• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI INTERVENSI KOMUNITAS SEBAGAI UP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI INTERVENSI KOMUNITAS SEBAGAI UP"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LA PO RA N PENELITIA N

KA JIAN WA NITA

STRA TEG I INTERVENSI KO MUNITA S SEBA G A I UPA YA

PENC EG A HAN INTENSITA S DAN ESKA LASI KEKERASAN DA LA M

RUMA H TA NG G A DI KO TA BA NDA A C EH DAN A C EH BESA R

O le h

SRI WALNY RAHAYU, S.H., M.H.

Dib ia ya i o le h Dire kto ra t Je nd e ra l Pe nd id ika n Ting g i, De p a rte m e n Pe nd id ika n Na sio na l se sua i d e ng a n Sura t Pe rja njia n Pe la ksa na a n Hib a h Pe ne litia n

No m o r : 001/ SP2H/ PP/ DP2 M/ III/ 2008 ta ng g a l 6 Ma re t 200 8

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITA S SYIA H KUA LA

DARUSSA LAM – BANDA AC EH

(2)

PRAKATA

Berpijak pada Islam, sebagai agama monoteis, menegaskan bahwa kekuasaan, kekuatan dan kebesaran hanyalah milik Allah. Tuhanlah pemegang otoritas absolut atas seluruh eksistensi alam semesta. Berdasarkan pandangan teologis tersebut agama Islam menafikan superioritas manusia atas manusia yang lain atas dasar identitas kultural apapun.

Dalam Al-Quran posisi relasi perempuan dan laki-laki dalam Islam ada tiga komponen penting yang dapat dijadikan rujukan. Pertama Islam memiliki risalah (pesan) abadi yang secara substantif mengajarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal yang antara lain; kesetaraan, keberagaman (pluralisme) dan demokrasi. Kedua, teks-teks

Islam juga memuat teks-teks partikular (spesifik) yang sengaja diturunkan untuk menjawab kasus-kasus yang terjadi dalam konteks sosialnya. Ketiga, Islam mengajarkan tentang rasionalitas dan latar belakang (asbab al nuzul) turunnya teks-teks suci. Keduanya merupakan media untuk mempertautkan prinsip universalitas dan partikularitas Islam tersebut.

Dalam satu kesempatan seusai menjalankan haji wada’, secara tegas Muhammad menyerukan umatnya untuk peduli dan menghormati perempuan. Pernyataan Rasulullah tersebut seolah kurang bergema. Hanya sedikit umat yang memahaminya secara benar. Lebih dari 1500 tahun sejak berpulangnya Nabi kehadirat Allah azza wa Jalla, situasi yang dialami oleh perempuan bukannya membaik, malah seolah kembali ke zaman jahiliyah.

Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman dan tenteram dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga. Untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan tersebut, sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga tersebut. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada akhirnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tersebut. Untuk mencegah dan melindungi korban, dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, negara dan masyarakat wajib melaksanakan pencegahan, perlindungan, dan penindakan pelaku. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi.

(3)

kebudayaan patriarkhis yang masih berlangsung sampai saat ini di Indonesia termasuk di Provinsi Aceh.

Ketika masuknya instrumen hukum untuk memajukan hak asasi perempuan dan keadilan gender ke arena sosial kehidupan masyarakat, regulasi tersebut akan bertemu dengan berbagai aturan yang telah ada sebelumnya, juga memiliki aturan tersendiri dan memiliki sanksi. Aturan dan sanksi tersebut dapat bersumber dari agama, adat, kebiasaan-kebiasaan atau pengaruh dari perkembangan global. Artinya UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004, tidak bekerja di ruang kosong dan hampa. Dia akan berbenturan, berpengaruh dan mengadopsi antara berbagai aturan-aturan yang telah lebih dulu muncul dalam kehidupan masyarakat di Indonesia khususnya di Provinsi NAD.

Penelitian ini dilaksanakan secara rapid assesment, bertujuan untuk mengumpulkan data-data strategi dan intervensi komunitas masyarakat di gampong dalam upaya mencegah intensitas dan eskalasi yang terjadi dalam lingkup rumah tangga yang terjadi tahun 2005 sampai dengan September 2008 di Provinsi NAD. Hal lainnya mencari tahu sejauhmana potensi dan peran yang telah dilakukan oleh masing-masing pihak dalam upaya mencegah berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, dan masih banyak yang perlu dikritisi melalui penelitian lanjutan lainnya.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua partisipan dan pihak lainnya yang telah memberikan bantuan moril dan immateril sehingga penelitian ini terlaksana sebagaimana diharapkan. Selain itu diucapkan juga terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh; 2. Lembaga Penelitian Universitas Syiah Kuala

3. Rekan-rekan yang menjadi anggota peneliti Roslaini Ramli, Rita Meutia, Safrina, Mukhlis, Khairul Mizan yang telah banyak membantu sehingga penelitian ini dapat

diselesaikan dengan baik. Semoga setiap yang dikerjakan sebetapapun kecilnya

amal kebaikan akan dicatat oleh Allah SWT. Amin.

Banda Aceh, 30 Oktober 2008 Ketua Peneliti

(4)

DAFTAR ISI

HA LA MA N PENG ESA HA N… … … ... i

A . LA PO RA N HA SIL PENELITIA N

RING KA SA N DA N SUMMA RY… … … .. ii

DA FTA R ISI… ... v i

PRA KA TA … … … . v ii

DA FTA R TA BEL... IX

DA FTA R G A MBA R... x

BA B I. PENDA HULUA N… … … 1

BA B II. TINJA UA N PUSTA KA ... 7

BA B III. TUJUA N DA N MA NFA A T PENELITIA N... 1 3 BA B IV. METO DE PENELITIA N ... 14 BA B V. HA SIL DA N PEMBA HA SAN...

26

BA B VI. KESIMPULA N DA N SA RA N... 60 DA FTA R PUSTA KA ... 62 C URRIC ULUM VITA E PENELITI

(5)

DAFTAR

GAMBAR, DIAGRAM DAN BAGAN

Gambar I Peta Provinsi NAD...

Diagram I Persentase Jumlah Usia Anak dan Dewasa Berdasarkan Jenis

Kelamin Serta Jumlah Usia anak laki-laki dengan

Perempuan...

Bagan I. Struktur pemerintah dan Birokrasi Setelah Otonomi Khsusus ...

Gambar II Peta Kota Banda Aceh...

Gambar III Peta Kabupaten Aceh Basar...

26

28

33

39

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel. I Realitas Kekerasan Terhadap Perempuan...

Tabel. II. Relasi Pelaku dengan Korban KDRT dan Kekerasan Terhadap

Perempuan...

Tabel. III. Rekapitulasi Karakteristik Lokasi, Instrumen Penelitian dan

Responden...

Tabel. IV. Pekerjaan Responsden...

Tabel. V. Kapasitas Responden...

Tabel. VI. Nama-nama Desa Lokasi Penelitian...

Tabel. VII. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin....

Tabel. VIII. Jumlah Anak Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis

Kelamin ...

Tabel. IX. Pertumbuhan Penduduk NAD Tahun 1980-2005...

Tabel. X. Penduduk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar

Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2005...

Tabel. XI. Kecamatan di Kota Banda Aceh yang Menjadi Sampel Penelitian..

Tabel. XII. Angka Perceraian Pada Mahkamah Syar’iah Banda Aceh...

Tabel. XIII. Angka Perceraian Pada Mahkamah Syar’iah Kabupaten Aceh

Besar...

Tabel. XIV. Intensitas dan Eskalasi KDRT...

Tabel. XV. Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Perkosaan...

3

4

9

10

11

11

27

27

29

31

39

45

46

47

(7)

COMMUNITY STRATEGIC INTERVENTION IN ORDER TO STOP INTENSITY AND DOMESTIC VIOLENCE ESCALATION IN KOTA BANDA ACEH AND KABUPATEN ACEH BESAR 1

BY

SRI WALNY RAHAYU 2

ABSTRACT

Keyword : strategic, intervention, domestic violence

Legislation about domestic violence Number 23/2004, almost 4 years legislated, but this legislation appear in domestic/privat not work in empty space. Stop domestic violence legislation will be collide, influencial, and adobted among legislations that occurs earlier in Indonesian society live. In NAD province, the rule that live in society engaged tightly with culture in Aceh viewed that culture as “ Adat ngon Agama lagee zat ngon sifeut” is that mean Islam religion reflected in culture of Aceh people and their social live. Of course that wise word need to examine the truthness in empiric way and factual in the real condition, because data about domestic violence victim increase from year in Kota Banda Aceh and Kabupaten Aceh Besar.

The goals of this research are to know and to inventory community perception that be participant about domestic violence physical, non physical, sexual and domestic abandon, explained intervention strategic to stop domestic violence and treatment principle to local resources and society power that explain strength, opportunity and individual resources, community and local authority. In order to handle domestic violence (physical, non physical, sexual and domestic abandon). That happening or in the past at village community and Kecamatan level in Kabupaten Aceh Besar and Kota Banda Aceh. To know and explain supporting system and serving that needed while handle domestic violence case.

Research result show that strategic and intervention that handle by Kabupaten or kota government recently not maximal in order handle domestic violence although involved any level of society NGO, ulamas and adat leader. Intensity and escalation of domestic violence in society show that the frequence after tsunami increasing. Kind of domestic violence that get by she women in any aspect (physical, non physical, sexual, economic abandon). Even though they have blood relationship. Domestic violence still assume as close part/privacy.

1 Donated by research directory and society servitude, high education directory general, National education department number of contract 001/SP2H/ DP2M/III/2008, march 6th 2008.

(8)

RINGKASAN HASIL PENELITIAN

STRATEGI INTERVENSI KOMUNITAS SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN INTENSITAS DAN ESKALASI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KOTA BANDA ACEH DAN KABUPATEN ACEH BESAR

Oleh Sri Walny Rahayu3

A. PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Telah banyak instrumen hukum nasional bahkan internasional yang melarang terjadinya praktik

kekerasan terhadap perempuan (selanjutnya KTP), namun seolah-olah tidak ada korelasi antara hadirnya

hukum yang mengaturnya dengan maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih terus

berlangsung di Indonesia. Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Juli 1980 telah membuat komitmen di PBB,

untuk menandatangani Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan atau The

Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination against Women- CEDAW. Tindak lanjutnya

adalah meratifikasi CEDAW melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 (selanjutnya disebut UU No. 7

Tahun 1984), pada tanggal 24 Juli 1984.

Konvensi tersebut berkaitan dengan prinsip adanya kewajiban negara untuk menghapus berbagai

bentuk diskriminasi baik secara hukum (de jure) maupun secara kenyataan (de facto). Berdasarkan latar

belakang ini terjadi kemajuan (progress) dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kekerasan

terhadap perempuan baik yang dilakukan oleh pemerintah, maupun masyarakat sipil di berbagai negara

termasuk Indonesia. Pembatasan dari apa yang dimaksud dengan diskriminasi adalah:

“Setiap pembedaan, pengucilan, pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, social, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan”4

Kondisi riil yang ada menunjukkan betapa susahnya perempuan menegakkan haknya untuk keluar

sebagai mahluk subordinasi di bidang partisipasi politik, pendidikan, kesempatan mengekspresikan dan

mengaktualisasikan kemampuannya untuk bekerja dan memperoleh perlakuan yang sama di lingkup publik.

3

Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh., Artikel Laporan penelitian, 64 halaman, 2008. Dib ia ya i o le h Dire kto ra t Je nde ra l Pe nd id ika n Ting g i, De p a rte m e n Pe ndid ika n Na sio na l se sua i d e ng a n Sura t Pe rja njia n Pe la ksa na a n Hib a h Pe ne litia n No m o r : 001/ SP2H/ PP/ DP2 M/ III/ 2008 ta ng g a l 6 Ma re t 20 08

4

(9)

Landasan generik yang menjadi acuan kajian ini adalah pada Pasal 16 dan Pasal 5 UU No. 7 tahun 1984

seperti yang dijelaskan oleh Rita Serena Kalibonso 5 adalah :

“KDRT adalah bentuk kekerasan yang paling berbahaya. Sebab KDRT telah lama dianggap lazim bagi masyarakat di banyak Negara. Dalam hubungan kekeluargaan di segala umur perempuan menderita segala macam penderitaan termasuk pemukulan, perkosaan dan bentuk-bentuk lain dari penyerangan seksual serta mental yang dilakukan oleh sikap-sikap tradisional. Ketergantungan ekonomi dalam hal ini memaksa perempuan untuk bertahan pada hubungan yang dijalankan berdasarkan tindakan kekerasan. Pencabutan atau pengambil-alihan tangungjawab oleh laki-laki dapat juga disebut sebagai bentuk kekerasan dan paksaan. Selain itu bentuk-bentuk dari kekerasan juga menempatkan perempuan pada risiko kesehatan dan menghalangi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan kehidupan umum atas dasar suatu kesamaan.

Perempuan dan anak, rentan terhadap perlakuan diskriminatif dan kekerasan. Jika berbicara tentang

KDRT, perempuan bahkan mengalami tindak kekerasan di dalam rumahnya sendiri yang seharusnya

memberikan suasana nyaman dan melindunginya. Hampir tidak dapat dipercaya pelaku kekerasan justru orang

yang dicintai, disayangi untuk menjaganya, seperti ayah, suami, paman, kerabat dan orang-orang di dalam

rumah sendiri. Laporan yang datang dari berbagai penjuru dunia mencatat bahwa KDRT terjadi di segala

lapisan masyarakatat. Pelaku dan korban berasal dari berbagai suku bangsa, ras, agama, kelas sosial dan

tanpa memandang tingkat pendidikan manapun. 6 Untuk konteks Indonesia, dimilikinya Undang-undang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) Nomor 23 Tahun 2004 dapat diharapkan

sebagai babak permulaan yang baik sebagai upaya menghapus KDRT.

Profil data menunjukkan tingginya angka KTP selama tahun 2005 angka kekerasan naik menjadi 6.731

kasus dari tahun sebelumnya. Sementara itu, dalam tahun 2004 KTP mengalami kenaikan hampir 100 % dari

7.787 di tahun 2003 menjadi 14.020 pada tahun 2004. Menurut catatan Komnas Perempuan dari tahun ke

tahun angka KTP bergerak naik. Tahun 2001 tercatat 3.160 kasus mengalami peningkatan pada tahun

berikutnya yaitu tahun 2002, sebanyak 5. 163 kasus KTP. Dari sejumlah 14.020 kasus KTP sebanyak 4.310

adalah kasus KDRT, 2.470 kasus terjadi dalam komunitas, 6.634 terjadi dalam rumah atau komunitas, 562

kasus traficking dan 302 merupakan kasus yang pelakunya adalah oknum aparat negara. 7 Agar lebih

memahami hubungan (relasi) antara pelaku dengan korban KTP berikut ini disajikan data dalam Tabel I

sebagai berikut:

5

Rita Serena Kolibonso, Optional Protokol Terhadap Konvensi penghapusan segala Bentuk

Diskriminasi Terhadap Perempuan, Mitra Perempuan, Jakarta, 2001

6 Sulistyowati Irianto, dalam Perempuan dan Hukum Menuju Hukum yang Berperspektif

Kesetaraan dan Keadilan, NZAID bekerjamasa dengan CW UI dan Yayasan Obor, Jakarta, 2006, hlm. 311-312.

(10)

TABEL I

RELASI PELAKU DENGAN KORBAN KDRT DAN KEKERASAN THADAP PEREMPUAN

No Pelaku Korban KDRT Perempuan Korban Kekerasan

1 Suami 77,36 % -

2 Mantan Suami 3,08 % -

3 Orang Tua/saudara/anak 6,15 % -

14 Majikan 0,22 % -

5 Pacar/teman dekat - 9,01 %

6 Tetangga - 1,54 %

7 Lainnya - 2,64 %

86,81 % 13,19%

Sumber data: Mitra Perempuan 2002 – 2005

Berdasarkan kasus tersebut pun diketahui beban kekerasan terhadap perempuan lebih banyak

menunjukkan kekerasan yang berlapis atau dalam berbagai bentuk seperti psikis, fisik, penelataran ekonomi

atau rumah tangga.8 Atau berdasarkan data tersebut dapat diinventarisir: 9

1. Angka KTP selalu meningkat bahkan yang terakhir terjadi kenaikan hampir 10 %

2. 80 % atau 8 (delapan) dari 10 (sepuluh) tindak KTP terjadi dalam KDRT

3. 1 (satu) dari 4 (empat) perempuan pernah mengalami tindak kekerasan selam hidupnya.

UU PKDRT yang hampir 4 (empat) tahun diundangkan sebenarnya dapat dijadikan sebagai alat untuk

menguji apakah kasus-kasus KDRT dapat diminimalisir atau bahkan tidak terjadi lagi lagi korban kekerasan

dalam rumah tangga. Namun demikian disadari sepenuhnya suatu kajian yang bertujuan untuk memajukan hak

asasi perempuan dan keadilan gender ketika disosialisasikan haruslah sangat hati-hati. Hal ini karena ketika

masuknya instrumen hukum publik ke dalam lingkup privat/domestik dan masuk ke dalam arena sosial

kehidupan masyarakat yang tadinya dianggap sangat tabu dan arena tersebut telah dipenuhi terlebih dahulu

dengan berbagai aturan yang telah ada sebelumnya yang juga memiliki aturan tersendiri yang bahkan memiliki

memiliki sanksi, maka biasanya terjadi penokan-penolakan dari masyarakat tersebut. Aturan dan sanksi

tersebut dapat bersumber dari interpretasi agama, adat, kebiasaan-kebiasaan atau pengaruh dari

perkembangan global. Artinya persepsi masyarakat terhadap penerapan, pelaksananaan, penegakan atau

penerimaan terhadap UU PKDRT ini, tidak bekerja di ruang kosong dan hampa, dia akan berbenturan,

berpengaruh dan mengadopsi antara berbagai aturan-aturan yang telah lebih dulu muncul dalam kehidupan

masyarakat di Indonesia.

8 Mitra Perempuan, Informasi Tahun 2005 Statistik Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

(11)

Khususnya di Provinsi Aceh, aturan yang hidup dalam masyarakat terkait erat dengan budayanya. Di

Aceh digambarkan bahwa budayanya seperti ”Adat ngon agama lagee zat ngon sifeut”. Artinya cerminan

agama Islam tergambar dalam budaya orang Aceh dalam kehidupan sosialnya. Tentu saja kata-kata bijak

tersebut perlu diuji kebenarannya secara empiris dan faktual dalam kondisi real, karena ternyata data-data

tentang korban KDRT bertambah dari tahun ke tahun di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Di Banda Aceh sendiri angka perceraian dari tahun ke tahun terjadi peningkatan terhadap perkara yang

masuk dan yang diputuskan sebagaian besar adalah cerai gugat. Karena terjadi peningkatan intensitas dan

eskalasi terjadinya KDRT dan sebagaian besar korbannya adalah perempuan di Banda Aceh dan Aceh Besar,

oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan di kedua wilayah tersebut. Sekaligus ingin mengetahui

strategi dan intervensi upaya pencegahan KDRT dan ketersediaaan fasilitas layanan pendukung KDRT yang

disediakan oleh pihak pemerintah dan segenap komunitas setelah hadirnya UU PKDRT No. 23 Tahun 2004.

2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan data yang telah diuraikan maka penelitian ini memfokuskan pada masalah yang dapat

diidentifikasi sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pemahaman masyarakat Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh tentang

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ?

2. Bagaimanakah strategi-strategi intervensi komunitas untuk mencegah intensitas dan eskalasi KDRT

yang berbasis pada sumberdaya lokal dan kekuatan masyarakat ?

3. Sejauhmana telah terjadi ekskalasi dan intensitas KDRT di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda

Aceh ?

4. Bagaimana sistem pendukung dan layanan yang dibutuhkan untuk menangani kasus KDRT dan

apakah sistem tersebut telah bekerja dengan baik?

B. TINJAUAN PUSTAKA

Adapun regulasi dan kentuan lainnya yan g menjadi dasar pijakan kerangka hukum dan konsep dalam

melakukan analsisi dari penelitian ini antara lain :

1. Regulasi Nasional Dan Internasional Yang Berhubungan Dengan PKDRT

UU PKDRT Berkaitan Erat Dengan Regulasi Lainnya Yang Sudah Ada Sebelumnya, Antara Lain :

a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP);

b. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana;

(12)

d. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan

Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita – CEDAW;

e. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

f. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.

2. Peraturan Yang Mengatur Tentang Perempuan Dan Anak Pada Tingkat Daerah (Qanun)

Berkaitan dengan isu perempuan dan masalah KDRT, Pemerintah daerah Provinsi Aceh (melalui inisiator

Biro Pemberdayaan10 Perempuan dan Biro Hukum) membentuk Rancangan Qanun Provinisi antara lain:

a. Rancangan Qanun Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan;

b. Rancangan Qanun tentang Perlindungan Anak

c. Rancangan Qanun tentang Anggaran Responsif Gender

Tentu saja ketiga produk rancangan qanun tersebut diharapkan dapat cepat disahkan menjadi qanun,

dan secara legal representatif dan sensitif bagi perempuan dan anak dalam memberi persamaan hak dan

keadilan.

3. Pendekatan Analisis Gender

Analisis gender adalah serangkaian kriteria untuk mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek

hubungan antar jenis kelamin. Dalam melakukan identifikasi terhadap ketidakadilan ini analisis gender

mula-mula membuat pembedaan antara apa yang disebut "seks" dan "gender". Seks, demikian didefinisikan, adalah

pembedaan laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas ciri-ciri biologis. Sedangkan gender adalah

pembedaan laki-laki dan perempuan secara sosial.

Pada prinsipnya analisis gender tidak mempermasalahkan pembedaan-pembedaan itu selama tidak

melahirkan ketidakadilan. Akan tetapi, analisis ini melihat pembedaan secara gender (gender differences)

sangat potensial melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Oleh karena itu, langkah selanjutnya

yang dilakukan analisis gender adalah menggugat pembedaan gender, khususnya yang melahirkan

ketidakadilan. 11 Berdasarkan analisis gender, ketidakadilan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai

manifestasi ketidakadilan, yakni: marjinalisasi (proses pemiskinan ekonomi), subordinasi (anggapan tidak

penting), pelabelan negatif (stereotype), kekerasan (violence), dan beban kerja ganda (double burden). Hal ini

merupakan suatu kriteria untuk melihat setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan,

termasuk yang lahir dari doktrin agama.

C. Tujuan Penelitian

10

Biro PP telah berubah namanya menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Badan PP dan PA Provinsi Aceh) .

11 Acep Sugiri dalam Harian Kompas, M encari Teori Kesetaraan: (Analisis Gender VS Teori

(13)

Adapun tujuan dari penelitian merupakan penelitian lanjutan untuk mencari kemutakhiran data dengan

objek penelitian yang yang lebih fokus kepada strategi dan intervensi pencegahan intensitas dan eskalsi

kekerasan dalam rumah tanga ini akan meliputi beberapa area, dapat dirinci sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui dan menginventarisir persepsi komunitas yang menjadi partisipan mengenai KDRT

meliputi fisik, psikis (non-fisik), seksual, dan penelantaran rumah tangga

2. Untuk menjelaskan strategi-strategi intervensi pencegahan dan treatment berbasis pada sumberdaya

lokal dan kekuatan masyarakat yang didalamnya akan menjelaskan kekuatan, peluang dan sumberdaya

individual, komunitas dan kewenangan lokal dalam menanggulangi KDRT .

3. Untuk mengetahui dan menjelaskan eskalasi dan intensitas dari berbagai bentuk KDRT (fisik, psikis,

seksual dan penelantaran rumah tangga), yang sedang terjadi atau telah terjadi dalam komunitas di

desa dan level kecamatan di kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh.

4. Untuk mengetahui dan menjelaskan sistem pendukung dan layanan yang dibutuhkan ketika menangani

kasus kekerasan KDRT.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini merupakan penyajian informasi serta rekomendasi tindakan yang harus dilakukan

oleh pemerintah, Badan PP dan PA di Provinsi Aceh dan Bagian PP di Kabupaten/kota, Legislatif, yudikatif,

dan pihak-pihak lain yang terkait, beserta seluruh komunitas dalam upaya memberikan perlindungan

terhadap perempuan dan anak di Aceh terhadap KDRT.

E. Metode Penelitian

1. Kategori Penelitian

Penelitian ini termasuk katagori penelitian penilaian secara cepat (rapid assessment), merupakan

penelitian yang dilaksanakan dengan mengikuti rangkaian proses pengumpulan data dengan

menggunakan berbagai metode seperti, pengkajian laporan atau data sekunder yang telah ada.

Selanjutnya mengumpulkan dan mengkaji data primer dengan menggunakan berbagai metode pengkajian

laporan-laporan yang sudah ada.

2. Jenis dan Analisis Data

a) Data primer.

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan atau diperoleh oleh peneliti dari partisipan

dikelompokkan ke dalam partisipan anak dan orang dewasa. Partisipan dewasa, partisipan anak, unsur

profesional dan penentu kebijakan.

b) Data sekunder

Data sekunder terdiri dari berbagai informasi baik berupa data tertulis maupun rekaman film, video dan

(14)

pelengkap informasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperkuat penemuan

atau informasi yang telah dikaji oleh peneliti. Sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini

berupa dokumen, instrumen hukum dalam bentuk undang-undang, Instruksi Presiden, peraturan

daerah/qanun, jurnal ilmiah, publikasi dari berbagai organisasi, laporan tahunan lembaga pemerintah.

c) Penentuan lokasi dan Jangka Waktu Penelitian

Ditemukan data tingginya angka perceraian di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh yang

didominasi kasus KDRT, sehingga lokasi tersebut menjadi alasan dipilih ke 2 (dua) lokasi ini sebagai

daerah penelitian. Dengan mempertimbangkan keluasan permasalahan kekerasan, maka hanya akan

difokuskan kepada isu Strategi dan intervensi pencegahan terhadap intensitas dan eskalasi KDRT saja.

Jangka waktu dilakukan penelitian terhadap data, pertama sekali dilakukan tahun 2004 – 2006, Dengan

mengambil lokasi sampel yang sama, selanjutnya data penelitian diperbarui untuk kemutakhiran, data

diambil Tahun 2007 sampai dengan Bulan September 2008.

d) Teknik penentuan partisipan

Teknik penentuan partisipan berdasarkan purposive sampling. Artinya penetapan seseorang/individu

untuk menjadi partisipan disebabkan karena alasan-alasan yang telah ditetapkan sesuai dengan

kebutuhan penelitian.

e) Jenis data yang digunakan

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui library research dan data primer

yang didapat melalui field research. Data sekunder dilakukan dengan studi kepustakaan dari literatur,

laporan dan penelitian yang telah ada sebelumnya. Data primer untuk partisipan dewasa digunakan

instrumen Focus Group Discussion-Fokus Grup Diskusi (FGD), Wawancara Semi Terstruktur (WST.

Selanjutnya observasi dilakukan untuk melihat gambaran umum lokasi penelitian dan aktivitas

masyarakat, serta fasilitas yang tersedia di instansi terkait dalam rangka pelayanan kepada korban KDRT.

f) Teknik Penentuan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh besar. Dari 9 (sembilan) kecamatan

yang ada di Banda Aceh dan 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Besar, ditarik sampel lokasi

penelitian sebesar 25%. Selanjutnya secara purposive dipilih 5 (lima) kecamatan di Kabupaten Aceh

Besar, yaitu Kecamatan Darusalam, Jantho, Indarapuri, Darul Imarah, dan Lhoknga. Adapun di Kota

(15)

tiap kecamatan dipilih 2 (dua) desa secara purposive. Nama-nama desa yang menjadi lokasi penelitian

seperti diuraikan dalam Tabel II sebagai berikut:

TABEL II

NAMA-NAMA DESA LOKASI PENELITIAN

Nama Kabupaten/Kota Kecamatan Desa

Aceh Besar 1. Kecamatan Indrapuri

2. Kecamatan Jantho

Kota Banda Aceh 1. Kecamatan Meuraxa

2. Kecamatan Syiah Kuala

3. Kecamatan Baiturrahman

Deah Baro

F. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pemahaman Masyarakat terhadap KDRT

Umumnya masyarakat mengatakan KDRT adalah melakukan pemukulan terhadap salah satu

anggota keluarga sampai melukai fisiknya atau mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas yang dapat

menyebabkan korban sakit hati. Sementara sebagian masyarakat lain seperi Keuchik Lambada Peukan

dan masyarakat Lhoknga umumnya mengatakan jika hanya terjadi perang mulut biasa tidak sampai

melukai fisik, hal itu tidak dianggap kekerasan seperti yang terjadi antara suami isteri, atau orang tua

terhadap anak. Menurut partisipas, “perang mulut” antara suami dengan isteri diibaratkan bagai aweuk

ngon beulangong atau ibarat wajan dengan centong, meskipun sama-sama membutuhkan mesti ada saja

masalah yang dihadapi.

Keuchik, imuem, serta masyarakat awam lainnya yang menjadi partisipan dalam penelitian ini belum

(16)

terungkap ketika pada awalnya “keuchik Desa Deah Baro” mengatakan bahwa tidak pernah ada KDRT di

desanya. Akan tetapi ketika dijelaskan lebih lanjut ternyata dia mengatakan bahwa ada bentuk-bentuk

KDRT yang dialami oleh warganya. Karena ketidakpahaman keuchik maka masalah-masalah KDRT tidak

diangap sebagai suatu perbuatan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal seharusnya ada kewajiban

bagi negara dan komunitas untuk mencegah dan melindungi korban dari tindakan kekerasan yang

dimunculkan oleh pelaku KDRT.

Banyak juga warga masyarakat yang tidak pernah melaporkan jika terjadi KDRT. Umumnya

masyarakat belum manerima sosialisasi UU PKDRT, kondisi seperti ini dirasakan oleh semua masyarakat

di lokasi desa sampel, bahkan Ketua KUA Kecamatan Darussalam juga mengatakan dirinya bersama staf

yang bekerja di KUA tersebut belum pernah mendapat sosialisasi mengenai UU PKDRT, dan juga

Undang-Undang Perlindungan anak. Sebahagian dari partisipan lainnya pernah mendengar dan melihat sepintas

sosialisasi yang dilakukan di TV, ditulis di koran. Hanya satu partisipan yaitu keuchik di Desa Deah

Glumpang pernah mengikuti pelatihan PKDRT.

Selanjutnya ada pandangan terhadap tidak perlunya cuti haid bagi perempuan yang bekerja pada

perusahaan-perusahaan. Hal tersebut karena “haid” merupakan kodrat perempuan. Kecuali jika

perempuan tersebut mengalami sakit ketika haid, maka baru dia diperkenankan untuk diberikan “izin sakit”.

2. Bentuk-Bentuk KDRT yang Terjadi di Lingkungan Masyarakat

Menurut masyarakat bentuk-bentuk KDRT yang pernah terjadi pada di lingkungan mereka, seperti

perang mulut suami isteri hingga suami memukul isteri, memukul anak anak, suami tidak memberi nafkah,

suami kawin lagi. Adapun kekerasan yang dilakukan terhadap anak, menurut partisipan, hampir semua orang

pernah memukul anaknya tapi bukan memukul sampai melukai atau menyiksa, seperti kasus-kasus yang

sering dilihat di televisi. Bentuk-bentuk pemukulan menggunakan tangan dengan mencubit atau memukul di

pantat, karena anaknya bandel (nakal), atau tidak mau mendengar kata orang tuanya. Anak-anak juga suka

dpukul ketika tidak mau disuruh mandi, tidak mau belajar.

Hal ini juga diperkuat oleh partisipan anak. Semua anak yang dijadikan partisipan dalam penelitian ini

pernah mengalami KDRT dari orang tua mereka. Menurut anak, pelaku utama KDRT terhadap anak-anak

adalah ibunya. Hasil observasi di Desa Kuta Lamreung Kecamatan Darul Imarah, saat sedang melakukan

wawancara dengan seorang responden, peneliti melihat seorang ibu/tetangga dari responden yang menghardik

dan memukul anaknya dengan keras karena anak tersebut menjatuhkan pot bunga kepunyaan ibunya, karena

tanpa sengaja terkena lemparan bola dari anak tersebut.

(17)

Pada dasarnya kasus KDRT dapat saja dialami oleh banyak orang, namun karena masalah tersebut

masih dianggap masyarakat sangat tabu untuk di laporkan, maka-kasus-kasus KDRT tidak banyak yang

muncul ke permukaan. Hal tersebut dikatakan oleh hampir semua partisipan dewasa yang menjadi responden

dalam penelitian ini, seperti dikatakan oleh Kapolsek, dokter puskesmas, keuchik, Imuem dan sebahagian

besar masyarakat lainnya.

Berikut intensitas dan eskalasi KDRT yang dapat diidentifikasi oleh masyarakat baik yang terjadi di

Kota Banda Aceh, maupun Kabupaten Aceh Besar yaitu:

a. Pertengkaran suami isteri sangat sering terjadi dan hampir di semua keluarga;

b. Pemukulan (mencubit) anak oleh ibunya sangat sering terjadi ditemukan hampir di semua keluarga yang

dijadikan partisipan;

c. Pemukulan (menampar) yang dilakukan oleh suami terhadap isteri sering tapi pada keluarga-keluarga

tertentu kusus di Desa Deyah Baro Kecamatan Meraxa tergolong sering dan banyak ibu-ibu yang

mengalaminya;

d. Pemukulan yang dilakukan oleh ayah terhadap anaknya sering dilakukan namun pada keluarga-keluarga

tertentu.

e. Nafkah yang dirasakan tidak cukup, banyak dialami oleh hampir di semua keluarga di semua desa objek

teliti

f. Suami berpoligami di desa-desa tidak banyak, bisa dihitung dengan sebelah jari.

g. Suami berselingkuh hanya orang tertentu fenomena kusus di desa Lamreung dan Guegajah;

h. Isteri berselingkuh 2 (dua) kasus fenomena kusus di Desa Lamreung dan Guegajah.

Berdasarkan data primer diketahui memang terjadi peningkatan setelah tsunami. Hal ini dapat dilihat

berdasarkan data yang ada pada Mahkamah Syar’iyah. Kenaikan frekuensi angka perceraian terjadi baik di

Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh, maupun Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar. Angka

perceraian dapat menjadi salah satu tolok ukur adanya kekerasan dalam lingkup rumah tangga yang

mengakibatkan banyak pasangan melakukan cerai talak (pihak suami) maupun cerai gugat (pihak isteri).

Selain KDRT, alasan suami melakukan ”poligami” paling dominan terjadinya perceraian secara ”cerai gugat”

berdasarkan perkara yang masuk atau yang diputuskan di Mahkamah Syar’iyah Kabupaten/Kota yang dijadikan

lokasi penelitian. Adapun angka perceraian yang terjadi di dua kabupaten/kota yaitu Banda Aceh dan Aceh

Besar dapat dilihat dalam Tabel III dan Tabel IV sebagai berikut:

TABEL III : ANGKA PERCERAIAN PADA MAHKAMAH SYAR’IYAH BANDA ACEH

Tahun Perkara Masuk Perkara yang Diputuskan

Cerai Talak Cerai Gugat Cerai Talak Cerai Gugat

2005 27 106 25 83

2006 45 120 56 105

(18)

2008 (sampai bulan

September )

63 103 46 36

Sumber data : Data primer diolah pada Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh, hasil penelitian dilakukan September 2008.

