• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRADIGMA POLISI SIPIL DALAM PENEGAKAN HU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PRADIGMA POLISI SIPIL DALAM PENEGAKAN HU"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

TOPIK :

PRADIGMA POLISI SIPIL DALAM PENEGAKAN HUKUM PADA MASYARAKAT DEMOKRASI

JUDUL:

OPTIMALISASI PEMOLISIAN PROAKTIF GUNA MENCEGAH TAWURAN ANTAR WARGA DALAM RANGKA TERWUJUDNYA HARKAMTIBMAS

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Sejak tanggal 1 April 1999 Polri dan TNI/ABRI secara resmi berpisah dan berdiri sendiri. sebagaimana tertuang dalam beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan seperti: Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 1999 tentang Pemisahan Polri dri TNI/ABRI, Tap MPR Nomor VI/2000 Tentang Pemisahan TNI dan Polri, Tap MPR Nomor VII/2000 Tentang Peran TNI dan Peran Polri, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri. Momentum sejarah ini dipandang sebagai sebuah awal (starting point) untuk memulai kehidupan masyarakat sipil (civil society) dengan polisi sipil (civilianz police) bertugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat yang memenuhi empat unsur yaitu: Security yaitu perasaan bebas dari gangguan fisik dan psikis, Surety yaitu perasaan bebas dari kekhawatiran, Safety yaitu perasaan terlindung dari segala bahaya, dan Peace yaitu perasaan damai lahiriah dan batiniah.

Pemeliharaan kamtibmas pada hakekatnya merupakan rangkaian upaya pemeliharaan ketertiban umum (maintaining law and order), penanggulangan kejahatan (fighting crime) dan perlindungan warga (protecting people) terhadap kejahatan (crime) dan bencana (disaster)1. Tayangan televisi memberitakan peristiwa tawuran antar pelajar, penyerangan

oleh kelompok gank motor, dan tawuran antar warga, berdampak terhadap rasa aman dan tentram masyarakat secara luas, dalam hal ini Polri harus ekstra kerja keras meminimalisir korban yang mungkin timbul saat peristiwa terjadi, tindakan represif dan pembubaran paksa 1 Makalah Jendral (Prn) Chairuddin Ismail “Tantangan Polri Dalam Pemeliharaan Kamtibmas Pada Masyarakat Demokrasi” disampaikan pada Seminar Sekolah STIK Jakarta.

(2)

oleh petugas Polri lengkap dengan tembakan peringatan, bukan membuat jera pelaku justru memancing mereka untuk kembali melakukan hal yang sama dilain tempat dan waktu yang berbeda secara lebih brutal, serta mungkin lebih fatal bahkan warga tidak jarang berbalik menyerang polisi hingga timbul korban di kedua belah pihak.

Tentu kondisi di atas semakin menjauhkan polisi dengan masyarakat yang dilayani, harapan masyarakat terhadap kepolisian akan jaminan keamanan dan perlindungan Polri secara maksimal baik atas dirinya, maupun keluarganya dan harta bendanya, serta kebutuhan pelayanan yang lebih baik dari Polri. Menjebatani kondisi ini tidak hanya dibutuhkan kemampuan personel polri dengan kwalitas yang mumpuni dalam melayani masyarakat, tapi yang lebih penting adalah dengan mengoptimalkan metode proaktif dan mencerminkan pradigma polisi sipil yang modern, bukan reaktif yang lebih cenderung bersifat militeristik.

Dari uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul penulisan NKP yaitu : ” OPTIMALISASI PEMOLISIAN PROAKTIF GUNA MENCEGAH TAWURAN ANTAR WARGA DALAM RANGKA TERWUJUDNYA HARKAMTIBMAS” .

2. Permasalahan

Tulisan ini akan mengangkat permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimana Mengoptimalkan Pemolisian Proaktif Guna Mencegah Tawuran Antar Warga Sehingga Harkamtibmas Dapat Terwujud?

3. Persoalan

a. Bagaimana Sumber Daya Manusia yang ada guna mendukung optimalisasi Pemolisian Proaktif di Polres X ?

b. Bagaimana metode yang dilaksanakan guna mengoptimalkan Pemolisian Proaktif di Polres X ?

c. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi optimalisasi Pemolisian Proaktif di Polres X ?

(3)

Ruang lingkup dalam penulisan ini dibatasi pada kondisi sumberdaya manusia, metode yang dillaksanakan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi Pemolisian Proaktif guna mencegah tawuran antar warga di Polres X.

5. Maksud dan Tujuan a. Maksud :

Maksud penulisan ini untuk mengambarkan optimalisasi pemolisian proaktif guna mencegah tawuran antar warga dalam rangka terwujudnya kamtibmas.

b. Tujuan :

Sebagai pemenuhan tugas matakuliah Pasis Sespimmen Polri Dik Reg Ke-54 T.P 2014 yaitu Polisi Sipil Sebagai Pradigma Baru Kepolisian. Memberikan sumbangan pemikiran serta masukan kepada Pimpinan Polri tentang optimalisasi pemolisian proaktif, sehingga dapat berjalan dengan maksimal.

6. Metode Pendekatan

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. 7. Sistematika

BAB I berisikan latar belakang, ruang lingkup, permasalahan, persoalan, maksud dan tujuan, metode dan pendekatan, sistematika serta pengertian-pengertian yang berkaitan dengan judul penulisan.

BAB II berisikan tentang landasan teori yang digunakan dalam penulisan BAB III berisikan tentang gambaran kondisi faktual.

BAB IV berisikan tentang berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi .

BAB V berisikan tentang kondisi yang merupakan gambaran ideal atau kondisi yang diharapkan.

BAB VI berisikan tentang konsepsi pemecahan masalah..

BAB VII berisikan tentang kesimpulan yang menjawab persoalan-persoalan yang muncul, dan rekomendasi yang berisi harapan kepada satuan yang lebih tinggi.

(4)

Dalam beberapa literatur manajemen, tidak dijelaskan secara tegas pengertian optimalisasi, namun dalam Kamus Bahasa Indonesia, W.J.S. poerdwadarminta ( 1997 : 753 ) dikemukakna bahwa : “Optimalisasi adalah hasil yang dicapai sesuai dengan keinginan, jadi optimalisasi merupakan pencapaian hasil sesuai harapan secara efektif dan efisien”.

b. Pemolisian Proaktif

Pemolisian Proaktif berkaitan erat dengan praktek pemolisian masyarakat. Tujuan komunitas kepolisian adalah "pemecahan masalah." Polmas menekankan penegakan proaktif yang mengusulkan kejahatan jalanan dapat dikurangi melalui keterlibatan masyarakat yang lebih besar dan integrasi antara warga dan polisi. Kepolisian dan petugas harus komit waktu untuk mengembangkan sebuah "kemitraan" dengan masyarakat untuk: 1) Mencegah dan kontra kejahatan; 2) Menjaga ketertiban; dan 3) Mengurangi rasa takut kejahatan2.

c. Mencegah Tawuran antar warga

Mencegah atau prevention adalah menekan seminimal mungkain suatu masalah sebelum terjadi, tawuran dalam kamus bahasa Indonesia berarti perkelahian yang melibatkan banyak orang, warga adalah kumpulan orang- orang yang teinggal pada suatu tempat tertentu. Mencegah tawuran antar warga dapat diartikan menekan seminimal mungkin sebelum terjadi perkelahian antar kelompok yang tinggal pada loksai berbeda.

d. Harkamtibmas

Pengertian Kamtibmas menurut Pasal 1 Undang-undang Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 disebutkan bahwa pengertian Kamtibmas adalah: suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainnya tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat.

