• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa

A. SoehAimi

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Jl. Diponegoro No. 57, Bandung

Sari

Kajian seismogenetik menunjukkan pulau Jawa dengan sistem tektonik tunjamannya merupakan bagian dari Satuan Seismotektonik Busur Sangat Aktif (Jawa Barat bagian barat dan Sumatera) dan Satuan Seismotektonik Busur Aktif (Jawa Barat bagian barat – Jawa Tengah – Jawa Timur). Secara keseluruhan daerah ini merupakan Daerah Rawan Gempa Bumi Indonesia No. VI, VII, VII dan IX. Di daerah ini gempa bumi berkekuatan > 8,5 SR pernah terjadi (Jawa bagian barat), gempa bumi berkekuatan 7 SR sering terjadi dan gempa bumi berkekuatan 5 - 6 SR umum terjadi (Jawa bagian selatan). Gempa bumi berpotensi merusak Pulau Jawa umumnya berkekuatan > 5,6 SR dan merupakan gempa bumi lajur tunjaman selatan Jawa yang berkedalaman dangkal < 30 km. Jarak sumber, kekuatan gempa bumi, kondisi geologi setempat serta kepadatan penduduk dan infrastruktur sangat menentukan indeks kebencanaan dan risiko di Pulau Jawa. Guna mewaspadai bahaya gempa bumi yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, penilaian risiko bahaya gempa bumi yang berbasiskan makrozonasi dan mikrozonasi kerentanan bencana dan risiko gempa bumi merupakan hal utama dan mendasar yang diperlukan di berbagai wilayah tingkat provinsi, kabupaten maupun kota yang terkait.

Kata kunci: Seismotektonik, seismogenetik, makro dan mikro zonasi, potensi bencana dan risiko

Abstract

A seismogenetic study shows the Jawa Island Arc and its subduction zone system belong to a highly active seismotectonic arc unit (west Jawa and Sumatera) and an active seismotectonic arc unit (western part of West Jawa – Central Jawa – East Jawa). In general, these regions are part of the Indonesian Earthquake Hazard Zones No. VI, VII, VII and IX. The regions are characterized by the presence of rare earthquake of magnitude > 8.5 Richter Scale (western part of Java), frequent magnitude of 7 Richter Scale and common 5 - 6 Richter Scale (Southern part of Java). The potential hazardous earthquake in Jawa that is > 5,6 Richter Scale of magnitude and shallow depth (< 30 km) is due to a subduction zone earthquake. Epicenter distance, magnitude, geological site conditions, population, and infrastructure are the index of earthquake hazard and risk in these regions. The earthquake hazard mitigation programme in the near future is a risk assesment based on macro and microzonation of earthquake hazard and risk. These macrozonation and microzonation assessments are essentially needed for provinces, districts, and cities.

Keywords: Seismotectonic, seismogenetic, macro and micro zonation, potential hazard and risk

227

Latar BeLakang

Pulau Jawa merupakan wilayah Indonesia yang paling padat penduduk dan infrastrukturnya. Ber-dasarkan tataan seismotektoniknya, Pulau Jawa ini merupakan bagian dari satuan seismotektonik busur sangat aktif dan busur aktif (Gambar 1). Guna mewaspadai bencana gempa bumi di kawasan ini

perlu dilakukan suatu kajian mendasar seismotek-tonik yang berbasiskan asal-usul kejadian gempa bumi (seismogenetik), serta menentukan wilayah-wilayah potensi gempa bumi serta bahaya yang ditimbulkan. Risiko bahaya gempa bumi sangat ditentukan oleh kepadatan penduduk dan infrastruk-tur di suatu wilayah yang telah dinyatakan rawan bencana dan risiko gempa bumi. Daerah-daerah

(2)

yang mempunyai infrastruktur dan penduduk padat tersebut berada di kota-kota besar sepanjang lajur potensi bahaya gempa bumi, seperti Pelabuhanratu, Bogor, Jakarta, Sukabumi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, serta kota-kota ke-cil lainnya sebagai penyangga kota besar tersebut. Puslitbang Geologi (Pusat Survei Geologi) sejak tahun 1979 telah melakukan penelitian dan pemetaan seismotektonik di berbagai wilayah rawan bencana gempa bumi Indonesia (Gambar 2). Selain itu, juga telah dilakukan kajian-kajian bersifat mendasar me-ngenai penilaian risiko gempa bumi untuk kota-kota besar yang dinyatakan rawan bencana/risiko gempa bumi sebagai upaya menyiapkan data dasar mitigasi risiko gempa bumi.

tujuan

Tujuan upaya ini adalah melakukan kajian, evaluasi, dan analisis terhadap kondisi seismotek-tonik Jawa sebagai data dasar kebencanaan gempa bumi, serta menentukan keberadaan lajur sumber

gempa bumi yang berpotensi menimbulkan bencana gempa bumi.

MetodoLogi

Metodologi yang diterapkan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

Kajian, evaluasi dan analisis data sekunder geo-•

logi (struktur geologi aktif) wilayah yang dikaji, geofisika (kegempaan) sebagai paramerter dasar bidang seismotektonik

Pembuatan peta makro dan mikrozonasi kerentan-•

an bencana dan risiko gempa bumi daerah rawan bahaya gempa bumi (data dasar mitigasi).

geoLogi regionaL

Empat data dasar kondisi geologi regional Jawa yang sangat berperan dalam kajian ini, yakni tek-tonik regional, bentang alam regional, kondisi dan Gambar 1. Peta Satuan Seismotektonik Indonesia (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 2003).

Laut Cina Selatan

(3)

sebaran batuan, serta struktur geologi, khususnya struktur geologi aktif.

Tektonik regional

Tektonik regional wilayah Jawa dikontrol oleh tektonik tunjaman selatan Jawa. Akibat tunjaman tersebut terbentuk struktur-struktur geologi re-gional di wilayah daratan Jawa. Struktur tersebut dapat diamati di daratan Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, di antaranya Sesar Banten, Sesar Cimandiri, Sesar Citarik, Sesar Baribis, Sesar Citanduy, Sesar Bumiayu, Sesar Kebumen – Se-marang - Jepara, Sesar Lasem, Sesar Rawapening, Sesar Opak, Sesar Pacitan, Sesar Wonogiri, Sesar Pasuruan, dan Sesar Jember.

Bentang alam

Bentang alam regional yang juga dikenal sebagai lajur fisiografi Jawa secara umum dapat dibagi atas

tiga bagian. Untuk wilayah Jawa Barat dikenal se-bagai Lajur Pegunungan Selatan Jawa Barat, Lajur Bentang alam Jawa Barat, Palung Bogor, Dataran Pantai Utara Jawa Barat serta Kubah Bayah. Semen-tara untuk wilayah Jawa Tengah dan Timur dikenal sebagai Lajur Pegunungan Selatan Jawa Tengah dan Timur, Lajur Bentang alam Jawa Tengah dan Timur, Depresi Solo, Lajur Pegunungan Antiklinorium-Sinklinorium Kendeng dan Rembang, Lajur Depresi Randublatung serta Lajur Pantai Utara Jawa Tengah -Timur. Batas masing - masing lajur tersebut kadang-kadang merupakan batas struktur geologi regional, misalnya batas selatan Lajur Depresi Randubla-tung dan utara Lajur Pegunungan Antiklinorium-Sinklinorium Kendeng. Diduga kontak antara keduanya sebagai kontak struktur regional Jawa yang disebut sebagai terusan Sesar Busur Belakang Bali, ke arah barat disebut sebagai Sesar Baribis. Selain lajur - lajur utama tersebut di atas dikenal Gambar 2. Peta rawan bencana gempa bumi Indonesia (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 2004).

(4)

juga cekungan-cekungan, seperti Cekungan Jakarta, Cekungan Bandung, Cekungan Citanduy, Cekungan Gajahmungkur, dan lain lain.

Litologi

Batuan penyusun wilayah Jawa berdasarkan peta geologi Lembar Jawa bagian Barat (Ratman drr., 1998), Lembar Jawa bagian Tengah (Amin drr., 1999) dan Lembar Jawa bagian Timur (Ga-foer drr., 1999), terdiri atas batuan sedimen laut, batuan malihan, batuan beku dan batuan rombakan. Batuan sedimen laut dapat dijumpai di Palung Bo-gor, Jawa Barat, Lajur Pegunungan Antiklinorium-Sinklinorium Kendeng dan Rembang, serta Depresi Randubelatung. Sementara batuan bentang alam umumnya dijumpai di sepanjang lajur bentang alam Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Batuan

terobosan dan malihan dijumpai pada lajur-lajur lemah sepanjang sesar dan bentang alam. Batuan rombakan berupa kolovium dan aluvium dijumpai di kaki dan lereng bentang alam atau gawir-gawir sesar, dataran pantai selatan dan utara Jawa. Selain itu, batuan serupa dapat dijumpai pada cekungan-cekungan pengendapan Kuarter, seperti Cekungan Bandung, Cekungan Jakarta, Cekungan Citanduy, Cekungan Gajahmungkur, Dataran Semarang, dan Dataran bentukan delta seperti Mauk, Kendal, dan Citarum.

kegeMpaan regionaL

Kegempaan regional wilayah Jawa dapat dibagi atas dua kelompok kegempaan, yakni kegempaan

Gambar 3. Blok diagram morfologi kedalaman gempa bumi Lajur Penunjaman Selatan Jawa - Bali.

(5)

lajur tunjaman selatan Jawa dan kegempaan lajur sesar aktif Jawa. Gempa bumi lajur tunjaman Jawa dijumpai berkedalaman dangkal hingga dalam (0 – 400 km) (Gambar 3). Gempa bumi di lajur tunjaman ini umumnya tercatat berkekuatan >4 SR. Gempa bumi berkekuatan besar di wilayah Jawa ini dapat mencapai 8,5 SR, terutama di Jawa bagian barat, sedangkan yang berkekuatan 5 – 6 SR sering terjadi di wilayah Jawa bagian selatan (NEIC, USGS, 2006). Wilayah Jawa ini merupakan daerah rawan bencana gempa bumi Indonesia No. VI, VII, VIII, dan IX (Puslitbang Geologi, 2004). Gempa bumi lajur tunjaman ini umumnya memperlihatkan mekanisme gempa bumi sesar naik, gempa bumi bermekanisme sesar normal dapat juga terjadi pada lajur ini, terutama pada kedalaman >300 km di sebelah utara Jawa. Gempa bumi dengan mekanisme normal tersebut disebabkan oleh proses peregangan (extension) pada lajur di bawah rumpang gempa bumi (seismic gap).

Gempa bumi berkedalaman dangkal (< 30 km) yang berpusat pada lajur sesar aktif memperli-hatkan mekanisme sesar naik, geser, dan normal. Gempa bumi bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur Sesar Cimandiri pada peristiwa gempa bumi Gandasoli Sukabumi (1982) dan gempa bumi Cibadak Sukabumi (2000). Gempa bumi Majalengka 1990 bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur sesar naik Baribis. Gempa bumi bermekanisme sesar mendatar menganan telah terjadi di lajur sesar geser Bumiayu pada peristiwa gempa bumi Bumiayu (1995). Demikian pula hal-nya pada peristiwa gempa bumi Yogyakarta (2006) yang memperlihatkan mekanisme sesar mendatar mengiri.

SeiSMotektonik regionaL

Seismotektonik merupakan ilmu pegetahuan yang mempelajari tentang hubungan antara tek-tonik, khususnya struktur geologi dengan kejadian gempa bumi (seismogenetik) serta bahaya ikutan-nya (Pavoni, 1987). Berdasarkan kondisi hubungan antara tektonik dan kegempaannya, Pulau Jawa dapat dibagi menjadi dua lajur seismotektonik, yakni lajur seismotektonik tunjaman selatan Jawa dan lajur seismotektonik sesar sesar aktif daratan Jawa. Karakteristik lajur seismotektonik tunjaman

selatan Jawa ini merupakan bagian dari Lempeng tektonik Samudra Hindia – Australia yang menun-jam di bawah bagian Lempeng tektonik Benua Asia – Eropa. Berdasarkan penampakan morfologi kedalaman kegempaannya, lajur tunjaman selatan Jawa ini dapat dibagi atas enam lajur, yakni Lajur Selat Sunda, Lajur Jawa Barat Bagian Barat, Lajur Jawa Barat Bagian Timur - Jawa Tengah Bagian Ba-rat, Lajur Jawa Tengah Bagian Timur-Jawa Timur Bagian Barat, Lajur Jawa Timur Bagian Timur - Madura, dan Lajur Bali. Batas antara lajur satu dengan lajur lainnya diperlihatkan oleh perbedaan sudut kemiringan tunjamannya dari satu tempat ke tempat lainnya dan disebut sebagai rumpang gempa bumi mendatar. Dari wilayah Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur sudut tunjaman tersebut makin tegak. Rumpang gempa bumi tegak pada lajur tunjaman ini juga dapat ditemui pada kedalaman bervariasi antara 250 - 350 km. Lajur seismotektonik sesar aktif daratan Jawa berkaitan erat dengan keberadaan struktur sesar aktif, di antaranya lajur seismotektonik sesar aktif Banten, lajur seismotektonik sesar aktif Cimandiri, lajur seismotektonik sesar aktif Citarik, lajur seismotek-tonik sesar aktif Baribis, lajur seismotekseismotek-tonik sesar aktif Citanduy, Lajur seismotektonik sesar aktif Bu-miayu, Lajur seismotektonik Kebumen – Semarang - Jepara, lajur seismotektoniksesar aktif Lasem, lajur seismotektonik sesar aktif Rawapening, lajur seismotektonik sesar aktif Opak, lajur seismotek-tonik sesar aktif Pacitan, lajur seismotekseismotek-tonik sesar aktif Wonogiri, lajur seismotektonik sesar aktif Pasuruan, dan lajur seismotektonik sesar aktif Jember. Peta seismotektonik Jawa diperlihatkan dalam Gambar 4.

tranSek SeiSMotektonik jawa

Transek seismotektonik Jawa ini dilakukan un-tuk mengevaluasi potensi kegempaan Jawa, dengan tujuan mendapatkan gambaran mengenai ancaman bahaya gempa bumi yang berasal dari sumber gempanya (lajur sumber gempa bumi tunjaman dan sesar aktif) terhadap tempat-tempat tertentu dan terpilih di Jawa, seperti ibu kota provinsi dan kabupaten serta kota-kota kecil penyangga di seki-tarnya. Dalam kajian ini telah dibuat sistem seismo-tektonik transek Pelabuhanratu – Bogor – Jakarta

(6)

Gambar 4. Peta Seismotektonik Jawa dan Bali (Pusat Survei Geologi, 2005).

(Gambar 5), seismotektonik transek Sindangbarang – Bandung – Purwakarta (Gambar 6), seismotek-tonik transek Cilacap – Bumiayu (Gambar 7), seismotektonik transek Yogyakarta – Semarang (Gambar 8), dan seismotektonik transek Jember – Surabaya (Gambar 9). Pada kelima sistem transek seismotektonik Jawa ini terlihat adanya hubungan antara sebaran pusat-pusat gempa bumi dengan sis-tem tektonika dan struktur geologi untuk masing-masing wilayah. Mekanisme fokal sejumlah gempa bumi berkekuatan > 5 SR berasosiasi dengan lajur tunjaman selatan Jawa, maupun mekanisme fokal gempa-gempa yang berasosiasi dengan sesar-sesar aktif di daratan Jawa. Gempa-gempa lajur tunjaman pada sistem transek Jawa ini umumnya memperli-hatkan mekanisme fokal sesar naik (gempa bumi

tunjaman antarlempeng). Beberapa di antaranya terlihat mempunyai mekanisme fokal sesar normal (gempa bumi tunjaman dalam lempeng). Selain itu, gempa bumi bermekanisme fokal sesar normal ini dapat dijumpai berasosiasi dengan lajur tunjaman di bawah rumpang gempa bumi sistim tunjaman Jawa. Gempa bumi bermekanisme sesar mendatar jarang dijumpai pada sistem tunjaman ini. Pada lajur lajur sesar aktif daratan Jawa di sistem transek ini dijumpai bermekanisme sesar naik dan sesar geser (NEIC, USGS, 2006). Mekanisme fokal sesar naik dimiliki gempa bumi Gandasoli (1982) dan gempa bumi Majalengka (1990). Mekanisme sesar mendatar dimiliki gempa bumi Bumiayu (1994) dan gempa bumi Yogyakarta (2005).

(7)

Gambar 5. Peta seismotektonik daerah Pelabuhanratu - Bogor - Jakarta (Soehaimi drr., 2007). 106,40E106,50E 106,60E106,70E 106,80E 106,90E107,00E 107,10E 106,40E106,50E 106,60E106,70E 106,80E 106,90E107,00E 107,10E -5,50N -5,60N -5,70N -5,80N -5,90N -6,00N -6,10N -6,20N -6,30N -6,40N -6,50N -6,60N -6,70N -6,80N -6,90N -7,00N -7,10N -7,20N -7,30N -7,40N -7,50N -7,60N -7,70N -7,80N -7,90N -8,00N -8,10N -8,20N -8,30N -8,40N -8,50N -8,60N -8,70N -8,80N -8,90N -9,00N -9,10N -9,20N -9,30N -9,40N -9,50N -9,60N -5,50N -5,60N -5,70N -5,80N -5,90N -6,00N -6,10N -6,20N -6,30N -6,40N -6,50N -6,60N -6,70N -6,80N -6,90N -7,00N -7,10N -7,20N -7,30N -7,40N -7,50N -7,60N -7,70N -7,80N -7,90N -8,00N -8,10N -8,20N -8,30N -8,40N -8,50N -8,60N -8,70N -8,80N -8,90N -9,00N -9,10N -9,20N -9,30N -9,40N -9,50N -9,60N

1. Endapan Dataran Banjir 2. Endapan Rawa 3. Endapan Laut Dangkal 4. Endapan Pantai 5. Endapan Sungai Muda

1 2 3 4 5

Aluvium Pantai Endapan Pantai Citanglar Fluvial G. Gede, G. Pangrango, G. Salak

Gosong Pantai Utara Jakarta Teras Sungai Muda Gosong Pantai Selatan LEGENDa GEOLOGi STrUKTUr GEOLOGi KEGEMPaaN KETEraNGaN

PENaMPaNG GEMPa BUMi SELaTaN - UTara

SKaLa 1 : 400.000

Andesit Holosen Hornblenda G. Endut Lava Holosen G. Salak Lahar Plistosen G. Salak Tuf Plistosen G. Salak Breksi Plistosen G. Kencana Breksi - Lava Plistosen Tidak Teruraikan G. Kencana Lava Plistosen Komplek Gunung Besar Batuan Sedimen laut Tersier Batuan Metamorfik Pra Tersier

Lava Holosen G. Gede Breksi Lahar Holosen G. Gede Lahar Holosen Pangrango Lahar - Lava Holosen Pangrango Lava Basalt Plistosen G. Geger Bentang Breksi Plistosen G. Kencana - Limo Tuf batuapung Plistosen G. Gede Tua Batupasir Tufaan ? Breksi Gunungapi Tua ?

Struktur Lipatan Lajur Sesar Sesar Geser Sesar Naik Sesar Normal

Tunjaman Tua Kapur Awal (di duga) Tunjaman Selatan Jawa Kawah Percepatan Tanah Maksimum Pada Batuan Periode 100 Tahun

Kecil mb < 5 Sedang 6 > mb < 5 Besar mb < 6 Gempa Merusak Dangkal < 30 Km Sedang 31 < 99 Km Dalam > 100 Km Mekanisme Fokal Ibukota Negara Ibukota Kabupaten/Kota Kota Lain Jalan Tol Jalan Utama Jalan Lain Jalan Kereta Sungai

(8)

Gambar 6. Peta seismotektonik Lajur Sindangbarang - Bandung - Purwakarta (Soehaimi & Setianegara, 2007).

,

U S B T Kota Provinsi Kota Kabupaten/Kota Kota Lain Jalan Tol Jalan Utama Jalan Raya Jalan Lain Jalan Kereta Sungai Danau Gunung

Endapan Aluvium Sungai (Holosen)

Endapan Limbah Banjir (Kuarter-Holosen)

1. Endapan Pantai (Holosen) 2. Endapan Gosong Pantai (Holosen) 3. Endapan Delta (Holosen)

Endapan Fluvial Gunungapi Tangkuban Perahu (Kuarter-Holosen) Endapan Gunungapi Sunda teruraikan (Kuarter Atas) Endapan Gunungapi Sunda Tua (Kuarter Bawah) Breksi Tuf (Plistosen) Sedimen Laut (Miosen)

Endapan Undak Sungai Tua (Kuarter-Holosen) Endapan Kipas Runtuhan Gunungapi (Kuarter-Holosen)

Endapan Gunungapi Tertua (Kuarter Bawah) Endapan Danau Bandung (Kuarter-Holosen) Lipatan dan Stuktur Antiklin Sesar Geser Sesar Naik Sesar Normal

Gawir Kawah Tua Gunungapi Tunjaman Kecil Mb < 5 Sedang 6 > mb > 5 Besar Mb > 6 Dangkal < 30 km Sedang 31 - 100 km Dalam

> 130 km Pusat GempabumiMerusak Mekanisme Fokal

Kompresi

Delatasi

PENaMPaNG GEMPaBUMi SELaTaN - UTara

KEGEMPaaN STrUKTUr GEOLOGi GEOLOGi BaTUaN GEOGraFi L E G E N D a S K a L a 1 : 470.000 Centimeter Kilometer 1070 E 107,50 E 1080 E -5,50 S -6,00 S -6,50 S -7,00 S -7,50 S -8,00 S -8,50 S -9,00 S -9,50 S -10,00 S -5,50 S -6,00 S -6,50 S -7,00 S -7,50 S -8,00 S -8,50 S -9,00 S -9,50 S -10,00 S 1070 E 107,50 E 1080 E

(9)

Tunjaman Selatan Jawa (sekarang) Endapan Gunungapi Plistosen (G. Dieng)

Endapan Sedimen Laut Tersier

Batuan Aneka (Bancuh) Pra-Tersier

Endapan Gosong Pantai Selatan jawa

Gambar 7. Peta seismotektonik Transek Yogyakarta - Semarang (Soehaimi drr., 2006).

,

U

S

B T

1090 30’ 0”

PENaMPaNG GEMPaBUMi SELaTaN - UTara KEGEMPAAN STRUKTUR GEOLOGI GEOLOGI L E G E N D a S K a L a 1 : 470.000 Lipatan Sesar Geser Sesar Naik Sesar Normal

Tunjaman Tua Kapur Awal (diduga) Kecil Mb < 5 Sedang 6 > mb > 5 Besar Mb > 6 Dangkal < 30 km Sedang 30 - 99 km Dalam > 100 km Gempa Merusak

Lajur Sesar Tunjaman Tua Kapur Akhir

(diduga)

Mekanisme Fokal

Aluvium Holosen (Endapan Pantai, Rawa, dan Sungai)

Endapan Gunungapi Holosen

G. Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Dieng dan Slamet

Kilometer

1100 00’ 0” 1100 30’ 0” 1110 00’ 0” -50 00’ 0”

(10)

Gambar 8. Peta seismotektonik Transek Cilacap - Bumiayu (Soehaimi drr., 2007).

Kedalaman Dalam Km

,

U

S

B T

PENaMPaNG GEMPaBUMi SELaTaN - UTara STRUKTUR GEOLOGI GEOLOGI L E G E N D a S K a L a 1 : 350.000 Lipatan Sesar Geser Sesar Naik Sesar Normal

Tunjaman Tua Kapur Awal (diduga) Mb < 5 6 > mb > 5 Mb > 6 Dangkal < 30 km Sedang 30 - 99 km Dalam > 100 km Gempa Merusak Lajur Sesar Mekanisme Fokal

Aluvium Holosen (Endapan Pantai, Rawa, dan Sungai)

1080 30’

KEGEMPAAN

Lahar Gunungapi Muda Holosen

Lava Gunungapi Muda Holosen (G. Slamet)

(G. Slamet)

Endapan Teras Sungai Serayu

Endapan Beting Pantai Breksi tidak Teruraikan

Breksi Gunungapi Tua Plistosen (G. Dieng)

Endapan sedimen Laut Tersier

Tunjaman Selatan Jawa - 60 15’ 1090 30’ 1090 15’ 1090 00’ 1080 45’ - 70 00’ - 60 45’ - 60 30’ - 70 45’ - 70 30’ - 70 15’ - 80 00’ - 80 15’ - 80 30’ - 80 45’ - 90 00’ - 100 00’ - 90 45’ - 90 30’ - 90 15’ - 100 15’

(11)

Gambar 9. Peta seismotektonik Transek Surabaya Jember (Soehaimi drr., 2007).

,

U

S

B T

PENaMPaNG GEMPaBUMi SELaTaN - UTara STRUKTUR GEOLOGI GEOLOGI L E G E N D a S K a L a 1 : 500.000 Lipatan Sesar Geser Sesar Naik Sesar Normal

Tunjaman Tua Kapur Awal (diduga) Mb < 5 6 > mb > 5 Mb > 6 Dangkal < 30 km Sedang 30 - 99 km Dalam > 100 km Gempa Merusak Lajur Sesar Mekanisme Fokal Aluvium Pantai, Sungai, Rawa (Holosen)

KEGEMPAAN Tunjaman Selatan Jawa - 50 30’ 11 3 0 12’

Sedimen Gunungapi Kelut (Holosen)

Sedimen Laut (Tersier/Miosen) Sedimen Laut (Tersier/Pliosen) Sedimen Gunungapi (Kuarter/Pleistosen)

- 60 00’ - 50 45’ - 60 15’ - 70 00’ - 60 45’ - 60 30’ - 70 45’ - 70 30’ - 70 15’ - 80 00’ - 80 15’ - 80 30’ - 80 45’ - 90 00’ - 90 30’ - 90 15’ - 100 00’ - 90 45’ - 100 15’ - 100 30’ - 100 45’ - 110 00’ - 110 15’ - 110 30’ 11 2 0 15’ 11 2 0 30’ 11 2 0 45’ 11 3 0 00’ 11 2 0 00’

(12)

peringatan dini Bahaya geMpa BuMi Peringatan dini bahaya gempa bumi adalah suatu upaya yang dapat dilakukan sebelum terjadi bahaya gempa bumi. Upaya tersebut berupa suatu upaya tindakan nyata berupa kajian-kajian yang mendasar terhadap fenomena alam gempa bumi, yakni penelitian seismotektonik yang berbasiskan asal-usul kejadian gempa bumi (seismogenetic) di suatu daerah yang telah dinyatakan sebagai daerah rawan bencana gempa bumi untuk tingkat provinsi dan kabupaten.

Penelitian seismotektonik di tingkat provinsi dan kabupaten ditekankan pada penelitian terhadap struktur geologi aktif yang bersifat regional dan lokal di suatu kawasan yang mempunyai catatan gempa bumi merusak masa lalu dan bertindak sebagai lajur sumber gempa bumi. Penelitian tersebut sebaiknya ditekankan pada hubungan antara kondisi geologi (tektonik, bentang alam, struktur geologi, batuan dan tanah) dengan kegempaan wilayah (episentrum,

kedalaman, kekuatan, mekanisme fokal, intensitas dan percepatan serta respons tanah setempat ter-hadap getaran alami). Sementara evaluasi bencana dan penilaian risiko berbasiskan pada kepadatan penduduk dan infrastuktur serta tata guna lahan yang ada. Untuk tingkat kota, dibutuhkan parameter yang sama, namun dilakukan dalam skala yang lebih terperinci.

Pembagian wilayah (zonasi) berdasarkan karakteristik daya dukung lahan terhadap bencana dan risiko gempa bumi (makro dan mikrozonasi) merupakan hal pokok dan mendasar dalam anti-sipasi secara dini. Selain itu, sosialisasi mengenai feno-mena alam gempa bumi dan bahaya yang ditimbulkannya serta penyelamatan diri bila terjadi gempa bumi merupakan hal pokok dan mendasar untuk dilakukan, khususnya di daerah rawan ben-cana gempa bumi. Contoh peta mikrozonasi serta matriks kerentanan bencana dan risiko gempa bumi wilayah Yogyakarta masing-masing ditampilkan dalam Gambar 10 dan Tabel 1.

Gambar 10. Peta mikrozonasi kerentanan bencana dan risiko gempa bumi wilayah Yogyakarta dan sekitarnya (Marjiyono drr., 2006). Skala 1 : 85.000 U B S T LEGENDA Geografi Geologi Neotektonik Struktur Geologi Kegempaan

Klasifikasi Bencana dan Risiko Gempa Bumi Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya

Garis

Kontur Jalan

Sungai

aluvium Holosen Endapan Gosong Pantai (Holosen) Endapan Gunung api Merapi(Kuarter)

Endapan Teras Sungai (Holosen)

Endapan Teras Sungai (Holosen) Endapan rombakan (Detris/Holosen) Endapan Batugamping Formasi Sentolo/Tersier Satuan Tuf(Formasi Sambiputu/Tersier) Satuan Breksi Formasi Ngalangan/Tersier

Satuan Napal-Batugam-pingFormasi Kepek/

Satuan Tuf (Formasi Semilir/Tersier) Satuan Breksi andesit Formasi Kebobuntak/Tersier) Satuan Batugamping Terumbu-Formasi Wonosari/Tersier)

Sesar Naik Sesar Mendatar Sesar Normal Lajur Sesar

Jurus dan Kemiringan Batuan Gawir Sesar analisis Struktur Geologi Teras Sungai Gosong Pantai analisis Karbon Pebukitan Sesar Gempa

Gempa bumi Susulan (Hasil Pengamatan Stasiun P3G)

Longsoran Gempa

Pusat Gempabumi 27 Mei 2006

Cekungan Depresi Sesar (Full apart Basin)

rusuk ringan rusuk Sedang rusuk Berat Mekanismepokal Pusat Gempa bumi Susulan dan Gempa bumi Makro

Stasiun Pengamatan Gempa Bumi Pusat Survei geologi

< 0,1 Detik (stabil) 0,1 - 0,2 Detik (Kerentanan rendah) 0,2 - 0,3 Detik (Kerentanan Sedang) 0,3 - 0,4 Detik (Kerentanan Tinggi) > 0,4 Detik (Keren-tanan Sangat Tinggi) -110030’ -110020’ -110025’ -110015’ -7045’ -7050’ -7055’ -8000’ -8005’

(13)

keSiMpuLan

Pulau Jawa dengan sistem tektonik tunjamannya 1.

merupakan bagian dari Satuan Seismotektonik Busur Sangat Aktif (Jawa Barat bagian barat) dan Satuan Seismotektonik Busur Aktif (Jawa Barat bagian barat – Jawa Tengah – Jawa Timur). Pulau Jawa merupakan Daerah Rawan Gempa 2.

bumi Indonesia VI, VII, VIII dan IX (Puslit-bang Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2004). Di daerah ini gempa bumi berkekuatan > 8,5 SR pernah terjadi, gempa bumi berkekuatan 7 SR sering terjadi dan gempa bumi berkekuatan 5 – 6 SR umum terjadi (Jawa). Gempa bumi berpotensi merusak pulau Jawa 3.

umumnya berkekuatan > 5,6 SR dan merupa-kan gempa bumi lajur tunjaman selatan Jawa berkedalaman dangkal < 30 km. Jarak sumber, kekuatan gempa bumi, kondisi geologi

setem-pat serta kepadatan penduduk dan infrastruktur sangat menentukan indeks kebencanaan dan risikonya.

Guna mewaspadai bahaya bencana gempa bumi 4.

yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, penilaian risiko bahaya gempa bumi yang berba-siskan makrozonasi dan mikrozonasi kerentanan bencana dan risiko gempa bumi merupakan hal pokok dan mendasar untuk segera dilakukan untuk tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.

Ucapan Terima Kasih---Penulis mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan Y. Sopyan, Marjiyono, dan R. Setianegara atas segala masukan dan diskusi yang sangat berharga selama proses penyusunan makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Pusat Survei Geologi atas izinnya untuk menerbitkan makalah ini di dalam Jurnal Geologi Indonesia, Badan Geologi.

Tabel 1. Matriks Bencana dan Risiko Gempa Bumi Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya (Marjiyono drr., 2006)

LaJUr BENTaNG aLaM

BaTUaN DaN

SiFaT FiSiK KEGEMPaaN TaTa GUNa LaHaN

BENCaNa / risiko rEKOMENDaSi KERENTANAN SANGAT TINGGI Umumnya dataran lembah Sungai dan Lereng Bukit Endapan Gunungapi Merapi, aluvium s. opak dan rombakan. bersifat lepas, mudah digali.

Intensitas maksimum vii – viii, mmi, perioda dominan > 0,4 detik

50% pemukiman penduduk, 40% persawahan, 10% perkebunan, kecamatan Piyungan, Pleret, Sewon, Jetis, Imogiri, Bambang, Lipuro, Pundong, Kretek, Kota Gede, Pajangan.

Guncangan tanah kuat, sesar gempa, retakan tanah, serta pelulukan

Pengerasan lahan fondasi, fondasi kuat pada tanah keras, rumah tahan gempa menjauhi tebing dan lembah terjal. KERENTANAN TINGGI Dataran, lembah sungai dan lereng bukit Endapan Gunungapi Merapi, aluvium s. Opak, rombakan dan Breksi. mudah digali, sukar digali. Intensitas maksimum vii, mmi, perioda dominan 0,3 - 0,4 detik 40% pemukiman penduduk, 30% persawahan, 30% perkebunan, kecamatan Piyungan, Pleret, Sewon, Jetis, Imogiri, Bambang, Lipuro, Pundong, Kretek, Kota Gede, Pajangan.

Guncangan tanah kuat, sedang retakan tanah, serta pelulukan

Pengerasan lahan fondasi, fondasi kuat pada tanah keras dan batuan dasar (breksi), rumah tahan gempa menjauhi tebing dan lembah terjal. kERENTANAN SEDANG Dataran dan lereng bukit Endapan Gunungapi Merapi, aluvium s. Opak, rombakan dan breksi serta batugamping. mudah digali, sukar digali.

Intensitas maksimum v - vi, mmi, perioda dominan 0,2 - 0,3 detik 40% pemukiman penduduk, 40% persawahan, 20% perkebunan, kecamatan Piyungan, Pleret, Sewon, Jetis, Imogiri, Bambang, Lipuro, Pundong, Kretek, Kota Gede, Pajangan.

Guncangan tanah sedang, retakan tanah.

pengerasan lahan fondasi, fondasi kuat pada tanah keras dan batuan dasar (breksi, batu gamping), rumah tahan gempa menjauhi tebing terjal.

KERENTANAN RENDAH Dataran, lembah sungai, dan lereng Bukit Endapan Gunungapi Merapi, breksi dan Batugamping. mudah digali, sukar digali.

Intensitas maksimum v, mmi, perioda dominan 0,1 - 0,2 detik 40% pemukiman penduduk, 30% perkebunan dan hutan, kecamatan Kashian, Sanden, Pandak, Pajangan. Guncangan tanah sedang, retakan tanah.

Fondasi kuat pada tanah keras dan batuan dasar (breksi, batugamping, endapan gunungapi merapi), rumah tahan gempa, menjauhi tebing terjal. KERENTANAN SANGAT RENDAH / STABIL Dataran, Lereng Bukit, Dan Perbukitan Endapan Gunungapi Merapi, breksi dan Batugamping. mudah digali, sukar digali.

Intensitas maksimum iv, mmi, perioda dominan < 0,1 detik 20% pemukiman penduduk, 50% persawahan, 30% hutan, kecamatan Gadean, Ngaglik, Depok, Brebah, Piyungan, Patuk, Dlingo, Karangrejo, Parang Teritis, Sanden.

Guncangan tanah sedang – ringan.

Rumah sederhana tahan gempa, menjauhi tebing dan lembah berdindinga terjal.

(14)

acuan

Marjiyono, Soehaimi. A., dan Djuanda, A., 2006. Peta Zonasi

Kerentanan Bencana Gempa Bumi Daerah Yogyakarta dan sekitarnya, skala 1 : 65.000. Pusat Survei Geologi,

Bandung.

Pavoni, N., 1987. Guidelines for the Construction of Seis-motectonic maps, European Seismological Commission

(E.S.C.), Genoa, Italy.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 2004. Peta

Rawan Bencana Gempa Bumi, Skala 1:10.000.000.

Soehaimi. A., Sopyan, Y., 2005. Peta Seismotektonik Jawa

dan Bali, skala 1:2.750.000. Pusat Survei Geologi,

Bandung.

Soehaimi. A., Sopyan, Y., dan Marjiyono, 2006. Peta

Seismotektonik Daerah Jogyakarta - Semarang, skala 1:450.000. Pusat Survei Geologi, Bandung.

Soehaimi. A., Setianegara, R., dan Marjiyono, 2006. Peta

Seismotektonik Daerah Pelabuhan Ratu - Bogor - Jakarta, skala 1:400.000. Pusat Survei Geologi,

Bandung.

Soehaimi. A., Setianegara, R., 2006. Peta Seismotektonik

Lajur Sindangbarang - Bandung - Purwakarta, skala 1:400.000. Pusat Survei Geologi, Bandung.

Soehaimi. A., Setianegara, R., dan Kamawan, 2007. Peta

Seismotektonik Daerah Cilacap - Bumiayu, skala 1:350.000. Pusat Survei Geologi, Bandung.

Soehaimi. A., Sopyan, Y., dan Setianegara, R., 2007. Peta

Seismotektonik Daerah Surabaya - Jember, skala 1:500.000. Pusat Survei Geologi, Bandung.

Naskah diterima : 23 Maret 2008 Revisi terakhir : 26 November 2008

Gambar

Gambar 3. Blok diagram morfologi kedalaman gempa bumi Lajur Penunjaman Selatan Jawa - Bali.
Gambar 4. Peta Seismotektonik Jawa dan Bali (Pusat Survei Geologi, 2005).
Gambar 5. Peta seismotektonik daerah Pelabuhanratu - Bogor - Jakarta (Soehaimi drr., 2007)
Gambar 6. Peta seismotektonik Lajur Sindangbarang - Bandung - Purwakarta (Soehaimi &amp; Setianegara, 2007).,BUSTKota ProvinsiKota Kabupaten/KotaKota LainJalan TolJalan UtamaJalan RayaJalan LainJalan KeretaSungaiDanauGunung
+6

Referensi

Dokumen terkait

Data di bawah ini diambil dari berbagai sumber yang mendukung dalam proses penentuan ukuran utama kapal keruk jenis TSHD yang akan didesain untuk Alur Pelayaran

Latar-belakang dibuatnya Konsensus IBD, secara teknis didasarkan atas beberapa hal, yakni: (1) Diperlukannya pengetahuan yang cukup dan awareness tentang IBD di

Hasil penelitian menunjukkan media audio visual yang digunakan oleh guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah di Desa Babayau kecamatan Paringin

belajar dengan mengamati dan menggambarkan. Siswa akan lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan lebih-lebih dalam belajar fisika akan lebih

Pelamar yang melamar pada kebutuhan jenis jabatan tenaga kesehatan yang mensyaratkan Surat Tanda Registrasi, wajib melampirkan Surat Tanda Registrasi (bukan

Hipotesis nol : Tidak terdapat perbezaan pengetahuan sedia ada antara responden lelaki dan responden perempuan tingkatan 4 dalam mempelajari mata pelajaran

Based on these trilogy, we found layers of Islamic Performance, starting from the most outward level, let say is Islam as representation of profit oriented/individual welfare and