Data angka perceraian Kota Banda Aceh dimulai tahun 2005 sampai September 2008. Hal ini karena

data sebelum tahun 2005 tidak dapat ditemukan lagi, karena kantor Mahkamah Syar’iyahnya terkena dampak

tsunami, yang mengakibatkan hancur dan musnahnya semua data dan dokumen yang ada. Jika dianalisis data

Tabel III diketahui, terjadi peningkatan yang tajam angka perceraian pada tahun 2005 -2006, justru paling

banyak dilakukan oleh pihak perempuan yang melakukan cerai gugat, dari 106 menjadi 120 kasus. Begitupun

dengan jumlah kasus-kasus yang diputus dari 83 kasus menjadi 105 kasus. Peningkatan kasus perceraian

masih terjadi, baik kasus cerai talak maupun cerai gugat. Meskipun secara angka perkara yang masuk dari

kasus cerai gugat masih signifikan terjadi peningkatan jumlah pada tahun 2007 dari 120 kasus menjadi 150

kasus dibandingkan cerai talak dari 45 menjadi 54 kasus. Perkara yang diputuskan berdasarkan cerai gugat

juga lebih banyak yaitu 105 kasus menjadi 157. Sedangkan kasus yang diputuskan berdasarkan cerai talak

mengalami penurunan dari 56 kasus menjadi 49. Kondisi ini menajdi terbalik ketika tahun 2008 kasus yang

diputuskan berdarkan cerai gugat turun drastis dari 157 kasus menjadi 36. Begitupun kasus yang diputus

berdasarkan cerai talak dari 49 kasus menjadi 46 kasus.

Latar belakang penyebab suami melakukan melakukan “cerai talak” terhadap isterinya Kota Banda

Aceh adalah :

a. Karena tidak harmonis

b. Perselisihan (cekcok terus menerus)

Alasan isteri melakukan cerai gugat terhadap suaminya adalah sebagai berikut:

a. Suami tidak bertanggung jawab/meninggalkan kewajiban

b. Suami berpoligami

c. Suami berselingkuh

d. Suami suka memukul isteri dan anak.

Angka perceraian pada Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar seperti pada Tabel IV di bawah ini:

TABEL IV : ANGKA PERCERAIAN PADA MAHKAMAH SYAR’IYAH KABUPATEN ACEH BESAR

Tahun Perkara Masuk Perkara yang Diputuskan Cerai Talak Cerai Gugat Cerai Talak Cerai Gugat

2004 63 21 43 15

2005 57 17 56 15

2006 85 24 74 21

2007 49 102 35 90

(19)

Sumber data : Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar, data primer diolah, Nopember 2006 s/d Januari 2007.

Berdasarkan perkara yang masuk, sejak tahun 2004 sampai dengan September 2008 terjadi

intensitas dan eskalasi yang cukup tajam dari kasus cerai gugat. Tahun 2007 dari 24 kasus sebelumnya

menjadi 102 kasus dan yang diputus berdasarkan cerai gugat juga terjadi peningkatan yang cukup serius. Dari

21 menjadi 90 buah kasus. Sampai September 2008 sudah 92 kasus cerai gugat yang masuk dan yang diputus

berdasarkan cerai gugat 71 kasus. Hal ini dapat saja bertambah sampai akhir tahun 2008.

Alasan-alasan yang menjadi penyebab terjadinya cerai talak dari pihak suami lebih disebabkan tidak

adanya keharmonisan dalam rumah tangga, sedangkan alasan isteri menggugat cerai suaminya sangat

bervariasi :

a. Suami tidak bertanggung jawab/meninggalkan kewajiban

b. Poligami

c. Kawin paksa

d. Adanya gangguan pihak ke tiga

Dari alasan-alasan gugat talak dan gugat cerai baik yang terjadi di Kota Banda Aceh, maupun Kabupaten Aceh Besar dapat diketahui bahwa pihak perempuan (isteri) mengalami KDRT yang variatif berlapis bentuknya. Berikut dapat diperlihatkan kasus-kasus KDRT yang terjadi di berbagai instansi terkait :

TABEL V

1 Dimarahi, dihina, disentil,

kepala dipukul dengan

1 Puting payudara digigit Suami Istri

1 Masuk Kelereng dalam

Hidung anak

anak Ibu

1 Vagina pecah Suami Istri

1 Tersiram air panas, minyak

(20)

Ruang

18 Pemukulan, Penelantaran Suami Istri

24 Pemukulan, pengancaman Suami, istri Istri, suami

Pusat

17 Kekerasan fisik dan ancaman

29 Tidak emberi nafkah

terhadap istri, istri mengatur suami dan terlalu dominan

Dominan suami dibandingkan istri

Suami/ istri

18 Memberi cabai pada

pakaian dlam istri, memukul di tulang rusuk, tidak percaya pada istri

(21)

Puskesmas

2 Kekerasan fisik (dipukul di

daerah kepala, kepala

1 Stres akibat tekanan

mental, suami selalu

marah-Sumber : Data Primer yang diolah Agustus – September 2008.

Berdasarkan Tabel V di atas diketahui bahwa, sebagaian besar perempuan dan anak merupakan

korban dan mengalami kekerasan yang berlapis dalam rumah tangga. Seorang perempuan/istri dapat

mengalami kekerasan fisik, non fisik, seksual bahkan ekses dari suami yang melakukan poligami

menelantarkan rumah tangganya. Data KDRT yang masuk ke Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Banda Aceh

tahun 2006 terjadi peningkatan lebih dari 4 (empat) kali jumlah kasus yang masuk pada tahun 2005, yaitu dari 4

(empat) kasus menjadi 26 kasus yang 100 persen korbannya adalah perempuan.

4. STRATEGI INTERVENSI PENCEGAHAN INTENSITAS DAN ESKALASI TERHADAP KDRT SERTA FASILITAS LAYANAN PENDUKUNG

Pada dasarnya semua adat istiadat di Aceh bersendikan Islam yang diibaratkan seperti, adat ngon

agama ibarat zat ngon sifeut. Jika terjadi KDRT di Provinsi ACEH lebih disebabkan karena penyimpangan

(22)

keras. Dengan demikian penyimpangan perilaku dengan timbulnya KDRT sebenarnya juga penyimpangan dari

adat istiadat Aceh.

Di tengah masih kuatnya nilai-nilai patriarkhal yang dianggap sebagai nilai satu-satunya di masyarakat,

terdapat peluang untuk mengubah situasi yang tidak demokratis itu. Peluang tersebut ada pada masyarakat

sendiri. Tetapi, untuk memanfaatkan peluang tersebut, masyarakat, lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif,

mesti diubah perspektifnya lebih dulu. Artinya peran semua elemen masyarakat sangat besar dalam

penanganan kekerasan terhadap perempuan. Penyelesaian kasus KDRT menurut hukum adat, bersendikan

simbol mukim adalah mesjid, simbol gampong adalah meunasah. Hal ini berarti, semua persoalan-persoalan

masyarakat termasuk KDRT diselesaikan oleh tokoh-tokoh gampong seperti tuha peut atau tuha lapan namun

penyelesaiannya dilakukan di meunasah atau di mesjid. Meunasah/mesjid punya nuansa tersendiri untuk

menyelesaikan setiap persoalan gampong dibandingkan dengan penyelesaiannya yang dilakukan di luar

tersebut.

Sampai saat ini juga telah ada LSM nasional/lokal/Internasional yang telah membuat layanan-layanan

untuk perempuan korban kekerasan seperti women crisis center, lembaga bantuan hukum, rumah lindung

(shelter), atau pendampingan korban, jumlahnya masih jauh dari memadai dari kebutuhan. Apalagi jumlah

perempuan korban kekerasan tidak selalu berada di kota-kota besar. Pekerja sosial menjadi penting dalam hal

ini menjadi penting, yang dibantu oleh segenap elemen komunitas dan pemerintah gampong yang ada. Dapat

dicontohkan bagaimana upaya yang dilakukan komunitas tersebut, dalam mencegah dan menangulangi

perempuan dan anak-anak korban kekerasan yang berada jauh dari lokasi dari pusat informasi, komunikasi dan

transportasi yang sulit. Dapat dibayangkan bagaimana jika perempuan dan anak di daerah tersebut menjadi

korban KDRT.

Selain hal tersebut, korban kekerasan membutuhkan bukan hanya pengobatan secara fisik, tetapi juga

penanganan masalah psikososial dan hukum dengan pendampingan untuk mengatasi trauma. Dengan kata

lain, penanganan korban kekerasan memerlukan layanan terpadu multidisiplin.

a. Badan PP dan PA, bagian Pemberdayaan Perempuan Kabupaten/kota

Badan PP dan Perlindungan anak, atau bagian PP di kabupaten/kota telah melakukan sejumlah

kegiatan dalam rangka mencegah segala bentuk KTP termasuk KDRT dan kekerasan terhadap anak.

Diantaranya adalah sosialisasi Undang-Undang PKDRT, dan Undang-Undang Perlindungan Anak ke

berbagai kabupaten kota, ke barak-barak pengungsi korban tsunami, sosialisasi ke dinas-dinas terkait di

kabupaten kota. Sosialisasi juga dilakukan diberbagai media cetak dan elektronik, seperti radio, televisi,

buklet-buklet dan juga dalam bentuk buku yang telah disebar-luaskan ke berbagai daerah di Provinsi ACEH.

Di Kota Banda Aceh dan Jantho Kabupaten Aceh Besar juga telah dibangun Pusat Pelayanan Terpadu

(23)

pemenuhan kebutuhan peningkatan pendidikan, kesehatan, ekonomi, penanggulangan tindak kekerasan

terhadap perempuan dan perlindungan anak serta peningkatan posisi dan kondisi peremuan dalam

masyarakat. Selain itu P2TP2 berperan sebagai wadah pelayanan pemberdayaan perempuan dan anak

berbasis masyarakat.

b. Poltabes Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar

Telah melakukan sosialisasi kepada segenap jajarannya terutama Kapolsek-Kapolsek yang ada di

kecamatan, mengenai UU PKDRT dan juga Undang-Undang Perlindungan Anak. Poltabes juga telah

menyediakan Ruang Pelayanan Kusus (RPK) berikut peningkatan kualitas sumber daya Polisi Wanita

(Polwan) yang akan menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk

didalamnya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Adapun di Kabupaten Aceh Besar, pelayanan yang

diberikan terhadap KTP khususnya fungsi RPK belum semaksimal di Kota Banda Aceh. Sumber daya

Polwan yang memahami masalah kekerasan masih sangat terbatas.

c. Polsek – Polsek yang ada Di Kecamatan

Pihak kepolisian sendiri cenderung mendamaikan kembali jika terjadi KDRT pada tingkat gampong

yang dilaporkan kepada mereka. Seperi kasus yang terjadi di Polsek Darussalam yaitu suami yang menendang

isterinya hingga memar di bagian dagunya, oleh karena banyak hal yang dipertimbangkan disamping faktor

isteri yang sedang hamil, suami tersebut nampaknya tidak dengan sengaja menendang isterinya, namun

kepada suami yang bersangkutan dikenakan sanksi wajib lapor. Pihak polsek sendiri sudah pernah juga

melakukan sosialisasi PKDRT ke beberapa tempat tapi diakui masih sangat kurang. Jika terjadi kasus KDRT

sebaiknya masyarakat yang ingin melapor ke pihak kepolisian, polsek Darussalam menganjurkan untuk

melapor ke Poltabes saja yang ada di Jambo Tape. Hal ini disebabkan di Polsek sendiri tidak ada fasilitas

seperti RPK dan SDM (polwan) yang sebaiknya menangani kasus KDRT karena biasanya korban utama KDRT

adalah perempuan.

d. Potensi puskesmas di Kecamatan

Petugas kesehatan memegang posisi strategis, tetapi ada hambatan, yaitu petugas kurang responsif

dan belum memahami perannya. Selain itu, petugas kesehatan memang kurang terampil seperti luput dalam

pendokumentasian kasus kekerasan secara baik. Selain itu bagaimana mereka dapat memberi tin dak lanjut

sepertyi konseling, perawatan dan melakukan rujukan. Sikap yang masih dipengaruhi budaya dan sikap sosial

yang memandang negatif terhadap perempuan korban, alokasi dana yang terbatas bagi penanganan KDRT,

karena puskesmas tersebut juga punya skala prioritas seperti penurunan angka kematian ibu dan balita,

(24)

e. Peran Kantor Urusan Agama di Kecamatan

Hampir semua Kantor urusan agama kecamatan (Kuakec) pernah menasehati/membimbing sejumlah

pasangan suami isteri yang berselisih atas permintaan keuchik gampong. Jumlah secara otentik tidak

terdokumentasi dengan baik, kecuali Kuakec Baiturrahman dan Darul Imarah yang memiliki data sekunder.Jika

suami-isteri betul-betul ingin berpisah, mereka langsung ke Mahkamah Syar’iyah. Penyebab dari perselisihan

suami isteri sering tidak terungkap di Kuakec. karena pada prinsipnya mereka datang karena mau berdamai

dan tidak mau memberitahukan aib pasangannya masing-masing.

f. Upaya Penyelesaian Kasus KDRT Pada Tingkat Gampong

Menurut keuchik, dan masyarakat di semua desa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini serta

diperkuat lagi oleh hasil wawancara dengan Ketua Majelis adat Aceh (MAA), seharusnya jika terjadi

pertengkaran hebat antara suami isteri sampai menjurus kepada pemukulan penyelesaian yang harus

ditempuh pada tingkat gampong adalah mengadu ke keuchik, yang akan menyelesaikan bersama-sama

anggota tuha peut.

g. Membangun jaringan

Membangun jaringan multi sektor untuk sosialisasi dan advokasi mencegah dan menanggulangi KDRT

berikut legislasinya perlu dilakukan secara berkelanjutan. Inti dari membangun jaringan di antara organisasi

non pemerintah dan ormas perempuan dengan mengajak kelompok akademisi, penyintas, tokoh agama, adat,

segenap elemen masyarakat, birokrat, aparat penegak hukum, legislatif serta media massa adalah membagi

tugas masing-masing ”siapa melakukan apa”. ” Dalam hal ini termasuk berjaringan dan memiliki akses terhadap

produk perundang-undangang setingkat daerah (qanun) atau legislasi nasional bahkan juga memiliki akses

dalam sistem perencanaan dan penganggaran pemerintah, sehingga dapat melihat celah di mana bisa

melakukan advokasi kebijakan yang sensitif gender.

G. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan

adalah sebagai berikut :

1. Strategi atau treatment yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota selama ini belum cukup

maksimal, bagi penanganan KDRT, meskipun telah melibatkan berbagai komponen masyarakat, LSM,

tokoh ulama dan adat.

2. Intensitas dan eskalasi KDRT dalam masyarakat yang terjadi dalam masyarakat menunjukkan

frekuensi yang meningkat pasca tsunami. Bentuk-bentuk KDRT yang diterima oleh perempuan secara

(25)

berbarengan terjadinya. Salah satu alasan dominan dalam masalah gugat cerai yang dilakukan oleh

perempuan/istri kepada suaminya, karena suami melakukan poligami. Sehingga ditemukan fakta

bahwa, poligami memiliki relasi kuat dengan masalah KDRT, di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh

Besar.

3. Relasi antara korban dengan pelaku baik kekerasan terhadap perempuan maupun anak-anak, adalah

orang-orang yang dikenal baik oleh korban, bahkan memiliki hubungan darah.

4. Masalah KDRT masih dianggap wilayah tertutup/privacy sifatnya. Hampir semua partisipan

menyatakan bahwa komunitas baru bertindak jika diminta oleh korban. Inisiatif untuk mencegah KDRT

di tingkat gampong dilakukan oleh keuchik, tuha peut, tuha lapan. Belum ada inisiatif penanganan

masalah KDRT oleh pemerintahan gampong, karena mereka

Saran-saran

1. Program sosialisasi KDRT berikut legislasi yang mengaturnya juga memperhatikan komunitas

gampong, mukim, berikut pemerintahannya. Program KDRT termasuk bagaimana mencegah dan

mengatasi korban KDRT sampai pendampingan korabn dan pelaku di bidang agama yang dilakukan

oleh tokoh agama/adat di gampong, atau mukim.

2. Puskesmas merupakan garda terdepan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan

termasuk KDRT. Diperlukan sejumlah sarana dan prasarana yang memadai berikut kemampuan

tenaga medis yang baik untuk menangani masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Adanya

sejumlah pelatihan, workshop atau pendidikan lainnya bagi meningkatkan keterampilan tenaga medis

untuk hal tersebut. Hal ini tentu saja disertai dengan adanya anggaran yang cukup bagi

puskesmas-puskesmas dalam menangani masalah kekerasan.

3. Perlu adanya koordinasi dan konsolidasi terhadap jaringan yang bekerja untuk menangani masalah

kekerasan terhadap perempuan, dimana KDRT termasuk salah satu dari kekerasan tersebut.

4. Diperlukan perluasan wilayah jaringan program penanganan kekerasan terhadap perempuan dengan

melibatkan seluruh komponen masyarakat, LSM, Ormas, dan lain-lain, sehingga tidak hanya terfokus di

wilayah yang mudah dijangkau oleh sarana komunikasi, transportasi dan teknologi, tetapi menyebar ke

(26)

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

Aceh Dalam Angka, 2004.

BAPPEDA Propinsi NAD, 2005.

Gadis Arivia, (2003) Filsafat Perspektif Feminis, YJP, Jakarta.

Hasyim, MK, CS, (1997), Peri Bahasa Aceh , Penerbit Dinas P&K Daerah Istimewa Aceh.

Mansour Faqih (1996), Mengeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Nursyahbani Katjasungkana dan Mumtahanah, (2002), Kasus-kasus Hukum Kekerasan Terhadap Perempuan, LBH Apik, Jakarta.

Rita Serena Kolibonso (2001), Optional Protokol Terhadap Konvensi penghapusan segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, Mitra Perempuan, Jakarta.

Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, (2004), Budaya Masyarakat Aceh, Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Aceh.

Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi (ed), (1989), Metode Penelitian Survei. Edisi ke-2, Yogyayakarta, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan, Universitas Gajah Mada. Seri Metodologi No. 6.

Sulistyowati Irianto, (2006), dalam Perempuan dan Hukum Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan, NZAID bekerjamasa dengan CW UI dan Yayasan Obor, Jakarta.

Sulistyowati Irianto dan L.I. Nurtjahyo (2006), Perempuan di Persidangan: Pemantauan Peradilan Berperspektif Perempuan, Obor, Jakarta.

Tapi Omas Ihromi, et. al (ed), Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, (2000), Alumni, Bandung.

(27)

Republik Indonesia, UU No. 7 Tahun 1984 Tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan atau The Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination against Women- CEDAW.

Republik Indonesia UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Republik Indonesia, UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum

Pidana (KUHP).

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara

Pidana (KUHAP).

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai

Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita – CEDAW

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.

D. HASIL PENELITIAN

Unicef (2006), Assesment of Child Abuse, Exploitation and Trafficking in NAD Province and Nias After Tsunami, dilaksanakan oleh Tim Peneliti PSG Unsyiah dibantu sepenuhnya oleh Emmy LS, Retno dan Rino Antarini.

Satker BRR NAD-NIAS (2006), Kondisi Riil Perempuan di 16 Kabupaten/Kota Provinsi NAD, Dilaksanakan oleh Tim Peneliti Pusat Studi Gender (PSG) Universitas Syiah Kuala.

C. MAKALAH/JURNAL/HARIAN

Acep Sugiri dalam Harian Kompas, Mencari Teori Kesetaraan: (Analisis Gender VS Teori Hukum Hukum Islam, Senin, 23 Agustus 2004.

Flyer yang diterbitkan secara kerjasama antara Komnas Perempuan dan Body Shop dalam Sulistyowati Irianto.

Harian Kompas, 10 Mei 2004.

Husein Muhammad, (2006), Perempuan dalam Pandangan Agama, Makalah disampaikan dalam

Pelatihan Penyadaran Gender di KPMM, tanggal 20-23 Juli.

Mitra Perempuan, Informasi Tahun 2005 Statistik Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

(28)

__________________, dalam Jurnal Perempuan No. 45, (2006), Diskriminasi itu Bernama Kekerasan Terhadap Perempuan, YJP, Jakarta.

E. SUMBER INTERNET

Gambar

TABEL I RELASI PELAKU DENGAN KORBAN KDRT DAN KEKERASAN THADAP PEREMPUAN
TABEL II NAMA-NAMA DESA LOKASI PENELITIAN
TABEL IV : ANGKA PERCERAIAN PADA MAHKAMAH SYAR’IYAH KABUPATEN ACEH BESAR

Referensi

Dokumen terkait