• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klaim Asuransi Muatan Kapal Laut (Marine Cargo Insurance) sebagai Wujud Pertanggungjawaban Freight Forwarder pada PT Pelayaran Meratus Line

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Klaim Asuransi Muatan Kapal Laut (Marine Cargo Insurance) sebagai Wujud Pertanggungjawaban Freight Forwarder pada PT Pelayaran Meratus Line"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Klaim Asuransi Muatan Kapal Laut (Marine Cargo Insurance) sebagai Wujud Pertanggungjawaban Freight Forwarder pada PT Pelayaran Meratus Line

Kundori1)*Ali Imran Ritonga2), Karolus G. Sengadji3), Hilda Emeraldo Ahmad4)

1Dosen Prodi Teknika Fakultas Kemaritiman Universitas Maritim AMNI Semarang

2,3,4 Dosen Prodi Teknika Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang Email: [email protected]

Diterima 12 Maret 2021, direvisi 20 Agustus 2021, diterbitkan 06 Oktober 2021

Abstrak

Salah satu kegiatan yang dilakukan freight forwarder adalah bertanggung jawab terhadap sistem pengelolaan pengiriman dan pengaturan barang agar menjadi efisien, tepat, dan aman. Kegiatan

freight forwarder menjadi satu-kesatuan yang tidak dapat dihilangkan, informasi dan strategi

pengurusan dokumen dan prosedur pengiriman bertujuan untuk memberikan jasa pelayanan atau pengurusan atas seluruh kegiatan yang diperlukan.

Tujuan Penelitian ini untuk mengkaji bentuk tanggung jawab perusahaan pelayaran dalam menyelesaikan pertanggung jawaban barang yang dimuat yang mungkin akan rusak atau hilang saat termuat dengan menggunakan kapal niaga serta keperluan dokumen apa saja yang diperlukan untuk pengurusannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan proses tersebut, sampel diambil di PT. Pelayaran Meratus Line, representasi diharapkan dapat diberikan oleh sampel ini. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, interview, studi pustaka dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: PT. Pelayaran Meratus Line melakukan pengurusan dokumen-dokumen untuk barang yang akan di ekspor dan melakukan pembukaan polis asuransi untuk barang muatan yang akan di angkut, sehingga apabila terjadi kerusakan atau kekurangan kelebihan barang bisa diajukan klaim asuransi sehingga tidak menumbulkan kerugian antara kedua belah pihak perusahaan. Rekomendasi manajerial untuk perusahaan adalah dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pengajuan klaim asuransi harus dipersiapkan dari awal secara lengkap dengan tujuan ketika terjadi klaim barang antara perusahaan dan pihak asuransi sudah mampu melakukan disposisi laporan secara optimal.

Kata kunci : Klaim Asuransi, Freight Forwarder, Ekspor, Pengangkutan Kapal Laut

Abstract

One of the activities carried out by freight forwarders is to be responsible for the delivery management system and goods arrangement to be efficient, precise, and safe. Freight forwarder activities become an inseparable unit, information and strategies for document management and shipping procedures aim to provide services or management of all required activities. The purpose of this study is to examine the form of responsibility of the shipping company in completing the responsibility for the goods loaded which may be damaged or lost when loaded using a commercial ship and what documents are needed for its management.

This study used a qualitative method approach and a descriptive approach to explain the process, the sample was taken at PT. Pelayaran Meratus Line, the representation is expected to be given by this sample. Data collection techniques by means of observation, interviews, literature study, and documentation. Data analysis is done by reducing the data and drawing conclusions. The results of this study can be described as follows: PT. Pelayaran Meratus Line manages documents for goods to be exported and opens an insurance policy for cargo to be transported so that if there is damage or lack of excess goods, an insurance claim can be submitted so as not to cause losses between the two companies. The managerial recommendation for the company is that the documents required for filing an insurance claim must be prepared completely from the

(2)

beginning with the aim that when a claim occurs between the company and the insurer, they are able to make the disposition of the report optimally.

Keywords: Insurance Claims, Freight Forwarding, Export, Ship Transportation

Pendahuluan

Salah satu kegiatan yang dilakukan freight forwarding bertanggung jawab mewujudkan sistem pengelolaan pengiriman dan pengaturan barang agar menjadi efisien, tepat, dan aman.

Sehingga kegiatan freight forwarding menjadi kesatuan yang tidak dapat dihilangkan, informasi dan strategi pengurusan dokumen dan prosedur pengiriman bertujuan untuk memberikan jasa pelayanan atau pengurusan atas seluruh kegiatan yang diperlukan. Sehingga terlaksananya pengiriman, pengangkutan dan penerimaan barang dengan menggunakan moda transportasi laut. Perusahaan freight forwarding dituntut untuk memenuhi permintaan pelayanan pengiriman barang yang cepat, dan memastikan pengiriman sampai ditempat tujuan dengan aman dan lancar [1] .

Pengelolaan pengiriman barang dalam jumlah banyak, perusahaan dituntut untuk meminimalisir jumlah biaya pengiriman dengan cara membuat jaringan mitra logistik dan agen pengiriman [2]. Perusahaan pengiriman barang harus menyediakan kualitas pelayanan yang terukur, mudah dipantau dan meningkatkan kualitas layanan [3]. Namun pada sistem pelaksanaannya terdapat permasalahan akibat kelalaian staff karyawan dalam pelaksanaan seperti kesalahan dalam melakukan pengemasan barang yang tidak sesuai prosedur, kesalahan dalam pencatatan dokumen pengangkutan.

Masalah tersebutlah yang dihadapi PT.

Pelayaran Meratus Line dalam melakukan pengangkutan melalui laut.

Beberapa masalah yang dihadapi dalam proses pengangkutan barang yang menjadi tangung jawab freight forwarding seperti kesalahan dalam melakukan pengemasan barang yang akan berdampak pada rusaknya barang atau muatan. Kesalahan pencatatan dalam dokumen pengangkutan menjadikan tidak sama antara jumlah barang yang dikirim dengan diterima.

Kelebihan bongkar barang muatan di suatu pelabuhan yang tidak terdaftar manifest di pelabuhan bersangkutan sehingga barang hilang atau tidak sampai di pelabuhan tujuan. Human error kelalaian yang dilakukan karyawan yang menyebabkan ketidak kondusifan atau terjadi

kesalahan dalam melaksanakan kerja [4]. Maka dari itu sebelum melakukan pengiriman barang karyawan harus lebih konsentrasi, teliti dan bertangung jawab pada tugasnya masing-masing.

Aktivitas freight forwarder adalah : Memilih rute perjalanan barang, moda transportasi dengan pengangkutan yang sesuai, kemudian memesan ruang muat; melaksanakan penerimaan barang, menyortir, mengepak, menimbang berat, mengukur berat, mengukur dimensi, kemudian menyimpan barang ke dalam gudang;

Mempelajari Letter of Credit, peraturan negara tujuan ekspor, negara transit, negara impor kemudian menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan; Melaksanakan transportasi barang kepelabuhan laut atau udara, mengurus izin bea dan cukai, kemudian menyerahkan barang- barang kepada pihak pengangkut; Membayar biaya-biaya handling serta membayarkan freight;

Mendapatkan bill of lading atau air waybill dari pihak pengangkut; Mengurus asuransi transportasi barang dan membantu mengajukan klaim kepada pihak asuransi bila terjadi kehilangan atau kerusakan atas barang;

Memonitoring perjalanan barang sampai ke pihak penerima, berdasarkan info dari pihak pengangkutan dan agen forwarding di negara transit atau tujuan; Melaksanakan penerimaan barang dari pihak pengangkut; Mengurus izin masuk pada bea dan cukai serta menyelesaikan bea masuk dan biaya-biaya yang timbul dipelabuhan transit atau tujuan; Melaksanakan transportasi barang dari pelabuhan ke tempat penyimpanan barang di gudang; Melaksanakan penyerahan barang kepada pihak consignee, dan melaksanakan pendistribusian barang bila diminta [5]

Peranan freigh forwarder untuk memberikan pelayanan dalam konsolidasi muatan, pengangkutan, pembungkusan (packing), maupun dalam mempersiapkan dokumen yang diperlukan saat melakukan ekspor [6].

Pertanggungan adalah perbuatan untuk mengalihkan sebagian atau seluruh resiko antara orang yang ingin mengalihkan resiko dengan orang yang bersedia menanggung resiko itu berdasarkan syarat-syarat tertentu yang disepakati oleh para pihak. Pelaksanaan

(3)

pertanggungan merupakan bentuk perjanjian antara pihak penanggung (insurer) dan tertanggung (assured) untuk mengalihkan resiko yang timbul dari kejadian atau peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya [7].

Berdasarkan Undang Undang No. 40 Tahun 2014. Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai dasar untuk memberikan penggantian kepada tertanggung pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin di derita oleh tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti. Selain itu dapat diartikan memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Polis asuransi berisi perjanjian yang mempunyai kekuatan hukum dan merupakan alat bukti sebagai imbalan dari peralihan resiko dengan pertanggungan perjanjian dengan pembayaran premi. Premi adalah kewajiban dari tertanggung dan menjadi hak penanggung [8].

Cargo marine insurance adalah kontrak dimana perusahaan asuransi berjanji untuk mengganti kerugian yang dijamin dengan cara dan sejauh yang disepakati, terhadap kerugian laut, yaitu, insiden kerugian akibat petualangan laut. Ini juga dapat diperpanjang untuk melindungi tertanggung terhadap kerugian di perairan pedalaman atau di darat, risiko dapat terjadi secara insidental untuk setiap pelayaran laut.

Klaim ialah tuntutan ganti rugi yang di sampaikan oleh pengirim muatan atau wakilnya kepada pengangkut berhubungan dengan kekurangan atau kerusakan pada barang muatan yang telah terjadi sebagai akibat dari satu atau bermacam-macam resiko selama pelayaran dari pelabuhan pemuatan sampai di pelabuhan pembongkaran. Jenis-jenis klaim antara lain Klaim kekurangan (shortlanded claim), Klaim Kerusakan (damaged cargo claim), Klaim Kelebihan angkut (overlanded).

Dasar atau acuan teori-teori atau temuan- temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai pendukung data.

Berikut merupakan beberapa penelitian terdahulu berupa referensi artikel jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti Tabel 1. Penelitian terdahulu[8]–[10]

Nama Peneliti

Judul Penelitian Tujuan penelitian persamaan perbedaan

Risky Amalia Ramadhani, 2018

Sistem Operasi Prosedur

Penanganan Klaim

Kekurangan muatan Dalam Asuransi Pengangkutan kapal Laut PT. ASPN Cabang Surabaya

Mengetahui Sistem Operasional Prosedur Penanganan Klaim Kekurangan Muatan Dalam Asuransi Pengangkutan Laut

Membahas tentang klaim muatan dari kapal laut

berfokus pada kehilangan muatan pada saat berlayar

Retno Ika Wijayanti, 2012

Peranan Freight Forwarder Dalam Pelaksanaan Ekspor Pada PT. Purindo Logistik Di Sukoharjo

Memperioleh

gambaran yang lebih

mendalam dan

pemahaman mengenai peranan freight forwarding dalam tugasnya yang membantu eksportir maupun importir pada aktivitas ekspor ke suatu negara

membahas tentang tugas atau peran freight forwarder

berfokus pada pelaksanaan kegiatan mengenai

pengurusan

dokumen, dalam konsolidasi muatan berbentuk LCL (less than container load) maupun dalam proses

penggangkutan barang ekspor Handayani

Sarjiyanto, 2019

Mitigasi resiko dan klaim asuransi pengiriman barang Ekspor pada Perusahaan Internasional. Freight Forwarder (studi kasus pada PT. MSA Cargo Surakarta)

memahami tentang resiko perdagangan Internasional beserta mitigasinya

0.30

membahas tentang klaim asuransi pengiriman barang

berfokus pada proses pengajuan klaim melalui udara

(4)

Kerangka berfikir adalah narasi (uraian) atau pertanyaan (proposisi) yang disusun secara singkat tentang konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasikan atau dirumuskan yang dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga

akhir. Deskripsi yang ringkas berdasarkan bagan kerangka berfikir atau gambar sangat berguna bagi penelitian yang menekankan treatment untuk menjelaskan isi penelitian.

Sumber : hasil kajian peneliti yang diolah, 2020

Materi dan Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif dengan metode diskriptif. Pemilihan metode ini dikarenakan dengan metode penelitian kualitatif dapat menghasilkan data deskriptif berupa uncapan atau tulisan dari perilaku yang diamati sehingga menghasilkan uraian yang mendalam tentang hasil penelitian berdasarkan fakta temuan dilapangan dengan menghubungkan data yang diperoleh dengan teori-teori yang digunakan dalam penulisan ini.[11]

Sumber data penelitian diperoleh dari informan, catatan lapangan, maupun dokumen yang dapat menjelaskan tentang informasi apa saja yang menjadi dasar forwarder dalam bertanggung jawab dalam pengurusan klaim asuransi pengangkutan laut (marine cargo insurance) oleh PT. Pelayaran Meratus Line.

Dalam penelitian ini penulis memilih data primer,

karena peneliti memperoleh data dari hasil wawancara peneliti dengan narasumber.

Subjek dan informan yang menjadi dalam hal ini antara lain: pegawai perusahaan Pelayaran PT.

Meratus Line Surabaya dilapangan yang dapat diperoleh dari pegawai jabatan teratas hingga terendah misalkan Manager operasi, Head office, karyawan atau pegawai PT. Meratus Line dan lain sebagainya dalam memberikan informasi

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penyusunan penelitian ini adalah Observasi dan Wawancara. observasi yaitu dengan memperoleh informasi peneliti secara langsung mengamati kegiatan apa saja yang dilakukan oleh PT. Pelayaran Meratus Line.

wawancara dilakukan oleh peneliti dengan melakukan tanya jawab kepada pihak-pihak yang terkait yang telah dibuat peneliti dalam melaksanakan tuntutan klaim ganti rugi.

(5)

Selanjutnya langkah-langkah dalam analisis data ini terdiri dari beberapa tahap yaitu mereduksi data dengan memfokuskan pada hal- hal yang berhubungan dengan proses pengurusan klaim asuransi pengangkutan laut (marine cargo insurance) pada PT. Pelayaran Meratus Line.

kemudian dengan melakukan penarikan kesimpulan yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada atau berupa gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga setelah diteliti menjadi jelas[12].

Wawancara dilakukan terhadap tiga orang informan yang dianggap representatif terhadap objek masalah dalam penelitian. Pemilihan sampel penelitian didasarkan pada kepemilikan informasi tentang tugas dan tanggung jawab freight forwarder dalam pengurusan klaim asuransi pengangkutan laut (marine cargo insurance) oleh PT. Pelayaran Meratus Line sedangkan jumlah sampel penelitian disesuaikan dengan kebutuhan data informasi dan tujuan dari penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah bapak Agus Jauhari sebagai Manajer Operasional PT. Pelayaran Meratus Line; Ricko Setyawan sebagai staff operasional PT.

Pelayaran Meratus Line; Tri Darto sebagai Staff Pengiriman Barang PT. Pelayaran Meratus Line;

Guntoro sebagai Staff Pengepakan PT. Pelayaran Meratus Line.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara di lapangan terhadap tiga staff tersebut diperoleh hasil temuan penelitian sebagai berikut :

1. Proses pengepakan barang

Proses pengepakan barang masih menjadi tangung jawab freight forwarder dalam pelaksanaan pengiriman barang. Freight forwarder akan melakukan pengepakan barang eskpor sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Dari proses pelaksanaan pengepakan barang peneliti melakukan wawancara dengan karyawan PT. Pelayaran Meratus Line sebagai berikut :

Agus Jauhari manager operasional PT.

Pelayaran Meratus Line mengatakan bahwa

“Proses pengepakan barang di PT. Pelayaran Meratus Line telah di lakukan sesui dengan prosedur yang telah di tetapkan di lapangan.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat kesalahan pengepakan maka dibuatlah prosedur tersebut”

Guntoro staf pengepakan barang PT.

Pelayaran Meratus Line mengatakan bahwa

“Staff dari pengepakan berupaya melakukan pengepakan barang sesuai prosedur namun ada beberapa staf yang masih lalai dalam melaksanakan pengepakan barang yang secara asal-asalan hal ini menyebabkan ada beberapa barang yang rusak akibat kesalahan pengepakan barang “

Dari hasil wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa PT. Pelayaran Meratus Line telah membuat Standar Operasional Prosedur Pengepakan Barang agar tidak terjadi kerusakan dari suatu barang, namun pada faktanya tidak semua staff patuh kepada prosedur tersebut sehingga mengakibatkan ada beberapa barang yang rusak. Adapun prosedur jenis pengepakan barang yang ada di PT.

Pelayaran Meratus Line adalah sebagai berikut : Berdasarkan sifat dan jenis barang; Volume barang; Berat barang; Jumlah dan jenis barang;

Cara pengiriman barang; Tujuan pengiriman barang.

Dalam pengepakan barang harus diperhatikan letak dan marka barang. Segala keterangan barang harus sesuai dengan shipping mark yang akan dicatat dalam dokumen. Tujuannya adalah untuk mempermudah barang untuk dikenali.

selain itu PT. Pelayaran Meratus Line memilih beberapa jenis pengepakan atau pembungkusan barangnya diantaranya dengan menggunakan karung, Menggunakan Bahan fiber atau karton, Menggunakan peti kayu.

2. Proses pencatatan dokumen

Proses pencatatan dokumen sangat penting untuk membuat dokumen yang diperlukan agar barang tersebut baik dan benar. Dalam pencatatan dokumen ini peneliti melakukan wawancara terhadap karyawan PT. Pelayaran Meratus Line sebagai berikut:

Tri Darto staff pengiriman barang mengatakan bahwa “Setelah dilakukan proses pengepakan barang selanjutnya barang siap untuk dikirim. Namun sebelum dikirim dilakukann pencatatan tentang jenis barang, berat barang, jumlah barang kemudian dilanjutkan kepada bagian dokumen untuk dibuatkan dokumen”.

Sinyo staff bagian dokumen mengatakan bahwa “setelah barang akan dibuatkan dokumen barang agar barang itu baik dan benar.

(6)

Pencatatan dokumen sesaui dengan data yang di berikan oleh pihah pengiriman barang“.

Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa setelah dilakukan pengepakan barang akan dilanjutkan pengiriman barang namun sebelum barang dikirim harus di data terlebih dahulu mulai dari jenis barang, berat, jumlah barang selanjutnya akan dibuatkan dokumen barang agar baik dan benar.

Adapun dokumen-dokumen yang diurus oleh PT. Pelayaran Meratus Line antara lain :

a. Shipping Instruction (SI) Merupakan surat/formulir perintah pengiriman atau pengapalan barang yang dibuat eksportir yang memuat data lengkap mengenai pelabuhan tujuan, nama dan alamat importir yang dituju, nama dan alamat eksportir, jumlah barang, ukuran barang, berat kotor barang, isi barang, tanda tangan dan nama pengiriman atau stamp perusahaan, serta catatan atau pesan lainnya yang berhubungan dengan pengiriman barang.

b. Invoice adalah dokumen yang menyatakan kejelasan data-data barang yang dikirim meliputi nama dan alamat shipper dan consignee, serta rincian jumlah, jenis, dan nilai barang

c. Packing List (PL) adalah dokumen yang menyatakan kejelasan data – data barang yang dikirim meliputi nama dan alamat shipper dan consignee, serta rincian jumlah, jenis dan berat barang termasuk jumlah kemasan

d. Bill of Lading adalah dokumen yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran sebagai tanda terima penyerahan barang juga sebagai bukti pemilikan atas barang yang telah dimuat di atas kapal oleh eksportir untuk diserahkan kepada importir

e. Cargo Manifest merupakan dokumen yang berisi informasi tentang muatan diatas kapal

f. Mate’s Receipt adalah dokumen tanda terima dari pengangkut untuk menyatakan bahwa barangnya telah diterima di atas kapal (muatan ekspor). Isi dokumen ini menyatakan bahwa barang dengan spesifikasinya telah dimuat dalam kapal

g. Delivery Order adalah sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh pihak yang berkuasa menyimpan barang. Untuk mengeluarkan barang itu dari tempat penyimpanannya terdapat “surat keluar“ artinya yang punya barang telah menyelesaikan kewajibannya terhadap yang dikuasakan atas barang tersebut h. House Bill of Lading merupakan kontrak

pengangkutan barang antara shipper dengan carrier ( maskapai pelayaran ) dari pelabuhan ke tempat tujuan. House Bill of Lading selalu non – negotiable dan oleh karenanya bukan merupakan document of title. House Bill of Lading tidak dapat dipindahtangankan atau diperjual belikan.

Pencantuman nama importir dalam House Bill of Lading sebagai pihak yang menerima barang, membuat barang- barang tersebut tidak dapat diambil oleh pihak lain. Dalam pengiriman barang ekspor melalui transportasi laut PT.

Pelayaran Meratus Line Surabaya menerbitkan dan mengerjakan dokumen berupa Draft Bill of Lading, Bill of Lading, House Bill of Lading, Invoice, Packing list (apabila dokumen tersebut atas permintaan shipper), dan dokumen asuransi bila diperlukan.

3. Proses Pengajuan Klaim Pada Barang Yang Rusak

Proses pengajuan klaim asuransi sangat penting untuk meminimalisir kerugian. Apabila ada barang muatan yang rusak harus diasuransikan agar bisa mendapatkan ganti rugi terhadap barang tersebut. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara :

Agus Jauhari manajer operasional mengatakan “Sebelum melakukan proses pengiriman barang kami sebagai pihak freight forwarder membuat kesepakatan bentuk tangung jawab yang akan kami laksanakan. Dalam hal ini eksportir menghendaki melaksanakan pengiriman barang aman sampai tempat tujuan kami bertugas menjalankan amanah tersebut.

Untuk mengantisipasi hal-hal atau resiko yang tidak diinginkan eksportir harus mengasuransikan barang muatan tersebut. Jadi jika ada kerusakan atau kehilangan suatu barang kami bisa melakukan pengajuan klaim kepada pihak asuransi untuk meminimalisir kerugian”.

(7)

Ricko Setyawan staff operasional mengatakan “Kami sebagai staff operasional bertanggung jawab akan kerugian akibat kerusakan barang muatan kepada eksportir.

Namun sebelum diajukan klaim kami harus mengidentifikasi terlebiih dahulu barang tersebut rusak dikarenakan apa? Jika rusak dikarenakan kesalahan dari pihak freight forwarder seperti kesalahan dalam pengemasan, kesalahan pencatatan dokumen, dan kelebihan atau kekurangan barang kami akan bertangung jawab dalam proses melakukan pengajuan klaim.

Namun jika karena faktor alam kami tidak bertanggung jawab akan barang muatan tersebut”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa PT. Pelayaran Meratus Line bertanggung jawab penuh terhadap barang muatan milik eksportir. Namun PT.

Pelayaran Meratus Line tidak bertanggung jawab akan kerusakan atau hilangnya barang yang dikarenakan kejadian alam seperti badai, angin kencang yang menyebabkan hilangnya muatan di atas deck kapal. Untuk selebihnya peneliti melakukan observasi kepada PT. Pelayaran Meratus Line dalam proses pengurusan pengajuan klaim asuransi kepada pihak asuransi dengan membuktikan bahwa tertanggung betul berkepentingan terhadap insurable interest, tertanggung menunjukan dokumen-dokumen pendukung seperti Bill Of Lading, Invoice.

Dasar penyelesaian klaim berdasarkan pada Bill Of Lading dan Resi dari Mualim kapal mengenai jumlah barang yang terkena klaim. Selain dokumen tersebut ada beberapa dokumen pendukung seperti :Konosemen (Bill of Lading);

Manifest; Except Bewijs (EB); Claim Contatering Bewijs (CCB); Short & Overlanded Tracers; Damage cargo list (DCL); Letter of subrogation atau notice of abandonmentce, asli polis dan kerugian tersebut dijamin oleh polis.

Sebagai kelengkapan berkas pengajuan klaim PT. Pelayaran meratus line memberikan dokumen pendukung diantaranya :

a. Affidavit yakni laporan kejadian yang ditandatangani perwira kapal (mualim) dan stevedore.

b. Long entry, yakni buku kapal yang mencatat segala kejadian yang dialami kapal.

c. Note of protest yaitu akta yang ditanda tangani nahkoda dan syahbandar tentang kejadian-kejadian yang dialami kapal serta

pernyataan nahkoda bahwa pihaknya tidak bertangung jawab karena kerusakan/kerugian disebabkan oleh kejadian alam.

d. Survey report yaitu laporan tenaga ahli

sebagai hasil pemeriksaan

kerusakan/kehilangan barang dan digunakan sebagai satu dasar penyelesaian klaim.

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut PT. Pelayaran Meratus Line adalah sebuah perusahaan freight forwarder yang bergerak dalam bidang jasa pengangkutan, dimana tugasnya adalah sebagai jasa transportasi barang yang akan diekspor. Proses penanganan kegiatan ekspor pada PT. Pelayaran Meratus Line yaitu dengan melakukan pengurusan dokumen-dokumen untuk barang yang akan di ekspor dan melakukan pembukaan polis asuransi untuk barang muatan yang akan di angkut, sehinggga apabila terjadi kerusakan atau kekurangan kelebihan barang bisa di ajukan klaim asuransi sehingga tidak menimbulkan kerugian diatara kedua belah pihak. Dokumen- dokumen yang diperlukan untuk pengajuan klaim asuransi yaitu konosemen (Bill of Lading), manifest, except bewijs (EB), claim contatering bewijs (CCB), short & overlanded tracers, damage cargo list, letter of subrogation atau notice of abandonment.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh informan dari PT. Pelayaran meratus line yang telah bersedia kami wawancarai dan Direktur Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitan bersama dengan Dosen PIP Semarang. Tidak lupa terimakasih kepada prof. Harlino atas masukan dan bimbingannya.

Daftar Pustaka

[1] C. Archetti and L. Peirano, “Air intermodal freight transportation: The freight forwarder service problem,”

Omega, vol. 94, p. 102040, 2020.

[2] M. Kilibarda, S. Nikolicic, and M.

Andrejic, “Measurement of logistics service quality in freight forwarding

(8)

companies: A case study of the Serbian market,” Int. J. Logist. Manag., 2016.

[3] R. Y. Efranto and A. G. Saputri,

“Analisis Potensi Human Error Karyawan pada Industri Otomotif Berdasarkan Klasifikasi Human Error Identification,”

J. Ergon. dan K3, vol. 3, no. 2, pp. 26–

30, 2019.

[4] R. Suyono, “Shipping-Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut- Edisi Keempat,” Jakarta PPM, 2007.

[5] A. W. Wati, “Peranan Freight Forwarder dalam Menunjang Aktivitas Ekspor Antar Negara Melalui Jalur Laut dan Udara:

Studi Kaus: PT Andalan Pacific Samudra Surabaya Tahun 2017,” 2017.

[6] D. A. Lasse, “Management Muatan, Aktivitas Rantai Pasok Di Area Pelabuhan, PT,” Raja Graf. Persada, Jakarta, 2014.

[7] M. C. D. M. Mendrofa, H. Haryanto, and A. Asmaniar, “EFEKTIVITAS KLAUSULA THIS INSURANCE IS SUBJECT TO ENGLISH LAW AND

PRACTICE DALAM POLIS

PENGANGKUTAN BARANG

INDONESIA,” Krisna Law, vol. 1, no. 3, pp. 49–64, 2019.

[8] R. A. Ramadhani and C. L.

Prawirosastro, “Sistem Operasional Prosedur Penanganan Klaim Kekurangan Muatan Dalam Asuransi Pengangkutan Kapal Laut PT. ASPAN Cabang Surabaya,” J. Apl. Pelayaran dan Kepelabuhanan, vol. 8, no. 2, pp. 130–

140, 2018.

[9] R. I. Wijayanti, “Peranan freight forwarder dalam pelaksanaan ekspor pada pt purindo logistics di Sukoharjo,” 2012.

[10] S. Sarjiyanto and H. T. Septian,

“MITIGASI RISIKO DAN KLAIM ASURANSI PENGIRIMAN BARANG

EKSPOR PADA PERUSAHAN

INTERNASIONAL FREIGHT

FORWARDER (Studi Kasus pada PT.

MSA Kargo Surakarta),” J. Vokasi Indones., vol. 7, no. 1, 2019.

[11] L. J. Moleong, Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya, 2021.

[12] D. Sugiyono, “Metode penelitian bisnis,”

Bandung Pus. Bhs. Depdiknas, 2008.

Referensi

Dokumen terkait