*)
Penulis Penanggung Jawab (Em
INDUSTRI JA
Alyssa Nahla Ami
Jurusan T Jln. Prof. SudhPemanfaatan limbah ampas bahan bakar,padahal limbah itu perlu dipelajari metode limbah ampas jahe industri ampas jahe industri jamu me dalam ekstraksi oleoresin d ekstraksi menggunakan vari adalah berat ampas jahe 50 g rpm. Sedangkan variabel ber yang digunakan (etanol, n-H suhu mempengaruhi oleore oleoresin jahe yang tinggi da 5.5 jam dan suhu 40oC denga
Kata kunci: pemanfaatan lim
Utilization of ginger pulp w fertilizer and fuel, whereas t study may utilize the ging appropriate extraction techn extraction of ginger oleoresi variable used in this study i hour and stirring speed of 45 and 60 oC and types of solve of solvent and temperature produce a high yield of gin solvent type, time of 5.5 ho density (g/ ml) and a refracti
Key words : utilization of w
1. Pendahuluan
PT. Sidomuncul adalah dimana jumlah limbah padat o rempah-rempah lainnya mencap untuk pembuatan pupuk organik dimanfaatkan oleh para petani ter (PT. Sidomuncul, 2013). Padahal jahe masih memiliki kandungan komoditi yang memiliki nilai jual
(Email: [email protected])
JAMU (PT. SIDO MUNCUL) DENGA
EKSTRAKSI
mir (L2C009131) *), Puspita Firsty Lestari
n Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegodharto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7 Pembimbing: Ir. Indro Sumantri, MEng.
Abstrak
as jahe industri jamu di Indonesia saat ini hanya beru bah tersebut masih memiliki kandungan oleoresin yang de ekstraksi yang efisien untuk menghasilkan oleores tri jamu. Dengan dilakukannya studi ini diharapkan da menjadi produk berupa oleoresin, variabel yang berpen
dari limbah ampas jahe industri jamu. Penelitian d ariasi pelarut secara batch. Variabel tetap yang digun 0 gr, volume solven 300 ml, waktu ekstraksi 5,5 jam dan berubahnya adalah suhu ekstraksi (30oC, 40oC, 50 oC, da Hexane, dan aseton). Dari hasil penelitian didapat bahw resin hasil ekstraksi. Kondisi ekstraksi terbaik untuk dan bermutu baik diperoleh pada kombinasi perlakuan ngan konsentrasi oleoresin 12.2%, Berat jenis 0,955 (gr/m
limbah, ekstraksi, oleoresin jahe, solven.
Abstract
p waste from herbal medicine industry in Indonesia c s the ginger pulp still contain high oleoresin. It is expec nger dregs of herbal medicine industry to be oleore chniques, affecting operation variables and the optim esins. This research used extraction method with variou y is the weight of ginger 50 gr, volume of solvents 30 450 rpm. While the change variable is extraction temp lvent (ethanol, n-Hexane and acetone). As the result from
re variations affect oleoresin extracted. The optimum inger oleoresin and good quality obtained in the comb hours and a temperature of 40oC with oleoresin conce ctive index of 1.370.
f waste, extraction, ginger oleoresin, solvent
lah salah satu industri yang memproduksi obat herba organik yang terdiri dari ampas kunyit, jahe, temul apai 17.000kg/hari. Sampai saat ini limbah padat org nik yang digunakan untuk pemupukan tanaman di lo terutama petani binaan serta petani disekitar lingkungan hal limbah padat yang dihasilkan oleh PT. Sido Muncul, an oleoresin yang cukup tinggi yang dapat dimanfaa ual lebih tinggi seperti oleoresin jahe.
88
GAN METODE
(L2C009126)
goro)7460058
erupa pembuatan pupuk dan g cukup tinggi. Oleh karena resin berkualitas tinggi dari dapat memanfaatkan limbah engaruh dan kondisi terbaik dilakukan dengan metode unakan dalam penelitian ini dan kecepatan pengaduk 450 , dan 60oC ) dan jenis solven hwa variasi jenis pelarut dan tuk menghasilkan rendemen n jenis pelarut etanol, waktu r/ml) dan indeks bias 1.370.
a currently used for making pected that the results of this resin products, suggest the timum conditions for batch ious solvents in batch. Fixed 300 mL, extraction time 5.5 mperature 30oC, 40oC, 50 oC om the research that the type um extraction conditions to mbined treatment of ethanol ncentration of 12.2%, 0.955
rbal (jamu) di Jawa tengah, ulawak, kencur dan ampas organik hanya dimanfaatkan lokasi pabrik dan sebagian an pabrik untuk bahan bakar ul, khususnya limbah ampas faatkan lebih lanjut menjadi
Oleoresin berasal dari kata “oleo minyak dan damar yang merupak pembawa rasa. Oleoresin berb perdagangan, oleoresin dikenal s kimia yang cukup komplek susun mengandung kadar minyak atsiri zingerone, resin dan minyak atsir Dengan dilakukannya menjadi produk berupa oleoresi terbaik dalam ekstraksi oleoresin
2. Material dan Metode Penelitian
Bahan – bahan yang dig PT. Sidomuncul, Semarang, Jawa dari Toko Bahan Kimia Indrasar Limbah Jurusan Teknik Kimia dilakukan di Laboratorium Dasar Diponegoro dengan membanding Lansida, Yogyakarta.
Gambar 1. Rangkaian ala
Ekstraksi oleoresin dari menggunakan labu leher tiga 1 menggunakan motor pengaduk. digunakan pelarut dengan variasi jam dengan variasi suhu 30°C, distilasi sampai pelarut cukup ban
Penentuan berat jenis o refrektometer, dan konsentrasi berbagai konsentrasi oleoresin u dalam kurva standar log absorba oleoresin yang didapat.
3. Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian ini, oleo dengan menggunakan variasi pel diperoleh adalah sebagai berikut
3.1 Ekstrak Oleoresin Jahe
Proses ekstraksi oleores acetone) selama 5.5 jam pad semakin kuning kecokelatan
leo” yang berarti minyak dan “resin” yang berarti dam pakan campuran minyak atsiri sebagai pembawa aroma
rbentuk padat atau semi padat dan biasanya lengk l sebagai ginggerin (Ravindran et al. ,2005). Oleoresin sunan kimianya. Oleoresin berupa minyak berwarna cok iri 15 sampai 35 persen. Oleoresin jahe mengandung kom tsiri.
a studi ini diharapkan dapat memanfaatkan limbah a esin, mengetahui teknologi yang tepat, variabel yang sin dari limbah ampas jahe industri jamu.
ian
digunakan pada penelitian ini antara lain : Limbah ampa wa Tengah serta etanol teknis, n-hexane teknis dan acet sari, Semarang, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di L
ia Universitas Diponegoro, sedangkan analisa inde sar Teknik Kimia dan Laboratorium Bioproses Jurusan ingkan oleoresin hasil penelitian dengan produk oleoresi
alat ekstraksi Gambar 2. Rangka
ari ampas jahe menggunakan metode ekstraksi perkola 1000ml sebagai reaktor, pemanasan menggunakan h k. Limbah ampas jahe yang digunakan dalam penelitian asi etanol, n-hexane dan acetone sebesar 300ml dengan w , 40°C, 50°C, dan 60°C. Selanjutnya pada variabel banyak yang terecovery kembali.
s oleoresin hasil penelitian menggunakan picnometer, si menggunakan spektrofotometer dengan panjang ge untuk mendapatkan nilai absorbansinya. Kemudian ni rbansi dengan konsentrasi oleoresin untuk mengetahui
leoresin jahe dari limbah ampas jahe industri jamu (PT pelarut (etanol, n-hexane, dan acetone) pada berbagai su ut :
resin jahe dilakukan dengan menggunakan variasi pelar ada berbagai suhu. Semakin tinggi suhu ekstraksi, ekstr an sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4.1 di bawah
damar. Jadi oleoresin adalah a dan sejenis damar sebagai gket. Dimana dalam dunia in merupakan suatu gugusan cokelat tua sampai hitam dan komponen gingerol, shogaol,
h ampas jahe industri jamu ng berpengaruh dan kondisi
pas jahe yang diperoleh dari cetone teknis yang diperoleh di Laboratorium Pengolahan deks bias dan konsentrasi n Teknik Kimia Universitas esin yang diperoleh dari CV.
gkaian alat distilasi
olasi dilakukan secara batch hot plate dan pengadukan tian ini seberat 50 gram dan n waktu ekstraksi selama 5,5 el hasil ekstraksi dilakukan
r, indeks bias menggunakan gelombang 580 nm dengan nilai absorbansi dituangkan seberapa besar konsentrasi
PT. Sido muncul) di ekstrak suhu. Hasil percobaan yang
larut (etanol, n-hexane, dan strak yang didapat berwarna wah ini :
Gambar 3. Oleo Tabel 1. Per a Jenis Pelarut Su Etanol N-Hexane Aceton
3.2 Pengaruh Jenis Pelarut Ter 3.2.1 Konsentrasi Oleoresin
Pada penelitia Perbedaan masing-masin masing pelarut dalam m Menurut Dunras (1933 termasuk polar, sedang menyatakan bahwa kela pelarut dan zat terlarut. polar akan larut dalam p Dari Tabel 1 da dan acetone memberikan Hal ini dikarenakan ole pelarut polar seperti eta dibandingkan mengguna Sedangkan pad pelarut etanol yaitu 12.2 dan Othmer (1978) ba mengekstrak senyawa-s kepolaran lebih rendah, etanol.
3.2.2 Berat Jenis Oleoresin
Berat jenis ser didalamnya. Semakin b nilai densitasnya.
leoresin jahe hasil penelitian dengan variabel pelarut (eta dan acetone) dan suhu (30°C, 40°C, 50°C, dan 60°C).
erbandingan konsentrasi, berat jenis, dan indeks bias ole ampas jahe dengan variabel jenis pelarut dan suhu.
Suhu (°°°°C) Konsentrasi (%) Berat jenis (gr/ml)
30 11 0,905 40 12.2 0,955 50 11.5 0,935 60 11.3 0,910 30 5.9 0,715 40 7 0,735 50 6.7 0,675 60 6.4 0,669 30 10.3 0,910 40 11.7 0,940 50 11.3 0,920 55 10.9 0,960
Terhadap Kualitas Oleoresin Jahe sin Jahe
tian ini jenis pelarut yang digunakan yaitu etanol, asing pelarut dalam mengekstrak oleoresin dipengaruhi melarutkan komponen-komponen yang ada dalam a 33), pelarut yang mempunyai gugus hidroksil (alkoh angkan hidrokarbon termasuk dalam pelarut non pol elarutan suatu zat terlarut di dalam pelarut tergantun ut. Dimana komponen polar akan larut dalam pelarut p
pelarut non polar.
dapat dilihat bahwa pelarut yang menggunakan jenis p kan konsentrasi yang lebih besar dibandingkan pelarut n oleoresin tersusun dari banyak senyawa polar, sehingg etanol dan acetone dapat melarutkan senyawa-senyaw unakan pelarut non polar seperti n-hexane.
ada tabel 4.1, dapat dilihat bahwa konsentrasi oleores 2.2 persen, tingkat kepolaran suatu pelarut sangat mem bahwa kepolaran etanol lebih tinggi dari pada as
senyawa polar pada oleoresin lebih banyak dibandi ah, sehingga konsentrasi tertinggi didapat dengan ekstra
sin Jahe
sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-ko besar fraksi berat yang terkandung dalam oleoresin,
90 etanol, n-hexane . oleoresin Indeks bias 1.367 1.370 1.371 1.372 1.378 1.379 1.385 1.3855 1.370 1.373 1.375 1.377
ol, n-hexane, dan acetone. hi oleh kemampuan
ampas jahe industri jamu. ohol) dan karbonil (keton) polar. Martin et al. (1990) ung pada tingkat kepolaran t polar serta komponen non
s pelarut polar seperti etanol t non polar seperti n-hexane. gga ekstraksi menggunakan awa oleoresin lebih banyak
resin tertinggi diperoleh dari empengaruhi. Menurut Kirk aseton, maka etanol dapat nding aseton yang memiliki straksi menggunakan pelarut
komponen yang terkandung n, maka semakin besar pula
Oleoresin mer menggunakan pelarut or komponen: (1) gingero merupakan senyawa hom seskuiterpen hidrokarbo (Koswara, 1995). Selai gingerdiol, paradol, hek (Kimura et al., 2005; Sh Gambar 4. mer tehadap berat jenis oleo seperti etanol dan aceto seperti n-hexane. Hal in menggunakan pelarut p lebih banyak dibandingk Sedangkan pad Kirk dan Othmer (1978 mengekstrak senyawa-s kepolaran lebih rendah konsentrasi oleoresin ter
3.2.3 Indeks Bias Oleor
Indeks bias ole oleoresin yang dihasilka mempengaruhi nilai ind bergugus oksigen ikut t yang datang akan lebih s
Gamb 0.60 0.65 0.70 0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00 1.05 1.10 b e ra t je n is ( g r/ m l) 1.36 1.38 1.40 1.42 1.44 1.46 1.48 1.50 in d e k s b ia s
Gambar 4. Pengaruh jenis solven terhadap ber erupakan campuran resin dan minyak atsiri yang t organik. Komposisi kuantitatif oleoresin secara umum erol dan zingeron, senyawa turunan fenol dan keto homolog dari zingeron, (3) minyak atsiri yang kompone
bon berupa zingiberen dan seskuiterpen alkohol berupa lain itu oleoresin jahe juga mengandung komponen eksahidrokurkumin, gingerdiasetat, lemak, lilin, karbohi Shukla dan Singh, 2006).
erupakan visualisasi fenomena ekstraksi yang menunjuk leoresin jahe. Dapat dilihat bahwa pelarut yang menggu etone memberikan berat jenis yang lebih besar diband ini dikarenakan oleoresin tersusun dari banyak senyawa t polar seperti etanol dan acetone dapat melarutkan se
gkan menggunakan pelarut non polar seperti n-hexane. ada pelarut polar, tingkat kepolaran suatu pelarut sanga 978) bahwa kepolaran etanol lebih tinggi dari pada a senyawa polar pada oleoresin lebih banyak dibandi dah, sehingga berat jenis tertinggi juga didapat dar tertinggi yaitu dengan ekstraksi menggunakan pelarut et
eoresin Jahe
oleoresin berhubungan erat dengan komponen-kompo lkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai t tersuling, maka kerapatan medium oleoresin akan be ih sukar untuk dibiaskan.
mbar 5. Pengaruh jenis solven terhadap indeks bias oleo 0.60 0.65 0.70 0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00 1.05 1.10 30 35 40 45 50 55 60 suhu (°°°°C) etanol n-hexane 1.063 30 35 40 45 50 55 60 suhu (°°°°C) etanol n-hexane
erat jenis oleoresin
g diperoleh dari ekstraksi m tersusun oleh komponen-to-fenol, (2) shogaol yang onen utamanya tersusun dari upa zingiberol, dan (4) resin en-komponen minor seperti ohidrat, vitamin, dan mineral
jukan pengaruh jenis pelarut ggunakan jenis pelarut polar andingkan pelarut non polar wa polar, sehingga ekstraksi senyawa-senyawa oleoresin
gat mempengaruhi. Menurut aseton, maka etanol dapat nding aseton yang memiliki are pelarut yang memiliki etanol.
ponen yang tersusun dalam en penyusun oleoresin dapat tai panjang atau komponen bertambah sehingga cahaya
leoresin xane
oleoresin yang diekstrak dibandingkan dengan oleo bias oleoresin yang diper pelarut etanol, 1,37 untuk yang didapat dari ekstraks sisa pelarut pada oleores menguap yang lebih tingg hexane yang teruapkan da dan menyebabkan indeks b
Sedangkan ind dikarena titik didih aceton oleoresin dari pada pelaru didih 78oC dan aceton titik
3.3 Pengaruh Variasi Suhu Ter 3.3.1 Konsentrasi Oleore
Proses ekstraks yang tinggi. Kenaikan suh lebih mudah mengalir dan molekul pelarut semakin c Selain itu, k memudahkan pelarut untu Oleh karena itu, oleoresin massa solut dari padatan u
Dari Gambar meningkat seiring denga kosentrasi tertinggi pada s mengalami penurunan. H oleoresin yang tidak tahan oleoresin yaitu gingerol shogaol pada suhu di atas
3.3.2 Berat Jenis Oleores
Proses ekstraks jenis yang tinggi. Hal terse akan teruapkan dan hilang atsiri dapat menguap pad ekstraksi. Jika suhu ekstra merupakan senyawa yang
k dengan pelarut n-hexane mempunyai nilai indeks b leoresin yang diekstrak dengan pelarut etanol dan aceto peroleh antara 1,369 untuk oleoresin yang didapat dar uk oleoresin hasil ekstraksi menggunakan pelarut aceton aksi menggunakan n-hexane. Perbedaan indeks bias ini resin hasil ekstraksi tersebut. Karena n-hexane memp ggi dari etanol dan acetone maka pada proses penguapa dari pada etanol dan acetone sehingga sisa n-hexane pa
s bias oleoresin tersebut lebih besar.
indeks bias oleoresin pada pelarut aceton lebih besar ton lebih rendah dibanding etanol, maka pelarut aseton arut etanol. Parry dan Dongreen (1969) menyebutkan ba itik didihnya 56oC.
erhadap Kualitas Oleoresin Jahe resin Jahe
aksi oleoresin dengan suhu yang tinggi dapat menghasi uhu akan menyebabkan viskositas pelarut semakin rend an dengan kecepatan pengadukan yang sama pelarut ak n cepat dan acak) sehingga makin mudah untuk mengeks kenaikan suhu menyebabkan pori-pori padatan ntuk berdifusi masuk ke dalam pori-pori padatan jahe sin yang berinteraksi semakin besar dan menyebabka n umpan menuju pelarut semakin besar (Treyball, 1981). ar 4, dapat dilihat bahwa konsentrasi oleoresin dala gan naiknya suhu. Suhu 40°C merupakan suhu opt a semua jenis pelarut. Namun pada suhu 500C dan 60 Hal itu disebabkan semakin tinggi suhu juga dapat an pada suhu di atas 450C (U.S. Patent No. 10/496885). l akan mengalami dekomposisi dan sebagian ginger as 45oC (Gaedcke, 2005).
resin Jahe
aksi oleoresin dengan suhu yang tinggi dapat menghasilk rsebut dikarenakan pada suhu yang tinggi fraksi ringan ng, sehingga yang tertinggal hanya fraksi berat. Menuru pada suhu kamar dan penguapan akan semakin besa straksi tinggi maka akan mudah terbentuk resin yang l ng tidak menguap.
92 s bias yang lebih besar bila etone. Rata-rata nilai indeks dari ekstraksi menggunakan ton dan 1,38 untuk oleoresin ini dipengaruhi oleh adanya mpunyai kemampuan untuk pan pelarut, lebih banyak pada oleoresin lebih sedikit
ar dari etanol, hal tersebut on lebih cepat teruapkan dari bahwa etanol memiliki titik
asilkan konsentrasi oleoresin endah, dengan begitu pelarut
akan lebih turbulen (gerakan ekstrak oleoresin.
an mengembang sehingga he dan melarutkan oleoresin. bkan terjadinya perpindahan 1).
alam pelarut hasil ekstraksi optimum yang memberikan
600C, konsentrasi oleoresin at menyebabkan kerusakan 5). Senyawa utama penyusun erol akan berubah menjadi
silkan oleoresin dengan berat an (zat volatil) dari oleoresin urut Ketaren (1985), minyak esar dengan kenaikan suhu g lebih banyak dan resin ini
Gam Dari Gambar 6 dimana berat jenis oleor merupakan suhu optimum tetapi berat jenis mengalam yang tidak tahan pada terdekomposisi dan sebag mengakibatkan penurunan
3.3.3 Indeks Bias Oleores
Gamb
Hubungan anta Nampak bahwa peningkat Kenaikan indeks bias ini Semakin tinggi suhu ekstr oleoresin akan semakin se
Formo et al (1 komposisi senyawa orga panjangnya rantai karbon menambahkan bahwa nil (oleoresin).
3.4 Menentukan Kondisi O
Pada penelitian ekstrak dengan mengguna penelitian ini adalah etano
0.60 0.65 0.70 0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00 b e ra t je n is ( g r/ m l) 1.355 1.360 1.365 1.370 1.375 1.380 1.385 1.390 in d e k s b ia s
mbar 6. Pengaruh variasi suhu terhadap berat jenis oleo r 6. dapat dilihat bahwa suhu memberikan pengaruh te eoresin hasil ekstraksi meningkat seiring dengan na um yang memberikan hasil berat jenis tertinggi pada s lami penurunan pada suhu di atas 40°C. Hal ini dikaren a suhu di atas 45°C dimana komponen utamany bagian gingerol akan berubah menjadi shogaol pada
an berat jenis oleoresin (Gaedcke, 2005).
resin Jahe
mbar 7. Pengaruh variasi suhu terhadap indeks bias oleo
ntara variasi suhu dengan indeks bias oleoresin jahe dap katan suhu ekstraksi juga diikuti dengan meningkatnya i ini dipengaruhi oleh adanya sisa pelarut pada oleoresi
straksi maka semakin banyak pelarut yang teruapkan s sedikit dan menyebabkan indeks bias oleoresin tersebut (1979) menyatakan bahwa nilai indeks bias berhubun ganik didalam suatu bahan. Indeks bias akan meni bon senyawa organik dan jumlah ikatan rangkap. Se
nilai indeks bias semakin besar dengan meningkatnya
i Operasi Optimum
ian ini, oleoresin jahe dari limbah ampas jahe industri j unakan variasi pelarut pada berbagai suhu. Jenis pela anol, n-hexane dan aceton. Pertimbangan-pertimbangan
etanol n-hexane acetone
etanol n-hexane acetone
leoresin
terhadap kinetika ekstraksi, naiknya suhu. Suhu 40°C a semua jenis pelarut. Akan renakan kerusakan oleoresin nya yang berupa gingerol da suhu di atas 45°C yang
leoresin
dapat dilihat pada Gambar 7, a indeks bias oleoresin jahe. esin hasil ekstraksi tersebut. n sehingga sisa pelarut pada ut semakin besar.
bungan dengan struktur dan eningkat dengan bertambah Sedangkan Affandi (1993) nya kerapatan minyak atsiri
i jamu (PT. Sido muncul) di elarut yang digunakan pada gan untuk menentukan jenis
30°C 40°C 50°C 60°C 30°C 40°C 50°C 60°C
(biaya produksi) terutama bahwa konsentrasi oleores etanol memiliki tingkat k polar. Sehingga etanol ma hexane.
Penentuan suhu variasi suhu 30 oC, 40 oC didapatkan suhu optimal suhu di atas 45°C, terjad karena itu dapat disimpu dilakukan dengan menggu
4. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ya sehingga pelarut dengan polarita jenis pelarut yang lain (aceton da semakin banyak namun juga dap Suhu 40°C merupakan suhu opti ekstraksi terbaik untuk menghas kombinasi perlakuan jenis pelaru Berat jenis 0,955 (gr/ml) dan inde
5. Daftar Pustaka
Adisoemarto, S. 1992. Indonesia dan Lingkungan Hidup R Affandi, H. 1993. Aspek Teknol
IPB Bogor.
Anonim, Federal Food, Drug and Anonim, Product Spesification O Anonim, 2012. 7 Alasan Orang M
memilih-obat-herbal/ pa Bernardini, E. 1983. Raw Materia Cripps, M. H. 1973. Spice Ole Conference On Spices. T Engineered Indonesian Essenti
http://ferry-atsiri.blogspo Formo, M.W., E. Jungermann, F.
John Wiley and Sons, T Gaedcke, F. and Feistel, B., (2005 Gamse, T., 2002, ―Liquid-Liqu Environmental Engineer Kementrian Negara Riset
http://rembulansabit.wor Ketaren, S. 1985. Pengantar Tekn Kirk, R. E. dan D. F. Othmer Encyclopedia Inc., New Koeswara. S. 1995. Jahe dan Has Martin, A.M., Swarbrick, J dan C Matondang, I., 2005. Zingiber off
3.
Perry, R.H.D., 1984. “Perry’s Edition, Japan.
Pruthi, J. S. 1980. Spices and Con Purseglove, J. W, E. G. Brown, C
York.
ma jika diterapkan pada skala industri. Berdasarkan has resin tertinggi diperoleh dari pelarut etanol yaitu 12.2 p t kepolaran paling tinggi, dan komponen pada oleores mampu mengekstrak oleoresin lebih banyak dibanding
uhu optimal pada proses ekstraksi oleoresin jahe dilaku C, 50 oC,dan 60oC. Berdasarkan konsentrasi oleores l proses ektraksi oleoresin jahe yaitu pada suhu 40 oC. jadi kerusakan komponen penting yang terdapat dalam
pulkan bahwa kondisi operasi optimum pada proses gunakan pelarut etanol selama 5.5 jam pada suhu 40oC.
yang dilaksanakan didapatkan oleoresin tersusun dar itas yang tinggi (etanol) dapat mengekstrak oleoresin le dan n-hexane). Semakin tinggi suhu maka jumlah oleo apat menyebabkan kerusakan oleoresin yang tidak taha ptimum yang memberikan kosentrasi tertinggi pada sem hasilkan rendemen oleoresin jahe yang tinggi dan berm larut etanol, waktu 5.5 jam dan suhu 40oC dengan kon ndeks bias 1.370.
sia Country Study On Biological Diversity. Kantor Ment p Republik Indonesia. Jakarta
nologi Proses Produksi Minyak Atsiri dan Oleorisin Jah nd Cosmetic Regulation
Oleoresin 708, indesso.
g Memilih Obat Herbal. Diakses melalui http://info-kes pada 12 Juni 2012 pukul 19:35
erial And Extraction Techniques, volume 1, Interstampa, Oleoresin: The Process, The Market and The Future s. Tropical Product Institute., London.
ntial Oil Heritage.2007.Parameter kualitas minyak spot.com/2007/11/parameter-kualitas-minyak-atsiri.html , F.A. Norris and N. Sonntag. 1979. Bailey's Industrial O , Toronto.
(2005), ―Ginger Extract Preparationǁ, U.S. Patent No. 10/ iquid Extraction and Solid-Liquid Extraction, Institute eering, Graz University of Technology, hal. 2-24. et dan Teknologi Republik Indonesia, 20
ordpress.com pada 12 Juni 2012 pukul 19:35 eknologi Minyak Atsiri. UI-Press, Jakarta.
er. 1952. Encyclopedia of Chemical Technology, V ew York.
asil Olahannya. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. n Cammarata, A.1990. Farmasi Fisik. Terjemahan Yoshi officinale L.ǁ, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumb ’s Chemical Engineers Handbook”. Six edition, Mc
ondiments, Chemistry, Microbiology, Thechnology. Ac , C. L. Green dan S. R. J. Robbins. 1981. Spices, Volum
94 hasil penelitian dapat dilihat persen. Hal ini dikarenakan resin sebagian besar bersifat ngkan pelarut aceton dan
n-kukan dengan menggunakan resin yang dihasilkan, maka C. Hal ini dikarenakan pada lam oleoresin tersebut. Oleh es ekstraksi oleoresin jahe,
dari banyak senyawa polar, lebih banyak dibandingkan leoresin yang terekstrak pun han pada suhu di atas 450C. semua jenis pelarut. Kondisi ermutu baik diperoleh pada onsentrasi oleoresin 12.2 %,
enteri Negara Kependudukan Jahe di Balittro. Skripsi S-I.
esehatan.net/7-alasan-orang-pa, hal. 331-333.
ure. In Proceedings of The ak atsiri. Diakses melalui tml pada 25 Juni 2012 09.00 l Oil and Fat Products. Vol I. 10/496885.
ute of Thermal Process and 2006. Diakses melalui
Vol. IX. The Interscience
shita. UI Press. Jakarta. mbuhan Obat UNAS, hal.
2-c Graw Hill, International Academic Press, New York.
Ramadhan, E., Ahmad dan Pha Ekstraksi Oleoresin Jahe Ravindran, P.N., and Babu, K. N Risdianto, D. 2007. Optimisasi P Kasus Pt. Sido Muncul ) Sazalina. 2005. “Optimisation O
Roscoe (Ginger) Oleore Natural Resources Engin Sediawan, W.B., 2000. Berbagai
Nuklir , vol.5, hal. 10-11 Somaatmadja, D. 1981. Prospek
Industri Hasil Pertanian, Stahl, W. H. 1973. Oleoresin Qu
Inst., London.
Sukandar E. Y. 2004. Sembilan http://rembulansabit.wor Sutianik. 1999. Pengaruh Suhu P (Zingiber officinale, Ros The Essentials Oil Association of Treyball, R.E., 1981, Mass-Trans Yuliani. S, Hermani dan Anggrae Wikipedia.2010.Acetone. Diakse Wikipedia.2010.Etanol. Diakses Wikipedia.2010.Hexane. Diakses
Phaza, A., 2010. Pengaruh Konsentrasi Etanol, Suhu ahe (Zingiber Officinale Rosc) secara Batch. Teknik Kim
N. 2005. Ginger The Genus Zingiber, CRC Press, New i Proses Koagulasi Flokulasi Untuk Pengolahan Air Lim ul ). Teknik Kimia, Undip.
Of Operating Parameters For The Removal Of Ethanol oresin Using Short-Path Distillation”, Master Thesis, gineering, Universiti Teknologi Malaysia, hal. 42-46. gai Teknologi Proses Pemisahan, Prosiding Presentasi
11.
k Pengembangan Industri Oleoresin di Indonesia. Komu an, Bogor.
Quality Analysis, Fact or Fancy. Proc of The Confere ilan Tanaman Obat Unggulan Hasil Uji Klinis Bada
ordpress.com pada 12 Juni 2012 pukul 19:35
u Pengeringan dan Ukuran Bahan Terhadap Rendemen oscoe). Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian of America (EOA)
ansfer Operations, 3rd ed, Mc Graw-Hill, New York, hal raeni. 1991.Aspek Pasca Panen Jahe. Edsus Littro,VIII ( ses melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Acetone pada 1 es melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Etanol pada 12 J ses melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Hexane pada 12
hu dan Jumlah Stage Pada imia, Undip.
w York, hal. 87-90.
imbah Industri Jamu ( Studi nol From Zingiber Officinale is, Faculty of Chemical and si Ilmiah Daur Bahan Bakar munikasi no. 21. Balai Besar rence of Spices Trop. Prod. dan POM. Diakses melalui en dan Mutu Oleoresin Jahe ian Bogor, Bogor.
hal. 717-723. I (1).30-37p.
a 11 Juni 2012 pukul 13:11 2 Juni 2012 pukul 19:35 12 Juni 2012 pukul 19:35