• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN MEDIS PUSKESMAS BANGSRI I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN MEDIS PUSKESMAS BANGSRI I"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN

UPAYA PENINGKATAN MUTU

PELAYANAN MEDIS

PUSKESMAS BANGSRI I

Jl. Wijaya Kusuma II No. 40

Bangsri, Jepara 594563

Telp. (0291) 771097

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.DEFINISI

Pelayanan kesehatan yang bermutu di Puskesmas Bangsri I adalah pelayanan kesehatan yang memberikan kepuasan kepada setiap pemakai jasa pelayanan yang penyelenggaraannya mengacu pada penerapan kode etik serta standar pelayanan profesi yang berlaku .

1.2. TUJUAN Tujuan Umum :

Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui upaya peningkatan mutu pelayanan di Puskesmas Bangsri I secara efektif dan efisien agar tercapai derajat kesehatan yang optimal .

Tujuan Khusus :

Tercapainya peningkatan mutu pelayanan puskesmas melalui :  Optimalisasi tenaga, sarana dan prasarana

 Memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien.

 Pemanfaatan teknologi tepat guna, hasil penelitian, hasil penelitian dan pengembangtan pelayanan kesehatan.

(3)

1.3.SASARAN

 Meningkatkan kepuasan pasien

 Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan  Efisiensi penggunaan tempat tidur

 Menurunkan angka kematian  Penggunaan obet secara rasional 1.4. STRATEGI

 Puskesmas Bangsri I harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip utama pelayanan puskesmas sehingga dapat menyusun langkah-langkah upaya peningkatan mutu.

 Memberi prioritas kepaeda peningkatan sumber daya manusia di Puskesmas Bangsri I termasuk didalamnya meningkatkan kesejahteraan karyawan, memberikan imbalan yang layak, program keselamatan dan kesehatan kerja, program diklat dll.  Menciptakan budaya mutu di Puskesmas Bangsri I termasuk

didalamnya menyusun program mutu puskesmas, menyusun tema yang dipakai dalam penggunaan SPO kemudian menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi.

(4)

Kepala puskesmas

Komite Medik SPI

Panitia Etik

Panitia Audit Medik Panitia Mutu Perawat Panitia Mutu Lainnya

Panitia Audit Medik Perinatal

Panitia K3

Panitia AkreditasiPanitia Farmasi & TerapiPanitia Pengendalian InokPanitia Penyehatan Lingkungan

BAB 2

STRUKTUR ORGANISASI

2.1. STRUKTUR ORGANISASI

Penjelasan :

Upaya peningkatan dan pengendalian mutu Puskesmas Bangsri I dikordinir oleh Panitia Peningkatan mutu pelayanan Puskesmas yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Puskesmas. Dalam melaksanakan tugasnya, panitia ini dapat berkoordinasi dengan aspek medis dan SPI untuk permasalahan mutu yang terkait dengan aspek non medis.

Panitia Peningkatan mutu pelayanan Puskesmas dipimpin oleh seorang Ketua dan dibantu oleh Sekretaris dan bertugas untuk mengkoordinasikan upaya peningkatan mutu yang dilakukan oleh beberapa panitia yang dibentuk berdasarkan SK Kepala puskesmas.

(5)

2.2.URAIAN TUGAS

Uraian Tugas Panitia Peningkatan Mutu adalah :

a. Menyusun Pedoman dan Kebijakan dasar upaya peningkatan mutu pelayanan di Puskesmas Bangsri I.

b. Menyusun program kerja peningkatan mutu berdasarkan masukan dari panitia-panitia mutu sbb :

 Panitia Audit Medik

 Panitia Audit Maternal Perinatal  Panitia Etik

 Panitia Pengendalian Mutu Perawat  Panitia Akreditasi

 Panitia Farmasi & Terapi

 Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial  Panitia K3

 Panitia Penyehatan Lingkungan  Panitia Pokja

 Panitia Utilisasi  Panitia mutu lainnya

c. Mengkoordinasikan pengelolaan pelaksanaan

pengendalian mutu yang dilakukan oleh panitia-panitia mutu.

d. Mendokumentasikan seluruh kegiatan pengendalian mutu di Puskesmas Bangsri I

e. Melakukan evaluasi pengendalian mutu sacara berkala. 2.3. URAIAN TUGAS PENITIA-PANITIA PENINGKATAN MUTU DI PUSKESMAS BANGSRI I

(6)

PANITIA AUDIT MEDIK

Tugas-tugas panitia audit medik adalah :  Menyusun dan meriview standar medik  Memberi input kepada panitia Kredensial

 Memelihara dan mengembangkan mutu pelayanan medik berkelanjutan(CQI)

 Menilai dan meningkatkan penyebab morbiditas dan mortalitas yang dilaporkan oleh semua unit pelayanan medis.

 Melaksanakan rapat rutin.

 Melaporkan kepada eksekutif komite medik dan panitia mutu PUSKESMAS.

PANITIA AUDIT MATERNAL PERINATAL

Tugas-tugas panitia audit maternal perinatal adalah menelusuri factor-faktor penyebab kematian ibu dan anak dari mulai pasien masuk sampai meninggal.

PANITIA ETIK

Tugas-tugas panitia etik adalah :

 Sebagai Pembina dan penasehat masalah etika profesi dokter dan dokter gigi.

 Membuat kriteria dan pedoman mengenai penerapan etika, pengenbangan dan prosedur yang berkaitan dengan pelaksanaan etika.

 Mengembangkan dan meninjau kebijakan mengenai perawatan dan terapi yang berkaitan dengan penerapan etika.

 Bertindak sebagai fasilitator dan membantu penyelesaian masalah etika.

(7)

 Mengadakan rapat paling sedikit tiga bulan sekali

 Melaporkan seluruh kegiatannya kepada Komite eksekutif staf medfik

PANITIA PENGENDALI MUTU PERAWATAN

Tugas-tugas Panitia Pengendali Mutu Perawatan adalah :

 Menilai pePuskesmasiapan puskesmas secara menyeluruh dalam menghadapi Akreditasi

 Mengkoordinasikan kelengkapan administrative sesuai dengan ketentuan pemerintah dan standar Akreditasi Nasional kepada Bidang/Instalasi melalui pokja-pokja.

 Menyesuaikan dan mengkoordinasikan kelengkapan sarana dan prasarana puskesmas sesuai dengan ketentuan pemerintah dan standar Akreditasi Nasional.

 MempePuskesmasiapkan dan mempertahankan nilai self Assesment dalam rangka keikutsertaan Puskesmas Bangsri I dalam Akreditasi puskesmas dan lomba Penampilan Kinerja puskesmas.  MempePuskesmasiapkan, menjaga dan meningkatkan mutu

pelayanan dan kinerja untuk penampilan kinerja Puskesmas setiap tahun.

 Melaporkan kegiatan secara berkala kepada Kepala Puskesmas. PANITIA FARMASI DAN TERAPI

Tugas-tugas Farmasi dan terapi adalah :

 Menyusun formularium dan tata laksana penggunaannya sesuai kemajuan ilmu kedokteran .

 Memantau dan mengevaluasi penggunaan obat secara rasiponal.

(8)

 Ikut memecahkan masalah dalam pengelolaan obat dan alat kesehatan.

 Mengdakan pertemuan rutin minimal 3bulan sekali.

 Melaporkan kegiatannya kepada Komite eksekutif staf medif dan kepala puskesmas.

PANITIA PENGENDALI INFEKSI NOSOKOMIAL

Tugas-tugas panitia pengendali infeksi nosokomial adalah :  Menyusun pedoman pengendalian infeksi di puskesmas.

 Mencegah kejadian infeksi nosokomial dengan cara penyuluhan dan penyebarab infeksi.

 Mengadakan penelitian yang berhubungan dengan kasus infeksi nosokomial.

 Mengevaluasi dan menganalisa kejadian infeksi nosaokomial.  Mengadakan rapat paling sedikit 1 bulan sekali.

 MKelaporkan seluruh kegiatannya kepada Komite Eksekutif Staf Medik dan Kepala puskesmas PUSKESMAS

PANITIA K3

Tugas-tugas panitia K3 adalah :

 Mengkoordinir kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja di puskesmas

 Mengkoordinir pencegahan, penanggulangan dan pengendalian bahaya kebakaran.

 Menkoordinir penanggulangan bencana di puskesmas.  Mengkoordinir kegiatan keselamatan radiasi .

(9)

Tugas-tugas panitia Penyehatan Lingkungan adalah :

 Menyusun konsep program penyelenggaraan kesehatan lingkungan.

 Melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan kesehatan lingkungan di puskesmas.

 Melakukan koordinasi dengan Radologi untuk melaksanakan program keselamatan radiasi.

 Melaporkan hasil kegiatannya kepada kepala puskesmas. PANITIA UTILISASI

Tugas panitia Utilisasi adalah :

 Menilai adanya over utilisasi, under utilisasi dan atau inefisiensi dalam mempergunakan fasilitas.

 Menilai kewajaran indikasi rawat.

 Menilai intruksi tertulis dan pelaksanaanya .  Menilai Length of Stay(LOS)

 Menilai intruksi pulang(Discharge Practise)

 Mengadakan rapat setiap bulannya minimal 10 X dalam setahun.

 Melaporkan seluruh kegiatannya kepada Komite eksekutif Staf Medik dan kepal puskesmas.

PANITIA PENGEMBANGAN DAN PENGENDALIAN Tugas panitia pengembangan dan pengendalian POKJA

 Menyusun program kerja pengembangan dan pengendalian POKJA

 Mensosialisasikan program kerja kepada Bidang/Instalasi dan unit kerja di lingkungan PUSKESMAS

(10)

 Melakukan Monitoring/Pemantauan terhadap pelaksanaan program kerja pengembangandan pengendalian POKJA

 Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kerja pengembangan dan pengendali POKJA

 Melaporkan hasil kegiatannya kepada kepala puskesmas

BAB 3

METODE PENDEKATAN MUTU

Upaya peningkatan mutu di PUSKESMAS BANGSRI I dilakukan melalui beberapa metode pendekatan diantaranya :

3.1 TQM (Total Quality Management)

Adalah suatu system manajeman yang melibatkan seluruh tingkat karyawan, melalui konsep pengendalian mutu dan metode statistic untuk memuaskan konsumen (intern & ekstern ), system ini merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara

(11)

bePuskesmasikenambungan, sitematis, objektif dan terpadu dalam hal :

 Menetapkan masalah dan penyebab masalahdari mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

 Menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tePuskesmasedia .

 Menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut, untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan, yang pada pelaksanaannya dipadukan dengan kegiatan manajemen secara keseluruhan.

Sasaran TQM :

 Mencapai target secara efisien.

 Meningkatkan hubungan baik dan moral pegawai

 Mengembangkan kemampuan pegawai Meningkatkan kesejahteraan pegawai.

Teknis pelaksanaan TQM diatur oleh masing-masing kepanitiaan mutu.

3.2 POKJA(Kelompok Kerja)

Adalah sekelompok kecil pegawai dari lingkup kerja yang sama (3-15 orang) yang dengan sukar4ela dan bePuskesmasama-sama melakukan kegiatan pengendalian dan perbaikan mutu secara berkesinambungan dengan menggunakan konsep-konsep dan teknik kendali mutu.

(12)

Manfaat POKJA : a. Bagi Puskesmas

 Adanya sumbangan ide-ide pegawai puskesmas unit kerja terdepan (ujung tombak ), guna pengembangan puskesmas serta terlaksananya TQM.

 Adanya hubungan yang harmonis antara pegawai dari seluruh unit kerja dengan pimpinan kepala puskesmas.

 Adanya partisipasi dari seluruh pegawai untuk mendukung dan melaksanakan sasaran pengembangan puskesmas.

 Adanya motivasi pegawai puskesmas untuk memajukan puskesmas dngan cara memperbaiki mutu pekerjaan masing-masing guna terwujudnya TQM.

b. Bagi Pegawai

 Adanya usaha mawas diri dan perbaikan sikap mental pegawai yang didasari oleh timbulnya kesadaran pribadi.

 Adanya kesempatan dari pegawai untuk melatih kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kelompok kerjanya.

 Timbulnya kebiasaan pola pikir kritis pada setiap pegawai.

 Timbulnya kebiasaan pegawai untuk lebih mengutamakan meneliti dan mencari kesalahan pribadi daripada kesalahan orang lain.

Organisasi dan teknis pelaksanaan diatur oleh Panitia Pengendalian dan Pengembangan dalam bentuk Pedoman POKJA

3.3. Akreditasi

Akreditasi puskesmas adalah pengakuan yang diberikan kepada manajemen puskesmas yang telah memenuhi standar yang

(13)

ditetapkan. Kegiatan akreditasi meliputi self assessment dan proses external peer review oleh Komisi Akreditasi PUSKESMAS yang menilai keakuratan tingkat kinerja dihubungkan dengan standar dan cara implementasi peningkatan system pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.

Manfaat Akreditasi :

a. Bagi Pasien/Masyarakat

 Pasien/Masayarakat mendapatkan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar profesi.

 Hak-hak pasien akan diperhatikan dan dipenuhi oleh puskesmas.

b. Bagi puskesmas dan pegawai PUSKESMAS.

 Dengan melakukan self assement secara berkesinambungan akan mendorong budaya mutu.

 Meningkatkan citra dan kepercayaan masyarakat bagi puskesmas.

 Rasa aman bagi pegawai PUSKESMAS dalam melaksanakan kegiatannya karena sarana, prasarana dan peralatan memenuhi standar.

 Mendorong pegawai PUSKESMAS untuk membudayakan tulis yang dikerjakan dan kerjakan yang ditulis.

Pelaksanaan Akreditasi dikoordinir oleh Panitia Akreditasi yang dibantu oleh pokja-pokja standar pelayanan yang akan diakreditasi.

(14)

Jasa Keamanan Harga Biaya Keamanan Pasien Tepat Jumlah Tepat Waktu Tepat Tempat Pekerja Harian Penghantaran Moral Pegawai Mutu Biaya Kepuasan Pelanggan 3.4. Kepuasan Pasien

Kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome dalam hubungannya dengan harapan seseorang. Teknis pengukuran kepuasan pasien disusun oleh Bidang Sistem Informasi. Kepuasan pasien dilihat dari mutu menyeluruh sbb :

(15)

BAB 4

INDIKATOR-INDIKATOR MUTU DI PUSKESMAS

Indikator mutu di Puskesmas Bangsri I bagi menjadi 3 kelompok besar yaitu :

 Indikator Medis  Indikator Pelayanan  Indikator Administrasi 4.1. INDIKATOR MEDIS

Indikator mutu pelayanan medis di PUSKESMAS mengacu pada petunjuk pelaksanaan indikator mutu pelayanan Puskesmas yang diterapkan oleh WHO( World Health Organization) dan Departemen Kesehatan RI.

Jenis indicator medis terdiri dari :

a.Indikator Pelayanan Non Bedah, terdiri dari :

 Angka Pasien dengan Dekubitus

 Angka kejadian infeksi karena jarum infuse  Angka kejadian penyulit/infeksi karena transfusi  Angka ketidaklengkapan pengisian Catatan Medik.

