• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERAKSI GENETIC X LINGKUNGAN DAN STABILITAS HASIL GALUR-GALUR GANDUM TROPIS PADA DATARAN MENENGAH DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INTERAKSI GENETIC X LINGKUNGAN DAN STABILITAS HASIL GALUR-GALUR GANDUM TROPIS PADA DATARAN MENENGAH DI INDONESIA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

INTERAKSI GENETIC X LINGKUNGAN DAN

STABILITAS HASIL GALUR-GALUR GANDUM TROPIS

PADA DATARAN MENENGAH DI INDONESIA

Amin Nur

1)

, Karlina Syahruddin

1)

, dan Muhammad Azrai

1) 1)

Peneliti Pemuliaan pada Balai Penelitian Tanaman Serealia

Jalan Dr. Ratulangi No.274, Maros Sulawesi Selatan

Korespondensi :

[email protected]

(2)

2

PENDAHULUAN

TANAMAN SEREALIA

FS

(Food Security)

Gandum Jagung Hotong Sorghum

(3)

PENDAHULUAN

• Impor gandum setiap tahun terus meningkat hingga tahun

2016 proyeksi mencapai 8,10 juta ton, naik sekitar 8 % dari

tahun 2014 sebanyak 7,48 juta ton. Sementara impor

gandum Indonesia tahun sebelumnya 2011/2012 sebanyak

6,46 juta ton.

• Perakitan gandum di dalam negeri sejauh ini telah

menghasilkan 6 varietas yang adaptif ketinggian >1000 m

dpl dan 2 sudah agak toleran terhadap suhu tinggi (800 m

dpl).

• Pengembangan gandum ke depan lebih diarahkan ke dataran

menengah- rendah

• Perakitan varietas gandum tropis untuk dataran menengah

(500 – 800 mdpl).

(4)

2001 Multilokasi dengan menggunakan materi genetik CIMMYT, 2002 India dan Indonesia Uji multilokasi galur.

2003 Pelepasan varietas Dewata dan Selayar.

2004 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias and Selayar seluas 150 Ha di delapan propinsi di Indonesia.

2005 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias and Selayar seluas 250 Ha di delapan propinsi di Indonesia

2006 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias and Selayar seluas 100 Ha di delapan propinsi di Indonesia

2007 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias and Selayar seluas 100 Ha di delapan propinsi di Indonesia

2008 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias and Selayar seluas 100 Ha di delapan propinsi di Indonesia

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GANDUM DI INDONESIA

SETELAH TAHUN 2000

(5)

2009 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias dan Selayar seluas 100 Ha di delapan propinsi di Indonesia dan Awal mula dicanangkan “Konsorsium Gandum Nasional” dalam merakit varietas unggul Gandum Tropis oleh Litbang Pertanian.

2010 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias dan Selayar seluas 114 Ha di delapan propinsi di Indonesia dan dimulainya “Konsorsium Gandum Nasional” dalam Mrakit varietas unggul Gandum Tropis. 2011 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias dan Selayar seluas 123 Ha di delapan propinsi di Indonesia dan dimulainya “Konsorsium Gandum Nasional” dalam merakit varietas unggul Gandum Tropis. 2012 Budidaya gandum varietas Dewata, Nias dan Selayar seluas 102 Ha di tiga propinsi di Indonesia

2013 Dirilis 3 varietas (Guri 1, Guri 2 dan Ganesha)

2014 Dirilis 4 Varietas (Guri 3 Agritan, Guri 4 Agritan, Guri 5 Agritan dan Guri 6 Unand dari “Konsorsium Gandum”

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GANDUM DI INDONESIA

SETELAH TAHUN 2000

(6)

6

KENDALA PENGEMBANGAN GANDUM DI

INDONESIA

Masih terbatasnya varietas unggul yang dapat dikembangkan

untuk dataran rendah (<500 m d.p.l) dan sedang (500-800 m)

Kurangnya informasi tanaman gandum ini ditingkat penyuluh

apalagi ditingkat masyarakat tentang teknologi budidaya dan

pasca panen belum sepenuhnya dikuasai petani.

Belum adanya pasar yang menampung hasil panen

Dukungan pemerintah terhadap sosialisasi pengembangan

(7)

7

KENDALA PENGEMBANGAN GANDUM DI

DATARAN MENENGAH DI INDONESIA

Cekaman suhu tinggi. Suhu udara optimal untuk pertumbuhan

dan perkembangan gandum adalah 8–10

o

C (subtropis), di

Indonesia suhu yang demikian hanya dapat dijumpai pada

ketinggian > 1.000 m dpl (15–24

o

C).

Sementara suhu dataran menengah–rendah dapat mencapai

25 – 35

o

C (Handoko 2007)

Untuk merakit gandum yang dapat berproduksi konsisten di

lingkungan berelevasi medium, uji multilokasi menjadi syarat

penting dan merupakan salah satu tahapan dalam

menghasilkan varietas unggul baru.

mengetahui stabilitas komponen hasil dan hasil dari enam

galur uji pada delapan lokasi uji dengan melihat interaksi

galur-lingkungan menggunakan model yang diperkenalkan oleh

Finlay and Wilkinson

(8)

BAHAN DAN METODE

Waktu

Pelaksanaan : Garut, Cisarua Jawa Barat (April – September 2014) ketinggian 600 mdpl, Gowa, Jenneponto Sulawesi Selatan (April – September 2014) dan (April – September 2015) ketinggian 800 mdpl, Tumpang Jawa Timur (April – September 2015) ketinggian 600 m dpl dan Salatiga Jawa Tengah (April – September 2015) ketinggian 600 m dpl

Materi

Genetik : Enam galur dan tiga varietas nasional sebagai cek (Guri 3 Agritan, Guri 5 Agritan dan Dewata). Rancangan : Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan,

dengan ukuran petak 1,5 m x 5 m

Pelaksanaan : Tiap galur ditanam 6 baris sepanjang 5 m dengan jarak tanam antar baris 25 cm, benih dilarik dalam baris

(9)

BAHAN DAN METODE

Pemupukan : Tanaman dipupuk dengan dosis 150 kg Urea.ha-1, 200

kg SP36.ha-1 dan 100 kg KCl.ha-1 pada umur 10 hst

dan pemupukan kedua dengan dosis Urea 150 kg.ha-1

pada umur 30 hst. Sebelum ditanam benih diberi insektisida carbaryl 85% dan pada saat tanam lubang larikan diberi carbofuran 17 kg.ha-1

Pengamatan : Umur berbunga (hari), umur panen (hari), tinggi tanaman (cm), panjang malai (cm), jumlah sipkelet, jumlah floret hampa, persentase floret hampa, bobot biji(g)/malai,Jumlah malai/meter, jumlah biji/malai, bobot 1000 biji (g), dan hasil (t/ha)

Analisis : Analisis ragam/lokasi, ragam gabungan mengikuti metode yang dikemukakan oleh Singh dan Chaudhary (1985) dan Falconer (1989). Bila uji F menunjukkan interaksi galur dan lingkungan (GxE) nyata, diteruskan dengan stabilitas hasil mengikuti metode Finlay dan Wilkinson (1963)

(10)

10

HASIL DAN PEMBAHASAN

Table 3. Nilai kuadrat tengah hasil analisis ragam gabungan lokasi dan galur pada karakter agronomi dan hasil.

Karakter Lingkungan (L) Galur (G) Galur x Lingkungan KK Umur Berbunga (HST) 1,177.13** 787.62** 167.08** 6,64 Umur Panen (HST) 1,218.16** 363.02** 64.62** 4,63 Tinggi Tanaman (cm) 2,316.67** 481.69** 123.08** 5,66 Jumlah malai/M2 61,000.44** 43,269.50** 4,691.94** 18,4 Jumlah Spikelet 57.62** 27.82** 8.22** 7,9 Panjang Malai (cm) 7.28** 5.57** 1.43** 6,8 Jumlah biji/malai 3,237.23** 174.24** 279.27** 13,3 Bobot biji/malai (g) 6,24** 0,41* 0,46** 16,9 Bobot 1 liter Biji (g) 330631.80** 20,645.91** 12954.28** 9.4 Bobot 1000 Biji (g) 826,62** 51,62** 32,39** 9,5 Hasil (t/haKeterangan : ** = berbeda sangat nyata pada taraf uji F 1%; * = berbeda nyata -1) 2,90** 1,46** 0,79** 15,5

(11)

11

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Table 4. Rata-rata penampilan karakter galur-galur gandum tropis pada daratan menengah di Indonesia, MT 2014 dan MT 2015.

