BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945 mengamanatkan dengan tegas bahwa Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum, tidak berdasarkan kekuasaan belaka, dan pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Penegasan ini mengandung makna bahwa di dalam negara Republik Indonesia, penyelenggaraan negara tidak boleh dan tidak akan dilakukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Hukum harus menjalankan fungsinya, yakni sebagai sarana untuk mendatangkan ketertiban dan kesejahteraan dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya dengan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah; dan sebagai sarana untuk membangun masyarakat Indonesia seluruhnya yang berkeadilan.
Dengan menyadari arti pentingnya fungsi hukum bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka pemerintah menyelenggarakan pembangunan dan pembinaan terhadap semua unsur-unsur sistem hukum. Pembangunan hukum pada dasarnya meliputi usaha mengadakan pembaruan pada sifat dan isi dari ketentuan hukum yang berlaku dan usaha-usaha yang diarahkan bagi pembentukan hukum baru yang diperlukan dalam pembangunan masyarakat. (Satjipto Rahardjo di dalam Abd. G. Hakim Nusantara dan Nasroen Yasabari, Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia, Bandung : Alumni, 1980, hlm 1.) Sasaran pembangunan dan pembinaan hukum selain materi hukum dan lembaga hukum adalah juga pembinaan terhadap budaya hukum dalam masyarakat.
hukum rimba. Indonesia adalah negara hukum. Dalam hidup di lingkungan masyarakat tidak lepas dari aturan-aturan yang berlaku, baik aturan yang tertulis maupun aturan yang tidak tertulis. Aturan-aturan tersebut harus ditaati sepenuhnya. Adanya aturan tersebut adalah agar tercipta kemakmuran dan keadilan dalam lingkungan masyarakat. Apabila aturan-aturan tersebut dilanggar, akan mendapatkan sanksi yang tegas.
Di negara Indonesia masih banyak orang-orang yang melanggar hukum atau peraturan. Peraturan-peraturan yang sudah disepakati dan ditulis ternyata masih banyak yang dilanggar. Hal tersebut tidak hanya di kalangan pemerintah, masyarakat, tetapi juga menyebar ke instansi-instansi termasuk lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah.
Kesadaran hukum dengan hukum itu mempunyai kaitan yang erat sekali. Kesadaran hukum merupakan faktor dalam penemuan hukum (Lemaire, 1952; 46). Bahkan Krabbe mengatakan bahwa sumber segala hukum adalah kesadaran hukum (v. Apeldoorn, 1954: 9). Menurut pendapatnya maka yang disebut hukum hanyalah yang memenuhi kesadaran hukum kebanyakan orang, maka undang-undang yang tidak sesuai dengan kesadaran hukum kebanyakan orang akan kehilangan kekuatan mengikat.
Dalam hal ini, pembangunan dan pembinaan hukum tidak hanya dilakasanakan pemerintah, namun harus ada timbal balik dari masyarakat berupa kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum yang dibuat pemerintah. Atas dasar itu, makalah ini mencoba mengkajia peran pembangunan dan pembinaan hukum dalam mewujudkan masyarakat yang sadar dan patuh terhadap hukum.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana pembangunan Hukum dalam Propenas? 2. Apa saja sektor-sektor Pembangunan Hukum?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini diantaranya:
1. Untuk mengetahui pembangunan hukum dalam Propenas 2. Untuk mengetahuisektor-sektor Pembangunan Hukum
3. Untuk mengetahui pembinaan kesadaran dan kepatuhan hukum? D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini diantaranya:
1. Dapat mengetahui pembangunan hukum dalam Propenas 2. Dapat mengetahui sektor-sektor Pembangunan Hukum
3. Dapat mengetahui pembinaan kesadaran dan kepatuhan hukum E. Sistematika Penulisan
1. Lembar Judul 2. Kata Pengantar 3. Daftar Isi
4. Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat serta sistematika penulisan makalah