 Angka keterlambatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat .

b.Indikator Pelayanan Bedah,terdiri dari :

(16)

 Angka komplikasi pasca bedah

 Waktu tunggu sebelum operasi efektif

c.Indikator Pelayanan Ibu BePuskesmasalin dan Bayi, yaitu :

 Angka kematian ibu karena eklampsia  Angka kematian ibu karena pendarahan  Angka kematian ibu karena sepsis

 Angka perpanjangan waktu rawat ibu melahirkan  Angka kematian bayi dengan BB lahir<2000 gram

d.Indikator tambahan (dibagi dalam kasus rujukan dan non rujukan )

 Angka kematian ibu karena eklampsia  Angka kematian ibu karena pendarahan  Angka kematian ibu karena sepsis

 Angka perpanjangan waktu rawat ibu melahirkan  Angka kematian bayi dengan BB lahir<2000 gram 4.2. INDIKATOR PELAYANAN

Indikator Pelayanan di PUSKESMAS BANGSRI I terdiri dari : a. Efisiensi dan Produktivitas

 BOR (Bed Occupancy Rate )  BTO (Bed Turn Over )

 TOI (Turn Over Interval )

 ALOS (Average Length of Stay )  GDR (Gross Death Rate )

(17)

b. Pemanfaatn fasilitas  Pemanfaatan poloklinik  Ruang Poliklinik

 Jam buka Poliklinik c. Kepuasan PelangganTangible

 Peralatan baik  Fasilitas baik

 Penampilan pegawai baik  Kualitas obat

Reliability

 Pelayanan akurat

 Dokter datang tepat waktu  Pelayanan akurat

Assurance

 Kepercayaan terhadap produk  Kesopanan pegawai  Price  Terjangkau d. Pelayanan Penunjang  Pelayanan Radiolagi  Pelayanan Laboratorium  Pelayanan Farmasi  Pelayanan gizi

(18)

 Kesehatan Lingkungan 4.3 INDIKATOR ADMINISTRASI

a. Indikator SDM (Sumber Daya Manusia )  Turn Over pegawai

 Angka sakit  Angka izin  Angka alpa b. Indikator Keuangan  Likuiditas  Rentabilitas  Aktivitas  Profitabilitas c. Indikator Pemasaran  Jumlah pelanggan baru

 Tingkat efisiensi proses pemasaran  Banyaknya inovasi produk baru

(19)

BAB 5

EVALUASI MUTU

Evaluasi adalah kegiatan untuk membandingkan antara hasil yang telah di capai dengan rencana yang telah ditentukan. Terdapat 4 kategori evaluasi yaitu :

1. Evaluasi usaha (evaluation of effort)

Membandingkan pelaksanaan program mutu dengan standar mutu Efektifitas = hasil/Target

2. Evaluasi penampilan(evaluation of performance) Memperhatikan outcome yang telah dihasilkan oleh program mutu 3. Kecukupan Penampilan (adequacy of performance )

Memperhatikan cakupan penyelesaian program mutru 4. Evaluasi efisiensi(evaluation of efficiency)

Memperhatikan output dibandingkan input Efisiensi = Output

Input

Langkah-langkah evaluasi program mutu : Tahap perencanaan evaluasi

(20)

 Spesifikasi ukuran penampilan  Membuat model, rencana,program Tahap pelaksanaan dan evaluasi  Mengukur hasil

 Menetapkan dan menerangkan derajat keberhasilan

 Rekomendasi untuk kegiatan yang tepat sesuai demngan sasaran yang ditetapkan sebelumnya dan hasil sesungghnya.

LAMPIRAN

A.INDIKATOR MEDIS

I. KELOMPOK PELAYANAN NON BEDAH

1.Angka Pasin dengan Dekubitus (Dekubitus Ulcer Rate )

Luka Dekubitus : Luka pada kulit atau jaringan dibawahnya yang

terjadi di Puskesmas karena tekanan yang terus menerus akibat tirah baring.Luka Dekubitus akan terjadi bila si penderita seperti diatas tidak dibolak balik atau dimiringkan dalam waktu 24 jam.Biasanya terjadi pada daerah sekitar bokong, pungguing , siku, atau kadsang-kadang terdapat pada mata kaki tumit.

Tirah Baring :penderita yang berbaring total(tidak dapt bergerak)dan

bukan karena instruksi pengobatan

Angka pasien dengan Dekubitus adalah banyaknya penderita yang menderita Dekubitus dan bukan banyaknya kejadian Dekubitus

(21)

Luka lecet yang bukan disebabkan oleh tekanan berat badan penderita.Lokasi luka lecet ini juga tidak /jarang terletak pada daerah –daerah bawah samping tubuh penderita yang terkena tekanan.

Pemekriksaan penunjang :tidak ada

Formula :Angka pasien dengan Dekubitus (APD) Banyaknya pasien dengan Dekubitus (APD)

X 100% Total pasien tirah baring bulan itu

Angka ini khusus menunjukkan tinggi rendahnya mutupelayanan keperawatan .

Petugas pengawas :

Kepela Bidang Keperawatan Pelayanan Medik..

2. Angka Infeksi karena jarum infuse (intravenous Canulae Infection Rate )

Infeksi karena jarum infus : Keadaan yang terjadi di sekitar tusukan

atau bekas tusukan jarum infuse di puskesmas,dan timbul setelah 3X24 jam dirawat di Puskesmas.

Infeksi ini ditandai dengan rasa panas, pengerasan dan kemerahan(kaior, tumor, dan rubor ) dengan atau tanpa nanah pada bekas tusukan jarum infuse da;lam waktu 3X24 jam atau kurang dari waktu tePuskesmasebut bila infuse masih terpasang.

