MASYARAKAT PERANAKAN TIONGHOA DALAM KARYA-KARYA
TAN BOEN KIM
Dwi Susanto
Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret
Abstrak
Karya sastra dari Tan Boen Kim, Tjerita Nona Gan Jan Nio atawa Pertjintaan dalem Rasia (1914) dan Tjerita Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen (1917) diasumsikan sebagai reaksi terhadap struktur masyarakat pada masanya. Atas dasar itu, artikel ini mengeksplorasi tanggapan Tan Boen Kim terhadap struktur masyarakatnya. Hasil yang diperoleh adalah kedua teks itu memunculkan gagasan manusia yang ideal, yakni manusia yang kembali pada ajaran leluhur, terutama moralitas dan menolak gagasan manusia modern versi dunia Barat. Sebagai konsekuensinya, kedua teks itu mengungkapkan tentang penolakan terhadap gagasan liberalisme dan konsep ras dalam struktur masyarakat kolonial. Dengan demikian, kedua teks ini melakukan resistensi terhadap pemikiran materialisme dunia Barat yang manifestasinya adalah gerakan liberalisme.
Kata kunci: karya sastra, struktur masyarakat, peranakan Tionghoa
1. Pendahuluan
Tan Boen Kim atau T.B.K dan Indo-Tionghoa merupakan pengarang peranakan Tionghoa-Indonesia yang cukup produktif di era 1910 - 1920-an. Dalam masa itu, dia telah menghasilkan sebanyak kurang lebih delapan belas judul karya sastra (Salmon, 1981). Topik yang ditulis oleh Tan Boen Kim memiliki pengaruh terhadap isu yang berkembang pada zamannya dan diikuti oleh para penulis yang lain. Topik kriminalitas dan pelacuran menjadi topik yang utama dalam karya sastranya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh pendahulunya, yakni Gouw Peng Liang.
Tan Boen Kim menulis dengan gaya sarkasme. Dia melakukan hujatan dan kecaman terhadap situasi dan nilai-nilai pada masanya, terutama masalah moralitas yang sengaja ditutup-tutupi dan dibiarkan menjadi kebiasaan (Susanto, 2009: 136 - 137). Kekecewaannya terhadap situasi sosial pada masanya, terutama struktur masyarakat kolonial terletak pada gerakan liberalisme yang membawa efek buruk berupa kriminalitas dan pelacuran. Isu
ini berhubungan dengan aspek moralitas, yakni sebuah gagasan untuk membangun harmonisasi masyarakat yang didasarkan atas nilai moralitas. Gagasan yang demikian serupa dengan kelompok konservatif seperti yang diwakili oleh gerakan recinanisasi atau gerakan kelompok Tiong Hua Hui Kwan (THHK).
Karya-karya dari Tan Boen Kim yang mempersoalkan kriminalitas dan pelacuran tidak memberikan penilaian dan pembelaan terhadap masyarakatnya seperti karya Lie Kim Hok. Akan tetapi, karya-karyanya justru memberikan kritik dan hujatan terhadap masyarakat peranakan Tionghoa dan masyarakat golongan Eropa hingga mengakibatkan dirinya masuk ke penjara kolonial. Kedua kelompok etnis ini terlibat dalam kriminalitas, pembunuhan, pelacuran, penipuan, dan terlibat dalam dunia hiburan yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Secara umum, struktur ekonomi kapitalistik masyarakat kolonial menjadi kecamaan dan struktur yang disalahkan oleh Tan Boen Kim. Hal ini sebagai contohnya ditulis dalam
novelnya tentang konflik Sarekat Dagang Islam dengan kelompok pedagang peranakan Tionghoa dalam Peroesoehan di Koedoes (1920).
Persoalan moralitas dan struktur ekonomi kolonial menjadi sesuatu yang seakan tidak ada hubungannya. Namun, gagasan moralitas merupakan salah satu konsep dasar dalam membangun harmonisasi sebuah masyarakat seperti yang dicita-citakan oleh nilai makro Konfucianisme (Hasen, 1985: 496 - 495). Isu pelacuran dan kriminalitas hakikatnya berhubungan dengan moralitas dan gagasan ideal tentang dunia dan manusia. Manusia dan masyarakat yang ideal adalah manusia dan masyarakat yang tertata, harmonis, dan memiliki keseimbangan. Untuk mencapainya, salah satu dasar yang harus dipertahankan adalah moralitas. Moralitas juga berhubungan dengan isu hubungan antara individu, masyarakat, lingkungan, dan tata nilai pergaulan. Hal ini oleh Tan Boen Kim diidealkan dalam karyanya yang berjudul Boekoe Tjerita Resianja Goela-goela (1912) yang bercerita tentang kehidupan para pelacur yang beganti-ganti pasangan untuk menjual “cinta palsu”.
Ketidaksetujuannya terhadap kebijakan kolonial itu juga diungkapkan dalam teks yang lain, seperti Nona Fientje de Feniks atawa Djadi Korban dari Tjemboeran, Satoe Tjerita jang Betoel Soeda Terdajdi di Betawi (1915), Njai Aisah atawa Djadi Korban dari Rasia (1915), dan Brinkman atawa Djadi Korban dari Perboetannja. Teks ini memberikan kritik terhadap perbuatan orang Eropa yang membunuh perempuan pribumi. Njai Aisah dalam teks ini diambil dari sebuah kasus yang menyinggung sentimen ras, agama, dan gender yang sempat memberikan wacana berbagai kuasa pada zamannya (White, 2004). Standarisasi norma Eropa dan struktur
masyarakat kolonial menjadi bahan kecaman Tan Boen Kim. Meskipun Brikman mendapat hukuman mati, karya ini menghadirkan suara-suara perempuan pribumi yang terpinggirkan dalam struktur masyarakat kolonial (Hellwig, 1996).
Dua teks dari Tan Boen Kim yang berjudul Tjerita Nona Gan Jan Nio atawa Pertjintaan dalem Rasia (1914) dan Tjerita Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen, Soeatoe Tjerita jang Betoel Terdjadi di Soerabaja Koetika di Pertengahan Taon 1916, jaitoe Politie Opziener Coenraad Boenoe Actrie Constantinopel jang Mendjadi Katjin’aannja (1917) dipilih sebagai karya yang mewakili gagasan dan tanggapan Tan Boen Kim terhadap struktur sosial pada masanya. Kedua cerita itu mengedepankan topik moralitas, terutama persoalan kriminalitas dan pelacuran. Selain itu, kedua karya itu juga memberikan gagasan yang universal terhadap zamannya, yakni gagasan moralitas versus materialisme kolonial, tradisi versus modernitas, dan adat versus liberalisme. Bahkan, struktur cerita dari kedua teks ini memberikan satu persoalan mengenai bangunan dunia yang diidealkan oleh Tan Boen Kim.
Dari beberapa gagasan yang diungkapkan oleh Tan Boen Kim tersebut, yang menjadi persoalan utama adalah relasi antara pelacuran dan kriminalitas dengan struktur kolonial era itu. Persoalan kriminalitas dan pelacuran tidak hanya bisa dimaknai sebagai sebuah cermin atau refleksi pada zamannya. Lebih dari itu, persoalan tersebut merupakan sebuah tanggapan terhadap struktur sosial pada masanya. Dalam posisi yang demikian ini, peran Tan Boen Kim sebagai wakil dari kelompoknya menunjukkan bahwa Tan Boen Kim hakikatnya berusaha memberikan reaksi terhadap struktur sosial yang melingkupinya atau destrukturisasi atas
struktur yang melingkupinya (Goldmann, 1977: 17). Dengan demikian, artikel ini mengeskplorasi tanggapan Tan Boen Kim terhadap struktur sosial pada masanya melalui topik kesastraan yang dipilihnya, yakni kriminalitas dan pelacuran (Barnet, 1970: 621 - 632).
2. Teks Nona Gan Jan Nio dan Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen: Gagasan Manusia Ideal dan Moralitas
Teks Nona Gan Jan Nio (1914) memberikan kritik pada keterlibatan orang peranakan Tionghoa dalam kriminalitas, perjodohan, dan keunggulan materi atas moralitas. Cerita percintaan rahasia antara Lek Tek Hian, putra Lisianseng Lie Keng Tong dengan Gan Jan Nio putri dari Gan Tjeng Hoei memberikan gagasan yang berhubungan dengan pembentukan manusia yang ideal. Percintaan antara keduanya merupakan percintaan dunia romantik. Realitas dalam dunia hanya dibayangkan sebagai realitas yang terbatas dan dunia mereka adalah angan-angan atau alam pikiran yang tidak mempertimbangkan kompleksitas realitas di sekitarnya. Yang nyata dan yang ideal tidak pernah diperhatikan dan didialogkan. Keduanya memilih yang ideal atau yang ada dalam pikirannya. Gangguan dari lingkungan dan situasi zaman tidak pernah diperhatikan.
Njonja Ho Kim Leng dan Njonja Ho Tjeng Bian merupakan representasi dari gagasan realis atau gagasan dunia yang nyata. Percintaan rahasia Gan Jan Nio hakikatnya menghadirkan dua kubu, yakni kubu dunia ideal versus kubu dunia nyata. Kedua kubu ini akhirnya berseberangan dengan berbagai turunannya, yakni harta versus kesucian cinta, hidup enak versus sengsara demi cinta, kejahatan versus perjuangan cinta, realis
versus romantik, tradisi versus liberalisme, terikat versus kebebasan, kuno versus modern, jahat versus baik, dan lain-lain. Oposisi yang terdapat dalam struktur teks itu, menunjukkan sebuah gagasan ideal tentang dunia dan manusianya. Gagasan tentang dunia dan manusia yang hanya menuruti dunia idealnya merupakan gagasan yang menolak liberalisme. Manusia tidak bisa mengusahakan hidupnya bila tidak melibatkan kehendak kekuatan alam. Gagasan manusia ideal yang diungkapkan dalam teks ini adalah gagasan persatuan antara manusia dan alam atau lingkungan. Kejahatan yang dilakukan untuk menghalangi persatuan antara manusia dengan alam dan dunia idealnya mengalami kekalahan. Materialisme dan kebebasan tanpa kendali justru menyebabkan manusia mengalami kegagalan total seperti yang dialami oleh kubu Njonja Gan Tjeng Nio dan kubu Njonja Ho Kim Leng. Meskipun demikian, dalam hal tertentu, suara teks ini mengemukan tentang gagasan yang lain yang cenderung bersifat ambigu dalam melihat realitas. Isu yang utama dalam teks ini menjadi bukan isu moralitas, tetapi isu pertentangan antara yang nyata dan yang ideal dan keduanya terus-menerus bersaing dalam memperebutkan posisinya. Yang nyata adalah yang realis dan yang ideal adalah yang romantik. Tampaknya, gagasan manusia ideal dalam teks ini berusaha untuk mendialogkan antara yang nyata dan yang ideal atau antara yin dan yang.
Teks yang kedua bercerita tentang percintaan palsu atau pelacuran, Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen (1917). Struktur teks tersebut memunculkan oposisi antara spritualitas versus materialisme, alam jiwa versus pikiran, moralitas versus kebebasan, harmonisasi versus kekacauan, kesucian cinta versus pengkhianatan, tradisi versus liberalisme, terikat versus bebas, dan lain-lain.
Dunia kriminalitas dan pelacuran yang muncul dalam teks ini menggagas tentang manusia atau masyarakat yang ideal. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang tertata dan harmonis. Dasar dari keharmonisan dan keseimbangan suatu masyarakat itu adalah moralitas dan individu di dalamnya menempatkan posisinya dalam hubungan yang seimbang.
Gagasan manusia yang ideal yang diungkapkan oleh teks ini adalah kembali pada tradisi. Tradisi yang dimaksudkan adalah moralitas yang mengatur segala perilaku dan bagaimana cara menjadi manusia. Dengan memunculkan gagasan kembali pada nilai tradisi, teks ini secara tidak langsung menolak gagasan kebebasan tanpa kendali yang menyebabkan kekacauan dan kerusakan pada manusia. Kebebasan dan tidak mengindahkan tradisi ini menyebabkan perempuan dan laki-laki terlibat dalam kriminalitas dan dunia pelacuran.
Manusia yang ideal adalah kembali pada tradisi. Dalam konteks masyarakat yang diwakilinya, tradisi yang dimaksudkan adalah ajaran leluhur mereka. Ajaran ini menyiratkan tentang konsep harmonisasi, keseimbangan, dan tatanan yang tertata atas dasar salah satunya adalah moralitas. Melalui moralitas, keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan dan tatanan masyarakat akan terwujud. Dialektika yang hendak dibangun dalam teks ini adalah mengacu pada gagasan moralitas sebagai petunjuk dan pengatur manusia.
Meskipun demikian, gagasan tentang manusia yang ideal ini juga berusaha mengingkari adanya kompleksitas struktur masyarakat di sekitarnya. Idealisasi tentang manusia dan masyarakat yang tertata atas dasar moralitas ini menunjukkan bahwa pandangan dunia yang terhadirkan merupakan gagasan
romantik idealis. Dunia hanya dibayangkan sebagai yang ada dalam pikirannya. Manusia hanya ada dalam bayangan pikiran dan dihadirkan atau harus hadir seperti yang diangankan. Keberadaan manusia dalam kompleksitas dunia atau lingkungan tidak pernah dipertimbangkan.
Selain itu, topik kriminalitas dan pelacuran dalam karya Tan Boen Kim juga berhubungan dengan gender dan ras. Perempuan dalam konteks ini selalu dijadikan sebagai penjaga tradisi, pendidik generasi, pintu gerbang liberalisme, dan simbol moralitas. Posisi yang demikian menyebabkan perempuan rentan terhadap kerusakan. Teks Tan Boen Kim seakan menunjukkan bahwa kerusakan masyarakat dan manusia disebabkan oleh kerusakan perempuan. Dalam kompleksitasnya terhadap ras, perempuan ras campuran, seperti Indo-Eropa dan lokal dihadirkan sebagai perusak bangsa dan tradisinya. Hal ini juga menunjukkan bahwa keunggulan tradisi Tionghoa atas tradisi yang lain.
3. Karya Sastra dari Tan Boen Kim: Penolakan terhadap Liberalisme
Dunia kriminalitas dan pelacuran yang diungkapkan dalam kedua teks tersebut telah menyiratkan tentang kemunculan manusia atau masyarakat yang ideal. Bagi teks yang pertama, manusia ideal adalah manusia yang kembali melihat hubungannya dengan alam dan lingkungan sekitar. Dunia ideal harus disesuaikan dengan kehendak alam. Dengan menolak gagasan materialisme, teks ini sekaligus menyiratkan penolakan terhadap struktur masyarakat kolonial. Hal serupa terlihat dalam teks yang kedua. Teks ini menolak gagasan liberalisme dan memunculkan
tandingannya, yakni kembali pada tradisi yang artinya kembali pada moralitas.
Kebijakan kolonial, terutama politik balas budi, telah menyebabkan gagasan liberal dalam masyarakat kolonial (Niel, 2009). Wacana dan istilah liberalisme menjadi bagian yang terus mendapat perhatian. Tujuan dari pada struktur masyarakat kolonial adalah menciptakan manusia yang sesuai dengan citra dan cita rasa dunia Barat. Manusia kembali pada rasio dan akal pikirannya. Manusia yang memandang dunia dari sisi dirinya dengan kekuatan akal dan pikirannya (Russell, 2007: 645 - 548).
Topik kriminalitas dan pelacuran adalah salah satu manifestasi dari gagasan moralitas. Dengan memunculkan gagasan yang demikian ini, gagasan ini sehaluan dengan gerakan nasionalisme kebudayaan masyarakat peranakan Tionghoa yang sering diistilahkan dengan gerakan recinanisasi (Suryadinata, 1988). Dalam menghadapi posisi yang demikian, Tan Boen Kim mengambil langkah yang serupa dengan kelompok yang dominan ketika itu, yakni THHK. Dari riwayat biografisnya, Tan Boen Kim sendiri menjadi bagian dari THHK. Kelompok ini merupakan manifestasi dari gagasan kebangsaan yang didasarkan bukan pada persoalan politis, tetapi pada sifat kultural yang awalnya bersifat puritanisme. Dengan demikian, Tan Boen Kim hakikatnya terlibat dan aktif sebagai pendukung atau pengerak gagasan yang dikumandangkan oleh kelompok dominan THHK.
Dalam menghadapi struktur masyarakat kolonial, posisi Tan Boen Kim dengan menggunakan gagasan tentang moralitas melalui karya sastranya menunjukkan sebuah kecenderungan yang bersifat resistensi. Resistensi ini tidak bersifat politis praktis seperti gagasan yang dilakukan oleh kelompok Sin
Po. Liberalisme sebagai pemicu dari kelahiran gagasan nasionalisme ini oleh Tan Boen Kim cenderung dipandang membawa dampak yang negatif. Ketidaksetujuan atau kekecewaannya terhadap struktur masyarakat kolonial ini dihadirkan dengan menentang konsep ras yang digunakan pemerintah kolonial (Lev, 2000: 4 - 6). Hal ini salah satunya dibuktikan dengan menghadirkan ras Eropa sebagai ras yang rendah dan memiliki tradisi yang buruk. Ras yang digunakan sebagai ideologi kolonial, terutama penguasaan ekonomi didekonstruksi dalam teks sastra Tan Boen Kim (Loomba, 2003: 7 - 8).
Selain itu, politik identitas juga menjadi bagian yang diserang oleh karya-karya Tan Boen Kim melalui topik kriminalitas dan pelacuran. Segresi identitas atas dasar ras telah mengakibatkan pada penilaian yang negatif terhadap ras yang lain. Hal ini dicontohkan dalam struktur atau topik teks Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen (1917) atau Nona Fientje de Feniks atawa Djadi Korban dari Tjemboeroean (1915). Persoalan kriminalitas dan pelacuran dalam teks itu tidak hanya berhubungan dengan gagasan membangun masyarakat dan manusia yang ideal, tetapi juga bersinggungan dengan politik ras, gender, dan kebangsaan.
4. Kembali pada Moralitas Khong Hucu Konsep moralitas menjadi salah satu ruh dari ajaran leluhur Tan Boen Kim, terutama gagasan makro Khong Hucu. Dengan mengambil analogi kriminalitas dan pelacuran dalam karya sastranya, gagasan yang diungkapkan oleh Tan Boen Kim adalah gagasan tentang harmonisasi dan keseimbangan seperti dialektika yin dan yang. Gagasan ini menolak individualisme dan lebih mengutamakan kolektivitas. Dalam memandang manusia,
manusia menjadi bagian dari sistem yang lebih besar dan manusia berada dalam sistem tersebut dan ikut membangun sistem tersebut. Moralitas ini dapat dijabarkan dalam wujud kebaikan dan keadilan, tidak ada diskriminasi, dan kesederhanaan (Dainan, 2002: 285).
Gagasan kembali pada moralitas Khong Hucu ini tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga ideologis sekaligus politis. Sebagai gerakan politis, hal ini berhubungan dengan gagasan recinanisasi dan gerakan nasionalisme kebudayaan. Gerakan nasionalisme budaya ini berhubungan dengan gerakan kebangsaan atau mencari wadah untuk keragaman kebudayaan di Hindia Belanda, yang sama artinya dengan nasionalisme kebangsaan atas dasar keragaman tradisi. Sebagai gerakan ideologis, gagasan ini berusaha mengembalikan ajaran mikro dan makro Khong Hucu sebagai bagian dari masyarakat yang diwakili oleh Tan Boen Kim. Sebagai konsekuensinya, topik-topik karya sastra yang berkembang pada masa Tan Boen Kim adalah topik yang mendukung dan mewujudkan gagasan kembali pada moralitas Khong Hucu. Turunan dari topik moralitas Khong Hucu bukan hanya pada persoalan kriminalitas dan pelacuran, tetapi topik yang lain seperti keunggulan tradisi Tionghoa, keunggulan pendidikan Tionghoa,
dan berakibat pada citra negatif tradisi yang lainnya. Sebagai contohnya adalah Tjerita Njai Soemirah (1917) karya Thio Tjin Boen yang mengemukan tentang sentimen ras, agama, dan tradisi, Tjerita Controleur Malheure (1912) karya Th. H. Phoa yang meluruhkan identitas Eropa dihadapan perempuan lokal, Setan Item (1912) dan lain-lain.
5. Penutup
Karya sastra dari Tan Boen Kim merupakan sebuah reaksi terhadap struktur kolonial terutama gerakan liberalisme dan pembentukan subjek manusia modern versi dunia Barat. Perlawanan yang dilakukan oleh kedua teks ini dengan menampilkan gagasan tentang manusia dan masyarakat yang ideal. Melalui topik kriminalitas dan pelacuran, gagasan yang dikemukan adalah bahwa manusia yang ideal harus dikembalikan pada moralitas, terutama moralitas Khong Hucu. Melalui moralitas ini, masyarakat dikonstruksi sebagai masyarakat yang tertata dan harmonis. Gagasan moralitas dari Tan Boen Kim hadir dalam karya sastranya sebagai bentuk destrukturisasi atas struktur kolonial, terutama konsep ras dan gagasan masyarakat modern versi dunia Barat.
Daftar Pustaka
Barnet, James H.. 1970. “The Sociology of Art” dalam Milton C. Albrecht et.al (Ed.). The Sociology of Art and Literature: A Reader. New York dan Washington: Praeger Publishers Dainan, Zhang. 2002. Key Concepts in Chinese Philosophy. (Terjemahan: Edmund Ryden).
Beijing: Foreign Languages Press.
Goldmann, Lucien. 1977. The Hidden God: A Study of Tragis Vision in The Pensees of Pascal and the Tragedies of Racine (Translated: Philip Thody). London and Henley: Routledge & Kegan Paul
Hasen, Chad. 1985. “Chinese Language, Chinese Philosophy, and Truth”. Journal of Asian Studies, Vol. XLIV, No.3 May 1985, Cambridge University.
Hellwig, Tineke. 1996. “Gramer Brinkman de Mordenaar van Fientje de Fineks: Maleise Literire Teksten”. Indisch Letteren, Vol 11, No.1, 1996.
Lev, Daniel S.. 2000. “Politik Minoritas, Minoritas dalam Politik”. Makalah, disampaikan dalam Seminar Orang Tionghoa-Indonesia: Manusia dan Kebudayaannya, YMI dan LIPI. Jakarta, 31 Oktober - 2 November 2000.
Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. (Terjemahan: Hartono Hadikusumo). Yogyakarta: Bentang.
Niel, Robert van. 2009. Munculnya Elite Modern Indonesia. (Terjemahan: Zhara Deliar Noer). Jakarta: Pustaka Jaya.
Russell, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat, Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang. (Terjemahan: Sigit Jatmiko et.al). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Salmon, Claudine. 1981. Literature in Malay by The Chinese of Indonesia: A Provisional
Annotated Bibliography. Paris: Editions de la Masion des Sciences de l’Homme. Suryadinata, Leo. 1988. Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Gramedia. Susanto, Dwi. 2009. “Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen: Tan Boen Kim sebagai
Pencatat Kejadian Semasa”. Nuansa Indonesia Jurnal Ilmu Bahasa, Sastra, dan Filologi, Vol. XIV, No. 2, Agustus 2009.
Tan Boen Kim. 1915. Nona Gan Jan Nio atawa Pertjinta’an dalem Rasia, Satoe Tjerita jang Belon Sebrapa Lama Sasaoenggoehnja Telah Terdjadi dalem Kota Betawi. Batavia: Tjiong Koen Bie
________. 1916. Nona Fientje de Feniks atawa Djadi Korban dari Tjemboeroean, Satoe Tjerita jang Betoel Terdjadi di Betawi. Batavia: tp.
________. 1917. Tjerita Si Riboet atawa Boenga Mengandoeng Ratjoen, Soeatoe Tjerita jang Betoel Terdjadi di Soerabaja Koetika di Pertengahan Taoen 1916, jaitoe Politie Opziener Coenraad Boenoe Actrice Constantinopel jang Mendjadi Katjinta’annja. Batavia: Tjiong Koen Liong
White, Sally. 2004. “The Case of Nyi Anah: Concubinage, Marriage and Reformist Islam in Late Colonial Dutch East Indies”. Review of Indonesian and Malaysian Affairs, Vol. 38, No.1.