5. Bab II Kajian Teori, berisi teori-teori yang berkaitan dengan hal yang akan dibahas dalam makalah ini
6. Bab III Permasalahan/Kasus, berisi masalah yang berkaitan dengan pembahasan
7. Bab IV Analisis dan Pembahasan, berisi analisa dan pembahasan terhadap permasalahan/kasus yang diangkat.
BAB I1 KAJIAN TEORI
A. PEMBANGUNAN HUKUM 1. Pengertin Pembangunan Hukum
Pembangunan hukum berarti membangun suatu tata hukum, beserta perangkat yang berkaitan dengan tegaknya kehidupan tata hukum tersebut. Suatu tata hukum berarti seperangkat hukum tertulis (pada umumnya) yang dilengkapi dengan hukum tidak tertulis sehingga membentuk suatu sistem hukum yang bulat dan berlaku pada suatu tempat tertentu.
Pembanguan hukum nasional pada dasarnya merupakan upaya untuk membangun suatu tatanan hukum nasional yang berlandaskan kepada jiwa dan kepribadian bangsa. Dalam konkritisasinya pembangunan hukum nasional itu berarti pembentukan kaidah-kaidah hukum baru untuk mengatur berbagai bidang kehidupan masyarakat. Pembangunan hukum diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat kita yang sedang membangun, mengarah dan mengantisipasi perubahan sosial, dan mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur.
B. PEMBINAAN KESADARAN DAN KEPATUHAN HUKUM 1. Pengertian
a. Pengertian pembinaan
2) Pembianaan hukum berarti pembinaan secara berencana dan terarah untuk lebih menyempurnakan tata hukum yang ada.
b. Pengertian kesadaran
1) Menurut Suharso dan Retnoningsih (2005: 366), “Kesadaran adalah keinsafan; keadaan mengerti; hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang“.
2) Selain itu menurut Nias (http://niasonline.net/), menyatakan bahwa dalam psikologi “kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu pada saat ini terhadap rangsangan eksternal dan internal, artinya terhadap persitiwa-peristiwa lingkungan dan suasana tubuh, memori dan pikiran”.
c. Pengertian kepatuhan
1) Menurut tata kelola perusahaan, kepatuhan berarti mengikuti suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitan oleh atau organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu. 2) Menurut (Tim Penyususn Kamus Pusat Bahasa, 2002) Kepatuhan adalah suka
menurut, taat pada perintah, aturan. Jadi kepatuhan berarti sifat patuh, ketaatan.
d. Pengertian hukum
1) Menurut Suharso dan Retnoningsih (2005: 171), menyatakan bahwa: “Hukum adalah peraturan yang di buat oleh suatu kekuasaan atau adat yang dianggap berlaku oleh dan untuk orang banyak; undang-undang, ketentuan, kaedah, patokan; keputusan hakim.”
3) Hukum menurut Amin dalam Kansil (1989: 38), hukum merupakan kumpulan-kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan saksi-saksi.
e. Pengertian kesadaran hukum
1) Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan (Scholten, 1954: 166).
2) Menurut kamus Bahasa Indonesia. Kesadaran hukum adalah pengetahuan bahawa prilaku tertentu diatur oleh hukum sehingga ada kecendrungan untuk mematuhi peraturan.
3) Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht).
4) Menurut Suharso dan Retnoningsih, (1993: 765), kesadaran hukum adalah: a) Nilai-nilai yang terdapat dalam diri manusia mengenai hukum yang ada. b) Pengetahuan bahwa suatu perilaku tertentu diatur oleh hukum.
