Perilaku Sosial
Makalah Psikologi Sosial
Disusun Oleh:
Esther Novita Inochi (210610150063)
Muhammad Imaduddin (210610150069)
Gerhan Zinadine Ahmad (210610150071)
Muhammad Fajar Rivaldi (210610150084)
Jurnalistik C
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah memberikan kami kesehatan untuk mengerjakan makalah mata kuliah Psikologi Sosial ini dengan tema “Perilaku Sosial” yang telah ditugaskan oleh dosen kami, Nunik Maharani, M.Comn selaku dosen mata kuliah Psikologi Sosial.
Semoga apa yang kami kerjakan dapat memberikan suatu manfaat yang dapat digunakan oleh para pembaca dan memberikan pengalaman yang menjadi salah satu bekal hidup kita di bumi ini. Kami menyadari bahwa tulisan ini tidak sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk kemajuan di masa yang akan datang. Akhir kata kami harap semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan para pembaca.
Sumedang, 2 Mei 2016
Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang
Dalam berinteraksi dengan orang lain kita cenderung menunjukkan perilaku khusus kita sebagai bentuk reaksi atau respon terhadap orang yang kita ajak untuk berinteraksi. Perilaku itu dinamakan perilaku sosial. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang kepada yang sesamanya pastinya berbeda satu sama lain, karena itulah perilaku tiap-tiap orang merefleksikan kumpulan sifat unik yang dibawanya ke dalam suasana tertentu. Layaknya hal-hal lain yang terjadi, perilaku sosial pun memiliki faktor-faktor yang menggerakkannya sehingga muncullah perilaku sosial antar manusia.
Karena perilaku sosial terjadi saat berinteraksi, kita juga perlu mengenal interaksi sosial dari sisi sosiologis. Akibat dari interaksi sosial itu, muncul pula perilaku sosial. Karena itulah, kita perlu mengaitkan antara interaksi sosial dan perilaku sosial. Perilaku sosial, layaknya pembahasan lainnya juga memiliki teori-teori yang mengaitkan dan menjelaskan praktiknya, sehingga kita pun perlu memahami apa saja teori-teori yang mencakup perilaku sosial tersebut.
Akibat dari perilaku sosial ini pun ada, yairu pengaruh sosial. Oleh karena itu, dalam berperilaku diperlukan juga kontrol personal, agar dalam berperilaku terhadap orang lain baiknya kita tidak melenceng dari nilai-nilai serta etika berkomunikasi terhadap orang lain. ada juga perilaku prososial dan anti sosial, yang di masa kini lumayan banyak pengaplikasiannya dalam perilaku keseharian anak muda ketika berinteraksi dengan sesamanya.
B. Rumusan Masalah
a. Apa itu perilaku sosial dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya? b. Apa itu interaksi sosial?
c. Apa yang dimaksud dengan pengaruh sosial dan kontrol personal? d. Apa saja teori-teori yang mencakup perilaku sosial?
a. Mengetahui arti dari perilaku sosial dan interaksi sosial. b. Mengetahui teori-teori yang mencakup perilaku sosial c. Mengetahui arti pengaruh sosial dan kontrol personal
d. Mengetahui arti perilaku prososial serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bab II
Pembahasan I. Perilaku Sosial
Pengertian Perilaku Sosial
Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling
mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.
Menurut Krech, Crutchfield dan Ballachey (1982) dalam Rusli Ibrahim (2001), perilaku sosial seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang yang dinyatakan dengan hubungan timbal balik antar pribadi. Perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam Rusli Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain. Perilaku sosial seseorang merupakan sifat relatif untuk menanggapi orang lain dengan cara-cara yang berbeda-beda. Misalnya dalam melakukan kerja sama, ada orang yang melakukannya dengan tekun, sabar dan selalu mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadinya. Sementara di pihak lain, ada orang yang bermalas-malasan, tidak sabaran dan hanya ingin mencari untung sendiri.
dikarenakan jika tidak ada timbal balik dari interaksi sosial maka manusia tidak dapat merealisasikan potensi-potensinya sebagai sosok individu yang utuh sebagai hasil interaksi sosial. Potensi-potensi itu pada awalnya dapat diketahui dari perilaku kesehariannya. Pada saat bersosialisasi maka yang ditunjukkannya adalah perilaku sosial. Pembentukan perialku sosial seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal. Pada aspek eksternal situasi sosial memegang pernana yang cukup penting. Situasi sosial diartikan sebagai tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain (W.A. Gerungan,1978:77). Dengan kata lain setiap situasi yang menyebabkan terjadinya interaksi social dapatlah dikatakan sebagai situasi sosial. Contoh situasi sosial misalnya di lingkungan pasar, pada saat rapat, atau dalam lingkungan pembelajaran pendidikan jasmani.
Faktor-Faktor Pembentuk Perilaku Sosial
Baron dan Byrne berpendapat bahwa ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang, yaitu :
a. Perilaku dan karakteristik orang lain
Jika seseorang lebih sering bergaul dengan orang-orang yang memiliki karakter santun, ada kemungkinan besar ia akan berperilaku seperti kebanyakan orang-orang berkarakter santun dalam lingkungan pergaulannya. Sebaliknya, jika ia bergaul dengan orang-orang berkarakter sombong, maka ia akan terpengaruh oleh perilaku seperti itu. Pada aspek ini guru memegang peranan penting sebagai sosok yang akan dapat mempengaruhi pembentukan perilaku sosial siswa karena ia akan emberikan pengaruh yang cukup besar dalam mengarahkan siswa untuk melakukan sesuatu perbuatan.
b. Proses kognitif
c. Faktor lingkungan
Lingkungan alam terkadang dapat mempengaruhi perilaku sosial
seseorang.Misalnya orang yang berasal dari daerah pantai atau pegunungan yang terbiasa berkata dengan keras, maka perilaku sosialnya seolah keras pula, ketika berada di lingkungan masyarakat yang terbiasa lembut dan halus dalambertutur kata.
d. Latar Budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi
Misalnya, seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akanterasa berperilaku sosial aneh ketika berada dalam lingkungan masyarakat yang beretnis budaya lain atau berbeda. Dalam konteks pembelajaran pendidikan jasmani yang terpenting adalah untuk saling menghargai perbedaan yang dimiliki oleh setiap anak.
Bentuk dan Jenis Perilaku Sosial
Bentuk dan perilaku sosial seseorang dapat pula ditunjukkan oleh sikap sosialnya. Sikap menurut Akyas Azhari (2004:161) adalah “suatu cara
bereaksiterhadap suatu perangsang tertentu. Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial yang menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial (W.A. Gerungan, 1978:151-152).
Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seperti dalam kehidupan berkelompok, kecenderungan perilaku sosial seseorang yang menjadi anggota kelompok akanakan terlihat jelas diantara anggota kelompok yang lainnya. Perilaku sosial dapat dilihat melalui sifat-sifat dan pola respon antarpribadi, yaitu :
1. Kecenderungan Perilaku Peran
a. Sifat pemberani dan pengecut secara sosial
Orang yang memiliki sifat pemberani secara sosial, biasanya dia sukamempertahankan dan membela haknya, tidak malu-malu atau tidak seganmelakukan sesuatu perbuatan yang sesuai norma di masyarakat dalam mengedepankan kepentingan diri sendiri sekuat tenaga. Sedangkan sifatpengecut menunjukkan perilaku atau keadaan sebaliknya, seperti kurang suka
mempertahankan haknya, malu dan segan berbuat untukmengedepankan kepentingannya.
b. Sifat berkuasa dan sifat patuh
Orang yang memiliki sifat sok berkuasa dalam perilaku sosial biasanya
percaya diri, berkemauan keras, suka memberi perintah dan memimpin
langsung. Sedangkan sifat yang patuh atau penyerah menunjukkan perilaku sosial yang sebaliknya, misalnya kurang tegas dalam bertindak, tidak suka memberi perintah dan tidak berorientasikepada kekuatan dan kekerasan.
c. Sifat inisiatif secara sosial dan pasif
Orang yang memiliki sifat inisiatif biasanya suka mengorganisasi kelompok, tidak sauka mempersoalkan latar belakang, suka memberi masukan atau saran-saran dalam berbagai pertemuan, dan biasanya suka mengambil alih
kepemimpinan. Sedangkan sifat orang yang pasif secara sosial ditunjukkan oleh perilaku yang bertentangan dengan sifat orang yang aktif, misalnya perilakunya yang dominan diam, kurang berinisiatif, tidak suka memberi saran atau masukan. d. Sifat mandiri dan tergantung
Orang yang memiliki sifat mandiri biasanya membuat segala sesuatunya dilakukan oleh dirinya sendiri, seperti membuat rencana sendiri, melakukan sesuatu dengan cara-cara sendiri, tidak suak berusaha mencari nasihat atau dukungan dari orang lain, dan secara emosiaonal cukup stabil. Sedangkan sifat orang yang ketergantungan cenderung menunjukkan perilaku sosial sebaliknya dari sifat orang mandiri, misalnya membuat rencana dan melakukan segala sesuatu harus selalu mendapat saran dan dukungan orang lain, dan keadaan emosionalnya relatif labil.
