• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penutupan dan/atau Penggabungan SMK Swasta Kecil dalam Program Revitalisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Penutupan dan/atau Penggabungan SMK Swasta Kecil dalam Program Revitalisasi"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

Penutupan dan/atau Penggabungan SMK Swasta Kecil dalam Program

Revitalisasi

(2)
(3)

PENGGABUNGAN SMK SWASTA KECIL DALAM PROGRAM REVITALISASI

PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

2020

(4)

Penulis :

Widodo (Kontibutor Utama) Sudiyono (Kontributor Anggota)

Asri Ika Dwi Martini (Kontributor Anggota) ISBN: 978-602-0792-69-9

Penyunting:

Dr. Daryanto, M.T.

Winci Firdaus, M.Hum.

Lisna Sulinar Sari, S.Kom Tata Letak:

Fadhilah Darma Sulistyo Desain Cover:

Genardi Atmadiredja Sumber Cover:

freepik.com Penerbit:

Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Redaksi:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung E Lantai 19 Jalan Jenderal Sudirman-Senayan, Jakarta 10270

Telp. +6221-5736365 Faks. +6221-5741664

Website: https://puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id Email: [email protected]

Cetakan pertama, 2020 PERNYATAAN HAK CIPTA

© Puslitjakdikbud/Copyright@2020 Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

(5)

K ATA SAMBUTAN

P

enataan kelembagaan dalam arti penutupuan dan/atau penggabungan terhadap SMK-SMK kecil harus dilakukan, sebab SMK tersebut akan mengalami kendala di dalam pembiayaannya dan akan berdampak pada peningkatan mutu. Masih banyak SMK swasta yang termasuk SMK kecil dengan peserta didik kurang dari 100; jumlahnya mencapai 3.951 sekolah di seluruh Indoneisa dengan jumlah peserta didik 211.109.

Keberadaan SMK swasta kecil perlu dikaji untuk menemukan upaya peningkatan mutunya, sehingga peningkatan mutu dapat terjadi dan tetap terjamin. Buku dengan judul “Penutupan dan/atau Penggabungan SMK Swasta Kecil dan Revitalisasi” merupakan hasil kajian Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan di dalam pengambilan kebijakan, terutama di dalam revitalisasi pada aspek Pengelolaan dan Penataan Kelembagaan.

Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada tim peneliti dan semua pihak yang telah berpartisipasi secara maksimal, semoga hasil ini bermanfaat bagi kemajuan di dunia pendidikan , khususnya dalam penataan SMK swasta .

Jakarta, Agustus 2020  plt. Kepala Pusat Irsyad Zamjani, Ph.D.

(6)
(7)

K ATA PENGANTAR

D

engan menyebut nama Allah kami ucapkan untuk mengawali pe nulisan buku ini dan dengan mengucapakan Alham- dulillahirabbil Alamin untuk mengakhiri penulisan buku ini.

Buku telah ditulis oleh tim melalui proses yang berulang, dan yang terakhir telah melalui proses revisi oleh ahlinya. Pada kesempatan ini izinkan kami mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr. Daryanto, M.T yang telah membantu untuk merivisi buku ini. Ucapan terimaksih juga kami tujukan kepada bapak Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd. yang telah memberikan bimbingan dan pengawasan kepada kami di dalam penulisan buku ini.

Buku ini masih jauh dari kata sempurna untuk disebut Karya Tulis Ilmiah. Kami telah berupaya agar buku dapat dipahami oleh para pembaca secara mudah. Namun, karena keterbatasan kemampuan kami, barangkali di antara para pembaca masih harus mengeluarkan energi untuk memahami kata perkata dari kami. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Tidak lupa kami ucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kajian, mulai dari penyusunan proposal hingga tersusunnya buku ini. Semua ini merupakan upaya kita untuk meng- ikhtiarkan diri di dalam pendidikan, terutama di dalam penataan

(8)

kelembagaan SMK. Semoga ikhtiar bapak/ibu/sdr menjadi amal baik kita dalam pendidikan.

Jakarta, Agustus 2020  Penulis

(9)

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ...iii KATA PENGANTAR ...v BAB I

PERMASALAHAN YANG TERJADI DI SMK SWASTA KECIL

A. SMK Swasta Kecil Kekurangan Peserta Didik ...2 B. SMKS Kecil Kekurangan Guru Produktif

dan Kurang Dalam Teaching Factory ...3 C. SMK Swasta Kecil Tidak Menjadi Target

dan Sasaran Program Revitaliasasi ...4 D. Peran Masyarakat dalam Pendirian SMKS

Belum Optimal ...6 E. SMKS Kecil Mengalami Kesulitan Biaya

untuk Peningkatan Mutu ...10 F. Perhatian Masyarakat Terhadap Mutu SMKS

Masih Kurang ...11 G. Konklusi Permasalahan dan Pemecahan Masah

di SMK Kecil ...12 H. Sistematika Penulisan ...13

(10)

BAB II

PENATAAN KELEMBAGAAN SMKS

A. Penataan Kelembagaan di Dalam Program

Revitalisasi SMK...17

B. Penataan Melalui Penggabungan Kompetensi Keahlian ...20

C. Penataan Berdasarkan Sedikitnya Jumlah Peserta Didik ...25

D. Peningkatan Mutu SMKS ...27

1. Peningkatan Mutu dan Pembiayaan ...27

2. Fakta Tentang Upaya Peningkatan Mutu SMKS ...33

3. Guru Produktif di SMKS ...39

4. Penerimaan Peserta Didik Baru dan Mutu SMKS ...40

5. Teaching Factory di SMKS Kecil ...42

E. Kerangka Berpikir ...44

F. Metode Kajian ...45

BAB III PENUTUPAN DAN/ATAU PENGGABUNGAN SMKS KECIL BERDASARKAN DATA A. Jumlah SMKS Kecil di Pulau Jawa ...47

1. Provinsi Jawa Timur ...47

2. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ...50

3. Provinsi Jawa Tengah ...50

4. Provinsi Jawa Barat ...53

5. Provinsi DKI Jakarta ...54

6. Provinsi Banten ...55

B. Mutu Lulusan Berdasarkan Hasil UN ...57

1. Data Gabungan dari Enam Provinsi di Pulau Jawa ...57

2. Provinsi Jawa Timur ...62

3. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta...64

4. Provinsi Jawa Tengah ...68

5. Provinsi Jawa Barat ...72

(11)

6. Provinsi DKI Jakarta ...74

7. Provinsi Banten ...78

C. Guru Produktif di SMKS Kecil ...81

D. Pendapat Pakar, Praktisi dan Pengelola SMK dalam FGD ....82

1. Penutupan dan/atau Penggabungan SMKS Kecil...82

2. Peningkatan Mutu dan Kompetensi ...86

BAB IV PELAKSANAAN PENUTUPAN DAN/ATAU PENGGABUNGAN SERTA PENINGKATAN MUTU SMKS KECIL A. Penutupan dan/atau Pengabungan SMKS Kecil ...91

1. Penutupan dan/atau Penggabungan SMKS dengan Jumlah Peserta Didik < 100 ...93

2. Penutupan dan/atau Penggabungan SMKS dengan Jumlah Peserta Didik < 60 ...93

3. Penutupan dan/atau Penggabungan SMKS dengan Jumlah Peserta Didik < 45 ...95

B. Strategi Penutupan dan/atau Penggabungan SMKS ...96

C. Teknis Penutupan dan /atau Penggabungan SMKS ...102

D. Alternatif Penataan Kelembagaan SMKS Kecil ...104

E. Peningkatan Mutu SMKS Kecil ...105

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN A. Simpulan ...107

1. Penataan Kelembagaan SMKS ...107

2. Peningkatan Mutu SMKS ...109

B. Rekomendasi Kebijakan ...111

1. Penataan Kelembagaan SMKS ...111

2. Peningkatan Mutu SMKS ...112

(12)

Daftar Pustaka ...115 Pustaka yang Bersumber dari Jurnal: ...115 Pustaka yang Bersumber dari Buku,

Thesis/Desertasi, dan Makalah: ...116 Pustaka yang Bersumber dari Undang-undang

dan Permendikbud: ...117 Pustaka yang Bersumber dari Berita

dan Dokumen di Internet: ...118 DAFTAR INDEKS ...121

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pengelompokan Jumlah Sekolah, Rombel

dan Peserta didik SMKS ...10 Tabel 2 Jumlah Sekolah dan Peserta didik Berdasarkan

Akreditasi SMK ...11 Tabel 3 Kompetensi Keahlian (KK) yang Agak Selaras dengan

Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan

mencapai 50-60 persen) ...21 Tabel 4 Kompetensi Keahlian (KK) yang Sangat Kurang Selaras

dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai < 50 Persen) ...21 Tabel 5 Kompetensi Keahlian (KK) yang Sangat Selaras

dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai 100 persen) ...22 Tabel 6 Kompetensi Keahlian (KK) yang Selaras dengan

Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan

mencapai hampir 100 persen) ...22 Tabel 7 Persentase Kompetensi Keahlian yang

Lulusannya Bekerja...23 Tabel 8 Persentase Kompetensi Keahlian

yang Lulusannya Bekerja...24 Tabel 9 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Serta Rerata

UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil SMKS di Pulau Jawa ...58

(14)

Tabel 10 Hasil Tes Homogenitas ...58

Tabel 11 Anova Hasil UN-Kompetensi Antar Persentil di Pulau Jawa ...59

Tabel 12 Uji Homogenitas dengan Uji Tukey ...60

Tabel 13 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Serta Rerata UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil SMKS di Jawa Timur ...62

Tabel 14 Hasil Tes Homogenitas ...63

Tabel 15 Anova Hasil UN Antar Persentil di Provini Jawa Timur ....63

Tabel 16 Jumlah Sekolah dan Peserta Didik, Rerata UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil di D.I. Yogyakarta ...65

Tabel 17 Hasil Test Homogenitas ...65

Tabel 18 Anova Hasil UN Antar Persentil di D.I. Yogyakarta ...66

Tabel 19 Tes Homogenitas dengan Tukey ...67

Tabel 20 Hasil Tes Homogenitas ...68

Tabel 21 Anova Hasil UN-Kompetensi Antar Persentil di Jawa Tengah ...69

Tabel 22 Uji Homogenitas dengan Uji Tukey ...70

Tabel 23 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Rerata UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil di Jawa Tengah ...71

Tabel 24 Hasil Tes Homogenitas ...72

Tabel 25 Anova Hasil UN-Kompetensi Antar Persentil di Jawa Barat ...73

Tabel 26 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Rerata UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil di Jawa Barat ...73

Tabel 27 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Rerata UN-Kompetensi, Hasil Terendah dan Tertinggi Setiap Persentil di DKI Jakarta ...75

(15)

Tabel 28 Tes Homogenitas ...75 Tabel 29 Anova Hasil UN-Kompetensi Antar Persentil

di DKI Jakarta ...76 Tabel 30 Uji Homogenitas dengan Uji Tukey ...77 Tabel 31 Jumlah Sekolah dan Peserta didik, Rerata UN-Kompetensi,

Simpangan Baku, Hasil Terendah dan Tertinggi

Setiap Persentil di Provinsi Banten ...78 Tabel 32 Hasil Tes Homogenitas ...79 Tabel 33 Anova Hasil UN-Kompetensi Antar Persentil di Banten ....79 Tabel 34 Uji Homogenitas dengan Uji Tukey ...79 Tabel 35 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumlah Peserta Didik di Provinsi Jawa Timur ...97 Tabel 36 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumlah Peserta Didik Di Provinsi Jawa Tengah...98 Tabel 37 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumlah Peserta Didik Di Provinsi DIY...100 Tabel 38 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumlah Peserta Didik Di Provinsi Jawa Barat ...100 Tabel 39 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumlah Peserta Didik Di Provinsi DKI Jakarta ...101 Tabel 40 Jumlah Sekolah yang Hendak Ditutup Berdasarkan

Pilihan Jumla Peserta Didik Di Provinsi Banten ...102

(16)

DAFTAR GR AFIK

Grafik 1 Persentase Sekolah dan Peserta didik SMKN dan SMKS

Tahun 2017/2018 ...9

Grafik 2 Jumlah SMKS yang Peserta Didiknya Kurang Dari 100 Orang Di Provinsi Jawa Timur Total: n=744 ...49

Grafik 3 Jumlah SMKS yang Peserta Didiknya Kurang dari 100 Orang di Provinsi DI Yogyakarta Total n:57 ...50

Grafik 4 Jumlah SMKS yang Peserta Didiknya Kurang Dari 100 Orang Di Provinsi Jawa Tengah Total n: 344 ...52

Grafik 5 Jumlah SMKS yang Peserta Didiknya Kurang Dari 100 Orang Di Provinsi Jawa Barat Total n:737 ...54

Grafik 6 Jumlah SMKS Yang Peserta Didiknya Kurang Dari 100 Orang Di Provinsi DKI Jakarta. Total n: 104 ...55

Grafik 7 Jumlah SMKS yang Peserta didiknya Kurang Dari 100 Orang di Provinsi Banten. Total n= 177 ...56

Grafik 8 Hasil Ujian Nasional Kompetensi SMK Tahun 2017/2018 ...61

Grafik 9 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi Jawa Timur ...64

Grafik 10 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi DI. Yogyakarta ...68

Grafik 11 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi Jawa Tengah ...72

Grafik 12 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi Jawa Barat ...74

Grafik 13 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi DKI Jakarta ...77

Grafik 14 Rerata Hasil UN-Kompetensi Provinsi Banten ...80

Grafik 15 Jumlah Guru Produktif Berdasarkan Jumlah Peserta dan Persentil UN Kompetensi SMKS di Pulau Jawa Tahun 2018 ...82

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Sasaran Revitalisasi Tahun 2017-2019 ...5 Gambar 2 Diagram Revitalisasi SMK ...20 Gambar 3 Rapor Capaian Mutu SMK 2016-2018 ...34 Gambar 4 Kerangka Berpikir Penutupan dan/atau Penggabungan

SMKS ...44

(18)
(19)

B A B I

PERMASALAHAN YANG TERJADI DI SMK SWASTA KECIL

P

emerintah Indonesia telah merencakan revitaliasasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejak tahun 2016, dengan harapan SMK dapat lebih baik memfasilitasi peserta didiknya dalam pembelajaran praktik, sehingga dihasilkan lulusan yang kompetitif sesuai dengan tututan dunia kerja dan duna usaha (DUDI). Sejak itu, Pemerintah Indonesia mulai memikirkan keberadaan dan kondisi SMK kecil yang menghadapi beberapa permasalahan terutama terkait dengan pengelolaannya, dan lebih khusus lagi terkait dengan proses belajar mengajarnya.

Sebagai sekolah kejuruan dituntut adanya pembelajaran praktik yang cukup untuk menambah pengalaman praktik peserta didiknya. Sementara di SMK kecil masih kurang dalam dalam hal pendanaan, mitra kerja, guru produktif, dan fasilitas praktik yang cukup, semuanya itu merupakan syarat terwujudnya pembelajaran praktik yang baik. Di sisi lain, SMK kecil dengan peserta didik kurang dari 100 orang banyak terjadi di SMK Swasta (SMKS).

Oleh karena itu, di dalam kajian ini akan mengupas keberadaan SMKS dengan beberapa permasalahannya, dengan harapan dapat dijadikan pertimbangan dalam menyelesaikan masalah yang ada. Beberapa permasalahan yang dihadapi SMKS kecil dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini.

(20)

A. SMK SWASTA KECIL KEKURANGAN PESERTA DIDIK Pengertian istilah “kecil” untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang peserta didiknya kurang dari 100 tidaklah teralu jelas asal muasalnya.

Namun, perlu diketahui bersama bahwa yang dimaksud Sekolah Menengah Kejurauan Swasta (SMKS) kecil di dalam kajian ini adalah SMKS yang jumlah peserta didiknya kurang dari 100. SMKS dengan jumlah peserta didik kurang dari 100 untuk selanjutnya dan seterusnya akan disebut dengan SMKS kecil di dalam penelitian ini.

Indonesia memiliki cukup banyak SMK kecil yang peserta didiknya kurang dari 100; jumlahnya mencapai 3.951 sekolah dengan jumlah peserta didik 211.109 (Dapodik, 2018). SMK kecil tersebut sering menjadi perhatian para pejabat di Direktorat Pembinaan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) dan juga oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) semasa kepemimpinan Anies Baswedan dan Muhadjir Effendi.

Perhatian tersebut tentu saja dalam rangka peningkatan mutu; yaitu dengan melakukan penutupan dan/atau penggabungan satu atau beberapa SMK menjadi satu. Dengan penutupan dan/atau penggabungan tersebut diharapkan pengelolaan SMK kecil menjadi lebih baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai kebutuhan lapangan kerja.

Permasalahan tentang sedikitnya jumlah peserta didik sepertinya tampak remeh dan kecil, bahkan bagi sebagian SMK menganggap bahwa peserta didik yang sedikit justru memudahkan di dalam pemberian layanan kepada peserta didik, terutama dalam proses belajar mengajar. Namun, perlu disadari bahwa peserta didik yang terlalu sedikit menyebabkan pengelolaan sekolah menjadi tidak efektif, sebab dana yang dikelola tidak mencukupi kebutuhan untuk operasional sekolah. Sebagai akibat dari kurangnya dana operasional, banyak guru terutama guru produktif yang tidak memberikan pelajaran praktik secara memadai, program teaching factory tidak dilaksanakan, pengalaman praktik lapangan (PPL) dilakukan seadanya karena tidak adanya Mitra Keja yang kredibel yang bersedia bekerja sama, bahkan banyak guru produktif di SMK kecil yang mengundurkan diri karena

(21)

sedikitnya penghasilan yang mereka terima. Dampak lebih lanjut adalah rendahnya mutu lulusan, terutama keterampilan peserta didik dalam praktik.

Pemecahan masalah yang efektif terkait dengan sedikitnya jumlah peserta didik adalah menambah jumlah peserta didik. Namun, untuk meningkatkan jumlah peserta didik juga tidak mudah, dikarenakan minat masyarakat terhadap SMK tersebut telah menurun. Oleh karena itu, tidak salah jika ada wacana melakukan penutupan dan/atau penggabungan terhadap satu atau beberapa SMK kecil.