5) Menurut Abdurrahman dalam Nurhidayat (2006 : 8), menyatakan bahwa kesadaran hukum itu adalah tidak lain dari pada suatu kesadaran yang ada dalam kehidupan manusia untuk selalu patuh dan taat pada hukum.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum. Menurut Soekanto dalam Nurhidayat, (2006: 9-11), dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
a. Pengetahuan tentang kesadaran hukum Secara umum, perturan-peraturan yang telah sah, maka dengan sendirinya peraturan-peraturan tadi akan tersebar luas dan diketahui umum. Tetapi sering kali terjadi suatu golongan tertentu di dalam mayarakat tidak mengetahui atau kurang mengetahui tentang ketentuan-ketentuan hukum yang khusus bagi mereka.
b. Pengakuan terhadap ketentuan-ketentuan hukum, Pengakuan masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan hukum, berati bahwa masyarakat mengetahui isi dan kegunaan dari norma-norma hukum tertentu. Artinya ada suatu derajat pemahaman yang tertentu terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Namun hal ini belum merupakan jaminan bahwa warga masyarakat yang mengakui ketentuan-ketentuan hukum tertentu dengan sendirinya mematuhinya, tetapi juga perlu diakui bahwa orang-orang yang memahami suatu ketentuan hukum adakalanya cenderung untuk mematuhinya.
c. Penghargaan terhadap ketentuan-ketentuan hukum, Penghargaan atau sikap tehadap ketentuan-ketentuan hukum, yaitu sampai sejauh manakah suatu tindakan atau perbuatan yang dilarang hukum diterima oleh sebagian besar warga masyarakat. Juga reaksi masyarakat yang didasarkan pada sistem nilai-nilai yang berlaku. Masyarakat mungkin menentang atau mungkin mematuhi hukum, karena kepentingan mereka terjamin pemenuhannya.
d. Pentaatan atau kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan hukum, Salah satu tugas hukum yang penting adalah mengatur kepentingan-kepentingan para warga masyarakat. Kepentingan para warga masyarakat tersebut lazimnya bersumber pada nilai-nilai yang berlaku, yaitu anggapan tentang apa yang baik dan apa yang harus dihindari.
BAB III PERMASALAHAN
Beberapa Masalah Teknis Pembangunan Hukum
Berbica tentang pembangunan hukum tidak dapat terlepas dari masalah teknis yang harus kita kembangkan. Beberapa malah teknis antara lain:
1. Di bidang pembentukan hukum misalnya:
a. Pembangunan Hukum yang baik ialah yang berencana dan tidak tergantung semata-mata pada selera sesaat. Dalam hal ini kita berhadapan dengan masalah program legislatif nasional yang seyogianya jelas setiap lima tahunnya;
b. Pembentukan hukum harus baku dan jelas proses atau prosedur yang harus di tempuh, dan dalam hal ini kita berhadapan dengan masalah proses legislatif nasional;
c. Rumusan hukum merupakan satu naskah tentu yang baku pula bentuk dan susunannya dan dalam hal ini kita berhadapan dengan masalah teknis perundang-undangan dan bahsa hukum.
d. Jumlah produk hukum yang dapat di hasilkan oleh lembaga pembentuk hukum menetukan pula laju pembangunan hukum dan dalam hal ini kita berhadapan dengan masalah beban legislatif nasional.
e. Merumuskan dalam hukum satu masalah memerlukan “pengorganisasian” atau “pengadministrasian” yang baik. Biasanya tergantung pada macam atau jenis hukum, apakah mengatur pokok-pokok sehingga harus luwes atau mengatur pelaksanaan yang terperinci. Menggabungkan kedua hal dalam satu pengaturan mengakibatkan hukum cepat usang atau menghambat perkembangan sehingga perlu deregulasi, atau menumbuhkan satu birokrasi yang negatif.
f. Sesuai dengan yang talah di uraikan bahwa hukum harus sesuai dengan pandangan hidup bangsa dan aspirasi masyarakat, maka perlu pembakuan tentang lembaga penampung aspirasi rakyat seperti misalnya lembaga dengan pendapat umum.
pelaksanaan hukum, pembinaan lembaga-lembaga penegakan hukum dan pejabatnya, pendapat sarjana sebagai hukum tidak tertulis dan sebagainya. 3. Di bidang pelayanan hukum yang terutama ialah penanaman jiwa pengabdian
sehingga tidak menumbuhkan ketertiban hukum biaya tinggi. Ringkasnya suatu perinsip pelayanan masyarakat yang baik yang harus kita kembangkan 4. Di bidang pengembangan hukum menyangkut masalah tujuan hasil dan
struktur pendidikan hukum mulai yang formal dilingkungan pendidikan jabatan.
5. Dalam bidang antar tata hukum, yang terutama masalah persetujuan rakyat atau ratifikasi
Kesadaran Hukum Masyarakat Dewasa Ini
Akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum. Kalau kita mengikuti berita-berita dalam surat kabar-surat kabar, maka boleh dikatakan tidak ada satu hari lewat di mana tidak dimuat berita tentang terjadinya pelanggaran hukum, baik yang berupa pelanggaran-pelanggaran, kejahatan-kejahatan, maupun yang berupa perbuatan melawan hukum, ingkar janji atau penyalah gunaan hak. Berita-beria tenang penipuan, penjambretan penodongan pembunuhan, tabrak lari dan sebagainya setiap hari dapat kita baca di dalam surat kabar-surat kabar. Yang menyedihkan ialah bahwa tidak sedikit dari orang-orang yang tahu hukum melakukannya, baik ia petugas penegak hukum atau bukan.
Di samping pelanggaran-pelanggaran peraturan hukum terjadi banyak penyalahgunaan hak atau wewenang. Menggunakan haknya secara berlebihan sehingga merugikan orang lain berarti menyalahgunaan hak. Komersialisasi jabatan misalnya pada hakekatnya merupakan penyalahgunaan hak. Penyalahgunaan hak banyak dilakukan oleh golongan tertentu atau pejabat-pejabat yang merasa boleh berbuat dan dimungkinkan dapat berbuat semaunya sendiri karena kedudukan atau jabatannya.
terjadinya pelanggaran-pelanggaran atau kejahatan kepada yang berwajib tidak ditanggapi atau dilayani. Banyak pegawai pengusut yang tidak wewenang mendeponir perkara membiarkan perkara tidak diusut, sedangkan perkara perdata yang bukan wewenangnya diurusinya. Peristiwa-peristiwa tersebut di atas hampir setiap hari kita baca di dalam surat kabar. Boleh dikatakan tidak ada berita di dalam surat kabar mengenai suatu daerah yang keadaannya serba teratur tidak ada pelanggaran, tidak ada kejahatan dan tidak pula ada sengketa.
Ditinjau dari segi jurnalistik memang sensasilah yang dicari dalam pemberitaan, karena sensasi menarik perhatian para pembaca dan berita tentang pelanggaran dan peradilan selalu menarik perhatian. Ditinjau dari segi hukum, maka makin banyaknya pemberitaan tentang pelanggaran hukum, kejahatan atau kebatilan berarti kesadaran akan makin banyak terjadinya ”onrecht”. Dengan makin banyaknya pelanggaran hukum makin berkurangnya toleransi dan sikap berhati-hati di dalam masyarakat, penyalahgunaan hak dan sebagainya dapatlah dikatakan bahwa kesadaran hukum masyarakat dewasa ini menurun, yang mau tidak mau mengakibatkan merosotnya kewibawaan pemerintah juga. Menurunnya kesadaran hukum dalam hal ini berarti belum cukup tinggi. Kesadaran hukum yang rendah cenderung pada pelanggaran hukum, sedangkan makin tinggi kesadaran hukum seseorang makin tinggi ketaatan hukumnya. Untuk dapat mengambil langkah-langkah guna mengatasi menurunnya kesadaran hukum masyarakat, perlu kiranya diketahui apakah kiranya yang dapat menjadi sebab-sebabnya.
tidak berperikemanusiaan atau asusila mempunyai peran penting dalam membantu menurunkan kesadaran hukum masyarakat.
Kurang tegas dan konsekuensinya para petugas penegak hukum terutama polisi, jaksa dan hakim dalam menghadapi pelanggaran-pelanggaran hukum pada umumnya merupakan peluang terjadinya pelanggaran-pelanggaran atau kejahatan-kejahatan. Tidak adanya atau kurangnya pengawasan pada petugas penegak hukum merupakan perangsang menurunnya kesadaran hukum masyarakat. Mengingat bahwa hukum adalah perlindungan kepentingan manusia, maka menurunnya kesadaran hukum masyarakat disebabkan karena orang tidak melihat atau menyadari lagi bahwa hukum melindungi kepentingannya. Soerjono Soekanto menambahkan bahwa menurunnya kesadaran hukum masyarakat disebabkan juga karena para pejabat kurang menyadari akan kewajibannya untuk memelihara hukum dan kurangnya pengertian akan tujuannya serta fungsinya dalam pembangunan.
Menurut Soerjono Soekanto, indikator-indikator dari kesadaran hukum sebenarnya merupakan petunjuk yang relatif kongkrit tentang taraf kesadaran hukum. Dijelaskan lagi secara singkat bahwa :
1. indikator pertama adalah pengetahuan hukum
Seseorang mengetahui bahwa perilaku-perilaku tertentu itu telah diatur oleh hukum. Peraturan hukum yang dimaksud disini adalah hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Perilaku tersebut menyangkut perilaku yang dilarang oleh hukum maupun perilaku yang diperbolehkan oleh hukum.
2. Indikator kedua adalah pemahaman hukum
Seseorang warga masyarakat mempunyai pengetahuan dan pemahaman mengenai aturan-aturan tertentu, misalnya adanya pengetahuan dan pemahaman yang benar dari masyarakat tentang hakikat dan arti pentingnya UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Seseorang mempunyai kecenderungan untuk mengadakan penilaian tertentu terhadap hukum.
4. Indikator yang keempat adalah perilaku hukum, yaitu dimana seseorang atau dalam suatu masyarakat warganya mematuhi peraturan yang berlaku.
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pembangunan Hukum dalam Propenas
Selama kurun waktu berlakunya Undang-undang (UU) Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) 2000-2004, pelaksanaan Agenda Pembangunan Kedua yaitu mewujudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang baik dilaksanakan melalui 4 (empat) program Pembangunan Bidang Hukum, yaitu Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan; Program Pemberdayaan Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya; Program Penuntasan Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme serta Pelanggaran Hak Asasi Manusia; dan Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum; dan Sub Bidang Penyelenggara Negara yang tertuang dalam Bab Pembangunan Politik dan akan menguraikan secara mendalam langkah-langkah mewujudkan pemerintahan yang baik selama kurun waktu pelaksanaan PROPENAS.
Beberapa hasil yang cukup memberikan harapan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan sebagai penjabaran dari pelaksanaan program-program dalam PROPENAS, TAP MPR dan Program Kerja Kabinet Gotong Royong adalah pembinaan satu atap 4 (empat) lingkungan peradilan yaitu Lingkungan Peradilan Umum, Agama, Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara, yang kewenangan administrasi, keuangan, kepegawaian dan organisasi yang semula dilakukan oleh Departemen Kehakiman dan HAM beralih kepada Mahkamah Agung dan telah mulai ditindaklanjuti dengan perubahan berbagai undang-undang terkait dan penyerahan secara formal oleh Menteri Kehakiman dan HAM kepada Mahkamah Agung.
1. Program-Program pembangunan
a. Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 1) Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
terutama penyempurnaan terhadap peraturan perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. Adapun sasaran program ini adalah terciptanya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan kebutuhan pembangunan. Sedangkan arah kebijakan pembentukan peraturan perundang-undangan sesuai dengan TAP MPR Nomor IV/MPR/1999 adalah (1) Menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbarui perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif, termasuk ketidakadilan gender dan ketidaksesuaiannya dengan tuntutan reformasi melalui program legislasi; (2) Melanjutkan ratifikasi konvensi internasional, terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk undang-undang; (3) Mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mendukung kegiatan perekonomian dalam menghadapi era perdagangan bebas tanpa merugikan kepentingan nasional.
2) Program Pemberdayaan Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya
3) Program Penuntasan Kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Program ini bertujuan untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum dan hak asasi manusia di Indonesia. Adapun sasaran program ini adalah terselesaikannya berbagai kasus KKN dan pelanggaran terhadap HAM yang belum terselesaikan secara hukum. Sedangkan arah kebijakan pada program ini adalah merupakan upaya untuk melaksanakan arah kebijakan pembangunan hukum yang lebih menjamin kepastian hukum, keadilan dan kebenaran, supremasi hukum serta menghargai hak asasi manusia. Disamping itu program ini juga bertujuan untuk menyelenggarakan proses peradilan pada kasus KKN dan menyelesaikan berbagai proses peradilan terhadap pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang belum ditangani secara cepat, adil dan tuntas.
4) Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum
Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum baik masyarakat maupun aparat penyelenggara negara secara keseluruhan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap peran dan fungsi aparat penegak hukum, serta diharapkan akan menciptakan budaya hukum di semua lapisan masyarakat. Adapun sasaran program ini adalah meningkatnya jumlah masyarakat dan aparat penyelenggara negara yang sadar terhadap hak dan kewajibannya serta semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai proses perumusan kebijakan pembangunan. Sedangkan arah kebijakan peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum adalah (1) mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya kesadaran dan kepatuhan hukum dalam kerangka supremasi hukum dan tegaknya negara hukum; dan (2) meningkatkan pemahaman dan penyadaran, serta meningkatkan perlindungan, penghormatan, dan penegakan HAM dalam seluruh aspek kehidupan.
Ruang lingkup pembangunan hukum nasional dapat dilihat dari berbagai aspek/sudut. Apabila dilihat dari ruang lingkup hukum nasional sebagaimana dikemukakan di atas, maka pembangunan ruang lingkup sistem hukum nasional dapat mencakup pembangunan ”substansial” (substansi hukum/legal substance), pembangunan ”struktural” (stuktur hukum/legal structure), dan pembangunan ”kultural” (budaya hukum/legal culture). Kalau dilihat sebagai ”program pembangunan”, maka ruang lingkupnya bisa disebut dengan berbagai program yang terkait dengan bidang hukum.
Dalam Lokakarya Bangkumnas Repelita VI (1994-1999), ketiga bidang/ ruang lingkup pembangunan SHN pernah dirinci sebagai berikut :
1. Pembangunan ”perangkat hukum nasional” (maksudnya bidang substansi hukum) terdiri dari 14 sektor : (1) sektor HTN dan HAN; (2) sektor Hukum Tata Ruang; (3) sektor Hukum Bahari (Laut); (4) sektor Hukum Dirgantara; (5) sektor Hukum Kependudukan; (6) sektor Hukum Lingkungan; (7) sektor Hukum Kesehatan; (8) Hukum Kesejahteraan Sosial; (9) sektor Hukum Teknologi dan Informatika; (10) sektor Hukum Keluarga dan Waris; (11) sektor Hukum Ekonomi; (12) sektor Hukum Pidana; (13) sektor Hukum Militer dan Bela Negara; dan (14) sektor Hukum Transnasional.
2. Pembangunan ”tatanan hukum nasional” (maksudnya bidang struktur hukum, pen.) terdiri dari 5 sektor : (1) Sektor kelembagaan, administrasi dan manajemen lembaga-lembaga hukum; (2) Sektor mekanisme, proses dan prosedur; (3) sektor peningkatan koordinasi dan kerjasama nasional; (4) sektor peningkatan kerjasama regional & internasional; dan (5) sektor pengembangan sarana & prasarana pendukung pembangunan hukum.
penerbitan dan informatika hukum; (4) Pengembangan dan pembinaan profesi hukum; (5) Pengembangan dan pembinaan pendidikan hukum.
C. Tingkat Kesadaran Hukum Masyarakat
Tingkat Kesadaran Hukum. Menurut Soekanto dalam Nurhidayat (2006: 11-12), indikator-indikator dari kesadaran hukum sebenarnya merupakan petunjuk yang relatif kongkrit tentang taraf kesadaran hukum. Dijelaskan lagi secara singkat bahwa :
1. Indikator pertama adalah pengetahuan hukum Seseorang mengetahui bahwa perilaku-perilaku tertentu itu telah diatur oleh hukum. Peraturan hukum yang dimaksud disini adalah hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Perilaku tersebut menyangkut perilaku yang dilarang oleh hukum maupun perilaku yang diperbolehkan oleh hukum.
2. Indikator kedua adalah pemahaman hukum Seseorang pelajar mempunyai pengetahuan dan pemahaman mengenai aturan-aturan tertentu, misalnya adanya pengetahuan dan pemahaman yang benar dari pelajar tentang hakikat dan arti pentingnya peraturan disekolah.
3. Indikator yang ketiga adalah sikap hukum Seseorang mempunyai kecenderungan untuk mengadakan penilaian tertentu terhadap hukum.
4. Indikator yang keempat adalah perilaku hukum, yaitu dimana seseorang atau pelajar mematuhi peraturan yang berlaku.
Keempat indikator tadi sekaligus menunjukkan pada tingkat-tingkatan kesadaran hukum tertentu di dalam perwujudannya. Apabila seseorang hanya mengetahui hukum, maka dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran hukumnya masih rendah, tetapi kalau seseorang dalam suatu masyarakat telah berperilaku sesuai dengan hukum, maka kesadaran hukumnya tinggi.
cukup tinggi karena ia mengorganisir perasaan hukumnya yaitu ukuran tentang baik dan buruk yang perlu dihukumnya kedalam suatu kesadaran hukum yang berpuncak pada keadaan bernegara status sivil dengan civil right.
Dengan demikian dapat kita pahami manfaat penyuluhan hukum, penerangan hukum maupun kegiatan pendidikan hukum nonformal lainnya. Didalam praktek pembinaan kesadaraan hukum sebenarnya bermuara dalam dua jalur yaitu:
a. Pembinaan kesadaran hukum berupa pembinaan etika profesional bagi mereka yang tergabung didalam organisasi profesi hukum.
b. Pembinaan kesadaran hukum dalam arti pemberian pengetahuan hukum tertulis pada masyarakat luas.
BAB V hukum baru untuk mengatur berbagai bidang kehidupan masyarakat. 3. Pembangunan hukum diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hukum
masyarakat kita yang sedang membangun, mengarah dan mengantisipasi perubahan sosial, dan mewujudkan cita-cita masyarakatadil dan makmur 4. Pembangunan nasional, pembangunan hukum mempunyai hubungan kait
mengait dan interdependensi dengan perbagai sektor pembangunan lainnya seperti ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan. Dengan demikian pembangunan hukum bukanlah sebuah proses yang otonom, melainkan sebuah proses yang heteronom. Artinya pembangunan hukum tidak bisa dilepaskan dari sektor-sektor pembangunan lainnya. Hubungan yang diharapkan antar berbagai sektor pembangunan adalah hubungan yang saling menunjang dan saling menopang untuk kemajuan masing-masing, tapi masih tetap berada dalam alur pencapaian tujuan bersama.
5. Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan
6. Ketaatan masyarakat terhadap hukum, dengan demikian sedikit banyak tergantung apakah kepentingan-kepentingan warga masyarakat dalam bidang-bidang tertentu dapat ditampung oleh ketentuan-ketentuan hukum.
1. Perlu berpijak pada upaya mengawal ketat, nilai-nilai politik hukum nasional indonesia, agar tidak bergeser dari pedoman dasar dan berpijak pada kesadaran hukum, kesadaran batin dan nilai-nilai moral masyarakat dan bangsa indonesia.