Lokalisasi infeksi khas yitu di sekitar bekas tusukan jarum infuse termasuk vena seksi dan infuse pada kepala bayi dengan menggunakan wing Needle atau vena catheter.

(22)

Perkecualian : Infeksi Kulit karena swebab-sebab lain.Pada infeksio ini

tidak didahului oleh pemberian infuse atau suntikan lainnya.

Pemeriksaan Penunjang :tidak ada.

Formula : Angka kejadian infeksi karena jarum infuse (AIJK) Banyaknya kejadian infeksi karena jarum infuse per bulan

X 100& Total kejadian pemasangan infuse pada bulan tePuskesmasebut

3. Angka kejadian penyulit/infeksi karenatransfusi darah (Blood Transfusin Compliction/Infection Rate )

Definisi Operasional :

Transfuasi darah yang tidak dikerjkan sesuai prosedur yang berlku dapat menyebabkan 2 macam kelainan seperti di bawah ini :

 Terjadinya kelainan penyulit karena inkompatibilitas (golongan darah tidak cocok )

 Terjadinya infeksi nosokomial dalam darah resipien (penerima) karena adanya bibit penyakit dalam darah donor (pemberi ) tePuskesmasebutdalam tiap waktu atau sesuai dengan masa inkubasi penyakit tePuskesmasebut.

Perkecualian :Kelainan pada darah atau spesies yang bukan

disebabkan oleh transfusi darah atau suntikan apapun. Pemeriksaan Penunjang : tidak ada

(23)

Formula : Angka kejadian infeksi ? penyulit karena transfusi darah (AITD)

Jumlah kejadian Unfeksi/penyuli karena tranfusi darah/bln ______________________________________________X100%

Total pemasangan tranfusi darah pada bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan tinggi rendahnya mutu pelayanangabungan antara Bank darah dan ruangan rawat inap .

Petugas penanggung jawab :

Kepala BIdang Perawatan, Kepala unit bank darah dan kepala laboratorium (bila perlu)

4. Angka ketidaklengkapan pengisian catatan medis (Medical Record Non-Complication Rate )

Catatan medis disebut lengkap bila :

Catatan Medis tesebut telah berisi seluruh informasi tentang pasien, sesuai dengan formulir yang disediakan. Isi harus lengkap dan benar, khususnya Resume Medis dan Resume keperawatan termasuk seluruh hasil pemeriksaan penunjang.

Rekam Medis disebut benar bila :

Rekam Medis tersebut sudah diperiksa kelengkapannya oleh kepala Catatan Medis atau petugas yang ditunjuk kemudian telah diperiksa juga oleh Panitia Catatan Medis (dokter) tentang kebenaran isi resume medis yang dibuat termasuk adanya diagnosa akhir.

(24)

Waktu yang di harapkan : 14 hari

Cara penghitungan : dihitung 14 hari mundur ke belakang.

Contoh : bila tanggal laporan adalah tanggal 1, maka hari 1 perhitungan adalah tanggal 16 bulan yang lalu.

Formula : angka ketidak lengkapan pengisian catatan Medis (AKCM)

Total CM yang belum lengkap dan benar dalam 14 hari/bln X100% Total catatan medis yang masuk pada bulan tersebut

Angka ini menunjukkan tinggi rendahnya mutu administrasi dokter dan perawat pasien yang merawat pasien pada periode tertentu dalam mengisi catatan medis tepat waktu (kurang dari 14 hari )

Petugas penanggung jawab : Wadir Umum dan Keuangan , Wadir

Pelayanan Medis.

5. Angka keterlambatan pelayanan pertama gawat darurat (Emergency Response Time Rate )

Definisi Operasional :

Pelayanan pertama Gawat Darurat dikatakan terlambat apabila pelayanan terhadap penderita Gawat Darurat yang dilayani dengan tindakan Life Saving oleh petugas Gawat Darurat lebih dari 15 menit.

Petugas gawat darurat : Petugas yang bekerja di Ruang Gawat

(25)

Tindakan darurat atau Life Saving : Tindakan yang ditujukan untuk

menyelamatkan jiwa manusia yang sedang terancam karena penyakit atau luka yang dideritanya.

Formula : Angka keterlambatan pelayanan pertama GD (AKPGD)

Banyak penderita yang dilayani >15 Menit/bln X 100% Total pendapatan GD pada bln tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan tinggi rendahnya mutu pelayanan Gawat Darurat.

Petugas penaggung jawab : Wadir Pelayanan Medis

II.KELOMPOK INDIKATOR PELAYANAN BEDAH

6.Angka Insfeksi Luka Operasi (Wound Infection Rate )

Infeksi Luka Operasi :

Adanya infeksi nosokomial pada semua kategori luka sayatan operasi bePuskesmasiah yang dilaksanakan di Puskesmas dan ditandai oleh rasa panas, kemerahan (color ), Pengerasan (tumor ) dan keluarnya nanah (pus) dalam waktu lebih dari 3 X24 jam.

(26)

Operasi bePuskesmasih :

Semua jenis operasi yang tidak mengenai daerah yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi, misalnya daerah pencernaan makanan daerah ginjal dan saluran kencing, daerah mulut dan tenggorokan serta daerah saluran kelamin perempuan.

Operasi bePuskesmasih yang dimaksud disini adalah operasi yang

dipePuskesmasiapkan terlebih dahulu (bedah elektif )

Perkecualian :

Infeksi nosokomial yang terjadi bukan pada tempat luka operasi, atau terjadinya peradangan di tempat lain.

Pemeriksaan penunjang :

Adanya kelainan ringan pada LED dan jumlah lekosit dalam pemeriksa darah rutin. Bila memungkinkan dilakukan biakan (kultur) jaringan yang terinfeksi.

Formula : Angka Infeksi Luka Operasi (AILO)

Banyaknya infeksi luka operasi bePuskesmasih per bulan X100%

Total operasi bePuskesmasih bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan mutu keparawatan /pelayanan bedah.

Petugas penenggung jawab : Ketua panitia penanggulangan infeksi

nosokomial.

(27)

Komplikasi Pasca Bedah :

Terjadinya penyulit (diluar infeksi nosokomial yang timbul setelah pembedahan yang dipePuskesmasiapkan Selektif) Dan dikatagorikan menurut system tubuh manusia (misalnya system sirkulasi darah,system pernafasan, dan lain-lain )

Bedah Elektif :

Semua jenis bedah yang telah dipePuskesmasiapkan terlebih dahulu, baik pembedahan bePuskesmasih maupun kotor.

Perkecualian :

Bila penyulit yang terjadi bukan karena pembedahan elektif.

Pemeriksaan Penunjang :

Adanya kelainan paad pemeriksaan darah, kelainan pada luka operasi atau terjadinya penyulit di tempat/organ lain.

Pemeriksaan lainnya :

Diperlukan sesuai dengan jenis komplikasinya.

Formula : Angka Komplikasi Pasca Bedah

Banyaknya komplikasi pasca bedah efektif selama 1 bulan X 100% Total pembedahan efektif pada bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan tingkat mutu pelayanan/bedah. Petugas penanggung jawab :Wadir pelayanan medis

8. Angka Masa Tumggu Sebelum Operasi Elektif (MSO)

Masa tunggu sebelum operasi elektif : waktu yang diperlukan pasien

(28)

(catatan : tidak termasuk waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan penunjang, yang biasanya dilakukan dengan berobat jalan ,pemeriksaan ini harus sudah diselesaikan lebih dahulu)

Sasaran : tidak boleh lebih lama dari 24 jam.

Perkecualian :

Bila ada hal-hal di pihak penderita yang mengharuskan menunggu misalnya timbulnya penyulit secara tiba-tiba dan lain-lain.

Formula : Angka Masa Tunggu Sebelum Operasi Elektif (ASMO)

Jml pasien menunjukan dengan masa tunggu > 24 jam /bln X 100% Total pasien yang dioperasi efektif bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan tingkat mutu Administrasi keperawatan/medis atau administrasi Puskesmas.

Petugas penanggung jawab : Wadir Pelayanan Medis

III. KELOMPOK INDIKATOR PELAYANAN IBU BEPUSKESMASALIN DAN BAYI NEOTANAL.

Definisi Operasional:

Eklamsia (menurut Standar Pelayanan Medis, Desember 1993) suatu kelainan akut yang terjadi pada wanita hamil dalam pePuskesmasalinan atau nifas yang ditandai dengan :Timbulmya kejang-kejang atau komplikasi.

(29)

Hipertensi, proteinuri dan edema yang terkadi pada trimester 1 kehamilan.

Tanda-tanda pre-eklamsia berat adalah :

 Tekanan darah sistolik >160mmHg dan Diastolik>110 mm Hg.  Proteinuria > 5gr/24 jam, 3+/4+ pada pemeriksaan kualitas.  Oliguria yaitu produksi urine < 400 cc/24 jam

 Gangguan visual, cerebral atau nyeri epigastrium.  Edema paru-paru atau cyanosis.

Perkecualian :

Hipertensi menahun (kronik), super imposed eklampsia.

Pemeriksaan penunjang :

Pada pre-eklampsia berat/eklampsia :

Urine lengkap, Hb, Hematokrit, Asam Urat Darah, Trombosit SGOT dan SGPT, serta Ureum kreatinin.

Formula : Angka Kematian Ibu Karena Eklampsia (AKIE) Banyaknya ibu-ibu yang meninggal karena eklapsia/bulan

X 100% Total ibu-ibu dengan eklampsia pada bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukkan tingkat mutu/kompetensi dokter di Bidang Kebidanan Puskesmas

(30)

10. Angka Kematian Ibu Karena Pendarahan (Maternal Hemorrhagia Death Rate)

Kematian ibu karena pendarahan (KIP) : kematian ibu yang disebabkan karena pendarahan yang dapt terjadi pada semua skala dalam pePuskesmasalinan. Kematian ibu ini biasanya disebabkan oleh kegagalan Uri (piecenta) untuk keluar secara spontan (retensio placentae) setelah ibu melahirkan dan tidak berkntraksinya rahim ibu (atonia uteri) dimana kedua sebab ini menyebabkan pendarahan.

Catatan :

Bila ter jadi pendarahan hebat /massif : ibu dapat meninggal beberapa jam, tetapi bila sedikit-sedikit, ibu baru meninggal setelah beberapa hari tanpa pertolongan.

