STRATEGI PENETAPAN HARGA JASA
BENGKEL RAWO RACING TEAM SIDOARJO
SKRIPSI
Diajukan KepadaUniversitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana ( S.Sos ) Dalam Bidang Manajemen Dakwah
Oleh :
Mochamad Zein Ramadhan N NIM: B34210062
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
DAFTAR ISI
JUDUL PENELITIAN ... i
PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
F. Sistematika Pembahasan ... 13
BAB II KAJIAN TEORITIK A. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 15
B. Kerangka Teori ... 16
1. Strategi Penetapan Harga ... 16
3. Tinjauan Mengenai Jasa ... 34
BAB III METODE PENELITIAN A. Metodologi Penelitian ... 37
B. Lokasi Penelitian... 38
C. Jenis dan Sumber Data ... 38
D. Tahapan Penelitian………. 43
E. Teknik Pengumpulan Data ... 46
F. Teknik Validitas Data ... 49
G. Teknik Analisis Data ... 50
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 55
B. Penyajian Data ... 59
C. Analisis Data ... 86
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 89
B. Saran dan Rekomendasi ... 90
C. Keterbatasan Penelitian ... 91 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada zaman dahulu sangat berbeda dengan zaman sekarang yang sangat berkembang pesat, seperti contohnya alat transportasi zaman dahulu dengan zaman sekarang sangat berbeda sekali, zaman dulu Nabi Muhammad SAW menggunakan hewan-hewan sebagai alat transportasi yaitu seperti keledai, domba, sapi, kuda dan lain-lain. Dan fungsinya pun juga beragam di antaranya mengakut bahan baku makanan, sebagai alat berpergian, dan sebagai alat untuk berperang. Serperti yang jelaskan pada Surat Yassin Ayat 72 dan Surat Al-Anam ayat 142 yang berbunyi :
Artinya : Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari
rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
Artinya : Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan
sebahagiannya mereka makan.
Pada era sekarang ini perkembangan dunia otomotif sudah sangat menjamur dan maju khususnya di Indonesia, sehingga telah merembet pada sektor persaingan perbaikan suku cadang (Sperpart) baik dari segi harga produk maupun harga jasa perbaikan antara bengkel otomotif satu dengan bengkel otomotif yang lain.
Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo adalah Bengkel yang sudah punya nama di daerah Surabaya dan Sidoarjo, yang salah satu keunggulannya adalah melalui Strategi penetapan harga Jasa yang ekonomis tanpa mengurangi Kualitas dan Kuantitas produk itu sendiri.
membangun keunggulan bersaing tersendiri tanpa mengurangi tingkat kualitas dan kuantitas pelayanan yang di tawarkan.
Pelayanan menurut Setya Budi Asmara sering diistilahkan dengan kata stewardship yang memiliki arti sebagai pekerjaan mengurus. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai kewajiban dan penanggungjawaban dalam menjalankan tugas pelayanan.1
Terlepas dari itu Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo ini dapat berkembang dengan cepat, tidak lepas juga dari strategi pemasaran yang tepat, cepat dan efektif.
Salah satu strategi pemasaran ini yakni strategi penetapan harga jasa.
Seperti dalam hadits Nabi Muhammad SAW: Anas bin Malik menuturkan bahwa pada masa Rasulullah saw pernah terjadi harga-harga membubung tinggi. Para Sahabat lalu berkata kepada Rasul.2
“Ya Rasulullah saw tetapkan harga demi kami. ” Rasulullah SAW menjawab:
“Sesungguhnya Allahlah Zat Yang menetapkan harga, Yang menahan, Yang mengulurkan, dan yang Maha Pemberi rezeki. Sungguh,
1 Setya Budi Asmara. Tata Kelola Keungan Lingkungan. Yogyakarta: KANISIUS (Anggota
IKAPI). 2012. Hal: 33
aku berharap dapat menjumpai Allah tanpa ada seorang pun yang menuntutku atas kezaliman yang aku lakukan dalam masalah darah dan tidak juga dalam masalah harta”. (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan at-Tirmidzi).
Para ulama menyimpulkan dari hadits tersebut bahwa haram bagi penguasa untuk menentukan harga barang-barang karena hal itu adalah sumber kedzaliman. Masyarakat bebas untuk melakukan transaksi dan pembatasan terhadap mereka bertentangan dengan kebebasan ini. Pemeliharaan maslahah pembeli tidak lebih utama daripada pemeliharaan maslahah penjual. Apabila keduanya saling berhadapan, maka kedua belah pihak harus diberi kesempatan untuk melakukan ijtihad tentang maslahah keduanya. Pewajiban pemilik barang untuk menjual dengan harga yang tidak diridhainya bertentangan dengan ketetapan Allah SWT.
Dalam hadits lain diceritakan bahwa Abu Hurairah juga menuturkan, pernah ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW Ia lalu berkata:
“Ya Rasulullah, tetapkanlah harga. ” Rasulullah SAW menjawab: “Akan tetapi, aku hanya akan berdoa kepada Allah.” Lalu datang orang lain dan berkata: “Ya Rasulullah, tetapkanlah harga” Beliau menjawab:
“Akan tetapi, Allahlah Yang menurunkan dan menaikkan harga”. (HR Ahmad dan ad-Darimi).
secara individual dapat mempengaruhi pasar, sebab pasar adalah kekuatan kolektif yang telah menjadi ketentuan Allah. Pelanggaran terhadap harga pasar, misalnya penetapan harga dengan cara dan karena alasan yang tidak tepat, merupakan suatu ketidak adilan yang akan dituntut pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Sebaliknya, dinyatakan bahwa penjual yang menjual dagangannya dengan harga pasar adalah laksana orang yang berjuang di jalan Allah (Jihad Fii Sabilillah).
Dari Ibnu Mughirah terdapat suatu riwayat ketika Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki menjual makanan dengan harga yang lebih tinggi daripada harga pasar dan harga tersebut yang harus di kendalikan dan di tetapkan.
“Orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, harga mulai mahal. Patoklah harga untuk kami!” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah-lah yang mematok harga, yang menyempitkan dan yang melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap untuk bertemu Allah dalam kondisi tidak seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan harta”. (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan asy-Syaukani).”3
3
Karena itulah faktor harga merupakan elemen penting dalam strategi pemasaran dan harus senantiasa dilihat dalam hubungannya terhadap strategi penetapan harga. Tujuan dari penetapan harga sendiri di antaranya adalah agar memperoleh laba yang maksimal, mendapatkan share pasar tertentu, dan mencari keuntungan yang ditargetkan dalam mempromosikan produk atau jasa.
Harga merupakan salah satu faktor dari bauran pemasran yang merupakan strategi yang dijalankan prusahaan yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menyajikan penawaran produk pada segmen pasar tertentu yang merupakan sasaran pasarnya.4 Dan tentunya
strategi harga yang diterapkan bengkel Rawo Racing Team adalah strategi harga berbasis permintaan lebih fokusnya lagi Skimming Price dan strategi harga berbasis biaya yaitu Standart Mark Up Price.
Penelitian yang saya paparkan ini meneliti tentang bagaimana penerapan strategi harga berbasis permintaan yaitu skimming price dan Standart Mark Up Price di Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo, dan sekaligus melakukan riset satu per-satu pada kedua strategi tersebut dan menganalisa strategi tersebut yang cocok dengan sistem pemasaran dari Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo.
4 Danang Sunyoto, Manajement Pemasaran (Pendekatan Konsep, Kasus, dan Psikologi Bisnis).
B. Rumusan Masalah
Bedasarkan fenomena diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana Penerapan Strategi Berbasis Permintaan Skimming Price di bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo?
2. Bagaimana Penerapan Strategi Berbasis Biaya Strandart Mark Up Price di bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menganalisa penerapan strategi Berbasis Permintaan skimming price di bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo.
D. Manfaat Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian, hasil yang diperoleh diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis berguna untuk mengembangkan disiplin ilmu yang berkaitan lebih lanjut dan manfaat praktis di gunakan untuk pemecahan masalah aktual.
1. Peneliti berharap dengan adanya penulisan karya tulis ilmiah ini nantinya dapat memberikan manfaat yang berharga dan berarti secara teoritis bagi peneliti pada khususnya dan umumnya pada pihak yang mempunyai kepentingan tentang Strategi Penetapan Harga Jasa khususnya strategi skimming price dan strategi standart mark up price.
2. Manfaat Praktis
a. Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap semoga bermanfaat bagi semua masyarakat luas yang menjadi target marketnya, dan bisa juga menjadi bahan masukan dalam segi penerapan Strategi Penetapan Harga Jasa di Bengkel racing.
E. Definisi Konsep
Konsep merupakan suatu abstraksi dari gejala yang ingin diteliti yang biasanya disebut fakta. Konsep disini berarti suatau uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut. Suatu konsep atau suatu kerangka konsepsional pada hakikatnya merupakan suatu pengarah atau pedoman yang lebih kongkrit daripada kerangka teoristis yang seringkali bersifat abstrak5.
Agar tidak terjadi kekeliruan pemaknaan mengenai Strategi Penetapan Harga, maka penulis akan memberikan gambaran dari beberapa teori yang ada hubungannya dengan judul peneltian, di antaranya adalah:
1. Pengertian Strategi
Strategi berasal dari kata yunani Strategeia (Stratos dan memimpin) yang artinya adalah (seni). Strategi juga diartikan sebagai suatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Banyak tokok manajemen yang memberikan definisi terhadap strategi. Seperti yang didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert: Strategi dapat didefinisikan berdasarkan dua perspektif yang berbeda yaitu:
5 Masruham, “Metodologi Penelitian Hukum”, Cetakan Ke 2, Surabaya: Hilal Pustaka, 2013,hal.
a. Strategi dapat didefinisikan sebagai program untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi dan mengimplementasikan misinya.
b. Strategi didefinisikan sebagai pola tanggapan atau respon organisasi terhadap lingkungannya sepanjang waktu yang bersifat reaktif6.
2. Pengertian Harga
Harga merupakan salah satu unsur bauran pemasaran yang paling fleksibel, harga dapat diubah dengan cepat, tetapi harga juga merupakan masalah nomor satu yang dihadapi banyak perusahaan karena pengaruh terhadap penerimaan penjualan, tingkat penjualan, tingkat keuntungan, serta share pasar yang dapat dicapai oleh perusahaan.7
Pengertian harga menurut Kotler dan Amstrong. Adalah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.
Sedangkan menurut Effendy, Mengemukakan pengertian dari harga adalah suatu nilai yang dinyatakan dalam bentuk rupiah atau bentuk moneter lain guna pertukaran (transaksi).
6Fandy Tciptono, Strategi Pemasaran, Edisi III, Yogyakarta : CV. ANDY OFFSET, 2008, hal. 3
3. Pengertian Jasa
Beberapa pengertian Jasa oleh pakar dibidangnya sebagai berikut :
Jasa adalah merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya bukan berbentuk produk fisik atau konstruksi, yang umumnya dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan serta memberikan nilai tambah, misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan atau kesehatan.8
Menurut William J. Stanton: Jasa adalah kegiatan yang dapat diidentifikasikan, yang bersifat tak teraba, yang direncanakan untuk pemenuhan kepuasan pada konsumen.9
Jasa diklasifikasikan menjadi dua kelas, yaitu :
a. Kelompok jasa yang tumpuan pentingnya dalam suatu transaksi, misalkan menyewa mobil dari seseorang atau peru sahaan, akan tetapi mobil itu tidak untuk dipakai sendiri, melainkan untuk disewakan lagi.
8 Danang Sunyoto, Manajement Pemasaran (Pendekatan Konsep, Kasus, dan Psikologi Bisnis).
Yogyakarta: CAPS (Center Of Academic Publishing Service), 2013. Hal: 112
b. Barang yang berwujud dengan jasa pelayanan, misalkan penjual mobil menjual mobilnya dengan jaminan petunjuk pemeliharaan dan perbaikan dan sebagainnya.
Menurut Phillip kotler : Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa biasa berkaitan dengan produk fisik atau sebaliknya.10
Sementara perusahaan yang memberikan operasi jasa adalah perusahaan yang memberikan konsumen produk jasa baik yang berwujud atau tidak berwujud seperti jasa transportasi, jasa hiburan, jasa pendidikan dan restoran.
10 Phillip Kotler, Amstrong, Dasar-Dasar Pemasaran, Jilid 2, Edisi Ke-5, Jakarta : Intermedia,
F. Sistematika Pembahasan
Dalam rangka mempermudah dalam memahami isi penelitian, maka pembahasan masalah akan kami bagi menjadi beberapa bab, Adapun sistematikanya sebagai berikut:
BAB I:
PENDAHULUAN
Merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, Pada bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, Tujuan penelitian, Manfaat penelitian, Definisi konsep, dan Sistematika pembahasan
BAB II:
KAJIAN TEORITIK
Merupakan kajian teoritik, yang berisi penelitian terdahulu, teori-teori yang digunakan dalam penelitian, didalam landasan teori-teori yaitu terdiri dari: Unsur- unsur dan fungsi-fungsi.
BAB III:
METODE PENELITIAN
BAB IV :
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Pada bagian ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, penyajian data yang memaparkan fakta-fakta mengenai masalah yang diangkat dan analisis data. Data yang telah dianalisis dan diuji keabsahan datanya dibandingkan dengan teori. Hasil uraian tersebut ditulis dalam sub bab pembahasan.
BAB V : PENUTUP
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
1. Alinawati Ayuningtyas melakukan penelitian tentang “Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Layanan dan Harga tehadap Kepuasan Konsumen D’cost Seafood di Royal
Plaza Surabaya”. Studi yang dikerjakan padatahun 2011 ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas produk, kualitas layanan dan harga terhadap kepuasan konsumen D’cost Seafood di Royal Plaza Surabaya. Penelitian ini lebih memfokuskan tentang kepuasan konsumen.
2. Kerta Gama melakukan riset tentang strategi harga di biro perjalanan wisata mitra tour dan travel Malang dengan judul “Implementasi StrategiPenetapan Harga sebagai Upaya dalam Meningkatkan Volume Penjualan”. Studi yang di kerjakan Kerta Gama pada tahun 2008 ini bertujuan untuk menggali strategi penetapan harga yang dapat dijadikan sebagai motivator dalam meningkatkan volume penjualan.
3. Muhammad Fajrul Falach melakukan penelitian tentang “Pengaruh Kesadaran Merek, Kualitas produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Laptop Acer Aspire Pada
Adapun persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang
penetapan harga. Sedangkan perbedaannya adalah pada permasalahan, objek penelitian dan metode penelitian yang digunakan.
B. KERANGKA TEORI
1. Tinjauan Mengenai Strategi Penetapan Harga
a. Strategi Penetapan Harga
Harga merupakan salah satu unsur pemasaran yang bersifat fleksibel yang artinya dapat diubah dengan cepat. Adapaun definisi dari harga menurut para ahli adalah sebagai berikut : Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang.1 Harga menurut
Lupiyoadi (2006:147) adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang serta pelayanan.2 James C.Anderson, James B.L
Thompson dan Finn Wynstra dalam jurnal yang berjudul “ combining value and price to make purchase decision in business markets” mengatakan bahwa harga dalam pasar bisnis adalah apa yang perusahaan pelanggan bayarkan kepada perusahaa penyalur untuk menawarkan produknya.3
Harga merupakan salah satu variable pemasaran yang perlu diperhatikan oleh manajemen perusahaan, karena harga akan langsung mempengaruhi besarnya volume penjualan dan laba yang dicapai oleh perusahaan. Ada dua faktor utama yang perlu yang
1 Buchari alma, 2007, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Alfabeta, Bandung, hal 169.
2 Lupiyoadi, 2006, Manajemen Pemasaran Jasa, Salemba Empat, Bandung, hal. 147
perlu di pertimbangkan dalam menetapkan harga, yakni faktor eksternal dan faktor
internal perusahaan.4 Faktor internal perusahaan mencakup tujuan pemasaran perusahaan,
strategi bauran pemasaran, biaya, dan organisasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi sifat pasar dan permintaan, persaingan, dan unsur-unsur lingkungan lainnya. Kebijaksanaan harga sebagai salah satu kebijaksanaan di dalam perusahaan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan kebijaksanaan perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian tujuan penetapan harga harus dikaitkan dengan tujuan perusahaan.5
b. Pentingnya Keputusan Harga
hal yang menjadi perhatian utama dari manajer pemasaran modern. Perhatian yang lebih besar barangkali ditujukan pada alat-alat bukan harga untuk memperoleh pembeli, sedangkan harga di pertahankan pada tingkat yang mencerminkan nilai-pakai relative dari produk itu dan dibandingkan dengan harga substitusi terdekatnya. Akan tetapi, ada waktu dimana keputusan harga itu sangat penting. Waktu tersebut adalah :
1) Bila suatu perusahaan harus menetapkan suatu harga untuk produk barunya.
2) Bila perusahaan itu ingin melakukan perubahan harga untuk suatu produk yang sudah ada.
3) Bila suatu perusahaan menghasilkan beberapa produk dengan permintaan yang saling berkaitan dan biaya-biaya menimbulkan masalah penentuan harga suatu penambahan baru.6
4Phillip Kotler, 1994, Marketing,Erlangga, Jakarta, hal. 341
5 Marius P.Angipora, 1999, Dasar-Dasar Pemasaran, PT. RAJA Grafindo, Jakarta, hal. 186
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga
Dalam menetapkan harga suatu produk dan jasa, perusahan perlu mempertimbangkan dua faktor berikut:
a. Faktor Internal Perusahaan
Faktor ini berasal dari dalam perusahaan, meliputi :
1. Tujuan Pemasaran Perusahaan
Semakin jelas tujuan suatu perusahaan, semakin mudah pula perusahaan tersebut dalam menetapkan harganya. Tujuan tersebut dapat berupa maksimalisasi keuntungan masa sekarang, untuk kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar yang besar, dan meraih kepemimpinan dalam hal kualitas produk, dan lain-lain.
2. Strategi Bauran Pemasaran
Harga merupakan salah satu alat bauran pemasaran yang digunakan perusahaan dalam mencapai tujuan pemasarannya. Perusahaan juga seringkali menempatkan produk mereka melalui harga, dimana harga dalam hal ini menjadi factor ysng menentukan pasaran produk, persaingan, dan rancangan produk.
3. Biaya
Biaya menjadi dasar harga yang dapat ditetapkan perusahaan terhadap produknya agar tidak mengalami kerugian.
4. Pertimbangan Organisasi
pemasaran atau penjualan. Dalam perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani
oleh manajer-manajer divisi ataupun lini produk.
b. Faktor Eksternal Perusahaan
Faktor ini berasal dari luar perusahaan, meliputi:
1. Pasar dan Permintaan
Sebelum menetapkan harga, seorang pemasar harus memahami hubungan antara harga dengan pasar dan permintaan atas produknya. Apakah pasar tersebut termasuk ke dalam pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopolistik, maupun monopoli murni.
2. Persaingan
Kebebasan perusahaan dalam menentukan harga itu bergantung pada jenis pasar yang berbeda-beda.
Berdasarkan bentuk persaingannya, ada empat jenis pasar, antara lain:
1. Pasar Persaingan Sempurna (pure competition), yaitu pasar yang terdiri dari banyak pembeli dan penjual yang memperdagangkan produk yang seragam.
3. Pasar Persaingan Oligopoli (Oligopolistic Competition), yaitu pasar yang terdiri dari sedikit penjual yang sangat sensitif pada penetapan harga dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pesaing.
4. Pasar Monopoli Murni (Pure Monopoly), yaitu pasar yang hanya ada satu penjual saja.7
d. Tujuan Penetapan Harga
Adapun tujuan dari Strategi Penetapan Harga sendiri adalah :
1) Tujuan Berorientasi pada Laba
a) Mencapai target laba, sebuah perusahaan dapat menetapkan harga produknya untuk mencapai presentase tertentu dari penjualan atau investasinya. Pencapaian tujuan seperti ini diterapkan oleh pedagang perantara atau produsen. Banyak pengusaha perdagangan eceran dan grosir menggunakan target laba pada penjualan netto sebagai tujuan penetapan harga periode jangka pendek.
b) Meningkatkan laba, tujuan penetapan harga untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya mungkin diikuti oleh sejumlah besar perusahaan daripada tujuan lainnya. Kesulitan yang dihadapi tujuan ini adalah bahwa istilah memperbesar laba berkonotasi buruk yang di hubungkan dengan harga tinggi dan monopoli perusahaan. Tujuan memperbesar laba akan lebih menguntungkan perusahaan jika di aplikasikan dalam
7
jangka panjang. Tetapi, untuk mengaplikasikan hal ini perusahaan harus menerima
kerugian dalam jangka pendek. Bisa di katakana investasi terlebih dahulu.
c) Mengharpkan laba tertentu, tujuan yang mana harga ditetapkan dengan harapan perusahaan tidak rugi tetapi barang yang dijual dapat dibeli masyarakat, bukan berarti pengusaha tidak mengharapkan laba sama sekali. Bersarnya laba per-unit atau per produk maupun total yang dianggap cukup oleh seorang penjual sangat subjektif, artinya sangat tergantung pada pandangan seseorang tentang faktor-faktor yang mengelilinginya.8
2) Tujuan Berorientasi pada Penjualan
a) Mengharapkan pertumbuhan penjualan, beberapa manajer terutama manajer di kalangan perusahaan-perusahaan besar lebih tertarik pada peningkatan volume penjualan dari pada peningkatan laba. Mereka beranggapan bahwa peningkatan volume penjualan secara langsung akan diikuti oleh peningkatan laba.
b) Mengharapkan pertumbuhan market store,market share atau bagian pasar yang berada ditangan perusahaan menunjukkan kekuatan bersaing perusahaan atau bahkan mampu pula meramalkan kelangsungan hidup perusahaan.
c) Mempertahankan market share, sebagian pengusaha memandang market share tertentu sebagai market share yang ideal. Mereka beranggapan menambah market share justru akan mendatangkan masalah baru bagi perusahaan, mereka menganggap perluasan
market share tentu akan menambah tuntutan manajemen yang mungkin tidak mampu mereka lakukan.
3) Tujuan Berorientasi pada Citra (image)
Citra (image) suatu perusahaan dapat di bentuk melalui strategi penetapan harga.
Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi untuk membentuk atau mempertahankan citra prestisius. Sementara itu harga rendah dapat digunakan membentuk nilai citra tertentu (image of value), misalnya dengan memberikan jaminan bahwa harganya merupakan harga yang terendah di suatu wilayah tertentu.
