• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM WARIS ISLAM 20/10/2016. Pengertian Hukum Waris Islam. Sejarah dan Perkembangan Hukum Waris Islam Di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUKUM WARIS ISLAM 20/10/2016. Pengertian Hukum Waris Islam. Sejarah dan Perkembangan Hukum Waris Islam Di Indonesia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM WARIS ISLAM

OLEH :

GAHAN GUSTISIRA S 125010100111171 (1) HILMIYA QOTRUNNADA 135010107113002 (13) DESSY RATNA WANDARI 135010107113016 (14) NAYUNDA SITORESTI 135010118113009 (16)

1

Pengertian Hukum Waris Islam

Hukum kewarisan menurut Pasal 171 huruf a Kompilasi Hukum Islam adalah

hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan

(tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris

dan berapa bagiannya masing-masing.

Hukum kewarisan Islam menurut Ahmad Zahari adalah hukum yang

mengatur tentang peralihan hak milik atas harta warisan dari pewaris kepada

orang-orang yang berhak menerimanya (ahli waris), barapa besar bagiannya

masing-masing, kapan dan bagaimana cara peralihannya sesuai ketentuan

dan petunjuk Al-Qur’an, hadist dan ijtihad para ahli.

2

Sejarah dan Perkembangan Hukum Waris Islam Di Indonesia

Hukum Waris Islam di Indonesia Pada Zaman Kolonial

Didalam sejarah hukum Hindia Belanda, kedudukan Hukum Islam dapat dibagi dalam dua preode, yaitu periode Teori Receptio in Complex dan periode Teori Receptei.

Teori reception in complex adalah teori penerimaan Hukum Islam, sepenuhnya bagi orang-orang yang beragama Islam karena mereka telah memeluk agama Islam meskipun dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan. Teori ini dipelopori oleh LWC Van Den Berg. Apresiasi pemerintah Hindia Belanda pada teori ini hanya terdapat dalam hukum kekeluargaan Islam, yakni hukum perkawinan dan hukum kewarisan, yaitu dengan adanya Compidium Frejer yang disahkan dengan peraturan Resulutie der Indische Regeering pada tanggal 25 Mei 1760.

Sedangkan teori Receptie adalah teori penerimaan Hukum Islam oleh Hukum Adat, yakni Hukum Islam baru berlaku bila dikehendaki atau diterima oleh Hukum Adat. Yang dipelopori oleh C.Snouck Hurgronje berdasarkan penelitiannya di Aceh dan tanah Gayo.

3

Sejarah...

pada masa pemerintah kolonial, Belanda mendirikan Pengadilan Agama di Jawa dan Madura pada tauhun1882 (Stb. 1882 Nomor 152) para pejabatnya telah dapat menentukan sendiri perkara-perkara apa yang menjadi wewenangnya, yakni semua perkara yang berhubungan dengan perkawinan, perceraian, mahar, nafkah, sah tidaknya anak, perwalian, kewarisan, hibah, sedekah, Baitul Mal, dan wakaf.

Pada tahun 1937, wewenang Pengadilan Agama mengadili perkara waris dicabut dengan keluarnya Stb. 1937 Nomor 116 dan 610 untuk Jawa dan Madura dan Stb. 1937 Nomor 638 dan 639 untuk Kalimantan Selatan. Pada masa pendudukan Jepang, semua peraturan perundang-undangan yang ada pada zaman kolonial Belanda dinyatakan masih tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan hukum Pemerintahan Dai Nippon.

(2)

Hukum Waris Islam Pasca kemerdekaan

Sejak diproklamasikan kemerdekaan Repubik Indonesia, hukum agama yang diyakini oleh pemeluknya memperoleh legalitas secara konstitusional yuridis, hal ini didasarkan atas sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang kemudian lebih lanjut dijabarkan di dalam UUD 1945, khususnya pada pasal 29.

Pada tanggal 21 Maret 1984 Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Menteri Agama Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang isinya membentuk sebuah panitia untuk mengumpulkan bahan-bahan dan merancang Kompilasi Hukum Islam menyangkut hukum Perkawinan, Kewarisan dan Perwakafan yang selanjutnya akan dipergunakan oleh Pengadilan Agama dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya.

Pada tanggal 10 Juni 1991 keluarlah Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991, yang memuat instruksi kepada Menteri Agama untuk menyebarkan KHI . kemudian pada tanggal 22 Juli 1991 Menteri Agama mengeluarkan Keputusan No. 154 Tahun 1991 yang menyerukan kepada seluruh instansi pemerintah lainnya yang terkait agar menyebarluaskan KHI tersebut, dan sedapat mungkin menerapkannya di samping peraturan perundang-undangan lainnya.

5

Sumber dan Dasar Hukum Waris Islam

Sumber-sumber hukum kewarisan dalam Islam :

Dalil- dalil yang bersumber dari al-qur’an Dalil-dalil yang bersumber dari as-sunnah, dan Dalil-dalil yang bersumber dari ijtihad para ulama

6

Sumber....

Dasar Hukum Kewarisan Islam Dalam Al-qur’an

Salah satu Ayat Al-Qur’an yang mengatur secara langsung kewarisan diantaranya adalah : QS An Nisa’ : 7 ِﻝﺎَﺟ ِّﺮﻠِﻟ ٌﺐﻴ ِﺼَﻧ ﺎﱠﻤ ِﻣ َﻙ َﺮَﺗ ِﻥﺍَﺪِﻟﺍ َﻮْﻟﺍ َﻥﻮُﺑ َﺮْﻗَ ْﻷﺍ َﻭ ِءﺎَﺴِّﻨﻠِﻟ َﻭ ٌﺐﻴ ِﺼَﻧ ﺎﱠﻤ ِﻣ ﺎًﺿﻭ ُﺮْﻔَﻣﺎًﺒﻴ ِﺼَﻧ َﺮ ُﺜَﻛ ْﻭَﺃ ُﻪْﻨ ِﻣ ﱠﻞَﻗﺎﱠﻤ ِﻣ َﻥﻮُﺑ َﺮْﻗَ ْﻷﺍ َﻭ ِﻥﺍَﺪِﻟﺍ َﻮْﻟﺍ َﻙ َﺮَﺗ

Artinya : Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. ( QS An Nisa’ : 7 )

7

Dasar Hukum Kewarisan Islam Dalam Al- hadits

Salah satu Hadits nabi yang menjadi landasan hukum kewarisan islam yaitu yang artinya : Dari Ibnu Abbas R.A dari Nabi SAW berkata : “Berikanlah faraid ( bagian-bagian yang ditentukan) itu kepada yang berhak dan selebihnya berikanlah untuk laki-laki dari keturunan laki-laki yang dekat.”

Dasar Hukum Kewarisan Islam Dalam Ijtihad Ulama

Ijtihad ialah menyelidiki dalil-dalil hukum dari sumbernya yang resmi yaitu al-qur’an dan hadits kemudian menarik garis hukum daripadanya dalam suatu masalah tertentu, misalnya berijtihad dari qur’an kemudian mengalirkan garis-garis hukum kewarisan islam daripadanya. Meskipun Al-Qur’an dan Sunnah Rasul telah memberi ketentuan terperinci tentang pembagian harta warisan, tetapi dalam beberapa hal masih diperlukan adanya ijtihad, yaitu terhadap hal-hal yang tidak ditentukan dalam kedua sumber hukum tersebut. Misalnya mengenai bagian warisan orang banci, harta warisan yang tidak habis terbagi kepada siapa sisanya diberikan, bagian ibu apabila hanya bersama-sama dengan ayah dan duda atau janda.

(3)

Prinsip- Prinsip Waris Islam

1. Prinsip Ijbari, yaitu bahwa peralihan harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup berlaku dengan sendirinya.

2. Prinsip Individual, yaitu bahwa harta warisan dapat dibagi-bagikan kepada ahli waris untuk dimiliki secara perseorangan.

3. Prinsip Bilateral, artinya bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mewaris dari kedua belah pihak garis kekerabatan, atau dengan kata lain jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewarisi atau diwarisi.

4. Prinsip kewarisan hanya karena kematian, yakni bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan sebutan kewarisan berlaku setelah yang mempunyai harta tersebut meninggal dunia. Dengan demikian, tidak ada pembagian warisan sepanjang pewaris masih hidup.

9

Rukun dan Syarat Pembagian Waris

Rukun

Pewaris/muwarits: orang yang hartanya akan diwariskan Ahli waris/waris: orang yang berhak mendapatkan warisan

Warisan/irts/mirats/mauruts/turats/tirkah: sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa harta bergerak maupun harta tidak bergerak setelah dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan hutang, dan pelaksanaan wasiat

Syarat

1. Meninggal dunianya pewaris Mati hakiki (sejati) Mati hukmi (putusan hakim) Mati taqdiri (menurut dugaan) 2. Hidupnya ahli waris

3. Mengetahui status kewarisan:

hubungan yang jelas antar para pihak (pewaris dan ahli waris)

10

Sebab- sebab Mewaris

1. Hubungan kekeluargaan/ hubungan darah/ kekerabatan

1. Furu’: keturunan pewaris

2. Ushul: leluhur pewaris

3. Hawasyi: saudara menyamping

2. Hubungan perkawinan (hanya dari perkawinan yang sah)

3. Wala’ (hubungan hukmiah)

1. hubungan yang ditetapkan oleh hukum Islam, (misalnya sesorang yang telah memerdekakan budak, maka berhak mewaris dari budak apabila tidak ada ahli waris lainnya)

2. Pada umumnya budak tidak memiliki harta sehingga kecil kemungkinan menjadi pewaris

4. Baitul Maal/Perbendaharaan Umum

Apabila tidak ada seorangpun yang berhak menerima warisan, tidak ada keluarga (dekat-jauh) yang menjadi ahli waris

11

Halangan Menerima Waris

Hal-hal yang menghalangi ahli waris menerima warisan, walaupun telah terpenuhinya sebab dan syarat mewaris.

Mahrum (yang diharamkan) / Mamnu’ (yang dilarang) :

1. Pembunuhan

2. Berbeda agama termasuk Murtad

3. Perbudakan Hijab

1. Hijab nuqshan

2. Hijab hirman atau hijab penuh

Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam pada Buku II, Pasal 173 menyatakan seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dihukum karena :

1. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat sipewaris.

2. Dipersalahkan secara menfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih besar.

(4)

Hak-hak Wajib Ditunaikan sebelum Warisan dibagikan

1.

Biaya Perawatan Jenazah

2.

Pelunasan Hutang

3.

Pelaksanaan Wasiat

13

Penggolongan Ahli Waris

SISTEM KEWARISAN PATRILINEAL SISTEM KEWARISAN BILATERAL

1. PENGGOLONGAN AHLI WARIS SISTEM KEWARISAN PATRILINEAL AHLI WARIS DZUL FARAID

Ahli waris yang mendapat bagian menurut ketentuan yang diterangkan dalam Al Quran dan hadits

AHLI WARIS ASABAH

Ahli waris yang tidak memperoleh bagian tertentu, tetapi:

Berhak mendapatkan seluruh harta peninggalan jika tidak ada ahli waris dzul faraid dan Berhak atas sisa harta peninggalan setelah dibagikan kepada ahli waris dzul faraid Tidak mendapatkan apa-apa, karena habis dibagikan kepada dzul faraid AHLI WARIS DZUL ARHAM

Ahli waris yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui anggota keluarga perempuan.

14

2. PENGGOLONGAN AHLI WARIS SISTEM KEWARISAN BILATERAL AHLI WARIS DZUL FARAID

Adalah ahli waris yang mendapat bagian menurut ketentuan yang diterangkan dalam Al Quran dan hadits

AHLI WARIS DZUL QARABAT

Ahli waris yang mendapat bagian warisan yang tidak tentu jumlahnya atau mendapat bagian sisa, atau mendapat bagian terbuka, baik dari garis laki-laki maupun perempuan. AHLI WARIS MAWALI

Adalah ahli waris pengganti, yang menggantikan seseorang untuk memperoleh bagian warisan yang tadinya akan diperoleh oleh orang yang digantikan seandainya ia masih hidup

15

Ada 25 ahli waris yang diatur dalam ketentuan hukum waris islam,yang dapat mewarisi harta pewaris yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.

Ahli waris laki-laki terdiri dari:

1. Anak laki-laki

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah

3. Ayah

4. Kakek dari ayah dan terus ke atas

5. Saudara laki-laki kandung

6. Saudara laki-laki seayah

7. Saudara laki-laki seibu

8. Anak laki-laki saudara laki-laki kandung

9. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah

10. Paman yang sekandung dengan ayah

11. Paman yang seayah dengan ayah

12. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah

13. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah

14. Suami

15. Orang laki-laki yang memerdekakan budak

Jika ahli waris laki-laki tersebut semua ada, maka yang mendapat bagian hanya tiga orang, yaitu:

1.Anak laki-laki 2.Suami

3.Ayah

(5)

Ahli waris perempuan terdiri dari:

1. Anak perempuan

2. Cucu perempuan dari anak laki-laki,dan terus kebawah

3. Ibu

4. Nenek (ibu dari ibu) dan terus ke atas

5. Nenek (ibu dari ayah),dan terus kebawah

6. Saudara perempuan kandung

7. Saudara perempuan seayah

8. Saudara perempuan seibu

9. Istri

10.orang perempuan yang memerdekakan

budak

Jika semua ahli waris perempuan tersebut ada, maka yang mendapat bagian hanya lima orang, yaitu:

1.Anak perempuan

2.Cucu perempuan dari anak laki-laki 3.Ibu

4.Saudara perempuan kandung 5.Istri

17

Jika ahli waris laki-laki dan perempuan sejumlah 25 orang tersebut semua ada, maka yang mendapat bagian adalah:

1.Ayah

2.Ibu

3.Anak laki-laki

4.Anak perempuan

5.Suami atau istri

*5 golongan ini SELALU menerima warisan dalam segala hal, siapapun yang meninggal

18

Bagian Ahli Waris

Hal Furudz

Al Furudh biasa juga disebut Furudul Muqaddarah. Kata al-furud adalah bentuk jamak dari kata fard artinya bagian (ketentuan). Al-Muqaddarah artinya ditentukan. Jadi furud al-muqaddarah adalah bagian-bagian yang telah ditentukan oleh syara’ bagi ahli waris tertentu dalam pembagian harta peninggalan. Bagian itulah yang akan diterima ahli waris menurut jauh dekatnya hubungan kekerabatan. Furudul Muqaddarah ada enam macam:

1.Dua pertiga (2/3) 2.Setengah (1/2) 3.Sepertiga (1/3) 4.Seperempat (1/4) 5.Seperenam (1/6) 6.Seperdelapan (1/8).

(Dasar hukumnya adalah firman Allah surat an-Nisa ayat 11-12)

19

BAGIAN 2/3

1. Dua atau lebih anak perempuan, dibagi bersama-sama

2. Dua atau lebih cucu perempuan, jika mereka tidak menjadi ashobah bil ghoiri

3. Dua orang atau lebih saudara perempuan kandung, jika mereka tidak menjadi ashobah bil ghoiri

4. Dua orang atau lebih saudara perempuan sebapak, jika mereka tidak menjadi ashobah bil ghoiri, dan pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan

(6)

BAGIAN I/2

1. Seorang anak perempuan, bila tidak menjadi ashobal bil ghoiri (adanya anak laki-laki)

2. Seorang cucu perempuan, bila ia tidak menjadi ashobah bilghoiri, dan tidak bersama anak perempuan.

3. Seorang saudara perempuan sekandung, bila ia tidak menjadi ashobah

4. Seorang saudara perempuan seayah, bila ia tidak menjadi ashobah, dan tidak bersama dengan saudara perempuan sekandung

5. Suami, bila istrinya tidak mempunyai anak atau cucu (dari anak laki-laki)

21

BAGIAN 1/3

Ibu, apabila pewaris tidak meninggalkan anak (perempuan atau laki-laki) atau cucu (perempuan atau laki-laki), atau tidak mempunyai saudara lebih dari seorang (baik kandung, sebapak ataupun seibu)

Dua atau lebih saudara seibu (laki-laki atau perempuan)

22

BAGIAN 1/4

1. Suami, apabila istri mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

2. Istri, apabila suami tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

23

BAGIAN I/8

1. Istri, apabila suami mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

(7)

BAGIAN 1/6

1. Bapak, apabila pewaris memiliki anak atau cucu

2. Ibu, apabila pewaris memiliki anak, atau cucu atau saudara (laki-laki atau perempuan) baik sekandung, sebapak, atau seibu

3. Kakek, apabila pewaris memiliki anak atau cucu, dan tidak ada bapak

4. Nenek (ibu dari ibu atau ibu dari bapak), apabila tida ada ibu

5. Cucu perempuan (seorang atau lebih) dari anak laki-laki, apabila pewaris mempunyai anak perempuan satu orang saja. Bila anak perempuan lebih dari seorang, maka cucu perempuan tidak mendapatkan apa-apa (hijab hirman)

6. Seorang saudara seibu (laki-laki atau perempuan), bila pewaris dalam keadaan kalalah (yaitu tidak mempunyai anak atau cucu (laki-laki atau perempuan) dan tidak mempunyai bapak

25

Ashabah

Golongan ashabah adalah kelompok ahli waris yang menerima bagian sisa,sehingga jumlah bagiannya tidak tertentu. kelompok ashabah ini kalau mewaris sendirian,tidak bersama dengan kelompok dzawul

furudh maka bagian warisan diambil semua. Sebaliknya jika kelompok ini bersama dengan dzawul furuudh dan setelah di bagi ternyata harta warisan sudah habis,maka kelompok ashabah ini tidak

mendapat apa-apa.

Adapun macam-macam Ashabah adalah :

1. ashabah binafsih ,

2. ashabah bil ghair , dan

3. ashabah ma’al ghair.

Ashabah Binafsih.

Ashabah binafsih yang dimaksud adalah ashabah dengan sendirinnya dan bukan karena tertarik oleh ahli waris yang lain atau bersamaan dengan ahli waris yang lain,tetapi asalnya memang sudah menjadi ashabah.

26

Yang termasuk kelompok ashabah binafsih antara lain:

1. anak laki-laki

2. cucu laki-laki dari anak llaki-laki dan terus kebawah

3. Ayah

4. kakek dari pihak ayah dan terus keatas

5. Saudara laki-laki sekandung

6. Saudara laki-laki seayah

7. Anak saudara laki-laki sekandung

8. Anak saudara laki-laki seayah

9. Paman yang sekandung dengan ayah

10. Paman yang seayah dengan ayah

11. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah

12. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah

*Apabila orang-orang yang tersebut diatas semua ada maka tidak semua mereka di beri bagian, akan tetapi harus didahulukan orang-orang yang lebih dekat pertaliannya dengan pewaris, dengan memperhatikan urutan nomor 1-12 tersebut.

27

Ashabah Bil Ghair.

Ashabah bil ghair adalah kelompok ahli waris yang asalnya sebagai dzawul furuudh,namun mereka mendapat bagian ashabah karena tertarik oleh ahli waris llain yang berstatus ashabah.Yang termasuk kelompok ashabah bil ghair ini adalah:

1. Anak perempuan menjadi ashabah karena ditarik oleh anak laki-laki

2. Cucu perempuan dari anak laki-laki menjadi ashabah karena ditarik oleh cucu laki-laki dari anak laki-laki.

3. Saudara perempuan kandung menjadi ashabah karena ditarik oleh saudara laki-laki kandung.

4. Saudara perempuan seayah menjadi ashabah karena ditarik oleh saudara laki-laki seayah.

*Dalam pembagian ashabah ini perlu diperhatikan pembagian antara laki-laki dan perempuan dua banding satu,seperti dalam surat an-nisa’ ayat 176

(8)

Ashabah Ma’al Ghair

kelompok ahli waris yang mendapat bagian ashabah karena mewaris bersama-sama kelompok dzawul furuudh yang lain. yang termasuk Ashabah Ma’al Ghair adalah:

Saudara perempuan sekandung apabila dia mewaris bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan.

Saudara perempuan seayah,apabila dia mewaris bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan.

29

Hijab

Hijab secara harfiah berarti satir, penutup atau penghalang. Dalam fiqh mawaris, istilah ini digunakan untuk menjelaskan ahli waris yang hubungan kekerabatannya jauh, yang kadang-kadang atau seterusnya terhalang hak-hak kewarisanya oleh ahli waris yang lebih dekat. Ahli waris yang terhalangi disebut hajib, sedangkan ahli waris yang terhalang disebut dengan mahjub. Keadaan yang terhalangi disebut hijab. Hijab dilihat dari segi akibatnya, hijab dibagi 2 macam:

Hijab Nuqson, Hijab Nuqson yaitu menghalangi yang berakibat mengurangi bagian ahli waris yang mahjub, seperti suami, yang seharusnya menerima bagian 1/2, karena bersama anak baik laki-laki maupun perempuan, bagianya terkurangi menjadi 1/4. Ibu yang sedianya menerima bagian 1/3, karena bersama dengan anak, atau saudara 2 orang atau lebih, terkurangi bagianya menjadi 1/6. Hijab Hirman, Hijab Hirman dalah hijab yang menghalangi secara total. Akibatnya hak-hak waris ahli waris yang termahjub tertutup sama sekali dengan adanya ahli waris yang menghalangi. Misalnya, saudara perempuan kandung yang semula berhak menerima bagian 1/2, tetapi karena bersama dengan anak laki-laki, menjadi tertutup sama sekali atau tidak mendapat bagian.

