AHMAD WAHIB DAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
“Makalah”
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pemikiran Politik Islam Indonesia
Disusun oleh:
Muhammad Khusnul Khuluk (E74212063)
Dosen Pengampu:
Dr. Slamet Muliono Redjosari, M. Si
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
PROGRAM STUDI POLITIK ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL
ABSTRAK
Makalah ini membahas tentang pemikiran politik dari Ahmad Wahib, diantara pemikiran-pemikirannya adalah tentang ketuhanan, konsep kepemimpinan, sekularisme, pluralisme, persatuan, kritik terhadap ulama, dan toleransi. Banyak yang menganggap apa yang digagas oleh seorang Ahmad Wahib sangat baik, dan mendapat respon positif terutama bagi kalangan intelektual moderat. Tapi tak sedikit pula yang mengecam terutama dari golongan ulama dan kalangan Muslim pada umumnya. Begitu banyaknya respon dari semua kalangan, membuat Ahmad Wahib dianggap sebagai intelktual muda yang berpengaruh dengan gagasan-gagasannya.
Pembuatan makalah ini menggunakan metode penelitian literatur, yakni dengan mencari data dengan sumber referensi buku, dan sumber-sumber lain yang terkait. Data tentang kajian ini diperoleh melalui sumber literatur tentang Ahmad wahib, berupa gagasan-gagasan, biografi, maupun komentar beberapa ahli tentang dirinya.
Dari berbagai penjelasan yang dijabarkan, maka hasil dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa apa yang telah Ahmad Wahib gagaskan waktu itu memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran selanjutnya, mendapat banyak respon dari berbagai kalangan. Jadi, hasil dari pemikiran Ahmad Wahib sangat berpengaruh terhadap perkembangan bangsa sekarang walau ia meninggal di usia muda.
A. Latar belakang
Ahmad Wahib dikenal sebagai pemikir dan pembaharu Islam. Ia dikenal sebagai pembaharu terutama berkat catatan harian yang diangkat menjadi buku Pergolakan Pemikiran Islam (2004) oleh Djohan Effendi dan Ismet Natsir. Dalam catatannya, Wahib mencoba mempertanyakan apa yang sudah ia yakini selama ini mengenai Tuhan, ajaran Islam, masyarakat Muslim, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Dalam satu wawancara, Douglas E. Ramage, seorang Indonesianis lulusan University of South Carolina menyebut Wahib sebagai salah satu pemikir baru Islam yang revolusioner.1
Ahmad Wahib dikenal sebagai salah satu cendekiawan yang aktif pada tahun 1960-an, ia sering disandingkan namanya dengan Nurhcolis Madjid atau pun Soe Hok Gie mereka sering disebut disebut sebagai "manusia-manusia baru". Di tahun 1960-an itu memang dikenal sebagai tahun-tahun emas para pemikir muda Indonesia. Apalagi gejolak politik juga menambah seru pertarungan ide-ide para pemikir di era itu, Ahmad Wahib memainkan perannya sebagai salah satu yang paling berpengaruh dengan gagasan-gagasan Islam ala dia.
Pembaharuan Islam yang digagas Ahmad Wahib merupakan reinterpretasi ajaran Islam tentang dikotomi antara agama dan ilmu agama. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembaharuan mestinya dilakukan bertitik tolak terhadap manusia itu sendiri (masyarakat). Masyarakat arus menjadi mitra dialog utama dalam setiap pembaharuan Islam yang ditinjau bagi mereka. 2
Tokoh yang saya pilih adalah Ahmad Wahib, seorang cendekiawan Muslim muda yang eksis pada era 1960-1970-an. Saya meninjau hasil pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib, yang mencetuskan banyak ide tentang Islam, syari’at maupun politik. Yang dimana halil dari pemikirannya bisa mempengaruhi banyak pihak bahkan sampai sekarang.
Alasan saya mengapa mengambil tokoh Ahmad Wahib adalah, pertama karena gagasan-gagasannya kebanyakan nyeleneh tapi bisa diterima, ngawur tapi banyak yang menyetujuinya, dan juga pemikirannya kebanyakan melawan arus yang ada, bahkan gagasan dari Ahmad Wahib yang ditulisnya dalam sebuah catatan harian yang kemudian dibukukan oleh teman-temannya setelah ia meninggal, terbukti berpengaruh, sampai majalah Tempo menobatkan buku yang berisi catatan harian Ahmad Wahib masuk ke dalam 100 buku paling berpengaruh terhadap gagasan bangsa Indonesia. Yang kedua adalah, ia dilahirkan dan
1 Wikipedia.co.id/Ahmad_Wahib
dibesarkan di daerah terbelakang, berbeda dengan para cendikiawan lainnya yang rata-rata mereka dibesarkan di kota-kota besar, yang segala macam fenomena terjadi di dalamnya. Ahmad Wahib lahir dalam lingkungan santri di Sampang, Madura suatu prototip lain dari kehidupan pedesaan yang kering, tempat orang pulang pergi ke kota besar seperti Surabaya dan lain-lain. Desa dimana mobilitas sangat besar karena orang keluar masuk dari desa ke kota; namun mobilitas yang sering dianggap sebagai indikator modernitas, di Madura menjadi lambang kekurangan, kemiskinan, dan kelaparan.3
B. Tentang Ahmad Wahib
Ahmad Wahib meninggal dalam usia yang masih muda. Sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi telah menabraknya dipersimpangan jalan Senen Raya-Kalilio. Peristiwa itu terjadi tanggal 31 Maret malam tahun 1973. Ketika itu Wahib baru saja keluar dari kantor Majalah Tempo, tempat ia bekerja sebagai calon reporter. Tragisnya, pengemudi motor tersebut adalah seorang pemuda, justru bagian dari masyarakat yang begitu dicintai Wahib, pada siapa ia menaruh simpati dan harapan demi masa depan bangsanya. Lebih dari itu, dalam keadaan luka parah, ia ditolong dan dibawa ke Rumah Sakit Gatot Subroto justru oleh beberapa orang gelandangan, bagian dari masyarakat yang beroleh simpati dan perhatian Wahib karena penderitaan mereka. Akan tetapi keadaan Wahib rupanya begitu parah, sehingga dari RSGS ia segera dibawa dengan ambulans ke RSUP. Namun semua usaha itu pun sia-sia. Dalam perjalanan Wahib menghembuskan nafasnya yang terakhir
Almarhum dilahirkan pada tanggal 9 November 1942 di kota Sampang, Madura. Lingkungan pergaulan Wahib di masa kanak-kanak dan remajanya adalah lingkungan agama yang kuat. Dan ayahnya, pak Sulaiman, tergolong pemuka agama di daerahnya. Wahib sendiri, walaupun tidak bisa dikatakan pernah menyantri, sempat mengecap kehidupan pesantren. Keterbukaan ayahnya—seperti tertulis dalam catatan hariannya—memberinya kebebasan untuk memasuki jalur pendidikan umum. Setamat belajar di SMA Pamekasan bagian ilmu pasti tahun 1961, Wahib meneruskan pelajaran ke Yogyakarta. Ia memasuki Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) Universitas Gadjah Mada. Tapi sayang, meskipun sudah mencapai tingkat akhir, Wahib tak sampat merampungkan studinya.
Pada tahun-tahun pemulaan di Yogya, Wahib tinggal di sebuah asrama Katolik, Asrama Mahasiswa Realino. Namun dalam kegiatan kemahasiswaan ia memasuki Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam organisasi mahasiswa ini ia tidak puas hanya sebagai
anggota biasa. Suasana ketika itu memang membuat anggota-anggota HMI memiliki militansi yang tinggi. Wahib adalah aktivis yang menonjol. Kemenonjolannya, baik dalam kegiatan maupun dalam pemikiran, membuat karirnya dalam HMI meningkat hingga ia masuk ke dalam ”lingkungan elite” HMI Yogyakarta dan kemudian juga HMI Jawa Tengah. Pada waktu itu di kalangan HMI masih terdapat perbincangan yang ramai tentang berbagai masalah, misalnya persoalan Masyumi, moderenisasi, orientasi ideologi lawan orientasi program, dan sebagainya, baik di dalam maupun dengan kalangan luar HMI.
C. Pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib
Agak sulit mengukur sejau mana posisi Wahib dalam pembaharuan Islam. Namun, paling tidak kita dapat melihatnya dari respon Umat Islam terhadapnya tidak lama setelah catatan hariannya dibukukan. Penerbitan buku ini bukan hanya mengundang polemik, tapi juga ‘shock’ ditengah-tengah Umat Islam. Persis seperti yang pernah disinyalir olehnya, bahwa terkadang kita harus melakukan kejutan-kejutan terhadap kejumudan cara pandang Umat. Sampai akhir hayatnya pun ternyata Wahib masih setia dalam garis perjuangannya.4
Kunci untuk memahami pemikiran Ahmad Wahib terletak pada keyakinannya bahwa kebebasan berpikir bukan saja hak, akan tetapi juga merupakan kewajiban. Wujud kebebasan berpikir Wahib ini, pertama kali diungkapkan mengenai ajaran Islam. Menurut Wahib, dalam knyataannya cara berpikir umat Islam terhadap ajarannya tidak lagi bebas, karena sudah bertolak dari asumsi bahwa Islam merupakan ajaran yang paling baik, dan menempatkan paham-paham lain dibawahnya. Cara berpikir seperti ini, mengakibatkan sesuatu yang baik selalu diidentikkan dengan Islam.5
Menurut Ahmad Wahib, ajaran Islam tidak sejalan dengan nilai budaya modern. Apakah nilai modern itu mendapat suppor dari ajaran islam? Kemanakah kira-kira
kemungkinan perubahannya? Pemahamanku sampai kini pada ajaran Islam menunjukkan
4 Andriansyah. Pembaharuan Islam di Indonesia: Meneropong Sosok Ahmad Wahib, International Institute of Islamic Thought Indonesia, Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003
bahwa nilai-nilai modern tidak senapas dengan ajaran Islam. Karena itu Islam tidak
mensuppor apalagi untuk dikatakan merupakan nilai-nilai Islam sendiri. Kelihatannya dalam ajaran Islam ada unsur penyarahan, unsus puas terhadap karunia Allah, unsur nrimo, qanaah, waro yang karena itu tidak sesuai dengan vitalitas nilai-nilai budaya modern. Tapi mudah-mudahan kesimpulan saya ini sekedar karena saya belum terjun pada fundamen yang lebih mendasar dari ajaran-ajaran Islam.6
1. Pemimpin
Konsep pemimpin yang di gagas oleh Ahmad Wahib sebetulnya hampir sama dengan apa yang digagas oleh Ibn Taymiah, bahwa “Pemimpin kafir, tapi adil, jauh lebih utama daripada pemimpin muslim, tapi tiran”. Dalam pandangan Ahmad Wahib, ia sebenarnya lebih mendetailkan konsep itu dalam pandangan ia sendiri. Dalam tulisannya ia beranggapan bahwa tak harus memilih pemimpin Muslim, ““Katakanlah kebenaran, walau karihal kafrin, walau karihal musyrikin “. Juga: “Mengapa kamu angkat orang-orang kafr menjadi
pemimpin-pemimpin Islam?”. Ayat-ayat Al-Qur’an semacam ini digunakan oleh propagandis-propagandis kita untuk membakar semangat massa. Mereka kurang sadar perbedaan antara situasi di zaman Nabi dengan situasi sekarang. Di zaman Nabi golongan Nabi betul-betul baik, sedang golongan kafr betul-betul jahat. Di zaman sekarang golongan kita antara baik-jahat, sedang golongan lawan pun antara baik-jahat. Bukankah konstelasi spiritualnya sudah lain? Bukankah secara material kita juga sebagian telah kafir, walaupun formal Islam?”7
Pada tahap pemikiran ini, pada intinya Ahmad Wahib beranggapan bahwa seorang pemimpin tidaklah harus seorang Muslim. Dasar asumsinya adalah bahwa dalam konteks sekarang, orang Muslim dan non-Muslim tidak dapat dibedakan, berbeda dengan keadaan ketika ayat tentang pemimpin ini diturunkan, dimana orang yang kafir pada saat itu memang benar-benar buruk.
Lebih lanjut lagi Ahmad Wahib menulis dengan kritis akan hadist yang menyangkut tentang kepemimpinan atau hadist-hadist lain yang dianggapnya aneh dan sudah tak relevan. “Saya malah berpendapat bahwa andaikan Nabi Muhammad datang lagi di dunia sekarang, menyaksikan bagian-bagian yang moderen dan yang belum serta melihat pikiran-pikiran
manusia yang ada, saya berkepastian bahwa banyak di antara hadist-hadist nabi yang sekarang ini umumnya difahami secara telan-jang oleh pengikut-pengikutnya, akan dicabut oleh nabi dari peredaran dan di ganti dengan hadist-hadist yang baru.”8
2. Sekularisme
Yang paling dikenal orang mengenai seorang Ahmad Wahib adalah tentang pemikiran bebasnya, salah satunya adalah mengenai sekularitas, bahkan ia dianggap oleh banyak
kalangan sebagai pelopor berkembangnya paham sekuler di Indonesia dewasa ini. Gagasan-gagasannya mengenai sekularisme memang sangat berani dan kritis, dimana pada saat itu sekularisme dianggap sebagai hal yang sangat tabu. Ahmad Wahib berani untuk
mendobraknya.
Menurutnya, Islam itu sekular dan harus sekular, “Sejauh yang aku amati selama ini, agama terjadi telah kehilangan daya serap dalam masalah-masalah dunia. Petunjuk-petunjuk Tuhan tidak mampu kita sekularkan. Padahal sekularisasi ajaran-ajaran Tuhan mutlak bagi kita kalau kita tidak ingin sekularistis. Agama Islam yang kita fahami selama ini adalah agama sekularistis, agama yang tidak mampu meresapi masalah-masalah dunia, dus terpisahnya agama dari masalah dunia. Nah, diam-diam kita menganut sekularisme, walaupun dengan lantang kita menentang sekularisme!”9
Lebih lanjut ia menulis: “Fiqh merupakan hasil sekularisasi ajaran Islam di suatu
tempat dan waktu. Menurut saya, Qur’an dan Hadist itu fiqh pertama di kalangan umat islam. Sehingga Al-Qur’an merupakan hasil sekularisasi ajaran Islam di zaman nabi. Pelakunya
Tuhan sendiri. Dan hadist saya pikir, merupakan hasil sekularisasi ajaran Islam di Zaman nabi. Pelakunya: Muhamad.” Dan “Tentunya ada banyak ayat Qur’an dan Hadist yang merupakan hasil sekularisasi “transmitif ” atau “transmigratif ” atau “translatif, karenanya memiliki daya cakup seluruh ruang dan waktu. Sekularisasi di situ hanya berisi
“penterjemahan bahasa”. Ayat –ayat lain adalah hasil dari “sekularisasi transformatif ”
8 Wahib, Ahmad. Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad edisi Wahib (digital), Jakarta, Democrasy Project, 2012. Hal 11.
pada ruang Arab dan waktu abad ke 14. Pada yang terakhir inilah “proses” ideation terasa sangat urgent. Sedang pada yang pertama kita lihat bahwa di situ “fenomena” dapat dikatakan sekaligus merupakan “idea sederhana” atau “idea tingkat manusia”10
Tak hanya berhenti disitu, Ahmad Wahib terus menulis ide-idenya tentang sekular yang dari ide inilah ia dianggap sebagai tokoh trigger sekular di Indonesia. “Sekularime itu anti agama tapi sekularisasi itu netral agama. Sekularisme itu sendiri walaupun untuk
mencapainya memerlukan sekularisasi (sebagai proses appproach), dia bersikap tidak senang terhadap sekularisasi, karena keterbukaan dan kebebasan yang diberikan oleh sekularisasi itu bagi pencaharian hakekat lebih lanjut beyond this world and this time. Sekularisasi tidak menghalangi kita untuk mencari kemungkinan adanya atau menganut adanya the other signifcance of realities, other/diferent than those which can be measured by the method of natural science. Sekularisasi itu adalah opened process sedang sekularisme adalah closed system. Sekularisasi yang dilambari oleh pemahaman bahwa tidak ada nilai yang tetap dan yang tetap hanya Tuhan (iman dan taqwa) akan melahirkan “God without religion”. Pada hemat saya, sekularisasi yang bertolak pada pemikiran bahwa “religion is private business” tidak mengharuskan lahirnya suatu anutan: “God without religion”, karena “religion is private business” akan membekali setiap pribadi dengan nilai-nilai tertentu yang abadi Ikhtiar
Menjawab Masalah Keagamaan dan universal yang harus ditegakkan dalam kehidupan bersamannya di samping beberapa landasan spiritual dan tugas ritual yang harus ada dalam kehidupan pribadinya. Dengan sekularisasi berarti bahwa kita betul-betul memahami tanggungjawab kita sebagai khaffatullah fl ardhi. Hanya dengan demikian akan terlihat bahwa telah terjadi partnership antara Tuhan dan manusia dalam menulis sejarah (partnership of God and man in history). Sejauh pengamatan saya, dalam dunia Kristen sendiri sekularisasi masih serba problematis walaupun ada kecenderungan kuat untuk menerimanya. Apakah golongan Kristen Indonesia menerima sekularisasi begitu cepat tanpa sedikitpun kritik terdorong karena alasan idiil murni ataukah dicampuri karena alasan-alasan politis berhubung dengan kekhawatiran mereka terhadap golongan islam yang
dianggap agresif?”11
3. Plural dan Liberal
10 Wahib, Ahmad. Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad edisi Wahib (digital), Jakarta, Democrasy Project, 2012. Hal 47-48.
Pluralisme adalah kesadaran untuk menerima kebenaran dari (agama) yang lain tanpa menafikan atau menisbi kan kebenaran (agama) sendiri. Hingga, dalam kesa daran semacam itu tak ada lagi klaim kebenaran (claim of truth) yang bersifat tunggal terpusat sehingga me mung kinkan terwujudnya sikap toleransi satu agama terhadap (adanya) kebenaran dalam agama yang lain.12
Ahmad Wahib juga dikenal sebagai seorang pluralis. Pluralisme yang dicetuskan oleh Ahmad Wahib, diantara pandangannya tentang pluralisme: dalam puisinya ia menulis “theist dan atheist bisa berkumpul, muslim dan kristiani bisa bercanda, artist dan atlit bisa bergurau, kafirin dan muttaqien bisa bermesraan, tapi pluralist dan anti pluralist tak bisa bertemu ... anti pluralist menentukan jalannya, kaum pluralist memilih lintasannya.13” Pandangannya
terhadap pluralisme, dan penolakannya terhadap “satu”: “Saya kira, meletakkan persatuan umat sebagai cita-cita saja sudah merupakan kesalahan besar. Tapi andaikata ini tidak salah, itu berarti penetapan cita-cita persatuan itu betul sebagai sendi yang strategis. Walaupun betul, bukankah cita persatuan yang ada pada umat ini baru pada tingkat emosional? Jadi usaha pencapaiannya sama sekali tidak problem solving. Apalagi kalau diingat bahwa tidak selamannya persatuan itu baik.”14
Sementara itu sikap liberalya tampak pula pada tulisan selanjutnya. “Saya kira
pemasangan ijma’ dalam deretan sumber pembinaan hukum berupa Qur’an, Sunnah dan ijma’ sudah bukan waktunya lagi. Dalam dunia yang cepat berubah dan individualisme makin menonjol, cukuplah dengan Qur’an dan sunnah. Dan biarkanlah tiap orang memahamkan Qur’an dan Sunnah itu menurut dirinya sendiri. Nah, kalau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu berkembang. Seharusnyalah hukum-hukum islam itu berkembang. Haram dan halal pada saat ini seharusnya tidak sama dengan haram dan halal pada tiga atau empat abad yang lalu atau bahkan pada masa nabi hidup. Karena itu seharusnya ada banyak dari hadist nabi atau bahkan ayat Qur’an yang tidak dipakai lagi karena memang tidak diperlukan dan karena muharat yang dikuatirkan di situ sudah, tidak ada lagi, berhubung nilai-nilai baru yang kini berlaku dalam masyarakat.”15
4. Kritik terhadap Ulama
12 Yayasan Abad Demokrasi. Pembaruan Tanpa Apologia? esai-esai tenang Ahmad Wahib, Jakarta, Democracy Project, 2012, hal. 50.
13 Ibid, hal 22.
14 Wahib, Ahmad. Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib (edisi digital), Jakarta, Democrasy Project, 2012. Hal 15.
Ahmad Wahib, pada 29 Maret 1970, Wahib menulis dakwaan yang pedas atas ulama. Lihatlah, ulamaulama Islam mau menerapkan hukumhukum tertentu pada manusia. Tapi sayang, bahwa di sini yang merekaperkembangkan hanyalah bunyi hukum itu dan sangat kurang sekali usaha untuk mengerti dan membahas masalah manusianya sebagai objek hukum itu. Dengan caracara ini, adakah kemungkinan untuk menjadikan hukum itu sendiri sebagai suatu kesadaran batin dalam hati manusia? Yang terjadi malah sebaliknya, bahwa makin lama orangorang makin jauh dari hukumhukum yang mereka rumuskan. Sampai di manakah ulama kita walaupun tidak ahli cukup memiliki apresiasi terhadap antropologi, sosiologi, kebudayaan, ilmu, politik, dan lainlainnya?
Bagi saya, ulamaulama seperti Hasbi, Muchtar Jahya, Munawar Cholil dan lainlain, tidak berhak menetapkan hukum dalam masalah akhlak dan khilafah. Bagaimana mereka akan berhasil tepat, bilamana masalah manusia, masyarakat dan lainlain tidak dikuasainya? Tidak ada kerja kreatif yang mereka lakukan. Mereka baru dalam taraf interpretatif.
Sejauh pengamatan saya, bahasa ulama kita dalam dakwahnya juga sangat kurang. Mereka sangat miskin dalam bahasa, sehingga sama sekali tidak mampu mengungkapkan makna firmanfirman Tuhan. Bahasa mereka terasa sangat gersang. Kalau mereka bicara tentang cinta manusia pada Tuhan atau cinta Tuhan pada manusia, maka maksimal bahasa cintanya hanya masuk otak dan tidak memiliki daya tembus ke hati. Mereka bicara tentang cinta tidak sebagaimana makna cinta yang ada sebagai bibit-bibit dalam hati setiap manusia. Karena itu taklah mengherankan kalau dakwah mereka itu terpantul saja ketika mencoba masuk ke hati.
Salah satu sebab pokok dari kekeringan bahasa ini adalah bahwa mereka tidak pernah melakukan imajinasiimajinasi, sedangkan imajinasi merupakan usaha yang keras dari seluruh potensi linguistik kita untuk sampai atau mendekati sedekatdekatnya dasar hati manusia yang paling dalam. Jangankan mereka sendiri melakukan imajinasi, terhadap orang yang
melakukan imajinasi saja mereka sudah curiga. Firmanfirman Tuhan mereka tangkap sebagai formulaformula hukum positif dan setiap percobaan untuk mengungkapkan yang lebih dalam dari formulaformula itu dianggap terlarang.16
5. Agama dan Negara
Perdebatan hubungan negara dan agama yang sering disimplifikasi bahkan disesatkan secara sengaja di antara dua kutub, khilafah dan sekulerisme, menambah keruwetan dan kecurigaan. Oleh karenanya, ada baiknya pembicaraan hubungan negaraagama tidak hanya menggunakan ukuran bentuk negara (teokratis atau sekuler) tetapi juga melihat pemenuhan hak kebebasan beragamaberkeya kinan. Kurva yang dihasilkan Cole Durham melalui riset bertahuntahun di bawah ini memperlihatkan dengan jelas hal tersebut. Baik negara yang mengakui agama—positive identification (teokratis), maupun yang tidak meng akui agama —negative identifi cation, ternyata samasama berada pada keadaan tidak memiliki
kebebasan beragamaberke yakinan (absence of religious freedom). Di kutub seberangnya yaitu pemenuhan kebebasan beragamaber ke yakinan secara optimal adalah negara yang netral (tidak mengidentifikasi agama tertentu).17
Pada 6 Mei 1970 Wahib menulis. Dalam semua bidang (aqidah-akhlaq-syari’ah-khilafah) harus dilakukan historical directing. Dalam masalah khilafah tidak ada ketentuan lain kecuali: nilai-nilai dasar. Pelaksanaan nilai-nilai dasar ini adalah masalah manusia sepenuhnya, apakah dilaksanakan dengan membentuk negara teokratis atau negara sekular atau bentuk-benruk transisi antara keduanya, apakah diperjuangkan dengan membentuk partai Islam atau partai sekular sekalipun. Manusia muslim bisa memilih sendiri dengan melihat kebutuhan-kebutuhan yang ada dan memperhitungkan efsiensi pemerintahan yang harus diciptakan. Karena itu menurut Islam, hubungan antara agama dan negara bisa langsung dan bisa tidak langsung. Kedua macam hubungan tersebut semata-mata masalah manusia. Yang akhir dari paling akhir yang menjadi cita semuanya ialah bahwa tiap-tiap pribadi membawa nafas Islam termasuk nilai-nilai dasar sosialnya dalam kehidupan dirinya serta terciptanya nilai-nilai dasar itu dalam masyarakat sebagai akibat cita yang pertama. Bila untuk ini Muhammad atau Khalifah Rasyidin membentuk negara teokratis, itu adalah karena menurut pertimbangan basic demands waktu itu, seperti faktor-faktor sosiologis, kultural serta pertimbangan efsiensi, yang paling tepat adalah negara teokratis. Karena itu bila kita sekarang memilih negara yang bertolak belakang dengan negara teokratis misalnya, adalah karena pertimbangan bahwa negara teokratis sama sekali bukan media yang efsien untuk menegakkan nilai-nilai tadi dalam social setting yang kompleks sekali sekarang ini.18
17 Yayasan Abad Demokrasi. Pembaruan Tanpa Apologia? esai-esai tenang Ahmad Wahib, Jakarta, Democracy Project, 2012, hal.5.
D. Analisis
Seperti yang telah di bahas pada poin-poin sebelumnya, terkait dengan gagasan-gagasan yang dicetuskan oleh Ahmad Wahib dan maka pembahasan selanjutanya adalah mengenai analisa dari pemikiran Ahmad Wahib. Yang dimana kita tahu pemikiran-pemikiran itu masih sangat asing, tidak umum dan cenderung dikatakan buruk, dan mereka hadir dengan pemikiran baru yang menantang arus. Analisa ini menggunakan tipologi dari Willem E. Shepard.19
Agak sulit mengukur sejauh mana posisi Wahib dalam pembaharuan Islam. Namun, paling tidak kita dapat melihatnya dari respon Umat Islam terhadapnya tidak lama setelah catatan hariannya dibukukan. Penerbitan buku ini bukan hanya mengundang polemik, tapi juga ‘shock’ ditengah-tengah Umat Islam. Persis seperti yang pernah disinyalir olehnya, bahwa terkadang kita harus melakukan kejutan-kejutan terhadap kejumudan cara pandang Umat. Sampai akhir hayatnya pun ternyata Wahib masih setia dalam garis perjuangannya20
Berbicara mengenai sosok Ahmad Wahib, menurut saya dia adalah seorang Sekuleris dan Modernis. Modernis karena memang dia bergaul dengan banyak kalangan sifat
keterbukaannya sangat lebar sekali, ia memiliki kawan dari golongan atas sampai bawah, memiliki sahabat dari golongan paling kiri sampai golongan paling kanan, pernah lama tinggal di rumah orang komunis ataupun pastur. Seringnya dia bergaul dengan banyak kalangan membuatnya menjadi orang Modernis. Pandangan-pandangannya mengenai pluralitas saya setujui, bahwa perbedaan memang di perlukan.
Hal-hal yang perlu di kritisi dari seorang Ahmad Wahib adalah pandangannya mengenai sekularisasi. Pernyataannya tentang “diam-diam kita menganut sekularisme, walaupun dengan lantang kita menentang sekularisme” saya tidak satu arah, yang dimaksud kebanyakan oleh orang-orang Muslim adalah sekularisme dalam hal agama dan negara, bukan yang sebagaimana dipaparkan oleh Ahmad Wahib tentang sekularisasi bahwa
“menduniakan Islam, dan wahyu-wahyu yang telah diturunkan, intinya mengaplikasikan dari teks ke konteks. Jika berbicara hal itu memang benar adanya, semua agama bahkan Islam
19 William E. Shepard, Islamand Ideology: Towars a Typology, Cambridge University Press, International Journal of Middle East Studies, Vol. 19, No. 3 (Aug,. 1987), pp 307-335.
memang “menduniakan” apa yang telah di wahyukan, tapi sangat berbeda konteksnya dengan sekularisme, menurut hemat saya masih diperlukan peran agama dalam bernegara. Jadi sekularisme menurut Ahmad Wahib saya rasa tidak relevan.
Lalu mengenai pemikirannya yang terlalu libaral harus kita batasi baik-baik misal pandangannya yang terlalu liberal: “seharusnya ada banyak dari hadist nabi atau bahkan ayat Qur’an yang tidak dipakai lagi karena memang tidak diperlukan dan karena muharat yang dikuatirkan di situ sudah, tidak ada lagi, berhubung nilai-nilai baru yang kini berlaku dalam masyarakat”. Pandangan yang seperti ini mutlak adalah sebuah kesalahan menurut saya, nilai-nilai lama menurut hemat saya tidak untuk dibuang, itu bisa dibuat pedoman, apalagi menurut saya, kebenaran-kebenaran dari Qur’an dapat dibuktikan. Ini salah satu bahaya dari pemikiran Wahib.
Terlepas dari gagasan-gagasan Ahmad Wahib yang nyeleneh dan penuh kontroversi, ada pula gagasan yang sebenarnya layak untuk kita hargai, mengenai pluralisme dan kritiknya terhadap ulama. Kritiknya terhadap ulama saya rasa tepat, karena melihat realita yang ada sekarang, gaya dari kebanyakan ulama ketika ceramah atau khotbah sangat kaku. Jarang ada yang bisa menangkap apa yang dikatakan ulama itu, dalam khotbah jum’at misal, saya yakin hampir semua jama’ah tidak akan ingat apa yang dikatakan oleh khotib ketika ditanya meski setelah shalat jum’at itu baru selesai, karena kebanyakan khutbah sangat membosankan.
KESIMPULAN
tengah-tengah pergumulan pemikiran dan tantangan zaman saat ini. Menurut Wahib, untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam diperlukan sikap terbuka dan adanya ruang kebebasan berfikir serta difasilitasinya secara luas ide-ide dan gagasan-gagasan yang progresif. Hal ini menjadi penting, karena pembaruan pemikiran Islam merupakan kerja interpretatif dengan menjadikan akal sebagai alat dan ilmu pengetahuan sebagai alat bantu untuk memhami kehendak Islam.
Kebebasan berpikir Wahib memang menjadi inspirasi bagi intelektual muda muslim penerusnya untuk berani mengemukakan pemahaman keagamaannya secara bebas, tanpa takut terhadap dominasi otoritas ulama yang mengaku paling berhak menafsirkan Islam. Wahib telah tampil sebagai sosok yang mampu melakukan refleksi atas relitas yang terjadi dilingkungannya, sehingga meahirkan gagasan-gagasan yang segar dan cerdas, dimana gagasan-gagasannya mengandunga potensi besar untuk melakukan pembaruan karena keluar dari arus konvensional serta mendiagnosa dari sudut yang tak terpikirkan. Sehingga Wahib pada akhirnya lahir sebagai sosok yang memiiki empat karakter, yaitu pembangkang, pluralis, sekularis dan radikal.
DAFTAR PUSTAKA
Wahib, Ahmad. Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib (edisi
Yayasan Abad Demokrasi. Pembaruan Tanpa Apologia? esai-esai tenang Ahmad
Wahib, Jakarta, Democracy Project, 2012.
Andriansyah. Pembaharuan Islam di Indonesia: Meneropong Sosok Ahmad Wahib,
International Institute of Islamic Thought Indonesia, Jurnal Pemikiran Islam Vol.1,
No.3, September 2003.
Andriansyah, "Ahmad Wahib’s Renewal Islamic Thinking in Indonesia in Perspective
of Abdolkarim Soroush" International Institute of Islamic Thought Indonesia, Vol. 2,
No.5, May 2003.
www.wikipedia.co.id/Ahmad_Wahib
Muliati, Ahmad Wahib: Reinterpretasi Ajaran Islam, STAIN Pare, Al-Fikr, Volume 17
Nomor 3 tahun 2013
Nurdin. Pembaruan Pemikiran Islam (studi tentang kontribusi pemikiran Ahmad
Wahib terhadap pembaruan pemikiran Islam di Indonesia), LTA S-2 Program
Pascasarana Universitas Indonesia. Jakarta, 2006. hal.72
William E. Shepard, Islamand Ideology: Towars a Typology, Cambridge University
Press, International Journal of Middle East Studies, Vol. 19, No. 3 (Aug,. 1987), pp