4) Tujuan Stabilisasi Harga
Dalam pasar yang konsumennya sangat peka terhadap harga, bila suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya harus menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini yang mendasari terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalam industry-industri tertentu (misalnya minyak bumi). Tujuan stabilisasi harga di lakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga dengan suatu perusahaan dan harga pemimpin industri dalam bidan atau suatu produk tertentu (industry leader).
5) Tujuan-tujuan Lainnya
Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjualan ulang, atau menghindari campur tangan dari pemerintah.
Tujuan-tujuan penetapan harga di atas memiliki implikasi penting terhadap strategi bersaing perusahaan. Tujuan yang ditetapkan harus konsisten dengan cara yang ditempuh perusahaan dalam menetapkan posisi relatifnya dalam persaingan. Misalnya, pemilihan tujuan laba mengandung makna bahwa perusahaan akan mengabaikan harga para pesaing.
Kotler dan Amstrong (1994:341) berpendapat bahwa ada dua faktor utama yang
perlu dipertimbangkan dalam menetapkan harga,yakni faktor internal perusahaan dan faktor lingkungan eksternal perusahaan. Faktor internal perusaahn mencakup tujuan pemasaran perusahaan, strategi bauran pemasaran, biaya dan organisasi. Faktor lingkungan eksternal perusahaan meliputi sifat pasar, dan permintaan, persaingan dan unsur-unsur lainnya dan mengajukan suatu model pengambilan keputusan secara bertahap untuk penetapan harga dengan mempertimbangkan berbagai faktor internal perusahaan dan faktor lingkungan eksternal perusahaan. Mengingat banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan pada saat penetapan harga, maka keduanya menyarakan perlunya suatu prosedur sistematis dalam menetapkan harga, yang dirasakan akan sangat membantu tugas manajemen. Untuk itu mereka mengajukan suatu model proses pengambilan keputusan mengenai penetapan harga yang disarankan untuk digunakan terutama pada saat untuk pertama kalinya keputusan harga akan dilakukan, misalnya saat pengenal produk baru atau pada saat dilakukannya negoisasi suatu kontrak kerja.9
Dalam model tersebut di bahas :
1. Berbagai Pengaruh dan kendala yang perlu diperhitungkan dalam penetapan harga 2. dan Langkah-Langkah proses penetapan harga.
1.
Pengaruh dan Kendala
Terdapat banyak cara menghitung harga, namun cara apapun yang digunakan, satu hal yang harus tetap diperhitungkan adalah faktor situasional, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Analisis internal lebih menekankan pada penilaian atau identifikasi kekuatan dan kelemahan tiap-tiap divisi dalam upaya untuk mencari keunggulan-keunggulan yang akan dapat dipakai untuk membedakan diri dari pesaing, sehingga harus dilakukan melalui sudut pandang konsumen. Analisis eksternal adalah penilaian terhadap kekuatan yang berada di luar perusahaan, dimana perusahaan tidak mempunyai pengaruh sama sekali untuk mengendalikannya, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan ini akan mempengaruhi kinerja semua perusahaan dalam faktor tersebut. Lingkungan eksternal mencakup situasi perekonomian umum, pelanggan dan pesaing. Cara yang umumnya dilakukan dalam analisis situasional antara lain adalah analisis produk, analisis pasar, analisis pelanggan, dan analisis lingkungan. Semua faktor ini dapat diperkirankan dapat mempengaruhi atau menjadi kendala dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Adapun faktor situasional yang dianalisa dalam metode penetapan harga ini :
a) Strategi Perusahaan dan Strategi Pemasaran
Strategi perusahaan terutama dalam mendistribusikan sumber daya yang ada pada daerah-daerah fungsional dan pasar produk dalam upaya memperoleh sustainable advantage terhadap kompetitornya. Porter mengemukakan tiga strategi generik, yaitu deferensiasi, focus dan kepemimpinan harga.10 Strategi pemasaran, yang termasuk
dalam strategi fungsional, umumnya lebih terperinci dan mempunyai jangka waktu yang
lebih pendek dibandingkan strategi perusahaan. Tujuan membangun strategi fungsional
adalah untuk mengkomunikasikan tujuan jangka pendek, menentukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan jangka pendek dan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencapaian tujuan tersebut. Strategi fungsional perlu dikoordinasikan satu sama lain untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan dalam organisasi atau perusahaan itu sendiri.
b) Karakteristik Pasar dan Sasaran
Segementasi pasar adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok pelanggan yang berbeda, sedangkan proses memutuskan pasar mana yang akan dituju disebut target marketing yang menghasilkan target market (pasar sasaran). Pemahaman terhadap pasar sasaran dibutuhkan untuk mengetahui variable apa saja yang mempengaruhi keinginan pelanggan dan menentukan keputusan membelinya. Baik pada pasar konsumen maupun pada pasar industrial, perlu diketahui apa saja yang menjadi kebutuhan inovasi dalam memperkenalkan produk tersebut, bagaimana lokasi geografis dari pasar sasaran, dan apa saja yang menjadi kebiasaan hidup mereka.
c) Karakteristik Produk
d) Karakteristik Kompetitor
Ada lima pokok yang berpengaruh dalam persaingan suatu indutri, yaitu persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi, pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru.11
e) Jumlah Perusahaan dalam Industri
Bila hanya ada satu perusahaan dalam industri, maka secara teoritis perusahaan yang bersangkutan bebas menetapkan harganya seberapapun. Akan tetapi sebaliknya, bila industri terdiri atas banyak perusahaan, maka persaingan akan terjadi. Bila produk yang dihasilkan tidak terdiferensiasi, maka hanya pemimpin industri yang leluasa menentukan perubahan harga.
f) Ukuran Relatif Setiap Anggota dalam Indutri
Bila perusahaan memiliki pangsa pasar yang besar, maka perusahaan yang bersangkutan dapat memegang inisiatif perubahan harga. Bila pangsa pasarnya kecil, makan perusahaan tersebut hanya sebagai pengikut.
g) Diferensiasi Produk
Bila perusahaan berpeluang melakukan diferensiasi dalam industrinya, makan perusahaan tersebut dapat mengendalikan aspek penetapan harga, behkan sekalipun perusahaan itu keci dan banyak pesaing dalam industri.
h) Kemudahan untuk Memasuki Industri yang Bersangkutan
Bila suatu industri mudah untuk dimasuki, maka perusahaan yang ada sulit mempengaruhi atau mengendalikan harga. Sedangkan bila ada hambatan yang masuk ke
pasar (barrier to market entry), maka perusahaan-perusahaan yang sudah ada dalam
industri tersebut dapat mengendalikan harga.
Hambatan masuk ke pasar dapat berupa persyaratan teknologi, investasi modal yang sangat besar, tidak tersedia bahan baku pokok/utamam skala ekonomis yang sudah dicapai perusahaan-perusahaan yang telah ada dan sulit diraih oleh para pendatang baru, ataupun keahlian dalam pemasaran.
i) Pengaruh Lingkungan (Tren Ekonomi dan Pembatasan Hukum)
Analisa meliputi faktor kondisi perekonomian yang disebabkan oleh siklus bisnis, inflasi/deflasi, kebijakan moneter, kebijakanfiskal, neraca pembayaran, perubahan iklim sosisal dan politik, perkembangan teknologi ataupun perubahan kebijakan pemerintah.
2.) Langkah-langkah Strategi Penetapan Harga
Dalam melaksanakan strategi penetapan harga perlu adanya metode-metode yang berkaitan, secara garis besar metode penetapan harga dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama yaitu : metode penetapan harga berbasis permintaan, berbasis biaya, berbasis laba dan berbasis persaingan.
a.) Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Skimming price, strategi ini diterapkan dengan jalan menetapkan harga tinggi
Penetration price, dalam strategi ini perusahaan berusahan memperkenalkan
suatu produk baru dengan harga rendah dengan harpaan akan dapat memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu relative singkat, strategi penetrasi ini juga dapat mengurangi minat dan kemampuan pesaing karena harga yang rendah menyebabkan marjin yang diperoleh setiap perusahaan menjadi terbatas.
Prestige price, merupakan strategi dengan menetapkan tingkat harga yang tinggi
sehingga konsumen sangat peduli dengan statusnya akan tertarik dengan produk, dan kemudian membelinya.
Price lining, merupakan strategi yang digunakan apabila perusahaan menjual
produk lebih dari satu jenis harga untuk lini produk tersebut bisa bervariasi dan ditetapkan pada tingkat harga tertentu yang berbeda.
Odd-even price, merupakan strategi penetapan harga yang besarnya nominal
mendekati jumlah genap, seperti Rp. 9.9750,00 yang pada umumnya banyak dijumpai di supermarket.
Demand-backward price, suatu strategi penetapan harga dengan melihat suatu
target tertentu, kemudian perusahaan menyesuaikan kualitas komponen-komponen produknya. Dengan kata lain, produk didesain sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi target harga yang ditatapkan.
Bundle price, merupakan strategi pemasaran dua atau lebih produk dalam satu
harga paket.12
b.) Penetapan Harga Berbasis Biaya
Standart mark up price, strategi ini ditentukan dengan jalan menambahkan
presentase tertentu dari biaya pada semua item dalam satu kelas produk.
Cost plus percentage of cost price, penetapan harga yang perusahaan
menambahkan presentase tertentu terhadap biaya produksi atau konstruksi.
Cost plus fixed fee price, dalam strategi ini pemasok atau produsen akan
mendapatkan ganti atas semua biaya yang dikeluarkan, seberapapun besarnya tetapi produsen tersebut hanya memperoleh fee tertentu sebagai laba yang besarnya tergantung pada biaya final proyek tersebut yang disepakati bersama.
Experience curve price, metode ini dikembangkan atas dasar konsep efek belajar
yang menyatakan bahwa unit cost barang dan jasa akan menurun antara 10 hingga 30% untuk setiap peningkatan sebesar dua kali lipat pada pengalaman perusahaan dalam penjualan barang tersebut.
c.) Penetapan Harga Berbasis Laba
Target profit price, umumnya berupa ketetapan atas besasrnya target laba tahunan
yang dinyatakan secara spesifik.
Target retrun of sales price, dalam metode ini perusahaan menetapkan tingkat
harga tertentu yang dapat menghasilkan lama dalam pressentase tertentu terhadap volume penjualan.
Target retrun on investment price, dalam metode ini perusahaan menetapkan
ditanamkan perusahaan pada fasilitas produksi dan asset yang mendukung produk
tertentu.
d.) Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Costumary price, metode ini digunakan untuk produk yang harganya ditentukan
oleh faktor-faktor tradisi, penetapan harga yang dilakukan berpegang teguh pada tingkat harga tradisional. Untuk itu perusahaan menyesuaikan ukuran dan isi produk guna mempertahankan harga.
Above, at, or below market price, metode penetapan harga yang menggunakan
pendekatan subjektif dalam memperkirakan harga pesaing atau harga pasar, kemudian perusahaan memilih strategi yang berada di atas, sama atau dibawa harga pasar dalam meilih konsumen.
Loss leader price, merupakan metode penetapan harga suatu produk yang
dijadikan semacam penglaris (pancingan) agar produk lainnya juga laku.
Sealed bid price, metode yang menggunakan system penawaran harga biasanya
melibatkan agen pembelian.harga jual beberapa macam barang atau jasa sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada.13 Di penelitian ini metode yang
diterapkan.
3.) Strategi Penyesuaian Harga
Perusahaan biasanya menyesuaikan harga dasar mereka untuk memperhitungkan
perbedaan pelanggan dan perubahan situasi. Dibawah ini merupakan strategi penyesuaian harga diantaranya adalah :
a.) Penetapan harga diskon dan pengurangan harga, pengurangan harga yang
diberikan kepada perusahaan kepada konsumen dengan adanya potongan melalui diskon
b.) Penetapan harga tersegmentasi, menyesuaikan harga untuk membuat perbedaan di
antara pelanggan, produk maupun lokasi.
c.) Penetapan harga psikologis, menyesuaikan harga untuk mempengaruhi psikologis.
d.) Penentapan harga promosi, sewaktu-waktu mengurangi harga untuk
meningkatkan penjualan dalam jangka pendek.
e.) Penetapan harga geografis, menyesuaikan harga untuk memperhitungkan lokasi
geografis pelanggan.
f.) Penetapan harga international, menyesuaikan harga untuk pasar tradisional.14
2. Tinjauan Mengenai Jasa
a. Jasa
Jasa menurut para ahli mendefinisikan pada dasarnya merupakan suatu yang tidak terwujud, yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.15 Di dalam
memproduksi suatu jasa dapat menggunakan bantuan suatu produk fisik tetapi bisa juga
tidak. Di samping itu juga jasa tidak mengakibatkan peralihan hak suatu barang secara fisik atau nyata, jika seseorang pemberi jasa memberikan jasanya pada orang lain, maka tidak ada perpindahan hak milik secara fisik.
b. Karakteristik Jasa
1.) Tidak Berwujud (intangibility)
Jasa mempunyai sifat tidak berwujud, karena tidak bisa dilihat, dirasakan, diraba, didengar, atau dicium sebelum ada transaksi pemeblian. Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli akan mencari tanda atau bukti dari mutu jasa tersebut. Pembeli akan mengambil kesimpulan mengenai mutu jasa dari tempat, manusia, peralatan, alat komunikasi, symbol-simbol, dan harga yang mereka lihat.
2.) Tidak Dapat Dipisahkan (Inseparability)
Jasa-jasa umumnya diproduksi secara khusus dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan.jika jasa diberikan oleh seseorang maka pada saat jasa diberikan, interaksi penyedia client maupun cirri khusus dari pemasaran jasa. Baik penyedia maupun client
akan mempengaruhi jasa tersebut.
3.) Beraneka Ragam (variability)
Jasa itu sangat beraneka ragam, karena tergantung kepada yang menyediakannya
dan kapan serta dimana disediakan. Seringkali pemberi jasa menyadari akan keanekaragaman ini dan membicarakannya dengan yang lain sebelum memilih seorang penyedia jasa.
4.) Tidak Tahan Lama (Perishability)
Jasa-jasa tidak dapat disimpan. Keadaan tidak tahan dari jasa-jasa bukanlah masalah dika permintaanya stabil, karena mudah untuk melakukan persiapan pelayanan sebelumnya. Jika permintaan terhadapnya berfluktuasi maka perusahaan jasa menghadapi masalah yang sulit.
Ketepatan strategi pemasaran jasa dari suatu perusahaan ditentukan oleh kualitas jasa (perceived service quality) yang ditawarkan dan diukur oleh service performance/perceived service (jasa yang dirasakan konsumen) dan customer expectation
(jasa yang diharapkan konsumen). Kualitas jasa keseluruhan merupakan totalitas dari setiap unsur bauran jasa.
Terdapat 5 unsur yang menentukan kualitas jasa yaitu :
1. Tangibles
Mencerminkan fasilitas fisik jasa seperti gedung kantor, ruangan dan petugas.
Reliability mencakup konsistensi dari penampilan dari keandalan jasa (tampilan pelayanan).
Meliputi kesiapan dan kecepatan tanggapan petugas untuk menyediakan jasa
(respon cepata dan tanggap).
3. Assurance
Meliputi keterampilan petugas, keramahan petugas, kepercayaan, keamanan dalam penggunaan jasa (kwalitas individu dari penyedia jasa).
4. Empathy
Mencakup kemudahan komunikasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen.16
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.
penelitian ini memberi gambaran yang natural karena penelitianya
dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting).1 Tidak lain adalah
mempunyai tujuan untuk menggambarkan suatu fenomena tertentu yaitu
mendiskripsikan kejadian-kejadian yang terjadi pada objek penelitian
dengan bertumpu pada Prosedur-prosedur penelitian yang menghasilkan
data Deskriptif yang bersifat menggambarkan atau menguraikan sesuatu
hal menurut apa adanya.2Maka dari itu, pendekatan kualitatif lebih cocok
dengan fokus penelitian ini.
Lalu alasan mengapa peneliti tidak menggunakan metode
penelitian kuantitatif, jelas bahwa metode tersebut tidak sesuai dengan
judul penelitian, yang dilakukan peneliti dengan alasan bahwa dalam
penelitian ini peneliti berhadapan langsung di tengah situasi objek
penelitian, dan data yang dikumpulkan adalah data asli atau natural
conditions dan sesuai pada fakta.
1 Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Banadung: Cv. ALFABETA, 2011)
hal. 8
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah di Bengkel Rawo Racing Team yang terletak
di Sidoarjo, Jawa Timur dengan lahan seluas Panjang 25.m x Lebar 14.m.
Alasan peneliti memilih lokasi penelitian tersebut karena menurut peneliti
Bengkel Rawo Racing Team memiliki keistimewaan atau ada hal yang
menarik untuk diteliti, yaitu dalam Strategi Penetapan Harga Jasa.
C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data Primer
Dalam hal ini data yang dikumpulkan adalah data tentang
bagaimana Strategi Penetapan Harga Jasa Di Bengkel Rawo Racing
Team Sidoarjo dan tetmasuk juga bagaimana cara memberikan
pelayanan yang baik dan berkualitas sehingga dapat dinikmati oleh
para konsumen. Data ini diperoleh melalui meminta keterangan secara
langsung kepada beberapa aktor bengkel yang sudah ditentukan
peneliti.
b. Data Sekunder
Dalam hal ini yang dihimpun adalah data tentang struktur
organisasi Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo, yang meliputi profil
bengkel, letak geografis, Visi dan Misi, serta Portofolio arsip yang
2. Sumber Data
Data adalah kenyataan, fakta, keterangan atau bahan dasar yang
dipergunakan untuk menyusun hipotesa3.
Dalam penelitian yang dilakukan ini, peneliti mendapat sumber
data yang berasal dari kata-kata, tindakan dan sumber tertulis. Adapun
jenis sumber data dalam penelitian ini berasal dari:
1) Data Primer
Dalam hal ini data diperoleh melalui wawancara, permintaan
keterangan-keterangan kepada pihak yang memiliki wewenang
menangani bidangnya dan wawancara pada konsumen Bengkel Rawo
Racing Team, yaitu dengan Seksi bidang Mekanik dan kepuasan
konsumen mengenai kebijakan harga yg diterapkan di ruang lingkup
bagian Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo
2) Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya orang lain atau
lewat dokumen.4 Sumber ini peneliti peroleh dari dokumen, arsip,
berupa structural dan pembagian tugas (job discription) dari bagian
administrasi Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo. Sumber data bisa
berupa benda, prilaku manusia, tempat dan sebagainya. Dari sumber
data ini peneliti dapat memperoleh keterangan yang berguna untuk
mendukung proses deskripsi dan analisa masalah penulisan.
Dalam penulisan ini, sumber data diperoleh dari :
a) Informan
Orang yang menjadi sumber data dalam penelitian ini,
karena informan adalah orang yang benar-benar tahu informasi
tentang situasi dan kondisi lapangan penelitian serta hal-hal yang
berhubungan dengan penelitian.
Informan dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan
bagaimana langkah yang ditempuh peneliti agar informasi dapat
diperolehnya. Karena itu dalam penelitian ini yang terpenting
adalah peneliti menentukan informan dan bagaimana peneliti
mendapatkan informan.
Menentukan informan dapat dilakukan oleh peneliti dengan
memahami masalah umum penelitian, serta memahami pula
keadaan object di mana penelitian itu dilaksanakan. Namun apabila
peneliti belum memahami keadaan object yang diteliti, maka
peneliti berupaya agar tetap mendapatkan informan penelitian.
Adapun informan yang pertama kali dituju oleh peneliti
1. Pimpinan atau kepegawaian yang berada dalam ruang lingkup
pengambil kebijakan di bengkel Rawo Racing team. Dalam hal
ini adalah selaku saya sendiri sebagai peneliti dan sebagai
sebagian pemilik saham di bengkel Rawo Racing Team
Sidoarjo.
2. Setelah mendapatkan keterangan dari Cak Sugeng selaku
mekanik dan pemlik saham Bengkel Rawo Racing Team,
peneliti merujuk untuk mencari keterangan lagi dari asisten
mekanik dan mekanik kedua Bengkel Rawo Racing Team,
yakni Mas Kirun.
3. Dari Cak Sugeng, peneliti mendapatkan rujukan untuk mencari
keterangan-keterangan lebih lengkap mengenai administratif
bengkel guna memperoleh dan menambah data dari seluruh
kegiatan administratif baik berupa profil company ataupun
berupa macam-macam penetapan harga yang ada di bengkel
keterangan dari beberapa pelanggan atau konsumen yang
adalah selaku saya sendiri sebagai peneliti Mochamad Zein
Ramadhan) dll.
Beberapa alasan peneliti menjadikan orang-orang tersebut
sebagai informan adalah karena peneliti menilai bahwa mereka
adalah orang-orang yang ikut andil dalam pelaksanaan Strategi
Penetapan Harga Jasa di Bengkel Rowo Racing Team Sidoarjo.
b) Dokumentasi atau arsip
Dalam penelitian ini, dokumen atau arsip dijadikan sebagai
sumber data karena dapat digunakan untuk menafsirkan, menguji
dan sebagai bukti dalam penyajian data5, merupakan bahan tertulis
atau benda yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau aktifitas
tertentu. Bisa berupa rekaman atau dokumentasi tertulis seperti
arsip data base surat-surat, rekaman gambar benda-benda
peninggalan pada suatu peristiwa yang berkaitan dengan adanya
Strategi Penetapan Harga Jasa Bengkel Rawo Racing Team
Sidoarjo.
D. Tahapan Penelitian
Adapun tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan adalah:
1. Tahap Pra Lapangan
Yaitu tahap yang dilakukan sebelum melakukan penelitian. Pada tahap ini
dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Menyusun Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dimaksud adalah penyusunan
proposal penelitian yang terdiri dari judul penelitian, rumusan masalah
penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep,
kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
b. Memilih Lapangan Penelitian
Dalam memilih lapangan penelitian, peneliti datang langsung
pada subyek penelitian untuk menggali data atau informasi tentang
obyek yang akan diteliti, kemudian timbul keterkaitan pada diri
peneliti untuk menjadikan objek penelitian.
c. Mengurus Perizinan
Peneliti mengurus perizinan untuk melakukan penelitian di
obyek yang akan diteliti dengan cara meminta surat pengantar
penelitian dari pimpinan Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel
Surabaya. Ini dilakukan unntuk mempermudah peneliti untuk
mendapatkan data-data dan informasi tentang Strategi Penetapan
d. Menjajaki dan Menilai Lapangan
Tahap ini belum sampai pada titik menyikapi bagaimana
peneliti masuk lapangan dalam arti mulai mengumpulkan data yang
sebenarnya. Tahap ini merupakan orientasi lapangan, namun dalam
hal-hal tertentu peneliti telah menilai keadaan lapangan bahwasannya
objek tersebut memang menarik untuk dijadikan bahan penelitian.
e. Memilih dan Memanfaatkan Informan
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan
informasi tentang sesuatu kondisi obyek penelitian. Orang yang akan
dipilih untuk dijadikan informan pada penelitian ini adalah Seksi
Bidang Administrasi Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo.
f. Menyiapkan Perlengkapan Penelitian
Selain mempersiapkan fisik, peneliti juga menyiapkan segala
sesuatu yang diperlukan dalam penelitian seperti buku catatan dan
daftar pertanyaan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk
mengumpulkan data atau informan tentang obyek yang diteliti.
g. Persoalan Etika Penelitian
Persoalan etika akan timbul apabila peneliti tidak
menghormati, tidak mematuhi, dan tidak mengindahkan nilai-nilai
yang terdapat pada obyek penelitian. Peneliti menghindari hal tersebut
karena jika hal demikian terjadi maka akan timbul konflik sehingga
peneliti diharapkan terciptanya kerjasama yang menyenangkan antara
kedua belah pihak sehingga memudahkan peneliti meggali data.
2. Tahap Lapangan
Pada tahap ini peneliti memasuki proses pengumpulan data yang
digunakan untuk mempertajam masalah dan untuk di analisis dalam
rangka memecahkan masalah. Dalam hal ini sebelum merumuskan
pembahasan penelitian peneliti terlebih dahulu memahami latar penelitian,
kemudian peneliti mempersiapkan diri secara matang dan serius untuk
membahas penelitian ini. Setelah itu peneliti baru terjun ke lapangan
untuk mencari data atau informasi yang berkatan dengan masalah yang
dijadikan rumusan masalah.
Dalam hal ini peneliti ikut serta dalam aktifitas yang dilakukan
oleh obyek penelitian. Dengan pertimbangan bahwa aktifitas yang
dilakukan oleh obyek penelitian bersifat professional dan tidak sembarang
orang bsa ikut berperan serta ketika melakukan penelitian didalam
Bengkel Rowo Racing Team Sidoarjo.
3. Tahap Analisa Data
Proses analisa data dimulai dengan menelaah data yang tersedia
dari berbagai sumber. Data-data tersebut dirangkum dan selanjutnya
disusun dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan. Tahap terahir
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis
dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan
data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan
mendapatkan data yang memenuhi setandart data yang ditetapkan.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural
setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan
data lebih banyak pada: observasi berperan serta (participan observasion),
wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi6
a) Metode Pengamatan (Observasi)
Observasi adalah merupakan proses yang kompleks, yang tersusun
dari proses biologis dan psikologis atau merupakan cara pengembalian
data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain.
Dalam penggunaan teknik observasi yang penting ialah
mengandalkan pengamatan dan ingatan si peneliti. Dengan demikian
bahwa melakukan pengamatan observasi peneliti berperan sebagai
pengamat7.
b) Metode Wawancara (in-dept interview)
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk
bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat
6Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2011) hal.
224-240
dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu. Wawancara di gunakan
sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga
apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden lebih mendalam
dan jumlah respondennya lebih sedikit.8
c) Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumentasi dalam pembagianya bisa berupa dokumen gambar, tulisan,
dan karya-karya monumental dari seseorang:
a. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya: catatan harian, sejarah
kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan.
b. Dokumen yang berbentuk gambar: misalnya foto, gambar hidup,
sketsa dan lain-lain.
c. Dokumen yang berbentuk karya: misalnya karya seni, yang dapat
berupa patung, gambar dan film9.
8Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2009) hal :
157
Tabel
Teknik Pengumpulan Data
No Obyek
Teknik Pengumpulan
Data
Sumber Data
1 Letak Geografis Observasi Observasi
2 Profil Bengkel Dokumentasi Pengurus
3 Struktur Kerja Dokumentasi Pengurus
4 Visi daan Misi Dokumentasi Pengurus
5 Bagaimana penerapan
strategi Skimming Price
di Bengkel Rawo Racing
Team
Wawancara Konsumen
6 Bagaimana penerapan
strategi standart mark up
price di bengkel Rawo
Racing Team
F. Teknik Validasi Data
Dalam penelitian ini peneliti memakai pendekatan kualitatif, untuk
memeriksa keabsahan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Pemeriksaan
terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk menyanggah
balik apa yang dituduhkan kepada penelitian kualitatif yang mengatakan tidak
ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh
pengetahuan penelitian kualitatif. Keabsahan data merupakan konsep penting
yang di perbarui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realibilitas)
selain itu, keabsahan data adalah bahwa setiap keadaan harus memenuhi:
mendemostrasikan nilai yang benar, menyediakan dasar agar hal itu dapat di
terapkan, memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang
konsistensi.10
Teknik yang di gunakan adalah dengan pemeriksaan keabsahan data
yang menggunakan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Jadi, triangulasi
merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan kontruksi
kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data
tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Maksud
disini adalah hasil pengumpulan data yang lain, seperti observasi dan
dokumentasi dan wawancara. Adapun langkah-langkah yang di tempuh dalam
teknik ini adalah :
1. Peneliti melakukan pengecekan tentang hasil dari pengamatan wawancara,
maupun hasil data yang di peroleh dengan cara lain (observasi dan
dokumentasi). Pengecekan dilakukan oleh si peneliti kepada pihak-pihak
yang terlibat dan mengetahui strategi penetapan harga jasa yang
diterapkan Bengkel Rawo Racing Team.
Mengajukan berbagai macam pertanyaan.Penulis meneliti apa yang di katakan
dari pihak-pihak yang berkepentingan tentang segala hal mengenai bentuk
strategi penetapan harga jasa bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo, secara
umum dengan mengecek data yang sudah ada apakah sesuai atau tidak
G. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis
data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan
yang lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuanya dapat
diinformasikan kepada orang lain11.
Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dan analisis data ini adalah :
1. Reduksi Data (Proses Pemilihan Data )
11Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2011)
Pada penelitian ini, pemilihan dilakukan terhadap sebuah kasus yang
diteliti. Peneliti memilih hasil wawancara berdasarkan pemahaman
terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah
dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh
dan ditemukan hal-hal penting serta kata kuncinya.Sehingga peneliti dapat
menangkap, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada realitas yang
terjadi pada subjek maupun objek.
2. Sajian Data ( Proses Pengorganisasian Data )
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara semi
terstruktur, dimana data tersebut di rekam dibantu alat tulis lainya. Kemudian
dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk
rekaman dan naskah menjadi bentuk tulisan secara naratif. Data yang telah
didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data yang telah
didapatkan.
3. Verifikasi dan Simpulan Data
Penulisan data dari subjek yang telah berhasil dikumpulkan
merupakan suatu hal yang membantu penulis untuk memeriksa kembali
apakah kesimpulan yang telah di buat selesai. Dalam penelitian ini,
penulisan yang di pakai adalah presentase data yang di dapat yaitu
penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara dan observasi
dengan subjek. Proses di mulai dari data-data yang di peroleh dari subjek,
permasalahannya, kemudian di analisis, sehingga di dapat gambaran
mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan
interpretasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencakup
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Letak Geografis Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo
Lokasi penelitian adalah di Bengkel Rawo Racing Team yang
terletak di Candi Sidoarjo, Jawa Timur dengan lahan seluas Panjang
12m x Lebar 7m.