30

Jalan Pembagian Waris

Terdapat 3 jalan, untuk menerima warisan:

1. Melalui jalan Furudl, yaitu pembagian yang telah ditentukan dalam nash Al-Qur’an dan hadist nab

2. Melalui jalan Hijab (dinding/terhalang/terhapus) yaitu ahli waris yang terhalang sehingga berkurang/terhalang/tidak memperoleh warisan

3. Melalui Jalan ashobah, dengan jalan menghabiskan semua harta, atau mengambil semua sisa harta yang telah dibagikan kepada dzul faroid/dzawil furudl

Cara Pembagian Waris

1. Menentukan siapa saja ahli waris yang berhak menerima harta warisan

2. Menetapkan asal mas’alah

3. Menentukan jumlah warisan bagi ahli waris dzul faraid.

31

Ahli Waris Dzul Arham

Dzul arham adalah kelompok yang tidak disebut dalam dzawil furudh dan ashabah namun mempunyai hubungan dekat dengan pewaris. Mereka akan memperoleh bagian warisan apabila dua golongan diatas (dzawil furud dan asabah) tidak ada seluruhnya. Yang termasuk dalam Dzawil Arham ini adalah:

1. Cucu Keturunan anak perempuan dan seterusnya kebawah baik laki-laki maupun perempuan.

2. Anak dari cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya kebawah baik laki-laki maupun perempuan.

3. Anak-anak dari saudara perempuan kandung, seayah, seibu, baik laki-laki perempuan.

4. Anak perempuan dari saudara laki-laki kandung, seayah, seibu dan seterusnya kebawah.

5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu, dan seterusnya kebawah.

(9)

Penggantian Tempat

Ahli waris pengganti/ penggantian tempat ahli waris adalah ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris, maka kedudukannya sebagai ahli waris dapat digantikan oleh anaknya (pasal 185 KHI).

Adapun bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti

33

Warisan Anak dalam Kandungan

Anak yang dalam kandungan belum memiliki kejelasan:

Apakah dia akan hidup atau mati

Apakah laki-laki atau perempuan

Dapat diatasi dengan pembagian sementara, dimana setelah

anak lahir dilakukan pembagian yang sebenarnya

34

Perhitungan Kewarisan Anak Dalam Kandungan yakni :

Jika lahir laki-laki, maka para ashhabul furudh yang tidak terhijab atas keberadaannya dapat mengambil bagian tanpa menunggu kelahiran.

Jika lahir perempuan, maka bayi tersebut hanya mengambil bagiannya sebagai anak perempuan, selebihnya diberikan kepada yang berhak. Baik secara perhitungan ulang atau dengan cara lain yang sesuai dengan aturan hukum waris.

Jika bayi lahir dalam keadaan meninggal, maka harta taksiran diberikan kepada yang berhak sesuai aturan hukum waris.

Jika bayi lahir kemudian meninggal, namun secara yuridis dapat dikatakan/dibuktikan hidup, maka akan tetap mendapat bagian harta sesuai jenis kelamin dan keberadaan dirinya dan kemudian harta tersebut diberikan kepada ahli waris yang berhak atas dirinya (bukan lagi pewaris (mayit) pertama dalam perhitungan).

35

Masalah Orang Tertawan (Asir)

Orang yang tertawan adalah orang yang ditawan karena ditangkap atau kalah dalam suatu peperangan.

Apabila orang yang tertawan itu hidup, harta benda yang ia tinggalkan tetap menjadi miliknya dan ia bisa mewarisi dari orang lain. Apabila ia telah wafat dan dapat dibuktikan kematiannya, para ahli warisnya bisa mewarisi dari orang itu, terhitung sejak tanggal wafatnya. Jika hakim telah memutuskan bahwa orang yang ditawan itu telah meninggal berdasarkan perkiraan yang kuat, harta warisnya dapat diserahkan kepada ahli warisnya yang hidup, saat keputusan itu dikeluarkan.

* peran hakim sangat menentukan untuk penyelesaian warisan orang yang dalam tawanan, tentunya setelah terlebih dahulu ditempuh upaya untuk mendapatkan informasi perihal orang yang tertawan.

(10)

Warisan Anak Hasil Zina

Pasal 186 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan : “Anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.”

Syara’ telah menetapkan bahwa anak Zina ini dibangsakan kepada ibunya dan tidak diakui hubungan darahnya dengan si ayah. Oleh karenanya, tidak ada hubungan kekerabatan antara anak itu dengan ayahnya. Dalam urf modern dinamakan wa’ad ghairu syar’i (anak yang tidak diakui agama)

37

Warisan Khuntsa

Dalam Bahasa Arab, diambil dari kata khanatsa berarti “lunak” atau “melunak”. Misalnya, khanatsa wa takhonnatsa, yang berarti apabila ucapan atau cara berjalan seorang laki lkai menyerupai wanita, lembut dan melenggak lenggok.

Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Bila urine nya keluar dari sebagaimana kaum laki laki maka ia divonis sebagai laki laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divionis sebagai wanita. Namun bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa’ musykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.

38

Cara Pembagian Warisan Khuntsa:

Jika dapat diperjelas jenis kelaminnya, maka pembagainnya sesuai dengan jenis kelamin tersebut. Hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara keduanya (keadaan bila ia sebagai laki laki dan sebagai wanita).

Untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. Atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli waris.

Jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit, maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Dan jika dinilai sebagai laki laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit, maka divonis sebagai laki laki.

Bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status ditiadakan haknya, maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris.

Dalam madzhab Imam Syafi’I, bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki laki atau wanita) maka gugurlah hak warisnya.

39

Warisan Orang Hilang / Mafqud

Mafqud Yaitu orang yang tidak diketahui kabar beritanya (apakah masih hidup atau meninggal dunia)

Menyangkut status hukum orang yang hilang ini para ahli hokum Islam menetapkan bahwa:

Istri orang yang hilang tidak boleh dikawinkan Harta orang yang hilang tidak boleh diwariskan

Hak-hak orang yang hilang tidak boleh dibelanjakan atau dialihkan. Ketidakbolehan ketiga hal tersebut di atas sampai orang yang hilang tersebut diketahui dengan jelas statusnya, yaitu apakah ia dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dan apabila statusnya masih diragukan maka statusnya masih dianggap sebagai masih hidup sesuai dengan keadaan semula. Dan dapat ditambahkan, bahwa yang berhak untuk menentukan seseorang yang hilang sudah mati hanyalah hakim.

(11)

Munasakhah

Munasakhah menurut bahasa artinya memindahkan atau

menghilangkan.

Apabila seseorang meninggal dunia, sebelum hartanya

dibagi-bagikan kepada ahli warisnya, salah seorang ahli

warisnya

meninggal

dunia

pula

dengan

meninggalkan

beberapa waris pula.

Menurut

As-Sayyid

Asy-Syarif,

munasakhah

adalah

memindahkan bagian demi bagian ahli waris kepada orang

yang mewarisinya akibat kematiannya sebelum dilakukan

pembagian harta peninggalan dilaksanakan.

41

Istri yang di Talak

Istri yang dicerai dengan talak raj’i

Thalaq raja’i ialah apabila seorang suami menthalaq istrinya dengan thalaq ke I atau ke II. Apabila seorang suami menthalaq istrinya dengan thalaq raja’i (ke I atau II) maka antara suami istri itu tetap saling mewaris selama masih dalam iddah raja’i.

Istri yang dicerai dengan talak Ba’in

Imam syafi’i: tidak saling mewaris, apabila seseorang menthalaq istrinya dengan thalaq 3 yang dithalaqnya sewaktu sakit yang membawa kepada kematiannya

Imam Hanafi, Hambali dan Maliki: tetap saling mewaris pendapat para imam:

Hanafi: tetap mewaris selama masih dalam iddah Hambali: tetap mewaris selama istri belum menikah

Maliki: tetap mewaris sekalipun habis masa iddahnya, dan ia sudah menikah lagi.

42

Hak waris anak angkat

Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari orang

tua angkatnya, karena pengangkatan anak tidak membawa

akibat hukum dalam hubungan darah, hubungan wali-mewali

dan hubungan waris-mewaris dengan orang tua angkatnya.

Namun demikian untuk melindungan hak dari anak adopsi

tersebut, maka orang tua angkat dapat memberikan wasiat

asalkan tidak melebihi 1/3 harta peninggalan.

Tetapi jika anak angkat tersebut tidak menerima wasiat maka

diberikan wasiat wajibah sebanyak banyaknya 1/3 dari harta

peninggalan (pasal 209 ayat (2)).

43

‘Aul dan Radd

‘Aul = meningkat atau bertambah

Yaitu meningkatkan atau membesarkan angka asal masalah

sehingga menjadi sama dengan jumlah angka pembilang dari

bagian ahli waris yang ada.

Radd = mengembalikan

Yaitu mengembalikan sisa harta warisan kepada ahli warisnya

sesuai dengan bagiannya masing-masing

(12)

Hukum Waris Islam dalam Kompilasi Hukum

Islam

Hukum waris tersebut tertulis dalam buku II KHI mulai dari pasal 171 sampai

pasal 193, serta pasal 209 tentang wasiat wajibah.

Bab I memuat 1 pasal tentang “Ketentuan Umum” (pasal 171)

Bab II memuat 4 pasal tentang “Ahli Waris” (pasal 172-175)

Bab III memuat 16 pasal tentang ”Besarnya Bagian” (pasal 176-191)

Bab IV memuat 2 pasal tentang ”Aul Dan Radd ” (pasal 192-193)

Pasal 209 tentang Wasiat Wajibah.

45

Hukum Waris Islam dalam Undang-Undang

Peradilan Agama

UU NO. 7 TAHUN 1989 -> UU NO. 3 TAHUN 2006 -> UU NO. 50 TAHUN

2009.

Dalam penjelasan umum Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang

peradilan agama terdapat kalimat yang berbunyi “para pihak sebelum

berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang

dipergunakan dalam pembagian waris”. Namun setelah adanya amandemen

terhadap UU tersebut, kalimat itu dinyatakan dihapus. Sehingga Secara

eksplisit, Hukum Islamlah yang menjadi pilihan hukum bagi mereka yang

beragama Islam dan penyelesaiannya dilaksanakan oleh Pengadilan Agama.

46

Pasal 49

Pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

a. perkawinan; b. waris; c. wasiat; d. hibah; e. wakaf; f. zakat; g. infaq; h. shadaqah; dan i. ekonomi syari'ah.

47

-Penjelasan Pasal

49-Yang dimaksud dengan “waris” adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris,

dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut,

serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris.

