• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan (Sugiyono, 2011:6). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pre-experimental design. Dikatakan

pre-experimental karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat. Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya variabel kontrol, dan sampel tidak dipilih secara acak (Sugiyono, 2011:109).

3.2 Desain Penelitian

Desain yang digunakan pada penelitian pre-experimental yaitu one-group pretest-posttest. Desain ini merupakan pengembangan dari desain one-shot case study. Dimana pada desain one-group pretest-posttest terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Pada penelitian ini, keseluruhan proses dilakukan pada satu sampel penelitan, yaitu 1 kelas eksperimen saja. Tabel 3.1 menunjukkan sebuah desain dalam penelitian.

Tabel 3.1 Desain Penelitian Tahap Evaluasi

Kelompok Pre Test Treatment Pos Test

Eksperimen O1 Z O2

(Sumber : Sugiyono, 2011:111) O1 merupakan hasil dari pretest prestasi belajar siswa sebelum diberikan pembelajaran menggunakan trainer wireless microphone. Z adalah perlakuan yang diberikan dengan menggunakan trainerwireless microphone sebagai media pembelajaran. Sedangkan O2 adalah posttest merupakan prestasi belajar siswa setelah diberikan pembelajaran menggunakan trainerwireless microphone.

(2)

Salaman Haryanto,2013

3.3 Paradigma dan Variabel Penelitian

Paradigma penelitian diartikan sebagai pola pikir yang menunjukan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan (Sugiyono, 2011: 66). Gambar 3.1 menunjukkan paradigma penelitian yang dapat menjadi gambaran penelitian yang dilakukan.

Gambar 3.1 Paradigma Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:60). Variabel dalam penelitian ini diantaranya :

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah penggunaan trainer wireless microphone sebagai media pembelajaran.

2. Variabel Terikat (Y)

Penggunaan Trainer Wireless Microphone

Hasil Belajar

Pretest Treatment Posttest

Kognitif Subjek

Penelitian

Variabel X

(3)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menganalisis sistem radio pemancar FM.

3.4 Definisi Operasional

Definisi operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan istilah-istilah tertentu. Seperti yang dikemukakan Moh. Nasir (1988:52) bahwa definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan atau memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.

Adapun beberapa penjelasan definisi yang digunakan dalam judul penelitian ini, sebagai berikut :

1. Trainer Wireless Microphone

Trainer Wireless Microphone merupakan alat elektronik yang terdiri dari pemancar (Tx) yang mentransmisikan sinyal listrik dari microphone melalui gelombang radio dan ditangkap oleh penerima (Rx) sehingga suara bisa terdengar dengan alat berupa speaker. Microphone merupakan transducer yang mengubah sinyal suara menjadi sinyal listrik. Trainer ini terdapat tiga sub rangkaian diantaranya rangkaian audio amplifier, modulator dan buffer. Spesifikasi trainer wireless microphone sebagai berikut : frekuensi sistem wireless 87,5 – 108 MHz, teknik modulasi analog dengan type frequency modulation, sumber tegangan baterei AA 1,5 volt (2 buah), input jack 3,5 mm, dimensi alat 21 cm x 11,5 cm.

2. Pemahaman

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pemahaman memiliki kata dasar “paham” yang artinya sebagai pengetahuan yang banyak. Artinya pemahaman adalah tidak sekedar mengetahui tetapi pengetahuan yang mendalam.

3. Hasil Belajar

Hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2010:3). Dari pengertian tersebut hasil belajar terdiri dari tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Dapat juga dikatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki seseorang setelah menerima pengalaman

(4)

Salaman Haryanto,2013

belajar. Hasil belajar juga merupakan penilaian yang dicapai untuk mengetahui sejauh mana materi yang sudah diterima oleh siswa baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor siswa. Pada penelitian ini hanya aspek kognitif yang diukur.

3.5 Lokasi dan Objek Penelitian

Penelitian pre-experimental one-group pretest-posttest design dilakukan peneliti di SMK Negeri 12 Kota Bandung pada program keahlian Elektronika Pesawat Udara (EPU). Peneliti menggunakan media pembelajaran trainer wireless microphone sebagai ekperimen pada kompetensi dasar menganalisis sistem radio pemancar FM kelas XI.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan mengarah pada dua aspek, yaitu :

1. Aspek instruksional, meliputi tujuan standar kompetensi, pemahaman materi, keluasan dan kedalaman materi, kemudahan penggunaan media, ketepatan urutan penyajian, kecukupan latihan, interaktifitas, ketepatan evaluasi dan kejelasan umpan balik.

2. Aspek media, meliputi kemudahan memahami prinsip produk (produk dilengkapi modul), kemudahan menggunakan produk dan manfaat produk.

Ada dua teknik pengumpulan data yang mengacu pada rumusan masalah, yaitu :

1. Tes, terdiri dari pre-test dan post-test, digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dalam mengikuti pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran trainerwireless microphone.

2. Penyebaran angket, digunakan untuk mengetahui respon terkait media pembelajaran trainer wireless microphone. Angket disebarkan kepada guru sekolah dan siswa.

(5)

Penyusunan instrumen dilakukan dengan memahami variable yang akan diteliti. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat efektivitas pembelajaran dengan media trainer wireless microphone dalam penelitian ini terdiri dari tes hasil belajar (pretest dan posttest) untuk ranah kognitif. Instrumen tambahan berupa angket untuk mengetahui respon siswa dan guru terhadap penggunaan trainer wireless microphone

dalam kompetensi dasar menganalisis sistem radio pemancar FM.

3.7.1 Instrumen Tes

Sebelum instrumen tes digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba terhadap instrumen tes. Uji coba instrumen tes dilakukan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. Adapun tahapan yang dilakukan untuk uji coba instrumen sebagai berikut:

A. Uji Validitas

Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur, sebuah item (butir soal) dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total, skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah

Untuk menguji validitas item instrumen pada penelitian ini digunakan rumus korelasi product moment (Arikunto, 2011:72) dengan angka kasar sebagai berikut :

∑ ∑ ∑ √{ ∑ ∑ }{ ∑ ∑ } Keterangan : rXY = Koefisien korelasi n = Jumlah siswa

ΣX = Jumlah skor tiap siswa pada item soal ΣY = Jumlah skor total seluruh siswa

Interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi yang menunjukkan nilai validitas ditunjukkan oleh Tabel 3.2 berikut:

Tabel 3.2 Kriteria Validitas Soal

(6)

Salaman Haryanto,2013 0,81 – 1,00 0,61 – 0,80 0,41 – 0,60 0,21 – 0,40 0,00 – 0,20 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah (Sumber: Arikunto, 2011: 75)

Pengujian signifikansi koefisien validitas, selain dapat menggunakan tabel juga dapat dihitung dengan menggunakan rumus uji t (Sudjana, 2010: 146) sebagai berikut :

Keterangan :

t = nilai t hitung

n = banyaknya peserta tes

rXY = koefisien korelasi

Kriterianya adalah jika thitung positif dan thitung > ttabel maka koefisien item soal tersebut valid dan jika thitung negatif dan thitung ≤ ttabel maka koefisien item soal tersebut tidak valid, ttabel diperoleh pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan (dk) = n-2.

B. Uji Reliabilitas

Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil tes yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes berhubungan dengan masalah hasil tes atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti ( Arikunto, 2009).

Dalam menentukan reliabilitas tes dalam penelitian ini rumus yang digunakan peneliti adalah rumus K-R 20, dari Kuder dan Richardson (Sugiyono, 2007: 359) yang ditulis dalam rumus :

(

) (

) Keterangan :

(7)

ri = Reliabilitas tes secara keseluruhan st2 = Varians total

k = Banyaknya butir soal

p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah

Harga varians total (Vt) (Sugiyono, 2007: 361) dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

dimana :

Keterangan :

xt2 : varians

∑Xt : jumlah skor seluruh siswa n : jumlah siswa

Selanjutnya harga ri dibandingkan dengan rtabel. Apabila ri > rtabel, maka instrumen dinyatakan reliabel. Dan sebaliknya apabila ri < rtabel, instrumen dinyatakan tidak reliabel. Adapun interpretasi derajat reliabilitas instrumen ditunjukkan oleh Tabel 3.3 sebagai berikut :

Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas Soal

Koefisien Korelasi Kriteria Reliabilitas

0,81 – 1,00 0,61 – 0,80 0,41 – 0,60 0,21 – 0,40 0,00 – 0,20 Sangat Tinggi Tinggi Cikup Rendah Sangat Rendah (Arikunto, 2011: 75) C. Tingkat Kesukaran

(8)

Salaman Haryanto,2013

Tingkat kesukaran butir soal dapat diketahui dengan cara melihat proporsi yang menjawab benar untuk setiap butir soal (Arikunto, 2011:208), persamaan yang digunakan sebagai berikut : S J B TK  …(7) Keterangan : TK = Tingkat Kesukaran

B = Banyak siswa yang menjawab soal itu dengan benar

JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Untuk menentukan apakah soal tersebut dikatakan baik atau tidak baik sehingga perlu direvisi, digunakan kriteria seperti ditunjukkan pada Tabel 3.4

Tabel 3.4 Tingkat Kesukaran dan Kriteria

No Rentang Nilai Tingkat Kesukaran Klasifikasi

1. 0,70  TK  1,00 Mudah 2. 0,30  TK < 0,70 Sedang 3. 0,00  TK < 0,30 Sukar

(Arikunto, 2011: 210)

D. Daya Pembeda

Analisis daya pembeda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu (tinggi prestasinya) dengan siswa yang tergolong kurang atau lemah prestasinya (Sudjana, 2008).

Formulasi daya pembeda item (Arikunto, 2011: 213) dapat ditulis sebagai berikut :

(9)

D : daya pembeda

BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar JA : banyaknya peserta tes kelompok atas

JB : banyaknya peserta tes kelompok bawah

Indeks diskriminasi yang ideal adalah sebesar mungkin mendekati angka 1. Sedangkan indeks diskriminasi yang berada di sekitar 0 menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai daya diskriminasi yang rendah sedangkan harga d yang negatif menunjukkan bahwa item tersebut tidak ada gunanya sama sekali. Pada Tabel 3.5 dibawah ini menunjukkan tabel klasifikasi daya pembeda.

Tabel 3.5 Tabel Klasifikasi Daya Pembeda

Rentang Nilai DP Klasifikasi D < 0,20 0,20  D < 0,40 0,40  D < 0,70 0,70  D  1,00 Jelek Cukup Baik Baik sekali (Arikunto, 2011:218) 3.7.2 Instrumen Observasi

Instrumen observasi pada penelitian ini digunakan untuk pengambilan data sekunder penelitian yaitu respon siswa dan guru terhadap penggunaan trainer wireless microphone sebagai media pembelajaran. Untuk instrumen observasi tidak dilakukan uji coba instrumen terlebih dahulu. Instrumen observasi yang digunakan adalah sebegai berikut :

A. Respon Siswa dan Guru

Data yang didapat berupa perspektif guru dan siswa terhadap penggunaan trainer wireless microphone sebagai media pembelajaran kompetensi dasar menganalisis sistem

(10)

Salaman Haryanto,2013

radio pemancar FM. Kemudian data tersebut dijelaskan dalam bentuk deskriftif naratif. Analisis yang digunakan berupa deskriptif naratif presentase.

Keterangan : n = jumlah seluruh item angket

Untuk menentukan tingkat ketercapaian, pemberian makna, dan pengambilan keputusan digunakan tabel perbandingan berikut :

Tabel 3.6 Konversi Tingkat Ketercapain

Tingkat Pencapaian Kualifikasi

90% - 100% Sangat Baik 75% - 89% Baik 65% - 74% Cukup 55% - 64% Kurang 0 – 54% Sangat Kurang (Sudjana, 2005:107)

3.8 Teknik Analisis Data

3.8.1 Analisis Data Pretest, Posttest

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa ranah kognitif sebelum pembelajaran (pretest) dan hasil belajar siswa ranah kognitif setelah diberikan perlakuan (posttest). Berikut langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data pretest,

posttest :

1. Pemberian skor dan mengubahnya ke dalam bentuk nilai

Skor untuk soal pilihan ganda ditentukan berdasarkan metode rights only, yaitu jawaban benar diberi skor satu dan jawaban salah atau butir soal yang tidak dijawab diberi skor nol. Skor setiap siswa ditentukan dengan menghitung jumlah jawaban yang benar. Skor yang diperoleh tersebut kemudian dirubah menjadi nilai dengan ketentuan sebagai berikut :

Nilai siswa = 

(11)

3.8.2 Uji Normalitas Data

Uji normalitas data ini bertujuan untuk menguji apakah data yang diuji itu berdistribusi normal atau tidak (Sugiono, 2011). Untuk mendapatkan data yang normal maka digunakan uji distribusi chi kuadrat (X2). Pengujian data dengan (X2) dilakukan dengan membandingkan kurva normal yang terbentuk dari data yang telah terkumpul (B) dengan kurva normal baku/standar (A). Bila B tidak berbeda signifikan dengan A, maka B merupakan data yang terdistribusi normal. Seperti pada gambar, bahwa kurva normal baku yang luasnya mendekati 100% itu dibagi menjadi 6 bidang berdasarkan simpangan bakunya, yaitu tiga bidang dibawah rata-rata (mean) dan tiga bidang diatas rata-rata. Luas 6 bidang dalam kurva normal baku adalah : 2,27%; 13,53%; 34,13%; 34,13%; 13,53%; 2,27% (gambar A).

Gambar 3.2 (a) Kurva Baku Normal (b) Kurva Distribusi Data yang akan Diuji Normalitas (Sugiono, 2011)

Adapun langkah-langkah pengolahan datanya sebagai berikut :

a) Menentukan jumlah kelas interval. Untuk menguji normalitas dengan Chi Kuadrat

ini, jumlah kelas interval ditetapkan = 6, hal ini sesuai dengan 6 bidang yang ada pada Kurva Normal Baku

b) Menentukan panjang kelas interval (Sugiono, 2011)

Panjang Kelas =

c) Menghitung ke dalam tabel distribusi frekuensi, sekaligus tabel penolong untuk menghitung harga Chi Kuadrat.

Tabel 3.7 Tabel Distribusi Frekuensi

Interval fo fh fo – fh (fo – fh)2

(12)

Salaman Haryanto,2013

Keterangan :

fo : frekuensi/jumlah data hasil observasi

fh : frekuensi/jumlah yang diharapkan (persentase luas tiap bidang dikalikan dengan n)

d) Menghitung fh (Frekuensi yang diharapkan). Cara menghitung fh, didasarkan pada persentase luas tiap bidang kurva normal dikalikan jumlah data observasi (Jumlah individu dalam sampel)

e) Memasukan harga-harga fh ke dalam tabel kolom fh, sekaligus menghitung

harga-harga ( f0 - fh )2 dan

lalu menjumlahkannya. Harga adalah merupakan harga Chi Kuadrat

f) Membandingkan harga Chi Kuadrat hitung dengan Chi Kuadrat tabel dengan ketentuan :

Jika :

hitung ≤ tabel maka data terdistribusi normal hitung > tabel maka data terdistribusi tidak normal

3.8.3 Uji Hipotesis

Jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis deskriptif. Karena H0 berbunyi lebih besar atau sama dengan (≥) dan Ha berbunyi lebih kecil (<), maka uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji pihak kiri. Adapun langkah-langkah dalam pengujian hipotesis deskriptif adalah sebagai berikut :

1. Menghitung rata-rata data ( )

…..(12) 2. Menghitung simpangan baku (s) menurut Sugiyono (2007: 57)

(13)

Keterangan :

xi : nilai pada tiap siswa ̅ : nilai rata-rata n : jumlah siswa s : simpangan baku

3. Menghitung harga t menurut Sugiyono (2007: 96)

…..(14) Keterangan :

t : nilai t yang dihitung (thitung) n : jumlah anggota sampel ̅ : nilai rata-rata

μ0 : nilai yang dihipotesiskan s : simpangan baku sampel 4. Melihat harga -ttabel

5. Menggambar kurva

Gambar 3.3 Kurva Uji Pihak Kiri (Sugiyono, 2012: 100)

6. Meletakkan kedudukan thitung dan -ttabel dalam kurva yang telah dibuat (ttabel harus dibuat menjadi negatif, karena berada pada daerah kiri).