B. SMKS KECIL KEKURANGAN GURU PRODUKTIF DAN KURANG DALAM TEACHING FACTORY

Berdasarkan data Kemendikbud pada akhir tahun 2019, SMK di Indonesia kekurangan guru produktif sekitar 91 ribu guru. Kekurangan tersebut disebabkan oleh pembangunan SMK yang tidak dibarengi dengan penyiapan guru produktif. (https://www.msn.com/id-id/berita/other/

kebutuhan-guru-produktif-smk-mendesak-p4tk-bakal-direvitalisasi/ar- BB15hLJz). Pemenuhan guru produktif tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan harus efektif dan efisien. Regulasi yang ada sebelumnya dapat dijadikan acuan, jika regulasi tersebut menjadi kendala, maka harus direvisi. Kendala bisa terjadi dalam hal pendanaan ataupun aturan birokrasi di instansi terkait (Sujadi, I. dkk., 2016). Jika secara nasional masih banyak SMK yang kekurangan guru produktif, tentu demikian juga untuk SMKS kecil. Kesulitan SMKS lebih kepada pembayaran gaji dan sulitnya mencari Mitra untuk pelaksanaan praktik.

Pemenuhan kebutuhan guru produktif di SMKS sebenarnya lebih fleksibel terkait dengan penganggarannya, segala ketentuan yang berkaitan dengan pengadaan guru produktif di SMKN dapat dilakukan pula oleh SMKS. Dalam program keahlian ganda, guru tetap yayasan dapat dijadikan sebagai guru produktif. Demikian halnya untuk program guru tamu, program Rekognisi Pembelajaran Lampau/Recognation Prior Learning (RPL) juga bisa dilakukan oleh SMK Swasta, hanya diperlukan perjanjian

(22)

kesepahaman/MoU yang disepakati antara Yayasan dengan instansi terkait maupun dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Namun, bagi SMKS kecil yang notabene membiayai dirinya dengan mengandalkan sumbangan dari iuran siswa, akan kesulitan untuk mengadakan guru produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Sujadi, I. dkk. (2016) bahwa SMKS kecil yang dananya terbatas akan mengalami kesulitan, jika dibandingkan dengan SMKS yang jumlah peserta didik banyak.

Pemenuhan kekurangan guru seharusnya tidak lagi sekedar memenuhi jumlah kekurangan guru, seperti data yang dilansir Unesco (2015) yang menyebutkan bahwa di banyak negara, termasuk Indonesia, pemerintahnya masih terfokus pada pemenuhan jumlah guru. Seringkali kualitas guru yang ada belum baik, dan belum banyak upaya untuk meningkatkan kualitas guru tersebut. Perekrutan guru baru pun belum menempatkan kualitas sebagai acuan utama.

Dalam program revitalisasi SMK salah satu satu program yang diterapkan adalah pembelajaran dengan metode teaching factory (Tefa).

Pembelajaran Tefa dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan kompetensi yang sesuai dengan DUDI dan membangun karakter kewirausahaan dengan melibatkan DUDI sebagai mitra utama. Beberapa SMK telah sukses melaksanakan pembelajaran Tefa, namun ada juga SMK yang telah mencoba namun berhenti di jalan. SMKS kecil sangat sulit untuk memenuhi pembelajaran dengan metode Tefa ini, sebab di dalam pembelajaran Tefa perlu adanya DUDI sebagai mitra, dan perlu pengorbanan yang besar bagi calon Mitra atau DUDI untuk membantu melaksanakan pembelajaran Tefa di SMKS kecil.

C. SMK SWASTA KECIL TIDAK MENJADI TARGET DAN SASARAN PROGRAM REVITALIASASI

Revitalisasi SMK telah dimulai sejak tahun 2016 melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Pendidikan Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya

(23)

Manusia Indonesia. Di dalam Inpres tersebut Kemendikbud mempunyai tugas sebagai berikut: 1) membuat peta jalan pengembangan SMK; 2) menyem purnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK agar sesuai dengan kebutuhan pengguna lulusan (link and match); 3) meningkatkan jumlah dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan SMK; 4) meningkatkan kerja sama dengan kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah, dan dunia DUDI; 5) meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK;

dan 6) membentuk kelompok kerja pengembangan SMK (Desliana Maulipaksi, 2016).

Sasaran dan arah kebijakan revitalisasi SMK terus meningkat setiap tahunnya; untuk pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan ditargetkan mencapai 219 SMK pada tahun 2017, 350 SMK untuk tahun 2018, dan 1650 SMK untuk tahun 2019.

(lihat Gambar 1)

Gambar 1 Sasaran Revitalisasi Tahun 2017-2019 Sumber: Ditjen GTK, Kemendikbud 2018.

(24)

Sasaran dan arah kebijakan revitalisasi SMK di atas tidak akan menyasar kepada SMKS kecil yang jumlah peserta didiknya kurang dari 100 orang, jika ingin menjadi target dan sasaran di dalam program tersebut maka SMKS tersebut harus digabung dengan SMKS lainnya. Peningkatan mutu dalam rangka revitalisasi SMK hanya akan fokus kepada SMKS besar yang jumlah peserta didiknya banyak dan sangat potensial untuk dikembangkan. Selain itu, program revitalisasi tidak akan mampu menargetkan keseluruhan SMKS sebagai sasaran karena terbatasnya dana. Berdasarkan grafik di atas Pemerintah hanya menargetkan 1.650 SMK sampai dengan tahun 2019, sementara jumlah SMKS kecil dengan peserta didik kurang 100 orang mencapai 2.163 SMKS khusus di Pulau Jawa saja, dan secara nasional mencapai 3.951 SMKS. Dengan kondisi tersebut, kecil kemungkinannya SMKS kecil akan menjadi sasaran dan target di dalam program revitalisasi.

Untuk itu, perlu dipikirkan upaya lain selain peningakatan mutu melalui revitaliasi; diantaranya adalah penataan kelembagaan berupa penutupan dan/atau penggabungan terhadap SMKS kecil.

D. PERAN MASYARAKAT DALAM PENDIRIAN SMKS BELUM OPTIMAL

Peran masyarakat dalam pendidikan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 8 dan 9 yang menyatakan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program kerja pendidikan serta berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Sada (2017) dalam hasil kajiannya menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan masyarakat.

Diharapkan adanya peran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan anak baik langsung atau tidak langsung. Pelaksanaan pendidikan akan berdampak kepada masyarakat dan terdapat korelasi positif yang timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Semakin baik pendidikan diselenggarakan maka akan semakin berkualitas masyarakat yang ada.

(25)

Begitu juga sebaliknya, semakin berkualitasnya masyarakat akan semakin baik dan berkualitas pendidikan yang diselenggarakan. Oleh karena itu, pendidikan kemasyarakatan harus mendapat perhatian yang serius dalam sistem penyelenggaraan pendidikan.

Partisipasi masyarakat masih sangat terbatas terutama dalam tindakan nyata untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Partisipasi tersebut dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, spontanitas maupun terorganisir, dilakukan secara kontinyu maupun sesaat sesuai dengan peluang dan kesempatan yang ada. Pembangunan yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaanya dianggap seringkali tidak menyentuh kebutuhan masyarakat, karena masyarakat adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan mereka serta mengerti cara bagaimana mengatasi permasalahan mereka (Heningtyas et al., 2014).

Hasil penelitian Heningtyas et al.(2014) menggambarkan peran masyarakat di dalam pendidikan nonformal. Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitiannya dia menyimpulkan bahwa pengadaan kegiatan pendidikan nonformal cenderung lebih diadakan oleh masyarakat dengan dukungan dari Pemerintah. Penelitian yang dilakukannya menyoroti peran Pemerintah dan masyarakat dalam upaya pengembangan pendidikan nonformal di Kampung Inggris, Kabupaten Kediri. Faktanya masyarakat lebih berperan aktif dalam pelaksanaan penyediaan pelayanan pendidikan di Kampung Inggris. Selain itu masyarakat juga memfasilitasi para pendatang dengan menyediakan berbagai kebutuhan; hal ini sekaligus menjadikan peluang usaha bagi masyarakat sekitar yang dapat mening- katkan taraf ekonominya. Peran Pemerintah hanyalah mendukung dan mendorong atas upaya yang telah dilaksanakan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat dalam pendirian SMK harus dipandang sebagai peran masyarakat dalam membantu Pemerintah untuk menyediakan layanan pendidikan, dan perlu kerja sama antara masyarakat dan Pemerintah. Oleh karena itu, kerja sama tersebut hendaknya menciptakan suatu kondisi timbal balik yang lebih baik atas dasar kesamaan kedudukan

(26)

(equal status) dan dilandasi oleh jiwa pengabdian dan perolehan manfaat bersama (mutual benefit oriented). Secara sepintas terlihat adanya peran yang masih banyak belum dilakukan secara optimal, yang kemungkinan besar dikarenakan kurangnya informasi mengenai apa yang harus mereka perankan dan tata cara berperan. Selain itu juga dikarenakan kurang minat masyarakat akan bentuk-bentuk partisipasi, dan kurangnya kesadaran sebagian masyarakat akan hak dan tanggung jawabnya dalam pendidikan.

Berbeda dengan kondisi di Taiwan; Jamaludin, J. (2017) menjelaskan bahwa lembaga  pendidikan swasta di Taiwan sangat proaktif; lembaga pendidikan swasta merupakan kekuatan penting dalam pem- bangunan pendidikan vokasi di Taiwan, dan kehadiran mereka melebihi dari lembaga-lembaga publik. Terdapat 63,58% siswa senior yang bersekolah di kejuruan dalam pendaftaran siswa tahun akademik 2011; dan pada tahun yang sama siswa yang mendaftar di perguruan tinggi Junior (Diploma) sangat mengejutkan yaitu berjumlah 80,67%. Lembaga swasta di Taiwan memiliki hubungan dekat dengan industri dan perusahaan, dan hubungan mereka memungkinkan kompetensi yang yang erat antara  pendidikan vokasi dan kebutuhan pasar. https://www.kompasiana.com/

jajajamaludin/588013915-0f9fd0c1c7bd60b/peta-jalan-revitalisasi- pendidikan-vokasi?page=all

Peran masyarakat Indonesia dalam mendirikan SMKS sangat mendukung target pencapaian program Pemerintah, terutama di dalam program Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun. SMKS telah dibangun oleh masyarakat mendampingi keberadaan SMK Negeri (SMKN) di Indonesia yang jumlahnya mencapai ribuan dengan peserta didik mencapai jutaan (lihat Grafik 1).

(27)

Sumber: Data Dapodik SMK 2018 (http://portal.ditpsmk.net/datapokok) Grafik 1

Persentase Sekolah dan Peserta didik SMKN dan SMKS Tahun 2017/2018 Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah SMKS yang dibangun oleh masyarakat telah mencapai 74,78 persen atau 10.632 sekolah dengan jumlah peserta didik mencapai 56,24 persen atau 2.823.737 orang pada tahun 2017/2018. Jumlah tersebut jika dibandingkan dengan SMKN yang mencapai 25,22 persen atau 3.586 sekolah dengan peserta didik 47,76 persen atau 2.197.144 orang, sepertinya SMKS lebih unggul dibandingkan SMKN. Namun, sesungguhnya SMKN lebih unggul dari SMKS, sebab ada selisih persentase jumlah sekolah tidak sebanding dengan persentase jumlah peserta didik. Selisih persentase jumlah SMKS dengan SMKN mencapai 49,56 persen (74,78 - 25,22), sedangkan persentase jumlah peserta didiknya hanya mencapai 8,48 persen (56,24 - 47,76). Artinya, penambahan jumlah SMKS tidak diringi dengan jumlah peserta didik. Dari data di atas dapat dilihat adanya peran masyarakat yang belum optimal di dalam pendirian SMKS; sekolah yang mereka bangun belum digunakan secara optimal dan terjadi pelambatan jumlah peserta didik.

(28)

E. SMKS KECIL MENGALAMI KESULITAN BIAYA UNTUK PENINGKATAN MUTU

Permasalahan utama yang dihadapi SMKS adalah ketika jumlah peserta didik terlalu kecil. Dalam kondisi seperti ini, iuran bulanan peserta didik tidak lagi mencukupi untuk pelaksanaan pendidikan sesuai standar, Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang diperolehnya juga sedikit dan peningkatan mutu menjadi terhambat oleh ketersediaan biaya. Dari data pokok pendidikan (Dapodik) 2018 terlihat masih banyak SMKS yang memiliki peserta kurang dari 100 orang (lihat Tabel 1).

Tabel 1

Pengelompokan Jumlah Sekolah, Rombel dan Peserta didik SMKS KELOMPOK/

JUMLAH PESERTA DIDIK

JUMLAH

ROMBEL JUMLAH

SEKOLAH JUMLAH

PESERTA DIDIK

<100 15.921 3.951 211.109

101-200 20.677 2.432 348.119

201-600 55,477 3.015 1.024.142

601-999 37.092 782 599.072

>=1000 63.735 452 641.295

Total 192.902 10.632 2.823.737

Sumber: Data Dapodik SMK 2018 (http://portal.ditpsmk.net/datapokok)

Dari Tabel 1 di atas terdapat data yang patut untuk dicermati, yaitu sekolah dengan jumlah siswa kurang dari 100 orang. Sekolah kelompok ini jumlahnya paling banyak, yaitu mencapai 3.951 sekolah dan jumlah peseta didiknya paling sedikit, yaitu hanya 211.109. Jika di rata-rata satu sekolah hanya memiliki peserta didik 53.43 dibulatkan mejadi 53 orang. Pihak penyelenggara akan mengalami kesulitan dalam pengelolaan dana dengan peserta didik yang hanya 53 orang untuk satu sekolah. Dengan jumlah siswa yang hanya sedikit tersebut maka dana bantuan BOS dan sumbangan SPP dari peserta didik juga sedikit.

(29)

Kondisi seperti di atas tidak dapat dibiarkan begitu saja, sebab peserta didik akan kehilangan haknya untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang bermutu. Perlu adanya campur tangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk melakukan pembenahan.

Pembenahan yang efektif untuk dilakukan adalah penataan kelembagaan, yaitu manata lembaga melalui penggabungan per bidang keahlian sampai dengan penggabungan per sekolah.

F. PERHATIAN MASYARAKAT TERHADAP MUTU SMKS MASIH KURANG

Kepedulian masyarakat tentang mutu perlu dibangkitkan; menurut data pada Tabel 1.2 terlihat adanya sebagian masyarakat Indonesia yang tidak begitu mempermasalahkan mutu. Mereka abai terhadap mutu ketika ingin memasuki sebuah SMK; entah karena keterpakasaan atau karena ada alasan lain. Berdasarkan data pada Tabel 2, masih banyak peserta didik yang bersekolah di SMKN maupun SMKS dengan status ‘Tidak Terakreditasi”.

Tabel 2

Jumlah Sekolah dan Peserta didik Berdasarkan Akreditasi SMK

No AKREDITASI JML SMK TOTAL SMK

JML PESERTA DIDIK TOTAL PESERTA

DIDIK NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA

1 AKREDITASI A 657 1.344 2.001 745.699 745.290 1.490.989

2 AKREDITASI B 499 2.339 2.838 245.717 571.740 817.457

3 AKREDITASI C 142 682 824 30.558 103.873 134.431

4 BELUM TERAKREDITASI

11 53 64 2.212 4.571 6.783

5 TIDAK

TERAKREDITASI 2,277 6.`214 8.491 1.172.958 1.398.263 2.571.221

TOTAL 3.586 10.632 14.218 2.197.144 2.823.737 5.020.881

Sumber: Data Dapodik SMK 2018 (http://portal.ditpsmk.net/datapokok)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa SMK dengan status “tidak terakreditasi” atau sudah diakreditasi, namun nilainya rendah masih cukup

(30)

banyak jumlahnya; SMKN mencapai 2.277 sekolah dan SMKS mencapai 6.214 sekolah. Peserta didik yang bersekolah di SMK tersebut jumlahnya juga paling banyak; SMKN mencapai 1.172.958 peserta didik dan SMKS mencapai 1.398.263 orang. Selain itu, masih ada SMK yang dalam status terakreditasi C yang jumlahnya mencapai 142 SMKN dan 682 untuk SMKS.

Banyaknya peserta didik yang bersekolah di SMKS dengan tingkat akreditasi rendah, menuntut keterlibatan Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan mutu. SMK ini harus ditingkatkan mutunya agar peserta didik mendapatkan pendidikan yang memenuhi standar nasional pendidikan (SNP). Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2013 (UU SPN No 20/2003) pasal 5 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, dan pasal 11 ayat (1) yang menyatakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

G. KONKLUSI PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASAH DI SMK KECIL

Dari penjelasan terdahulu tentang permasalahan yang dihadapi oleh SMKS kecil dapat disimpulkan bahwa ada tujuh permasalahan utama dalam penyelenggaraannya, antara lain: 1) kekurangan peserta didik; 2) tidak memiliki guru produktif; 3) tidak menerapkan Tefa; 4) tidak menjadi target dan sasaran program revitaliasasi SMK; 5) kurangnya peran masyarakat; 6) mengalami kesulitan biaya untuk peningkatan mutu; dan 7) perhatian masyarakat terhadap mutu SMKS masih kurang. Namun demikan, tidak semua permasalahan tersebut dapat diangkat menjadi masalah yang dapat dipecahkan dalam buku ini. Mengangkat suatu permasalahan menjadi suatu masalah merupakan hal yang tidak mudah, perlu pertimbangan yang cermat sehingga masalah yang ada dapat dipecahkan dengan tuntas. Ketujuh permasalahan di atas yang akan diangkat menjadi permasalahan dalam

(31)

kajian ini adalah: 1) jumlah peserta didik; 2) hasil UN-Kompetensi; 3) jumlah guru produktif; dan 4) peningkatan mutu. Dengan terpecahkannya empat masalah tersebut diharapakan dapat menjawab masalah utama yang terjadi di SMK kecil terkait dengan rencana revitalisasi terutama terkait dengan penataan kelembagaan.

Pemerintah harus mengambil langkah kebijakan terkait dengan permasalahan yang ada di SMK kecil. Apapun langkah yang akan ditempuh, muaranya adalah peningkatan mutu. Pemerintah telah mengambil keputusan untuk meningkatakan mutu melalui program revitalisasi, yang salah satunya melalui penutupan dan/atau penggabungan terhadap satu atau beberapa SMK yang peserta didiknya kurang dari 100 orang. Namun Pemerintah tidak dapat melakukan penutupan dan/atau penggabungan dengan segera karena terkendala oleh peraturan yang tidak mensyaratkan jumlah minimal peserta didik. Diperlukan alasan yang logis dan ilmiah sehingga penutupan dan/atau penggabungan dapat dilakukan.

Untuk mencari alasan yang logis tersebut dirumuskan pertanyaan sebagai berikut: 1) Berapa SMKS yang peserta didiknya kurang dari 100? 2) Berapa perbedaan hasil UN-Kompetensi berdasarkan jumlah peserta didik?

3) Berapa jumlah guru produktif di SMKS berdasarkan jumlah peserta didik?

4) Seperti apa peningkatan mutu dilakukan di SMKS kecil?

Dengan pertanyaan di atas dapat dirumuskan tujuan dari dari penulisan buku ini, yaitu: Menemukan alasan yang kuat untuk menutup dan/atau menggabungkan SMKS kecil, dengan cara menemukan: 1) SMKS yang jumlah peserta didiknya kurang dari 100 orang; 2) perbedaan nilai UN- Kompetensi peserta didik SMKS berdasarkan jumlah peserta; 3) jumlah guru produktif di SMKS berdasarkan jumlah peserta didik; dan 4) upaya peningkatan mutu di SMKS kecil.

H. SISTEMATIKA PENULISAN

Di dalam BAB I, pembaca akan diajak memahami permasalahan yang ada dan dihadapi sehari-hari oleh SMKS kecil. Pada penghujung BAB I

(32)

pembaca akan menemukan konklusi atas permasalahan yang ada. Di dalam konklusi tersebut, selain simpulan permasalahan yang dihadapi SMKS kecil, juga berisi tentang pertanyaan dan tujuan kajian yang hendak dipecahkan dan dicapai di dalam kajian ini.

Pada BAB II, diuraikan penjelasan teoretik tentang penataan kelembagaan SMKS, termasuk di dalamnya tentang penataan di dalam program revitalisasi SMK, penataan melalui penggabungan kompetensi keahlian, penataan berdasarkan sedikitnya jumlah peserta didik. Pada akhir bab ini pembaca akan disuguhi kerangka teoretik pemecahan masalah terkait dengan penataan SMKS. Selain itu, pada BAB II juga dijelaskan tentang cara atau metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut. Pada bagian ini pembaca akan menemukan cara penentuan sampel untuk data kuantitatif dan beberapa sumber data untuk mendapatkan data kualitatif. Selain itu juga dijelaskan kelemahan dari penelitian ini, yaitu tidak adanya narasumber pada setiap lokasi penelitian.

BAB III, menyajikan dan menjelaskan deskripsi data kuantitatif dan data kualitatif beserta pembahasannya, yang diawali dengan data gabungan dari seluruh provinsi di Pulau Jawa, baru kemudian data setiap provinsi.

Provinsi yang terlibat sebagai sampel meliputi enam provinsi yaitu Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Permasalahan hanya dibatasi pada permasalahan yang ada di Pulau Jawa, di mana terdapat 2.163 SMKS dengan peserta didik kurang dari 100 orang.

BAB IV, menyajikan pelaksanaan penutupan dan/atau penggabungan SMKS kecil berdasarkan data yang ada, dan pembaca akan melihat adanya kecenderungan pencapaian prestasi yang rendah bagi peserta didik yang berada di SMKS kecil. Dari data yang ada tersebut untuk selanjutnya dibuat alternatif pilihan untuk penutupan dan/atau penggabungan. Selain penutupan dan/atau penggabungan juga dijelaskan tentang bentuk-bentuk peningkatan mutu yang ada.

BAB V, merupakan bagian akhir di dalam buku ini; pada bagian ini pembaca akan menemukan simpulan tentang penataan melalui penutupan

(33)

dan/atau penggabungan SMKS kecil berdasarkan data yang ada, dan peningkatan mutu yang akan dilakukan. Akhir dari buku ini penulis merekomendasikan untuk melakukan penutupan dan/atau penggabungan SMKS kecil dengan jumlah peserta didik kurang dari 45 sebagai prioritas pertama, baru kemudian SMK dengan peserta didik kurang dari 60 sebagai prioritas berikutnya.

(34)
(35)

B A B I I

PENATAAN KELEMBAGAAN SMKS

A. PENATAAN KELEMBAGAAN DI DALAM PROGRAM REVITALISASI SMK

P

emerintah akan menempuh kebijakan menutup dan/atau mengga- bungkan SMK yang memiliki peserta didik kurang dari 100 orang, termasuk di antaranya SMKS. Upaya ini untuk mewujudkan manajemen pengelolaan yang efisien, sehingga pembelajaranpun dapat dipertahankan mutunya. Hal ini sesuai dengan tujuan program revitalisasi SMK, yaitu untuk peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan sejalan dengan program Presiden tahun 2019, yakni fokus pada pembangunan sumber daya manusia (Intan Yunelia, 2019a). Di sisi lain Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud mengakui bahwa Pemerintah memiliki keterbatasan untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi rakyatnya. Untuk itu, diperlukan peran swasta agar dapat ikut serta dalam mengembangkan pendidikan demi perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Namun, jika peran swasta tersebut mengalami penurunan, tentu Pemerintah juga harus bertindak.

Penutupan dan/atau penggabungan satu atau beberapa SMKS menjadi salah satu strategi dalam merevitalisasi SMK, harapannya dapat menata SMKS kecil. Namun demikian, Pemerintah Pusat tidak dapat terjun langsung menutup SMKS kecil tersebut, dan intervensi hanya dapat

(36)

dilakukan dengan cara sekedar memberikan rambu-rambu. Demikian dituliskan oleh Mutiul Alim di dalam laporannya (2019). Selain itu, penutupan dan/atau penggabungan beberapa SMK tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung sekaligus, melainkan butuh waktu satu hingga dua tahun.

Khurniawan, A.W. dan Erda, G. (2019) menjelaskan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan, organisasi atau manajemen lainnya yang dulunya pernah vital hidup namun setelahnya mengalami kemunduran dan degradasi, yang prosesnya mencakup perbaikan aspek fisik dan aspek ekonomi, baik dari segi bangunan maupun manajemen. Penataan di dalam kajian ini dapat diartikan sebagai proses menata kembali keadaan fisik, termasuk di dalamnya jumlah peserta didik agar jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang, sehingga pengelolaan manajemen dapat berlangsung secara efisien. Penataan aspek fisik ini merupakan strategi jangka pendek dengan maksud agar dapat mendorong terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi jangka panjang.

Khurniawan, A.W. dan Erda, G. (2019) lebih lanjut menjelaskan bahwa sesuai Inpres, revitalisasi SMK dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1) mewujudkan Link and Match sekolah dengan Dunia Usaha/Industri (DUDI); 2) mengubah paradigma dari push menjadi pull, yaitu dari mendorong untuk mencetak lulusan tanpa memperhatikan kebutuhan pasar kerja berganti menjadi menarik sesuai dengan pasar kerja yang ada, dengan kurikulum yang selaras dengan kurikulum industri; 3) mengubah pembelajaran dari supply driven ke demand driven; 4) menyiapkan lulusan SMK untuk dapat beradaptasi dengan perubahan dunia dan menjadi lulusan yang dapat bekerja, melanjutkan, dan berwirausaha; serta 5) mengurangi/

menghilangkan kesenjangan antara pendidikan kejuruan dengan kebutuhan DUDI baik dari aspek teknologi, administratif, maupun kompetensi.

Sandra Desi (2018) menuliskan, mulai tahun ajaran baru 2018 Pemerintah menerapkan regulasi baru dengan pembatasan pagu (daya tampung) sesuai jumlah rombel (rombongan belajar). Aturan ini

(37)

diberlakukan pada SMK akreditasi A dengan jumlah peserta didik lebih dari seribu pada setiap angkatan. Untuk SMK yang masuk kriteria ini, pendaftar yang diterima harus dipangkas menjadi 872 peserta didik atau hanya 24 rombel. Setiap rombel masing-masing terdapat 36 peserta didik. Di Kota Malang, sekolah yang kemungkinan besar terdampak adalah SMKN 4, SMKN 6, dan SMK PGRI 3, sebab di sekolah tersebut setiap angkatan jumlahnya lebih dari seribu. Penurunan rombel ini diarahkan untuk membuat mutu sekolah lebih baik; demikian menurut Kepala Bidang Pembinaan SMK Provinsi Jawa Timur. Penurunan pagu ini bisa menjadi peluang bagi SMKS untuk bersaing mendapatkan peserta didik, sebab peserta didik yang tertampung di SMKN sudah berkurang. Pembatasan tersebut bisa memangkas jumlah guru honorer dengan memangkas jam mengajar mereka.

SMK sebagai sebuah lembaga vokasi sudah seharusnya mampu mengantarkan peserta didiknya untuk memiliki keterampilan dalam bekerja, sehingga menjadi masyarakat yang berpenghasilan. Namun, dengan kondisi SMKS sebagaimana telah dijelaskan di atas, masih sulit rasanya bagi SMKS untuk mewujudkannya. Fakta menunjukan masih banyak pengangguran yang berasal dari lulusan SMK; angkanya mencapai 1.731.743 atau 24,74 persen dari 7.000.691 pengangguran di Indonesia pada bulan Agustus 2018. Namun demikian, angka tersebut sudah turun dibandingkan dengan lulusan SMA yang mencapai 1.930.320 atau 27,57 persen dari 1.930.320 pengangguran di Indonesia (BPS, 2019 update terakhir 23 Januari 2019). Meskipun angka tersebut berasal dari SMK secara keseluruhan, namun andil SMKS dapat dipastikan cukup besar, sebab kondisi SMKS secara umum lebih rendah dari SMKN.

Pengembangan SMK melalui program revitalisasi sebagaimana yang dinyatakan dalam Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2017 s.d. 2019 di- aktualisasikan dalam strategi implementasi revitalisasi yang meliputi: 1) pengembangan dan penyelarasan kurikulum; 2) standardisasi sarana dan prasarana utama; 3) pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan

(38)

tendik; 4) inovasi pembelajaran; 5) perluasan kerjasama dengan DUDI, dan 6) pengelolaan dan penataan kelembagaan (lihat Gambar 2). Pada kajian ini akan mengambil salah satu aspek di dalam revitalisasi, yaitu “pengelolaan dan penataan. Harapannya, hasil kajian ini akan menjadi masukan bagi para penentu kebijakan di dalam penataan kelembagaan.

Gambar 2 Diagram Revitalisasi SMK

Sumber: Diadaptasi dari Ditjen GKT, Kemendikbud 2018.

B. PENATAAN MELALUI PENGGABUNGAN KOMPETENSI KEAHLIAN

Penataan dapat dilakukan melalui penggabungan pada bidang keahlian. Hasil kajian pada tahun 2017 oleh Puslitjakdikbud telah menemukan beberapa bidang keahlian dan kompetensi keahlian (KK) yang dinyatakan ‘kurang selaras’ dengan kebutuhan dunia kerja karena tingkat keterserapannya oleh pasar kerja sangat rendah, yaitu kurang dari 50 persen. Selain itu, ada beberapa KK yang lulusannya

‘agak selaras‘ dengan kebutuhan dunia kerja; KK ini keterserapannya di dunia kerja mencapai 50—60 persen. Hasil dari analisis keterserapan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

(39)

Tabel 3

Kompetensi Keahlian (KK) yang Agak Selaras dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai 50-60 persen)

Bidang Keahlian Kompetensi Keahlian

• Kemaritiman • Pelayaran

• Teknologi & Produksi Perikanan Budidaya

• Teknologi dan

Rekayasa • Teknik Industri

• Geomatika

• Teknik Telekomunikasi

• Teknik Broadcasting

• Teknik Komputer & Informatika

• Teknik Grafika

• Pariwisata • Tata Boga

• Tata Busana

• Tata Kecantikan

• Bisnis dan manajemen • Administrasi

Sumber: Kajian Isu Aktual Puslitjakdikbud 2017 Tabel 4

Kompetensi Keahlian (KK) yang Sangat Kurang Selaras dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai < 50 Persen)

Bidang Keahlian Kompetensi Keahlian

• Kemaritiman • Teknologi Penangkapan Ikan

• Teknologi dan Rekayasa • Teknologi Tekstil

• Agribisnis dan Agroteknologi • Kesehatan Hewan

• Seni dan Kerajinan • Seni Musik Sumber: Kajian Isu Aktual Puslitjakdikbud 2017

Kompetensi keahlian yang sangat selaras dan selaras dengan dunia kerja berdasarkan laporan penelitian Puslitjakdikbud ditampilkan pada Tabel 5 dan 6 berikut.

(40)

Tabel 5

Kompetensi Keahlian (KK) yang Sangat Selaras dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai 100 persen)

Bidang Keahlian Kompetensi Keahlian

• Teknologi dan Rekayasa • Teknik Plambing & Sanitasi

• Agribisnis dan

Agroteknologi • Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian

& Perikanan

• Seni dan Kerajinan • Seni Karawitan

• Seni Teater

Sumber: Tim Kajian Isu Aktual Pendidikan Vokasi. 2017 Tabel 6

Kompetensi Keahlian (KK) yang Selaras dengan Kebutuhan Pasar Kerja (Keterserapan lulusan mencapai hampir 100 persen)

Bidang Keahlian Kompetensi Keahlian

• Teknologi dan Rekayasa • Teknik perkapalan

• Teknik Industri

• Teknik Ketenagalistrikan

• Teknik Mesin

• Teknik Perminyakan

• Seni dan Kerajinan • Desain & Produksi Kriya Sumber: Tim Kajian Isu Aktual Pendidikan Vokasi. 2017

Revitalisasi dalam bentuk penataan melalui penutupan dan/atau penggabungan juga dapat mempertimbangkan dari segi keterserapan lulusan dalam dunia kerja. Hasil penelitian Puslitjak telah membuat tabel yang berisi kompetensi keahlian dan keterserapan kompetensi keahlian tersebut di dunia kerja. Hasil tersebut seperti yang disajikan pada Tabel 7 dan 8 berikut.

(41)

Tabel 7

Persentase Kompetensi Keahlian yang Lulusannya Bekerja

Kompetensi Keahlian Bekerja %

11111 SMK/MAK - Teknik Kimia 66

11301 SMK/MAK – Kefarmasian 66

11603 SMK/MAK - Tata Niaga 64

11802 SMK/MAK - Seni Rupa 64

11602 SMK/MAK – Keuangan 62

11201 SMK/MAK - Teknik Broadcasting 60

11501 SMK/MAK – Pelayaran 60

11701 SMK/MAK - Tata Boga 60

11702 SMK/MAK - Tata Busana 59

11102 SMK/MAK – Geomatika 57

11203 SMK/MAK - Teknik Telekomunikasi 57

11601 SMK/MAK – Administrasi 56

11202 SMK/MAK - Teknik Komputer & Informatika 53

11703 SMK/MAK - Tata Kecantikan 51

11107 SMK/MAK - Teknik Grafika 50

11503 SMK/MAK - Teknologi & Produksi Perikanan

Budidaya 50

11502 SMK/MAK - Teknologi Penangkapan Ikan 46

11902 SMK/MAK - Seni Musik 43

11118 SMK/MAK - Teknologi Tekstil 40

11119 SMK/MAK - Teknologi Tekstil 39

11405 SMK/MAK - Kesehatan Hewan 33

*Rerata bekerja: 68% dari seluruh lulusan Sumber: Tim Kajian Isu Aktual Pendidikan Vokasi. 2017.

(42)

Tabel 8

Persentase Kompetensi Keahlian yang Lulusannya Bekerja

Kompetensi Keahlian Bekerja %

11116 SMK/MAK - Teknik Plambing & Sanitasi 100 11403 SMK/MAK - Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian &

Perikanan 100

11901 SMK/MAK - Seni Karawitan 100

11905 SMK/MAK - Seni Teater 100

11114 SMK/MAK - Teknik Perkapalan 95

11108 SMK/MAK - Teknik Industri 87

11110 SMK/MAK - Teknik Ketenagalistrikan 85

11112 SMK/MAK - Teknik Mesin 84

11115 SMK/MAK - Teknik Perminyakan 81

11801 SMK/MAK - Desain & Produksi Kriya 81

11103 SMK/MAK - Teknik Bangunan 79

11104 SMK/MAK - Teknik Elektronika 79

11109 SMK/MAK - Teknik Instrumentasi Industri 77 11401 SMK/MAK - Agribisnis Produksi Tanaman 77

11904 SMK/MAK - Seni Tari 77

11303 SMK/MAK - Pekerjaan Sosial 76

11406 SMK/MAK - Mekanisasi Pertanian 76

11101 SMK/MAK - Geologi Pertambangan 75

11106 SMK/MAK - Teknik Furnitur 75

11113 SMK/MAK - Teknik Otomotif 74

11402 SMK/MAK - Agribisnis Produksi Ternak 74 11105 SMK/MAK - Teknik Energi Terbarukan 73 11117 SMK/MAK - Teknologi Pesawat Udara 72

11404 SMK/MAK – Kehutanan 70

Sumber: Tim Kajian Isu Aktual Pendidikan Vokasi. 2017.

(43)

C. PENATAAN BERDASARKAN SEDIKITNYA JUMLAH PESERTA DIDIK

Penutupan dan/atau penggabungan SMK selain dapat dilakukan berdasarkan kompetensi keahlian seperti di atas, juga dapat dilakukan berdasarkan sedikitnya jumlah peserta didik. Pemerintah telah meren- canakan untuk menutup SMK yang jumlah peserta didiknya kurang dari 100 orang. Namun, rencana tersebut belum juga dilakukan hingga saat ini dan jumah peserta didik yang menjadi syarat penutupan telah berubah menjadi 60 peserta didik. SMK yang memiliki peserta didik kurang dari 60 orang akan ditutup, dengan alasan bahwa SMK tersebut akan mengalami kesulitan dalam pengelolaannya (Syaifullah Muh., 2019). Rencana tersebut juga belum dilaksanakan hingga akhir tahun 2019. Ada keragu-raguan bagi Pemerintah untuk melakukan penutupan dan/atau penggabungan. Keragu- raguan tersebut cukup beralasan sebab Pemerintah tidak memiliki dasar hukum berupa peraturan yang mensyaratkan jumlah minimal peserta didik di sebuah SMK atau SMKS.

Beberapa peraturan yang terkait dengan jumlah peserta didik tidak menjelaskan syarat minimal jumlah peserta didik. Permendikbud RI No.

22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah mensyaratkan jumlah rombongan belajar sebanyak 3-72 dan jumlah maksimal peserta didik per rombongan belajar 36, namun dalam peraturan tersebut tidak menyebutkan tentang jumlah minimal peserta didik.

Permendikbud RI No. 25 tahun 2018 tentang Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Pendidikan dan Kebudayaan pasal 8 ayat (7) huruf a, menjelaskan bahwa di dalam pendirian SMK harus memenuhi komitmen berupa menyelenggarakan paling sedikit 1 (satu) program keahlian dengan paling sedikit 2 (dua) kompetensi keahlian dalam 1 (satu) program keahlian sesuai dengan program dan kompetensi keahlian yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Di dalam ayat (8) dijelaskan bahwa komitmen tersebut wajib dipenuhi oleh pelaku usaha paling lama 1 (satu) tahun sejak diterimanya izin usaha. Pada peraturan ini juga tidak

(44)

menyebutkan jumlah peserta didik, melainkan syarat minimal jumlah program keahlian dan kompetensi keahlian, yaitu satu program keahlian dan dua kompetensi keahlian.

Peraturan lain yang mengatur jumlah peserta didik SMK yaitu Permendikbud No. 17 Tahun 2017 tentang PPDB; di dalam pasal 24 disebutkan bahwa jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar atau satu kelas paling sedikit 15 (lima belas) peserta didik dan paling banyak 36 (tiga puluh enam) peserta didik. Tetapi, peraturan tersebut sudah tidak berlaku lagi dan sudah diganti dengan Permendikbud RI No. 18 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Permendikbud No. 3 Tahun 2019, Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler yang diundangkan pada 28 Mei 2019 pada Bab III, poin A, huruf k. Di dalam Peraturan tersebut dijelasakan bahwa “Pemerintah Daerah dan masyarakat penyelenggara pendidikan, sesuai dengan kewenangannya harus memastikan bahwa penggabungan sekolah yang selama 3 (tiga) tahun berturut-turut memiliki peserta didik minimal 60 (enam puluh) orang. Bagi sekolah yang memiliki peserta didik kurang dari 60 orang tidak dapat menerima dana BOS Reguler sampai dengan dilaksanakannya penggabungan. Namun, Permendikbud RI No. 18 Tahun 2019 tersebut dinyatakan sudah tidak berlaku setelah keluar Permendikbud Nomor 32 Tahun 2019, Tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari semua peraturan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk melakukan penataan dalam arti penutupan dan/atau penggabungan SMKS berdasarkan sedikitnya jumlah peserta didik. Jika Mendikbud atau Dirjen PSMK hendak melakukan penutupan terhadap SMK kecil atau jumlah peserta didiknya sedikit, maka harus dicari argumen lain. Penutupan dan/atau penggabungan berdasarkan sedikitnya jumlah peserta didik juga harus cermat dan hati-hati, sebab sedikitnya peserta didik tersebut belum tentu benar secara faktual; ada SMKS yang baru berdiri dan peserta didiknya baru ada di kelas 10 saja, dan ada juga yang kompetensi

(45)

keahliannya tidak diminati oleh banyak peserta didik tetapi keberadaannya sangat diperlukan, dan ada juga karena keberadaan sekolah tersebut jauh dari perkotaan sehingga sangat dibutuhkan masyarakat (Dapodik SMK, 2018). Dalam kondisi seperti itu perlu ada kebijakan dari Pemerintah demi keberlanjutan pendidikan peserta didik SMKS.

Berdasarkan penjelasan di atas ada dua bentuk penataan yang dapat dilakukan, yaitu penataan berdasarkan kompetensi keahlian dan berdasarkan jumlah peserta didik. Di dalam penelitian ini penataan yang dimaksudkan adalah penataan jenis kedua, yaitu berdasarkan jumlah peserta didik. Meskipun penataan jenis kedua ini tidak memiliki dasar peraturan yang jelas. Kajian ini akan mencari alasan logis ditutup dan/atau digabungnya satu atau beberapa SMKS.

D. PENINGKATAN MUTU SMKS 1. Peningkatan Mutu dan Pembiayaan

Mutu adalah syarat utama bagi SMKS yang menginginkan jumlah peserta didiknya mencapai target minimal. Oleh karena itu, SMKS harus mencari biaya yang cukup sehingga mampu membiayai dirinya sendiri, mulai dari pembayaran gaji guru dan karyawan sampai dengan pembelian sarana prasarana untuk peningkatan mutu. SMKS yang gagal menjaga mutunya akan ditinggalkan masyarakat. Indriyani T. (2018) dalam hasil penelitiannya menjelaskan bahwa di Provinsi Jambi terdapat banyak SMKS yang seharusnya mengutamakan mutu pendidikan. Namun, dari data yang diperoleh dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), terlihat bahwa belum semua SMKS di Provinsi Jambi memperoleh nilai akreditasi yang baik. Dari empat SMKS yang menjadi lokasi penelitian hanya tiga SMKS yang mendapat nilai baik atau mendapat kategori “A”, yaitu SMKS Yadika dengan nilai akreditasi 95, SMKS Attaufiq dengan nilai akreditasi 90, dan SMKS Dharma Bhakti 4 dengan nilai akreditasi 86. Dengan asumsi bahwa SMKS yang mendapatkan akreditasi “A” tersebut mempunyai

(46)

mutu yang tinggi, dan mempunyai karakteristik sekolah unggulan atau sekolah efektif yang mampu bersaing di masyarakat Jambi. Lebih lanjut Indriyani T. (2018) menjelaskan bahwa keberhasilan SMKS bersaing dengan SMKN dikarenakan telah mengimplementasikan manajemen pengem- bangan mutu; ada muatan agama yang diberikan dan kerja sama tim yang solid serta bertanggung jawab. Selain itu, manajemennya juga tertata dalam setiap hal, SDM handal, hubungan yang baik dengan lingkungan kerja, kebijakan-kebijakan yang matang, menjalankan tanggung jawab dan wewenang dengan baik, tanggung jawab manajemen, penetapan standar kerja, dan pendidikannya berbasis keunggulan lokal dan global.

Untuk mencapai SMK yang bermutu, Arikunto, S., (2013) menjelaskan bahwa sekolah kejuruan perlu memenuhi kondisi sebagai berikut:

a. Tersedia lingkungan belajar yang sesuai dengan lingkungan, di mana mereka kelak akan bekerja.

b. Diberikan tugas-tugas dalam latihan yang memiliki kesamaan operasional, dengan peralatan yang sama dan dengan mesin-mesin yang sama dengan yang akan dipergunakan di dalam kerjanya kelak.

c. Latihan diberikan secara langsung dan spesifik di dalam pemikiran, perhatian, minat dan integensi intrinsik dengan kemungkinan pengembangan terbesar (dengan memberikan kondisi yang menunjang pengembangan agar potensi yang ada dapat meng- aktual)

d. Sejak latihan sudah dibiasakan dengan perilaku yang akan ditunjukkan dalam pekerjaannya kelak.

e. Pemberian latihan kejuruan yang efektif untuk semua profesi, perdagangan, pekerjaan, hanya dapat diberikan kepada kelompok terpilih yang memang memerlukan, menginginkan, dan sanggup memanfaatkannya.

f. Pemberian latihan yang berupa pengalaman khusus dapat terwujud dalam kebiasaankebiasaan yang benar dalam melakukan dan

(47)

berpikir, secara berulang-ulang, hingga diperoleh penguasaan yang tepat guna dipekerjaannya.

g. Guru harus berpengalaman dan menerapkan kemampuan dan keterampilannya di dalam mengajar.

h. Harus mengenal kondisi kerja dan memenuhi harapan “pasar”

i. Materi pendidikan yang diberikan harus erat hubungannya dengan pekerjaan

j. Administrasi pada pendidikan kejuruan harus bersifat fleksibel.

Upaya peningkatan mutu SMK tidak terlepas dari pembiayan dan sumber dana, meskipun hal itu tidak berlaku mutlak. Masih ada bentuk peningkatan yang dapat dilakukan tanpa pembiayaan dan sumber dana, misalkan membangun watak dan kepribadian peserta didik. Permendikbud nomor 34 tahun 2018 lampiran VIII menjelaskan bahwa biaya pendidikan meliputi biaya personal, biaya investasi, dan biaya operasi. Biaya Personal adalah biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya Investasi SMK/MAK adalah biaya yang dikeluarkan oleh penyelenggara pendidikan untuk pengadaan sarana dan prasarana, pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan, dan modal kerja tetap.

Komponen biaya operasi meliputi biaya operasi personalia dan biaya operasi nonpersonalia. Komponen biaya operasi personalia meliputi gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. Komponen biaya operasi nonpersonalia meliputi biaya pengadaan alat tulis, bahan dan alat habis pakai kegiatan belajar mengajar teori dan praktikum, daya, air, jasa telekomunikasi, konsumsi, biaya pemeliharaan dan perbaikan ringan sarana dan prasarana, biaya lembur, biaya transportasi, pajak, biaya asuransi, biaya kegiatan pembinaan peserta didik/ekstra kurikuler, biaya uji kompetensi/sertifikasi kompetensi, biaya praktik kerja/

magang industri, biaya bengkel kerja berbasis industri, serta biaya perencanaan dan pelaporan. Besaran biaya operasi nonpersonalia pada SMK/MAK dapat berbeda sesuai kebutuhan setiap kompetensi keahlian

(48)

dan besaranannya disesuaikan setiap tahun dengan mempertimbangkan tingkat inflasi dan fluktuasi nilai tukar untuk komponen impor dengan menggunakan nilai tukar valuta asing dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun berjalan. Standar biaya operasi nonpersonalia untuk masing-masing daerah disesuaikan dengan Indeks Biaya Pendidikan (Permendikbud nomor 34 tahun 2018 lampiran VIII).

Standar biaya operasi digunakan sebagai acuan bagi satuan pendidikan kejuruan, penyelenggara pendidikan kejuruan, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dalam penganggaran dan pengendalian biaya investasi dan biaya operasi. Ketentuan pemenuhan pembiayaan adalah sebagai berikut:

a. Biaya investasi mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan besarnya biaya investasi dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan kementerian terkait.

b. Biaya operasi personalia ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.

c. Biaya operasi nonpersonalia ditetapkan dan dievaluasi secara periodik oleh Pemerintah Daerah.

d. Pemenuhan standar biaya operasi nonpersonalia menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat penyelenggara pendidikan sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 46 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Sumber-sumber pendapatan sekolah bisa berasal dari Pemerintah, usaha mandiri sekolah, orang tua murid/peserta didik, dunia usaha dan industri, sumber lain seperti hibah yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yayasan penyelenggara pendidikan bagi lembaga pendidikan swasta, serta masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis Martin (2014) bahwa pendidikan merupakan

(49)

tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan Pemerintah. Ketiga unsur ini saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Anggaran belanja pendidikan selain berasal dari Pemerintah juga dari orang tua peserta didik dan masyarakat umum secara perorangan maupun melalui lembaga/organisasi yang dikelola Pemerintah (sekolah negeri) maupun yang dikelola masyarakat (sekolah swasta).

Pembiayaan pendidikan secara faktual berasal sumber-sumber pendapatan sekolah seperti: 1) APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten/

Kota; 2) Orang tua murid/Komite sekolah, melalui sumbangan pelaksanaan pendidikan (SPP), bantuan pengembangan pendidikan (BPP), biaya pendaftaran murid baru, biaya ujian akhir semester, biaya ujian akhir sekolah, iuran ekstrakurikuler, iuran perpustakaan, dan bantuan-bantuan lain yang ditentukan sekolah; 3) Yayasan penyelenggara berupa biaya operasional sekolah dan biaya pengembangan sekolah; 4) Donatur yang berasal dari: bantuan sukarela masyarakat umum secara insidental dan rutin serta bantuan alumni, 5) Hasil usaha sekolah berupa kantin sekolah, koperasi sekolah, unit usaha sekolah, dan penyewaan gedung dan fasilitas milik sekolah; 6) Lain-lain: bunga tabungan sekolah dan sesuai dengan kebijakan dan ketentuan sekolah masing-masing.

Penelitian Togatorop, M. (2017) dengan metode survei terhadap 63 kepala sekolah di Tangerang melalui kuesioner, menemukan adanya pengaruh langsung secara positif antara biaya pendidikan dengan kualitas sekolah. Implikasi dari penelitian tersebut adalah perlunya meningkatkan kualitas sekolah dengan menambah melalui biaya pendidikan.

Penelitian dilakukan Baker (2012), dengan judul: Does Money Matter In Education? Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pembiayaan dapat mempengaruhi mutu sekolah yang akan berdampak pada perubahan dalam hasil atau prestasi peserta didik. Penelitian di atas juga disebutkan bahwa uang bukanlah yang paling mendasar untuk perbaikan sekolah, melainkan dapat merangsang perbaikan pendanaan secara lebih baik setelah mengalami kegagalan.

(50)

Penelitian Hendajany, N. (2016) mengukur efektivitas sekolah negeri dan swasta dengan menggunakan hasil evaluasi belajar tahap akhir (ebtanas) SMP. Penelitian ini menemukan bukti bahwa lulusan sekolah negeri memiliki skor yang lebih tinggi pada saat Ebtanas dengan sekolah swasta yang mengendalikan beragam karakteristik peserta didik dan latar belakang keluarga. Temuan ini kuat dalam beberapa perkiraan, yaitu Ordinary Least Square (OLS), Fixed Effect (FE), dan Instrumental Variabel (IV). Dengan menggunakan nilai Ebtanas sebagai skor standar, peserta didik sekolah negeri lebih tinggi 0,30, 0,247 dan 0,572 dari standar deviasi untuk estimasi OLS, FE dan IV. Tiga metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu OLS, FE, dan IV menunjukkan hasil yang sama yang berarti kuat untuk tiga strategi estimasi ini.

Dalam praktiknya, peserta didik yang bersekolah di sekolah negeri memiliki nilai lebih tinggi daripada yang bersekolah di sekolah swasta.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa hasil kinerja akademik untuk sekolah swasta sekuler lebih rendah daripada sekolah swasta Islam dan sekolah swasta non-Islam. Meskipun sekolah swasta non-Islam lebih tinggi dari dua sekolah swasta lainnya, namun perkiraannya tidak signifikan.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa peningkatan pengeluaran konsumsi per kapita mengurangi kemungkinan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah swasta. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh persepsi tentang sekolah negeri terhadap preferensi orang tua kaya untuk menempatkan anak-anak mereka di sekolah swasta.

Nilai Ebtanas Sekolah Dasar secara positif dan signifikan memengaruhi nilai Ebtanas Sekolah Menengah Pertama di ketiga metode analisis. Karena nilai tinggi dalam Ujian Nasional Sekolah Dasar merupakan prasyarat untuk memasuki sekolah umum, ini menunjukkan bahwa input yang lebih baik untuk sekolah umum adalah manfaat tertentu untuk pencapaian nilai akademik di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Orang tua yang memilih sekolah swasta mungkin disebabkan oleh kuota sekolah negeri yang terbatas dengan batas nilai ujian nasional sekolah dasar mereka, harapan

(51)

mendapatkan pelajaran agama tambahan, atau gagasan bahwa sekolah swasta menawarkan kualitas non-akademik khusus seperti disiplin, kenyamanan, dan jarak tempuh yang lebih terjangkau.

Dari hasil penelitian di atas menandakan bahwa ada keterkaitan antara peningkatan mutu dengan pembiayaan. Pembiayaan sampai dengan titik tertentu akan memengaruhi mutu pendidikan yang harus ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat/orang tua.

2. Fakta Tentang Upaya Peningkatan Mutu SMKS

Sebagai tindak lanjut dari Inpres Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Revitalisasi SMK, dilakukan upaya revitaliasi dengan tujuan: 1) mewujudkan link and match antara sekolah dengan dunia usaha/industri; 2) mengubah paradigma dari push menjadi pull, yaitu paradigma SMK yang dulunya hanya mendorong untuk mencetak lulusan saja tanpa memperhatikan kebutuhan pasar kerja berganti menjadi paradigma mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan pasar kerja mulai dari budaya kerja dan kompetensi yang diperlukan dalam pasar kerja dan menariknya ke dalam SMK untuk disusun kurikulum SMK yang diselaraskan dengan kurikulum industri; 3) mengubah pembelajaran dari supply driven ke demand driven; 4) menyiapkan lulusan SMK yang dapat beradaptasi terhadap perubahan dunia untuk menjadi lulusan yang dapat bekerja, melanjutkan, dan berwirausaha; 5) mengurangi/menghilangkan kesenjangan antara pendidikan kejuruan dengan kebutuhan DUDI baik dari aspek teknologi, administratif, maupun kompetensi (Kemendikbud, 2017).

Guna mewujudkan revitalisasi, dibentuk 10 langkah agar SMK dapat menyediakan tenaga kerja terampil yang siap kerja di berbagai sektor ekonomi seperti pertanian, industri, pariwisata, bahkan ekonomi kreatif.

Sepuluh langkah revitalisasi tersebut adalah : 1) revitalisasi sumber daya manusia; 2) membangun SAS berbasis SIM; 3) link and match dengan industri;

4) kurikulum berbasis industry; 5) teaching factory; 6) penggunaan media video tutorial dan portofolio berbasis video e-report skill; 7) uji sertifikasi profesi;

(52)

8) pemenuhan sarana dan prasarana; 9) mengembangkan kearifan lokal; dan 10) peran SMK sebagai penggerak ekonomi lokal (Kemendikbud, 2017)

Khurniawan, A.W. dan Erda, G. (2019) dalam bukunya melaporkan bahwa telah terjadi peningkatan mutu SMK, dan peningkatan terjadi pada pemenuhan SNP untuk tiap tahunnya.

Berdasarkan Gambar 2, pencapaian standar untuk SMK mencapai 4.09 pada tahun 2016 dan 4.6 pada tahun 2017; dengan skor tersebut berarti telah mencapai level III dengan standar nilai 7 (tujuh). Artinya pemenuhan SMK terhadap 8 (delapan) SNP dapat dikatakan sudah cukup baik. Pada tahun 2018 pencapain standar untuk SMK telah mencapai kategori IV, yaitu mencapai SNP 4 (kategori baik).

Sumber: Khurniawan, A.W. dan Erda, G. 2019.

Gambar 3

Rapor Capaian Mutu SMK 2016-2018

Apriliyadi, A.(2019) menuliskan bahwa revitaliasi untuk tahun 2020—

2024 adalah revitalisasi total. Tidak hanya kompetensi keahliannya yang direvitalisasi, tetapi juga sekolahnya. Oleh sebab itu, setiap SMK calon peserta program revitalisasi diwajibkan membuat rencana induk revitaliasi (RIR) SMK, agar pelaksanaan program dapat lebih efisien dan efektif. RIR ini merupakan landasan awal untuk pedoman melaksanakan revitalisasi

Gambar

Gambar 1 Sasaran Revitalisasi Tahun 2017-2019 Sumber: Ditjen GTK, Kemendikbud 2018.
Gambar 2 Diagram Revitalisasi SMK
Tabel 14  Hasil Tes Homogenitas
Tabel 17  Hasil Test Homogenitas
+3

Referensi

Dokumen terkait