• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematik Aspek Kebahasaan Dalam Majalah Humor Sufi. Dilihat dari Aspek Semantik (Suatu Analisis Deskriptif)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Problematik Aspek Kebahasaan Dalam Majalah Humor Sufi. Dilihat dari Aspek Semantik (Suatu Analisis Deskriptif)"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Problematik Aspek Kebahasaan Dalam Majalah Humor Sufi. Dilihat dari Aspek Semantik

(Suatu Analisis Deskriptif)

P

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memeroleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

Risma Rahim I05 336 726 11

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2015

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bahasa adalah alat interaksi manusia. Bahasa disebut sebagai sistem lambang- lambang vokal yang arbitrer yang disampaikan oleh seorang penutur akan membentuk suatu informasi yang diterima oleh pendengar (lawan tutur).

Informasi yang diberikan penutur kepada lawan tutur inilah yang kemudian disebut dengan proses komunikasi. Chaer (1995:22) mendefinisikan komunikasi sebagai proses pertukaran informasi antar individual melalui sistem simbol, tanda,atau tingkah laku yang umum.

Komunikasi merupakan salah satu aspek fungsi bahasa, namun seiring dengan perkembangan zaman bahasa sebagai sarana komunikasi mengalami pergeseran fungsi dalam kehidupan manusia.Tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran informasi, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan, kritik sosial, dan hiburan.Hiburan yang berupa humormerupakan salah satu contoh ragam bahasa yang dapat menduduki fungsi-fungsi tersebut (Mulyani 2000:1).

Setiap orang pasti pernah berhumor. Ada yang berhumor karena mempunyai selera humor, ada pula yang berhumor karena dia seorang pelawak.

Komunikasi dalam humor berbentuk rangsangan yang cenderung secara spontan menimbulkan senyum dan tawa para penikmatnya. Menurut beberapa ahli, humor timbul karena dalam diri kita ada pertentangan antara rasa ingin

(3)

tahu ‘main-main’ dan ‘keseriusan’serta ‘kegembiraan yang meledak-ledak’ dan

‘kesedihan yang berlebihan’(Hakim,2002: 1).

Humor memiliki peranan yang cukup sentral dalam kehidupan manusia. Humor tidak semata-mata sebagai hiburan untuk melepaskan beban psikologis penikmatnya tetapi juga sebagai wahana kritik sosial terhadap segala bentuk ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan bentuk yang unik ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat diungkap dengan bahasa yang humoris dan berkesan santai serta menggelitik pembaca dan pendengar.

Hal itu, senada dengan pendapat Suprana via Mulyani (2000:1) yang menyebutkan bahwa humor senantiasa siap menjadi pendukung perjuangan insan untuk bertahan dalam menempuh perjungan hidup yang penuh kemelut.Humor dapat berupa humor yang berwacana tulis dan wacana lisan.

Humor yang berupa wacana tulis dapat dijumpai dalam media cetak seperti suratkabar, majalah, tabloid, dan lain sebagainya, sedangkan humor yang berupa wacana lisan dapat dijumpai dalam percakapan sehari- hari, iklan- iklan, dan berbagai tayangan komedi yang diputar oleh media elektronik, seperti radio dan televisi. Dalam penelitian ini penulis mengkaji humor berwacana tulis.

Wacana humor tidak dapat terlepas dari faktor linguistik maupun nonlinguistik. Artinya, bahwa pemakaian bahasa selalu terikat dengan situasi yang melingkupinya. Demikian halnya dengan pemakaian bahasa dalam majalah, tidak terlepas dari fungsi dan tujuan bahasa itu digunakan dalam proses komunikasi antarindividu maupun kelompok. Jadi setiap ujaran yang

(4)

dilontarkan pasti mengandung kekuatan ujar, yaitu untuk apa ujaran itu harus diujarkan.

Bertolak dari latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji dari aspekaspek kebahasaan yang dimaksudkan untuk melihat majalah humor Sufi tersebut dari aspek semantik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :Bagaimanakah problematika aspek-aspek kebahasaan majalah humor “Sufi.” dilihat dari aspek semantik?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut: “Mendeskripsikan problematika aspek-aspek kebahasaan majalah humor “Sufi.” Dilihat dari aspek semantik.”

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu :

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan dalam bidang bahasa dan berhumor.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak antara lain :

(5)

a. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini bagi pembaca diharapkan dapat menangkap dan menafsirkan maksud dan tujuan penutur, agar tidak salah tafsir atau setidak-tidaknya mendekati apa yang dimaksud oleh penutur.

b. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan.Selain itu, dengan selesainya penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia pendidikan.

c. Bagi Peneliti yang Lain

Hasil penelitian ini diharan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan peneliti untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.Di damping itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengarang atau penulis naskah humor sebagai masukan dalam menghasilkan dan mengkreasikan agar naskah-naskah humor yang disajikan lebih bervariasi.

(6)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka yang diuraiakan dalam penelitian ini pada dasarnyadijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini.

1. Pengertian Bahasa

Setiap hari masyarakat menggunakan bahasa.Apabila berbicara berarti menggunakan bahasa lisan, apabila menulis atau mengarang, menggunakan bahasa tulis (Grice, 1975: 5). Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti bahasa tulis. Ferdinand de Saussure (dalam Harras, 2009: 82) menjelaskan bahwa bahasa pada dasarnya adalah sebuah sistem tanda.Sebagai sistem tanda bahasa (makna) bersifat konvensional.

Anderson (dalam Hymes, 1985:9) mengemukakan adanya delapan prinsip (linguistik) dasar, yaitu:

a) Bahasa adalah suatu sistem;

b) Bahasa adalah vocal (bunyi ujaran);

c) Bahasa tersusun dari lambing-lambang mana suka;

d) Setiap bahasa bersifat unik; bersifat khas;

e) Bahasa adalah alat komunikasi;

f) Bahasa dibangun dari kebiasan-kebiasaan;

g) Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada;

h) Bahasa itu berubah-ubah.

(7)

M. Douglas Brown (dalam Oetomo, 1987: 9) menjelaskan, setelah menelaah batasan dari enam buah sumber, membuat rangkuman sebagai berikut:

a. Bahasa adalah sistem yang sistematis, barangkali juga generative;

b. Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka;

c. Lambang-lambang tersebut teruta sekali bersifat vocal;

d. Lambang-lambang tersebut mengandung makna-makna konvensional;

e. Bahasa dipakai sebagai komunikasi;

f. Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa;

g. Bahasa pada hakekatnya bersifat kemanusian, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia;

h. Bahasa diperoleh oleh semua bangsa/ orang dengan cara yang hamper/

tidak banyak bersama.

Jadi, bahasa adalah sistem tanda/lambing/bunyi ujaran yang bersifat khas, arbriter, dan konvensional yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya.Bahasa dibangun dari kebiasan-kebiasaanyang berhubungan dengan tempat pemakai bahasa itu sendiri.Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sara komunikasi serta sebagai sara intergrasi dan adaptasi.

(8)

2. Fungsi Bahasa

memahami pengertian bahasa, selanjutnya kita akan melihat apa fungsi bahasa, yang akan dirincikan sebagai berikut:

a) Dalam tujuan praktis, bahasa berfungsi untuk melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

b) Dalam tujuan artistik, bahasa yang diolah, dan dirangkaikan dengan indah dapat berfungsi sebagai media pemuasan rasa estetis manusia.

c) Dalam tujuan pembelajaran, bahasa merupakan media untuk mempelajari berbagai pengetahuan, baik yang berada pada lingkup bahasa itu sendiri, ataupun diluar bahasa.

d) Dalam tujuan filologis, bahasa berfungsi untuk mempelajari naskah- naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, kebudayaan dan adat-istiadat serta perkembangan bahasa itu sendiri.

e) Bahasa juga berfungsi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. Problematika

a. Pengertian Problematika

Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu

“problematic”yang artinya persoalan atau masalah.Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan;

yang menimbulkan permasalahan. (Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), HAL. 276.

(9)

Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa problema/problematika adalah suatu kesenjangan anatara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaikan atau dapat diperlukan atau dengan kata lain.

4. Wacana

Istilah wacana berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, artinya _berkata’, _berucap’. Wacana dapat disebut rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi (Sudaryanto, 1990:110).

Syamsuddin A.R.(dalam Sudaryanto, 1990: 111), menjelaskan wacana merupakan ranhkaian ujar atau tindak tutur yang mengungkapkan suatu subjek ssecara teratur (sistematis) dalamsuatu kesatuan yang koheren dan dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa. Berdasarkan perngertian tersebutdapat disimpulkanbahwa wacana adalah rekaman kebahsaan yang utuh dan koheren dari rangkaian ujar atau tindak tutur yang mengungkapkan suatu subjek teratur tentang peristiwa komunikasi.

Adapun ciri-ciri wacana adalah:

a) Satuan gramatikan;

b) Satuan terbesar, tertinggi,atau terlengkap;

c) Untaian kalimat-kalimat;

d) Memiliki hubungan proposisi;

e) Memiliki hubungan kontiunitas, berkesinambungan;

f) Memiliki hubungan koherensi;

(10)

g) Memiliki kohesi;

h) Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi;

i) Bisa transaksional dan interaksional;

j) Mediumnya bisa lisan maupun tulisan; dan k) Sesuai dengan konteks dan kontekstual.

Dalam penelitian ini diteliti menggunakan medium atau media tulisan karena berupauntaian kalimat-kalimat yang berkesinambungan dari ide pokok yang satu ke ide pokok yang lain. Problema-problema yang disajikan mengandung unsur-unsur yang lengkap dikemas dalam humor yang cerdas.

5. Jenis Wacana a) Wacana Lisan

Jauh sebelum manusia mengenal huruf. Bahasa telah dipergunakan oleh manusia. Manusia memakai bahasa lisan dalam berkomunikasi. Bahasa lisan menjadi bahasa yang utama dalam hidup manusia karena lebih dahulu dikenal dan digunakan oleh manusia dari pada bahasa tulis.

Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa sebagian besar manusia masih berada dalam budaya lisan.

b) Wacana Tulis

Wacana tulis mulai dikenal setelah ditemukan huruf. Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi. Huruf-huruf itu dipelajari manusia

(11)

dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain yang tinggal berjauhan.

6. Aspek Kebahasaan

Bahasa dan humor saling berkaitan. Keterkaitan ini diwujudkan dalam hal penting yaitu bahasa menjadi media humor. Bahasa adalah ekspresi manusia yang secaraverbal dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu bentuk dan makna.

Bentuk adalah elemen fisik tuturan. Sebagai sebuah tuturan, bentuk dapat diwujudkan dengasn aspek morfologi dan sintaksis. Sedangkan, morfologi mempelajari tentang seluk beluk kata dan sintaksis membicarakan tentang seluk beluk wacana, kalimat, klausa frasa dan norfem. (Ramlan, 1983: 17).bentuk- bentuk kebahasaan dalam wacana humor merupakan gejala timbulnya perbedaan makna, dengan cara mengacaukan atau menyimpangkan bunyi dan struktur gramatiknya.

Menurut Wijana (2010: 10), satuan-satuan kebahasaan dimungkinkan memiliki berbagai makna secara semantik. Teori semantik humor berkaitan dengan keambiguan (baik tingkat kata, kalimat, maupun wacana) yang dimanfaatkan dengan mempertentangkan makna pertama (M1) dengan makna kedua (M2) (Soedjatmiko, 1992: 73). Seperti hal yang telah dicontohkan oleh Wijana (2010: 10) kata putih, selain memiliki hubungan dengan kata bersih, dapat pula memiliki makna dengan putih atau bahkan secara bersama-sama berhubungan dengan kata kuning, biru,coklat dan sebagainya.kata putih yang secara literal beratri warna dasar yang serupa dengan warna kafan dalam konteks laindapat berati suci, bersih, jujur. Aspek kebahasaan tersebut

(12)

merupakan elemen yang penting dalam berbahasa dan dapat digunakan dalam menciptakan wacana humor.

Humor dalam kehidupan suatu masyarakat memiliki peranan sebagai sarana hiburan.Dengan demikian keberadaannya dapat mengurangi kejenuhan.

Suprana via Mulyani (2000:1) mengatakan bahwa tanpa humor kehidupan ini akan terasa kering karena kehadiran humor bagi manusia merupakan suatu anugerah yang penuh dengan makna yang serius. Selain hal tersebut, humor mempunyai manfaat, seperti yang diungkapkan Ancok via Mulyani (2000:1) bahwa dengan mendengarkan humor atau menyaksikan humor segala macam beban, frustasi, dan keluh kesah dapat terkurangi. Akibat lebih lanjut manusia akan memperoleh kejernihan pandangan, sehingga yang bersangkutan dapat membedakan sesuatu itu benar atau salah. Hal tersebut bisa terjadi karena humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut ketimpangan norma masyarakat dan ketegangan itu dapat dikendurkan melalui tawa (Wijana, 1996:5).

a. Semantik (Makna)

Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan.

Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat.

Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan

(13)

bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.

1) Makna Emotif

Makna emotif menurut Sipley (dalam Mansoer Pateda,2001:101) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan. Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimat Engkau kerbau., kata itu tentunya menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain,kata kerbau tadi mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau perilaku malas, lamban, dan dianggapsebagai penghinaan. Orang yang dituju atau pendengarnya tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman. Bagi orang yang mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya akan menimbulkan rasa ingin melawan. Dengan demikian, makna emotif adalah makna dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal ini jelas berhubungan dengan perasaan.

Makna emotif dalam bahasa indonesia cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan nilai.

(14)

2) Makna Konotatif

Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah Djajasudarma, 1999:9). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa. Kata nunga dalam kalimat tersebut bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya.

Kata bunga yang ditambahkan dengan salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.

3) Makna Kognitif

Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001:109). Kata pohon bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak dengan maksud pikiran.

4) Makna Referensial

Referen menurut Palmer ( dalam Mansoer Pateda, 2001: 125) adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-

(15)

kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan.

Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang. Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.

Makna referensial menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Dapat juga dikatakan bahwa makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan melalui analisis komponen.

5) Makna Piktorikal

Makna piktorikal menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:122) adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar ataupembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca. Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis, misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus, seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual karenanya.

(16)

Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995:40) mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin (1998:50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.

7. Humor

a. Pengertian humor

Humor berasal dari istilah inggris yang pada mulanya memiliki beberapa arti. Namun, semua berasal dari suatu istilah yang berarti cairan”

James Dananjaya (dala Damarwansyah, 2011: 65).

James Dananjaya (dalam Darmawansyah, 2011: 68)menyatakan bahwa humor adalah sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarannya merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga terdorong untuk tertawa. Terjadinya hal ini karena sesuatu yang bersifat menggelitik perasaan disebabkan kejutannya, sifat pengecohnya, kejanggalannya, kekontrakdisiannya, kenakalannya, dan lain-lain.

Dalam praktiknya humor dan lelucon memiliki sedikit perbedaan terutama apabila dilihat dari objek sasarannya. Dananjaya (dalam Darmawansyah, 2011: 68) mengatakan bahwa lelucon adalah sesuatu yang dapat menggelitik seseorang untuk tertawa dengan menjadikan orang lain sebagai sasarannya. Sedangkan humor adalah sesuatu yang dapat menggelitik orang lain untuk tertawa dengan menjadikan dirinnya sendiri atau kelompok si

(17)

pembawa cerita yangmenjadi sasarannya. Sesorang mengedepankan lelucon dosebut pelawak atau(mungkin) badut, sedangkan seseorang yang selalu mengeluarkan atau menyelingi pembicaraannya dengan sisipan humor disebut humoris.

Bila dianalisis lebih jauh, sebenarnya kegiatan yang membuat orang tergelitik untuk tertawa, dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Artinya rasa ingin tertawa itu muncul bukan hanya ada sisipan kata-kata yang keluar dari sesorang. Melainkan juga dapat terjadi dalam bentuk lain sebagaimana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa humor bukan sekedar memberikan hiburan atau membuat orang tertawa, melainkan dapat pula memberi nasihat, sindiran, dan keritik sosial berlapis tawa. Penyampaian informasi dalam kehumoran bukanlah sesuatu yang muda. Pelawak harus mampu mengolah sedemikian rupa bahasa yang mereka gunakan yang disertai mimik yang ekspresif sehingga pendegar/pembaca dapat menangkap pesan dan kesan lucu dari lawakan tersebut.

Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya terbatas dalam komunikasi yang resmi dan serius, tetapi cakupan yang lebih luas sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Berkomunikasi yang komunikatif harus memperhatikan kapan, di mana, dengan siapa, dan situasinya bagaimana. Dalam berbagai kesempatan agar komunikasi tidak monoton kaku kadang diperlukan sisipan humor. Penyisipan humor sangat menentukan suasana komunikasi. Humor tidak hanya berwujud hiburan, tetapi juga sebagai suatu ajakan berpikir sekaligus merenungkan isi humor itu. Humor verbal merupakan salah satu

(18)

wujud nyata tindak komunikasi yang tercipata akibat ketaksaan antara penikmat dan pencinta humor.sentralitas peran bahasa dalam humor ternyata tidak terbatas pada penyimpangan makna kebahasaannya, tetapi sering juga ditemukan adanya penyimpangan aspek komunikasi sebagai mana tuturan yang wajar. Penyimpangan tersebut menyebabkan kelucuan dalam setiap percakapan humor. Penyimpagan itu bukan berarti tidak komunikatif sebab tuturan itu informasinya dikuasai oleh penutur maupun lawan tuturnya sesuai pengalaman/pengetahuan yang dimilikinya.

b. Teori Humor

Pembicaraan tentang humor telah dibicarakanoleh sejumlah peneliti untuk dianalisis, salah satunya yaitu teori Wilson yang terkenal dalam ilmu psikologi, yaitu berhubungan dengan masalah kejiwaan seseorang. Wilson (dalam Sakti,2008: 16) membagi teori humor menjadi tiga bagian, yaitu (1) teori pembebasan, (2) teori konflik, dan (3) Teori ketidakselarasan.

1) Teori Pembebasan

Teori pembebasan merupakan penjelasan dari sudut dampak emosional. Humor tidak lain merupakan tipu daya emosional yang seolah mengancam, tetapi pada akhirnya terbukti tidak ad apa- apanya.

2) Teori Konflik

Teori konflik memberikan tekanan pada implikasi perilaku humor, yaitu konflik antara dua dorongan yang sangat bertentangan.

Pertentangan yang terjadi dapat berupa pertentangan antara

(19)

kemarahan dan kebengisan, antara main-main dan keseriusan, atau antara antusiasme dan depresi.pertentangan itu merupakan teka-teki bagi para pembaca tau pendengarnya. Setelah mengetahui maksud percakapan (serius) yang dideskripsikan secara main-main, barulah pembaca atau pendengarnya merasakan atau menangkap kelucuan humor itu.

3) Teori ketidakselarasan

Teori ketidakselarasan merujuk pada penjelasan kognitif, yaitu menyangkut penggabungan dua makna tuturan atau interprestasi yang tidak sama, digabungkan dalam satu makna gabungan kompleks, kemudian masuk ke dalam satu peta kognitif. Dengan kata lain, dalam benak lawan tutur secara sekaligus masuk dua makna yang berlawanan, tetapi mengacu pada satu hal uyang sama.

Kondisi ketidakselarasan itu tidak umum dan aneh sehingga menimbulkan kelucuan dan terciptalah humor. Ketidakselarasan itu harus dikuasai/dipahami dalam pengetahuan bersama penutur sehingga komunikasi tetap nyambung.

Claire (dalam Astuti, 2006: 10) berpendapat bahwa humor dapat membuat kelucuan apabila mengandung satu atau lebih dari empat unsur, yaitu (1) ada kejutan, (2) mengakibatkan rasa malu, (3), ketidakmasukakalan, dan (4), membesar-besarkan masalah. Keempat unsur itu dpat terlaksana melalui rangsangan verbal berupa kata-kata atau satuan-satuan bahasa yang sengaja dikreasi sedemikian rupa oleh penuturnya.

(20)

c. Jenis-jenis Humor

Terdapat 9 jenis-jenis humor, yaitu:

1) Guyon Pariken

Isinya lelucon yang menyindir, tapi tidak terlalu kasar.Guyon ini biasanya dipakai seorang bawahan kepada atasannya atau adik kelas kepada kakak kelas, dan sangat jarang ditujukan kepada orang yang benar-benar dihormati.Humor ini bermaksud bukan untuk mendominasi secara psikologis.

2) Satire atau Sanisme

Berbeda dengan guyon nomor satu, guyon ini muatan ejekannya lebih dominan.Kata-kata sindiran mulai dibumbui predikat-predikat menyinggung secara psokologis. Dasarnya adalah kecenderungan memandang rendah orang lain, sehingga jika tidak hati-hati menggunakannya, ini bisa sangat tidak mengenakkan hati

3) Pelesetan

Humor ini juga populer saat ini.Orang Barat menyebutnya imitative atau parody.Isinya, memelesetkan segala sesuatu yang populer sehingga nampak lucu dan mengundang tawa orang yang melihatnya.Nama-nama Rhoma Irama dipelesetkan menjadi Roma Aroma atau SBY dipelesetkan sebagai Si ButetYogya termasuk kategori ini.

4) Slapstick

(21)

Adalah humor yang berkaitan dengan nuansa fisik.Gigi maju, badan pendek, atau bibir “dower” menjadi contoh-contoh yang populer di tv-tv masa sekarang.

5) Olah Logika

Jenis humor yang didasarkan pada gaya analisis, biasanya dipakai oleh kalangan terdidik. “Kita harus mewaspadai bahaya provokasi dan provokator!” teriak santri dalam sebuah latihan pidato. “Apa bedanya?” Tanya Kyai. “Provokasi itu tingkat propinsi, Yai. Kalau provokator itu tingkat pusat.

6) Superioritas-interioritas

Lelucon ini muncul karena melihat cacat, kebodohan, atau kesalahan pihak lain. Misalnya, dialog antara dua orang tuli berikut:

“Darimana, Kang? Dari mancing ya?”.“Nggak. Dari mancing kok.”.“Oalah, saya kira dari mancing.”

7) Kelam

Sering dikategorikan “black humor“, isinya sesuatu semacam penderitaan, kejadian menyeramkan, atau sejenisnya.

8) Seks

Seks di sini diartikan bukan sebagai jenis kelamin, tapi hubungan hal yang menjurus keporno-pornoan, bahkan full porno. Sifatnya yang ringan membuat humor jenis ini tidak memerlukan pikiran mendalam dan mudah mengundang gelak tawa.

(22)

9) Apologisme

Dalam istilah mudahnya, “ngeles“. Hal ini bukan untuk melucu, tapi justru berlindung.

d. Fungsi Humor

Fungsi humor dapat untuk menyampaikan informasi, menyatakan rasa senang, jengkel, marah, dan simpati. Humor dapat pula mengendurkan ketegangan dalam diri dan berfungsi sebagai alat kritik yang ampuh karena subjek yang dikritik tidak merasakan kritikan itu sebagai suatu konfrontasi,.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa humor merupakan sesuatu yang lucu karena dapat menyebabkan penikmatnya senang, puas dengan tertawa atau tersenyum.

Diungkapkan pula dalam situs http: // www.intisari- online.com/majalah.asp?2007bahwa humor merupakan suatu gendre (bentuk) folklor yang sangat menarik. Walaupun terkesan remeh dan bersifat santai, humor mempunyai nilai yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat karena humor dapat dijadikan sebagai psikoterapi dan dan dipergunakan untuk menjadikan pendengar merasa tergelitik perasaannya, sehingga terdorong untuk tertawa.

Bahasa selain berfungsi sebagai alat komunikasi, sarana penyampaian informasi, mengutarakan pikiran, perasaan maupun gagasan, bahasa juga memiliki beberapa fungsi lainnya seperti :

1) Untuk tujuan praktis : mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.

(23)

2) Untuk tujuan artistik : manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya rasa estesis manusia.

3) Sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.

4) Untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri.

5) Sebagai alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, karena tanpa adanya bahasa, maka pengembangan IPTEK pun tidak dapat tumbuh dan berkembang.

B. Kerangka Pikir

Dalam humor dibutuhkan kecerdasan keduabelah pihak, yaitu penutr dan lawan tutur. Penutur harus bisa menempatkan humornya pada saat yang tepat, sebab bila saatnyantidak tepat bisa jadi humor tersebut tidak saja tidak lucu namun juga bisa menyakiti pihak.

Humor merupakan sarana paling baik untuk melepaskan segala unek- unek orang-orang yang cerdas biasanya melepaskan diri dari himpitan hidup dengan cara lelucon.

(24)

BAGAN KERANGKA PIKIR

Problematika

Aspek Kebahasaan

Teori Humor

Analisis

Temuan

Semantik

(25)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dengan karakteristik objek penelitian, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Pemilihanjenis penelitian ini sesuai dengan sifat dan tujuan penelitian, serta wujud data yang akan dikumpulkan.

Desain penelitian pada hakikatnya merupakan strategi ruang atau teknis penelitian agar memperoleh data yang akurat. Dalam memperoleh kesimpulan penelitian, maka maka diperlukan formulasi atau desain yang diniscayakan menjadi strategi pengaturan penelitian.Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut.

Langkah awal, pemahaman terhadap hasil-hasil yang berhubungan dengan judul secara maksimal dilanjutkan menjadi studi pustaka, guna mengidentifikasikan pemilihan dan perumusan masalah penelitian, menyusun dan merumuskan hipotesis serta memberikan definisi operasional istilah penlitian, sedangkan langkah berikutnya yang dilakukan penulis ialah metode penelitian.

Metode penelitian digunakan sebagai prosedur untuk menyelidiki masalah dengan menggambarkan keadaan objek atau subjek penelitian berdasarkan fakta yang ada dan menyertainya.

(26)

B. Definisi Istilah

Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran mengenai istilah dalam penelitian ini, maka peneliti memperjelas definisi istilah dimaksud.

1. Aspek kebahasaan tersebut merupakan elemen yang penting dalam berbahasa dan dapat digunakan dalam menciptakan wacana humor.

2. Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Jenis-jenis semantik:

a) Makna Emotif b) Makna Konotatif c) Makna Kognitif d) Makna Referensial e) Makna Piktorikal C. Data dan Sumber Data

1. Data

Data dalam penelitian ini yaitu “Majalah humor Sufi”. Dilihat dari aspek kebahasaan dan aspek semantik

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini yaitu “majalah humor”. Data-data yang telah diklasifikasikan kemudian dianalisis untuk mengetahui penyebab timbulnya kelucuan. Jika penyebab kelucuan diakibatkan oleh aspek-aspek kebahasaan, maka akan diteliti aspek kebahasaan manakah yang menyebabkan terjadinya humor dalam data tersebut.

(27)

D. Teknik Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data dilakukan dengan metode simak yaitu menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini berkaitan dengan penggunaanbahasa secara tertulis yang berupa tulisan atau wacana yang diambil dari media cetak. Metode simak menggunakan dua teknik yaitu teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap yaitu pertama-tama peneliti menyadap atau menyimak penggunaan bahasa dalam sebuah wacana yangakan menjadi calon data tersebut. Selama proses penyimakan peneliti tidakdilibatkan dalam peristiwa penggunaan bahasa, peneliti hanya sebagai pendengaratau pembaca terhadap calon data yang terbentuk dan muncul dari peristiwakebahasaan yang ada dalam wacana tulis tersebut (Mahsun, 2005:93).

Setelah itudilanjutkan dengan teknik catat yaitu teknik penjaringan data dengan mencatathasil penyimakan ke dalam kartu data dan selanjutnya akan dilakukanpengklasifikasian.

E. Teknik Analisis Data

Data-data yang telah diklasifikasikan kemudian dianalisis untuk mengetahui penyebab timbulnya kelucuan. Jika penyebab kelucuan diakibatkanoleh aspek-aspek kebahasaan, maka akan diteliti aspek kebahasaan manakah yangmenyebabkan terjadinya humor dalam data tersebut.Langkah- langkah yang ditempuh dalam menganalisis data yaitu sebagai berikut:

(28)

1. Menyimak penggunaan bahasa. Setelah itu, dilanjutkan dengan mencatat hasil penyimakan ke dalam kartu data dan selanjutnya dilakukan pengklasifikasian.

2. Menyimpulkan hasil penelitian tersebut.

(29)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Penyajian Hasil Penelitian

Diuraikan di atas bahwa tanpa humor kehidupan ini akan terasa kering

karena kehadiran humor bagi manusia merupakan suatu anugerah yang penuh dengan makna yang serius. Selain hal tersebut, humor mempunyai manfaat, seperti yang diungkapkan Ancok via Mulyani (2000:1) bahwa dengan mendengarkan humor atau menyaksikan humor segala macam beban, frustasi, dan keluh kesah dapat terkurangi. lebih lanjut manusia akan memperoleh kejernihan pandangan, sehingga yang bersangkutan dapat membedakan sesuatu itu benar atau salah.

Hal tersebut bisa terjadi karena humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut ketimpangan norma masyarakat dan ketegangan itu dapat dikendurkan melalui tawa (Wijana, 1996:5). Hal itu, senada dengan pendapat Suprana via Mulyani (2000:1) yang menyebutkan bahwa humor senantiasa siap menjadi pendukung perjuangan insan untuk bertahan dalam menempuh perjungan hidup yang penuh kemelut.

Maka dari itu, penulis akan menganalisa dari aspek semantik yang terdapat dalam majalah humor.

(30)

1. Beberapa gambaran kelucuan yang terjadi di dalam majalah ini disebabkan aspek kebahasaan.

Sama-sama Goblok

Orang kaya I : “Bro, lo tau nggak, supir gue ini blo’onnya minta ampun!

Kalo lo pengen bukti, nih liat.”

“Bro, kamu tahu tidak, supir aku ini bodohnya minta ampun! Kalau kamu mau bukti, ini lihat.”

Orang kaya I : “Min, gue kasih lo 100 ribu. Lo pergi ke dealer Honda. Beliin gue motor Beat.”

“Min. aku memberikan kamu 100 ribu. Kamu pergi ke dealer Honda. Belikan aku motor Beat.

Orang kaya II : “Jang, lo pergi ke rumah, pulang. Liatin apa gue ada di rumah atau enggak?”

“Jang, kamu pergi ke rumah, pulang. Lihat apa aku ada di rumah atau tidak?”

Paimin : “Bro, lo tau nggak, bos gue bener-bener gila. Dia kasih gue 100 ribu, dan nyuruh gue beli motor Beat di dealer, mana mungkin kan? Lo tau kan sekarang hari minggu, semua toko pasti tutup! Bodoh banget bos gue.”

“Bro, kamu tahu tidak, bos aku benar-benar gila. Dia memberikan aku 100 ribu, dan menyuruh aku beli motor Beat di dealer, mana mungkin kan? Kamu tahu kan sekarang hari minggu, semua toko pasti tutup! Bodoh sekali bos aku.”

(31)

Jajang : “Lo kira cuma bos lo aja yang gila? Bos gue malah lebih gila.

Masa’ dia nyuruh gue balik ke rumah buat ngeliatin apakah dia ada di rumah atau nggak. Padahal dia kan bisa ngecek sendiri pake HP-nya. Dasar goblok!”

“Kamu kira cuma bos kamu saja yang gila? Bos aku malahan lebih gila. Masa’ dia menyuruh aku kembali ke rumah buat melihat apakah dia ada di rumah atau tidak. Padahal dia kan bisa melihat sendiri pakai HP-nya. Dasar goblok!”

Dialog di atas membahas mengenai majikan dengan supirnya yang mengira supirnya itu bodoh. Padahal, kalau diamati antara majikan dengan supir sama- sama bodoh. Kelucuan terjadi karena mereka saling tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya sama-sama bodoh.

Kehebatan Sufi Buta

Sufi : “Astaghfirullah, berhenti dulu Kang, di depan ada cewek telanjang.”

“Astaghfirullah, berhenti dulu Kang, di depan ada cewek telanjang.”

Sahabat Sufi : “Lha, sampean tau dari mana kalo di depan ada cewek telanjang? Sampean kan buta, kang?” tanya sahabatnya.

“Lha, kamu tahu dari mana kalau di depan ada cewek telanjang? Kamu kan buta?” tanya sahabatnya.

(32)

Sufi :“Mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi Sampean jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.” Selorohnya.

“Mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi kamu jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.” Ucapnya.

Kelucuan timbul setelah tokoh mengatakan mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi sampean jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.

Selorohnya. Kata ‘anu’ di sini membuat terjadinya kelucuan karena tidak banyak pembaca yang salah mengartikan kata ‘anu’ bermakna jenis kelamin.

Metode berhenti merokok Dokter : “Beneran kamu niat berhenti merokok?”

“Betul kamu niat berhenti merokok?”

Udin : “Iya Dok, saya udah coba berbagai cara tapi kecanduan saya masih aja nggak ilang-ilang.”

“Iya Dok, saya sudah coba berbagai cara tapi kecanduan saya masih saja tidak hilang-hilang.”

Dokter : ”Saya kasih saran dan coba kamu praktekin. Caranya begini, tiap kamu mau ngerokok, batang rokok itu kamu oleskan tai ayam lalu kamu cium. Pasti jijik dan nggak mau ngisep rokok itu. Lakukan berulang-ulang tiap kamu merasa ingin merokok sampai kamu benar-benar nggak mau lagi merokok.”

“Saya kasih saran dan coba kamu praktekkan. Caranya begini, tiap kamu mau merokok, batang rokok itu kamu oleskan tai

(33)

ayam lalu kamu cium. Pasti jijik dan tidak mau menghisap rokok itu. Lakukan berulang-ulang tiap kamu merasa ingin merokok sampai kamu benar-benar tidak mau lagi merokok.”

Dokter : “Wah, Mas yang waktu itu ingin berhenti merokok kan, gimana manjur nggak metode saya.”

“Wah, Mas yang waktu itu ingin berhenti merokok kan, bagaimana manjur tidak metode saya.”

Udin : “Metode memang manjur, Dok. Sekarang saya sudah tidak kecanduan rokok lagi

Dokter : ”Bagus dong, kalau begitu.”

Udin : “Bagus apanya ? Sekarang saya malah kecanduan ngisep tai ayam!!!”

“Bagus apanya ? Sekarang saya malahan kecanduan menghisap tai ayam!!!”

Kelucuan di atas terjadi karena adanya kesalahpahaman antara tokoh terlihat pada dialog “Tiap kamu mau ngerokok, batang rokok itu kamu oleskan tai ayam lalu kamu cium. Pasti jijik dan nggak mau ngisep rokok itu.” “Bagus apanya ? Sekarang saya malahan kecanduan menghisap tai ayam!!!”

2. Semantik

Jenis-jenis makna dalam semantik:

a. Makna Emotif

Makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan.

(34)

Terlihat pada kutipan

“Lo kira Cuma bos lo aja yang gila? Bos gue malah lebih gila.

Masa’ dia nyuruh gue balik ke rumah buat ngeliatin apakah dia ada di rumah atau nggak. Padahal dia kan bias ngecek sendiri pake HP- nya. Dasar goblok.

Pada data makna emotif, tampak menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain, kata goblok mengandung makna emosi. Kata goblok dihubungkan dengan sikap atau prilaku yang bodoh dan dianggap sebagai penghinaan. Orang yang di tuju tentunya akan merasa tersinggung atau merasa tidak nyaman.

b. Makna Konotatif

Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif.

Terlihat pada kutipan

“Bro, lo tau nggak, supir gue ini blo’onnya minta ampun! Kalo lo pengen bukti, nih liat.”

Pada data makna konotatif, kata minta ampun bukan berarti memohon ampun tapi yang dimaksud di sini melainkan seorang majikan yang menyerah melihat kebodohan supirnya.

(35)

c. Makna Kognitif

Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya.

Terlihat pada kutipan

“Baik, Tuan.” Ia pun langsung cabut ke sebuah dealer.

Pada data makna kognitif, kata cabut bukan berarti menarik supaya lepas(keluar dari tempatnya), melainkan kata cabut di sini memiliki makna pergi.

d. Makna Referensial

adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh suatu lambang.

Terlihat pada kutipan

“Min, gue kasih lo 100 ribu. Lo pergi ke dealer Honda. Beliin gue motor Beat.

Pada makna referensial, kata Honda mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu benda.

(36)

e. Makna Piktorikal

adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar atau pembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca.

Terlihat pada kutipan

“Lihat kan apa gue bilang? Dia gak punya otak buat mikir.

Pada makna piktorikal, kalimat gak punya otak, pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan kata bodoh.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah menganalisa majalah humor Sufi dapat dilihat bahwa majalah humor Sufi tidak dapat terlepas dari aspek kebahasaan dan aspek semantik.

1) Terlihat pada salah satu kutipan yang menimbulkan kelucuan (Aspek Kebahasaan)

Kehebatan Sufi Buta

Sufi : “Astaghfirullah, berhenti dulu Kang, di depan ada cewek telanjang.”

“Astaghfirullah, berhenti dulu Kang, di depan ada cewek telanjang.”

Sahabat Sufi : “Lha, sampean tau dari mana kalo di depan ada cewek telanjang? Sampean kan buta, kang?” tanya sahabatnya.

(37)

“Lha, kamu tahu dari mana kalau di depan ada cewek telanjang? Kamu kan buta?” tanya sahabatnya.

Sufi : “Mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi Sampean jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.”

Selorohnya.

“Mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi kamu jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.”

Ucapnya.

Kelucuan timbul setelah tokoh mengatakan mata lahir saya memang buta, Kang. Tapi sampean jangan meremehkan mata batin dan ‘anu’ saya.

Selorohnya. Kata ‘anu’ di sini membuat terjadinya kelucuan karena tidak banyak pembaca yang salah mengartikan kata ‘anu’ bermakna jenis kelamin.

2) Terlihat pada salah satu kutipan (Aspek Semantik)

“Lo kira Cuma bos lo aja yang gila? Bos gue malah lebih gila. Masa’

dia nyuruh gue balik ke rumah buat ngeliatin apakah dia ada di rumah atau nggak. Padahal dia kan biasa ngecek sendiri pake HP-nya. Dasar goblok.

Pada data makna emotif, tampak menimbulkan perasaan tidak enak bagi 30-pendengar. Dengan kata lain, kata goblok mengandung makna emosi. Kata goblok dihubungkan dengan sikap atau prilaku yang bodoh

(38)

dan dianggap sebagai penghinaan. Orang yang di tuju tentunya akan merasa tersinggung atau merasa tidak nyaman.

Sehingga membuktikan bahwa majalah humor Sufi tidak terlepas dari aspek kebahasaan dan aspek semantik.

(39)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah menganalisa majalah humor Sufi dapat dilihat bahwa majalah humor Sufi tidak dapat terlepas dari aspek kebahasaan dan aspek semantik.

Terlihat dari beberapa kutipan pada majalah humor Sufi banyak bentuk-bentuk kebahasaan yang merupakan gejala timbulnya perbedaan makna yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga terdorong untuk tertawa. Terjadinya hal ini karena sesuatu yang bersifat menggelitik perasaan disebabkan kejutannya, sifat pengecohnya, kejanggalannya, kekontrakdisiannya, kenakalannya, dan lain- lain. Penyimpangan makna kebahasaan menyebabkan kelucuan dalam setiap percakapan humor. Penyimpangan itu bukan berarti tidak komunikatif sebab tuturan itu informasinya dikuasai oleh penutur maupun lawan tuturannya sesuai pengalaman/pengetahuan yang dimilikinya.

Sehingga membuktikan bahwa aspek kebahasaan dan aspek semantik dapat dipergunakan dalam menganalisa majalah humor Sufi.

B. SARAN

1. Penulis menyadari bahwa analisis ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan input dari semua pembaca, terutama dosen pembimbing bahasa dan sastra agar analisis ini lebih sempurna.

(40)

2. Kepada rekan-rekan khususnya mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar untuk dapat menindak lanjuti.

3. Secara tidak langsung penulis berharap semoga “Problematika Aspek Kebahasaan dalam Majalah Humor “Sufi”, dilihat dari Aspek Semantik (Suatu Analisis Deskriptif)” dapat menjadi bahan acuan untuk membandingkan dengan karya yang lain.

(41)

Vii

Kesuksesan yang sejati akan datang pada orang-orang yang Berani mengatakan “tidak,” pada kata “menyerah.”

Orang yang memandang masalah

Sebagai masalah akan mempersulit dirinya dalam Masalah. Janganlah memandang masalah sebagai masalah Namun pandanglah sebagai karunia yang akan merubah kita

Menjadi orang yang lebih baik dan mulia

Kupersembahkan karya ini Untuk kedua orang tua tercinta Saudara-saudaraku dan sahabatku

Yang senantiasa mendoakan

Dan merelakan segalanya demi kesuksesanku

(42)

viii

Risma Rahim. 2015. Problematika Aspek Kebahasaan Dalam Majalah Humor

“Sufi.” Dilihat dari Aspek Semantik (Suatu Analisis Deskriptif). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I oleh Prof. M. Ide Said DM dan Pembimbing II A. Syamsul Alam.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan problematika aspek kebahasaan majalah humor “Sufi.” Dilihat dari aspek semantik. Metode yang dipakai untuk mendapatkan data dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif, yaitu membaca kemudian menganalisis dan mencatat hal yang menjadi bahan kajian skripsi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa majalah humor “Sufi” tidak dapat terlepas dari aspek kebahasaan dan aspek semantik. Terlihat dari beberapa kutipan pada majalah humor “Sufi” banyak bentuk-bentuk yang menunjukkan penyimpangan makna.

Kata kunci : Aspek Kebahasaan dan Semantik.

(43)

xi

Tiada kata yang patut penulis ucapkan selain puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayat dan nikmat yang diberikan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat tak lupa dihantarkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang teap istiqamah di jalan Allah.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat akademik guna memeroleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Adapun judul skripsi ini adalah “Problematika Aspek Kebahasaan dalam Majalah Humor “Sufi”. Dilihat dari Aspek Semantik, (Suatu Analisis Deskriptif).” Di dalam penyususnan skripsi ini tidak luput dari berbagai hambatan dan tantangan. Akan tetapi, semua itu dapat teratasi berkat petunjuk dari Allah SWT, serta kerja keras dan rasa percaya diri dari penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima dengan ikhlas segala koreksi dan masukan- masukan guna penyempurnaan tulisan ini agar kelak dapat bermanfaat.

Skripsi ini dapat diselesaikan berkat adanya bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut serta memberikan bantuan baik berupa materi maupun moral, khususnya kepada Prof. M. Ide Said DM., M.Pd. Sebagai pembimbing I dan kepada A. Syamsul

(44)

xi

memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sehingga dapat membuka wawasan berpikir yang sangat berarti bagi penulis sejak penyusunan proposal hingga skripsi ini selesai.

Ucapan terimakasih diucapkan pula kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Rahim dan Ibunda Mus Baria, yang selalu mendukung dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan sebaik-bainya, serta senantiasa memberikan semangat dan dorongan serta doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga apa yang telah mereka berikan menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar beserta stafnya yang telah membantu dan member kemudahan kepada peneliti dalam penyelesaian studi;

Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar; Dra. Munirah, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia serta seluruh dosen dalam lingkungan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Sahabat-sahabat seperjuanganku; Hendri. H, Anzar, Hari Wardiman, Nurmi Indah Sari, Nirwana, Risnawati, Tahrim Irham, Taupiq, Ridhayani U dan teman-teman angkatan 2011 khususnya kelas B Pendidikan Bahasa dan Sastra

(45)

xi

Semoga kalian selalu ada di dalam suka maupun duka meskipun kelak waktu akan memisahkan karena cita dan cinta yang harus dicapai. Bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak seperti yang telah penulis kemukakan, merupakan bantuan yang tidak dapat dinilai dan dibayar dengan materi. Untuk itu, penulis hanya bisa mendoakan semoga jasa baik mereka mendapatkan imbalan yang setimpal dari Allah SWT.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak demikian halnya skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari substansinya maupun kaidah penulisannya. Oleh karena itu, sumbangan saran, masukan dan kritikan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi segenap yang bergelut di dunia pendidikan, terutama pada mahasiswa Jurusan Pendidikan, guru, dan dosen dalam membangun pendidikan yang bermartabat, dihormati, serta berpihak pada kemanusian. Amin

Makassar, September2015

Penulis

(46)

xi

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

SURAT PERJANJIAN ... vi

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xii

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka... 5

1. Pengertian Bahasa ... 5

2. Fungsi Bahasa ... 7

3. Problematik ... 7

a. Pengertian Problematik ... 7

4. Wacana ... 8

(47)

xi

a. Semantik (Makna) ... 11

7. Humor ... 15

a. Pengertian Humor... 15

b. Teori Humor ... 17

c. Jenis-jenis Humor... 19

d. Fungsi Humor ... 21

B. Kerangka pikir... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian... 24

B. Definisi Istilah ... 25

C. Data dan Sumber Data ... 25

1. Data ... 25

2. Sumber Data... 25

D. Teknik Pengumpulan Data... 26

E. Teknik Analisis Data... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Penyajian Hasil Penelitian... 27

1. Aspek Kebahasaan ... 29

2. Semantik ... 32

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 36

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 38

(48)

xi

(49)

LEMBAR PENGESAIIAN

Ski'ipsi atas l.lama RfS$fA

RAI[I&{, lriii,{:

1053367261I diterini* dai.i

disahie:': cish Panitia t-rjian Si.:r'ipsi berdsseriren Surar Keputusan F.e.i:tcr

universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 0g0 Tahun 1436 Hlzal5, Tanggal

$5-06 Oktober 2015 M, sebagai salah satu s],arar guna mempercleh gelar,sarjaxa Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra lndonesia Fakultas Kegur*an 'Jan Ilrnu Pendidikan Universitas fuIuhammadi;,ah )r,{akassar pada hari Kamis tanggal I5 Oktober 2015.

Makassar, i6

Drulhtjah

1436 H 30

September

201S lv{

i.

Fengarvas Urnum

2.

Kefua

3.

Sekertaris

4.

Penguji

iyah Makassar PANTYE-T UJIA}*

Dr. H. Invsn Akib. t"{. Pd.

Dr Andi Sukri Syamsuri. M. Hurn.

Kheeruddin, S. Pd., M. Pd.

l.

Prof Dr. Kamarudclin, M.A.

2.

Dr. A. Rahman R.ahim. &4. F{um.

3.

Dr. Ramiy. M. Hum.

4.

Andi SyemsuiAla:'r'r. S. Pd." L,{. pd.

(50)

PtrRSETUJUAN PEMBIMBING

]' l.-,iasisrva yang bersangkutan :

'- ':ul

Skripsi :

problematik Aspek Kebahasaan daram

Sufi, dilihat tlari

Aspek Semantik Deskriptif

r.

.i:ta ;

RISMA RAHITVI

'' ),1 :

i 0533 6726 1 1

' -'-rarn

studi :

pendidikan Bahasa

dan sastra Indonesra -

"r,rrltas :

Keguruan cian Iluru penciiriikan

setelah cliperiksa dan diteliti ulang" Skripsi ini ilinyatai<ap telah memenuhi : ; rsi'aratan untuk cliujikan.

Makassar, Oktober 2015

, M. Pd, 576

Dr.

Majalah Humor suatu Analisis

Siset*jui oleh

Prof. Dr. FI.

Diketahui

irnbing

m, S.Pd., M.Pd.

Andi

Ketua Jurusan pendidikan Bahasa dau Sasta Indoaesia,

l";i;"ffi

(51)

Abdul, Wahab. 1995. Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Air Langga University Pers.

Aminuddin. 1998. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Buku.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Darmawansyah. 2011. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Depdikbud. “Kamus Besar Bahasa indonesia”. Jakarta: Bulan Bintang, 2002.

Hal 276.

Grice, H.P. 1975. “Logic and Conversation” dalam Syntax and Semantics:

Speech Act. Volume 3. New York: Academic Press. Hal. 45-47.

Harras, A. Kholid. 2009. Menyoal Kesantunan Berbahasa Politisi Kita.

Bandung: FPBSUniversitas Pendidikan Indonesia.

Hermintoyo, M. 2011. ”Aspek Bunyi Sebagai Sarana Kreaktivitas Humor”.

Volume 35. No 1. Universitas Diponogoro.

Hymes, Dell. 1985. Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. 7th Edition. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/61499/potongan/diploma-2013- 282974-chapter 1.pdf.

Http://enthusiast-blogger.blogspot.com/2014/01/mengetahui-jenis-jenis-humor- yang-ada.html.

Http://sastraindonesiaoke.blogspot.com/p/pengertian-makna-kata.html.

Http://idwikipedia.org/wiki/struktur.

Http://www.google.co.id/search?q=sifat+struktur+totalitas.

Irwanto. 2014. “Penggunaan Ragam Bahasa Lawak Komedi Chating Gruop (Suatu Tinjauan Pragmatik)”. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: FKIP Unismuh Makassar.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahap Strategi, Metode, dan Leksikalnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(52)

Oetomo, Dede. 1987. “Linguistik dan Sosiolinguistik: Dua Ancangan terhadap Pengkajian Bahasa Indonesia” dalam Linguistik: Teori dan Terapan.Soenjono Dardjowidjojo (ed). Jakarta: Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atma jaya.

Pamungkas, Sri. 2012. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Perspektif.

Yogyakarta: CV. Andi Offest.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Ramlan, M. 1983. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV.

Karyono.

Sudaryanto. 1990. Aneka Konsep Kedataan Lingual dalam Linguisti.

Yogyakarta: Wacana University Pers.

Soedjatmiko, Wuri. 1992. “Aspek Linguistik dan Sosialkultural didalam Humor” dalam Bambang, Kaswanti Purwo (ed). Pelba s. Yogyakarta:

Kanisius.

Wijana. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

Wiwiek, Dwi Astuti. 2006. Wacana Humor Tertulis: Kajian Tindak Tutur.

Pusat Bahasa, Departmen Pendidikan Nasioanal. Universiti Michigan.

www.sarjanaku.com/2013/04/pengertianproblematika-defisi- menurut.html?m:1.

Referensi

Dokumen terkait