• Tidak ada hasil yang ditemukan

Re posisi Pramuwisata dalam Narasi Pasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Re posisi Pramuwisata dalam Narasi Pasa"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

(Re)posisi Pramuwisata Indonesia dalam Narasi Pasar Bebas ASEAN

Himawan Pradipta

Mahasiswa, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran,

Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat Surel: [email protected]

Abstrak

Pramuwisata memainkan posisi yang penting dan signifikan di tengah pasang surut dunia pariwisata modern, khususnya setelah Indonesia resmi masuk dalam daftar negara Kawasan Pasar Bebas ASEAN (AFTA). Tentu saja, para pramuwisata dituntut untuk memiliki kompetensi yang mumpuni dengan berpatok pada standar dan regulasi yang mapan pula. Sejumlah keahlian seperti berbahasa, berbicara di depan umum, dan bernegosiasi menjadi tolak ukur yang paling dilihat bagi seorang pramuwisata dalam menjalankan tugasnya. Para pramuwisata, dengan begitu, berposisi sebagai pemegang kendali utama atas pergerakan kemajuan industri pariwisata nasional di Indonesia. Makalah ini, dengan begitu, akan menganalisis kulit luar dari faktor-faktor penyebab terhambatnya roda ekonomi di Indonesia dan kemudian menawarkan alternatif solusi dengan tujuan memajukan sektor pariwisata dalam menghadapi pasar bebas, serta menekankan andil pramuwisata dalam mencapai tujuan itu. Kata kunci: pramuwisata, pasar bebas, roda ekonomi

Faktor-Faktor Penyebab Menyusutnya Ekonomi Indonesia

(2)

2

menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas; sejumlah tantangan dalam bidang perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan dapat dijadikan bahan pertimbangan. Ketiga bidang ini merupakan poin-poin sentral yang disebut-sebut paling berpengaruh dalam mengendalikan roda perekonomian di Indonesia.

Satu dari berbagai bidang yang membuat roda perekonomian Indonesia bisa bergulir adalah perdagangan. Sudah bukan tabu lagi bahwa mayoritas produk yang dijual oleh orang Indonesia bukan berasal dari dalam negeri melainkan kebanyakan hasil impor dari Cina atau Vietnam. Berbagai komoditas yang paling populer seperti telepon genggam dan tablet merupakan komoditas yang fluktuasi penjualannya terus meroket dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan, misalnya, harga celana yang melambung di butik-butik Indonesia, sementara harga untuk celana yang sama di Thailand bisa berkisar setengahnya lebih rendah. Kasus lain yang juga memprihatinkan adalah tiket maskapai penerbangan yang dipasang sangat murah di Indonesia, yang kisaran harganya mungkin sama dengan harga celana di butik Indonesia. Semua contoh ini menimbulkan gesekan yang cukup keras untuk menghambat laju pergerakan sektor perdagangan Indonesia di mata ASEAN.

Atas responsnya terkait hal tersebut, Subiakto Priosoedarsono dalam artikelnya,

“Menghadapi MEA 2015 dengan Pariwisata”, berpandangan bahwa AFTA merupakan

“strategi raksasa”para kapitalis dunia untuk menghilangkan kedaulatan sebuah negara. Ia melanjutkan dengan memaparkan data yang diterimanya dari Badan Pusat Statistika (BPS) tahun 2014, yang menunjukkan bahwa Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar US$ 5.6 miliar. Belum selesai, neraca perdagangan migas ternyata juga mengalami defisit sampai US$ 11.837 miliar, dan neraca perdagangan non-migas mencapai surplus hingga US$ 3.367 miliar. Angka-angka yang fantastis ini menunjukkan betapa masyarakat Indonesia “belum siap” untuk memainkan peran sebagai salah satu karakter utama dalam narasi kawasan pasar bebas di ASEAN. Subiakto pun kembali berargumen bahwa sektor perdagangan merupakan

“korban yang paling disorot” terkait isu bobroknya situasi ekonomi di Indonesia.

“Korban” kedua yang juga menjadi sorotan adalah sektor pendidikan. Sistem

(3)

3

berperan krusial dalam menentukan apakah sektor pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki atau tidak. Sebuah kasus tahun 2013 merupakan salah satu contohnya, yaitu ketika para murid sekolah dasar harus sudah membawa buku pelajaran yang tidak sesuai dengan level kompetensi mereka. Atau misalnya kasus mahasiswa elektro yang berakhir bekerja di perusahaan perbankan juga masih jadi bahan perbincangan. Kalau keadaannya sudah begini, bukan tidak mungkin perusahaan di Indonesia merekrut tenaga kerja negara anggota ASEAN dengan kompetensi yang lebih baik, dan hal ini akan mengarah ke tingkat pengangguran yang tinggi bagi orang-orang Indonesia sendiri.

“Korban” yang ketiga, dan yang terakhir, adalah sektor kebudayaan. Masih merujuk argumen Subiakto, ia berpendapat bahwa sebagian masyarakat Indonesia cenderung berbudaya konsumtif. “[Masyarakat Indonesia] lebih suka belanja produk-produk luar negeri dan mengonsuminya tanpa memikirkan lagi fungsi esensiil” produk tersebut. Misalnya, seseorang membeli telepon genggam keluaran terbaru, dan sebulan kemudian ia bisa saja membeli telepon genggam lagi jika ada produk yang lebih anyar. Telepon genggam itu, lanjut Subiakto, bukan lagi dikonsumsi sesuai dengan nilai gunanya, melainkan sesuai dengan apa yang sedang menjadi tren atau yang menurutnya ideal sesuai dengan konstruk media. Pergeseran nilai pada produk tersebut kemudian mendorong masyarakat untuk tidak cepat merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan, parahnya, mereka tidak sadar bahwa mereka melakukannya. Faktor inilah yang kemudian membuat mereka “merasa” lebih kekinian atau prestisius saat menggunakan barang-barang impor luar negeri, dan rantai konsumsi ini tidak langsung berpengaruh secara signifikan terhadap roda perekonomian di Indonesia.

Akhirnya, Subiakto menutup artikelnya dengan berpendapat bahwa salah satu jalan keluar untuk mengatasi ketiga masalah (atau ketiga “korban”) ini dan untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia dalam bertarung di pasar bebas di kawasan Asia Tenggara, adalah dengan memajukan sektor pariwisatanya. Ia berpendapat:

Pariwisata dapat dijadikan lokomotif . . . yang akan menghela gerbong-gerbong wisata lain seperti convention, kuliner, budaya, hotel, [maskapai], [cinderamata] yang pelakunya UKM (Usaha Kreatif Mandiri).

(4)

4

dan sumber keuntungan bagi beberapa pemangku kepentingan. Mungkin sektor perdagangan, pendidikan, dan pola pikir masyarakat Indonesia masih belum relatif mapan dalam menghadapi AFTA, namun sektor pariwisata mampu menjadikan destinasi unik di Indonesia sebagai pusat perhatian dunia. Meminjam bahasa Subiakto, kita harus mampu melakukan branding pariwisata Indonesia guna menciptakan karakter yang kuat dan unik di tengah-tengah kecamuk masalah sektoral lain yang senantiasa membayangi. Lantas, “lokomotif” macam apa yang ia maksud?

Posisi Pramuwisata dalam Pergerakan Industri Nasional

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu kekayaan Indonesia terletak pada sumber daya alamnya. Pesatnya perkembangan pariwisata yang mematahkan leher tak hanya makin mengangkat “martabat” sejumlah tempat “maskot” yang sudah lebih dulu terkenal di Indonesia seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, atau Bandung, tetapi juga menyorot tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah dijadikan objek wisata oleh para wisman dan wisnus, seperti Bangka Belitung, Maluku, Pulau Seribu, dan Gunung Bromo. Tentu saja ini merupakan kabar yang menguntungkan tetapi juga memprihatinkan. Tuntutan dari para wisatawan yang haus liburan atau informasi kesejarahan suatu situs atau pemandangan-pemandangan menawan, ternyata berdampak pada tuntutan para pramuwisata untuk memiliki sejumlah kompetensi yang mumpuni agar mampu mengeksploitasi (dalam konotasi positif) budaya lokal kepada wisatawan. Sayangnya, faktanya tidak selalu seindah yang dibayangkan.

(5)

5

triliun dalam ragam jasa wisata. Lalu, apa yang mesti dilakukan? Blogger itu kembali berargumen bahwa perlu dilakukan reposisi pramuwisata dalam menghadapi jumlah wisatawan yang terus bertambah dan dalam bertarung di medan pergulatan narasi AFTA. Pertanyaan lain muncul: reposisi yang dimaksud itu seperti apa? Apa lagi memangnya yang mesti dibenahi?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya harus kembali merujuk ke sumber dari laman daring HPI Yogyakarta. Dikatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling cepat dalam memberikan pendidikan terpadu bagi para calon pramuwisata, yaitu selama 110 jam dalam kurun waktu 3 – 4 bulan. Sementara di Spanyol, jumlah waktu pendidikan yang mesti ditempuh para calon pramuwisata adalah 900 jam, di Australia 2 tahun, dan paling lama di Mesir 4 tahun—yang kemudian dilanjutkan ke Ujian Kompetensi calon pramuwisata, yang juga akan memakan waktu sama lamanya. Apakah ini berarti hal yang baik? Apakah menempuh pendidikan dalam kurun waktu lebih cepat berarti kompetensi yang akan diraihnya dalam hasil akhir berarti akan lebih baik? Jawaban atas pertanyaan ini berhubungan dengan daya tawar yang sempat saya singgung sebelumnya.

Blogger itu melanjutkan, dengan jumlah anggota terdaftar berlisensi sebanyak 412

orang, HPI, sayangnya, dianggap belum memiliki regulasi yang kokoh terkait penggunaan kreativitas pramuwisatanya. Dengan kata lain, selama ini, pramuwisata dibatasi hanya untuk

“sekadar” mengantar pulang-pergi wisatawan dengan bekal kemampuan verbal yang sudah tak perlu diragukan lagi. Pembatasan inilah yang kemudian dinilai menyusutkan daya tawar para pramuwisata di Indonesia untuk mengeksplorasi kompetensi yang diampunya, untuk memberikan dirinya sendiri posisi yang strategis untuk menjual budaya Indonesia yang kaya agar nama Indonesia semakin harum di mata dunia. Inilah reposisi yang dimaksud. Blogger itu menambahkan:

Reposisi profesi tour guide disamping bertugas pokok memandu wisatawan, ia [juga] harus mampu berperan lebih strategis bagi kemajuan industry pariwisata nasional, [misalnya dengan] menjadi penulis, scriptwriter, penerjemah bahasa, trainer, motivator, moderator, humas, dst.

(6)

6

Indonesia, dan media dianggap sebagai sarana yang paling menyeluruh dan merakyat—hampir semua orang bisa mengakses media (cetak dan/atau elektronik). Dengan menulis, misalnya, seorang pramuwisata memiliki privilese lebih untuk mempromosikan tak hanya tempat-tempat yang pernah disinggahinya tetapi juga makanan, minuman, hotel, atau cinderamata yang dijual orang-orang setempat. Daya tawar mereka akan melonjak seiring dengan seberapa banyak informasi yang diberikannya kepada penggunanya (user). Inilah yang disebut oleh Subiakto Priosoedarsono di awal makalah ini bahwa pariwisata mesti dilihat sebagai sebuah “lokomotif” yang mampu menghimpun gerbong-gerbong wisata lain sebagai nilai tambah bagi negara Indonesia.

Kesimpulan

(7)

7

Referensi dan Tautan

Je Susilo, Bambang. 2015. “Pemandu Wisata dan Dinamika Pariwisata Jakarta”. Arsip Pariwisata Kompasiana. Diakses 18 Oktober 2015, 10:04.

Prisoedarsono, Subiakto. 2015. “Menghadapi MEA 2015 dengan Pariwisata”, dalam

https://www.selasar.com/ekonomi/menghadapi-mea-2015-dengan-pariwisata, diakses 19

Oktober 2015, 20:51.

www.akademipariwisatakpg.blogspot.com. Akpar Kupang, “Peranan Pramuwisata

dalam Memberikan Layanan Kedatangan dan Keberangkatan”, diakses 18 Oktober 2015, 10:00.

https://hpijogja.wordpress.com/2009/02/24/reposisi-guide-asosiasi-hpi/. “Reposisi

Guide dan Asosiasi HPI dalam Jaringan Wisata Global”Yogyakarta Tourist Information: Tour Operators, Tour Packages, Rent Car, Tourist Objects in Yogyakarta, diakses 18 Oktober 2015, 10:20.

https://hpijogja.wordpress.com/2009/10/07/hut-hpi-menelaah-profesi-guide/. “HUT

HPI: Menelaah Profesi Guide”, diakses 19 Oktober 2015, 20:29.

www.disporbudpar.kalselprov.go.id/pemandu-wisata, Disporbudpar Provinsi Kalsel.

“Pemandu Wisata”, diposting 25 Agustus 2015, diakses 19 Oktober 2015, 21:03.

www.himamanauny.wordpress.com/2014/03/22/tantangan-dan-keuntungan-afta-2015-untuk-indonesia/. “Tantangan dan Keuntungan AFTA 2015 untuk Indonesia.” HIMA

Referensi

Dokumen terkait