(5)

BAB II

LANDASAN TEORI

9. Teori Manajemen Strategis

Menurut Pearce dan Robinson (2013;3-4) bahwa manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi rencana untuk mencapai tujuan.. Tahapan proses manajemen strategi, penjabarannya sebagai berikut :

a. Perumusan strategi mencakup kegiatan mengembangkan visi dan misi organisasi, mengidenfikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, membuat sejumlah strategi alternatif untuk organisasi dan memilih strategi tertentu yang digunakan.

b. Pelaksanaan strategi mengharuskan perusahaan untuk menetapkan sasaran tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumber daya sehingga perumusan strategi dapat dilaksanakan. Pelaksanaan strategi mencakup pengembangan budaya yang mendukung strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan kembali usaha-usaha pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi, serta menghubungkan kompensasi untuk karyawan dengan kinerja organisasi.

c. Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategi, para manajer harus benar-benar mengetahui alasan strategi-strategi tertentu tidak dapat dilaksanakan dengan baik,. Tiga kegiatan pokok dalam evaluasi strategi adalah : (1) Mengkaji ulang faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi landasan perumusan strategi yang diterapkan sekarang ini. (2) Mengukur kinerja dan (3) Melakukan tindakan-tindakan korektif.

10. Analisa SWOT

(6)

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Rangkuti (2000; 19) berkata bahwa penelitian menunjukkan kinerja perusahaan atau organisasi dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT.

Selanjutnya identifikasi dalam analisis SWOT akan dikaji menggunakan matrik TOWS. David (1995) dalam Karyoso (2005,86-89) matrik TOWS digunakan dengan mendahulukan analisis ancaman dan peluang untuk melihat sejauh mana kapabilitas internal sesuai dan cocok dengan factor eksternal tersebut. Dalam hal ini ada 4 strategi yang tampil dari analisis matrik TOWS tersebut yaitu : Strategi SO, Srategi WO, Strategi ST, Strategi WT.

11. Konsep Polmas.

Polmas (Community Policing) merupakan gaya pemolisian yang mendekatkan hubungan polisi dengan masyarakat yang dilayaninya (Customer). Dalam Polmas keberadaan masyarakat bukan hanya sebagai obyek saja, akan tetapi menempatkan masyarakat sebagai subyek. Dengan harapan masyarakat memiliki pemikiran yang berorientasi Kepolisian, yaitu ikut serta dalam menentukan upaya-upaya penciptaan keamanan di lingkungannya masing-masing. Menurut Pror. Dr. Satjipto Rahardjo bahwa Community policing tidak dilakukan untuk melawan kejahatan, tetapi mencari dan melenyapkan sumber kejahatan3. Menurut Jenderal (P) Drs. Sutanto, Community Policing adalah bentuk pemolisian sipil untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat yang dilakukan dengan tindakan-tindakan : (1) Polisi bersama-sama dengan masyarakat untuk mencari jalan keluar atau menyelesaikan masalah sosial (terutama masalah keamanan) yang terjadi dalam masyarakat. (2) Polisi senantiasa berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya gangguan kriminilitas, (3) Polisi lebih mengutamakan pencegahan kriminalitas (crime prevention), dan (4) Polisi senantiasa berupaya meningkatkan kualitas masyarakat4.

BAB III

3 Rahardjo, Satjipto., 2001, tentang Community Policing di Indonesia, Makalah Seminar;” Polisi antara harapan dan kenyataan”, Hotel Borobudur, Jakarta

(7)

KONDISI FAKTUAL PEMOLISIAN PROAKTIF GUNA MENCEGAH TAWURAN ANTAR WARGA SAAT INI

1. Kondisi Sumber Daya Manusia Polres X guna mendukung optimalisasi Pemolisian Proaktif saat ini.

a. Kwantitas

Table :1

N O

SATUAN

KERJA PAMEN PAMA BA TA PNS RIIL DSPP

(8)

Jumlah personel yang dilibatkan sebagai bhabinkamtibmas selaku pengemban fungsi polmas sebagai berikut:

