TATAGARA
PENGADAAN
PEMBIAYAAN
YANG
BERSUMBER
DARI KREDITOR
SWASTA
ASING
(Peraturan
Menteri
Keuangan
Republik
Indonesia
Nomor
: 45/PMK.0812014
tanggal
28 Februari
2AM'1
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI
KEUANGAN
Menimbang :
a. bahwa tata cara pengadaan pembiayaan yang b e r s u m b e r d a r i k r e d i t o r s w a s t a a s i n g sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1 4/PMK.08l2012dinilai sudah tidak lagisesuaidengan kebutuhan saat inidan untuk itu dipandang perlu untuk dilakukan pengaturan kembati; l
b. bahwaberdasarkan pertimbangansebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pengadaan Pembiayaan Yang Bersumber Dari Kreditor Swasta Asing;
Mengingat :
1 . Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OA4 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone-sia Nomor 4355);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri Dan Penerimaan Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indo-nesia Nomor 5202);
MEMUTUST(AN: Menetapkan:
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENGADAAN PEMBIAYAAN YANG BERSU MBE R DARI KREDITOR SWASTAASI NG.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan: 1. Pinjaman Luar Negeriadalah setiap pembiayaan
melalui utang yang diperoleh pemerintah dari pemberi Pinjaman Luar Negeriyang diikat oleh Warta Perundang-Undangan/l 5 J uli 201 4
REPUBLIK INDONESIA,
suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
2. Menteri Keuangan yang selanjutnya disebut Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang keuangan negara. 3. KreditorSwastaAsing yang selanjutnya disingkat KSA adalah lembaga keuangan asing, lembaga keuangan nasional, dan lembaga non keuangan asing yang berdomisilidan melakukan kegiatan usaha diluarwilayah Negara Republik Indone-s i a y a n g m e m b e r i k a n p i n j a m a n k e p a d a pemerintah berdasarkan perjanjian pinjaman tanpa jaminan dari lembaga penjamin kredit ekspor.
4. Kementerian Negara/Lembagayangselanjutnya disingkat K/L adalah kementerian negara/ lembaga pemerintah non kementerian negara/ lembaga negara.
5. Pemerintah Daerah yang selanjutnya disebut Pemda adalah gubernur, bupati, atau walikota, d a n p e r a n g k a t d a e r a h s e b a g a i u n s u r penyelenggara pemerintahan daerah.
6. Badan Usaha Milik Negara yang selanjutnya disingkat BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
7 . L e m b a g a P e n j a m i n K r e d i t E k s p o r y a n g selanjutnya disingkat LPKE adalah lembaga yang ditunjuk negara asing untuk memberikan jaminan, asuransi, pinjaman langsung, subsidi b u n g a , d a n b a n t u a n k e u a n g a n u n t u k meningkatkan ekspor negara yang bersangkutan a t a u b a g i a n t e r b e s a r d a r i d a n a t e r s e b u t digunakan untuk membeli barang/jasa dari negara bersangkutan yang berdomisili dan melakukan kegiatan usaha di luar wilayah Negara Republik Indonesia.
8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan. 9. SeleksiTerbatasadalah metodeseleksidengan
jumlah calon yang mampu melaksanakan dan memenuhi syarat diyakini terbatas.
10. Surat Konfirmasi Pengadaan Barang dan Jasa yang selanjutnya disingkat SKPBJ adalah surat G1
yang memuat konfirmasi pelaksanaan peng-adaan barang/jasa yang siap ditindaklanjuti pembiayaannya melalui KSA dari lVL, pemda, dan BUMN.
11 . Benchmark adalah parameter untuk menentukan kelayakan syaratdan ketentuan (terms and con-ditions) suatu tawaran pembiayaan dari calon KSA yang diukur dengan pendekatan pem-biayaan yang efektif (effective cost).
12. Request for Interest yang selanjutnya disingkat Rfl adalah pemberitahuan awal daripemerintah c . q . K e m e n t e r i a n K e u a n g a n m e n g e n a i kebutuhan pembiayaan yang disertai dengan permintaan kepada calon KSA tertentu agar m e n y a m p a i k a n k e t e r t a r i k a n m e m b e r i k a n pinjaman untuk mendanai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu.
13. Shortlist Awal adalah daftar calon KSA yang ditetapkan sebagai penerima Rfl.
14. Shortlist Tambahan adalah daftar tambahan c a l o n K S A y a n g d i s u s u n s e t e l a h p a d a penyampaian Rfl pertama tidak menghasilkan 3 (tiga) Letter of Interest.
15. Letter of Interest yang selanjutnya disingkat Lol adalah surat jawaban calon KSA atas Rfl yang memuat pernyataan ketertarikan memberikan pinjaman untuk mendanai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu.
1 6 . R e q u e s t f o r P r o p o s a l y a n g sefanjutnya d i s i n g k a t R f P a d a l a h p e r m i n t a a n u n t u k menyampaikan proposal pembiayaan guna m e m b e r i k a n p i n j a m a n d a l a m r a n g k a mendanai satu kegiatan atau paket kegiatan t e r t e n t u k e p a d a c a l o n K S A y a n g t e l a h menyatakan ketertarikan nya.
17 . Letter of Commitment yang selanjutnya disingkat LoC adalah dokumen berisi komitmen pengadaan p e m b i a y a a n d a r i K S A t e r p i l i h k e p a d a Kementerian Keuangan.
18. Loan/Financing Proposal yang selanjutnya disingkat L/FP adalah surat jawaban caton KSA atas RfP yang memuat terms and condi-t i o n s y a n g d i condi-t a w a r k a n c a l o n KSA uncondi-tuk pembiayaan satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu.
BAB II RUANG LINGKUP
Pasal 2
Ruang fingkup pengaturan peraturan Menteri ini meliputitata cara pengadaan pembiayaan yang ber-sumber dari KSA, mulai dari persiapan seleksi s a m p a i d e n g a n p e n a n d a t a n g a n a n p e r j a n j i a n pinjaman.
Warta Perundang-Undangan/l 5 J uti 201 4
BAB III PANITIASELEKSI
Pasal 3
( 1 ) S e l e k s i c a l o n K S A dilakukan oleh panitia seleksi.
(2) Panitia seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. ditetapkan oleh DirekturJenderalatas nama Menteri Keuangan atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan ;
b. dipilih dari unsur pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1 ) m e m i l i k i in t e g r i t a s , d i s i p l i n , d a n
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
2 ) m e m a h a m i p e k e r j a a n y a n g akan dilaksanakan;
3) memahami isi dokumen persyaratan seleksi;
4) tidak memiliki konflik kepentingan; dan 5) menandatanganipaktaintegritasyang
memuat pernyataan yang diperlukan d a l a m p r o s e s s e l e k s i d a n t i d a k m e l a k u k a n k o r u p s i , k o l u s i , d a n nepotisme;
c. berjumlah gasaldan beranggotakan paling sedikit 3 (tiga) orang.
( 3 ) M a s a k e r j a p a n i t i a seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunj uk oleh Menteri Keuangan.
Pasal 4
Dalam rangka membantu panitia seleksi untuk m e l a k u k a n s e l e k s i c a l o n K S A s e b a g a i m a n a dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), DirekturJenderal: a. membentuk sekretariat panitia seleksi; dan b. dapqt menunjuk narasumber, tenaga ahli, dan/
atau jasa konsultan. BAB IV ASAS UMUM Bagian Kesatu Metode Seleksi
Pasal 5
(1) Seleksi calon KSA dilakukan melalui Seteksi Terbatas.
(2) Seleksi Terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penyampaian Rfl kepada calon KSAyang memenuhi kriteria.
Bagian Kedua Kriteria Calon KSA
Pasal 6
Calon KSA sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (2) harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a. pernah atau masih memiliki portofolio pinjaman
komersial kepada pemerintah ;
b. telah menyampaikan Lol setefah mendapat pemberitahuan dari:
1) lVL, Pemda, BUMN1 ,
2) calon penyedia barang/jasa; dan/atau c. merupakan calon KSA potensial berdasarkan
hasil identifi kasi Direktorat Jenderal pengelolaan Utang (DJPU).
Pasal 7
( 1 ) D J P U c . q . D i r e k t o r a t P i n j a m a n d a n H i b a h melakukan pemetaan atas cafon KSA yang memiliki kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.
(2) Pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pembaharuan apabila terdapat calon KSA yang:
a) menyampaikanLol;dan/atau b) otensialberdasarkan identifikasi DJPU.
Bagian Ketiga
Dasar Dimulainya Pelaksanaan Seleksi Pasal I
(1) Pelaksanaan seleksi calon KSA dimulai setelah l(L, Pemda, atau BUMN menyampaikan SKPBJ untuk kegiatan yang siap dibiayai kepada Direktur Jenderal.
(2) SKPBJ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat ditindaklanjuti dengan seleksi, pal-ing kurang memuat:
a. nama calon penyedia barang/jasa; b. nilai kontrak dan kebutuhan pinjaman; c. deskripsibarang/jasa;
d. mekanisme pembayaran dan jangka waktu kontrak; dan
e. jadwalpenandatanganankontrak. (3) SKPBJ sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
juga menginformasikan seluruh atau sebagian Wafta Perundang-lJndangan/I S Juti 2014
.. kegiatan yang termuat dalam surat penetapan sumber pembiayaan.
(4) DJPU c.q. Direktorat Pinjaman dan Hibah dapat meminta informasi terkait SKPBJ kepada l(L, Pemda, atau BUMN.
(5) Dalam hal kontrak pengadaan telah diterima sebelum SKPBJ disampaikan oleh K/L, pemda, atau BUMN, kontrak pengadaan dapat ditindak-lanjuti dengan proses seleksi calon KSA, sepanjang telah dilengkapi dengan ringkasan kontrak yang memuat informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Bagian Keempat
Dasar Penentuan Paket Pinjaman Pasal I
Seleksi calon KSA dilakukan melalui mekanisme pinjaman tunggal, yaitu satu pinjaman dimaksudkan untuk membiayai satu kegiatan.
Pasal 10
D irektu r Jenderal dapat menetapka n pinja man paket, yaitu satu pinjaman dimaksudkan untuk membiayai beberapa kegiatan, yang ditentukan berdasarkan SKPBJ yang disampaikan oleh l(/L, pemda, atau BUMN, dengan memperhatikan:
a. volume pembiayaan; b. jenisbarang/kegiatan;
asal barang/country of origin; dan/atau
jadwalpelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Bagian Kelima
Dasar Perhitungan Benchmark Pasal 11
DJPU c.q. Direktorat Strategi dan portofolio Utang melakukan penyusunan metode peng-hitungan Benchmark.
Metode pengh itungan Benchmark sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
BAB V
PERSIAPAN SELEKSI CALON KSA Pasal 12
D J P U c . q . D i r e k t o r a t P i n j a m a n d a n H i b a h melaksanakan persiapan seleksi yang meliputi c . d . ( 1 ) (2) ( 1 ) G3
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. penyusunan ShorilistAwal calon KSA; b. penyusunan Rfl;
c. penyampaian Rfl kepada calon KSA yang masuk dalam ShorilistAwal calon KSA; d. penerimaan Lol daricalon KSA; dan e. penghitungan Benchmark.
(2) Hasil penyusunan Shorilist Awal dan peng-hitungan Benchmark sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e, ditetapkan oleh Direktu r Jenderal atau pejabat yang d itunjuk oleh Menteri Keuangan.
Pasal 13
Berdasarkan hasil pemetaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, DJPU c.q. Direktorat pinjaman dan Hibah melakukan penyusunan Shorflist Awal untuk mendapatkan paling sedikit 5 (lima) calon KSA yang akan menerima Rfl, dengan memperhatikan restriksi dari calon KSA yang meliputi hal-hal sebagai berikut: a. jenis barang;
b. asalbarang;dan/atau
c . j u m l a h o u t s t a n d i n g p i n j a m a n calon KSA, khususnya terhadap counterparty limit dan out_ standing.
Pasal 14
(1) Calon KSA yang telah menyampaikan Lol dapat dimasukkan ke dalam Shorilist Awal dan/atau Shortlist Tambahan sepanjang Shorfl ist Awal dan/ atau Shortlist Tambahan belum ditetapkan. (2) Dalam hal calon KSA menyampaikan Lol setelah
Shortlist Awal ditetapkan, cafon KSA dapat d i m a s u k k a n d a l a m p e n y u s u n a n Shorflist Tambahan.
(3) Dalam hal calon KSA menyampaikan Lol setelah S h o r t l i s t A w a l d a n S h o r f l i s t Tambahan ditetapkan, calon KSA dapat dimasukkan dalam daftar calon KSA untuk pencarian sumber pembiayaan alternatif, apabila seleksi dinyatakan gagal.
. Pasal 15
(1) DJPU c.q. Direktorat pinjaman dan Hibah menyampaikan Rfl kepada calon KSA yang masuk ke dalam ShorflistAwal.
(2) Calon KSA yang tertarik harus menyampaikan Lol kepada DJPU c.q. Direktorat pinjaman dan Hibah paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah penyampaian Rfl.
Warta Perundang-Undangan/I 5 J uti 201 4
Apabila sebelum batas waktu 14 (empat belas) hari kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2j berakhir dan seluruh calon KSA yang menerima Rfl telah menyampaikan jawaban baik berupa Lol maupun pernyataan penolakan, maka proses seleksi dapat segera dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Dalam haljumlah calon KSA yang menyampai-kan Lol kurang dari3 (tiga), DJPU c.g. Direktorat P i n j a m a n d a n H i b a h m e n y a m p a i k a n R f l tambahan kepada calon KSA lainnya setelah melakukan penyusunan Shorflist Tambahan untuk mendapatkan calon KSA tambahan. Calon KSA tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)yang tertarik, harus menyampaikan Lol kepada DJPU c.q. Direktorat pinjaman dan Hibah paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah penyampaian Rfl kedua.
Calon KSA tambahan yang akan menerima Rfl sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling sedikit sejumlah kekurangan dari jumlah m i n i m a f 3 ( t i g a ) c a l o n K S A y a n g menyampaikan Lol.
(7) Proses seleksi calon KSA dapat dilanjutkan apabila sampaidengan penyampaian Rfl kedua, terdapat paling sedikit 1 (satu) ealon KSA yang menyampaikan Lol.
(8) Proses seleksi calon KSA dinyatakan gagal apabila setelah penyampaian Rfl pertama dan k e d u a , t i d a k t e r d a p a t c a l o n K S A y a n g menyampaikan Lol.
Pasal 16
Dalam hal calon KSA memperoleh jaminan dari LpKE, calon KSA dapat menyampaikan ketertarikannya dengan menawarkan pembiayaan yang dijamin oleh LPKE. :
BAB VI
PELAKSANAAN SELEKSI CALON KSA Bagian Kesatu
Tahapan Seleksi Pasal 17
Panitia seleksi melaksanakan seleksi dengan tahapan sebagai berikut:
a. penyusunan dokumen seleksi dan jadwal pelaksanaan seleksi;
(3)
(4)
(5)
b. c . d . e.
penyampaian RfP kepada calon KSAyang telah memberikan Lol;
penerimaan L/FP daricalon KSA; evaluasi L/FP daricalon KSA; dan
penyusunan peringkat calon KSA atas tawaran yang tidak melebihi Benchmark.
Bagian Kedua
Penyampaian Dokumen Seleksi Pasal 18
Panitia seleksimenyampaikan RfP kepada calon KSA yang termasuk dalam Shortlist Awal dan Shortlist Tambahan.
RfP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dengan melampirkan Terms of Reference yang berisi informasi mengenai kriteria L/FP yang ditetapkan oleh panitia seleksi.
L/FP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan calon KSA kepada panitia seleksi paling lambat 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah penyampaian RfP.
Dalam hal UFP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau pernyataan penolakan dariseluruh calon KSA telah diterima oleh panitia seleksi sebelum batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, maka panitia seleksi dapat segera melanjutkan proses seleksi ke tahap berikutnya.
Pasal 19
Tawaran pembiayaan yang dapat diikutsertakan dalam seleksi dapat berbentuk:
a. Single Loan, yang diberikan oleh KSA untuk membiayai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu;
b. Club Deal, yang diberikan secara bersama oleh lebih dari satu KSA yang dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang terpisah bagi masing-masing KSA untuk membiayai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu; dan/atau
c . S y n d i c a t e d L o a n , y a n g d i b e r i k a n s e c a r a b e r s a m a o l e h l e b i h d a r i s a t u K S A y a n g dikoordinasikan oleh salah satu atau lebih dari satu KSAyang dituangkan dalam satu perjanjian pinjaman untuk membiayai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu.
,
B"Efli#:'l'n"
Pasal 20 (1) Panitia seleksi melakukan:
a. evafuasiadministrasi;dan
b. evaluasi finansial terhadap L/FP yang diterima dari calon KSA.
Evaluasi administrasi sebagaimana dimaksud p a d a a y a t ( 1 ) h u r u f a , m e l i p u t i evaluasi kelengkapan dan keabsahan dokumen L/FP. Evaluasi finansial sebagaimana dimaksud pada huruf b, meliputi perhitungan biaya pinjaman berdasarkan tawaran calon KSA dalam LIFP. Calon KSA yang tidak lolos evaluasi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak dapat diikutsertaka n dalam evaluasi fi nansial dan dinyatakan gugur.
Calon KSA dengan penawaran biaya pinjaman melebihi Benchmark berdasarkan hasil evaluasi finansialsebagaimana dimaksud pada ayat (3), dinyatakan gugur.
Pasal 21
Panitia seleksi menyusun peringkat calon KSA berdasarkan hasil evaluasi finansial sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 20 ayat(3), dengan mempertimbangkan tawaran dengan biaya terendah.
Dalam hal terdapat 2 (dua) atau lebih calon KSA yang menyampaikan penawaran terendah dengan biaya pinjaman sama sampaidengan 2 (dua) angka dibelakang koma, panitia seleksi menyusun peringkat calon KSA berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dalam RfP. Dalam haf seluruh tawaran yang disampaikan dinyatakan gugur sebagaimana dimaksud pada ay at (2), pan itia seleksi me nya m pai ka n kem bal i RfP kepada calon KSA sebelumnya, dengan memberitahu ka n batasan/range biaya pi njaman. Apabila setelah penyampaian RfP berikutnya seluruh tawaran yang disampaikan calon KSA tetap melebihi Benchmark, seleksi dinyatakan gagal. (2) (3) ( 1 ) (2) (3) (4) (4) (5) ( 1 ) (2) (3)
Warta Perundang-Llndangan/l 5 Juli 2014
(4)
(5)
Dalam hal calon KSA pemenang seleksi telah m e n y a m p a i k a n L o C n a m u n t i d a k d a p a t melanjutka n kom itmen pembiayaan nya, D irektu r Jenderal dapat menunjuk calon KSA peringkat berikutnya sebagai pengganti.
Apabila tidak terdapat calon KSA pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4), maka seleksi dinyatakan gagal.
BAB VIII SELEKSI GAGAL
Pasal 26
Direktur Pinjaman dan Hibah menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal apabila seleksi gagal sebagaimana dimaksud dalam pasal 1S ayat (8), dan Pasal2S ayat (S).
Panitia seleksi menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal apabila terjadi seleksi gagal sebagaimana dimaksud dalam pasal 21ayat(4) dan Pasal 24 ayat (3).
( 1 )
(2) Pasal 22
P a n i t i a s e l e k s i m e l a p o r k a n h a s i l e v a l u a s i pelaksanaan seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 kepada Direktur Jenderal.
BAB VII
PENETAPAN PEMENANG SELEKSI Pasal 23
(1) DirekturJenderal atau pejabatyang ditunjuk oleh Menteri Keuangan menetapkan pemenang seleksi calon KSA berdasarkan laporan hasil evaluasi panitia seleksi.
(2) Panitiaseleksi memberitahukan pemenang hasil seleksi kepada para peserta paling lambat 5 ( l i m a ) h a r i k e r j a s e t e l a h menerima surat penetapan pemenang dari Direktur Jenderaf .
Pasal 24
( 1 ) D a l a m h a l p e m e n a n g seleksi calon KSA mengundurkan diri, maka peringkat kedua hasil s e l e k s i c a l o n K S A d i n y a t a k a n s e b a g a i pemenang seleksi.
(2) Penentuan pemenang seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku apabila peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya yang d i n y a t a k a n s e b a g a i p e m e n a n g s e l e k s i mengundurkan diri.
(3) Apabila peringkat terakhir dari seluruh calon KSA laiig memberikan tawaran tidak melebihi Bench-m a r k Bench-m e n g u n d u r k a n d i r i , m a k a s e l e k s i dinyatakan gagal.
