PENYEBARAN UBI KAYU DI JAWA PADA MASA KOLONIAL
Haryono Rinardi
Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Kampus Tembalang. Jln. Prof. Soedarto, SH.
e-mail : [email protected]
Abstrak
Melalui penggunaan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu; heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi dan historiografi, artikel singkat ini bertujuan untuk membahas perkembangan ubi kayu di P. Jawa selama periode 1900-1940. Artikel ini mencoba menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan ubi kayu berkembang luas di P. Jawa. Penelitian ini menemukan bahwa ubi kayu telah berkembang menjadi tanaman pangan ketika penduduk P. Jawa membutuhkan bahan pangan alternatif bagi beras. Ubi kayu dipilih menjadi bahan pangan alternatif karena mampu tumbuh dalam berbagai kondisi tanah kritis, seperti lahan kering, kurang subur. Hal yang lebih penting lagi adalah ubi kayu bukanlah tanaman musiman, sehingga dapat dibudidayakan dan dipanen sepanjang tahun. Ubi kayu menjadi sebuah peluang baru di bidang ekonomi bagi penduduk P. Jawa ketika terjadi krisis ekonomi.
Kata kunci: ubi kayu, peluang ekonomi baru, dan krisis ekonomi.
CASSAVA’S SPREAD OUT IN JAVA ON COLONIAL PERIOD
Abstract
By using historical method, this short papers aims to discusses development Cassava at Java from 1900-1940 and tried to explain factors that’s drive cassava to spread out at Java. The cassava was developed into a food plant at Java whenever people need substitute food again rice. The cassava choisen because that was going to growth in several critical soil circumstaces, such as in very dry areas, on marginal lands, and that’s crop was not seasonal and could cultivated dan harvested throughtout the year. The cassava became new economic opportunity for javannese people’s when economic crisis coming.
Keywords: casaava, new economic opportunity, and economic crisis.
I. PENDAHULUAN
Salah satu tanaman yang memiliki peran unik dalam khasanah historiografi Indonesia adalah ubi kayu. Ubi kayu dikenal sebagai tanaman yang ambigu dalam kajian sejarah pertanian Indonesia (Eng, 1993:179). Hal itu disebabkan ubi kayu bukan saja berperan sebagai tanaman pangan, tetapi juga merupakan tanaman perdagangan yang banyak diekspor ke berbagai negara pada masa kolonial (Rinardi, 2002:119-156). Pada masa itu, ubi kayu bukan saja ditanam oleh petani secara mandiri, tetapi banyak dibudidayakan oleh perusahaan perkebunan. Hal yang menarik adalah tanaman itu pada awalnya justru banyak dibudidayakan oleh pihak yang terakhir, dibanding petani.
Ubi kayu sesungguhnya bukan tanaman asli Indonesia, tanaman itu baru berkembang pada awal abad XX. Ubi kayu berasal dari Amerika Selatan yang tumbuh secara liar di hutan. Ubi kayu dapat tersebar ke seluruh dunia berkat jasa orang-orang Portugis. Mereka membawanya ke Afrika, Madagaskar, India, dan bahkan Indonesia, khususnya di Maluku. Meskipun demikian, beberapa temuan menunjukkan bahwa penduduk di Pulau Jawa belum mengenal ubi kayu sebagai salah satu tanaman pangan maupun perdagangan. Boomgard, dalam appendix-nya secara tidak langsung menunjukkan hal itu (Boomgaard, 1989: 220-228). Ubi kayu sama sekali tidak masuk dalam kajian mengenai tanaman-tanaman yang dibudidayakan penduduk Jawa pada periode awal abad XIX. Ubi kayu sama sekali tidak disebut sebagai tanaman yang ditanam di sawah maupun
tegalan (Boomgaard, 1989:13). Dengan demikian, jelas bahwa ubi kayu belum berkembang dan dibudidayakan oleh penduduk Jawa pada awal abad XIX.
Ubi kayu mulai dibudidayakan secara serius oleh pemerintah kolonial pada pertengahan abad XIX, sebagai antisipasi banyaknya gagal panen tanaman padi. Pada masa itu, pemerintah kolonial menganjurkan penduduk menanam ubi kayu, jagung dan kacang-kacangan untuk mengatasi paceklik (De Vries, 1978:295). Pemerintah kolonial kemudian mengembangkan ubi kayu melalui Balai Penelitian Tanaman yang ada di Bogor. Pemerintah mengimpor bibit ubi kayu dari Karibia, yaitu Kepulauan Antilen Kecil, karena varietas ubi kayu yang ada di Indonesia dianggap kurang baik. Melalui usaha dari lembaga yang ada di Bogor itu, diperoleh varietas ubi kayu yang baik.Pada tahun 1854, atas inisiatif Balai Penelitian Tanaman para residen di Jawa dan Palembang diundang guna mengetahui perkembangan tanaman ubi kayu dan mengembangkannya di daerahnya. Tujuannya agar ubi kayu dapat ditanam oleh penduduk lokal sehingga bermanfaat menjadi tanaman pangan yang fungsinya sebagai bahan pangan pengganti atau bahan pangan tambahan pada masa kelangkaan bahan pangan utama, yaitu beras. Dengan cara itu diharapkan masalah kekurangan pangan dan bahaya kelaparan yang selalu ada pada saat kemarau panjang dapat diatasi.
Tanaman ubi kayu mulai menemukan momentumnya, ketika terjadi persoalan ekonomi. Pada saat kebutuhan hidup terus meningkat, sedangkan pendapatan nyaris tidak mengalami penambahan atau bahkan cenderung berkurang. Penduduk mencari tanaman alternatif yang mampu tumbuh hampir pada setiap tempat. Tanaman itu juga mampu berkembang meskipun tidak memperoleh perawatan yang maksimal. Dalam kondisi yang seperti itulah ubi kayu menjadi pilihan yang realistis guna dibudidayakan. Ubi kayu masih mampu hidup dan berkembang dalam segala kondisi, misalnya di lahan kering, kurang subur atau bahkan di daerah dengan ketinggian di atas 1000 meter. Ubi kayu bukan jenis tanaman musiman, sehingga dapat ditanam dan dipanen sepanjang tahun (Eng, 1993:181).
Meskipun ubi kayu memiliki kelebihan seperti itu, terdapat satu kelemahan yang melekat pada tanaman itu. Ubi kayu seringkali memperoleh konotasi sebagai tanaman inferior. Hal itu disebabkan kandungan proteinnya yang lebih rendah dibanding beras. Kondisi itu menyebabkan ubi kayu harganya jauh lebih rendah dibanding beras. Dengan keadaan itu, peningkatan konsumsi ubi kayu seringkali dijadikan indikasi terjadinya penurunan kemakmuran penduduk. Sebaliknya peningkatan konsumsi beras dalam masyarakat dapat dijadikan sebagai indikasi bertambahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Dengan asumsi itu, secara tidak langsung telah dibangun
hubungan antara tingkat kemakmuran penduduk dengan perkembangan budidaya dan konsumsi ubi kayu.
Berdasar pada latar belakang di atas, permasalahan utama dalam makalah sederhana ini adalah untuk mengetahui hubungan fungsional antara budidaya ubi kayu dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat Jawa pada awal abad XX. Dengan permasalahan itu, menarik untuk dikaji perkembangan sosial ekonomi masyarakat Jawa selama periode awal abad XX. Bagaimana perkembangan kondisi ekonomi di Jawa selama periode itu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat Jawa itu sendiri. Pembahasan yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui bagaimana dinamika perkembangan budidaya ubi kayu selama 40 tahun, yaitu mulai tahun 1900 sampai tahun 1940. Selama empat puluh tahun itu, akan dicoba dikaji periode yang menunjukkan perkembangan dinamis budidaya ubi kayu di Jawa. Dengan menghubungkannya terhadap tingkat perkembangan ekonomi masyarakat, khususnya penduduk Jawa. Indikator yang dicoba untuk diketahui adalah tingkat persediaan, konsumsi dan harga beras yang merupakan bahan pangan utama masyarakat Jawa. Dengan cara itu makalah ini mencoba membuktikan kebenaran asumsi dasar yang menyebutkan bahwa budidaya ubi kayu berhubungan positif dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Makalah ini adalah kajian mengenai sejarah pertanian, khususnya perkembangan budidaya ubi kayu di Jawa selama masa awal abad XX. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah metode sejarah yang berjalan dalam beberapa tahap (Gottschalk, 1975:32 & Garraghan, 1975:33) Pertama dikenal sebagai heuristik, yaitu proses mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah, baik primer maupun sekunder yang berkaitan dengan penulisan makalah ini. Pada tahap pertama ini sekaligus juga berjalan tahap kedua, yaitu kritik yang dilakukan dengan memperhatikan pernyataan-pernyataan yang ada dalam sumber sejarah. Hal itu sangat penting bagi penulisan makalah ini, karena berbagai data statistik harus diberlakukan secara hati-hati, bahkan perlu dilakukan koraborasi (Gottschlak, 1975:114-116), yaitu membandingkan dua sumber dengan pokok persoalan yang sama.
Beberapa sumber penting yang digunakan dalam penulisan adalah Koloniaal Verslag,Indisch Verslag dan Statistich Jaaroverzich van Nederlandsch-Indie. Ketiga sumber itu merupakan laporan resmi pemerintah kolonial yang dikeluarkan setiap tahun. Statistich Jaaroverzich van Nederlandsch-Indie merupakan sumber yang memuat data statistik, termasuk juga masalah sosial ekonomi di Hindia Belanda. Sedangkan Koloniaal dan Indisch Verslag memuat data-data yang bersifat kualitatif. Berbagai pernyataan tentang masalah sosial ekonomi termuat di dalamnya, termasuk pula data tentang perkembangan budidaya ubi kayu. Sumber penting lainnya adalah
Economisch Weekblad, yang merupakan mingguan dengan agenda utama perkembangan ekonomi di Hindia Belanda. Oleh karena itu, perkembangan masalah ubi kayu dari sudut ekonomi ada di dalamnya. Harga berbagai macam produk ubi kayu dapat diketahui dari majalah itu. Selanjutnya adalah Statistical Pocket Book of Indonesia, yang merupakan kumpulan data statistik dari Badan Pusat Statistik.Informasi di dalamnya sangat membantu guna memahami perkembangan ubi kayu di Hindia Belanda. Statistik ekspor produk-produk ubi kayu dan negara tujuannya ada di dalam
Statistical Pocket Book of Indonesia. Sumber ini penting guna memahami dinamika ubi kayu di Jawa selama masa kolonial.
Setelah melakukan heuristik dan kritik, maka akan diperoleh pemahaman mengenai fakta yang ada. Ada beberapa fakta yang dapat diperoleh pada tahap ini. Pertama, ubi kayu bukanlah tanaman asli Indonesia. Kedua, ubi kayu berkembang sebagai tanaman pangan di Pulau Jawa ketika terjadi depresi ekonomi yang melanda dunia 1930-an. Ketiga, faktor ekonomi menjadi penyebab utama ubi kayu berkembang di Pulau Jawa. Tahap ketiga adalah interpretasi atau menafsirkan fakta. Terdapat dua cara dalam menginterpretasikan fakta. Pertama adalah dengan cara menganalisis atau menguraikan fakta. Kedua adalah dengan melakukan sintesis atau menyatukan fakta. Pada tahap ini data-data yang dikelompokkan kemudian disatukan, sehingga dapat disimpulkan (Suhartono, 2014:56). Tahap terakhir adalah historiografi atau proses menyusun data menjadi sebuah tulisan yang sistematis sehingga dapat dipahami sebagai sebuah tulisan ilmiah.
II. Hasil dan Pembahasan
1. Perkembangan Ekonomi Indonesia
Ekonomi Indonesia, terutama Jawa memperlihatkan gambaran yang dinamis. Selalu ada perkembangan kenaikan atau penurunan ekonomi. Hal itu tentu saja berpengaruh terhadap masyarakat, terutama penduduk Bumiputera. Dalam jangka waktu satu abad terakhir terdapat perkembangan yang dinamis dalam ekonomi Indonesia. Sebuah periodisasi yang luas mengindikasikan bahwa tahun 1900-1929 dan kemudian periode 1970-1985 adalah masa ekspansi ekonomi. Sedangkan periode 1880-1900 dan 1930-1970 adalah masa kemandegan (Mackie, 2002:426). Berbagai literatur menunjukkan bahwa periode antara 1880-an sampai awal abad XX tingkat kemakmuran di Indonesia mengalami penurunan (Creutzberg & van Laanen, 1987: 119). Hal yang sama terulang lagi sejak 1930, terjadinya resesi ekonomi dunia telah memukul Indonesia yang merupakan penghasil bahan mentah dunia. Tidak adanya negara pengimpor produk ekspor Indonesia membuat produksi Indonesia tidak laku di pasar dunia. Hasil perkebunan Indonesia menumpuk karena tidak ada yang membeli, akibatnya banyak perusahaan perkebunan yang bangkrut karena produksinya tidak ada yang membeli. Keterpurukan ekonomi perkebunan Indonesia terus berlanjut karena munculnya Perang Dunia II. Situasi itu terus berlanjut karena adanya Perang Kemerdekaan yang telah menghancurkan infrastruktur ekonomi nasional. Setelah itu, salah urus dan tidak adanya perhatian terhadap pembangunan ekonomi telah menyebabkan mandegnya ekonomi nasional. Tingkat produksi mengalami penurunan dibanding sebelumnya. Dengan dasar kondisi itu dapat diketahui berbagai macam perubahan penting dalam ekonomi di Hindia Belanda yang kemudian berkembang menjadi Indonesia.
Akhir abad XIX penduduk Pulau Jawa mengalami kesulitan ekonomi karena berbagai masalah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan di kalangan penduduk Bumiputera di Jawa. Pertama, tingginya angka pertumbuhan penduduk di Jawa yang tidak sebanding dengan persediaan lahan pertanian. Kedua, tingginya kebutuhan uang tunai di kalangan penduduk pedesaan. Hal itu dapat memicu timbulnya utang-piutang yang ujungnya akan merugikan penduduk Bumiputera. Ketiga, sebagai akibat pendapatan penduduk yang bersifat periodik menyebabkan mereka rentan terhadap “guncangan” secara ekonomis. Keempat menurunnya pendapatan penduduk yang diperoleh dari perusahaan perkebunan, baik berupa upah kerja, sewa tanah dan penyerahan hasil tanaman. Kelima depresiasi mata uang oleh Pemerintah
Kolonial. Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah saat itu belum ada lembaga simpan pinjam resmi (Rinardi, 2011:51).
Munculnya industri gula sintetis yang menyebabkan anjloknya harga gula hingga 50% dibanding masa sebelumnya. Situasi itu masih ditambah oleh penyakit sereh pada tanaman tebu (Gonggrijp, 1928:179). Dengan kondisi itu industri gula mendapat pukulan telak, tetapi yang paling merasakan menderita adalah penduduk Bumiputera yang nasibnya tergantung pada industri gula. Tindakan pemerintah dengan melakukan devaluasi mata uang bukannya menolong tetapi justru memperparah krisis ekonomi yang melanda Jawa. Jatuhnya nilai tukar gulden Hindia Belanda telah membuat keuntungan para pengusaha perkebunan yang merupakan pengusaha asing menjadi berkurang. Mereka kemudian menjauhi Jawa sebagai tempat untuk berinvestasi. Jawa bukan tempat yang menguntungkan untuk berinvestasi. Semuanya sangat merugikan penduduk Bumiputera, oleh karena itu tidak salah apabila periode 1880-1900 dianggap sebagai periode kemandegan dalam perkembangan ekonomi di Indonesia.
Perbaikan ekonomi mulai terjadi memasuki abad XX. Perang Aceh sudah berakhir, sehingga tidak lagi menguras keuangan pemerintah. Konsentrasi Pemerintah Kolonial dapat lebih ditujukan kepada masalah sosial ekonomi penduduk Bumiputera. Berbagai kebijakan baru di bidang sosial ekonomi diambil Pemerintah Kolonial demi mengatasi situasi yang menekan masyarakat Bumiputera. Hasilnya, terjadi “geliat” ekonomi di Indonesia memasuki awal abad XX. Dekade kedua abad XX ekonomi Indonesia mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan. Beberapa indikasi ekonomi makro jelas menunjukkan adanya perbaikan ekonomi dibanding periode sebelumnya.
Memasuki dekade kedua abad XX, nilai ekspor-impor Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Hal yang menarik adalah nilai ekspor Indonesia terus meningkat, yang tidak kalah penting adalah surplus neraca perdagangan Indonesia juga ikut bertambah hingga krisis ekonomi menerpa dunia dalam periode 1930-an (Burger, 1970:146). Ekonomi uang semakin berkembang dalam kehidupan masyarakat desa. Sektor perdagangan hasil bumi yang sebelumnya mutlak dikuasai oleh orang Cina mulai dimasuki oleh penduduk Bumiputera. Dengan demikian di pedesaan Jawa berkembang kegiatan ekonomi non-farm bagi penduduk Bumiputera. Hal itu jelas menjadi indikasi bagi bertambahnya tingkat kesejahteraan penduduk Bumiputera.Terjadi perputaran uang yang cukup cepat di kalangan masyarakat pedesaan. Keadaan itu dapat memberi gambaran bagi berkembangnya ekonomi suatu kawasan. Dengan demikian muncul sebuah fenomena baru di kalangan masyarakat pedesaan yang sebelumnya tidak dijumpai pada akhir abad XIX. Secara umum periode 1900-1929 ditandai oleh meningkatnya GDP perkapita yang secara rata-rata hampir mencapai 1,7% setiap tahunnya (Eng, 1993:185).
Gambaran perkembangan makro ekonomi suatu masyarakat dapat juga dilihat dari tingkat konsumsi bahan pangan utamanya.Tingkat perkembangan ekonomi masyarakat Jawa dapat dilihat pula dari perkembangan persediaan beras yang dikonsumsinya. Berdasar pada data yang ada diketahui bahwa tingkat persediaan beras per-kepala yang ada di Jawa memperlihatkan kenaikan dari pertengahan abad XIX sampai periode tahun1885. Setelah itu persediaan beras per-kapita menunjukkan penurunan sampai sekitar tahun 1905. Persediaan beras kembali meningkat lagi memasuki awal abad XX, hingga periode 1915 (Creutzberg & Laanen, 1987:41-42). Kondisi itu
jelas merefleksikan perkembangan ekonomi Indonesia saat itu. Periode penurunan persediaan beras per-kapita adalah masa kemandegan ekonomi. Sedangkan masa pertumbuhan ekonomi direfleksikan dengan terjadinya kenaikan persediaan beras per-kapita. Berdasar pada asumsi itu, jelas menunjukkan bahwa periode awal abad XX adalah masa pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Tingkat perkembangan harga beras dapat juga menjadi salah satu indikasi perkembangan ekonomi suatu wilayah. Harga beras di Indonesia sempat mengalami penurunan pada saat terjadi krisis gula di tahun 1884. Meskipun ada perbaikan tetapi, titik baliknya baru terjadi pada tahun 1900. Setelah itu rata-rata harga beras di Indonesia meningkat jauh lebih tinggi daripada setengah abad sebelumnya. Masa kenaikan harga beras itu berakhir dalam periode 1930-an, ketika resesi ekonomi melanda dunia. Saat itu harga komoditi pertanian mengalami penurunan yang tajam. Hal yang sama juga dialami oleh beras, harganya mengalami penurunan jauh lebih rendah dibanding bagian pertama abad XIX. Lebih jelas lagi mengenai perkembangan harga beras dan bahan pangan lainnya di P. Jawa selama masa melaisse akan dibahas pada bagian belakang.
Periode 1930-an adalah waktu yang buruk dalam perkembangan ekonomi di Indonesia. Setelah sebelumnya mengalami peningkatan yang luar biasa, sebagai contoh nilai ekspor dari tanaman penduduk meningkat dari f. 15 juta di tahun 1898 menjadi hampir f. 400 juta di tahun 1929 (Haccau, 1987:278). Terjadinya resesi ekonomi dunia yang berimbas pula di Indonesia telah membawa akibat buruk bagi penduduk Bumiputera, khususnya para petani. Indonesia yang merupakan eksportir bahan mentah terpukul, karena tidak ada lagi negara maju yang mengimpor komoditi ekspor Indonesia. Sebagai akibatnya, petani sebagai produsen mengalami kerugian yang besar karena produknya tidak laku dijual di pasar internasional. Persediaan melimpah tetapi permintaan tidak ada. Keadaan itu menyebabkan harga produk-produk pertanian dan bahan tambang mengalami penurunan. Harga kopra, misalnya jatuh sampai 60% dibanding harga sebelum krisis. Komoditi kentang juga mengalami hal yang sama. Demikian pula dengan pasar ubi kayu yang susut hingga 1/3 dari kondisi normal. Sebagai akibatnya, banyak pabrik tapioka yang menghentikan operasinya (Indisch Verslag 1931:233). Efek berantainya adalah mereka tidak lagi mempunyai uang tunai untuk membiayai berbagai macam kebutuhannya (Haryono, 2011: 124). Keadaan itu masih ditambah dengan kemarau panjang pada akhir tahun 1929, yang menyebabkan banyaknya gagal panen. Hal itu menyebabkan harga padi meningkat di tahun 1930, karena terbatasnya persediaan. Suatu kondisi yang sangat memberatkan petani, karena biasanya persediaan beras mereka sudah habis pada masa menjelang panen. Meskipun kemudian harga beras juga mengalami penurunan setelah tahun 1931. Suatu kondisi yang juga merugikan masyarakat pedesaan, karena sebagian besar dari mereka menanam padi guna menopang hidupnya. Akan tetapi persoalannya bagi masyarakat Bumiputera adalah mereka susah untuk mendapat uang guna membeli berbagai macam kebutuhan hidup. Periode itu dikenal sebagai masa uang mahal bagi penduduk Bumiputera (Burger, 1970:211).Penduduk sukar mendapat uang, sehingga uang menjadi mahal kalau dibandingkan dengan barang. Persediaan pangan pada umumnya bagi masyarakat Bumiputera cukup, tetapi uang sukar diperoleh (Burger, 1983:34).
Pada sektor usaha perkebunan keadaannya juga sama saja. Kemakmuran yang berlimpah pada industri gula di Jawa mendadak berakhir. Produksi gula Pulau Jawa tergilas di pasaran India dan Cina (O’Malley, 1988:205). sehingga tidak lagi menikmati keuntungan berlimpah seperti masa sebelumnya. Penduduk Bumiputera yang sebelumnya banyak menggantungkan hidupnya dari
perusahaan perkebunan juga merasakan akibatnya. Muncul krisis ekonomi telah menyebabkan mereka tidak lagi memperoleh penghasilan yang cukup. Pendapatan penduduk Bumiputera yang diperoleh dari perusahaan perkebunan berkurang drastis, karena dilakukan penghematan yang ketat mulai dari pengurangan pegawai, jam kerja, penurunan upah, luas lahan sampai sewa tanah (Indisch Verslag 1931:233). Hal yang lebih parah lagi adalah Jawa harus menanggung beban ekonomi yang lebih berat karena banyaknya pekerja perkebunan dan pertambangan yang ada di Sumatera pulang kembali karena usahanya dikurangi atau bahkan ditutup.
Pada satu sisi jumlah penduduk yang ada di Jawa bertambah karena kembalinya ribuan pekerja yang sebelumnya mencari nafkah di perkebunan dan pertambangan yang ada di luar Jawa. Akan tetapi pada sisi lain, pendapatan penduduk khususnya yang ada di pedesaan justru berkurang karena krisis ekonomi (Rinardi, 2011:126). Dalam kondisi yang seperti itu, banyak wilayah pedesaan di Jawa yang seakan-akan kembali pada masa sebelum mereka menggunakan uang dalam kegiatan ekonominya. Hal itu disebabkan susahnya penduduk memperoleh uang selama masa krisis ekonomi. Krisis dan depresi ekonomi telah memaksa penduduk, dalam beberapa hal kembali pada cara hidup yang dulu (Djojohadikusumo, 1989:184). Oleh karena itu, tidak heran apabila lumbung desa kembali berperan sebagai lembaga simpan pinjam yang penting di tingkat pedesaan. Penduduk Bumiputera banyak mempergunakan transaksi kredit dalam bentuk padi, bukan uang tunai. Keadaan itu menunjukkan adanya fenomena langka uang di kalangan masyarakat pedesaan. Susahnya penduduk pedesaan memperoleh uang tunai telah direspon dengan mengaktifkan lagi penggunaan barang dalam setiap transaksasi ekonomi, sehingga lumbung desa eksis dan berkembang selama masa krisis ekonomi.
2. Awal Penanaman
Ubi kayu pertama kali dibudidayakan secara resmi oleh Daendels (Haryono, 2002:46), sehingga oleh sebagian orang di Jawa ubi kayu disebut sebagai telo jendral. Akan tetapi upaya itu tidak memberi hasil yang bagus dalam upaya pengembangan budidaya ubi kayu. Penduduk Pulau Jawa belum menganggap ubi kayu sebagai tanaman yang penting setelah padi di sawah atau jagung dan umbi-umbian di tegalan. Tanaman itu dilaporkan diketemukan dalam jumlah kecil dengan kualitas yang kurang baik di daerah Cianjur dan Bogor (Blokzeijl, 1916: 3 &ENI: 76-77). Pendapat yang senada dikemukakan oleh Sturler yang mengemukakan bahwa ubi kayu belum banyak dikenal oleh penduduk Pulau Jawa pada masa itu (Sturler, 1863:645). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sampai pertengahan abad XIX, penduduk Pulau Jawa belum mengenal dan memanfaatkan ubi kayu baik sebagai tanaman pangan maupun perdagangan.
Perkembangan yang menentukan bagi budidaya ubi kayu di Jawa terjadi pada akhir abad XIX. Kebutuhan ubi kayu di pasar internasional meningkat, sehingga Indonesia, khususnya Pulau Jawa sebagai salah satu wilayah penghasil bahan mentah, khususnya pertanian mencoba memanfaatkan peluang tersebut. Pada saat itu, muncul permintaan ubi kayu dalam jumlah yang cukup besar dari Perancis (Furnivall, 1939:321), yang memanfaatkan ubi kayu sebagai bahan mentah guna membuat minuman keras. Hal itu menyebabkan budidaya ubi kayu di Pulau Jawa meningkat pesat. Perusahaan perkebunan berperan mengembangkan budidaya ubi kayu pada awal abad XX. Satu ciri penting dalam masa itu adalah selalu terdapat pabrik pengolah ubi kayu di dekat lahan yang digunakan sebagai tempat budidayanya. Ubi kayu selama masa awal abad XX merupakan
tanaman ekspor, bukan tanaman pangan. Dengan demikian, awal perkembangan ubi kayu di P. Jawa manfaatnya adalah sebagai tanaman perdagangan. Hal itu berarti jauh dari tujuan awalnya yaitu sebagai tanaman pangan alternatif pengganti beras.
Pasar ekspor masih berperan penting dalam pengembangan budidaya ubi kayu hingga awal abad XX. Turunnya ekspor ubi kayu ke Perancis diatasi dengan munculnya pasar baru bagi eksportir ubi kayu Indonesia. Inggris dan Amerika Serikat adalah negara pengimpor ubi kayu dari Indonesia pada awal abad XX. Saat itu, ubi kayu diekspor dalam bentuk gaplek untuk diolah lagi menjadi alkohol, bahan makanan ternak ataupun dalam bentuk tepung tapioka yang banyak digunakan oleh industri tekstil di Inggris dan Amerika Serikat. Dalam perkembangannya tepung tapioka kemudian digunakan dalam industri kertas, industri kayu, dan pelapis lantai (Koloniaal Verslag 1907: 50 & Economisch Weekblad, 1941:142). Hal itu disebabkan harga tepung tapioka lebih murah dibandingkan tepung jagung. Dengan demikian, pertimbangan ekonomis menjadi faktor penting digunakannya tepung tapioka dalam beberapa industri di Amerika Serikat.
Bersamaan dengan itu, industri pengolahan ubi kayu mulai berkembang di beberapa daerah. Kebanyakan industri itu dimiliki oleh orang Cina, hanya di Kediri penduduk Bumiputera terlibat dalam industri itu, tetapi masih dalam bentuk tepung ubi kayu kasar dan hasilnya disetor kepada pabrik milik orang Cina (Rinardi, 2002:51). Mereka itu secara tidak langsung telah mendorong pengembangan ubi kayu di Pulau Jawa. Dalam kasus di Semarang, pada awalnya industri pengolahan ubi kayu yang kebanyakan dimiliki orang Cina menyewa lahan pertanian milik penduduk lokal untuk ditanami ubi kayu. Akan tetapi karena keterbatasan lahan yang ada, hasilnya tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Hal itu menyebabkan banyak pabrik pengolahan ubi kayu yang tidak mampu berproduksi secara maksimal. Jalan keluar dari permasalahan itu diperoleh dengan cara mendorong petani lokal membudidayakan ubi kayu di lahan pertaniannya, hasilnya dijual ke pabrik pengolah ubi kayu. Dengan cara itu, pengusaha pengolahan ubi kayu dapat mencapai hasil maksimal dari kapasitas pabriknya.
Pada bagian lainnya, keterlibatan petani dalam pengembangan budidaya ubi kayu tidak terbatas hanya dalam penanamannya saja. Petani di Jawa sudah mulai mengolah ubi kayu menjadi tepung kasar. Beberapa laporan menyebutkan bahwa penduduk Kediri mengolah ubi kayu menjadi tepung kasar guna dijual ke pabrik penggilingan milik orang Cina dan Eropa. Tepung kayu kasarkemudian diolah lagi menjadi tepung dengan kualitas yang lebih baik (Koloniaal Verslag 1907: 49). Dengan jalan itu, ubi kayu telah menjelma menjadi salah satu tanaman penting dalam kehidupan petani. Ubi kayu diolah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Beberapa daerah telah berkembang menjadi eksportir ubi kayu ke luar negeri. Priangan, Kediri, dan Batavia menjadi pusat eksportir ubi kayu olahan (Kolonial Verslag 1905: 51).
Perkembangan budidaya ubi kayu mendapatkan dorongan yang kuat ketika, penduduk Bumiputera mulai memanfaatkannya sebagai salah satu tanaman pangan. Hal itu tidak lepas dari dorongan gigih Pemerintah Kolonial yang mengkampanyekan manfaat ubi kayu sebagai tanaman pangan. Pemerintah kolonial memperkenalkan masyarakat Bumiputera berbagai cara mengolah ubi kayu agar dapat dikonsumsi. Hasilnya ubi kayu mulai dikenal sebagai salah satu tanaman pangan. Berbagai daerah di Pulau Jawa dengan cepat menjadi penghasil ubi kayu; Priangan,
Semarang, Kediri, Cirebon, Bojonegoro, Banten, Besuki, dan Banyumas adalah daerah yang membudidayakan ubi kayu pada awal abad XX.
3. Penyebaran Ubi Kayu
Ubi kayu mulai menyebar ke berbagai tempat di Pulau Jawa pada awal abad XX. Penyebarannya dibantu oleh sifat tanaman itu yang mudah tumbuh di setiap tempat dan tanpa membutuhkan perawatan khusus. Pihak yang berperan penting dalam penyebarannya di Pulau Jawa adalah petani. Meskipun demikian, pihak pabrik pengolah sesungguhnya juga ikut mengembangkan ubi kayu di Pulau Jawa. Ubi kayu di Jawa berkembang ketika masyarakat mengetahui manfaatnya sebagai tanaman pangan. Manfaat utama ubi kayu itulah yang telah mendorong tanaman itu berkembang di segala penjuru Pulau Jawa pada awal abad XX. Ubi kayu dapat juga berfungsi sebagai tanaman perdagangan. Ubi kayu dapat dijual kepada pabrik pengolah guna diubah menjadi tepung tapioka atau produk ubi kayu lainnya. Akan tetapi, hal baru dilakukan jika kebutuhan petani sudah tercukupi (Koloniaal Verslag 1909: 15).
Dengan adanya hubungan erat antara petani dan pabrik pengolah maka terdapat satu ciri penting dalam budidaya ubi kayu pada dekade pertama abad XX. Akan selalu ditemui sebuah pabrik pengolah ubi kayu di sekitar lahan penanamannya. Hal itu berkaitan dengan sifat umbi ubi kayu yang tidak tahan lama. Sejak panen yaitu saat dicabut dari tanah, ubi kayu hanya mempunyai waktu kurang dari satu minggu guna mencapai tempat pemrosesan. Lebih dari itu, umbinya akan rusak atau berkurang kualitasnya. Dengan dasar itu, ubi kayu membutuhkan pabrik pengolahan yang dekat dengan lahan tempat tanaman itu dibudidayakan.
Ubi kayu mengalami perkembangan yang sangat pesat selama empat puluh tahun pertama abad XX. Selama masa itu, ubi kayu berkembang luas di seluruh Jawa dan Madura. Sampai pada tahun 1940, luas areal panen ubi kayu mencapai lebih 1.041.297 hektar di seluruh Jawa dan Madura. Dengan demikian, terjadi pertumbuhan lebih dari 450% dibanding tahun 1913 yang baru mencapai 222.078 hektar (Rinardi, 2002:63). Ubi kayu yang awalnya tidak diketahui manfaatnya, kemudian berkembang menjadi tanaman perdagangan di awal abad XX. Setelah itu, ubi kayu lebih berkembang lagi menjadi tanaman pangan. Manfaat terakhir inilah yang menyebabkan ubi kayu berkembang nyaris di setiap tempat di P. Jawa.
Menganalisis perkembangan ubi kayu di P. Jawa selama awal abad XX, maka dapat disimpulkan terdapat tiga periode besar dalam perkembangan budidaya ubi kayu di Jawa. Periode pertama mulai tahun 1900 sampai 1920, itu merupakan masa perkenalan dalam budidaya ubi kayu di Jawa. Selama periode itu, ubi kayu budidaya terus berkembang di seluruh Jawa dan Madura. Ada dua faktor yang mendorong ubi kayu berkembang selama periode itu. Pertama, meningkatnya permintaan ekspor ubi kayu dalam berbagai bentuk. Hal itu telah mendorong ubi kayu berkembang bukan saja sebagai tanaman yang dibudidayakan pihak perkebunan tetapi juga oleh petani lokal. Kedua, penduduk Jawa dan Madura masih merasakan dampak resesi ekonomi yang muncul pada periode 1880-an. Oleh karena itu, mereka mencari jenis tanaman yang bukan saja laku dijual ke pasar internasional. Akan tetapi, dapat dikonsumsi bagi kebutuhannya sendiri. Dalam kondisi itu, ubi kayu mampu berkembang di berbagai tempat di P. Jawa. Ubi kayu berkembang sebagai tanaman perdagangan karena diekspor ke luar negeri, tetapi juga menjadi tanaman pangan alternatif bagi penduduk pedesaan.
Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah terjadinya krisis ekonomi di tahun 1920. Secara makro krisis telah menyebabkan ekspor Indonesia jatuh di bawah impor. Dengan kata lain, neraca pembayaran Pemerintah Kolonial mengalami defisit. Krisis itu telah mendorong pemerintah melakukan penghematan. Pemerintah membatasi perluasan pembangunan infrastruktur. Kebijakan itu menyebabkan tidak sedikit pekerja yang dikirim kembali dari Sumatera ke Jawa, karena alasan penghematan (Gonggrijp, 1928:223). P. Jawa harus menanggung beban atas kembalinya ribuan pekerja dari Sumatera. Dalam kondisi itu, ubi kayu menjadi pilihan rasional bagi petani. Ubi kayu dapat ditanam nyaris di setiap tempat dan tanpa memerlukan perawatan yang maksimal dari petani. Semua itu telah menyebabkan ubi kayu ditanam jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.
Selama periode 1900-1920 luas areal panen ubi kayu berkembang dari 132 ribu hektar di tahun 1900 menjadi 812 ribu hektar di tahun 1920. Hal yang menarik selama dua puluh tahun itu, luas areal panen ubi kayu terus bertambah kecuali; tahun 1902 yang luas areal panen ubi kayu mencapai 155.000 hektar. Jadi turun 1.000 hektar dibanding tahun sebelumnya, yaitu seluas 156.000 hektar. Selanjutnya tahun 1903, luas areal panen ubi kayu kembali turun menjadi 154.000 hektar. Terakhir tahun 1919, saat itu luas areal panen ubi kayu berkurang 38.000 hektar dari 764.000 hektar di tahun 1918 menjadi 726.000 hektar (Eng, 1993:Annex 7). Dalam hal penyebaran budidaya ubi kayu, maka ada beberapa daerah yang dominan selama periode itu. Ada empat daerah yang sangat dominan dalam pengembangan budidaya ubi kayu, yaitu Priangan, Semarang, Surakarta, dan Kediri. Pada tahun 1916, Karesidenan Semarang yang luas areal panen ubi kayunya mencapai 71.100 ha. Priangan, Surakarta, dan Kediri adalah karesidenan diurutan selanjutnya dengan luas areal panen ubi kayu terbanyak dalam periode yang sama. Masing-masing dengan luas areal 50.400 ha, 43.500 ha, dan 43.000 ha. Empat tahun kemudian, terjadi sedikit perubahan dalam peta penyebaran ubi kayu di Jawa. Selama periode 1916-1920, rata-rata setiap tahunnya luas areal panen ubi kayu di Priangan mencapai 84.275 ha/tahun. Semarang setiap tahunnya luas areal panen ubi kayu mencapai 73.950 ha. Surakarta setiap tahunnya rata-rata luas panen ubi kayunya mencapai 73.400 ha.
Selama periode dua puluh tahun itu, produksi ubi kayu di Jawa dan Madura tumbuh hampir 600%, yaitu dari 1,05 juta ton di tahun 1900 menjadi lebih dari 6,45 juta ton di tahun 1920. Dengan demikian terjadi perkembangan yang sangat luar biasa selama periode itu dalam produksi ubi kayu di Jawa. Selama kurun waktu itu, produksi ubi kayu di Jawa dan Madura hanya mengalami penurunan sebanyak tiga kali. Pertama tahun 1902, saat itu total produksi ubi kayu Jawa dan Madura sebanyak 1,227 juta ton. Jumlah itu berarti sedikit berkurang dibanding produksi tahun 1901, yaitu sebanyak 1,234 juta ton. Penurunan kembali terjadi di tahun 1903, kali ini produksi ubi kayu di Jawa dan Madura kembali berkurang menjadi 1,224 juta ton. Penurunan itu sesungguhnya kurang banyak berarti karena angkanya hanya berkutat pada kisaran ribuan ton saja. Penurunan yang paling banyak terjadi di tahun 1919, produksi saat itu sebanyak 5,775 juta ton. Angka itu jauh di bawah poduksi tahun sebelumnya yang mencapai 6,074 juta ton (Eng, 1993:Annex 6). Dengan demikian terjadi penurunan hampir 239 ribu ton. Salah satu sebabnya adalah berkurangnya areal panen ubi kayu di tahun 1919, seperti pernah disinggung di depan.
Periode kedua dalam perkembangan budidaya ubi kayu adalah 1920-1930. Saat itu terjadi stagnasi dalam perkembangan budidaya ubi kayu. Ada tiga faktor yang menyebabkan ubi kayu tidak lagi mengalami perkembangan yang pesat seperti periode sebelumnya. Pertama, dari segi
perkembangan sosial ekonomi masa sebelum krisis 1930-an dikenal sebagai masa pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Pemerintah melakukan ekspansi pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, kereta api, pelabuhan, gedung pemerintahan, sekolah, dan sebagainya. Dengan demikian, pengeluaran pemerintah bertambah. Hal itu ditambah dengan naiknya gaji pegawai pemerintah. Masyarakat merasa menjadi lebih makmur dibanding masa sebelumnya. Dengan kondisi yang seperti itu, penduduk lebih mengutamakan mengkonsumsi bahan pangan dengan nilai gizi yang tinggi dan memiliki nilai prestise lebih baik. Selama periode pra-krisis kebutuhan kalori per-kapita di Jawa telah meningkat rata-rata 2,2%/tahun (Eng, 1993:186). Hal itu mengindikasikan masyarakat Pulau Jawa mengalami peningkatan kesejahteraan. Keadaan itu menyebabkan ubi kayu tidak lagi dibutuhkan sebagai tanaman pangan. Penduduk lebih memilih tanaman dengan nilai gizi yang lebih baik dan mempunyai prestise yang lebih tinggi. Dalam kondisi yang seperti itu, ubi kayu bukan pilihan utama.
Faktor kedua, berhubungan dengan kondisi cuaca yang kurang menguntungkan selama periode 1926-1930 (Economsich Weekblad, 1932:7-8). Hal itu sedikit banyak mengganggu perkembangan budidaya ubi kayu. Faktor ketiga, semua lahan-lahan kering yang ada sudah habis digunakan sebagai tempat budidaya ubi kayu (Rinardi, 2002:63). Dengan kondisi itu, ubi kayu tidak lagi dapat berekspansi ke berbagai tempat. Sebagai akibat pencapaian budidaya ubi kayu dalam periode sebelumnya, maka semua lahan kering yang tersisa sudah digunakan sebagai lahan pembudidayaan ubi kayu. Oleh karena itu, pada dekade 1920-an ubi kayu tidak lagi mampu berkembang secara masif seperti periode sebelumnya.
Terdapat fenomena menarik mengenai perkembangan budidaya ubi kayu di P. Jawa selama periode 1920-1930. Apabila pada periode sebelumnya, luas areal panen ubi kayu di Jawa dan Madura menunjukkan peningkatan, maka selama akhir periode 1920-1930 terjadi hal yang sebaliknya. Luas areal panen ubi kayu justru menunjukkan penyusutan selama periode tersebut. Pada tahun 1920, luas areal panen ubi kayu mencapai 812.000 hektar. Jumlah itu kemudian turun menjadi 653.000 hektar di tahun 1930 (Eng, 1993: Annex 7). Keadaan itu tentu saja sangat ironis dibanding periode sebelumnya yang justru menunjukkan peningkatan luar biasa. Kondisi ekonomi yang sedang tumbuh merupakan salah satu sebab berkurangnya areal budidaya ubi kayu di Jawa dalam periode itu. Oleh karena itu, periode tersebut dianggap masa stagnan dalam perkembangan budidaya ubi kayu di Jawa. Kondisi itu juga berimbas pada produksi ubi kayu di Jawa dan Madura yang turun dari 6,456 juta ton di tahun 1920 menjadi 5,229 juta ton di tahun 1930 (Eng, 1993: Annex 6).
Hal yang menarik dari perkembangan budidaya ubi kayu selama periode 1920-1930 adalah mulai berkembangnya Surakarta sebagai karesidenan yang memiliki rata-rata areal panen terluas menggantikan Priangan dan Semarang. Selama dekade ketiga awal abad XX, rata-rata luas areal panen ubi kayu di Surakarta mencapai 91.200 ha. Selanjutnya, Madura dan Madiun mulai menunjukkan potensinya sebagai daerah penghasil ubi kayu di Jawa. Keduanya memiliki rata-rata luas areal panen sebanyak 80.000 ha/tahunnya untuk periode yang sama. Meluasnya budidaya ubi kayu di wilayah Surakarta disebabkan daerah tersebut memiliki lingkungan yang cocok untuk pengembangan ubi kayu. Surakarta meskipun secara geografis memiliki wilayah yang subur dengan sistem pengairan yang baik. Akan tetapi terdapat pula daerah yang kurang subur, dengan ekologi tegalan yang berbukit-bukit, serta kekurangan air, seperti di daerah Sukawati (Suhartono,
1991:24). Kondisi daerah itu sangat cocok untuk budidaya ubi kayu, sehingga Surakarta menjadi daerah utama tempat penghasil ubi kayu. Oleh karena itu, tidak heran jika ubi kayu kemudian banyak dibudidayakan di wilayah Surakarta.
Periode yang paling penting dalam budidaya ubi kayu di Jawa adalah masa 1930-1940. Saat itu ubi kayu luas areal penanaman ubi kayu bertambah lebih banyak lagi dibanding masa sebelumnya. Luas areal panen ubi kayu berkembang dari 653.322 ha di tahun 1930 (Indisch Verslag II 1931), menjadi 1.041.297 untuk periode yang sama. Dengan demikian ubi kayu berkembang hampir dua kali lipat dalam jangka waktu sepuluh tahun. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan pesat budidaya ubi kayu di Jawa selama periode itu. Pertama, berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi di Jawa. Periode 1930-an dikenal sebagai zaman malaise. Saat itu terjadi krisis ekonomi dunia yang sangat parah, yang dampaknya sampai hingga Jawa sebagai produsen bahan mentah sekaligus pulau dengan populasi penduduk terbesar di Indonesia. Ribuan buruh tambang dari Sumatera terpaksa kembali ke Jawa. Dengan demikian, sekali lagi pulau itu harus menanggung beban sosial ekonomi yang besar karena krisis. Keadaan itu memaksa petani guna menghasilkan tanaman yang sanggup tumbuh di setiap tempat tanpa perawatan yang maksimal, yang lebih penting lagi tanaman itu dapat dipanen sepanjang tahun. Atau bukan jenis tanaman musiman. Dengan kata lain, petani harus memanfaatkan setiap jengkal tanahnya untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan untuk menghidupi keluarganya. Dalam kondisi itulah, ubi kayu digunakan petani untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga ubi kayu dapat berkembang secara luar biasa selama periode 1930-1940.
Faktor kedua berhubungan erat dengan manfaat ubi kayu itu sendiri. Sebagai akibat krisis ekonomi, masyarakat Bumiputera membutuhkan bahan pangan alternatif selain beras. Ubi kayu akhirnya dimanfaatkan karena harganya yang jauh lebih murah bagi masyarakat Bumiputera yang saat itu sedang mengalami kesukaran untuk mendapatkan uang tunai. Penduduk Pulau Jawa setelah krisis 1930-an mulai mengkonsumsi ubi kayu sebagai bahan pangan alternatif. Penduduk pedesaan memilih mengkonsumsi ubi kayu dibanding beras, karena mereka menjual hasil panen padinya untuk digunakan membayar pajak atau memenuhi berbagai keperluan hidupnya. Hal itu dibuktikan dengan bertambahnya konsumsi ubi kayu selama masa 1930-an. Berdasar pada data yang ada diketahui bahwa pada tahun 1932 konsumsi ubi kayu per-kapita baru mencapai 145 kg, angka itu kemudian bertambah menjadi 175 kg/kapita di tahun 1940 (CBS, 1947:142).
Dengan demikian ubi kayu berkembang di Jawa setelah periode krisis ekonomi karena menjadi
New Economic Opportunity bagi penduduk Pulau Jawa. Ubi kayu menjadi solusi bagi penduduk Pulau Jawa yang sedang mengalami dampak krisis ekonomi dunia. Hal itu juga berlaku di Cina (Breman, 1971), penduduk di sana menanam lebih banyak ubi kayu ketika mengalami kesulitan keuangan. Dalam hal ini, petani menjadikan ubi kayu sebagai solusi bagi kesulitan ekonomi yang sedang mereka alami. Mereka mencari bahan pangan pengganti yang lebih murah dibanding beras, karena mereka sedang kesulitan mendapat uang tunai. Faktor itulah yang kemudian mendorong penduduk Pulau Jawa menanam ubi kayu di lebih banyak tempat. Hasil yang lebih banyak dan perawatan yang jauh lebih minim dibanding padi menjadi salah satu alasan tanaman itu berkembang ketika Pulau Jawa harus menanggung ribuan buruh tambang yang kembali dari Sumatera saat itu.
Ada tiga daerah utama dalam budidaya ubi kayu di Jawa selama periode 1930-1940. Surakarta, Madura, dan Madiun, berturut-turut menjadi daerah terpenting dalam pengembangan budidaya ubi kayu di Jawa dan Madura selama masa 1930-1940. Pada periode itu, rata-rata luas panen ubi kayu di Surakarta mencapai 103.280 ha/tahun. Madura mencapai 102.530 ha/tahun, sedangkan Madiun luas panen ubi kayunya rata-rata mencapai 88.440ha/tahun. Secara keseluruhan luas areal panen di Jawa dan Madura telah berkembang dari 653.000 hektar di tahun 1930 menjadi 1,041 juta hektar di tahun 1940. Produksinya berkembang dari 5,229 juta ton menjadi 8,415 juta ton untuk periode yang sama (Eng, 1993:Annex 6). Lebih jelas lagi mengenai perkembangan luas budidaya ubi kayu selama periode 1928-1940 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 1. Luas Areal Panen dan Jumlah Produksi Ubi Kayu di P. Jawa dan MaduraSelama Periode 1928-1940
Sumber: Diolah dari Indisch Verslag Sesuai dengan Angka
4. Manfaat Ubi Kayu
4.1 Ubi Kayu Sebagai Tanaman Perdagangan
Dalam perdagangan internasional ubi kayu, khususnya produk Indonesia atau tepatnya P. Jawa dan Madura memegang peran penting. Posisi itu dipegang sejak periode 1920-an. Negara eksportir lainnya, bukan merupakan pesaing yang berarti dalam perdagangan internasional ubi kayu, kecuali Malaya untuk produk tapioka olahan. Produk negara-negara pesaing, masih terlalu kecil untuk mengancam posisi Indonesia dalam perdagangan internasional ubi kayu. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau Indonesia menjadi negara eksportir gaplek dan tepung gaplek terbesar di dunia (Rinardi, 2002:136). Jumlah ekspor gaplek dan tepung gaplek Indonesia meskipun memperlihatkan fluktuasi, tetapi angkanya tetap tinggi. Setelah mengalami penurunan ekspor sejak tahun 1932, ekspor gaplek dan tepung gaplek meningkat lagi mulai tahun 1935. Ekspor gaplek dan tepung gaplek meningkat menjadi hampir 200.000 ton di tahun 1937. Hal itu disebabkan karena turunnya produksi jagung di Eropa, gaplek dan tepung gaplek dijadikan bahan makanan ternak di negara-negara tersebut. Oleh karena itu, ketika produksi jagung di Eropa kembali normal, maka ekspor gaplek dan tepung gaplek Indonesia turun. Hal itu terjadi pada tahun 1938, sehingga ekspor gaplek dan tepung gaplek hanya berkisar pada angka 89.000 ton (Economisch Weekblad,
1939:594). Dalam hal ini ada keterkaitan antara ekspor gaplek dan tepung gaplek Indonesia dan persediaan pakan ternak serta harga jagung di Eropa. Melimpahnya persediaan pakan ternak dan jatuhnya harga jagung di Eropa secara tidak langsung ikut menyumbang turunnya ekspor gaplek dan produk gaplek Indonesia (Economisch Weekblad, 1940:678).
Negara pesaing ekspor ubi kayu Indonesia salah satunya adalah Madagaskar. Pada awalnya ekspor gaplek dan tepung gaplek negara itu bahkan melebihi Indonesia. Puncak ekspornya dicapai tahun 1924, yaitu sebesar 50.000 ton. Akan tetapi setelah itu, ekspor gaplek dan tepung gaplek Madagaskar mengalami penurunan. Kedudukannya sebagai eksportir utama gaplek dan tepung gaplek mulai diambilalih Indonesia sejak 1925. Ekspor produk ubi kayu Madagaskar tahun 1937 tinggal 20.620 ton (De Landbouw, 1937:230). Negara lainnya yang mengeskspor gaplek dan tepung gaplek adalah Indo-Cina yang saat itu masih dikuasai Perancis. Angka ekspornya jauh lebih kecil dibandingkan Madagaskar apalagi Indonesia.
Kedudukan Indonesia, atau tepatnya P. Jawa dan Madura sebagai eksportir utama gaplek dan tepung gaplek juga berlaku untuk tepung tapioka. Indonesia merupakan eksportir utama tepung tapioka pada awal abad XX. Posisi itu dipegang sejak tahun 1920. Jumlah tepung tapioka yang diekspor Indonesia stabil selama kurun waktu 1925-1935, yaitu berkisar antara 60.000-100.000 ton, dengan pengecualian tahun 1928 yang mencapai lebih dari 125.000 ton (Haryono, 2002: 139). Negara tujuan utama ekspor tepung tapioka adalah Amerika Serikat. Rata-rata ekspor tepung tapioka Indonesia ke Amerika Serikat dalam periode 1935-1940 mencapai angka 129.132 ton (Economisch Weekblaad, 1941:176). Mengenai perkembangan ekspor tepung tapioka dari Indonesia selama kurun waktu 1935-1940 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2
Perkembangan Ekspor Tepung Tapioka Indonesia 1935-1940
Tahun Jumlah 1935 100.276 1936 158.359 1937 203.021 1938 137.740 1939 200.274 1940 179.403
Sumber: diolah dari Indisch verslag II: Statitisch jaaroverziecht van Nederlandsch Indie sesuai dengan angka tahun
Berdasar data di atas dapat diketahui terjadi lonjakan ekspor yang cukup besar pada tahun 1937. Hal itu disebabkan oleh terjadinya kekurangan produk tepung kanji di Eropa dan Amerika (Economisch Weekblad 1939: 594). Kondisi sebaliknya terjadi setahun kemudian, berkurangnya konsumsi tepung tapioka Amerika menjadi salah satu jatuhnya ekspor tepung tapioka ke negara tersebut (Economisch Weekblad 1939: 594). Keadaan itu diperparah oleh rendahnya harga ubi kayu pada awal dan pertengahan 1938. Kondisi itu membuat petani menunda sebagian besar panennya, menunggu membaiknya harga (Economisch Weekblad, 1939:1034). Kondisi sebaliknya terjadi pada 1938, membaiknya harga tepung tapioka khususnya kualitas AA dari F.4-F.5/kuintal menjadi F.7,48/kuintal karena meningkatnya permintaan Amerika Serikat dan Eropa (Indisch Verslag II:
Statistich jaaroverzicht van Nederlandsch Indie, 1939:248) telah meningkatkan ekspor tepung tapioka Indonesia. Fluktuasi ekspor tepung tapioka kembali terjadi setahun berikutnya. Ekspor tepung tapioka yang meningkat di tahun 1939, ternyata mengalami penurunan tahun 1940. Hal itu disebabkan rendahnya permintaan Amerika Serikat, karena adanya rumor yang menyebutkan bahwa di Jawa terjadi kekurangan ubi kayu (Economisch Weekblad, 1940:1116). Faktor lainnya adalah; Pertama, muncul Santa Dominika sebagai salah satu negara yang mengeskpor tepung tapioka ke Amerika Serikat. Kedua, turunnya permintaan impor tepung tapioka dari Cina karena kekurangan devisa. Ketiga, Meningkatnya permintaan ubi kayu di pasar domestik (Economisch Weekblad, 1940: 1062, 1972, 2201).
Produk ubi kayu berikutnya yang juga menjadi salah satu komoditi ekspor adalah tepung tapioka olahan, dalam bentuk vlokken & sifting dan paarl & seeds. Akan tetapi, jika produk gaplek dan tepung gaplek, serta tapioka dominasi ekspor dipegang Indonesia, maka untuk produk tapioka olahan, Indonesia bukanlah eksportir terbesar selama periode awal abad XX. Malaya merupakan negara eksportir utama produk tapioka olahan, mengalahkan Indonesia. Indonesia hanya sekali mengungguli angka ekspor tapioka olahan Malaya, yaitu tahun 1928. Angka ekspor tapioka olahan Indonesia saat itu mencapai 36.000 ton (Jaaroverzicht van dern in-en uitvoer van Nederlandsch Indie, 1928:187). Ekspor tepung tapioka olahan Malaya sesungguhnya jumlahnya masih kalah dibanding dengan ekspor tepung tapioka, gaplek dan tepung gaplek Indonesia. Negara itu rata-rata mengeskpor tapioka olahan 30.000/tahun (Haryono, 2002:142).
4.2 Ubi Kayu Sebagai Tanaman Pangan
Manfaat ubi kayu sebagai bahan pangan sesungguhnya sudah dikenal sejak zaman Bangsa Maya masih eksis. Peninggalan-peninggalan arkeologis yang pernah ditemukan menunjukkan bahwa budidaya ubi kayu telah berkembang mulai dari Peru sampai Kolombia di Amerika Selatan (Tjondroadikoesoemo, 1993:6). Kondisi itu berbeda dengan di Pulau Jawa. Penduduk Pulau Jawa sampai akhir abad XIX belum mengetahui bagaimana cara mengkonsumsi ubi kayu (Jasper, 1902:125). Hal itu sungguh ironis karena salah satu alasan diperkenalkannya ubi kayu adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Upaya untuk memperkenalkan ubi kayu sebagai bahan pangan sudah dilakukan pemerintah kolonial sejak 1851, ketika terjadi kekurangan bahan pangan di Trenggalek. Akan tetapi hasilnya jauh dari yang diharapkan pemerintah kolonial (Rinardi, 2002:166).
Penduduk P. Jawa baru mulai mengenal manfaat ubi kayu sebagai bahan pangan pada awal abad XX (Ginkels, 1926:23). Selama dua puluh tahun pertama abad XX, ubi kayu berkembang menjadi bahan pangan pengganti bagi penduduk pribumi. Ubi kayu baru digunakan sebagai bahan pangan penduduk P. Jawa pada awal abad XX. Terjadinya kelangkaan bahan pangan, sebagai akibat serangan hama tanaman dan musim kemarau panjang. Kondisi itu kurang menguntungkan bagi panen padi (Gonggrijp, 1927:160). Salah satu sebab ubi kayu dijadikan sebagai bahan pangan berkaitan dengan latar belakang ekonomis. Penduduk memilih mengkonsumsi ubi kayu dengan pertimbangan mereka dapat menjual beras hasil panennya untuk mencukupi kebutuhannya yang mendesak, seperti membayar pajak, sandang dan sebagainya (Creutzberg & van Laanen, 1987:56). Harga ubi kayu yang murah membantu penduduk pedesaan guna memperoleh bahan pangan tersebut. Mereka memilih ubi kayu menggantikan beras yang harganya lebih mahal (Walter P. Falcon, 1984:260).
Penduduk P. Jawa di beberapa tempat lebih mengonsumsi gaplek dibanding beras. Kebutuhan penduduk untuk mengonsumsi ubi kayu selama periode 1913-1920 cukup tinggi. Hal itu dapat diketahui dari bertambhanya perluasan penanaman ubi kayu selama periode tersebut. Secara umum selama awal abad XX, ubi kayu di P. Jawa sebagai bahan pangan dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, apabila dilihat dari perannya.
a. Ubi kayu sebagai bahan pangan utama, berkembang di daerah kurang subur, sehingga padi tidak dapat dibudidayakan dengan baik. Ubi kayu sebagai bahan pangan utama itu ada di daerah; Wonogiri, Gunung Kidul, dan Bojonegoro.
b. Ubi kayu sebagai bahan pangan tambahan, muncul terutama pada masa paceklik pangan, khususnya di daerah dengan penduduk padat, terutama di Surakarta dan Kediri.
c. Ubi kayu sebagai bahan pangan sampingan.
Ubi kayu dalam perkembangannya dapat diolah dalam bentuk yang berbeda sebagai bahan pangan. Distrik Sengguruh, misalnya menggunakan ubi kayu sebagai bahan pangan, hampir sama dengan beras dan jagung. Ubi kayu memiliki keunggulan, karena karbohidratnya yang tinggi. Kondisi itu membuat ubi kayu sebagai bahan pangan menghasilkan rasa kenyang lebih lama dibanding dengan beras. Ubi kayu sebagai bahan pangan bagi penduduk P. Jawa ketika harga beras dan jagung dinilai mahal. Penduduk kemudian memilih mengonsumsi ubi kayu sebagai bahan pangan alternatif. Mereka akan kembali mengonsumsi beras dan atau jagung ketika harga kedua bahan pangan itu turun.
Satu hal yang menarik mengenai hubungan antara harga beras/jagung dan ubi kayu adalah harga ubi kayu akan bertambah jika harga kedua bahan pangan itu (beras dan jagung) meningkat. Sebaliknya harganya akan turun, jika harga beras dan jagung telah turun. Fenomena tahun 1930 jelas menunjukkan hal itu. Pada awal tahun 1930, harga ubi kayu melonjak akibat tingginya konsumsi penduduk. Kondisi disebabkan oleh turunnya persediaan pangan, seperti beras dan jagung. Sebagai akibatnya, harga kedua bahan pangan itu meningkat. Akan tetapi, ketika persediaan beras dan jagung kembali pulih di akhir tahun, sehingga harga kedua bahan pangan itu kembali normal, maka harga ubi kayu ikut turun karena permintaan kembali normal. Kondisi yang sama berlaku tahun 1935. Musim kemarau panjang yang terjadi tahun 1935 mengakibatkan harga beras meningkat (Economisch weekblad, 1935:506 dan Indisch verslag, 1936:49). Keadaan itu menyebabkan penduduk pribumi beralih dengan menjadikan ubi kayu sebagai bahan pangannya. Berdasar data yang ada konsumsi per-kapita ubi kayu meningkat dari 123 kg/kapita dtahun 1934 menjadi 132 kg/kapita di tahun 1935 (Statistical Pocketbook of Indonesia, 1941:142). Hal itu menyebabkan harga ubi kayu meningkat dibanding sebelumnya.
Berdasarkan kondisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi ubi kayu di Jawa ditandai oleh dua faktor. Pertama apabila panen beras dan jagung gagal karena kekeringan atau bencana lainnya, maka konsumsi ubi kayu akan meningkat. Sebaliknya apabila panen beras dan jagung melimpah, maka konsumsi ubi kayu akan turun (Economisch weekblad, 1938:1671). Kedua, peningkatan harga bahan pangan utama, seperti beras, akan mendorong kenaikan konsumsi ubi kayu di kalangan penduduk. Hal itu secara tidak langsung mendorong meningkatnya harga ubi kayu dibanding sebelumnya.
Penduduk P. Jawa umumnya mengkonsumsi ubi kayu dalam bentuk gaplek atau ubi kayu kering. Sebuah laporan dari konsultan pertanian menyebutkan bahwa di Karesidenan Kedu,
Semarang, Malang, dan Vorstenlanden, ubi kayu diolah menjadi gaplek. Hasilnya kemudian dikomsumsi sendiri (Economisch weekblad, 1936:1928). Dalam hal ini, gaplek dijadikan bahan pangan oleh penduduk apabila terjadi kemarau panjang, sehingga harga beras meningkat. Ubi kayu menjadi bahan pangan penduduk pada masa paceklik, juga terjadi di Banjarnegara (William Wolters, 1994:179). Dengan demikian, ubi kayu selama awal abad XX telah berkembang sebagai tanaman pangan bagi penduduk pribumi. Ubi kayu bahkan menjadi komoditi penting di mata Pemerintah Kolonial. Oleh karena itu, Pemerintah Kolonial ikut mengawasi perdagangan ubi kayu, karena takut jika terjadi kekurangan bahan pangan di Pemerintah Kolonial kalangan penduduk Jawa karena kegagalan panen padi (Economisch weekblad, 1936: 1235). Ubi kayu menjadi salah satu alat Pemerintah Kolonial untuk mencegah dan mengawasi bahaya kelaparan di kalangan penduduk P. Jawa (Rinardi, 2002:161).
Penelitian Scheltema tentang konsumsi penduduk Pulau Jawa menyebutkan bahwa terdapat 34 distrik yang penduduknya mengonsumsi ubi kayu bersama-sama beras di tahun 1924. Hal yang menarik adalah 25 distrik di antaranya mengonsumsi ubi kayu sebelum masa panen tiba. Kebanyakan distrik itu ada di Jawa Tengah, yaitu 14 distrik, 8 distrik ada di Jawa Barat, dan sisanya di Jawa Timur. Dalam penelitian itu disebutkan pula bahwa penduduk distrik yang mengonsumsi ubi kayu bersama dengan beras sebagai bahan pangan paska panen seluruhnya ada di Jawa Tengah (Eng, 1993:181). Lebih lanjut, dalam penelitian itu disebutkan bahwa terdapat 28 distrik di Pulau Jawa yang penduduknya mengonsumsi ubi kayu bersama-sama dengan jagung. 17 distrik di antaranya ada di Jawa Tengah dan 11 buah ada di Jawa Timur (Schletema, 1923:180-197). Penduduk Pulau Jawa paling banyak mengonsumsi ubi kayu bersama-sama dengan jagung dan beras. Secara keseluruhan terdapat 85 distrik yang mengonsumsi ubi kayu, jagung dan beras pada masa sebelum musim panen. Jawa Tengah sekali lagi menunjukkan menjadi wilayah yang penduduknya banyak mengomsumsinya, yaitu ada di 58 distrik, Jawa Timur 19 distrik, dan sisanya di Jawa Barat.
Penduduk Pulau Jawa selama paruh pertama abad XX telah menganggap ubi kayu sebagai bahan pangan. Indikasinya adalah besarnya konsumsi ubi kayu dibanding jenis bahan pangan lainnya di Pulau Jawa selama periode tersebut. Hal yang lebih penting lagi adalah terdapat suatu fenomena bahwa selama periode 1932-1940 konsumsi ubi kayu di kalangan penduduk Pulau Jawa telah meningkat, dari 132 kg/kapita di tahun 1932 menjadi 162 kg/kapita di tahun 1940 (CBS, 1941:142). Mengenai perkembangan konsumsi per-kapita ubi kayu dan bahan pangan lainnya di Pulau Jawa selama periode 1932-1940 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Perkembangan Konsumsi Bahan Pangan Per-Kapita Penduduk P. Jawa dan Madura Periode 1932-1940 Tahun Bahan Pangan 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 Beras 86 86 78 85 83 75 85 83 86 Jagung 40 46 37 42 45 40 39 39 38 Ubi Kayu 132 125 123 132 146 138 160 159 162 Ubi rambat 22 26 30 30 24 26 26 27 30 Kentang 2,3 1,6 1,4 1,4 1,2 1,1 0,8 0,9 0,8 Kacang 2,6 2,5 2,4 2,2 2,3 2,3 2,6 2,2 2,7 Kacang Kedelei 4,4 4,9 4,1 4,1 4,9 5,1 5,4 6,2 5,3
Berdasar data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa konsumsi ubi kayu penduduk Pulau Jawa adalah yang terbesar dibanding bahan pangan lainnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penduduk mengonsumsi ubi kayu sebagai bahan pangan melebihi beras dan bahan pangannya pada periode 1930-an. Ubi kayu berdasar tabel di atas merupakan bahan pangan utama penduduk Pulau Jawa melebihi bahan pangan lainya. Wonogiri, Bojonegoro, Madiun, Kediri bagian selatan merupakan daerah yang penduduknya mengonsumsi ubi kayu sebagai bahan pangan.
Ubi kayu sebagai bahan pangan pangan dapat dikonsumsi melalui berbagai cara. Pada umumnya ubi kayu merupakan bahan pangan alternatif dan bahan pangan tambahan. Ubi kayu sebagai bahan pangan alternatif dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk. Penduduk pedesaan seringkali menggunakan ubi kayu sebagai sarapan pagi. Mereka mengonsumsinya dengan cara direbus atau dikukus kemudian dimakan pada pagi hari ketika akan berangkat ke sawah atau ke ladang. Jenis makanan khas lainnya yang bahan dasarnya ubi kayu adalah tiwul. Makanan itu berasal dari Wonogiri dan Gunung Kidul. Terbuat dari gaplek, yaitu ubi kayu yang dikeringkan kemudian ditumbuk. Tiwul banyak dikonsumsi ketika harga beras meningkat, sehingga penduduk tidak mampu membelinya. Pada masa krisis tiwul dikonsumsi selayaknya nasi, dengan lauk pauk serta sayuran. Jenis makanan lainnya yang mirip dengan tiwul adalah gatot. Bahan dasarnya sama yaitu gaplek, bedanya dengan tiwul adalah gatot berwarna kehitaman. Sedangkan tiwul berwarna kecoklatan. Keduanya adalah bahan pangan alternatif pengganti beras.
Ubi kayu juga dapat dijadikan sebagai makanan tambahan atau semacam camilan. Jenis makanan tambahan atau camilan yang paling dikenal adalah gethuk. Makanan tersebut berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pembuatannya gampang, ubi kayu dikupas kemudian direbus. Setelah empuk, ubi kayu itu ditumbuk, ditambah gula kemudian diberi parutan kelapa. Makanan tambahan lainnya yang banyak dikenal masyarakat kecil adalah lemet. Makanan itu berasal dari Gunung Kidul. Daerah Jawa Barat memiliki juga camilan atau snack yang bahan dasarnya ubi kayu, namanya combro. Cara membuatnya, ubi kayu diparut kemudian dibentuk bulat dengan isian oncom. Selanjutnya digoreng sampai matang. Beberapa daerah memanfaatkan tepung tapioka sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk. Mereka menyebutnya sebagai kerupuk kere artinya kerupuk miskin. Kondisi itu jelas berbeda dengan periode awal abad XX, saat itu penduduk Pulau Jawa dan Madura masih belum memahami kegunaan ubi kayu sebagai bahan pangan.
Dengan berbagai pemanfaatan itu ubi kayu pada periode 1920-an sudah dikenal sebagai bahan pangan oleh penduduk Pulau Jawa dan Madura. Hal itu dibuktikan dalam survei yang dilakukan tahun 1924 bahkan menemukan fenomena bahwa seluruh penduduk Pulau Jawa mengonsumsi ubi kayu seharga F. 126 juta, sementara jumlah uang yang digunakan pada tahun yang sama mencapai F. 666 juta. Jumlah uang itu jauh lebih banyak dibandingkan jumlah uang untuk konsumsi kacang tanah, jagung, ubi jalar, dan kedelei (Gonggrijp, 1927:160). Laporan itu menempatkan ubi kayu di posisi kedua di bawah beras dalam biaya hidup masyarakat Pulau Jawa. Akan tetapi jika uang yang digunakan oleh penduduk untuk membeli ubi kayu dan beras dikonversikan dalam bentuk barang, maka jelas ubi kayu yang paling banyak dikonsumsi penduduk Pulau Jawa. Hal itu disebabkan harga ubi kayu lebih murah dibandingkan dengan harga beras. Lebih jelas lagi mengenai perbandingan harga ubi kayu dan bahan makanan lainnya di Pulau Jawa dalam periode 1933-1940 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 2.
Perkembangan Harga Bahan Pangan di Pasar Lokal Pulau Jawa dan Madura Periode 1933-1940 (Gulden/Kuintal)
Sumber: Statistical Pocket Book of Indonesia 1941, hlm. 124.
Berdasar grafik di atas jelas terlihat bahwa ubi kayu adalah bahan pangan yang paling murah dibanding jenis bahan pangan lainnya. Ubi kayu kualitas 1 harganya hanya berkisar sekitar 1 gulden untuk setiap kuintalnya. Sedangkan beras harganya rata-rata di atas f.5/kuintal. Harga beras kualitas 1 bahkan hingga di atas f.8/kuintal. Dengan dasar itu, pemilihan ubi kayu sebagai bahan pangan jelas disebabkan faktor ekonomis. Harga ubi kayu yang murah dibanding jenis bahan pangan lainnya, termasuk jagung sekalipun menjadi alasan utama berkembangnya ubi kayu sebagai bahan pangan. Dengan sejumlah uang yang sama, penduduk akan memperoleh lebih banyak bahan pangan jika mereka mengonsumsi ubi kayu. Faktor itulah yang menyebabkan ubi kayu banyak dikonsumsi penduduk P. Jawa dan Madura selama periode 1930-an. Penduduk P. Jawa dan Madura memilih ubi kayu sebagai bahan pangan alternatif, karena mereka dapat menghemat pendapatannya. Krisis ekonomi telah menyebabkan penduduk P. Jawa dan Madura berlaku hemat dalam urusan konsumsi bahan pangan. Faktor itulah yang menyebabkan ubi kayu berkembang dengan pesat selama periode 1930-an atau masa setelah depressi ekonomi.
III. PENUTUP A. Kesimpulan
Ubi kayu adalah tanaman yang sanggup berkembang nyaris di setiap tempat dan bukan tanaman musiman. Tanaman ini menjadi solusi bagi masyarakat Jawa yang sedang mengalami kesulitan karena tekanan ekonomi sebagai akibat resesi ekonomi dunia pada periode 1930-an. Oleh karena itu, ubi kayu kemudian berkembang di Jawa dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibanding periode sebelumnya. Petani membudidayakan ubi kayu untuk memaksimalkan hasil produksi lahan pertaniannya, karena bertambahnya tekanan penduduk atas lahan pertanian. Dalam hal ini, ada hubungan positif antara kesulitan ekonomi masyarakat Jawa dan perkembangan budidaya serta konsumsi ubi kayu di kalangan masyarakat. Turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat akan diimbangi dengan meningkatnya jumlah budidaya dan konsumsi ubi kayu di
kalangan masyarakat. Kondisi itu yang secara tidak langsung mendorong perkembangan ubi kayu di Pulau Jawa selama awal abad XX.
Perkembangan budidaya di P. Jawa secara keseluruhan dapat dibagi menjadi tiga periode. Pertama pada awal abad XX, saat itu P. Jawa mengalami persoalan ekonomi yang berat karena eksploitasi ekonomi yang berat menyebabkan turunnya tingkat kesejahteraan penduduk pedesaan Pulau Jawa. Pemerintah Kolonial bahkan meresponnya dengan memperkenalkan kebijakan etis guna mengatasi kemiskinan yang saat itu sedang melanda penduduk pribumi Pulau Jawa. Penduduk Pulau Jawa mulai menanam ubi kayu karena manfaat tanaman tersebut yang bukan saja dapat diolah menjadi bahan baku tepung tapioka untuk dijual ke pabrik pengolah guna dijadikan tepung tapioka. Ubi kayu juga mulai dimanfaatkan sebagai tanaman pangan oleh penduduk pribumi.
Periode kedua adalah masa Perang Dunia I (PD I), Pulau Jawa saat itu sedang mengalami persoalan ekonomi sebagai pengaruh dari PD I. Pulau Jawa menderita karena dua hal selama PD I berlangsung. Pertama, oleh karena hasil perkebunan Pulau Jawa tidak laku di pasar dunia, menyebabkan terjadinya resesi ekonomi di Pulau Jawa. Produksi barang primer berjalan, tetapi tidak ada yang membeli. Pihak yang paling menderita adalah para petani karena mereka ada pada hirarki yang paling rendah dalam rantai ekonomi perkebunan. Kedua, oleh karena perusahaan perkebunan menderita kerugian, mereka kemudian melakukan efisiensi dengan melakukan penghematan. Akibatnya adalah petani berkurang pendapatannya dari perusahaan perkebunan. Keadaan itu menyebabkan, petani mengalami kesulitan ekonomi. Pendapatan mereka berkurang, tetapi pengeluarannya tetap. Dalam kondisi seperti itu, penduduk Pulau Jawa memilih untuk mengonsumsi ubi kayu karena harganya yang murah dibanding beras. Pada sisi lainnya, hasil panen padi petani dimanfaatkan untuk dijual karena harga lebih tinggi, sedangkan hasil penjualannya digunakan untuk mencukupi kebutuhan lainnya.
Periode ketiga adalah pada masa depressi ekonomi yang terjadi pada awal 1930-an. Masa itu berlangsung pula kekeringan yang cukup panjang pada awal 1930. Hal itu menyebabkan persediaan beras dan jagung berkurang sehingga harganya melambung di pasaran. Penduduk Pulau Jawa kemudian mensikapinya dengan lebih banyak mengonsumsi ubi kayu sebagai bahan pangan. Keadaan ekonomi di Pulau Jawa selama masa depressi ekonomi sama, bahkan jauh lebih parah dibanding dengan masa PD I. Pulau Jawa sebagai penghasil bahan baku atau primer hasil perkebunan menderita karena krisis yang terjadi di Amerika dan Eropa. Hasil perkebunan dan tambang dari Indonesia tidak ada yang membeli di pasaran internasional. Sebagai akibatnya, perusahaan perkebunan dan pertambangan di Indonesia mengalami kerugian yang besar. Lebih parah lagi, mereka harus mengurangi pengeluarannya demi efisiensi perusahaan. Hal itu menyebabkan banyaknya pekerja di perusahaan perkebunan dan pertambangan yang harus diberhentikan karena perusahaan tidak mampu membayarnya. Kondisi itu menyebabkan petani sekali lagi merasakan penderitaan. Kebutuhan mereka tetap, terutama keharusan membayar pajak, sedangkan pendapatannya berkurang. Hal itu kemudian direspons petani dengan mencari bahan pangan yang relatif murah. Ubi kayu memenuhi kriteria tersebut, sehingga konsumsi ubi kayu meningkat pesat selama periode 1930-an. Peningkatan luas areal lahan dan jumlah panen menjadi indikasi bertambahnya konsumsi ubi kayu selama masa 1930-an.
B. Saran
Belajar dari perkembangan ubi kayu di P. Jawa selama awal abad XIX, ada beberapa hal yang dapat dijadikan pembelajaran, sekaligus dapat menjadi acuan kebijakan yang diambil pemerintah dalam bidang pangan. Pertama, disebabkan tidak seharusnya penduduk Indonesia bergantung kepada padi sebagai bagan pangan. Padi merupakan tanaman yang membutuhkan banyak biayai dalam budidayanya, terutama ketika revolusi hijau mulai menjangkaunya. Budidaya padi membutuhkan benih unggul, pupuk buatan, pestisida anti hama, sistem irigasi yang baik. Semuanya membutuhkan investasi besar. Pada sisi lainnya, persawahan di P. Jawa mulai beralih fungsi menjadi perumahan dan kompleks industri. Hal itu secara tidak langsung menyebabkan produksi padi mengalami penurunan. Dengan demikian, terdapat ancaman bagi produksi bahan pangan Indonesia.
Kedua, belajar dari budidaya ubi kayu di P. Jawa selama abad XIX pemerintah hendaknya melakukan diversifikasi bahan pangan bagi penduduk Indonesia. Terdapat banyak tanaman yang buahnya mengandung karbohidrat tinggi di Indonesia. Tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif bagi penduduk Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah dengan ekologi non-persawahan. Penggunaan tanaman lokal yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi sebagai pengganti beras akan sangat menguntungkan. Pertama, dapat menyelematkan tanaman endemik di beberapa tempat yang sebelumnya berfungsi sebagai bahan pangan atau bahan pangan alternatif. Kedua, dengan memanfaatkan tanaman non-beras sebagai bahan pangan alternatif, secara tidak langsung dapat membantu lingkungan alami di berbagai wilayah Indonesia. Ketiga, dengan banyaknya bahan pangan alternatif dapat mengurangi beban persawahan di P. Jawa.
Ketiga, Pemerintah hendaknya mengambil langkah yang bijak sekaligus bertindak sebagai pioner dalam kampanye memperkenalkan penggunaan bahan pangan alternatif penggantu beras. Tindakan pemerintah kolonial yang mencoba memperkenalkan ubi kayu sebagai bahan pangan penduduk P. Jawa dapat ditiru dalam upaya memperkenalkan berbagai jenis bahan pangan alternatif di Indonesia. Meskipun demikian, satu hal yang harus dipahami adalah perlu kesabaran dalam menuai hasil terhadap kampanye penggunaan bahan pangan alternatif pengganti beras tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Resmi Pemerintah dan Mingguan
CBS, 1947. Statistical Pocket Book of Indonesia 1941, Batavia: Departement of Economic Affairs.
Economic Weekblad 1932, 1935, 1936,1938, 1939, 1940, 1941. Indisch Verslag 1936.
Indisch Verslag II: Statistich jaaroverzicht van Nederlandsch Indie over het jaar, 1931, 1939.
Jaaroverzicht van dern in-en uitvoer van Nederlandsch Indie, 1928
Buku dan Artikel
Blokzeijl, K.R.F. (1916). De Cassave. Haarlem: H.D. Tjeenk Willink & Zoon
Boomgaard, P, (1989). Children of Colonial State: Population Growth and Economic Development in Java, 1795-1890. Amsterdam: Free Ubniversity Press
_______,”Java’s Agricultural Production 1775-1875”in Angus Maddison & Ge Prince (ed), , (1989). Economic Growth in Indonesia.Dordrecht: Foris Publications.
Breman, J.C., (1971). Djawa: Pertumbuhan Penduduk dan Struktur Demografis. Jakarta: Bhratara. Burger, D.H., (1970). Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia II. Jakarta: Pradnja Paramita. _______, (1983). Perubahan-Perubahan Struktur Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Bhratara
Karya Aksara.
Creutzberg, P & J.T.M. van Laanen, (1987). Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
De Landbouw, Exsport gewessen van Nederlandsch-Indie in 1937.
De Sturler, W.L., (1863). Handboek voor de landbouw in Nederlandsch- Indie. Batavia: Landrukkerij.
De Vries, E, “Dinas-Dinas Kemakmuran” dalam H. Baundet & S.J. Brugmans (ed), (1978). Politik Etis dan Revolusi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Djojohadikusumo, S, (1989). Kredit Rakyat di Masa Depresi, Jakarta: LP3ES, 1989.
Eng, P van der, (1993). Agricultural Growth in Indonesia since 1880. Gronigen: Rijk Universiteit. Falcon, W P. et al., “Peranan Ubi Kayu Dalam Kebijaksanaan Pangan”, dalam Falcon, Walter P.
et. al., (ed), (1984). Ekonomi Ubi kayu. Jakarta: Gramedia>
Furnivall, J.S., (1939), Netherlands Indie, A Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press.
Garraghan, G J., (1975). A Guide to Historical Method.New York: Fordham University Press. Gonggrijp, G., (1928). “De be Gonggrijp, G., langstingdruk op de inlandse bevolking en har
ekonomische toestand”, in Koloniaal Tijdschrift 1927.
_______, (1928). Schets eener ekonomische geschiedenis van Nederlandsche-Indie. Haarlem: De Erven F. Bohn.
Gottschalk, L, (1975). Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Haccau, J.F. “Perekonomian Hindia Belanda, Suatu Gambaran Tentang Pertumbuhan dan Perjuangan” dalam H. Baudet & I.J. Brugmans, (1978). Politik Etis dan Revolusi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jasper, J.E., “Het nut de cassava”, in Tijdschrift voor nijverheid en landbouw in Nederlandsch Indie 1902.
Mackie, J.A.C., “Periode 1941-1965 Sebagai Selingan Dalam Pembentukan Ekonomi Nasional: Bagaimana Sebaiknya Kita Menafsirkan?” dalam J. Th. Lindblad (ed), (2002). Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
O’Malley, William J.“Perkebunan 1830-1940: Ikhtisar” dalam Anne Booth et al. (ed), (1988).
Sejarah Ekonomi Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Rinardi, H (2002). Politik Singkong Zaman Kolonial. Semarang: Messias, 2002
_______, (2011). Kredit Untuk Rakyat: Kebijakan Kredit Kecil Bersubsidi Untuk Usaha Kecil dan Menengah 1904-1990. Yogyakarta: UGM Disertasi S-3 tidak diterbitkan.
Scheltema, A.M.P.A, “Voedings van Java’s bevolking”, in Koloniale Studien (1923). Tjondroadikoesoemo, S (1993). H.F.S. & Industri Ubi Kayu Lainnya. Jakarta: Gramedia.
Van Ginkel, H. Fieves de Malines, (1926). Verslag van der economischen toestand van der inlandsche bevolking. Batavia: Landsdrukkerij
Wolters, William, “From Corvee to Contract Labour, Institutional Innovation in Central Java Village Around the Turn of Century”, in Robert Cribb (eds), (1994). The Late Colonial State in Indonesia, Political and Ecdonomic Foundation of The Nederlands-Indies 1880-1942. Leiden: KITLV Press.