• Tidak ada hasil yang ditemukan

RKPD BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RKPD BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 28

3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

1. Kondisi Ekonomi daerah Tahun 2013 dan Perkiraan Tahun berjalan

2014

A. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kota Palopo relatif tinggi dan

juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi Kota

Palopo selama periode tahun 2011 - 2013 menunjukkan angka di atas 8

persen, bahkan ditahun 2013 telah menembus angka 9 %.

Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kota Palopo periode tahun

2011 - 2013 yakni mencapai 9,26 persen per tahun. Hal ini menandakan

bahwa kegiatan perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang

diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran

masyarakat meningkat. Kinerja tersebut mengindikasikan bahwa

perekonomian Kota Palopo dari tahun ke tahun semakin membaik.

B. Produk Demostik Regional Bruto (PDRB)

Sampai dengan tahun 2013, perekonomian Kota Palopo terus

menunjukkan perkembangan yang positif dengan indikasi perkembangan

produk demostik regional bruto (PDRB). Tercatat pada tahun 2013,

pertumbuhan hanya mencapai Rp.2,657,681.55 atau sebesar 16,62

persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 menembus angka

1,163,862.23 rupiah atau sebesar 8,16 persen, sebagaimana grafik

(2)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 29 Sumber : * Analisis Data Bappeda Kota Palopo 2013

C. Struktur Perekonomian

Ada 4 sektor pendukung utama perekonomian di Kota Palopo pada

tahun 2013 yaitu: sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan

kontribusi terhadap pembentukan PDRB sebesar 24 persen; lalu

kemudian diikuti oleh sektor Jasa sebesar 20 persen; sektor Pertanian

(15 %); dan sektor Keuangan dan Jasa Perusahaan (15 %). Disamping

itu, dua sektor lain dengan kontribusi yang cukup signifikan adalah

sektor Bangunan (12 %) dan sektor Pengangkutan dan Komunikasi

(9%).

Sumber: BPS Kota Palopo Tahun 2013

D. Pertumbuhan Menurut Sektor

Sektor keuangan serta sektor listrik, gas dan air bersih menjadi

(3)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 30 mencapai 17,12 dan 10,97 persen. Hal ini menunjukkan adanya korelasi

antara tingginya permintaan akan sektor Perdagangan dan jasa.

Sektor keuangan memberikan sumbangan sebesar 17,12 persen

terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan sektor ini sudah

berlangsung sejak tahun 2008 dan memperlihatkan trend yang stabil.

Sektor keuangan, persewaan, pertambangan dan listrik dalam 3

(tiga) tahun terakhir memperlihatkan pertumbuhan yang semakin

meningkat. Tahun 2011 sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar

15,85 persen kemudian meningkat menjadi 16,40 persen pada tahun

2012 dan tahun 2013 tetap meningkat menjadi 17,12 persen.

Peningkatan ini menandakan semakin banyaknya lembaga-lembaga

pembiayaan untuk membiayai aktivitas perekonomian masyarakat.

Sektor-sektor yang tumbuh di bawah 10 persen antara lain sektor

industri dan sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik dan

air bersih dan jasa. Sektor industri tumbuh sebesar 6,17 persen dan

sektor pertambangan tumbuh sebesar 5,59 persen pada tahun 2013.

E.PDRB Perkapita

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa PDRB per kapita Kota

Palopo terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun

2011, PDRB per kapita Kota Palopo adalah sebesar Rp. 15.291.036,-

yang berarti rata-rata pendapatan satu orang penduduk Kota Palopo

selama setahun adalah Rp. 15.291.036,- atau sebesar Rp. 1.274.253,-

per bulan. Angka ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan

PDRB perkapita Sulawesi Selatan sebesar Rp. 10,825,425,- selama

setahun atau Rp. 902,118 perbulan. Pada tahun 2012 PDRB per

kapita Kota Palopo bertambah menjadi Rp. 17.272.388, yang berarti

rata-rata pendapatan satu orang penduduk Kota Palopo selama

setahun adalah Rp. 17.272.388,- atau sebesar Rp. 1.439.366,- per

(4)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 31 Pada tahun 2013* PDRB per kapita di Kota Palopo mengalami

peningkatan yang cukup pesat dibandingkan tahun sebelumnya. PDRB

per kapita mencapai Rp. 19,253,740,- selama setahun atau Rp.

1,604,478,- per bulan. Persentase peningkatannya hingga 15,35

persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun secara

keseluruhan, PDRB Perkapita Kota Palopo masih lebih rendah jika

dibandingkan dengan PDRB Perkapita Sulawesi Selatan.

Untuk meningkatkan pendapatan per kapita maka laju

pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan dan sebaliknya laju

pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan.Hal ini disebabkan karena

laju pertumbuhan penduduk yang cepat harus diimbangi dengan

ketersediaan lapangan kerja yang memadai.

F. Tingkat Inflasi.

Inflasi dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur

kestabilan ekonomi suatu daerah.Inflasi merupakan harga yang terjadi

di masyarakat yang merupakan hasil dari interaksi antara penawaran

(supply) dan permintaan (demand) barang dan jasa yang beredar di

masyarakat sehingga perlu dipantau perkembangannya untuk

menentukan kebijakan pemerintah.Untuk memperoleh gambaran

mengenai perkembangan harga berbagai barang dan jasa yang

dikonsumsi masyarakat dari waktu-ke waktu dilakukan dengan

menghitung indeks harganya.

Perkembangan Inflasi Kota Palopo 2011 - 2013

Inflasi / Tahun

TAHUN

2011 2012 2013*

(5)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 32

G. Paritas Daya Beli

Pada tahun 2013*, kemampuan daya beli penduduk Kota Palopo

berada pada kisaran Rp. 646,770, mengalami pertumbuhan bila

dibandingkan dengan PDB Tahun 2012, yaitu Rp. 640,300 lebih besar

dari Propinsi Sulawesi Selatan yang sebesar Rp. 636,60 ribu. Angka

ini meningkat sedikit dari tahun 2010 yang berada di kisaran

Rp.634.170 ribu. Relatif lambatnya pertumbuhan kemampuan daya

beli masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu kondisi

perekonomian regional, nasional maupun global. Pada tahun 2012

dan 2013, daya beli masyarakat diharapkan tetap terus meningkat.

2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2014 dan

Tahun 2015

Di tahun mendatang, diperkirakan perkembangan ekonomi Palopo

masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan akibat pengaruh dari

dinamika internal maupun lingkungan perekonomian global yang terjadi

dalam beberapa tahun terakhir.

Beragam tantangan dimaksud perlu disikapi secara arif dan

komprehensif serta dengan langkah-langkah yang lebih nyata. Tantangan

dimaksud antara lain:

1. Pentingnya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi

daerah yang lebih berimbang, bertumpu pada optimalisasi sumber daya

lokal, terjagannya stabilitas wilayah serta adanya kemudahan perizinan.

Kondisi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi dan

menciptakan lapangan kerja sehingga dapat menurunkan tingkat

pengangguran dan kemiskinan. Dalam hal ini perlu prioritas

pengembangan pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda

(6)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 33 2. Meningkatnya harga-harga barang akibat naiknya Tarif Dasar Listrik,

Rencana kenaikan Tarif Dasar Air minum oleh PDAM, dikhawatirkan

akan memicu inflasi sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Hal

ini harus disikapi dengan meluncurkan program-program pro rakyat,

dalam bentuk program padat karya, program pemberdayaan

masyarakat, bantuan peralatan kerja, bimbingan teknis, serta

pengawasan terhadap peredaran kebutuhan pokok masyarakat agar

hidup normal.

3. Penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif, merupakan tantangan

yang cukup besar bagi pemerintah daerah. Komitmen perbaikan iklim

investasi tersebut telah dilakukan dengan mengadakan perbaikan di

bidang peraturan perundang-undangan, pelayanan, dan

penyederhanaan prosedur termasuk penyederhanaan birokrasi melalui

terbentuknya KPT.

4. Penyediaan infrastruktur yang cukup dan berkualitas, terutama

infrastruktur jalan dan daya dukungnya, termasuk ketersediaan

pasokan listrik dan air bersih. Hal ini merupakan prasyarat agar dapat

mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan.

Ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai akan menjadi kendala

bagi masuknya investasi.

5. Peningkatan daya saing jasa dan produk, untuk mencapai peningkatan

pertumbuhan ekonomi. Tingginya pertumbuhan usaha jasa dan

industri, khususnya industri rumah tangga diperlukan tidak saja sebagai

penopang pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan juga

untuk merangsang penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan

bermutu

6. Peningkatan partisipasi swasta melalui kemitraan antara pemerintah,

masyarakat dan swasta (public-private partnership). Tantangan ini

(7)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 34 dalam pembiayaan pembangunan, terutama terkait dengan efisiensi

pembiayaan investasi dan penyediaan infrastruktur yang bervariasi dan

berkualitas.

7. Membangun landasan yang kokoh bagi terciptanya pertumbuhan

ekonomi yang berkelanjutan di masa-masa yang akan datang. Oleh

karena itu, tantangan tersebut harus dapat diatasi secara tepat dan

proporsional melalui upaya-upaya sebagai berikut:

- Meningkatkan pertumbuhan dan sekaligus pemerataan hasil

pembangunan ekonomi.

- Penanganan masalah dan dampak arus urbanisasi penduduk.

- Memantapkan kembali kinerja perekonomian dan pemberdayaan

masyarakat. Walaupun perekonomian Palopo telah menunjukkan

hasil yang cukup baik, pertumbuhan dan perkembangan

perekonomian yang telah berhasil dicapai, agar terus diikuti dengan

upaya pemberdayaan masyarakat secara lebih memadai.

- Meningkatkan pemberdayaan kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan

Menengah (UMKM) agar mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan

perekonomian Kota, dan mampu memperbesar daya serapnya

terhadap tenaga kerja.

- Menciptakan iklim kondusif bagi perekonomian daerah, sebagai

salah satu prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi yang

berkualitas dan berkelanjutan (terpercaya, memiliki kemudahan,

dan efisien).

- Menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban, dalam upaya menjaga

kelancaran kegiatan ekonomi, transaksi bisnis, dan investasi.

- Menyediakan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai,

untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian daerah

termasuk didalamnya adalah peningkatan efisiensi distribusi barang

dan jasa. Infrastruktur jalan raya perlu ditingkatkan baik volume

(8)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 35

3. Arah Kebijakan Ekonomi Tahun 2015

Fokus kebijakan ekonomi makro Kota Palopo tahun 2014 - 2015

adalah pemantapan pertumbuhan ekonomi dengan tujuan utama

menciptakan kesempatan kerja, mengurangi penduduk miskin,

meningkatkan mutu pelayanan publik dan mengelola arus urbanisasi

penduduk.

Adanya situasi keterbatasan keuangan negara dalam pembiayaan

pembangunan daerah berimplikasi luas terhadap perekonomian daerah.

Pemerintah Kota Palopo dituntut mampu meningkatkan Pendapatan Asli

Daerah (PAD) dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam

pengelolaan keuangan daerah.

Berkaitan dengan kondisi yang digambarkan di atas maka

usaha-usaha yang harus dilakukan dalam pemantapan ekonomi daerah yaitu:

a. menciptakan stabilitas ekonomi tahun 2015 dan menciptakan

ketenteraman dan ketertiban sesuai dengan kewenangan yang

dimiliki oleh daerah.

b. Memantapkan dan terus mengevaluasi prosedur perijinan usaha.

c. menyediakan infrastruktur kota untuk menunjang pertumbuhan dan

distribusi perkembangan ekonomi daerah.

d. pemberdayaan UMKM dan masyarakat miskin dengan meningkatkan

koordinasi berbagai institusi melalui jaringan sistem keuangan mikro.

e. memperbaiki modal sosial khususnya etos kerja dalam rangka

peningkatan produktivitas kerja.

f. efisiensi alokasi sumber daya dan dana dalam perekonomian daerah.

4. Prospek Perekonomian Daerah tahun 2015

Perekonomian Kota palopo pada tahun 2015 tidak dapat dipisahkan dari

(9)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 36 Selatan. Berdasarkan pada kondisi perekonomian tahun 2012 dan

perkembangan hingga tahun 2013 serta tantangan yang dihadapi pada

tahun mendatang maka prospek perekonomian pada tahun 2014

diharapkan sebagai berikut :

a. Pertumbuhan Ekonomi bertahan di atas 8%

b. Inflasi tidak mencapai 5%

c. PDRB atas Harga Berlaku mencapai Rp 2.500.000 juta

d. PDRB atas Harga Konstan Rp .1.200.000 juta

e. PDRB Perkapita mencapai Rp.17.000.000,-

f. Daya beli masyarakat mencapai Rp.700.000.-

Potensi tambahan terkait dengan PAD, dengan diterbitkannya

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah. Dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009,

khususnya Pasal 2, ayat (2) telah dijelaskan bahwa jenis Pajak Daerah

kabupaten/kota terdiri atas: (i) Pajak Hotel; (ii) Pajak Restoran; (iii) Pajak

Hiburan; (iv) Pajak Reklame; (v) Pajak Penerangan Jalan; (vi) Pajak

Mineral Bukan Logam dan Batuan; (vii) Pajak Parkir; (viii) Pajak Air Tanah;

(ix) Pajak Sarang Burung Walet; (x) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan

dan Perkotaan; dan (xi) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Hal

ini memberikan pemahaman kepada daerah, bahwa daerah diberi

kewenangan dan hak untuk merancang dan mempersiapkan peraturan

daerah yang terkait dengan peraturan perundangan tersebut.

Kewenangan daerah mengenai pajak tersebut dapat dioptimalkan bagi

peningkatan PAD, khususnya pada sector hotel, restoran, tempat hiburan,

reklame, dan sebaginya

5. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Tahun 2015

Fokus kebijakan ekonomi makro Kota Palopo tahun 2014-2015

(10)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 37 menciptakan kesempatan kerja, mengurangi penduduk miskin,

meningkatkan mutu pelayanan publik dan mengelola migrasi masuk.

Adanya situasi keterbatasan keuangan negara dalam pembiayaan

pembangunan daerah berimplikasi luas terhadap perekonomian daerah.

Pemerintah Kota Palopo dituntut mampu meningkatkan Pendapatan Asli

Daerah (PAD) dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam

pengelolaan keuangan daerah.

Berkaitan dengan kondisi yang digambarkan di atas maka

usaha-usaha yang harus dilakukan dalam pemantapan ekonomi daerah yaitu:

a. Tetap menciptakan stabilitas ekonomi tahun 2015 agar terjaga baik

dan ketenteraman ketertiban sesuai dengan kewenangan yang

dimiliki oleh daerah.

b. Memantapkan dan terus mengevaluasi prosedur perijinan usaha.

c. Menyediakan infrastruktur kota untuk menunjang pertumbuhan dan

distribusi ekonomi daerah.

d. Pemberdayaan UMKM dan masyarakat miskin dengan meningkatkan

koordinasi berbagai institusi melalui jaringan sistem keuangan mikro.

e. Memperbaiki modal sosial khususnya etos kerja dalam rangka

peningkatan produktivitas kerja.

f. Efisiensi alokasi sumber daya dan dana dalam perekonomian daerah.

g. Melakukan stimulasi kepada usaha mikro, kecil, dan mennegah melalui

bantuan permodalan, peralatan, fasilitas kerja, dan ruang usaha.

Berdasarkan kondisi riil perekonomian Kota Palopo Tahun 2013 dan

perkiraan 2014, maka prospek perekonomian tahun 2014-2015 dapat

diuraikan sebagai berikut:

- Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diperkirakan akan tetap stabil

setelah pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan yang cukup

baik.Dengan kinerja yang tetap solid, pada tahun 2015 perekonomian

(11)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 38 - Inflasi tahun 2014 diperkirakan lebih besar dari tahun 2013 (4,36).

Hal ini disebabkan terutama oleh adanya kenaikan Tarif dasar listrik

dan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan memicu

kenaikan harga-harga barang secara umum.

- Selain itu, momentum politik, yaitu pemilu 2015 ini diperkirakan pula akan memicu peredaran uang cukup signifikan sehingga akan

berpengaruh pada harga beberapa produk. Pada tahun 2015 inflasi

diharapkan tetap normal pada kisaran 4,1 – 4,5 persen.

3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah

1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

Kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah daerah berdasarkan

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan

Daerah, yang pada dasarnya keuangan daerah meliputi komponen

pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah yang harus

dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, transparan dan bertanggung jawab

dengan tetap memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Dengan demikian,

arah kebijakan Keuangan Daerah akan diuraikan pada masing-masing

komponen Keuangan Daerah tersebut. Secara umum arah kebijakan

keuangan daerah tetap mengacu pada Ketentuan Perundangan yang berlaku

saat ini antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan

Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara, maka Arah kebijakan keuangan daerah dalam RKPD Kota Palopo

pada tahun 2015 bertujuan untuk :

1. Menopang proses pembangunan daerah yang berkelanjutan sesuai

dengan visi dan misi daerah;

2. Menjamin ketersediaan pendanaan pelayanan dasar secara memadai

bagi kesejahteraan masyarakat;

3. Meminimalkan resiko fiskal sehingga dapat menjamin kesinambungan

(12)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 39

4. Kesinambungan anggaran dengan merujuk kepada ketentuan

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 33 Tahun

2004 terkait dengan batas defisit anggaran dan batas pinjaman/utang;

dan

5. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan

partisipasi masyarakat.

Kebijakan keuangan daerah juga tergantung pada capaian proyeksi

pertumbuhan ekonomi, dan realisasi investasi serta kemampuan pengeluaran

investasi oleh pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan

terus meningkat seiring dengan stabilitas politik dan keamanan baik nasional

maupun tingkat daerah. Beberapa masalah strategis pada bidang Ekonomi

Keuangan di Kota Palopo adalah (1) masih terbatasnya kemampuan daerah

dalam peningkatan PAD, (2) diperlukan revitalisasi sektor jasa, pertanian,

perkebunan dan peternakan, (3) rendahnya nilai investasi untuk mendorong

aktivitas ekonomi produktif (4) belum optimalnya pemanfaatan sektor

perikanan dan kelautan di beberapa wilayah potensial yang menjadi sektor

unggulan, (5) rendahnya kreatifitas, inovasi dan etos kerja.

Dalam upaya mewujudkan visi daerah dengan mengacu pada

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota

Palopo yaitu “Akselerasi Potensi Daerah Guna Mendukung Peningkatan

Kesejahteraan Masyarakat “, sumber pembiayaan perlu lebih dioptimalkan

tidak hanya melalui mobilisasi sumber pendapatan, tetapi juga melalui upaya

penggalian sumber pembiayaan antara lain dari pinjaman dan obligasi

daerah, serta dengan melakukan efisiensi dan efektifitas belanja.

Berikut ini adalah gambaran mengenai rata-rata pertumbuhan realisasi

(13)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 40 Tabel 3.4

Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2009 s.d tahun 2013

Sumber data : DPPKAD (Laporan Kuangan Kota Palopo 2009-2012 dan *)LRA TA 2013 Unaudited)

Berdasarkan pertumbuhan realisasi pendapatan, secara keseluruhan

pendapatan daerah mengalami peningkatan dengan persentase kenaikan

berfluktuatif. Secara persentase dan nominal pendapatan daerah keseluruhan

mengalami kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan selama tahun 2009 sampai

dengan 2013 sebesar 11.49%.

Berikut ini gambaran realisasi Belanja Daerah Kota palopo dari Tahun 2009

(14)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 41 Tabel 3.4

Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Tahun 2009 s.d tahun 2013

Sumber data : DPPKAD (Laporan Kuangan Kota Palopo 2009-2012 dan *)LRA TA 2013 Unaudited)

Dari tabel diatas rata-rata pertumbuhan realisasi belanja dari tahun

2009 sampai dengan 2013 sebesar 11.34%. Pertumbuhan belanja daerah

secara garis besar hampir sama dengan pertumbuhan pendapatan daerah

berkisar sekitar 11%.

2. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah diarahkan pada optimalisasi

pengelolaan pendapatan daerah melalui pelaksanaan intensifikasi dan

ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan sesuai kewenangan dan potensi

yang ada dengan memperhatikan aspek keadilan, kepentingan umum dan

(15)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 42 daerah, serta memperhatikan kinerja tahun-tahun sebelumnya. Secara

umum, arah kebijakan pendapatan daerah adalah sebagai berikut:

1. Rasionalisasi dalam penetapan target pendapatan daerah dengan

mempertimbangkan kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun

sebelumnya dan tahun berjalan dan mengevaluasi realisasi penerimaan

pendapatan tahun sebelumnya;

2. Peningkatan pendapatan daerah melalui optimalisasi pengelolaan

sumber-sumber pendapatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009

tentang Pendapatan Domestik Regional Bruto. Untuk mencapai hal

tersebut Pertama dilakukan Intensifikasi meliputi peningkatan pelayanan

pajak, pembinaan sumber daya manusia dan administrasi, peningkatan

warga binaan, Sosialisasi perpajakan, dan koordinasi lintas

pemda/sektor/SKPD. Kedua dilakukan Ekstensifikasi dengan

pemberlakuan Perda, Pengembangan jenis dan obyek pajak; dan

3. Mengoptimalkan dan mendayagunakan kekayaan dan aset daerah.

Sumber Pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD),

Dana Perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Dana perimbangan

merupakan dana transfer pemerintah kepada daerah yang terdiri dari: (1)

Bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak, (2) Dana Alokasi Umum, dan (3)

Dana Alokasi Khusus.

Berdasarkan kondisi dan kinerja ekonomi daerah dan kajian terhadap

tantangan dan prospek perekonomian daerah, maka proyeksi sumber

pendapatan daerah dituangkan pada tabel Realisasi dan Proyeksi/Target

(16)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 43 Tabel 3.4

Proyeksi/Target Pendapatan Kota Palopo Tahun 2014 s.d tahun 2016

Sumber : DPPKAD Kota Palopo (Perda APBD TA 2014) dan Bappeda (RPJMD Kota Palopo Tahun 2013-2018)

Pendapatan daerah Kota Palopo sampai dengan Tahun 2014

mengalami kenaikan setiap tahunnya, pada Tahun 2012 total realisasi

pendapatan daerah Kota Palopo mencapai Rp. 525.521.885.958,- dan tahun

2013 mencapai Rp. 604.409.930.598,- sedangkan target Pendapatan daerah

tahun 2014 diperkirakan sebesar Rp. 664.481.781.060,-. Melihat pendapatan

daerah setiap tahunnya meningkat maka diproyeksikan pendapatan daerah

(17)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 44 atau sekitar 0,42% dari tahun sebelumnya begitupun pada tahun 2016

diproyeksikan pendapatan daerah mencapai Rp. 727.111.775.272,-.

Peningkatan pendapatan daerah Kota Palopo Sangat dipengaruhi oleh

Dana Perimbangan yang memiliki persentase rata-rata sekitar 80% dari

Pendapatan Daerah Kota Palopo setiap tahunnya. Pendapatan dari dana

perimbangan sebenarnya berada di luar kendali pemerintah daerah karena

alokasi dana tersebut ditentukan oleh pemerintah pusat berdasarkan formula

yang telah ditetapkan. Fluktuasi penerimaan dari dana perimbangan sangat

tergantung dari peningkatan penerimaan negara.

Realisasi Penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah mengalami

peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2013 yaitu dari Rp. 21.473.395.222,-

menjadi Rp.51.663.729.162,-. Pada Tahun 2014 di target PAD sebesar

Rp.53.438.976.900,- nilai ini merupakan perkiraan sementara pada APBD

Tahun Anggaran 2014, peningkatan ini sebagai akibat adanya perubahan

kebijakan dari Pajak bumi dan Bangunan dimana tahun 2014 ini telah

dialihkan menjadi target PAD dan telah dilakukan intensifikasi dan

ekstensifikasi terhadap sumber pendapatan tersebut dan beberapa

sumber-sumber pendapatan asli daerah yang lainnya dengan melihat perkembangan

sampai dengan akhir semester pertama terhadap capaian target khususnya

PAD dapat melebihi dari realisasi tahun sebelumnya.

Dari Sisi Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah, masih diharapkan

dapat meningkat sebagai akibat dari beberapa perubahan kebijakan

pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi terhadap Tambahan penghasilan

guru dan Bantuan keuangan Pemerintah Provinsi yang peruntukannya sudah

ditentukan berdasarkan peraturan yang berlaku.

Dalam mengoptimalkan PAD Kota Palopo masih banyak Permasalahan

yang dihadapi sampai saat ini, mulai dari lemahnya sanksi pelanggaran

terhadap wajib pajak dan retribusi, pembatasan kewenangan pengelolaan

(18)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 45 belum optimal, sistem Waskat dan Wasdal masih lemah, Perusda/BUMD

belum maksimal sebagai penghasil PAD, serta masih kurangnya partisipasi

Swasta/BUMN dalam pembangunan daerah.

Untuk pencapaian target dan solusi permasalahan, maka Kebijakan

Umum Pengelolaan Anggaran Pendapatan Daerah diarahkan pada

peningkatan penerimaan daerah melalui:

a. meningkatkan kualitas pengelolaan pendapatan daerah melalui kegiatan

intensifikasi dan ekstensifikasi sumber pendapatan yang dilaksanakan

secara hati-hati dan bijaksana dengan memperhatikan aspek legalitas,

keadilan, kepentingan umum, karakteristik daerah dan kemampuan

masyarakat;

b. melakukan upaya penyederhanaan sistem dan prosedur pengelolaan

administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, serta meningkatkan

pengendalian dan pengawasan atas pemungutan PAD;

c. meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya

sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki, sehingga

diharapkan mampu memberikan dukungan yang optimal dalam

menunjang kebutuhan dana melalui upaya mencari potensi sumber

pendapatan daerah secara optimal berdasarkan kewenangan dan potensi

yang dimiliki dengan mengutamakan peningkatan pelayanan serta

mempertimbangkan kemampuan masyarakat; dan

d. meningkatkan koordinasi antar SKPD, Pemerintah Kota dengan

Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat (Kementerian/Lembaga) dalam

rangka peningkatan pendapatan daerah.

1. Arah Kebijakan Belanja Daerah

Belanja daerah merupakan kebutuhan untuk mendukung kelancaran

pelayanan dan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan

(19)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 46 daerah dilakukan berdasarkan kemampuan dan kapasitas fiskal daerah

karena setiap kebutuhan belanja daerah harus didukung oleh ketersediaan

dana. Belanja daerah terdiri atas Belanja Tidak Langsung dan Belanja

Langsung. Belanja daerah terlebih dahulu diprioritaskan pada pos yang wajib

dikeluarkan, antara lain belanja pegawai, belanja bunga dan pembayaran

pokok pinjaman, belanja subsidi, belanja bagi hasil, serta belanja barang dan

jasa yang wajib dikeluarkan pada tahun yang bersangkutan, belanja hibah,

belanja sosial, dan belanja bantuan keuangan kepada Partai Politik, serta

belanja tidak terduga. Sementara Belanja Langsung terkait merupakan

belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan

program dan kegiatan untuk mencapai visi dan Misi RPJMD Kota Palopo

Tahun 2013-2018.

Alokasi belanja daerah dilakukan secara rasional dan dengan

memperhatikan aspek pemerataan agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh

lapisan masyarakat dan untuk mendorong peningkatan pelayanan publik

serta kesejahteraan masyarakat. Dengan mengedepankan prinsip efisiensi

dan efektifitas dalam penggunaan anggaran dan memperhatikan;

penerapan secara jelas tujuan dan sasaran yang akan dicapai, serta hasil dan

manfaat terkait indikator kinerja yang ditentukan dan prioritas kegiatan

dengan memperhitungkan beban kerja dan menggunakan standar harga

yang berlaku.

Alokasi Belanja Tidak Langsung pada tahun 2015 diuraikan antara lain

sebagai berikut :

1. Belanja pegawai yang pengalokasian dananya untuk gaji dan belanja

pegawai berdasarkan prestasi kerja dengan asumsi kenaikan gaji pegawai

7-10% sebagai antisipasi terhadap Kebijakan pemerintah Pusat, akres

sebesar 2,5 persen untuk KGB, tunjangan, dan mutasi, pemberian insentif

pegawai termasuk gaji ke 13 yang diberikan setiap tahunnya, Iuran Askes

(20)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 47 non sertifikasi serta tambahan pengasilan lainnya bagi PNSD, uang

representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan

tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah;

2. Belanja hibahyang diberikan kepada badan/lembaga/organisasi swasta

dan/ atau kelompok masyarakat/perorangan, sepanjang berpartisipasi

dalam penyelenggaraan pembangunan daerah;

3. Belanja subsidi untuk bantuan biaya produksi/jasa kepada

perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang

dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat;

4. Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian

bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat/yang

bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat;

5. Bantuan keuangan, dianggarkan untuk pemberian bantuan kepada

pemerintah desa/kelurahan dalam rangka pemerataan dan peningkatan

kemampuan keuangan desa/kelurahan, dan bantuan kepada partai

politik; dan

6. Belanja tidak terduga, merupakan belanja untuk mendanai tanggap

darurat, penanggulangan bencana alam dan/atau bantuan sosial serta

kebutuhan mendesak laiannya.

Sementara itu, Belanja Langsung disusun dengan

memperhitungkan kinerja yang ingin dicapai dalam rangka

penyelenggaraan otonomi, disusun baik menurut klasifikasi belanja

berdasarkan urusan wajib dan urusan pilihan daerah dan klasifikasi

menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan

keterpaduan pengelolaan keuangan negara. Oleh karena itu maka Belanja

Langsung diarahkan untuk:

1. Penyelenggaraan urusan wajib dan urusan pilihan yang diprioritaskan

(21)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 48 dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam

bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas

sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem

jaminan sosial;

2. Mendanai program dan kegiatan yang menjadi prioritas SKPD dengan

berpedoman pada standar pelayanan minimal dan pencapaian visi

dan misi daerah; dan

3. Mendanai kebutuhan infrastruktur fisik, sarana dan prasarana dasar

yang menjadi urusan daerah antara lain program dan kegiatan bidang

pendidikan, infrastruktur, kesehatan, lingkungan hidup, pertanian dan

kehutanan, kelautan dan perikanan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

Berdasarkan hasil analisis dan perkiraan sumber-sumber

pendapatan daerah dan realisasi serta proyeksi pendapatan daerah

dalam 5 (lima) tahun terakhir, arah kebijakan yang terkait dengan

belanja daerah, serta target penerimaan dan pengeluaran

pembiayaan, selanjutnya dituangkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.5

Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2014 s.d Tahun 2016

(22)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 49

1. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Kebijakan penerimaan pembiayaan yang akan dilakukan terkait

dengan kebijakan pemanfaatan sisa lebih perhitungan anggaran tahun

sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan

daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan

kembali pemberian pinjaman, penerimaan piutang daerah sesuai dengan

kondisi keuangan daerah.

Kebijakan pengeluaran pembiayaan daerah mencakup

pembentukan dana cadangan, penyertaan modal (investasi) daerah yang

telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah, pembayaran pokok utang

yang jatuh tempo, pemberian pinjaman daerah kepada pemerintah

daerah lain sesuai dengan akad pinjaman.

Kebijakan pembiayaan diarahkan pada pembiayaan daerah yang

mengacu pada akurasi, efisiensi dan profitabilitas dengan strategi

sebagai berikut:

1. Jika APBD surplus, maka perlu dilakukan transfer ke persediaan kas

dalam bentuk penyertaan modal maupun sisa lebih perhitungan

anggaran berjalan;

2. Jika APBD defisit, maka perlu memanfaatkan anggaran yang berasal

dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu dan melakukan

rasionalisasi belanja; atau

3. Jika sisa lebih perhitungan anggaran tidak mencukupi untuk menutup

defisit APBD, maka dilakukan dengan dana pinjaman.

Selama ini sebagian besar penerimaan pembiayaan daerah berasal dari

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya. Memperhatikan

(23)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

PEMERINTAH KOTA PALOPO

|Halaman : 50 kedepan, dan kebutuhan pembangunan darah, maka kebijakan umum

pembiayaan daerah tahun 2014 adalah:

1. Menciptakan pembiayaan daerah yang aman dan tidak menggangu

stabilitas maupun kesinambungan anggaran daerah dengan memanfaatkan

SILPA dan rencana pinjaman daerah;

2. Menjadikan penyertaan modal pemeruntah daerah dalam BUMD sebagai

langkah perbaikan kinerja BUMD yang bersangkutan;

3. Menjadikan penyertaan modal (investasi) daerah sebagai upaya untuk

meningkatkan PAD; dan

4. Melihat kecenderungan keuangan daerah yang mengalami defisit, dan

target pendapatan yang belum terpenuhi, maka perlu antisipasi

pembayaran pokok utang.

Dari analisis dan perkiraan sumber-sumber penerimaan pembiayaan

daerah dan realisasi serta proyeksi penerimaan dan pengeluaran pembiayaan

daerah dalam 3 (tiga) tahun terakhir, proyeksi/target tahun rencana serta 1

(satu) tahun setelah tahun rencana dalam rangka perumusan arah kebijakan

pengelolaan pembiayaan daerah maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai

berikut:

Tabel 3.6

(24)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015

Gambar

Tabel 3.4 Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Tabel 3.4 Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah
Tabel 3.4 Proyeksi/Target Pendapatan Kota Palopo
Tabel 3.5 Proyeksi Belanja Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam laporan akhir ini adalah “ Bagaimana hubungan antara biaya promosi terhadap peningkatan volume

Dari hasil penelitian tentang perbandingan kebugaran jasmani, dapat diketahui bahwa tingkat kebugaran jasmani antara siswa kelas X SMAN 1 Mojosari, MAN Mojosari, dan SMKN 1

Perhitungan dengan mengunakan metode direct costing akan melibatkan elemen-elemen biaya yang bersifat variabel saja sebagai unsur harga pokok maupun dalam

Penelitian tentang GIS juga telah diaplikasikan pada Sistem Informasi Geografis Pencarian Data Penduduk (Rusidy, 2003) yang di dalamnya membahas tentang kelebihan

Analisis bivariat dengan membandingkan proporsi atau prevalensi kotinin urin positif dan kejadian ISPA antara kedua kelompok dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing

Sane kapertama inggih puniki kirangnyane pangresep basa Bali sane ngawinang sang pangawi tembang nagingin basa tiosan sane sampun lumbrah tur ketah kānggen, lan sane

Untuk mewujudkan visi tersebut SD Dharma Putra menetapkan misi sebagai berikut (1) melaksanakan pembelajran aktif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM); (2)

Menurut imam Gampong Ruak pertama yang harus disiapkan pada pelaksanaan kenduri jirat adalah menyiapkan beras, kelapa, ikan-ikan hal ini disiapkan agar masyarakat tidak