Perkecualian :

Pendarahan karena trauma pada perut atau karena tindakan fisik yang lain.

Pemeriksaan penunjang :

Fisik : adanya placenta (uri) yang masih dalam rahim, atau rahim ibu yang terasa lembek dan membesar. Ada pendarahan per vaginam baik massif maupun profus.

Laboratorium : Hb, hematocin, Trombosit, waktu pembekuan darah.

(31)

Banyaknya ibu bePuskesmasalin yang meninggal karena pendarahan/bln

X100% Total ibu bePuskesmasalin dengan pendarahan pada bulan tePuskesmasebut

11. Angka kematian ibu karena sepsis (Maternal Septicaemia Death Rate = AKIS)

Definisi Operasional :

Kematian ibu disebabkan karena keracunan darah.

Biasanya disebabkan oleh pertolongan pePuskesmasalinan yang tidak mengikuti Standar Profesi dan Prosedur yang ditetapkan. Penyakit ini ditandai dengan demam yang tinggi sekali setelah pePuskesmasalinan.

Pengecualian :

Demam tinggi yang disebabkan oleh penyakit lain, misalnya : Thypoid, ginjal, malaria, DHF dan demam lain yang tidak diketahui sebabnya.

Pemeriksaan penunjang :

Hb, Leuco, Diff thrombocyt, widal test, darah tepid an kultur.

Formula : Angka kematian ibu melahirkan karena sepsis (APKIS)

Banyaknya ibu melahirkan yang meninggal karena sepsis/bulan

(32)

X 100% Total ibu melahirkan dengan sepsis pada bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukan tingkat kompetensi dokter dibidang kebidanan dan kandungan.

Petugas Penanggung Jawab : Wadir Pelayanan Medis

12. Perpanjangan masa rawat ibu melahirkan (Prolonged LOS Of Meternal Delivery )

Bertambahnya masa rawat ibu melahirkan :

Bertambahnya hari rawat inap ibu-ibu sehat (tanpa penyakit lain menyertai) yang melahirkan baik secara normal maupun dengan penyulit (Fosceps, Decapitasi, Induksi, maupun dengan Operasi caesar)

Sasaran : Untuk partus normal tidak lebih dari 3 hari

Untuk partus dengan penyulit tidak lebih dari 6 hari.

Pengecualian :

Perpanjangan masa rawat inap tanpa indikasi medis atau karena sebab si bayi sakit atau kelainan.

(33)

Pemeriksaan klinis dan laboratorium tidak menunjukan adanya penyakit lain yang menyertai pada hari ketiga dan hari keenam diatas.

Formula : Angka perpanjangan LOS ibu melahirkan

Banyaknya ibu sehat yang melahirkan dengan LOS > Standar X 100% Total ibu sehat yang melahirkan dalam bulan tePuskesmasebut

Angka ini menunjukan tingkat mutu pelayanan ibu bePuskesmasalin, baik dengan pePuskesmasalinan normal maupun pePuskesmasalinan dengan penyuli (termasuk operasi)

Petugas penanggung jawab : SMF Kebidanan, Wadir Pelayanan Medis.

13. Angka Kematian Bayi dengan BB < =2000Gr.

Definisi operasional :

Untuk dapat membedakan secara jelas pengaruh berat badan bayi baru lahir pada angka kematian bayi dipakai patokan berat badan 2000 Gram. Angka ini menunjukan presentasi banyaknya bayi baru lahir dengan BB<=2000gram yang lahir tePuskesmasebut.

Pengecualian : Tidak ada.

Pemeriksaan penunjang : Tidak ada.

Formula : Angka Kematian Bayi Baru Lahir dengan BB<=2000

(34)

Banyaknya kematian bayi baru lahir dengan BB <=2000Gram/Bulan

x 100% Total bayi dengan BB <2000 Gram bulan tePuskesmasebut.

Angka ini menunjukan tingkat mutu pelayanan unit neonatal.

Petugas penanggungjawab: Wadir Pelayanan Medis.

Indikator tambahan :

14. Sama dengan indikator no.9 hanya dibagi dalam 2 kelompok yaitu rujukan dan bahan rujukan.

15. Sampai dengan 18 sama dengan indikator no. 10 sampai dengan No. 13.

B.INDIKATOR PELAYANAN

I. EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI

a. Bed Occupancy Rate (BOR) yaitu presentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu yang merupakan indicator untuk memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan dari tempat tidur di PUSKESMAS Nilai idealnya adalah 60-85 %. Rumus BOR sbb :

(35)

Jumlah hari perawatan PUSKESMAS BOR =

Jumlah TT x Jumlah hari satuan waktu

b. Length Of Stay (LOS), Yaitu rata-rata lama rawatan seorang pasien, dimana indicator ini memberikan gambaran tingkat efisien dan mutu pelayanan, Jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang dijadikan tracer / pengamatan lebih lanjut Rumus LOS sbb :

Jumlah hari perawatn pasien keluar LOS =

Jumlah pasien keluar (hidup/mati)

c. Turn Over Interval (TOI), Yaitu rata-rata hari tempat tidur yang tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya, indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi dari penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1 – 3 hari. Rumus TOI sbb :

(Jumlah TTx Hari) – Hari perawatan PUSKESMAS TOI =

Jumlah pasien keluar (hidup.mati)

d. Bed Turn Over (BTO), yaitu frekuensi pemakaian tempat tidur , berapa kali dalam satu satuan waktu (biasanya 1 tahun) tempat tidur PUSKESMAS yang terpakai. Indikator ini

(36)

menggambarkan tingkat efisiensi pemakaian tempat tidur. Idealnya 1 Tahun 1 TT dipakai 40 – 50 kali. Rumus BTO sbb : Jumlah pasien keluar (hidup/mati)

BTO = ---Jumlah Tempat Tidur

e. Gross Death Rate (GDR), yaitu angka kematian umum untuk tiap 1000 orang penderita keluar. Jumlah toleransi adalah 45 orang per 1000 orang penderita keluar. Rumus GDR sbb:

Jumlah pasien mati seluruhnya

GDR = X 100%

Jumlah pasien keluar (hidup/mati)

f. Net Death Rate (NDR), yaitu angka kematian > 48 jam setelah dirawat untuk tiap 100 penderita keluar. Indikator ini dapat memberikan gambaran mutu pelayanan PUSKESMAS. Rumus NDR sbb :

Jumlah pasien mati > 48 jam dirawat

NDR = X 100%

Jumlah pasien keluar (hidup/mati) II.PEMANFAATAN FASILITAS

a. Pemanfaatan poliklinik

Indikator ini dipakai untuk menilai pemanfaatan di PUSKESMAS BANGSRI I terdapat 2 indikator yaitu :

Pemanfaatan ruang poliklinik : Pemanfaatan ruang poliklinik x 100%

(37)

Pemanfaatan jam buka poliklinik : Jam buka poliklinik x100% 24

b. Pemanfaatan alat canggih

Indikator ini dipakai untuk menilai utilisasi alat-alat canggih yang dimiliki yang terdiri dari Lasercope, Endoscopy, Laparoscopy, CT Scan, C-Arm, Mammografi, Panoramic, Tradmill, USG.

Indikator keberhasilan dihitung dengan membandingkan antara target dengan realisasinya :Realisasinya pemakaian alat canggih x 100%

Target pemakaian alat canggih III.KEPUASAN PELANGGAN

Untuk menilai kepuasan pelanggan pelanggan dilihat dari aspek Tangible, Reliable, Assurance, dan Price diperoleh dari hasil kuesioner pasien yang dirumuskan lebih lanjut oleh bidang Sistem Informasi.

IV. PELAYANAN PENUNJANG

a. Pelayanan Laboratorium

 Kecepatan hasil

(38)

b. Pelayanan Radiologi  Kualitas foto

 Waktu pelayanan  Index pengulangan  Rata-rata pemakaian film  Akurasi diagnostik

c. Farmasi

 Jumlah lembar resep  Jumlah resep standar  Jumlah resep generik

 Jumlah resep sesuai formularium  Waktu tunggu/kecepatan pelayanan  Turn over Invento

d. Pelayanan Gizi

 KebePuskesmasihan makanan  Cita Rasa makanan

 Waktu penyajian makanan  Kualitas penyajian makanan e. Kesehatan Lingkungan

 Kualitas Air bePuskesmasih  Kualitas Air minum

 Penanganan limbah PUSKESMAS

 Pengelolaan sampah medis dan non medis C. INDIKATOR ADMINISTRASI

I. INDIKATOR SDM

(39)

Rumus = Jml Pegawai Masuk – Jumlah Pegawai Keluar x 100%

Jumlah Pegawai b. Angka Sakit

Rumus = Jml hari pegawai yang sakit/bulan x 100% Jml hari/bulan x Jml pegawai

c. Angka Izin

Rumus = Jml hari karyawan yang izin/bulan x100% Jml hari/bulan x Jml Pegawai

d. Angka Alpa

Rumus = Jml hari pegawai yang alpa/bulan x100% Jml hari/bulan x Jml pegawai

II. INDIKATOR SISTEM INFORMASI

 Output yang tepat waktu

 Cycle Time Proses informasi aktual III. INDIKATOR KEUANGAN

a. Likuiditas

Untuk mengukur kemampuan PUSKESMAS BANGSRI I dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Terdiri dari :

-Current Ratio = Aktiva Lancar

Hutang Lancar

-Cash Ratio = Kas...

Hutang Lancar

(40)

Untuk mengukur kemampuan Puskesmas dalam menggunakan dana yang tePuskesmasedia yang tercermin dalam perputaran modalnya. TePuskesmasiri dari :

-Receivable Turnover= Pendapatan kredit Rata-rata piutang

-Average collection Period = Rata-rata piutang x 360 Pendapatan kredit

d. Proftabilitas

Untuk mengukur kemampuan PUSKESMAS dalam menghasilkan laba

-Gross Profit Margin = Pendapatan – biaya Langsung Pendapatan

-Net Profit Margin = Laba bePuskesmasih setelah pajak Pendapatan

IV. INDIKATOR PEMASARAN a. Jumlah pelanggan baru

Rumus = Jml pelanggan baru x 100% Jml pelanggan lama

b. Tingkat efiensiensi proses pemasaran

Rumus = Jumlah biaya pemasaran yang dikeluarkan Output pemasaran

c. Banyaknya inovasi produk baru Rumus = Jumlah produk baru x 100%

Referensi

Dokumen terkait