Cerpen Yakinlah Tidak ada yang tidak mun

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Assalamu’alaikum,…

Perkenalkan nama saya Evi Datus Selamah. Saya dilahirkan di Bondowoso tepatnya pada hari jum’at, 01 Mei 1998 dari pasangan Bapak Samarwi & Ibu Juhairiyah. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya memiliki adek bernama Muhammad Zainudin yang saat ini menempuh pendidikan di MAN Bondowoso kelas X. Kakak saya bernama Mustakimah yang saat ini menempuh pendidikan di STAI At-Taqwa

(2)

Yakinlah! Tidak Ada Yang Tidak Mungkin

Sudah cukup aku berada dalam keterpurukan. Hidupku senantiasa dipenuhi kesenangan yang tidak menenangkan, penuh dengan pelanggaran. Saat itu aku duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Sumenep. Tokek sapaan akrab untukku dikala itu. Nama bagus Fatimah Az-Zahra rela kuganti dengan panggilan tokek karena pengaruh pergaulan. Aku sempat berfikir “sejak kelas VII&VIII SMP, guru-guru sudah

mempercayai bahwa diriku termasuk siswi yang berprestasi dan tidak nakal. Kelas IX pun nilaiku masih bagus. Lantas apa yang membatasiku untuk berbuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Apa yang menjadi jarak pergaulanku selama ini? Mungkin karena aku terlalu pendiam dan hanya fokus pada pelajaran sehingga aku tak

memiliki banyak teman” gumamku dikala itu. Sehingga mendorongku untuk

mencoba keluar dari zona kesendirian menuju zona keramaian, karena kurasa hal itu lebih menyenangkan. Bisa dinggap gaul & kekinian. Tiap hari sebelum masuk sekolah, aku dan kelima temanku selalu nongkrong di luar hingga seringkali kami terlambat masuk kelas tak luput dari hukuman. Bahkan hukuman menjadi sarapan pagi yang diberikan oleh guru-guru untuk kami. Mulai dari ngaji di luar kelas, hingga dijemurpun hal itu tidak menimbulkan efek jera bagi kami karena pada saat itu berkomitmen akan selalu kompak dalam hal apapun. Walaupun hukuman selalu ada , hal itu tidak menjadi penghalang asalkan dijalani bersama. Ketika ada guru yang mengajar di dalam kelaspun kami tetap ramai dan asyik bercerita, tidak

memperhatikan guru, hingga seringkali guru-guru mengeluh untuk mengajar di kelasku. Hari-hari yang sedemikian rupa tetap kami jalani hingga tiba saatnya pengumuman kelulusan. Ketika pengumuman kelulusan hendak dimulai, dengan PDnya diriku mengatakan dalam hati,”aku pasti lulus, karena soal ujian yang kukerjakan pada waktu itu sangat mudah, aku yakin nilaiku pasti besar dan akupun lulus dengan membawa prestasi yang membanggakan”. Aku lupa bahwa tak hanya nilai yang menjadi tolak ukur kelulusan, tapi karakter dan akhlaq juga menjadi penilaian. Ketika tiba saatnya wali kelas memberikan amplop yang berisi

(3)

bahwa aku tidak lulus. Ketika kubuka amplop tersebut, kulihat didalamnya tertera bahwa aku TIDAK LULUS, seketika itu aku histeris dan berteriak “Tidakkkkk” dan tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya,penuh penyesalan. Akupun teringat semua yang kulakukan semasa mencari ilmu. Diriku menangis tak sadarkan diri. Lalu wali kelasku bertanya “kamu kenapa, yang lain bahagia kok kamu menangis?”. “Ini lho pak saya tidak lulus, apa pengumuman ini tidak salah?” jawabku kembali bertanya. Kemudian wali kelasku mengatakan dengan sabarnya “coba kamu perhatikan, mungkin itu salah”. “Tapi ini benar pak” sahutku sambil menunjukkan tulisan tersebut. “Lho ini apa!” sambut wali kelasku sambil menunjukkan amplop yang serupa. Kemudian aku membukanya dan benar didalamnya berisi pernyataan bahwa aku LULUS. Ternyata amplop pertama yang kuterima ialah surat penyataan yang palsu. Walau sebenarnya lulus, tetap saja diriku tak bisa tersenyum. Aku tetap menangis entah bahagia atau merana. Sempat terbesit dalam benakku “mengapa harus aku yang dijadikan bahan percobaan, sementara teman-temanku yang lebih nakal tidak diperlakukan sepertia apa yang kurasakan saat ini, sungguh tak kusangka, ini tidak adil, aku kecewa”. Dan aku masih bertanya-tanya tentang hal itu. Lambat laun aku menyadari bahwa yang kulakukan selama ini memang salah. Terlintas dalam benakku “ketika aku merasa kecewa, apakah guruku tidak lebih kecewa dengan perubahanku?” selama ini aku sudah dipercaya namun kusalahgunakan kepercayaan tersebut, betapa dzolimnya diriku. Seketika itu juga, aku meminta maaf pada guru-guru, lebih-lebih pada guru yang sering tak kuhiraukan ketika beliau mengajar. Kulihat memang beliau mengiyakan, tetapi mungkin kecewa yang dirasakan masih membekas sehingga setiap kali melihat wajahku beliau menampakkan wajah tidak suka. Aku mencoba untuk berubah menjadi yang lebih baik, menata sopan santun, namun hal itu tetap saja tidak meyakinkan guru-guru disana. Hingga tiba saatnya perpisahan kelas IX SMP Negeri 1 Sumenep, guru-guru tetap bersikap acuh padaku sekalipun pada waktu itu aku memperoleh piala juara 3 pararel dan juara 3 Nilai UN tertinggi. Guru-guru tidak membanggakan diriku seperti dulu lagi, tak pula

(4)

waktu dapat diputar, maka aku takkan pernah memilih eksistensi bersama temanku jika akhirnya membuat diriku menderita. Aku termasuk siswi yang suul khotimah dimasa SMP. Hal itu membuatku berfikir untuk menjadi lebih bijak lagi karena aku berhusnudzon kepada Allah bahwa Dia masih menyayangiku dan inilah yang terbaik untukku. Jika tidak diuji dengan hal yang demikian, mungkin saja diriku tetap terlelap dalam keburukan. Pengalaman yang sangat suram itu cukup menjadi pelajaran bagiku untuk menjadikan pribadi yang lebih baik kedepannya. Kumulai menata niat kembali dan berjuang untuk tidak jatuh pada jurang yang sama ketika Aliyah nanti.

Kumulai menjalani hidup yang baru dengan melanjutkan study di MAN Sumenep. Disana aku lebih berhati-hati dalam memilih teman dan mengambil tindakan. Akhlaq kepada guru lebih kuutamakan daripada ilmu itu sendiri. Sekiranya tidak lagi menyakiti hati guru yang telah mengajariku, karena aku mulai tau bahwa ketika guru telah ridho memberi ilmu kepada kita,maka ilmu itu sangatlah mudah untuk didapatkan. Disana aku mulai mengenal barokah dan mengabdi. Guru-guru yang mengajariku selalu memberi motivasi akan kesuksesan orang yang mengabdi. Entah mengabdi pada Allah, orangtua, guru,bahkan kepada teman sebayapun kita diajari untuk mengabdi. Keikhlasan guru dalam mengajar membuat kita ikhlas pula untuk menjalani apa yang dianjurkan. Aku merasa bahwa diriku tidak salah memilih sekolah yang berbasis islami ini yang didalamnya mengutamakan pendidikan karakter sehingga kita menjadi terdidik.

Ketika lama di Aliyah, akhlaq kepada orang lain mulai kurubah sedikit demi sedikit. Sesekali kudatangi guru-guru di SMP untuk bersilaturrahmi. Ketika kusapa guru disana dengan senyum lebar menandakan kerinduan, ternyata respon guru-guru disana biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak pernah memiliki murid sepertiku. Betapa hinanya diriku dipandangan beliau. Mungkin rasa kecewa tahun lalu masih

(5)

SMA/ Aliyah ialah masa-masa yang paling menyenangkan bagiku. Setelah trauma dengan pergaulan bebas yang tidak menguntungkan, kini aku lebih

memperdalami ilmu agama. Terasa duniaku tebalik 180o . Yang mulanya ternakal,

teramai di kelas akhirnya menjadi terdiam. Apapun yang dikatakan guru, kusimak baik-baik. Apalagi saat kutemukan teman yang sejalan denganku, mengerti arah pikiranku, dan selalu menasehati ketika aku salah. Maka selangkahpun menuju jalan yang salah, seketika itu juga kuteringat akan nasehat-nasehat. Rasanya aku paling beruntung bisa memiliki teman seperti dia. Pria sholih yang sangat baik dan sopan kepada orangtuanya menimbulkan daya tarik tersendiri bagiku. Jangankan

membentak orangtuanya, mengatakan tidak saja ia enggan. Sudah terlihat, jika baik terhadap orangtuanya pasti ia akan baik kepada semua orang. Memang ia tak rupawan tapi dermawan, Dia mengajari arti keikhlasan, mengabdi, berbagi walau hanya sedikit, sopan santun, tawaduk dan kesabaran. Bagaimana tidak tertarik untuk menirunya, sedangkan didalam dirinya terdapat hal yang ingin kuraih selama ini. Tentu saja hal itu membuat diriku tak ingin berpisah dengannya. Ia selalu

menyemangati kala aku mulai putus asa. Ia selalu menemani perjalanan hidupku semasa Aliyah, satu hari saja tak bersamanya terasa ada yang kurang dalam hidup ini. Bahkan rasanya ku tak mampu jauh darinya, tak ingin cepat-cepat lulus dari Aliyah jika nantinya tak kutemukan lagi teman yang akhlaknya seperti dia. Namun, hari terus berjalan. Siswa tak selamanya bergelar menjadi siswa. Ketika kelas XII semester 2 kumulai memikirkan bagaimana menempuh perjalanan hidup kedepan. Dia memilih mondok sementara aku ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin kuliah di UIN Maliki Malang, kampus yang terkenal istimewa disekolahku pada saat itu. Namun hal itu hanya keinginan, aku tidak berani mengungkapkan kepada siapapun kecuali

orangtuaku. Aku malu, siswi sepertiku tidak pantas kuliah disana. Namun keinginan itu tetap ada, bahkan kusimpan foto-foto gedung dan informasi penerimaan

(6)

Hanya sekedar untuk basa-basi ia menayakan lagsung padaku akan kebenaran foto tersebut . Aku mengiyakan dengan ragu karena merasa tidak pantas, aku katakan bahwa tak ada kampus yang kupilih selain di UIN namun kurasa itu hanya angan-anganku yang terlalu tinggi. Lagi-lagi dia menyemangatiku dan mengatakan “tidak ada yang tidak pantas, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak asalkan berusaha bersungguh-sungguh”. Hal itu membuat aku sadar dan kembali berhusnudzon. Ternyata apa yang dikatakan dia benar. Aku benar-benar diterima di UIN MALIKI Malang dengan mendapat beasiswa. Dan perantara dia, aku menjadi yakin, segala keinginan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan tercapai. Sekarang aku bermodal doa dan keyakinan atas kehendak Allah yang terjadi itu pasti yang terbaik.

Kini saatnya diriku hijrah ke tempat yang lebih jauh untuk menimba ilmu. Sebelum berangkat menuju UIN MALIKI Malang, aku bersilaturahmi kepada guru-guru yang pernah mengajariku. Yakni guru-guru ngaji, guru-guru SD, SMP dan SMA dengan memohon sambungan doa sekaligus berpamitan. Ketika berpamitan kepada guru SMP, ternyata beliau tak lagi acuh padaku. Beliau mendukung bahkan bangga dengan pernyataanku atas diterimanya di UIN MALIKI Malang sekaligus dengan beasiswa. Wajah kecewa yang ditampakkan dulu kini berubah menjadi senyuman tulus, nasehat, dan doa yang beliau berikan. Bahkan kepala sekolahku juga mengatakan ”bawa nama SMPmu ini di sana”. Walau berat terasa memikul amanah yang diberikan kepala sekolah, namun aku merasa lega. Selama tiga tahun ini aku telah berhasil

menunjukkan perubahanku untuk meyakinkan beliau dengan cara merubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku mulai tersenyum dan kukatakan dalam hatiku “yakinlah! tidak ada yang tidak mungkin”

(7)

bermain-main, berfoya-foya sama saja aku menipu orang-orang yang telah mempercayaiku”. Aku tidak ingin jatuh pada lembah kenistaan untuk yang kedua kalinya. Mengembalikan kepercayaan oranglain itu sulit ketika kita telah

menyalahgunakannya.

Ketika dalam memilih temanpun disini aku juga lebih berhati-hati. Aku tidak ingin terjerumus kembali. Apalagi orang yang akan dijadikan teman sejati, pasti kubandingkan dengan dia apakah sama, lebih baik, ataukah lebih buruk. Mungkin ia berfikir disini aku akan menemukan yang lebih darinya, memilih yang disini dan melupakan dia seperti yang ia katakan diwaktu Aliyah dulu. Tidak ada yang tidak mungkin jika aku tetap memilihnya. Memang disini banyak orang-orang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...