2. Kecenderungan perilaku dalam hubungan sosial a. Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain
Orang yang memiliki sifat dapat diterima oleh orang lain biasanya tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, loyal, dipercaya, pemaaf dan tulus menghargai kelebihan orang lain. Sementara sifat orang yang ditolak biasanya suak mencari kesalahan dan tidak mengakui kelebihan orang lain.
b. Suka bergaul dan tidak suka bergaul
Orang yang suka bergaul biasanya memiliki hubungan sosial yang baik, senang bersama dengan yang lain dan senang bepergian. Sedangkan orang yang tidak suak bergaul menunjukkan sifat dan perilaku yang sebaliknya.
c. Sifat ramah dan tidak ramah
Orang yang ramah biasanya periang, hangat, terbuka, mudah didekati orang,dan suka bersosialisasi. Sedang orang yang tidak ramah cenderung bersifat sebaliknya. d. Simpatik atau tidak simpatik
Orang yang memiliki sifat simpatik biasanya peduli terhadap perasaan dan keinginan orang lain, murah hati dan suka membela orang tertindas.Sedangkan orang yang tidak simpatik menunjukkna sifat-sifat yang sebaliknya.
a. Sifat suka bersaing (tidak kooperatif) dan tidak suka bersaing (suka bekerjasama)
Orang yang suka bersaing biasanya menganggap hubungan sosial sebagai perlombaan, lawan adalah saingan yang harus dikalahkan, memperkaya dirisendiri. Sedangkan orang yang tidak suka bersaing menunjukkan sifat-sifatyang sebaliknya
b. Sifat agresif dan tidak agresif
Orang yang agresif biasanya suka menyerang orang lain baik langsungataupun tidak langsung, pendendam, menentang atau tidak patuh padapenguasa, suka bertengkar dan suka menyangkal. Sifat orang yang tidak agresif menunjukkan perilaku yang sebaliknya.
c. Sifat kalem atau tenang secara sosial
Orang yang kalem biasanya tidak nyaman jika berbeda dengan orang lain, mengalami kegugupan, malu, ragu-ragu, dan merasa terganggu jika ditontonorang. d. Sifat suka pamer atau menonjolkan diri
Orang yang suka pamer biasanya berperilaku berlebihan, suka mencari pengakuan, berperilaku aneh untuk mencari perhatian orang lain
II. Interaksi Sosial
Interaksi sosial ialah hubungan-hubungan sosial yang dinamis dan bersifat timbal balik antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, maupun individu dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Walaupun orang-orang yang bertemu muka tidak saling berbicara atau menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi sebab masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang-orang yang bersangkutan. Interaksi sosial antar kelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut sebagai kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya. Proses interaksi berlangsung karena adanya berbagai faktor, yaitu faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak secara sendiri-sendiri dalam keadaan terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Interaksi sosial pun terjadi apabila memenuhi syarat adanya kontak sosial dan komunikasi. Bentuk-bentuk interaksi sosial pun beermacam-macam, terbagi dua yaitu proses yang sifatnya asosiatif dan proses yang sifatnya disosiatif.
a. Teori konformitas: Konformitas adalah Suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas (Sarwono, 2005) :
• Besarnya kelompok • Banyaknya suara
• Keterpaduan (kohesivitas)
Contoh : remaja akan lebih mendengarkan mendengarkan perkataan teman sekelompoknya dibanding orang tuanya.
• Status
Contoh : Model rambut tertentu pada selebriti akan lebih banyak diikuti orang lain dibanding orang biasa dengan model rambut yang sama.
• Tanggapan umum
Contoh : seseorang akan lebih bebas menjawab dalam kuesioner jika tidak diberi nama.
• Komitmen umum
Contoh : individu individu akan mengikuti mengikuti/bertingkah bertingkah laku sesuai dengan apa yang telah ia katakan.
b. Teori kepatuhan: Kepatuhan merupakan suatu bentuk pengaruh sosial dimana seseorang hanya perlu memerintahkan satu orang lain atau lebih untuk melakukan satu atau beberapa tindakan.
seorang climber, yang dapat membentengi dari ketidakberdayaan dan keputusasaan.
d. Teori self-fulfilling prophecy: prediksi yang secara langsung atau tidak langsung membuatnya terwujud sendiri akibat umpan balik positif antara keyakinan dan kelakuan. Sebagai contoh, kalau kita memberikan optimisme kepada orang lain, kinerjanya akan melebihi kapasitas biasanya. Sementara kalau kita memberikan pesimisme, yang terjadi memang akan lebih buruk dari yang seharusnya
V. Perilaku Prososial
Perilaku prososial didefinisikan sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk memberikan keuntungan atau manfaat kepada individu atau sekelompok individu (Eisenberg, 1989). Dalam hal ini, perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain. Meskipun tindakan prososial dimaksudkan untuk memberi manfaat kepada orang lain, namun perilaku ini dilakukan dengan berbagai alasan. Misalnya, ingin mendapat keuntungan juga berupa imbalan, agar dapat diterima orang lain, sayang dengan seseorang, atau karena memang dengan tulus membantu.
