BAB I PENDAHULUAN. menyatakan bahwa Indonesia adalah Negara hukum. Setiap hal yang. Ada banyak peristiwa atau kejadian yang terjadi di masyarakat yang

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan bahwa “Indonesia adalah Negara hukum”. Setiap hal yang berkenaan dengan negara dalam hal ini pemerintahan harus berdasarkan pada hukum yang berlaku. Implikasinya di negara kita Indonesia adalah pemerintah tidak bisa sewenang-wenang bertindak apalagi bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

Ada banyak peristiwa atau kejadian yang terjadi di masyarakat yang undang-undang atau hukum seolah tidak berdaya untuk mengatur peristiwa tersebut, hal ini terjadi karena masyarakat memang selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Keadaan semacam ini akan memicu munculnya kasus-kasus yang baru ditemukan. Jika hukum tidak ikut dinamis mengikuti reformasi dan transformasi masyarakat, maka hukum tersebut akan berada di belakang kasus-kasus masyarakat yang semakin banyak dan rumit. Hukum selalu berjalan dibelakang ada adagium het recht hink achter de feiten aan yang berarti hukum berjalan dibelakang peristiwa yang terjadi di masyarakat.

(2)

Tidak semua kondisi diatur secara jelas dan terperinci dalam sebuah peraturan, dan bahkan beberapa tidak diatur. Sehingga menimbulkan ketidakpahaman mengenai aturan yang konkrit bagi masyarakat, padahal seharusnya masyarakat memperoleh pelayanan dan perlindungan atas haknya. Perlindungan negara kepada masyarakatnya merupakan penjabaran dari Teori

Kontrak Sosial (du contract social) yang dikemukakan oleh J.J. Roessau1.

Atas dasar tercantumnya tujuan negara Indonesia yaitu ...”untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk

memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskana kehidupan bangsa”2...,

maka Indonesia juga dapat dikatakan sebagai negara berprinsip welfare state3.

Sesuai dengan pembukaan konstitusi negara sebagai dasar yuridis dan falsafah negara berpinsip kesejahteraan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat dan berperan aktif dalam pemenuhan kesejahteraan tersebut.

Negara melalui pemerintah yang berkuasa hanyalah merupakan wakil-wakil dari rakyat yang berdaulat sehingga akhir segala tugas pemerintah diupayakan semaksimal mungkin bagi kepentingan rakyat. Tugas pokok pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat tertuang dalam alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

1 I Dewa Gede Atmadja, 2012, Ilmu Negara, Setara Press, Malang, hlm 29. 2 Baca Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3 Sudargo Gautama, 1973, Pengertian tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, hlm 20.

(3)

salah satunya melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia4.

Salah satu wujud kebijakan pemerintah dalam melindungi dan mensejahterakan masyarakat tersebut adalah kebijakan Pemerintah dalam penerbitan program Kartu Identitas Anak, selanjutnya disebut sebagai KIA. Program Kartu Identitas Anak (KIA) merupakan program yang diterbitkan

sebagai bentuk kewajiban pemerintah untuk memberikan identitas

kependudukan kepada seluruh penduduknya yang berlaku secara nasional dalam rangka mendorong peningkatan pendataan, perlindungan, dan pelayanan publik untuk mewujudkan hak terbaik khususnya bagi anak, maka perlunya dilakukan pemberian identitas kependudukan khususnya kepada anak. Pemerintah menilai dengan adanya kartu identitas bagi anak dapat memudahkan dalam pendataan penduduk serta memberikan hak kepada anak karena beberapa fasilitas yang bisa diperoleh dari kepemilikan KIA.

Payung hukum mengenai pedoman dan pelaksanaan penerbitan KIA diatur di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak (KIA). Sebelum Permendagri tersebut diberlakukan, belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kewajiban bahwa seorang anak berusia 0-16 tahun harus memiliki sebuah identitas tersendiri, hanya akta kelahiran sebagai identitas.

Hak identitas bagi seorang anak dinyatakan tegas dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut

4 S.F. Marbun dan Moh. Mahfud MD, 2006, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, Liberty,

(4)

menyebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan”. Kemudian hal ini juga ditegaskan pada pasal 27 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan, ayat (1) “Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya”, dan ayat (2) berbunyi “Identitas sebagaimana dimaksud ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran”.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28 D ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Selain itu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga mengatur dan memberikan jaminan atas status kewarganegaraan sebagaimana diatur dalam Pasal 28 D ayat (4) yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan”.

Pasal 28 D seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menerangkan bahwa seseorang dalam hal ini anak yang baru lahir, diwajibkan bagi orangtua untuk mengurus akta kelahiran. Identitas tersebut menjadi sebuah identitas pertama atas hak yang dapat diperoleh pada setiap individu, baik itu hak atas pengakuan kewarganegaraan, jaminan atas suatu hak maupun kepastian hukum. Perlindungan maupun kepastian hukum di sini dapat dikaitkan dengan contoh maraknya kekerasan terhadap anak, kenakalan anak, bahkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak/remaja yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Permasalahan tersebut dapat menghambat kreatifitas anak bangsa serta

(5)

pembangunan atau kemajuan negara, sehingga dengan adanya status yang dimiliki seseorang, diharapkan pemerintah dapat memberikan perlindungan maupun pemenuhan atas hak individu tersebut. Kemudian ketika seseorang telah berusia 17 tahun dan atau telah menikah, maka diwajibkan untuk

memiliki identitas kependudukan nasional yaitu KTP5, yang juga menjadi

bagian tidak terpisahkan dari hak sipil dan politik warga negara.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016, mewajibkan semua anak berusia di bawah 17 tahun memiliki Kartu Identitas Anak (KIA). Dengan diterbitkannya akta kelahiran, KTP dan terkhusus dalam hal ini adalah KIA, maka hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk pengawasan dan perlindungan terhadap anak sesuai amanat UUD.

Administrasi kependudukan di Indonesia diatur di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan. Administrasi Kependudukan adalah :

Rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain

(Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013)6,

5 Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan. 6 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan.

(6)

jika berbicara tentang identitas, tanpa kartu identitas anak atau KIA pun si anak sudah tercatat di Kantor Catatan Sipil. Hal tersebut dapat dilihat pada akta kelahiran dan kartu keluarga (KK) yang memuat daftar seluruh anggota keluarga sejak kelahiran dalam tenggang waktu 60 (enam puluh) hari. Pemerintah menerbitkan KIA bertujuan untuk meningkatkan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik serta sebagai upaya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak konstitusional warga negara.

Kartu identitas selama ini hanya diberikan untuk penduduk berusia 17 tahun, sesuai dengan pasal 63 ayat 1 yang mengatakan bahwa : “Penduduk Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin atau pernah kawin wajib memiliki KTP”. Permendagri yang baru mengatur bahwa balita pun bisa memiliki kartu identitas. Pasal 1 Ketentuan Umum Permendagri menjelaskan bahwa anak yang dimaksud dalam subjek KIA adalah : “Anak atau seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Dapat disimpulkan bahwa sebelum diterbitkan Permendagri, identitas hanya ditujukan bagi penduduk dengan usia tertentu.

Untuk mewujudkan aspek welfare state, pemerintah membuat suatu kebijakan yang diambil untuk pemenuhan hak-hak yang dapat mensejahterakan masyarakat secara menyeluruh dan tidak terbatas pada usia tertentu. Kebijakan yang diambil oleh aparatur pemerintahan juga tidak lepas dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai pemerintah dalam mengimplementasikan tanggung jawab terhadap pemenuhan hak masyarakat sebagai usaha

(7)

pemenuhan pirinsip welfare state atau kebijakan dalam pembuatan peraturan yang baru atas beberapa kondisi yang tidak diatur.

Pengertian Diskresi dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan adalah :

Keputusan dan/atau tindakan yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintah untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan tidak mengatur lengkap, tidak lengkap atau tidak jelas dan/atau adanya stagnasi pemerintahan,

dapat disimpulkan bahwa kebijakan merupakan tindakan dan/atau keputusan penyelenggara pemerintahan yang lahir dari adanya prinsip Freies ermerssen atau diskresi yang disebabkan adanya pilihan, tidak diaturnya, tidak lengkap, atau tidak jelas dari peraturan perundang-undangan untuk mengatasi masalah konkret.

Tujuan yang ingin dicapai Pemerintah melalui Permendagri adalah meningkatkan pendataan, perlindungan, serta tertib administrasi. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 sebelum Permendagri tentang KIA juga telah

mencatat dan terdaftar akan data anak melalui akta kelahiran7. Di dalam

Undang-Undang Administrasi Kependudukan secara ekplisit diatur dalam Pasal 68, akta pencatatan sipil anak berupa akta kelahiran, akta pengakuan anak, dan akta pengesahan anak. Pasal 28 D Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa produk hukum

7 Baca Pasal 27 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi

(8)

Permendagri tentang KIA yang diterbitkan oleh Pemerintah merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Tahun 1945 untuk memberikan perlindungan hak dan pendaataan melalui kebijakan yang diambil oleh Pemerintah.

Praktek pelaksanaan penerbitan KIA sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Pasalnya, dalam Undang-Undang Administasi Kependudukan hanya mewajibkan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk terhadap warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun, atau sudah menikah, Pasal 63 ayat (1) yang mengatakan bahwa : “Penduduk Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin atau pernah kawin wajib memiliki KTP”. Perlindungan anak-anak pun sudah ada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tidak hanya Undang-Undang perlindungan anak, KUHP juga terdapat pasal-pasal yang mengakomodir tentang perlindungan anak. Mulai dari pasal 290 KUHP sampai dengan pasal

295 KUHP8.

Di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah memberlakukan Kartu Insentif Anak

8 Pernyataan / Opini Ketua Komisi II DPR RI, Rambe Kamarul Zaman dalam Artikel Hukum

Online, yang diakses melalui Internet

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt56bc69bbcb6b7/permendagri-kartu-identitas-anak-bertentangan-dengan-uu-administrasi-kependudukan tanggal 25 November 2016, pukul 10.30 WIB.

(9)

sebelum Permendagri mengenai Kartu Identitas Anak ini diterbitkan. Kartu Insentif Anak diatur dengan Peraturan Bupati Bantul Nomor 22 Tahun 2015. Sehingga pemberlakuan kartu identitas terhadap anak-anak dinilai menjadi persoalan. Pasalnya Kartu Insentif Anak yang sudah lebih dahulu diberlakukan di Kabupaten Bantul, memiliki peruntukan yang sama dengan Kartu Identitas Anak (KIA). Tujuan Maksud pemberian kartu insentif anak di Kabupaten Bantul adalah mendorong peningkatan kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial dan mendorong terpenuhinya hak sipil anak. Tujuan pemberian Kartu Insentif Anak itu sendiri adalah sebagai kartu identitas bagi anak yang berdomisili di Daerah, sebagai kartu yang memberikan fasilitas kepada anak berupa keringanan pembayaran terhadap fasilitas yang diberikan

oleh Pihak pemangku kepentingan9. Fasilitas yang diberikan ruang lingkupnya

berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, hiburan, kuliner, olahraga, dan

tabungan10. Melihat tujuan maksud pemberian kartu identitas anak serta

kekhususannya bagi anak usia dan 0-16 tahun, maka dalam hal ini semua anak memperoleh hak yang sama, tidak hanya bagi usia 5-16 tahun saja.

Kartu Identitas Anak (KIA) dan Kartu Insentif Anak juga terdapat beberapa perbedaan, salah satunya adalah sasaran pemberian Kartu Insentif Anak ini adalah Anak yang berdomisili di Kabupaten Bantul dan berusia 5 (lima) sampai dengan 16 (enam belas) tahun, belum menikah dan orang tua anak mempunyai KTP Kabupaten Bantul. Sedangkan untuk Kartu Identitas

9 Pasal 3 Peraturan Bupati Bantul Nomor 22 Tahun 2015 tentang Kartu Insentif Anak.

(10)

Anak, dinas menerbitkan KIA baru bagi anak kurang dari 5 tahun bersamaan dengan penerbitan kutipan akta kelahiran, dan dinas menerbitkan KIA untuk anak usia 5 tahun sampai dengan usia 17 tahun kurang satu hari.

Banyak terjadi pro dan kontra dalam penerbitan KIA, karena selain dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Administrasi Kependudukan, kartu tersebut dirasa kurang memberikan dampak untuk anak, lantaran anak yang belum cakap jarang melakukan aktivitas berat di luar rumah. Padahal KIA dibuat untuk anak usia 0-16 tahun, sedangakan anak usia 0-5 tahun kebanyakan masih dibawah pengawasan orangtua dan belum memasuki sekolah dasar sehingga belum banyak membutuhkan fasilitas yang disediakan oleh adanya KIA tersebut. Begitu juga kegiatan kependudukan sebelumnya sudah dilaksanakan melalui akta kelahiran, maupun Kartu Insentif Anak Bantul meski memang belum mencakup seluruh usia anak. Apakah tidak sebaiknya Pemerintah memaksimalkan penggunaan akta kelahiran sebagai identitas diri terhadap anak terlebih dahulu, sehingga kebijakan yang diambil untuk pemenuhan hak-hak yang dapat mensejahterakan masyarakat (welfare state) benar-benar dapat terwujud dan tidak merugikan negara. Pemenuhan hak tersebut dapat berupa hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. Dari berbagai penjelasan maupun permasalahan tersebut, akta kelahiran dan KK sebagai identitas dan akta pencatatan sipil juga dirasa sudah cukup untuk mengakomodir seluruh yang terkait dengan pendataan atau administrasi kependudukan semuanya sudah tercantum tentang identitas dan biodata diri.

(11)

Dari berbagai uraian dan permasalahan yang telah dijelaskan, untuk itu Penulis tertarik melakukan penulisan hukum yang berjudul “Implementasi Pemberian Kartu Insentif Anak Setelah Diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak Di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Implementasi Pemberian Kartu Insentif Anak berdasarkan Peraturan Bupati Bantul Nomor 22 Tahun 2015 Tentang Kartu Insentif Anak di Kabupaten Bantul?

2. Bagaimana Penyesuaian Implementasi Pemberian Kartu Insentif Anak Oleh Pemerintah Kabupaten Bantul Setelah Diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Objektif penelitian :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis implementasi pemberian Kartu Insentif Anak berdasarkan Peraturan Bupati Bantul Nomor 22 Tahun 2015 tentang Kartu Insentif Anak di Kabupaten Bantul.

2. Untuk mengetahui penyesuaian implementasi pemberian Kartu Insentif Anak oleh Pemerintah Kabupaten Bantul setelah diterbitkannya Peraturan

(12)

Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak

Tujuan Subjektif penelitian :

1. Mendapatkan data yang akurat, terkait dengan obyek yang diteliti dalam rangka penulisan hukum, sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Negara

Penulisan Hukum ini diharapkan bermanfaat bagi kemajuan negara sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan peraturan perundang-undangan ataupun peraturan lain agar sebagai pelengkap dari hal-hal yang belum diatur serta tidak bertentangan dengan peraturan yang lain.

2. Bagi Ilmu Pengetahuan

Dapat menambah ilmu pengetahuan dan referensi dalam bidang hukum pada umumnya dan Hukum Administrasi Negara, khususnya terkait kebijakan - kebijakan publik yang diambil oleh Pemerintah.

E. Keaslian Penelitian

Penulis telah melakukan penelusuran kepustakaan di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan tidak ditermukan karya penulisan hukum yang berjudul “Implementasi Pemberian Kartu Insentif

(13)

Anak Setelah Diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak Di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta”. Penelusuran kepustakaan dijumpai beberapa penelitian yang berhubungan dengan Kependudukan, diantaranya :

1. “Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Belu Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, dan Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dalam Pembuatan

KK”11, yang ditulis oleh Emiliana Laku Mali, dalam bentuk Tesis pada

tahun 2011 di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Adapun rumusan masalah yang dibahas adalah :

a. Bagaimanakaah Implementasi Pendaftaran Penduduk dalam Peraturan Daerah Kabupaten Belu Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, dan Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan ?

b. Apakah Kendala Hukum Yang Dihadapi Dalam Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Belu Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, dan Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan ?

c. Apa Upaya Hukum Yang Dapat Ditempuh Untuk Mengatasi Kendala-Kendala Tersebut ?

11 Emiliana Laku Mali, 2011, Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Belu Nomor 12 Tahun

2006 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, dan Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dalam Pembuatan KK, Tesis Fakultas Hukum Universitas

(14)

Kesimpulan dari Tesis ini adalah bahwasannya Implementasi Perda No 12 Tahun 2006 Tentang Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil dan Informasi Administrasi Kependudukan belum sepenuhnya berjalan dengan baik karena masih ada masyarakat yang belum memiliki KTP maupun KK. Kendala tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran hukum, belum diterapkan Sanksi Hukum, Sumber Daya Manusia. Upaya yang ditempuh dalam mengatasi kendala tersebut adalah meningkatkan sosialisasi tentang pendaftaran penduduk, menerapkan sanksi secara konsisten, melibatkan pegawai dan karyawan untuk mendukung pelaksanaan tugas pelayanan.

2. “Peran Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta Terhadap Pencatatam Kelahiran yang Melampaui Batas Waktu Sebagai Upaya Perlindungan Hak Anak, yang ditulis oleh Rodya Annisa Santi”, dalam bentuk laporan Penulisan Hukum pada tahun 2013 di Fakultas

Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta12. Adapun rumusan

masalah yang dibahas adalah :

a. Bagaimana Peranan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Yogyakarta Terhadap Pencatatan Kelahiran Yang Melampaui Batas Waktu ?

12 Rodya Annisa Santi, 2013, Peran Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta

Terhadap Pencatatam Kelahiran yang Melampaui Batas Waktu Sebagai Upaya Perlindungan Hak Anak, laporan Penulisan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

(15)

b. Apa Saja Yang Menjadi Kendala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Yogyakarta Terhadap Pencatatan Kelahiran Yang Melampaui Batas Waktu ?

c. Bagaimana Upaya Yang Dilakukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Yogyakarta Terhadap Pencatatan Kelahiran Yang Melampaui Batas Waktu ?

Kesimpulan dari Laporan Penulisan Hukum ini adalah bahwasannya Dispendukcapil telah melakukan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan dibidang kependudukan khususnya pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu dan melakukan pengumpulan data dan informasi serta melaksanakan pemecahan terkait dengan pelayanan pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu.

Persamaan antara penulisan hukum ini dengan laporan penelitian Penulisan Hukum, mapun Tesis seperti yang telah disebutkan di atas adalah mengangkat mengenai tema Kependudukan, namun obyek yang diteliti dalam penulisan hukum ini berbeda dengan penelitian yang pernah ada sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut penulisan hukum ini dapat dianggap asli dan layak untuk diteliti. Apabila tanpa sepengetahuan penulis ternyata pernah ada penelitian yang sama dengan penulisan hukum ini, maka diharapkan penulisan hukum ini dapat melengkapi penelitian yang pernah ada.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :