MAKALAH
MAKALAH
“
“
UJI LAPANGAN DCP dan PLATE LOADING
UJI LAPANGAN DCP dan PLATE LOADING
”
”
Disusun Oleh:
Disusun Oleh:
Geri Panjaitan (D1101131028)
Geri Panjaitan (D1101131028)
Ridho Subekti Rachmadi (D1101161002)
Ridho Subekti Rachmadi (D1101161002)
Budi (D1101161009)
Budi (D1101161009)
Dina Mariana (D1101161033)
Dina Mariana (D1101161033)
Diva Fadhilla (D1101161038)
Diva Fadhilla (D1101161038)
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
PONTIANAK
2017
2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
……….. iDAFTAR ISI
……….. iiBAB 1
: PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
………...1
1.2
TUJUAN PENULISAN ………....1
BAB 2
: PEMBAHASAN
2.1
SPESIFIKASI ALAT
….………..2
2.2
CARA KERJA ALAT
….………..4
2.3 PROSEDUR KERJA ALAT ….………..
5
2.4
APLIKASI ALAT
….………..5
BAB 3
: PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
….………..6
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan pondasi bagi perkerasan, salah satu persoalan yang dihadapi oleh para perencana dan pelaksana pembangunan jalan atau lapangan terbang adalah cara menangani tanah atau bahan yang kurang baik agar dapat digunakan sebagai bahan perkerasan. Kekuatan struktur perkerasan lapangan terbang tergantung pada daya dukung tanah dalam kepadatan maksimum. Bila perkerasan apron tidak mempunyai kekuatan secukupnya maka apron tersebut akan mengalami kerusakan.
Ditinjau dari lokasi penelitian sebagian tanah Bandar Udara Radin Inten II Lampung adalah rawa dan sebagian bekas timbunan tanah dari apron lama. Kondisi tanah yang seperti itu tidak mungkin langsung dilakukan penimbunan, perlu dilakukan suatu pengujian terlebih dahulu yaitu dengan mencari nilai kuat dukung tanah. Nilai kuat dukung tanah yang dicari adalah sebesar 6%, nilai kuat dukung tanah didapatkan diantaranya dengan cara melakukan uji California Bearing Ratio (CBR) sesuai ASTM D 1883. Nilai CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar.
Dibandingkan dengan bahan standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100% dalam memikul beban lalu lintas. Pada penelitian ini digunakan alat DCP untuk menentukan nilai CBR, cara uji ini merupakan suatu prosedur yang cepat untuk melaksanakan evaluasi kekuatan tanah dasar dan lapis fondasi jalan atau lapangan terbang, dengan menggunakan Dynamic Cone Penetrometer, (DCP). Cara uji ini juga
merupakan cara alternatif jika pengujian CBR lapangan tidak bisa dilakukan. Pada pengujian DCP ini sistem kerjanya yaitu dengan cara dipukul, pengujian tersebut memberikan sebuah dari kekuatan lapisan bahan sampai kedalaman 80 cm di bawah permukaan yang ada dengan tidak melakukan penggalian sampai kedalaman pada pembacaan yang diinginkan.Metode perencanaan perkerasan jalan yang digunakan sekarang yaitu dengan metode empiris, yang biasa dikenal CBR (California Bearing Ratio). Metode ini dikembangkan oleh California State Highway Departement sebagai cara untuk menilai kekuatan tanah dasar jalan (sub grade). Nilai CBR akan digunakan untuk menentukan tebal lapisan perkerasan.
Plate Loading Test adalah Suatu pengujian yang bertujuan untuk me-monitoroing defleksi (penurunan) yang terjadi pada struktur bangunan dimana beban yang digunakan berupa beban air,dengan system monitoring secara cycling. Uji Beban Plate pada dasarnya terdiri dari pemuatan pelat baja yang ditempatkan pada tingkat pondasi dan merekam permukiman yang sesuai dengan setiap kenaikan beban. Beban uji secara bertahap meningkat sampai piring mulai tenggelam dengan kecepatan tinggi. Nilai total beban pada pelat pada tahap seperti itu dibagi dengan luas pelat baja yang memberi nilai daya dukung akhir tanah. Daya dukung tanah yang utama dibagi dengan faktor keamanan yang sesuai (yang bervariasi dari 2 sampai 3) sampai pada nilai daya dukung yang aman dari tanah.
1.2 Tujuan Penulisan
1. Percobaan ini digunakan untuk menentukan nilai CBR subgrade, subbase/ base course suatu sistem secara cepat dan tepat. Biasa dilakukan sebagai pekerjaan quality control pembuatan jalan.
2. Plate bearing test ini dimaksudkan untuk checking bahwa tanah pada dasar galian mampumemberikan daya dukung
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 SPESIFIKASI ALAT
2.1.1 Dynamic Cone Penetration Peralatan utama
Alat penetrometer konus dinamis (DCP) terdiri dari tiga bagian utama yang satu sama lain harus disambung sehingga cukup kaku, seperti telihat pada Lampiran A
1. Bagian atas a) Pemegang;
b) Batang bagian atas diameter 16 mm, tinggi-jatuh setinggi 575 mm; c) Penumbuk berbentuk silinder berlubang, berat 8 kg.
2.Bagian tengah
a) Landasan penahan penumbuk terbuat dari baja; b) Cincin peredam kejut;
c) Pegangan untuk pelindung mistar penunjuk kedalaman. 3. Bagian bawah
a) Batang bagian bawah, panjang 90 cm, diameter 16 mm;
b) Batang penyambung, panjang antara 40 cm sampai dengan 50 cm, diameter 16 mm dengan ulir dalam di bagian ujung yang satu dan ulir luar di ujung lainnya;
c) Mistar berskala, panjang 1 meter, terbuat dari plat baja;
d) Konus terbuat dari baja keras berbentuk kerucut di bagian ujung, diameter 20 mm, sudut 60 derajat atau 30derajat;
Gambar alat DCP Gambar uji coba dcp
Alat bantu
Peralatan bantu adalah cangkul, sekop, blincong, pahat, linggis, palu, core drill, dan untuk pengujian pada lapisan perkerasan beraspal, alat ukur yang digunakan panjang/pita ukur yang bisa dikunci, kunci pas, formulir lapangan dan alat tulis.
2.1.2 Plate Load
1. HMP LFG (Light Weight Tester) : digunakan untuk mengukur daya dukung tanah dan kepadatan dari tanah. Contoh :
2. HMP PDG (Static Plate Load Tester) : digunakan untuk mengetahui kapasitas beban yang mampu ditahan oleh tanah dan deformasinya ketika tanah tersebut diberikan beban.? Pengujian ini sangat bermanfaat dilakukan sebelum jalan dilewati oleh mobilisasi truk, mobil, alat berat, dan lainnya dan menjamin bahwa tanah tersebut layak dilewati pada kapasitas beban yang melewatinya.
3. HMP SON (Penetrometer): digunakan untuk menguji kepadatan tanah dengan cara memasuk kan penetrometer ke dalam lapisan tanah pada kedalaman tertentu (kedalaman sampai +/- 5 meter) sehingga diperoleh nilai kadar kelembaban tanah, yang dapat dikonversi kepada nilai kekuatan tanah menahan beban.? Dengan mengetahui nilai kepadatan tanah tersebut kita dapat mengetahui seberapa kuat tanah tersebut mampu digunakan sebagai pondasi untuk jalan, jembatan, bangunan, dan lainnya yang memiliki berat beban tertentu.
2.2 CARA KERJA ALAT
2.2.1 Dynamic Cone Penetration
a) Letakkan alat DCP pada titik uji di atas lapisan yang akan diuji.
b) Pegang alat yang sudah terpasang pada posisi tegak lurus di atas dasar yang rata dan stabil, kemudian catat pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman.
c) Mencatat jumlah tumbukan;
1) Angkat penumbuk pada tangkai bagian atas dengan hati-hati sehingga menyentuh batas pegangan. 2) Lepaskan penumbuk sehingga jatuh bebas dan tertahan pada landasan.
3) Lakukan langkah-langkah di atas, catat jumlah tumbukan dan kedalaman pada formulir DCP, sesuai ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
(a) untuk lapis fondasi bawah atau tanah dasar yang terdiri dari bahan yang tidak keras maka pembacaan kedalaman sudah cukup untuk setiap 1 tumbukan atau 2 tumbukan.
(b) untuk lapis fondasi yang terbuat dari bahan berbutir yang cukup keras,maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 5 tumbukan sampai dengan 10 tumbukan.
4) Hentikan pengujian apabila kecepatan penetrasi kurang dari1 mm/3 tumbukan.Selanjutnya lakukan pengeboran atau penggalian pada titik tersebut sampai mencapai bagian yang dapat diuji kembali. d) Pengujian per titik, dilakukan minimum duplo (dua kali) dengan jarak 20 cm dari titik uji satu ke titik
uji lainnya. Langkah-langkah setelah pengujian;
1) Siapkan peralatan agar dapat diangkat atau dicabut ke atas.
2) Angkat penumbuk dan pukulkan beberapa kali dengan arah ke atas sehinggamenyentuh pegangan dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah.
3) Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati, bersihkan alat darikotoran dan simpan pada tempatnya.
4) Tutup kembali lubang uji setelah pengujian.
2.2.2 Plate Loading
Lokasi Uji :
a) Dilakukan di tingkat pondasi yang diusulkan
b) Jika GWT berada diatas level uji maka level turunnya turun ke level uji pemilihan pelat uji
Pemilihan Pelat Uji :
a) Sisi pelat uji minimal sama dengan 4 kali ukuran partikel maksimal pada tingkat uji b) Pelat melingkar digunakan untuk pijakan melingkar dan trotoar jalan
c) Ukuran pelat pada umumnya 30 cm,45 cm,60 cm,75 cm,dan100 cm
d) Digali sampai ke tingkat pondasi untuk struktur yang diusulkan dengan pid = 5 kali lebar pelat
2.3 Prosedur Kerja Alat
2.3.1 Prosedur Kerja Alat
a. Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh.
b. Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
c. Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
1. Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
2. Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada Butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
2) Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
3) Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
d. Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
1) Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
2) Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
3) Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya
Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
1. Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
2. Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
3. Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
4. Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam 5. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
6. Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
7. Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
8. Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui
2.3.2. ALAT PLATE LOADING
1). Cara pembacaan hasil tes dimulai setelah beban maksimum bekerja sebanyak 2 sampai 2.5 kali dari waktu pekerjaan, hal tersebut tergantung safety factor yang digunakan.
2). Proses loading alat akan selesai kurang lebih 5 kali dari proses load maksimum.
3). Setiap load akan dilakukan pengawasan pada penurunan rata-rata kurang dari 0.02 mm dengan interval pengawasan per 5 menit.
BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Alat DCP dapat digunakan menentukan nilai CBR dari setiap kedalaman sesuaidengan
kebutuhan. Nilai CBR yang diambil sesuai pada kedalaman yang akan dibuatsuatu
konstruksi.
Plate Loading Test adalah Suatu pengujian yang bertujuan untuk me-monitoroing defleksi
(penurunan) yang terjadi pada struktur bangunan dimana beban yang digunakan berupa beban air,dengan system monitoring secara cycling. Uji Beban Plate pada dasarnya terdiri dari pemuatan pelat baja yang ditempatkan pada tingkat pondasi dan merekam permukiman yang sesuai dengan setiap kenaikan beban.
3.2. Saran
Berdasarkan hasil pengujian, analisis dan pembahasan yang dilakukan maka saran yang dapat diberikan penulis adalah :
1. Dalam pelaksanaan penelitian atau pengujian sampel sebaiknya menggunakan peralatan yang otomatis / digital untuk mendapatkan data yang lebih akurat.