Memahami Cita-Cita Anak SERI BACAAN ORANG TUA

28 

Teks penuh

(1)

SERI BACAAN ORANG TUA

31

Memahami

Cita-Cita Anak

(2)
(3)

Yulianti Siantayani, M.Pd.

Memahami

Cita-Cita Anak

(4)
(5)

PUSPA RAGAM CITA-CITA ANAK

I

bu dan bapak, anak usia dini pun memiliki cita-cita. Sayangnya, anak belum mengetahui dengan jelas, apa itu cita-cita. Dalam benaknya, cita-cita merupakan sesuatu yang tidak nyata. Untuk itu, cita-cita perlu dijadikan nyata agar anak dapat memahami apa yang dimaksud cita-cita. Caranya, dengan memberikan penjelasan tentang cita-cita. Harapannya, anak dapat membayangkan seperti apa nantinya ketika sudah menjadi besar suatu hari nanti.

Cobalah ibu dan bapak bertanya pada seorang anak saat mereka sedang santai atau bermain. Amati ekspresi wajahnya, khususnya matanya yang mengerling ke ujung atas, seolah-olah berpikir keras hendak menjadi apa dia nanti. Ada kemungkinan anak asal menyebut yang terlintas di pikirannya dan mungkin tokoh itu dikaguminya.

(6)

“Em.... e... adik mau jadi dokter e.... bukan, bukan, adik mau jadi seperti ayah aja...”.

Cita-cita anak mudah berubah. Anak perempuan yang masih berusia 5 tahun, umumnya akan menjawab, “Menjadi

putri yang cantik”. Ini dipengaruhi seringnya menonton film

kartun, sehingga pikirannya melambung seperti putri cantik pujaannya. Dua atau tiga tahun ke depan, mungkin anak bercita-cita menjadi penyanyi. Ini mungkin terpengaruh dengan penyanyi idolanya.

Sedangkan anak laki-laki sangat mungkin bercita-cita

menjadi tokoh pahlawan seperti dalam film kesukaannya.

Ini semua karena kekagumannya pada tokoh-tokoh yang memengaruhi dan memberikan pengalaman kepadanya. Semakin bertambah besar, maka anak akan makin mengenal jenis pekerjaan lainnya. Kelak itu akan mempengaruhi angan-angan dan keputusannya untuk menjadi seperti tokoh tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu dan kedewasaan yang diperoleh dari lingkungan dan pengalaman, anak biasanya mulai berpikir dengan lebih jernih untuk menentukan cita-citanya. Anak yang memiliki cita-cita sejak dini, justru akan membawa harapan pada anak dan mengajak anak untuk berangan-angan lebih jauh lagi tentang cita-citanya. Walaupun tidak dapat diingkari keterbatasan pengetahuan anak, membuat anak menentukan cita-cita berdasarkan keinginan dan pengetahuannya.

Banyak anak menjadikan profesi dokter sebagai idaman. Seolah-olah tidak ada profesi lainnya. Harap maklum. Anak-anak umumnya sering sakit. Dokterlah yang berhasil membuat

(7)

anak-anak menjadi sembuh dari sakit. Bisa kembali bermain bersama temannya dan pergi ke sekolah lagi. Anak pun kembali dapat menikmati makanan kesukaannya. Wajar bila anak menganggap bahwa dokter seorang yang hebat dan perlu dikagumi. Kelak ketika dirinya sudah besar, ia pun ingin menjadi dokter.

Demikian juga dengan cita-cita yang lain. Menjadi pemadam kebakaran, contohnya. Di pandangan anak, pemadam kebakaran adalah sosok yang gagah perkasa. Ia berani melawan api yang panas dan mengganas. Ia mengambil anak-anak di dalam rumah dan ditolong untuk dikeluarkan dari kobaran api. Wah seperti superman, tokoh-tokoh yang diidolakan anak.

(8)

PENGARUH CITA-CITA PADA ANAK

C

ita-cita memiliki pengaruh yang kuat pada kepribadian anak. Dengan mengidolakan seseorang dalam kehidupannya, maka anak akan mendapatkan model dalam hidupnya. Ingat, anak usia dini belajar dengan cara meniru. Ia mudah sekali dipengaruhi dan dibentuk oleh contoh yang dekat dengan dirinya.

Jika seorang anak memiliki suatu contoh di lingkungannya, dan dirinya ingin menjadi seperti orang itu, maka semua perilakunya akan cenderung meniru model tersebut. Jika model yang jadi panutan anak adalah tokoh yang baik, maka akan berpengaruh positif bagi anak. Namun, ketika modelnya bukanlah tokoh yang baik maka berdampak negatif pada anak. Anak menjadi tidak dapat menunjukkan gambaran yang positif. Dampaknya, anak dikhawatirkan akan berperilaku kurang terpuji.

(9)

Pada umumnya anak mendambakan tokoh-tokoh yang nyata dan mudah ditemukan dalam lingkungan sehari-harinya. Tokoh yang paling dekat dengan diri anak adalah ibu dan ayah. Tidak heran ketika ditanya cita-citanya, ada anak yang menjawab, ingin menjadi ibu atau ayah. Beberapa anak mungkin menjawab dengan cita-cita yang beragam.

(10)

FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI CITA-CITA ANAK

1. Latar Belakang Pendidikan Ibu-Bapak

Latar belakang pendidikan orangtua cukup berpengaruh dalam mendidik anak. Ibu-bapak yang memiliki pendidikan baik akan menanamkan nilai-nilai pendidikan keluarga dengan baik pula. Harapannya nilai-nilai keluarga tersebut akan dibawa ketika anak itu menjadi dewasa dan berkeluarga. Semua orangtua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang berguna. Meski ibu-bapaknya hanya menjadi petani, mereka berharap agar kelak anaknya tidak menjadi petani. Bahkan, kalau bisa lebih baik. Kalau tetap menjadi petani, tentunya petani modern yang menggunakan teknologi dalam menggarap sawah.

Anak juga akan mendapat kesempatan untuk berpikir setinggi-tingginya dalam meraih cita-citanya. Ibu-bapak akan

(11)

memberikan pengetahuan secara sederhana kepada anaknya seperti apa pekerjaan tersebut.

2. Contoh ibu-bapak

Ibu-bapak adalah panutan anak-anak di rumah. Ibu-bapak menjadi contoh yang pertama dan utama. Bapak yang bekerja di kantor, memberikan contoh dari sisi penampilan, kata-kata, sikap, dan karakter yang menunjang profesi tersebut. Anak pun mendapat gambaran laki-laki atau wanita yang bekerja di kantor. Mungkin di rumah itu terdapat kakek atau nenek yang berprofesi sebagai guru. Penampilan seorang guru berbeda dengan penampilan pekerja kantor. Penokohan yang berbeda ini dapat diamati dengan jelas berikut perilaku, kata-kata dan karakter yang mengikutinya.

3. Pola Asuh

Ibu-bapak sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak. Melalui penanaman moral dan kebiasaan-kebiasaan baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan ibu-bapak. Sehubungan dengan cita-cita anak, orang tua perlu memberikan pengertian sederhana tentang peran-peran yang ada di lingkungan mereka. Sampaikan dengan pola asuh yang luwes, ajak anak bertukar pikiran. Berikut contoh-contoh yang dapat dilakukan orangtua :

a. Ketika di rumah kedatangan tamu, seorang saudara yang memiliki suatu profesi tertentu, ibu-bapak dapat menjelaskan tentang pekerjaan tamu tersebut. Mintalah pada tamu tersebut untuk menjelaskan kepada anak. Tunjukkan pula alat-alat yang dimiliki dan dibawa dalam

(12)

permainan sederhana dengan anak. Selanjutnya, ibu-bapak dapat memperkuat untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang tugas mulia dari tamu tersebut. b. Ketika orangtua sedang bepergian dengan anak dan

menemukan orang-orang di jalan, ajaklah berdiskusi sederhana. Sampaikan peran dari orang tersebut dan dampak kebaikan yang ditimbulkan atas pekerjaan orang tersebut. Banyak sekali bukan yang dapat dibahas ? Ketika menemukan warung, dapat berdiskusi tentang pedagang yang membantu memenuhi kebutuhan orang banyak. Bertemu dengan polisi, dapat berdiskusi tentang manfaat adanya polisi lalu lintas. Hal yang sama dapat dilakukan ketika bertemu dengan guru, penyapu jalan, tukang cukur, tukang tambal ban atau petugas parkir.

Bukan berarti anak didorong untuk bercita-cita menjadi penyapu jalan, ataupun pencukur rambut di pingir jalan, dan sebagainya. Ibu-bapak justru perlu menekankan kepada anak kebaikan yang dilakukan seseorang melalui pekerjaannya. Apapun juga yang dilakukannya, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan maka akan mendatangkan kebaikan bagi semua orang.

Bayangkan jika orangtua tidak memiliki pengasuhan yang baik. Bisa jadi ketika bertemu pemulung ataupun pengemis malah memberikan kesan buruk agar tidak menyukai pengemis atau pemulung melalui sebuah ancaman. Misalnya,”Ananda kalau tidak mau belajar, nanti jadi seperti pengemis itu lho. Hi... jelek, kotor, dan dihina orang.”

(13)

berbeda,”Nak, kasihan pengemis itu. Dia tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi seperti ayah atau ibu. Apa yang dia lakukan ? Mengapa begitu ? Apakah untungnya menjadi seperti itu? Apakah kerugiannya ?” dan sebagainya. Percakapan tersebut akan mendorong anak untuk kelak menjadi seseorang yang dia nilai baik untuk orang lain dan sesuai dengan dirinya.

(14)

SIKAP DAN DUKUNGAN

ORANGTUA

I

bu dan bapak sebagai orangtua tentu tidak membesarkan anak asal cukup memberi makan saja. Anak perlu diberi bekal pendidikan agar menunjang keberhasilannya di masa yang akan datang. Bekal ini melihat potensi, bakat, dan minat anak. Hal-hal tersebut akan mendorong anak untuk memiliki suatu cita-cita. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan cita-cita anak, ibu dan bapak perlu memiliki sikap yang mendukung.

Sikap mendukung bertumbuh dan berkembangnya cita-cita tersebut antara lain berupa :

1. Tidak memaksakan suatu cita-cita kepada anak.

Meski ibu-bapak menjadi panutan, tidak boleh memaksakan keinginannya kepada anak. Biarkan anak

(15)

menjadi dirinya sendiri. Dalam sebuah keluarga dokter, terkadang anak-anaknya juga menjadi dokter. Demikian pula pada profesi lainnya.

Itu bukanlah sesuatu yang salah. Keinginan untuk menjadi seperti orangtuanya memang berasal dari dalam diri anak sendiri. Baik karena faktor keturunan ataupun kondisi lingkungan yang membentuk. Apabila anak memiliki cita-cita sendiri, dukunglah cita-cita itu dan berikan kesempatan untuk menumbuhkan cita-cita tersebut.

2. Menemukenali bakat dan potensi anak.

(16)

di dalam diri anak yang belum berkembang. Untuk mengembangkannya perlu perangsangan agar optimal. Untuk dapat mengenali bakat anak, orangtua perlu melakukan pengamatan, apakah anak tersebut berbakat di bidang musik, gerak, bahasa, atau matematika. Bapak dan Ibu, setiap anak memiliki beberapa kecerdasan. Berikut ini adalah macam-macam kecerdasan yang mungkin dimiliki :

a. Kecerdasan berpikir.

Kemampuan seorang anak dalam berpikir dan berhitung. Anak dengan kecerdasan berpikir yang tinggi cenderung bertanya terus menerus. Ia juga tampak lebih senang bermain dengan angka-angka. Setelah dewasa dapat diarahkan menjadi guru matematika, insinyur, ahli teknik, ahli matematika, pedagang, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.

b. Kecerdasan bahasa.

Ditandai dengan lebih cepat berbicara dibandingkan anak lain. Di usia 2 tahun, anak sudah mulai lancar menirukan kata-kata yang ditemuinya. Bahkan sudah mampu becerita tentang kejadian-kejadian sederhana di lingkungannya. Di usia 4 tahun, ia tampak senang berbicara. Teman-temannya banyak sekali. Bisa jadi guru memberikan laporan tentang putra-putri bapak ibu yang senang bercerita (ceriwis). Anak-anak ini besok kalau sudah besar sangat cocok menjadi pembawa berita, pengisi acara, guru, wartawan, penulis, pengkhotbah, pelawak, dsb.

(17)

c. Kecerdasan gerak

Anak tergolong cerdas gerak jika memiliki kelenturan otot-otot tubuh, sehingga dapat bergerak dengan lincah dan lentur. Anak dapat melakukan gerakan-gerakan aneh yang tidak semua anak dapat melakukannya. Sehari-hari ia senang sekali bergerak aktif. Ia dapat menirukan gerakan orang lain dengan sangat mirip. Itulah tanda anak cerdas gerak. Besok besar ia dapat menjadi penari, olahragawan, pesulap, guru olahraga, pelawak, dokter bedah, ahli perbengkelan, dan sebagainya.

d. Kecerdasan musik.

Peka terhadap bunyi dan irama. Anak sering bernyanyi, bersenandung atau bersiul seorang diri. Ia terbiasa menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama dan ikut bernyanyi. Peka terhadap suara di lingkungan seperti bunyi jangkrik, kodok, dan bel dari kejauhan. Mampu mendengarkan bunyi yang tidak terdengar oleh orang lain. Doronglah terus, siapa tahu suatu saat mereka akan menjadi penyanyi atau pemain musik terkenal. Memungkinkan pula menjadi pengarang lagu, guru tari, ataupun guru musik.

e. Kecerdasan berteman

Kemampuan untuk berteman dengan anak lain. Mudah bergaul, ramah, banyak berbicara, mudah bekerja sama dalam kelompok dan peduli pada orang lain. Ia dapat bermain dengan siapa saja. Ia cenderung main bersama tetangga-tetangganya di halaman rumah. Kelak ia dapat berhasil dengan kecerdasan ini. Banyak

(18)

teman akan banyak membantu dalam kehidupannya setelah dewasa nanti. Jika dilatih ia bisa menjadi ahli pemasaran, guru, pengusaha, penggagas acara, dan sebagainya.

f. Kecerdasan diri sendiri.

Kecerdasan untuk melihat diri sendiri ditandai dengan sikap pendiam dan banyak merenung. Ia senang melakukan periksa diri atas segala hal yang terjadi dan menimpa dirinya. Cenderung tertutup dan lebih suka melakukan sesuatu sendiri, bukan dalam kelompok. Meskipun ia anak yang pendiam, ia tetap menyimpan potensi yang besar. Bisa saja kelak ia menjadi penulis buku, pengamat, peramal, dan penasehat.

g. Kecerdasan gambar dan ruang.

Kecerdasan ini berhubungan dengan penglihatan dan pemahaman akan gambar dan ruang. Anak senang berpikir dalam bentuk gambar. Sangat mengenali garis, warna, permukaan dan gambar 2 dimensi ataupun 3 dimensi. Anak kuat dalam bidang seni (keindahan), senang menggambar dan mewarnai. Anak juga dapat mengenali ruang-ruang yang ada di suatu tempat dengan mudah. Setelah dewasa, mungkin ia tertarik menjadi arsitek, guru gambar, pembuat gambar, pembuat permainan anak-anak, pilot, nakhoda, dan astronot.

h. Kecerdasan alam.

Kecerdasan ini memungkinkan seorang anak mengenali alam yang ada di lingkungan. Ia sangat nyaman berada di alam terbuka seperti menumbuhkan dan memelihara tanaman, memelihara, menjinakkan,

(19)

dan bermain dengan binatang. Mudah mengenali dan membedakan berbagai jenis binatang. Dapat menirukan suara-suara binatang yang ada. Kelak ia dapat bekerja di perkebunan, pertanian, peternakan, pendaki gunung, dsb.

Setelah merenungkan pendapat ahli tentang kecerdasan-kecerdasan di atas, ibu-bapak melihat bahwa anak tidak hanya cerdas di satu bidang saja, tetapi ada bidang kecerdasan lain yang dimilikinya. Kecerdasan-kecerdasan itu memang tidak berdiri sendiri, tetapi sangat mungkin berkaitan satu dengan yang lainnya. Misal, anak yang cerdas musik biasanya juga akan cerdas gerak. Lihatlah para penari, mereka sangat lemah gemulai mengikuti irama musik yang mengiringi tariannya.

3. Mengasah dan mengarahkan cita-cita anak

Setelah mengetahui bakat dan potensi anak, ibu-bapak dapat mendorong dan membimbing anak agar apa yang diinginkannya dapat terwujud. Jangan biarkan anak tumbuh apa adanya secara alami seperti air yang mengalir. Berikan dukungan, arahan dan perangsangan agar yang dimiliki anak dapat berkembang. Motivasilah anak untuk bertanggungjawab dalam tugas-tugas sehari-harinya, agar kelak ia dapat menjadi orang seperti yang dicita-citakannya. Ajak pula anak untuk mendoakan cita-citanya agar suatu saat menjadi kenyataan. Berikan gambaran tujuan yang jelas, bahwa setelah cita-citanya tercapai, anak harus berbakti kepada Tuhan, bangsa dan negara untuk kebaikan manusia di bumi ini.

(20)

NO KECERDASANJENIS JUDUL BUKU 1 Berpikir Aku Bisa Berhitung 2 Bahasa Aku Pandai Bercerita

CARA-CARA MENUMBUHKAN

CITA-CITA PADA ANAK

1. Membacakan cerita

Membacakan cerita merupakan suatu kegiatan yang sangat berguna bagi anak. Setelah mengenal potensi anak, ibu-bapak dapat mencarikan buku-buku cerita yang menjadi minat anak. Ajaklah anak ke toko buku atau ke perpustakaan sekolah untuk mencari buku-buku cerita yang menjadi minat anak. Untuk anak yang cenderung memiliki kecerdasan visual, maka bacaan “Aku Ingin Menjadi Pilot” dapat menjadi alternatif pilihan. Berikut ini contoh judul-judul buku cerita yang dapat menjadi referensi dalam mengembangkan cita-cita anak sesuai dengan kecerdasannya

(21)

2. Bermain peran mendorong tumbuhnya cita-cita anak

Pada jam-jam senggang, ibu-bapak dapat bermain peran bersama anak. Gunakan peralatan main yang ada di rumah, atau buatan orangtua bersama anak, akan menambah per-mainan menjadi lebih seru dan semangat. Misal, seorang anak berkata bahwa ia ingin menjadi dokter. Kita dapat men-gajak anak untuk bermain dokter-dokteran. Tetangga atau adik diundang main bersama, termasuk ibu dan ayah ikut ber-main seolah-olah sedang memeriksakan anaknya yang sakit ke dokter. Diskusikan dengan anak peran-peran apa yang dibutuhkan, dan siapa yang akan memerankannya.

Ajaklah anak bermain peran jual-jualan, bermain pasaran di teras atau di belakang rumah untuk anak yang punya bakat wira usaha. Sediakan juga tas-tas kecil dan uang-uangan agar anak tahu, bagaimana konsep tentang jual beli termasuk laba dan rugi.

Berikut ini adalah kegiatan bermain peran yang dapat di-lakukan di rumah:

a. Bermain polisi lalu lintas b. Berjualan bunga

c. Menjadi nahkoda / pilot

3 Musik Musik Itu Hiburanku 4 Ruang Aku Ingin Menjadi Pilot 5 Gerak Pesulap Kebanggaanku 6 Hubungan Menjadi Anak yang Ramah

7 Diri Siapakah Aku ?

(22)

d. Nelayan menangkap ikan e. Menjadi koki

f. Membuka restoran

g. Menjadi tukang cukur (membuka salon) h. Bengkel sepeda motor

i. Persewaan sepeda, dan sebagainya

3. Mengajak kunjungan ke tempat-tempat kerja.

Pada waktu luang, orangtua perlu mengajak anak untuk bermain ke rumah saudara atau teman-teman dari orangtua. Tentunya teman yang beragam profesi pula. Tujuannya, untuk memberikan gambaran peran-peran orang dewasa. Kunjun-gan juga dapat dilakukan pada saat orang dewasa tersebut masih bekerja. Anak akan dapat melihat pakaian yang dikena-kan, peralatan yang digunadikena-kan, dan situasi yang dihadapi oleh jenis pekerjaan itu. Anak juga akan belajar tentang kegunaan adanya pekerjaan tersebut. Jika pengalaman yang dilihat ini sesuai dengan hati dan minat anak, niscaya akan mendorong anak untuk memiliki cita-cita seperti orang tersebut.

(23)

PESAN UNTUK IBU-BAPAK

A

nak usia dini perlu memiliki cita-cita, meski cita-citan-ya bisa berubah nantincita-citan-ya. Dorongan ibu-bapak san-gat diperlukan dalam rangka menumbuhkan dan me-nyuburkan rasa cinta untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Ibu-bapak dapat menumbuhkan cita-cita anak dengan mem-berikan bantuan-bantuan yang diperlukan.

(24)

BAHAN DISKUSI IBU-BAPAK

Diskusikanlah topik sehubungan dengan buku ini :

1. Pernahkah Ibu-bapak bertanya tentang cita-cita putra/ putri ibu-bapak ? Dapatkah berbagi pengalaman tentang cita-cita mereka ?

2. Menanggapi cita-cita mereka, dukungan apa saja yang bapak-ibu lakukan ?

3. Jika cita-cita mereka cukup aneh, bagaimana sikap bapak-ibu ?

(25)

Sumber Bacaan :

Bambang Trim, Kids on Bussiness – Vaksin Wirausaha

untuk Ananda. Tiga Kelana 2010.

Bunda Lucy, Mendidik Sesuai Minat Bakat Anak,

Tangga Pustaka. 2009.

Howard Gardner, Kecerdasan Majemuk (Multiple

Intelligences): Teori dalam Praktek. Interaksara. 2003.

John Maxwell C, Orang Tua Abad ke-21 : Terobosan

Menjadi Orang Tua di Zaman Sulit. Gramedia. 2010. Setiap Anak Cerdas, Thomas Armstrong, Gramedia

Pustaka Utama. 2002.

Ubaedy. Temu-Kenali Bakat Anda dan Optimalkan

Penggunaannya. Bee Media Indonesia. 2010.

Yulianti Siantayani, 20 Hari Belajar Membaca. Kriztea

(26)
(27)
(28)

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :