• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksposisi Amos 4:12-13

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Eksposisi Amos 4:12-13"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Eksposisi Amos 4:12-13

Pdt. Yakub Tri Handoko

Perjumpaan dengan seseorang tidak selalu menyenangkan, tergantung siapa yang dijumpai dan apa maksud dalam perjumpaan tersebut.

Siapa saja akan merasa ketakutan jika berjumpa dengan perampok atau penjahat. Seorang murid yang nakal akan cemas jika dipanggil oleh kepala sekolah.

Hal yang sama berlaku pada perjumpaan dengan TUHAN. Dalam keadaan-keadaan tertentu perjumpaan dengan Dia jelas akan membawa sukacita. Walaupun demikian dalam keadaan

(4)

yang lain perjumpaan dengan Dia menjadi momen yang mencemaskan bagi manusia. Dia kadangkala datang dengan kemarahan di hati- Nya dan hukuman di tangan-Nya. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel di zaman Amos.

Apakah ini berarti bahwa Allah tergolong Pribadi yang suka marah-marah? Tentu saja tidak.

Apakah dalam kemarahan dan hukuman itu anugerah-Nya benar-benar sirna? Sama sekali tidak!

Perintah untuk bertemu dengan Allah (ayat 12) Berbagai ancaman hukuman untuk bangsa Israel sudah diberitakan oleh Amos (2:6-4:11). Beberapa ancaman itu bahkan sudah terjadi (4:6-11).

Semua ancaman dan hukuman ini dimaksudkan supaya bangsa Israel berbalik kepada TUHAN.

Sayangnya, mereka tidak peduli dengan semua peringatan tersebut. Mereka tetap berbuat dosa, sehingga dengan demikian melanggar perjanjian mereka dengan TUHAN.

Ketika perjanjian itu tidak diindahkan, TUHAN tentu saja harus mengambil tindakan. Walaupun Dia panjang sabar, tetapi kesabaran-Nya tetap ada batasnya. Hal ini bukan berarti bahwa kesabaran-Nya tidak sempurna. Bukan pula berarti ada faktor lain di luar diri-Nya yang membatasi kesabaran-Nya. Jika kesabaran Allah tanpa batas sama sekali, kesabaran itu pasti akan menabrak kekudusan dan keadilan-Nya.

(5)

Sifat-Nya yang kudus dan adil menuntut setiap pendosa untuk diganjar dengan hukuman.

Kalau sebelumnya TUHAN masih membatasi hukuman yang Dia berikan, kali ini Dia akan mencabut batasan tersebut dan menumpahkan amarah-Nya pada bangsa Israel. Dia seolah- olah ingin memberitahu bangsa Israel bahwa apa yang mereka sudah saksikan dan alami belum seberapa dibandingkan dengan apa yang mereka akan hadapi di depan.

Keseriusan dalam pernyataan ini diungkapkan melalui beberapa cara. TUHAN berkata:

“demikianlah akan Kulakukan kepadamu”

(ayat 12a). Dia mengulangi lagi: “Aku akan melakukan yang demikian kepadamu” (ayat 12b). Pengulangan ini jelas menyiratkan sebuah penegasan. Puncak keseriusan dinyatakan melalui sebuah perintah: “bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel” (ayat 12c).

Mereka yang tidak mau berbalik kepada Allah tetap akan berjumpa dengan Dia, tetapi dalam situasi yang berbeda.

Frasa “bertemu dengan Allah/TUHAN” di sini sebaiknya dipahami dalam kaitan dengan pemberian Hukum Taurat sebagai salah satu tanda perjanjian. Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel bertemu dengan TUHAN pada awal penahbisan perjanjian di Sinai (Kel. 19:17-25), tepat sebelum Allah memberikan Sepuluh Perintah (Kel.

(6)

20:1-21). Keterkaitan antara Amos 4:12-13 dan Keluaran 19:17-20:21 bukan sekadar spekulasi.

Dua bagian tersebut memang menunjukkan kemiripan. Sebagaimana bangsa Israel pada zaman Musa harus bertemu dengan Allah dengan segala kekudusan dan kedahsyatan-Nya pada waktu mereka mengikat perjanjian dengan Dia (Kel. 20:18-19), demikian pula bangsa Israel pada zaman Amos harus berjumpa dengan Allah yang sama ketika mereka mengingkari perjanjian itu (Am. 4:12-13). Sebagaimana dalam pertemuan di Gunung Sinai ada ancaman kematian bagi siapa saja yang melanggar kekudusan Allah (Kel.

19:21-24), demikian pula dengan seruan tentang pertemuan dengan Allah yang diucapkan oleh Amos (Am. 4:12).

TUHAN Allah dalam segala kedahsyatan-Nya (ayat 13)

Banyak penafsir Alkitab meyakini bahwa bagian ini merupakan sejenis himne kuno yang sudah sangat dikenal oleh bangsa Israel. Dugaan ini tampaknya tidak berlebihan. Ajakan untuk bertemu dengan TUHAN sukar dipisahkan dari konteks ibadah bersama. Lagipula, himne-himne kuno memang sering didahului dengan kata kerja imperatif (perintah). Indikasi yang paling kentara mungkin adalah kumpulan kata kerja dalam bentuk partisip di ayat ini yang memang sesuai dengan karakteristik tata bahasa dalam berbagai himne kuno. Alasan terakhir terletak pada seruan: “TUHAN, Allah semesta alam, itulah

(7)

nama-Nya!”

Jika memang ayat 13 merupakan himne kuno yang sudah sangat terkenal pada waktu itu, ayat ini sebenarnya tidak memberikan wahyu baru kepada bangsa Israel. Amos hanya sekadar menegaskan ulang kepada bangsa Israel tentang TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Bangsa Israel mungkin masih mengingat himne ini, bahkan terus-menerus menyanyikannya dalam pertemuan religius mereka. Hanya saja, mereka tidak benar-benar menghayati maknanya. Kini tiba saatnya bagi TUHAN untuk menyatakan diri-Nya yang sesungguhnya seperti yang diungkapkan dalam himne tadi. Perjumpaan pribadi dengan TUHAN selalu lebih dahsyat daripada syair pujian yang terbaik sekalipun.

Apa yang mau dicapai dengan mengutip himne kuno di ayat 13? Untuk mengetahui jawabannya kita terlebih dahulu perlu memahami inti inti himne tersebut. Dari sana kita baru bisa menebak tujuan himne di ayat 13 dalam kaitan dengan ayat 12.

Jika kita mengamati secara seksama, penekanan dalam himne ini terletak pada kuasa Allah yang begitu mulia. Perpaduan antara kekuasaan dan kemuliaan ini terlihat jelas pada bagian awal dan akhir himne ini. Pemunculan “gunung-gunung”

(awal) dan “bukit-bukit” (akhir) menunjukkan benda yang sangat kokoh dan tinggi (“bukit-

(8)

bukit di bumi” = lit. “tempat-tempat yang tinggi”).

Tempat yang kokoh dan tinggi seperti ini adalah ciptaan Allah. Dia berjejak di atasnya.

Sebutan “Allah semesta alam” juga memberi kesan tambahan yang sangat kuat. Istilah

“semesta alam” di sini sebenarnya merujuk pada para makhluk sorgawi yang sangat perkasa (NLT

“God of Heaven’s Armies”’ mayoritas versi “God of hosts”). Para malaikat yang gagah perkasa saja hanyalah para tentara-Nya. Dia jauh lebih berkuasa daripada mereka semua. Dari penyebutan ini terlihat bahwa yang ditekankan adalah sifat Allah yang mahakuasa (NIV “the LORD God Almighty”).

Bagian tengah dari himne di ayat 13 masih menyiratkan kekuasaan Allah yang mulia, tetapi fokusnya sedikit bergeser. Sifat ilahi tersebut tidak dikaitkan dengan benda-benda di alam yang sangat kokoh atau para makhkluk surgawi.

Kekuasaan Allah yang mulia juga dihubungkan dengan kehidupan manusia.

Ada beberapa petunjuk yang mengarah ke sana.

Dalam Bahasa Ibrani kata “angin” (ruach) juga bisa merujuk pada “roh” atau “nyawa” manusia.

Frasa “yang membuat fajar dan kegelapan”

(lit. “membuat pagi menjadi kegelapan”) sangat mungkin merujuk pada kuasa Allah atas keseluruhan hidup manusia dari pagi sampai malam. Yang paling jelas tentu saja adalah

(9)

diskripsi tentang Allah “yang memberitahukan kepada manusia apa yang dipikirkan-Nya”.

TUHAN memberitahukan pikiran-Nya kepada bangsa Israel supaya mereka mengetahui bahwa apa yang sudah dan akan terjadi pada mereka bukanlah kumpulan peristiwa-peristiwa yang bersifat kebetulan. Allah mengontrol segala sesuatu dan mengarahkan semua itu untuk menggenapi rencana-Nya.

Bertitik tolak dari inti himne seperti diuraikan di atas – yaitu kuasa TUHAN yang mulia atas seluruh semesta, manusia dan makhluk surga – kita sekarang bisa melihat tujuan himne ini dengan lebih jelas. Penempatan himne ini di ayat 13 menunjukkan bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh bangsa Israel merupakan tindakan yang bodoh. Mereka tidak mau berbalik kepada TUHAN, Allah yang menguasai segala sesuatu, termasuk kehidupan mereka. Mereka lebih percaya pada pencapaian mereka sendiri:

kemakmuran ekonomi dan kekuatan militer.

Mereka masih menyembah dewa-dewa asing yang tidak mampu berbuat apa-apa. Para ilah itu bukanlah Pencipta segala sesuatu.

Kekuasaan Allah yang mulia seharusnya menjadi sandaran yang aman dan nyaman bagi bangsa Israel. Tatkala mereka menolak tawaran ini, mereka tetap akan berhadapan dengan sifat- sifat Allah yang sama. Hanya saja, kali ini mereka tidak akan menemukan penghiburan

(10)

dan kelegaan pada sifat-sifat itu. Sebaliknya, mereka akan mendapati kekuasaan yang mulia itu sebagai sebuah hal yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Setiap orang pasti akan berjumpa dengan Allah untuk memberikan pertanggungjawaban.

Ini hanya masalah waktu saja. Jalan menuju pertemuan dengan Dia mungkin berbeda:

penderitaan sebagai hukuman, kematian atau kedatangan Kristus yang kedua di akhir zaman.

Pada akhirnya semua orang akan melewati jalan yang beragam ini. Sekali lagi, ini hanyalah masalah waktu belaka. Setiap orang - tanpa terkecuali – akan berdiri di hadapan tahta pengadilan Allah. Betapa mengerikannya berada di tangan Allah yang murka!

Kengerian tersebut tergambar jelas dalam kematian Kristus bagi kita. Dia sangat menderita. Dia dipermalukan begitu rupa. Dia ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Dia mengambil semua penderitaan tadi supaya kita tidak perlu menanggungnya lagi. Roma 5:9 “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah”. Soli Deo Gloria.

(11)

Katekismus Westminster

Pertanyaan 112:

Dosa apa yang dilarang dalam hukum yang

• Dosa yang dilarang dalam hukum yang ketiga ialah, Tidak menyebut nama Allah dengan cara yang dituntut,[a] dan menyalahgunakan nama itu dengan menyebutnya dengan cara yang tidak berpengetahuan,[b] tidak perlu,[c]

tidak dengan hormat, tidak suci,[d] penuh takhayul,[e] atau jahat, atau dengan cara lain menggunakan gelar-gelar, sifat-sifat,[f]

pranata-pranata yang telah ditetapkan- Nya[g] atau karya-karya-Nya[h] dalam semua kata-kata nista;[i] sumpah palsu,[j]

sumpah serapah,[k] sumpah,[l] nazar,[m]

dan undian[n] yang berdosa; melanggar sumpah atau nazar kita yang sah,[o] dan berpegang padanya kalau menyangkut hal- hal yang tidak sah;[p] bersungut-sungut dan menyalahkan,[q] membongkar-bongkar,[r]

atau salah memakai putusan-putusan Allah[s]

dan karya- karya pemeliharaan-Nya;[t] salah menafsirkan,[u] salah menerapkan,[v] atau dengan cara apa pun memutarbalikkan Firman-Nya atau sebagian Firman itu[w]

untuk senda gurau yang tidak suci,[x]

pertanyaan-pertanyaan sia-sia yang timbul dari rasa ingin tahu, pertengkaran

(12)

yang kosong, atau untuk mempertahankan ajaran sesat;[y] menyalahgunakan nama itu atau menyalahgunakan makhluk atau apa saja yang lain yang tercantum dalam nama Allah untuk mantera[z] atau untuk hawa nafsu dan perbuatan berdosa.[aa]

Selanjutnya, memfitnah,[ab] mencemooh,[ac]

mencerca,[ad] dan dengan cara apa pin menentang kebenaran, rahmat, dan jalan- jalan Allah;[ae] mengaku percaya secara munafik atau untuk maksud jahat;[af]

merasa malu karena agama[ag] atau memalukannya melalui tingkah laku yang tidak sesuai dengannya,[ah] dan yang kurang bijaksana,[ai] tidak berhasil guna,[aj]

atau menyakitkan hati,[ak] atau murtad dari agama itu.[al] a. Mal 2:2. b. Kis 17:23. c. Ams 30:9. d. Mal 1:6-7, 12; 3:14. e. 1Sa 4:3- 5; Yer 7:4, 9-10, 14, 31; Kol 2:20-22. f. 2Ra 18:30, 35; Kel 5:2; Maz 139:20. g. Maz 50:16-17. h. Yes 5:12.

i. 2Ra 19:22; Ima 24:11. j. Zak 5:4; 8:17. k. 1Sa 17:43; 2Sa 16:5. l. Yer 5:7; 23:10. m. Ula 23:18;

Kis 23:12, 14. n. Est 3:7; 9:24; Maz 22:19. o. Maz 24:4, Yeh 17:16, 18-19. p. Mar 6:26; 1Sa 25:22, 32-34. q. Rom 9:14, 19- 20. r. Ula 29:29. s. Rom 3:5, 7; 6:1-2. t. Pengk 8:11; 9:3; Maz 39. u. Mat 5:21-48. v. Yeh 13:22. w. 2Pe 3:16; Mat 22:24-31.

x. Yes 22:13; Yer 23:34, 36, 38. y. 1Ti 1:4, 6-7; 6:4- 5, 20; 2Ti 2:14; Tit 3:9. z. Ula 18:10-14; Kis 19:13.

aa. 2Ti 4:3-4; Rom 13:13-14; 1Ra 21:9-10; Yud 1:4.

ab. Kis 13:45; 1Yo 3:12. ac. Maz 1:1,; 2Pe 3:3. ad.

(13)

1Pe 4:4. ae. Kis 4:18; 13:45-46, 50; 19:9; 1Te 2:16;

Ibr 10:29. af. 2Ti 3:5; Mat 23:14; 6:1-2, 5, 16. ag.

Mar 8:38. ah. Maz 73:14- 24. ai. 1Ko 6:5-6; Efe 5:15-17. aj. Yes 5:4; 2Pe 1:8-9. ak. Rom 2:23-24.

al. Gal 3:1, 3; Ibr 6:6.

(14)

Pokok Doa Syafaat

1. Tuhan memberikan hikmat kepada

pemerintah dalam berupaya memutus mata rantai persebaran virus Covid-19. Tuhan memberikan kesehatan dan kemampuan kepada petugas keamanan, petugas medis yang berperan di garis depan. Berdoa untuk masyarakat bisa mentaati protokol kesehatan.

2. Berdoa untuk pasokan vaksin virus Covid-19 dapat terpenuhi dengan segera dan dapat didistribusikan kepada tenaga kesehatan tenaga pelayanan publik dan bertahap kepada seluruh rakyat Indonesia.

3. Program REC Tahun 2021 : TOGETHERNESS:

WHAT WE VALUE AND DO. Kiranya menjadi nafas kehidupan kita untuk menjadi jemaat yang saling memperhatikan,berbagi

kepedulian kepada sesama jemaat maupun kepada orang-orang di sekitar.

(15)

Dusta yang Diyakini oleh Kaum Wanita Tentang Dosa

Mungkin inilah dosa paling mendasar yang disampaikan oleh Setan kepada kita mengenai dosa. Allah telah berfirman kepada Adam,

“Jika kamu makan buah pohon ini, pasti kamu mati.” Perintah itu sudah jelas, “Jangan makan.”

Konsekuensi atas ketidakpatuhan itu sudah jelas:

“Kamu akan mati.”

13. “Saya dapat saja berdosa dan meloloskan diri dari akibat-akibatnya.”

(16)

Namun, lawan membuat kita percaya bahwa…

• “tidak akan ada penghakıman atas dosa- dosa saya.”

• “saya tidak akan menuai apa yang telah saya tabur,”

• “pilihan-pilihan yang saya buat hari ini tidak akan memiliki konsekuensi.”

• “saya dapat bermain api dan tidak akan terbakar.”

Kita memilih untuk makan hidangan pencuci mulut yang kedua meskipun kita sudah kekenyangan – kita tidak mau berpikır bahwa:

• Dalam beberapa jam kita akan muntah dan sakit perut.

• Esok pagi saat kita menimbang berat badan kita akan menyumpah-nyumpah mengapa kita tidak dapat menahan diri.

• Beberapa pilihan akan membuat kita kegemukan, yang menimbulkan rasa bersalah, frustrasi, dan depresi.

• Makan berlebihan akan mengarah pada penyakit jantung, diabetes, stroke, atau gagal jantung.

• Tidak dapat membatasi diri dalam satu bidang kehidupan membuat kita tidak dapat berdisiplin dalam bidang-bidang lain yang lebih penting.

• Selalu menuruti keinginan hati akan menyebabkan anak-anak kita juga

(17)

mencontoh hal yang serupa.

Kita menghibur diri kita dengan membaca buku- buku, nonton film, acara TV dan musik yang merefleksikan filosofi dunia dan mensahkan keduniawian, tidak tahu aturan, dan perilaku yang tidak bermoral, tidak pernah berhenti sejenak untuk merenungkan bahwa dengan melakukan hal itu...

• Kita mematikan hati nurani kita dan toleran terhadap dosa.

• Kita lapar akan dosa dan menjauhi kekudusan.

• Kita membangun penghalang dalam persaudaraan kita dengan Allah.

• Kita memprogram pikiran kita untuk berpikir dengan cara dunia.

• Kita meningkatkan kecenderungan tindakan kita didasarkan pada apa yang kita lihat dan dengar;

• Kita mengembangkan pandangan yang tidak kudus mengenai seksualitas yang mungkin membuat kita begitu mudah menyerahkan keperawanan kita atau menghancurkan perkawinan kita;

• Kita meningkatkan kecenderungan bahwa anak-anak dan cucu-cucu kita akan bersikap duniawi dan tidak bermoral.

Kita memilih untuk menyimpan amarah terhadap seseorang yang telah menyakiti kita, dengan

(18)

mengabaikan kenyataan cepat atau lambat, kepahitan itu akan…

• Menghancurkan kemampuan kita untuk berpikir secara rasional.

• Membuat kita sengsara dan tidak stabil secara emosional.

• Mempengaruhi tubuh kita dalam bentuk kelelahan kronis, kehilangan tenaga, sakit kepala, ketegangan otot, dan gangguan pencernaan.

• Membuat kita tidak dapat merasakan pengampunan Alah atas dosa-dosa kita.

• Membuat kita sulit hidup berdampingan dengan orang lain dan membuat orang- orang tidak mau mendekati kita.

Kita membuat diri kita terlalu dekat dengan seorang pria yang baik dan penuh perhatian di tempat kerja, tidak mau percaya bahwa…

• Kita sedang menabur benih-benih ketidaksetiaan di dalam pikiran dan emosi kita.

• Kita menutup kemungkinan bahwa suami kita juga dapat menyenangkan hati kita karena kenyataan tidak dapat disejajarkan dengan khayalan.

• Pada akhirnya kita mungkin menghancurkan perkawinan pria itu dan juga perkawinan kita sendiri.

• Kita mungkin menghancurkan kehidupan

(19)

anak-anak kita.

• Bahkan jika kita tidak melakukan perzinahan dengan pria tersebut, kita mungkin mengawali suatu kegagalan moral di masa datang.

• Pada akhirnya kita mungkin terasing dari pasangan kita, anak-anak kita, mertua kita, dan Allah.

Kita harus senantiasa mengingatkan diri kita bahwa Setan adalah pendusta. Hal-hal yang menurut Allah adalah dosa, menurut Setan…

menyenangkan – aman – bukan dosa – menggiurkan – bukan masalah besar – memenuhi kebutuhan kita – tidak dapat dipungkiri

• Kenyataannya dosa itu berbahaya, mematikan, dan membawa kehancuran.

• Kenyataannya kita menuai apa yang kita tabur.

• Kenyataannya setiap pilihan yang kita buat hari ini akan menimbulkan konsekuensi.

• Kenyataannya jika kita bermain api, kita akan terbakar.

• Kenyataannya “dosa, apabila sudah matang, akan membuahkan maut” (Yakobus 1:15).

Sayangnya, orang-orang tidak pernah menghubungkan pilihan-pilihan duniawi mereka dengan konsekuensinya dalam kehidupan mereka, perkawinan mereka, anak-anak mereka,

(20)

kesehatan mereka, dan relasi mereka dengan Allah dan sesama.

MANFAAT-MANFAAT DOSA

Di Taman Firdaus, Setan mengatakan kepada Hawa, “Kau bukan saja boleh tidak mentaati Allah dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi negatif; ada juga beberapa keuntungan yang akan kau dapat jika engkau memakan buah ini.”

Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. – Kejadian 3:5

Ada benarnya juga perkataan Setan mengenai akibat-akibat “positif” dari dosa. Menurut Ibrani 11:25, dosa memang membawa kesenangan – untuk sementara waktu. Namun pada akhirnya, dosa terbukti menimbulkan kehancuran. Tidak ada perkecualian.

Saya memiliki seorang sahabat yang menyimpan daftar konsekuensi-konsekuensi dari dosa – seperti:

• Dosa merenggut kebahagiaan (Mz 51:12)

• Dosa menghilangkan rasa percaya diri (1Yoh 3:19-21)

• Dosa menimbulkan rasa bersalah (Mz 51:3)

• Dosa memberikan kuasa kepada Setan (2Kor 2:9-11)

(21)

• Dosa mendukakan Roh Allah (1Tes 5:19)

• Dosa membawa kehancuran secara fisik (Mz 38:1-11;31:10)

• Dosa menyebabkan luka batin (Mz 32:3-4)

• Dosa membuat hati Allah hancur (Ef 4:30)

• Dosa membuka jalan bagi dosa yang lain (Yes 30:1)

• Dosa menghancurkan persekutuan dengan Allah (Yes 59:1-2)

• Dosa menimbulkan rasa takut (Amsal 28:1)

• Dosa membuat saya menjadi budak (Yoh 8:34;Rm 6:16)

Apabila ia tergoda untuk tidak mematuhi Allah, sahabat saya itu akan mengeluarkan daftar itu dan membacanya. Ia bertanya pada diri sendiri,

“Benarkah ini harga yang harus saya bayar?

Mampukah saya menanggungnya?”

Kadangkala, konsekuensi-konsekuensi dosa kita tidak kelihatan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian; kadangkala akibat dosa itu tidak tampak sampai generasi mendatang; konsekuensi-konsekuensi dosa mungkin tertunda sampai kita berdiri di hadapan Allah di takhta penghakiman.

Salah satu tujuan Allah menunda balasan yang setimpal adalah karena la memberi waktu agar kita bertobat: “Tetapi Ia sabar terhadap kamu,

(22)

karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Pet 3:9).

--- Cuplikan Bab 4 – bagian II

Lies Women Believe – Nancy Leigh DeMoss

(23)

Bagaimana Menyikapi Terjemahan Alkitab

“The Passion”?

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

“The Passion Translation” (TPT) merupakan versi Alkitab berbahasa Inggris yang relatif baru.

Sampai akhir tahun 2020 saja belum seluruh Alkitab telah selesai diterjemahkan. Prioritas TPT tampaknya pada Perjanjian Baru (PB). Sesudah seluruh PB tuntas, mereka baru merambah beberapa kitab dalam Perjanjian Lama (PL), misalnya Mazmur, Kidung Agung, Amsal, Kejadian dan Yesaya.

(24)

Walaupun tergolong baru, popularitas versi ini terus menanjak. Beberapa tokoh Kristen yang terkenal di Amerika memberikan rekomendasi untuk TPT. Yang paling menyedot perhatian adalah dukungan dari Bill Johnson, gembala sidang gereja Bethel dan penulis buku rohani yang terkenal. Popularitas TPT sudah melampaui batasan negara dan benua. Tidak tertutup kemungkinan popularitas yang sama akan segera terjadi di Indonesia.

Di sisi lain, kehadiran TPT juga menghadirkan banyak pro dan kontra. Sebagian orang menganggap terjemahan ini sangat bermanfaat dan sesuai dengan apa yang diklaim oleh penerjemahnya. Tidak sedikit yang bersaksi bagaimana mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui pembacaan TPT dalam saat teduh mereka. Sebagian yang lain memiliki keberatan serius terhadap versi ini. Apa yang tertulis dalam TPT terlihat begitu berbeda dengan beragam versi Alkitab populer yang sudah ada. Keberatan paling serius datang dari kalangan akademisi. Beberapa teolog biblika sudah menyatakan penilaian negatif terhadap TPT, misalnya Tremper Longman III dan Darrell Bock.

Melalui artikel ini saya akan berusaha untuk menyediakan ulasan singkat dan sederhana terhadap TPT. Saya akan menjelaskan isu ini

(25)

dalam tiga bagian: pengenalan tentang TPT, penilaian positif, dan penilaian negatif. Di bagian akhir artikel saya akan memberikan saran praktis.

Tokoh utama di balik TPT adalah Brian Simmons.

Dia dan isterinya, Candice, adalah misionaris yang melayani suku-suku terabaikan di Amerika Tengah selama 40 tahun. Dalam pelayanan tersebut mereka juga sudah menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku. Setelah pelayanan misi tersebut mereka kembali ke Amerika Utara (USA) untuk memberikan seminar-seminar dan melakukan pelbagai pelayanan. Mereka cukup aktif menulis buku-buku rohani.

Pada suatu kali Brian Simmons mendapatkan perjumpaan supranatural dengan Yesus Kristus.

Menurut penuturannya, Kristus menghembuskan nafas-Nya dan memerintahkan dia untuk membuat terjemahan Alkitab yang baru. Kristus juga berjanji akan memberikan kepadanya rahasia-rahasia tersembunyi dalam Bahasa Ibrani, Aramaik dan Yunani. Saat itu juga Brian merasa terjadi pengunduhan ajaib, seolah-olah sebuah chip dimasukkan ke dalam pikirannya.

Sesuai dengan filosofi penerjemahan yang tertulis dalam situs resmi maupun pengantar TPT, terjemahan ini lebih mengarah pada transfer makna daripada terjemahan hurufiah kata per kata. Yang dipentingkan adalah fungsi suatu ayat

(26)

bagi pendengar, bukan padanan terjemahan hurufiah. TPT dimaksudkan untuk lebih menyentuh aspek emosi pembaca. Tata bahasa dan kosa kata yang dipilih dalam versi ini bukan hanya sangat kontemporer, tetapi juga sangat membangkitkan emosi seseorang.

Pada dirinya sendiri tidak ada yang salah dengan terjemahan Alkitab yang kurang hurufiah.

Setiap terjemahan memiliki tujuan sendiri yang spesifik. Spektrum terjemahan juga cukup luas:

dari terjemahan hurufiah yang terkesan kaku hingga terjemahan parafrase yang terkesan bebas. Masing-masing jenis terjemahan memiliki manfaat yang berbeda-beda.

Bukan hanya itu, terjemahan yang kurang hurufiah bahkan kadangkala lebih jelas dari sisi maksud penulis (meaning). Terjemahan hurufiah (padanan arti kata) kadang memang bisa membingungkan karena perbedaan budaya.

Sebagai contoh, dalam 1 Samuel 24:3 LAI:TB memberi terjemahan “membuang hajat” (alias BAB). Terjemahan hurufiah dari istilah ini adalah

“menutupi kakinya” (KJV/YLT). Dalam kasus ini terjemahan yang tidak hurufiah justru lebih jelas dan bermanfaat.

Ada beberapa contoh serupa dalam TPT. Frasa

“miskin di hadapan Allah” (Mat. 5:3) diterjemahkan

“kemiskinan rohani” (spiritual poverty). Praktek

(27)

memecahkan roti yang menjadi kebiasaan jemaat mula-mula (Kis. 2:42) diterjemahan

“berbagi perjamuan” (sharing communion).

Deretan contoh ini tentu saja dapat diperpanjang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa kasus TPT memang membawa manfaat lebih bagi jemaat awam daripada terjemahan Alkitab yang lebih hurufiah.

Kerinduan TPT untuk menyediakan terjemahan yang lebih menyentuh emosi juga pada dirinya sendiri tidak salah. Allah bukan hanya menghendaki respons intelektual terhadap firman-Nya, melainkan juga secara emosional.

Alkitab memerintahkan kita untuk mengasihi Allah secara holistik (hati, jiwa, kekuatan dan akal budi).

Mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui pembacaan kitab suci juga menjadi pengalaman hampir semua orang percaya.

Alkitab memang seharusnya menyentuh emosi kita.

Terjemahan yang dihasilkan oleh satu orang (seperti dalam kasus TPT) juga pada dirinya sendiri tidak perlu selalu dinilai negatif. Jika yang menerjemahkan memang memiliki kemampuan biblika yang mendalam, pemahaman doktrin yang solid dan objektivitas yang memadai, hasil terjemahan bisa saja lebih bagus daripada hasil kerja tim yang mengadopsi teologi yang sama.

Sebagai contoh, terjemahan Alkitab oleh John

(28)

Wycliffe dari sisi doktrin lebih bisa dipercaya daripada Terjemahan Dunia Baru yang diterbitkan oleh organisasi Saksi-Saksi Yehuwah.

Terlepas dari beberapa penilaian positif di atas, saya memiliki banyak keberatan terhadap TPT.

Beberapa sangat serius. Dalam artikel ini saya hanya akan menyinggung beberapa poin saja yang saya anggap paling penting.

Pertama, istilah “terjemahan” yang digunakan.

Bagi yang sudah membaca TPT dan cukup menguasai Bahasa Ibrani/Yunani Alkitab akan langsung bisa mendeteksi bahwa dalam banyak hal TPT lebih mengarah pada penjelasan terhadap Alkitab daripada terjemahannya.

Beberapa tambahan yang dimasukkan ke dalam TPT benar-benar tidak ada dalam teks asli Alkitab. Sebagai contoh, TPT menerjemahkan Mazmur 23:5 sebagai berikut: “Engkau menjadi pestaku yang lezat bahkan ketika musuh-musuhku berani untuk bertarung. Engkau mengurapi aku dengan harum Roh Kudus. Engkau memberi kepadaku segala yang aku dapat minum dari-Mu sampai hatiku berlimpah-limpah”. Bagi mereka yang menghafal Mazmur 23 di luar kepala dengan cepat akan melihat betapa bebasnya TPT memahami ayat ini. Ini parafrase, bukan terjemahan, Alkitab. Dalam istilah studi biblika, TPT tergolong targum.

(29)

Kedua, pengalaman mistis Brian. Walaupun saya percaya bahwa Tuhan bisa saja berbicara kepada seseorang secara khusus, tetapi saya sangat meragukan pengalaman supranatural Brian. Penilaian ini lebih didasarkan pada hasil terjemahan di TPT, bukan kualitas rohani Brian. Jika memang terjemahan ini dari Tuhan, mengapa dalam banyak hal tambahan makna yang disediakan justru tidak sesuai dengan teks asli? Mengapa berbeda dengan versi-versi lain yang juga ditulis oleh para ahli biblika yang mengasihi Allah?

Ketika perbedaan-perbedaan semacam itu muncul, kita dengan mudah mengetahui siapa yang bersalah terhadap teks Alkitab. Misalnya, Mazmur 23:1a diterjemahkan “TUHAN adalah sahabatku dan gembalaku”. Tidak ada satu terjemahan atau salinan kuno yang memberi dukungan bagi tambahan “sahabatku”.

Seandainya tambahan ini ditarik dari keseluruhan Mazmur 23, tambahan ini tetap tidak bisa dibenarkan. Gambaran yang ada dalam mazmur ini adalah gembala (ayat 1-4) dan raja (ayat 5). Tidak ada indikasi apapun dalam teks yang menggambarkan persahabatan.

Ketiga, keyakinan berlebihan pada salinan Aramaik. Dengan keyakinan bahwa Yesus Kristus dan murid-murid-Nya berbahasa Aramaik, TPT banyak menyandarkan terjemahan mereka pada

(30)

salinan Aramaik. Pada saat penerjemah TPT mendapati perbedaan bacaan pada manuskrip Ibrani/Yunani dan Aramaik, TPT lebih berpihak pada Aramaik.

Hal ini jelas bermasalah. Tidak ada alasan yang solid untuk menduga bahwa kitab-kitab PB pertama kali ditulis dalam Bahasa Aramaik.

Dalam kasus surat-surat kiriman yang sebagian besar ditujukan pada jemaat yang non- Yahudi, para penulisnya jelas tidak mungkin menggunakan Bahasa Aramaik. Berdasarkan bukti tertulis yang tersedia, salinan tertua Alkitab dalam Bahasa Aramaik ditemukan pada abad ke-5 Masehi. Mengapa TPT tidak mendasarkan terjemahan pada salinan dan terjemahan kuno Alkitab dari abad ke-2 sampai ke-4 Masehi? Dari sisi ilmu kritik teks – yaitu ilmu yang bertujuan untuk merekonstruksi kata-kata asli Alkitab berdasarkan manuskrip kuno yang ada – sikap TPT tergolong sangat ceroboh. Kegagalan dari sisi ini membuat klaim TPT bahwa terjemahan mereka “ditafsirkan dari bahasa asli, yang memuat arti asli dan memberi ungkapan yang bisa dipercaya dari pesan asli Allah secara akurat” benar-benar patut diragukan.

Keempat, rujukan akademis. Di catatan kaki TPT disediakan beberapa penjelasan atau uraian tambahan. Salah satu yang cukup sering dimunculkan adalah rujukan pada para teolog

(31)

biblika atau akar kata dalam bahasa kuno.

Sayangnya, TPT tidak berani menyebutkan siapa yang dimaksud dengan “beberapa/banyak ahli” atau bahasa kuno yang dia maksudkan.

Seandainya dia tidak membuat klaim akademis sama sekali, hal itu pasti tidak akan dipersoalkan.

Ketika dia berani merujuk pada dunia akademis sebagai dukungan, dia sepatutnya memberi bukti yang lebih jelas supaya dapat diverifikasi.

Ketika beberapa nama teolog biblika memang disebutkan (Craig Keener, Mike Bird, Gordon Fee, Douglas Stuart), para ahli itu ternyata telah disalahpahami oleh penerjemah TPT. Pandangan mereka telah ditarik terlalu jauh dan diletakkan pada konteks yang berlainan.

Kelima, proyek penerjemahan Alkitab seorang diri. Walaupun dalam situs resmi TPT Brian hanya disebut sebagai penerjemah utama, seluruh pemikiran TPT berasal dari dia. Bukankah itu sesuai dengan kesaksian Brian tentang perjumpaan yang spektakuler dengan Kristus?

Nah, di sinilah letak persoalannya. Walaupun saya tidak anti terhadap proyek semacam ini – bahkan saya sendiri pernah memimpikan untuk melakukannya sendirian – proyek semacam ini memiliki keterbatasan dan bahaya. Tidak ada verifikasi dari orang lain. Subjektivitas penerjemah tidak bisa dicermati. Sangat lebih bijaksana apabila suatu terjemahan merupakan proyek bersama. Kalaupun hasil kerja seorang

(32)

diri, akan menjadi lebih baik bila hasil awal tetap diujikan kepada beberapa orang yang mumpuni sebelum diterbitkan untuk umum.

Akhir kata, kita perlu lebih berhati-hati dengan TPT. Menggunakannya sebagai salah satu materi studi Alkitab tentu saja diperbolehkan, tetapi menggunakannya sebagai terjemahan Alkitab dalam saat teduh perlu untuk dipikirkan ulang. Klaim resmi TPT bahwa terjemahan mereka dapat dijadikan sebagai “tulisan utama dalam mempelajari firman Allah secara serius”

patut dipertanyakan. Tambahan makna yang disediakan lebih berasal dari pemikiran Brian sendiri. Soli Deo Gloria.

(33)

Makna Kedaulatan Allah

Sumber : Sovereignity of God (Kedaulatan Allah) Penulis Arthur W. Pink

(Lanjutan tgl 3 Januari 2021) DALAM PENCIPTAAN

Setelah memahami bahwa kedaulatan Allah menjiwai seluruh keberadaan Allah, marilah kita memperhatikan bagaimana kedaulatan tersebut menandai segala cara dan jalan-Nya.

Dalam wilayah kekekalan, yang mendahului peristiwa Kejadian 1:1, alam semesta belum tercipta dan keberadaan ciptaan masih tersimpan dalam pikiran Sang Pencipta. Hanya ada Allah di dalam kemuliaan-Nya yang berdaulat. Kita

(34)

menunjuk pada periode jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Tetapi bahkan pada masa itu pun, bila istilah “masa” dianggap layak dipakai, Allah telah berdaulat. Dia menciptakan atau tidak menciptakan menurut kerelaan kehendak- Nya semata. Dia dapat menggunakan cara itu dalam penciptaan; Dia dapat menciptakan sebuah dunia atau sejuta dunia, dan siapa yang ada untuk melawan kehendak-Nya? Dia dapat menciptakan jutaan jenis makhluk dan menetapkan mereka dalam kesetaraan yang mutlak, memberikan kepada mereka kemampuan yang serupa dan menepatkn mereka dalam lingkungan yang sama; atau Dia juga dapat menciptakan jutaan jenis makhluk yang berbeda- beda dalam kemampuan dan tempat, benar- benar tidak memiliki kesamaan; dan siapa pula yang ada untuk menentang kehendak- Nya? Bila Allah menghendakinya, Dia dapat menciptakan sebuh dunia yang sangat besar sehingga luasnya tak terukur oleh perhitungan apa pun yang memiliki keterbatasan; dan bila Allah menghendakinya, Dia dapat menciptakan suatu organisme yang sedemikian kecil, sehingga bahkan sebuah mikroskop yang paling canggih sekalipun takkan mampu menampilkan wujudnya agar dapat dilihat oleh mata manusia.

Di satu pihak, Dia berdaulat dalam menciptakan para Serafim yang ditinggikan, yang bercahaya mengelilingi takhta-Nya, namun di lain pihak, Dia pun berdaulat atas keberadaan seekor serangga

(35)

kecil yang waktu hidupnya begitu pendek. Jika Allah perkasa memutuskan untuk mengadakan suatu penyusunan tingkatan-tingkatan yang begitu rumit dalam aam semesta, dari para Serafim yang mulia sampai sekawanan binatang melata, dari sebuah bumi yang berevolusi sampai atom yang terapung, dari makrokosmos sampai mikrokosmos, dan bukannya nenyeragamkan semuanya, maka siapalah yang ada untuk mempertanyakan keputusan kehendak-Nya yang berdaulat ini?

Perhatikan juga pelaksanaan kedaulatan ilahi jauh sebelum manusia melihat terang. Kepada siapakah Allah pernah meminta nasehat ketika Dia menciptakan dan menempatkan segala ciptaan-Nya? Pandanglah burung-burung ketika mereka terbang di udara, bintang-bintang ketika mereka berenang di laut, dan coba renungkan,

“Siapakah yang telah menciptakan mereka dalam keberagaman?” Bukankah Pencipta mereka yang secara berdaulat menetapkan tempat dan memberi kemampuan untuk beradaptasi bagi mereka!

Pandanglah langit dan perhatikan misteri- misteri kedaulatan Allah yang menjadi bahan perenungan para pengamat yang jeli:

“Kemuliaan matahari lain daripada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain daripada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan

(36)

bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain” (Kor. 15:41). Tetapi mengapa demikian? Mengapa matahari lebih mulia daripada planet-planet yang mengitarinya?

Mengapa ada bintang yang penting dan yang tidak penting? Mengapa terjadi keberagaman yang menakjubkan ini? Dan mengapa harus ada

“bintang beralih,” “bintang jatuh,” dan “bintang berekor,” (Yud. 13). Dan satu-satunya jawaban yang pasti adalah, “Oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).

Bersambung……...

(37)

Mengapa orang Majus mempersembahkan

“kemenyan dan mur”

selain emas di Matius2:11?

Denny Teguh Sutandio

Bagi banyak orang Kristen, kita tidak terlalu bingung dengan emas sebagai persembahan orang Majus, tetapi kita mungkin bingung dengan dua jenis persembahan orang Majus yang lain yaitu kemenyan dan mur.

Kemenyan dan mur merupakan pemberian yang berharga dan mahal di mana keduanya hanya berasal dari Arab Selatan (sekarang: Somaliland) (bdk. Yes. 60:6; Yer. 6:20; Herodotus 3:107) (Ben

(38)

Witherington III, Matthew, 66 dan W. D. Davies dan D. C. Allison, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to Saint Matthew, 249).

Meskipun berharga dan mahal, kedua jenis pemberian ini merupakan pemberian yang biasa dalam praktik orang-orang Timur karena istana kerajaan di sana terbiasa menggunakan kemenyan dan mur (Craig S. Keener, Matthew).

Kemenyan (Yun.: libanos) yang dimaksud di sini adalah getah yang berbau harum dari berbagai pohon dan semak-semak yang digunakan sebagai obat (pereda nyeri) maupun kultus di dunia kuno (Kel. 30:34-38; Im. 2:1-2, 14-16; 6:14-18;

24:7) (Davies dan Allison, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to Saint Matthew, 249 dan Leon Morris, Injil Matius, 44).

Filsuf Pliny (Nat. 12.65) mengatakan kemenyan kelas tertinggi harganya enam dinar per pon atau setara enam hari gaji seorang pekerja harian (Witherington III, Matthew, 66).

Mur (Yun.: smurna) merupakan getah harum dari ‘balsamodendron myrrh’ atau ‘commiphora kataf’ (pohon balsam), pohon yang sangat melimpah di Arab Selatan dan Ethiopia utara (bdk. Herodotus 3:107). Getah yang keluar dari retakan pada ranting yang lebih muda, yang mengandung getah, minyak atsiri, dan damar, segera mengering. Rasanya pahit, tetapi baunya wangi (Sir. 24:15) terutama ketika dipanaskan

(39)

(TDNT, s.v. “σμσσσσ, σμσσσσσσ”). Mur yang ditemukan di antara orang-orang Mesir, Yunani, dan Roma memiliki berbagai kegunaan, yaitu salah satu elemen dalam parfum (Est. 2:12; Mzm. 45:8), salah satu komponen minyak urapan kudus (Kel.

30:23), bahan dalam dupa, rempah-rempah untuk penguburan atau pembalseman (Yoh.

19:39; lih. Herodotus 2:40, 86), dan obat pereda nyeri (Mrk. 15:23) (TDNT, s.v. “σμσσσσ, σμσσσσσσ” dan Davies dan Allison, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to Saint Matthew, 249). Pliny menyatakan bahwa harga mur yang paling mahal sekitar lima puluh dinar per pon (Witherington III, Matthew, 67).

Lalu mengapa orang Majus mempersembahkan

“kemenyan dan mur” selain emas kepada bayi Yesus? Alasannya adalah kedua jenis persembahan ini sudah biasa dipakai di dalam istana kerajaan di dalam praktik Timur. Hal ini menunjukkan bahwa bayi Yesus dikenal dan disembah oleh orang-orang Majus sebagai raja. Bukan hanya sebagai raja, bayi Yesus adalah Raja atas segala raja. Donald A. Hagner menjelaskan bahwa Mazmur 72:10–11 menunjuk pada semua raja sujud menyembah di hadapan raja, semua bangsa yang melayani sang raja, dan persembahan dengan “emas” disebutkan secara khusus dalam ayat 15. Emas merupakan salah satu pemberian orang Majus kepada bayi Yesus. Kemudian, Yesaya 60:1-6 (dalam konteks

(40)

eskatologis yang lebih jelas) mengacu pada semua bangsa dan raja yang datang ke terang (pemenuhan), dengan kekayaan negara yang dipersembahkan serta “emas” dan “kemenyan.”

Melalui jenis-jenis persembahan orang Majus, Matius ingin menjelaskan bahwa raja yang baru lahir (yaitu bayi Yesus) adalah raja seluruh dunia, dan penghormatan yang pantas akan diberikan kepadanya oleh semua bangsa. Ironisnya, bayi Yesus disembah oleh bangsa-bangsa non-Yahudi sebagai Raja atas segala raja, tetapi ditolak oleh bangsa-Nya sendiri, yaitu bangsa Yahudi (Matthew 1-13, 31). Apakah kita yang sudah percaya kepada Kristus benar-benar menyembah-Nya sebagai satu-satunya Raja dalam hidup kita?

(41)

BAB II : Bagaimana Saya dapat Mengenal Kehendak Allah?

(Diambil dari buku “Panggilan Misi” dengan judul asli

“Misionary Call: Find your Place in God’s Plan for the World, 2008, David Sills, penerbit Momentum)

(Lanjutan tgl 3 Januari 2021) Cara mengenal kehendak Allah

Periksalah keadaan-keadaan Anda, dan jadikanlah hal-hal tersebut factor dalam keputusan Anda. Sayangnya, Allah tidak selalu menempatkan lampu-lampu lalu lintas pada setiap persimpangan jalan, untuk

(42)

memberitahukan kapan harus pergi, dan kapan harus berhenti. Namun, waktunya Allah adalah sebuah unsur yang penting untuk dipertimbangkan dalam menemukan dan mengikuti kehendakNya.

Akhirnya ingatlah, bahwa Allah mengasihi Anda.

Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia datang supaya kita memiliki hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Untuk menikmati kelimpahan hidup yang telah Ia persiapkan bagi Anda, pertimbangkanlah baik- baik kerinduan-kerinduan yang telah Allah tempatkan dalam hati Saudara.

Allah betul-betul memiliki kehendak yang spesifik bagi hidup Anda, namun Anda tidak dapat duduk dengan sehelai kertas kosong, mencoba untuk mengetahui, dan memetakan sisi hidup Anda di atasnya. Kehendak Allah ditemukan saat kita membuat keputusan-keputusan setiap hari, berjalan melalui pintu-pintu, mengenali pimpinanNya, dan berupaya untuk setia. Sang Gembala memiliki rancangan bagi domba- dombanya, namun mereka tidak mengetahui secara keseluruhan di muka. kehendakNya ditemukan sementara sang domba percaya penuh mengikuti Sang Gembala. Katekismus Westminster mengatakan, bahwa tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamaNya. Hal ini mengingatkan saya kepada pertanyaan katekisasi anak-anak, yang bunyinya, “Bagaimana Anda dapat memuliakan

(43)

Allah?” dan jawabannya, “Dengan mengasihi Dia, dan melakukan apa yang Dia perintahkan.”

Oswald Chambers menulis buku renungan klasik, “Sasaran utama dari misionaris adalah untuk melakukan kehendak Allah, bukan untuk menjadi berguna, bukan untuk memenangkan penyembahan berhala.” Melakukan hal itu memang berguna, dan ia sudah memenangkan orang kafir, namun itu bukanlah sasaran utamanya. Sasaran utamanya adalah untuk melakukan kehendak Allah. “Apa yang ingin Anda lakukan?”

BAB III Apakah dasar yang Alkitabiah untuk panggilan misi?

Alkitab mengajarkan kepada kita mengenai panggilan misi. Sementara Anda bertumbuh di dalam pengetahuan akan Allah, melalui firmanNya, detak jantung Anda mulai bergema bersama detak jantung Allah sendiri. Anda rindu untuk menjadi seorang anak yang taat, dan dengan setia melaksanakan Amanat AgungNya, untuk menjadikan murid-murid dari semua suku bangsa di dunia. Anda ingin menyelamatkan mereka yang binasa, yang setiap hari mati dan memasuki kekekalan tanpa Kristus. Anda merasakan suatu beban dan belas kasihan bagi mereka yang seumpama domba-domba tanpa gembala. Di atas segalanya, Anda ingi memuliakan Allah dengan memproklamasikan InjilNya yang agung kepada orang-orang

(44)

yang berada dalam kegelapan spiritual dan membawa mereka untuk menyembah di hadapan takhtaNya.

Meskipun Alkitab tidak memberikan definisi tentang panggilan misi, namun Alkitab memberikan kepada kita sebuah jendela yang melaluinya, kita boleh memandang dan melihat hasrat Allah bagi suku-suku bangsa, dan bagaimana Ia memanggil orang-orang kepada diriNya sendiri, untuk melaksanakan

kerinduan-kerinduanNya. Contoh-contoh alkitabiah dari panggilan, bukanlah sesuatu yang memberi petunjuk mengenai bagaimana seharusnya setiap panggilan itu. Kita semestinya tidak memandang contoh-contoh Alkitab sebagai preseden untuk membuat sebuah daftar perbandingan dengan pengalaman- pengalaman kita sendiri. sebaliknya, contoh- contoh Alkitab tersebut bersifat menggambarkan apa yang terjadi ketika Allah memanggil orang- orang pada waktu-waktu yang berbeda dalam sejarah Alkitab.

Bersambung……….

(45)

KISAH KASIH Senin, 11 Januari 2020

Saya pernah mendengar bahwa Alkitab adalah surat cinta Tuhan kepada kita. Pada umumnya kalimat ini dinyatakan untuk meyakinkan kita betapa Tuhan mengasihi kita. Ya kisah Alkitab adalah kisah cinta yang tidak ada duanya.

Seorang hamba Tuhan menjelaskan bahwa kisah Alkitab adalah kisah Allah yang adalah Kasih, yang datang ke dunia melalui Anak yang dikasihi-Nya untuk membawakan Kerajan kasih dengan pengorbanan yang penuh kasih, untuk mengampuni kita dalam kasih, menarik kita masuk ke dalam keluarga kasih (yaitu gereja- Nya), dan mengirim kita menjadi para duta besar atas nama kasih Tuhan.

Kasih yang seperti ini adalah kasih yang terlalu besar untuk kita tampung dan berhenti di kita.

Kisah kasih Tuhan adalah kasih yang mendorong kita untuk membagikannya ke dunia. Doa Paulus dalam Filipi 1:9 misalnya adalah agar kasih kita semakin melimpah. Itu artinya kita tidak pelit kasih. Kita tidak menahan kasih. Kita berhenti memanipulasi kasih dengan syarat atau kondisi tertentu.

Berapa banyak masalah dalam hidup kita terus

Bacaan : Mazmur 136

(46)

menerus ada karena kita telah menahan kasih?

Karena kita tidak bisa mengampuni misalnya.

Pertanyaannya bukan “apakah saya harus mengasihi dia?” melainkan “bagaimana caranya mengasihi dia?” Kasih Tuhan adalah sumber dan teladan kita dalam mengasihi. Dunia kita butuh orang-orang yang penuh kasih Tuhan. (EW)

(47)

MERAYAKAN INJIL DALAM KEHIDUPAN

Selasa, 12 Januari 2020

Carl Gustav Boberg (1859-1940) adalah seorang rohaniwan yang melayani di gereja Mission Covenant Church Swedia. Suatu kali Boberg terperangkap dalam badai ketika berlayar di pantai tenggara swedia. Waktu itu Boberg melihat kedahsyatan badai yang mengguncang ombak sepanjang malam, namun reda pada pagi hari dan digantikan dengan kicauan burung yang memanjakan telinga. Kejadian itu membuat dia tertegun dan berlutut di hadapan Tuhan. Kemudian ia menuliskan sebuah puisi menggambarkan kekagumannya sekaligus merayakan akan kebesaran Tuhan yang ia alami pada saat itu. Dan pada saat ini kita masih bisa menikmati pusinya bahkan kita nyanyikan puisinya dalam pujian himne yang berjudul

“Sungguh Besar Kau Allahku (KPPK 14)”

Merayakan pekerjaan tangan Tuhan yang dilakukan oleh Boberg juga dilakukan oleh pemazmur dalam mazmur 19. Pemazmur meliha pekerjaan tangan Tuhan melalui wahyu umum dan juga wahyu khusus yang adalah taurat

Bacaan : Mazmur 19;1-12

(48)

Tuhan. Sikap merayakan pekerjaan Tuhan ini membuat pemazmur menyadari kebesarana Allah dan kerapuhan manusia. Bagaimana Allah yang begitu besar mau merengkuh kerapuhan manusia melalui pekerjaan tanganNya. Sehingga membuat pemazmur tertegun akan kebesaran Allah dan menyadari ketrbatasan akan dirinya.

Kita sebagai seorang yang sudah ditebus dan diselamatkan, masihkah kita memiliki waktu untuk merayakan injil di dalam kehidupan kita.

Masihkah kita memiliki waktu untuk mengingat bagaimana Allah mengaruniakan Anak-Nya Yesus Kristus buat setiap kita. Sehingga kita dapat bersekutu dengan Dia dengan penuh kekaguman dan keintiman. Marilah kita mengingat dan merayakan injil dalam kehidupan kita. Supaya kita kembali disadarkan dengan apa yang telah Allah lakukan buat setiap kita manusia berdosa.

Dan kita akan menyadari bahwa sukacita kita setiap hari itu didasari oleh apa yang Yesus lakukan di kayu salib buat setiap kita. (EG)

(49)

ALLAH YANG MENGHU-

Rabu, 13 Januari 2020

Di dalam hidup kita, kita pasti sering mendapatkan hukuman, entah dari guru/dosen, orang tua, dll. Penghukuman tersebut datang dari orang- orang yang lebih berotoritas dari kita, namun penghukuman mereka tidak selalu mengubah kita secara sepenuhnya. Hal ini berbeda dengan penghukuman Allah. Allah menghukum umat-Nya (Am. 4:7-11) dengan tujuan agar mereka bertobat dan kembali kepada-Nya sebagai satu-satunya benteng yang kukuh, bukan pada kebanggaan diri atau di luar diri (J. A. Motyer, Amos, 105). Allah sebagai satu-satunya benteng yang kukuh dijelaskan Amos di ayat 13 dengan dua karakteristik, yaitu: Pertama, Allah yang Mahakuasa. Amos menggambarkannya,

“Dia yang membentuk gunung-gunung dan menciptakan angin, …, yang membuat fajar dan kegelapan dan yang berjejak di atas bukit-bukit bumi.” Allah yang Mahakuasa digambarkan sebagai Allah yang menciptakan alam semesta, berkuasa atas langit, dan berkuasa atas bumi.

Kedua, Allah yang Mahatahu. Ini dijelaskan Amos,

“yang memberitahukan kepada manusia apa yang dipikirkan-Nya, …” “yang memberitahukan kepada manusia apa yang dipikirkan-Nya” menunjukkan interaksi-Nya dengan manusia (S. M. Paul dan F. M.

Cross, Amos, 155). Ayat 13 ini merupakan doksologi yang Amos tulis untuk menyadarkan umat Israel

Bacaan : Amos 4:12-13

(50)

tentang Allah yang menghukum mereka. Allah bukan Allah yang menghukum umat-Nya dengan semena-mena, tetapi Ia menghukum dengan adil berdasarkan keMahakuasaan dan keMahatahuan- Nya. Sekaligus Ia menghukum umat-Nya agar mereka kembali kepada-Nya sebagai satu-satunya sandaran hidup umat-Nya.

Sebagiamana Amos mengajar umat Israel tentang Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu yang menghukum umat-Nya agar bertobat dan kembali kepada-Nya saja, maka Allah juga menegur kita dengan mengarahkan kita kepada Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu yang memiliki dan mengontrol setiap langkah hidup kita. Ketika Ia menetapkan untuk memberikan hukuman kepada kita, ingatlah, Ia adalah Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu yang memiliki dan mengontrol langkah hidup kita agar kita bertobat dari dosa-dosa kita dan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, ketika Allah menghajar kita, “relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Why.

3:19) Penghukuman-Nya merupakan bukti konkret bahwa kita adalah milik Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu. Sebaliknya ketika Ia membiarkan kita terus jatuh ke dalam dosa, itu malah membuktikan kita bukan milik Allah. Ingatlah, selama Allah masih mendisiplin kita, bersyukurlah, karena itu berarti kita adalah milik-Nya dan Ia ingin kita segera bertobat dan kembali kepada-Nya. Biarlah doksologi Amos menyadarkan kita untuk kembali kepada Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu. Amin. Soli Deo Gloria.

(51)

PENCIPTA SEMESTA

Kamis, 14 Januari 2020

Ide kalimat “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” dalam ayat 2 juga disebutkan dalam Yohanes 1: 3, 1 Korintus 8: 6, dan Kolose 1:16. Ketika penulis Ibrani mengatakan bahwa Yesus Tuhan “menciptakan alam semesta,”

penulis menegaskan bahwa Yesus melebihi dan di atas segala-galanya karena Dia menciptakan semuanya.

Semua nabi Perjanjian Lama menunjuk pada Kristus. Ketika Dia datang untuk tinggal di antara kita sebagai manusia sejati, Yesus telah menggenapi semua yang tertulis tentang-Nya.

Penulis Ibrani mengetahui bahwa beberapa orang melihat Yesus dari kacamata perjanjian lama dan para nabi. Jadi di sini penulis memulai dengan menggambarkan kebesaran Kristus dalam beberapa pernyataan yang kuat tentang Yesus. Yesus adalah Putra Allah, yang akan mewarisi segalanya. Dia juga pencipta alam semesta, pencipta segalanya. Jadi apa artinya ini bagi kita? Mengapa penting bahwa Kristus adalah Pencipta segala sesuatu? Tidak hanya Putra Allah saja, tetapi Dia juga menciptakan

Bacaan : Ibrani 1: 1-4

(52)

alam semeseta bersama Bapa. Dia benar-benar Tuhan.

Mengetahui bahwa Yesus adalah Pencipta segala sesuatu, berarti kita dapat mempercayai Dia untuk segala sesuatu. Kita dapat bergantung pada-Nya karena Dia peduli dengan ciptaan- Nya. Ketika hal-hal dalam hidup tampak di luar kendali, kita dapat percaya pada kuasa kedaulatan Yesus sebagai Tuhan atas segalanya.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk mempercayakan segala sesuatu pada Tuhan Yesus yang adalah pencipta alam semesta termasuk hidup kita. Amin. (HK)

(53)

PEMELIHARAAN ALLAH

Jumat, 15 Januari 2020

Apa yang di maksud dengan pemeliharaan Allah? Banyak orang Kristen pendapat bahwa pemeliharaan Allah dikaitkan dengan berkat dan kebahagiaan. Meski demikian, pengakuan iman Heidelberg memberikan pernyataan yang menarik, yaitu: “Kekuatan Allah, yang mahakuasa dan yang hadir di segala tempat (Yoh 5:17).

Dengannya Dia memelihara langit dan bumi serta semua makhluk seakan-akan dengan tangan- Nya sendiri, dan memerintahnya (Maz 104:30), sehingga daun dan rumput, hujan dan kemarau (Yer 5:24), masa kelimpahan dan kekurangan, makanan dan minuman, sehat dan sakit (Yoh 9:3), kekayaan dan kemiskinan (Ams 22:2), dan segala hal tidak menimpa kita secara kebetulan, tetapi datang dari tangan Bapa saja (Mat 10:29).”

Intinya, Allah memelihara ciptaan-Nya dengan kuasa, hikmat dan kasih yang sempurna.

Jadi, pemeliharaan Allah yang dimaksud adalah berbicara tentang kuasa dan otoritas Allah dalam segala sesuatu dan kondisi. Pemeliharaan dalam segala sesuatu artinya tidak ada satupun yang terlepas dari jangkauan dan pemeliharaan Allah karena Dia adalah Allah yang memenuhi segala

Bacaan : Yohanes 5:17

(54)

sesuatu. Pemeliharaan Allah dalam segala kondisi berarti kondisi yang baik sampai kondisi yang tidak baik menurut manusia. Hal inilah yang pada akhirnya menuntun setiap orang percaya dalam segala kondisi harus terus bergantung kepada Allah saat hujan atau kemarau, masa kelimpahan atau kekurangan, saat sehat dan sakit, maupun ketika kaya atau miskin karena Allah adalah Sang pemelihara.

Orang percaya harus belajar bahwa pemeliharaan Allah secara jasmani adalah hal yang melampaui pemeliharaan jasmani.

Pada saat Allah masih berkenan kepada orang percaya untuk menikmati pengampunan, anugerah keselamatan melalui Kristus, perlindungan dari kuasa iblis dan mengenal Allah melalui Firman Tuhan, seharusnya hal ini yang senantiasa disyukuri setiap saat. Karena itu jangan membatasi pemeliharaan Allah hanya berkaitan dengan kenikmatan dan kenyamanan hidup di dunia. Allah mengetahui apa yang paling kita butuhkan. Allah memberikan apa yang bermanfaat, bernilai kekal dan apa yang nantinya manusia dapat memuliakan Tuhan.

Sudahkan kita meyakini kuasa pemeliharaan Allah atas kita saat ini? Yakinlah bahwa kekuatan Allah, yang mahakuasa dan yang hadir di segala tempat mampu memelihara hidup kita. Amin.

(YDI)

(55)

BERTUMBUH DALAM PERSEKUTUAN

Sabtu, 16 Januari 2020

Ketika seorang hamba Tuhan pindah melayani di sebuah gereja besar, ia terkagum-kagum melihat keindahan arsitektur gereja itu. Pelayannya banya demikian juga dengan anggota paduan suaranya. Ia berpikir pasti kehidupan pelayanan di gereja ini luar biasa. Setelah beberapa bulan melayani di gereja tersebut, ia mulai menemukan banyak hal yang menyedihkan. Ternyata, jemaat di gereja itu sebagian besar bukanlah jemaat tetap. Meskipun tiap minggu ada jemaat baru, tetapi dalam minggu yang sama, jemaat yang penah hadir tidak kelihatan lagi. Ia juga mulai melihat pertengkaran di antara para pelayan Tuhan dan juga jemaat. Jelas bahwa gambaran gereja ini bertolak belakang dengan gereja mula-mula.

Salah satu ciri dari jemaat mula-mula adalah bertekun dalam persekutuan. Mereka tidak hanya bertekun dalam pengajaran para Rasul melainkan juga bertekun bersama-sama dalam persekutuan. Persoalan iman adalah sesuatu yang bersifat pribadi, itu sebabnya menuntut kita harus mengambil keputusan sendiri.

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:41-47

(56)

Namun, iman kita itu justru bertumbuh di dalam persekutuan. Sebagai bagian dari persekutuan di dalam gereja, kita terpanggil untuk menciptakan suasana yang hangat dan saling peduli satu dengan yang lain. Harus diakui bahwa untuk menciptakan hidup persekutuan yang hangat dan saling memperdulikan bukan hal yang mudah, butuh pengorbanan sebagaimana yang sudah diteladankan Yesus. Persekutuan gereja ibarat sebuah keluarga, ketika kita diperhadapkan dengan berbagai masalah dan kesulitan, tentu, kita tidak akan “lari” meninggalkan keluarga kita, sebaliknya kita berusaha menyelesaikan persoalan yang ada dan tetap menjaga keutuhan keluarga kita.

Demikian pula dalam kehidupan persekutuan di dalam gereja, pasti ada masalah dan kesulitan yang terjadi. Namun melalui masalah dan kesulitan yang kita hadapi, kalau kita tetap setia dan bergantung pada Tuhan maka iman kita akan semakin bertumbuh.” Inilah gereja yang sehat, yaitu gereja yang tidak hanya mementingkan aspek pengajaran dan tetapi juga memperhatikan aspek relasi atau persekutuan di antara para anggotanya. (NL)

(57)

Agenda Minggu Ini

Hari/Tgl Pukul Keterangan

Senin 11 Jan ‘21

05.00 Siaran rohani “Grace Alone”

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M di Radio Bahtera Yudha , 96,4 FM 23.00 Siaran rohani “Grace Alone”

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M di Radio Bahtera Yudha , 96,4 FM HUT: Ibu Lily Kristina

HUT: Ibu Tanti Camilia Selasa

12 Jan ‘21 HUT: Bp. Robby Jayaputra

13 Jan ‘21Rabu

18.30 Pembinaan Jemaat modul 2 “Gereja Yang Menggerakkan Jemaat”

Oleh: Ev. Heri Kristanto (DILIBURKAN) 19.00 Latihan Musik KU 3

HUT: Sdr. Hendrivino

HUT: Sdri. Melissa Kurniawan HUT: Ibu Grace Yonathan HUT: Anak Nichole

Kamis 14 Jan ‘21

18.30

Pembinaan Jemaat modul 2 “Gereja Yang Menggerakkan Jemaat”

Oleh: Pdt. Yohanes Dodik Iswanto (DILIBURKAN)

19.00 Latihan Musik KU 1 dan KU 2

(58)

Sabtu 16 Jan‘ 21

06.30 Doa Pemuridan (DOA DIRUMAH) 18.00 Persekutuan Pemuda REC Kutisari

(IBADAH DIRUMAH)

18.00 Persekutuan Pemuda REC MERR (IBADAH DIRUMAH)

22.00 Siaran rohani “Grace Alone”

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M di Radio Mercury, 96 FM

HUT: Bp. Bobby Herman Hope Joenan

HUT: Ibu Alien Minggu

17 Jan ‘21 HUT: Sdri. Florencia Evangeline Setiawan

(59)

IBADAH MINGGU10 JANUARI 2021

KU 1 08.00 WIB https://youtu.be/vxfP8CIbNHkKU 2 10.00 WIB https://youtu.be/SFjwKa14wtkKU 3 17.00 WIB https://youtu.be/qjfVbY-I29Q Pdt. Yakub Tri Handoko Eksposisi Kitab Amos 4:12-13 IBADAH LIVE STREAMING SELURUH CABANG REFORMED EXODUS COMMUNITYpk. 08.00 | 10.00 | 17.00

IBADAH MINGGU17 JANUARI 2021

Ev. Edo Walla Tanda Anak-anak Allah (1 Yohanes 3:10-15) IBADAH LIVE STREAMING SELURUH CABANG REFORMED EXODUS COMMUNITYpk. 08.00 | 10.00 | 17.00

(60)

PANDUAN IBADAH BERSAMA KELUARGA Reformed Exodus Community (REC),

10 Januari 2021

(Bila ingin mengadakan ibadah langsung, bukan lewat live streaming)

1. 15 menit sebelum ibadah, kepala keluarga (pemimpin ibadah) mengajak semua ang- gota keluarga untuk bersiap-siap. Tampilkan teks Amos 4:12-13 di TV (atau dicetak/lewat HP saja) sambil memutar lagu Jesus Paid It All - Kim Walker-Smith (https://youtu.be/

Ymkl0t0FOcw)

2. 5 menit sebelum ibadah, pemimpin ibadah mengajak yang lain untuk mengambil saat teduh

3. Ibadah dimulai. Pemimpin ibadah men- gajak semua anggota keluarga berdiri.

langsung diikuti dengan votum

“Ibadah ini kita mulai dengan keyakinan bah- wa satu-satunya jalan menuju takhta karunia Bapa sudah dibuka yaitu melalui pengurba- nan Yesus Kristus yang sempurna di atas kayu salib dan yang telah diterapkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Turunlah atas kita semua rahmat, berkat, dan anugerah dari Allah Tritunggal dalam ibadah ini. Amin.”

(61)

Jemaat dipersilakan duduk.

KPPK 14 - Sungguh Besar Kau Allahku (https://youtu.be/mYvZp0jygCo) Verse 1

Bila kulihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh kudengar;

Ya Tuhanku, tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar.

Chorus

Maka jiwaku pun memuji-Mu:

“Sungguh besar, Kau Allahku!”

Maka jiwaku pun memuji-Mu:

“Sungguh besar, Kau Allahku!”

Pengakuan Dosa Pribadi – Duduk Roma 5:6,8

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Verse 2

Ya Tuhanku, ‘pabila kurenungkan, pemberian-Mu dalam Penebus.

‘Ku tertegun, bagiku dicurahkan, oleh Putra-Mu darah-Nya kudus.

(62)

Chorus (X2)

Maka jiwaku pun memuji-Mu:

“Sungguh besar, Kau Allahku!”

Maka jiwaku pun memuji-Mu:

“Sungguh besar, Kau Allahku!”

Doa Pengakuan dosa dan Pembukaan 4. Pengakuan Iman Rasuli

(jemaat dipersilahkan berdiri) Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.

Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.

Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.

Yang menderita sengsara di bawah pe- merintahan Pontius Pilatus,

disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.

Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati.

Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.

Dan dari sana Ia akan datang

untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya kepada Roh Ku-

(63)

dus, Gereja yang kudus dan am, perseku- tuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, dan hidup yang kekal. Amin.

(Jemaat dipersilakan duduk) 5. Petunjuk hidup baru

Ibrani 20:23-24 (BIMK) Hendaklah kita berpegang teguh pada harapan yang kita akui, sebab Allah bisa dipercayai dan Ia akan menepati janji-Nya. Dan hendaklah kita sal- ing memperhatikan, supaya kita dapat saling memberi dorongan untuk mengasihi sesama dan melakukan hal-hal yang baik.

Nyanyian jemaat

KPPK 68 - Terpujilah Nama Yesus (https://youtu.be/hIOyUQsGB-c) Verse 1

Terpujilah nama Yesus, malaikat bersujud,

sembahkan mahkota mulia, b’ri hormat pada-Nya.

Sembahkan mahkota mulia, b’ri hormat pada-Nya.

Verse 2

Semua yang ditebuskan-Nya, bersyukur, bersujud,

(64)

anug’rah-Nya s’lamatkanku, b’ri hormat pada-Nya.

Anug’rah-Nya s’lamatkanku, b’ri hormat pada-Nya.

Chorus

Puji Dia dan sembah Dia Biarlah s’luruh mulut memuji, meninggikan Sang Raja Puji Dia dan sembah Dia Biarlah s’luruh lutut bertelut, Di hadapan Sang Raja Verse 3

Bangsa-bangsa di dunia, berhimpun bersujud,

pandanglah hormat mulia-Nya, b’ri hormat pada-Nya.

Pandanglah hormat mulia-Nya, b’ri hormat pada-Nya.

Chorus (X2) Ending

Biarlah s’luruh lutut bertelut, (X3) Di hadapan Sang Raja

6. Pujian Firman:

KJ 405 - Kaulah Ya Tuhan Surya Hidupku (https://youtu.be/Xh7s5zhecyc)

(65)

Verse 1

Kaulah, ya Tuhan, Surya hidupku;

asal Kau ada, yang lain tak perlu.

Siang dan malam Engkau kukenang;

di hadiratMu jiwaku tenang!

Verse 2

Kaulah Hikmatku, Firman hidupku;

Kau besertaku dan ‘ku sertaMu.

Engkau Bapaku, aku anakMu;

denganMu, Tuhan, ‘ku satu penuh.

Chorus

Kaulah Terang yang menuntun Sabda-Mu yang memimpinku Verse 3

Kaulah bagiku tempat berteduh;

Kaulah perisai dan benteng teguh.

Sukacitaku kekal dalamMu;

Kuasa sorgawi, Engkau kuasaku!

Chorus, Verse 2 7. Khotbah

Lampiran halaman 03.

8. Persembahan.

No. Rekening BCA REC

---

(66)

REC Pusat: 0882-8257-77 REC Nginden: 0882-8888-50 REC Merr: 0882-8888-09 REC Batam: 0887-8888-29 REC Kutisari: 0887-8888-61 REC Darmo: 0889-8888-75 Diakonia REC: 0889-8888-16 Misi REC: 0887-8888-96

*Semua Rekening Lokal REC atas nama: GKRI Exodus

KPPK 50 - Hitung Berkatmu (https://youtu.be/16FHPL1U3BE) Verse 1

Bila g’lombang kehidupan menimpa, hati jadi takut dan putus asa,

jangan lupa berkat Tuhan hitunglah, pasti kau tercengang akan karya-Nya.

Verse 2

Adakah berat bebanmu menekan?

Dan salib yang kau pikul melelahkan?

Hitung berkat-Nya pastilah kau lega, kau ‘kan bergirang dan t’rus memuji-Nya.

Chorus

Hitung berkat satu per satu, dan lihatlah karya Tuhan-mu.

Hitung berkat. Satu per satu.

Hitung berkat yang melimpah padamu.

(67)

Verse 4

Dalam pergumulanmu di dunia, jangan kuatir Tuhan akan beserta, Ia mengirim malaikat-Nya menjaga,

membimbing, menghiburmu sampai sorga.

Chorus (X2) 10. Doa syafaat

Lampiran halaman 12

11. Pengumuman 12. Doxology

Puji Allah Bapa Putera Puji Allah Rohul Kudus Ketiganya Yang Esa

Pohon selamat sumber berkat

(68)
(69)

Referensi

Dokumen terkait