PETA PERJALANAN PENYELESAIAN BATAS-BATAS MARITIM NKRI

Teks penuh

(1)
(2)

Pada saat bangsa Indonesia memproklamasikan

kemerdekaan, wilayah Indonesia terdiri dari

pulau-pulau besar dan kecil yang sebelumnya

merupakan wilayah koloni Belanda, yang

disebut Hindia Belanda. Sesuai dengan

konvensi hukum internasional tentang wilayah

negara eks kolonialisasi (walau tidak tercantum

pada Undang-undang Dasar 1945), maka

wilayah negara Republik Indonesia secara

(3)

 Pada saat bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan,

wilayah Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang

sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Hindia Belanda (tidak tercantum pada Undang-undang Dasar RI tahun 1945; UUD-45) dimana pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya sesuai ketentuan TZMKO 1939.

 Hal ini jelas tidak menguntungkan Indonesia. Ini berarti kapal

asing pada waktu itu dapat dengan leluasa melayari laut atau selat yang mengelilingi atau disekitar pulau-pulau kita hingga tiga mil-laut mendekati pantai. Hal itu jelas mengancam

eksistensi keutuhan wilayah negara RI dipandang dari sudut mana pun.

 Dari situ lah kemudian awal perjuangan bangsa Indonesia

dimulai untuk memperoleh pengakuan internasional atas hak-haknya sebagai negara maritime, baik hak atas laut wilayah maupun hak atas kewenangan lainnya di laut (yurisdiksi

(4)

Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957, menyatakan

bahwa:

Laut antar pulau tidak terpisahkan dengan Negara

Kesatuan Republik Indonesia

Laut antar pulau merupakan laut penghubung,

sehingga laut di antara pulau-pulau merupakan satu

kesatuan dengan pulau-pulau tersebut.

Batas laut wilayah (territorial) Indonesia adalah 12

mil-laut dari garis pantai kearah mil-laut lepas, dan Indonesia

mempunyai kewenangan untuk mengelola daerah

kedaulatannya yang mempunyai batas wilayah 12 mil

dari garis pantai tersebut

(5)

Pada tanggal 17 Februari 1969 dikeluarkan

Pengumuman Pemerintah (Deklarasi) tentang

Landas Kontinen Indonesia yang kemudian

dipertegas dengan UU RI No. 1 tahun 1973.

Laut di atas landas kontinen ini merupakan laut zone

ekonomi eksklusif (ZEE)/laut internasional dengan

batas sejauh 200 mil-laut dari garis pantai yang

dapat dimanfaatkan Indonesia

Pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut di Wina

pada tahun 1982 (UNCLOS-82), Indonesia diakui oleh

dunia sebagai sebuah negara kepulauan

(6)

Perubahan (amandemen) terakhir Undang

Undang Dasar Negara Republik Indonesia

1945 (UUD-45), Bab IXA, tentang Wilayah

Negara pada Pasal 25A menyatakan:

(7)

Pasal ini jelas menyebutkan bentuk negara Indonesia

adalah Negara Kesatuan Republik (

Unity Republic

)

yang berwujud negara kepulauan (

archipelagic

state

).

Konvensi

PBB

tentang

Hukum

Laut

Internasional tahun 1982 (UNCLOS 82), Bab IV, Pasal

46 mendefinisikan negara kepulauan sebagai

berikut:

(a) “archipelagic State” means a State constituted

wholly by one or archipelagos and may include other

islands;

(b) “archipelago” means a group of islands,

including parts of islands, interconnecting waters

(8)

 ‘Negara kepulauan berciri Nusantara’ mempunyai arti Negara

kepulauan yang terletak di antara dua benua dan dua

samudera; yang dimaksud dengan dua benua adalah Benua Asia dan Benua Australia dan yang dimaksud dengan dua samudera adalah Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

 Dalam pernyataan ‘sebuah negara kepulauan yang berciri

Nusantara dan berbentuk negara kesatuan republik’ ini baru menunjukkan dimana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik yang bernama Negara Republik Indonesia.

 Kemudian, ‘dengan wilayah yang batas-batas dan

hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang’ mempunyai makna bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan Negara Kepulauan itu masih harus

(9)

Kebijakan dan praktek penanganan masalah perbatasan negara selama ini sifatnya

“adhoc” dan parsial, seperti contoh-contoh adanya kepanitiaan berikut:

 􀂃 Panitia Koordinasi Penyelesaian Masalah Wilayah Nasional dan Dasar Laut

(Pankorwilnas) yang dibentuk tahun 1971 dan berakhir tahun 1996 dan digantikan oleh Dewan Kelautan Nasional (DKN) tahun 1997 dan kemudian menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI) tahun 1999.

 􀂃 Sementara Pankorwilnas telah berakhir tapi produk turunannya terus berjalan

secara adhoc tanpa ada kejelasan hubungannya dengan DMI, seperti adanya:

a. General Border Committee (GBC) RI-Malaysia diketahui oleh Panglima ABRI (sekarang TNI).

b. Joint Commission Meeting (JCM) RI-Malaysia diketuai oleh Deplu.

c. Joint Border Committee (JBC) RI-PNG diketuai oleh Menteri Dalam Negeri.

d. Joint Border Committee (JBC) RI-UNTAET diketuai oleh Dirjen Umpem Depdagri. e. Subkomisi Teknis Batas Landas Kontinen diketahui oleh Dirjen Migas,

(10)

f. Sub Komisi Teknis (TSC) Survei dan Demarkasi

(untuk batas darat) RI-Malaysia diketuai oleh

Sekjen Depdagri.

g. Sub Komisi Teknis (TSC) Survei penegasan dan

pemetaan batas RI-PNG diketuai Kapusurta TNI

sejak 1995, sebelumnya diketuai oleh ketua

Bakosurtanal.

h. Sub Komisi Teknis (TSC) Border Demarcation

dan Regulation RI-TimTim diketuai oleh

Kapusurta TNI, Wkilnya Bakosurtanal.

(11)

Pola penangan seperti di atas jelas kuran produktif dan kurang efisien, serta sering menyebabkan banyak kelemahan dalam beberapa hal, seperti:

 Selalu diperlukan review dan konsolidasi setiap kali akan

melakukan perundingan.

 Representasi delegasi hanya tertumpu kepada figure

kekuatan Ketua Delegasi.

 Tindak lanjut hasil perundingan kurang sosialisasi dan

sering kurang terakomodasi dalam program tahunan.

 Pemerintah Daerah tidak berperan aktif, demikian pula

masyarakat di perbatasan tidak memperoleh perhatian sebagai mana mestinya.

 Adanya kendala membuat komitmen sekalipun oleh Ketua

Delegasi karena kurang konsolidasi.

 Birokrasi pengambilan keputusan menjadi panjang dan

terpisah-pisah.

 Tidak ada sistem baku baik dalam aspek pengelolaan

(12)

Dari uraian di atas, nampak jelas lingkup permasalahan

yang dapat kita kelompokkan menjadi:

masalah teknis perbatasan mencakup delimitasi,

demarkasi dan perapatan pilar batas,

masalah inventarisasi sumberdaya alam, demografi,

dan lingkungan perbatasan,

masalah sosialisasi dan penempatan tanda pengenal

pos lintas batas,

masalah sarana perbatasan terkait dengan imigrasi,

patroli perbatasan, pajak dan cukai, dan keamanan,

masalah pengawasan sumber daya alam dan

lingkungan hidup mencakup kehutanan, pertambangan,

perikanan, perkebunan, pertanahan, pelestarian dan

pemanfaatan,

masalah berkaitan dengan pertahanan dan keamanan

negara,

masalah peran serta Pemerintah Daerah dan

(13)

Aspek-aspek yang perlu dikelola dan merupakan

‘infrastruktur data spasial’ dalam penanganan

perbatasan negara, yaitu:

sistem peraturan perundang-undangan,

sistem kelembagaan yang bersifat permanent

(tidak bersifat

adhoc

),

sistem data utama (spasial dan non-spasial) dan

basis data yang terintegrasi dari daerah

perbatasan sebagai modal utama untuk

manajemen daerah perbatasan,

sistem partisipasi komunitas masyarakat

perbatasan, dan

metode dan teknologi yang tepat dan diperlukan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...