Tabel: 2

NO POLSEK JML

PERS

JML KELURA

HAN

PERSONEL BHABINKAMTIBMAS

POLSEK POLRES JML

1. POLSEK 1 (URBAN) 100 12 12 - 12

2. POLSEK 2 78 15 15 - 15

3. POLSEK 3 54 8 8 - 8

4. POLSEK 4 74 8 8 - 8

5. POLSEK 5 (KP3) 28 3 - 3

JUMLAH 334 43 43 43

b. Kwalitas

Berbicara kualitas tentunya berbicara kemampuan dan cara mendapatkan kemampuan tersebut. Dalam hal ini adalah kemampuan personel sebagai Bhabinkamtibmas dan pelatihan/kursus serta hal lain yang mengembangkan kemampuannya.

Tabel : 3

No Dik / Lat Perwira Bintara Ket

1 Polmas 1 12

2 Babinkamtibmas - 11

3 Negosiasi 1 2

4 Konflik Sosial -

-5 Dai kamtibmas 1 5

Jumlah 3 30

13. Metode.

Terdapat beberapa kondisi yang digunakan dalam menerapkan pemolisian proaktif yang digunakan saat ini oleh Polres X guna mencegah tawuran antar warga, antara lain:

(9)

namun penempatannya cenderung tidak sesuai dengan kometensinya ataupun kemampuannya. hal ini menjadi tidak optimal karena personel yang ditempatkan belum memiliki kesiapan mental menjadi seorang bhabinkamtibmas yang berperan sebagai petugas polmas.

b. Dengan menerapkan program Bankamdes (bantuan keamanan desa). Metode ini merupakan program yang di kembangkan oleh salah satu kapolda di polda Y, dengan melibatkan tokoh masyarakat yang berperan diwilayah tersebut. Namun dalam kenyataannya pembinaan terhadap bankamdes yang sudah terbentuk tidak berkesinambungan. Bankamdes cenderung sifatnya reaksional dan ketika terjadi tawuran antar warga sering terjadi bankamdes ikut terlibat dalam tawuran tersebut Karen pemahanan yang salah pada Bankamdes

c. Melaksanakan penyuluhan kamtibmas bekerja sama dengan pihak kelurahan, kegiatan penyuluhan yang dilakukan lebih sering hanya mengikuti kegiatan kelurahan tanpa menggunakan jadwal kegiatan yang disusun atau terencana. Sehingga tidak menyentuh akar permasalahan kejadian.

d. Melakukan sambang dor to dor. Metode ini dilaksanakan oleh bhabinkamtibmas sendiri dengan membawa buku kerja dan mencatat hasil sambaing untuk dilaporkan ke satuan atas.

e. Penyelesaian masalah jika terjadi tawuraan warga, petugas cenderung tidak memiliki keyakinan diri untuk menentukan sikap. Karena kurangnya kepercayaan diri petugas dan merasa tidak adanya back up dari fungsi lain dan atasan.

14. Implikasi terhadap kurang optimalnya pemolisian proaktif

(10)

bersama-sama. Jika Implementasi Polmas masih kurang mampu dioptimalkan, dikhawatirkan Polmas sebagai suatu strategi dapat terhambat yang akan menimbulkan berbagai persoalan seperti :

a. Meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban.

b. Potensi konflik yang muncul berpeluang menjadi konflik yang nyata sehingga dapat mengganggu stabilitas keaman

BAB IV

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Langkah selanjutnya dilakukan diagnosa kinerja dengan menggunakan analisa SWOT untuk mengetahui kondisi lingkungan internal yang diarahkan pada penilaian kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) yang ada dan yang akan ada, dan lingkungan eksternal yaitu peluang (opportunity) dan ancaman (threats) yang ada dan yang mungkin ada terhadap organisasi. Penjelasan terhadap kedua lingkungan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Faktor Internal a. Kekuatan

1) Kuantitas personel Polres X yang melebihi DSP;

2) Personel Polres X sebanyak 178 orang adalah putra daerah; 3) Banyaknya personel yang tinggal di luar asrama Polres.

