dengan eliminasi atau subsitusi sebagai

berikut :

(1) a + 1/3b + 1/6c = 3a (2) 3a + b + 1/2c = 3b (3) 6a + 2b + c = 3c

Maka didapat : a=0,1 b=0,3 c=0,6

Selanjutnya nilai a, b, c dimasukkan lagi ke dalam persamaan AW=nW yang berupa matrik sbb :

Berdasarkan nilai matriks tersebut berarti Demografis merupakan kriteria terpenting karena prioritasnya tertinggi yaitu 0,6 diikuti Geografis dengan skala prioritas 0,3 dan Kelembagaan dianggap paling tidak penting dengan skala 0,1.

Metode Weighted Overlay dan Intersect

Selanjutnya, untuk memastikan prioritas lebih lanjut maka digunakan juga ArcGIS untuk menguji parameter Demografis dan Geografis yang sudah ditentukan sebagai prioritas (parameter penting) pertama dan kedua.

Dari ketiga data yang ada yaitu Jumlah Pelajar SLTA, Kemiringan Lereng daan Land Use, sebelum di-overlay perlu dilakukan rasterisasi terlebih dahulu, kemudian dapat dilakukan Weighted overlay dengan mempertimbangkan ketiga data tersebut.

Tahapan analisis dilakukan dengan langkah-langkah : Klik Spatial Analyst Tools. Klik Overlay. Klik double Weighted Overlay. Kemudian dilakukan add raster (hasil dari raster: curah hujan, kemiringan lereng, penutupan lahan, jenis tanah, dan formasi geologi). Lalu Tentukan % influence dan scale value .

Output dari overlay ini adalah Peta Prioritas berdasarkan tumpang-tindih data Demografis yaitu Jumlah SLTA yang ada di Lima Kecamatan, dan data Geografis yaitu Kelerengan dan Penggunaan Lahan (Land use).

(12)

Faktor Bobot Perbandingan Persentase (%)

Jumlah Pelajar SLTA 3 3/6 50

Kemiringan Lereng 2 2/6 30

Penggunaan Lahan (Land use) 1 1/6 20

100

Tabel 3. Faktor yang Mempengaruhi Prioritas Pembangunan Pusat TIK Desa

Hasil konversi ke Raster untuk semua kriteria yaitu Atribut Kependudukan (Jumlah penduduk yang masih sekolah di SLTA), dimana Prioritas tinggi (3) adalah untuk penduduk pelajar SLTA lebih dari 1.500, Sedang (2) untuk yang berada di antara 1000 sampai 1500, sedangkan Rendah (1) untuk penduduk pelajar SLTA yang kurang dari seribu jiwa di lima kecamatan

Gambar 4. Atribut Penduduk Pelajar SLTA

Atribut Kelerengan, dimana Prioritas tinggi (3) adalah untuk yang berbentuk Dataran, Sedang (2) untuk yang berbukit dan kipas aluvial dan Rendah (1) untuk Gunung dan Lereng Lahar di lima kecamatan

Gambar 5. Atribut Kelerengan

(13)

Gambar 6. Atribut Land Use

Hasil proses Weighted Overlay dapat dilihat pada tampilan berikut :

Gambar 7. Hasil Weighted Overlay

Hasil dari pembobotan dan setelah dilakukan Weighted Overlay dari tiga parameter tersebut didapat perbedaan warna yang menunjukkan kaidah rendah, sedang dan tinggi yang ditentukan di awal.

(14)

Gambar 8. Persiapan Intersect

(15)
(16)
(17)

KESIMPULAN

1. Desa-desa di Kecamatan Cinangka menjadi prioritas tinggi untuk pembangunan Pusat TIK Desa. Hanya enam desa yang masuk kategori “Sedang”. Sehingga Kecamatan ini masuk urutan PERTAMA prioritas bantuan untuk desa-desanya.

2. Desa-desa di Kecamatan Padarincang menjadi prioritas Tinggi dan Sedang untuk pembangunan Pusat TIK Desa. Sehingga kecamatan ini masuk urutan KEDUA prioritas bantuan untuk desa-desanya.

3. Desa-desa di Kecamatan Pabuaran menjadi prioritas Tinggi dan Sedang untuk pembangunan Pusat TIK Desa. Karena persentase Tinggi masih lebih banyak Padarincang, sehingga kecamatan ini masuk urutan KETIGA prioritas bantuan untuk desa-desanya.

4. Desa-desa di Kecamatan Mancak menjadi prioritas Sedang untuk Pembangunan Pusat TIK Desa. Sehingga kecamatan ini masuk urutan KEEMPAT prioritas bantuan untuk desa-desanya.

5. Desa-desa di Kecamatan Ciomas menjadi prioritas Rendah untuk Pembangunan Pusat TIK Desa. Sehingga kecamatan ini masuk urutan KELIMA prioritas bantuan untuk desa-desanya.

SARAN

(18)

Aspek Kelembagaan (Ada tidaknya Peraturan Desa dan Uang Kas Desa) yang tidak dianalisis melalui ArcMAP dapat menjadi masukan untuk meningkatkan level akurasi prioritas selanjutnya apabila data-data sudah didapat oleh Pemerintah (Kominfo). Dari Diagram 1 diatas kita dapat menambahkan akurasi melalui integrasi aspek Demografis, Geografis dan Kelembagaan untuk menentukan prioritas bagi Pemerintah dalam menentukan satu dari lima kecamatan di setiap Kabupaten di Indonesia dimana desa-desanya akan menjadi “pilot project” program Pusat TIK Desa yang diharapkan dapat menyaingi Malaysia dalam pemberdayaan Desa secara modern, mandiri dan meningkatkan produktivitas pereknonomian masyarakat desa.

DAFTAR PUSTAKA

Barus, B. & Wiradisastra, U.S. 2009. Sistem Informasi Geografi Sarana Manajemen Sumberdaya. Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi. Bogor : IPB

Gerakan Desa Membangun. Siapa Kami. Tersedia di http://desamembangun.or.id/siapa-kami/ Diakses 11 Januari 2014 Pukul 22:00

Humas Protokol Provinsi Banten. Profil Kabupaten Serang. Tersedia di

http://humasprotokol.bantenprov.go.id/profil-kabupaten-serang/ Diakses pada 17 Januari 2014 pukul 10:22 WIB

Mulyono, S. 1996. Teori Pengambilan Keputusan. Jakarta : Penerbit FE UI

Prasteyo, A. 2011. Modul Dasar Sistem Informasi Geografi. Laboratorium Analisis Lingkungan dan Permodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Bogor : IPB

Saaty, T.L 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks. Jakarta : Pustaka Binama Pressindo

Saaty, T.L. . 2003. decision-making with the AHP: Why is the principal eigenvector necessary. European Journal of Operational Research 145: 85-91

Sagena, U. 2014. UU Desa Untuk Jaman Baru. Tersedia di

http://www.unggulcenter.org/2014/01/18/uu-desa-untuk-jaman-baru/ Diakses 18 Januari 2014 Pukul 10:30 WIB

UNDP. 2007. Modul Pelatihan ArcGIS Dasar.

Telecentre.Org.Pusat Internet Desa (Rural Internet Centre/Telecentre) in Malaysia Tersedia di http://community.telecentre.org/profiles/blogs/2086278:BlogPost:6446 Diakses 15 Januari 2014 Pukul 21:00

International Telecom Union. 2011. Rural Internet Centre. Tersedia di http://www.itu.int/ITU-D/asp/CMS/Events/2010/ITU-

Gambar

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian
Tabel 2.  Pairwise Comparison Asesmen Pembangunan Pusat TIK Desa
Tabel 3. Faktor yang Mempengaruhi Prioritas Pembangunan Pusat TIK Desa
Gambar 6. Atribut Land Use
+2

Referensi

Dokumen terkait