• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPON PERTUMBUHAN EKSPLAN TOMAT PADA PEMBIAKAN KULTUR JARINGAN TERHADAP IMBANGAN ZPT AUKSIN DAN SITOKININ SECARA IN-VITRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RESPON PERTUMBUHAN EKSPLAN TOMAT PADA PEMBIAKAN KULTUR JARINGAN TERHADAP IMBANGAN ZPT AUKSIN DAN SITOKININ SECARA IN-VITRO"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON PERTUMBUHAN EKSPLAN TOMAT

PADA PEMBIAKAN KULTUR JARINGAN TERHADAP IMBANGAN ZPT AUKSIN DAN SITOKININ SECARA IN-VITRO

[RESPONS OF TOMATO EXPLANT TO PROPORTION OF AUXIN AND CYTOCININS IN IN-VITRO PROPAGATION]

Iskandar Umarie*), Wiwit Widiarti*), dan Abdul Wahab**)

*) Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember

**) PT Indagro Jakarta [email protected]

ABSTRAK

Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan salah satu komoditas sayuran yang sejak lama dikenal dan mempunyai peranan penting dalam memenuhi gizi masyarakat. Tingginya tingkat kebutuhan tomat tidak diimbangi dengan tingkat produksi tomat secara nasional. Konsumsi tomat terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengetahui imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP terhadap respon sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat, (b) Untuk mengetahui respon sumber eksplan yang lebih baik terhadap imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dalam pembentukan planlet tomat, dan (c) Untuk mengetahui interaksi antara imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dengan sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat. Penelitian ini dilaksanakan dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor : Faktor I : Pemberian imbangan konsentrasi ZPT Auksin dan Sitokinin terdiri dari 4 level. A0 : 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (perlakuan control) A1 : 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP A2 : 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP A3 : 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP. Faktor II : Sumber eksplan B1 : Kotiledon B2 : Hipokotil. Hasil penelitian menunjukkan dalam pembentukan planlet tomat varietas Liontin dapat menggunakan interaksi antara imbangan konsentrasi media MS 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP dengan eksplan kotiledon (AIBI).

Kata kunci: Sumber eksplan, In-vitro, Zat pengatur tumbuh, Tomat.

ABSTRACT

Tomato has consumed as vegetable which has an important role in the nutrition of people. High demand for tomato could not be fulfilled by national production. Tomato comsumption increase continually in accordance with increasing populatin growth. The aim of this study was to know : a) influence of proportion between concertration of IAA (auxin) and BAP (cytokinins) on the response of different tomato explant to plantlet formation in in-vitro propagation, b) interaction between proportion of IAA and BAP and source of explantlet formation in in-vitro propagation. Design of experiment was factorial based on completely randomized design with three replication. The first factor was proportion of IAA and BAP i.e. no growth hormone added as a control, 0.2 ppm IAA + 0.5 ppm BAP, 0.2 ppm IAA + 1.0 ppm BAP, 0.2 ppm IAA + 1.5 ppm BAP. The second factor was source of explant i.e.

cotyledon and hypocotyls. Tomato variety used was Liontin. Basic medium used was MS. The results showed that treatment with 0.2 ppm IAA + 0.5 ppm BAP on cotyledon as an explant produced the best growth of tomato plantlet.

Key Word : explant sources, In-vitro, plan growth regulator, tomatoes.

PENDAHULUAN

Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill) termasuk suku solanaceae yaitu tanaman setahun (annual) atau tahunan (parenial) yang berumur pendek dan berbentuk perdu. Masyarakat menggunakan tomat baik dalam masakan maupun minuman. Tomat sangat bermanfaat bagi kesehatan karena bergizi tinggi, terutama mengandung protein, karbohidrat dan mineral.

Ketiga zat tersebut akan terpenuhi apabila kita setiap

hari mengkonsumsi buah atau sayuran, khususnya tomat 300-1000 gram (Chabib 2001).

Tingginya kebutuhan tomat tidak diimbangi dengan tingkat produksi tomat secara nasional.

Konsumsi tomat terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Indonesia sampai sekarang masih mengimpor tomat dikarenakan belum adanya industri pengolahan pasta tomat. Menurut data BPS tahun 2006, produksi tomat di Indonesia 647.020 ton pada tahun 2005 dan mengalami penurunan sebesar 2,67% dan pada tahun 2006 menjadi sebesar 629.774

(2)

Agritrop – Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 116

ton. Ternyata optimisme para pedagang cukup beralasan, dari tahun ke tahun produksi tomat terus meningkat, terbukti permintaan sayuran rata-rata pertahun sekitar 3,6%-4% dalam periode 1998-2010 (Cahyono, 2008). Dalam upaya peningkatan produksi tomat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berbagai usaha dilakukan pemerintah diantaranya melalui perbanyakan tanaman baik secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan tanaman tomat secara vegetatif dapat dikembangkan melalui teknik kultur jaringan diantaranya dengan menggunakan imbangan konsentrasi ZPT auksin dan sitokinin (Gaspersz, 2001).

Penelitian pada beberapa spesies tanaman menunjukkan bahwa seleksi yang dilakukan pada sel atau jaringan dengan teknik perbanyakan tanaman secara aseptik memungkinkan untuk memperoleh bibit dalam jumlah banyak dan ukurannya seragam. Sistem yang terbentuk dari jaringan somatik pada perbanyakan tersebut memungkinkan tanaman mempunyai keragaman genetik.

Tujuan utama penggunaan zat pengatur tumbuh pada tomat adalah mengusahakan terbentuknya tanaman yang produktif. Hal ini berarti zat tumbuh tersebut harus mampu mengeliminasi hambatan biologis yang ada pada tanaman itu sendiri. Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat diperlukan untuk inisiasi tunas pada media kultur jaringan. Zat pengatur tumbuh disini berasal dari golongan auksin dan sitokinin diberikan secara bersama. Zat pengatur tumbuh yang berasal dari golongan auksin yaitu IAA dan BAP merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin. Kedua ZPT ini diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Menurut Hendaryono dan Wijayani (2004), bahwa pembentukan kalus, jaringan kuncup, dan jaringan akar ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat baik jenis maupun konsentrasinya.

Berdasarkan uraian diatas penulis melakukan penelitian untuk mempelajari pertumbuhan dari kultur tomat yang ditumbuhkan dalam media MS (Murashige dan Skoog) dengan menggunakan berbagai imbangan konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin untuk mengetahui respon dari sumber eksplan dalam setiap kombinasi perlakuan dan juga untuk mengetahui kemungkinan perbanyakan vegetatif yang dapat dilakukan dengan kultur tomat tersebut (Herawati, 2005).

Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengetahui imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP terhadap respon sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat, (b) Untuk mengetahui respon sumber eksplan yang lebih baik terhadap imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dalam pembentukan planlet tomat dan (c) Untuk mengetahui interaksi antara imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dengan sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat.

Penelitian ini diharapkan berguna untuk mengetahui imbangan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin terhadap respon pertumbuhan tomat dengan pengembangan teknik kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman tomat,

sehingga memberikan manfaat bagi para petani tomat maupun peneliti lainnya dalam perbanyakan dan pengadaan bibit tomat (Widiarti, dkk., 2009).

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

1) Terdapat imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP terhadap sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat.

2) Terdapat respon sumber eksplan yang lebih baik terhadap imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dalam pembentukan planlet tomat.

3) Terdapat interaksi antara imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dengan sumber eksplan dalam pembentukan planlet tomat.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember, pada tanggal 15 Juli 2008 – 22 Nopember 2008. Bahan penelitian adalah benih tomat varietas Liontin, IAA (Indoleacetic acid), BAP (Benzil Amino Purin), alkhohol 70%, bayclin, kertas saring dan aquades. Media yang digunakan adalah Murashige dan Skoog (MS). Alat yang digunakan adalah Laminer Air Flow Cabinet, autoklaf, botol kultur, pinset, scalpel, erlemeyer, tabung reaksi, cawan petri, kompor gas, magnetik stirrer, hot plat, timbangan analitik, rak inkubasi, pisau isolasi, lampu bunsen, pH meter dan oven. Penelitian ini dilaksanakan dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari dua faktor dan masing masing perlakuan diulang tiga kali. Faktor I : Pemberian imbangan konsentrasi ZPT Auksin dan Sitokinin terdiri dari 4 level;

A0 = 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (perlakuan control), A1 = 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP, A2 : 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP, A3 = 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP. Faktor II : Sumber eksplan terdiri dari : B1

= Kotiledon, B2 = Hipokotil

Sehingga didapat 8 kombinasi perlakuan, dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pembentukan planlet. Jika ada beda nyata pada taraf 5% dilanjutkan dengan analisis Duncan's Multiple Range Test, untuk mengetahui perlakuan terbaik.

Media dasar yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). Pembuatan media dimulai dengan pembuatan larutan stock yaitu larutan yang berisi unsur hara makro dan mikro nutrient, vitamin, dan zat pengatur tumbuh (Ichsan, 2009). Formulasi media dibuat dengan cara : vitamin, garam makro dan mikro dipipetkan sesuai konsentrasi dan dimasukkan ke dalam erlemeyer, ke dalam media ditambahkan ZPT yang dibutuhkan dengan konsentrasi tertentu kemudian ditambahkan gula 30 g, aquades 300 ml, dan diaduk diatas hot plate menggunakan magnetic stirrer, kemasaman diatur dengan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N sampai pH 5,8 kedalam larutan ditambah agar sebanyak 10 g dan volume larutan ditambahkan sampai 1000 ml sambil dipanaskan dan terus diaduk sampai homogen,

(3)

selanjutnya diletakkan dalam botol kultur yang telah disterilisasi dan diberi label. Botol yang telah berisi media disterilkan kembali dalam autoklaf selama 20 menit, temperatur 121 °C pada tekanan 17,5 Psi.

Cara sterilisasi eksplan dan perkecambahan tomat yaitu : 1) Biji tomat direndam dalam 10 ml larutan NaOCl 5,25% selama 1 menit, diletakkan diatas kertas saring, dan dibilas dengan aquadest 3x, serta ditiriskan di atas saringan. 2) Biji tomat siap ditanam di dalam botol kultur atau petridis dengan MS 0 untuk dikecambahkan. 3) Botol kultur atau petridis diletakkan pada kondisi gelap selama 10 hari. Setelah berkecambah, kotiledon dan hipokotil siap ditanam didalam media MS sesuai perlakuan. Kotiledon dan hipokotil dengan ukuran ± 0,5 cm diambil dari perkecambahan biji tomat umur 10 hari, kemudian dilakukan penanaman pada media MS.

Parameter yang diamati dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1) Saat terbentuknya tunas (hsi): Dihitung saat tunas mulai terbentuk setelah inisiasi.

2) Tinggi tunas (cm): Diukur setelah eksplan umur 2 bulan, pengukuran dilakukan setelah sub kultur ke- 2.

3) Berat basah tunas (gram) : Diukur setelah eksplan umur 2 bulan setelah subkultur ke-2.

4) Warna calon tunas : diamati secara visual, kemudian dikuantitatifkan.

Keterangan: + + + + + (5) = Hijau,

+ + + + (4) = Hijau kekuningan,

+ + + (3) = Putih kecoklatan, + + (2) = Kecoklatan, + (1) = Putih

5) Persentase pertumbuhan plantlet (%).

Persentase

pertumbuhan planlet =

HASIL DAN PEMBAHASAN

Eksplan yang digunakan berupa kotiledon dan hipokotil dari perkecambahan tomat umur 10 hari setelah kecambah (HSC), dimana kotiledon telah tumbuh dan berkembang dengan penuh dan berwarna hijau (Gambar 1A). Wattimena (1992) menyebutkan bahwa bagian tanaman yang masih muda (Juvenile), dimana keadaan sel-selnya masih aktif membelah, merupakan bagian tanaman yang paling baik untuk eksplan. Benih tomat dikecambahkan pada kondisi In- vitro agar diperoleh sumber eksplan yang steril (Gambar 1B). Kontaminan yang sering menyerang berupa jamur, bakteri dan ragi (Gambar 1C). Eksplan yang telah terkontaminsi sangat sulit disterilkan.

Eksplan mengalami pembengkakan pada umur 4–7 hari setelah tanam. Bekas irisan pada eksplan akan membentuk sekumpulan sel yang membelah, tumbuh dan berkembang terus, tidak terdiferensiasi dan tidak teratur yang disebut callus (kalus) (Gambar 1D).

Bagian eksplan yang terinisiasi membentuk kalus, disebabkan sel-sel yang kontak dengan media terdorong menjadi meristematik dan selanjutnya aktif mengadakan pembelahan seperti jaringan penutup luka.

(Winoto, 1990) dalam Santoso dan Nursandi (2002).

Sumber eksplan yang digunakan mempengaruhi kecepatan kalus (Santoso dan Nursandi, 2002), disamping itu keseimbangan zat pengatur tumbuh berupa auksin dan sitokinin yang ditambahkan dalam media juga berperan dalam mengontrol proses pembentukan kalus, tunas, dan akar dalam kultur In- vitro. Kalus terbentuk umur (8–70) hari setelah tanam selanjutnya terus berkembang selama induksi tunas.

Subkultur dilakukan ± (2–3) minggu sekali. Tunas terbentuk pada umur 10-70 hari setelah tanam (Gambar 1E dan Gambar 1F). Konsentrasi BAP yang tinggi, merangsang diferensiasi kalus membentuk tunas (Hendaryono dan Wijayani, 2004).

Planlet yang terbentuk

X 100%

Jumlah total eksplan yang ditanam

(4)

Agritrop – Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 118

1A 1B 1C

1D 1 E 1F

Gambar 1. Pertumbuhan kultur tomat varietas Liontin pada induksi tunas.

A. kecambah tomat umur 10 HSC (hari setelah kecambah).

B eksplan kotiledon dalam keadaan seteril.

C. kontaminasi perlakuan.

D. kalus (callus). E. eksplan bertunas.

F. Planlet umur 60 HST (hari setelah tanam).

Perlakuan yang diberikan untuk parameter saat terbentuknya tunas, menunjukkan respon berbeda sangat nyata pada faktor media perlakuan (A), faktor sumber eksplan (B) dan faktor interaksi (AB).

Tabel 1. Pengaruh interaksi (AB) antara media perlakuan (A) dan pengaruh sumber eksplan (B) terhadap saat terbentuknya tunas (hsi)

Faktor Interaksi (AB)

Perlakuan Rata-rata Notasi

A1B2 A2B2 A3B2 A0B1 A1B1 A0B2 A3B1 A2B1

70.000 49.500 41.500 41.000 40.000 39.667 39.333 38.333

e d c bc abc abc ab

a Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang

diikuti oleh huruf yang sama

menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 1 tampak bahwa semua perlakuan media yang dikombinasikan dengan eksplan kotiledon (A2B1, A3B1, A1B1, A0B1) saat terbentuknya tunas paling cepat. Hal ini karena kotiledon mengandung jaringan meristem yang mudah mengalami pembelahan sel. Eksplan kotiledon tomat varietas Liontin yang ditunjukkan pada media MS + 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2B1) memiliki rata-rata saat terbentuknya tunas paling cepat dan menunjukkan respon berbeda tidak nyata dengan perlakuan A3B1, A0B2, A1B1.

Pemberian konsentrasi yang relatif sedang pada media MS + 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2B1) dapat menginduksi saat terbentuk tunas paling cepat.

Perlakuan eksplan hipokotil dalam media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1B2) saat terbentuknya tunas paling lama, dan menunjukkan respon berbeda nyata terhadap perlakuan lain pada hasil analisis sidik ragam (Tabel 1). Organ hipokotil merupakan organ yang mudah berdiferensiasi dan menghasilkan kalus.

Penambahan sitokinin eksogen yang terlalu tinggi menyebabkan pertumbuhan kalus yang semakin meningkat.

Tabel 2. Pengaruh faktor tunggal media perlakuan (A) dan pengaruh faktor tunggal sumber eksplan (B) terhadap saat terbentuknya tunas (hsi)

Faktor Tunggal (A) Faktor Tunggal (B)

Perlakuan Media Sumber Eksplan

Perlakuan Rata-rata Notasi Perlakuan Rata-rata Notasi A1

A2 A3 A0

55,000 43,917 40,417 40,333

c b a a

B2 B1

50,167 39,667

b a

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

(5)
(6)

Agritrop – Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 119

Pada Tabel 2, tampak bahwa perlakuan faktor media (A) menunjukkan respon berbeda tidak nyata antara perlakuan media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0) dan media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm ppm BAP (A3), tetapi keduanya menunjukkan berbeda nyata terhadap media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1) dan media MS + 0,2 ppm IAA + 1 pmm BAP (A2). Media A0 sebagai perlakuan kontrol memiliki rata-rata saat terbentuknya tunas paling cepat.

Hal ini disebabkan pada media A1, A2 dan A3 sebelum membentuk tunas eksplan terlebih dahulu membentuk kalus, sedangkan pada media A0 eksplan langsung membentuk tunas sehingga pertumbuhannya lebih cepat. Perlakuan tunggal sumber eksplan (B) pada

Tabel 2 menunjukkan bahwa antara perlakuan eksplan kotiledon (B1) dan eksplan hipokotil (B2) berbeda nyata terhadap saat terbentuknya tunas. Eksplan B2 saat terbentuknya tunas lebih lama dibanding dengan eksplan B1. Hal ini dikarenakan eksplan B1 (kotiledon) mengandung bakal tunas dan jaringan yang masih muda sehingga aktif untuk membelah dengan adanya auksin endogen yang cukup tinggi memungkinkan terbentuknya tunas lebih cepat dibanding dengan hipokotil (B2).

Perlakuan yang diberikan untuk parameter tinggi tunas, menunjukkan respon berbeda nyata pada faktor media perlakuan (A), berbeda sangat nyata pada faktor sumber eksplan (B) dan faktor interaksi (AB).

Tabel 3. Pengaruh interaksi (AB) antara media perlakuan (A) dan pengaruh sumber eksplan (B) terhadap tinggi tunas (cm)

Faktor Interaksi (AB)

Perlakuan Rata-rata Notasi

A1B1 A3B1 A2B1 A0B1 A3B2 A0B2 A2B2 A1B2

1,588 1,048 0,972 0,929 0,921 0,836 0,775 0,707

a b bc bc bc bc bc c

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 3 tampak bahwa semua perlakuan yang dikombinasi dengan eksplan kotiledon (A1B1, A3B1, A2B1, A0B1) memiliki rata-rata tunas yang tinggi. Perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP dengan eksplan kotiledon (A1B1) menunjukkan rata-rata tunas paling tinggi dan menunjukkan respon berbeda nyata. Perlakuan dalam media MS 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3B1) menunjukkan respon berbeda tidak nyata dengan perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2B1) dan media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0B1). Kotiledon merupakan

organ penyimpanan makanan, kandungan nutrisi dalam eksplan semakin meningkat dengan adanya nutrisi eksogen yang diserap dari bahan-bahan makanan di dalam kotiledon, sehingga dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan tunas. Perlakuan eksplan hipokotil dalam media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1B2) memiliki rata-rata tinggi tunas paling rendah dan menunjukkan respon berbeda tidak nyata terhadap (A2B2, A0B2, A3B2) pada hasil analisis sidik ragam.

Tabel 4. Pengaruh faktor tunggal media perlakuan (A) dan pengaruh faktor tunggal sumber eksplan (B) terhadap tinggi tunas (cm)

Faktor Tunggal (A) Faktor Tunggal (B)

Perlakuan Media Sumber Eksplan

Perlakuan Rata-rata Notasi Perlakuan Rata-rata Notasi A1

A3 A0 A2

1,148 0,984 0,883 0,873

a b b b

B1 B2

1,134 0,810

a b

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 4, media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1) memiliki rata-rata tunas paling tinggi dan menunjukkan respon berbeda nyata dengan perlakuan A0, A2 dan A3, sedangkan perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2) memiliki rata- rata tinggi tunas paling rendah tetapi menunjukkan

respon berbeda tidak nyata dengan perlakuan media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0) dan media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3). Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berperan dalam pemanjangan sel adalah auksin, konsentrasi auksin yang tinggi akan mendorong pemanjangan tunas. Nisbah atau

(7)

perbandingan IAA dan BAP pada media A1 lebih rendah dibanding media A3, A2 sedangkan nisbah IAA terhadap BAP pada media A3 paling tinggi. Eksplan kotiledon (B1) menunjukkan respon berbeda nyata terhadap eksplan hipokotil (B2). Rata-rata eksplan kotiledon B1 paling tinggi dibanding eksplan B2 (hipokotil) yang memiliki rata-rata tinggi tunas paling rendah (Tabel 4.). Hasil metabolisme dari proses perombakan bahan-bahan makanan, yang dikandung atau terdapat pada masing-masing eksplan menjadi

salah satu faktor utama dalam proses pertumbuhan tanaman. Tanaman tanpa energi akan mengalami kesulitan dalam proses tumbuh dan berkembang.

Penambahan tinggi tunas merupakan salah satu bagian dari proses pertumbuhan suatu tanaman (Ratna, 2005).

Perlakuan yang diberikan untuk parameter berat basah tunas, menunjukkan respon berbeda sangat nyata pada faktor media perlakuan (A), faktor sumber eksplan (B) dan faktor interaksi (AB).

Tabel 5. Pengaruh interaksi (AB) antara media perlakuan (A) dan pengaruh sumber eksplan (B) terhadap berat basah tunas (g)

Faktor Interaksi (AB)

Perlakuan Rata-rata Notasi

A1B1 A3B2 A3B1 A2B1 A0B1 A0B2 A2B2 A1B2

1,227 1,056 1,049 0,827 0,806 0,796 0,775 0,707

a b b c c c c c

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 5 tampak bahwa perlakuan yang dikombinasikan dengan eksplan kotiledon (A1B1, A3B1, A2B1, A0B1) memiliki rata-rata berat basah tunas paling tinggi. Perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP dengan eksplan kotiledon (A1B1) menunjukkan rata-rata berat basah tunas paling tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lain. Kotiledon merupakan organ penyimpanan makanan, kandungan nutrisi dalam eksplan semakin meningkat dengan

adanya nutrisi eksogen yang diserap dari bahan-bahan makanan di dalam kotiledon, sehingga dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan tunas.

Perlakuan eksplan hipokotil dalam perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1B2) memiliki rata-rata berat basah tunas paling rendah dan menunjukkan respon berbeda tidak nyata dengan perlakuan A0B2, A2B2 namun berbeda nyata dengan perlakuan A3B2.

Tabel 6. Pengaruh faktor tunggal media perlakuan (A) dan pengaruh faktor tunggal sumber eksplan (B) terhadap berat basah tunas (g)

Faktor Tunggal (A) Faktor Tunggal (B)

Perlakuan Media Sumber Eksplan

Perlakuan Rata-rata Notasi Perlakuan Rata-rata Notasi A3

A1 A0 A2

1,052 0,967 0,801 0,801

a b c c

B1 B2

0,977 0,833

a b

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3) memiliki rata-rata berat basah tunas paling tinggi, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan A0, A1, A2 dan perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2) memiliki rata-rata berat basah paling rendah tetapi berbeda tidak nyata dengan perlakuan media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0) dan berbeda nyata terhadap perlakuan A1 dan A3. Eksplan

kotiledon (B1) menunjukkan respon berbeda nyata terhadap eksplan hipokotil (B2). Rata-rata berat basah pada eksplan B1 paling tinggi dibanding B2 (Tabel 6).

Perlakuan yang diberikan untuk parameter warna calon tunas, menunjukkan respon berbeda sangat nyata pada faktor media perlakuan (A), faktor sumber eksplan (B) dan faktor interaksi (AB).

(8)

Agritrop – Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 121

Tabel 7. Pengaruh interaksi (AB) antara media perlakuan (A) dan pengaruh sumber eksplan (B) terhadap warna calon tunas

Faktor Interaksi (AB)

Perlakuan Rata-rata Notasi

A1B2 A2B2 A1B1 A3B1 A3B2 A0B1 A2B1 A0B2

5.000 5.000 5.000 5.000 4.000 4.000 4.000 3.333

a a a a b b b c

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 7 ditunjukkan bahwa semua perlakuan dalam media A1B2, A2B2, A1B1 dan A3B1 menunjukkan respon berbeda tidak nyata dan memiliki rata-rata warna calon tunas yang nilainya sama (5.000) dan paling besar dibanding dengan perlakuan lain.

Sedangkan dalam perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3B2) menunjukkan respon berbeda tidak nyata terhadap perlakuan A0B1 dan A2B1.

Perlakuan dalam media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0B2) memiliki rata-rata warna calon tunas

paling rendah dan berbeda nyata dengan perlakuan lain.

Warna hijau dan hijau kekuningan diduga masih membawa sifat asli dari eksplan (Tripama, dkk., 2009).

Hasil penelitian Wiyono (2005), menyebutkan bahwa perubahan yang terjadi pada eksplan yang berwarna hijau, hijau kekuningan, putih kecoklatan adalah akibat adanya proses dekomposisi klorofil. Warna kecoklatan pada calon planlet (browning) disebabkan oleh keluarnya zat polifenol dari eksplan.

Tabel 8. Pengaruh faktor tunggal media perlakuan (A) dan pengaruh faktor tunggal sumber eksplan (B) terhadap terhadap warna calon tunas

Faktor Tunggal (A) Faktor Tunggal (B)

Perlakuan Media Sumber Eksplan

Perlakuan Rata-rata Notasi Perlakuan Rata-rata Notasi A1

A2 A3 A0

5.000 4.500 4.500 3.667

a b b c

B1 B2

4.500 4.333

a b

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Tabel 8 tampak bahwa perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1) memiliki rata-rata warna calon tunas paling tinggi. Sedangkan dalam perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP (A2) menunjukkan respon berbeda tidak nyata dengan perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3). Pada media MS + 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0) memiliki rata-rata warna calon tunas paling rendah dan berbeda nyata dengan perlakuan media yang lain. Pada perlakuan eksplan menunjukkan respon berbeda nyata, perlakuan eksplan kotiledon (B1) memiliki rata-rata warna calon tunas paling tinggi dibanding eksplan hipokotil (B2). Warna hijau dan hijau kekuningan diduga masih membawa sifat asli dari eksplan.

Perlakuan yang diberikan untuk parameter persentase petumbuhan planlet, menunjukkan respon berbeda sangat nyata pada faktor media perlakuan (A), faktor sumber eksplan (B) dan faktor interaksi (AB).

Tabel 9. Pengaruh interaksi (AB) antara media perlakuan (A) dan pengaruh sumber eksplan (B) terhadap persentase pertumbuhan planlet (%)

Faktor Interaksi (AB)

Perlakuan Rata-rata Notasi A1B1

A3B1 A2B1 A3B2 A0B2 A2B2 A0B1 A1B2

83,251 83,251 71,565 63,435 56,789 45,000 39,232 0,906

a a b bc

c d d e Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang

diikuti oleh huruf yang sama

menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

(9)

Pada Tabel 9 dinyatakan, bahwa interaksi antara eksplan kotiledon dengan perlakuan media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1B1) menunjukkan rata–rata persentase pertumbuhan planlet paling besar dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3B1). Persentase pertumbuhan planlet karena adanya peningkatan penyerapan nutrisi. Nutrisi dapat berasal dari eksplan itu sendiri maupun dari media. Eksplan kotiledon merupakan organ yang kaya akan cadangan makanan, sedangkan perlakuan interaksi eksplan hipokotil dalam media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1B2) menunjukkan rata-rata presentase pertumbuhan planlet

paling kecil (Tabel 9). Pada kombinasi media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP dengan eksplan hipokotil (A3B2) memiliki rata–rata persentase pertumbuhan planlet yang besar dibanding perlakuan A0B2, A1B2, dan A2B2 yang dikombinasikan dengan eksplan hipokotil dan menunjukkan respon berbeda nyata antar perlakuan. Pemberian BAP yang cukup besar dan IAA dalam konsetrasi rendah mampu merangsang pertumbuhan planlet. Pembentukan kalus meningkat dengan BAP pada konsentrasi tinggi, padahal merupakan bagian yang mudah berdiferensiasi dan menghasilkan kalus (Mizwar dan Oktarina, 2007).

Tabel 10. Pengaruh faktor tunggal media perlakuan (A) dan pengaruh faktor tunggal sumber eksplan (B) terhadap persentase pertumbuhan planlet (%)

Faktor Tunggal (A) Faktor Tunggal (B)

Perlakuan Media Sumber Eksplan

Perlakuan Rata-rata Notasi Perlakuan Rata-rata Notasi A3

A2 A0 A1

73,343 58,283 48,010 45,000

a b c d

B1 B2

69,325 41,533

a b

Keterangan : Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan taraf 5%.

Pada Table 10, media MS + 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3) memiliki rata-rata persentase pertumbuhan planlet paling besar dibanding perlakuan yang lain dan menunjukkan respon berbeda nyata terhadap perlakuan A0, A2, dan A1 dan dalam media MS + 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1) memiliki rata–rata presentase pertumbuhan planlet paling kecil dibanding perlakuan yang lain, dan antara perlakuan media menunjukkan respon berbeda nyata. Nisbah konsentrasi IAA dan BAP yang tinggi ternyata mampu merangsang persentase pertumbuhan planlet yang jauh lebih besar pada kultur tomat. Eksplan kotiledon (B1) menunjukkan respon berbeda nyata terhadap eskplan hipokotil (B2) kotiledon merupakan bagian dari kecambah tanaman dikotil yang merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan seperti (karbohidrat, lemak, dan protein). Pada kecambah yang utuh, cadangan makanan yang terdapat dalam kotiledon diserap guna disintesa untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri.

Kotiledon juga disebut daun muda tumbuhan dikotil, dimana kotiledon akan membentuk klorofil dan melakukan proses fotosintesa dengan bantuan cahaya.

Fungsi kotiledon inilah yang diduga menjadi faktor utama yang dapat menumbuhkan pertumbuhan tunas lebih besar dibanding dengan organ hipokotil atau organ lainnya. Yusnita (2004), berpendapat bahwa kenaikan sintesa bahan–bahan makanan dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan.

KESIMPULAN

1) Imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP terhadap respon sumber eksplan pada perlakuan media MS 0 ppm IAA + 0 ppm BAP (A0) menunjukkan pengaruh tercepat terhadap parameter saat terbentuknya tunas, pada perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP (A1) menunjukkan pengaruh terbaik terhadap parameter (tinggi tunas, warna calon tunas) dan pada perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 1,5 ppm BAP (A3) menunjukkan pengaruh terbaik terhadap parameter (berat basah tunas, persentase pertumbuhan planlet).

2) Respon sumber eksplan yang lebih baik terhadap imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP pada perlakuan sumber eksplan kotiledon (B1) menunjukkan pengaruh terbaik terhadap parameter (saat terbentuknya tunas, tinggi tunas, berat basah tunas, warna calon tunas, dan persentase pertumbuhan planlet).

3) Interaksi antara imbangan konsentrasi ZPT IAA dan BAP dengan sumber eksplan pada perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 0,5 ppm BAP dengan eksplan kotiledon (A1B1), menunjukkan pengaruh terbaik terhadap parameter (tinggi tunas, berat basah tunas, warna calon tunas, persentase pertumbuhan planlet) pada perlakuan media MS 0,2 ppm IAA + 1 ppm BAP dengan eksplan kotiledon (A2B1) menunjukkan pengaruh tercepat terhadap parameter saat terbentuknya tunas.

(10)

Agritrop – Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 123

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2008. Budidaya dan Usahatani Tomat.

Kanisius, Yogyakarta.

Garpersz, V. 2001. Metode Kultur Jaringan Percobaan. Armico, Bandung.

Hendaryono, D.P.S., dan A. Wijayani. 2004. Teknik Kultur Jaringan. Kansinius, Yogyakarta.

Herawati, E. 2005. Induksi tunas dan akar pada pemberian BAP dan IAA pada Tomat. Fakultas Pertanian Universitas Jember, Jember.

Ichsan, M.C. 2009. Model Dinamika Perilaku Sistem Sebagai Analisis Strategi Kebijakan Pengembangan Agroekosistem Lahan Kering.

Agritrop, 7(1): 19-30.

Mizwar dan Oktarina. 2007. Isolasi dan Karakteristik Phytase dari Aspirgillus ficuum Hasil Fermentasi pada Media Padat. Agritrop, 5(2): 56-60.

Ratna, N. 2005. Pengaruh 2,4-D dan Kombinasi NAA dengan Kinetin Terhadap Pertumbuhan dan Perkecambahan Kalus Tomat (Lycopersicon escelentum MiII) Varietas Kemir. http://www.

Unmul.id. Diakses 12 Februari 2006.

Santoso, U. dan F. Nursandi. 2002. Kultur jaringan Tanaman. Pusbutan – UMM Malang.

Tripama, B., M.C. Ichsan, dan E. Herianto. 2009.

Responsibilitas Varietas Akibat Penggunaan Dosis Pupuk Guano Terhadap Produksi Tomat (Lycopersicum esculkentum Mill).

Agritrop, 7(1): 44-54.

Wattimena, G.A. 1992. Zat Pengatur Tumbuh.

Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman PAU Bioteknologi, IPB, Bogor.

Widiarti, W., I. Umarie, dan A. Hidayat. 2009. Rerspon Tanaman Tomat (Lyucopersicum esculentum Mill) dengan Penambahan Konsentrasi Dua Jenis Auksin dan Kinetin Secara In-Vitro.

Agritrop, 7(1): 31-38.

Wiyono, A. 2005. Level penggunaan BAP (6-benzyl amino purine) dalam media Kultur Jaingan terhadap Pembentukan Kalus pada Tiga Varietas Jahe (Zyngiber officinale, Tos).

Faperta UM, Jember.

Yusnita. 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Gambar

Gambar 1.    Pertumbuhan kultur tomat varietas Liontin pada induksi tunas.

Referensi

Dokumen terkait