Perilaku prososial ini sering disamakan dengan altruisme, padahal berbeda. Perilaku prososial mempunyai motif-motif tertentu di balik tindakannya. Di dalamnya terdapat altruisme yang merupakan tindakan sukarela yang dilakukan individu atau sekelompok orang untuk menolong orang lain dengan simpati tinggi tanpa mengharapkan imbalan apapun. Jadi altruisme adalah salah satu motif spesifik dari perilaku prososial.
Faktor-faktor yang menentukan perilaku prososial:
Sarwono dan Meinarno (2009) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial adalah sebagai berikut:
a. Pengaruh faktor situasional
1. Bystander
Orang-orang yang ada di sekitar kejadian berperan penting dalam menentukan sikap seseorang untuk menolong ketika dihadapkan pada situasi darurat.
Seseorang mengevaluasi korban secara positif (memiliki daya tarik) akan memengaruhi kesediaan orang untuk membantu.
3. Atribusi terhadap korban
Seseorang akan termotivasi untuk memberikan bantuan pada orang lain bila ia mengasumsikan bahwa ketidakberuntungan korban adalah di luar kendali korban.
4. Ada model
Adanya model yang melakukan tindakan menolong dapat mendorong seseorang untuk menolong orang lain.
5. Desakan waktu
Orang yang sedang sibuk atau tergesa-gesa biasanya cenderung sungkan untuk menolong, sedangkan orang yang memiliki waktu luang cenderung dapat memberika pertolongan pada orang yang membutuhkan pada saat itu.
6. Sifat kebutuhan korban
Kesediaan untuk menolong dipengaruhi oleh kejelasan dari korban apakah benar-benar membutuhkan pertolongan atau tidak.
b. Pengaruh faktor dalam diri
1. Suasana hati
Emosi positif dan negatif memengaruhi kemunculan niat untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.
2. Sifat
Karakterikstik orang dapat mempengaruhi kecenderungan menolong orang lain.
Peranan gender terhadap kecenderungan seseorang untuk menolong sangat bergantung pada situasi dan bentuk pertolongan yang dibutuhkan.
4. Tempat tinggal
Orang yang tinggal di pedesaan cenderung lebih penolong daripada orang yang tinggal di perkotaan.
5. Pola asuh
Pola asuh yang demokratis secara signifikan memfasilitasi adanya kecenderungan anak untuk tumbuh menjadi seorang yang penolong. Indikator Perilaku Prososial
Eissenberg dan Mussen (dalam Dayakisni, 2009) mengemukakan bahwa perilaku prososial mencakup pada tindakan sebagai berikut:
1. Membagi (sharing)
Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dapat merasakan sesuatu yang dimilikinya. Misalnya keahlian dan pengetahuan.
2. Kerjasama (cooperative)
Melakukan kegiatan bersama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, termasuk mempertimbangkan dan menghargai pendapat orang lain dalam berdiskusi. 3. Menyumbang (donating)
Memberikan secara materil kepada seseorang atau kelompok untuk kepentingan umum yang berdasarkan pada permintaan, kejadian dan kegiatan.
4. Menolong (helping)
Membantu orang lain secara fisik untuk mengurangi beban yang sedang dikerjakan. 5. Kejujuran (honesty)
Memberikan sesuatu (biasanya berupa uang dan barang) kepada orang lain atas dasar kesadaran diri.
7. Mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain
Daftar Pustaka - Buku:
Abin, Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Atkinson, Rita L., dkk. 1983. Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Baron, R.A., & Byrne, D. (2005). Psikologi sosial, jilid dua (edisi ke sepuluh). Alih Bahasa: Ratna Djuwita, Melania Meitty Parman, Dyah Yasmina, Lita P. Lunanta. Jakarta: Erlangga.
Merton, Robert K (1968). Social Theory and Social Structure. New York: Free Press.
Soekanto, Soejono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
- Internet
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/Pengantar_Psikologi_Sosial_IIx.pdf diakses pada Rabu, 4 Mei 2016 pukul 05.09
http://skripsi-konsultasi.blogspot.co.id/2012/12/judul-skripsi-psikologi-teori-learned.html diakses pada Rabu, 4 Mei 2016 pukul 05.18
http://budisansblog.blogspot.co.id/2012/10/self-fulfilling-prophecy_1.html diakses pada Rabu, 4 Mei 2016 pukul 05.26