BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap adanya pergantian kepemimpinan di dalam pemerintahan maka akan selalu ada kebijakan baru yang menjadi perbincangan dalam masyarakat.
Pergolakan-pergolakan pemikiran yang sepaham maupun tidak sepaham antara masyarakat dengan pemerintah menjadi sebuah fenomena yang lazim di masa reformasi ini. Masyarakat akan mengkritik kebijakan pemerintah yang dirasa kurang tepat atau sebaliknya akan mendukung kebijakan yang dirasa telah mengakomodir kepentingan masyarakat. Hal ini tentu sangat diperlukan demi keberlangsungan demokrasi dalam bernegara, serta agar pemerintah selalu dapat mengevaluasi guna menghasilkan kebijakan yang berasaskan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakatnya.
Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo ditetapkan kebijakan pembentukan Unit Kerja Presiden melalui Peraturan Presiden yang bertujuan untuk membantu presiden menjalankan tugas-tugas kenegaraannya. Salah satunya adalah Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila yang dibuat dalam rangka mengaktualisasikan nila-nilai Pancasila sebagai upaya pelestarian Pancasila yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila untuk selanjutnya disingkat Perpres UKP-PIP.
UKP-PIP dibentuk dalam rangka mengaktualisasikan nila-nilai yang terdapat dalam Pancasila sebagai upaya pelestarian Pancasila yang dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga diperlukan adanya pembinaan ideologi Pancasila bagi seluruh aparatur negara secara menyeluruh, jelas, terencana, sistemastis, dan terpadu.
Susunan organisasi ini terdiri dari pengarah dan pelaksana. Dalam pasal 5, pengarah terdiri dari unsur tokoh kenegaraan, tokoh agama,
purnawirawan TNI/POLRI, pensiunan PNS serta akademisi. Pelaksana terdiri atas Kepala dan membawahi tiga deputi, yaitu Deputi Pengkajian dan Menteri, Deputi Bidang Advokasi, serta Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi.
Selain merumuskan kebijakan terkait ideologi Pancasila, UKP-PIP ini juga berfungsi menyusun garis-garis besar haluan ideologi Pancasila, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, serta pengendalian pembinaan secara menyeluruh, melaksanakan advokasi, pemantauan, evaluasi, dan pengusulan langkah strategi untuk memperlancar dalam hal pelaksanaan tugas pembinaan ideologi Pancasila, serta bertugas melakukan hubungan kerjasama antar lembaga.
Tupoksi UKP-PIP tersebut sebenarnya telah tercakup pada tupoksi- tupoksi lembaga negara lain, seperti tugas untuk memastikan kinerja aparatur negara yang mana telah menjadi tugas dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), maupun tugas pengkajian dan pemantauan atas peraturan daerah yang juga telah menjadi tupoksi dari Kementerian Dalam Negeri.
Terjadinya tupoksi yang saling tumpang tindih ini menyebabkan diperlukannya revitalisasi dan penyempurnaan UKP-PIP dari segi tugas, fungsi, maupun organisasi. Maka melalui pertimbangan tersebut, Presiden Joko Widodo membuat kebijakan baru yaitu melahirkan sebuah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang disahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018, yang mengakibatkan Peerpres UKP-PIP dinyatakan batal.
Tugas maupun fungsi lembaga ini masih sama seperti pada saat menjadi lembaga UKP-PIP, yaitu memiliki tugas membantu Presiden dalam hal perumusan arah serta kebijakan dalam pembinaan ideologi Pancasila yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Hanya saja, struktur organisasi dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini agak sedikit berbeda yaitu pada Dewan Pengarah UKP- PIP menjadi Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan UKP-
PIP merupakan bagian pelengkap dibawah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Pembentukan badan ini pun menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, dimana berdasarkan hasil pada survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 terhadap 12.056 responden di 181 kabupaten dan kota, pada 33 provinsi di seluruh Indonesia, menyatakan bahwa 79,26% masyarakat menyatakan bahwa Pancasila penting untuk dipertahankan. Kemudian dalam pertanyaan selanjutnya, 89% masyarakat berpendapat bahwa berbagai permasalahan bangsa, menurut mereka seperti tawuran antar pelajar, konflik antara kelompok masyarakat, antar umat beragama dan etnis karena kurangnya pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari- hari. Pertanyaan selanjutnya siapa yang berhak memberi edukasi dan sosialisasi, 30% berpendapat melalui pendidikan, 19% responden mengatakan melalui contoh nyata yang dilakukan pejabat negara, 14% melalui contoh nyata dari para tokoh masyarakat, 13% melalui penataran, 12% melalui media massa dan 10% melalui ceramah keagamaan. Sedangkan pertanyaan terakhir siapa yang seharusnya melaksanakan edukasi, 43% responden menjawab sebaiknya dilakukan oleh guru, 28% oleh tokoh masyarakat, 20% diantaranya menjawab melalui badan khusus yang dibentuk oleh pemerintah, dan 3% oleh
elite politik (Ruslan Burhani, diakses dari
https://www.antaranews.com/berita/261323/pidato-presiden-saat-peringatan- hari-lahir-pancasila pada 21 November 2019).
Survei di atas menunjukan sebagian besar responden memahami pentingnya pancasila namun yang seharusnya melaksanakan edukasi 43%
responden menjawab sebaiknya dilakukan oleh guru sementara yang menghendaki pembentukan badan khusus hanya 20%.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA juga tengah menyebutkan terdapat penurunan pro Pancasila selama 13 tahun terakhir sebanyak 10%.
Survei yang dilakukan pada 28 Juni-5 Juli 2018 dengan 1.200 responden yang diambil secara acak di 34 provinsi dengan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioer, menyebutkan ditahun 2018 sebanyak 75,3% publik
yang pro terhadap Pancasila, yang mana di tahun 2005 angkanya mencapai 85,2%. Kemudian 2010, angkanya menurun menjadi 81,7%. Setelah itu di tahun 2015 angkanya kembali turun menjadi 79,4%. Penurunan ini terjadi pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah dengan penghasilan antara Rp.1.000.0000 – Rp.2.000.000. Selain itu, penurunan juga terjadi pada umumnya terhadap warga beragama Islam, yang mana ditahun 2005 sebanyak 85,6% warga pro Pancasila, sedangkan tahun 2018 menurun 11,6% menjadi 74%. Sementara untuk agama lainnya cukup stabil yaitu 81,7% di tahun 2005, dan 82,8% ditahun 2018 (Sakina Rakhma Diah Setiawan, diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2018/07/17/15580981/survei-dalam-13- tahun-persentase-publik-pro-pancasila-terus-menurun pada 31 Maret 2019)
Disisi lain adanya pemahaman-pemahaman radikal seperti terorisme dianggap menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI sehingga diperlukan penguatan nilai-nilai Pancasila bagi masyarakat. Berdasarkan hasil temuan survei Nasional yang dilakukan SMRC (Saiful Mujani research and consulting) pada bulan Desember 2015 mengatakan bahwa isu terorisme makin marak diakhir tahun 2015, sejak dikabarkan tertangkapnya tersangka teroris yang berencana melakukan sejumlah teror seiring dengan berbagai peristiwa perayaan akhir tahun. Bahkan di awal Januari terjadi peledakan bom di Jalan Thamrin Jakarta yang menimbulkan korban jiwa, dan secara global berbagai peristiwa teror akhir-akhir ini dikaitkan dengan kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) sebagai pelaku utamanya.
Selain itu, mengapa Pancasila tidak diamalkan melalui pendorongan- pendorongan Badan maupun Kementerian yang sudah ada, guna mengefesiensi dan mengefektifkan pengamalan nila-nilai Pancasila itu sendiri melalui cara seperti merumuskan dan menjalankan edukasi nila-nilai, yang dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan, kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, kepemudaan, olahraga, pramuka, serta seni dan budaya. Hal ini akan lebih jelas efek yang dirasakan bagi masyarakat. Dimana hal ini kemudian dinilai sangat efektif dibanding membuat sebuah badan baru yang
belum diketahui seberapa jauh kah badan tersebut dapat menyentuh lapisan masyarakat.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa serta merupakan dasar negara Republik Indonesia merupakan hasil internalisasi pemikiran para tokoh pendiri bangsa yang sudah tidak dapat diubah lagi, yang mana telah termuat nilai-nilai dasar yang bersifat fundamental, sistematis, dan holistik, mengandung arti dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan yang harus berdasarkan kepada nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, yang mana telah sesuai dengan kebhinekaragaman Bangsa Indonesia dan seharusnya telah dimiliki oleh seluruh Bangsa Indonesia.
Berdasarkan perbedaan-perbedaan pemikiran dalam masyarakat mengenai pro dan kontra dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, maka masyarakat perlu mengetahui pertimbangan-pertimbangan apa yang menjadi alasan mendasar atau politik hukum dari sebuah kebijakan yang melahirkan seebuah peraturan presiden di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP.
Menurut Bryan A. Garner politik hukum adalah suatu cabang ilmu yang berkenaan dengan pengkajian mengenai prinsip-prinsip dan tindakan pemerintah (Bryan A. Garner, 1999:1179). Sedangkan menurut Padmo Wahjono politik hukum adalah kebijaksanaan dasar dari penyelenggara Negara yang menentukan bentuk, isi, maupun arah-arah dari hukum yang akan dibentuk dan tentang apa yang dijadikan krieria untuk menghukum atau membuat norma pada sesuatu (ius contituendum) (Padmo Wahjono, 1985:8).
Hal ini selaras dengan teori hukum murni (pure yuridis theoritis), yang mana politik hukum adalah satu disiplin ilmu yang membahas perbuatan aparat yang berwenang dengan memilih beberapa alternatif yang tersedia untuk memproduksi atau melahirkan suatu produk hukum guna mewujudkan tujuan Negara.
Tentu kajian ini sangat menarik untuk penulis bahas mengenai politik hukum. Sebab suatu mekaniseme pembentukan peraturan perundang- undangan salah satunya dibentuk melalui politik hukum yang dikehendaki para penguasa. Politik hukum dapat dijabarkan sebagai kehendak atau kemauan Negara terhadap hukum. Hukum mana yang akan dipertahankan, hukum mana yang akan diganti, hukum mana yang akan direvisi atau hukum mana yang akan dihilangkan. Hal ini tentu bertujuan untuk membangun hukum nasional di Indonesia yang lebih baik sesuai dengan tujuan Negara.
Dimana politik hukum tersebut akan melihat situasi dari masa lalu melalui pendekatan secara historis, dengan komparasi atau perbandingan kondisi di masa sekarang, dan akan merumuskan apa yang akan menjadi kebutuhan di masa depan. Penulis akan jabarkan melalui sejarah dari pengamalan Pancasila, yang mana memuat aspek filosofis, aspek yuridis, dan aspek sosiologis yang akan penulis kaji dalam penulisan ilmiah ini, serta penulis akan jabarkan pula mengenai implikasi atas perubahan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila menjadi Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Berdasarkan uraian yang telah penulis jabarkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai politik hukum terbentuknnya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang selanjutnya disingkat BPIP beserta implikasi dari perubahan UKP-PIP menjadi BPIP yang dituangkan dalam suatu tulisan berjudul “Politik Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila”.
B. Rumusan Masalah
Berdasar dari apa yang penulis jabarkan dalam latar belakang di atas, maka penulis kemukakan permasalahan yang hendak penulis bahas dalam penelitian ini antaralain :
1. Bagaimanakah politik hukum dalam pembentukan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila?
2. Bagaimanakah implikasi terhadap perubahan Unit Kerja Presiden- Pembentukan Ideologi Pancasila menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila?
C. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Di dalam penelitian hukum, memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi dan data sebagai pemecahan masalah atas isu hukum yang timbul dan diharapkan dapat memberikan efek serta manfaat bagi para pihak.
Dalam penelitian ini, penulis memiliki tujuan objektif dan tujuan subjektif. Dimana tujuan objektif merupakan harapan penulis atas pemecahan masalah dari penelitian yang akan penulis bahas. Sedangkan tujuan subjektif bersumber dari dalam diri penulis, apa yang hendak ingin dicapai oleh penulis, guna mencapai kebutuhan perorangan.
Maka berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas, penulis memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui politik hukum dalam pembentukan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
b. Untuk mengetahui implikasi terhadap perubahan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden- Pembentukan Ideologi Pancasila yang diubah menjadi
Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
2. Tujuan Subyektif
a. Sebagai syarat dalam menyelesaikan studi akademis agar dapat memperoleh gelar Strata I di bidang Hukum di Universitas Sebelas Maret
b. Untuk menambah, dan memperluas wawasan penulis mengenai arti pentingnya ilmu hukum dalam bidang Hukum Tata Negara khususnya Politik Hukum dalam pembentukan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, beserta implikasi perubahannya.
c. Untuk memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian dan penulisan Hukum diharapkan memberi manfaat bagi para pihak baik penulis maupun masyarakat luas. Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat secara teoritis maupun secara praktis. Manfaat secara teoritis dan praktis tersebut sebagai berikut :
1. Manfaat Teoretis
a. Dalam penelitian hukum ini penulis berharap dapat memberikan sumbangsih berupa sumbangan pemikiran terhadap perkembangan ilmu dalam bidang ilmu Hukum khususnya Hukum Tata Negara.
b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memperkaya referensi dalam bidang karya ilmiah dan dapat menjadi bahan masukan maupun acuan bagi penelitian-penelitian di masa yang akan datang.
c. Penulisan ini pada akhirnya di harapkan dapat dipakai sebagai dasar acuan atau refrensi bagi penelitian sejenisnya untuk tahap selanjutnya
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan tambahan atau masukan dari permasalahan yang diteliti serta dapat mengembangkan penalaran diri penulis dalam mengasah kemampuan yang telah didapat dalam masa studinya di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
b. Memberikan tambahan serta masukan ilmu pengetahuan bagi masyarakat dan pihak yang terkait dengan masalah yang diteliti, serta bagi setiap pihak yang membutuhkan pengetahuan terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini.
E. Metode Penelian
Penulisan hukum adalah aktivitas yang dilakukan guna bertujuan memecahkan isu hukum yang tengah dihadapi, sehingga diperlukannya kemampuan dalam mengklasifikasikan masalah hukum, melakukan penalaran hukum, menganalisis masalah, dan memberikan pemecahan atas permasalahan tersebut (Peter Mahmud Marzuki, 2014:60).
Metode penelitian ini berguna sebagai pedoman dalam menyusun sebuah penelitian dengan berdasar pada metode-metode yang sistematis demi mencapai sebuah analisa yang substantif yang untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai pemecahan atas permasalahan yang timbul.
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penulisan hukumnya adalah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam menyusun penulisan hukum ini adalah penelitian hukum normatif atau biasa disebut dengan penelitian hukum doctrinal yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka dan data sekunder
yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan non hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014:55-56).
Pada penelitian ini penulis meneliti aturan regulasi, pada perundang-undangan apakah telah sesuai dengan isu hukum yang menjadi fokus dari penelitian yang diharapkan dapat memberi jawaban serta solusi dari permasalahan.
2. Sifat Penelitian
Adapun sifat penelitian yang akan diteliti dalam penulisan hukum ini bersifat Preskriptif yakni mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, dan norma-norma hukum dan memiliki tujuan memberikan preskripsi mengenai apa yang harus dilakukan. Ilmu hukum itu bersifat preskriptif bukan deskriptif (Peter Mahmud Marzuki, 2014:59).
3. Pendekatan Penelitian
Terdapat beberapa pendekatan penelitian diantaranya pendekatan undang-undang (statue approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabanya (Peter Mahmud Marzuki, 2014:133).
Pada penelitian ini Penulis menggunakan pedekatan undang-undang (statue approach) dengan cara menelaah undang – undang atau peraturan yang berkaitan dengan isi yang dihadapi, serta melalui pendekatan historis (historical approach) untuk menjawab perkembangan politik hukum di Indonesia.
4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum
Terdapat dua macam sumber penelitian hukum yang pertama sumber penelitian berupa bahan-bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang bersifat autoriratif, atau mempunyai otoritas yang terdiri dari perundang-undangan, catatan resmi, atau
risalah dalam pembuatan undang-undang dan putusan akhir.
Kedua, bahan hukum sekunder yang berupa publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal- jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan (Peter Mahmud Marzuki, 2014:181).
Penulis menggunakan sumber hukum yang dibutuhkan dalam melakukan penulisan hukum ini sebagai berikut :
a. Bahan Hukum Primer
Yaitu bahan hukum yang bersifat autoriratif atau mempunyi otoritas. Bahan hukum primer di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 3. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017
Tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila
b. Bahan Hukum Sekunder
Yaitu bahan yang berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen resmi. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, jurnal-jurnal, surat kabar, majalah, makalah, internet dan dokumen-dokumen terkait, dalam penelitian ini dapat membantu penulis dalam menyusun penulisan hukum yang memiliki korelasi utuk mendukunng penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah dengan melakukan studi kepustakaan yang mana dari kepustakaan mendapatkan landasan teori dengan mengkaji,
mempelajari, dan memberi catatan terhadap buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen, laporan, arsip, dan hasil penelitian lainnya berhubungan dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2014:237).
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Penulis menggunakan teknik analisis hukum yang bersifat deduksi. Penggunaan metode deduksi yang berpangkal dari pengajuan premis mayor kemudian diajukan premis minor, dan dari kedua premis tersebut ditarik suatu kesimpulan. Philipus M.
Hadjon mengatakan bahwa didalam logika silogistik untuk penalaran hukum yang merupakan premis mayor adalah aturan hukum, dan premis minornya adalah fakta hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 89-90).
F. Sistematika Penulisan Hukum
Sistematika penulisan hukum merupakan suatu arahan yang bertujuan memberikan gambaran secara keseluruhan tentang apa yang hendak dibahas dan dirumuskan dalam penulisan yang mana sesuai dengan aturan dan kaidah penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan hukum (skripsi) terdiri dari 4 (empat) bab yang setiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimasud untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian.
Sistematika penulisan hukum sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan menguraikan dan mepaparkan apa yang menjadi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan hukum.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini memuat sub bab yakni kerangka teori yang berisi tentang kajian pustaka serta teori yang berkaitan dengan apa yang akan penulis teliti, dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka
teori penulis menguraikan tentang Politik Hukum, Kelembagaan Negara, serta Tinjauan Tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Kerangka pemikiran, penulis sajikan berupa bagan yang dapat mempermudah pemahaman.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini merupakan hasil atau jawaban dari apa yang penulis teliti yang merupakan uraian-uraian pembahasan dari pokok permasalahan yang telah penulis rumuskan pada rumusan masalah yakni terdiri dari sub bab pertama menguraikan logika politik hukum mengenai berdirinya BPIP dan sub bab kedua menguraikan implikasi atas pergantian UKP-PIP menjadi BPIP.
Penulis berharap dalam bab ini dapat menjawab dari apa yang dirumuskan oleh penulis dan dapat memberikan solusi dari permasalahan.
BAB I : PENUTUP
Pada bab ini penulis akan sampaika kesimpulan dari apa yang penulis uraikan dalam pembahasan juga penulis akan memberikan sumbangsih masukan maupun saran terhadap para pihak yang terkait dalam penulisan hukum ini demi menuai manfaat agar menjadi bahan pertimbangan.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN