Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
PUTUSAN Nomor 204 K/TUN/2017
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa perkara tata usaha negara dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:
TUMINAH, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Jalan
KH. Agus Salim, Nomor 6, Kelurahan Bandar Kidul, RT 11, RW 02, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, pekerjaan Wiraswasta; Selanjutnya memberikan kuasa kepada:
1. Dr. EDDY SUWITO, S.H., M.H.; 2. LUKA FARDANI, S.H.;
3. SANDRO WELLY ADRIAN, S.H.;
Semuanya kewarganegaraan Indonesia, Para Advokat, berkantor di Jalan Gotong Royong, Nomor 54, Kras – Kediri, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 11 Desember 2015; Pemohon Kasasi dahulu Terbanding/Penggugat;
melawan:
I. KEPALA KANTOR PERTANAHAN KOTA KEDIRI, tempat kedudukan di Jalan Mayor Bismo, Nomor 25, Kediri;
Selanjutnya memberi kuasa kepada:
1. JASMITO BAGYO, S.H., M.H., Kepala Seksi Sengketa Konflik dan Perkara Pertanahan;
2. MOCHAMAD CHOIRUMAN, S.ST., Kepala Sub Seksi Perkara Pertanahan;
3. LEONEL ORLEANS DA LUZ, S.ST., Kepala Sub Seksi Sengketa dan Konflik Pertanahan;
Semuanya kewarganegaraan Indonesia, tempat kedudukan di Kantor Pertanahan Kota Kediri beralamat di Jalan Mayor Bismo, Nomor 25, Kediri, berdasrkan Surat Kuasa Khusus Nomor 123/SKP/I/2016 tanggal 21 Januari 2016;
II. GUNADI, kewarganegaraan Indonesia, , tempat tinggal di Jalan KH. Agus Salim, Nomor 140, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, pekerjaan Swasta;
Selanjutnya memberi kuasa kepada: 1. MOH. RIDWAN, S.H., M.H.;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
2. KHOIRUL ROJIKIN, S.H.;
Keduanya kewarganegaraan Indonesia, Para Advokat dan Penasihat Hukum, berkantor di Jalan Mayor Bismo, Nomor 44, Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 4 Februari 2016;
Termohon Kasasi I, II dahulu Pembanding/Tergugat-Tergugat II Intervensi;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Terbanding/Penggugat telah menggugat sekarang Termohon Kasasi I, II dahulu sebagai Pembanding/Tergugat-Tergugat II Intervensi di muka persidangan Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
A. OBJEK GUGATAN:
Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, atas nama: Gunadi (terlampir);
B. DASAR GUGATAN:
(1) Bahwa Penggugat pada hari Selasa tanggal 01 Desember 2015 mendapatkan copy Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, atas nama: Gunadi (objek sengketa) dari Siti Asiyah/anak angkat bibinya (Martidjah almarhumah). Sedangkan awal-mula pemberian dari copy Sertifikat Hak Milik tersebut karena Penggugat menanyakan mengenai perkembangan kasus yang menimpa dirinya yaitu terkait dengan laporannya Gunadi yang menuduh bahwa Siti Asiyah telah melanggar ketentuan Pasal 167 ayat (1) KUH.Pidana, mengingat Penggugat juga menjadi saksi a de charge dalam perkara pidana tersebut ;
(2) Bahwa objek sengketa yang diterbitkan Tergugat diperuntukkan pihak ketiga yang bukan berkedudukan sebagai alamat yang dituju oleh Keputusan Tergugat, karenanya itu tenggang waktu untuk mengajukan gugatan juga harus mengikuti tenggang waktu menurut ketentuan yang berlaku bagi alamat yang dituju dengan pengkhususan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia
S e l a n j u t n y a . . . H a l . 2 d a r i 5 8 h a l . P u t u s a n N o m o r : 8 8 / G / 2 0 1 3 / P T U N . M k s . Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Nomor 2 Tahun 1991 tentang Petunjuk pelaksanaan beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang menyebutkan:
“Bahwa bagi mereka yang tidak dituju oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara tetapi merasa kepentingannya dirugikan maka tenggang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dihitung secara kasuistis sejak saat ia merasa kepentingannya dirugikan oleh Keputusan Tata Usaha Negara dan mengetahui adanya keputusan tersebut”;
(3) Bahwa Penggugat adalah pihak yang tidak dituju oleh surat keputusan (objek sengketa), sehingga dengan mengacu pada Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung Republik Indonesia yang antara lain putusan Nomor 41K/TUN/1994 tanggal 10 November 1994 yang dalam kaidah hukumnya menyebutkan bahwa bagi pihak yang tidak dituju oleh suatu keputusan, maka penghitungan tenggang waktu pengajuan gugatan tidak dihitung 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya atau diumumkannya surat keputusan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara melainkan 90 (sembilan puluh) hari dihitung secara kasuistis sejak yang bersangkutan mengetahui dan merasa kepentingannya dirugikan atas diterbitkannya surat keputusan;
(4) Bahwa selain Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1991 tentang Petunjuk Pelaksanaan beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung RI antara lain putusan Nomor 41K/TUN/1994 tanggal 10 November 1994 juga berdasarkan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara bahwa Gugatan hanya dapat diajukan dalam tenggang waktu 90 hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara;
(5) Bahwa Keputusan (objek sengketa) diketahui oleh Penggugat pada hari Selasa tanggal 01 Desember 2015, maka berdasarkan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, Surat Gugatan Penggugat ini masih dalam tenggang waktu 90 hari;
(6) Bahwa objek sengketa yang dikeluarkan oleh Tergugat telah memenuhi Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu telah bersifat konkret, individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi Penggugat yang berkedudukan/merupakan salah satu ahli warisnya almarhumah Martidjah;
C. DUDUK PERKARANYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1. Bahwa suami-istri Mursidi dan Rotijah yang berkediaman terakhir di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, semasa hidupnya dikaruniai 7 (tujuh) orang anak yaitu:
1. Mubari almarhum; 2. Mubarak almarhum; 3. Sidiq almarhum; 4. Fatimah almarhumah; 5. Mariyam almarhumah; 6. Fathonah almarhumah; 7. Martidjah almarhumah;
2. Bahwa anak yang ketujuh (bungsu) yang bernama Martidjah tersebut semasa hidupnya menikah dengan Mohamad Zarkasi, akan tetapi berhubung dari perkawinannya tidak dikaruniai anak, kemudian mereka berdua mengangkat anak bernama Siti Asiyah;
3. Bahwa sedangkan Mubari (saudara sulung dari Martidjah) yang meninggal dunia pada tahun 1963 tersebut dalam perkawinannya dengan Muntirah melahirkan 4 (empat) orang anak yaitu:
1. Tuminah/Penggugat; 2. Yasin almarhum; 3. Sunyoto almarhum; dan 4. Barokah;
4. Bahwa berdasarkan silsilah keluarga sebagaimana terurai tersebut di atas, maka kedudukan Penggugat adalah salah satu dari ahli warisnya almarhumah Martidjah;
5. Bahwa Martidjah, semasa hidup sampai dengan akhir hayatnya pada tanggal 24 Agustus 2013 tinggal bersama dengan anak angkatnya (Siti Asiyah) di tempat kediamannya di atas tanah miliknya terletak di Jalan KH. Agus Salim, Nomor 1, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri;
6. Bahwa sebidang tanah Hak Milik dari bibi Penggugat (Martidjah almarhumah) tersebut tercatat pada buku C Desa Nomor 868 Persil 20 d 4, luas 200 m2Kelurahan Bandar Kidul atas nama Martidjah;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
7. Bahwa almarhumah Martidjah semasa hidupnya tidak pernah mengajukan permohonan pendaftaran hak atas tanah miliknya tersebut kepada Kantor Pertanahan, tetapi ironisnya Tergugat mengeluarkan Sertifikat Hak Milik Nomor 116 /Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, nama Pemegang Hak Martidjah pada tanggal 1 April 1981 dengan berdasarkan data pisik maupun data yuridis yang bukan merupakan alas hak dari Martidjah, hal tersebut terurai dalam penerbitan objek sengketa dengan dasar penunjuk: Petok D Nomor 806 Persil Nomor 51 a d.I, wajib pajak Martidjah, kemudian terjadi peralihan hak berdasarkan akta hibah kepada Mochamad Thohir tertanggal 1 November 1980, yang selanjutnya terjadi peralihan hak lagi berdasarkan akta jual beli kepada Gunadi tertanggal 1 September 2003. Padahal sebidang tanah Hak Milik Martidjah sebagaimana datanya yang tercatat pada buku C Desa/Petok D Nomor kohir-nya 868, Persil-nya Nomor 20, Klas-nya d 4 dan luasnya 200 m2;
8. Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum di atas, maka telah memperlihatkan atau cukup membuktikan dengan nyata bahwa tindakan Tergugat dalam menerbitkan “objek sengketa” di atas alas hak milik Martidjah tersebut telah mengabaikan tentang prosedur pengumpulan dan pengolahan data fisik bidang tanah maupun data yuridis yang meliputi penelitian dan penyelidikan riwayat atas sebidang tanah tersebut;
9. Bahwa dengan demikian itu, maka penerbitan objek sengketa di atas alas hak milik almarhumah Martidjah/bibi Penggugat oleh Tergugat pada tanggal 1 April 1981 yang kemudian dilakukan peralihan hak berdasarkan akta hibah kepada Mochamad Thohir tertanggal 1 November 1980 serta dilakukan peralihan hak lagi berdasarkan akta jual beli kepada Gunadi tertanggal 1 September 2003 tersebut, adalah nyata-nyata sangat merugikan kepentingan Penggugat maupun ahli waris lainnya yang berkedudukan sebagai ahli warisnya almarhumah Martidjah yang berhak mewarisi atas harta peninggalnnya;
10. Bahwa tindakan Tergugat dalam mengeluarkan keputusan objek sengketa adalah didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, Pasal 18 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961, Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
1999 tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
11. Bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh Tergugat didasarkan atas surat-surat tanda bukti hak sebagaimana disyaratkan dalam ketentuan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah yang dalam hal ini berupa leter C Desa Nomor Kohir 806 atas nama Martidjah. Padahal sesuai dengan datanya yang terdapat pada leter C Desa Bandar Kidul dimaksud atas nama Martidjah Nomor Kohirnya adalah 868, bukan Nomor 806. Dengan demikian, keputusan (objek sengketa) yang telah diterbitkan oleh Tergugat berdasarkan data yuridis dimaksud adalah bukan yang sebenarnya;
12. Bahwa apa yang ditetapkan dalam keputusan tersebut adalah telah jelas mengenai Surat Keputusan berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) yang telah memenuhi unsur konkret. Adapun dalam pencantuman secara terperinci nama pemegang haknya, alamat yang dituju dan dasar penerbitan Sertifikat sebagaimana termuat dalam lampiran keputusan tersebut menunjukkan bahwa keputusan ditujukan kepada seseorang atau alamat tertentu, dengan demikian, keputusan (objek sengketa) telah memenuhi unsur individual;
13. Bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh Tergugat tidak memerlukan persetujuan dari instansi atasan Tergugat maupun instansi lain, serta keputusan tersebut telah menimbulkan hak dan kewajiban bagi nama yang tercantum dalam keputusan tersebut. Dengan demikian keputusan (objek sengketa) telah bersifat final dan telah menimbulkan akibat hukum bagi Penggugat sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;
14. Bahwa dari uraian tersebut di atas, maka keputusan Pejabat yang mengeluarkan serta tindakan hukum Tata Usaha Negara yang dilakukannya telah didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta telah memenuhi unsur konkret, individual dan final, dan telah menimbulkan akibat hukum bagi seseorang, maka dengan demikian keputusan objek sengketa tersebut telah memenuhi
unsur-Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
unsur Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009. Sehingga dengan demikian Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, atas nama Gunadi, dengan dasar penunjuk Petok D Nomor 806 Persil Nomor 51 a d.I, Wajib Pajak Martidjah adalah telah memenuhi unsur konkret, individual dan final, serta telah menimbulkan akibat hukum bagi seseorang;
15. Bahwa berlandaskan fakta-fakta hukum demikian itu, maka dalam penerbitan sertifikat (objek sengketa) di atas alas hak milik Martidjah/ bibi Penggugat tersebut nyata-nyata telah melanggar peraturan perundang-undangan berlaku dan bertentangan dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu:
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini mengenai formal prosedur di dalam penerbitan objek sengketa telah bertentangan dengan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang berbunyi sebagai berikut:
Ayat (1): Untuk keperluan pengumpulan dan pengolahan data fisik dilakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan;
Ayat (2): Kegiatan pengukuran dan pemetaan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi:
a. Pembuatan peta dasar pendaftaran; b. Penetapan batas bidang-bidang tanah;
c. Pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran;
d. Pembuatan daftar tanah; e. Pembuatan surat ukur;
b. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, yaitu bertentangan dengan:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas KKN yang menyatakan “Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara meliputi Asas Kepastian Hukum, adalah asas dalam rangka negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara Negara;
16. Bahwa keputusan Tergugat berupa Sertifikat (objek sengketa) merupakan suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang telah bersifat konkrit, individual dan final, serta berakibat hukum yang sangat mutlak merugikan pihak Penggugat dengan nyata sebagaimana yang telah diuraikan tersebut di atas, dan berdampak terhadap status hukum terkait tanah obyek sengketa, artinya pihak ahliwaris Martidjah terhambat untuk melakukan penguasaan maupun melakukan peralihan hak sehingga kepentingan dan hubungan hukum terganggu; 17. Bahwa Tergugat juga telah melanggar Asas-asas Umum
Pemerintahan Yang Baik (AAUPB), yaitu mengenai Asas Kecermatan dan Ketelitian maupun Asas Kepastian hukum dalam memeriksa data yuridis atas objek tanah yang akan diterbitkan Surat Keputusan Tata Usaha Negara dimaksud, dalam hal ini merupakan bentuk pelanggaran Tergugat yang tidak cermat dan tidak teliti dalam memeriksa data-data yuridis mengenai riwayat yang dijadikan dasar prosedur permohonan hak serta riwayaatas tanah. Sehingga Penggugat nyata-nyata dirugikan atas diterbitkannya Surat Keputusan (objek sengketa) oleh Tergugat sebagaimana disebutkan di atas, karena Penggugat tidak dapat menikmati keuntungan atas tanahnya; 18. Bahwa oleh karena Tergugat telah melakukan tindakan
sewenang-wenang dan melanggar peraturan perundang-undangan berlaku dalam menerbitkan objek sengketa tersebut, maka cukup alasan bagi Penggugat memohon agar Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya untuk membatalkan atau menyatakan tidak sah serta memerintahkan Tergugat untuk mencabut objek sengketa;
19. Bahwa dengan mengingat ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, maka Penggugat dapat mengajukan gugatan tertulis kepada
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Pengadilan yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan tersebut dinyatakan batal atau tidak sah;
20. Bahwa Keputusan (objek sengketa) Tergugat adalah merupakan kewenangan dari Peradilan Tata Usaha Negara untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikannya sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;
Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya agar memberikan putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Tergugat berupa: Sertifikat Hak Milik Nomor 116/ Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, atas nama Gunadi;
3. Mewajibkan kepada Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berupa: Sertifikat Hak Milik Nomor 116/ Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981, Luas 154 m2, atas nama Gunadi;
4. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara;
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat dan Tergugat II Intervensi masing-masing mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
EKSEPSI TERGUGAT:
1. Bahwa Tergugat menolak dalil-dalil gugatan Penggugat kecuali terhadap hal-hal yang secara tegas-tegas dibenarkan dan diakui dalam Jawaban ini; 2. Bahwa Penggugat dalam gugatannya mendalilkan merupakan ahli waris
dari Martidjah, namun tanah objek sengketa tersebut ternyata oleh Martidjah telah dihibahkan kepada Mochamad Thohir berdasarkan Akta Hibah tanggal 01 November 1980 Nomor 122/XI/1980, yang dibuat oleh Kamsul Karsono selaku PPAT/Camat Mojoroto dan telah terbit Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandarkidul, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981 Luas 154 m²;
Bahwa mengenai siapa yang mempunyai hak untuk menggugat dalam Pasal 53 Undang-Undang 5 Tahun 1986 jo. Nomor 9 Tahun 2004 jo. Nomor 51 Tahun 2009, telah ditentukan dasar untuk menggugat yang
H a l . 8 d a r i 5 8 h a l . P u t u s a n N o m o r : 8 8 / G / 2 0 1 3 / P T U N . M k s . Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
mensyaratkan adanya unsur kepentingan yang dirugikan oleh keluarnya Keputusan Tata Usaha Negara, dengan demikian harus ada hubungan antara Keputusan Tata Usaha Negara dengan kepentingan yang dirugikan. Oleh karena itu harus ada pengujian mengenai kepemilikan atas tanah objek sengketa terlebih dahulu sehingga dapat menunjukkan hubungan hukum antara Penggugat dengan tanah objek sengketa (yang merupakan masalah keperdataan) dan yang berwenang melakukan pengujian kepemilikan tersebut adalah Badan Peradilan Umum, bukan wewenang Pengadilan Tata Usaha Negara;
Mengacu pada Yurisprudensi Nomor 88.K/TUN/1993 tanggal 9 September 1994 menyebutkan “meskipun sengketa ini terjadi akibat adanya Surat Keputusan Pejabat atau Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), tetapi dalam sengketa tersebut terdapat sengketa perdata menyangkut pembuktian status dan hak atas tanah yang masuk dalam lingkup kewenangan Hakim Perdata, maka sengketa tersebut seharusnya terlebih dahulu diselesaikan melalui Badan Peradilan Umum”, dengan demikian Pengadilan Tata Usaha Negara tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara ini;
3. Bahwa Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandarkidul, Gambar Situasi Nomor 337/1981 tanggal 13 Maret 1981 Luas 154 m² diterbitkan pada tanggal 01 April 1981, berdasarkan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah menyatakan: “Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu telah tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat tersebut”;
EKSEPSI TERGUGAT II INTERVENSI: 1. Tenggang Waktu Mengajukan Gugatan:
Bahwa sesuai dengan Pasal 55 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1986 yang bunyinya “Gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu sembilan puluh hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara” sedangkan yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
menjadi objek sengketa yaitu sertifikat Nomor 116 gambar situasi tanggal 13 Januari 1981 luas 154 m2terletak di Kelurahan Bandar Kidul atas nama Gunadi yang dikeluarkan Badan Pertanahan Kota Kediri diterbitkan pada tanggal 01 April 1981 sedangkan gugatan diajukan pada tanggal 23 Desember 2015 sehingga tenggang waktu mengajukan gugatan sangat jauh melebihi 90 (sembilan puluh) hari kerja, sedangkan satu sisi Penggugat juga sudah pernah melihat dan mendengar ketika menjadi saksi ade chargedi Pengadilan Negeri Kota Kediri dalam perkara Nomor 66/Pid.B/2015/PN.Kdr dengan tedakwa Siti Asiyah binti Yasir pada saat itu Penggugat sudah mengetahui dan melihat bahwa tanah yang menjadi objek sengketa tersebut sudah bersertifikat yaitu pada sekitar bulan Mei s.d. Juni 2015, bukan pada tanggal 01 Desember 2015 pada saat sertifikat tersebut dijadikan barang bukti di Pengadilan Negeri Kota Kediri dalam perkara Nomor 66/Pid.B/2015/PN.Kdr. Dan jika dihitung maka tenggang waktu gugatan sudah melampaui batas 90 (sembilan puluh) hari (kedaluwarsa) bahwa sesuai dengan penjelasan Pasal 55 tersebut dijelaskan “dalam hal peraturan dasarnya menentukan bahwa suatu keputusan itu diumumkan maka tenggang waktu 90 hari dihitung sejak diumumkannya keputusan itu bahwa jangka waktu untuk mengajukan gugatan ke persidangan Tata Usaha Negara adalah 90 hari kalender sejak putusan Pejabat Tata Usaha Negara” bahwa sertifikat yang menjadi objek sengketa sudah pernah diumumkan sebelum diterbitkan yaitu pengumuman tanggal 18 Januari 1981 daftar urut pengumuman 4 Kelurahan Bandar Kidul atas nama Martidjah dan tidak ada yang keberatan sehingga gugatan Penggugat sudah kedaluwarsa sebagaimana yang dimaksud Pasal 55 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1986 dan haruslah ditolak;
2. Gugatan Kedaluwarsa:
Bahwa yang menjadi objek sengketa adalah serifikat Nomor 116 gambar situasi tanggal 13 Januari 1981 luas 154 m2 diterbitkan oleh Badan Pertanahan Kota Kediri tanggal 01 April 1981 Kelurahan Bandar Kidul atas nama Gunadi. Dan sertifikat tersebut awalnya bernama “Martidjah” kemudian berdasarkan akta hibah dihadapan Camat Mojoroto berubah menjadi nama Mochamad Thohir kemudian dengan adanya akta jual beli Nomor 356/JB/M/IX/2003 tanggal 01 September 2003 dihadapan Notaris Nunuk Endang Purwaningsih berganti nama Gunadi sedangkan gugatan diajukan Penggugat pada tanggal 23 Desember 2015 sehingga kurang lebih ada 34 tahun perkara tersebut baru diajukan, sehingga perkara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
tesebut adalah temasuk kategori kedaluwarsa atau lampau waktu sebab sesuai dengan pasal 1967 ayat (1) KUHPerdata “segala tuntutan hukum baik yang besifat kebendaan maupun yang bersifat perseorangan hapus karena daluwarsa dengan lewatnya waktu tiga puluh tahun” jo Pasal 548 ayat (2) KUHPerdata “bahwa ia karena kedaluwarsa dapat memperoleh hak milik atas kebendaan itu” jo Pasal 1946 KUHPerdata yang isinya “Daluwarsa adalah suatu alat untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang” gugatan waris yang sudah lebih 30 tahun maka sudah tidak punya hak untuk mengajukan gugatan;
3. Tentang Legal Standing Penggugat:
Bahwa Penggugat mengaku sebagai pihak ketiga yang mempunyai kepentingan langsung terhadap objek sengketa dan dirugikan kepentingan dengan adanya diterbitkannya Sertifikat Nomor 116 Gambar Situasi tanggal 13 Januari 1981 luas 154 m2Kelurahan Bandar Kidul atas nama Gunadi, sehingga berkapasitas sebagai Penggugat. Hal tersebut berbeda dengan pendapat kami selaku Tergugat II Intervensi, Penggugat adalah bukan orang ketiga yang dirugikan kepentingannya dan tidak mempunyai kapasitas sebagai Penggugat karena urusan perkara Penggugat adalah dengan sdr. Martidjah bukan dengan BPN sebagai Tergugat I dan Tergugat II Intervensi (Gunadi). Penggugat tidak ada korelasi atau hubungan apapun kalau toh Penggugat sebagai salah satu ahli waris dari alamarhum Martidjah seharusnya mengajukan gugatan tentang hak waris dahulu ke Pengadilan Agama kalau beragama Islam dan ke Pengadilan Negeri kalau beragama non-Islam, tetapi kenyataannya hal itu belum dan tidak pernah dilakukan Penggugat, sehingga status Penggugat jelas sebagai ahli waris yang belum mendapatkan bagian warisan,tetapi bukan berurusan dengan Tergugat I BPN dan Tergugat II Intervensi (Gunadi), karena dengan Tergugat I dan Tergugat II Intervensi Penggugat tidak ada hubungan hukum, karena status sebagai ahli waris belum jelas (belum ada putusan pengadilan) dengan demikian Penggugat tidak punya legal standing/punya kapasitas sebagai Penggugat atau pihak ketiga yang dirugikan kepentingannya dengan adanya keputusan oleh Tergugat I dan Tergugat II Intervensi, kemudian alamat penggugat juga tidak benar karena alamat yang dipakai pihak Penggugat juga salah, karena Jalan Agus Salim, Nomor 6, Kelurahan Bandar Kidul, RT. 11, RW. 02, Kecamatan Mojoroto, Kota
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Kediri, sebab yang Nomor 6 tersebut banyak ada 6a, 6b, dan 6c…dstnya, makanya Nomor 6 yang mana yang dimaksud Penggugat kurang jelas;
4. Gugatan Para Pihak Kurang Lengkap:
Bahwa sertifikat tersebut awalnya bernama Martidjah kemudian dengan akta hibah pindah ke sdr Mohamad Thohir, kemudian berdasarkan akta jual beli pindah kepada Sdr. Gunadi (Tergugat II Intervensi) seharusnya Camat Mojoroto Kota Kediri yang membuat AktA Hibah Nomor 12/XI/1980 tanggal 01 November 1980 serta Notaris Nunuk Endang Purwaningsih yang membuat Akta Jual Beli haruslah juga ikut sebagai Tergugat, sebab tanah yang menjadi objek sengketa bisa beralih ke Tergugat II Intervensi Sdr. Gunadi adalah adanya Akta Jual Beli berdasarkan Akta Jual Beli Nomor 356/JB/M/IX/2003 tanggal 01 September 2003;
Dengan begitu gugatan Penggugat kurang pihak dan sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 1078K/SIP/1972 tanggal 11 November 1975 jo Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 151K/SIP/1975 tanggal 13 Mei 1975 jo Nomor 1125K/PDT/1984, Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 2752/Pdt/1983 tanggal 12 Desember 1984 gugatan kurang pihak haruslah ditolak atau setidak-tidaknya gugatan Penggugat tidak dapat diterima;
5. Tentang Surat Kuasa Penggugat:
Bahwa dalam gugatan Penggugat tertanggal 27 Januari 2016 ada tiga kuasa hukum yaitu 1). Sdr. Dr. Edi Suwito, S.H., M.H., 2). Sdr. Luka Fardani, S.H., dan 3). Sdr. Sandro Welly Adrian, S.H., jika Sdr. Dr. Edi Suwiton, S.H., M.H. adalah sudah sering beracara di mana-mana dan sudah lama menjadi Advokat dan Pengacara, tetapi untuk yang dua orang terserbut yaitu sdr. Luka Fardani, S.H. dan Sdr. Sandro Welly Adrian, S.H., Tergugat II Intervensi belum pernah melihat apakah kedua orang tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk beracara di persidangan karena syarat beracara di pengadilan salah satu syaratnya harus ada sumpah dari Pengadilan Tinggi sesuai dengan Pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, jika belum ada sumpah maka belum bisa beracara di persidangan pengadilan manapun karena dalam gugatan ada kata-kata “Bertindak untuk dan atas namanya baik sendiri atau bersama sama” dengan kata lain ketiga kuasa hukum tersebut salah satu bisa beracara walaupun tidak secara bersama sama, untuk itu jika yang dua orang tersebut belum punya izin praktik dan berita acara sumpah dari
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
PengadilanTinggi maka secara otomatis gugatan tersebut dianggap tidak sempurna dan gugatan harus ditolak;
6. Gugatan Bukan Sengketa Tata Usaha Negara:
Gugatan tersebut mengandung unsur gugatan waris dan pembagian waris karena Penggugat sebagai ahli waris belum mendapatkan haknya, dan seharusnya gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri atau ke Pengadilan Agama setempat untuk mendapatkan status sebagai ahli waris supaya kedudukan Penggugat sebagai ahli waris dari si pewaris jelas bukan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara, karena perkara yang diajukan adalah perkara perdata yang berkaitan dengan hak keperdataan bukan berkaitan antara perseorangan dengan pejabat Tata Usaha Negara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1 (4) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun1986 yang bunyinya: “Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan”. Dengan demikian perkara yang diajukan Penggugat bukan kategori Perkara Peradilan Tata Usaha Negara;
Bahwa terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya telah mengambil putusan, yaitu Putusan Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY tanggal 11 Mei 2016 yang amarnya sebagai berikut: DALAM EKSEPSI:
- Menyatakan eksepsi Tergugat dan Tergugat II Intervensi tidak diterima; DALAM POKOK PERKARA:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Tergugat berupa Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/ 1981, tanggal 13 Maret 1981, luas 154 m2, atas nama Gunadi;
3. Mewajibkan kepada Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berupa Sertifikat Hak Milik Nomor 116/Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tanggal 1 April 1981, Gambar Situasi Nomor 337/1981, tanggal 13 Maret 1981, luas 154 m2, atas nama Gunadi;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
4. Menghukum Tergugat dan Tergugat II Intervensi untuk membayar biaya yang timbul dalam sengketa ini secara tanggung renteng sebesar Rp3.719.000,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan belas ribu Rupiah); Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Pembanding/Tergugat-Tergugat II Intervensi, Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut telah dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya dengan Putusan Nomor 206/B/2016/PT.TUN.SBY tanggal 10 Oktober 2016 yang amarnya sebagai berikut:
1. Menerima permohonan banding dari Tergugat/Pembanding dan Tergugat II Intervensi/Pembanding;
2. Membatalkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY tanggal 11 Mei 2016 yang dimohonkan banding;
MENGADILI SENDIRI: DALAM EKSEPSI:
- Menerima eksepsi dari Tergugat II Intervensi/Pembanding tentang Penggugat/Terbanding tidak memiliki kepentingan;
DALAM POKOK PERKARA:
1. Menyatakan gugatan Penggugat/Terbanding tidak diterima;
2. Menghukum Penggugat/Terbanding membayar biaya perkara pada kedua tingkat pengadilan yang untuk tingkat banding ditetapkan sebesar Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu Rupiah);
Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada Terbanding/Penggugat pada tanggal 15 November 2016 dan diterima pada tanggal 19 November 2016 kemudian terhadapnya oleh Terbanding/Penggugat dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 11 Desember 2015 diajukan permohonan kasasi secara lisan pada tanggal 30 November 2016 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY jo. Nomor 206/B/2016/PT.TUN.SBY, yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya. Permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut pada tanggal 8 Desember 2016;
Bahwa setelah itu oleh Termohon Kasasi I, II yang pada tanggal 16 Desember 2016 telah diberitahu tentang memori kasasi dari Pemohon Kasasi diajukan jawaban memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya masing-masing pada tanggal 27 Desember 2016 dan 23 Desember 2016;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, maka secara formal dapat diterima;
ALASAN KASASI
Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasi pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa Majelis Hakim Banding membatalkan atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN) Surabaya tanggal 11 Mei 2016 Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY. dengan alasan/pertimbangan sebagai berikut: - Bahwa Majelis Banding tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis
Tingkat Pertama tersebut dengan berdasarkan fakta-fakta, bahwa Putusan Pengadilan Negeri Kediri Nomor 66/Pid.B/2015/PN.Kdr adalah merupakan putusan dalam perkara pidana dan dalam amarnya sama sekali tidak menyebutkan tentang hubungan darah antara Penggugat/Terbanding dengan almarhum Martidjah (vide bukti T.2-5); - Dalil Penggugat yang menyatakan bahwa ia adalah salah satu ahli waris
dari Martidjah ternyata tidak didukung dengan penetapan ahli waris dari Pengadilan Agama, sehingga eksepsi tentang Penggugat/Terbanding tidak memiliki kepentingan adalah berdasarkan hukum dan harus dinyatakan dikabulkan;
2. Bahwa mengenai pertimbangan Majelis Hakim Banding tersebut nyata-nyata telah salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku, karena selain berdasarkan fakta maupun fakta hukumnya yang telah terungkap di persidangan telah terbukti bahwa Penggugat adalah anak keponakan dari almarhumah Martidjah dan merupakan salah satu dari ahli warisnya dan hal tersebut juga telah dipertimbangkan dengan jelas, tepat, benar dan lengkap oleh Majelis Hakim Tingkat Pertama sebagaimana termuat dalam putusannya tanggal 11 Mei 2016 Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY pada halaman 50, 51 dan 52, juga adanya hubungan darah antara Penggugat/Terbanding dengan almarhumah Martidjah dimaksud tidak ada relevansi dan korelasinya dengan putusan perkara pidana Nomor 66/Pid.B/2015/PN.Kdr, tanggal 3 Agustus 2015/bukti T.2-5 tersebut. Di samping itu pula jika adanya hubungan darah antara Penggugat/ Terbanding dengan almarhumah Martidjah dimaksud disebutkan/
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
dimasukkan dalam amar putusan pidana (T.2-5) tersebut, sungguh merupakan sesuatu hal yang ironis sekali dan nyata-nyata tidak memahami tentang putusan hukum pidana. Padahal sesuai doktrinya, bahwa setiap hakim itu harus memahami baik hukum positif maupun hukum objektif. Selain itu, juga tidak ada suatu peraturan perundang-undangan satupun yang menentukan untuk membuktikan keahliwarisan bagi seseorang harus didasarkan adanya penetapan Pengadilan Agama;
3. Bahwa juga kelihatan jelas sekali dalam pemeriksaan sengketa tata usaha negara ini tidak dilakukan dengan seksama dan utuh oleh Majelis Hakim Banding, bahkan hanya sekedar asal-asalan, hal ini terbukti di mana walaupun adanya upaya hukum pemeriksaan banding dalam sengketa ini kedudukan Tergugat II Intervensi sebagai Pembanding dan Tergugat sebagai Pembanding (vide: surat pernyataan permohonan banding serta surat pemberitahuan dan penyerahan memori banding dari Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya Nomor W3-TUN1/1783/K.Per.02.03/VI/2016 copy terlampir), namun dalam diktum amar putusannya tersebut disebutkan: ”Tergugat/Pembanding dan Tergugat II Interensi/Pembanding”;
4. Bahwa berlandaskan pada hal-hal terurai di atas, maka mengenai alasanHakim-Hakim Banding dalam menyatakan gugatan Penggugat/ Terbanding (Pemohon Kasasi) tidak diterima tersebut, adalah nyata-nyata telah menyalahi “Prinsip Mengadili” sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. 48 Tahun 2009) Pasal 5 ayat (1) yang telah menegaskan bahwa “Hakimwajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat”. Adapun hal-hal yang tersirat dalam rumusan pasal tersebut, maka dalam mengadili suatu perkara yang dihadapi, hakim wajib bertindak sebagai berikut:
a) Dalam perkara yang hukum atau undang-undangnya sudah jelas, tinggal menerapkan saja hukumnya;
b) Dalam perkara dimana hukumnya tidak atau belum jelas maka Hakim akan menafsirkan hukum atau undang-undang melalui cara/metode penafsiran yang lazim berlaku dalam ilmu hukum; dan
c) Dalam perkara yang belum ada undang-undang/hukum tertulis yang mengaturnya, maka Hakim harus menemukan hukumnya dengan menggali dan mengikuti nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat; Sedangkan dalam gugatan sengketa ini hukumnya sudah sangat jelas sekali yaitu terkait dengan kedudukan Penggugat (Pemohon Kasasi/ Terbanding) sebagai keponakan almarhumah Martidjah telah dirugikan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
akibat diterbitkannya objek sengketa yang dilakukan dengan prosedur yang tidak benar tersebut;
5. Bahwa oleh karena Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya tanggal 10 Oktober 2016 Nomor 206/G/2016/PT.TUN.SBY.
juncto Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya tanggal 11 Mei
2016 Nomor 279/G/2015/PTUN.SBY. nyata-nyata telah salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku serta terbukti terdapat keganjilan-keganjilan dalam mengadili sengketa ini, maka konsekuensi yuridik sudah seharusnya dibatalkan;
6. Bahwa mengingat Putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam sengketa Tata Usaha Negara ini sudah didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan hukum yang jelas, tepat, benar dan lengkap sesuai dengan fakta hukumnya yang telah terbukti di persidangan, maka menurut hukum sudah seharusnya gugatan Penggugat patut dikabulkan seluruhnya;
7. Bahwa berhubung alasan kasasi yang dikemukakan oleh Pemohon Kasasi (Penggugat/Terbanding) tersebut bukan berkenaan dengan keberatan atas penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, tetapi murni karena terjadinya kesalahan dalam menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku atas putusan a quo, maka sudah seharusnya menurut hukum keberatan-keberatan Pemohon Kasasi tersebut patut dikabulkan;
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena Putusan
Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya sudah benar dan
tidak salah dalam menerapkan hukum, dengan perubahan pertimbangan: Bahwa berdasarkan uraian surat gugatan, Penggugat/Pemohon Kasasi adalah salah satu ahli waris dari almarhumah Martidjah dan berhak atas harta peninggalannya, termasuk tanah pada sertifikat objek sengketa, sedangkan Tergugat II Intervensi/Termohon Kasasi II menyatakan membeli tanah pada sertifikat objek sengketa dari Mohamad Tohir berdasarkan Akta Jual beli yang dibuat di hadapan Notaris Nunuk Endang Purwaningsih. Dengan demikian, walaupun objek sengketa merupakan Keputusan Tata Usaha Negara yang memenuhi unsur Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 dan tidak termasuk dalam salah satu pengecualian objek sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana diatur pada Pasal 2 Undang-Undang Nomor 9 Tahun
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
2004 dan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, akan tetapi terlebih dahulu harus dibuktikan melalui peradilan perdata, apakah benar Penggugat/Pemohon Kasasi ahli waris dari almarhumah Martidjah dan apakah sah jual beli antara Tergugat II Intervensi/Termohon Kasasi II dan Mohamad Tohir;
Bahwa di samping itu alasan-alasan tersebut pada hakikatnya mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan pada tingkat kasasi hanya berkenaan dengan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan dalam pelaksanaan hukum sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, lagi pula ternyata bahwa Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: TUMINAH tersebut harus ditolak;
Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan kasasi, maka Pemohon Kasasi dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
MENGADILI,
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: TUMINAH tersebut;
Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu Rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Selasa, tanggal 16 Mei 2017 oleh
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 20 halaman. Putusan Nomor 204 K/TUN/2017
Dr. Irfan Fachruddin, S.H., C.N., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. Yosran, S.H., M.Hum. dan Is Sudaryono, S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh Maftuh Effendi, S.H., M.H., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.
Anggota Majelis: Ketua Majelis,
ttd. ttd.
Dr. Yosran, S.H., M.Hum. Dr. Irfan Fachruddin, S.H., C.N. ttd. Is Sudaryono, S.H., M.H. Panitera Pengganti, ttd. Maftuh Effendi, S.H., M.H. Biaya – biaya: 1. Meterai………..Rp 6.000,00 2. Redaksi……….Rp 5.000,00 3. Administrasi ….…...Rp489.000,00 Jumlah ……….Rp500.000,00 Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.
a.n. Panitera
Panitera Muda Tata Usaha Negara,
H. ASHADI, S.H. NIP. 220000754
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]