• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal of Ners and Midwifery Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Journal of Ners and Midwifery Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2355-052X

Journal of Ners and Midwifery

Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

Diterbitkan Oleh :

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Patria Husada Blitar

Bekerjasama dengan RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan RSD Mardi Waluyo Blitar

e-ISSN : 2548-3811

Vol. 5 No. 2 Hal. 83–177

Jurnal Ners dan Kebidanan

(Journal of Ners and Midwifery) Blitar, Agustus 2018

p-ISSN : 2355-052X e-ISSN : 2548-3811

· Hubungan Faktor Perinatal dan Neonatal terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum

· Pengaruh Konseling dengan Pendekatan Thinking, Feeling dan Acting (TFA) terhadap Tekanan Darah Pasien Pre Operasi Katarak

· Pendidikan Kesehatan tentang Perkembangan Psikososial sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Fisik dan Verbal pada Anak Usia Sekolah di Kota Kendal

· Sikap Remaja tentang Triad KRR (Seksualitas, Napza, HIV/AIDS) di Kelompok PIK R Tahap Tegar)

· Upaya Keluarga Mencegah Pemasungan pada Orang dengan Gangguan Jiwa di Kota Blitar

· Terapi Swedish Massage Menurunkan Tingkat Kecemasan Lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Wredha (BPSTW) Unit Budi Luhur Yogyakarta

· Hubungan Kejadian Flour Albus dengan Tingkat Kecemasan terhadap Infeksi Maternal pada WUS

· Faktor Pendorong Pemanfaatan Layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) oleh Lelaki Suka dengan Lelaki (LSL) di LSM Gaya Nusantara

· Hubungan Perilaku Kekerasan Pasien dengan Stres Perawat di Instalasi IPCU RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

· Hubungan Penggunaan Sosial Media dan Pengetahuan Seks Bebas pada Siswa/Siswi Usia 17-18 Tahun

· The Effectiveness of Moringa Leaves Extract and Cancunpoint Massage Towards Breast Milk Volume on Breastfeeding Mothers

· Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lama Waktu Tunggu Pendaftaran Pasien Rumah Sakit Umum X

· Optimasi Sistem Pakar Deteksi Dini Preeklmpsia Berbasis Mobile

· Hubungan Kadar Gula Darah dengan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Diabetes Tipe 2

· Literature Review: Pemanfaatan Media Promosi Kesehatan (Smartphone) dalam Mencegah dan Mengendalikan Kadar Gula Diabetes Tipe 2

(2)

e-ISSN : 2548-3811

Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

(3)

SUSUNAN PENGELOLA JURNAL NERS DAN KEBIDANAN

Ketua Penyunting (Chief Editor)

Erni Setiyorini, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Penyunting (Editor)

Wahyu Wibisono, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Penyunting Bagian (Section Editor)

Laily Prima Monica, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Maria Ulfa, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Thatit Nurmawati, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Yeni Kartika Sari, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Ning Arti Wulandari, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Levi Tina Sari, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Teknis Pendukung (IT Support) Dina Yusvitasari, STIKes Patria Husada Blitar Yohanes Kurniawan, STIKes Patria Husada Blitar

Alamat Redaksi (Editorial Address) : STIKes Patria Husada Blitar Jl. Sudanco Supriyadi 168 Blitar Telp./Faks. 0342-814086

laman institusi : www.phb.ac.id laman jurnal : www.jnk.phb.ac.id

surel institusi : [email protected] surel jurnal : [email protected]

Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

e-ISSN : 2548-3811

(4)

Peer-Reviewer

Abdul Muhith, STIKes Majapahit Mojokerto, Indonesia Ah Yusuf, Universitas Airlangga, Indonesia

Anita Rahmawati, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Bisepta Prayogi, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Carmela Theres de Leon, Department of Nursing, Pima Medical Institute, Philippines Ferry Efendi, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga, Indonesia

Fidyah Aminin, Poltekkes Kemenkes Tanjung Pinang, Indonesia Ika Agustina, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Iril I. Panes, Faculty of Nursing, Sultan Kudarat State University, Philippines Joel Rey Ugsang Acob, Visayas State University, Philippines Juhrotun Nisa, Politeknik Harapan Bersama Tegal, Indonesia Kanthi Devi Ayuningtyas, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Nawang Wulandari, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Nevy Norma Renityas, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia

Roy Fabrigas Bermudez, Saint Paul University, Philippines Sandi Alfa Wiga Arsa, STIKes Patria Husada Blitar, Indonesia Suprajitno Suprajitno, Poltekkes Kemenkes Malang, Indonesia

Titik Juwariyah, STIKes Ganesha Husada Kediri, Indonesia Wiwin Martiningsih, Poltekkes Kemenkes Malang, Indonesia

Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

e-ISSN : 2548-3811

(5)

ur na l

J Ners dan Kebidanan

Journal of Ners and Midwifery

Vol ume 1 Nomor 1 Mar et 20 14

083–089

090–096

097–104

105–110

111–116

117–122

123–128 DAFTAR ISI

Volume 5 Nomor 2 Agustus 2018

e-ISSN : 2548-3811

Hubungan Faktor Perinatal Dan Neonatal Terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum (The Relationship Between Perinatal And Neonatal Factors On The Neonatal Jaundice)

Dwi Yuliawati, Reni Yuli Astutik ...

Pengaruh Konseling Dengan Pendekatan Thinking, Feeling dan Acting (TFA) Terhadap Tekanan Darah Pasien Pre Operasi Katarak (The Effectiveness Of Counseling Of Thinking, Feeling And Acting (TFA) Approach To Blood Pressure In Patients With Pre Cataract Surgery)

Ani Widayati, Yeni Kartika Sari, Bisepta Prayogi ...

Pendidikan Kesehatan Tentang Perkembangan Psikososial Sebagai Upaya

Pencegahan Kekerasan Fisik Dan Verbal Pada Anak Usia Sekolah Di Kota Kendal (Health Education O Psychososial Development AsAn Effort Of To Prevent Physical And Verbal Violence Of School Aged Children In Kendal City)

Livana PH, Rina Anggraeni ...

Sikap Remaja Tentang Triad KRR (Seksualitas, Napza, HIV/AIDS) Di Kelompok PIK R Tahap Tegar) (The Attitude Of Teenager About Triad KRR (Sexuality, Drugs, HIV/AIDS) in PIK R Group Tegar Stage Blitar)

Sunarti ... ...

Upaya Keluarga Mencegah Pemasungan Pada Orang Dengan Gangguan Jiwa Di Kota Blitar (Family Efforts To Prevent Confinement Of Mental Disorder People In Blitar City)

Mohamad Miftachul Ulum ...

Terapi Swedish Massage Menurunkan Tingkat Kecemasan Lansia Di Balai Pelayanan Sosial Tresna Wredha (BPSTW) Unit Budi Luhur Yogyakarta

(Swedish Massage Therapy Reduce The Anxiety Level Among Older People At The Nursing Home Of Social Service Center (Bpstw) Unit Budi Luhur Yogyakarta) Anastasia Suci Sukmawati, Ega Pebriani, Arif Adi Setiawan ...

Hubungan Kejadian Flour Albus Dengan Tingkat Kecemasan Terhadap Infeksi Maternal Pada WUS (Relationship Between Albus Flour Events And Anxiety Levels Maternal Infection at WUS)

Eko Sri Wulaningtyas, Triwulan ...

(6)

129–136

137–143

144–149

150–153

154–158

159–162

163–171

172–177 Voluntary Counselling And Testing Utilization By Men Sex With Men (MSM)

in Gaya Nusantara Civil Society Organizations)

Niken Ariska Prawesti, Purwaningsih, Ni Ketut Alit Armini ...

Hubungan Perilaku Kekerasan Pasien Dengan Stres Perawat Di Instalasi IPCU RSJ.

Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (Relationship Between The Violence Of Patient Violence And Nurse Stress in RSJ IPCU Installation. Dr. Radjiman

Wediodiningrat Lawang)

Abdul Muhith, Arief Fardiansyah, Nurul Mawaddah, Mulyatin ...

Hubungan Penggunaan Sosial Media Dan Pengetahuan Seks Bebas Pada Siswa/Siswi Usia 17-18 Tahun(The Correlation of Social Media Usage And Free Sex Knowledge Of 17-18 Years Old Senior High School Students)

Hesti Wahyuningtias, Wahyu Wibisono ...

The Effectiveness Of Moringa Leaves Extract And Cancunpoint Massage Towards Breast Milk Volume On Breastfeeding Mothers

Nevy Norma Renityas ... .

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Lama Waktu Tunggu Pendaftaran Pasien Rumah Sakit Umum X (Factors Affecting Waiting Time Patient Registration For General Hospital X)

Fajar Juli Nursanti, Tita Hariyanti, Nofita Dwi Harjayanti ...

Optimasi Sistem Pakar Deteksi Dini Preeklmpsia Berbasis Mobile (Mobile Based Preeclampsia Detection System Optimization Expert)

Irawati, Mardiana Ahmad, Syafruddin Syarif ...

Hubungan Kadar Gula Darah dengan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Diabetes Tipe 2 (The Correlation of Blood Glucose Level and Blood Pressure of Elderly With Type 2 Diabetes)

Ayla Efyu Winta, Erni Setiyorini, Ning Arti Wulandari ...

Literature Review: Pemanfaatan Media Promosi Kesehatan (Smartphone) dalam Mencegah dan Mengendalikan Kadar Gula Diabetes Tipe 2 (Literature Review:

Utilization of Health Promotion Media (Smartphone) To Prevent and Control Glucose Type 2 Diabetes)

Arief Andriyanto, Rina Nur Hayati...

(7)

Blitar, Agustus 2018

Editor

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat allah SWT karena atas limpahan Rahmat-Nya kepada kami sehingga Jurnal Ners dan Kebidanan STIKes Patria Husada Blitar dapat terbit pada volume 5 nomor 2 sebagai pengemban ilmu keperawatan dan kebidanan.

Penerbitan jurnal ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai salah satu sarana penyampaian informasi di bidang kesehatan yang dapat diakses oleh segenap lapisan masyarakat.

Penerbitan Jurnal Ners dan Kebidanan STIKes Patria Husada Blitar Volume 5, Nomor 2, Agusrus 2018 ini diharapkan dapat menarik minat pembaca dan menjadikannya sebagai salah satu sumber rujukan dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Pada penerbitan kali ini artikel ilmiah yang disajikan meliputi bidang Keperawatan jiwa, keperawatan medikal bedah, manajemen keperawatan, keperawatan maternitas, keperawatan anak, keperawatan gerontik, kesehatan ibu dan anak.

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada Mitra Bebestari yang telah memberikan koreksi dan masukan demi kesempurnaan jurnal ini dan kepada seluruh peneliti yang telah mengirimkan karya ilmiahnya untuk dipublikasikan dalam jurnal ini, diantaranya peneliti dari, Poltekkes Kemenkes Malang Prodi D-3 Ke- perawatan Blitar, Akademi Kebidanan Medika Wiyata, STIKes Karya Husada Kediri, STIKes Majapahit Mojokerto, RSJ. DR. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Universitas Hasanuddin Makasar, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, STIKes Bina Sehat PPNI, dan rekan-rekan dari STIKes Patria Husada Blitar.

Selanjutnya kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan demi kemajuan dan kesem- purnaan jurnal ini. Kami berharap dengan terbitnya jurnal ini akan meningkatkan semangat membaca dan semangat untuk meneliti.

(8)

JURNAL NERS DAN KEBIDANAN

Naskah jurnal Ners dan Kebidanan menerima naskah asli yang berkaitan dengan pengembangan sains serta belum diterbitkan di dalam maupun di luar negeri. Naskah dapat berupa hasil penelitian yang bermanfaat untuk menunjang kemajuan ilmu, pendidikan dan praktik keperawatan dan kebidanan profesional. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dalam bentuk narasi dengan gaya bahasa yang efektif dan akademis. Naskah hasil penelitian hendaknya disusun menurut sistematika sebagai berikut:

1. Judul, menggambarkan isi pokok tulisan secara ringkas dan jelas, ditulis dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di tengah-tengah menggunakan font 11 Times New Roman. Judul dalam bahasa Inggris dicetak miring dan huruf besar pada setiap awal kata kecuali kata penghubung. Penulis diharapkan mencantumkan pula judul ringkas dengan susunan 40 karakter/ketukan beserta nama penulis utama yang akan dituliskan sebagai judul pelari (running title).

2. Nama penulis, tanpa gelar. Jumlah penulis yang tertera dalam artikel minimal 1 orang maksimal 4 orang yang dicantumkan di bawah judul artikel adalah nama penulis utama, dan penulis lain.

3. Alamat, berupa instansi tempat penulis bekerja dilengkapi dengan alamat pos lengkap dan alamat e- mail (untuk penulis korespondensi).

4. Abstrak, ditulis dalam bahasa Inggris dan merupakan intisari seluruh tulisan, meliputi: masalah, tujuan, metode, hasil dan simpulan (IMRAD: Introduction, Method, Result, and Discussion). Abstrak ditulis dengan kalimat penuh. Di bawah abstrak disertakan 3–5 kata-kata kunci (keywords).

5. Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah serta tinjauan penelitian dan harapan untuk waktu yang akan datang. Panjang tidak lebih dari dua halaman ketik.

6. Bahan dan Metode, berisi penjelasan tentang bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan, waktu, tempat, dan tehnik dan rancangan percobaan. Metode harus dijelaskan selegkap mungkin agar peneliti lain dapat melakukan uji coba ulang. Acuan (kepustakaan) diberikan pada metode yang kurang jelas.

7. Hasil penelitian, dikemukakan dengan jelas dalam bentuk narasi dan data yang dimasukkan berkaitan dengan tujuan penelitian, bila perlu disertai dengan ilustrasi (lukisan, gambar, grafik, diagram), tabel, atau foto yang mendukung data, sederhana dan tidak terlalu besar. Hasil yang telah dijelaskan dengan tabel atau ilustrasi tidak perlu dijelaskan panjang lebar dalam teks.

8. Pembahasan, menerangkan arti hasil penelitian yang meliputi: fakta, teori dan opini.

9. Simpulan dan Saran, berupa simpulan hasil penelitian dalam bentuk narasi yang mengacu pada tujuan penelitian. Saran berisi saran yang dapat diberikan oleh penulis berdasarkan hasil penelitian.

10. Pengutipan, perujukan dan pengutipan menggunakan tehnik rujukan berkurung (nama,tahun). Contoh:

(Suprajitno, 2004).

11. Kepustakaan, sumber rujukan (kepustakaan) sedapat mungkin merupakan pustaka terbitan 10 tahun terakhir diutamakan adalah hasil laporan penelitian (skripsi, thesis dan disertasi) dan artikel ilmiah dalam jurnal/majalah ilmiah.

12. Kepustakaan disusun menurut Harvard System sebagai berikut:

Buku:

Buku pengarang tunggal:

Wong, D. 2004. Pedoman Klinis Kepererawatan Pediatri. Jakarta: EGC.

Buku dengan dua atau tiga pengarang:

Fitria, A., & Naya, E. 2002. ’Perilaku Balita’, dalam J Sudiro & W Mira (eds.), Perawatan dan Pendidikan Anak untuk Para Ibu, Vol. 4, Perawatan Balita. Jakarta: Family Press.

Cooper, G.S., Krever, E., & Vann, R.J. 2002. Income Taxation: Commentary and Materials, 4th edn. Sydney, NSW: Australian Tax Practice.

Buku dengan empat pengarang atau lebih:

Kotler, P., Adam, S., Brown, L., & Armstrong, G. 2003. Principles of Marketing, 2nd edn. Victoria:

Pearson Education Australia.

(9)

Skripsi/Tesis/Desertasi:

Ananda, P. 2004. ’Pendekatan Humas Perguruan Tinggi di Jakarta debagai Strategi Pemasukan Dana’, Tesis MBA, Universitas Indonesia Raya.

Internet (karya individu):

George, M. 2012. How to Succeed in Postgraduate Study, Applied Ecology Research Group, University of Canberra, dilihat 26 April 2013, <http://aerg.canberra.edu.au/jardins/t.htm>.

Situs Internet:

Department of Immigration and Multicultural and Indigenous Affairs 2004, The Department of Immi- gration and Multicultural and Indigenous Affairs, Canberra, dilihat 7 Maret 2004, <http://

www.immi.gov.au/>.

Jurnal

Jurnal pengarang tunggal:

Hall, M. 1999. ’Breaking the Silence: Marginalisation of Registered Nurses Employed in Nursing Homes’, Contemporary Nurse, vol. 8, no. 1, hh. 232–237.

Jurnal dengan dua atau tiga pengarang:

Wijaya, K., Phillips, M., & Syarif, H. 2002. ’Pemilihan system penyimpanan data skala besar’, Jurnal Informatika Indonesia, Vol.1, No. 3, hh. 132–140.

Jurnal dengan empat pengarang atau lebih:

Chang, L., Lin, S., Huang, H., & Hsiao, N. 1999. ’Genetic Organization of Alpha Bungarotoxins From Bungarus Multicinctus (Taiwan Banded Krait): Evidence Showing That the Produc- tion of Alphabungarotoxin Isotoxins is Not Derived from Edited mRNAs’, Nucleic Acids Research, vol. 27, no. 20, pp. 3970–3975.

Jurnal tanpa pengarang:

’Building Human Resources Instead of Landfills’ 2000, Biocycle, Vol. 41, No. 12, hh. 28.

Artikel Surat Kabar

Taufiqul, T. 2006. ’Sebab menepuk di dulang’, Media Indonesia, 3 Maret, h.13.

Untuk surat kabar bahasa Inggris hilangkan kata ’the’ pada nama surat kabar. Misalnya nama surat kabar The Washington Post, maka cukup tulis Washington Post.

13. Persamaan Matematis, dikemukakan dengan jelas. Angka Desimal ditandai dengan koma untuk bahasa Indonesia dan titik untuk bahasa Inggris.

14. Tabel, diberi nomor dan diacu berurutan dalam teks, judul harap ditulis dengan singkat dan jelas.

Semua singkatan pada tabel harap dijelaskan pada catatan kaki. Garis-garis vertikal maupun horisontal dalam tabel dibuat seminimal mungkin untuk memudahkan penglihatan. (tanpa garis bantu).

15. Ilustrasi, dapat berupa lukisan, gambar, grafik atau diagram diberi nomor dan diacu berurutan pada teks. Keterangan diberikan dengan singkat dan jelas dibawah ilustrasi (tidak di dalam ilustrasinya).

Pada ilustrasi atau foto dibuat tanpa menggunakan border.

16. Foto hitam-putih/berwarna, harus kontras, tajam, jelas dan sebaiknya diambil dalam format JPEG, atau format digital lain yang bisa diedit.

17. Halaman:

Halaman pertama fotter: halaman.

Halaman genap: header letak kanan atas: nama jurnal, volume, bulan terbit, halaman artikel.

Halaman ganjil: header: letak kiri atas: nama penulis dan judul artikel.

(10)

STIKes Patria Husada Blitar Jl. Sudanco Supriyadi 168 Blitar Telp/Fax: (0342)814086

STIKes Patria Husada Blitar

Harap dikirim ...eksemplar Jurnal Ners Mulai edisi...No...

Nama : ...

Asal Institusi : ...

Alamat : ...

Telp/Fax : ...

Uang sejumlah Rp. ... ( ... )

Telah kami tranfer ke Bank BNI Cabang Blitar No. Rek...

atas nama...

Bukti transfer mohon untuk di fax ke nomor: (0342)814086 sebagai bukti berlangganan Ongkos kirim per eksemplar Rp...

Langganan per tahun (belum termasuk ongkos kirim) Rp.../tahun

(11)

83

HUBUNGAN FAKTOR PERINATAL DAN NEONATAL TERHADAP KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM (The Relationship Between Perinatal And Neonatal Factors

on The Neonatal Jaundice)

Dwi Yuliawati,Reni Yuli Astutik

Program Studi D3 Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri email: [email protected]

Abstract: Neonatal jaundice is the cause of 6.6% of newborns aged 0-8 days in Indonesia. Jaundice can be physiological and pathological which can cause persistent or death disorders. The aim of the study is to determine the relationship between perinatal and neonatal factors with the incidence of neonatal jaundice in the District Hospital of Kediri. The research design is a correlation with a retrospective cohort approach. The research sample consisted of 54 respondents using simple random sampling. Data collection with medical record in October 2017. Data analysis using Chi-Square test and Fisher Exact test. Test results showed that there was a relationship between birth weight (p = 0.018; POR 0.085 95%

CI 0.10-0.713), gestational age (p = 0.044; POR = 0.202 95% CI 0.049-0.836), perinatal complications (p = 0,031; POR = 4,714 95% CI 1,250-17,784) with the incidence of neonatal jaundice and there was no correlation between gender (p = 0,441; POR = 0,503 95% CI 0,143-1,767) with the incidence of neonatal jaundice in RSUD Kediri. The absence of sex relations with the incidence of neonatal jaundice is probably due to other factors that are more influential. Conditions of low birth weight, prematurity, male sex, perinatal complications (asphyxia / sepsis / cephalhematom) lead to the occurrence of patho- logical jaundice in infants..

Keywords: Birth weight, gestational age, perinatal complications, gender, neonatal jaundice

Abstrak: Ikterus neonatorum adalah penyebab 6,6% bayi baru lahir usia 0-8 hari di Indonesia. Ikterus dapat bersifat fisiologis dan patologis yang dapat menimbulkan gangguan menetap atau kematian Tujuan penelitian yaitu mengetahui hubungan faktor perinatal dan neonatal dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri. Desain penelitian yaitu korelasi dengan pendekatan kohort retrospektif. Sampel penelitian sebanyak 54 responden menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dengan rekam medik pada bulan Oktober 2017. Analisa data menggunakan uji Chi-Square dan Fisher Exact test.

Hasil uji didapatkan terdapat hubungan antara berat lahir (p= 0,018; POR 0,085 95% CI 0,10-0,713), usia gestasi (p= 0,044; POR= 0,202 95% CI 0,049-0,836), komplikasi perinatal (p= 0,031; POR= 4,714 95% CI 1,250-17,784) dengan kejadian ikterus neonatorum dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0,441; POR=0,503 95% CI 0,143-1,767) dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Tidak adanya hubungan jenis kelamin dengan kejadian ikterus neonatorum kemungkinan disebabkan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh. Kondisi BBLR, prematuritas, jenis kelamin laki-laki, komplikasi perinatal (asfiksia/sepsis/sefalhematom) mengarah pada terjadinya ikterus patologis pada bayi.

Kata kunci: Berat lahir, usia gestasi, komplikasi perinatal, jenis kelamin, ikterus neonatorum

http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

This is an Open Access article under the CC BY-SA license ( )

(12)

PENDAHULUAN

Ikterus pada sebagian bayi dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi mungkin bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. Oleh karena itu, setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian, terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi dengan kadar bilirubin meningkat > 5 mg/dl. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direct > 1 mg/dl, juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkin- an adanya ikterus patologis (Manuaba, 2010).

Hiperbilirubin adalah salah satu fenomena klinis paling sering ditemukan pada bayi baru lahir.

Penyebab kematian bayi baru lahir usia 0-8 hari di Indonesia adalah gangguan pernafasan (36,9%), prematuritas (32,4%), sepsis (12%), hipotermi (6,8%), ikterus (6,6%) dan lain-lain. Sedangkan penyebab kematian bayi usia 7-28 hari adalah sepsis (20,5%), kelainan kongenital (18,1%), pneumonia (15,4%), prematuritas dan BBLR (12,8%) (Riskerdas, 2010). Di Kabupaten Kediri, jumlah kematian bayi pada tahun 2015 mencapai 188 bayi, dimana 85,11% kematian bayi terjadi pada masa neonatus yaitu 0-28 hari. Sedangkan di RSUD Kabupaten Kediri, angka kejadian ikterus neonatorum mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dikarenakan semakin banyak pula bayi yang mengalami BBLR yaitu 44%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 2016).

Penyebab ikterus pada neonatus dapat disebab- kan oleh banyak faktor. Menurut Zaben B dkk (2010), faktor risiko yang merupakan penyebab tersering ikterus neonatorum di wilayah Asia dan Asia Tenggara antara lain, inkompatibilitas ABO, defisiensi enzim G6PD, BBLR, sepsis neonato- rum,dan prematuritas. Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat badan lahir

< 2500 gram atau < 37 minggu) yang mengalami ikterus pada minggu- minggu pertama kehidupan- nya. Terjadinya hiperbillirubin pada bayi baru lahir yaitu 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan. (Wiknjosastro, 2009). Sefalhematoma merupakan faktor risiko mayor dan jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko minor terjadinya hiperbilirubin berat pada bayi usia kehamilan  35 minggu (Kosim dkk, 2014).

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan faktor perinatal dan neonatal dengan kejadian ikterus neonatorum di

RSUD Kabupaten Kediri. Tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis hubungan berat lahir bayi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri, 2) menganalisis hubungan usia gestasi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri, 3) menganalisis hubungan jenis kelamin dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri, 4) menganalisis hubungan komplikasi perinatal (asfiksia/ sepsis/

sefalhematom) dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasional dengan pendekatan kohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi dengan ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri pada bulan Januari – Desember 2016 berjumlah 61 bayi. Sampel dalam penelitian adalah sebagian dari keseluruhan populasi yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan simple random sampling yaitu 54 sampel. Adapun variabel penelitian yaitu berat lahir, usia gestasi, jenis kelamin, komplikasi perinatal (asfiksia/ sepsis/ sefalhematom) dan ikterus neonatorum. Data dikumpulkan dengan menggunakan rekam medis untuk mendapatkan data faktor perinatal (komplikasi perinatal), neonatal (berat lahir, usia gestasi, jenis kelamin) dan kadar bilirubin bayi. Waktu penelitian adalah bulan Oktober 2017 di RSUD Kabupaten Kediri. Analisis hubung- an antara faktor neonatal (berat lahir, usia gestasi, jenis kelamin) dengan kejadian ikterus neonatorum dilakukan dengan menggunakan uji Chi Kuadrat, sedangkan analisis hubungan antara faktor perinatal (komplikasi perinatal) dengan kejadian ikterus neonatorum menggunakan Fisher’s Exact Test .

HASIL PENELITIAN

Karakteristik responden tertera pada tabel dibawah

No Pendidikan Frekuensi (f) Persentase (%)

1 Dasar 32 59,26

2 Menengah 19 35,19

3 Tinggi 3 5,55

Total 54 100,00

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Responden

(13)

Berdasarkan Tabel 3 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden lahir dengan berat lahir normal yaitu sebanyak 62,96%.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu responden berpendidikan dasar (SD,MI,SMP,MTS) yaitu 59,26 %.

No Pekerjaan Frekuensi (f) Persentase (%)

1. IRT 41 75,93

2. Petani 1 1,85

3. Karyawan swasta 7 12,96

4. Wiraswasta 4 7,41

5. PNS 1 1,85

Total 54 100,00

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu Responden

No Berat Lahir Frekuensi (f ) Persentase (%)

1 BBLR 20 37,04

2 Normal 34 62,96

Total 54 100,00

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Berat Lahir Bayi Berdasarkan Tabel 2 di atas diketahui bahwa sebagian besar ibu responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 75,93%.

No Usia Gestasi Frekuensi (f) Persentase (%)

1 Prematur 26 48,15

2 Aterm 28 51,85

Total 54 100,00

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Usia Gestasi

Berdasarkan Tabel 4 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden lahir aterm yaitu sebanyak 51,85%.

No Jenis Kelamin Frekuensi (f) Persentase (%)

1 Laki-laki 26 48,15

2 Perempuan 28 51,85

Total 54 100,00

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin

Berdasarkan Tabel 5 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden perempuan yaitu sebanyak 51,85%.

No Komplikasi Frekuensi Persentase

Perinatal (f ) (%)

1 Tidak ada komplikasi 14 25,93

2 Ada komplikasi 40 74,07

Total 54 100,00

Tabel 6 Distribusi Frekuensi Komplikasi Perinatal

Berdasarkan Tabel 6 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden ada komplikasi perinatal yaitu sebanyak 74,07%.

No Ikterus Frekuensi (f ) Persentase (%)

1 Ikterus fisiologis 14 25,93

2 Ikterus patologis 40 74,07

Total 54 100,00

Tabel 7 Distribusi Frekuensi Ikterus Neonatorum

Berdasarkan Tabel 7 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden ikterus patologis yaitu sebanyak 74,07%.

Berdasarkan Tabel 8, diketahui bahwa respon- den dengan BBLR, hampir seluruh responden me- ngalami ikterus patologis yaitu sebanyak 95,0%.

(f) (%) (f) (%) (f) (%)

1 BBLR 1 5,0 19 95,0 20 100,0

2 Normal 13 8,2 21 61,8 34 100,0

Total 14 5,9 40 74,1 54 100,0

Tabel 8 Hubungan Berat Lahir Bayi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

No Berat Lahir

Kejadian Ikterus Neonatorum

Total Ikterus Fisiologis Ikterus Patologis

(14)

Berdasarkan Tabel 9 diatas diketahui bahwa responden yang lahir prematur, hampir seluruh responden mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 88,5%. Sedangkan responden yang lahir aterm, sebagian besar responden mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 60,7%

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,04; POR=

0,202 95% CI: 0,049-0,836 menunjukkan p= 0,04 kurang dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia gestasi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Sedangkan responden dengan berat lahir normal, sebagian besar responden mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 61,8%.

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,018; POR=

0,085 95% CI: 0,10-0,713 menunjukkan p= 0,018 kurang dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara berat lahir bayi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Tabel 9 Hubungan Usia Gestasi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

(f) (%) (f) (%) (f) (%)

1 Prematur 3 11,5 23 88,5 26 100,0

2 Aterm 11 39,3 17 60,7 28 100,0

Total 14 25,9 40 74,1 54 100,0

No Usia Gestasi

Kejadian Ikterus Neonatorum

Total Ikterus Fisiologis Ikterus Patologis

Tabel 10 Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

(f) (%) (f) (%) (f) (%)

1 Laki-laki 5 19,2 21 80,8 26 100,0

2 Perempuan 9 32,1 19 67,9 28 100,0

Total 14 25,9 40 74,1 54 100,0

No Jenis Kelamin

Kejadian Ikterus Neonatorum

Total Ikterus Fisiologis Ikterus Patologis

Berdasarkan Tabel 10 diatas diketahui bahwa responden laki-laki, hampir seluruh responden mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 80,8%.

Sedangkan responden perempuan, sebagian besar responden yaitu mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 67,9%.

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,44; POR=

0,503 95% CI 0,143-1,767 menunjukkan bahwa p=

0,44 lebih dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian ikterus neona- torum di RSUD Kabupaten Kediri, meskipun demi- kian nilai POR= 0,503 95% CI 0,143-1,767, artinya

neonatus jenis kelamin laki-laki mempunyai resiko 0,503 kali mengalami ikterus neonatorum dibanding- kan dengan neonatus jenis kelamin perempuan.

Berdasarkan Tabel 11, diketahui bahwa respon- den tanpa komplikasi (asfiksia/sepsis/sefalhema- tom), setengahnya mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 50,0%. Sedangkan responden dengan komplikasi (asfiksia/ sepsis/ sefalhematom), hampir seluruh responden mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak 82,5%.

Dari uji statistik Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,031;

POR 4,714 95% CI 1,250-17,784 menunjukkan p=

0,031 kurang dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka

(15)

dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara komplikasi perinatal (asfiksia/sepsis/ sefalhematom) dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

PEMBAHASAN

Hubungan Berat Lahir dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p = 0,018; POR = 0,085 95% CI: 0,10-0,713 menunjukkan p = 0,018 kurang dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara berat lahir bayi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Pada penelitian ini, dari 20 responden dengan BBLR, sebagian kecil responden yaitu 1 responden (5,0%) mengalami ikterus fisiologis dan hampir seluruh responden yaitu 19 responden (95,0%) mengalami ikterus patologis. Kondisi BBLR menye- babkan pembentukan hepar belum sempurna (imatu- ritas hepar) sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk di hepar tidak sempurna (Sukadi, 2008). Proses konjugasi bilirubin yang tidak sempurna ini menyebabkan terjadinya gangguan dalam uptake bilirubin yang menyebabkan bayi mengalami ikterus. Hasil penelitian Rohani dan Rini (2017) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara berat badan lahir bayi dengan kejadian ikterus neonatorum. Hal ini mendukung hasil penelitian bahwa kondisi BBLR mengarah pada terjadinya ikterus patologis pada bayi.

Hubungan Usia Gestasi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,04; POR=

0,202 95% CI: 0,049-0,836 menunjukkan p= 0,04 kurang dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia

gestasi dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Pada penelitian ini, dari 26 responden lahir pre- matur, sebagian kecil responden yaitu 3 responden (11,5%) mengalami ikterus fisiologis dan hampir seluruh responden yaitu 23 responden (88,5%) mengalami ikterus patologis.

Kondisi prematuritas berhubungan dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi pada neonatus.

Hal ini dapat ditinjau dari aktifitas uridine difosfat glukoronil transferase hepatik yang jelas menurun pada bayi prematur, sehingga konjugasi bilirubin tak terkonjugasi menurun. Selain itu juga terjadi pening- katan hemolisis karena umur sel darah merah yang pendek pada bayi prematur yang menyebabkan bilirubin indirek yang banyak dalam darah (Martiza, 2010; Aina, 2012). Hasil penelitian Tazami dkk (2013) menunjukkan bahwa ikterus neonatorum terjadi pada sebagian besar neonatus preterm yaitu sebanyak 51,2%. Hal ini didukung oleh penelitian Rohani dan Rini (2017) yang menunjukkan bahwa usia gestasi paling dominan berhubungan dengan kejadian ikterus neonatorum. Penelitian Olusanya dkk (2015) juga menunjukkan hasil bahwa kehamilan preterm meningkatkan resiko hiperbilirubin berat atau disfungsi neorologis. Hal ini mendukung hasil penelitian bahwa prematuritas mengarah pada terjadinya ikterus patologis pada bayi.

Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

Dari uji statistik Chi-Square dengan tingkat sig- nifikan ( = 0,05) didapatkan = 0,44 lebih dari tingkat signifikasi  = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Ka- bupaten Kediri.

Hasil penelitian Tazami dkk (2013) menunjuk- kan bahwa ikterus neonatorum terjadi pada sebagian besar neonatus berjenis kelamin laki-laki yaitu se- banyak 69,8%. Hal ini dikarenakan neonatus laki- Tabel 11 Hubungan Komplikasi Perinatal dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

(f) (%) (f) (%) (f) (%)

1 Tidak ada komplikasi 7 50,0 7 50,0 14 100,0

2 Ada komplikasi 7 17,5 33 82,5 40 100,0

Total 14 25,9 40 74,1 54 100,0

No Komplikasi

Kejadian Ikterus Neonatorum

Total Ikterus Fisiologis Ikterus Patologis

(16)

laki memiliki risiko ikterus lebih tinggi dibandingkan dengan neonatus perempuan karena dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain : 1) Prevalensi Sindrom Gilbert (kelainan genetik konjugasi bilirubin) dilaporkan lebih dari dua kali lipat ditemukan pada laki-laki (12,4%) dibandingkan pada perempuan (4,8%), 2) Defisiensi G6PD yang merupakan suatu kelainan enzim tersering pada manusia dan berkaitan dengan kromosom sex (x-linked) yang umumnya hanya bermanifestasi pada laki-laki.

Berdasarkan data penelitian, dari 26 responden laki-laki, sebagian kecil responden yaitu 5 responden (19,2%) mengalami ikterus fisiologis dan hampir seluruh responden yaitu 21 responden (80,8%) mengalami ikterus patologis, meskipun demikian tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian ikterus neonatorum. Tidak adanya hubung- an tersebut, kemungkinan bisa disebabkan karena faktor lain yang lebih berpengaruh. Menurut Kosim dkk, 2014, jenis kelamin laki-laki merupakan salah satu faktor risiko minor hiperbilirubin berat pada bayi usia kehamilan  35 minggu. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat faktor risiko mayor yang lebih berpengaruh terhadap terjadinya ikterus neonatorum.

Hubungan Komplikasi Perinatal (asfiksia/sep- sis/sefalhematom) dengan Ikterus Neona- torum

Dari uji statistik Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikan ( = 0,05) didapatkan p= 0,031 kurang dari tingkat signifikasi á = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara komplikasi perinatal (asfiksia/sepsis/sefalhematom) dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri.

Pada penelitian ini, dari 40 responden dengan komplikasi (asfiksia/sepsis/ sefalhematoma), sebagian kecil responden yaitu 7 responden (17,5%) mengalami ikterus fisiologis dan hampir seluruh responden yaitu 40 responden (82,5%) mengalami ikterus patologis. Terdapat dua proses yang melibatkan komplikasi perinatal (asfiksia / sepsis / sefalhematom) dengan risiko terjadinya ikterus neonatorum, yaitu: 1) gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar yang dapat disebabkan oleh hipoksia dan infeksi. Sedangkan asfiksia sendiri dapat menyebabkan hipoperfusi hati, yang kemudian akan mengganggu uptake dan metabolisme bilirubin hepatosit 1) produksi yang berlebihan, dalam hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya,

misalnya pada perdarahan tertutup dan sepsis (Martiza, 2010). Hasil penetian Tazami dkk (2013), menunjukkan bahwa ikerus neonatorum terjadi pada hampir setengah responden dengan komplikasi perinatal (asfiksia/ sepsis/ sefalhematom) yaitu sebanyak 37,2%. Hal ini didukung oleh penelitian Rohani dan Rini (2017) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asfiksia dengan kejadian ikterus neonatorum. Penelitian Olusanya dkk (2015) juga menunjukkan hasil bahwa sepsis pada neonatus meningkatkan resiko hiperbilirubin berat atau disfungsi neorologis. Hal ini mendukung hasil pene- litian bahwa komplikasi perinatal (asfiksia/sepsis/

sefalhemato) mengarah pada terjadinya ikterus patologis pada bayi.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Terdapat hubungan antara berat lahir bayi, usia gestasi, komplikasi perinatal (asfiksia/sepsis/

sefalhematom) dengan kejadian ikterus neonatorum dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Kabupaten Kediri, namun neonatus jenis kelamin laki-laki mempunyai resiko 0,503 kali mengalami ikterus neonatorum dibandingkan dengan neonatus jenis kelamin perempuan.

Saran

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan penyusunan strategi promosi kesehatan bagi petugas kesehatan RSUD Kabupaten Kediri untuk mensosialisasikan faktor-faktor penyebab terjadinya ikterus dan langkah-langkah pencegahan ikterus dengan cara bimbingan konseling menggu- nakan media promosi lembar balik dan pembagian leaflet. Selain itu bagi peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian lanjutan dan melakukan analisis yang lebih mendalam tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian ikterus neonatorum pada neonatus.

DAFTAR RUJUKAN

Aina YT, Omoigberale AI. 2012. Risk factors for neonatal jaundice in babies presenting at the university of benin teaching hospital, benin city. Niger J Paed.

39(4):159-163

Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. 2016. Profil Kese- hatan Kabupaten Kediri Tahun 2016.

Kemenkes, RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemen-

(17)

trian Kesehatan RI. http://lontar.ui.ac.id/opac/

themes/gr een/dataIdentifier.jsp?id=20298098 diakses pada tanggal 7 Agustus 2018

Kosim, MS, Ari Y, Rizalya D, Gatot IS, Ali U. 2014. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Manuaba, IBG . 2010. Pengantar Kuliah Obtetri. Jakarta:

EGC.

Martiza L.2010. Ikterus. Jakarta: Badan Penerbit IDAI Olusanya, BO., Osibanjo FB, Slusher TM. 2015. Risk

Factors for Severe Neonatal Hyperbilirubinemia in Low and Middle Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLOS ONE DOI: 10.

1371/ journal.phone. 0117229

Rohani, S & Rini W. 2017. Faktor-faktor yang Berhu- bungan dengan Kejadian Ikterus pada Neonatus.

Aisyah:Jurnal Ilmu Kesehatan. 2 (1): 75-80.

Sukadi A. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

2008. 147-69

Tazami, RM, Mustarim, Shalahudden S. 2013. Gambaran Faktor Resiko Ikterus Neonatorum pada Neonatus di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2013 https://media.neliti.com/.../70853-ID- gambaran-faktor-risiko-ikterus-neonatoru.pdf diakses pada tanggal 7 Agustus 2018

Wiknjosastro. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayas- an Bina Sarwono Prawirohardjo.

Zabeen B, Nahar J, Nabi N, Baki A, Tayyeb S, Azad K, et al. 2010. Risk Factors and Outcome of Neonatal Jaundice in a Tertiary Hospital. Ibrahim Med Coll J. 4(2):70-73

(18)

90

PENGARUH KONSELING DENGAN PENDEKATAN THINKING, FEELING DAN ACTING (TFA) TERHADAP

TEKANAN DARAH PASIEN PRE OPERASI KATARAK (The Effectiveness of Counseling of Thinking, Feeling and Acting (TFA) Approach to Blood Pressure in Patients

with Pre Cataract Surgery)

Abstract: Anxiety is a nursing problem that requires nursing intervention. The phenomenon that occurs, often found preoperative patients experience anxiety without specific intervention from nurses to re- duce anxiety, resulting in an increase in blood pressure which can lead to delayed operation plan. This study aimed to determine the effectiveness of counseling of thinking, feeling and acting (TFA) approach to blood pressure in patients with pre-cataract surgery at the Central Surgical Installation of Kanjuruhan Hospital Malang Regency The design in this study was experimental with one group pre-test and post- test design, the sample was 16 people taken by purposive sampling technique. The data analysis used a paired sample T-Test statistical test. The results showed that there was an effect of counseling of the thinking, feeling and acting (TFA) approach to the patient’s blood pressure of pre cataract surgery, with p value = 0.000 <  (0.05). The effect of counseling with the approach of thinking, feeling and acting (TFA) to the patient’s blood pressure pre cataract surgery, was due to the TFA approach counseling, the Client was able to express his feelings correctly, had more rational thoughts, and prioritized useful actions so that anxiety could be reduced or even eliminated. Decreased and even lno anxiety could keep the patient’s blood pressure stable. This research was evidence based practice, to make standard oper- ating procedures (SOP) of counseling

Keywords: Counseling, blood pressure, pre cataract surgery.

Abstrak:Kecemasan merupakan salah satu masalah keperawatan yang memerlukan intervensi keperawatan.

Fenomena yang terjadi, sering ditemukan pasien preoperasi mengalami kecemasan tanpa intervensi spesifik dari perawat untuk mengurangi kecemasannya, sehingga berakibat pada peningkatan tekanan darah yang bias mengakibatkan ditundanya rencana operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak di Instalasi Bedah Sentral RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang Desain dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan one group pre-test and post-test design, menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh sampel sebanyak 16 orang. Analisais data menggunakan uji statistik paired sample T- Test. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak, dengan p value = 0, 000 <  (0,05).

Adanya pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak, disebabkan karena Dalam konseling pendekatan TFA, Klien lebih mampu mengekspresikan perasaannya dengan benar, memiliki pemikiran yang lebih rasional, dan lebih mengutamakan tindakan yang bermanfaat sehingga kecemasan lebih dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

Kecemasan yang menurun bahkan hilang dapat mempertahankan tekanan darah pasien tetap stabil. Pene- litian ini sebagai evidence based practice, untuk membuat standar prosedur operasional (SOP) konseling Kata kunci: Konseling, tekanan darah, pre operasi katarak

Yeni Kartika Sari, Ani Widayati, Bisepta Prayogi STIKes Patria Husada Blitar

email: [email protected]

This is an Open Access article under the CC BY-SA license (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/)

(19)

PENDAHULUAN

Tindakan operasi, bagi klien merupakan salah satu faktor penyebab kecemasan. Kecemasan atau ansietas merupakan salah satu masalah keperawat- an dalam dimensi psikis yang memerlukan intervensi keperawatan. Kecemasan pada klien pre operasi katarak, selain menimbulkan rasa tidak nyaman, juga dapat merugikan klien, salah satunya adalah terjadi- nya peningkatan tekanan darah yang dapat meng- akibatkan pembatalan operasi. Fenomena yang terjadi di masyarakat, masih sering ditemukan klien saat menjelang tindakan operasi, yang mengalami kecemasan, tanpa mendapatkan intervensi yang spe- sifikdari perawat untuk mengurangi kecemasannya.

Sampai saat ini, jumlah penderita katarak di dunia masih sangat tinggi. Berdasarkan data WHO, diperkirakan jumlah penderita kebutaan katarak di dunia saat ini adalah sebesar 17 juta orang, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 40 juta pada tahun 2020 (Mo’otapu et al, 2015).

Indonesia, menurut hasil survei kebutaan dengan menggunakan metode Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB), yang baru dilaku- kan di tiga provinsi (Nusa Tengggara Barat, Sulawesi Selatan Dan Jawa Barat) pada tahun 2013-2014, didapatkan prevalensi kebutaan pada masyarakat usia diatas 50 tahun,rata-rata di 3 provinsi tersebut adalah 3,2%, dengan penyebab utama adalah katarak (71%). Diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak akan selalu bertambah, sebesar 0,1% dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang setiap tahun (Kemenkes RI, 2016).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 di Provinsi Jawa Timur, prevalensi penduduk dengan katarak di provinsi Jawa Timur lebih rendah dari angka nasional. Angka tertinggi kejadian katarak berdasar diagnosis dan gejala terjadi di kabupaten Situbondo (17,3%) disusul Pasuruan (15,2%) dan Lumajang (13,5%) (Balitbang Depkes RI, 2007).

Pada tahun 2013-2014 dilakukan penelitian di Balai Kesehatan Mata Masyarakat Manado terha- dap 42 responden, mengenai hubungan tingkat pengetahuan dengan kecemasan, didapatkan bahwa responden yang tidak memiliki kecemasan dengan berpengetahuan baik ada 2 orang (4,8%), responden yang memiliki kecemasan ringan dengan pengeta- huan baik ada 15 orang (35,7%), responden yang memiliki kecemasan sedang dengan pengetahuan baik ada 10 orang (23,8%), dari hasil uji statistik disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang ber-

makna antara pengetahuan dengan tingkat kece- masan klien pre operasi katarak (Rondonuwu, 2014).

Menurut Heither, Susan tahun 2018, kecemasan tidak menyebabkan hipertensi, namun kecemasan dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah secara temporer. Jadi meskipun kecemasan tidak menye- babkan hipertensi kronis, namun dapat menyebab- kan masalah kesehatan yang hamper sama.

Dari hasil studi pendahuluan pada bulan Juli 2017, di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Kan- juruhan Kabupaten Malang, dari hasil wawancara dengan 10 orang klien yang akan menjalani operasi katarak didapatkan data, 9 orang (90%) dari 10 orang tersebut mengatakan sedang dalam kondisi cemas karena menghadapi ruang dan peralatan operasi. 7 orang (70%) dari 10 orang tersebut me- ngatakan saat ini sedang cemas karena khawatir akan menjadi buta. 8 orang (80%) dari 10 orang tersebut mengatakan sedang cemas akibat takut akan kematian saat di anasthesia. 9 orang (90%) dari 10 orang tersebut mengatakan cemas bila ope- rasinya akan dilakukan mengalami kegagalan (operasi tidak berhasil).

Berdasarkan sudut pandang teori interpersonal, kecemasan pada klien pre operasi katarak umumnya disebabkan adanya rasa khawatir menghadapi anasthesia, diagnosa penyakit yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidaktahuan tentang prosedur operasi, kondisi lingkungan kamar bedah yang ter- kesan menakutkan dalam pandangan masyarakat awam, serta ketakutan akan kegagalan dari tindakan pembedahan yang dapat menimbulkan kecacatan (Riadi, 2012).

Menurut Ikhsan (2012) salah satu penyebab terhalangnya kegiatan operasi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah. Sedangkan menurut Yeremia (2011), Setidaknya ada tiga kerugian yang dialami klien ketika mengalami kecemasan menje- lang operasi, secara psikis klien dirugikan dengan perasaan tidak nyaman akibat kecemasan yang tidak terkontrol, secara fisik terjadi peningkatan frekuensi nadi dan respirasi, peningkatan tekanan darah, penurunan kerja otot polos pada kandung kemih dan usus, dan dalam segi waktu dan administratif ada kemungkinan terjadi penundaan jadwal operasi akibat peningkatan tekanan darah.

Salah satu upaya perawat dalam mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah klien pre operasi katarak adalah dengan melakukan konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA), yaitu suatu pendekatan integratik sistematik

(20)

yang mengintegrasikan berbagai macam pende- katan dan teknik-teknik konseling dalam suatu kerangka kerja. Kerangka kerja komperhensif-siste- matis ini jelas diperlukan oleh perawat untuk mem- bantu berbagai macam klien dengan efektif dan qualified. Konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) memiliki beberapa kele- bihan diantaranya, adanya ketulusan perawat dalam melakukan hubungan membantu klien untuk lebih meyakini dirinya, adanya pemahaman yang diberi- kan perawat terhadap klien dengan segala latar belakang dan masalah-masalahnya, dan klien lebih cepat belajar bagaimana membuat respon yang baru dan efektif dalam berinteraksi dengan lingkung- an (Mulawarman & Munawaroh, 2016). Dampak dari konseling dengan metode pendekatan TFA terhadap tekanan darah belum dapat dijelaskan.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Konseling dengan Pendekatan Thinking, Feeling dan Acting (TFA ) terhadap tekanan darah Klien Pre Operasi Katarak di Instalasi Bedah Sentral RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini merupakan pre eksperimental dengan desain one group pre test post test karena bertujuan mengetahui pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak.

Populasi pada penelitian ini adalah pasien pre operasi katarak di RSUD Kanjurahan Kepanjen dengan jumlah 30 orang. Sampel penelitian diambil dengan non random, dimana peneliti menentukan pengam- bilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehing- ga diharapkan dapat menjawab permasalahan pene- litian yaitu pasien pre operasi katarak yang meng- alami kecemasan dan pasien pre operasi katarak yang berusia 21 tahun ke atas. Berdasarkan metode tersebut didapatkan jumlah sampel 16 orang.

Variabel dependen pada penelitian ini adalah tekanan darah pasien pre operasi katarak. Sedang- kan variabel independennya adalah konseling dengan pendekatan TFA. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) Kuesioner Zung Self rating Anxiety Scale untuk menilai kecemasan pasien yang terdiri dari 20 item soal, 2) SOP konseling dengan pendekatan TFA.

Tahap pertama penelitian adalah pemberian pre test untuk menilai tingkat kecemasan responden dan

mengukur tekanan darahnya dan dilajutkan dengan melakukan konseling selama 10-20 menit, melalui beberapa tahapan: 1) membangun hubungan 2) iden- tifikasi dan penilaian masalah 3) memfasilitasi peru- bahan terapeutis menggunakan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA). Pada pende- katan thinking, perawat membantu klien untuk mampu berpikir rasional, pendekatan feeling, perawat membantu klien mengekspresikan emosi yang ada pada dirinya, dan pada pendekatan acting, Perawat membantu klien dalam mengambil kepu- tusan, dan (4) evaluasi dan terminasi. Tahap akhir adalah melakukan post-test dengan mengukur kem- bali tekanan darah responden.

Data yang terkumpul akan diuji normalitasnya dengan uji Shapiro Wilk. Apabila uji normalitas diperoleh data berdistribusi normal maka data akan dianalisis dengan paired sample T-test. Sedangkan apabila diperoleh data berdistribusi tidak normal makan akan diuji dengan Wilcoxon test.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatka hasil sebagai berikut:

Karakteristik responden

No Data umum f %

1 Pendidikan :

Tidak sekolah 4orang 25

SD 6 orang 37,5

SMP 3orang 18,75

SMA 2orang 12,5

Perguruan Tinggi 1orang 6,25

2 Jenis Kelamin

Laki-laki 9 orang 56,25

Perempuan 7orang 43,75

3 Pekerjaan

Karyawan swasta 3 orang 18,75

Pegawai negeri 3 orang 18,75

Tidak bekerja 6 orang 37,5

Wiraswasta 2 orang 12,5

Petani 2orang 12,5

4 Usia

< 45 tahun 2 orang 12,5

46-65 tahun 4 orang 25

>65 tahun 10 orang 62,5

5 Riwayat Operasi

Tidak pernah operasi 12orang 75

Pernah operasi 4orang 25

Tebel 1 Karakteristik responden di Ruang OK RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, Desember 2017

(21)

Lampung, menyimpulkan bahwa ada hubungan pen- didikan dengan kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesaria (SC). Hasil penelitian Kuraeisin (2009), di RSUP Fatmawati, menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengalam- an dengan tingkat kecemasan. Stresor psikologis yang menyebabkan cemas diantaranya adalah, pekerjaan, lingkungan, keuangan, hukum, perkem- bangan, penyakit fisik, faktor keluarga, dan trauma.

Akan tetapi tidak semua orang yang mengalami stressor psikososial akan mengalami gangguan cemas. Hal ini tergantung pada struktur perkem- bangan kepribadian diri seseorang tersebut, yaitu usia, tingkat pendidikan, pengalaman, dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat. Ada berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan pasien dalam menghadapi pembe- dahan antara lain yaitu takut nyeri setelah pembe- dahan, takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal gangguan body image, takut keganasan bila diagnosa yang ditegak- kan belum pasti, takut atau cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama, takut atau ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas, takut mati saat dibius atau tidak sadar lagi (Maryanti, 2015).

Penelitian yang dilakukan oleh Muliana dkk tahun 2016 menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pasien pre operasi BPH di RSUD Prof Dr Margono Soeharjo. Sehingga da- pat disimpulkan bahwa responden yang tekanan darahnya cenderung tinggi (rata rata 146/80 mmHg) pada saat menjelang operasi berkaitan dengan pengalaman operasi sebelumnya (75% belum pernah operasi)

Tingkat pendidikan yang rendah dan penga- laman yang kurang mengenai operasi menyebab- kan timbulnya kecemasan dalam menghadapi operasi katarak. Sehingga tekanan darah juga ikut mening- kat. Tingkat pendidikan menentukan kemampuan seseorang menciptakan mekanisme koping yang efektif. Semakin rendah tingkat pendidikan sese- orang, semakin rendah kemampuannya dalam men- ciptakan koping. Hal ini didukung data bahwa seba- gian besar subjek penelitian yang mengalami cemas sedang, berpendidikan sekolah dasar (SD). Penga- laman juga menentukan kemampuan seseorang dalam menghadapi kecemasan. Semakin sedikit pengalaman seseorang, maka akan semakin me- ningkat rasa khawatir akan dampak yang akan Berdasarkan Tabel 1 di atas diketahui, mayo-

ritas subjek penelitian berpendidikan SD, sejumlah 6 orang (37,5%), mayoritas berjenis kelamin laki- laki, sejumlah 9 orang (56,25%), mayoritas tidak bekerja, sejumlah 6 orang (37,5 %), mayoritas ber- usia > 65 tahun, sejumlah 10 orang (62,5%), dan mayoritas tidak pernah operasi, sejumlah 12 orang (75 %).

Pengaruh konseling dengan pendekatan TFA terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak

Tekanan Darah Min Max Rata rata Std Deviasi

Sistolik Pre 120 150 146 9.639

Sistolik Post 120 140 138 5.774

Diastolik Pre 70 90 80 8.165

Diastolik Post 70 70 70 .000

Paired T Test 0.000

Tabel 2 Pengaruh konseling dengan pendekatan TFA terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak di Ruang OK RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, Desember 2017

Berdasarkan hasil uji paired T-Test. diketahui p value = 0, 000. lebih kecil dari nilai alfa (=0,05), sehingga hipotesis penelitian diterima. Dapat disim- pulkan bahwa ada pengaruh konseling dengan pen- dekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terha- dap tekanan darah pasien pre operasi katarakdi Instalasi Bedah sentral RSUD Kanjuruhan Kabu- paten Malang.

PEMBAHASAN

Tekanan darah pasien pre operasi katarak se- belum perlakuan konseling dengan pendekat- an thinking, feeling dan acting (TFA).

Berdasarkan hasil penelitian tekanan darah pasien pre operasi katarak sebelum konseling dengan pendekatan TFA, didapatkan nilai minimum sistolik 120 mmHg, dan maximum sistoliknya 159 mmHg. Sedangkan minimum diastoliknya 70 mmHg dan maksimum diastoliknya 90 mmHg Sehingga rata rata tekanan darah adalah adalah 146/80 mmHg.

Sedangkan karakteristik responden diketahui mayoritas (37,5%) berpendidikan SD, dan berda- sarkan riwayat operasi, mayoritas (75 %) tidak pernah operasi.

Hasil penelitian Maryanti (2015), di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar

(22)

terjadi setelah operasi, sehingga berpeluang mening- katkan kecemasan yang berakibat meningkatnya tekanan darah. Kondisi ini didukung data bahwa sebagian besar subjek penelitian yang belum berpe- ngalaman menjalani operasi.

Tekanan darah pasien pre operasi katarak sesudah perlakuan konseling dengan pende- katan thinking, feeling dan acting (TFA).

Berdasarkan hasil penelitian, tekanan darah pasien pre operasi katarak sesudah konseling dengan pendekatan TFA, diketahui nilai minimal sistolik 120 mmHg, nilai maksimal sistolik 140 mmHg. Sedang- kan nilai minimal diastolic 70 mmHg dan nilai maksimal diastoliknya 70 mmHg.

Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas subjek penelitian berpendidikan SD, sejumlah 6 orang (37,5%), berdasarkan jenis kelamin, mayoritas berjenis kelamin laki-laki, sejumlah 9 orang (56,25%), berdasarkan pekerjaan, mayoritas tidak bekerja, sejumlah 6 orang (37,5 %), berdasarkan usia, mayo- ritas berusia > 65 tahun, sejumlah 10 orang (62,5%), dan berdasarkan riwayat operasi, mayoritas tidak pernah operasi, sejumlah 12 orang (75 %). Konse- ling berpengaruh terhadap tekanan darah. Kece- masan merupakan respon psikologis yang terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun psikologik, untuk meminimalkan kecemasan diperlukan suatu upaya pengendalian diri, yaitu proses mengubah tingkah laku dengan cara meng- arahkan diri dalam memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Salah satu respon fisik yang muncul ketika seseorang mengalami kecemasan adalah kenaikan tekanan darah. Konseling merupa- kan salah satu upaya membantu klien melakukan pengendalian diri. Konseling merupakan upaya merubah kognitif dan pemahaman, emosi dan perilaku. Konseling bertujuan menciptakan pengem- bangan dan pertumbuhan individu, dengan fokus utama mengubah perilaku yang maladaptif menjadi adaptif. Jadi pada hakekatnya, sasaran kegiatan konseling adalah membantu klien menyelesaikan masalah. Dalam hal ini,masalah utama yang dihadapi pada sebagian besar pasien pre operasi katarak ada- lah kecemasan menghadapi operasi (Mulawarman

& Munawaroh, 2016). Sedangkan kecemasan menyebabkan kenaikan darah secara temporer, (Heitler, 2018)

Konseling efektif dalam mempertahankan tekanan darah pasien tetap stabil karena dengan konseling dapat mengurangi tingkat kecemasan klien

menghadapi operasi katarak. Melalui konseling, perawat mendengarkan keluhan klien, membangun hubungan dengan klien, membantu klien meng- identifikasi masalah, serta memfasilitasi perubahan terapeutis pada klien, sehingga masalah kecemasan klien menghadapi operasi katarak dapat dikurangi dan kenaikan tekanan darah tidak terjadi. Fenomena ini didukung data bahwa rata rata tekanan darah menurun dari 146/80 mmHg menjadi 138/70 mmHg.

