• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Tata Spasial Hunian Masyarakat Bali Perkotaan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Model Tata Spasial Hunian Masyarakat Bali Perkotaan."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MODEL TATA SPASIAL HUNIAN MASYARAKAT

BALI PERKOTAAN

Ngakan Putu Sueca

PROGRAM STUDI ARSITKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)

2007

Desa Kota

2025

Pdd desa

Pdd kota

Perkembangan proporsi penduduk

perdesaan dan perkotaan di

Indonesia

(4)

Kota kini menjadi

MESIN KEHIDUPAN

MASA DEPAN TERGANTUNG PADA BAGAIMANA

KITA MERANCANG DAN MENGELOLA KOTA KITA

Semakin banyak orang mengandalkan hidup pada kota

Kota menjadi sumber kemakmuran

Kota pusat produksi

Kota pusat pelayanan terbaik

(5)

Kehidupan kota memiliki ciri atau karakteristik

yang sangat berbeda dengan kehidupan perdesaan

(6)

Rumah

: sangat

penting

bagi siapa pun

Tempat berlindung

Membesarkan dan mengasuh anak

Mengembangkan budaya

Membina kehidupan sosial

Menjalankan kegiatan ekonomi

Melaksanakan kegiatan adat istiadat

Mempertahankan tradisi

(7)

Telah terjadi

TRANSFORMASI KULTURAL

pada masyarakat Bali pada umumnya,

dari budaya agraris ke budaya industri

(8)

Akibatnya

terjadi fenomena:

(9)

Oleh karena itu: tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui:

1. Transformasi hunian tradisional yang terjadi di daerah perkotaan

2. Pola-pola aktivitas dan keruangan hunian masyarakat di daerah perkotaan

3. Pola spasial rumah masyarakat di daerah perkotaan

4. Unsur-unsur atau pola/nilai tradisi lama yang masih bertahan dalam hunian saat ini

(10)

Dengan pemahaman ini maka diharapkan akan

dapat ditemukan

konsep keruangan hunian

modern masyarakat perkotaan

sebagai dasar pengembangan rumah

yang berwawasan budaya Bali

,

baik oleh

para arsitek, pengembang perumahan, pemerintah,

dan para pemangku kepentingan lainn

ya sehingga

(11)

HASIL DAN BAHASAN

KONTEKS KEKOTAAN:

Karakteristik

masyarakat perkotaan berbeda

dengan

masyarakat di daerah perdesaan

Profesi:

non pertanian

Kepadatan penduduk

lebih tinggi, juga

kepadatan

bangunan

nya

Harga

lahan jauh lebih mahal

Relatif lebih

panas

akibat daerah penghijauan yang kurang

Secara sosiologis,

lebih individual

,

solidaritas komunal

berkurang

.

(12)

HASIL DAN BAHASAN

POLA-POLA AKTIVITAS DAN KERUANGAN HUNIAN

AKTIVITAS DOMESTIK

:

Aktivitas domestik masyarakat perkotaan dan perdesaan tidak terlalu banyak

berbeda.

Perbedaan

yang ada adalah

pada jenis, intensitas,

proporsi

kegiatan

Aktivitas domestik

seperti: memasak, beristirahat, mencuci, bekerja,

belajar, bersenda gurau, membersihkan rumah, berkebun, menerima tamu,

berekreasi, menyimpan, mandi dan membersihkan diri, dan berbagai kegiatan

sejenis lainnya

(13)

HASIL DAN BAHASAN

POLA-POLA AKTIVITAS DAN KERUANGAN HUNIAN

AKTIVITAS RITUAL

:

Secara umum,

aktivitas ritual tidak terlalu banyak

mengalami perubahan

dan tidak pula berpengaruh penting terhadap

tatanan spasial rumah. Hal ini telah menjadi temuan umum bahwa hal-hal yang

terkait dengan nilai religiusitas dan kegiatan keagamaan paling sedikit mengalami

perubahan dibandingkan dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya.

Menghaturkan

sodan

(ritual harian setelah selesai memasak)

Melaksanakan

panca yadnya

seperti sembahyang setiap hari, pada saat

hari-hari tertentu (

purnama, tilem, tanggalan kliwon,

dll.)

Melaksanakan

butha yadnya

seperti halnya (

mecaru

)

(14)

HASIL DAN BAHASAN

POLA-POLA AKTIVITAS DAN KERUANGAN HUNIAN

AKTIVITAS EKONOMI

:

Perubahan mendasar pada seting tradisional

Lebih dominan

dibandingkan dengan di daerah perdesaan.

Menggunakan area telajakan

atau area yang berorientasi ke

jalan raya. Akses terhadap promosi dan pelanggan menjadi alasan mengapa area ini

mengalami transformasi yang signifikan.

Juga area yang lebih dalam

dari rumah tradisional juga

(15)

HASIL DAN BAHASAN

POLA SPASIAL RUMAH MASYARAKAT DI DAERAH URBAN

SETING SOSIAL KULTURAL MENJADI TEMPAT PRODUKSI

Dulu

sawah dan ladang

merupakan lahan untuk

berproduksi

Dulu rumah merupakan

seting sosial

dan

kultural

K I N I

Ketika masyarakat memiliki profesi yang beragam dan ganda, sawah dan ladang bukan lagi

sebagai tempat utama untuk berproduksi.

Rumah

juga merupakan

tempat

produksi

Kini rumah sebagai

tempat bereproduksi dan produksi

(16)

HASIL DAN BAHASAN

HILANGNYA TEBA/KEBUN BELAKANG RUMAH

Teba

atau kebun/ladang yang memiliki banyak fungsi pada rumah tradisional .

Teba menghilang

terutama karena kebutuhan ruang yang meningkat

baik karena perkembangan demografi keluarga maupun karena alasan lainnya.

(17)

HASIL DAN BAHASAN

DEPAN DAN BELAKANG RUMAH

Tatanan spasial tradisional:

nilai sakral profan

Fenomena baru

antara lain adalah: depan belakang; bersih kotor, atas

bawah, publik privat, disamping tatanan tradisional tetap bertahan seperti hulu

teben, sakral dan profan

Berbagai

indikator

seperti:

penempatan ruang

;

jenis

dan sifat kegiatan

;

peralatan dan

perlengkapan

depan

adalah yang bersifat

: “

bersih

”,

bernilai, suci, utama

(18)

HASIL DAN BAHASAN

HULU DAN TEBEN/SAKRAL DAN PROFAN

Ruang tidak netral

terkait dengan nilai-nilai kepercayaan dan

keyakinan

Kiblat

masih tetap dipertahankan

Nilai tradisi masih

tersisa: hulu teben

.

Variasi nilai

muncul: perbedaan persepsi dan cara pandang

(19)

HASIL DAN BAHASAN

BERSIH DAN KOTOR

Selaras dengan fenomena depan belakang

. Depan

berarti bersih dan belakang identik dengan kotor. Namun demikian, tidak

jarang dijumpai bahwa dibagian depan rumah terdapat

indikator-indokator kekotoran seperti jemuran, garasi, gudang, tempat sampah,

Umumnya pada lahan-lahan sempit dimana arah depan memberikan

keleluasaan untuk mendapatkan sinar matahari untuk mengeringkan

pakaian yang dicuci. Tiada pilihan lain karena lahan penuh terbangun

dimanfaatkan untuk mendapatkan ruang bangunan yang tertutup

(20)

HASIL DAN BAHASAN

ATAS DAN BAWAH

Vertikalitas

telah menjadi fenomena penting dalam era kota

Tanah mahal, langka dan makin terbatas

Berbanding terbalik dengan jumlah manusia penghuninya

Pengembangan tanah ke samping sangat tidak mungkin, oleh karena itu,

kekurangan atas tempat dilakukan ke arah atas, vertikal

(21)

HASIL DAN BAHASAN

POLA SPASIAL RUMAH MASYARAKAT DI DAERAH URBAN

PUBLIK DAN PRIVAT

Rumah sebagai area privat seringkali menjadi

area publik

dimana setiap orang memiliki akses untuk

menggunakannya.

Kebutuhan privasi

bagi masyarakat kini di daerah perkotaan

jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenyataan pada rumah tradisional.

(22)

HASIL DAN BAHASAN

POLA SPASIAL RUMAH MASYARAKAT DI DAERAH URBAN

NILAI KOMODITAS

Rumah dulu sakral

tidak dapat diperjualbelikan

Kini, tanah dan rumah yang ada didalamnya merupakan

barang

dagangan

yang dapat diperjualbelikan, memiliki nilai ekonomi

Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa tanah yang mereka

tempati adalah tanah ulayat milik desa yang sewaktu-waktu karena

(23)

HASIL DAN BAHASAN

POLA SPASIAL RUMAH MASYARAKAT DI DAERAH URBAN

NATAH

natah

sampai saat ini masih sebagai

ruang yang sangat

esensial

, baik yang bermakna spiritual maupun profan.

Ruang ini masih memiliki fungsi terutama dalam kaitannya untuk

mewadahi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.

(24)

HASIL DAN BAHASAN

SINGLE TO MULTI FAMILY HOUSE

Dulu,

setiap keluarga

tinggal dalam satu petak pekarangan

Kini,

cara bermukim berubah

Rumah: lebih dari satu keluarga inti (

extended family

)

Bangunan ada yang masih berupa

bale

dengan fungsi khusus seperti bale

dangin atau bale daja, jineng/kelumpu, dsb.

Kini juga bale atau bangunan dapat terdiri dari beberapa ruangan dengan

berbagai fungsi yang diwadahi

(25)

Kesimpulan

Budaya bermukim berubah dan akan terus

berkembang

Rumah dari seting kultural dan tempat reproduksi

menjadi tempat produksi

Nilai komoditas melekat pada rumah di kota

Terjadi densifikasi dan efisiensi penggunaan lahan

Keragaman penafsiran terhadap apa yang benar

dan baik

(26)
(27)
(28)
(29)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | iii

UDAYANA UNIVERSITY PRESS

2015

SEMINAR NASIONAL

DAN TEKNOLOGI

Kuta, 29 - 30 Oktober 2015

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN

KEPADA MASYARAKAT

(30)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

iv | Kuta, 29-30 Oktober 2015

Ni Made Ary Esta Dewi Wirastuti, S.T., MSc. PhD Prof. Dr. Drs. IB Putra Yadnya, M.A.

Prof. Dr. Ir. I Gede Mahardika, M.S. Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, SH., MHum., LLM.

Prof. Dr. drh. I Nyoman Suarsana, M.Si Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, M.P.

Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc., Ph.D Prof. Dr. Ir. Nyoman Gde Antara, M.Eng

Dra. Ni Luh Watiniasih, MSc, Ph.D Prof. Dr. drh. Ni Ketut Suwiti, M.Kes. Prof. Dr. Ir. I Made Alit Karyawan Salain, DEA.

Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D. Ir. Ida Bagus Wayan Gunam, MP, Ph.D dr. Ni Nengah Dwi Fatmawati, SpMK, Ph.D

Dr. Agoes Ganesha Rahyuda, S.E., M.T. Putu Alit Suthanaya, S.T., M.Eng.Sc, Ph.D.

I Putu Sudiarta, SP., M.Si., Ph.D. Dr. Ir. Yohanes Setiyo, M.P. Dr. P. Andreas Noak, SH, M.Si I Wayan Gede Astawa Karang, SSi, MSi, PhD.

Dr. Drh. I Nyoman Suarta, M.Si

l

Udayana University Press, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana

2015, xli + 2191 hal, 21 x 29,7

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

(31)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

(32)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | vii

KATA PENGANTAR

S

eminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK), merupakan agenda tahunan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, dan tahun 2015 merupakan penyelenggaraan SENASTEK yang ke II dalam upaya menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Seminar ini merupakan sarana komunikasi bagi para peneliti dan pengabdi dari perguruan tinggi, institusi pendidikan, lembaga penelitian maupun industri guna mempercepat pengembangan sains dan teknologi.

Berbeda dengan Senastek sebelumnya, Senastek II tahun ini selain mendesiminasikan hasil penelitian, juga mendesiminasikan hasil Pengabdian Kepada Masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan sivitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan sains dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana hasil-hasilnya nyata dapat dirasakan oleh masyarakat dan menjadi tolok ukur sejauh mana hasil-hasil penelitian dapat diabdikan untuk memaslahatan masyarakat banyak.

Senastek II, tahun 2015 diselenggarakan dalam kaitan dengan ulang tahun ke 53 Universitas Udayana dan dalam rangka desiminasi hasil-hasil penelitian peneliti dari berbagai Perguruan Tinggi termasuk Unud, Lembaga Penelitian, dll. Tema Senastek II adalah “Inovasi Humaniora, Sains dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan” dengan tujuan penyebarluasan informasi hasil penelitian dan pengabdian, Ajang pertemuan ilmiah para peneliti dan pengabdi yang bergerak di bidang sains dan teknologi, dan Sarana tukar informasi bagi para peneliti dan pengabdi dalam rangka pengembangan sains dan teknologi ke depan. Topik Makalah meliputi: Bidang Humaniora, Ketahanan PanganKesehatan dan Obat-obatan, Energi baru dan terbarukan Transportasi dan manufaktur, Informasi dan Komunikasi Pertahanan dan keamanan, ketertiban dan kebencanaan, Biodiversitas, lingkungan dan , sumberdaya alam

Kegiatan Seminar ini diharapkan dapat mendorong terjadinya pertukaran informasi, pengetahuan, dan pengalaman dalam penerapan sains dan teknologi untuk pemecahan permasalahan di masyarakat, serta kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan publikasi hasil penelitian dan pengabdian; dan kerjasama antar peneliti; antar Perguruan Tinggi dan Lembaga-lembaga penelitian di Indonesia.

(33)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | xiii

KATA PENGANTAR ... vii SAMBUTAN KETUA PANITIA ... ix SAMBUTAN KETUA LPPM UNIVERSITAS UDAYANA ... xi

HUMANIORA

NILAI LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM

Fenty U. Puluhulawa, Nirwan Yunus ...3

KEBIJAKAN LOKAL DAN ETNISITAS MENUJU INTEGRASI KELOMPOK ETNIS

DI KABUPATEN POHUWATO

Wantu Sastro ...8

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU DALAM RESTORASI DAN KONSERVASI TERUMBU KARANG DI PEMUTERAN BALI SEBAGAI DAYA TARIK EKOWISATA

I Ketut Surya Diarta, I Gede Setiawan Adi Putra ...13

KEMAMPUAN BAHASA BALI GENERASI MUDA BALI DI UBUD GIANYAR BALI

Ni Luh Nyoman Seri Malini, Luh Putu Laksminy, I Ketut Ngurah Sulibra ...21

INTENSITAS KAPITAL INDUSTRI DAN DINAMISME KEUNGGULAN KOMPARATIF PRODUK EKSPOR INDONESIA

Ni Putu Wiwin Setyari ...29

MODEL ESTIMASI KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN FAKTOR-FAKTOR INTERNAL UKM DI KABUPATEN BANDUNG

Rivan Sutrisno,Mardha Tri Meilani ...38

KAMUS PRIMITIVA SEMANTIK BALI-INDONESIA-INGGRIS BIDANG ADAT DAN AGAMA Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum, Drs. I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D,

Dr. Drs. I wayan Suardiana, M.Hum, Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M.Hum.,

Dr. Drs. Frans I Made Brata, M.Hum ...46

MODEL KONFIGURASI MAKNA TEKS CERITA RAKYAT TENTANG PRAKTIK-PRAKTIK BUDAYA RANAH AGAMA DAN ADAT

UNTUK MEMPERKOKOH JATI DIRI MASYARAKAT BALI

Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum, Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum,

Dr. Frans I Made Brata, M.Hum, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U ... 54

(34)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

xxxviii | Kuta, 29-30 Oktober 2015

MODEL KEKUTAN KERJA SAMA PEMERINTAH-MASYARAKAT PADA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PARIWISATA DI BALI

Ida Bagus Putu Adnyana ... 1868

PENGUJIAN PEMANFAATAN MIKROKONTROLER SEBAGAI PENGENDALI PENGAMAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA TERHADAP OVERLOAD

I Gst. Agung Putu Raka Agung , I Gst Agung K. Diafari Djuni H ... 1876

PENATARAN PEKERJA ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI DI DESA PAKRAMAN BEDHA KABUPATEN TABANAN

A. Ayu Oka Saraswati , I Wayan Kastawan Widiastuti Evert Edward Moniaga

A. ...1882

EVALUASI PENENTUAN KAPASITAS CB (CIRCUIT BREAKER) BERKAITAN DENGAN AKAN DIOPERASIKANNYA SUTET 500 KV (2.450 MW)

(JAWA BALI CROSSING) SEGARARUPEK – GILIMANUK - NEWANTOSARI PADA SISTEM KELISTRIKAN 150 KV BALI TAHUN 2017

Y P Sudarmojo, A I Weking ...1889

DAMPAK ELECTRONIC WORD OF MOUTH:

ADOPSI OPINI ONLINE PADA KOMUNITAS ONLINE KONSUMEN

A.A.G Agung Artha Kusuma, Ni Made Wulandari Kusumadewi ...1896

BIODIVERSITY LINGKUNGAN,

SUMBERDAYA ALAM

PENGARUH KONSENTRASI LOGAM KROM (Cr)

PADA PROSES FITOREMEDIASI TANAMAN AKAR WANGI

Achmad Zubair1), Mary Selintung2), Lawalenna Samang3), Hanapi Usman ...1907

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DI LAHAN REHABILITASI BEKAS TAMBANG BATUBARA DI PT SINGLURUS PRATAMA

Ishak Yassir, Burhanuddin Adman, Syamsu Eka Rinaldi ...1915

PERBANYAKAN VEGETATIF ANGGREK DENDROBIUM ‘SONIA’ MENGGUNAKAN BATANG DEWASA PADA MEDIA YANG BERBEDA

Ida Ayu Astarini1),...1923

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ION IMPRINTED POLYMERS (IIPs)

1) 1) Deana Wahyuningrum ...1929

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KARBON AKTIF

TERMODIFIKASI ERIOCHROME BLUE BLACK DARI BIJI PEPAYA

(35)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

xl | Kuta, 29-30 Oktober 2015

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK DAUN KAYU MANIS

(CINNAMOMUM BURMANNI BLUME) DAN UJI EFEKTIVITASNYA DALAM MENGENDALIKAN JAMUR FUSARIUM OXYSPORUM FORMA SPECIALIS LYCOPERSICI PENYEBAB PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT SECARA IN VITRO

Anak Agung Ketut Darmadi ...2025

GASIFIKASI BIOMASA DAN LIMBAH PADAT SISTEM SIRKULASI FLUIDIZED BED

I Nyoman Suprapta Winaya, Rukmi Sari Hartati, I Wayan Gede Ariastina ...2033

STRATEGI PENGENDALIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN MELALUI ZONING MAP DAN ZONING TEKS

Indayati Lanya , N.Netera. Subadiyasa, Ketut Sardiana, dan G.P. Ratna Adi ...2039

PENINGKATAN PRODUKSI, MUTU, DAN PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN BUNGA GUMITIR MELALUI PEMUPUKAN MINERAL

N. Netera Subadiyasa, dan Indayati Lanya ...2047

KEMAMPUAN DEGRADASI LIGNOSELULOSA DARI KONSORSIUM BAKTERI RUMEN SAPI BALI DAN RAYAP

IB. G. Partama, I M. Mudita, I G. L. O. Cakra, I W. Wirawan ...2055

MODEL TATA SPASIAL HUNIAN MASYARAKAT BALI PERKOTAAN

Ngakan Putu Sueca ...2062

PENGEMBANGAN GELLING AGENT ALAMI DARI DAUN GALING-GALING (CAYRATIA

TRIFOLIA L.) YANG MEMENUHI UJI KARAKTERISTIK FARMASETIS

I G.N.A. Dewantara Putra, I G.N. Jemmy A. Prasetia ...2070

HIDROLISA DENGAN ASAM DAN ENZIM DALAM PROSES KONVERSI ULVA LACTUCA MENJADI ETANOL

Tri Poespowati1, Ali Mahmudi Rini Kartika Dewi ...2077

EVALUASI PENGGUNAAN TEMPAT PEMELIHARAAN

(KONTAINER PLASTIK DAN JARING) UNTUK PENELTIAN RESPON FEEDING ABALON TERHADAP PAKAN SEGAR ALGA MAKRO.

Deny S. Yusup ...2085

PROPAGASI CENDAWAN ENDOMIKORIZA GLOMUS, GIGASPORA DAN ACAULOSPORA PADA JENIS TANAH YANG BERBEDA

Meitini W. Proborini ...2089

VARIASI JENIS DIATOM DI DANAU TAMBLINGAN UNTUK KEPENTINGAN FORENSIK SEBAGAI INDIKATOR KEMATIAN AKIBAT TENGGELAM

Ni Made Suartini, I Ketut Junitha, Pararya Suryadipura, Ni Luh Watiniasihj ...2094

PERUBAHAN LUAS AREAL MANGROVE DI TAHURA NGURAH RAI DARI DATA LANDSAT

(36)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

(37)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

2062 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

MODEL TATA SPASIAL HUNIAN MASYARAKAT BALI PERKOTAAN

Ngakan Putu Sueca 1)

1 Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali

Telp/Fax : 0361 703384, E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Rumah merupakan satu dari kebutuhan dasar manusia sebagai tempat mengasuh keluarga, mengembangkan diri dan berpartisipasi menuju peningkatan kehidupan dan peradaban. Tetapi banyak masyarakat yang belum memiliki rumah yang sesuai dengan budayanya. Dan konsep hunian daerah perkotaan di Bali jarang mendapat perhatian peneliti. Padahal, lebih dari separuh masyarakat Bali kini hidup di daerah perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan potret transformasi budaya hunian dari konsep hunian tradisional ke konsep hunian modern sekarang ini, khususnya masalah keruangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan di dalam rumah bukan hanya kegiatan yang bersifat domestik melainkan kegiatan produksi. Fungsi rumah telah berkembang menjadi aset untuk melaksanakan kegiatan ekonomi sebagai sumber pendapatan keluarga. Fungsi domestik juga berkembang terutama terkait dengan perkembangan teknologi. Sedangkan fungsi sosial dan ritual hampir semuanya tetap bertahan.

Pada aspek ruang, ditemukan adanya tata ruang yang cukup bervariasi. Jika pada masyarakat tradisional, tata ruang lebih banyak terkait dengan kepercayaan dan keyakinan yang didasari ajaran Hindu. Namun nilai-nilai kekinian banyak dipengaruhi nilai modernitas, situasi dan kondisi serta pragmatisme. Nilai sakral profan merupakan rujukan utama masyarakat tradisional. Namun kini muncul tata nilai ruang baru seperti depan belakang, bersih kotor, publik privat, atas bawah. Secara prinsipil, tatanan sakral profan tetap dipertahankan sebagai nilai utama untuk menata ruang didalam rumah namun disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada tiap-tiap rumah dan keluarga.

ABSTRACT

House is one of the essential human needs as place for upbringing family, self development and participate towards life and civilization enhancement. Unfortunately, many people have no house which suitable for their culture. Furthermore, dwelling concept for urban areas in Bali is being less researcher’s concern. On the other hand, more than a half of Balinese currently living in urban areas. Goals of this study is to explain cultural transformation of traditional dwelling concept into modern dwelling concept focusing on spatial issues.

Research results show that activities being hold in the house are not only domestic activities but also production activities. Function of the house is becoming as asset for doing economic activities for getting family income. Domectic funtcion is also evolving especially related to technology development. Furthermore social and ritual functions are almost constant.

On the aspect of spatial, it is found variety of spatial orders. In the traditional society, spatial order is merely related

D? D85 B5<979?> 1>4 25<95F5 CICD5=C 21C54 ?> 9>4E 4?3DB9>5 ?G5F5B 3EBB5>D >?B=C 1B5 =5B5<I 9>NE5>354 2I

modernity, situation, context and pragmatism. Sacred profane norm is essential traditional community reference. But today there is new spatial order such as front back, clean dirty, public private, up down. Principally, sacred profane continuum is still conserved as an essential norms to arrange space in the house but it is adjusted to situation and existing context of each house and family.

Kata kunci: spasial, rumah, perkotaan, transformasi

PENDAHULUAN

(38)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2063

Kota saat ini telah menjadi ruang bagi kehidupan mayoritas penduduk di seluruh dunia dimana lebih dari 50% penduduk tinggal di daerah perkotaan, termasuk di Bali. Akan tetapi, kota belum mampu menyediakan ruang hidup yang ideal bagi warganya, salah satu masalah adalah belum tersedianya ruang hunian yang sesuai dengan akar budaya penghuni. Hal ini antara lain disebabkan telah terjadinya transformasi budaya pada masyarakat di satu sisi. Pada sisi yang lain, hunian tradisional tidak dapat mewadahi tuntutan-tuntutan modern warga. Demikian pula hunian-hunian yang dibangun oleh pengembang telah banyak

6;?A6;V=3E;6;4A@9=3D43:=3@6;DG4G:=3@A>7:B7?;>;=@K3=3D7@36;3@993B=GD3@93F3GF;63=E7EG3;

dengan kebutuhan dan nilai-nilai yang diyakininya. Jika pembongkaran-pembongkaran, perbaikan-perbaikan ini dihitung dengan uang, sesungguhnya terlalu besar investasi sia-sia yang dihamburkan untuk itu. Ratusa milyar rupiah setiap tahun mungkin habis sia-sia hanya untuk membongkar rumah yang telah dibangun untuk menyesuaikan kebutuhan pemilik. Padahal, jika rumah-rumah itu dibangun sesuai dengan kebutuhan pemilik maka pemborosan itu dapat dihindari.

Biaya untuk pembongkaran, perbaikan, perubahan itu sesungguhnya dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain yang amat bermanfaat bagi warga. Oleh karena itu, memahami konsep keruangan hunian modern masyarakat perkotaan di Bali sangatlah penting, baik secara sosial, kultural, fungsional, dan ekonomi. Dengan demikian diharapkan bahwa temuan dari penelitian ini akan dapat dijadikan dasar oleh para arsitek, pengembang perumahan dan pengambil kebijakan dibidang perumahan perkotaan untuk merancang tempat hunian yang berlandaskan budaya masyarakat. Hal ini akan dapat menghindarkan masyarakat terhadap pemborosan yang tidak perlu didalam mewujudkan harapan untuk memiliki tempat hunian yang diinginkan.

Disamping itu, terdapat suatu kesenjangan informasi ataupun teori/konsep tentang arsitektur Bali, khususnya antara informasi yang tersedia tentang arsitektur tradisional Bali (ATB) dengan arsitektur modern khususnya untuk daerah perkotaan. Para peneliti selama ini terlalu banyak memfokuskan pada kajian arsitektur tradisional di daerah perdesaan (lihat Gelebet, 1978; Salija, 1975; Fakultas Teknik Unud, 1981; 1982; Runa, 1993; 2004; Paturusi, 1988; Acwin, 2008a; 2008b) dan masih banyak kajian lain yang mungkin ditemui, baik kajian dari perspektif ilmu arsitektur maupun disiplin ilmu lain. Informasi tentang kebudayaan (tradisional) di Bali sangat berlimpah. Hal ini sangat kontras dengan kajian tentang arsitektur rumah perkotaan yang dilakukan para peneliti. Dapat dikatakan bahwa kajian ini masih sangat minim, padahal permasalahan krusial saat ini maupun di masa mendatang adalah pada daerah urban/perkotaan, baik menyangkut masalah lingkungan, sosial, budaya, politik, transportasi, kriminalitas, perumahan, dan sebagainya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan dalam berbagai publikasinya bahwa umat manusia menuju pada suatu dunia yang semakin mengkota (urbanizing world) (lihat UNCHS 1996; 2001; UN Habitat 2008; Sueca 2009).

Sesungguhnya ada beberapa kajian yang telah dilakukan tetapi masih bersifat sangat parsial, baik menyangkut substansi, lokasi mapupun perspektif kajian. Meganada (1990) misalnya melakukan kajian terhadap perumahan KPR/BTN di Suwung Kangin, kota Denpasar. Kajian ini menghasilkan suatu informasi awal tentang adaptasi spasial yang dilakukan warga Bali terhadap rumah yang ditempati, namun bukan dalam konteks kajian masyarakat urban. Demikian pula Sueca (1997) telah melakukan suatu studi perubahan pola spasial pada rumah tradisional di Desa Kesiman Kota Denpasar. Kajian awal ini menghasilkan suatu informasi dasar tentang bagaimana dan mengapa masyarakat Bali melakukan transformasi pada rumah

FD36;E;A@3>?7D7=3 +G753<G93?7>3=G=3@=3<;3@B3633EB7=EB7E;V=K3=@;FD3@E8AD?3E;DG3@9

publik pada pusat pertumbuhan di daerah perkotaan dengan sampel koridor Jalan Supratman Denpasar. Selain itu, Budihardjo (1994) melakukan kajian terhadap perubahan fungsi dan tata ruang puri di beberapa desa di Bali, baik yang berlokasi di daerah perkotaan maupun perdesaan. Terakhir, Sueca (2003) juga mencoba mengkaji transformasi rumah masyarakat di daerah perkotaan dengan sampel rumah tradisional maupun KPR/BTN di kota Denpasar. Penelitian ini mencoba membandingkan fenomena yang terjadi pada kedua tipe rumah tersebut.

(39)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

2064 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

Bali modern di daerah perkotaan merancang dan menggunakan lingkungannya, baik pada lingkungan tradisional, rumah KPR/BTN, permukiman spontan, rumah tetap/temporer, rumah susun, apartemen, dan sebagainya. Bagaimana sistem spasial masyarakat Bali modern di daerah perkotaan, baik yang ada di pusat kota, daerah pinggiran, pada daerah pusat pertumbuhan maupun pada daerah penyangga? Semua informasi ini penting untuk dipakai sebagai dasar perencanaan, pengelolaan dan pengendalian pembangunan kota di masa mendatang dalam konteks pembangunan berkelanjutan yang berwawasan budaya Bali.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui transformasi hunian tradisional di daerah perkotaan

6;3>; ;:3D3B=3@43:I33=3@63B3F6;;67@F;V=3E;BA>3BA>33=F;H;F3E63@=7DG3@93@?3EK3D3=3FBA>3

spasial rumah masyarakat di daerah urban, serta unsur-unsur yang tetap dan berubah.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini akan dilakukan di daerah perkotaan di Bali dengan mengambil kasus wilayah Kota Denpasar. Pemilihan Denpasar sebagai kasus didasarkan pada beberapa pertimbangan, yakni Denpasar kota

B3>;@9?A67D@6;637D3:;@;3=E7EB7@7>;F;E753D397A9D3VI3=FG63@3=E7E;@8AD?3E;B3>;@9?7?G63:=3@

untuk melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif mengingat aspek kultur yang sangat kental dalam tata ruang hunian di Bali (lihat Lincoln & Guba, 1985; Moeleong, 1994; Muhadjir, 1992; Mulyana, 2008; Sugiyono, 2009a, 2009b; Bungin, 2009). Kasus penelitian dipilih menggunakan pendekatan snowball dimana data dikumpulkan menggunakan berbagai teknik seperti observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi.

3F3 BD;?7D ?7@K3@9=GF 63F363F3 F7D=3;F 67@93@ 63F3 B7@9:G@; 63F3 VE;= DG?3: 43;= DG?3:

tinggal tradisional maupun rumah tinggal kekinian. Aspek-aspek yang akan dikaji antara lain adalah pola aktivitas (domestik, sosial, kultural), fungsi rumah (hunian, ekonomi, sosial, kultural, simbolik), jenis ruang, nilai ruang, orientasi ruang, sistem nilai yang dianut penghuni, pola pemanfaatan ruang, ukuran dan luasan ruang serta ukuran dan luasan rumah, jumlah ruang, jenis pemanfaatan ruang, dsb. Data dianalisis terutama menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis pola-pola, makna-makna keruangan yang terjadi serta perubahan atau transformasi yang terjadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Transformasi Hunian Tradisional Di Daerah Perkotaan

Hunian tradisional Bali telah lama menjadi daya tarik para peneliti arsitektur terutama terkait dengan perubahan yang terjadi, baik akibat internal ataupun eksternal. Namun penelitian tentang fenomena hunian tradisional di daerah perkotaan masih relatif sedikit. Meskipun ada beberapa, itu pun masih pada tingkat eksplorasi. Seperti telah ditulis banyak orang, masyarakat Bali yang sangat kental unsur budayanya memiliki hunian yang mengandung makna-makna mendalam. Dari segi teknis tidak terlalu banyak yang spesial karena unit-unit ruang serta bangunannya relatif kecil dan sederhana. Namun tatanan nilai yang terkandung didalamnya sangatlah khas.

Masyarakat perkotaan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat di

637D3:B7D67E33@ +753D3VE;=>;@9=G@93@B7D=AF33@57@67DG@9?7?;>;=;=7B363F3@B7@6G6G=>74;:F;@99;

Demikian pula dalam hal kepadatan bangunannya. Harga lahan di daerah perkotaan jauh lebih mahal dibandingkan dengan di daerah perdesaan. Karena lebih padat, baik penduduk maupun bangunannya, daerah perkotaan umumnya relatif lebih panas akibat daerah penghijauan yang kurang sedangkan daerah perkerasan yang lebih banyak. Secara sosiologis, masyarakat perkotaan bersifat lebih individual, solidaritas komunal berkurang. Nilai-nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perdesaan.

Seperti telah diperkirakan, bahwa ruang konservasi lingkungan pada rumah tradisional umumnya

F7>3:?7@9:;>3@9F7DGF3?3=3D7@3=74GFG:3@DG3@9K3@9?7@;@9=3F43;==3D7@3B7D=7?43@93@67?A9D3V

(40)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2065

Secara prinsip rumah tradisional masyarakat Bali perkotaan telah mengalami perubahan mendasar, baik dari segi fungsi, tatanan spasial, bentuk, ornamentasi, dan nilai yang melekat pada rumah. Fungsi rumah kini bukan sekedar tempat melaksanakan kegiatan sosial dan budaya serta reproduksi semata melainkan telah berkembang sebagai tempat produksi dan memiliki nilai komoditi. Rumah kini menjadi sumber pendapatan keluarga, baik sebagai pendapatan utama maupun pendapatan sampingan. Akibat pergeseran ini, rumah mengalami berbagai transformasi yang sangat mendasar seperti misalnya lunturnya sikap sing

bani ngeluanin, menggusur letak sanggah/merajan, hilangnya teba dan telajakan bahkan menyempitnya natah. Hal ini juga berdampak sosial yang cukup serius pada beberapa keluarga terutama terkait dengan

pembagian waris. Dapat dikatakan bahwa rumah kini memiliki fungsi yang semakin kompleks.

3.2 Pola-Pola Aktivitas Dan Keruangan Hunian

Seperti telah disinggung sebelumnya, fungsi rumah kini telah berkembang dan demikian pula dengan aktivitas yang muncul di dalamnya. Secara umum ditemukan beberapa kategori kegiatan di rumah masyarakat perkotaan di Bali antara lain adalah aktivitas domestik, aktivitas ritual, aktivitas ekonomi, dan aktivitas sosial.

a. Aktivitas domestik

Pada umumnya aktivitas domestik di dalam rumah bagi masyarakat perkotaan dan perdesaan tidak terlalu banyak berbeda. Perbedaan yang ada adalah pada jenis, intensitas, proporsi kegiatan. Aktivitas domestik seperti: memasak, beristirahat, mencuci, bekerja, belajar, bersenda gurau, membersihkan rumah, berkebun, menerima tamu, berekreasi, menyimpan, mandi dan membersihkan diri, dan berbagai kegiatan sejenis lainnya. Pergeseran antara kegiatan masyarakat tradisional dengan masyarakat kini sangat menyolok terutama terkait dengan gaya hidup. Rumah kini menyediakan hampir semua fasilitas yang dulu disediakan oleh lingkungan. Masyarakat tradisional dulu melakukan kegiatan mandi, mencuci, bersosialisasi, berjualan, berkebun di luar rumah sementara kini semuanya dilakukan di dalam rumah.

b. Aktivitas ritual

Secara umum, aktivitas ritual tidak terlalu banyak mengalami perubahan dan tidak pula berpengaruh penting terhadap tatanan spasial rumah. Hal ini telah menjadi temuan umum bahwa hal-hal yang terkait dengan nilai religiusitas dan kegiatan keagamaan paling sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya. Kegiatan ini meliputi aktivitas menghaturkan sodan (ritual harian setelah selesai memasak), melaksanakan panca yadnya seperti sembahyang setiap hari, pada saat hari-hari tertentu (purnama, tilem, tanggalan kliwon, dll.), melaksanakan butha yadnya seperti halnya (mecaru), melaksanakan manusa yadnya (upacara pernikahan, potong gigi, tiga bulanan, 42 hari, menek kelih,

ngaben), dan berbagai aktivitas ritual lainnya.

Akan tetapi yang menarik adalah terjadi perubahan terkait dengan tempat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ritual tersebut. Khususnya kegiatan-kegiatan ritual keagamaan yang besar seperti potong gigi, pernikahan, ngaben umumnya dilakukan pada rumah tua, namun ada juga yang melakukannya bukan di rumah tua. Jika dilakukan bukan di rumah tua, maka ruang yang digunakan untuk melakukan kegiatan ritual ini sangat bervariasi. Jika memungkinkan, maka bale adalah pilihan ideal. Akan tetapi jika tidak maka ruang yang ada dapat digunakan seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, ataupun beranda. Selain itu, aktivitas ritual juga dapat dilakukan di dalam ruang suci. Ruang-ruang seperti ini banyak bermunculan mungkin karena kini masyarakat memerlukan privasi yang lebih untuk memperoleh kekhusukan didalam melakukan kegiatan seperti meditasi, tapa, yoga, dsb.

c. Aktivitas ekonomi

(41)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

2066 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

?7?B7D>;:3F=3@B7DG43:3@B363F3?B;>3@VE;=DG?3:FD36;E;A@3>K3@9?7@99G@3=3@3D73F7>3<3=3@3F3G

area yang berorientasi ke jalan raya. Akses terhadap promosi dan pelanggan menjadi alasan mengapa

3D73;@;?7@93>3?;FD3@E8AD?3E;K3@9E;9@;V=3@ 3>;@;F7D>;:3F@K3F3B363=AD;6AD=AD;6ADGF3?3=AF3

dan fenomena ini semakin menggejala sampai pelosok-pelosok daerah perdesaan. Mungkin ini dapat menjelaskan proporsi masyarakat perkotaan yang memiliki profesi lebih banyak diluar petani karena mayoritas masyarakat kota adalah bukan bergerak dibidang pertanian. Akan tetapi, area yang lebih dalam dari rumah tradisional juga bertransformasi menjadi tempat atau ruang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Disamping terdapat bale yang diubah bentuk dan fungsinya menjadi tempat produksi, ruang-ruang juga diciptakan untuk kepentingan ekonomi.

3.3 Pola Spasial Rumah Masyarakat Di Daerah Urban a. Depan Dan Belakang Rumah

Dalam literatur, tatanan spasial rumah tradisional lebih banyak dipengaruhi oleh nilai sakral profan Kini, berbagai fenomena muncul sebagai bagian dari perubahan terus menerus yang terjadi. Fenomena ini antara lain adalah: depan belakang; bersih kotor, atas bawah, publik privat, disamping tatanan tradisional tetap bertahan seperti hulu teben, sakral dan profane. Fenomena depan dan belakang dapat dikenali dari berbagai indikator seperti: penempatan ruang dengan berbagai fungsi; jenis dan sifat kegiatan yang dilakukan serta distribusinya dalam rumah; peralatan dan perlengkapan yang digunakan serta ditata dalam masing-masing ruangan

Umumnya yang ditaruh di depan adalah yang bersifat: “bersih”, bernilai, suci, utama, sedangkan yang ada di bagian belakang adalah yang kotor, kurang bernilai, Yang kotor: gudang tempat menaruh berbagai benda, pengaturannya bisa berantakan, kurang tertata/kurang rapi/jelek, secara visual memberi kesan buruk, barang bekas pakai, barang tidak terpakai lagi, hendak dibuang, sisa-sisa. Kamar mandi/WC tepat melakukan kegiatan mandi, buang air yang dianggap kotor diletakkan di belakang, atau tersembunyi, jauh dari pandangan publik. Demikian pula tempat jemuran, pakaian kotor, barang bekas dan alat-alat rumah tangga umumnya diletakkan di bagian belakang rumah.

b. Hulu dan teben

Kekuatan nilai-nilai tradisi terlihat masih tersisa dalam banyak hal khususnya nilai hulu teben. Penempatan ruang-ruang suci untuk tempat bersembahyang keluarga sepertinya merupakan harga mati yang sulit ditawar. Tetap ada patokan kemana arah yang dianggap suci yakni ke arah matahari terbit (timur/

kangin) dan ke arah ketinggian/gunung (kaja). Penempatan tempat suci, arah tidur masih tetap berpatokan

pada sumbu ritual dan sumbu bumi (sumbu kosmos).

c. Sakral dan profan

Ruang bagi masayrakat tradisional tidak bersifat netral melainkan memiliki nilai yang sangat terkait erat dengan nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan. Masyarakat tradisional di Bali secara mayoritas berkeyakinan Hindu. Ajaran dan kepercayaan keHinduan sangat berperan dalam menentukan bagaimana masyarakat mempersepsi ruang. Seperti ditulis banyak peneliti, ruang memiliki nilai sakral profan. Bagi kebanyakan masyarakat di daerah perkotaan, arah kiblat masih tetap dipertahankan terutama ke arah luan dan teben.

d. Bersih dan kotor

(42)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2067

lahan penuh terbangun dimanfaatkan untuk mendapatkan ruang bangunan yang tertutup. Umumnya ruang terbuka atau natah tersisa di bagian depan rumah

e. Atas dan bawah

Vertikalitas telah menjadi fenomena penting dalam era kota di jaman modern seperti sekarang. Tanah menjadi mahal, langka dan semakin terbatas. berbanding terbalik dengan jumlah manusia penghuninya. Pengembangan tanah ke samping sangat tidak mungkin, oleh karena itu, kekurangan atas tempat dilakukan ke arah atas, vertical. Dengan demikian muncul paradigma baru dalam membangun ke arah vertikal yang memunculkan multi interpretasi.

f. Single to multi family house

Jaman dulu, setiap keluarga tinggal dalam satu petak pekarangan rumah yang terdiri dari beberapa unit bangunan atau bale dengan fungsinya masing-masing. Kini, di tengah keterbatasan lahan dan kompleksitas fungsi serta nilai yang berkembang seiring dengan kemajuan masyarakat, cara bermukim juga mengalami perubahan. Rumah dapat terdiri dari satu atau lebih keluarga inti yang kemudian menjadi keluarga besar (extended family).

Bangunan ada yang masih berupa bale dengan fungsi khusus seperti bale dangin atau bale daja, jineng/kelumpu, dsb. Kini juga bale atau bangunan dapat terdiri dari beberapa ruangan dengan berbagai fungsi yang diwadahi. Rumah kini dapat terdiri dari beberapa bale atau bangunan, dengan satu atau banyak ruangan, dengan satu atau beberapa fungsi yang diwadahi, dihuni oleh satu atau lebih keluarga

g. Publik dan privat

Rumah sebagai area privat pada kenyataannya seringkali berubah fungsi menjadi area publik dimana setiap orang memiliki akses untuk menggunakannya. Demikian pula rumah di Bali. Tetapi kenyataannya bahwa kebutuhan privasi bagi masyarakat kini di daerah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenyataan pada rumah tradisional. Fenomena ini merupakan fenomena yang berkembang pada masyarakat Bali modern terutama di daerah perkotaan. Kebutuhan perivasi ini umumnya berbanding lurus dengan status sosial masyarakat. Semakin tinggi status sosial seseorang maka kebutuhan privasinya meningkat. Demikian pula sebaliknya.

h. Nilai komoditas

Rumah dulu memiliki nilai sakral yang tidak dapat diperjualbelikan. Kini, tanah dan rumah yang ada didalamnya merupakan barang dagangan yang dapat diperjualbelikan, memiliki nilai ekonomi. Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa tanah yang mereka tempati adalah tanah ulayat milik desa yang sewaktu-waktu karena keadaan tertentu dapat diambil kembali atau dikembalikan kepada desa sebagai pemilik.

i. Seting sosial kultural menjadi tempat produksi

Jika pada jaman tradisional sawah dan ladang merupakan lahan pokok untuk berproduksi terutama hasil-hasil pertanian pada jaman masyarakat agraris. Dulu rumah merupakan seting sosial dan kultural dimana masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan domestik, kegiatan sosial dan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan upacara keagamaan semata. Kini ketika masyarakat memiliki profesi yang beragam dan ganda, sawah dan ladang bukan lagi sebagai tempat utama untuk berproduksi.

Rumah sebagai tempat produksi dapat berupa berbagai macam seperti halnya sungguh-sungguh menjadi tempat dihasilkannya barang-barang yang bernilai ekonomi yang dapat menghasilkan uang

(43)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

2068 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

sebagai tempat untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan barang-barang atau sekedar sebagai gudang sementara hasil produksi, atau keduanya

j. Esensi natah

Ruang sebagai pusat orientasi di dalam rumah tradisional yang disebut dengan natah sampai saat ini masih dianggap sebagai ruang yang sangat esensial, baik yang bermakna spiritual maupun profan. Ruang ini masih memiliki fungsi terutama dalam kaitannya untuk mewadahi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Hal ini menjadi fakta, baik pada rumah tradisional yang sudah berkembang maupun pada rumah baru di perkotaan.

4. KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa telah banyak terjadi perubahan yang sangat mendasar dalam pola tata ruang hunian masyarakat Bali di daerah perkotaan dan mungkin perubahan ini akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan dinamikan kehidupan masyarakat Bali pada umumnya. Rumah kini bukan lagi semata merupakan seting kultural dan tempat reproduksi melainkan juga merupakan tempat produksi yang memiliki nilai komoditas. Hasil penelitian ini juga cukup mengejutkan dimana hal-hal terkait dengan unsur relegi dalam kebudayaan yang umumnya sukar berubah ternyata dalam fenomena hunian masyarakat Bali perkotaan telah mengalami pergeseran (Koentjaraningrat, 1987). Terdapat keragaman penafsiran terhadap apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap cocok bagi masyarakat Bali terutama yang beragama Hindu. Hal ini terkait dengan orientasi sakral profan yang memunculkan berbagai variasi tata ruang hunian modern sekarang ini. Apabila dalam masyarakat tradisional orientasi adalah kearah gunung dan kearah matahari terbit maka kini juga muncul orientasi depan belakang, bersih kotor, publik privat, atas bawah. Keberagaman interpretasi terhadap nilai baru ini merupakan satu bentuk ekspresi hilangnya otoritas arsitek tradisional, tumbuhnya otoritas pemilik yang lebih dominan didalam merancang hunian yang mereka inginkan.

Ucapan Terimakasih

Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan untuk melakukan penelitian ini melalui pendanaan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat dilakukan. Tanpa ini tidak mungkin penelitian ini dilaksanakan. Terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh mahasiswa PS Arsitektur FT Unud yang telah sangat membantu didalam pengumpulan serta pengolahan data. Tanpa bantuan mereka mustahil penelitian ini dapat diselesaikan. Terakhir ucapan terima kasih harus kami tujukan kepada seluruh responden dan masyarakat Bali umumnya yang dengan rela rumahnya dijadikan kasus dalam penelitian ini. Kontribusi mereka tidak kalah pentingnya untuk penelitian ini. Kepada semua rekan juga disampaikan terima kasih atas sumbang saran, kritik serta dukungan moralnya selama penelitian ini dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, R. (1994) ‘Perubahan Fungsi dan Tata Ruang Puti-Puti di Bali: suatu kajian sejarah sosial’.

Tesis S2. Bandung: ITB

Bungin, B. (2009) Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Koentjaraningrat. (1987) Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia. Lincoln, Y. S. & Guba, E. G. (1985) Naturalistic Inquiry. Beverly Hills: Sage Publications.

Meganada, I W. (1990) ‘Pola Tata Ruang Arsitektur Tradisional Dalam Perumahan KPR/BTN di Bali: suatu evaluasi arsitektur terhadap kasus perumahan KPR/BTN, Suwung Kangin di Denpasar Selatan’

Tesis S2. Bandung: ITB.

(44)

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2069

Muhadjir, N. (1992) Metodologi Penelitian Kualitatif: telaah positivistik, rasionalistik, phenomenologik,

realisme metaphisik. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Mulyana, D. (2008) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda.

Runa, I W. (1993) ‘Variasi Perubahan Rumah Tinggal Tradisional Desa Adat Tenganan Pegringsingan’.

Tesis S2. Yogyakarta: UGM.

Sueca, N. P. (1997) ‘Perubahan Pola Spasial Rumah Tinggal Tradisional di Desa Adat Kesiman Denpasar’.

Tesis S2. Yogyakarta: UGM

Sueca, N. P. (1999) ‘Transformasi Ruang Publik Tradisional Pada Jalur Pusat Pertumbuhan: studi kasus lingkungan sepanjang jalan Supratman Denpasar’. Laporan Penelitian. Dibiayai Dirjen Dikti Dendiknas Jakarta. Denpasar: FT Unud

Sueca, N. P. (2003) ‘Housing Transformation: improving environment and developing culture in Bali’

Tesis S3. Newcastle: University of Newcastle UK

Sugiyono. (2009a) Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2009b) Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

UNCHS. (1996) An Urbanizing World : Global Report on Human Settlements. Oxford: Oxford University Press.

UNCHS. (2001) Cities in globalizing world: global report on human settlements. London: Earthscan Publications.

Referensi

Dokumen terkait

Proporsi ruang terbuka hijau di Perkotaan Tobelo saan ini masih belum memenuhi standar kebijakan tata ruang 30% dari total luas wilayah atau UU No.26 Tahun

Perubahan wujud ruang, khususnya hunian tradisional masyarakat Bali, terjadi terutama pada wilayah-wilayah yang terkonsentrasi untuk pariwisata, seperti wilayah Ubud.. Ubud

Pada hunian yang dijadikan sampel pada penelitian ini terdapat ruang-ruang pembentuk hunian yang memiliki dimensi panjang dan lebar yang membentuk besaran ruang

Pola organisasi ruang mikro (hunian atau rumah tinggal) masyarakat berdampak pada perkembangan ruang messo maupun makro kawasan kampung Wuring, karena hunian yang

Hilangnya identitas suatu tempat banyak terjadi di hunian padat kota, kebutuhan akan ruang meningkat sehingga hal yang mungkin masyarakat lakukan untuk memenuhi

Pada hunian yang dijadikan sampel pada penelitian ini terdapat ruang-ruang pembentuk hunian yang memiliki dimensi panjang dan lebar yang membentuk besaran ruang

Dokumen ini membahas rencana detail tata ruang perkotaan Bungursari di Provinsi Jawa

Peraturan Daerah Kabupaten Majene Nomor 3 Tahun 2020 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Majene tahun 2020 – 2040 mengatur tentang penataan ruang kawasan perkotaan