(13)

Contoh

Seorang laki-laki meninggal dunia dengan ahli waris janda, 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan, dan Ibu. Si pewaris mempunyai harta bersama sebesar 500 juta, biaya perawatan rumah sakit selama sakit sebesar 40 juta, biaya pengurusan jenazah 5 juta, dan hutang sebesar 25 juta. Ternyata sebelum menikah pewaris telah memiliki rumah yang sebelumnya dikontrakkan yang kemudian dilelang dan laku dengan harga 220juta. Biaya lelang dan komisi sebesar 15 juta.

Perhitungannya:

Ahli waris : Janda, Ibu, 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan Harta peninggalan : harta bawaan + ½ harta bersama

: 220 juta + 250 juta = 470 juta

Biaya-biaya : rumah sakit+ pengurusan jenazah + hutang + biaya lelang & komisi : 40 juta + 5 juta + 25 juta + 15 juta = 85 juta

Harta waris : 470 juta – 85 juta = 385 juta

49

PEMBAGIAN 1 ANAK LAKI = 2 ANAK PEREMPUAN, SEHINGGA DALAM KASUS INI ASHOBAH DIBAGI MENJADI 5 BAGIAN + (3 X 2) BAGIAN = 11 BAGIAN

BAGIAN TIAP ANAK PEREMPUAN = 1/11 X 272.708.333 = 24.791.667 BAGIAN TIAP ANAK LAKI-LAKI = 2/11 X 272.708.333 = 49.583.333

Ahli waris Bagian AM = 24 Perhitungan Jumlah harta yg diperoleh Janda 1/8 3 3/24 x 385 juta 48.125.000 Ibu 1/6 4 4/24 x 385 juta 64.166.667 3 laki-laki & 5 perempuan Ashobah 17/24 17/24 x 385 juta 272.708.333

50

Daftar Pustaka

H.R. Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam (Bandung: Refika Aditama, 2006). Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Raja Garfindo Persada, Jakarta:2000.

Kompilasi Hukum Islam.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1052/pilihan-hukum-waris Posting website DPM FH Universitas Merdeka Malang

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37475/3/Chapter%20II.pdf

http://pastabat.net/index.php?option=com_content&view=article&id=69&Itemid=658

51

Tanya Jawab

(14)

Absen 2, Dimas Chandra Eka

Apakah anak angkat mendapat warisan menurut hukum waris islam?

Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya, karena pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hubungan darah, hubungan wali-mewali dan hubungan waris-mewaris dengan orang tua angkatnya. Namun demikian untuk melindungi hak dari anak adopsi tersebut, maka orang tua angkat dapat memberikan wasiat asalkan tidak melebihi 1/3 harta peninggalan. Tetapi jika anak angkat tersebut tidak menerima wasiat maka diberikan wasiat wajibah sebanyak banyaknya 1/3 dari harta peninggalan (pasal 209 ayat (2)).

53

Absen 3, Sekar Ayu Ningtyas

Seorang meninggalkan suami, saudara laki-laki kandung, dan saudara perempuan kandung. Tetapi saudara laki-laki kandung tersebut hilang. Bagaimana cara pembagian warisannya?

Dalam hukum islam, seseorang yang dianggap hilang disebut dengan Mafqud. Dalam Hukum Kewarisan Islam, harta orang yang mafqud disisihkan dan diurus oleh ahli warisnya yang lebih dekat hubungannya dengan orang mafqud tersebut atau ahli waris yang dengan suka rela bersedia mengurus sampai si mafqud jelas keberadaannya ditunggu tenggang waktunya 4 tahun. setelah itu barulah diputuskan apakah si mafqud mati secara hakiki atau secara hukmy, jika sudah jelas statusnya, maka harta tersebut boleh dibagikan kepada ahli waris lain yang berhak menurut pembagiannya. Maksud dari adanya tenggang waktu menunggu adalah agar ahli waris dapat mencari informasi keberadaannya, serta bisa mengumumkannya.

54

Absen 5, Fransiska Louisa

A dan B kawin tetapi tidak mempunyai anak, apakah A bisa mewariskan hartanya ke istrinya saja, A tidak memiliki keturunan keatas ataupun kesamping!

Iya. Karena istri termasuk ahli waris yang selalu menerima warisan dalam segala hal. Sehingga istri berhak mewarisi semua harta tersebut jika tidak ada keturunan keatas maupun kesamping.

55

Absen 6, Haris Muhammad

Pada putusan MA disebutkan beda agama tetap bisa mendapatkan warisan dengan wasiat wajibah, bagaimana pendapat kelompok anda terkait putusan tersebut?

Kelompok kami setuju dengan putusan hakim MA tersebut. Dikarenakan terdapat perkembangan hukum sehingga hakim dalam putusan tersebut melakukan pembaharuan hukum waris islam. Maka yang sebelumnya non-muslim tidak mendapat warisan menjadi mendapat bagian warisan sesuai dengan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan kemaslahatan. Dengan pertimbangan ahli waris yang beragama islam dan yang tidak beragama islam bagaimanapun adalah ahli waris dari sipewaris. Dalam hal lain agar hukum islam tidak dipandang diskriminatif kepada kaum-kaum non-muslim.

Adapun ditinjau dari syariat islam, tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir dan tidakpula orang kafir mewarisi orang muslim. Sehingga orang yang berbeda agama (termasuk murtad) merupakan golongan yang terhalang dalam menerima warisan. Sehingga ia pun tidak berhak untuk mendapat wasiat wajibah.

(15)

Absen 7, Nyoman Kurniadi

Dapatkah hakim merubah legitime portie jika dilihat dari nilai-nilai yang adil di masyarakat?

Tidak boleh, karena legitime portie itu menyatakan bagian hak mutlak yang harus diterima oleh garis keturunan dari pewaris yang susah ditetapkan dalam Al-Qur’an maupun KHI. Kecuali apabila mendapat persetujuan ahli waris dari pewaris tersebut.

57

Absen 9, Syafrita AP

Perempuan islam menikah dengan lelaki hindu, dan lelaki hindu tersebut meninggal. Siapa yang menjadi ahli waris apabila mereka tidak memiliki anak dan hanya mempunyai anak bawaan dari istrinya tersebut!

Menurut syariat Islam istri tersebut tidak berhak menjadi ahli waris, karena hal-hal yang menghalangi ahli waris dalam menerima warisan adalah salah satunya perbedaan agama meskipun telah terpenuhi syarat dan sebab untuk menerima waris. Sehingga istri dan anak bawaan dari istri tersebut tidak dapat menerima warisan.

58

Absen 10, Dewangga Kurniawan

Bagaimana seseorang yang dulunya hilang lalu kembali lagi dan kemudian menuntut bagian dari harta warisannya?

Setelah hakim memutuskan si mafqud telah meninggal dunia pada suatu tanggal yang ditentukan berdasarkan pada dalil-dalil yang menimbulkan dugaan kuat kematiannya, maka mafqud itu dipandang meninggal dunia, pada waktu keluarnya penetapan hakim. Dengan demikian, harta peninggalan mafqud diwariskan oleh ahli waris yang ada pada waktu itu. Sehingga, harta warisan yang sudah dibagi dan ketika si mafqud hadir kembali sudah melampaui 4 (empat) tahun, maka ia tidak bisa meminta kembali harta warisan yang sudah dibagikan. Apabila si mafqud hadir sebelum 4 (empat) tahun, maka ia dapat memintakan kembali harta yang belum dipakai oleh ahli warisnya yang merupakan harta warisan.

59

Absen 11, Khansa Muafa

Antara wasiat dan warisan mana yang didahulukan?

Hak –hak yang wajib ditunaikan sebelum warisan dibagikan antara lain: 1. Biaya perawatan jenazah 2, pelunasan hutang dan 3. Pelaksanaan wasiat, sehingga dapat kita simpulkan wasiat harus lebih dahulu dilaksanakan dari pada warisan.

Apakah seluruh harta yang menjadi objek warisan dapat diwasiatkan sehingga tidak ada lagi harta yang tersisa untuk diwariskan?

Dapat, selama seluruh ahli waris (wurrats) memberikan izin, maka wasiat tersebut dapat dijalankan. Namun apabila ahli waris tersebut tidak menyitujui maka hanya sepertiga (tsults) yang dapat dijalankan dari wasiat tersebut. (pasal 201)

(16)

Apakah dalam hukum islam mengenal pembagian harta gono gini/ bersama?

Apabila ditinjau dari segi syariat islam (murni), dalam pembagian harta warisan tidak ada pemisahan harta bersama/gono gini karena mereka tidak mengenal istilah harta bersama itu sendiri, karena pendapatan selama pernikahan seorang suami dan istri merupakan harta masing masing suami istri tersebut. Sedangkan penghidupan yang diberikan suami kepada istri tersebut dinamakan “nafkah” sehingga tidak dikenal harta bersama. sehingga suami/istri yang hidup terlama mendapat harta yang telah ditentukan bagiannya dalam alqur’an.

Apabila ditinjau dari KHI, harta bersama/gono-gini dibagi menjadi 2 yaitu 50 % untuk suami dan 50 % untuk istri berdasarkan pada pasal 96 KHI.

Referensi

Dokumen terkait

1) Seorang peninggal warisan yang pada saat wafatnya meninggalkan harta kekayaan. 2) Seorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak menerima kekayaan yang.. ditinggalkan ini.

secara jelas dalam pasal 173 tentang terhalangnya untuk menjadi ahli waris adalah perbedaan agama bukan berarti ahli waris beda agama mendapat bagian dari harta pewaris

Yang termasuk dalam golongan ahli waris yang berhak mendapatkan 1 /8 harta waris yaitu: Istri (seorang atau lebih) apabila Pewaris mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki..

Penentuan siapa-siapa diantara ahli waris yang berhak menjadi ahli waris dari pewarisnya, yang berasal dari jumlah ahli waris yang ada atau hidup, tetapi tidak semuanya menjadi

Ahli waris menurut undang-undang yang dinyatakan tidak patut untuk menerima warisan, dalam Pasal 838 KUH Perdata, adalah: (1) Mereka yang telah dihukum karena

Dalam hal ini menurut hukum waris adat Bali memang tidak mungkin seorang ahli waris yang berpindah agama mendapatkan tanah sebagai warisan akan tetapi sangat mungkin dia

secara jelas dalam pasal 173 tentang terhalangnya untuk menjadi ahli waris adalah perbedaan agama bukan berarti ahli waris beda agama mendapat bagian dari harta pewaris

Tatacara yang dilaksanakan dalam pembagian harta waris tersebut ada 2 cara, yaitu takharuj keluarnya seorang ahli waris atau lebih dari pihak yang berhak mendapatkan warisan, dengan