• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di depan akses jalan keluar dan masuk. Di sekitar akses keluar dan masuk dari arah jalan Cimareme. Di sekitar akses keluar dan masuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Di depan akses jalan keluar dan masuk. Di sekitar akses keluar dan masuk dari arah jalan Cimareme. Di sekitar akses keluar dan masuk"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

NO SUMBER DAMPAK

JENIS DAMPAK

BESARAN DAMPAK

TOLOK UKUR DAMPAK

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP INSTITUSI PENGELOLA DAN

PEMANTAU LINGKUNGAN

HIDUP BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PERIODE BENTUK PEMANTAUAN LOKASI PERIODE

TAHAP OPERASIONAL 1. Operasional

kendaraan

Gangguan lalu lintas

 Kendaraan karyawan yaitu sedan dan minibus 80 kali/hari.

 Kendaraan Alat Angkut Bahan Baku

& penolong yaitu truck 100 kali/hari

 Kendaraan hasil produksi yaitu truck 120 kali/hari

 Kendaraan pengangku t limbah padat (sampah) menggunak an truck dinas kebersihan 3 kali/hari.

 Kendaraan tamu yaitu sedan/

mini bus 30 kali/hari.

 Kendaraan karyawan

Adanya kemacetan / gangguan lalu lintas sekitar akses masuk pabrik

 Menempatkan satpam pabrik sebagai pengatur lalu lintas yang mengendalikan kendaraan keluar dan masuk pabrik.

 Mengatur jadwal

pengangkutan bahan baku dan penolong serta hasil produksi diluar jam sibuk lalu lintas dan menyediakan sarana parkir yang memadai dan terkonsentrasi.

 Berpartisipasi dalam peningkatan jalan, kapasitas jalan dan pemasangan fasilitas perlengkapan LLAJ lainnya yang dikoordinasi oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung.

Tindakan Darurat :

Segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Polantas setempat.

 Di depan akses jalan keluar dan masuk

 Di sekitar akses keluar dan masuk dari arah jalan Cimareme.

 Di sekitar akses keluar dan masuk

 Setiap hari kerja

 Setiap hari kerja

 Pemasan gan satu kali, pemeliha -raan setiap minggu

 Memantau adanya satpam pabrik yang mengatur lalu lintas yang mengendalikan kendaraan keluar-masuk

 Memantau pengaturan jadwal pengangkutan bahan baku dan penolong dan kelancaran di ruas jalan umum

 Memantau kelaikan fungsi rambu-rambu lalu lintas dan warning light

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto/media audio visual)

 Di akses jalan keluar masuk

 Di sekitar akses keluar dan masuk baik dari dan ke arah Cimareme

 Di akses jalan keluar masuk

 Tapak pabrik

 Setiap hari kerja

 Setiap hari kerja

 Setiap hari kerja

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya b) Pengawas :

Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Barat c) Penerima

laporan:

DLH

Kabupaten

Bandung

Barat dan

Dinas

Perhubungan

Kabupaten

Bandung

Barat

(2)

HIDUP yaitu motor

roda dua 600 kali/hari.

2. Aktivitas proses produksi berupa operasional peralatan dan mesin-mesin produksi

Penurunan kualitas udara di ruang produksi

Akumulasi gas / debu dapat melebihi baku mutu

PerMennakertr ans No.

Per.13/Men/X/

2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja

SO

2

=250 µg/Nm

3

 NO

2

= 5.600 µg/Nm

3

H

2

S= 1.400 µg/Nm

3

Debu Total=10.000 µg/Nm

3

CO= 29.000 µg/Nm

3

 NH

3

= 17.000

g/Nm

3

 Menggunakan masker bagi karyawan di ruang produksi

 Membuat sistem sirkulasi udara dengan menggunakan exhaust fan dan ventilasi, dengan jumlah yang memadai

Tindakan Darurat : Menghentikan kegiatan yang menimbulkan gas dan debu sementara waktu.

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Setiap hari

 Pemasa- ngan satu kali

 Memantau keberadaan dan penggunaan masker bagi karyawan yang bekerja di dalam ruang produksi.

 Memeriksa kelaikan dan fungsi exhaust fan dan ventilasi.

 Melakukan pengukuran kualitas udara di ruang produksi menggunakan metode uji sesuai SNI 16- 7058-2004 dengan menggunakan alat Low Volume Sampler oleh laboratorium terakreditasi

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Ruang produksi.

LS 06°

52’01,6” &

BT 107° 30’

46,2”

 Ruang produksi

 Setiap hari

 Setiap minggu

 Setiap 6 bulan sekali

 Setiap bulan

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya, dan Laboratorium Pengujian yang terakreditasi / teregistrasi b) Pengawas :

DLH Kabupaten Bandung Barat c) Penerima

Laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

3. Operasional Kendaraan

Penurunan kualitas udara di lingkungan pabrik

Akumulasi gas / debu dapat melebihi baku mutu

PerMennakertr ans No.

Per.13/Men/X/

2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja

SO

2

=900 µg/Nm

3

CO= 30.000 µg/Nm

3

 NO

2

= 400 µg/Nm

3

 Melakukan sistem pengaturan lalu lintas yang baik pada area pabrik, diantaranya dengan menyediakan area parkir yang terkonsentrasi dan menetapkan batasan kecepatan kendaraan dalam area pabrik.

 Menanam tanaman disekitar areal pabrik pada RTH/area terbuka dan dalam pot.

 Jalan Lingkungan dan tempat parkir mobil/mo- tor

 Area terbuka sekitar jalan lingkungan dan tempat parkir

 Setiap hari

 Beberap a kali sesuai kebutuh an

 Memantau kelaikan tempat parkir, keberadaan rambu- rambu tanda peringatan batasan kecepatan dan satpam pabrik sebagai pengatur lalu lintas

 Memantau kegiatan penanaman, pemeliharaan dan tumbuh kembangnya tanaman dalam pot dan disimpan pada lahan terbuka yang telah mengalami perkerasan (aspal, dsb.)

 Jalan Lingkungan dan tempat parkir mobil/moto r

 Area terbuka sekitar jalan lingkungan dan tempat parkir

 Setiap hari

 Setiap penana- man dan setiap hari untuk pemeliha raan

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya b) Pengawas :

DLH Kabupaten Bandung Barat c) Penerima

Laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung

Barat

(3)

HIDUP

H

2

S= 0,02 µg/Nm

3

NH

3

= 2

g/Nm

3

TSP=- µg/Nm

3

 Menanam tanaman perdu atau permukaan daunnya berbulu

 Melakukan pemeliharaan tanaman penghijauan yang berfungsi sebagai pereduksi gas/ debu.

Tindakan Darurat :

Menghentikan kegiatan yang menimbulkan gas dan debu sementara waktu.

 Area terbuka, taman

 RTH, Taman dan Pekaranga n

 Beberap a kali sesuai kebutuh an

 Setiap hari

 Memantau kegiatan penanaman , pemeliharaan dan tumbuh kembangnya tanaman dalam

tong/pot/drum dan disimpan pada lahan terbuka yang telah mengalami perkerasan (aspal, dsb.)

 Memantau kegiatan pemeliharan tanaman

 Melakukan pengukuran kualitas udara dan dianalisa di laboratorium pengujian yang terakreditasi/

teregistrasi sebagai laboratorium lingkungan

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Area terbuka sekitar jalan lingkungan dan tempat parkir

 RTH, Taman dan Pekarangan

Upwind dan Down wind pabrik (LS 06° 51’58,5”

& BT 107°

30’ 48,6”)

 Area pabrik

 Setiap penana- man dan setiap hari untuk pemeliha -raan

 Setiap hari

 Setiap 6 bulan sekali

 Setiap bulan

4. Aktivitas proses produksi berupa:

 Penggunaa n 5 buah boiler

 Penggunaa n genset dengan kapasitas terpasang 2x770 KVA dan 5x1000 KVA sebagai cadangan listrik

Penurunan kualitas udara

Akumulasi gas / debu dapat melebihi baku mutu

 PERMENLH No. 7 Tahun 2007 ttg Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap

 PERMENLH No. 21 Tahun 2008 ttg Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha Dan/

Kegiatan Pembangkit Tenaga listrik Termal

 Membuang emisi gas pada 2 stack cerobong (t = 23 m & d

= 80 cm dan t=23 m d=60 cm) yang dilengkapi dengan alat pengendali emisi, sarana pendukung dan alat pengaman.

 Melakukan pemeliharaan boiler (overhaul) secara periodik.

Tindakan Darurat :

Pengecekan unit pengendali emisi atau menghentikan kegiatan sementara waktu.

 Cerobong asap/stac k gas 06

o

52’

02,49” S - 107

o

30’

57,71” E

 Boiler

 Setiap hari kerja

 Setiap 6 bulan sekali

 Memantau keberadaan dan kelaikan cerobong, sarana pendukung, dan alat pengaman

 Memantau kegiatan pemeliharaan boiler (overhaul) secara periodik

 Pengambilan sampel (sampling) emisi gas buang pada sampling hole cerobong, kemudian dilakukan analisa di laboratorium terakreditasi

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Cerobong asap/stack gas

 Boiler

 Cerobong boiler

 Ruang boiler dan area pabrik

 Setiap hari kerja

 Setiap 6 bulan sekali

 Setiap 6 bulan sekali

 Setiap bulan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima Laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

5. Aktivitas proses produksi

Pencemaran limbah B3

Oli bekas, Accu bekas, lampu TL Bekas,

 PP RI No. 101 tahun 2014 tentang

 Mengumpulkan limbah B3 berdasarkan jenisnya dan ditampung di TPS Limbah B3

 Sumber LB3, TPS LB3

 Setiap hari kerja

 Memantau terhadap kegiatan penyimpanan dan pengumpulan sementara

 Di sumber limbah dan TPS LB3

 Setiap hari

 Pelaksana :

Pemrakarsa

PT. Ultrajaya,

(4)

HIDUP berupa :

 Penerangan pada ruangan pabrik menggunak an lampu TL

 Penggunaa n olie/

pelumas pada mesin- mesin produksi

Cartridge/Pita Printer bekas, Baterai Bekas, Chemical Bekas ex tes sample lab dan material yang terkontaminasi LB3

(besaran/timbul annya lihat di manisfest)

Pengelolaan Limbah B3

berizin atas nama PT. Ultrajaya

 Bekerjasama dengan pihak ke- 3 berizin untuk pengangkutan/

pemanfaatan/ pemusnahan yang dilengkapi dengan manifest limbah B3.

 Mencatat jenis, karakteristik, waktu timbulnya limbah B3, dan pihak ke-3 pengelola limbah B3 yang berizin dalam log book dan neraca limbah B3

Tindakan Darurat :

Segera mengontak pihak ketiga berizin untuk mengangkut limbah B3

berizin.

 TPS LB3 berizin 06

o

53’

05,49” S - 107

o

30’

55,71” E

 TPS LB3 berizin

 Setiap pengang- kutan LB3

Setiap ada timbulan LB3

limbah B3 pada TPS Limbah B3 berizin atas nama PT.

Ultrajaya

 Memantau pengangkutan limbah B3 dilengkapi dengan dokumen limbah B3 (Manifest) dan diangkut oleh pengangkut limbah B3 yang berizin

 Mengecek keberadaan neraca limbah B3 dan log book.

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Tempat pengangkut an LB3 dan TPS LB3

 TPS LB3

 Tempat pengangkut an LB3 dan TPS LB3

 Setiap pengangk utan LB3

 Setiap minggu

 Setiap bulan

dan Pihak ke-3 berizin KLH

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima Laporan : DLH Kabupaten Bandung

6. Aktivitas proses produksi berupa sisa kemasana seperti organik, kaleng, kardus, dan ampas kulit buah-buahan

Gangguan kebersihan dan estetika lingkungan akibat timbulan limbah padat produksi Non B3

Dilihat dari timbulan sampah organik dan anorganik yang dihasilkan setiap harinya.

SNI 19-3983- 1995 ttg Spesifikasi Timbulan Sampah Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia

Permen PU Nomor 03/PRT/M/2013 ttg

Penyelenggaraa n Prasarana &

Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah RT &

Sampah Sejenis RT

 Melakukan pengurangan jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber (reduce)

 Menyediakan tong sampah khusus disetiap bagian produksi Non B3 sebelum dikumpulkan di gudang

 Gudang Limbah Padat Non B3

 Ruang Produksi

 Setiap hari kerja untuk pengump ulan limbah padat Non B3 dan setiap minggu untuk penjualan /pemberi an limbah

 Setiap hari kerja

 Memantau terhadap kegiatan pengumpulan dan pengangkutan/ penjualan limbah padat Non B3 produksi.

 Memantau keberadaan tong sampah khusus sisa kemasan dan kegiatan pengumpulan ke gudang Limbah Padat Non B3

 Di ruang produksi, gudang limbah padat Non B3, dan lokasi pengang- kutan oleh pihak ke-3.

 Ruang produksi

 Setiap pengang- kutan/

penjuala n limbah padat Non B3 produksi

 Setiap hari

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya b) Pengawas :

DLH Kabupaten Bandung Barat c) Penerima

laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung

Barat

(5)

HIDUP Tindakan Darurat :

Segera mengontak pihak ketiga (pembeli/ pengumpul barang bekas) untuk segera mengangkut limbah padat produksi Non B3.

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Ruang produksi dan gudang

 Setiap bulan

7. Kegiatan proses produksi berupa operasional peralatan &

mesin-mesin produksi dan operasional boiler

Peningkatan intensitas kebisingan di ruang produksi

Akumulasi kebisingan di ruang kerja dapat melebihi baku mutu

 PerMennaker trans No.

Per.13/Men/

X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja Kebisingan maksimal per waktu pemaparan per hari:

85 dB/8 jam, 88 dB/4 jam, 91 dB/2 jam, 94 dB/1 jam

 Menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa ear plug bagi karyawan.

 Melakukan perawatan mesin- mesin operasional secara berkala untuk meminimasi getaran mesin yang menimbulkan kebisingan, sekaligus untuk menambah umur pemakaian mesin-mesin tersebut.

 Mengisolasi mesin-mesin produksi yang menghasilkan getaran dan kebisingan.

Tindakan Darurat : Menghentikan kegiatan yang menimbulkan peningkatan intensitas kebisingan sementara waktu

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Setiap hari

 Satu bulan sekali (mesin produksi)

 Satu kali atau sesuai kebutuha n

 Memantau terhadap keberadaan dan penggunaan ear plug bagi karyawan yang menggunakan mesin yang berpotensi kebisingan tinggi.

 Memantau terhadap kegiatan perawatan mesin

 Memantau terhadap efektifitas isolasi mesin-mesin produksi, dan kelayakan alat pengendali.

 Melakukan pengujian terhadap kebisingan dalam ruang produksi dengan menggunakan alat Sound Level Meter oleh laboratorium terakreditasi

 Mendokumentasikan kegiatan pemantauan (dengan foto/media audioviusal)

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Ruang produksi

 Setiap hari

 Setiap bulan

 Setiap bulan.

 Setiap 3 bulan sekali

 Setiap bulan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima Laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

8. Kegiatan mobilisasi bahan baku &

penolong, produk, dan karyawan

Peningkatan intensitas kebisingan di lingkungan pabrik

Akumulasi kebisingan di lingkungan pabrik dapat melebihi baku tingkat kebisingan

 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.

48/MENLH/1 1/1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan dimana Kebisingan maksimal adalah 70 dB

 Melakukan pengaturan lalu lintas yang baik pada area pabrik serta menyediakan area parkir yang terkonsentrasi, pembatasan kecepatan kendaraan, rambu peringatan tidak menyalakan klakson.

 Melakukan penambahan dan pemeliharaan berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai tajuk yang rapat dan berdaun rindang dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi (sebagai barrier kebisingan).

 Jalan lingkungan, tempat parkir mobil dan motor

 RTH, Taman dan Pekarangan

 Setiap hari kerja

 Penana- man satu kali, pemeliha -raan setiap hari

 Memantau kelaikan tempat parkir dan keberadaan rambu- rambu tanda peringatan batasan kecepatan

 Memantau kegiatan

penanaman, pemeliharaan dan tumbuh kembangnya tumbuhan yang mempunyai tajuk yang tebal dan berdaun rindang

 Jalan lingkunga n, tempat parkir mobil dan motor

 RTH, Taman dan Pekara- ngan

 Setiap hari kerja

 Setiap hari

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya b) Pengawas :

DLH Kabupaten Bandung Barat c) Penerima

Laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung Barat

(6)

HIDUP Tindakan Darurat :

Menghentikan kegiatan yang menimbulkan peningkatan intensitas kebisingan sementara waktu.

 Pengukuran langsung (insitu) terhadap intensitas kebisingan dengan menggunakan alat Sound Level Meter mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 48 tahun 1996 (Metoda pengukuran, perhitungan, dan evaluasi tingkat kebisingan ) oleh laboratorium terakreditasi

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Depan pabrik atau jalan lingkunga n, tempat parkir dan belakang pabrik

 Depan pabrik atau jalan lingkunga n, tempat parkir dan belakang pabrik

 Setiap 3 bulan sekali

 Setiap bulan

9 Kegiatan proses produksi yaitu pemakaian jaringan instalasi listrik, penggunaan mesin produksi dan peralatan elektronik yang menggunakan listrik serta adanya bangunan pabrik yang terkategori sebagai bahaya kebakaran sedang II

Peningkatan resiko bahaya kebakaran

Kapasitas penggunaan untuk proses produksi dan sarana penunjang adalah Bahaya kebakaran kategori

 Tidak adanya kerusakan jaringan instalasi listrik atau peralatan elektronik yang dapat menimbulkan korsleting liastrik dan bahaya kebakaran.

 Membuat sarana penyelamat jiwa, berupa jalur evakuasi dan tempat berhimpun sementara (assembly point).

 Melakukan pemeliharaan dan perawatan instalasi listrik (penggantian kabel-kabel dan peralatan listrik).

 Menyediakan sarana sistem proteksi kebakaran berupa APAR dengan jumlah yang memadai, sistem deteksi dan alarm kebakaran, hidran halaman, dan petunjuk arah darurat.

 Ruang Produksi, Gudang, Kantor dan titik assembly point di depan pabrik

 Ruang Produksi, Gudang dan Kantor

 Area Pabrik

 Pembua- tan dilakuka n satu kali

 Setiap bulan

 Pemasa- ngan dilakuka n satu kali

 Memantau fungsi/kelaiakan jalur evakuasi dan assembly point.

 Memantau kegiatan pemeliharaan listrik dan mengecek sumber dampak (instalasi dan peralatan listrik)

 Mengecek kelaikan fungsi akses pemadam kebakaran, fungsi sistem proteksi kebakaran (APAR, alat deteksi dan alarm kebakaran, hidran halaman, pompa pemadam kebakaran, petunjuk arah darurat)

 Ruang Produksi, Gudang, Kantor dan titik assembly point di depan pabrik

 Ruang Produksi, Gudang dan Kantor

 Ruang produksi, gudang, kantor

 Setiap bulan

 Setiap bulan

 Setiap bulan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : Dinas Kebakaran Kabupaten Bandung Barat

 Penerima

laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung Barat

(7)

HIDUP Tindakan Darurat :

 Segera mengevakuasi karyawan melalui jalur evakuasi yang telah disediakan dan berkumpul pada area aman kebakaran (assembly point).

 Segera memutuskan aliran listrik.

 Melakukan upaya awal pemadaman kebakaran dengan sumber air yang ada di sekitar lokasi.

 Segera menghubungi petugas/

Dinas Pemadam kebakaran

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (pencatatan dan foto / media audiovisual)

 Area pabrik

 Setiap bulan

10. Pembuangan air limbah

Penurunan kualitas air tanah

Parameter Fisika, Kimia, Biologi sesuai dengan Permenkes RI Nomor 32 Tahun 2017 (Hasil Leb Air 2018)

Permenkes RI Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus per Aqua, dan Pemandian Umum.

 Menjauhkan septik tank dari lokasi sumur, minimal 10 meter

 Melakukan pemeriksaan rutin pada sistem perpipaan IPAL

Sumur perusahaan, sumur penduduk, septic tank, IPAL

Rutin per satuan waktu selama operasional berlangsun g

 Melalukan pengukuran kualitas air tanah penduduk dan air tanah perusahaan yang merupakan sumber air bersih, minimal

menggunakan parameter yang wajib diukur (asen, fluoride, total kromium, cadmium, nitrit, nitrat, sianida, selenium, E.coli, total bakteri coliform, bau, warna, total zat padat terlarut, kekeruhan, suhu, alumunium, besi, kesadahan, klorida, mangan, pH, seng, sulfat, tembaga, ammonia)

 Menyediakan prosedur tanggap darurat jika terjadi pencemaran terhadap air tanah.

Sumur perusahaan, sumur penduduk, septic tank, IPAL

 Pemeriks aan kualitas air bersih dilakuka n minimal 6 bulan sekali

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

11. o Aktivitas domestik karyawan yaitu penggunaa n toilet

Penurunan kualitas air permukaan

o Timbulan air limbah domestik sebesar 65,13 m

3

/hari

PERMENLH No.

5 Tahun 2014 Lampiran VIII tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi

 Menyalurkan air limbah domestik karyawan dari toilet (black water & grey water) ke dalam tangki septik yang dilengkapi dengan sistem rembesan sesuai SNI 03-2398-

 Sumber air limbah, tangki septik

 Setiap hari

 Memantau kelaikan fungsi tangki septik, saluran drainase dan melakukan pemeriksaan lumpur dalam tangki septik

 Tangki septik dan toilet

 Setiap hari

a) Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya b) Pengawas :

DLH

Kabupaten

(8)

HIDUP o Kegiatan

proses produksi PT.

Ultrajaya

o Timbulan air limbah produksi 1.448 m

3

/hari

kegiatan Industri Pengolahan Susu

- BOD

5

40 mg/l - COD 100

mg/l - TSS 50 mg/l - Minyak&Lem

ak 10 mg/l - pH 6-9 - kekeruhan

2002 dan SNI No. 03-2398- 1991.

 Menyalurkan air limbah produksi ke IPAL PT. Ultrajaya

Tindakan Darurat : Segera menghubungi petugas sedot tinja apabila tangki septik sudah tidak berfungsi dan atau lumpur sudah penuh

 Sumber limbah dan IPAL

 Setiap hari

 Melakukan pengukuran kualitas air limbah di inlet dan outlet IPAL serta kualitas outlet air limbah domestik sesuai dengan baku mutu yang berlaku

 Sumber limbah dan IPAL (LS 06°

52’08,3” &

BT 107° 30’

49,3”)

 Setiap hari

Bandung Barat c) Penerima

laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

12. Penggunaan air tanah yang bersumber dari :

 Sumur bor

 PDAM

 BUMD KBB

Penurunan Kuantitas Air Tanah

Penggunaan air tanah 4.080 m

3

/hari untuk kebutuhan :

 Proses produksi,

 domestik karyawan,

 penyirama n dan

 kebutuhan masyarakat sekitar

Tidak terjadinya penurunan muka air tanah atau kuantitas air tanah

 Penghematan dalam pemakaian air tanah.

 Pemanfaatan air tanah tidak melebihi debit yang diizinkan.

 Pengontrolan dan pengawasan penggunaan air diantaranya segera mengganti keran-keran yang rusak, bocor dan mematikan keran-keran yang ada di lingkungan pabrik apabila tidak digunakan.

 Konservasi air bawah tanah dengan rekayasa teknis pembuatan sumur bor sebanyak 12 buah, 6 sumur imbuhan dan lubang resapan biopori (LRB) sebanyak 73 buah serta melakukan penghijauan dilingkungan pabrik dengan menanam tanaman berperakaran dalam. LRB dilakukan pemanenan secara berkala (2 -3) bulan sekali, untuk dijadikan kompos.

 Pemasangan meteran air (water meter) pada pipa pengambilan air tanah.

 Sumber air bersih

 Sumber air bersih

 Sumber air bersih

 Sumur Resapan pada bangunan pabrik, LRB ditaman serta area penghijaua n

 Sumur bor air tanah

 Setiap hari

 Setiap hari

 Setiap hari

 Pembua- tan dilakuka n satu kali

 Pemasa- ngan dilakukan

 Pengamatan/pengecekan langsung terhadap tinggi muka air tanah

 Pengecekan pemakaian air sesuai dengan SIPPA yang dimiliki

 Pengecekan terhadap keran- keran yang rusak dan bocor

 Pengecekan fungsi sumur resapan dan lubang resapan biopori, serta pengecekan tumbuh kembangnya tanaman penghijauan.

 Pengecekan keberadaan, fungsi dan kelaikan meteran air (water meter)

 Sumur bor air tanah

 Meteran air (water meter)

 Sumber air bersih

 Area penghija- uan, SR dan LRB

 Meteran air (water meter)

 Setiap bulan

 Setiap bulan

 Setiap hari

 Setiap minggu

 Setiap bulan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat

 Penerima

laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung Barat

(9)

HIDUP

Tindakan Darurat

Penghentian pengambilan air tanah untuk sementara waktu dan membeli air ke PDAM untuk supplai air bersih.

satu kali

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto/media audio visual)

 Sumur bor air tanah, meteran air (water meter), area penghija- uan, SR dan LRB

 Setiap

13. Aktivitas domestik karyawan berjumlah ± 1.251 karyawan

Gangguan kebersihan dan estetika lingkungan akibat aktivitas domestik karyawan

Timbulan sampah sebesar 6,067 m

3

/hari

SNI 19-3983- 1995 ttg Spesifikasi Timbulan Sampah Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia

Permen PU Nomor 03/PRT/M/2013 ttg

Penyelenggaraa n Prasarana &

Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah RT &

Sampah Sejenis RT

 Melakukan pemilahan sampah dengan menggunakan sistem pewadahan 3 warna, yaitu merah untuk sampah metal- kaca, kuning untuk sampah anorganik, dan hijau untuk sampah organik.

 Mengelola hasil pemilahan sampah organik dengan cara pengomposan.

 Membuat TPSS terpilah yang diberi sekat dan diberi 3 warna, penempatan sampah sesuai dengan warna sekat sama seperti penempatan sampah pada tong sampah terpilah.

 Melakukan vegetasi/

penghijauan disekitar TPST

Tindakan Darurat :

Segera melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan HidupKabupaten Bandung untuk pengangkutan sampah domestik ke TPA.

 Sumber limbah, TPS 3 warna, TPST

 Sarana komposti ng

 TPSS 3 warna

 Sekitar IPAL, Sarana komposti ng

 Setiap hari

 Setiap minggu

 Satu kali sebelum tahap operasio- nal berjalan

 Satu kali

 Memantau kegiatan pemilahan sampah dan pengangkutan sampah

 Memantau kegiatan komposting sampah organik

 Memantau fungsi, keberadaan dan kelaikan TPSS terpilah 3 warna

 Memantau terhadap keberadaan lahan komposting disekitar TPSS

 Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto / media audiovisual)

 Sumber limbah, TPS 3 warna, TPST

 Sarana komposting

 TPSS 3 warna

 Tapak pabrik

 Sumber limbah, dan Area komposting

 Setiap hari

 Setiap minggu

 Setiap hari

 Setiap bulan

 Setiap bulan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya dan pihak ketiga yang mengangkut sampah

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

14. Penggunaan lahan untuk bangunan, fasilitas penunjang

Peningkatan debit air larian (run off)

Debit air larian (run off) sebesar ± 1.394 m

3

/hari

Tidak adanya genangan air/

banjir di lokasi kegiatan dan lokasi bagian

 Melakukan penanaman vegetasi penutup lahan (penghijauan) di area-area terbuka/taman dengan menanam tanaman keras yang

 Area penghijau an/

taman dan RTH

 Satu kali dan pemelihar aan setiap

 Memantau kegiatan penanaman, pemeliharaan dan tumbuh kembang tanaman keras penutup lahan (penghijauan)

 Area penghijaua n/taman dan RTH

 Setiap hari

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas :

DLH

(10)

HIDUP dan

sarana/prasar ana (tutupan lahan)

hilir kegiatan dapat menahan laju aliran air permukaan dan membantu mempercepat infiltrasi air ke dalam tanah.

 Melakukan pengecekan kelancaran aliran drainase dan membersihkan saluran drainase lingkungan pabrik secara periodik.

 Memelihara sumur imbuhan air hujan sebanyak 6 buah, manambah sumur resapan 20, menambah lubang resapan biopori (LRB) sebanyak 74 buah.

Tindakan Darurat :

Segera melakukan pengurasan genangan air dengan menggunakan pompa air dan disalurkan pada bidang resapan dan/atau badan air penerima terdekat yang memadai.

 Saluran drainase

 Sumur resapan pada ujung talang air hujan dan LRB pada taman, saluran drainase

hari

 Setiap minggu

 Satu kali

 Memantau kegiatan pembersihan saluran drainase dan kelancaran aliran air hujan pada saluran drainase serta kelancaran aliran menuju badan air penarima

 Mengecek kelaikan fungsi sumur resapan dan lubang resapan biopori (LRB)

 Mendokumentasikan kegiatan pengellolaan (dengan foto/media audiovisual)

 Saluran drainase

 Sumur resapan pada ujung talang air hujan dan LRB pada taman, saluran drainase

 Area pabrik

 Setiap minggu

 Setiap hari pada musim hujan dan setiap bulan pada musim kemarau

 Setiap bulan

Kabupaten Bandung Barat, Dinas PUPR Kab.

Bandung Barat

 Penerima laporan : DLH Kabupaten Bandung Barat

15. Operasional IPAL : peningkatan bau dari odoran tunggal yaitu Hidrogen Sulfida (H

2

S)

Peningkatan kebauan

Berdasarkan Kepmen LH No.

50 tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebauan, dengan nilai batas parameter Hidrogen Sulfida (H

2

S) yaitu 0,02 ppm

Tidak adanya keluhan masyarakat sekitar dari tingkat kebauan

 Mengoptimalkan kinerja IPAL dengan menambah unit CSTR,

 Menaman tanaman perdu yang dapat mereduksi bau di sekitar IPAL,

 Melakukan komposting lumpur dari IPAL

 Area IPAL

 Area IPAL

 Area komposti ng

 Satu bulan sekali

 Bertahap sesuai kebutuha n

 Setiap hari selama IPAL beropera si

 Melakukan evaluasi terhadap kinerja IPAL dan mengukur tingkat kebauan yang ditimbulkan serta membandingkan dengan baku mutu yang ada.

 Melakukan pemeliharaan tanaman yang ada di sekitar lokasi IPAL

 Mengevaluasi kompos yang dihasilkan serta

pemanfaatannya

 Area IPAL

 Area IPAL

 Area kompostin g

 Satu bulan sekali

 Bertahap sesuai kebutuha n

 Setiap hari selama IPAL beropera si

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima

laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung

Barat

(11)

HIDUP 16. Pengelolaan

lingkungan PT.

Ultrajaya

Keresahan masyarakat yang menimbulkan adanya unjukrasa/pen gaduan terhadap pengelolaan

Ada tidaknya unjukrasa/pen gaduan yang dilakukan masyarakat sekitar terhadap pengelolaan lingkungan yang belum maksimal

Tidak adanya unjukrasa/peng aduan yang dilakukan masyarakat sekitar

 Dialog bersama untuk penyelesaian permasalahan yang terjadi, dan berkoordinasi dengan aparat kelurahan dan kecamatan setempat

 Memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan yang belum optimal.

 Area rukun warga sekitar

 Area lingkunga n yang harus dioptimal kan pengelola annya

 Setiap ada pengadua n

 Perbaikan dilakukan secara berkelanj utan

 Memantau kegiatan dialog bersama warga dalam penyelesaian masalah

 Memantau perbaikan lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan

 Area rukun warga sekitar

 Area lingkunga n yang harus dioptimalk an pengelola annya

 Setiap ada pengadu an

 Perbaika n dilakukan secara berkenaj utan

 Pelaksana : Pemrakarsa PT. Ultrajaya

 Pengawas : DLH Kabupaten Bandung Barat

 Penerima

laporan :

DLH

Kabupaten

Bandung

Barat

Referensi

Dokumen terkait