4) Adanya sarana prasarana, materiil dan logistik berupa Alat Khusus (Alsus), Alat Utama (Alut), Alat dan Perlengkapan (Alkap) dan Kendaraan Dinas (Randis) yang dimiliki oleh Polres X yg cukup memadai.

5) Penerapan 1 polisi 1 desa sudah terlaksana, \

b. Kelemahan

1) Sikap premondial atau kedaerahan yang menggangu objektifitas kerja personel;

2) Sikap terlalu kaku pada tugas fungsi kerja masing-masing;

(11)

4) Kurangnya pemahaman tentang pentingnya tindakan preemtif baik level perwira maupun bintara;

5) Kemampuan komunikasi efektif yang dimiliki sangat rendah sehingga tekesan arogan;

6) Tunjangan bhabinkamtibmas yang tidaak sebanding dengan beban kerja melemahkan etos kerja personel;.

7) Masih memandang masyarakat sebagai objek bukan sebagai mitra ataupun sebagai warga.

2. Faktor Eksternal a. Peluang

1) Program Bankamdes yang telah didukung oleh pemerintah daerah . 2) Adanya program pemberdayaan masyarakat pada setiap SKPD

3) Dukungan pemerintah untuk terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat. 4) Sarana dan prasarana daerah yang sudah memadai

5) Dukungan kerjasama antara Polres X dengan lembaga akademisi yang sdh terjalin dengan baik.

6) Sikap sebagian besar masyarakat yang sudah jenuh akan terjadinya tawuran antar warga.

7) Keinginan dan harapan masyarakat terhadap institusi Polres X untuk meningkatkan harkamtibmas.

b. Kendala

1) Sikap masyarakat yang cenderung apatis dengan kepentingan individu lebih menonjol.

2) Kebiasaan masyarakat mengkonsumsi minuman keras.

3) Premondialisme yang cukup tinggi dan berkembang di masyarkat.

4) Pemberitaan di media massa yang tidak seimbang dan cenderung mendeskriditkan polri.

5) Kultur masyarakat yang cenderung masih sangat terikat dengan tradisi tradisional dan kurang terbuka dengan perubahan.

(12)

7) Melekatnya kebiasaan lama atau budaya tradisional yang bertentanga dengan peraturan hukum yang berlaku.

BAB V

KONDISI IDEAL OPTIMALISASI PEMOLISIAN PROAKTIF GUNA MENCEGAH TAWURAN ANTAR WARGA YANG DI HARAPKAN

17. Pemolisian Proaktif yang di harapkan.

Pelaksanaan pemolisian proaktif di Polres x yang diharapkan dilihat dari dua unsur yaitu sumber daya anusia dan metode yang dilaksanakan atau di gunakan dapat di ketahui sebagai berikut..

a. Sumber daya manusia. 1) Kualitas petugas

Pemilihan (Rekrutmen) Petugas Polmas dilaksanakan melalui proses seleksi agar kemampuan petugas Polmas didalam melaksanakan tugas pokok, fungsi, peranan dan kegiatannya yang ditujukan dalam mengupayakan penertiban, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan secara efektif dan efisien. Selain itu, keberadaan petugas Polmas dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dimana ia bertugas, hal ini dikarenakan kemampuan / pengetahuan baik bidang tugasnya maupun tentang kemasyarakatan dikuasainya.. Disamping itu perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan sebagai penyuluh Kamtibmas dan juru pendamai bila terjadi perselisihan antar masyarakat. 2) Kuantitas petugas

(13)

masyarakat secara keseluruhan dengan tujuan untuk memantapkan situasi Kamtibmas.

b. Sistem dan Metode (HTCK) 1) Internal

a) Kapolres / Waka Polres sebagai penanggung jawab pelaksanaan Pemolisian Proaktif di wilayah hukum Polres X, harus dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan optimal.

b) Kasat Binmas sebagai koordinator dan penghimpun data serta merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh tiap–tiap fungsi.

c) Kapolsek dan para Kasat di tingkat Polsek sebagai supervisor yang mengendalikan langsung pelaksanaan petugas pada fungsi masing-masing yang dapat berfungsi sebagai petugas Polmas. 2) Eksternal

a) Adanya komunikasi dan koordinasi petugas Polmas dengan kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, sehingga situasi kamtibmas yang kondusif dapat tercipta.

b) Adanya koordinasi dengan Pemda dan instransi terkait dan adanya kerma polisionil dan bersinergi antara program pemda dan program kepolisian. sehingga terwujud kerjasama antara petugas kepolisian dengan Pemda dan instansi terkait termasuk masyarakat dalam penanggulangan gangguan Kamtibmas. 18. Kontribusi

(14)

akan dapat dilakukan karena sudah adanya kegiatn dan program yang sudah terukur dan terencana menyentuh pada akar permasalahan yang sebagian besaar di awali oleh maslah social yang tidak terselesaikan. Bila dikaitkan dengan strategi penerapan Polmas yang digulirkan oleh pimpinan Polri dalam menjawab tuntutan masyarakat terhadap kinerja Polri sebagai akibat perkembangan lingkungan strategis, dimana yang dikedepankan adalah pendekatan pelayanan kepada masyarakat, seiring dengan perubahan paradigma baru Polri sebagai polisi sipil, akan segera terwujud dengan meningakatkan peran dari petugas Polmas. Selain itu, dengan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan sikap prilaku yang baik dari Petugas Polmas, maka peran petugas Polmas dalam meningkatkan kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat akan terwujud, sehingga dapat mewujudkan Kamtibmas yang kondusif. 19. Indikator keberhasilan penerapan Polmas

Sesuai dengan Peraturan Kepala Polisi Negara Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi Pemolisian Masyarakat dalam penyelenggaraan tugas Polri. Kriteria/indikator keberhasilan Polmas adalah sebagai berikut :

a. Intensitas komunikasi antara petugas dengan masyarakat meningkat.

b. Keakraban hubungan petugas dengan masyarakat meningkat.

c. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri meningkat. d. Intensitas kegiatan forum komunikasi petugas dan

masyarakat meningkat.

e. Kepekaan / kepedulian masyarakat terhadap malah kamtibmas dilingkungannya meningkat.

f. Daya kritis masyarakat terhadap akuntanbilitas penyelesaian masalah kamtibmas meningkat.

(15)

h. Partisipasi masyarakat dalam hal deteksi dini, peringatan dini, laporan kejadian meningkat.

i. Keberadaan dan berfungsinya mekanisme penyelesaian

masalah oleh polisi dan masyarakat.

j. Gangguan kamtibmas menurun.

BAB VI

UPAYA YANG DILAKUKAN DALAM OPTIMALISASI PEMOLISAIN PROAKTIF GUNA MENCEGAH TAWURAN ANTAR WARGA

Dalam rangka Optimalisasi Pemolisian Proaktif guna mencegah tawuran antar warga, maka diperlukan langkah-langkah strategis untuk mewujudkannya, mulai dari visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan upaya (action plan) sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini, antara lain :

1. Visi

Dengan Pemolisian Proaktif yaitu Polmas Terpadu cegah tawuran antar warga dalam rangka terwujudnya Harkamtibmas.

2. Misi

a. Menerapkan Pemolisian Proaktif sebagai strategi terintegrasi antar fungsi di Polres Xkepemimpinan yang efektif secara berkelanjutan dan konsisten sesuai karakter insan bhayangkara.

b. Menerapkan Polmas Terpadu dengan melibatkan berbagai pihak guna mencegah tawuran antar warga di Polres X.

c. Mengelola secara objektif, transparan dan akuntabel seluruh sumber daya Polres X guna mendukung optimalisasi pemolisian proaktif.

3. Tujuan

a. Terwujudnya sinergitas antar fungsi dalam optimalisasi pemolisian proaktif sebagai aktualisasi polisi sipil.

(16)

c. Terwujudnya peningkatan tampilan kinerja atau performa anggota Polres X berdasarkan keterampilan, pengetahuan dan sikap kerja dalam menunjang keberhasilan organisasi Polres X sesuai Visi dan Misinya.

4. Sasaran

a. Tersedianya SDM dan system yang handal dalam mengoptimalkan pemolisian proaktif.

b. Tersedianya metode kemitraan yang tepat dan dapat mendukung pencegahan tawuran antar warga.

c. Tergelarnya sarana dan prasarana untuk mendukung optimalisasi pemolisian proaktif.

5. Kebijakan

a. Melakukan perekrutan dan penerapan assessment center untuk penyiapan SDM bhabinkamtibmas yang handal.

b. Melaksanakan pelatihan peningkatan kemampuan komunikasi efektif dan problem solfing.

c. Melaksanakan kegiatan rapat-rapat koordinasi untuk menyamakan persepsi tentang pola kemitraan terpadu.

d. Menerapkan sinergitas kerja antar fungsi secara konsisten , efektif dan efisien. e. Meningkatkan kemempuan dan pemahaman personel baik kaemampuan teknis,

taktis, dan hubungan social kemasyaraktan.

6. Strategi

Strategi yang dirumuskan dalam implementasi kepemimpinan efektif guna meningkatkan profesionalisme polri, dilaksanakan melalui beberapa tahapan strategi yakni:

a.

Strategi 1 : Menerapkan model penugasan terintegrasi antar fungsi dimana satu desa ditugaskan lebih dari satu anggota sesuai job description bhabinkamtibmas sebagai coordinator

(17)

c.

Strategi 3 : Melaksanakan pelatihan komunikasi efektif dan problem solfing

d.

Strategi 4 : Memanfatkan sarana prasarana yang ada semaksimal mungkin untuk pelayanan masyarakat dan membangun kemitraan dgn masyarakat

e.

Strategi 5 : Melaksanakan rewad and phunisment secara objektif dan konsisten

31. Upaya implementasi (action plan)

a. Strategi 1 : Menerapkan model penugasan terintegrasi antar fungsi dimana satu desa ditugaskan lebih dari satu anggota sesuai job description bhabinkamtibmas sebagai coordinator

1) Jangka Pendek (0 – 6 bulan)

a) Menyiapkan personel yang akan ditugasakan.

b) Menyiapkan program penugasan dan jenis kegiatan yang tepat. 2) Jangka Menengah (6 – 12 bulan)

a) Melaksanakan program penugasandan giat fungsi : beat patrol dialogis, kring serse wilayah, baket dan penggalangan wilayah, dikmas lantas desa. b) Penempatan personel sesuai zone wilayah tugas dan program.

3) Jangka Panjang 12 – 24 bulan

a) Melaksanakan pengandalian dan penilaian b) Melaksanakan evaluasi penugasan

b. Strategi 2 : Menerapkan Polmas Terpadu 1) Jangka Pendek (0 – 6 bulan)

a) Menyiapkan piranti lunak atau nota kesepahaman. b) Melaksanakan rapat koordinasi

1) Jangka Menengah (6 – 12 bulan)

a) Menyusun program Polmas Terpadu b) Menyusun kebutuhan anggaran. 2) Jangka Panjang 12 – 24 bulan

(18)

c.

Strategi 3 : Melaksanakan pelatihan komunikasi efektif dan problem solfing 1) Jangka Pendek (0 – 6 bulan)

a) Menyiapkan piranti lunak pelatihan. b) Menyiapkan perencanaan pelatihan 2) Jangka Menengah (6 – 12 bulan)

a) Melaksanakan pelatihan sesuai jadwal yang ditentukan. b) Melaksanakan kerjasama latihan dengan instansi terkait. 3) Jangka Panjang 12 – 24 bulan

a) Melaksanakan penilaian b) Melaksanakan evaluasi

d.

Strategi 4 : Memanfatkan sarana prasarana yang ada semaksimal mungkin untuk pelayanan masyarakat dan membangun kemitraan dgn masyarakat

1) Jangka Pendek (0 – 6 bulan)

a) Melakukan pendataan sarana prasarana dan kondisi.

b) Menyiapkan perencanaan pemanfaatan sarana dan prasarana 2) Jangka Menengah (6 – 12 bulan)

a) Melaksanakan menggunaan sarana prasana dengan efektif dan efisien. b) Melaksanakan pengawasan penggunaan.

3) Jangka Panjang 12 – 24 bulan a) Melaksanakan penilaian b) Melaksanakan evaluasi

e.

Strategi 5 : Melaksanakan rewad and phunisment secara objektif dan konsisten . 1) Jangka Pendek (0 – 6 bulan)

a) Menyiapkan piranti lunak berupa SOP dan piranti lunak lainnya. b) Mengajukan personel yang akan melaksanakan assessment 2) Jangka Menengah (6 – 12 bulan)

a) Memperkuat personel pengawasan internal. b) Melaksanakan Sosialisasi..

3) Jangka Panjang 12 – 24 bulan

(19)

BAB VII PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Pemolisian proaktif guna mencegah tawuran antar warga di Polres X belum Optimal, untuk itu dibutuhkan kesiapan personel polri dengan keamampuan berkomunikasi yang efektif dan perubahan cara pandang terhadap masyarakat dan lingkungan dengan menempatkan masyarakat sejajar sebagai mitra bukan menempatkan masyarakat sebagai objek, sehingga ada peran serta aktif masyarakat untuk terwujudnya Harkamtibmas. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan dan perekrutan bhabinkamtibmas dengan menggunakan assessment center dan tes psikologis, serta mengintensifkan pelatihan tentang kemampuan polmas. Untuk memotivasi kerja petugas bhabinkamtibmas perlu adanya tunjangan bhabinkamtibmas yang sesuai dengan beban kerjanya.

(20)

c. Optimalisasi pemolisian proaktif guna mencegah tawuran antar warga sangat di pengaruhi oleh faktor internal baik sebagai kekuatan dan kelemahan, faktor eksternal baik itu peluang dan kendala, kedua faktor tersebut dianalisa dan di padukan untuk menentukan strategi yang tepat diterapkaan demi keberhasilan optimalisasi pemolisian proaktif, faktor tersebut :

1) Faktor internal : kwalitas dan kwantitas personel, adanya program unggulan dalam kemitraan, namun terdapat kelemahan yakni sikap primondial anggota, sikap ego sentris terhadap tugas fungsi msing-masing, pemahaman tentang tindakan preemtif masih rendah.

2) Faktor Eksternal: Program Bankamdes yang telah didukung oleh pemerintah daerah, serta program pemberdayaan masyarakat pada setiap SKPD. Sikap sebagian besar masyarakat yang sudah jenuh akan terjadinya tawuran antar warga diikuti keinginan dan harapan masyarakat terhadap institusi Polres X untuk meningkatkan harkamtibmas. Adanya kendala yang dapat mempengaruhi seperti Sikap masyarakat yang cenderung apatis dengan kepentingan individu lebih menonjol. Kebiasaan masyarakat mengkonsumsi minuman keras.. Kultur masyarakat yang cenderung masih sangat terikat dengan tradisi tradisional dan kurang terbuka dengan perubahan.

2. Rekomendasi

Dari uraian tersebut diatas, maka beberapa rekomendasi yang perlu diusulkan dalam rangka optimalisasi pemolian proaktif guna mencegah tawuran antar warga di Polres X diantaranya adalah:

a. Mengajukan saran ke Polda untuk diusulkan ke mabes Polri , agar bhabinkamtibmas dimasukkan sebagai jabatan fungsional sehingga dapat didukung tunjangan jabatan dan anggaran operasional sesuai dengan beban kerjanya dari dipa polri.

(21)

Referensi

Dokumen terkait