Galur TT UB UP JM/M2 PM JSP

--cm-- ---Hst--- --cm--

G1 80.85b 55.42abc 99.94 abc 214.63c 16.96 9.16

G2 77.33abc 54.27abc 99.05 abc 216.19c 18.59ab 8.77

G3 73.37abc 53.58abc 97.25 abc 209.12c 16.05 8.19

G4 75.70abc 57.17abc 100.26 abc 284.59abc 15.92 8.28

G5 84.12 62.11abc 103.73 bc 320.50abc 17.07a 8.55

G6 74.61abc 55.46abc 98.94 abc 248.3 c 15.64 7.80

GURI-3 (a) 82.42 59.78 105.74 251.37 16.65 8.99 GURI-5 (b) 85.55 69.38 107.89 226.92 17.99 8.79 DEWATA (c) 82.95 67.08 106,65 181.45 18.30 9.25 Mean 79.60 59.40 102.2 239.23 17.02 8.64 SE 0.92 0,80 0.96 8.96 0.13 0.32 5%LSD 2.57 2.25 2.70 25.08 0.38 0.91 CV (%) 5.6 6.6 4,6 18.36 7.86 9.43

Keterangan : TT : Tinggi Tanaman (cm), UB : Umur Berbunga (HST), UP : Umur panen (HST), JMM : Jumlah malai/Mater2, PM : Panjang malai (cm), JSP :

(12)

12

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Table 5. Rata-rata penampilan karakter galur-galur gandum tropis pada daratan menengah di Indonesia, MT 2014 dan MT 2015.

Galur JBM BBM ---gr---- B1000B B1LTRb G1 43.00 1.57 35.85 abc 717.093 abc G2 43.39 1.49 33.88 677.537 G3 41.02 1.42 33.96 679.241 G4 41.59 1.26 30.27 605.389 G5 42.29 1.41 33.56 671.167 G6 37.21 1.26 33.85 677.000 GURI-3 (a) 43.08 1.45 33.28 665.611 GURI-5 (b) 47.45 1.66 32.77 655.370 DEWATA (c) 43.53 1.48 33.90 678.074 Mean 42.51 1.44 33.48 669.610 SE 1.36 0.05 0.65 12.91 5% LSD 1.15 1.38 1.80 36.13 CV(%) 13.31 16.84 9.50 9,40

Keterangan : JBM: Jumlah biji/Malai, BBM : Bobot biji/Malai (g), B1000B : Bobot 1000 Biji mur panen, B1LTRB : Bobot 1 liter biji.

(13)

13

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Tabel 6. Rata-rata hasil biji pada kadar air 12% (t/ha) calon varietas gandum dan varietas pembanding, MT 2014 - 2015.

(14)

14

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Gambar 1. Diagram batang rata-rata hasil calon varietas gandum yang diusulkan dan varietas pembandingnya pada tiap lingkungan uji. G1-G9 = Galur; A= Garut- Jabar 2014; B = Rumbia-Sulsel 2014; C = Malino-Sulsel 2014, D = Cisarua- Jabar 2014, E = Malang,-Jatim 2015; F = Salatiga-Jateng 2015; G =

(15)

15

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Gambar 1. Diagram batang rata-rata hasil calon varietas gandum yang diusulkan dan varietas pembandingnya pada tiap lingkungan uji. G1-G9 = Galur; A= Garut- Jabar 2014; B = Rumbia-Sulsel 2014; C = Malino-Sulsel 2014, D = Cisarua- Jabar 2014, E = Malang,-Jatim 2015; F = Salatiga-Jateng 2015; G =

(16)

16

Lanjutan : Hasil Dan Pembahasan..

Tabel 7. Rerata dan stabilitas hasil panen gandum (k.a 12%) berdasarkan analisis gabungan lingkungan.

(17)

17

KESIMPULAN

 Terdapat interaksi yang sangat nyata baik pada lingkungan, galur dan interaksi galur x lingkungan terhadap semua karakter.

 Galur G1 memiliki potensi hasil sebesar 3,3 t/ha, dengan rata-rata hasil sebesar 2,4 t/ha nyata lebih unggul dibandingkan dengan ketiga varietas pembanding GURI 3, GURI 5 dan Dewata. Galur ini memiliki Umur berbunga, umur panen lebih genjah dibanding ketiga varietas pembanding, bobot 1000 biji lebih tinggi dari ketiga varietas pembanding dan adaptif pada lingkungan suboptimal berdasarkan hasil analisis stabilitas hasil.

(18)

18  Galur G4 memiliki potensi hasil sebesar 3,5 t/ha dan rata-rata

hasil 2,3 t/ha, nyata lebih unggul dibandingkan dengan ketiga varietas pembanding GURI 3, GURI 5 dan Dewata. Galur ini memiliki karakter umur berbunga dan umur panen lebih genjah, tinggi tanaman lebih pendek, jumlah malai/m2 lebih banyak dari

ketiga varietas pembanding. Galur ini memiliki hasil yang adaptif pada lingkungan optimal berdasarkan hasil analisis stabilitas hasil.

 Galur G5 memiliki potensi hasil 2,7 t/ha dan rata-rata hasil 2,2 t/ha, rata-rata hasil nyata lebih unggul dari varietas pembanding DEWATA dan relative sama dengan GURI 5. Galur G5 dibandingkan dengan kedua varietas pembanding adalah umur panen, jumlah malai/m2, lebih genjah dan lebih tinggi dari

ketiga varietas pembanding, kadar abu lebih rendah dari ketiga varietas pembanding. Galur ini memiliki hasil yang adaptif pada lingkungan suboptimal berdasarkan hasil analisis stabilitas hasil.

(19)

Gambar

Table 4. Rata-rata penampilan karakter galur-galur gandum tropis pada              daratan menengah di Indonesia, MT 2014 dan MT 2015
Table 5. Rata-rata penampilan karakter galur-galur gandum tropis pada daratan              menengah di Indonesia, MT 2014 dan MT 2015
Tabel 6. Rata-rata hasil biji pada kadar air 12% (t/ha) calon varietas gandum              dan varietas pembanding, MT 2014 - 2015
Gambar 1.  Diagram batang rata-rata hasil calon varietas gandum yang diusulkan dan                      varietas pembandingnya pada tiap lingkungan uji
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pengadilan Agama Bogor dalam perkara Nomor: 133/Pdt.P/2014/PA.Bgr., bahwa menetapkan Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor untuk menjadi wali

Untuk mengembangkan peran perbankan syariah dalam pembangunan nasional termasuk fasilitas perbankan syariah untuk seluruh segmen masyarakat, optimalisasi dana-dana

Hasil penelitian menunjukan bahwa daerah hulu potongan sungai Ciliwung dengan pola penggunaan lahannya berupa pertanian, memiliki kualitas air yang baik walaupun terkena efek

Kebebasan pergaulan antar beda jenis kelamin pada remaja di Kelurahan Soasio dengan mudah biasa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak dapat di

Kucing memiliki kuku yang tajam serta taring yang kuat dan runcing. Alat tersebut berguna untuk mencari makan. Pada dasarnya kucing mencari makan dengan cara berburu. Ia

Berdasarkan penggunaan empiris dan penelitian yang telah dilakukan, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui apakah fraksi etil asetat

Definisi obat tradisional menurut undang-undang No 23 Tahun 1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan

Faktor biologi perairan merupakan faktor penting bagi kelangsungan hidup masyarakat hewan bentos sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan,