KAK Timor-Leste
Komisi Anti-Korupsi TL masih balita
• Didirikan pada tahun 2010,dengan dilantiknya Komisaris Anti Korupsi yang pertama oleh Parlamen Nasional TL;
• Tahun 2010 masa dimana Komisi Melakukan persiapan secara institusi;
• Melakukan perekrutan staf di bidang administrasi dan keuangan, investigator serta staf di bidang pendidikan dan pencegahan;
• Mempersiapkan pelatihan kepada para staf yang baru direkrut;
• Baru melakukan kegiatan investigasi dan sosialisasi dalam bidang pencegahan di tahun 2011;
1. Peta Timor-Leste dan batas wilayah
2. Undang-Undang Nº 8/2009, tentang Pembentukan Komisi Anti Korupsi (visi, misi dan mandat Komisi Anti- Korupsi);
3. Ruang Lingkup KAK; 4. Kewenangan KAK;
5. Pendelegasian wewenang dari pihak Kejaksaan; 6. Kerja sama Internasional;
7. Kerja sama antar institusi di Timor-Leste; 8. Kendala yang dihadapi;
9. Upaya yang dilakukan;
10. Institusi yang berpotensi melakukan korupsi; 11. Kasus penyuapan di perbatasan antar negara
3
Peta Timor-Leste dan batas wilayah
Timor-Leste Income: - Oil Revenue : + 90% - Non-oil Revenue: + 10%
Timor Sea /Timor Gap
Dili,
Timor-Leste Capital
(Trough of Timor)
• Latar Belakang didirikannya Komisi Anti Korupsi didasarkan pada fenomena bahwa perbuatan korupsi sangat kompleks, dengan dimensi yang luas dan konsekuensi negatif dalam bidang sosial ekonomi yang berdampak pada sumber daya negara hanya dinikmati dan disalahgunakan oleh mereka yang mempunyai jabatan dan kekuasaan;
• Tujuan dari Undang-Undang ini untuk memberikan kewenangan khusus serta independen sebagai organ polisi kriminal dalam menjalankan tugasnya;
• Sebelumnya masalah korupsi ditangani oleh Ombudsman (PDHJ) Timor-Leste sejak tahun 2006.
5
Undang-Undang Nº 8/2009, tentang Pembentukan Komisi
Anti Korupsi
Visi dan Misi KAK
•
Visi = Timor-Leste merupakan Negara yang
berasaskan demokrasi dan hukum memiliki
budaya penolakan yang kuat terhadap korupsi
demi kesejahteraan rakyat.
•
Misi = Memberantas korupsi melalui bidang
Pencegahan dan Investigasi.
•
Komisi Anti Korupsi (KAK) merupakan sebuah institusi
negara yang independen secara teknikal, administratif dan
keuangan;
•
Komisi diberikan kewenangan yang independen, sebagai
Organ Polisi Kriminal Espesialis di bidang korupsi;
•
Sebagai Organ Polisi Kriminal Espesialis, Komisi dalam
melakukan tugasnya didasarkan pada Undang-Undang yang
berlaku.
7
•
Dalam bidang pencegahan kejahatan:
•
Menghimpun dan meng-analisis informasi
tentang penyebab dan pencegahan korupsi;
•
Meningkatkan kesadaran dengan tujuan untuk
membatasi praktek-praktek korupsi;
•
Menasehati kepada semua institusi publik
manapun tentang cara untuk mencegah dan
memberantas kejahatan korupsi.
8
Selanjutnya…
• Melakukan desiminasi informasi tentang tugas dan peranan dari Komisi Anti Korupsi/KAK melalui sektor pendidikan ( SD-PT), NGO, Sektor Swasta, Sektor Publik, Partai Politik, Community Leader, Organisasi Perempuan dan Pemuda, Sektor keagamaan, aparat militer dan kepolisian ditingkat nasional maupun daerah dengan kegiatan seperti: Seminar, Lokakarya, TOT, FGD serta membentuk Pokja Anti Korupsi pada tingkat Universitas, mendirikan kantin kejujuran, lomba cerdas cermat, lomba pidato;
• Melakukan monitoring dan inspeksi tergadap penggunaan aset negara, monitoring proyek fisik serta melakukan riset.
Dalam Bidang Investigasi
Komisi memiliki kewenangan untuk melakukan
investigasi berdasarkan pendelegasian wewenang dari
pihak kejaksaan;
Melakukan investigasi terhadap tindak pidana korupsi
sebagaimana diatur dalam pasal (292-299) KUHP
Menghimpun informasi tentang kriminalitas;
Mengidentifikasi orang-orang yang dianggap
bertanggung jawab atas suatu tindak pidana korupsi;
Menyelidiki/mengumpulkan barang bukti tentang suatu
tindak pidana;
Selanjutnya…
- Melakukan proses indentifikasi dan melakukan proses
penahanan terhadap seseorang;
- Mencari dan memeriksa barang bukti;
- Melakukan Penyitaan terhadap dokumen yang dijadikan
barang bukti
- Melakukan pekerjaan intelijen
- Melakukan penyadapan telefon terhadap seseorang
yang diduga melakukan tindak pidana korupsi;
- Melakukan pengujian terhadap materi seperti: buku,
dokumen, registrasi, kearsipan dan elemen lainnya;
- Meminta keterangan ahli dan uji laboritorium
11
Pendelegasian Wewenang
- Pemblokiran rekening bank bagi tersangka;
- Pembekuan aset aktif baik yang ada di pihak lain
ataupun dalam pengawasan pihak tertentu.
• Kasus yang ada bersumber dari Komisi sendiri berdasarkan laporan yang masuk;
• Kasus yang didelegasikan oleh pihak Kejaksaan;
• Sejak tahun 2011-2016 jumlah kasus yang ditanggani komisi sebanyak 140;
• Khusus tahun 2016, dari bulan Januari- Agustus ada 19 Kasus, 15
kasus laporan akhir hasil investigasi sudah di serahkan kepada pihak kejaksaan dan 4 kasus lainnya sedang dalam proses investigasi.;
• Pelaku yang terlibat mulai dari pejabat negara hingga pegawai negeri sipil;
• Dari jumlah tersebut ada yang sudah diputus oleh pengadilan ada yang sedang dalam proses dakwaan dan ada yang sedang dalam persidangan.
13
Jumlah kasus yang ditangani Komisi
Kerjasama Internasional
Timor-Leste menjadi anggota INTERPOL sejak bulan Oktober 2002 setelah restorasi Kemerdekaan RDTL;
Kerjasamana dengan Interpol diwakili oleh pihak Kejaksaan Agung dan PNTL;
Pada tahun 2015, pemerintah membentuk PCIC ( Policia Cientifica de Investigação Criminal) yang sekaligus sebagai focal point Interpol Timor-Leste, KAK juga menjadi keanggotaan didalamnya;
Melalui undang-undang No.16/2014, FIU (Financial Information Unit) Timor-Leste, menjadi anggota FIU International dan EGMONT GROUP dalam hal ini kerja sama khusus dalam bidang tukar menukar informasi, pelatihan dan sharing keahlian.
Selanjutnya…
KAK telah menandatangani MoU dengan MACA
Malaysia 2015 dan KPK Indonesia pada tahun 2014
Kerja sama antara Kejaksaan Agung Timor-Leste
dengan semua negara anggota CPLP ( Comunidade
Pais de Lingua Portuquesa ) dalam hal tukar menukar
informasi dan pengembangan kapasitas para jaksa
dan institusi yang memiliki kegiatan semacamnya
termasuk KAK;
Kerjasama antar lembaga Anti Korupsi CPLP;
Menjadi States parties UNCAC
Kerja sama antar Institusi di TL
•
KAK memiliki kerja sama yang erat dengan
pihak Kejaksaan Agung Timor-Leste;
•
KAK memiliki kerja sama dengan Ombudsman
Timor-Leste;
•
KAK memiliki kerja sama dengan Inspektorat
Jenderal Timor-Leste;
•
KAK memiliki kerja-sama dengan Public
Service Commission Timor-Leste.
Kendala Penegak Hukum Timor-Leste dalam
menanggani kasus korupsi lintas negara.
•
Belum adanya undang-undang yang
mengkriminalisasi sektor koorporasi/swasta;
•
Belum adanya undang-undang tentang pelaporan
harta kekayaan oleh pejabat penyelenggara negara.
•
Belum adanya undang-undang tentang memperkaya
diri secara ilegal oleh pejabat penyelenggara negara.
Selanjutnya…
• Lambatnya tanggapan dari lembaga hukum seperti kepolisian dan kejaksaan dari negara kedua atau ketiga dalam kaitannya dengan mutual legal assistant pada kasus korupsi lintas negara;
• Timor-Leste mengalami kendala dalam beberapa kasus yang
melibatkan warga negara asing dari negara Singapura, Portugal dan Amerika Serikat, KAK dan Kejaksaan Agung kesulitan dalam
melakukan proses hukum;
• Timor-Leste hingga saat ini belum memiliki undang-undang tentang Extradisi dan karenanya belum adanya perjanjian extradisi yang
dilakukan Timor-Leste dengan negara lain.
Upaya yang dilakukan
•
KAK bersama pihak Kejaksaan Agung Timor-Leste telah
menyampaikan draft undang-undang anti- korupsi kepada
Parlamen Nasional lewat Komisi A yang membidangi
masalah konstitusi, hukum, administrasi negara, otonomi
daerah dan anti-korupsi untuk diagendakan untuk segera
dibahas;
•
Melakukan kerja-sama dengan institusi penegak hukum
negara anggota CPLP dalam hal tukar-menukar informasi
dan capacity building.
Selanjutnya…
• Mendorong Pemerintah dan Parlamen Nasional Timor-Leste untuk memberikan prioritas kepada beberapa kebutuhan akan undang-undang yang bisa membantu instituisi penegak hukum dalam melakukan tugasnya;
• Undang-undang extradisi juga menjadi prioritas untuk dibuat;
• Undang-Unadang tentang pelaporan harta kekayaan penyelenggara negara;
• Melakukan amandemen terhadap KUHP dan KUHAP Timor-Leste tentang beberapa materi yang perlu diperbaiki dan ditambahkan (memasukan asas pembutian terbalik dalam kasus korupsi dan menkriminalisasi pihak kontraktor yang mekukan tindak pidana dalam bidang konstruksi.
Institusi yang berpotensi terhadap korupsi
• Lembaga Bea dan Cukai/Customs
• Kantor Perpajakan;
• Lembaga Procurement;
• Kementerian Pekerjaan Umum;
• ADN;
• Institusi Kepolisian;
• Kementerian Kehakiman, kantor pencatatan sipil dan notaris;
• Kementerian sumber daya alam dan perminyakan