• Tidak ada hasil yang ditemukan

Para Kartini Kendeng Masih Menangisi Ibu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Para Kartini Kendeng Masih Menangisi Ibu"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Eka Yohan Setiawan, S.Si.

Para Kartini Kendeng Masih Menangisi “Ibu’

-nya:

Kajian Ekofeminisme terhadap Peran Perempuan dalam Melawan

Pembangunan Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng, Rembang

Pembangunan Telah Gagal(-kah?)

Pembangunan telah gagal menunaikan tujuannya untuk menyejahterakan rakyatnya. Setidaknya

demikianlah pembahasan awal Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (-KTT Bumi) di Rio de Janeiro.1 Masa setelah Perang Dunia II berakhir, dunia berupaya untuk memulihkan kembali perekonomian

dunia dengan gagasan pembangunan menuju kemakmuran dan keamanan global. Namun

praktiknya, pembangunan telah membuat banyak negara terpuruk, khususnya negara-negara di

Selatan. Maka ketika ukuran suatu pembangunan negara diukur berdasarkan produktivitas,

kemudian yang muncul adalah sebutan negara “berkembang” dan negara “terbelakang” sehingga

dibutuhkan perencanaan lebih matang untuk meningkatkan derajat ekonomi negara-negara “terbelakang” dengan penanaman modal dari negara-negara yang lebih maju. Namun hal ini menjadi suatu kritik tersendiri karena keuntungan paling besar hanya akan diperoleh negara-negara

yang menanam modal meski derajat perekonomian suatu negara dapat meningkat, tetap akhirnya

dampak pembangunan yang dilakukan di negara yang ditanami modal meninggalkan kerusakan

lingkungan yang cukup besar untuk dapat ditangani.

Pada KTT Bumi pula membahas persoalan andaikata semua negara diarahkan untuk terus

berkembang berdasarkan ukuran ideal dari negara-negara yang telah berkembang terlebih dulu,

hasilnya adalah kerusakan bumi yang lebih parah karena pembangunan akan terus membutuhkan

bahan-bahan dasar yang asalnya dari dalam bumi.2 Herman Daly menyebutkan bahwa gagasan pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan telah salah arah karena yang dilakukan dalam

pembangunan itu tidak melihat pembangunan secara teliti hingga ke suatu sub-sistem yang

membentuk kehidupan ekonomi, melainkan semua aras pembangunan dilakukan secara merata

berdasarkan sistem yang lebih umum saja. Makanya bisa jadi, Daly menambahkan, bahwa dalam

(2)

era pembangunan suatu negara, pendapatan per kapita penduduknya secara bertahap meningkat,

namun kesejahteraan penduduknya malah semakin menurun.3 Jika begitu, makanya pembangunan yang dilakukan itu bisa jadi hanya memiliki visi jangka pendek untuk kepentingan kehidupan masa

kini saja dan belum berpikir terlalu jauh untuk keberlangsungan kehidupan yang akan datang;

akibat pembangunan masa kini yang merusak lingkungan, maka kehidupan masa datang tidak

semakin terjamin kesejahteraannya.

Konferensi yang dilangsungkan sejak konferensi Stockholm pada 1972 hingga konferensi Rio de

Janeiro 1992 setidaknya membuka kesadaran para pemimpin bangsa, utamanya mereka yang ada

di Amerika Serikat tentang perubahan iklim secara global. Akibat produk-produk pembangunan

yang diaplikasikan pada ranah domestik di Amerika Serikat telah mencemari banyak kehidupan

yang berujung pada kematian, makanya muncul kesadaran bahwa sumber pencemaran yang

sifatnya lokal itu telah berdampak secara global dan siapa pun di dunia harus turut prihatin

mengenai hal ini.4 Kemudian dalam dua dekade sehabis konferensi Stockholm, muncul banyak sekali lembaga swadaya masyarakat di negara-negara bagian Selatan yang menyuarakan

keprihatinannya hingga terdengar di konferensi Rio de Janeiro. Pemerintah-pemerintah lalu

mendengar suara-suara mereka dan menganalisis dengan begitu dalam permasalahan

permasalahan yang terjadi. Organisasi-organisasi internasional kemudian dalam setiap pertemuan

menghasilkan keputusan-keputusan untuk mengatasi dampak kerusakan alam itu dan banyak

ditandatangani oleh para pemimpin negara.5 Pun begitu tentu kita dapat menilai apakah persetujuan para pemimpin atau wakil setiap negara terwujud dalam kebijakan-kebijakan

negaranya; utamanya Indonesia yang juga termasuk dalam konferensi tersebut.

Pembangunan di Indonesia Bermuka Dua

Pada 1994, sekira 179 negara bertemu di Kairo dalam sebuah konferensi internasional yang

membahas aksi untuk populasi dan pembangunan.6 Konferensi ini dilangsungkan berdasarkan

3 Ibid., hlm. 10

4 Ibid., hlm. 17 5 Ibid., hlm. 21

6 Konferensi itu bernama International Conference for Population and Development. Dewi Candraningrum, “Politik

Rahim Perempuan Kendeng: Kajian SRHR & Perubahan Iklim”, dalam Dewi Candraningrum dan Arianti I.R.

(3)

pada dampak pembangunan yang korbannya kebanyakan adalah mereka yang lebih lemah, yakni

perempuan dan anak-anak, serta alam sekitar mereka bertempat tinggal. Di Indonesia sendiri pada

era Orde Baru, pemerintah mulai gencar melakukan pembangunan ketika perekonomian bangsa

mulai menggeliat naik pada 1980-an. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kala

itu tak ubahnya aturan yang tak dapat dilawan sehingga rakyat harus ikut serta dalam program

pemerintahan. Segala sesuatu diatur oleh pemerintah dan rakyat harus ikut. Di bidang agraria,

pemerintah menentukan jenis padi yang harus ditanam dan dikonsumsi oleh rakyat. Namun

produk-produk yang digunakan nyatanya mengandung banyak bahan kimia yang tak memberi

manfaat untuk tanah; malah pelan-pelan membuat tanah kering, tandus, dan sulit untuk diolah lagi.

Kebijakan pemerintah kemudian berimbas pada kesehatan rakyatnya yang kian memburuk; yang

paling dirugikan tentunya adalah para perempuan dan anak-anak; muncul jenis-jenis penyakit baru

hingga tingkat kecerdasan rakyat yang sangat kurang karena asupan gizi yang buruk. Parahnya

rezim Soeharto tentu sangat menyumbang besar sekali sebab krisis ekologi di Indonesia dengan

banyak memberikan izin perusahaan asing mengeksploitasi kekayaan alam di Indonesia,

sedangkan keuntungan lebih banyak dinikmati oleh negara asing; sementara lokasi eksploitasi

alam dengan cara penambangan biasanya dibiarkan terlantar. Penduduk di sekitar lokasi

pertambangan dibiarkan begitu saja menikmati alam yang telah dikeruk begitu rupa. Lahan-lahan

yang tadinya masih subur dan alami dialihfungsikan menjadi menjadi pabrik-pabrik atau

lokasi-lokasi pertambangan; dengan berbekal izin baik dari pemerintah daerah hingga pemerintahan

pusat.

Fakta yang dihimpun oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (-WALHI) menemukan bahwa

rakyat hanya memiliki 0,17 hektar lahan pribadi sedangkan sisanya dimiliki oleh perusahaan dan

pemerintah.7 Lalu 85% dari keseluruhan petani di Indonesia nyatanya tidak memiliki lahan sendiri dan perempuan merupakan korban paling rentan dari segala krisis ekologi yang terjadi. Wawasan

perempuan Indonesia, khususnya di Jawa, yang masih lekat dengan penghormatan kepada alam

kemudian digantikan dengan sistem kapitalisme yang urung sampai dicerna oleh pengetahuan para

7 Khalisah Wahid, “Bagaimana Nasib Perempuan dan Alam dalam Paradigma Pembangunan?, dalam Dewi

(4)

perempuan di pedesaan. Sistem ekonomi kapitalis mengabaikan keberlangsungan kehidupan

ekologi secara menyeluruh dan para perempuan.8

Para Kartini Kendeng Masih Berjuang

Kasus nyata yang sedang terjadi adalah perlawanan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di

sekitar Pegunungan Kendeng, Rembang untuk menolak pembangunan pabrik semen PT. Semen

Indonesia karena mengubah sama sekali kehidupan warga di sekitar pegunungan karst di

Kendeng.9 Para pelaku utama perlawanan itu adalah korban-korban yang paling dirugikan, yakni

para perempuan. Pada 13 April 2016 lalu ada sembilan perempuan yang juga merupakan petani

dari tiga kota di sekitar pegunungan Kendeng melakukan unjuk rasa di depan Istana Merdeka

untuk memprotes pembangunan pabrik semen PT. Semen Indonesia di Rembang dengan cara

mengecor kaki mereka dengan semen.10 Unjuk rasa dilakukan oleh para perempuan itu sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap kebijakan pemerintah serta sikap pemerintah yang abai

dengan nasib hidup mereka kelak. Beberapa kali mereka menyuarakan protes, baik itu kepada

pemerintah daerah hingga pemerintah pusat namun tidak pernah didengar. Mulanya sejak 16 Juni

2014 para perempuan warga pegunungan karst Kendeng itu melakukan protes terhadap perusahaan

terkait dengan mendirikan tenda-tenda di jalan setapak pabrik. Setelahnya mereka melayangkan

gugatan terhadap izin lingkungan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah untuk pendirian

dan penambangan pabrik semen pada April 2015 namun ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan

Tata Usaha Negara Semarang karena dianggap waktu untuk mengajukan gugatan sudah melewati

tenggat waktu. Pun selama para perempuan itu bergantian tinggal di tenda-tenda “perjuangan”,

tidak jarang berbagai tindakan pelanggaran hak asasi manusia dilakukan oleh aparat kepolisian

namun tidak ada tindak lanjut secara hukum.11 Sebagaimana konferensi di Kairo telah membuat

8 Ibid., hlm 123

9 Dalam wawancara yang dilakukan oleh Dewi Candraningrum terhadap Ibu Sukinah, penggerak para perempuan

untuk menolak pembangunan pabrik semen, menyatakan bahwa tadinya warga pedesaan di sekitar pegunungan Kendeng hidup guyub dan salib berbagi; apa pun hasil alam untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka telah tersedia begitu rupa; jika ada yang membutuhkan sayuran jenis tertentu mereka bisa minta kepada warga desa lain. Namun sejak 1998 keadaan berubah. Ibu Sukinah menyebut keadaan ini “Biyen guyub. Saiki crah” (Dulu rukun, kini pecah).

10 BBC Indonesia. Tolak Pembangunan Pabrik Semen, Sembilan Perempuan Cor Kaki.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160413_indonesia_protes_semen_istana diakses pada 4 Juni 2016

11Tommy Apriando, “Perempuang Rembang Merawat Mata Air Kendeng: Kajian Dampak Tambang pada SRHR

(5)

program aksi promosi kesehatan seksual dan reproduksi yang disebutnya Sexual and Reproduction

Health and Rights (-SRHR), maka dalam praktiknya apa dialami oleh para perempuan Kendeng

tidak lagi mendapatkan SRHR yang sudah seharusnya menjadi hak mereka. Hak reproduksi

mereka terabaikan oleh karena kehadiran pabrik semen. Kerukunan antara tetangga dan antar

warga desa terpecah menjadi pihak yang mendukung dan yang menolak.12

Teologi Eko-Feminis yang Berpihak untuk Alam dan Perempuan

Para kaum feminis telah lama mengambil peran yang memelopori kegiatan-kegiatan aktif yang

berfokus pada isu-isu ekologi. Mereka memahami bahwa secara historis perempuan tidak hanya

berkaitan erat dengan alam, namun juga tekanan budaya baru telah menghimpit keberadaan

perempuan dan alam sekitarnya. Celia Deane-Drummond menyebutkan bahwa sebagian kaum

feminis sangat yakin mengenai pentingnya hubungan yang telah mereka namakan eco-feminism (-ekofeminisme) sebagai ‘gerakan ketiga’ dari feminisme.13 Para kaum feminis menempatkan

gerakan ekofeminisme ini setara pada teologi pembebasan yang menekankan pada praksis yang

tidak hanya berkutat pada konsep teoretis, namun konsep-konsep teori itu pula dikembang-lakukan

pada praktik. Jika disinggungkan pada posisi berpolitik dalam ekofeminisme, maka yang muncul

adalah sikap konservatif yang hanya berfokus melulu untuk kepentingan alam dan perempuan saja,

hingga yang lebih radikal pada sikap-sikap yang mendambakan sikap politik yang universal dan

revolusioner.

Drummond mengatakan bahwa gerakan ekofeminis tidak selalu didasarkan pada nilai-nilai

keagamaan, namun di dalam teologi ekofeminis muncul perdebatan tentang bagaimana

merumuskan pemahaman mengenai Allah.14 Para feminis dikatakan telah begitu jengah

mengetahui banyak contoh kisah di Alkitab yang menggambarkan secara negatif para perempuan,

makanya tak jarang para feminis tidak selalu mendasarkan teologinya pertama-tama dari Alkitab.

Keadaan ini kemudian yang para teolog feminis upayakan untuk membarui tradisi Kekristenan

dari berbagai segi.15 Menurut Drummond, Alkitab telah ditulis oleh laki-laki yang hidup dalam budaya patriarki yang cenderung lebih meninggikan derajat laki-laki, sedang perempuan

12 Ibid., hlm. 352

13 Celia Deane-Drummond. Eco-Theology. (London: Darton, Longman, and Todd Ltd, 2008), hlm. 146 14 Ibid.

(6)

dipandang sangat rendah. Budaya patriarkis itu kemudian terwujud ke dalam aspek

hubungan-hubungan sesama manusia yang bersifat hierarkis: laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Pula

penyebutan istilah-istilah yang diberikan untuk Allah selalu menggunakan sifat dan dari dunia

laki-laki, sebutlah: raja, gembala, bapa, dan kata ganti maskulin. Drummond menambahkan bahwa

pembacaan Alkitab menggunakan lensa feminis harus membongkar tradisi yang lama lekat dalam

Kekristenan.16 Ia menjelaskan bahwa teologi yang dirancang oleh perempuan haruslah berdasarkan dari pengalaman perempuan dalam kerangka kesetaraan sosial. Makanya, upaya ini

bukan saja mengganti tradisi warisan patriarkis menjadi matriarkis, namun mengubah hierarki

dengan egalitarianisme, yakni paham yang menyatakan susunan masyarakat berdasarkan

kesetaraan. Pernyataan Drummond dalam menjelaskan tantangan teolog feminis terhadap teologi

tradisional tentu merupakan langkah yang sangat maju. Zaman post-modern pula membawa

dampak yang begitu besar terhadap pola pikir manusia dalam menyikapi segala sesuatu yang

tradisional. Zaman ini telah mengarahkan manusia pada penghargaan setiap individu; tak

memandang apakah ia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin. Pemahaman

tradisional tak selalu dapat diterima lagi seutuhnya karena cara manusia kini mengekspresikan

dirinya sudah melampaui batas-batas tradisional itu. Manusia tentu masih dapat melihat yang

lampau itu sebagai kerangka evaluasi untuk kebutuhan masa kini dan masa depan. Makanya

teologi tradisional pun tidak dapat sepenuhnya dihapuskan karena itu akan mengkhianati

perjuangan para pemikir Kekristenan lampau. Kini, manusia dalam upaya untuk terus

menyesuaikan teologi pun harus sungguh-sungguh mengada dalam konteks perubahan sosial dan

zaman.

Pembangunan itu Maskulin

Bercermin dari konteks perubahan sosial yang mulai sadar dengan krisis ekologi, maka teologi feminis pun bergerak untuk ‘menyelamatkan’ para perempuan dalam konteks krisis ekologi. Belum banyak pembahasan krisis ekologi yang merefleksikan sumbangan perempuan, padahal

perempuanlah yang berperan lebih aktif untuk merawat bumi, namun perempuan jugalah korban

paling dirugikan dari pembangunan. Ide pembangunan bersamaan dengan penerapan ekonomi

kapitalis secara nyata telah menghilangkan sumber-sumber kehidupan perempuan karena alamnya

dirusak, pula ide pembangunan itu malah tidak menghargai wawasan perempuan terhadap

(7)

alamnya. Perempuan urung menjangkau perkembangan yang sedang terjadi namun mereka telah

dulu terus digerus oleh kekuasaan yang maskulin. Akibat ide pembangunan dan penerapan

ekonomi kapitalis yang bisa jadi bersifat maskulin itu, mengakibatkan perempuan akan terus

bergantung pada laki-laki. Bagaimana tidak? Perempuan masih belum banyak dilibatkan dalam

pengambilan keputusan dalam mengelola sumber daya alam. Contoh kasus di atas telah

menjelaskan maskulinitas pembangunan pabrik semen. Ibu Sukinah yang tak kenal lelah berjuang

itu menjelaskan bahwa para petani perempuan di sekitar pegunungan karst Kendeng belum ada

satu pun yang dilibatkan oleh pemerintah maupun perusahaan terkait untuk membicarakan izin

penambangan hingga pembangunan pabrik semen di sana. Keadaan yang terjadi itu kemudian

dapat kita nilai bahwa para pemangku kepentingan saling berkelindan untuk memanfaatkan situasi

di Indonesia yang masih belum menjunjung tinggi keadilan dalam setiap aspek bermasyarakat dan

bernegaranya.

Titik berangkat berteologi ekofeminis haruslah berdasarkan pada pendekatan earth-centered

ketimbang analisis terhadap tradisi Kekristenan17 untuk membaca permasalahan yang menyangkut ekologi. Pembacaan dengan menggunakan analisis terhadap tradisi Kekristenan bisa jadi tidak

akan menyelesaikan permasalahan karena lekat dengan paham dualitas yang memisahkan antara

manusia dengan alamnya. Situasi pemisahan itu tentunya melihat alam sebagai entitas lain di luar

diri manusia dan manusia boleh punya sikap apapun terhadap entitas di luar dirinya. Maka

pemisahan ini tak akan menghasilkan pembaruan untuk alam. Pendekatan yang melihat secara

nyata keadaan bumi saat ini akan sangat membantu bagaimana teologi feminis menentukan sikap

terhadap permasalahan kita hadapi bersama ini.

Ibu-Ibu Menangisi “Ibu”-nya

Di desa-desa biasanya kita mendapati bahwa perempuan lebih banyak bertanggung jawab untuk

urusan domestik: mengambil air untuk kebutuhan keluarga, semisal air minum, memasak, hingga

memberi makan binatang ternak mereka. Jalan yang harus mereka tempuh untuk mengambil air

bisa jadi dekat, namun tak jarang juga cukup jauh. Pada kasus perempuan Kendeng18, para

perempuan harus berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk mengambil air yang ada di Cekungan Air

17 Drummond, Eco-Theology, hlm. 147

(8)

Tanah (-CAT) Watu Putih Pegunungan Kendeng, Rembang. CAT Watu Putih itu juga dipakai oleh

PDAM Rembang dan Blora untuk menyuplai air di daerah itu. Para perempuan hanya perlu

mengebor tanah beberapa meter dan air jernih akan keluar begitu melimpah. Makanya di sana, ada

belasan air sungai mampu mengaliri sawah-sawah dan tanaman palawija di daerahnya, sehingga

kesuburan itu tidak akan dapat digantikan dengan nominal uang berapapun. Dulunya, warga desa

biasa saling membagi sayur sehingga tidak perlu membeli karena segala sesuatu bagi mereka telah

tersedia dengan cukup.

Keadaan itu semua kemudian perlahan sirna dengan hadirnya banyak penambangan di

Pegunungan Kendeng. Mulai dari tambang galian pasir, tambang semen, dan penebangan liar

pohon-pohon Jati untuk kebutuhan industri mebel. Lalu, sejak tahun 2000 kelangkaan air mulai

terjadi di sana. Makanya sebagaimana telah dijelaskan di awal tulisan ini bahwa para perempuan

melakukan perlawanan begitu rupa. Namun yang menjadi menarik untuk dicermati adalah bentuk

perlawanan yang dilakukan oleh Sukinah dan para petani perempuan lainnya adalah bukan dengan

jalan kekerasan.

Bentuk perlawanan Sukinah dan para Kartini Kendeng, sebutan untuk sembilan perempuan yang

melawan pembangunan pabrik semen di Kendeng, ini dilakukan dengan metafora-metafora yang

menjadi simbol Ibu mereka. Pemasungan kaki mereka menggunakan semen menjadi simbol bahwa

Ibu mereka tengah dikepung oleh metarial keras yang membuat Ibu bumi mereka kesulitan untuk “bernafas”; pula menjadi simbol bahwa kehidupan para Kartini Kendeng dan warga tempat mereka akan semakin kering dan tak sesubur dulu. Mereka menjadikan diri mereka sebagai simbol

anak-anak yang berjuang dengan kasih untuk menyelamatkan Ibu mereka yang sedang menderita atas

serangan penghancuran oleh tambang-tambang dan ditambah pembalakan pohon-pohon di hutan

sekitarnya. Sumber-sumber air di Sendang Andong, Sendang Sukun, dan sungai-sungai bawah

tanah lainnya diledakkan satu per satu. Suara dinamit selama empat hingga lima kali dalam satu

hari akrab terdengar dari tenda-tenda perjuangan yang didirikan oleh 85 ibu-ibu ketika tambang

semen pertama kali membuka tapaknya.19 Sukinah disaksikan oleh para ibu lain menceritakan

perasaannya melihat kenyataan yang ada di depan mereka; dengan mata berkaca-kaca mengatakan, “Rasanya seperti tubuh saya ini yang dirusak. Rasanya seperti melahirkan bayi secara sungsang.”

(9)

Kedekatan alam dengan manusia dan secara khusus dengan perempuan inilah yang menjadi upaya

untuk berteologi ekofeminis. Pada kasus Kartini Kendeng, wawasan mereka untuk mengelola

sumber daya alam telah dihancurkan oleh sebuah sistem ekonomi dan politik yang berjubah

pembangunan-kapitalis. Pembangunan bangsa yang di dalamnya membutuhkan semen yang rakus

kemudian menyertakan industri pertambangan. Namun jika menggunakan lensa ekofeminis, maka

industri tambang merupakan industri maskulin karena dalam praktiknya alat-alat yang digunakan

untuk menambang dan mengeruk bumi adalah alat-alat berat yang kokoh dan fungsinya

menghancurkan. Sifat-sifat itu melekat sekali pada sifat maskulin. Makanya dapat dikatakan

bahwa pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam itu bersifat maskulin. Jika begitu,

sudah berapa banyak kekuasaan maskulinitas telah terjadi dan akan terus terjadi di sekitar kita?

Seberapa pun banyaknya itu, perempuan pada akhirnya menjadi korban paling sengsara dari itu

semua.

Pada kasus Kendeng, sekiranya bukanya hanya alam rusak dan perempuan menjadi korban, namun

lebih luas dari itu, pembangunan yang telah bersifat maskulin itu perlahan-lahan akan

menghancurkan suatu tatanan sosial budaya lokal di sekitar pegunungan karst Kendeng.

Pemaparan Sukinah dan para ibu lain telah mengungkapkan situasi sosial mereka telah berubah

sama sekali. Situasi guyub itu telah dipecahkan oleh dominansi maskulinitas. Maka sejatinya,

persoalan yang lebih dalam adalah nilai-nilai spiritualitas masyarakat lokal telah dikoyak begitu

rupa. Perpecahan masyarakat antara yang menolak dan yang mendukung pembangunan pabrik

semen itu setidaknya menjelaskan bahwa ada sebagian dari masyarakat yang telah menghancurkan

nilai-nilai spiritualitas yang telah lama dipegangnya. Masyarakat yang pernah dekat dengan alam,

kini membiarkannya saja diatur oleh mereka yang dianggap dapat lebih menyejahterakan

kehidupan mereka melalui pembangunan tersebut. Namun bagi mereka yang melawan

pembangunan itu tentu masih menghidupkan nilai-nilai spiritualitas mereka sehingga betapa pun

usaha mereka, mereka tak akan berhenti melawan karena itulah identitas diri mereka.

Tugas Allah Genap Atas Para Kartini Kendeng, Lainnya???

Penciptaan manusia dengan karakter Imago Dei itu kemudian mengandaikan sebuah peran khusus

(10)

kepada manusia agar mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, binatang

ternak, dan binatang melata dan mandat itu menjadi sesuatu yang khusus sampai Allah harus

menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah sendiri (Imago Dei). Borrong

mengungkapkan bahwa tafsiran mengenai imago Dei ini sendiri sangat berpengaruh terhadap

manusia dalam memahami dirinya sendiri.20 Makanya, jika penafsiran atas Imago Dei itu

melupakan bahwa ada perempuan di sana, maka penafsirannya akan jadi tetap maskulin.

Kenyatannya Imago Dei mencakup di dalamnya laki-laki dan perempuan. Konsep ini menjadi

segitiga yang berhubungan bahwa dalam diri Allah ada karakter laki-laki dan perempuan yang di

kemudian hari kita membagi gendernya atas maskulin dan feminin. Demikian pula pada diri

laki-laki dan perempuan sejatinya mengandung unsur ilahi yang butuh diwujudkan ke dalam kasih

terhadap entitas di luar diri mereka; pun begitu selain unsur ilahi pada diri manusia, nyatanya baik

laki-laki dan perempuan akan selalu memiliki dua aspek gender: maskulin dan feminin. Laki-laki

tak baik jika terlalu dominan atas maskulinitasnya karena akan menghancurkan, sehingga butuh

aspek feminin yang memulihkan. Begitu pula pada diri perempuan tidak baik jika terlalu feminin

karena mereka tidak akan sanggup melawan ketertindasan mereka, sehingga butuhlah unsur

maskulin dalam diri mereka untuk mampu berjuang menyetarakan diri.

Para perempuan Kendeng setidaknya menerapkan tugas Allah sendiri untuk menguasai dan

menaklukkan bumi dengan tindakan keibuan mereka. Mereka telah dan terus berupaya untuk

menyetarakan derajat manusia dengan alamnya. Para petani Kendeng telah hidup lekat dengan

alam; di sana mereka membentuk peradaban, membentuk budaya, kehidupan, dan melahirkan

nilai-nilai spiritualitas yang mengasihi alam. Pun begitu, para perempuan Kendeng yang merawat

alam sekitarnya dan memperjuangkan kehidupan alamnya itu sejatinya telah memenuhi tanggung

jawab kepada Allah sendiri.21 Mereka berbeda dari para pelaku eksploitasi yang telah keliru dalam keputusan dan tindakan mereka untuk menjalankan tugas yang harus diemban dari Allah.

Nyatanya dunia kita sedang mengalami disharmoni pada dirinya. Krisis ekologi telah, sedang, dan

akan terus terjadi. Namun pembangunan berkelanjutan akan melanggengkan krisis ekologi itu.

(11)

Pengembangan serta kreativitas untuk menciptakan barang terus dilakukan untuk pemenuhan

kebutuhan dan gaya hidup manusia yang semakin modern. Hanya saja, hal ini kemudian menjadi

salah karena manusia tidak memberi kesempatan bumi ini untuk merekonstruksi dirinya sebelum

siap untuk digunakan. Demi mendapatkan bahan baku untuk membuat barang-barang produksi,

manusia menekan bumi, tempat mereka berada, secara paksa sehingga terjadi dekonstruksi secara

terus-menerus. Banyak persoalan lingkungan hidup yang muncul dalam pemberitaan-pemberitaan

di media-media. Dunia telah menjadi begitu destruktif karena sistem ekonominya yang bertumbuh

secara eksponensial terus menguras sumber-sumber alam di dalamnya sehingga tidak memberikan

kesempatan alam untuk mendaur ulang dan memulihkan dirinya. Sementara jika mengamati situasi

kini, sistem ekonomi harusnya menggandeng erat norma-norma ekofeminis. Alam lebih dari

sekadar bernilai ekonomis, karena alam adalah oikos bagi semua ciptaan yang termasuk di

dalamnya para perempuan, anak-anak, dan mereka yang selalu dipinggirkan. Namun jika alam

tetap diperlakukan eksploitatif, permasalahannya bukan pada ekonomi atau ekologinya, melainkan

pelaku penataan rumah tangganya, yakni manusia.22 Maka, akibat pelestarian dominansi maskulinitas ini terhadap alam yang berdampak parah kepada perempuan, tentu dituntut sebuah

pertanggungjawaban besar.

Dalam diamnya alam itu pun, alam membiarkan dirinya menjadi sebagaimana adanya alam. Jika

alam diam, bisa jadi itulah alasan manusia bebas bertindak apa saja kepada alam. Hanya saja,

manusia perlu memahami bahwa menggunakan apa yang alam miliki secara berlebihan justru akan

berdampak buruk bagi alam semesta itu sendiri. Bukan hanya berdampak buruk bagi alam semesta,

namun juga berdampak bagi manusia. Di dalam segala keteraturan dan harmoni yang tercipta

antara makrokosmos dan mikrokosmos, akan terjalin suatu kehidupan yang baik. Sebaliknya,

ketika harmoni alam diusik; ketika alam tidak lagi dibiarkan berlaku sebagaimana adanya alam

itu, maka jalinan kehidupan tersebut akan berbalik menentang yang satunya. Makrokosmos akan

menentang mikrokosmos sehingga menyebabkan ketidakteraturan. Maka baiklah manusia sebagai

mikrokosmos memandang alam semesta, yang merupakan makrokosmos tersebut sebagai bagian

integral dari kehidupannya karena keduanya akan terus saling melengkapi.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Apriando, Tommy, “Perempuang Rembang Merawat Mata Air Kendeng: Kajian Dampak Tambang pada SRHR (Sexual and Reproductive Health and Rights)”, dalam Dewi Candraningrum dan Arianti I.R. Hunga (Eds.). Ekofeminisme III: Tambang, Perubahan

Iklim, dan Memori Rahim. (Yogyakarta: Jalasutra, 2015)

Borrong, Robert P. Etika Bumi Baru. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999)

Candraningrum, Dewi, “Politik Rahim Perempuan Kendeng: Kajian SRHR & Perubahan Iklim”, dalam Dewi Candraningrum dan Arianti I.R. Hunga (Eds.). Ekofeminisme III: Tambang,

Perubahan Iklim, dan Memori Rahim. (Yogyakarta: Jalasutra, 2015)

Drummond, Celia Deane. Eco-Theology. (London: Darton, Longman, and Todd Ltd, 2008)

Drummond, Celia Deane. Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

2012)

Michaelson, Wesley Granberg. Menebus Ciptaan. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997)

Singgih, Emanuel Gerrit. Dari Eden ke Babel. (Yogyakarta: Kanisius, 2011)

Wahid, Khalisah, “Bagaimana Nasib Perempuan dan Alam dalam Paradigma Pembangunan?”, dalam Dewi Candraningrum (Ed.). Ekofeminisme II: Narasi Iman, Mitos, Air, dan Tanah.

(Yogyakarta: Jalasutra, 2014)

SUMBER INTERNET

BBC Indonesia. Tolak Pembangunan Pabrik Semen, Sembilan Perempuan Cor Kaki.

Referensi

Dokumen terkait