SKRIPSI:
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Serjana Sosial (S. Sos)
Disusun Oleh: Khairul Umam
B03213010
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM JURUSAN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
Fokus masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral Dengan Teknik Modelling Pada individu yang sering melalaikan shalat subuh?, (2) Bagaimana hasil pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral Dengan Teknik Modelling Pada individu yang sering melalaikan shalat subuh.
Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif komparatif.Sedangkan proses dan hasil akhir dari pelaksanaan bimbingan konseling islam Melalui Terapi Behavioral dengan teknik Modelling, Penulis memandingkan data teori dengan data yang terjadi di lapangan.
Dalam penelitian ini proses konseling yang terjadi menggunakan Tehnik Modelling yang di dalamnya menggunakan Model Nyata (Live Model). Model Nyata yang diberikan oleh konselor pada konseli merupakan kebiasaan seorang Model yaitu (a) Tidurdisianghari, minimal 1-2 jam. (b) Membatasiwaktudalambermain dan membuat jadwal tidur dimalam hari, paling lambat jam 22.00. (c) Niatyang kuat untuk bangunmalam dan bersungguh-sungguhdalammelaksanakanshalatsubuhberjamaah. (d) Wudhu' sebelumtidur, (e) Baca do’a sebelum tidur, (f) Menghidupkanalarm sebelumtidur. (g) Bangunsaat alarm menyala dan membaca do’a bangun tidur, (h) Shalatsubuh di masjid denganberjamaah. Dalam pemberian treatment ini, dilaksanakan secara berurutan 1-5 hari. Dengan pendekatan ini, konselor melatih konseli agar bisa melaksanakan shalat subuh tepat pada waktunya, lebih tepatnya lagi mengikuti shalat subuh berjamaah di masjid. Sedangkan hasil akhir dari proses konseling ini adalah berhasil dengan prosentase 80% yang mana hasil tersebut dapat dilihat dari adanya perubahan pada perilaku konseli yang bisa melaksanakan shalat subuh tepat waktu di masjid.
MOTTO ...iv
PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN OTENTITAS SKRIPSI ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ...x
DAFTAR TABEL ... xii
BAGIAN INTI BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 01
B. Rumusan Masalah ... 08
C. Tujuan Penelitian ... 08
D. Manfaat Penelitian ... 09
E. Definisi Konsep ... 09
F. Metode Penelitian ... 11
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 11
2. Sasaran dan Lokasi Penelitian ... 12
3. Jenis dan Sumber Data ... 12
4. Tahap-Tahap Penelitian ... 15
5. Teknik Pengumpulan Data ... 18
6. Teknik Analisis Data ... 21
7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 22
G. Sistematika Pembahasan ... 26
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teoritik ... 28
1. Bimbingan Konseling Islam ... 28
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam ... 28
b. TujuanBimbingan dan Konseling Islam ... 29
c. FungsiBimbingan dan Konseling Islam... 30
d. Prinsip Bimbingan dan Konseling Islam ... 31
e. Unsur-Unsur Bimbingan dan Konseling Islam... 32
f. Langkah- langkah Bimbingan dan Konseling Islam ... 33
2. Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling ... 34
a. Pengertian Terapi Behavioral ... 34
b. Latar belakang Terapi Behavioral... 35
c. Tujuan Terapi Behavioral ... 37
d. Hubungan Konseli dan Konselor ... 38
e. Shalat Berjamaah ... 52
f. Daliltentangperintahshalatberjamaah... 52
g. Keutamaanshalatberjamaah ... 54
4. Bimbingan Konseling Islam Dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling... 56
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 57
BAB III: PENYAJIAN DATA A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 63
1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 63
2. Deskripsi Konselor ... 66
3. Deskripsi Konseli ... 67
4. Deskripsi Masalah ... 71
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 72
1. Deskripsi proses Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling ... 72
2. Hasil Akhir dari proses Bimbingan Konseling Islam Dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Dengan Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling ...93
BAB IV: ANALISIS DATA A. Analisis data tentang Proses Pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Berjamaah Tepat Waktu Dengan Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling ... 96
B. Analisis data tentang Hasil Pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Berjamaah Tepat Waktu Dengan Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling ... 100
BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ... 105
B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA
1
A. Latar Belakang
Agama Islam adalah agama yang terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad sebagai nabi dan Rasul untuk menjadi petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia sampai akhir zaman. Islam mempunyai lima rukun islam diantaranya Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji. Dan enam Rukun Iman yaitu Iman kepada Allah, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada nabi dan rasul Allah, Iman kepada Hari kiamat, dan Iman kepada Qada dan Qadar.
Shalat lima waktu adalah rukun islam yang kedua setelah kalimah syahadat. Shalat hukumnya wajib atas setiap orang muslim laki-laki dan wanita dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan aman, takut, dalam keadaan sehat dan sakit, dalam keadaan bermukim dan musafir, dan setiap keadaan memiliki cara khusus baginya, sesuai dengan kondisi masing-masing. Shalat adalah: suatu ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.
muslimin malas, ogah-ogahan mendirikan shalat fardhu yang 5 waktu secara berjamaah di masjid, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan ‘merobohkan’ pilar-pilarnya. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw:
)
ﺮ ﻤ ﻋ ﻦ ﺑ
(
:
مﺎﻗإو
)
هاو ر
ﻢﻠﺴ ﻣ
(
“Di ceritakan oleh Abdullah bin Muadz, dari ayahnya bahwa rasulullah Saw bersabda: Islam dibangun diatas lima perkara; bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, Menegakkan shalat, Menunaikan shalat, Menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa ramadhan”.(HR. Muslim).1
Shalat hukumnya wajib. Shalat yang di wajibkan bagi tiap-tiap orang yang dewasa dan berakal ialah shalat lima kali sehari semalam yaitu (dzuhur, ashar, maghrib, isya’, dan subuh). Mula-mula turunnya perintah wajib shalat itu ialah pada malam Isra’, setahunsebelum Hijriah.2Sebagaimana firman Allah.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Ankabut: 45).3
1Abi al-Husain Muslim bin al-Hajaj al-Naisaburi,Shahih al-Muslim,Juz I (Kairo: Dar al-Hadits,
1991), hal. 45.
2Sulaiman Rasjid,Fiqih Islam,(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), hal 53.
3Tim Produksi Riels Grafika,Al-Qur an Terjemah dan Asbabun Nuzul ,(Jakarta: Pustaka Alhanan,
Ayat ini memerintahkan nabi Muhammad agar selalu membaca dan
memahami Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya untuk mendekatkan diri
kepada Allah. setelah memerintahkan membaca, mempelajari, dan melaksanakan
ajaran-ajaran Al-Qur’an, maka Allah memerintahkan agar kaum Muslimin
mengerjakan shalat wajib yaitu shalat lima waktu. Shalat hendaklah dikerjakan
sesuai rukun dan syaratnya, serta penuh kekhusyukan. Sangat dianjurkan
mengerjakan shalat itu lengkap dengan sunnah-sunnahnya. Jika dikerjakan dengan
sempurna, maka shalat dapat mencegah dan menghalangi orang yang
mengerjakannya dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.4
Mengerjakan shalat adalah sebagai perwujudan dari keyakinan yang telah
tertanam di dalam hati orang yang mengerjakannya, dan menjadi bukti bahwa ia
meyakini bahwa dirinya sangat tergantung kepada Allah. oleh karena itu, ia
berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjahui
larangan-larangan-Nya.5
Begitu banyak firman Allah dalam Al-qur’an yang memerintahkan umat
islam untuk melaksanakan ibadah shalat. Diantaranya; surat Albaqarah ayat: 3,
43, 45, 83, 110 dll. Dalam surat An-Nisa ayat: 103, 142, 162. Dalam surat
Al-maidah ayat: 6, 12, 55. Dan didalam surat-surat yang lainnya. Oleh karena itu,
Eksistensi shalat dalam agama islam sangatlah luar biasa, karena shalat itu adalah
aktivitas peribadatan yang menjadi pembeda antara umat islam dengan umat non
islam (kafir). Sebagaimana sabda nabi:
4Kementrian Agama RI,Al-Qur an dan Tafsirannya (edisi yang disempurnakan),(Jakarta: Widya
Cahya, 2011), hal 412.
