M 86
Konsep Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) di Sistem Komunikasi 5G
Uke Kurniawan Usman Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom Bandung, Indonesia [email protected]
Abstrak— Non-orthogonal multiple access (NOMA) merupakan suatu teknik multiple access yang saat ini banyak dilakukan penelitian seputar penerapannya pada sistem komunikasi 5G. Pada NOMA multiple user dapat dilayani dengan waktu / frekuensi yang berbeda secara bersamaan, hal ini yang membedakan NOMA dengan orthogonal-multiple acces (OMA).
Keuntungan dengan diterapkannya NOMA dalam sistem komunikasi 5G antara lain dapat mengefisiensi penggunaan spektrum frekuensi, meningkatkan fairness antar user, dan meningkatkan throughput untuk masing-masing user.
Kata Kunci—Non-Orthogonal Multiple Access, Sistem Komunikasi 5G, Orthogonal Multiple Access.
I. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi semakin pesat setiap tahunnya.
Dalam bidang teknologi, hal ini berdampak pada meningk atnya kebutuhan user akan akses komunikasi yang lebih cepat dan efisien. Memasuki tahun 2020, diskusi seputar perkembangan dan pengimplemetasian teknologi 5 generation (5G) pun meningkat seiring peningkatan jumlah pengguna dan kemajuan teknologi. Beberapa diskusi seputar 5G dalam sistem komunikasi seluler terdapat dalam Internasional Teleommunication Union Radio (ITU-R) [1].
Sebagai generasi terbaru dalam sistem komunikasi seluler, 5G diharapkan dapat memiliki terobosan yang besar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. 5G diisukan akan memiliki kapasitas sistem 1.000 kali lebih tinggi, throughput sistem 10 kali lebih tinggi, dan efisiensi energi 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan generasi keempat (4G dan 4G- LTE) [2]. Beberapa teknologi yang diperkenalkan dalam 5G yang sudah diteliti oleh beberapa peneliti antara lain millimeter wave (mmWave), massive MIMO, komunikasi device-to- device, machine-to-machine, full-duplex (FD) solutions, energy harvesting (H), cloud-based radio access networks (C-RAN), wireless network virtualization (WNV), dan software defined networks (SDN) [3]-[5].
Power domain multiple access atau lebih dikenal dengan non-orthogonal multiple access (NOMA) merupakan kandidat multiple access (MA) yang menjanjikan dalam teknologi komunikasi 5G [2] [7]. NOMA diklasifikasikan mejadi dua yaitu code-domain NOMA dan power-domain NOMA. Pada paper ini akan membahas tentang power-domain NOMA dimana beberapa user digabungkan pada waktu, code, dan frekuensi yang sama dengan level daya user yang berbeda [3].
Di sisi transmitter diterapkan menerapkan superposition coding yang menyebabkan satu subcarrier digunakan oleh beberapa
user. Sedangkan di sisi receiver diterapkan successive interference cancellation (SIC) dengan menghilangkan interferensi pada sinya pada user dengan channel gain yang lebih rendah [4]. Dengan menerapkan Penerapan NOMA dalam sistem komunikasi 5G secara signifikan meningkatkan throughput yang dapat dicapai sistem [5]. Gambar 1 menunjukkan ilustrasi struktur jaringan 5G dengan teknik yang sudah diterapkan dan teknik yang menjadi kandidat untuk diterapkan.
Gambar 1. Ilustrasi arsitektur jaringan 5G [6].
Pada karya ilmiah ini, prinsip dasar yang berupa penjelasan beserta teknik yang digunakan dalam NOMA akan dijelaskan pada bagian II, proses dan cara kerja NOMA dalam menggabungkan beberapa informasi user dijelaskan di bagian III, analisa perbedaan antaran NOMA dan teknik MA lain akan dibahas pada bagian IV. Pada bagian V berisi keuntungan penerapan NOMA, penerapan dan peran NOMA dalam sistem 5G akan dibahas dalam bagian VI, kendala dalam pengimplementasian NOMA dalam 5G dibahas pada bagian VII, dan pada bagian VIII karya ilmiah terdapat kesimpulan hasil pembahasan pada karya ilmiah.
II. PRINSIP DASAR NOMA
Non-orthogonal multiple access (NOMA) merupakan teknik multiple access (MA) yang memanfaatkan ketidak- orthogonalan dalam proses penggabungan beberapa user.
Secara umum, teknik NOMA dibagi menjadi 2 yaitu power- domain dan code-domain [8]. Terdapat trellis coded multiple access (TCMA), dan low-dencity (LDS) sequence based on CDMA pada code-domain NOMA. Sedangkan power-domain
M 87 NOMA yang merupakan kandidat untuk 3GPP LTE [10]
menawarkan teknik penggabungan pada waktu dan frekuensi yang sama. Dalam teknik user dengan kondisi kanal yang lebih bagus akan dialokasikan daya yang lebih sedikit dengan menerapkan superposition coding (SC) di sisi transmitter dan pada sisi receiver, user dengan kondisi kanal yang lebih baik akan melakukan decoding informasi menggunakan successive interference cancellation (SIC). Hal ini yang membedakan NOMA dengan tekniik orthogonal multiple access (OMA) seperti time division multiple access (TDMA), frequency division multiple access (FDMA), dan code division multiple access (CDMA).
A. Superpositioning Coding (SC)
Superposition coding (SC) merupakan suatu teknik pengkodean yang memungkinkan base station (BS) mengirimkan informasi dari beberapa user secara bersamaan.
Konsep pada SC yaitu melakukan encoding pesan untuk user dengan kondisi kanal yang buruk dan mengalokasikan power yang berasal dari user dengan kondisi kanal yang lebih baik [6].
SC dapat dianologikan dengan suatu pengajaran dalam kelas dimana guru memberikan siswa informasi sesuai dengan mata pelajaran yang sedang berlangsung dalam kelas. Terdapat perbedaan pada kelas tersebut baik dari kualitas maupun latar belakang para siswa, beberapa siswa dapat lebih cepat dan lebih banyak menyerap informasi yang diberikan oleh guru, sedangkan lainnya tidak. Biasanya, suatu proses pengajaran dapat didesain sedemikian rupa sehingga siswa yang memiliki performansi lebih baik mendapatkan informasi yang lebih baik dan sebaliknya siswa dengan performansi lebih rendah mendapatkan informasi yang lebih sedikit. Namun dengan adanya SC, model pengajaran akan berlangsung dengan menyesuaikan dengan siswa yang memiliki performansi lebih rendah.
Dalam penerapan SC, transmitter harus mengkodekan terlebih dahulu informasi yang akan dikirimkan ke user.
B. Successive Interference Cancellation (SIC)
Kapasitas suatu jaringan dapat ditingkatkan secara substansial dengan adanya teknik mengelola interferensi, untuk itu successive interference cancellation (SIC) dianggap menjadi teknik yang menjanjikan untuk diterapkan dalam sistem komunikasi nirkabel.
Proses SIC terjadi dengan mendeteksi user dengan sinyal terkuat terlebih dahulu yang memiliki sinyal yang lebih sedikit terinterferensi. Kemudian user tersebut melakukan pengulangan encoding dan memodulasi kembali sinyalnya, selanjutnya sinyal tersebut dikurangi oleh sinyal komposit. Lalu dilanjutkan oleh sinyak terkuat selanjutnya, hingga user dengan sinyal terendah dapat melakukan decoding tanpa terjadi interferensi [6].
Gambar 2. Representasi SIC dalam grafik bipartit [12]
Gambar 2 menunjukkan model SIC dalam grafik bipartite dengan 𝑆𝑁 merupakan slot pengalokasian sinyal, sedangkan 𝑢𝑛merupakan sinyal user.
III. CARA KERJA NOMA
Gambar 3. Proses Pentransmisian data NOMA[2].
Seperti pada umumnya proses pengiriman data, terdapat uplink dan downlink dalam sistem komunikasi nirkabel dengan menggunakan teknik multiple access NOMA. Skema proses pentransmisian data baik uplink maupun downlink ditunjukkan pada Gambar 3
A. Proses Downlink pada NOMA
Pada proses transmisi downlink menggunakan NOMA diterapkan teknik SC di sisi transmitter yaitu base station untuk mengirim kombinasi sinyal dan teknik SIC diterapkan di sisi user.
B. Proses Uplink pada NOMA
Pada proses uplink menggunakan NOMA, multiple user mengirim sinyal uplink menuju BS pada resource block (RB) yang sama. BS mendeteksi sinyal dari seluruh user dengan bantuan SIC. Terdapat beberapa perbedaan antara uplink downlink pada NOMA, yaitu:
• Daya Kirim
Berbeda dengan downlink NOMA, daya kirim user pada uplink NOMA tidak harus berbeda, tergantung pada kondisi kanal masing-masing user. Jika kanal tiap user berbeda secara signifikan, signal plus interference noise ratio (SINR) yang diterima akan berbeda pada BS, kecuali daya kirim tiap user.
• Pengoperasian SIC
Dapat dilihat pada Gambar 2, pada proses downlink NOMA, sinyal yang berasal dari user n terinterferensi oleh user m yang memiliki sinyal lebih kuat, sehingga user m terlebih dahulu dialokasikan daya. Dalam proses ini SIC dilakukan oleh user dengan kondisi yang lebih baik dalam downlink untuk membatalkan interferensi yang terjadi pada user dengan kondisi yang lebih baik.
Namun dapat dilihat pada Gambar 3, pada proses uplink NOMA, SIC dilakukan pada BS untuk mendeteksi user
M 88 n dengan terlebih dahulu menganggap user m sebagai
gangguan, lalu memodulasi kembali sinyal dan mengurangi interferensi user n untuk dapat mendeteksi user m.
• Performansi Gain
Performansi Gain pada NOMA dibandingkan dengan OMA berbeda untuk downlink dan uplink. Downlink NOMA menghasilkan nilai throughput yang lebih baik dibandingkan uplink, namun pada uplink fairness yang dicapai lebih baik jika dibandingkan proses downlink pada NOMA.
IV. PERBEDAAN OMA DAN NOMA
Pada dasarnya, perbedaan yang ada pada NOMA jika dibandingkan dengan OMA yaitu NOMA merupakan MA yang memungkinkan multiple user dilayani secara bersamaan pada waktu dan frekuensi yang sama, dapat dilihat pada Gambar 4.
Sedangkan pada OMA multiple user dilayani berdasarkan kesamaan waktu / frekuensi pengiriman informasi.
Gambar 4. Perbedaan resource allocation OMA dan NOMA [6].
Sebagai ilustrasi pada penelitian [6] dilakukan analisis dengan menguji performansi yang dapat dicapai dengan menggunakan parameter signal to noise ratio (SNR). Terdapat dua user pada sistem downlink NOMA. Koefisien kanal user m dan user n yaitu ℎ𝑚 dan ℎ𝑛. SNR pada BS yaitu 𝜌 dengan mengasumsi |ℎ𝑚| 2 < |ℎ𝑛| 2tanpa terjadi loss.
• OMA : Berdasarkan teori kapasitas Shannon, ketika kontrol daya digunakan, maka throughput dari OMA dapat direpresentasikan untuk user m dan user n dengan:
2
log (1
2)
m m
R OMA n h
= +
(1)dan :
2
(1 ) log (1
2)
n n
R OMA n h
= − +
(2)dengan 𝛼𝑚 dan 𝛼𝑛 merupakan koefisien alokasi daya dengan 𝛼𝑚 + 𝛼𝑛 = 1, dan 𝛽 adalah alokasi resource allocation. Ketika kontrol daya tidak terdapat pada BS
maka 1
1
am an
= =
− Selanjutnya (1) dan (2) dapat dituliskan sebagai :
2
log (1
2)
m m
R OMA = + h
(3)dan :
2
(1 ) log (1
2)
n n
R OMA = − + h
(4)• NOMA: Pada NOMA, throughput yang dihasilkan untuk masing-masing user dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut :
2
2 2
log (1 )
1
m m
m
n n
R NOMA h
h
= +
+
(5)dan :
2
2 2
log (1 )
1
n n
n
m m
R NOMA h
h
= +
+
(6)Untuk mengetahui keuntungan NOMA dibandingkan OMA dalam efisiensi spectrum, pada SNR yang tinggi pada penelitian ini diasumsikan waktu / frekuensi sama untuk tiap user, berdasarkan (3), (4), (5), dan (6), sum throughput yang dihasilkan OMA dan NOMA dapat diekpresikan dengan
R
sumOMA log (
2 h
m 2h
n 2dan
R
sumOMA log (
2 h
n 2)
.Lalu dapat dirumuskan penguatan sum throughput NOMA dibanding OMA sebagai berikut:
2 2 , , ,
log (
2 m2)
GAIN NOMA OMA
sum sum sum
n
R R R h
h
=
−
=
(7)Ketika |ℎ𝑚| 2 < |ℎ𝑛| 2, sum throughput yang dihasilkan NOMA lebih tinggi jika dibandingkan OMA.
V. KELEBIHAN NOMA
Dengan diterapkankan SC dan SIC dalam sistem NOMA menyebabkan beberapa kelebihan yaitu:
• Mengefisiensi bandwidth
NOMA memungkinkan setiap RB (waktu/frekuensi) dapat digunakan oleh multiple user sehingga dapat mengefisiensikan bandwidth yang berdampak juga pada meningkatnya throughput pada sistem [11].
• Fairness
Kunci pada NOMA yaitu mengalokasikan lebih banyak daya kepada user dengan kondisi kanal yang lebih buruk.
Ini menyebabkan NOMA mampu menjamin bahwa adanya fairness antar user dalam hal masing-masing throughput yang dicapai. Ada beberapa teknik untuk dapat meningkatkan fairness dalam NOMA, seperti melakukan penelitian lebih lanjut terkait metode alokasi daya dan skema cooperative NOMA.
• Ultra-high connectivity
Sistem 5G di masa yang akan mendatang dirancang untuk dapat mendukung koneksi anatara smart device yang berbasis internet of things (IoT). Kehadiran NOMA menawarkan desain alternatif sebagai solusi yang efisien
M 89 dalam hal ini dengan menggunakan karakteristik non
orthogonal yang digunakan. Tidak seperti teknik OMA yang membutuhkan jumlah frekuensi / waktu RB yang sama antar user, NOMA mampu melayani banyak user yang berbeda baik frekuensi maupun waktu yang digunakan dalam jumlah RB yang lebih sedikit.
• Compability
Secara teori, NOMA dapat dikatakan sebagai teknik
“add on” untuk teknik MA OMA seperti TDMA / FDMA / CDMA / OFDM karena NOMA memperkenalkan model MA baru dengan menggunakan power-domain dalam penggabungan sinyal informasi beberapa user.
• Flexibility
Beberapa konsep dalam NOMA seperti multi-user shared access (MUSA), pattern division multiple access (PDMA), dan sparse code multiple access (SCMA) memberikan desain sistem yang low- complexity. Salah satu contohnya yaitu SCMA yang dapat dikatakan sebagai variasi NOMA yang terintegrasi dengan proses coding, modulasi, dan alokasi subcarrier yang lebih baik.
VI. NOMA PADA 5G
Sebagai teknik MA yang menjanjikan dalam teknologi 5G, NOMA dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan karakteristik 5G. Teknologi 5G menawarkan beberapa layanan smart device, aplikasi yang inovatif, serta layanan yang canggih melebihi generasi sebelumnya. Untuk itu diperlukan teknik MA yang selain dapat meningkatkan kualitas juga dapat mengefisiensikan spektrum.
Gambar 5. Ilustrasi Software-Define arsitektur NOMA [5].
A. NOMA pada HetNets
HetNet (Heterogeneous Network) merupakan salah satu teknologi dalam 5G yang mampu meningkatkan kapasitas jaringan secara signifikan [5]. HetNets merupakan penggunaan jaringan dengan beberapa teknologi radio dan tipe BTS seluler (macro, micro, dan pico) dengan menggunakan small cell secara bersamaan. Untuk meningkatkan efisiensi bandwidth yang digunakan oleh small cell pada HetNet, pada penelitian[12].
NOMA dan massive MIMO diterapkan dalam sistem, dengan massive MIMO diadopsikan oleh macro cell untuk dapat melayani beberapa user secara bersamaan dan user digabungkan dengan teknik transmisi NOMA yang juga digunakan pada small cell, dapat dilihat pada Gambar 6.
Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa pengimplementasian NOMA dapat mengingkatkan efisiensi jaringan sistem.
Gambar 6. NOMA dan massive MIMO [2].
B. NOMA pada Millimeterwave Communications
Komunikasi menggunakan millimeter wave (mmWave) merupakan teknik yang sangat menjanjikan dalam teknologi 5G dan teknologi lan di masa depan. Hal ini dikarenakan lebarnya bandwidth yang dihasilkan pada high-frequency spectrum [13].
NOMA dianggap dapat menjadi teknik MA yang sesuai untuk mmWave didasarkan pada alasan berikut:
• Beam yang sangat terarah pada komunikasi mmWave menyebabkan menurunnya performansi pada sistem OMA, namun tidak pada NOMA.
• NOMA pada mmWave dapat meningkatkan efisiensi bandwidth dan mendukung massive connectivity.
C. NOMA untuk Device to Device Communication
Seiring meningkatnya keutuhan akan layanan local area dalam sistem komunikasi seluler, teknologi terbaru yaitu device- to-device diperkenalkan pada layanan 5G. Komunikasi D2D mendukung antar device dapat saling berdiskusi tanpa harus terkoneksi dengan BS. Keuntungan dari komunikasi D2D yaitu daya yang digunakan rendah sehingga dapat menghemat penggunaan energi, adanya peningkatan efisiensi bandwidth dari frekuensi reuse yang digunakan, dan berpotensial untuk menfasilitasi layanan peer-to-peer (P2P). Jika dibandingkan dengan komunikasi D2D biasa, throughput yang didapatkan dengan menggabungkan NOMA pada komunikasi D2D lebih tinggi dan mengefisiensikan bandwidth dengan mengelola interferensi setiap user pada masing-masing RB.
VII. KENDALA IMPLEMENTASI NOMAPADA 5G
Meskipun NOMA digadang menjadi kandidat yang menjanjikan untuk diimplementasikan dalam 5G, ada beberapa kendala yang masih menjadi tantangan untuk teknik MA ini diantaranya:
• Terjadinya error propagasi pada proses SIC
Pada sistem NOMA, SIC merupakan kunci untuk dapat
mendeteksi user. Namun, dalam
pengimplementasiannya terdapat kendala berupa masalah inter-user error propagation, yaitu adanya error ketika memutuskan untuk mengurangi sinyal termodulasi yang salah. Pada proses ini akan menghasilkan residual interference yang di sebut dengan imperfect SIC. [15].
M 90
• Error pada saat pengestimasian kanal
Estimasi kanal memainkan peranan penting dalam sistem NOMA dibandingkan dengan OMA karena apabila terjadi error dalam estimasi kanal maka akan berpengaruh pada akurasi decoding pada SIC.
• Keamanan
Masalah keamanan selalu ada di setiap generasi sistem komunikasi. Physical layer security (PLS) saat ini sedang dikembangkan guna menjadi solusi masalah keamanan pada media komunikasi nirkabel.
• Penetapan standarisasi untuk NOMA pada 5G NOMA sudah mulai diterapkan dalam teknologi LTE-A, yaitu multi-user superposition transmission (MUST) yang merupakan versi downlink dari penggunaan NOMA [16]. Pada pertemuan 3GPP pada bulan Mei 2015 telah ditentukan bahwa MUST dimasukkan ke dalam sistem LTE-A. Meskipun NOMA dijadikan kandidat yang menjanjikan untuk komunikasi 5G, harus ada standarisasi yang dipakai untuk dapat diterapkan.
• Perlu adanya diskusi lebih lanjut untuk dapat diterapkan secara komersial untuk teknologi 5G
VIII. KESIMPULAN
Teknik multiple access yang dapat menggabungkan multi- user berdasarkan code-domain atau power-domain. Berbeda dengan orthogonal multiple access (OMA) yang hanya dapat melayani multiple user berdasarkan waktu / frekuensi yang sama, pada NOMA multiple user dengan waktu / frekunsi yang berbeda dapat dilayani secara bersamaan dengan menerapkan superposition coding di sisi transmitter dan successive interference cancellation (SIC) pada sisi receiver. NOMA menjadi kandidat yang menjanjikan untuk dapat diterapkan dalam sistem komunikasi 5G karena dapat meningkatkan performansi teknologi serta menghemat penggunaan bandwidth, meningkan fairness, dan meningkatkan throughput yang dapat dicapai setiap user. Meskipun demikian, penerapan NOMA dalam sistem komunikasi 5G masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengingat beberapa kendala seperti terjadinya error propagasi, error pengestimasian kanal, dan masalah keamanan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Yuya Saito, Anass Benjebbour, Yoshihisa Kishiyama, and Takehiro Nakamura. System-Level Performance of Downlink Non-orthogonal
Multiple Access (NOMA) Under Various Environments. 5G Radio Access Network Research Group, 5G Laboratory, NTT DOCOMO, INC.
[2] C.-X. Wang, F. Haider, X. Gao, X.-H. You, Y. Yang, D. Yuan, H.
Aggoune, H. Haas, S. Fletcher, and E. Hepsaydir, “Cellular architecture and key technologies for 5G wireless communication networks,” IEEE Commun. Mag., vol. 52, no. 2, pp. 122–130, 2014.
[3] F. Boccardi, R. W. Heath, A. Lozano, T. L. Marzetta, and P. Popovski,
“Five disruptive technology directions for 5G, ”IEEE Commun. Mag., vol. 52, no. 2, pp. 74–80, 2014.
[4] E. Hossain and M. Hasan, “5G cellular: key enabling technologies and research challenges,” IEEE Instrumentation & Measurement Magazine, vol. 18, no. 3, pp. 11–21, 2015.
[5] J. G. Andrews, S. Buzzi, W. Choi, S. V. Hanly, A. Lozano, A. C. Soong, and J. C. Zhang, “What will 5G be?” IEEE J. Sel. Areas Commun., vol.
32, no. 6, pp. 1065–1082, 2014.
[6] Y. Liu, Z. Qin, M. Elkashlan, Z. Ding, A. Nallanathan, and L. Hanzo,
“Nonorthogonal Multiple Access for 5G and beyond,” Proc. IEEE, vol.
105, no. 12, pp. 2347–2381, 2017.
[7] A. Benjebbour, Y. Saito, Y. Kishiyama, A. Li, A. Harada, and T. Naka- mura, “Concept and practical considerations of non-orthogonal multiple access (NOMA) for future radio access,” in Proc. International Sym- posium on Intelligent Signal Processing and Communications Systems (ISPACS), Nov. 2013.
[8] F. A. Khales and G. A. Hodtani, “An evaluation of the coverage region for downlink Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) based on Power Allocation Factor,” IWCIT 2017 - Iran Work. Commun. Inf. Theory, 2017.
[9] Z. Ding, Z. Yang, P. Fan, and H. Poor, “On the performance of non- orthogonal multiple access in 5G systems with randomly deployed users,”
IEEE Signal Process. Lett., vol. 21, no. 12, pp. 1501–1505, Dec. 2014.
[10] Z. Ding, Y. Liu, J. Choi, Q. Sun, M. Elkashlan, C.-L. I, and H. V. Poor,
“Application of non-orthogonal multiple access in LTE and 5G networks,” IEEE Commun. Mag., vol. 55, no. 2, pp. 185–191, Feb. 2017.
[11] Y. Cai, Z. Qin, F. Cui, G. Y. Li, and J. A. McCann, “Modulation and multiple access for 5G networks,” IEEE Commun Surveys Tutorials, to appear in 2017.
[12] Y. Liu, Z. Qin, M. Elkashlan, Y. Gao, and A. Nallanathan, “Non- orthogonal multiple access in massive MIMO aided heterogeneous networks,” in IEEE Proc. of Global Commun. Conf. (GLOBECOM), Washington DC, US, Dec. 2016, pp. 1–6.
[13] Z. Pi and F. Khan, “An introduction to millimeter-wave mobile broadband systems,” IEEE Commun. Mag., vol. 49, no. 6, pp. 101–107, Jun. 2011.
[14] L. Lv, L. Yang, H. Jiang, T. H. Luan, and J. Chen, “When NOMA Meets Multiuser Cognitive Radio: Opportunistic Cooperation and User Scheduling,” IEEE Trans. Veh. Technol., vol. 67, no. 7, pp. 6679–6684, 2018.
[15] A. Duel-Hallen, J. Holtzman, and Z. Zvonar, “Multiuser detection for CDMA systems,” IEEE Personal Commun., vol. 2, no. 2, pp. 46–58, Apr.
1995.
[16] H. Lee, S. Kim, and J. H. Lim, “Multiuser superposition transmission (MUST) for LTE-A systems,” in IEEE Proc. of Inter. Commun. Conf.
(ICC), May 2016, pp. 1–6.