2. Sejarah Berdirinya Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo
Sejarah awal pendirian Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo
yakni Pada tahun awal tahun 2008 Oleh Cak Sugeng dan berjoin
dengan Saya Peneliti skripsi ini (Mochamad Zein Ramadhan). Bengkel
yang berlokasi di Candi, Sidoarjo, dulu awal mula berdirinya bengkel
ini adalah bernama Rawo sebuah bengkel yang hanya bergerak dalam
bidang perbaikan suku cadang sepeda motor.
Kemudian di tahun 2015, Saya Selaku penulis Skripsi ini dan
Pemilik salah satu pemilik saham Bengkel Rawo Racing Team
mendirikan lagi sebuah cabang Bengkel yang fokus di Service Mesin
dan tempat transaksi kedua setelah Bengkel Rawo Racing Team di Jln.
Rungkut Barata, Surabaya yang menangani service harian dan sebagai
tempat transaksi bertemunya konsumen dari penjualan online dan
Pesatnya kemajuan Otomotif di Indonesisa menuntut berbagai
macam trobosan. dan pada tahun 2010 dirubahlah bengkel Rawo
Sidoarjo Menjadi Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo yang fokus
didunia Otomotif Roda dua, yang bertempat di bengkel pusat yakni
daerah desa sumorame candi, Sidoarjo.
Bengkel Rawo Racing Team sidoarjo adalah bengkel yang
bergerak dalam industri Otomotif Roda Dua, Khususnya sepeda motor
Modivicate. Berdiri sejak tahun 2008, Bengkel Rawo Racing Team
sidoarjo telah menjadi bengkel otomotif sepeda motor di wilayah
Sidoarjo. Perusahaan ini berusaha untuk meningkatkan Pelayanan Jasa,
Perawatan (Service) dan Modifikasi perubahan bentuk dan perubahan
kapasitas cc mesin motor (Bore up/Stroke up).
Seiring berjalannya waktu dan dengan meningkatnya minat
akan dunia Otomotif, Bengkel Rawo Racing Team sidoarjo
menyediakan produk dan jasa modifikasi sepeda motor diseluruh
wilayah Dengan Cakupan pemasaran Fokus di wilayah Jawa Timur.
Berkat kualitas Jasa pelayanan kerja yang didukung 2 orang
Mekanik atau Teknisi Bengkel Rawo Racing Team sidoarjo telah
berhasil meningkatkan image sebagai Bengkel Otomotif sepeda motor
yang berkualitas. Sehingga Bengkel Rawo Racing Team sidoarjo
cukup diminati oleh masyarakat baik dari sisi kualitas pelayanan jasa,
Sejak meningkatnya trend Otomotif di Indonesia peminat
modifikasi sepeda motor di Jawa Timur cukup pesat sehingga
berimbas pada pelanggan Bengkel Rawo Racing Team sidoarjo yang
mengalami peningkatan.
3. Visi & Misi Bengkel Rowo Racing Team Sidoarjo
a. Visi
“Membangun Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo Sebagai
Bengkel Otomotif Yang Kreatif dan Inovatif Dengan Kualitas
Terbaik Serta Layanan Yang Saling Menguntungkan”
b. Misi
1) Kepuasan Pelanggan
2) Membuat Perbedaan Yang Inovatif
4. Struktur Organisasi Bengkel Rowo Racing Team Sidoarjo
Organisasi adalah suatu system perserikatan formal dari dua
orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.1
Struktur dan bagan Organisasi (Organization hart) memberikan
manfaat dan informasi penting tentang hal-hal berikut.
a. Pembagian kerja artinya setiap kotak akan mewakili tanggung
b. Informasi atasan dan bawahan artinya bagan organisasi akan
menunjukan garis komando atau siapa atasan dan siapa bawahan.
c. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan artinya uraian kotak-kotak
menunjukkan tugas-tugas kerja organisasi atau bidang-bidang
tanggung jawab yang berbeda.
d. Pengelompokan bagian-bagian kerja artinya keseluruhan bagan
menunjukan dasar pembagian aktivitas organisasi (atas dasar
wilayah, produksi, enterprise function, dan lain sebagainya).
e. Tingkat manajer artinya sebuah bagan tidak hanya menunjukkan
manajer dan bawahan secara perseorangan, tetapi juga berherearki
manajemen secara keseluruhan. Semua orang yang melapor kepada
orang yang sama berada pada tingkat manajemen yang sama, tidak
jadi soal dimana kemunculan mereka pada bagan.
f. Pimpinan organisasi artinya bagan organisasi menunjukan system
kepemimpinan organisasi, apa pimpinan tunggal (segitiga) atau
pimpinan kolektif (kerucut).2
Adapun struktur organisasi Bengkel Rowo Racing Team Sidoarjo
adalah sebagai berikut:
Gambar. 4.1 Struktur Organisasi
Berikut ini adalah uraian tugas atau Job description :
1. INVESTOR
a) Pemilik modal/saham
2. OWNER
a) Pemilik Perusahaan
b) Mengelola modal keuangan untuk kelancaran perusahaan
INVESTOR
OWNER
KEUANGAN &
ADMINISTRASI
PEMASARAN &
OPRASIONAL
c) Mengawasi, Mengkoordinasi, dan Mengevaluasi serta
Mengendalikan pelaksanaan program operasioal, dan
pengawasan hasil kerja mekanik.
3. KEUANGAN DAN ADMINISTRASI
a) Bertanggung jawab atas tata kerja manajemen keuangan
b) Mengawasi serta memeriksa laporan keuangan
c) Menerima tambahan kas dan menyimpan dalam kas
d) Membuka buku rangkuman kas
e) Menampung surat-surat yang keluar
f) Memeriksa dan mengawasi laporan customer yang masuk
4. PEMASARAN DAN OPRASIONAL
a) Menjalankan manajemen pemasaran
b) Menyusun dan menjalankan strategi pemasaran
c) Mengawasi Mekanik di lapangan
5. KARYAWAN/ MEKANIK
a) Mengerjakan tugas Perbaikan dan modivikasi sepeda motor
Cak Sugeng Selaku mekanik utama di bengkel Rawo Racing.
B. Penyajian Data
Harga merupakan salah satu variabel pemasaran yang perlu
diperhatikan oleh manajemen perusahaan, karena harga akan langsung
mempengaruhi besarnya volume penjualan dan laba yang dicapai oleh
perusahaan. Dalam melaksanakan strategi penetapan harga perlu adanya
metode-metode yang berkaitan, secara garis besar metode penetapan harga
dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama yaitu; metode
penetapan harga berbasis permintaan, berbasis biaya, berbasis laba, dan
berbasis persaingan.
Strategi penetapan harga berbasis permintaan antara lain Skimming
pricing, Penetration pricing, Prestige pricing, Price lining, Odd-even
pricing, Demand-backward pricing, dan Bundle pricing.3 Sedangkan
untuk strategi penetapan harga berbasis biaya meliputi Standard markup
pricing, Cost plus percentage of cost pricing, Cost plus fixed fee pricing,
dan Experience curve pricing.
Kemudian strategi penetapan harga berbasis laba meliputi Target
profit pricing, Target return of sales pricing, dan Target return on
investment pricing. Dan strategi penetapan harga berbasis persaingan
meliputi Costumary pricing, Above, at, or below market pricing, Loss
leader pricing, dan Sealed bid pricing.
Di Bengkel Rawo Racing Team Sidoarjo, kami menggunakan 2
macam strategi penetapan harga yaitu strategi penetapan harga berbasis
3Fandy Tjiptono, 2008,