ﺎَﻨَﺛﱠﺪ َﺣ
ُﻦ ْﺑ
ْﺜُﻋ َو
ُن ﺎَﻤ
ُﻦ ْﺑ
ﻰ ِﺑَأ
ْﻦ َﻋ
َل ﺎَﻗ
ﺎَﻧ َﺮَﺒ ْﺧ َأ
ِﻦ َﻋ
ِ
ﺶ َﻤ ْﻋ َﻷ ا
ْﻦ َﻋ
ﻰ ِﺑَأ
َل ﺎَﻗ
ُﺖ ْﻌ ِﻤَﺳ
ا ًﺮ ِﺑﺎَﺟ
ُﺖ ْﻌ ِﻤَﺳ
ﱠﻰ ِﺒﱠﻨﻟا
-ﻰ ﻠﺻ
ﷲ
ﻢﻠﺳ و
ﱠن ِإ
ِﻞ ُﺟ ﱠﺮ ﻟا
ِك ْﺮ ِّﺸ ﻟا
ِ
ﺮ ْﻔُﻜ ْﻟا َو
َك ْﺮَﺗ
ِةَﻼ ﱠﺼ ﻟا
)
هاو ر
ﻢﻠﺴ ﻣ
(
Dari Jabir ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.(HR. Muslim).6
ﻦ ﻋ و
ﻰ ﺿ ر
ﷲ
ﻦ ﻋ
ّﻲ ﺒّﻨﻟا
ﻰ ﱠﻠَﺻ
ُﷲ
َﻢﱠﻠَﺳ َو
ل ﺎﻗ
:
ى ﺬﻟا
و
ةﻼ ﺼ ﻟا
ﻦ ﻤ ﻓ
ﺪﻘﻓ
ﺮ ﻔﻛ
.
)
هاو ر
ى ﺬﻣ ﺮ ﺘﻟا
(
ل ﺎﻗو
ٌﻦ ﺴ ﺣ
Dari Buraidah ra. dari Nabi saw. yang bersabda:Ikatan janji di antara kami (umat islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Maka barang siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia telah menjadi kafir. (HR al-Tirmizi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan sahih).7 Dari berbagai negara di dunia, Indonesialah yang mempunyai jumlah pemeluk agama Islam terbesar. Tak salah ketika dari berbagai desa, daerah mempunyai masjid atau mushallah masing-masing. Bahkan di berbagai kampus yang ada di indonesia, baik kampus umum maupun kampus islam mempunyai masjid atau mushallah masing-masing. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya shalat, dan menunjukkan eksistensi sebagai warga yang beragama islam.
Sehubungan dengan penjelasan di atas, masyarakat diberbagai daerah, berlomba-lomba membangun masjid yang megah nan indah guna untuk mempermudah melaksanakan shalat secara berjamaah. Tapi ironisnya, fakta mengatakan bahwa masjid di berbagai daerah (terutama daerah pedesaan) memanglah bertambah banyak, akan tetapi para penghuni masjid sendiri mengalami penuruan, dalam artian jumlah jemaah yang hadir dalam masjid
6Abi al-Husain Muslim bin al-Hajaj al-Naisaburi,Shahih al-Muslim,Juz I (Kairo: Dar al-Hadits,
1991), hal. 88.
sangatlah sedikit, terutama pada saat shalat subuh. Hal ini berawal dari indiviu masing-masing yang mengalami permasalahan tersendiri dalam melakukan shalat subuh yaitu lalai melaksanakan kewajiban. Salah satunya pada individu yang menjadi objek peneliian ini.
Peneliti mengambil sampel di desa Poreh, kec. Lenteng, kab. Sumenep pada salah satu anak yang mengalami perubahan perilaku dalam aspek peribadatan yang selalu melalaikan kewajiban yaitu shalat subuh. Hasil dari data sementara yang diperoleh: anak itu bernama udin (nama samaran), dia berusia 16 tahunan, memasuki masa remaja. Dimana pada masa remaja merupakan masa yang penuh dengan problematika karena merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Hal ini dilihat dari adanya tanda-tanda penyempurnaan dari perkembangan kejiwaan seperti tercapainya identitas diri atau ego identity dan tercapainya fase genital dan psikososial serta tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral.8
Melihat perubahan tingkah laku yang terjadi pada udin akhir-akhir ini, membuat kedua orang tuanya khawatir menjadi kebiasaan. Tentunya kita merasa kasihan, tumbuh rasa ingin menolongnya, agar supaya udin menjadi pribadi yang lebih baik, yang tidak lalai akan kewajibannya sebagai orang muslim. Sehubungan dengan problem yang dihadapi oleh anak di atas, perlu kiranya anak tersebut mendapatkan bimbingan berupa treatment (bantuan) guna untuk membantunya terlepas dari problem yang dialaminya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menelitinya. Peneliti akan menggunakan Terapi Behavioral dalam mengatasi permasalahan yang sedang dialami oleh anak tersebut (udin) dengan menggunakan dengan teknikModelling. Terapi behavior dengan teknikModelling adalah merupakan terapi yang cocok digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh individu diatas, karena dilihat dari kronologis permasalahannya bahwa faktor yang mempengaruhi permasalahannya adalah faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar; lingkungan, pertemanan, dll), oleh karena itu terapi behavior ini fokus pada lingkungan yang ada disekitar klien dengan memodifikasi lingkungan tersebut, dengan tujuan menciptakan perilaku klien yang baru dan lebih baik dari sebelumnya, dengan menggunakan teknik Modelling;mencontoh, meniru, memperagakan, atau menteladani seseorang yang dianggap lebih baik dari diri klien. Dengan itu, peneliti akan mengangkat judul : “Bimbingan Konseling Islam, Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu dengan Terapi Behavioral (studi kasus: anak yang sering melalaikan shalat subuh di Desa
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tentang tema diatas, maka peneliti menfokuskan permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut ;
1. Bagaimana proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral Dengan Teknik Modelling Pada individu yang sering melalaikan shalat subuh di Desa Poreh, Kec. Lenteng?
2. Bagaimana hasil pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral Dengan Teknik Modelling Pada individu yang sering melalaikan shalat subuh di Desa Poreh, Kec. Lenteng.?
B. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ;
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral Dengan Teknik Modelling Pada individu yang sering melalaikan shalat subuh di Desa Poreh, Kec. Lenteng.
C. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
a. Memberikan pengetahuan dan wawasan bagi peneliti lain dalam bidang Bimbingan dan Konseling Islam tentang Terapi Behavioral untuk mengatasi individu yang sering melalaikan shalat subuh.
b. Sebagai sumber informasi dan referensi tentang mengatasi anak yang yang sering melalaikan shalat subuh dengan menggunakan terapi behevior dengan teknikModelling.
2. Secara Praktis
a. Individu yang menjadi objek penelitian ini, diharapkan dapat melakukan shalat subuh dengan tepat waktu.
b. Bagi Konselor, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu Tehnik pendekatan yang efektif dalam mengatasi individu yang sering melalaikan shalat subuh.
D. Definisi Konsep
Dalam pembahasan ini perlulah kiranya peneliti dari sejumlah konsep yang diajukan dalam penelitian dengan judul “Bimbingan Konseling Islam, Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu dengan Terapi Behavioral (studi kasus: anak yang
sering melalaikan shalat subuh di Desa Poreh, Kec. Lenteng)”. Adapun devinisi konsep dari penelitian ini antara lain ;
1. Bimbingan dan Konseling Islam
potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-qur’an dan hadits rasulullah Saw ke dalam dirinya, sehingga ia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-qur’an dan hadits.9
Berdasarkan pengertian dari Bimbingan dan Konseling Islam di atas dapat diartikan bahwa bimbingan konseling islam adalah suatu aktifitas pemberian bantuan/bimbingan antara konselor dengan klien yang membutuhkan, dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, dengan tujuan agar klien dapat mengembangkan potensi akal fikiran dan kejiwaannya dalam mengatasi problematika hidupnya dengan baik dan benar secara mandiri berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
2. Shalat Subuh Tepat Waktu
Shalat subuh adalah salah satu dari kelima shalat fardhu. Yang dimaksud dengan Shalat Subuh tepat Waktu adalah mengerjakan shalat subuh tepat pada waktunya. Dimana waktu dari shalat subuh adalah mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.10
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan shalat subuh tepat waktu ialah mengerjakan shalat subuh di awal waktu; mengikuti shalat subuh berjamaah di masjid.
3. Terapi Behavioral
Terapi behavioral adalah sebuah pendekatan yang diarahkan pada tujuan-tujuan untuk memperoleh tingkah laku baru yang lebih baik,
menghapuskan tingkah laku lama yang kurang baik, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.11 Terapi behavioral sama halnya dengan terapi perilaku, yang memfokuskan pada tingkah laku individu yang bermasalah, yang disebabkan oleh faktor eksterna atau lingkungan sekitarnya, dan mengubahnya menjadi perilaku yang tidak bermasalah; perilaku yang lebih positif. Dengan memodifikasi lingkungan yang ada disekitar klien, menjadi lingkungan yang positif.
Teknik yang digunakan dalam Terapi behavior adalah teknik Modelling, yaitu mencontoh, meniru, memperagakan, atau menteladani seseorang yang dianggap lebih baik dari. Teknik ini, konseli dapat mengamati seseorang yang dijadikan modelnya untuk berperilaku. Kemudian, diperkuat dengan mencontoh tingkah laku sang model. Dalam hal ini, yang menjadi model dalam proses konseling adalah Konselor sendiri dan Orang tua konseli. E. Metode penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh obyek penelitian secara holistic dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.12
Jadi pendekatan kualitatif yang penulis gunakan pada penelitian ini digunakan untuk memahami fenomena yang dialami oleh Klien secara 11Gerald Corey,Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,(Bandung: PT. Rafika Aditama,
1999), hal. 200.
menyeluruh yang di deskripsikan berupa kata-kata dan bahasa untuk kemudian dirumuskan menjadi model, konsep, teori, prinsip, dan definisi secara umum.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penelitian studi kasus (case study) adalah penelitian tentang status subyak penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan atau khas dari kseluruhan personalitas.13
Jadi pada penelitian ini, penulis menggunakan penelitian studi kasus karena penulis ingin melakukan penelitian dengan cara mempelajari indvidu secara rinci dan mendalam selama kurun waktu tertentu untuk membantunya memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik.
2. Sasaran dan Lokasi Penelitian
Sasaran dalam penelitian ini adalah anak yang sering melalaikan shalat subuh.
Lokasi penelitian, di jl. Siding pori. Des Poreh, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep.
3. Jenis dan Sumber Data a. Jenis data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data yang bersifat non statistik, dimana data yang diperoleh nantinya dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka.
Adapun jenis data pada penelitian ini adalah:
1) Data primer yaitu data yang langsung diambil dari sumber pertama di lapangan. Yang mana dalam hal ini diperoleh dari deskripsi tentang latar belakang klien dan latar belakang masalah klien, prilaku klien, faktor-faktor yang menyebabkan masalah tersebut dialami klien, pelaksanaan proses konseling, serta hasil akhir dari pelaksanaan proses konseling.
Dalam hal ini, peneliti berhasil memperoleh data-data klien yang berkaitan dengan masalah klien yang dihadapinya, diantaranya faktor-faktor yang menyebabkan klien lalai akan shalat subuh. Yaitu: klien mempunyai kebiasaan begadang setiap malam yang tak mengenal waktu (nongkrong bersama teman-temannya), keluar malam (jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sampai lupa waktu pulang, kecanduan sosmed (BBM, FB) sehingga sampai larut malam klien memainkannya tanpa mengenal waktu, telponan dengan lawan jenis pada saat malam hari, sehingga membuatnya lupa akan waktu. Semuanya dilakukan pada malam hari dan berakhir pada tengah malam, sehingga membuatnya kebablasan dalam melaksanakan kewajibannya yaitu shalat subuh.
2) Data sekunder yaitu data yang diambil dari sumber kedua atau berbagai sumber guna melengkapi data primer. Di peroleh dari gambaran lokasi penelitian, keadaan lingkungan klien.
Kabupaten Sumenep, warga negara Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari kartu keluarga yang ada. Data ini memperjelas identitas klien. b. Sumber data
Untuk mendapat keterangan dan informasi, penulis mendapatkan informasi dari sumber data, yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana data diperoleh.
Adapun sumber datanya adalah:
1) Sumber data Primer yaitu sumber data yang langsung diperoleh penulis di lapangan yaitu informsi dari Klien.
2) Sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh dari orang lain guna melengkapi data yang penulis peroleh dari sumber data primer.14 Sumber ini penulis peroleh dari informan yaitu: teman klien, tetangga dan keluarga klien.
Yang menjadi teman akrab klien diantaranya adalah Zahid, toni, ifan, fendianto, faili, dll. Yang dimaksud Tetangganya klien adalah orang-orang yang tinggal disekitar rumah klien diantaranya adalah sarbini, harizah, salamet, dll. Yang dimaksud dengan keluarga klien adalah orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan si klien yaitu ibu, bapak, dan saudara. Nama ibuk: Lilis, Nama Bapak: Hariri, Nama Kakak: Ummi Kulsum, Nama Adik: Ais, dan Silmi.
14Burhan Bungi, Metode Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, (Surabaya:
4. Tahap-Tahap Penelitian
Adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan menurut buku metode penelitian praktis adalah:
a. Perencanaan, meliputi penentuan tujuan yang dicapai oleh suatu penelitian dan merencanakan strategis untuk memperoleh dan menganalisis data bagi peneliti. Hal ini dimulai dengan memberikan perhatian khusus terhadap konsep dan hipotesis yang akan mengarahkan penelitian yang bersangkutan dan menelaah kembali terhadap literatur, termasuk penelitian yang pernah diadakan sebelumnya, yang berhubungan dengan judul dan masalah penelitian yang bersangkutan.
dari klien, peneliti menggunakan tiga teknik untuk memperoleh data tersebut, yaitu: Observasi, wawancara, dan dokumentasi.
b. Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian, tahap ini merupakan pengembangan dari tahap perencanaan, disini disajikan latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan penelitian, serta metode atau prosedur analisis dan pengumpulan data.
Dalam tahap ini, peneliti harus mengetahui betul permasalahan yang dialami oleh klien yaitu bagaimana proses yang melatar belakangi individu yang sering melalaikan shalat subuh, dan mempunyai tujuan yang jelas dari penelitian ini. Yaitu: salah satunya membantu individu tersebut bisa melakukan shalat subuh dengan tepat waktu dan terbiasa melakukannya. Terapi yang akan digunakan oleh peneliti dalam membantu klien tersebut yaitu menggunakan terapi Behavioral dengan teknik Modelling. Setelah itu, peneliti turun langsung kelapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan, guna untuk memperlancar dalam proses konseling. Berikut adalah proses konseling yang akan dilakukan dalam penelitian ini.:
1) Identifikasi: peneliti melakukan wawancara dan observasi terhadap klien dan informan lainnya seperti kedua orang tuanya, teman-teman akrabnya. Yang nantinya diperoleh data tentang diri klien, serta keadaan klien.
peneliti menentukan masalah yang sedang dialami oleh klien. Dimana masalah yang sedang dialami oleh kliena adalah seringnya melalaikan kewajiban yaitu shalat subuh.
3) Prognosis: pada langkah ini peneliti merumuskan jenis bantuan yang tepat untuk klien. Dengan melihat data yang telah diperoleh tentang klien pada tahap identifikasi. Dimana bantuan yang akan peneliti berikan adalah proses bimbingan konseling dengan teknik Modelling dalam terapi behavior.
4) Treatmen: proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh peneliti atau Konselor terhadap klien.
5) Follow up: peneliti melihat sejauh mana perubahan yang terjadi pada klien setelah melaksanakan proses konseling. Dari perubahan sikap, hingga kebiasaan yang sering dimunculkan. Hal ini peneliti lakukan dengan observasi dan wawancara langsung dengan diri klien dan juga informan, yang dilaksanakan setelah selesainya proses konseling. Tak lupa dengan melihat sikap sebelum dan sesudah klien diberi treatment tersebut.
c. Analisis dan laporan, hal ini merupakan tugas terpenting dalam suatu proses penelitian.15
Dalam tahap ini, peneliti menganalisis hasil proses konseling yang dilakukan oleh konselor terhadap klien, dengan melihat dampak yang ditampakkan oleh klien. Dengan itu, peneliti akan melihat tingkat
keberhasilan dan tidak keberhasilan dari proses konseling yang diberikan oleh konselor terhadap klien. Setelah itu, peneliti menyusun laporan penelitian dari awal sampai akhir proses penelitian.
5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman mulut, dan kulit. Oleh karena itu, observasi adalah kemampuan seseorang untuk mennggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya.16Dari pengertian ini, observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pecatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi atau mengamati kehidupan Klien yang bertempat di kediaman klien yaitu di desa Poreh, kec Lenteng, Kab. Sumenep, meliputi: kondisi Klien, kegiatan Klien sehari-hari, dan proses konseling yang dilakukan. Dan dari hasil pengamatan sementara yang dilakukan oleh peneliti selama 2 bulan ini, peneliti memperoleh data tentang individu yang sering melalaikan shalat subuh. Individu tersebut mempunyai hubungan kekerabatan dengan
16Burhan Bungin,Metodologi Penelitian Sosial,(Surabaya: Airlangga University Press, 2001),Hal.
peneliti, sesekali peneliti pulang kampung halaman, individu tersebut menghabiskan hari-harinya bersama peneliti. Jadi peneliti sangat mengetahui betul bagaimana perilaku klien tiap harinya. Mulai dari bangun pagi, sampai istirahat (tidur mlam).
b. Wawancara
Merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data dengan dialog tanya jawab secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.17 wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.18
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan objek penelitian (klien) untuk mendapatkan informasi mendalam tentang diri Klien. Meliputi: Identitas Klien, kondisi keluarga, lingkungan dan ekonomi klien, serta permasalahan yang sedang dialami oleh klien yaitu seringnya klien melalaikan shalat subuh. Dan melakukan wawancara dengan informan lain, seperti: kedua orang tua klien, tetangga klien, dan teman-teman klien. Guna untuk melengkapi data yang diambil dari klien dan mendukung atas keabsahan data yang diperoleh dari klien.
17 Djumhur dan M. Suryo, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Bandung: CV. Ilmu, 1975),
hal. 50.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories). Dokumen yang berbentuk gambar misalnya, foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain.19 Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan buku diari (buku harian) yang ditulis oleh klien, dan tulisan-tulisan yang ditempel di kamar klien, seperti Jadwal pelajaran, My Daily Activity. Hal ini, untuk memperkuat data yang diperoleh dari Wawancara dan Observasi. Dan peneliti juga mengumpulkan data tentang gambaran tentang lokasi penelitian yang meliputi: Luas wilayah penelitian, batas wilayah, kondisi geografis desa poreh, serta data lain yang menjadi data pendukung dalam laporan penelitian, seperti foto saat proses konseling.
Berikut tabel menjelaskan secara singkat proses pengambilan data, mulai dari jenis data yang akan diambil, sumber data, dan teknik dari pengumpulan data.
19Sugiarto,Metode Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), hal.
Tabel 1.1
Jenis data, Sumber Data, Teknik Pengumpulan data
No Jenis Data Sumber Data TPD
1
a. Identitas Klien b. Usia Klien c. Pendidikan Klien d. Faktor-faktor penyebab
permasalahan yang dialami oleh Klien.
e. Proses yang dilakukan f. Hasil yang dilakukan
Klien W+O
2
a. Identitas Konselor b. Pendidikan Konselor c. Usia Konselor
d. Pengalaman dan Proses Konselng yang dilakukan Konselor
Konselor W+O
3
a. Kebiasaan Klien
b. Kondisi Keluarga, Lingkungan dan ekonomi Klien
Informan (tetangga keluarga dan teman Klien) W+O 4
a. Buku harian klien b. Luas wilayah penelitian c. Batas wilayah
Informan (tetangga keluarga dan teman Klien) O+D+W Keterangan:
TTPD : Teknik-teknik pengumpulan data
D : Dokumentasi
O : Observasi
W : Wawancara
6. Teknik Analisis Data
dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain.20
Teknis analisis data ini dilakukan setelah proses pengumpulan data diperolah. Penelitian ini bersifat studi kasus, untuk itu analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif komparatif yaitu setelah data terkumpul dan diolah maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data tersebut. Analisa yang digunakan Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan individu sering melalaikan shalat subuh, yaitu dengan menggunakan analisis deskriptif, selanjutnya analisis proses serta hasil pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi Behavioral untuk mengatasi individu yang sering melalaikan shalat subuh dengan analisis deskriptif komparatif, yakni membandingkan pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam di lapangan dengan teori pada umumnya, serta membandingkan kondisi klien sebelum dan sesudah dilaksanakannya proses. 7. Teknik Keabsahan Data
Tehnik keabsahan data merupakan faktor yang menentukan dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan kemantapan validitas data. Dalam penelitian ini peneliti memakai keabsahan data sebagai berikut:
a. Perpanjangan Keikutsertaan
Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian.
20Lexy J. Mleong,Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005),
Perpanjangan keikutsertaan sama halnya dengan perpanjangan pengamatan, perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru, dengan begitu hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rpport, semakin akrab, terbuka dan saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.21
Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti akan tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai, jika hal itu dilakukan maka akan membatasi:
1) Membatasi ganguan dari dampak peneliti pada konteks. 2) Membatasi kekeliruan peneliti.
3) Mengkomsasikan pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.
b. Ketekunan Pengamatan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Melalui cara tersebut, maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.22 Ketekunan pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasidangan berbagai cara dalam kaitannya dengan proses analisis yang konstan, mancari suatu usaha, membatasi berbagai pengaruh,
21Sugiono,Memahami Penelitian Kualitatif,(Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 122 22Sugiono,Memahami Penelitian Kualitatif,hal.
mencari apa yang dapat diperhitungkan dan apa yang tidak dapat diperhitungkan.
Ketekunan pengamat bermaksud menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
Peneliti akan mengamati teliti dan rinci secara berkesinambungan atau kontinu terhadap faktor-faktor yang menonjol (yang mempengaruhi klien sering melalaikan shalat subuh), yang terdapat pada diri klien. kemudian menelaah secara rinci sampai pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu dari berbagai faktor atau seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami.
c. Trianggulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.23
1) Trianggulasi data (data triangulation) atau trianggulasi sumber, adalah penelitian dengan menggunakan berbagai sumber data yang berbeda untuk mengumpulkan data yang sejenis.
2) Trianggulasi penelitian (investigator triangulation), yang dimaksud dengan cara trianggulasi ini adalah hasil penelitian baik data
ataupun simpulan mengenai bagian tertentu atau keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti.
3) Trianggulasi metodologis (methodological triangulation), jenis trianggulasi ini bisa dilakukan oleh seorang peneliti dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. 4) Trianggulasi teoretis (theoretical triangulation), Trianggulasi ini
dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji.
Adapun trianggulasi yang penelitian terakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi data dan trianggulasi metode.
Peneliti akan menggunakan beberapa sumber seperti; klien, keluarga klien, teman akrab klien, dan tetangga klien. Untuk mengumpulkan data dengan permasalahan yang sama. Artinya bahwa data yang ada di lapangan diambil dari beberapa sumber penelitian yang berbeda-beda dan dapat dilakukan dengan:
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
4) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan Skripsi ini, maka penulis akan menyajikan pembahasan kedalam beberapa bab yang sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan. Bab ini membahas tentang penjelasan latar belakang masalah serta hubungan dengan fenomena yang terjadi disekitar kita, bagian awal terdiri dari: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep, metode penelitian, sistematika pembahasan.
shalat berjamaah, keutamaan shalat berjamaah. Bimbingan dan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu Melalui Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling pada Individu yang Sering Melalaikan Shalat Subuh.
Bab III Penyajian Data: Yang membahas tentang deskripsi umum objek penelitian dan deskripsi hasil penelitian. Deskripsi umum objek penelitian membahas tentang setting penelitian yang meliputi deskripsi lokasi, deskripsi Konselor, deskripsi Klien, dan deskripsi masalah. Sedangkan deskripsi hasil penelitian membahas tentang deskripsi proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu melalui Terapi Behavioral dengan teknik pada Anak yang sering melalaikan shalat subuh di desa poreh, kec. Lenteng. Deskripsi hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu melalui Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling pada Anak yang sering melalaikan shalat subuh di desa poreh, kec. Lenteng. Bab IVAnalisis Data : Pada bab ini memaparkan tentang analisa data dari proses serta hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam Melatih Shalat Subuh Tepat Waktu melalui Terapi Behavioral dengan Teknik Modelling pada Anak yang sering melalaikan shalat subuh di desa poreh, kec. Lenteng. sehingga akan diperoleh apakah Bimbingan dan Konseling Islam ada kesesuaian untuk membantu memecahkan persoalan tersebut.
8 A. Kajian Teoritik
1. Bimbingan Konseling Islam
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam.
Bimbingan dan Konseling Islam dalam bukunya Samsul Munir adalah proses pemberian bantuan terarah, kontinu dan sistematis kepada setiap individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung didalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw. ke dalam dirinya, sehingga ia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntutan Alqur’an dan Hadits.1
Menurut Ahmad Mubarok, MA. Dalam bukunya agama teori dan kasus, pengertian bimbingan dan Konseling Islam adalah usaha pemberian bantuan kepada seorang atau kelompok orang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan batin dalam menjalankan tugas-tugas hidupnya dengan menggunakan pendekatan agama, yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran batin didalam dirinya untuk mendorong mengatasi masalah yang dihadapinya.2
Bimbingan dan Konseling Islam adaah Proses pemberian bantuan terarah, continue, sistematis kepada setiap individu agar dapat
1Samsul Munir,Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta; Amzah, 2010), hal 23
mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Quran dan Al-Hadits dalam dirinya, sehingga ia dapat selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits.3
Suatu aktifitas pemberian nasihat dengan atau berupa anjuran anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara Konselor dengan Klien atau Klien. Sedangkan menurut Aunur Rahim Faqih. Bimbingan dan Konseling Islam adalah Proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah Swt. yang seharusnya alam kehidupan keagamaan senantiasa selaras dengan ketentuan-ketentuan dan petunjuk dari Allah Swt, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.4 b. Tujuan Bimbingan dan Konseling Islam
Tujuan Bimbingan dan Konseling Islam secara umum adalah membantu individu untuk mempunyai pengetahuan tentang posisi dirinya dan mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan melakukan suatu kegiatan yang dipandang baik, benar dan bermanfaat bagi kehidupannya di dunia dan untuk kepentingan akhirat nya.5 Sedangkan tujuan khususnya adalah :
1) Membantu individu agar tidak menghadapi masalah
2) Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya
3Samsul, Munir,Bimbingan dan Konseling Islam,(Jakarta: Amzah, 2010), hal. 23.
4Hamdan, Bakran, Adz-Dzaky, dan Psikoterapi Islam, (Yogyakarta: Fajar Baru Pustaka, 2006), hal.
180-181
3) Membantu individu memelihara dan mengembangkan situas dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.6
c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Islam
Dilihat dari beragamnya klien maka fungsi Bimbingan dan Konseling Islam secara tradisional dibagi :
1) Fungsi Preventif (pencegahan) yaitu membantu individu agar dapat berupaya aktif untuk melakukan pencegahan sebelum mengalami masalah kejiwaan, upaya ini meliputi: pengembangan strategi dan program yang dapat digunakan mengantisipasi resiko hidup yan tidak perlu terjadi.
2) Fungsi Remedial atau Rehabilitatif yaitu banyak memberikan penekanan pada fungsi remedial karena sangat dipengaruhi psikologi klinik dan psikiatri. Fokus peranan remedial adalah: penyesuaian diri, menyembuhkan masalah psikologis yang dihadapi dan mengembalikan kesehatan mental sertamengatasi gangguan emosional.
3) Fungsi Edukatif(pengembangan atau developmental) yaitu berfokus pada membantu meningkatkan keterampilan dalam kehidupan,
mengidentifikasi dan memecahkan masalah hidup serta meningkatkan kemampuan menghadapi transisi dalam kehidupan.7 d. Prinsip Bimbingan dan Konseling Islam
1) Membantu individu untuk mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya sesuai dengan hakikatnya (mengingatkan kembali akan fitrahnya).
2) Membantu individu menerima keadaan dirinya sebagaimana adanya, baik dan buruknya, kekuatan dan kelemahannya, sebagai sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt, namun manusia hendaknya menyadari bahwa diperlukan ikhtiar sehingga dirinya mampu bertawakkal kepada Allah Swt.
3) Membantu individu memahami keadaan (situasi dan kondisi) yang dihadapinya.
4) Membantu individu menemukan alternatif pemecahan masalah. 5) Membantu individu mengembangkan kemampuannya
mengantisipasi masa depan, sehingga mampu memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan keadaan sekarang dan memperkirakan akibat yang akan terjadi, sehingga membantu mengingat individu untuk lebih berhati- hati dalam melakukan perbuatan dan bertindak.8
7Hamdani Bakran Adz-dzaky, Dan Psikoterapi Islam, hal. 217.
e. Unsur-Unsur Bimbingan dan Konseling Islam
Unsur-unsur yang ada dalam Bimbingan dan Konseling Islam adalah:
1) Konselor
Konselor adalah orang yang bersedia dengan sepenuh hati membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya berdasarkan pada keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya.9
Adapun syarat yang harus dimiliki oleh konselor adalah: a) Beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.
b) Sifat kepribadian yang baik, jujur, bertanggung jawab, sabar, ramah dan kreatif.
c) Mempunyai kemampuan, keterampilan dan keahlian (profesional) serta berwawasan luas dalam bidang .10
2) Klien
Yang dimaksud dengan klien adalah seorang yang mengalami kesulitan atau masalah, baik kesulitan jasmani atau rohani di dalam kehidupannya dan tidak dapat mengatasi sendiri, sehingga memerlukan bantuan orang lain agar bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi, untuk itu ada beberapa persyaratan bagi seorang Klien antara lain:
9Latipun,Psik ologi .(Malang: UMM PRESS, 2008), hal. 55.
10Syamsu Yusuf, Juntika Nurihsan,Landasan Bimbingan Dan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
a) Klien harus bermotivasi kuat untuk mencari penyelesaian atas masalah yang dihadapi, yang didasari sepenuhnya dan mau dibicarakan dengan konselor.
b) Keinsyafan akan tanggung jawab yang dipikul oleh klien sendiri dalam mencari penyelesaian terhadap masalah dan melaksanakan apa yang diputuskan pada akhir proses.
c) Keberanian dan kemampuan untuk.11 3) Masalah
Bimbingan berkaitan dengan masalah yang dialami individu yang akan dihadapi dan telah dialami oleh individu. Diantara masalah yang ada dalam Bimbingan yaitu:
a) Pernikahan dan keluarga. b) Pendidikan.
c) Sosial (kemasyarakatan). d) Pekerjaan, jabatan dan. e) Keagamaan.12
f. Langkah- langkah Bimbingan dan Konseling Islam
Dalam pemberian Bimbingan dan konseling Islam, langkah-langkah yang akan dilakukan oleh konselor adalah:
1) Identifikasi kasus yaitu langkah yang dilakukan untuk memahami kehidupan individu serta gejala-gejala yang nampak, langkah ini diperoleh melalui interview, observasi dan analisis data.
11W.S. Winkel,Bimbingan dan Penyuluhan di Institut Pendidikan,(Jakarta: Grafindo, 1991), hal. 309.
2) Diagnosa yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya. Hal yang dilakukan adalah mengumpulkan data dan mengadakan studi kasus, setelah data terkumpul maka ditetapkan masalah yang dihadapi.
3) Prognosa yaitu langkah yang dilakukan untuk menetapkan jenis bantuan yang akan dilaksanakan untuk membimbing klien dalam menyelesaikan masalahnya. Langkah ini dilakukan berdasarkan pada kesimpulan dalam langkah diagnosa.
4) Terapi (Treatment) yaitu langkah pelaksanaan bantuan atau Bimbingan Langkah ini merupakan pelaksanaan yang membutuhkan waktu dan proses yang terus menerus dan sistematis serta membutuhkan adanya pengamatan yang cermat.
5) Evaluasi dan Follow-Up yaitu langkah yang dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sampai sejauh mana langkah terapi yang dilakukan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah ini hendaknya dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu lebih lama.13 2. Terapi Behavior dengan Teknik Modelling
a. Pengertian Terapi Behavioral
Terapi behavioral adalah sebuah pendekatan yang diarahkan pada tujuan-tujuan untuk memperoleh tingkah laku baru yang lebih baik, menghapuskan tingkah laku lama yang kurang baik, serta memperkuat
13I. Djumhur dan Moh. Surya,Bimbingan Dan Penyuluhan Disekolah(Malang: CV. Ilmu, 1975), hal.
dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.14 Terapi behavioral sama halnya dengan terapi perilaku, yang memfokuskan pada tingkah laku individu yang bermasalah, yang disebabkan oleh faktor eksterna atau lingkungan sekitarnya, dan mengubahnya menjadi perilaku yang tidak bermasalah; perilaku yang lebih positif. Dengan memodifikasi lingkungan yang ada disekitar klien, menjadi lingkungan yang positif. b. Latar belakang Terapi Behavioral
Behaviorisme lahir sebagai reaksi lahir terhadap intropeksionisme dan juga psikoanalisis. Perkembangan terapi behavioristik ditandai oleh suatu pertumbuhan yang fenominal sejak akhir tahun 1950-an. Pada awal tahun 1960-an, laporan-laporan tentang penggunaan teknik-teknik terapi tingkah laku sekali-kali muncul dalam kepustakaan profesional. John Watson, pendiri behaviorisme menyingkirkan dari psikologi konsep-konsep seperti kesadaran, determinasi diri, dan berbagai fenomena subjek lainnya. Ia mendirikan suatu psikologi tentang kondisi-kondisi tingkah laku yang dapat diamati. John Waltson adalah seorang behavioral radikal yang menyatakan bahwa ia bisa mengambil sejumlah bayi yang sehat dengan menjadikan bayi-bayi itu apa saja yang diinginkannya seperti; dokter, ahli hukum, seniman, pencopet dan lain sebagainya. Ia ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan.15
14Gerald Corey,Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,(Bandung: PT. Rafika Aditama,
1999), hal. 200.
15Gantina Komalasari dan Wahyuni Eka,Teori dan Teknik Konseling,(Jakarta: Indeks, 2011), hal.
Teori behavioral ini dihasilkan berdasarkan hasil eksperimen para behaviorist yang memberikan sumbangan pada prinsip-prinsip belajar dalam tingkah laku manusia. Pendekatan ini memiliki perjalanan panjang mulai dari penelitian laboratorium terhadap binatang hingga terhadap manusia. Secara garis besar, perkembangan pendekatan behavioral terdiri dari 3 trend utama. Yaitu: Kondisioning Klasik (classical conditioning), Kondisioning Operan (Operant Conditioning), dan terapi Kognitif (Cognitive Therapy).16Berkut penjelasannya:
1) Kondisioning klasik (classical conditioning)
Seorang tokoh Ivan Petrovich Pavlov, menggunakan anjing sebagai bahan penelitiannya. Ia menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan pada ruang kedap suara. Dihadapan si anjing diletakkan meja untuk meletakkan tempat makanan yang mudah dijangkau anjing. Pada leher dipasang alat untuk kelenjar ludahnya yang dihubungkan dengan selang sehingga saat air liur yag keluar dapat ditampung dan diukur dengan menggunakan gelas ukuran.
2) Kondisioning Operan (Operant Conditioning),
Operan Conditioning pada awalnya dikembangkan oleh E.L Thorndike. Tokoh lain yang mengembangkanOperan Conditioning, adalah B.F Skinner yang berpendapat bahwa tingkah laku berdasarkan pada akibat-akibatnya yang diistilahkan dengan
reinfocer,ataupunisher. Asumsi dasarOperan Conditioning tentang tingkah laku antara lai: tingkah laku mengikuti hukum, dapat diramalkan, tingkah laku dikontrol dengan teknik analisis fungsional dalam bentuk hbungan sebab akibat dan bagaimana suatu respon timbul mengikuti stimuli atau kondisi tertentu yang dikontrol penyebabnya.
Didalam Operan Conditioning, skinner menggunakan burung merpati sebagai bahan penelitian. Burung merpati dimasukkan kedalam kotak yang kedap suara, salah satu sisi kotak akan keluar bintik merah jika dipatuk, dan diikuti oleh keluarnya makanan (reinforment). Pada percobaan ini, merpati berdiri di dekat bintik cahaya (lubang makanan) selanjuutnya merpati menantap makanan tersebut, mematuk dan menjadi sering mematuk bintik cahaya karena akan mendapatkan makanan (hadiah).
3) Terapi Kognitif (Cognitive Therapy)
Pada trend ketiga ini terkena dengan tokoh Albert Bandura dengan teori belajar sosial. Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berfikir dan mengatu tingkah lakunya sendiri, manusia dan lingkungan saling mempengaruhi dan fungsi kepribadianmelibatkan interaksi satu orang dengan orang lainnya.
c. Tujuan Terapi Behavioral
respon-respon yang baru yang lebih sehat. Terapi ini berbeda dengan terapi lain, dan pendekatan ini ditandai oleh:
1) Fokusnya pada perilaku yang tampak dan spesifik.
2) Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuantreatment(perlakuan). 3) Formulasi prosedurtreatmentkhusus sesuai dengan masalah khusus. 4) Penilaian objektif mengenai hasil konseling.
Tujuan terapi behavioral adalah untuk memperoleh perilaku baru mengeleminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta memperkuat perilaku yang diinginkan.17
d. Hubungan Konseli dan Konselor
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peran aktif dan langsung. Hal ini agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah klien sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Klien harus berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerja sama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.
Dalam hubungan konselor dengan klien beberapa hal dibawah ini harus dilakukan:
1) Konselor memahami dan menerima klien. 2) Keduanya bekerja sama
3) Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan.18
e. Teknik Modelling dalam Terapi Behavioral
1) Pengertian Teknik Modelling
Istilah modelling berasal dari bahasa inggris yang artinya mencontoh, meniru, memperagakan, atau menteladani. Teknik ini konseli dapat mengamati seseorang yang dijadikan modelnya untuk berperilaku kemudian diperkuat dengan mencontoh tingkah laku sang model. Dalam hal ini, konselor dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh konseli.19
Teknik modelling adalah bagian dari terapi behaviour. Yang mana teknik behaviour berfokus pada perilaku yang terlihat dan penyebab luar yang menstimulasinya. Behavioural memandang manusia sangat mekanistik, karena menganalogikan manusia seperti mesin. Konsep mekanistik menjelaskan mengenai stimulus respons seolah-olah menyatakan bahwa manusia akan bergerak atau melakukan sesuatu apabila ada stimulasi.20
Teori lain yang merupakan pengembangan dari teori behavioral adalah teori belajar dengan mencontoh (observasional learning) yang dikemukakan oleh bandura. Menurut Bandura perilaku dapat terbentuk melalui observasi model secara langsung yang disebut dengan imitasi dan melalui pengamatan tidak langsung yang disebut dengan vicarious conditioning. Perilaku manusia dapat
18Sofyan S. Willis,Konseling Individual Teori dan Praktek,Hal. 70-71
19
Numora Lumongga Lubis,Memahami Dasar -Dasar Konseling Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta:
Kencana, 2011) hal 37.
20Dede Rahmat Hidayat,
terjadi dengan mencontoh perilaku individu yang ada di lingkungannya, yang terbiasa disebut dengan istilahModelling.21
Istilahmodelling merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui peniruan. Maksudnya, pada proses belajar melalui pengamatan menunjukkan terjadinya proses belajar setelah mengamati perilaku pada orang lain.22
Inti dari belajar melalui observasi adalah modelling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modelling. Karena modelling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan seorang model (orang lain). Tetapi modelling melibatkan penambahan atau pengurangan tingkahlaku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif.23
2) Tujuan Teknik Modelling
Teknik modelling atau perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk, sebagaimana perilaku yang diharapkan. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran
21Faizah Noer Laela,Bimbingan Konseling Sosial,(Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2014) hal
48. 22
Singgih dan Gunarsah,Konseling dan Psikoterapi( Jakarta: Gunung Mulia, 2007), hal 220.
23
dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial atau berupareward yang ainnya.24
Jadi dapat disimpulkan tujuan teknik Modelling untuk merubah perilaku konseli kearah yang lebih baik dengan mengamati dan mencontoh model atau soerang figur yang dianggapnya baik, agar konseli memperkuat perilaku yang sudah terbentuk.
3) Macam-macam Teknik Modelling
Macam-macam modelling dalam konseling dibagi menjadi 3, diantaranya:
(a) Model yang nyata (live model) contohnya konselor sebagai model oleh konselinya, atau anggota keluarga, atau tokoh yang dikagumi.
(b) Model simbolik (symbolic model) adalah tokoh yang dilihat melalui film, video atau media lain;
(c) Model ganda (multiple model) biasanya terjadi dalam konseling kelompok. Seseorang anggota dari suatu kelompok mengubah sikap dan mempelajari suatu sikap baru, setelah mengganti bagaimana anggota lain dalam bersikap.25
4) Prinsip-prinsip Teknik Modelling
Menurut Gantika Komalasari prinsip-prinsip modeling adalah sebagai berikut:
24Faizah Noer Laela, Bimbingan Konseling Sosial, (Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2014) hal
57.
(a) Belajar bisa memperoleh melalui pegalaman langsung maupun tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensinya
(b) Kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati den mencontoh tingkah laku model yang ada.
(c) Reaksi- reaksi emosional yang terganggu bisa dihapus dengan mengamati orang lain yang mendekati obyek atau situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.
(d) Pengendalian diri dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman.
(e) Status kehormatan sangat berarti.
(f) Individu mengamati seorang model dan dikuatkan untuk mencontohkan tingkah laku model.
(g) Modeling dapat dilakukan dengan model symbol melalui film dan alat visual lainnya.
(h) Pada konseling kelompok terjadi model ganda karena peserta bebas meniru perilaku pemimpin kelompok atau peserta lain. (i) Prosedur modeling dapat menggunakan berbagai teknik dasar
modifikasi perilaku.26
5) Unsur utama dalam Teknik Modelling
26
Menurut teori belajar sosial, perbuatan dilihat dengan menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara terperinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam empat tahap berikut :
(a) Perhatian(attention)
Subyek harus memperhatikan tingkah laku model untuk mempelajarinya, subyek member perhatian pada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki model. Contohnya, seorang pemain music yang tidak percaya diri akan meniru tingkah laku pemain musik terkenal. Akibatnya, ia tidak menunjukkan gayanya sendiri. Bandura & Walters (1963) dalam buku mereka, Social Learning & Personality Development menekankan bahwa hanya dengan memperhatikan orang lain, pembelajaran dapat dipelajari.
(b) Mengingat(retention)
Subyek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam system ingatannya. Dengan cara ini, subyek dapat melakukan peristwa itu kelak apabila diperlukan atau diinginkan. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar.
(c) Reproduksi gerak(reproduction)
menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis. Jadi, setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktik lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan.
(d) Motivasi
Motivasi juga penting dalam permodelan Albert Bandura. Karena merupakan penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu. Jadi, subyek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.27
6) Pengaruh teknik Modelling
pengaruh dari penokohan atau modelling menurut bandura ada tiga hal yaitu :
(a) Pengambilan respons atau keterampilan baru dan memperlihatkan dalam perilakunya setelah memadukan apa yang di peroleh dari pengamatannya dengan pola perilaku yang baru, contohnya : keterampilan baru dalam olahraga, dalam hubungan sosial, bahasa atau pada anak dengan penyimpangan perilaku yang tadinya tidak mau berbicara, kemudian mau lebih banyak berbicara.
27
(b) Hilangnya respons takut setelah melihat tokoh (sebagai model)
melakukan sesuatu yang si oleh pengamat menimbulkan perasaan takut namun pada tokoh yang dilihatnya tidak berakibat apa-apa atau akibatnya bahkan positif. contoh : tokoh yang bermain-main dengan ular dan ternyata ia tidak digigit.
(c) Pengambilan suatu respons dari respons-respons yang diperlihatkan oleh tokoh yang memberikan jalan untuk ditiru. melalui pengamatan terhadap tokoh, seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang mungkin sudah diketahui atau atau di pelajari dan ternyata tidak ada hambatan. contoh : remaja yang berbicara mengenai mode pakaian di televisi.28
7) Langkah-langkah Teknik Modelling
Langkah-langkah atau prosedur teknik modelling menurut gantika komalasari sebagai berikut :
(a) Menetapkan bentuk penokohan (live model, symboli model, multiple model).
(b) Padalive model, pilih model yang bersahabat atau teman sebaya yang memiliki kesamaan seperti: usia, status ekonomi, dan penampilan fisik.
(c) Bila mungkin gunakan lebih dari satu model.
(d) Kompleksitas perilaku yang dimodelkan harus sesuai dengan
tingkat perilaku konseli.
(e) Kombinasikan konseling dengan aturan, instruksi, behavior
rehearsal dan penguatan.
(f) Pada saat konseli memperhatikan penampilan tokoh, berikan
penguatan alamiah.
(g) Bila mungkin buat desain pelatihan untuk konseli menirukan
model secara tepat, sehingga akan mengarahkan konseli pada penguatan alamiah. Bila ridak, maka buat perencanaan pemberian penguatan utuk setiap peniruan tingkah laku yang tepat.
(h) Bila perilaku bersifat kompleks, maka episode modeling
dilakukan mulai dari yang paling mudah ke yang lebih sukar. (i) Scenario modeling harus dibuat realistic.
(j) Melakukan pemodelan dimana tokoh menunjukkan perilaku
yang menimbulkan rasa takut bagi konseli.29 3. Shalat
a. Definisi Shalat
Asal makna shalat menurut bahasa arab ialah “do’a”, tetapi yang dimaksud disini ialah “ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan”.30
Shalat adalah landasan pokok hubungan manusia dan merupakan aktualisasi makna iman yang bersemayang di kalbunya. Dengan sholat
29Singgih dan Gunarsah,Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), hal. 222
dari awal hingga akhir ia dapat mengingat Allah Swt, mengingat hari akhir, mengingar Rasulullah Saw, dan dengan sholat dapat mengingat Al-Qur’an dan jalan yang menunjukan kepadanya.31
b. Waktu shalat Fardhu
Allah berfirman dalam Alqur’an:
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yangberiman.”(Qs. An-Nisa’ [04]: 103)
Shalat yang fardhu atau wajib dilaksanakan oleh tiap-tiap mukallaf (orang yang telah balig lagi berakal) ialah lima kali sehari semalam: 1) Shalat dzuhur. Awal waktunya adalah setelah tergelincir matahari
dari pertengahan langit. Akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan penjangnya, selain dari bayang-bayang yang ketika matahari menonggak (tepat diatas ubun-ubun)
2) Shalat Ashar. Waktunya mulai dari habisnya waktu dzuhur; bayang-bayang sesuatu lebih dari pada panjangnya selain dari bayang-bayang-bayang-bayang yang ketika matahari sedang menonggak, sampai terbenam matahari. 3) Shalat Maghrib. Waktunya dari terbenamnya matahari sampai
terbenamnya syafaq (teja) merah.
4) Shalat Isya. Waktunya mulai dari terbenam syafaq merah (sehabis waktu maghrib) sampai terbit fajar kedua.
5) Shalat Subuh. Waktunya dimulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.32
c. Penyebab Umum Seseorang Malas Melaksanakan Shalat Wajib Rasulullah bersabda:
:
:
:
:
:
»
«
Artinya:
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafik selain dari shalat subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu apa yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin menyuruh mudzin untuk iqomah kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, sedangkan aku mengambil api lalu membakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah”(HR. Bukhari).33
Hadist diatas menjelaskan bahwa salah satu cirri-ciri orang munafik adalah orang-orang yang merasa keberatan melaksanakan shalat subuh dan isya. Pada zaman dahulu, orang-orang merasa berat melaksanakan shalat isya karena shalat isya dilaksanakan pada awal waktu tidur. Berbeda dengan orang pada zaman sekarang, karena zaman sekarang jarang orang yang tidur pada waktu isya. Akan tetapi disibukkan dengan perkara-perkara dunia seperti sibuk bekerja sampai larut malam, keasikan bermain, menonton film, atau menonton pertandingan olah raga, dll.34
32Sulaiman Rasjid,Fiqih Islam,hal. 62.
33Shahih Bukhari Jus 1, hal. 132
Allah berfirman,