• Tidak ada hasil yang ditemukan

STABILITAS HASIL CALON HIBRIDA JAGUNG PR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STABILITAS HASIL CALON HIBRIDA JAGUNG PR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

STABILITAS HASIL CALON HIBRIDA JAGUNG PROVIT A PADA

BERBAGAI LINGKUNGAN TUMBUH DI DATARAN RENDAH TROPIS

N. N. Andayani, Jamaluddin, dan M. Yasin HG Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Jagung Provit-A mempunyai kandungan beta carotene yang lebih tinggi dibanding jagung biasa dan bermanfaat untuk mencegah kebutaan dini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui stabilitas hasil sejumlah calon hibrida jagung Provit-A pada berbagai lingkungan tumbuh dan potensi hasil tertinggi selama dua musim tanam MH dan MK. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2012 (MH) dan Juli-Oktober 2012 (MK), menggunakan enam genotipe calon hibrida Provit-A silang tunggal dan tiga varietas pembanding (Bima 13Q, Bisi 2 dan Provit A2). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan di lima lokasi. Analisis diawali pada setiap lokasi/musim, kemudian dilanjutkan dengan uji stabilitas hasil pada interaksi (GxL) dua musim tanam MH dan MK, serta interaksi GxLxM. Hasil tertinggi diperoleh dari genotipe G2 (KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01) yaitu 7,85 t/ha pada MH dan 8,81 t/ha pada MK, lebih tinggi dari pembanding terbaik Bisi 2 yang hasilnya 7,53 t/ha pada MH dan 7,38 t/ha pada MK. Semua genotipe memiliki hasil yang konsisten/stabil pada lokasi yang berbeda, kecuali G4 (KUI Carotenoid Syn FS.5-1-5-B-B x T01) pada MH. Genotipe calon hibrida Provit-A memiliki asi < 5,0 hari.

Kata kunci: provit-A, stabilitas hasil, interaksi GxLxM

PENDAHULUAN

Jagung Provit-A mempunyai kandungan vitamin A (beta carotene) tinggi

berkisar 8-15 µg/g, lebih tinggi dibanding jagung biasa (non Provit-A) yang hanya

mengandung beta carotene 1,0 µg/g. Beta carotene bermanfaat untuk pertumbuhan

badan, mencegah kebutaan dini dan meningkatkan nafsu makan pada anak balita

(Science Daily 2008, Nutra 2008, Cong Khan 2007, Bwibo et al. 2003). Selain itu beta

carotene juga mengandung antioksidan tinggi. Negara-negara penghasil jagung seperti

Cina, USA dan Amerika Latin sudah mengembangkan jagung Provit-A untuk konsumsi

pangan dalam mengantisipasi penyakit buta dini dan defisiensi vitamin A. Balitsereal

sudah merilis dua varietas bersari bebas jagung Provit-A pada tahun 2011 yaitu

varietas jagung Provit-A1 dan Provit-A2 dengan potensi hasil 6-7 t/ha.

Kegiatan UML (Uji Multi Lokasi) adalah upaya untuk mengetahui stabilitas hasil

suatu genotipe sebagai calon varietas apakah ada interaksi terhadap lingkungan

tumbuhnya (GxL). Crossa et al. (2002) telah melakukan analisis stabilitas hasil

(2)

sederhana, sidik komponen utama serta biplot diterapkan untuk mengambil kesimpulan

entri unggulan sebagai kandidat calon varietas. Penelitian juga dilakukan oleh Nur et

al., (2007) pada empat belas genotipe jagung hibrida untuk melihat stabilitas

komponen hasil sebagai indikator stabilitas hasil pada 16 genotipe jagung hibrida.

Lingkungan tumbuh genotype yang baik akan meningkatkan hasil produksi. Program

pemuliaan tanaman tidak hanya terfokus pada perkembangan varietas yang berdaya

hasil tinggi, namun juga kemampuan varietas untuk beradaptasi pada berbagai

lingkungan tumbuh (Mulusew et al. 2009). Penampilan dan hasil suatu genotipe

ditentukan oleh faktor genetik, faktor lingkungan dan interaksi keduanya (Roy 2000).

Faktor genetik menjadi perhatian utama bagi para pemulia, karena faktor ini diwariskan

dari tetua kepada keturunannya, sedangkan faktor lingkungan menjadi perhatian bagi

para Ekologist, dengan membuat lingkungan tumbuh yang semakin baik maka hasil

juga diharapkan meningkat (Baihaki, 2000). Suatu genotipe yang memberikan hasil

tertinggi di suatu lokasi, sering tidak konsisten di lokasi yang lain sehingga menyulitkan

pemulia untuk memilih genotip yang superior (Sumantri et al. 1991; Suwarno et al.

1984; Tirtowirjono 1988).

Pendekatan pemuliaan untuk memilih genotipe yang hasilnya tinggi ditentukan

oleh tujuan perakitan varietas, yaitu varietas yang spesifik lingkungan (Kang dan Miller,

1984) atau varietas yang stabil serta beradaptasi pada lingkungan luas (Subandi 1982).

Melalui uji multilokasi, dapat dilakukan estimasi besaran nilai interaksi genotip x

lingkungan yang beragam. Pemahaman interaksi genotipe x lingkungan sangat

diperlukan untuk mengidentifikasi genotipe yang hasilnya tinggi untuk lingkungan

spesifik, sehingga diperoleh hasil tinggi. Sebaliknya, pemilihan genotipe yang

beradaptasi pada lingkungan luas didasarkan pada nilai duga interaksi genotipe x

lingkungan yang tidak nyata menggambarkan kemampuan genotipe sama pada

kondisi lingkungan berbeda (Soemartono et al. 1992).

Untuk mendapatkan genotipe beradaptasi luas, perlu diperhatikan stabilitas

hasil secara sistematis dan kontinyu mulai dari pembentukan populasi dasar sampai

tahap evaluasi (Subandi et al. 1979). Syukur et al. (2012) interaksi genotipe x

lingkungan dapat digunakan oleh pemulia untuk mengembangkan varietas unggul baru

yang spesifik lingkungan atau varietas yang beradaptasi luas. Jika interaksi (genotipe x

lingkungan) nyata maka diperlukan pengembangan suatu varietas yang spesifik lokasi.

Sebaliknya bila interaksi (genotipe x lingkungan) tidak nyata, dapat dikembangkan

varietas beradaptasi luas. Interaksi genotipe dan lingkungan berpengaruh terhadap

perkembangan galur hasil seleksi, di mana galur yang diuji menunjukkan daya hasil

(3)

memperkecil pengaruh interaksi antara genotipe dengan lingkungan dapat dilakukan

dengan stratifikasi lingkungan, sehingga galur-galur yang ditanam sesuai dengan

kondisi lingkungannya (spesifik lokasi). Penelitian mengenai interaksi antara genotipe

dengan lingkungan pada tanaman jagung, padi dan kedelai banyak dilakukan (Satoto

et al. 200, Kasno et al. 2007, Harsanti et al. 2003, Saraswati et al. 2006, Adie et al.

2007), dan analisisnya menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan sangat berperan

terhadap hasil tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas hasil dari sejumlah calon

hibrida jagung Provit-A pada berbagai lingkungan selama dua musim tanam MH dan

MK. Pasangan calon hibrida dengan potensi hasil tertinggi diharapkan merupakan

calon varietas hibrida silang tunggal Provit-A.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2012 (MH) dan Juli –

Oktober 2012 (MK). Lokasi penelitian yaitu KP. Maros, KP. Bajeng, Polman Sulbar,

Donggala Palu, dan KP. Pandu Manado. Penelitian disusun dalam bentuk Rancangan

Acak Kelompok (RAK) tiga ulangan. Materi genetik yang digunakan adalah enam

genotipe perlakuan dan tiga entri varietas pembanding. Setiap entri ditanam empat

baris dengan jarak 75 x 20 cm satu tanaman per lubang.

Tabel 1. Deskripsi lokasi pengujian calon hibrida jagung Provit-A pada MK dan MH 2012

Pemupukan dengan menggunakan ponska dan urea dengan takaran masing

masing 200 kg/ha dan 300 kg/ha, penyiangan dan pengendalian OPT dilaksanakan

semaksimalnya termasuk penyiraman pada pertanaman saat MK. Analisis diawali

pada setiap lokasi/ musim, kemudian dilanjutkan dengan uji stabilitas hasil pada

interaksi (GxL) dua musim tanam MH dan MK, dilanjutkan interaksi GxLxM. Parameter

stabilitas dihitung dengan menggunakan program MSTATC. Hipotesis stabilitas hasil

pada koefisien regressi H0:βi=1 vs H1: βi≠1 (i=1,2,3,…9) diuji dengan t hitung, jika t hit

(4)

tergolong stabil, t hitung = (bi-1)/se, se : simpangan baku. t tabel pada derajat bebas = 44

(entri = 9, lokasi = 5). Materi yang diuji sebanyak enam kandidat calon hibrida Provit-A

yaitu :

Kandidat calon hibrida Jagung Provit-A, yaitu

1. G1 : CML130-B-B x T01

2. G2 : KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01 3. G3 : CML305-B-B x T01

4. G4 : KUI Carotenoid Syn FS.5-1-5-B-B x T01 5. G5 : KUI Carotenoid Syn FS.17-3-1-B x T01

hujan diperoleh rataan tertinggi adalah G2 (KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01)

yaitu 7,85 t/ha, kemudian menyusul G6 (KUI Carotenoid Syn FS.25-3-2-B-B x T01)

yaitu 7,66 t/ha, dan G4 (KUI Carotenoid Syn FS.5-1-5-B-B x T01) yaitu 7,55 t/ha.

Ketiga genotipe terbaik dari hibrida Provit A lebih tinggi hasilnya dibanding varietas

chek (Bima 13Q, Bisi 2 dan Provit-A2). Sedangkan untuk pembanding hasil tertinggi

adalah G8 (Bisi-2) yaitu 7,53 t/ha. Hal ini memberikan indikasi bahwa pertanaman saat

MH ketiga hibrida silang tunggal lebih baik hasilnya dibanding chek terbaik Bisi 2

(Tabel 2).

Tabel 2. Rataan hasil biji calon hibria Provit-A pada lima lokasi, MH 2012

(5)

Pada musim kemarau genotipe kandidat/calon hibrida hasil lebih tinggi dari

pembanding. Tabel 3 menunjukkan adanya lima genotipe yang memiliki rataan hasil

lebih tinggi dari varietas pembanding. Hasil rataan tertinggi yakni G2 (KUI Carotenoid

Syn FS.17-3-2-B-B x T01) sebesar 8,81 t/ha dan terendah G5 (KUI Carotenoid Syn

FS.17-3-1-B x T01) sebesar 6,49 t/ha, sedangkan hasil tertinggi dari pembanding G7

(Bima 13Q) dan G8 (Bisi 2) sebesar 7,38 t/ha (Tabel 3).

Tabel 3. Rataan hasil biji calon hibria Provit-A pada lima lokasi, MK 2012

Genotipe KP. Maros KP. Bajeng Sulbar Palu KP. Pandu Rataan

G1 7,22 9,39 7,28 6,53 6,78 7,44

G2 9,09* 10,76* 8,73 7,76 7,69 8,81

G3 7,29 9,78 9,25 7,54 7,94 8,36

G4 6,89 8,60 8,45 8,93 6,22 7,82

G5 5,10 6,16 7,36 7,64 6,17 6,49

G6 7,61* 9,53 6,67 7,31 6,30 7,48

Check

G7 6,33 8,26 7,93 8,41 5,96 7,38

G8 5,14 8,92 6,78 8,83 7,25 7,38

G9 4,95 5,41 5,16 7,20 5,48 5,64

KK 15,77 11,34 15,03 14,20 10,76 13,42

BNT 5% 1,23 1,14 1,33 1,30 0,85 1,17

* = berbeda nyata dengan pembanding terbaik (Bisi 2) pada taraf uji BNT 5%

Berdasarkan hasil bobot biji yang diperoleh dari kedua musim tanam MH dan

MK dapat diketahui bahwa keenam genotipe calon hibrida Provit-A dapat beradaptasi

baik dengan hasil mencapai > 7,0 t/ha. Analisis statistika dengan menggunakan uji

BNT 5% untuk membandingkan genotip uji dengan varietas Bisi 2 sebagai pembanding

terbaik menunjukkan bahwa genotip uji G2 (KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01)

memperlihatkan hasil biji yang nyata lebih tinggi di dua lokasi yaitu KP. Maros dan KP.

Bajeng pada saat MK, sedangkan saat MH tidak nyata. Rataan hasil (Tabel 4) tertinggi

dari G2 (KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01) yaitu 7,85 t/ha saat MH dan 8,81

t/ha saat MK lebih tinggi dari pembanding terbaik Bisi-2 yang hasilnya 7.53 t/ha saat

(6)

Tabel 4. Rataan hasil saat MH dan MK, 2012

setiap genotipe pada masing-masing lokasi berbeda sangat nyata dan interaksi antara

genotipe dengan lokasi berbeda nyata. Hal ini dapat diartikan bahwa tanggapan

genotipe jagung terhadap perubahan lokasi hasilnya akan meningkat jika lingkungan

tumbuh semakin baik. Analisis interaksi GxL disajikan pada Tabel 5 dan dapat

diketahui bahwa G1–G6 memperlihatkan interaksi nyata sehingga dapat diartikan

bahwa tanggapan genotipe jagung terhadap perubahan lokasi sangat stabil.

Pada musim tanam MH dan MK ditunjukkan nilai KT genotipe lebih tinggi dari

pada KT interaksi genotipe dengan lingkungan. Hal ini mengindikasikan bahwa

pengaruh faktor genetik lebih dominan daripada faktor lingkungan.

(7)

Nilai KT genotipe uji yang lebih tinggi dari pada KT interaksi GxM, GxL dan

GxLxM mengindikasikan bahwa pengaruh faktor genetik lebih dominan daripada faktor

lingkungan. Nilai koefisien keragaman di lokasi pengujian hampir semua dibawah 15%.

Hal ini sesuai dengan penelitian Azrai et al., (2005) berarti bahwa keragaman antar

ulangan ditimbulkan oleh faktor lain yang tidak bisa dikendalikan sangat kecil .

Tabel 6 menunjukkan analisis tiga faktor yaitu GxLxM dan terlihat bahwa

terdapat pengaruh tidak nyata dari ketiga faktor yang berinteraksi. Analisis gabungan

karakter hasil menunjukkan bahwa interaksi GxM serta GxL berpengaruh nyata. Hal ini

menunjukkan bahwa dalam setiap MH dan MK enam entri yang dievaluasi akan

memberikan respon hasil (bobot biji) yang berbeda.

Tabel 6. Analisis gabungan genotipex lingkungan x musim (GxLxM) pada MH dan MK 2012

SK db JK KT Fhit

Musim (M) 1 10,50 10,50 8,09**

Lokasi (L) 4 107,78 26,95 20,76**

M x L 4 97,09 24,27 18,70**

Repl/(MxL) 20 30,82 1,54

Genotipe (G) 8 104,88 13,11 10,10**

M x G 8 17,81 2,23 1,72**

L x G 32 63,97 1,99 1,54*

M x L x G 32 56,23 1,76 1,35tn

Galat 160 207,63 1,23

Total 269 696,71

KK = 15.74 %

Pada Tabel 7 dan 8 disajikan komponen peubah penunjang calon hibrida

Provit-A saat MH dan MK. Rataan peubah penunjang berupa komponen vegetatif dan

generatif. Peubah tinggi tanaman dan tinggi tongkol menunjukkan calon hibrida

(8)

Tabel 7. Rataan peubah penunjang calon hibrida Provit-A saat MH 2012

Peubah umur berbunga jantan dan betina menunjukkan bahwa keenam entri

sangat singkron masa menyerbuk dan terdapat kisaran umur bunga jantan dan betina

(asi : anthesis silking interval) <3,0 hari. ASI adalah selisih umur berbunga betina

terhadap umur berbunga jantan, nilai asi >6,0 hari produksi jagung tidak maksimal

(Jugenheimer, 1985; Hallauer dan Miranda, 1981).

Tabel 8. Rataan peubah penunjang calon hibrida Provit-A saat MK 2012

Genotype Tinggi tan.

hibrida mencapai maksimal baik saat MH maupun MK. Pada Tabel 7 dan 8 diketahui

bahwa calon hibrida Provit-A mempunyai periode umur yang lebih genjah tiga-lima hari

dibanding varietas cek Bisi-2.

Peubah rendamen atau persentase bobot biji terhadap bobot biji dan

(9)

Persentase rendamen yang semakin tinggi memberikan indikasi bahwa bobot biji per

satuan tongkol semakin tinggi. Pada Tabel 7 dan 8 terlihat bahwa saat MH G4 (KUI

Carotenoid Syn FS.5-1-5-B-B x T01) mempunyai rendamen lebih tinggi yaitu 78,3%

dibanding rendamen tertinggi varietas cek G9 (Provit-A2) yaitu 76,2%. sedangkan saat

MK G2 (KUI Carotenoid Syn FS.17-3-2-B-B x T01) mempunyai rendamen lebih rendah

yaitu 80,0% dibanding G8 (Bisi-2) yaitu 80,4% .

Pada Tabel 9 disajikan parameter stabilitas hasil calon hibrida jagung Provit-A

saat MH dan MK. Hasil analisis diperoleh bahwa pada saat MH terdapat dua genotipe

yang tidak stabil yaitu G4 (KUI Carotenoid Syn FS.5-1-5-B-B x T01) dan G7 (Bima

13Q), dimana nilai t hitung lebih besar dari t tabel, sedangkan tujuh genotype lainnya

stabil. Pada saat MK kesembilan genotipe stabil, karena semua nilai t hitung lebih kecil

dari t tabel.

Tabel 9. Parameter stabilitas hasil pada MH dan MK 2012

MH r R2 α β Se MSe t hit

Ket. : r = koefisien korelasi sederhana Se = galat baku R2 = koefisien determinasi t hit = t hitung

(10)

KESIMPULAN

1. Rataan hasil tertinggi diperoleh oleh genotipe G2 (KUI Carotenoid Syn

FS.17-3-2-B-BxT01) yaitu 7,85 t/ha untuk MH dan 8,81 t/ha untuk MK, lebih tinggi dari

pembanding terbaik Bisi-2 yang hasilnya 7,53 t/ha untuk MH dan 7,38 t/ha untuk

MK.

2. Semua genotipe memiliki hasil yang stabil kecuali G4 (KUI Carotenoid Syn

FS.5-1-5-B-B x T01) saat MH.

3. Genotipe calon hibrida Provit-A mempunyai tinggi tanaman dan tinggi tongkol lebih

tinggi dan nilai asi < 5,0 hari sehingga mempunyai periode umur yang lebih genjah

tiga-lima hari dibanding varietas cek Bisi-2.

DAFTAR PUSTAKA

Adie, M.M., H. Soewanto, T.C.P. Agus, J.S. Wahono, G.W.A. Susanto, dan A. Krisnawati. 2007. Potensi hasil, stabilitas, dan keragaan karakter agronomic galur-galur kedelai berbiji besar. Akta Agrosia Edisis Khusus 2:233-238

Azrai, M. dan Firdaus Kasim. 2005. Stabilitas hasil jagung hibrida. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 25(03):163-169

Baihaki, A. 2000. Teknik rancang dan analisis penelitian pemuliaan [Diktat Kuliah]. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung. 91 hal.

Bwibo N. O. Neumann C. G. 2003. Supplement : Animal source food to Improve Micronutrient Nutrition in Developing Countries. The American Society for Nutritional science. J. Nutr. 133-3936S-3940S. The journal of nutrition.

Cong Khan N. West C. E. Pee A D. Bosch D. Phung H D. Hulshof P Jm. Khoi H H. Verhoef H. and Hautvast GAJ. 2007. The contribution of plant foods to the Vitamin A supply of lactating women in Vietnam: a randomized controlled trial. American Journal of Crinical Nutrition. Vol 85. No 4. 1112-1120.

Crossa. J., P. L. Cornelius., and W. Yan. 2002. Biplots of linier-bilinier models for studying cross over GxE interaction. Crop Science, 42:619-633

Gomez. K. A. and A. A. Gomez. 1984. Statistical Procedures for Agricultural Research. 2nd. An IRRI Book. John Wiley & Sons. Singapore. 441

Granados, G. 1998. Population improvement of maize. Breeding division of CIMMYT. Paper presented in training of specialty maize breeding. El Batan Mexico. CIMMYT.

(11)

Harsanti, L., Hambali, dan Mugiono. 2003. Analisis daya adaptasi 10 galur mutan padi sawah di 20 lokasi uji daya hasil pada dua musim. Zuriat 144(1):1-7

Jugenheimer. R. W. 1985. Corn Improvement. Seed Production and Uses. Robert E Krieger Publishing Company Malabar. Florida.

Kang, M.S., dan J.D. Miller, 1984. The genotype-environment for cane and sugar yield and their implications in sugarcane breeding. Crop. Sci. 24 : 455-459.

Kasno, A., Trustinah, J. Purnomo. Dan B. Swasono. 2007. Interaksi genotype dengan lingkungan dan implikasinya dalam pemilihan galur harapan kacang tanah. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 26(3):167-173.

Nur , A., M. Isnaini, R.N. Iriany, dan A. Takdir M. 2007. Stabilitas komponen hasil sebagai indicator stabilitas hasil genotype jagung hibrida. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 26(2):106-113.

Nutra. 2008. ALA can benefit dry eye syndrome. News head lines research. Ingredients. Com. Breaking news on supplements & nutrition-Nort America.

Mulusew, F., E. Fikiru, T. Tadesse, and T. Legesse. 2009. Parametric stability analysis in field pea (Pisum sativum L.) under South Eastern Ethiopian condition. Agric. Sci. 5(2):146-151

Roy, D. 2000. Plant breeding, analysis and exploitation of variation. Narosa Publishing House, New Delhi. 701 hal.

Saraswati, M., A.N. Oktafian, A. Kurniawan, dan D. Ruswandi. 2006. Interaksi genotype x lingkungan, stabilitas, dan adaptasi jagung hibrida harapan Unpad di 10 lokasi di pulau Jawa. Zuriat 17(1):72-85

Satoto, I.A. Rumanti, M. Diredja, and B. Suprihatno. 2007. Yield stability of ten hybrid rice combinations derived from introduced cms and local restorer lines. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 26(3):145-149

Science daily. 2008. Science news. Economical way to boost vitamin A content of corn found. Your source for the latest research news. USA

Soemartono, Nasrullah, dan H. Hartiko. 1992. Genetik kuantitatif dan bioteknologi tanaman. PAU. Bioteknologi, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Soemantri, I. H., Sutjihno dan Suharsono. 1991. Pengaruh koefisien keragaman pada analisis stabilitas hasil galur-galur padi sawah. Penelitian Pertanian. 11(1) : 38-41.

Subandi, M.R. Hakim, A. Sudjana, M.M. Dahlan and A. Arifin. 1979. Mean and stability for yield of early and late varieties of corn in varying environments. Cont. CRIA. 51:24p.

(12)

Suwarno, Z. Harahap, dan H. Siregar. 1984. Interaksi varietas dan lingkungan pada daya hasil padi. Penelitian Pertanian. 4 (2) : 86-90.

Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2012. Teknik Pemuliaan Tanaman. Penebar Swadaya. Bogor.

Gambar

Tabel 1. Deskripsi lokasi pengujian calon hibrida jagung Provit-A                                  pada MK dan MH 2012
Tabel 2. Rataan hasil biji calon hibria Provit-A pada lima lokasi, MH 2012
Tabel 3. Rataan hasil biji calon hibria Provit-A pada lima lokasi, MK 2012
Tabel 4. Rataan hasil saat MH dan MK, 2012
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan ekstrakurikuler memiliki jumlah siswa dan siswi yang bisa mengikuti ekstrakurikuler ini dan untuk informasi masing-masing ekstrakurikuler ini bisa bertanya

Studi pendahuluan dilakukan untuk memperoleh data jumlah pendengar aktif pada acara CBL school show , bentuk program yang telah berjalan, permasalahan yang

Berdasarkan apa yang telah diuraikan pada masing-masing bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki alam yang berpotensi

diperoleh terdiri atas 16 buah judul iklan dengan 232 dialog. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa ragak bahasa yangt terdapat dalam iklan acara di radio RRI Surakarta

Besarnya jumlah anak-anak di negara-negara berkembang dengan angka kemiskinan yang tinggi merupakan problema tersendiri, khususnya terkait dengan banyaknya anak-anak yang terpaksa

Kombinasi factor dengan level yang memberikan peningkatan kekerasan yaitu dengan temperature 800 o C dengan media pendingin oli sebesar 111.8 HB.. Sedangkan yang

Setelah menyelesaikan pengambilan data, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan prototipe website agregasi produk dengan fungsi yang spesifik terhadap direktori

Tujuan dari perancangan ini adalah merancang buku merangkai bentuk 3D untuk memperkenalkan alat musik tradisional Nusantara dengan lebih unik dan menarik untuk