• Tidak ada hasil yang ditemukan

MULTIFUNGSIONALITAS DALAM TEORI ARSITEKT. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MULTIFUNGSIONALITAS DALAM TEORI ARSITEKT. pdf"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MULTIFUNGSIONALITAS

DALAM TEORI ARSITEKTUR KLASIK

Di Susun Oleh :

Nama NIM

- Yusuf Zaenal Akbar 14.104.016

- Reza Munawan Putra P. 14.104.046

- Empy Fandy Putra Hulu 14.104.056

- M. Fachri B.Z. 14.104.072

Mata Kuliah : Teori Arsitektur 1

Dosen Pengasuh : Saufa Yardha Moerni, ST.

FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

(2)

i KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan terhadap ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia nyalah, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Arsitektur 1 dengan dosen pengasuh Saufa Yardha Moerni, ST. Merujuk kepada kesesuaian materi dan topik yang telah diberikan, maka tim penyusun membahas dan mengulas sebuah topic permasalahan arsitektur yang dijadikan judul pada makalah ini yaitu MULTIFUNGSIONALITAS DALAM TEORI ARSITEKTUR KLASIK.

Dengan adanya makalah ini, Mahasiswa diharapkan lebih mampu mengasah pemikiran dalam lingkungan Teori Arsitektur Klasik dengan perkembangannya dari masa ke masa, mengenai ragam khasanah jenis perkembangannya, dan telah berkembang dimana sajakah teori ini.

Sebagai Mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Harapan kami, semoga makalah ini dapat menjadi sebuah referensi bagi mahasiswa arsitektur Indonesia dalam memahami teori – teori arsitektur klasik bagi yang sedang mempelajari beragam multifungsionalitasnya.

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii Abstrak ... 1 BAB I PENDAHULUAN

A. Arsitektur Yunani ... 2 B. Arsitektur Romawi ... 10 BAB II PEMBAHASAN

(4)

1

Abstrak

Kata arsitektur berasal dari bahasa Yunani yaitu ’archi’ yang berarti kepala, ketua dan tecton yang berarti tukang, sehingga architecton berarti kepala tukang, merujuk ke-pada profesi, kemahiran dan keahlian menukang dalam hal bangunan.Pekerjaan merancang dengan memperhitungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rancang bangun, sehingga menjadikan arsitektur sebagi ilmu pengetahuan yang menggabungkan seni dan teknologi. Arsitektur adalah cerminan dari kebudayaan, oleh Karena itu, dari sebuah karya arsitektur, kita dapat mengetahui latar belakang budaya satu bangsa, Hidayatun (2005)

Perkembangan karya arsitektur cukup beragam dan telah menghasilkan ba-nyak karya yang cukup representatif, misalnya memasukkan unsur desain arsitektur tradisional pada bangunan modern. Dan Kecenderungan memakai kembali keung-gulan strategi desain arsitektur klasik yang kemudian menjadi inspirasi desain arsi-tektur modern adalah suatu usaha untuk bertindak lebih baik terhadap lingkungan. Usaha ini mendukung untuk menciptakan suatu desain yang baik di Indonesia, hal ini umumnya diterapkan pada rancangan bangunan kantor pemerintah, yang meru-pakan salah satu usaha untuk mengangkat karya arsitektur.

(5)

2

- Preseden : megaron (rumah vernakular Yunani)

- Contoh : Athens Parthenon, Yunani; Nashville Parthenon, Amerika Serikat

- Unit : stoa (kolom)

- Warisan : kanonik: golden section, greek order, geometri, harmoni, proporsi, tektonik, enteleki; struktur: post linthel; tipologi: agora (public space), bouleute-rion (balai dewan), gymnasium (sekolah), megaron (rumah), pastanium (kantor walikota), pantheon (kuil), stadion, & teather

- Keprofesian : belum ada, bersifat seniman, penyeimbang masyarakat, spiritua-lis, institusi kemasyarakatan

(6)

3 Gambar 1.1 Edward Dodwell - View in Greece, menggambarkan suasana peradaban Yunani

dahulu.

(Sumber : Wikipedia.or.id, 2015)

Gambar 1.2. Reruntuhan agora di Athena

(Sumber : Wikipedia.or.id, 2015)

Yunani dalam perkembangan peradabannya pun cukup pesat, sudah lama mengenal tulisan dan mulai mengembangkan rasio manusia. Masyarakat Yunani sudah lumrah dalam membicarakan filsafat yang mengedepankan politik, sains, & seni dalam obrolannya sehari-hari. Selain itu masyarakat Yunanipun memilki keper-cayaan pagan politheisme dengan dewa tertinggi Zeus (dewa langit), Poseidon (dewa laut), dan Hades (dewa bawah tanah).

(7)

4 pemerintahan, tempat peribadatan, dll.) Partheon (kuil paganism Yunani) adalah salah satu contoh arsitektur tradisional Yunani yang nantinya akan menjadi langgam arsitektur klasik Yunani dan masih digunakan hingga kini.

Gambar 1.3. Megaron, Yunani (Sumber : Wikipedia.or.id,2015)

(8)

5 Gambar 1.5. Denah Megaron dan Athens Parthenon

(Sumber : Wikipedia.or.id,2015)

(9)

6 Gambar 1.6. Athens Treassure, Yunani, memperlihatkan struktur

post linthel

(Sumber : Wikipedia.or.id,2015)

(10)

7 Gambar 1.8. Detail stoa menurut greek order

(dari kiri ke kanan, doric, ionic, corintian) (Sumber : Wikipedia.or.id, 2015)

Filsafat berawal ketika manusia berusaha memahami dunia dengan menggunakan perangkat yang melekat pada manusia (hati dan perasaan), bukan lagi semata keyakinan. Yakni kebenaran adalah hal yang relatif, tergantung pada persepsi dan interpertasi manusia, dan kebenaran hanya dapat diperoleh dengan cara mempertanyakan, menghaluskan pengertian, dan menguji. Beberapa filusuf yang terkenal diantaranya Aristoteles, Democritus, Plato, Socrates, dll.

(11)

8 Filsafat dalam pemahamannya melahirkan paradigma baru mengenai kesem-purnaan, suatu persepsi yang banyak diimplementasikaan dalam kehidupan masya-rakat Yunani, sedangkan untuk desain persepsi tersebut berupa:

1. Kualitas penghalusan dan pengujian karya manusia: puisi, musik, kriya, pa-tung, 6 dan arsitektur

2. Tujuan setiap karya adalah bentuk, detil dan rekayasa yang mencerminkan ke-sempurnaan manusia

3. Keseimbangan simetri merupakan sesuatu yang ideal

4. Dalam arsitektur, bangunan menampilkan keseimbangan antara elemen ver-tikal (kolom) dan elemen horisontal (balok) antara aksi dan istirahat dan geo-metri yang sempurna.

Gambar 1.10, 1.11. Athens Parthenon yang menggunakan rasio golden section dalam setiap pertimbangan desainnya

(12)

9 Kolom pada Athens Parthenon yang digembungkan sebagai ilusi mata untuk memperlihatkan kolom yang lurus jika bangunan tinggi tersebut dilihat dari depan, hal ini menunjukan hebatnya rasio peradaban ini .

Gambar 1.12. Nashville Parthenon, Amerika Serikat, replika Athens Parthenon, Yunani

(Sumber : Wikipedia.or.id,2015)

(13)

10 B. Arsitektur Romawi

- Budaya : imperium, etruska, nasionalis

- Nilai : helenisme

- Preseden : arsitektur yunani

- Contoh : Rome Pantheon, Italia; Maison Carrée, Prancis

- Warisan : kanonik: roman order, geometri, harmoni, proporsi, tektonik, enteleki; tipologi: rumah, pantheon (kuil), benteng, aquaduct, kuil, kuburan, stadion, theater, sekolah, hypocaust (bagian servis pemandian), apodyterium (peman-dian air hangat), frigidarium (pemandian air hangat), calidarium (pemandian air hangat); struktur: arch, vault, dome; material: batu bata

- Keprofesian : sedikit, bersifat insinyur, arsitek terkenal Marcus Vitruvius Pollio

Romawi adalah bangsa yang bertetanggaan dengan Yunani. Kelak Yunani akan jatuh dan menjadi bagian dari Romawi ketika satu per satu wilayah Yunani di-pindahtangankan oleh Romawi dan Kuda Trojan adalah saksi sejarah leburnya Yu-nani. Kelak Romawi dengan semangat helenismenya dalam menyebarkan kekuasaan akan membentuknya menjadi imperium (negara multimasional), etruska (ne-gara multietnis), dan membina masyarakatnya berjiwa nasionalis dan patriotik.

(14)

11 Kristen iman Paulus. Helenisme, semangat patriotik masyarakat Romawi disebarluaskan dengan meluasnya daerah imperium dan dari pristiwa itulah nilai -ni-lai klasik Yunani yang kemudian diadaptasi menjadi nilai klasik Romawi tersebar di semenangjung Eropa Barat, dataran Afrika Utara, hingga padang Arab dan Persia, membentuk sebuah budaya metropolis, adikuasa, serta mutahir dalam segi tekno-logi. Helenisme Romawi sedikit mengurasi nilai rasionalisme Yunani. Budaya dis-ebarluaskan begitu saja tanpa adanya pendalaman logika sehingga penerapannya dalam arsitektur fungsi-fungsinya lebih profan, urban, dan dengan estetika yang le-bih 8 ekletik dan merdeka.

Gambar 1.13 Rudolf von Alt - Das Pantheon und die Piazza della Rotonda in Rome, menggambarkan suasana peradaban Romawi dahulu

(sumber Wikipedia.or.id, 2015)

(15)

12 Gambar 1.14. Rome Pantheon, Italia

(Sumber: Wikipedia.or.id, 2015)

Gambar 1.15. Maison Carrée, Prancis (Sumber: Wikipedia.or.id, 2015)

Gambar1.16. Denah Rome Pantheon dan denah-denah pantheon lain pengembangan dari denah parthenon Yunani

(16)

13 Arsitektur klasik Romawi memiliki banyak jenis pemandian karena dalam bu-dayanya bath (pemandian) adalah tempat berinteraksinya masyarakat, seperti agora bagi masyarakat Yunani sebelumnya. Dalam pengembangannya, arsitektur klasik Romawi mengembangkan roman order (dari greek order), tipologi baru berupa par-thenon (partheon dengan tipologi denah lingkaran), pergamon (partheon yang lantai dasarnya ditinggikan), teknik konstruksi baru seperti arch, vault, dome yang semua kebanyakan diterapkan dari arsitektur mesopotamia, serta penemuan material baru batu bata, karena arsitektur klasik Romawi masih mengadopsi arsitektur Yunani na-mun bukan lagi menggunakan batu sebagai materialnya (karena kekayaan SDA 10 yang berbeda).

Gambar 1.17. Caracalla Bath, Romawi (Sumber: Wikipedia.or.id,2015)

(17)

14 Gambar 1.19. detail kolom menurut roman order

(disandingkan dengan greek order) (Sumber: Wikipedia.or.id,2015)

Gambar 1.20. Interior Rome Pantheon, memperlihatkan struktur baru berupa arch (leng-kungan), vault (kolong ruang), dan dome (kubah)

(18)

15 (kegunaan), dan firmitas (kekokohan). Dengan adanya karya Vitruvius lahirlah keilmuan dan keprofesian ar-sitektur 11 seperti saat ini.

(19)

16 BAB II

PEMBAHASAN A. Teori Arsitektur Klasik

Arsitektur Klasik merupakan ungkapan dan gambaran perjalanan sejarah arsi-tektur di Eropa yang secara khusus menunjuk pada karya-karya arsitektur yang ber-nilai tinggi dan „first class‟. Disebutkan demikian karena karya-karya ini memperli-hatkan aturan/pedoman yang ketat dan pertimbangan yang hati-hati sebagai landa-san berpikir dan mencipta karya tersebut. Rentang waktu zaman ini adalah dari abad pertama sampai dengan abad ke-14 dengan hembusan angin Romantisism (sebelum masyarakat Eropa memasuki zaman Renaissance sampai dengan pesan dan gerakan Rationalism yang kuat).

Predikat kata „Klasik‟ diberikan pada suatu karya arsitektur yang secara inhe-ren (terkandung dalam benda tersebut yang secara asosiatif seolah-olah selalu me-lekat dengannya) mengandung nilai-nilai keabadian disamping ketinggian mutu dan nilainya. Teori arsitektur Klasik dengan demikian merupakan suatu perwujudankarya arsitektur yang dilandasi dan dijiwai oleh gagasan dan idealisme Teori Vitruvius khu-susnya pada suatu kurun waktu sesudah Vitruvius sendiri meninggal dunia.

(20)

17 Marcus T. Varro, dimana Iso-dore dari Seville menguraikan dan mengembangkan teori Vitruvius dalam tiga un-sur/ elemen bangunan yaitu DISPOSITIO, CONSTRUCTIO dan VENUSTAS. Despo-sitio adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan survai lapangan ataupun pekerjaan pada tapak yang ada, lantai dan pondasi. Venustas adalah berhubungan dengan elemen-elemen yang ditambahkan pada bangunan demi memenuhi hasrat akan rasa keindahan melalui seni ornamen ataupun dekorasi.

Uraian seperti ini me-nunjukan sudah adanya pergeseran pandangan dari Teori Vitruvius. Lebih jauh Iso-dore menyatakan apa itu order sebagai berikut: “Kolom, dinamakan begitu karena tinggi dan bulat, menopang seluruh berat beban bangunan yang ada. Ratio atau Proporsi yang lama menyatakan bahwa le-barnya adalah sepertiga dari tingginya. Dikenal 4 jenis kolom yaitu : Doric, Ionic, Tuscan dan Corinthian, yang berbeda-beda satu dengan yang lain dalam ketinggian dan diameternya. Jenis ke-5, dinamakan ATTIC yang berpenampang persegi-4 ataupun lebih besar dan dibuat dari bata-bata yang disusun”. (Isodore dalam Varro, 19xx).

(21)

18 Hagia Sophia adalah bentuk yang demikian menyatu dengan kota Konstantinopel, tetapi dilain pihak sedemikian bersinar dan indah, serta megah, khu-susnya dalam wawasan perspektivis “Bird Eye View”. Dan semuanya ini menjadi lengkap dan sempurna dengan dipergunakannya bangunan ini untuk kegiatan upa-cara keagamaan” (Isodore dalam Varro, 19xx). Teori arsitektur Klasik ini kemudian berlanjut hingga jaman Gothic. Dan untuk meresapkan dan mengerti Arsitektur Gothic ini diperlukan gambaran suasana masyarakatnya pada saat itu dimana timbul spirit kejiwaan yang berusaha mencari hakekat sifat-sifat Tuhan yang ilahi.

Spirit kejiwaan ini dituangkan dalam suatu tema “cahaya ke -Ilahian dalam ruang arsitektur” (Ven, 1991), Kualitas ruang Arsitektur Klasik Gothic ini dinyatakan sebagai keinda-han visual yang atmosferik, seperti diaphanitas (kesemrawangan), densitas (kepe-katan), obscuritas (kegelapan) atau umbria (bayangan). Gambaran ruang Arsitektur Gothic ini juga dinyatakan sebagai konsep kecerlangan atau kebeningan yang an-tara lain dapat dilihat pada bentuk-bentuk jendela khususnya bentuk jendela mawar stained-glass (rosetta) ataupun karya seni kaca timah lainnya.

(22)

19 mengandung pemikiran dan nilai-nilai yang berbeda, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Angkor).

Ungkapan nilai-nilai aritektur yang disebutkan terakhir ini dinyatakan dan ditulis sebagai suatu teori arsitektur, seperti tertulis sebagai berikut: “Kita dapat menyatakan bahwa bangunan-bangunan ini sebagai obyek arsitektur adalah bersifat massive-tertutup, karena terisolsikan dari ruang sekitarnya, bahwa secara eksterior orang-orang dapat berkeliling melihatnya. Dan karena itu, yang terpenting dan teristimewa dalam me-wujudkan identitas bentuk adalah pengolahan tampak dan tampilannya, pengolahan sudut-sudutnya, pengolahan pertemuannya dengan tanah dan ketinggiannya yang menmbus langit.

(23)

20 BAB III

KESIMPULAN

(24)

21 DAFTAR PUSTAKA

Ching, Francis DK, 1987, “Architecture: From, Space and Order”, Van Nostrand

Reinhold Funk dan Wagnalls, 1990, New Encyclopedia , vol –22.

Klassen, Winand, 1992, “Architecture and Philosophy”, Philipines: Calvano Printers Cebu City.Kruf,

Hanno,Walter, 1994, “A History of Architectural Theory”, Princenton Architectural Press

Mangunwijaya, YB, 1987, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta

Meiss, Pierre von, 1985, Elements of Architecture, Van Nostrand Reinhold

Sumalyo, Yulianto, 1997, Arsitektur Moder Akhir Abad XIX Dan Abad XX. Gajahmada University Press, Yogyakarta.

Watkin, david, 1996, A history of Western Architecture, Laurence King.

Sumber Internet :

http://annasmaulana.blogspot.com/2013/05/sejarah-arsitektur-arsitektur-klasik_21.html (diakses Tanggal 17 Juni 2015 Pukul 1.14)

http://rurucoret.blogspot.com/2008/12/architecture-modern.html (diakses tanggal

17 Juni 2015 Pukul 2.05)

http://alexnova-alex.blogspot.com/2011/06/teori-arsitektur-klasik.html (diakses Tanggal 17 juni 2015 pukul 3.40)

http://www.perkuliahan.com/makalah-tentang-arsitektur-modern (diakses tanggal

Gambar

Gambar 1.2. Reruntuhan agora di Athena
Gambar 1.3. Megaron, Yunani
Gambar 1.5.  Denah Megaron dan Athens Parthenon
Gambar 1.6. Athens Treassure, Yunani, memperlihatkan struktur
+7

Referensi

Dokumen terkait