• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan dan Implementasi Konverter DC-DC Sepic yang Terintegrasi dengan Konverter Boost untuk Sistem Photovoltaic

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perancangan dan Implementasi Konverter DC-DC Sepic yang Terintegrasi dengan Konverter Boost untuk Sistem Photovoltaic"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak— Konverter boost digunakan di banyak aplikasi salah satunya aplikasi sistem photovoltaic. Sistem photovoltaic membutuhkan konverter yang memiliki rasio konversi tinggi dan efisiensi yang baik. Namun, konverter boost memiliki kekurangan yakni rasio tegangan yang rendah. Selain itu, konverter boost juga memiliki efisiensi daya yang rendah. Oleh karena itu, topologi konverter boost telah banyak dikembangkan agar dapat diperoleh konverter dengan performa yang lebih daripada konverter boost. Salah satu hasil pengembangan topologi konverter boost adalah dc-dc sepic yang terintegrasi dengan boost converter. Konverter ini merupakan konverter boost yang terintegrasi dengan konverter sepic dengan menggunakan series output module dan saklar tunggal. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan dc-dc sepic yang terintegrasi dengan boost converter atau sepic-integrated boost (SIB) converter untuk sistem photovoltaic. Simulasi dengan perangkat lunak terprogram dan eksperimen terhadap konverter telah dilakukan. Hasil eksperimen menunjukkan bentuk gelombang yang hampir sama dengan hasil simulasi dari perangkat lunak terprogram. Konverter hasil implementasi mampu mengkonversi tegangan masukan 24 VDC menjadi 163 VDC pada duty cycle 60%. Konverter hasil implemntasi juga memiliki efisiensi maksimal sebesar 87.6% pada beban 25.4 W atau 71.8% dari total beban.

Kata Kunci Sepic-Integrated Boost (SIB) converter, Rasio konversi tinggi, Efisiensi tinggi, Photovoltaic.

I. PENDAHULUAN

onverter DC ke DC atau juga dikenal dengan DC chopper adalah alat yang digunakan untuk mengubah level tegangan DC berdasarkan perubahan nilai duty cycle. Salah satu jenis konverter DC ke DC yang banyak digunakan adalah konverter boost. Salah satu aplikasi konverter boost adalah digunakan pada sistem photovoltaic. Sistem photovoltaic membutuhkan konverter dengan rasio yang tinggi dan efisiensi yang baik. Namun, konverter boost memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangan konverter boost adalah rasio konversi yang rendah. Selain itu, konverter boost juga memiliki efisiensi yang rendah [1].

Topologi konverter boost telah banyak dikembangkan oleh pakar bidang elektronika daya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh konverter dengan unjuk kerja yang lebih baik daripada konverter boost. Adapun pengembangan yang telah dilakukan diantaranya adalah memanfaatkan konversi tegangan pada transformator frekuensi tinggi, coupled inductor, dan multiplier cell. Konverter tipe current fed adalah hasil pengembangan konverter boost yang menggunakan transformator frekuensi tinggi. Konverter ini cocok digunakan pada aplikasi daya tinggi dengan multi saklar [2]. Namun, konverter ini membutuhkan rangkaian

snubber untuk mengurangi lonjakan tegangan pada saklar akibat adanya induktansi bocor pada transformator. Sementara itu, konverter boost dengan menggunakan coupled inductor cocok digunakan untuk aplikasi daya kecil dan daya menengah karena struktur rangkaiannya yang sederhana. Namun, rangkaian ini beroperasi dengan arus masukan yang tidak kontinyu atau Discontinue Current Mode (DCM) [3]. Selain itu, konverter ini juga memiliki riak arus yang lebih besar dibandingkan konverter boost konvensional. Voltage multiplier cell atau rangkaian saklar kapasitor sangat berguna untuk menaikkan rasio tegangan. Dengan penaikan tegangan keluaran, rangkaian ini juga membutuhkan jumlah kapasitor dan dioda yang banyak [4].

