• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Penerapan Asas Desentralisa. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Penerapan Asas Desentralisa. docx"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS HUKUM PEMERINTAHAN LOKAL

Perbandingan Penerapan Asas DesentralisasiDalam Politik Peraturan Perundang-Undangan Di Bidang Pemerintah Daerah Di Indonesia

Disusun Oleh :

Nama : Korneles Materay

NPM : 130511335

Dosen Pengampuh : B. Hestu Cipto Handoyo, S.H., M.Hum

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA FAKULTAS HUKUM

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sejarah kebijakan desentralisasi di Indonesia telah mengalami

perjalanan yang sangat panjang, tidak hanya semenjak lahirnya Republik ini,

akan tetapi sejak masa pemerintahan kolonial.1 Secara singkat kebijakan

desentralisasi di zaman kolonial bertujuan untuk mempermudah urusan dan

kepentingan kolonial bukan kepentingan masyarakat setempat. Akan tetapi,

satu hal yang perlu mendapat perhatian dan yang menjadi pelajaran bagi

bangsa Indonesia adalah bahwa perubahan kebijaksanaan pemerintahan daerah

yang sangat ditentukan oleh konfigurasi politik nasional yang berkembang

dari waktu ke waktu.2

Prinsip dasar negara demokrasi modern selalu menuntut dan

mengharuskan adanya pembagian kekuasaan, agar kekuasaan tidak terpusat di

satu tangan atau lembaga.3 Moh. Mahfud MD dalam (Lukman Santoso Az,

2015:19-20) menyebutkan pembagian kekuasaan ada dua macam, yaitu

pembagian secara vertikal dan pembagian secara horizontal. Pembagian

kekuasaan yang secara horizontal adalah pembagian kekuasaan kepada

lembaga-lembaga yang kedudukannya sejajar yang masing-masing diberi

fungsi dan disertai checks and balances, yakni pembagian kekuasaan ke dalam

legislatif (membuat undang), eksekutif (melaksanakan

undang-1 H. Syaukani HR, dkk., 2002, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Cetakan IX, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 49.

2 Ibid, hlm. 118

(3)

undang), dan yudikatif (menegakan undang-undangan melalui peradilan).

Sedangkan pembagian kekuasaan secara vertikal melahirkan bentuk negara,

yaitu negara kesatuan yang membagi kekuasaan antara pusat dan daerah; dan

negara federasi yang membagi kekuasaan antara negara federal dan negara

bagian.

Jimly Asshiddiqie, menegaskan dalam negara kesatuan dimana kekuasaan negara terbagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Kekuasaan asli berada di tingkat pusat, sedangkan kekuasaan daerah

mendapatkan kekuasaan dari pemerintah pusat melalui penyerahan sebagian

kekuasaan yang ditentukan secara tegas.4 Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 1 ayat (1) memuat ketentuan bahwa

“Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.

Konsekuensi logis sebagai Negara kesatuan adalah dibentuknya pemerintah

Negara Indonesia sebagai pemerintah nasional untuk pertama kalinya dan

kemudian pemerintah nasional tersebutlah yang kemudian membentuk Daerah

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan”.5

Secara khusus di Pasal 18 ayat (1) memuat ketentuan bahwa “Negara

Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah

provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,

kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan

undang-undangan. Sedangkan, Pasal 18 ayat (5) memuat ketentuan bahwa

“Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan

4 Ibid, hlm. 23

(4)

pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah

Pusat. Ketentuan-ketentuan tersebut menjadi dasar eksistensi pemerintahan

lokal atau daerah. Meskipun Pasal 18 sudah meletakan dasar yang kokoh, akan

tetapi ketentuan Pasal 18 ayat (1) dan ayat (5), jika ditafsirkan secara

teleologis masih memunculkan ambiguitas terhadap politik desentralisasi di

Indonesia. Penyebabnya adalah karena frasa yang digunakan dalam Pasal 18

ayat (1) menunjukan bahwa secara administratif-organisatoris Negara

Kesatuan Republik Indonesia mempergunakan konsep unitaris yang

didesentralisasi teritorial (frasa dibagi, atas bukan terdiri atas).

Sedangkan, Pasal 18 ayat (5) justru mempergunakan teori residu

sebagaimana dikenal di negara federal. Karena daerah menyelenggarakan

otonomi seluas-luasnya dan hanya dibatasi oleh urusan pemerintahan pusat

yang ditentukan berdasarkan undang-undang. Indonesia sebagai negara

kesatuan tetap memberlakukan prinsip utama dalam negara kesatuan yaitu

prinsip desentralisasi, dekonsentrasi6, dan medebwind7. Desentralisasi secara sederhana dimaknai sebagai pembagian atau penyerahan wewenang dari

pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Menurut Joeniarto asas desentralisasi adalah:

6 Menurut Pasal 1 angka 9 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentuan/atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum.

(5)

Asas yang bermaksud memberikan wewenang dari pemerintah negara kepada pemerintah lokal untuk mengatur dan mengurus urusan tertentu sebagai urusan rumah tangga sendiri. Bahkan, bukan hanya masalah pemberian wewenang saja, tetapi sekaligus merupakan masalah pembentukan (pendirian) alat perlengkapan (pemerintah)-nya yang akan diberi wewenang untuk berumah tangga sendiri; selain itu sekaligus merupakan pula masalah pembagian wilayah negara menjadi daerah-daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri.8

Keberadaan pemerintahan daerah bertujuan untuk mengefektifkan

kinerja atau pelayanan bagi masyarakat terutama yang ada di daerah. Sejauh

ini beberapa ketentuan yang memuat ketentuan tentang pemerintahan

lokal/daerah dan prinsip desentralisasi yang akan dibahas dalam makalah ini

yaitu, Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan

di Daerah, Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah,

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan

Perubahan terakhir dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah. Sepanjang perkembangan dari undang-undang

pemerintahan daerah tahun 1974 sampai yang terbaru sekarang ini,

pemaknaan dan pemahaman tentang desentralisasi berubah-ubah atau tidak

konsisten. Bagaimana mungkin konsep desentralisasi antara undang-undang

yang satu dengan lainnya berbeda, dan apa perbedaannya, maka selanjutnya

penulis akan membahas konsep tersebut dengan mengangkat tema penulisan

“Perbandingan Penerapan Asas Desentralisasi Dalam Politik Peraturan Perundang-Undangan Di Bidang Pemerintah Daerah Di Indonesia”

(6)

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pemaparan diatas maka permasalahan penulisan ini adalah

1. Apakah alasan utama munculnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1974,

Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, Undang-Undang No. 32 Tahun 2004

dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 yang mengatur tentang asas

desentralisasi ?

2. Bagaimana perbedaan pengaturan asas desentralisasi dalam

Undang No. 5 Tahun 1974, Undang No. 22 Tahun 1999,

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang-Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 ?

3. Apa sajakah tugas dan wewenang pemerintah daerah berdasarkan asas

desentralisasi yang diatur dalam Undang No. 5 Tahun 1974,

Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, Undang-Undang-Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan

Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 ?

C. TINJAUAN PUSTAKA

1. Perbandingan Penerapan Asas Desentralisasi

a. Pengertian asas desentralisasi

Istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin “de” berarti lepas

dan “centrum” artinya pusat.9 Desentralisasi adalah asas

penyelenggaraan pemerintahan yang dipertentangkan dengan

sentralisasi. Desentralisasi menghasilkan pemerintahan lokal (local

government). Secara normatif, UU No. 23 Tahun 2014 mendefinisikan

asas desentralisasi adalah penyerahan urusan Pemerintahan oleh

(7)

Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi.

Dari segi politik, Parson mendefinisikan desentralisasi sebagai

sharing of the government power by central rulling grup with other

groups, each having authority within a specific area of state”.10

b. Perbandingan penerapan asas desentralisasi

Perbandingan artinya membandingkan antara konsep yang satu

dengan yang lain untuk mendapatkan suatu kesimpulan tertentu untuk

maksud tertentu. Asas adalah sesuatu yang menjadi landasan berpikir

atau mengeluarkan pendapat, dasar yang dijadikan sebagai pedoman

untuk berbuat.11 Sedangkan, desentralisasi adalah Desentralisasi adalah

penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada

daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi. Jadi, perbandingan asas

desentralisasi adalah membandingkan antara konsep-konsep tentang

desentralisasi yang pernah ada dalam undang-undang yang mengatur

mengenai desentralisasi itu sendiri.

2. Politik Perundang-Undangan di Bidang Pemerintah Daerah di Indonesia

a. Politik perundang-undangan

Politik perundang-undangan disebut juga dengan politik

hukum. Politik hukum adalah legal policy yang akan atau telah

dilaksanakan secara nasional oleh Pemerintah Indonesia yang meliputi:

pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan

(8)

pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan

kebutuhan; kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada

termasuk penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak

hukum. Dari pengertian tersebut terlihat politik hukum mencakup

proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukan

sifat dan kea rah mana hukum akan dibangun dan ditegakan.12

b. Pemerintahan daerah

Demokrasi lokal merupakan bagian dari subsistem politik suatu

negara yang derajat pengaruhnya berada dalam koridor pemerintahan

daerah. Dalam konteks Indonesia, demokrasi lokal merupakan

subsistem dari demokrasi yang memberikan peluang bagi

pemerintahan daerah untuk mengembangkan kehidupan hubungan

pemerintahan daerah rakyat di lingkungannya.13

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan

pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat

daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip

otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan

Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Daerah

terdiri atas Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah.

12 Moh. Mahfud MD, 2009, Politik Hukum di Indonesia, Cetakan V, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 17.

(9)

BAB II PEMBAHASAN A. Lahirnya Pengaturan Asas Desentralisasi

a. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di

Daerah

Setelah pemerintahan Orde Baru berhasil melaksanakan

konsolidasi kekuasaan yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1968 di

samping agenda pembangunan ekonomi yang merupakan prioritas utama

pemerintah, secara perlahan agenda-agenda lainnya mulai dicanangkan,

termasuk dalam bidang pemerintahan daerah.14 Tidak lama setelah Orde

Baru lahir, UU No. 18 Tahun 1965 dipandang sebagai sesuatu yang tidak

demokratis dan bertentangan dengan UUD 1945. Demokrasi terpimpin

dan Manipol-Usdek yang menjadi landasanya dipandang sangat

bertentangan dengan semangat UUD 1945, yang oleh Orde Baru akan

ditegakan secara murni dan konsekuen. Oleh sebab itu pada tanggal 5 Juli

1966, MPRS mengeluarkan Ketetapan MPRS No. XXI/MPRS/1966

tentang pemberian otonomi seluas-luasnya, maka menurut MPRS pada

waktu itu asas demokrasi sebagai bagian dari UUD 1945 dapat

diwujudkan dengan pemberian otonomi seluas-luasnya kepada

daerah-daerah.15

Hal ini berkaitan erat pula dengan hakikat pemahaman kekuasaan

dari Soeharto yang mempunyai latar belakang militer yang sangat kuat dan

14 H. Syaukani HR, dkk., Op.Cit., hlm. 142.

(10)

ditopang pula dengan budaya politik “Mataram” yang sangat hierarkis dan

sentralistik.16 Akhirnya muncul Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang

Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, dengan aroma sentralisasi berbalut

dekonsentralisasi. Kemudian menampakan konfigurasi politik orde baru

yang otoritarian.

Menurut hemat penulis, kelahiran undangan-undangan ini adalah refleksi khusus pemerintah Orde baru untuk terus berkuasa sehingga

sifatnya tidak sangat demokratis dan otoritarian. Dalam sebuah

pemerintahan yang otoritarian sebuah produk hukum pada umumnya

adalah merupakan cerminan dari kepentingan pemerintah yang berkuasa,

sehingga produk hukum itu pada dasarnya sangat bersifat elitis dan tidak

jarang menjadi instrument dari kekuasaan itu sendiri untuk memelihara

kepentingan mereka yang sedang berkuasa.17

b. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Praktek desentralisasi di Indonesia kemudian digantikan dengan

dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999, karena kegagalan pelaksanaan

sistem desentralisasi dalam UU No. 5 Tahun 1974 yang sangat sentralistik

itu. Orde baru mengatur pemerintahan lokal secara detail dan

diseragamkan secara nasional. Organ-organ supra-struktur politik lokal

diatur secara terpusat dan seragam tanpa mengindahkan heterogenitas

“sistem politik” lokal yang telah eksis jauh sebelum terbentuknya konsep

kebangsaan Indonesia.18 Ketidakpuasan daerah yang pada awalnya hanya

16 Ibid.

(11)

dilakukan secara terselubung, belakangan mulai ditunjukan secara

terbuka.19

Kehadiran Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah tidak terlepas dari perkembangan situasi yang pada

terjadi masa itu, ketika Presiden Soeharto lengser dan semua piahk

berkehendak melakukan reformasi di semua bidang kehidupan berbangsa

dan bernegara. Berdasarkan kehendak reformasi itu, Sidang Istimewa

MPR Tahun 1998 lalu menetapkan Ketetapan MPR Nomor

XV/MPR/1998, tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah: Pengaturan,

Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional, yang berkeadilan,

serta Perimbangan Keuangan Pusat Dan Daerah Dalam Kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia.20

c. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Ditetapkannya UU No. 32 Tahun 2004 untuk menggantikan UU No. 22 Tahun 1999 yang dirasakan mempunyai banyak kekurangan dalam tataran perumusan kebijakan dan implementasinya. Menurut Agus Santoso (2013:150-151) bahwa:

Keinginan untuk menggantikan UU Nomor 22 Tahun 1999 dalam rangka perbaikan dan pembenahan pengaturan di bidang pemerintahan daerah merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Baik itu kebutuhan rekonstruksi hubungan antara DPRD dengan kepala daerah, kebutuhan esensi pengawasan, demokrasi dan otonomi daerah, kebutuhan efisiensi anggaran, politik, struktur hubungan antartingkat pemerintahan pusat, provinsi dan kabupaten/kota maupun kebutuhan penyesuaian terhadap prinsip dan sistem pemerintahan presidensil yang terdapat dalam UUD 1945 setelah perubahan.

19 Ibid, hlm. 70.

(12)

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah adanya kesadaran dan

komitmen dari kepala daerah dan perangkatnya serta DPRD untuk terus

memberikan kesempatan dan ruang bagi rakyat untuk dilibatkan dalam

proses perencanaan, pelaksanaan, pembahasan dan pengawasan dalam

pemerintahan daerah.

d. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

UU No. 23 tahun 2014 lahir dari adanya keresahan akan dampak

negatif yang ditimbulkan UU No. 32 tahun 2004. Menurut

Djohermansyah Djohan, dampak negatif tersebut karena ada permasalahan, yakni: Pertama dan yang paling penting adalah lemahnya

fungsi gubernur dan pemerintah pusat dalam mengontrol pemerintah

kabupaten dan kota. Dalam banyak kasus, gubernur sebagai kepanjangan

pemerintah pusat di daerah gagal mencegah abuse of power dari

pemerintah kota dan kabupaten terutama dalam masalah pertambangan,

kelautan dan kehutanan. Dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan

yang parah akibat eksploitasi pemerintah kabupaten dan kota dalam rangka

meningkatakan pendapatan daerah. Kedua, maraknya daerah pemekaran

yang kebablasan. Ketiga, ada kewenangan yang tumpang tindih.

Kementrian dalam negeri merasa perlu melakukan revisi terhadap UU ini

dikarenakan adanya overhead cost akibat otonomi daerah yang berimbas

pada naiknya anggaran kepagawaian. Overhead cost ini dianggap

(13)

lainnya yang lebih layak untuk diprioritaskan seperti infrastruktur,

pendidikan dan kesehatan.21

B. Perbedaan Pengaturan Asas Desentralisasi

a. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah

Pengertian desentralisasi yang diatur dalam UU ini termuat dalam

Pasal 1 huruf (b) “Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintah

dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi

urusan rumah tangganya”. Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi

dibentuk dan disusun daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II.

Perkembangan dan pengembangan otonomi selanjutnya didasarkan pada

kondisi politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan

Nasional.22 Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 menganut prinsip

“Otonomi yang nyata dan bertanggungjawab”.

Sesuai penjelasan undang-undang tersebut, Nyata, dalam arti

bahwa pemberian otonomi kepada Daerah haruslah didasarkan pada

faktor-faktor, perhitungan-perhitungan dan tindakan-tindakan atau

kebijaksanaan-kebijaksanaan yang benar-benar dapat menjamin daerah

yang bersangkutan secara nyata mampu mengurus rumah tangga sendiri.

Bertanggung jawab, dalam arti bahwa pemberian otonomi itu benar-benar

sejalan dengan tujuannya, yaitu melancarkan pembangunan yang tersebar

21 Lihat, Budi Kurniawan, tanpa tahun, Kritik dan Saran Untuk Perbaikan UU 23 tahun 2014, https://www.academia.edu/12317902/Kritik_dan_Saran_Untuk_Perbaikan_UU_No._23_Tahun_2 014?auto=download, diakses pada tanggal 16 Juni 2016.

(14)

diseluruh pelosok Negara dan serasi atau tidak bertentangan dengan

pengarahan-pengarahan yang telah diberikan, serasi dengan pembinaan

politik dan kesatuan Bangsa, menjamin hubungan yang serasi antara

Pemerintah Pusat dan daerah serta dapat menjamin perkembangan dan

pembangunan Daerah.

b. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Ketentuan mengenai desentralisasi dapat dilihat dalam Pasal 1

huruf (e) “Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan

oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia”. Di samping itu keleluasan otonomi

mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam

penyelenggaraannya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,

pengendalian, dan evaluasi. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah

keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan

di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh,

hidup, dan berkembang di Daerah. Yang dimaksud dengan otonomi yang

bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban

sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah

dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam

mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa peningkatan pelayanan dan

kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan

demokrasi, keadilan, dan pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang

(15)

keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan Otonomi

Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah

Kota, sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas.

c. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka (7) memuat ketentuan bahwa

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh

Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan

pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ditetapkannya UU No. 32 Tahun 2004 untuk menggantikan UU No. 22

Tahun 1999 yang dirasakan mempunyai banyak kekurangan dalam tataran

perumusan kebijakan dan implementasinya. Sesuai Pasal 2 ayat (3)

Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan

otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan

Pemerintah, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

pelayanan umum, dan daya saing daerah. Dalam Penjelasan “Daerah

memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi

pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan

masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat”.

Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi

yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu

prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan

berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada

(16)

potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi

setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Adapun yang

dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang

dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan

maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan

daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan

bagian utama dari tujuan nasional. Seiring dengan prinsip itu

penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada

peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan

kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat.

d. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Pasal 1 angka (8) UU No. 23 Tahun 2014 memuat ketentuan bahwa

Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh

Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi”.

Dalam pelaksanaan Desentralisasi dilakukan penataan Daerah”.23

Penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan

untuk: a. mewujudkan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

b. mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat; c. mempercepat

peningkatan kualitas pelayanan publik; d. meningkatkan kualitas tata

kelola pemerintahan; e. meningkatkan daya saing nasional dan daya saing

Daerah; dan f. memelihara keunikan adat istiadat, tradisi, dan budaya

(17)

Daerah.24 UU ini menganut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan

prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan

Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

C. Tugas dan Wewenang Pemerintah Daerah Berdasarkan Asas Desentralisasi

a. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah

Di dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor

IV/MPR/1966 tantang Garis-garis Besar Haluan Negara, telah digariskan

prinsip-prinsip pokok tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah sebagai

berikut: “Dalam rangka melancarkan pelaksanaan pembangunan yang

tersebar di seluruh pelosok Negara, dan dalam membina kestabilan politik

serta kesatuan Bangsa maka hubungan yang serasi antara Pemerintah Pusat

dan Daerah atas dasar keutuhan Negara Kesatuan, diarahkan pada

pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggung jawab yang

dapat menjamin perkembangan dan pembangunan Daerah, dan

dilaksanakan bersama-sama dengan dekonsentrasi”. Dalam rangka

meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan

pembangunan, maka Undang-undang ini meletakkan titik berat otonomi

pada Daerah Tingkat II, dengan pertimbangan bahwa Daerah Tingkat II

yang lebih langsung berhubungan dengan masyarakat sehingga diharapkan

dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat tersebut.

(18)

Sayangnya, dalam undang-undang ini tidak dijelaskan secara tegas tugas

dan wewenang dari Pemerintah Daerah. Bahkan menurut Syaukani,dkk, Otonomi Daerah menurut Undang-Undang ini bukanlah merupakan hak dari masyarakat dan Pemerintah Daerah. Otonomi Daerah merupakan kewajiban daerah dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional.25 Logika pemerintahan yang dikembangkan

adalah kalau otonomi merupakan “hak” maka akan sangat dikhawatirkan munculnya semangat kedaerahan yang pada akhirnya akan menimbulkan disintegrasi nasional.26

Dalam hal ini pelayanan pengelolaan sumber daya alam (SDA)

sepenuhnya menjadi wewenang pemerintah pusat. Tidak ada kewenangan

yang diberikan kepada pemerintah daerah, termasuk perekrut pejabat

politik. Proses legislasi daerah pun harus melalui izin dan petunjuk

pemerintah pusat. Pemegang kepemimpinan dalam pemerintahan daerah

adalah kepala daerah dan DPRD, kedudukan gubernur sebagai kepala

daerah merupakan kepala pemerintahan sekaligus kepala wilayah

bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri dalam negeri.27

Keberadaan DPRD dirasakan hanya sebagai pelengkap jalannya

pemerintahan daerah karena hanya menjalankan dua fungsi tugas utama,

yaitu:

a. Tugas legislasi bersama kepala daerah

b. Tugas penetapan APBD tahunan28

25 H. Syaukani, dkk, Op.Cit., hlm 144 26 Ibid, hlm. 152

(19)

Sedangkan tugas pokok ketiga yaitu mengawasi jalannya

pemerintahan daerah pratis tidak dapat dilaksanakan. Pajak2-pajak didaerah

diserahkan pengelolaannya kepada daerah adalah pajak-pajak yang hasilnya

kecil tetapi sulit pengelolannya.

b. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Melalui UU No. 22 Tahun 1999 daerah diberi wewenang dalam

seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik

luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama,

serta kewenangan bidang lain. Pasal 11 (2) UU No. 22 Tahun 1999

memuat ketentuan bahwa “Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan

oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum,

kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri

dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan,

koperasi, dan tenaga kerja.

UU No. 22 Tahun 1999 memberikan perubahan yang mendasar

dalam desain kebijakan hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Desentralisasi kewenangan kepada pemerintah kabupaten dilakukan pada

taraf yang signifikan. Sadu Wasistiono dalam (Ni’Matul Huda, 2007:73) mengatakan bahwa “pada saat ini, hubungan antara pemerintah pusat

dengan pemerintah daerah berada pada titik yang rawan. Pada satu sisi

pemerintah pusat berada pada kondisi yang sangat lemah – baik dilihat

dari segi politik, ekonomi maupun pertahanan keamanan. Di sisi lain,

(20)

dengan pemerintahan daerahnya menuntut lebih banyak lagi dan bahkan

secara terang-terangan menentang kebijakan politik maupun hukum dari

pemerintah pusat. Prinsip otonomi yang dipakai adalah nyata, luas dan

bertanggungjawab.

Sesuai penjelasan UU tersebut, Kewenangan otonomi luas adalah

keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang

mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan

di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan

fiskal, agama, serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan

dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini dipicu akibat ketidakjelasan

kewenangan antara Pusat dan Daerah sehingga memunculkan banyak

interpretasi sehingga seakan-akan daerah lebih berkuasa. Salah satu

tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat adalah dengan

membatalkan beberapa produk hukum daerah. Kemudian muncul pro dan

kontra terhadap UU No. 22 Tahun 1999 tersebut. Pihak yang pro atau

setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat

liberal. UU tersebut memberikan kewenangan kepada daerah

seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri.

Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut

bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigm lama. Belum

terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. Sebab masih

(21)

mencerminkan rasa keadilan.29 Komentar yang diberikan oleh para

pengamat adalah karena UU otonomi daerah menganut residu power.

Tetapi persoalannya pada Penjelasan Umum UU No. 22 Tahun 1999

menyatakan bahwa “Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh

diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, sedang Otonomi

Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas”.30

Sarif Hidayat dalam (Lili Romli, 2007:17) menyatakan bahwa “kenyataan seperti ini akan melahirkan penafsiran ganda tentang

wewenangn yang akan dimiliki oleh Daerah Kabupaten dan Kota.

Pertama, wewenang yang akan diserahkan kepada Daerah Kabupaten dan

Kota dapat merupakan bagian dari 111 wewenang yang telah diserahkan

kepada Daerah Provinsi. Kedua, wewenang yang dimiliki oleh Kabupaten

dan Kota dapat berarti wewenang lain di luar wewenang yang telah

dimiliki oleh pemerintah pusat dan provinsi. UU No. 22 Tahun 1999

tentang Pemerintahan Daerah baik dari segi kebijakan maupun dari aspek

implementasi, terdapat sejumlah kelemahan-kelemahan.

Dari sisi kebijakan, sebagaimana diuraikan sebelumnya,

mengandung sisi-sisi kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif

dalam implementasi otonomi daerah. Adapun kelemahan-kelemahan itu

antara lain, pertama, aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang

menempatkan posisi DPRD terlalu dominan. Kedua, akuntabilitas DPRD

kepada publik. Ketiga, tidak adanya ruang partisipasi publik dalam

29 Lili Romli, 2007, Potret Otonomi Daerah dan Wakil Rakyat Di Tingkat Lokal, Cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 15.

(22)

mengontrol kebijakan publik. Keempat, kebijakan otonomi daerah hanya

menguntungkan daerah-daerah kaya SDA. Kelima, tidak adanya otoritas

lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antardaerah.

Selain itu, sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan

dampak negatif. Pertama, terjadi friksi antara Kepala Daerah dengan

DPRD dalam hal Laporan Pertanggungjawaban kepala daerah. Kedua,

organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. Ketiga, penyediaan

pelayanan dasar yang belum memadai. Keempat, munculnya ”raja-raja

kecil” di daerah-daerah. Kelima, terjadi primordialisme dalam hal

pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Keenam, terjadi konflik

dalam perebutan sumber daya antardaerah. Ketujuh, ekonomi biaya tinggi

akibat dampak upaya meningkatkan tariff dan ekstensifikasi retribusi dan

pajak daerah.31

Menurut hemat penulis, konsep desentralisasi sudah dilaksanakan dalam UU No. 12 Tahun 1999 tersebut akan tetapi ada kendala dalam

implementasinya, yaitu bahwa Pemerintah Pusat belum memberikan

batasan yang signifikan terkait tugas dan wewenang kepada pemerintah

daerah, maka kemudian daerah mencoba menafsirkannya secara bebas.

Pada titik ini Pusat lepas kontrol sehingga daerah semakin percaya diri

untuk menuntut lebih banyak lagi hak-haknya.

c. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Sesuai Pasal 3 (1) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 ayat (3) adalah: (a) pemerintahan daerah provinsi yang

(23)

terdiri atas pemerintah daerah provinsi dan DPRD provinsi; (b)

pemerintahan daerah kabupaten/kota yang terdiri atas pemerintah daerah

kabupaten/kota dan DPRD kabupaten/kota. Pasal 10 (1) Pemerintahan

daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi

kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang

ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. Ayat (3) Urusan pemerintahan

yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi: (a) politik luar negeri; (b) pertahanan; (c) keamanan; (d) yustisi;

(e) moneter dan fiskal nasional; dan (f) agama.

UU No. 32 Tahun 2004 memperkenalkan sistem baru dalam

pengisian jabatan kepala daerahnya, yakni melalui pemilihan langsung

oleh rakyat. Sistem ini dipandang lebih demokratis dibandingkan sistem

sebelumnya, karena rakyat dapat secara langsung menentukan

pilihannya.32 Peluang pembentukan daerah otonom dalam kerangka negara

kesatuan RI, juga dijelaskan dalam UU No. 32 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah, yaitu daerah yang dibentuk berdasarkan

pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial

politik, jumlah penduduk, luas daerah dan pertimbangan lain yang

memungkinkan terselenggarakannya otonomi daerah.33 Lili Romli

mengatakan bahwa tidak seperti dalam UU 22/1999 yang menggunakan

terminologi pembagian kewenangan, dalam UU 32/2004 istilah tersebut

diganti dengan pembagian urusan, dimana ada yang menjadi urusan

(24)

pemerintah dan urusan daerah otonom. Dalam pembagian ini, yang

disebutnya urusan pemerintahan, ada yang menjadi urusan pemerintahan

yang menjadi kewenangan Pemerintah dan ada urusan pemerintahan yang

bersifat concurrent34, yang dalam penanganannya dalam bagian atau

bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan

pemerintah daerah.35

Setelah memperhatikan pembahasan dan kepustakan hemat penulis UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah agaknya condong ke UU No. 5 Tahun 1974 dalam hal sifatnya yang sentralistisasi.

Hal ini juga yang oleh khalayak pakar disebut disebut resentralisasi karena

ada kesamaan itu.

Adanya resentralisasi tersebut terlihat dari beberapa indikator.

Pertama, dihilangkannya atau digantikannya kata kewenangan36 menjadi

urusan37. Kedua, dalam pembagian kewenangan juga terjadi

resentralisasi.38 Ketiga, resentralisasi itu juga terlihat dari posisi Gubernur

sebagai wakil pemerintah pusat. Keempat,berkaitan dengan yang ketiga di

34 Sifat concurrent dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan efesiensi.Eksternalitas adalah pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Akuntabilitas adalah pembagian pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. Efesiensi adalah pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya untuk mendapatkan ketepatan, kepastian, dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Lihat Lili Romli, Op.Cit, hlm. 23-24

35 Lili Romli, Op.Cit, hlm. 23

36 Kewenangan berarti memiliki authority power atau kekuasaan yang relatif luas. 37 Urusan merupakan bagian dari kewenangan.

(25)

atas maka baik DPRD maupun bupati/wakikota, tidak memiliki

kewenangan apa pun dalam pembentukan Perda karena Perda yang dibuat

dapat dibatalkan oleh Pusat manakala dianggap bertentangan dengan

“kepentingan umum”, suatu terminologi yang rancu dan ambigu karena

kerap definisi kepentingan umum dalam praktik tidak jelas. Kelima,

masalah kepegawaian39 daerah atau perangkat daerah juga mengalami

resentralisasi.

Keenam, di DPRD terjadi “kawin paksa” dalam pembentukan

fraksi-fraksi.40 Ketujuh, menurut UU No. 32 Tahun 2004, posisi DPRD

secara politis cenderung lebih lemah dalam berhubungan dengan kepala

daerah dan dengan Pemerintah Pusat. Hal ini karena kepala Daerah

mempunyai hubungan dengan Pemerintah Pusat melalui Gubernur,

sementara DPRD tidak ada. Kedelapan, dalam hal pengaturan masalah

pendapatan dan keuangan daerah tidak ada kemajuan, sama seperti UU

No. 22 Tahun 1999. Kesembilan, apabila dalam UU No. 22 Tahun 1999

daerah memiliki kewenangan dalam mengelola sumber daya alam (SDA),

maka pada UU No. 32 Tahun 2004 hal itu dikelola bersama-sama antara

pemerintah Pusat dengan Daerah. Kesepuluh, berkaitan dengan Badan

Perwakilan Desa (BPD) yang bukan saja namanya diganti dengan Badan

Permusyawaratan Desa, tetapi fungsinya41 dan pembentukannya berbeda.

39 Contoh dalam hal pengangkatan sekretaris daerah yang tidak lagi menjadi kewenangan penuh buoati/walikota tetapi terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan Gubernur. Ibid., hlm. 29 40 Ini terjadi karena adanya aturan pembentukan fraksi harus mengacu pada jumlah komisi di DPRD, sehingga apabila di DPRD tersebut ada 4 komisi maka jumlah fraksi yang ada di DPRD harus pula empat. Mereka yang berhak membentuk fraksi utuh adalah partai politik yang memperoleh minimal 5 kursi, bagi yang kurang harus bergabung dalam satu fraksi. Lihat, ibid., hlm. 29

(26)

d. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

UU 23 tahun 2014 lahir dari adanya keresahan akan dampak

negatif yang ditimbulkan UU no 32 tahun 2004. Kelemahan yang

dimaksud di sini sudah dijelaskan terlebih dahulu diatas. Berdasarkan

Pasal 6 “Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan sebagai dasar dalam

menyelenggarakan Urusan Pemerintahan”.

Pasal 7 (1) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan dan

pengawasan terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan oleh Daerah.

Ada Tiga Macam Urusan Pemerintahan (1) Urusan Pemerintahan Absolut:

Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah

Pusat. (2) Urusan Pemerintahan Konkuren: Urusan Pemerintahan yang

dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah

kabupaten/kota. (3) Urusan Pemerintahan Umum: Urusan Pemerintahan

yang menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan. Pasal 10

(1) Urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

ayat (2) meliputi: (a) politik luar negeri; (b) pertahanan; (c) keamanan; (d)

yustisi; (e) moneter dan fiskal nasional; dan (f) agama.

Pasal 11 (1) Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana di

maksud dalam Pasal 9 ayat (3) yang menjadi kewenangan Daerah terdiri

atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan.

Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan Pemerintahan yang

berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak

berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Urusan Pemerintahan Wajib yang

(27)

berkaitan dengan Pelayanan Dasar adalah Urusan Pemerintahan Wajib

yang sebagian substansinya merupakan Pelayanan Dasar. Pasal 12 (1)

Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) meliputi: a. pendidikan; b.

kesehatan; c. pekerjaan umum dan penataan ruang; d. perumahan rakyat

dan kawasan permukiman; e. ketenteraman, ketertiban umum, dan

pelindungan masyarakat; dan f. sosial.

Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan

Pelayanan Dasar meliputi: a. tenaga kerja; b. pemberdayaan perempuan

dan pelindungan anak; c. pangan; d. pertanahan; e. lingkungan hidup; f.

administrasi kependudukan dan pencatatan sipil; g. pemberdayaan

masyarakat dan Desa; h. pengendalian penduduk dan keluarga berencana;

i. perhubungan; j. komunikasi dan informatika; k. koperasi, usaha kecil,

dan menengah; l. penanaman modal; m. kepemudaan dan olah raga; n.

statistik; o. persandian; p. kebudayaan; q. perpustakaan; dan r. kearsipan.

Dan urusan pemerintahan umum adalah Urusan Pemerintahan yang

menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan panjang diatas, penulis menyimpulkan

(28)

Pertama, semua undang-undang yang lahir dengan menyadari pentingnya

desentralisasi telah mengimplementasikan desentralisasi itu, akan tetapi dalam

pelaksanaannya hampir semua tidak konsekuen. Menurut penulis, alasan kuat

yang yang bisa dikemukakan dari pembahasan panjang diatas adalah terkait

sikap politik semua penguasa pada waktu berlakunya undang-undang

pemerintahan daerah tersebut baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah

Daerah. Kedua, asas desentralisasi yang termuat dalam undang-undang tahun

1974 sampai undang-undang tahun 2014, mengalami suatu tumpang tindih

(overlapping) konsep desentralisasi. Mengapa demikian ? Karena pengertian

asas desentralisasi dengan prinsip-prinsipnya maju mundur alias konsep masa

sekarang sebenarnya sudah pernah digunakan di masa yang lalu. Pada masa

tertentu diberlakukan satu konsep kemudian dirasa tidak pas lalu digantikan

dengan konsep yang lain, lalu muncul lagi di masa tertentu. Ketiga,

perkembangan muatan materi dari undang-undang yang mengatur tentang

desentralisasi ini cukup signifikan. Meskipun ada beberapa yang sama

konsepnya tetapi terkait dengan muatan materi ada perkembangan.

B. Saran

Adapun saran penulis kepada Pemerintah Pusat dan Daerah agar supaya

melaksanakan desentralisasi dengan konsekuen dan melibatkan partisipasi

aktif masyarakat. Dan, selalu ada mekanisme check and balances. Kepada

para pembentuk undang-undang agar sebaik-baiknya membuat suatu konsep

yang pas apabila akan ada perubahan karena konsep itu berdampak kepada

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

 H. Syaukani HR, dkk., 2002, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Cetakan IX, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 HM. Agus Santoso, 2013, Menyingkap Tabir Otonomi Daerah Di Indonesia, Cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 Lili Romli, 2007, Potret Otonomi Daerah dan Wakil Rakyat Di Tingkat Lokal, Cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 Lukman Santoso Az, 2015, Hukum Pemerintahan Daerah Mengurai Problematika Pemekaran Daerah Pasca Reformasi Di Indonesia, Cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 Lukman Santoso, Az, 2015, Hukum Pemerintahan Daerah, Mengurai Problematika

Pemekaran Daerah Pasca Reformasi Di Indonesia, Cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 Moh. Mahfud MD, 2009, Politik Hukum di Indonesia, Cetakan V, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta

 Ni’Matul Huda, 2007, Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah, Cetakan Pertama, FH UII Press, Yogyakarta

 Ni’Matul Huda, 2009, Hukum Pemerintahan Daerah, Cetakan I, Nusa Media, Bandung, hlm. 61

 R. Joeniarto, 1976, Perkembangan Pemerintahan Lokal, Cetakan kedua, Bumi Aksara, Jakarta

 Tim Prima Pena, tanpa tahun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Terbaru Dengan :

Ejaaan Yang disempurnakan (EYD), Gitamedia Press Internet:

 Budi Kurniawan, tanpa tahun, Kritik dan Saran Untuk Perbaikan UU 23 tahun 2014, https://www.academia.edu/12317902/Kritik_dan_Saran_Untuk_Perbaikan_UU_No._ 23_Tahun_2014?auto=download, diakses pada tanggal 16 Juni 2016

Peraturan Perundang-Undangan:

 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 38.  Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.

 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini membahas tentang Pengaruh Stereotip Dang Jolma oleh masyarakat terhadap Efektivitas Komunikasi Antarbudaya dengan etnis Nias di Kelurahan Pasir Bidang.. Tujuan

Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap ditentukan sebesar perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan, jika ada, dengan jumlah tercatat dari aset

Kriteria persyaratan rehabilitasi sosial di Lembaga Pelayanan Rehabiltasi Sosial (Lembaga) milik masyarakat mengikuti ketentuan-ketentuan pada Peraturan Menteri Sosial

Pada fase ini diterapkan alat analisis dalam bentuk peta kendali MEWMA (Multivariate Exponential Weighted Moving Avarage) dan grafik berupa pareto chart dan diagram

Mitra yang dilibatkan pada Ipteks bagi masyarakat (IbM) berdomisili di Kelurahan yang berbeda yakni Kelompok Sumber Jaya berdomisili di Kelurahan/desa Cempaka

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa LKPD IPA Modified Free Inquiry untuk Menumbuhkan Kesadaran Peduli Lingkungan akibat Penambangan Pasir Di

Berdasarkan pengukuran dengan alat ukur PQA ataupun melalui hasil simulasi ETAP dapat diketahui bahwa THD arus lebih tinggi dibandingkan dengan besar THD

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya mengenai penerapan perhitungan Installment Disposible