7. Membuat keputusan pengujian hipotesis

Dalam uji pihak kiri berlaku ketentuan : apabila harga t hitung jatuh pada daerah penerimaan H0 (lebih besar atau sama dengan t tabel), maka H0 diterima dan Ha ditolak.

thitung ≥ -ttabel, berarti H0 diterima thitung < -ttabel, berarti H0 ditolak

3.9 Prosedur dan Alur Penelitian 3.9.1 Tahap Persiapan Daerah penerimaan H0 Daerah penolakan H0 α -ttabel

(14)

Salaman Haryanto,2013

a. Observasi awal dilakukan untuk melaksanakan studi pendahuluan melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran dilihat dari keadaan pembelajaran, metode, serta penggunaan media pembelajaran pada kompetensi dasar menganalisis sistem radio pemancar FM.

b. Studi literatur, hal ini dilakukan untuk memperoleh teori-teori yang menjadi landasan mengenai permasalahan yang akan diteliti.

c. Menentukan sampel penelitian.

d. Membuat dan menyusun kisi-kisi instrumen tes, instrumen tes dan instrumen observasi.

e. Melakukan uji coba instrumen tes.

f. Menganalisis hasil uji coba instrumen tes dan kemudian menentukan soal yang layak digunakan untuk memperoleh hasil belajar ranah kognitif.

3.9.2 Tahap Pelaksanaan

a. Memberikan tes awal (pretest) untuk mengetahui hasil belajar siswa ranah kognitif sebelum diberikan perlakuan.

b. Memberikan perlakuan (treatment) yaitu dengan cara menggunakan trainer wireless microphone sebagai media pembelajaran.

c. Memberikan tes akhir (posttest) untuk mengetahui hasil belajar siswa ranah kognitif setelah digunakannya trainer wireless microphone sebagai media pembelajaran.

3.9.3 Tahap Pengolahan dan Analisis Data

a. Mengolah data hasil pretest dan posttest.

b. Membandingkan hasil analisis tes antara sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberi perlakuan untuk melihat apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif.

c. Mengolah data respon siswa dan guru terhadap penggunaan trainer wireless

microphone sebagai media pembelajaran.

d. Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data. e. Membuat laporan penelitian.

3.10 Waktu Penelitian

Waktu kegiatan selama melakukan penelitian sebagai berikut :

Tabel 3.8 Waktu Penelitian

(15)

Penelitian Bulan 1, minggu ke- Bulan 2, minggu ke- Bulan 3, minggu ke- Bulan 4, minggu ke- 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Persiapan Pelaksanaan Akhir

Gambar

Tabel 3.1 Desain Penelitian Tahap Evaluasi
Gambar 3.1 Paradigma Penelitian
Tabel 3.2 Kriteria Validitas Soal  Koefisien Korelasi  Kriteria Validitas
Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas Soal  Koefisien Korelasi  Kriteria Reliabilitas
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini menggunakan tes pilihan ganda ( multiple choice items ) sebagai instrumen primer untuk menguji hasil eksperimen yaitu, untuk mengetahui

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis yang berisi 8 pertanyaan uraian terbuka untuk mengukur pemahaman, penalaran dan pengambilan keputusan siswa

Lembar observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui gambaran kinerja guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran metode bercerita melalui media

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal tes penguasaan konsep berbentuk pilihan ganda sebanyak 18 soal dengan butir pilihan jawaban sebanyak

Instrumen validasi ahli merupakan instrumen yang digunakan pada tahapan validasi oleh para ahli terhadap produk multimedia pembelajaran yang dikembangkan. Ahli yang

Instrumen yang digunakan dalam DDR adalah Instrumen tes yaitu dengan menggunakan soal essay yang diberikan pada tahap tes obstacle untuk mengetahui dan memprediksi

Tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan atau daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang ingin disajikan dalam proses pembelajaran, dan tingkat pemahaman tentang

Jenis tes yang digunakan adalah tes tertulis berbentuk pilihan ganda yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dan memahaman siswa telah pembelajaran