DC-DC sepic yang terintegrasi dengan boost converter atau sepic-integrated boost (SIB) converter adalah hasil kombinasi antara konverter boost dengan konverter sepic yang menggunakan transformator frekuensi tinggi. Konverter ini memadukan kemampuan konversi tegangan pada transformator frekuensi tinggi dengan konverter boost. Konverter ini dapat menghasilkan konversi tegangan yang lebih besar daripada jenis konverter yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan adanya induktasni bocor, topologi dari konverter ini tidak membutuhkan rangkaian snubber [1]. Penggunaan saklar tunggal pada operasi SIB converter menyebabkan operasi kerjanya lebih mudah dipahami. Pada operasinya, kemampuan konversi tegangan konverter ini tidak hanya dipengaruhi oleh nilai duty cyle tetapi juga dipengaruhi oleh banyaknya belitan di sisi sekunder transformator. Secara keseluruhan, SIB converter ini memiliki unjuk kerja yang lebih baik dibandingkan konverter lainnya.

II. KONVERTERDC-DCSEPICYANG TERINTEGRASIDENGANKONVERTERBOOST A. DC-DC Sepic yang Terintegrasi dengan Boost Converter

DC-DC sepic yang terintegrasi dengan boost converter atau sepic-integrated boost (SIB) converter merupakan hasil pengembangan topologi konverter boost yang dikombinasikan dengan konverter sepic. SIB converter terdiri dari beberapa komponen yaitu transformator T dengan induktansi magnetik Lm, induktansi bocor Llkg, dan rasio belitan 1 : n. Selain transformtor T, SIB converter juga terdiri dari induktor boost Lb, kapasitor (Cb, Co1, dan Co2), dioda, dan saklar S. Gambar 1 menunjukkan topologi SIB converter secara keseluruhan.

Perancangan dan Implementasi Konverter

DC-DC Sepic yang Terintegrasi dengan

Konverter Boost untuk Sistem Photovoltaic

Mohammad Sholehuddin Hambali, Dedet Candra Riawan, dan Feby Agung Pamuji.

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Jl. Arif Rahman Hakim Surabaya 60111

E-mail: [email protected]

(2)

Gambar.1. SIB converter

Prinsip kerja dari SIB converter merupakan kombinasi dari prinsip kerja konverter boost konvensional dan konverter sepic. SIB converter dapat beroperasi pada mode Continous Current Mode (CCM) dan mode Discontinous Current Mode (DCM). SIB converter beroperasi pada mode CCM jika n > 1 dan akan beroperasi pada mode DCM jika n < 1 [1].

Berdasarkan gelombang pada gambar 2, kondisi kerja SIB converter terbagi menjadi 4 interval maktu. Interval t0 – t1 dan t1 –t2 merupakan interval waktu saat kondisi induktor

charging. Sedangkan interval t2 – t3 dan t3 – t4 merupakan interval waktu saat kondisi induktor discharging. Interval t0 – t2 direpresentasikan oleh DT, sedangkan interval t2 – t3 dan interval t3 – t4 masing-masing direpresentasikan oleh D1T dan D2T. Persamaan D1T dan D2T ditunjukkan pada (1) dan (2).

𝐷

1

𝑇 =

2(1−𝐷)1+𝑛

𝑇

(1)

𝐷

2

𝑇 =

(1−𝐷)(𝑛−1)1+𝑛

𝑇

(2)

Gambar.2. Gelombang SIB converter

Saat saklar S konduksi, yaitu saat induktor Lb charging selama interval t0 – t2,maka diperoleh persaamaan (3).

𝑉

𝐿𝑏 𝑡0−𝑡2

= 𝑉

𝑖𝑛

(𝐷𝑇)

(3)

Sedangkan saat saklar S non konduksi yaitu saat induktor Lb discharging selama interval t2 – t3 dan interval t3 – t4. Saat kondisi ini, maka diperoleh persamaan (4) dan (5). Sementara itu, persamaan V01, V02, dan VCb masing-masing ditunjukkan oleh (6), (7), dan (8).

𝑉

𝐿𝑏 𝑡2−𝑡3

= (𝑉

𝑖𝑛

− 𝑉

01

)(𝐷

1

𝑇)

(4)

𝑉

𝐿𝑏 𝑡3−𝑡4

= (𝑉

𝑖𝑛

− 𝑉

𝐶𝑏

𝑉𝑛02

)(𝐷

2

𝑇)

(5)

𝑉

01

=

1−𝐷𝑉𝑖𝑛 (6)

𝑉

02

=

𝑛𝐷𝑉1−𝐷𝑖𝑛 (7)

𝑉

𝐶𝑏

= 𝑉

𝑖𝑛 (8)

Berdasarkan persamaan (3), (4), dan (5) dengan menggunakan persamaan (6), (7), dan (8), maka persamaan tegangan masukan keluaran diperoleh pada persamaan (9). 𝑉𝑜𝑢𝑡

𝑉𝑖𝑛

=

1+𝑛𝐷

1−𝐷 (9)

B. Transformator Frekuensi Tinggi

Transformator frekuensi tinggi memiliki dimensi yang lebih kecil dan lebih ringan. Selain itu transformator ini juga memiliki frekuensi kerja yang tinggi, pada umumnya berkisar ribuan Hz. Transformator frekuensi tinggi biasanya digunakan pada Switched Mode Power Supply (SMPS) atau sumber yang menggunakan system pensaklaran seperti konverter boost dan sejenisnya. Dalam merancang trasformator frekuensi tinggi, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar dapat memperoleh spesifikasi transformator yang sesuai dengan kebutuhan diantaranya yakni [5] :

1. Memilih inti ferrite

2. Menghitung nilai induktansi transformator 3. Menghitung jumlah belitan

4. Menentukan diameter kawat belitan

III. PERANCANGANDANIMPLEMENTASI KONVERTERDC-DCSEPICYANGTERINTEGRASI

DENGANKONVERTERBOOST A. Diagram Blok Sistem

Gambar 3 menunjukkan blok sistem konverter secara keseluruhan. Sumber mesuplai daya menuju konverter. Konverter bekerja dengan kendali PWM melalui driver. Daya keluaran konverter disalurkan menuju beban dengan nilai tegangan output tertentu sesuai dengan duty cycle yang diberikan.

Gambar 3. Diagram blok sistem secara keseluruhan Keterangan : Aliran daya

(3)

B. Perancangan SIB Converter

Perancangan SIB converter membutuhkan perhitungan nilai komponen yang digunakan agar dapat sesuai dengan rancangan yang diinginkan. Oleh karena itu, ada bebrapa parameter yang harus ditentukan terlebih dahulu. Tabel 1 menunjukkan parameter yang telah ditentukan.

Dengan mengetahui tegangan masukan dan daya masukan maka dapat diperoleh nilai arus masukan Iin =1.5 A. Nilai induktor Lb dapat diperoleh dengan memasukkan nilai arus masukan pada persamaan (10).

𝐿

𝑏

=

𝑉𝑖𝑛𝐷

∆𝐼𝐿𝑓𝑠 (10)

Kemudian untuk memperoleh nilai kapasitor Cb maka dihitung terlebih dahulu nilai arus ILm melalui (11) dan selanjutnya nilai kapasitor Cb dapat dihitung melalui (12).

𝐼

𝐿𝑚

=

𝑛(1−𝐷)𝐼𝑖𝑛

1+𝑛𝐷 (11)

𝐶

𝑏

=

𝐼𝐿𝑚𝐷

∆𝑉𝑓𝑠 (12)

Selanjutnya untuk menghitung kapasior keluaran maka terlebih dhulu harus menghitung kapasitor seri Cseri dari kedua kapsitor keluaran melalui (13). Dengan menggunakan perbandingan tegangan pada Vo1 dan Vo2, maka nilai kapasitor keluaran Co1 dan Co2 dapat diperoleh melalaui (14) dan (15).

𝐶

𝑠𝑒𝑟𝑖

=

𝑅 𝐷

𝑜𝑢𝑡𝑥(𝑉𝑜𝑢𝑡∆𝑉 )𝑥𝑓𝑠 (13)

𝐶𝑜1= 1.8𝐶𝑜2 (14)

𝐶02= 1.6𝐶𝑠𝑒𝑟𝑖 (15)

Sementara itu untuk parameter dari transformator frekuensi tinggi yang meliputi Lm dan Llkg dapat diperoleh melalui (16) dan (17).

𝐿

𝑚

=

(𝑉𝑖𝑛𝐷)2

2𝑃𝑖𝑛𝑓𝑠𝐾𝑅𝐹 (16)

Lm : induktansi magnetik (uH) Vin : tegangan masukan (V) D : duty cycle

Pin : Daya masukan (Watt) fS : frekuensi pensaklaran (Hz) KRF : konstanta ripple factor

𝐿

𝑙𝑘𝑔

=

𝑉𝑖𝑛

𝑛(1−𝐷)𝑑𝐼𝐷𝑖𝑜𝑑𝑒

𝑑𝑡

(17)

C. Perancangan Simulasi SIB Converter

Gambar 4 menunjukkan gelombang hasil simulasi. Gambar 5 menunjukkan tegangan keluarandan arus keluaran dari hasil simulasi.

Gambar 4. Gelombang hasil simulasi

Gambar 5. Tegangan keluaran dan arus keluaran simulasi Tabel 1.

Parameter perancangan SIB converter

Parameter Nilai

Tegangan masukan (Vin) 24 Volt

Duty cycle (D) 60 %

Frekuensi pensaklaran (fS) 62.5 kHz

Daya masukan (Pin) 36 watt

Perbandingan Belitan Np : Ns = 1:n 1 : 3

Riak tegangan keluaran (∆Vo) 1 %

Riak arus induktor (∆i) 20 %

Tegangan masukan (Vin) 24 Volt

Tabel 2

Parameter komponen hasil perhitungan

Parameter Nilai Induktor Lb 768 µH Kapasitor Cb 12.8 µF Kapasitor keluaran Co1 3.6 µF Kapasitor keluaran Co2 2 µF Induktor magnetic Lm 460.8 µH Induktor bocor Llkg 1 µH

(4)

Dari hasil simulasi, diperoleh bahwa bentuk gelombang hasil simulasi menyerupai bentuk gelombang secara teori yang ditunjukkan pada gambar 2. Sementara itu, tabel 3 menunjukkan hasil perbandingan antara tegangan keluaran dan arus keluaran perhitungan dengan simulasi. Dari hasil perbandingan tersebut diketahui bahwa hasil parameter simulasi telah menyerupai dengan parameter hasil perancangan yang diinginkan.

D. Implementasi SIB Converter

Pengimplementasian ini diawali dengan membuat induktor Lb. Inti induktor menggunakan ferrite tipe ETD44 dari TDK Corporation. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menghitung nilai Q melalui (18).

𝑄 = 𝐿𝐼

𝐿𝑏2 (18)

Q : Energi (milijoule) L : induktansi induktor (mH) ILb : arus melewati induktor (A)

Kemudian nilai Q yang diperoleh diplot pada kurva AL – LI2 pada gambar 4 sehingga diperoleh AL =1200 mH/belit. Kemudian melalui (19) diperoleh belitan yang dibutuhkan sebanyak 25 belit.

𝑁 = 10

3

𝐿

𝐴𝐿 (19)

N : banyak belitan

Pada rangkain SIB converter terdapat tiga buah kapasitor yaitu kapasitor Cb, Co1, dan Co2. Pada implementasi SIB converter ini, kapasitor Cb menggunakan kapasitor multilayer atau kapasitor keramik. Sementara itu, kapasitor Co1 dan Co2 menggunakan kapasitor jenis bipolar yaitu kapasitor elektrolit atau kapasitor elco. Tahap selanjutnya adalah pembuatan transformator frekuensi tinggi. Ada 2 tahap dalam pembuatan tarnsformator ini yaitu penentuan inti dan perhitungan jumlah belitan. Dalam penentuan inti, maka hal yang harus diperhatikan adalah frekuensi kerja transformator. Transformator bekerja pada frekuensi (lebih besar dari 10 kHz), maka inti yang digunakan adalah inti ferrite MnZn. Ferrite dengan material MnZn ini juga memiliki resistivitas yang tinggi sehingga menyebabkan rugi arus eddy kecil dan dapat diabaikan . Tipe inti ferrite yang dipilih adalah PC44 produksi dari TDK Corporation. Sementara itu, untuk ukuran inti yang dipilih adalah PQ32/30 karena ukuran tersebut dapat menangani daya konverter yaitu sebesar 36 watt.

Dalam perancangan ini, rasio belitan transformator yang dibuat adalah Np : Ns = 1 : 3. Jumlah belitan primer (Np) dapat dihitung melalui (20) dengan menggunakan nilai ton = 9.6 µs, Ae = 161 mm2 , ∆B = 0.3 Tesla, dan Vin = 24 volt sehingga didapatkan Np sebanyak 4.8 ≈ 5 lilit. Sementara itu, belitan sekunder Ns dapat diperoleh dengan menggunakan perbandingan belitan transformator N sebesar 1 : 3 sehingga diperoleh Ns sebanyak 15 lilit.

𝑁

𝑝

=

𝑉𝑖𝑛 𝑥 𝑡𝑜𝑛 𝑥 104

𝐴𝑒 𝑥 ∆𝐵 (20)

Gambar 6. SIB converter hasil implementasi.

Selanjutnya yaitu pemilihan saklar. Saklar yang digunakan dalam implementasi ini merupakan jenis MOSFET IRFP460. Sementara itu, untuk dioda yang digunakan merupakan jenis hyperfast power diode tipe BYC10-600. Untuk sistem kontrol yang digunakan adalah PWM dengan menggunakan IC mikrokontroler. Mikrokontroler yang digunakan adalah ATmega 16A. Kemudian, driver untuk saklar mengguanakn IC photocoupler jenis TLP250. Setelah semua tahap implementasi selesai, maka diperoleh nilai parameter seluruh komponen seperti yang ditunjukkan pad tabel 4. Tabel 3

Perbandingan nilai parameter perhitungan dan simulasi

Parameter Perhitungan Simulasi Error (%)

Tegangan keluaran

Arus keluaran 0.214 A 168 V 0.2136 A 167.5 V 0.29 0.19

Tabel 3.

Parameter komponen hasil implementasi

Komponen Nilai Unit

Induktor Lb 810 µH 1

Trafo Frekuensi Tinggi

Induktor magnetik Lm Induktor bocor LLkg (Inti ferrite : PC44PQ32/30 ) 525.756 µH 1.5 µH 1 Kapasitor Cb 12 µF 12 @ 1µF Kapasitor Co1 4.7 µF / 160 V 1 Kapasitor Co2 2.2 µF / 450 V 1 MOSFET IRP460 20 A / 500 V 1 Dioda BYC10-600 10 A / 600 V / 19ns 5 ATmega 16A 62.5 kHz 1 TLP250 1 MHz (max) / 35 V 1

(5)

IV. PENGUJIANDANANALISISDATAKONVERTER A. Pengujian Sinyal PWM

Pengujian ini dilakukan dengan mengambil data duty cycle dari keluaran sinyal PWM dengan frekuensi 62.5 kHz. Kemudian, data tersebut dibandingkan dengan data duty cycle yang dimasukkan melaui tombol duty cycle. Dari pengujian diperoleh bahwa nilai keluaran dari sinyal PWM sudah sesuai dan benar dengan nilai error tidak lebih dari 2%. Adapun frekuensi sinyal keluaran PWM yang diperoleh sebesar 62.48 kHz dan sudah mendekati dengan frekuensi yang dinginkan.

B. Pengujian Sinyal Driver

Setelah pengujian sinyal PWM selesai, maka selanjutnya yaitu pengujian sinyal keluran dari driver MOSFET. Hal ini dilakukan untuk memastikan sinyal masukan yang menuju gerbang gate MOSFET sudah benar agar pensaklaran dapat dipastikan baik dan benar. Pengujian ini dilakukan dengan memberikan tegangan referensi driver Vref = 18 V. Gambar 7 menunjukkan hasil pengujian.

Gambar 7. Gelombang sinyal PWM, driver, dan VDS MOSFET

Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh bahwa sinyal driver sudah sesuai dengan yang diinginkan. Kemudian, juga dilakukan pengujian terhadap sinyal tegangan MOSFET. Dari hasil pengujian tersebut, dieroleh bahwa ketiga sinyal yaitu sinyal PWM, sinyal driver, dan sinyal tegangan MOSFET, sudah menunjukkan kesesuaian. C. Pengujian Bentuk Gelombang SIB Converter

Pada tahap ini dilakukan pengujian bentuk gelombang komponen dari implementasi SIB converter. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah implemnetasi SIB converter sudah bekerja sesuai dengan simulasi. Gambar 8 menunjukkan gelombang komponen dari implementasi SIB converter. Kemudian bentuk gelombang dari implementasi dibandingan dengan bentuk gelombang pada gambar 2. Dari hasil perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa setiap bentuk gelombang komponen implementasi sudah menyerupai dengan bentuk gelombang hasil simulasi. Dengan demikian, implementasi SIB converter sudah bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Pada bagian gelombang tegangan saklar terlihat bahwa terjadi lonjakan tegangan. Namun, lonjakan tegangan yang terjadi masih diberada pada kemampuan dari saklar yang digunakan.

Gambar 8. Bentuk gelombang SIB converter implementasi. (a) Sinyal PWM (S). (b) Arus induktor boost (ILb). (c) Arus induktor magnetik (ILm).

(d) Arus induktor bocor (ILlkg). (e) Arus saklar (IS). (f) Tegangan saklar (VS) D. Pengujian Tegangan Keluaran SIB Converter

Pengujian tegangan keluaran dilakukan untuk memperoleh data perubahan nilai tegangan keluaran terhadap perubahan duty cycle yang diberikan. Namun, pengujian ini dillakukan pada tegangan masukan yang tetap Vin = 24 V. Secara prinsip kerja, SIB converter hanya dapat bekerja pada duty cycle diatas 50% (D>50). Grafik pada gambar 9 menunjukkan hasil pengujian SIB converter. Garis berwarna merah menunjukkan nilai perhitungan yang diperoleh. Sementara itu, garis biru menunjukkan pengujian dari simulasi menggunakan perangkat lunak terprogram. Garis berwarna hijau menunjukkan pengujian implementasi. Pengujian ini dilakuakan pada duty cycle 50% sampai 70%. Dari grafik pada gambar 9 diketahui bahwa saat duty cycle dari 50% sampai 60% tegangan keluaran perhitungan dengan tegangan keluaran simulasi hasilnya mendekati. Namun, saat duty cycle 60% sampai 70% tegangan keluaran perhitungan dengan tegangan keluaran simulasi menunjukkan hasil yang sedikit berbeda. Sementara itu, dari grafik tersebut juga diketahui bahwa pada duty cycle 50% sampai 60% nilai tegangan keluaran implementasi sedikit berbeda dengan nilai tegangan perhitungan. Namun, pada duty cycle 60% samapi 70%, diperoleh selisih antara hasil perhitungan dengan implementasi yang semakin besar. Selisih ini disebabkan oleh adanya tegangan aktif dioda yang menyebabkan drop atau penurunan tegangan keluaran pada implementasi. Selain itu, penurunan tegangan ini juga terjadi akibat stress dan rugi-rugi konduksi.

PWM driver VDS PWM ILb ILm ILkg Is Vs (c) (d) (a) (e) (f) (b)

(6)

Gambar 9. Grafik tegangan keluaran perhitungan, tegangan keluaran simulasi, dan tegangan keluaran implementasi

E. Pengujian Efisiensi SIB Converter

Pengujian efisiensi dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja SIB converter dengan memperhatikan efisiensi yang dihasilkan. Pengujian ini dilakukan dengan menjaga nilai tegangan masukan dan tegangan keluaran tetap (Vin = 24 V dan Vout = 163). Namun, pada praktisnya, tegangan keluaran berubah seiring dengan perubahan beban, sehingga untuk menjaga agar tegangan keluaran konstan maka dilakukan perubahan terhadap nilai duty cycle. Sementara itu, nilai beban diubah-ubah dengan cara mengubah besarnya nilai hambatan pada resistor variabel. Grafik pada gambar 10 menunjukkan efisisiensi dari pengujian SIB converter terhadap perubahan beban atau daya keluaran. Nilai efisiensi yang diperoleh menunjukkan nilai yang fluktuatif dimana nilai tersebut masih berkisar pada 70% sampai 80%. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa nilai efisiensi terendah yaitu 74.7% diperoleh saat Pout = 13.9 W atau sekitar 39.3% dari beban. Sementara itu, efisiensi tertinggi yaitu 87.6% pada saat Pout = 25.4 W atau pada 71.8% total beban yang diberikan saat pengujian. Namun, saat beban puncak Pout = 35.4 W efisiensi turun sekitar 2.6% menjadi 85%. Dari grafik pada gambar 10 dapat diketahui bahwa efisiensi mengalami fluktuatif terhadap perubahan Pout. Namun, secara garis besar efisiensi naik dengan semakin besarnya Pout terkecuali saat Pout sekitar 29 W. Pada saat Pout = 29.5 W, efisiensi mengalami penurunan hingga mencapai total daya.