Pengaruh konseling dengan pendekatan think- ing, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak

Berdasarkan hasil uji statistik independent sample T-Test. didapatkan p value = 0, 000 < 0,05), sehingga disimpulkan ada pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarak di Instalasi Brdah Sentral RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang.

Hasil penelitian ini sesuai dengan Hasil pene- litian Rahmat (2010), mengenai pengaruh konseling terhadap kecemasan dan kualitas hidup pasien operasi katarak di Kecamatan Kebak Kramat, dengan kesimpulan bahwa konseling berpengaruh terhadap penurunan kecemasan, dan didukung oleh Heitler (2018) yang menyebukan bahwa kecemasan dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah secara temporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konseling dapat mencegah terjadinya kenaikan tekanan darah.

Penelitian yang dilakukan oleh Tuncay, et all, (2008), menunjukkan adanya pengaruh positif pengelolaan masalah psikologis yang dilakukan dengan konseling pada pasien diabetes mellitus (DM), dimana hal ini akan menurunkan kecemasan pada pasien. Pada penelitian ini dilakukan konseling yang mencakup pemahaman tentang penyakit, seberapa besar mereka dapat menerima kondisi sakitnya, keyakinan atau kepercayaan spiritualnya, rencana yang disusun untuk menghadapi penyakit- nya, penggalian hal-hal positif yang dimiliki, meman- faatkan semua fasilitas yang tersedia, menggunakan dukungan psikologis, dan keluarga. Penelitian yang dilakukan oleh Nikibakht, et all, (2009), menunjukkan bahwa pengendalian kondisi psikologis utamanya kecemasan akan berpengaruh positif terhadap manajemen pasien Diabetes Mellitus. Dari penelitian yang dilakukan oleh Collins, et all (2008), juga menunjukkan bahwa manajemen kecemasan pada penderita Diabetes yang dilakukan dengan baik, yang

(23)

salah satunya dengan konseling akan meningkatkan keberhasilan dalam mengontrol kadar gula darah (Rahmat, 2010). Kecemasan terjadi ketika sese- orang merasa terancam baik secara fisik maupun psikologik. Manifestasi kecemasan yang terjadi tergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi ketegangan, harga diri dan mekanisme koping.

Menurut Heitler (2018) kecemasan tidak menyebabkan hipertensi, namun kecemasan dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah secara temporer. Untuk membantu mencegah kenaikan tekanan darah klien dapat dilakukan dengan mengurangi kecemasannya. Untuk mengurangi kecemasan, diperlukan suatu intervensi yang tepat.

Konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) merupakan salah satu pilihan intervensi perawat dalam mengurangi kecemasan pasien pre operasi katarak. Dalam perspektif TFA, proses mengurangi kecemasan pada diri individu berorientasi pada pemikiran, perasaan dan tindakan.

Pendekatan yang berorientasi pada pemikiran memiliki anggapan dasar bahwa, jika individu memiliki pemikiran yang tak logis maka dia berma- salah (tidak sehat), dan akan menjadi pribadi yang sehat bila perawat dapat membantu klien mengubah pemikiran yang tak logis tersebut menjadi logis.

Dalam pendekatan yang berorientasi pada pera- saan,terdapat anggapan dasar bahwa jika individu tidak dapat mengekpresikan perasaan yang dialami- nya maka dia bermasalah, dan akan menjadi sehat jika dapat mengekspresikan perasaan yang dialami- nya. Dalam hal ini perawat membantu klien meng- ekspresikanemosi yang muncul dari dalam dirinya, serta membantu memfasilitasi memecahkan masalah tersebut. Dalam pendekatan yang ber- orientasi pada tindakan, individu yang tidak dapat merubah dari tingkah laku yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat, maka dia dianggap mengalami masalah. Dalam hal ini perawat dapat membantu individu tersebut dengan melakukan sesuatu yang mendukung perubahan tindakan atau perilaku yang efektif, misalnya dengan memberikan contoh atau mengajarkan teknik nafas dalam saat individu menunjukkan tanda-tanda mengalami kecemasan (Mulawarman & Munawaroh, 2016).

Konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien menghadapi operasi katarak. Konseling dengan pendekatan TFA memiliki kelebihan yang tidak dimiliki metode lain. Dalam konseling pendekatan TFA, perawat membantu

mengatasi masalah kecemasan klien melalui pendekatan yang lebih menyeluruh pada aspek psikologik, yaitu aspek pemikiran, perasaan, dan tindakan, sehingga secara holistik, klien lebih terbantu dalam mengatasi masalah kecemasannya.

Klien lebih mampu mengekspresikan perasaannya dengan benar, memiliki pemikiran yang lebih rasional, dan lebih mengutamakan tindakan yang bermanfaat sehingga kecemasan lebih dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Ketika kecemasan pasien pre operasi katarak dapat teratasi maka kenaikan tekanan darah tidak terjadi.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 16 subjek penelitian pasien pre operasi katarakdi Instalasi Bedah Sentral RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, dapat disimpulkan bahwa:

Sebelum dilakukan konseling dengan pende- katan thinking, feeling dan acting (TFA), rata rata tekanan darah pasien pre operasi katarak adalah 146/80 mmHg.

Sesudah dilakukan konseling dengan pende- katan thinking, feeling dan acting (TFA), rata rata tekanan darahnya adalah 138/70 mmHg.

Ada pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pasien pre operasi katarakdi RSUD

“Kanjuruhan” Kepanjen, dengan p value = 0,000.

Saran

Bagi Rumah Sakit Umum Kanjuruhan dapat meningkatkan kemampuan perawatnya dalam memberikan konseling pre operasi kepada pasien dengan cara memberikan pelatihan yang sesuai.

Bagi Institusi Pendidikan kesahatan dapat menerapkan metode konseling ini untuk membantu mengatasi permasalahan masyarakat dalam kegiatan pengabdian.

DAFTAR RUJUKAN

Heitler, Susan, Ph.D. 2018. Why Do Anxiety and High Blood Pressure Go Hand in Hand. (https://

www.psychologytoday.com/us/blog/resolution- not-conflict/201802/why-do-anxiety-and-high- blood-pressure-go-hand-in-hand.

Kemenkes RI, 2016. Katarak Sebabkan 50% Kebutaan ( h t t p : / / ww w. d e p k e s . g o . i d / a r t i c l e / v i e w/

1 6 0 1 1 1 0 0 0 0 3 / k a t a r a k - s e b a b k a n - 5 0 - kebutaan.html).

Gambar

Tabel 4 Hubungan Perceived Benefits dengan pemanfaatan VCT oleh LSL di Hotspot Pataya

Referensi

Dokumen terkait

Saudara diharapkan membawa Dokumen Asli Perusahaan dan menyerahkan Fotocopynya antara lain : Dokumen Penawaran, Jaminan Penawaran, Surat Dukungan Keuangan Dari Bank, Ijin Usaha

Identifikasi terhadap jenis pajak dan retribusi Kota Jayapura dilakukan dengan melihat pertumbuhan dan kontribusinya.Hasil perhitungan pertumbuhan dan kontribusi

(2) Pengajuan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah/Dewan Pimpinan Cabang

Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat

Sumatera Utara dengan judul: “ Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan nasabah membuka rekening Tahapan Xpresi pada BCA Medan ”. Dalam menyelesaikan geladikarya ini

It’s convenient to work with DBI when you have to access a database product that you haven’t worked with before, but you shouldn’t assume that you can easily replace your

Nasdalamun menuturkan, bantuan kemanusiaan yang mereka kirimkan lewat Pemerintah Indonesia tersebut untuk meringankan beban tragedi kemanusiaan Muslim Rohingya di Provinsi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan game online yang dialami remaja berawal tersedianya perangkat game sejak usia belia (±5-9 tahun). Alasan informan suka