BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rotan (Calamus caesius Blume.)
Menurut Pandey (1981), taksonomi rotan adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae Genus : Calamus
Spesies : Calamus caesius Blume.
dan sebagian batangnya sudah tidak dibalut oleh pelepah daun (Sinambela, 2011; dan Jasni, dkk., 2012).
Tempat tumbuh rotan pada umumnya di daerah tanah berawa, tanah kering, hingga tanah pegunungan.Semakin tinggi tempat tumbuh semakin jarang dijumpai jenis rotan. Rotan juga semakin sedikit di daerah yang berbatu kapur. Tanaman rotan yang tumbuh dan merambat pada suatu pohon akan memiliki tingkat pertumbuhan batang lebih panjang dan jumlah batang dalam satu rumpun lebih banyak jika dibandingkan dengan rotan yang menerima sedikit cahaya matahari akibat tertutup oleh cabang, ranting dan daun pohon (Sinambela, 2011).
Batang rotan yang masih muda digunakan untuk sayuran dan lalapan. Sedangkan batang rotan yang sudah tua banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga atau hiasan-hiasan lainnya. Misalnya mebel, kursi, rak lemari, sofa, pot bunga dan sebagainya. Akar dan buahnya untuk bahan obat tradisional (Sinambela, 2011).
2.2Mineral
2.2.1 Natrium
Natrium berguna untuk fungsi syaraf dan otot. Selain itu, berguna juga bagi kesetimbangan asam basa tubuh, pengantar implus syaraf, aktifitas sel. Sedangkan kelebihan mineral ini dapat mengakibatkan darah tinggi serta hilangnya kalium. Natrium dapat diperoleh baik dari bahan pangan mentah maupun yang telah diolah (Tan dan Rahardja, 2007).
Natrium adalah kation utama dalam darah dan cairan ekstrseluler. Fungsi natrium di dalam tubuh bersama-sama dengan kalium menjaga kesetimbangan cairan di dalam tubuh dan sebagai penghantar implus dalam serabut syaraf. Kebutuhan natrium diperkirakan sebesar 500 mg/hari (Almatsier, 2004).
2.2.2 Besi
Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh: sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan tubuh (Almatsier, 2004).
Tubuh sanagat efisien dalam penggunaan besi. Sebelum diabsorpsi di dalam lambung, besi dibebaskan dari ikatan organik seperti protein. Sebagian besar besi dalam bentuk ferri (Fe+3) direduksi menjadi bentuk ferro (Fe+2). Hal ini terjadi dalam suasana asam di dalam lambung dengan adanya HCl dan vitamin C yang terdapat di dalam makanan. Absorpsi terutama terjadi di bagian atas usus halus (duodenum) dengan alat angkut protein khusus (Almatsier, 2004).
kemampuan kerja, menurunkan kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka. Kelebihan besi jarang terjadi pada makanan, tetapi dapat disebabkan oleh suplemen besi. Gejalanya adalah muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, dan pingsan (Almatsier, 2004).
2.2.3 Seng
Seng adalah mineral penting yang ikut membentuk lebih dari 300 enzim dan protein. Seng (zink) terlibat dalam pembelahan sel, metabolisme asam nukleat dan pembuataan protein. Zink juga membantu kerja hormon termasuk hormon kesuburan, juga hormon yang di produksi oleh kelenjar di otak, tiroid, adrenal dan timus (Kristanti, 2010).
Kekurangan zink ringan dapat menyebabkan kurangnya nafsu makan disertai turunya berat badan dan mudah terinfeksi. Kekurangan zink sedang dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, kekurangan hormon kesuburan, melambatnya penyembuhan luka. Yang lebih berat, timbul gejala kerdil, anak sering sakit karena kurangnya sel darah putih, kelainan kulit dan pencernaan, diare, dan ganguan emosi (Kristanti, 2010).
Menurut Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 1998 menetapkan angka kecukupan zink per hari untuk Indonesia adalah bayi (3-5 mg), usia 1-9 tahun(8-10 mg), usia tahun(8-10-60 tahun (15 mg) baik pria maupun wanita, ibu hamil (20 mg), ibu menyusui (25 mg) (Almastsier, 2004).
2.3 Destruksi Kering
furnace dan memerlukan suhu pemanasan tertentu. Pada umumnya dalam destruksi kering ini dibutuhkan suhu pemanasan antara 400-800°C, tetapi suhu ini sangat tergantung pada jenis sampel yang akan dianalisis. Untuk menentukan suhu pengabuan dengan sistem ini terlebih dahulu ditinjau jenis logam yang akan dianalisis. Bila oksida-oksida logam yang terbentuk bersifat kurang stabil, maka perlakuan ini tidak memberikan hasil yang baik. Oksida-oksida ini kemudian dilarutkan ke dalam pelarut asam encer baik tunggal maupun campuran, setelah itu dianalisis menurut metode yang digunakan (Kristianingrum, 2012).
2.4 Spektrofotometri Serapan Atom
Spektrofotometri serapan atom didasarkan pada penyerapan energi sinar oleh atom-atom netral dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak atau sinar ultraviolet.Atom-atom menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, dan hal itu tergantung dari unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang tertentu memiliki energi yang cukup untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Dengan adanya absorbsi energi, berarti diperoleh energi yang lebih banyak sehingga suatu atom yang berada pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi (Gandjar dan Rohman, 2009; Khopkar, 1985).
Teknik ini digunakan untuk menetapkan kadar ion logam tertentu dengan jalan mengukur intensitas emisi atau serapan cahaya pada panjang gelombang tertentu oleh uap atom unsur yang ditimbulkan dari bahan, misalnya dengan mengalirkan larutan zat ke dalam nyala api (Ditjen, POM., 1995).
Spektrofotometri serapan atom digunakan untuk analisis kuantitatif unsur-unsur mineral dalam jumlah sekelumit (trace) dan sangat sekelumit (ultratrace). Cara analisis ini memberikan kadar total unsur mineral dalam suatu sampel dan tidak tergantung pada bentuk molekul mineral dalam sampel tersebut. Cara ini cocok untuk analisis sekelumit mineral karena mempunyai kepekaan yang tinggi (batas deteksi kurang dari 1 ppm), pelaksanaanya relatif sederhana dan interferensinya sedikit (Gandjar dan Rohman, 2009).
Bagian instrumentasi spektrofotometer serapan atom adalah sebagai berikut ini:
A.Sumber sinar
katoda ini kemudian akan mengalami eksitasi ke tingkat energi-energi elektron yang lebih tinggi dan akan memancarkan spektrum pancaran dari unsur yang sama dengan unsur yang akan dianalisis (Gandjar dan Rohman, 2009).
B. Tempat sampel
Dalam analisis dengan spektrofotometer serapan atom, sampel yang akan dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan dasar. Ada berbagai macam alat yang digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap atom-atomnya, yaitu:
a) Dengan nyala (Flame)
Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa cairan menjadi bentuk uap atomnya dan untuk proses atomisasi. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas yang digunakan, misalnya untuk nyala menggunakan gas asetilen-udara, suhunya sebesar 2200°C. Sumber nyala asetilen-udara ini merupakan sumber nyala yang paling banyak digunakan. Pada sumber nyala ini asetilen sebagai bahan pembakar, sedangkan udara sebagai bahan pengoksidasi (Gandjar dan Rohman, 2009).
b) Tanpa nyala (Flameless)
C. Monokromator
Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan panjang gelombang yang digunakan dalam analisis (Gandjar dan Rohman, 2009).
D. Detektor
Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (Gandjar dan Rohman, 2009).
E. Readout
Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai pencatat hasil. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi (Gandjar dan Rohman, 2009).
2.5 Validasi Metode Analisis
Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu berdasarkan percobaan laboratorium untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004). Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode analisis menurut Harmita (2004) adalah sebagai berikut:
a. Kecermatan (accuracy)
i. Metode simulasi
Metode simulasi (Spiked-placebo recovery) merupakan metode yang dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah analit bahan murni ke dalam suatu bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya).
ii. Metode penambahan baku
Metode penambahan baku (standard addition method) merupakan metode yang dilakukan dengan menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang diperiksa, lalu dianalisis dengan metode tersebut. Hasilnya dibandingkan dengan sampel yang dianalisis tanpa penambahan sejumlah analit.Persen perolehan kembali ditentukan dengan menentukan berapa persen analit yang ditambahkan ke dalam sampel dapat ditemukan kembali. Rentang persen perolehan kembali yang diizinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks adalah sebagai beikut ini:
Tabel 2.1 Rentang persen perolehan kembali yang diizinkan pada analit sampel Jumlah analit pada sampel Persen perolehan kembali yang diizinkan (%)
1 ppm 80-110
100 ppb 80-110
10 ppb 60-115
1 ppb 40-120
b. Keseksamaan (precision)
Keseksamaan (presisi) diukur sebagai simpangan baku relatif atau koefisien variasi. Nilai simpangan baku relatif yang memenuhi persyaratan menunjukkan adanya keseksamaan metode yang dilakukan. Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa simpangan baku relatif meningkat seiring dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis.
c. Batas deteksi dan batas kuantitasi