Pasal 25
(1) Pemenang seleksi calon KSA menyampaikan pernyataan kesediaan memberikan pinjaman dafam rangka mendanai satu kegiatan atau paket kegiatan tertentu dalam LoC.
Q) LoC sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditandata n gan i oleh direktur utama atau pejabat yang benruenang mewakili pemenang seleksi calon KSA.
(3) LoC sebagaimana dimaksud pada ayat (Z), disampaikan oleh pemenang seleksi kepada Direktur Jenderal, paling lambat Z (tujuh) hari kerja setelah KSA menerima surat penetapan pemenang seleksi calon KSA.
Wa rta Peru nd a ng-lJ nd ang anll S J u I i 20 I 4
(3) DirekturJenderal atau pejabatyang ditunjukoleh Menteri Keuangan menetapkan kegagalan seleksi berdasarkan laporan Direktur pinjaman dan Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau berdasarkan laporan panitia seteksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
( 4 ) S e t e l a h D i r e k t u r J e n d e r a l m e n y a t a k a n kegagalan dalam hal seleksi dinyatakan gagal sebagaimana dimaksud pada ayat (2), panitia s e l e k s i m e n y a m p a i k a n s u r a t p e n e t a p a n kegagalan seleksi kepada peserta seleksi.
Pasal 27
(1) Dalam halseleksidinyatakan gagal, maka calon KSA akan ditentukan melalui sumber pem-biayaanalternatif.
(2) Ketentuan mengenai pencarian sumber pem-biayaan alternatif diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IX SANKSI Pasal 28
Calon KSA pemenang seleksi yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, atau tidak dapat melanjutkan komitmen pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (4),
tidak diikutsertakan dalam seleksi calon KSA untuk 1 (satu) tahun berikutnya atau 5 (lima) periode seleksi.
BAB X
PENGHENTIAN PROSES SELEKSI Pasal 29
Direktur Jenderal dapat menerbitkan surat perintah kepada panitia seleksi untuk melakukan penundaan atau penghentian sementara proses seleksi, apabila terdapat informasi dari K/L, P e m d a a t a u B U M N t e n t a n g adanya per-masalahan pada kontrak pengadaan barang/ jasa.
,,
Proses seleksi calon KSA yang mengalami penundaan atau penghentian sementara, dapat d ilanjutkan kemba li atau dihentikan sepen uh nya melalui pencabutan su rat perintah sebagaima na dimaksud pada ayat (1), setelah mendapat pemberitahuan lebih lanjut dari l(L, pemda atau BUMN.
BAB XI
PERIKATAN DENGAN KSA Pasal 30
Tindak lanjut terhadap LoC dari KSA terpilih dilakukan oleh unit struktural pada DJPU dengan melakukan perundingan dan penandatanganan perjanjian pinjaman dengan KSA terpilih. Proses perundingan dan penandatanganan perjanjian pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
BAB XII BIAYASELEKSI
Pasal 31
Segala biaya yang timbuldalam rangka pelaksanaan seleksi calon KSA dibebankan pada Daftar lsian Pelaksanaan Anggaran DJ PU.
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN Pasal 32
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
Warta Peru ndang-lJ nd angan/l S J uti 20 I 4
semua dokumen yang telah diterbitkan ber-dasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14IPMK.0812012 tentang Tata Cara Pengadaan Pembiayaan Yang Bersumber Dari Kreditor Swasta Asing dinyatakan tetap berlaku; proses sefeksiyang telah dimulai berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1 4/pMK.08/ 2012tentang Tata Cara Pengadaan Pembiayaan Yang Bersumber Dari Kreditor Swasta Asing tetap dilanjutkan dengan berpedoman pada Peraturan Menteriini.
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP Pasal 33
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14lpMK.Og/ 2012 tentang Tata Cara Pengadaan pembiayaan Yang Bersumber Dari Kreditor SwastaAsing, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 34 Peraturan Menteri
diundangkan. mulai berlaku pada tanggal Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan p e n g u n d a n g a n P e r a t u r a n M e n t e r i in i d e n g a n p e n e m p a t a n n y a d a l a m B e r i t a N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a .
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Februari 2014
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd.
MUHAMAD CHATIB BASRI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 Febru ari 2A14 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA, ttd.
AMIRSYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONES|A TAHUN aO1{NOMOR 276 a . b . ( 1 )