HATI DAN KAITANNYA DENGAN ILMU-ILMU
PENGETAHUAN
(ILMU AKAL, AGAMA, DUNIA, DAN AKHIRAT)
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Tasawuf III
Dosen Pengampu: Nasuha, M.Ag
Disusun oleh:
Ahmad Mutohar/134411006
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
2015
I. PENDAHULUAN
Manusia memiliki dua sisi yang selalu berhubungan, yaitu jasad (lahir) dan non-jasad (batin) dengan fungsinya dalam kehidupan dunia yang berupa khilafah (perwakilan) Allah SWT. Dan tujuan perwakilan ini tidak lain kecuali untuk merealisasikan makna ibadah kepada Allah SWT. Sisi batin yang dimiliki manusia inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya sebagai instrumen penyempurna bagi manusia.
Sebagian persoalan yang patut untuk disoroti tentang instrumen batin yang ada pada manusia yang biasa disebut al-kainunah ar-ruhiyah (eksistensi ruhani), atau dapat disebut juga dengan al-jihaz al-mutakamil li al-insan (instrumen penyempurna bagi manusia). Menurut pandangan Dr. Kamal Ja’far, eksistensi ruhani atau instrumen penyempurna bagi manusia ini meliputi seluruh kekuatan potensi manusia : ruhani, ‘aqliyyah, dan kehendak.1 Dalam hal ini, menurut kalangan sufi, instrumen
penyempurna bagi manusia ini disebut dengan qalb (hati).
Bagi seorang sufi, hati adalah komponen utama manusia sebagai tempat bersemayamnya ilmu pengetahuan (mahal al-‘ilmi). Hati yang bersifat halus ( al-lathifah), Ketuhanan (al-ruhaniyah) mengatur seluruh anggota badan yang turut dan tunduk kepadanya.
Hati (qalb) akan mencapai puncak pengetahuan apabila manusia telah menyucian dirinya yang ditandai oleh adanya ilham. Dengan hati yang berfungsi optimal dimungkinkan bagi seseorang untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari Allah.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana fungsi hati dalam menerima ilmu?
2. Bagaimana keadaan hati dan kaitannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan?
III. PEMBAHASAN
A. Hati dan Fungsinya dalam Menerima Ilmu
Dalam pandangan ulama Sufi, hati adalah tempat penerimaan (belajar) sehingga ia mampu meneliti, menghafal, dan mengungkapkan isi Al-Quran al-Karim tentang potensi persepsi secara global. Kalangan Sufi menganalisis instrumen penyempurna ini kepada 4 posisi (maqam) secara bertahap, yaitu: 1) posisi dada (shadr); 2) posisi hati (qalb); 3) posisi fu’ad (jantung/wadah hati); 4) posisi lubb (intisari akal).
Dada (shadr) adalah tempat menyimpan ilmu yang diperoleh dari hikmah (ilmu intuitif) dan khabar (ilmu indera). Atau setiap (ilmu) yang diungkapkan melalui bahasa ungkapan, dan hati menjadi sebab awal dimana belajar dan mendengar sampai kepadanya. Maka setiap ilmu tidak akan dapat dicapai kecuali melalui belajar, merekam, ijtihad, dan menerima kewajiban keagamaan; baik Al-Quran, Sunnan Nabi saw., maupun lainnya.2
Dengan demikian, ilmu dan persepsi dada merupakan ‘ilmi kasabi ‘aqliyyah (persepsi akal yang diusahakan) yang menghasilkan analisis dan ijtihad dalam pemeliharaan dan pertimbangan.
Hati (qalb) adalah sumber dasar ilmu, karena ia seperti mata air, dan dada seperti kolam yang darinya keluar hati penghasil ilmu. Atau (ilmu) masuk dalam hati melalui pendengaran padanya. Ulama Sufi lebih mengkhususkan hati dengan istilah ‘ain al-qlb (mata hati). Berkenaan dengan ini, Dzun an-Nun al-Mishri berkata “Allah SWT memberi keistimewaan-keistimewaan pada makhluk-Nya sehingga mereka itu mampu memandang alam gaib yang terhijab melalui mata hati.3
Apabila dada merupakan tempat untuk mengasilkan “ilmu ibarat” (analogis), maka hati merupakan sumber ilmu yang berada di dalam kandungan ilmu ibarat yang disebut dengan “ilmu hikmah” dan “ilmu isyarat”. Demikian juga ilmu yang masuk ke dalam dada melalui latihan berulang-ulang, keseriusan, dan ketekunan. Sedangkan ilmu yang keluar dari dalam hati—berupa kelembutan-kelembutan hikmah—yang berupa ilham.
Kita ketahui bahwa fungsi dari hati adalah ilmu atau pengetahuan intuitif (ma’rifah). Sedangkan fu’ad (intisari hati) yang menduduki posisi ketiga dari tingkatan-tingkatan hati adalah sumber cahaya ma’rifah yang mempunyai fungsi
sebagai penglihatan yang benar (ru’yah). Menghimpun pengetahuan dan penglihatan fu’ad menghasilkan al-ghaib ‘iyanan (pengetahuan gaib dengan penglihatan nyata), dimana istilah ini terkait dengan konsep ‘ilm al-yaqin (ilmu keyakinan yang benar) dan ‘ain al-yakin (penglihatan yang yakin atas kebenaran). Konsep ini terkait erat dengan bashirah (penglihatan batin).4
Posisi keempat (terakhir) dari tingkatan-tingkatan hati adalah lubb (intisari akal). Dalam pandangan Sufi, cahaya itu ada empat: cahaya Islam, cahaya iman, cahaya ma’rifah, dan cahaya tauhid. Cahaya tauhid inilah cahaya asal bagi seluruh cahaya dimana sumbernya adalah lubb. Ulama Sufi mengatakan, “Tauhid adalah rahasia (sirr), ma’rifah adalah kebajikan (birr), iman adalah penjaga dan penyaksi sirr, dan Islam adlah tanda syukur atas birr dan penyerahan hati bagi sirr.5
Namun yang dimaksud (lubb) disini adalah nur mabsuth (cahaya luas) seperti segala sesuatu yang asal, atau ‘aql muwaffiq (akal yang mendapat pertolongan Allah), seperti yang dikatakan al-Muhasibi, “Setiap sesuatu memiliki esensi, esensi manusia adalah akal, dan esensi akal adalah taufiq (pertolongan Allah). Mereka juga menyebut (lubb) dengan ‘aql al-hidayah (akal yang mendapat petunjuk Allah), sebagaimana yang dikatakan Sahal at-Tustari, “Susungguhnya Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar bertaqwa kepada-Nya berdasarkan kemampuan akal-akal yang khusus mendapat cahaya petunjuk (nur hidayah) dan penerimaan dari Allah. Maka sesuai apa yang dimaksud dengan perkataan mereka, “Sesungguhnya tauhid adalah sirr (rahasia Allah) karena ia adalah hidayah Allah.6
Dari paparan di atas, maka menjadi jelas bahwa adanya hubungan talenta-talenta manusia dengan cahaya-cahaya yang diberikan kepada mereka. Cahaya-cahaya ini berpindah posisi melalui pemahaman manusia dari satu tingkatan ke tingkatan lain yang berakhir pada lubb. Ini berarti bahwa posisi-posisi instrumen penyempurna bagi manusia ini keseluruhannya berkaitan dengan kemurnian iman kepada Allah SWT. Keseluruhan posisi ini juga menghentikan segala amal
perbuatan yang tidak berkaitan dengan iman dan berorientasi pada persoalan-persoalan akhirat.
B. Keadaan Hati dan Kaitannya dengan Ilmu-ilmu pengetahuan
Menurut pandangan Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, hati (qalb) memiliki keistimewaan tersendiri sehingga kerenanya manusia dapat menjadi mulia dan menjadi ahli taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Keistimewaan itu kembali kepada dua hal, yaitu ‘ilmu dan iradah (kemauan).7
‘Ilm yaitu kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengetahui urusan dunia, urusan akhirat dan berpikir hakikat. Sedangkan iradah yaitu jika dengan akal manusia telah dapat menemukan akibat dari suatu masalah dan jalan baik yang berada didalamnya, maka dari inti akalnya akan muncul kerinduan kemaslahatan, serta menunjukkan sebab-sebab dan keinginan (iradah) untuk meraihnya.8
Bagi Al-Ghazali, sampainya hakikat yang diketahui ke dalam hati (qalb) bagaikan benda dengan cermin. Tiga instrumen yang harus ada, yaitu: cermin, benda dan sampainya bayangan benda pada cermin. Demikian juga dalam hal ilmu; ada qalb, hakikat sesuatu, serta sampai dan hadirnnya hakikat sesuatu ke dalam qalb. Yang mengetahui adalah qalb dimana hakikat sesuatu bertempat padanya. Yang diketahui adlah hakikat segala sesuatu. Ilmu adalah hadirnya bayangan sesuatu ke dalam cermin qalb. Qalb (hati) adalah cermin yang siap terbuka padanya hakikat sesuatu.9
Begitu pula qalb yang mempunyai fungsi sebagai cermin yang disediakan untuk menampakkan kepadanya “hakikat kebenaran” akan kosong dari ilmu jika disebabkan oleh lima hal, yaitu: 1) karena kekurangan pada hati itu sendiri, seperti hati seorang bayi; 2) karena kotoran dosa dan sifat-sifat yang menjijikan yang bertumpuk-tumpuk pada cermin hati yang disebabkan nafsu syahwat; 3) karena terlepasnya hati dari arah hakikat yang dicari; 4) karena terhalangi oleh keyakinan sejak kecil melalui taklid buta dan menerimanya dengan positive thinking: 5) karena tidak mengetahui arah terbukanya hakikat yang dicari.10
7 Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, terj. Ismail Ya’kub, Ihya’ Al-Ghazali, (Jakarta: CV. Faisan, 1986), jil. IV, hlm. 19
8 Imam Al-Ghazali, Al-Risalah Al-Laduniyah, terj. M. Yaniyullah, Ilmu Laduni, (Bandung: Mizan, 2004), hlm 72
9 Ibid., hlm. 73-74. Lihat juga Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, terj. Ismail Ya’kub, Ihya’ Al-Ghazali,
(Jakarta: CV. Faisan, 1986), jil. IV, hlm. 33
Masih berpijak dengan pandangan Al-Ghazali tentang keadaan hati dengan menyandarkan kepada ilmu pengetahuan, ia membagi ilmu menjadi dua bagian, yaitu: Ilmu ‘aqliyah (akal) dan ilmu syari’ah (agama) selanjutnya ilmu ‘aqliyah (akal) dibagi lagi menjadi ilmu duniawiyah (keduniaan) dan ilmu ukhrawiyah (keakhiratan).11
1. Ilmu Akal (‘Aqliyah)
ilmu akal (‘aqliyah) menurut ulama Sufi—seperti dikatakan Dr. Qasim— adalah cahaya instink yang bersama pengalaman-pengalaman, dapat berkembang dan kuat melalui ilmu dan kematangan diri.12 Konsep ini juga
diamini oleh sejumlah ulama-ulama non-sufi, seperti konsep yang dibangun oleh Imam Ahmad Bin Hanbal, Ibnu Taymiyah, Ibnu al-Jauzi, dan kalangan ulama lainnya.
Konsep akal, menurut kaum Sufi—sebagaimana dikatakan oleh Al-Muhasibi—adalah “(Semacam) instink yang tidak dapat diketahui kecuali dengan aktivitasnya didalam hati dan anggota badan. Hal tersebut karena akal tidak lain adalah cahaya yang dijadikan Allah SWT sebagai tabiat sekaligus instink. Jadi, akal adalah cahaya yang ada didalam hati. Akal dalam konteks instink, melahirkan manusia, dimana secara umum akal seperti ini dimiliki oleh seluruh anak Adam; mereka berbeda-berbeda menurut bentuk jasmaniahnya.13
Akal instink akan bertambah menjadi makna-makna karena adanya pengetahuan tentang sebab-sebab yang mengindikasikan pada ma’qul (sesuatu yang ditangkap akal). Akal instink adalah seperti yang digambarkan Rasulullah saw., “Tidak ada orang yang bijak (hakim) kecuali melalui pengalaman, dan tidak ada orang yang santun kecuali yang memiliki pengalaman pahit.14
Senada dengan itu, Al-Ghazali mengatakan bahwa yang di maksud ‘aqliyah adalah yang dikehendaki oleh instink akal, dan tidak diperoleh dengan taqlid dan mendengar. Dan ilmu (‘aqliyah) yang diperoleh dalam hati seperti halnya “kekuatan dapat melihat” pada mata dan melihatnya segala hlm. 74
11 Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Ibid., hlm. 42
12 Muhammad Abdullah asy-Syarqawi, Sufisme & Akal, hlm 151 13 Ibid., 152
bentuk benda. Pengetahuan hati itulah yang disebut dengan “penglihatan” dan lawannya disebut “buta”.15
“Dan begitulah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi” (QS. AL-An’am: 75).
“Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada” (QS. Al-Hajj: 46).
Ilmu akal (‘aqliyah) dibagi menjadi dua macam, yaitu: ilmu yang mengetahui persoalan dunianya (duniawiyah) dan ilmu akal yang mengetahui persoalan akhiratnya (ukhrawiyah).
a. Ilmu Duniawiyah.
Ilmu seperti ini berasal dari instink yang terdapat pada umumnya manusia, kecuali seseorang yang didalamnya terdapat penyimpangan, seperti gila, atau kekurangan, seperti anak kecil. Pada mereka kadar akal instink ini memiliki perbedaan tingkatan. Kecerdasan dari aktivitas akal ini berasal dari perbedaan keunggulan yang berdasarkan pada kecerdasan fu’ad dan otak. Akal ini terbentuk dari petunjuk tabiat alamiah16. Contoh:
ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu ukur, dan sebagainya. b. Ilmu Ukhrawiyah.
Ilmu seperti ini berasal dari cahaya hidayah dan kedekatan hubungan (dari Allah SWT) yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang mengesakan Allah dan tidak dimiliki oleh mereka yang menyekutukan Allah. Akal ini terbentuk petunjuk iman, dan memiliki perbedaan derajat diantara kaum tauhid (muwahhidin).17 Contoh: ilmu hal-ikhwal hati, ilmu
bahaya-bahaya amal, ilmu tentang Realitas Zat, Sifat, dan Af’al Allah, dan sebagainya.
2. Ilmu Agama (Syari’ah)
Ilmu agama (syari’ah) adalah ilmu yang diperoleh dengan jalan taqlid (mengikuti) Nabi-nabi a.s. dan itu diperoleh dengan mempelajari Kitab Allah SWT, Sunnah Rasulullah saw., dan memahami maksud keduanya. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang telah mampu menghimpun ilmu akal dan ilmu agama maka sempurnalah sifat hati, dan selamatlah hati itu dari penyakit dan agama. Karena menurutnya jika hanya semata-mata taklid dan menyingkirkan
15 Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Ibid., hlm. 43
akal secara keseluruhan maka itu bodoh. Dan jika hanya mencukupkan akal saja tanpa nurAl-Quran dan Sunnah Rasul saw. berarti ia tertipu.18
Ilmu agama dibagi menjadi dua, yaitu ilmu ushul (pokok) atau ilmu tauhid dan ilmu furu’ (cabang).
a. Ilmu Ushul atau Ilmu Tauhid
Ilmu ini membicarakan tentang zat Allah dan Sifat-sifat-Nya, tentang para nabi, para sahabat, para imam setelah mereka, hal ihwal kematian, kehidupan, kebangkitan, Hari Kiamat, Hari Pembalasan, dan tentang memandang Allah.19
Ilmu ini berpegang teguh pada Ayat Al-Quran, Hadis Nabi saw., dalil-dalil akal, dan dalil-dalil-dalil-dalil silogisme. Maka barang siapa hendak mengkaji ilmu ushul atau ilmu tauhid, maka wajib baginya menguasai ilmu bahasa terutama bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu i’rab, dan ilmu sharaf. Karena ilmu bahasa adalah jalan bagi ilmu tafsir dan hadis. Ilmu tafsir dan hadis jalan bagi ilmu tauhid. Ilmu tauhud inilah yang akan mengisi jiwa-jiwa hamba dan menjadikannya ikhlas pada Hari Pembalasan.20
b. Ilmu Furu’ (Cabang)
Jika ilmu ushul termasuk pada kategori ilmu teoritis, maka ilmu furu’ termasuk pada kategori ilmu praktis. Ilmu praktis memuat tiga bagian, yaitu: Pertama, hak Allah SWT, yaitu rukun-rukun ibadah seperti bersuci, salat, zakat, haji, jihat, zikir, dan semua yang berkaitan dengan ibadah-ibadah wajib dan sunnah.
Kedua, hak hamba, yaitu segala hal tentang tata pergaulan manusia. Hak hamba terkait dengan dua aspek, yaitu: 1) Aspek mu’amalah, seperti urusan jual-beli, perseroan, bagi hasil dalam bisnis, hutang piutang, dan sebagainya. 2) Aspek mu’aqadah (perjanjian kesepakatan), seperti pernikahan, perceraian, pembagian harta warisan, dan hak-hak hamba lainnnya. Pada umumnya untuk yang pertama dan kedua disebut dengan ilmu fiqih. Dan ketiga, hak jiwa, yaitu ilmu akhlak (budi pekerti).21
IV. KESIMPULAN
18 Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, hlm. 45 19 Imam Al-Ghazali, Al-Risalah Al-Laduniyah, hlm. 24 20 Ibid,. Hlm. 26-27
Hati adalah tempat penerimaan (belajar) sehingga ia mampu meneliti, menghafal, dan mengungkapkan isi Al-Quran al-Karim tentang potensi persepsi secara global. Dan dalam fungsinya sebagai penerima cahaya ilmu, hati mempunyai 4 tingkatan yang dimana cahaya ilmu akan berpindah posisi melalui pemahaman manusia dari satu tingkatan ke tingkatan lain yang berakhir pada lubb.
Sedangkan dengan kaitannya keadaan hati dan berbagai ilmu pengetahuan adalah urgensinya manusia untuk dapat menghimpun ilmu akal dan ilmu agama dengan tanpa mengacuhkan salah satunya, maka hati akan selamat dari segala penyaki dan bencana sehingga sempurnalah sifat hati.
V. PENUTUP
Menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih ada banyak kesalahan dan kekurangan di sana-sini, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan penulis. Maka tentu saja penulis memohon maaf dan maklum kepada para pembaca, serta kritikan dan saran kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Al-Ghazali. 1986. Ihya’ Ulumiddin, terj. Ismail Ya’kub, Ihya’ Al-Ghazali. Jakarta: CV.
Faisan,
Imam Al-Ghazali. 2004. Al-Risalah Al-Laduniyah, terj. M. Yaniyullah, Ilmu Laduni. Bandung:
Mizan,