• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Kontruksi Baja Bangunan Gudang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perencanaan Kontruksi Baja Bangunan Gudang"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN KONTRUKSI BAJA BANGUNAN GUDANG PERENCANAAN KONTRUKSI BAJA BANGUNAN GUDANG

ABSTRAK ABSTRAK

Perencanaan suatu gudang sebagai pelindung mutu dan kualitas barang Perencanaan suatu gudang sebagai pelindung mutu dan kualitas barang menggunakan perhitungan yang matang, karena bangunan ini digunakan dalam menggunakan perhitungan yang matang, karena bangunan ini digunakan dalam kurun waktu yang panjang dan juga bangunan yang dihasilkan harus aman, kuat, kurun waktu yang panjang dan juga bangunan yang dihasilkan harus aman, kuat, nyaman, dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.

nyaman, dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.

Pengolahan data dianalisis dengan menggunakan SAP 2000 v.14 untuk Pengolahan data dianalisis dengan menggunakan SAP 2000 v.14 untuk  perhitungan

 perhitungan portal, portal, balok balok dan dan kolom. kolom. Pada Pada perencanaan perencanaan struktur struktur gudang gudang ini,ini, digunakan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang Untuk Bangunan digunakan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang Untuk Bangunan Gedung (SKSNI T-15-1991-03), Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Gedung (SKSNI T-15-1991-03), Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002), Peraturan Perencanaan Bangunan Baia Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002), Peraturan Perencanaan Bangunan Baia Indonesia 1984 (PPBBI), Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 Indonesia 1984 (PPBBI), Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 (PPIUG).

(PPIUG).

Berdasarkan dari perhitungan, dapat disimpulkan bahwa perencanaan Berdasarkan dari perhitungan, dapat disimpulkan bahwa perencanaan gudang ini menggunakan struktur profil baja IWF 300.200.8.12 dan pondasi gudang ini menggunakan struktur profil baja IWF 300.200.8.12 dan pondasi setempat dengan ukuran tapak pondasi 2,3 x 2,8 meter dengan kedalaman 2,90 setempat dengan ukuran tapak pondasi 2,3 x 2,8 meter dengan kedalaman 2,90 meter dinyatakan aman.

meter dinyatakan aman.

Kata kunci : Gudang, IWF 300.200.8.12, Perencanaan Struktur Kata kunci : Gudang, IWF 300.200.8.12, Perencanaan Struktur

(2)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1.

1.1. Latar BelakangLatar Belakang

Baja merupakan bahan yang mempunyai sifat struktur yang sangat baik Baja merupakan bahan yang mempunyai sifat struktur yang sangat baik sehingga pada akhir abad 19 dimulainya menggunaan baja sebagai bahan struktur sehingga pada akhir abad 19 dimulainya menggunaan baja sebagai bahan struktur (konstruksi) utama, ketika itu metode pengolahan baja yang murah dikembangkan (konstruksi) utama, ketika itu metode pengolahan baja yang murah dikembangkan dengan skala yang luas. Sifat Baja mempunyai kekuatan yang tinggi dan sama dengan skala yang luas. Sifat Baja mempunyai kekuatan yang tinggi dan sama kuat pada kekuatan tarik maupun tekan dan oleh karena itu baja adalah menjadi kuat pada kekuatan tarik maupun tekan dan oleh karena itu baja adalah menjadi elemen struktur yang memiliki batasan sempurna yang akan menahan beban jenis elemen struktur yang memiliki batasan sempurna yang akan menahan beban jenis tarik aksial, tekan aksial, dan lentur dengan fasilitas yang hampir sama pada tarik aksial, tekan aksial, dan lentur dengan fasilitas yang hampir sama pada konstruksi (struktur) nya. Berat jenis baja tinggi, tetapi perbandingan antara konstruksi (struktur) nya. Berat jenis baja tinggi, tetapi perbandingan antara kekuatan terhadap beratnya juga tinggi sehingga komponen baja tersebut tidak kekuatan terhadap beratnya juga tinggi sehingga komponen baja tersebut tidak terlalu berat jika dihubungkan dengan kapasitas muat bebannya, selama terlalu berat jika dihubungkan dengan kapasitas muat bebannya, selama bentuk- bentuk

 bentuk struktur struktur (konstruksi) (konstruksi) yang yang digunakan digunakan menjamin menjamin bahwa bahwa bahan bahan tersebuttersebut dipergunakan secara efisien.

dipergunakan secara efisien.

Dan dalam pembangunan gudang, umumnya struktur bangunan gudang Dan dalam pembangunan gudang, umumnya struktur bangunan gudang menggunakan material baja, hal ini karena kebutuhan jarak antar kolom yang jauh menggunakan material baja, hal ini karena kebutuhan jarak antar kolom yang jauh sedangkan atap biasanya merupakan atap metal yang ringan. Dengan material sedangkan atap biasanya merupakan atap metal yang ringan. Dengan material  baja,

 baja, dengan dengan kekakuan 10x kekakuan 10x lipat lipat dari dari beton beton didapat didapat strutkur strutkur yang lebih yang lebih kecil kecil dandan ringan.Untuk bentang antar kolom yang tidak terlalu panjang (misal 10m), bisa ringan.Untuk bentang antar kolom yang tidak terlalu panjang (misal 10m), bisa digunakan baja profil biasa, untuk yang lebih panjang dapat digunakan castileted, digunakan baja profil biasa, untuk yang lebih panjang dapat digunakan castileted, yaitu profil baja misal baja I/WF (wide flange) dibelah menjadi dua dengan irisan yaitu profil baja misal baja I/WF (wide flange) dibelah menjadi dua dengan irisan membentuk trapesium kemudian badan baja di geser ke samping dan keatas membentuk trapesium kemudian badan baja di geser ke samping dan keatas sedemikian hingga badan baja yang bawah bertemu dengan yang atas, badan ini sedemikian hingga badan baja yang bawah bertemu dengan yang atas, badan ini kemudian di las, dan akan terbentuk lubang berbentuk segi enam. Castileted beam kemudian di las, dan akan terbentuk lubang berbentuk segi enam. Castileted beam ini sangat efektif karena tinggi baja akan menjadi 2 kali lipat sehingga kekakuan ini sangat efektif karena tinggi baja akan menjadi 2 kali lipat sehingga kekakuan dan kekuatan lenturnya jauh bertambah. Dan karena terdapat lubang segi enam dan kekuatan lenturnya jauh bertambah. Dan karena terdapat lubang segi enam tadi akan mengurangi berat sendiri struktur yang menjadikannya lebih efektif. tadi akan mengurangi berat sendiri struktur yang menjadikannya lebih efektif.

(3)

1.2. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang akan ditinjau adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana menentukan jenis pembebanan yang akan digunakan dalam desain? 2. Bagaimana merencanakan struktur bangunan gudang?

3. Bagaimana merencanakan struktur atap gudang?

4. Bagaimana menuangkan hasil perencanaan ke dalam gambar teknik? 1.3. Tujuan Perencanaan

1. Menghitung gaya-gaya dalam yang terjadi akibat beban kerja.

2. Melakukan analisa penampang untuk dapat menahan lenturan akibat gaya-gaya yang bekerja.

3. Menuangkan hasil analisa struktur ke dalam gambar teknik. 1.4. Batasan Masalah

Permasalahan dalam penggunaan baja sebenarnya cukup banayk yang harus diperhatikan, namun mengingat keterbatasan waktu, perencanaan ini mengambil batasan :

1. Perencanaan yang akan dihitung adalah struktur Gudang tipe Portal Kaku (Gable Frame).

2. Tinjauan meliputi struktur atas bangunan.

3. Tidak melakukan peninjauan terhadap analisa biaya dan waktu perencanaan. 4. Aspel-aspek peraturan yang dipakai dalam perencanaan Bangunan Gudang

yakni SNI 03 – 1729 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum

Gudang adalah sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan  berbagai macam barang. Setiap jenis bangunan bisa saja memiliki gudang,

misalnya saja gudang pada bangunan pabrik, toko, dan bahkan rumah tinggal. Karena digunakan untuk menyimpan berbagai macam barang, biasanya gudang  berpotensi untuk menyimpan debu. Karena itu, peletakan gudang perlu

diperhatikan agar tidak mengganggu aktivitas lain dalam bangunan tersebut.

Pada saat ini kebutuhan akan gudang sangat tinggi. Salah satunya diakibatkan oleh bertumbuhnya pasar retail yang pesat terutama di kota-kota  besar. Sarana penyimpanan berbagai komoditas sebelum akhirnya didistribusikan ke pasar menjadi hal yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu dibutuhkan  bangunan yang dapat mengakomodir keperluan ini dengan baik, aman, fungsional,

dan tentunya kuat.

Umumnya struktur bangunan gudang menggunakan material baja, hal ini karena kebutuhan jarak antar kolom yang jauh sedangkan atap biasanya merupakan atap metal yang ringan. Dengan material baja, dengan kekakuan 10x lipat dari beton didapat strutkur yang lebih kecil dan ringan.Untuk bentang antar kolom yang tidak terlalu panjang (misal 10m), bisa digunakan baja profil biasa, untuk yang lebih panjang dapat digunakan castileted, yaitu profil baja misal baja I/WF (wide flange) dibelah menjadi dua dengan irisan membentuk trapesium kemudian badan baja di geser ke samping dan keatas sedemikian hingga badan  baja yang bawah bertemu dengan yang atas, badan ini kemudian di las, dan akan terbentuk lubang berbentuk segi enam. Castileted beam ini sangat efektif karena tinggi baja akan menjadi 2 kali lipat sehingga kekakuan dan kekuatan lenturnya  jauh bertambah. Dan karena terdapat lubang segi enam tadi akan mengurangi  berat sendiri struktur yang menjadikannya lebih efektif.

(5)

2.2. Struktur Gudang

Standarisasi struktur baja pembangunan pabrik atau gudang (disesuaikan dengan bentangan) antara lain :

1. Kolom Utama 2. Kolom Gable 3. Rafter/Portal

4. Gording, Asbes Galvalume, (struktur penutup atap)

5. Tie Beam (untuk mengikat kolom utama terhadap portal) 6. Struktur Pondasi

7. Accesories (Base Plate, Stifner, Futte, Top Plate, End Plate, Plat Join, Plat Gording, dll).

Dalam kenyataannya konstruksi adalah berbentuk ruang, sehingga secara keseluruhan konstruksi belum stabil, maka perlu diatur lagi dalam arah yang lain

Gambar 2.1. Contoh Pembebanan

.Pada bidang kuda-kuda, konstruksi ini stabil, sebab sudah diperhitungkan terhadap beban yang bekerja yaitu P dan H (angin / gempa). Pada bidang yang  bersinggungan dengan bidang kuda-kuda, bila ada beban H bekerja dalam arah

ini, konstruksi akan roboh/terguling, jadi masih labil. Maka perlu distabilkan dalam arah ini.

Konstruksi untuk memberikan stabilitas dalam arah ini dinamakan ikatan angina dan ikatan pemasangan (montage) yang dipasang pada bidang atap dan  bidang dinding yang dipasang pada bidang atap dan pada bidang dinding.

(6)

2.3. Bentuk

 – 

 bentuk kap rangka sendi - rol

a. Konstruksi kap rangka sendi

 – 

 rol Konstruksi kap rangka sendi

 – 

 rol

Gambar 2.2. Rangka Sendi –  Rol

Konstruksi kuda-kuda dengan tumpuan A sendi, B rol merupakan konstruksi statis tertentu, maka penyelesaian statikanya dengan statis tertentu.  Namun sering didalam praktek dibuat A sendi, B sendi, dengan demikian konstruksi menjadi statis tak tentu. Tetapi sering diselesaikan dengan cara  pendekatan dengan menganggap perletakan A = B didalam menerima beban H.

R AH= R BH = H/2

Gambar 2.3. R AH= R BH  = H/2

Untuk mencari gaya-gaya batangannya dapat digunakan cara : 1. Cremona

2. Keseimbangan titik 3. Ritter

4. Dan lain-lain

Kemudian untuk mendukung kuda-kuda diperlukan kolom. Apabila dipakai kolom dengan perletakan bawah sendi, maka struktur menjadi tidak stabil  bila ada beban H (angin/gempa).

(7)

Gambar 2.4. Gaya yang bekerja akibat beban H 

Karena itu untuk mendukung kuda-kuda ini, harus dipakai kolom dengan  perletakan bawah jepit.

Gambar 2.5. Kestabilan gaya

Bila gaya H bekerja maka struktur/konstruksi ini akan stabil/kokoh. Pada  perletakan bawah kolom terjadi gaya V, H dan M. Besarnya M = adalah cukup  besar. Maka bila struktur ini yang dipilih pada tanah yang jelek, pondasinya akan mahal. Dicari penyelesaian suatu bentuk struktur agar pondasi tidak terlalu mahal.

(8)

b. Kuda

 – 

 kuda dihubungkan dengan pengaku pada kolom

Kuda –  kuda dengan pengaku dan perletakan bawah kolom jepitan

Struktur dengan sistem ini cukup kaku dan memberikan momen M lebih kecil dar i  pada struktur sebelumnya.

Gambar 2.5. Struktur Statis Tak Tentu

Struktur semacam ini adalah statis tak tentu, maka statistikanya diselesaikan dengan cara statis tak tentu. Namun sering didalam prkateknya diselesaikan dengan cara pendekatan/sederhana yaitu :

- Bila beban vertikal (gravitasi) yang bekerja, struktur dianggap statis

tertentu, yang bekerja pada kolom gaya V saja. Selanjutnya gaya-gaya  batang KRB dicari dengan : Cremona, Kesetimbangan Titik, Ritter,

dan sebagainya.

- Bila beban H bekerja, dianggap terjadi titik balik (= inflection point)

terjadi ditengah-tengah yaitu S1dan S2.

- M pada titik balik = 0 (seperti sendi)

Kuda –  kuda dengan pengaku dan perletakan bawah kolom sendi

(9)

Struktur ini sama seperti pada perletakan bawah kolom jepit. Gaya batang (a), (b) dan (c) dapat dihitung seperti sebelumnya, hanya mengganti jarak a dengan h. Keuntungan kolom dengan perletakan sendi ini adalah :

- Momen pada perletakan bawah/sendi = 0

- Momen pada pondasi menjadi kecil, pondasinya menjadi murah

-  Namun momen pada kolomnya menjadi besar 8 2 kali dari pada kolom

 perletakan jepit (h = 2a)

c. Kontruksi 3 Sendi

Gambar 2.6. Kontruksi Kuda –  kuda tiga sendi

d. Kontruksi 3 Sendi

Konstruksi ini adalah statis tak tentu. Diselesaikan dengan cara cross, clapeyron, slope deflection, tabel, dan sebagainya. Gaya yang bekerja pada  batang-batangnya N, D dan M. Batang menerima Nu dan Mu → perhitungan

sebagai beam column.

Suatu Gable Frame mempunyai berbagai macam komponen yang berperan dalam menunjang kekuatan strukturnya secara keseluruhan, yaitu antara lain rafter, kolom, base plate, haunch, dan stiffener. Dalam perhitungan atau  pemodelan struktur, beberapa komponen tersebut seringkali t idak diperhitungkan. Demikian juga halnya dengan haunch (pengaku). Dalam pelaksa naan di lapangan, gable frame biasanya diberi pengaku. Biasanya pengaku diberi untuk memuat alat  penyambung baut dan mencukupi kekuatan sambungan. Sedangkan pengaku

(10)

sebagai salah satu komponen gable frame tersebut mempunyai pengaruh terhadap kekuatan struktur secara keseluruhan.

Jika haunch diikutsertakan dalam perhitungan struktur gable frame maka diharapkan terjadi penurunan tegangan dan lendutan yang terjadi, bila dibandingkan dengan yang tidak mempunyai haunch.

(11)

2.4. Material 2.4.1. Baja

Keuntungan Baja sebagai Material Struktur Bangunan (Konstruksi  bangunan). Sifat Baja di samping kekuatannya yang besar untuk menahan kekuatan tarik dan tekan tanpa membutuhkan banyak volume, baja juga mempunyai sifat-sifat lain yang menguntungkan sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahan bangunan yang sangat umum dipakai dewasa ini.

Beberapa keuntungan baja sebagai material struktur antara lain :

- Baja memiliki Kekuatan yang Tinggi - Baja mudah dalam pemasangan - Baja memiliki Keseragaman

- Baja memiliki sifat Daktail/Liat (Daktilitas)

- Proses pemasangan di lapangan berlangsung dengan cepat. - Dapat di las (welding) atau siste m baut (bolting).

- Komponen-komponen struktumya bisa digunakan lagi untuk keperluan

lainnya.

- Komponen-komponen yang sudah tidak dapat digunakan lagi masih

mempunyai nilai sebagai besi tua.

- Struktur yang dihasilkan bersifat permanen dengan cara pemeliharaan

yang tidak terlalu sukar.

Selain keuntungan-keuntungan tersebut bahan baja juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut :

- Komponen-komponen struktur yang dibuat dari bahan baja perlu

diusahakan supaya tahan api

- sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk bahaya kebakaran.

- Diperlukannya suatu biaya pemeliharaan untuk mencegah baja dari bahaya

karat.

- Akibat kemampuannya menahan tekukan pada batang-batang yang

langsing, walaupun dapat

- menahan gaya-gaya aksial, tetapi tidak bisa mencegah terjadinya

 pergeseran horizontal

(12)

-Sifat Mekanis Baja :

Menurut SNI 03-1729-2002 tentang TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG sifat mekanis baja struktural yang digunakan dalam perencanaan harus memenuhi

 persyaratan minimum yang diberikan pada tabel 1. Tabel 1. Sifat mekanis baja structural

Sifat-sifat mekanis lainnya, Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud perencanaan ditetapkan sebagai berikut:

Modulus elastisitas : E = 200.000 MPa Modulus geser : G = 80.000 MPa  Nisbah poisson : µ = 0,3

Koefisien pemuaian : á = 12 x 10 -6 / o C

Menurut SNI 03  –   1729  –   2002 tentang TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG, semua baja struktural sebelum difabrikasi, harus memenuhi ketentuan berikut ini:

- SK SNI S-05-1989-F: Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan

Bangunan dari Besi/baja);

- SNI 07-0052-1987: Baja Kanal Bertepi Bulat Canai Panas, Mutu dan Cara

Uji;

- SNI 07-0068-1987: Pipa Baja Karbon untuk Konstruksi Umum, Mutu dan

Cara Uji;

- SNI 07-0138-1987: Baja Kanal C Ringan;

- SNI 07-0329-1989: Baja Bentuk I Bertepi Bulat Canai Panas, Mutu dan

Cara Uji;

- SNI 07-0358-1989-A: Baja, Peraturan Umum Pemeriksaan; - SNI 07-0722-1989: Baja Canai Panas untuk Konstruksi Umum;

(13)

- SNI 07-0950-1989: Pipa dan Pelat Baja Bergelombang Lapis Seng;

- SNI 07-2054-1990: Baja Siku Sama Kaki Bertepi Bulat Canai Panas,

Mutu dan Cara Uji;

- SNI 07-2610-1992: Baja Profil H Hasil Pengelasan dengan Filter untuk

Konstruksi Umum;

- SNI 07-3014-1992: Baja untuk Keperluan Rekayasa Umum;

- SNI 07-3015-1992: Baja Canai Panas untuk Konstruksi dengan

Pengelasan;

- SNI 03-1726-1989: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk

(14)

2.5. Pembebanan

Perencanaan suatu struktur untuk keadaan-keadaan stabil batas, kekuatan  batas, dan kemampuan-layan batas harus memperhitungkan pengaruh-pengaruh

dari aksi sebagai akibat dari beban-beban berikut ini:

-  beban hidup dan mati seperti disyaratkan pada SNI 03-1727-1989 atau

 penggantinya;

- untuk perencanaan keran (alat pengangkat), semua beban yang relevan

yang disyaratkan pada SNI 03-1727-1989, atau penggantinya;

-  pembebanan gempa sesuai dengan SNI 03-1726-1989, atau penggantinya; -  beban-beban khusus lainnya, sesuai dengan kebutuhan.

2.5.1. Pembebanan pada gording a. Beban Mati / Dead Load

Gording ditempatkan tegak lurus bidang penutup atap dan beban mati Px  bekerja vertikal, P diuraikan pada sumbu X dan sumbu Y, sehingga diperoleh :

Gambar 2.8. Gaya yang bekerja pada beban mati

qx = q . sin a ………. (2.1) qy = q . cos a ………. (2.2)

Dimana : qx = beban mati arah x qy = beban mati arah y a = sudut kemiringan

Gording diletakan di atas beberapa tumpuan (kuda-kuda), sehingga merupakan  balok menerus di atas beberapa tumpuan dengan reduksi momen lentur

maksimum adalah 80 %.

Momen maksimum akibat beban mati : Mx1 = 1/8 . qx . (l)2 . 80  ……….(2.3) My1 = 1/8 . qy . (l)2 . 80  ……….(2.4)

(15)

Dimana : Mx1 = momen maksimum arah x My1 = momen maksimum arah y b. Beban Hidup / Live Load

Gambar 2.9. Gaya yang bekerja pada beban hidup

Beban hidup adalah beban terpusat yang bekerja di tengah-tengah  bentanggording, beban ini diperhitungkan jika ada orang yang bekerja di atas

gording. Besarnya beban hidup diambil dari PPURG 1987, P = 100 kg Px = P . sin a ………. (2.5)

Py = P . cos a ………. (2.6)

Dimana : Px : Beban hidup arah x Py : Beban hidup arah y

Momen yang timbul akibat eban terpusat dianggap Contiunous Beam Momen maksimum akibat beban hidup

Mx2 = (1/4 . Px . l) . 80% My2 = (1/4 . Py . l) . 80%

c. Beban Angin

Beban angin diperhitungkan dengan menganggap adanya tekanan positif (tiup) dan tekanan negative (hisap), yang bekerja tegak lurus pada bidang atap. Menurut PPPURG 1987, tekanan tiup harus diambil minimal 25 kg/ m

(16)

d. Kombinasi Pembebanan

- Akibat Beban Tetap

M = Mbeban Mati + M Beban Hidup

- Akibat Beban Sementara

M = Mbeban Mati + M Beban Hidup + M Beban Angin e. Kontrol Tegangan

- Akibat Beban Mati + Beban Hidup

  







 

  

………. (2.7)

- Akibat Beban Mati + Beban Hidup + Beban Angin

  







 

  

... (2.8) Dimana :  : Tegangan yang bekerja

i : Tegangan ijin maksimal Wx : Beban arah x

Wy : Beban arah y f. Kontrol Lendutan

Lendutan yang diijinkan untuk gording (pada arah x terdiri 2 wilayah yang ditahan oleh trakstang).



  

    

   

   



   

    

  

   

Dimana : fx : lendutan arah x fy : lendutan arah y E : modulus elastisitas

Ix : momen inersia penampang x Iy : momen inersia penampang y

(17)

2.5.2. Perhitungan Batang Tarik

Batang tarik (trackstang) berfungsi untuk mengurangi lendutan gording  pada arah sumbu x (miring atap) sekaligus untuk mengurangi tegangan lendutan

yang timbul pada arah x.

Gx = Berat sendiri gording + penutup atap sepanjang gording arah sumbu x Px = Beban hidup arah sumbu x

P total = Gx + Px = (qx . L) + Px ……... (2.11)

Jika batang tarik yang dipasang dua buah maka per batang tarik adalah : P = P total : 2 = ((qx . L) + Px) : 2 ……... (2.12)

  

   

……... (2.13)

Fn = 

   ………... (2.14)

Dimana : P = Beban hidup qx = Beban mati arah x L = Lebar bentang Fn = Gaya yang terjadi 2.5.3. Perhitungan Ikatan Angin

Ikatan angin hanya bekerja menahan gaya normal (axial0 tarik saja. Adapun cara kerjanya adalah apabila salah satu ikatan angin bekerja sebagai  batang tarik, maka yang lainnya tidak menahan gaya apapun. Sebaliknya apabila arah angin berubah, maka secara bergantian batang tersebut bekerja sebagai  batang tarik.

Gambar 2.11. Ikatan Angin

(18)

2.6. Sambungan

2.6.1. Sambungan Baut

Jenis baut yang dapat digunakan adalah baut yang jenisnya ditentukan dalam SII (0589-81, 0647-91 dan 0780-83, SII 0781-83) atau SNI (0541-89-A, 0571-89- A, dan 0661-89-A) yang sesuai, atau penggantinya. Jenis baut yang dapat digunakan adalah baut yang jenisnya ditentukan dalam SII (0589-81, 0647-91 dan 0780-83, SII 0781-83) atau SNI (0541-89-A, 0571-89- A, dan 0661-89-A) yang sesuai, atau penggantinya.

Tegangan-tegangan yang diizinkan dalam menghitung kekuatan baut adalah sebagai berikut :

- Tegangan geser yang diizinkan

 = 0,6i ………... (2.15)

- Tegangan tarik yang diizinkan

ta = 0,7i ………..………. (2.16)

- Kombinasi antara tegangan geser dan tegangan tarik yang diijinkan

1 =

√ 

  

 

  

  

…………...… (2.17)

- Tegangan tumpu yang diijinkan

i tumpu = 1,2i untuk 1,5 d S1< 2 d ……... (2.18) 2.6.2. Sambungan Las

Pengelasan harus memenuhi standar SII yang berlaku (2441-89, 2442-89, 2443-89, 2444-89, 2445-89, 2446-89, dan 2447-89), atau penggantinya.

- Las Tumpul

Pada suatu pelaksanaan yang baik, dimana penampang las sesuai dengan  penampang batang, tegangan pada las sama dengan tegangan pada batang, sehingga apabila batang itu telah cukup kuat, maka las itu tidak perlu dihitung lagi.

- Las Sudut

Panjang netto las adalah : Lnetto = L brutto – 3a ... (2.19)

Dengan syarat yaitu :

 Panjang netto las tidak boleh kurang dari 40 mm atau 8a 10 kali tebal teras  batang las.

(19)

 Panjang netto las tidak boleh lebih dari 40 kali tebal las. Apabila ternyata diperlukan panjang netto las yang lebih dari 40 kali tebal las, sebaiknya dibuat las yang terputus-putus ( las terputus ).

 Untuk las terputus pada batang tekan, jarak antara bagian-bagian las itu tidak boleh melebihi 16 t atau 30 cm, sedangkan pada batang tarik, jarak itu tidak boleh melebihi 24 t atau 30 cm, dimana t adalah tebal terkecil dari elemen yang dilas.

 Las terputus tidak diperkenankan jika dikhawatirkan terjadi pengkaratan  pada permukaan bidang kontak dibagian yang tidak ada lasnya, atau pada

elemen yang dipengaruhi gaya getar.

 Tebal las sudut tidak boleh lebih dari ½ t

√ 

, dimana t adalah tebal terkecil pelat yang dilas.

(20)

BAB III

METODE DAN LANGKAH PERENCANAAN

MULAI

TINJAUAN PUSTAKA

DATA : ASUMSI :

DESIGN RENCANA

PERHITUNGAN BEBAN

OUTPUT GAYA DALAM & GAYA BATANG

PERENCANAAN ELEMEN STRUKTUR

KONTROL SYARAT BATAS

PERENCANAAN SAMBUNGAN

SELESAI

OK

(21)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Umum

Perhitungan perencanaan struktur gudang adalah perhitungan-perhitnugan elemen structural pembentuk struktur gudang secara keseluruhan. Perhitungan struktur ini dilakukan supaya struktur gudang dapat dibangun sesuai kebutuhan,  baik dari segi mutu bahan bangunan, umur rencana dan segi keamanan serta

stabilitas struktur.

4.2. Data dan Asumsi

- Tipe Konstruksi : Gudang tipe Gable Fra me - Bahan penutup Atap : Alumunium Gelombang - Jarak Antar Portal : 6 meter

- Bentang Kuda-Kuda (L) : 20 meter - Jarak Gording : 1,5 meter

- Tinggi Kolom (H) : 8 meter - Kemiringan Atap (a) : 20

- Beban Angin : 40 kg/m - Beban Hidup : 100 kg

- Beban Mati : Berat Sendiri Profil - Alat Sambung : Baut dan Las - Baja Profil : BJ 41

- Mutu Beton : fc’ = 25 MPa - Mutu Baja : fy = 400 MPa

- Tegangan Ijin Baja : 1660 kg/cm - Berat Penutup Atap : 3 kg/m²

(22)

4.3. Desain Rencana

Gambar 4.1. Denah Rencana

(23)

4.4. Perhitungan Struktur

4.4.1. Perhitungan Gording

Beban –  beban yang dipikul oleh gording adalah :

- Beban Mati - Beban Hidup

- Beban Angin (beban sementara)

Pada perencanaan berikut diasumsikan untuk dimensi gording dicoba dengan menggunakan profil baja Light Lip Channel C 150.75.20.4,5 dengan data  –  data sebagai berikut :

- A = 13,97 cm2 - Ix = 489 cm4

- q = 11,0 kg/m - Iy = 99,2 cm4

- ix = 5,92 cm - Wx = 65,2 cm3

- iy = 2,66 cm - Wy = 19,8 cm3

 Beban yang diterima Gording

Panjang balok rafter adalah 10,588 : 7 = 1.50 m (jarak antar gording) a. Beban Mati / Dead Load

- Berat gording = 11,0 kg/m

- Berat penutup atap (1,50 m x 3 kg/m2) = 4,5 kg/m +

Σq = 15,5 kg/m

- qx = q x sin α = 5.30 - qy = q x cos α = 14.56

- Momen maksimum akibat beban mati :

Mx1 = 1/8 . qx . (l)2. 80% = 1/8 . 5,30 . (6,00)2. 0.8 = 19,08 kgm My1 = 1/8 . qy . (l)2 . 80% = 1/8 . 14,56 . (6,00)2. 0,8 = 52,42 kgm

(24)

 b. Beban Hidup / Live Load

Gambar 4.3. Gaya kerja pada beban hidup

Beban hidup adalah beban terpusat yang bekerja di tengah-tengah  bentang gording, beban ini diperhitungkan kalau ada orang yang  bekerja di atas gording. Besarnya beban hidup diambil dari

PPURG 1987, P = 100 kg.

- Px = P . sin α

= 100 . sin 20 = 34,20 kg

- Py = P . cos α

= 100 . cos 20 = 93,96 kg

- Momen maksimum akibat beban hidup

Mx2 = (1/4 . Px . l) . 80% = (1/4 . 34,20 . 6,00) . 0,80 = 41,04 kgm My2 = (1/4 . Py . l) . 80% = (1/4 . 93,96 . 6,00) . 0,80 = 112,752 kgm c. Beban Angin

Beban angin diperhitungkan dengan menganggap adanya tekanan  positif (tiup) dan tekanan negatif (hisap), yang bekerja tegak lurus  pada bidang atap. Menurut PPPURG 1987, tekanan tiup harus diambil minimal 25 kg/m. Dalam perencanaan ini, besarnya tekanan angin (w) diambil sebesar 40 kg/m2.

(25)

Gambar 4.3. Gaya kerja pada beban hidup

Ketentuan :

- Koefisien angin tekan (c) = (0,02 x α -0,4)

= (0,02 x 20 - 0,4) = 0

- Koefisien angin hisap (c’) = -0,4 - Beban angin kiri (W1) = 40 kg/m² - Beban angin kanan (W2) = 40 kg/m² - Kemiringan atap (α) = 20

- Jarak gording = 1,50 m

Maka beban tekan angin dan beban hisap angin adalah W1 = C1 x W x jarak gording

= 0 x 40 x 1,50 m = 0

W2 = C2 x W x jarak gording

= -0,4 x 40 x 1,50 m = -24 kg/m Momen maksimum akibat beban angin Mx3 = 1/8 x W x l2 = 1/8 x -24 x 6,002 = 108 kgm Atap + Gording ( q) Kg/m Beban Orang (P) Kgm Beban Angin Kg 15,5 100 0 x 5,30 34,20 0 y 14,56 93,96 0 Mx 19,08 41,04 108 My 52,42 112,752 0

(26)

d. Kombinasi Pembebanan

- Akibat beban tetap

M = My beban mati + My beban hidup = 165,172 kgm = 16517 kgcm

- Akibat beban sementara

Mx = Mx beban mati + Mx beban hidup + Mx beban Angin = 168,12 kgm = 16812 kgcm

My = My beban mati + My beban hidup + My beban Angin = 165,172 kgm = 16517 kgcm

e. Kontrol Tegangan

- Akibat beban mati + beban hidup

=  

   i = 1666 kg/cm 2 = 

  = 328,5 + 253,32 = 581,8 kg/cm2 1666 kg/cm² ok!

- Akibat beban mati + beban hidup + beban angin

=  

   i = 1666 kg/cm 2 = 

  = 849 + 253 = 1102 kg/cm2 1666 kg/cm² ok!

(27)

f. Kontrol Lendutan

Lendutan yang diijinkan untuk gording (pada arah x terdiri 2 wilayah yang ditahan oleh trakstang). Lendutan yang diijinkan untuk gording (pada arah x terdiri 2 wilayah yang ditahan oleh trakstang).

F = 1/180 x l

= 1/180 x 6 x 100 = 3,33 cm

- Akibat beban terpusat terhadap sumbu Y dan X

Fx = 5 x qx x L4 + Px x L3 (384 x E x Ix) (48 x E x Ix) = 2,488 cm < 3,33 cm……… OK! Fy = 5 x qy x Ls4 + Py x Ls3 (384 x E x ly) (48 x E x Iy) = 0,94 cm < 3,33 cm ………. OK! F =

    

=

√   

=

√ 

= 2,65 cm < 3,33 cm ………... OK!

Jadi gording Light Lip Channel C 150.75.20.4,5 aman untuk digunakan.

Gambar

Gambar 2.1. Contoh Pembebanan
Gambar 2.2. Rangka Sendi  –   Rol
Gambar 2.4. Gaya yang bekerja akibat beban H 
Gambar 2.5. Struktur Statis Tak Tentu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diagram interaksi kolom baja hubungan aksial tekan dan momen dapat digunakan untuk memplotkan nilai aksial tekan dan momen dari beban terfaktor, sehingga dapat

Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan biaya antara struktur beton dan struktur baja pada elemen balok kolom sebagai pertimbangan untuk

Membandingkan nilai kuat tekan aksial eksentris yang didapat dari pembebanan pada kolom beton yang memakai tulangan baja profil siku 23mm X 23 mm X 1,9 mm,

Tugas Akhir ini membahas perencanaan sambungan kaku balok-kolom tipe End Plate menurut Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03 – 1929 - 2002)

Dari hasil perbandingan perencanaan sesuai Gambar 19, sistem SPSW dapat menjadi alternatif pada penggunaan konfigurasi struktur bangunan dengan bentang antar kolom

Perbedaan biaya pekerjaan balok baja konvensional dan honeycomb terdapat pada berat profil yang lebih ringan sehingga menghemat dari volume pekerjaan, namun terdapat

Pada tugas akhir ini “Gedung Apartemen East Coast Recidence “ akan dimodifikasi menggunakan struktur komposit baja beton, yaitu dengan mengkombinasikan dua penampang