Gambar 10. Grafik efisiensi – daya keluaran dari SIB converter

V. KESIMPULAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian dan analisis yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pengujian simulasi tegangan keluaran SIB converter sudah mendekati dengan nilai tegangan keluaran secara perhitungan. Tegangan keluaran perhitungan sebesar 248 V sedangkan tegangan keluaran implementasi sebesar 230 V pada duty cycle 70%. Sementara itu, selisih antara tegangan keluaran perhitungan dengan tegangan keluaran implementasi terjadi karena drop tegangan dioda dan rugi-rugi konduksi. Dari hasil pengujian efisiensi implementasi SIB converter diperoleh data bahwa SIB converte hasil implementasi memiliki nilai efisiensi maksimum sebesar 87.6% pada beban 25.4 W. Secara garis besar efisiensi konverter naik dengan seiring naiknya total beban yang diberikan.

B. Saran

SIB converter dapat dioperasikan pada sistem yang membutuhkan rasio konversi yang tinggi dan efisiensi yang baik. Namun, konverter ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai operasi kerja SIB converter dengan duty cycle di bawah 50%. Hal ini disebabkan karena pada penelitian ini pengujiannya masih terbatas pada duty cycle diatas 50%. Selainitu, pembuatan transformator frekuensi tinggi sangat penting untuk diperhatikan dalam implementasi SIB converter.

DAFTARPUSTAKA

[1] Park B.M., Moon W.G., and Youn J.M. “Nonisolated High Step-up Boost Converter Integrated With Sepic Converter”. IEEE Transactions On Power Electronics, Vol. 25, no. 9, September 2010

[2] R. Redl and N. O. Sokal, “Push-pull current-fed multiple-output DC/DC power converter with only one inductor and with 0 to 100% switch duty ratio,” in Proc. IEEE PESC, 1980, pp. 341–345.

[3] D. A. Grant, Y. Darroman, and J. Suter, “Synthesis of tapped-inductor switched-mode converters,” IEEE Trans. Power Electron., vol. 22, no. 5,pp. 1964–1969, Sep. 2007.

[4] M. Prudente, L. L. Pfitscher, G. Emmendoerfer, E. F. Romaneli, and R. Gules, “Voltage multiplier cells applied to non-isolated DC-DC converters,”IEEE Trans. Power Electron., vol. 23, no. 2, pp. 871–887, Mar. 2008.

[5] Fairchild Semiconductor. AN-4140 Transformator Design Consideration for Offline Flyback Converters Using Fairchild Power Switch (FPSTM)

100 150 200 250 300 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 50 60 70 80 90 100 10 15 20 25 30 35 40 Pout (W) Ef is ie ns i ( %) V ou t ( V ) Duty cycle (%) Perhitungan Simulasi Implementasi

Gambar

Gambar  3  menunjukkan  blok  sistem  konverter  secara  keseluruhan.  Sumber  mesuplai  daya  menuju  konverter
Gambar  4  menunjukkan  gelombang  hasil  simulasi.
Gambar 6. SIB converter hasil implementasi.
Gambar  8.  Bentuk  gelombang  SIB  converter  implementasi.  (a)  Sinyal  PWM (S). (b) Arus induktor boost (I Lb )
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sebaliknya pada pengujian konverter mode pengereman buck , beban yang digunakan pada sisi V 1 adalah resistor sebesar 3 Ohm sehingga dengan tegangan sebesar 24V

Dari data yang didapatkan pada hasil pengujian sistem catu daya yang dibuat pada simulasi, dapat diberikan kesimpulan bahwa untuk membuat sebuah arsitektur catu daya

Fixed Voltage MPPT (Maximum Power Point Tracking) adalah sebuah metode yang akan memaksa PV bekerja pada tegangan tetap yang dapat diatur agar daya keluaran tegangan

Pengaturan duty cyle dari rangkaian pembangkit sinyal mikrokontroler mempengaruhi besarnya tegangan keluaran konverter boost, ini dapat dilihat dari semua tabel hasil

Pengujian yang dilakukan bertujuan untuk megetahui tegangan keluaran multilevel boost converter dengan menggunakan suplai DC hasil penyearahan dan beban resistif 100Ω..

Pengaturan duty cyle dari rangkaian pembangkit sinyal mikrokontroler mempengaruhi besarnya tegangan keluaran konverter boost, ini dapat dilihat dari semua tabel

Dari Pengujian di atas, meskipun disimulasikan dengan kondisi tegangan input berubah atau beban berubah, modul kendali rangkaian konverter boost dapat membuat

187 V 1 0,818 Sedangkan arus yang mengalir pada diode Dm dan diode Do bernilai sama dengan arus keluaran konverter, yaitu: IDm IDo Io Po 100 0,29 A Vo 340 Pada sakelar, nilai