• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merealisasikan Mimpi Menembus Antariksa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Merealisasikan Mimpi Menembus Antariksa"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Merealisasikan Mimpi

Menembus Antariksa

Oleh Andriani Agustina

K

unci utama lembaga penyelenggara keantariksaan yang maju dan

modern adalah kemandirian. Langkah menuju kemandirian secara bertahap dilakukan

LAPAN dengan melakukan penelitian dan pengembangan di bidang penerbangan dan antariksa, terutama pengembangan teknologi roket dan satelit.

LAPAN telah melakukan penelitian dan

pengembangan di bidang peroketan mulai dengan mengembangkan Roket Sonda, Roket Cair, Roket EDF/TJ, dan Roket Peluncur Satelit (RPS). Pengembangan Roket Sonda terakhir ditandai dengan kesuksesan uji terbang roket eksperimen (RX 450 dan RX 1220) yang kemudian ditindaklanjuti dengan uji statik untuk RX 550. RPS sendiri ditargetkan akan tercapai programnya pada tahun 2039.

(2)

Langkah pengembangan teknologi satelit diawali dengan pengembangan satelit mikro sebagai satelit eksperimental. Hasilnya, peluncuran Satelit LAPAN-A1 berlangsung pada 10 Januari 2007, lalu disusul peluncuran Satelit LAPAN-A2 pada 28 September 2015. Pada tanggal 22 Juni 2016, LAPAN kembali mencatat sejarah dalam perkembangan iptek satelit dengan mengorbitnya Satelit LAPAN-A3.

Misi dari satelit LAPAN antara lain melakukan pemantauan potensi lahan pertanian dan sumber daya perikanan untuk peningkatan ketahanan pangan nasional; pemantauan pesisir pantai, pulau-pulau kecil terluar, dan penentuan garis batas wilayah negara dengan tetangga untuk kemaritiman; pemantauan lalu lintas laut dan udara secara global; komunikasi radio amatir untuk sistem telekomunikasi; pemantauan lingkungan rawan kebakaran hutan, rawan banjir dan longsor, rawan gempa dan tsunami, serta aktifitas gunung berapi untuk mitigasi bencana; serta pemantauan medan magnet bumi untuk kegiatan penelitian.

Berbagai manfaat dari hasil

pengembangan teknologi satelit kini telah dinikmati masyarakat. Contohnya untuk inventarisasi lahan produktif tanaman

pangan baik pertanian maupun perkebunan, penentuan zona penangkapan ikan,

pemantauan lalu lintas laut dan udara menggunakan sistem telekomunikasi, pemetaan daerah rawan bencana untuk sistem managemen mitigasi bencana. Selain itu juga tersedianya distribusi informasi perkiraan perubahan iklim dan cuaca. Sistem satelit memiliki keunggulan resolusi temporal, sehingga dapat digunakan untuk pemantauan pada saat sebelum dan sesudah terjadi

bencana dan menetapkan status keadaan darurat (emergency response).

Untuk itu, perkembangan teknologi satelit LAPAN sangat dinanti bangsa ini sebagai salah satu terobosan mewujudkan kemandirian bangsa di bidang ilmu pengetahuan dan

teknologi penerbangan dan keantariksaan. Berbagai inovasi dari teknologi satelit yang sangat inovatif mendorong peningkatan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi daya saing di pasar internasional.

LAPAN juga telah mengambil langkah strategis untuk merealisasikan mimpi menembus antariksa. Pada tanggal 06 Agustus 2013, Presiden RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono telah mengesahkan Undang – Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Untuk mengimplementasikan UU tersebut juga telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk keantariksaan.

Regulasi tersebut untuk memayungi kegiatan LAPAN dalam upaya pengembangan sains dan teknologi antariksa, termasuk untuk penanganan peristiwa antariksa. Selain untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara, kepastian hukum tersebut sebagai landasan bagi LAPAN untuk mengoptimalkan dan menjamin keberlanjutan penyelenggaraan keantariksaan. Secara umum hal tersebut untuk melindungi keselamatan dan keamanan negara dan warga negara Indonesia.

Masyarakat sudah menunggu-nunggu bagaimana impian tersebut bisa terwujud. Lalu bagaimana perkembangannya? Bagaimana tantangan dan kendala yang dihadapi LAPAN dalam upaya mewujudkan impian menembus antariksa? Tim Humas LAPAN melakukan wawancara dengan berbagai pihak untuk memberikan pandangan dan masukan strategis dalam upaya mendorong tercapainya cita-cita Indonesia mencapai kemandirian di bidang keantariksaan

(3)

Perlu National Space Policy untuk Mengukur Angka yang Jelas dan Perencanaan

Matang

Tim Humas untuk pertama kalinya melakukan wawancara dengan Analis

Kebijakan Ahli Utama LAPAN, Agus Hidayat, Senin (06/05) di Jakarta. Sosok yang pernah menjabat menjadi Kepala Pusat Kajian

Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (KKPA) ini memaparkan ide strategisnya di lingkup kebijakan dalam upaya mendorong percepatan implementasi regulasi di bidang keantariksaan yang telah LAPAN miliki.

Agus menyampaikan, di dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, tidak kurang dari tujul pasal yang menyebutkan tentang bandar antariksa. Artinya, Indonesia, dalam hal ini LAPAN, sudah diberi mandat untuk membangun dan mengoperasikan bandar antariksa. Hal tersebut disebutkan dalam Pasal 7 ayat 1 UU tersebut. Di mana, salah satu kegiatan keantariksaan yang diamanatkan oleh UU adalah peluncuran. Kegiatannya meluncurkan wahana antariksa, yaitu meluncurkan roket ke antariksa untuk menempatkan satelit pada orbitnya.

Roket dan satelit, menurutnya, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. LAPAN wajib menguasai teknologi roket yang pada waktunya harus mampu meluncurkan satelit buatan sendiri, minimal berorbit rendah (LEO), sekitar 600-700 km di atas permukaan laut. Untuk itu Indonesia harus membangun dan mengoperasikan bandar antariksa.

Bagaimana merealisasikannya? Di dalam Rencana Induk Keantariksaan yang dikeluarkan melalui Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 sudah sangat jelas pentahapannya untuk merealisasikan dalam kurung waktu 2016-2040. Contohnya saja, pada tahun ini, dokumen perencanaan bandar antariksa sudah harus tercapai. Realisasinya, selama ini memang sudah dilakukan banyak kajian, namun masih dalam batas permukaan, belum terlalu mendalam. Di mana, untuk membangun sebuah infra struktur bandar antariksa dibutuhkan kebijakan strategis dan anggaran besar. Sebab bandar antariksa memerlukan teknologi tinggi dan sensitif.

(4)

“Menurut saya, kajiannya belum bisa digunakan sebagai dokumen untuk menjual, dalam hal ini berjuang ke pemerintah agar diberi anggaran yang cukup. Kajian ini masih sangat

dangkal,” ujar Agus yang hampir tiga tahun pernah memimpin Pusat KKPA, tempat para peneliti dan analis kebijakan melakukan pengkajian. Sebab, keahlian yang dimiliki LAPAN belum cukup untuk mengkaji sebuah bandar antariksa sebagai sebuah fasilitas yang sangat kompleks. Kebutuhannya tidak sesederhana membangun gedung atau bangunan lainnya. Di sini, harus ada ahli yang bisa membuat master plan dan harus ada visibility study.

Di dalam memimpin kajian, ia pernah mengusulkan ke Kepala LAPAN untuk

mempekerjakan konsultan yang punya pengalaman membangun bandar antariksa, karena program ini tidak main-main. Konsultan tersebut bisa dari dalam maupun luar negeri. “Jika sudah ada konsep, visibility study, dan master plan, maka kita tinggal mengusulkan ke presiden sebagaimana amanat UU dan Perpres yang sudah menjadi komitmen pemerintah,” imbuhnya.

Bahkan untuk lima tahun mendatang, sudah harus tersedia perencanaan bandar antariksa skala kecil. Skala kecil yang seperti apa, bagi Agus, hal itu harus didefinisikan. Menurutnya, Indonesia perlu kebijakan tentang pembangunan bandar antariksa. Sebab, dari sisi regulasi sudah jelas tergambar dalam UU dan pentahapannya melalui Perpres. Namun kenyataannya tidak kunjung terealisasi. Bahkan belum ada perencanaan yang matang, sehingga perlu terobosan.

Untuk itu, Bersama Timnya, ia melakukan pengkajian berupa Kebijakan Nasional Keantariksaan, biasa disebut National Space Policy (NSP). Pengkajian tersebut dilakukan berdasarkan pengalamannya mempelajari kebijakan di bidang keantariksaan di berbagai negara. Rata-rata negara tersebut, mempunyai regulasi yaitu semacam UU dan Perpres, akan tetapi juga punya NSP yang mengkristalkan semua program menjadi kegiatan yang lebih fokus.

Agus memperjelas lagi, dengan adanya NSP, rincian tugasnya sudah jelas. Masing-masing stakeholder punya peran, baik itu LAPAN, Bappenas, dan kementerian terkait, demikian juga lingkungan akademisi, dan Pemerintah Daerah setempat. Sehingga hal itu tidak seolah-olah menjadi beban LAPAN semata. Dengan adanya NSP, akan tergambar jelas arah perusahaan maupun BUMN yang terlibat. Hal itu harus dinyatakan langsung oleh Presiden. NSP tidak bermaksud membuat kebijakan baru, namun dari regulasi yang ada diperjelas arahnya. “Hal itu yang dilakukan oleh Amerika, Inggris, Jepang, dan China. Negara-negara tersebut mempunyai UU dan Perpres dengan rencana jangka panjang berikut program-program yang ingin dicapai,” papar Agus.

Agus memberikan contoh yang dilaksanakan di United Kingdom (UK), tidak kurang dari 20 institusi yang terlibat. Hal tersebut untuk mengakomodir besarnya kebutuhan anggaran maupun SDM. Untuk itu, ia berharap agar Indonesia juga menggunakan potensi nasional yang ada. Contohnya dengan melibatkan ahli roket dari lingkungan akademisi seperti ITS, ITB, dsb. Bahkan dari diskusi panjangnya bersama rekan-rekan di lingkungan akademisi, Agus mengisahkan bahwa mereka siap membantu LAPAN untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Untuk merealisasikan mimpi membangun bandar antariksa, menurutnya sudah ada jalan, LAPAN tinggal membuat dokumen perencanaan yang benar-benar siap, komprehensif, dan matang, sehingga bisa ‘dijual’ ke presiden.

(5)

Di dalam renduk, lima tahun mendatang, LAPAN sudah harus mampu meluncurkan roket tiga tingkat sampai ketinggian 300 km. Jadi, jika ada yang bertanya, seperti apa bandar antariksanya? Agus menjelaskan, bandar antariksa yang dibutuhkan minimal bisa memfasilitasi peluncuran roket yang dibuat oleh LAPAN, yaitu roket tiga tingkat pada ketinggian 300 km. Sementara target jangka Panjang (2036 – 2040) yang akan dicapai yaitu mampu meluncurkan roket peluncur satelit ke orbit LEO, untuk menempatkan satelit mikro LAPAN. Jadi tujuan akhirnya, meluncurkan satelit buatan sendiri menggunakan roket buatan sendiri dari bandar antariksa sendiri. Jika itu sudah tercapai, mimpi menembus antariksa sudah tercapai.

“Prinsipnya, jika kita tidak punya angka yang jelas, perencanaan yang matang, maka negara ini akan meragukan mimpi tersebut,” tegasnya. Dari sisi kajian, Agus mengisahkan bahwa KKPA sering terlibat di fora internasional. Kepala LAPAN juga beberapa kali memaparkan tentang rencana Indonesia untuk membangun bandar antariksa. Tujuannya adalah untuk menangkap peluang kemungkinan terjalinnya kerja sama. Hal tersebut adalah sisi lain untuk menggulirkan usulan kemungkinan konsultan asing yang ikut membantu percepatan pembangunan bandar antariksa. Hasilnya, ada beberapa pihak yang mulai tertarik untuk melakukan kerja sama.

Kolaborasi dengan swasta, menurut penjelasan Agus, sangat dimungkinkan. Apalagi sekarang ada pola kerja sama bernama Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Hal tersebut ada

mekanisme dan tahap-tahap kajian yang harus dilakukan. Biasanya dilakukan untuk proyek-proyek besar. Namun jika ini ditempuh untuk mendorong realisasi bandar antariksa, maka perlu tekanan dari pimpinan (presiden).

Untuk komersialisasi bandar antariksa, maka harus ada kajian ekonomi, contohnya menghitung frekuensi peluncuran satelit itu sendiri, serta bisa disewakan ke pihak asing atau tidak. Namun, untuk menjalin kerja sama tersebut, LAPAN harus punya dokumen perencanaan yang jelas, yaitu sudah ada blue print-nya. Jadi, banyak perhitungannya seperti keuntungan dari sisi pariwisata, spot iklan, dan sebagainya. Sementara Frekuensi peluncuran yang akan dilakukan LAPAN tidak cukup signifikan jika dibandingkan dengan China yang dalam jangka waktu satu tahun bisa meluncurkan 50 satelit. Sehingga hal itu sudah cukup menguntungkan.

Untuk mengarah ke komersialisasi, maka bandar antariksa yang dioperasikan dapat memfasilitasi peluncuran roket-roket negara asing dengan diameter besar. Karena tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri tetapi juga bisa disewakan. Perlu roket yang lebih besar, buffer area yang luas karena daerah sterilnya juga beda.

Berbicara mengenai lokasi peluncuran roket milik LAPAN, Pameungpeuk sudah tidak layak lagi sebagai lokasi peluncuran roket karena alasan kepadatan penduduk. Jika Indonesia akan melangkah ke pengoperasian bandar antariksa komersial seperti Pusat Antariksa Guyana atau Pusat Peluncuran Antariksa Kourou, maka akan terlalu berat bagi LAPAN. Sebab, selain bandara tersebut harus bisa untuk meluncurkan berbagai jenis roket, tapi juga perlu infrastruktur yang super canggih yang tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Tapi hal tersebut bisa terealisasi jika ada keinginan kuat dari pihak asing. Namun menurut Agus, hal itupun justru akan menjadi keuntungan besar bagi pihak asing.

“ Kolaborasi dengan swasta, menurut penjelasan Agus, sangat

dimungkinkan. Apalagi sekarang ada pola kerja sama bernama

(6)

Terkait rencana lokasi bandar antariksa di Biak, sudah mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat, baik pemerintah daerah, para Kepala Suku, Ketua Adat, dan LSM. membuat pernyataan tertulis untuk mendukung pembangunan bandar antariksa di Biak. Maka, Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

menyatakan pusat peluncuran roket Indonesia di Biak,

baru kemudian Morotai menjadi alternatif kedua. Sementara lokasi Morotai sendiri telah ditetapkan saat pelaksanaan FGD tanggal 13 Desember 2017, di mana pada hari yang sama, Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Letnan Jenderal Doni Monardo berkirim surat kepada Presiden RI, Joko Widodo, untuk menyarankan

Biak menjadi lokasi peluncuran.

Berbicara mengenai negara-negara yang dianggap adidaya adalah negara

yang bisa meluncurkan roket buatannya sendiri ke antariksa. Menurut pandangan Agus, kalau Indonesia sudah mampu membuat satelit sehebat apapun, namun jika masih menggunakan roket negara lain, maka artinya mimpi kita untuk menembus antariksa belum tercapai. “Jika program RPS dilaksanakan dengan baik, maka Indonesia akan menjadi space

veriminatio,” jelasnya. Agus kembali menegaskan, apabila kebijakan untuk regulasi sudah cukup kuat, yaitu dengan adanya UU ada perpres, maka tinggal bagaimana mengupayakan

untuk membuat dokumen perencanaan yang baik dan matang. “Jika kita mau mempromosikan di lingkup internasional, setidaknya sudah punya gambaran yang jelas kebutuhan kita. Tidak hanya dalam bentuk pembicaraan saja, untuk membuat itu harus dikerjakan oleh orang-orang yang

profesional yang mengerti bidang tersebut,” harapnya. Sebab, ia berpandangan, sampai saat ini, LAPAN belum cukup mampu untuk membuat dokumen perencanaan

yang baik, komprehensif, yang bisa dijadikan dasar untuk membuat dukungan politik, dukungan anggaran, dan dukungan-dukungan lainnya untuk mempercepat implementasi menuju

tercapainya kemandirian di bidang keantariksaan

Referensi

Dokumen terkait