Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 283.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
1. Kondisi Ekonomi daerah Tahun 2013 dan Perkiraan Tahun berjalan
2014
A. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kota Palopo relatif tinggi dan
juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi Kota
Palopo selama periode tahun 2011 - 2013 menunjukkan angka di atas 8
persen, bahkan ditahun 2013 telah menembus angka 9 %.
Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kota Palopo periode tahun
2011 - 2013 yakni mencapai 9,26 persen per tahun. Hal ini menandakan
bahwa kegiatan perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang
diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran
masyarakat meningkat. Kinerja tersebut mengindikasikan bahwa
perekonomian Kota Palopo dari tahun ke tahun semakin membaik.
B. Produk Demostik Regional Bruto (PDRB)
Sampai dengan tahun 2013, perekonomian Kota Palopo terus
menunjukkan perkembangan yang positif dengan indikasi perkembangan
produk demostik regional bruto (PDRB). Tercatat pada tahun 2013,
pertumbuhan hanya mencapai Rp.2,657,681.55 atau sebesar 16,62
persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 menembus angka
1,163,862.23 rupiah atau sebesar 8,16 persen, sebagaimana grafik
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 29 Sumber : * Analisis Data Bappeda Kota Palopo 2013C. Struktur Perekonomian
Ada 4 sektor pendukung utama perekonomian di Kota Palopo pada
tahun 2013 yaitu: sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan
kontribusi terhadap pembentukan PDRB sebesar 24 persen; lalu
kemudian diikuti oleh sektor Jasa sebesar 20 persen; sektor Pertanian
(15 %); dan sektor Keuangan dan Jasa Perusahaan (15 %). Disamping
itu, dua sektor lain dengan kontribusi yang cukup signifikan adalah
sektor Bangunan (12 %) dan sektor Pengangkutan dan Komunikasi
(9%).
Sumber: BPS Kota Palopo Tahun 2013
D. Pertumbuhan Menurut Sektor
Sektor keuangan serta sektor listrik, gas dan air bersih menjadi
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 30 mencapai 17,12 dan 10,97 persen. Hal ini menunjukkan adanya korelasiantara tingginya permintaan akan sektor Perdagangan dan jasa.
Sektor keuangan memberikan sumbangan sebesar 17,12 persen
terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan sektor ini sudah
berlangsung sejak tahun 2008 dan memperlihatkan trend yang stabil.
Sektor keuangan, persewaan, pertambangan dan listrik dalam 3
(tiga) tahun terakhir memperlihatkan pertumbuhan yang semakin
meningkat. Tahun 2011 sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar
15,85 persen kemudian meningkat menjadi 16,40 persen pada tahun
2012 dan tahun 2013 tetap meningkat menjadi 17,12 persen.
Peningkatan ini menandakan semakin banyaknya lembaga-lembaga
pembiayaan untuk membiayai aktivitas perekonomian masyarakat.
Sektor-sektor yang tumbuh di bawah 10 persen antara lain sektor
industri dan sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik dan
air bersih dan jasa. Sektor industri tumbuh sebesar 6,17 persen dan
sektor pertambangan tumbuh sebesar 5,59 persen pada tahun 2013.
E.PDRB Perkapita
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa PDRB per kapita Kota
Palopo terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun
2011, PDRB per kapita Kota Palopo adalah sebesar Rp. 15.291.036,-
yang berarti rata-rata pendapatan satu orang penduduk Kota Palopo
selama setahun adalah Rp. 15.291.036,- atau sebesar Rp. 1.274.253,-
per bulan. Angka ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan
PDRB perkapita Sulawesi Selatan sebesar Rp. 10,825,425,- selama
setahun atau Rp. 902,118 perbulan. Pada tahun 2012 PDRB per
kapita Kota Palopo bertambah menjadi Rp. 17.272.388, yang berarti
rata-rata pendapatan satu orang penduduk Kota Palopo selama
setahun adalah Rp. 17.272.388,- atau sebesar Rp. 1.439.366,- per
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 31 Pada tahun 2013* PDRB per kapita di Kota Palopo mengalamipeningkatan yang cukup pesat dibandingkan tahun sebelumnya. PDRB
per kapita mencapai Rp. 19,253,740,- selama setahun atau Rp.
1,604,478,- per bulan. Persentase peningkatannya hingga 15,35
persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun secara
keseluruhan, PDRB Perkapita Kota Palopo masih lebih rendah jika
dibandingkan dengan PDRB Perkapita Sulawesi Selatan.
Untuk meningkatkan pendapatan per kapita maka laju
pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan dan sebaliknya laju
pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan.Hal ini disebabkan karena
laju pertumbuhan penduduk yang cepat harus diimbangi dengan
ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
F. Tingkat Inflasi.
Inflasi dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur
kestabilan ekonomi suatu daerah.Inflasi merupakan harga yang terjadi
di masyarakat yang merupakan hasil dari interaksi antara penawaran
(supply) dan permintaan (demand) barang dan jasa yang beredar di
masyarakat sehingga perlu dipantau perkembangannya untuk
menentukan kebijakan pemerintah.Untuk memperoleh gambaran
mengenai perkembangan harga berbagai barang dan jasa yang
dikonsumsi masyarakat dari waktu-ke waktu dilakukan dengan
menghitung indeks harganya.
Perkembangan Inflasi Kota Palopo 2011 - 2013
Inflasi / Tahun
TAHUN
2011 2012 2013*
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 32G. Paritas Daya Beli
Pada tahun 2013*, kemampuan daya beli penduduk Kota Palopo
berada pada kisaran Rp. 646,770, mengalami pertumbuhan bila
dibandingkan dengan PDB Tahun 2012, yaitu Rp. 640,300 lebih besar
dari Propinsi Sulawesi Selatan yang sebesar Rp. 636,60 ribu. Angka
ini meningkat sedikit dari tahun 2010 yang berada di kisaran
Rp.634.170 ribu. Relatif lambatnya pertumbuhan kemampuan daya
beli masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu kondisi
perekonomian regional, nasional maupun global. Pada tahun 2012
dan 2013, daya beli masyarakat diharapkan tetap terus meningkat.
2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2014 dan
Tahun 2015
Di tahun mendatang, diperkirakan perkembangan ekonomi Palopo
masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan akibat pengaruh dari
dinamika internal maupun lingkungan perekonomian global yang terjadi
dalam beberapa tahun terakhir.
Beragam tantangan dimaksud perlu disikapi secara arif dan
komprehensif serta dengan langkah-langkah yang lebih nyata. Tantangan
dimaksud antara lain:
1. Pentingnya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi
daerah yang lebih berimbang, bertumpu pada optimalisasi sumber daya
lokal, terjagannya stabilitas wilayah serta adanya kemudahan perizinan.
Kondisi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi dan
menciptakan lapangan kerja sehingga dapat menurunkan tingkat
pengangguran dan kemiskinan. Dalam hal ini perlu prioritas
pengembangan pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 33 2. Meningkatnya harga-harga barang akibat naiknya Tarif Dasar Listrik,Rencana kenaikan Tarif Dasar Air minum oleh PDAM, dikhawatirkan
akan memicu inflasi sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Hal
ini harus disikapi dengan meluncurkan program-program pro rakyat,
dalam bentuk program padat karya, program pemberdayaan
masyarakat, bantuan peralatan kerja, bimbingan teknis, serta
pengawasan terhadap peredaran kebutuhan pokok masyarakat agar
hidup normal.
3. Penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif, merupakan tantangan
yang cukup besar bagi pemerintah daerah. Komitmen perbaikan iklim
investasi tersebut telah dilakukan dengan mengadakan perbaikan di
bidang peraturan perundang-undangan, pelayanan, dan
penyederhanaan prosedur termasuk penyederhanaan birokrasi melalui
terbentuknya KPT.
4. Penyediaan infrastruktur yang cukup dan berkualitas, terutama
infrastruktur jalan dan daya dukungnya, termasuk ketersediaan
pasokan listrik dan air bersih. Hal ini merupakan prasyarat agar dapat
mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan.
Ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai akan menjadi kendala
bagi masuknya investasi.
5. Peningkatan daya saing jasa dan produk, untuk mencapai peningkatan
pertumbuhan ekonomi. Tingginya pertumbuhan usaha jasa dan
industri, khususnya industri rumah tangga diperlukan tidak saja sebagai
penopang pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan juga
untuk merangsang penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan
bermutu
6. Peningkatan partisipasi swasta melalui kemitraan antara pemerintah,
masyarakat dan swasta (public-private partnership). Tantangan ini
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 34 dalam pembiayaan pembangunan, terutama terkait dengan efisiensipembiayaan investasi dan penyediaan infrastruktur yang bervariasi dan
berkualitas.
7. Membangun landasan yang kokoh bagi terciptanya pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan di masa-masa yang akan datang. Oleh
karena itu, tantangan tersebut harus dapat diatasi secara tepat dan
proporsional melalui upaya-upaya sebagai berikut:
- Meningkatkan pertumbuhan dan sekaligus pemerataan hasil
pembangunan ekonomi.
- Penanganan masalah dan dampak arus urbanisasi penduduk.
- Memantapkan kembali kinerja perekonomian dan pemberdayaan
masyarakat. Walaupun perekonomian Palopo telah menunjukkan
hasil yang cukup baik, pertumbuhan dan perkembangan
perekonomian yang telah berhasil dicapai, agar terus diikuti dengan
upaya pemberdayaan masyarakat secara lebih memadai.
- Meningkatkan pemberdayaan kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) agar mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan
perekonomian Kota, dan mampu memperbesar daya serapnya
terhadap tenaga kerja.
- Menciptakan iklim kondusif bagi perekonomian daerah, sebagai
salah satu prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi yang
berkualitas dan berkelanjutan (terpercaya, memiliki kemudahan,
dan efisien).
- Menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban, dalam upaya menjaga
kelancaran kegiatan ekonomi, transaksi bisnis, dan investasi.
- Menyediakan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai,
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian daerah
termasuk didalamnya adalah peningkatan efisiensi distribusi barang
dan jasa. Infrastruktur jalan raya perlu ditingkatkan baik volume
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 353. Arah Kebijakan Ekonomi Tahun 2015
Fokus kebijakan ekonomi makro Kota Palopo tahun 2014 - 2015
adalah pemantapan pertumbuhan ekonomi dengan tujuan utama
menciptakan kesempatan kerja, mengurangi penduduk miskin,
meningkatkan mutu pelayanan publik dan mengelola arus urbanisasi
penduduk.
Adanya situasi keterbatasan keuangan negara dalam pembiayaan
pembangunan daerah berimplikasi luas terhadap perekonomian daerah.
Pemerintah Kota Palopo dituntut mampu meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam
pengelolaan keuangan daerah.
Berkaitan dengan kondisi yang digambarkan di atas maka
usaha-usaha yang harus dilakukan dalam pemantapan ekonomi daerah yaitu:
a. menciptakan stabilitas ekonomi tahun 2015 dan menciptakan
ketenteraman dan ketertiban sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki oleh daerah.
b. Memantapkan dan terus mengevaluasi prosedur perijinan usaha.
c. menyediakan infrastruktur kota untuk menunjang pertumbuhan dan
distribusi perkembangan ekonomi daerah.
d. pemberdayaan UMKM dan masyarakat miskin dengan meningkatkan
koordinasi berbagai institusi melalui jaringan sistem keuangan mikro.
e. memperbaiki modal sosial khususnya etos kerja dalam rangka
peningkatan produktivitas kerja.
f. efisiensi alokasi sumber daya dan dana dalam perekonomian daerah.
4. Prospek Perekonomian Daerah tahun 2015
Perekonomian Kota palopo pada tahun 2015 tidak dapat dipisahkan dari
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 36 Selatan. Berdasarkan pada kondisi perekonomian tahun 2012 danperkembangan hingga tahun 2013 serta tantangan yang dihadapi pada
tahun mendatang maka prospek perekonomian pada tahun 2014
diharapkan sebagai berikut :
a. Pertumbuhan Ekonomi bertahan di atas 8%
b. Inflasi tidak mencapai 5%
c. PDRB atas Harga Berlaku mencapai Rp 2.500.000 juta
d. PDRB atas Harga Konstan Rp .1.200.000 juta
e. PDRB Perkapita mencapai Rp.17.000.000,-
f. Daya beli masyarakat mencapai Rp.700.000.-
Potensi tambahan terkait dengan PAD, dengan diterbitkannya
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah. Dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009,
khususnya Pasal 2, ayat (2) telah dijelaskan bahwa jenis Pajak Daerah
kabupaten/kota terdiri atas: (i) Pajak Hotel; (ii) Pajak Restoran; (iii) Pajak
Hiburan; (iv) Pajak Reklame; (v) Pajak Penerangan Jalan; (vi) Pajak
Mineral Bukan Logam dan Batuan; (vii) Pajak Parkir; (viii) Pajak Air Tanah;
(ix) Pajak Sarang Burung Walet; (x) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan; dan (xi) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Hal
ini memberikan pemahaman kepada daerah, bahwa daerah diberi
kewenangan dan hak untuk merancang dan mempersiapkan peraturan
daerah yang terkait dengan peraturan perundangan tersebut.
Kewenangan daerah mengenai pajak tersebut dapat dioptimalkan bagi
peningkatan PAD, khususnya pada sector hotel, restoran, tempat hiburan,
reklame, dan sebaginya
5. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Tahun 2015
Fokus kebijakan ekonomi makro Kota Palopo tahun 2014-2015
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 37 menciptakan kesempatan kerja, mengurangi penduduk miskin,meningkatkan mutu pelayanan publik dan mengelola migrasi masuk.
Adanya situasi keterbatasan keuangan negara dalam pembiayaan
pembangunan daerah berimplikasi luas terhadap perekonomian daerah.
Pemerintah Kota Palopo dituntut mampu meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam
pengelolaan keuangan daerah.
Berkaitan dengan kondisi yang digambarkan di atas maka
usaha-usaha yang harus dilakukan dalam pemantapan ekonomi daerah yaitu:
a. Tetap menciptakan stabilitas ekonomi tahun 2015 agar terjaga baik
dan ketenteraman ketertiban sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki oleh daerah.
b. Memantapkan dan terus mengevaluasi prosedur perijinan usaha.
c. Menyediakan infrastruktur kota untuk menunjang pertumbuhan dan
distribusi ekonomi daerah.
d. Pemberdayaan UMKM dan masyarakat miskin dengan meningkatkan
koordinasi berbagai institusi melalui jaringan sistem keuangan mikro.
e. Memperbaiki modal sosial khususnya etos kerja dalam rangka
peningkatan produktivitas kerja.
f. Efisiensi alokasi sumber daya dan dana dalam perekonomian daerah.
g. Melakukan stimulasi kepada usaha mikro, kecil, dan mennegah melalui
bantuan permodalan, peralatan, fasilitas kerja, dan ruang usaha.
Berdasarkan kondisi riil perekonomian Kota Palopo Tahun 2013 dan
perkiraan 2014, maka prospek perekonomian tahun 2014-2015 dapat
diuraikan sebagai berikut:
- Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diperkirakan akan tetap stabil
setelah pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan yang cukup
baik.Dengan kinerja yang tetap solid, pada tahun 2015 perekonomian
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 38 - Inflasi tahun 2014 diperkirakan lebih besar dari tahun 2013 (4,36).Hal ini disebabkan terutama oleh adanya kenaikan Tarif dasar listrik
dan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan memicu
kenaikan harga-harga barang secara umum.
- Selain itu, momentum politik, yaitu pemilu 2015 ini diperkirakan pula akan memicu peredaran uang cukup signifikan sehingga akan
berpengaruh pada harga beberapa produk. Pada tahun 2015 inflasi
diharapkan tetap normal pada kisaran 4,1 – 4,5 persen.
3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah
1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
Kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah daerah berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, yang pada dasarnya keuangan daerah meliputi komponen
pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah yang harus
dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, transparan dan bertanggung jawab
dengan tetap memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Dengan demikian,
arah kebijakan Keuangan Daerah akan diuraikan pada masing-masing
komponen Keuangan Daerah tersebut. Secara umum arah kebijakan
keuangan daerah tetap mengacu pada Ketentuan Perundangan yang berlaku
saat ini antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, maka Arah kebijakan keuangan daerah dalam RKPD Kota Palopo
pada tahun 2015 bertujuan untuk :
1. Menopang proses pembangunan daerah yang berkelanjutan sesuai
dengan visi dan misi daerah;
2. Menjamin ketersediaan pendanaan pelayanan dasar secara memadai
bagi kesejahteraan masyarakat;
3. Meminimalkan resiko fiskal sehingga dapat menjamin kesinambungan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 394. Kesinambungan anggaran dengan merujuk kepada ketentuan
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 terkait dengan batas defisit anggaran dan batas pinjaman/utang;
dan
5. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan
partisipasi masyarakat.
Kebijakan keuangan daerah juga tergantung pada capaian proyeksi
pertumbuhan ekonomi, dan realisasi investasi serta kemampuan pengeluaran
investasi oleh pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan
terus meningkat seiring dengan stabilitas politik dan keamanan baik nasional
maupun tingkat daerah. Beberapa masalah strategis pada bidang Ekonomi
Keuangan di Kota Palopo adalah (1) masih terbatasnya kemampuan daerah
dalam peningkatan PAD, (2) diperlukan revitalisasi sektor jasa, pertanian,
perkebunan dan peternakan, (3) rendahnya nilai investasi untuk mendorong
aktivitas ekonomi produktif (4) belum optimalnya pemanfaatan sektor
perikanan dan kelautan di beberapa wilayah potensial yang menjadi sektor
unggulan, (5) rendahnya kreatifitas, inovasi dan etos kerja.
Dalam upaya mewujudkan visi daerah dengan mengacu pada
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota
Palopo yaitu “Akselerasi Potensi Daerah Guna Mendukung Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat “, sumber pembiayaan perlu lebih dioptimalkan
tidak hanya melalui mobilisasi sumber pendapatan, tetapi juga melalui upaya
penggalian sumber pembiayaan antara lain dari pinjaman dan obligasi
daerah, serta dengan melakukan efisiensi dan efektifitas belanja.
Berikut ini adalah gambaran mengenai rata-rata pertumbuhan realisasi
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 40 Tabel 3.4Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2009 s.d tahun 2013
Sumber data : DPPKAD (Laporan Kuangan Kota Palopo 2009-2012 dan *)LRA TA 2013 Unaudited)
Berdasarkan pertumbuhan realisasi pendapatan, secara keseluruhan
pendapatan daerah mengalami peningkatan dengan persentase kenaikan
berfluktuatif. Secara persentase dan nominal pendapatan daerah keseluruhan
mengalami kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan selama tahun 2009 sampai
dengan 2013 sebesar 11.49%.
Berikut ini gambaran realisasi Belanja Daerah Kota palopo dari Tahun 2009
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 41 Tabel 3.4Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Tahun 2009 s.d tahun 2013
Sumber data : DPPKAD (Laporan Kuangan Kota Palopo 2009-2012 dan *)LRA TA 2013 Unaudited)
Dari tabel diatas rata-rata pertumbuhan realisasi belanja dari tahun
2009 sampai dengan 2013 sebesar 11.34%. Pertumbuhan belanja daerah
secara garis besar hampir sama dengan pertumbuhan pendapatan daerah
berkisar sekitar 11%.
2. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah
Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah diarahkan pada optimalisasi
pengelolaan pendapatan daerah melalui pelaksanaan intensifikasi dan
ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan sesuai kewenangan dan potensi
yang ada dengan memperhatikan aspek keadilan, kepentingan umum dan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 42 daerah, serta memperhatikan kinerja tahun-tahun sebelumnya. Secaraumum, arah kebijakan pendapatan daerah adalah sebagai berikut:
1. Rasionalisasi dalam penetapan target pendapatan daerah dengan
mempertimbangkan kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun
sebelumnya dan tahun berjalan dan mengevaluasi realisasi penerimaan
pendapatan tahun sebelumnya;
2. Peningkatan pendapatan daerah melalui optimalisasi pengelolaan
sumber-sumber pendapatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
tentang Pendapatan Domestik Regional Bruto. Untuk mencapai hal
tersebut Pertama dilakukan Intensifikasi meliputi peningkatan pelayanan
pajak, pembinaan sumber daya manusia dan administrasi, peningkatan
warga binaan, Sosialisasi perpajakan, dan koordinasi lintas
pemda/sektor/SKPD. Kedua dilakukan Ekstensifikasi dengan
pemberlakuan Perda, Pengembangan jenis dan obyek pajak; dan
3. Mengoptimalkan dan mendayagunakan kekayaan dan aset daerah.
Sumber Pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Dana Perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Dana perimbangan
merupakan dana transfer pemerintah kepada daerah yang terdiri dari: (1)
Bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak, (2) Dana Alokasi Umum, dan (3)
Dana Alokasi Khusus.
Berdasarkan kondisi dan kinerja ekonomi daerah dan kajian terhadap
tantangan dan prospek perekonomian daerah, maka proyeksi sumber
pendapatan daerah dituangkan pada tabel Realisasi dan Proyeksi/Target
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 43 Tabel 3.4Proyeksi/Target Pendapatan Kota Palopo Tahun 2014 s.d tahun 2016
Sumber : DPPKAD Kota Palopo (Perda APBD TA 2014) dan Bappeda (RPJMD Kota Palopo Tahun 2013-2018)
Pendapatan daerah Kota Palopo sampai dengan Tahun 2014
mengalami kenaikan setiap tahunnya, pada Tahun 2012 total realisasi
pendapatan daerah Kota Palopo mencapai Rp. 525.521.885.958,- dan tahun
2013 mencapai Rp. 604.409.930.598,- sedangkan target Pendapatan daerah
tahun 2014 diperkirakan sebesar Rp. 664.481.781.060,-. Melihat pendapatan
daerah setiap tahunnya meningkat maka diproyeksikan pendapatan daerah
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 44 atau sekitar 0,42% dari tahun sebelumnya begitupun pada tahun 2016diproyeksikan pendapatan daerah mencapai Rp. 727.111.775.272,-.
Peningkatan pendapatan daerah Kota Palopo Sangat dipengaruhi oleh
Dana Perimbangan yang memiliki persentase rata-rata sekitar 80% dari
Pendapatan Daerah Kota Palopo setiap tahunnya. Pendapatan dari dana
perimbangan sebenarnya berada di luar kendali pemerintah daerah karena
alokasi dana tersebut ditentukan oleh pemerintah pusat berdasarkan formula
yang telah ditetapkan. Fluktuasi penerimaan dari dana perimbangan sangat
tergantung dari peningkatan penerimaan negara.
Realisasi Penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah mengalami
peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2013 yaitu dari Rp. 21.473.395.222,-
menjadi Rp.51.663.729.162,-. Pada Tahun 2014 di target PAD sebesar
Rp.53.438.976.900,- nilai ini merupakan perkiraan sementara pada APBD
Tahun Anggaran 2014, peningkatan ini sebagai akibat adanya perubahan
kebijakan dari Pajak bumi dan Bangunan dimana tahun 2014 ini telah
dialihkan menjadi target PAD dan telah dilakukan intensifikasi dan
ekstensifikasi terhadap sumber pendapatan tersebut dan beberapa
sumber-sumber pendapatan asli daerah yang lainnya dengan melihat perkembangan
sampai dengan akhir semester pertama terhadap capaian target khususnya
PAD dapat melebihi dari realisasi tahun sebelumnya.
Dari Sisi Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah, masih diharapkan
dapat meningkat sebagai akibat dari beberapa perubahan kebijakan
pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi terhadap Tambahan penghasilan
guru dan Bantuan keuangan Pemerintah Provinsi yang peruntukannya sudah
ditentukan berdasarkan peraturan yang berlaku.
Dalam mengoptimalkan PAD Kota Palopo masih banyak Permasalahan
yang dihadapi sampai saat ini, mulai dari lemahnya sanksi pelanggaran
terhadap wajib pajak dan retribusi, pembatasan kewenangan pengelolaan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 45 belum optimal, sistem Waskat dan Wasdal masih lemah, Perusda/BUMDbelum maksimal sebagai penghasil PAD, serta masih kurangnya partisipasi
Swasta/BUMN dalam pembangunan daerah.
Untuk pencapaian target dan solusi permasalahan, maka Kebijakan
Umum Pengelolaan Anggaran Pendapatan Daerah diarahkan pada
peningkatan penerimaan daerah melalui:
a. meningkatkan kualitas pengelolaan pendapatan daerah melalui kegiatan
intensifikasi dan ekstensifikasi sumber pendapatan yang dilaksanakan
secara hati-hati dan bijaksana dengan memperhatikan aspek legalitas,
keadilan, kepentingan umum, karakteristik daerah dan kemampuan
masyarakat;
b. melakukan upaya penyederhanaan sistem dan prosedur pengelolaan
administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, serta meningkatkan
pengendalian dan pengawasan atas pemungutan PAD;
c. meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya
sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki, sehingga
diharapkan mampu memberikan dukungan yang optimal dalam
menunjang kebutuhan dana melalui upaya mencari potensi sumber
pendapatan daerah secara optimal berdasarkan kewenangan dan potensi
yang dimiliki dengan mengutamakan peningkatan pelayanan serta
mempertimbangkan kemampuan masyarakat; dan
d. meningkatkan koordinasi antar SKPD, Pemerintah Kota dengan
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat (Kementerian/Lembaga) dalam
rangka peningkatan pendapatan daerah.
1. Arah Kebijakan Belanja Daerah
Belanja daerah merupakan kebutuhan untuk mendukung kelancaran
pelayanan dan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 46 daerah dilakukan berdasarkan kemampuan dan kapasitas fiskal daerahkarena setiap kebutuhan belanja daerah harus didukung oleh ketersediaan
dana. Belanja daerah terdiri atas Belanja Tidak Langsung dan Belanja
Langsung. Belanja daerah terlebih dahulu diprioritaskan pada pos yang wajib
dikeluarkan, antara lain belanja pegawai, belanja bunga dan pembayaran
pokok pinjaman, belanja subsidi, belanja bagi hasil, serta belanja barang dan
jasa yang wajib dikeluarkan pada tahun yang bersangkutan, belanja hibah,
belanja sosial, dan belanja bantuan keuangan kepada Partai Politik, serta
belanja tidak terduga. Sementara Belanja Langsung terkait merupakan
belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan
program dan kegiatan untuk mencapai visi dan Misi RPJMD Kota Palopo
Tahun 2013-2018.
Alokasi belanja daerah dilakukan secara rasional dan dengan
memperhatikan aspek pemerataan agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh
lapisan masyarakat dan untuk mendorong peningkatan pelayanan publik
serta kesejahteraan masyarakat. Dengan mengedepankan prinsip efisiensi
dan efektifitas dalam penggunaan anggaran dan memperhatikan;
penerapan secara jelas tujuan dan sasaran yang akan dicapai, serta hasil dan
manfaat terkait indikator kinerja yang ditentukan dan prioritas kegiatan
dengan memperhitungkan beban kerja dan menggunakan standar harga
yang berlaku.
Alokasi Belanja Tidak Langsung pada tahun 2015 diuraikan antara lain
sebagai berikut :
1. Belanja pegawai yang pengalokasian dananya untuk gaji dan belanja
pegawai berdasarkan prestasi kerja dengan asumsi kenaikan gaji pegawai
7-10% sebagai antisipasi terhadap Kebijakan pemerintah Pusat, akres
sebesar 2,5 persen untuk KGB, tunjangan, dan mutasi, pemberian insentif
pegawai termasuk gaji ke 13 yang diberikan setiap tahunnya, Iuran Askes
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 47 non sertifikasi serta tambahan pengasilan lainnya bagi PNSD, uangrepresentasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan
tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah;
2. Belanja hibahyang diberikan kepada badan/lembaga/organisasi swasta
dan/ atau kelompok masyarakat/perorangan, sepanjang berpartisipasi
dalam penyelenggaraan pembangunan daerah;
3. Belanja subsidi untuk bantuan biaya produksi/jasa kepada
perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang
dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat;
4. Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian
bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat/yang
bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat;
5. Bantuan keuangan, dianggarkan untuk pemberian bantuan kepada
pemerintah desa/kelurahan dalam rangka pemerataan dan peningkatan
kemampuan keuangan desa/kelurahan, dan bantuan kepada partai
politik; dan
6. Belanja tidak terduga, merupakan belanja untuk mendanai tanggap
darurat, penanggulangan bencana alam dan/atau bantuan sosial serta
kebutuhan mendesak laiannya.
Sementara itu, Belanja Langsung disusun dengan
memperhitungkan kinerja yang ingin dicapai dalam rangka
penyelenggaraan otonomi, disusun baik menurut klasifikasi belanja
berdasarkan urusan wajib dan urusan pilihan daerah dan klasifikasi
menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan
keterpaduan pengelolaan keuangan negara. Oleh karena itu maka Belanja
Langsung diarahkan untuk:
1. Penyelenggaraan urusan wajib dan urusan pilihan yang diprioritaskan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 48 dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalambentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas
sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem
jaminan sosial;
2. Mendanai program dan kegiatan yang menjadi prioritas SKPD dengan
berpedoman pada standar pelayanan minimal dan pencapaian visi
dan misi daerah; dan
3. Mendanai kebutuhan infrastruktur fisik, sarana dan prasarana dasar
yang menjadi urusan daerah antara lain program dan kegiatan bidang
pendidikan, infrastruktur, kesehatan, lingkungan hidup, pertanian dan
kehutanan, kelautan dan perikanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Berdasarkan hasil analisis dan perkiraan sumber-sumber
pendapatan daerah dan realisasi serta proyeksi pendapatan daerah
dalam 5 (lima) tahun terakhir, arah kebijakan yang terkait dengan
belanja daerah, serta target penerimaan dan pengeluaran
pembiayaan, selanjutnya dituangkan dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.5
Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2014 s.d Tahun 2016
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 491. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Kebijakan penerimaan pembiayaan yang akan dilakukan terkait
dengan kebijakan pemanfaatan sisa lebih perhitungan anggaran tahun
sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan
daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan
kembali pemberian pinjaman, penerimaan piutang daerah sesuai dengan
kondisi keuangan daerah.
Kebijakan pengeluaran pembiayaan daerah mencakup
pembentukan dana cadangan, penyertaan modal (investasi) daerah yang
telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah, pembayaran pokok utang
yang jatuh tempo, pemberian pinjaman daerah kepada pemerintah
daerah lain sesuai dengan akad pinjaman.
Kebijakan pembiayaan diarahkan pada pembiayaan daerah yang
mengacu pada akurasi, efisiensi dan profitabilitas dengan strategi
sebagai berikut:
1. Jika APBD surplus, maka perlu dilakukan transfer ke persediaan kas
dalam bentuk penyertaan modal maupun sisa lebih perhitungan
anggaran berjalan;
2. Jika APBD defisit, maka perlu memanfaatkan anggaran yang berasal
dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu dan melakukan
rasionalisasi belanja; atau
3. Jika sisa lebih perhitungan anggaran tidak mencukupi untuk menutup
defisit APBD, maka dilakukan dengan dana pinjaman.
Selama ini sebagian besar penerimaan pembiayaan daerah berasal dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya. Memperhatikan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015
PEMERINTAH KOTA PALOPO
|Halaman : 50 kedepan, dan kebutuhan pembangunan darah, maka kebijakan umumpembiayaan daerah tahun 2014 adalah:
1. Menciptakan pembiayaan daerah yang aman dan tidak menggangu
stabilitas maupun kesinambungan anggaran daerah dengan memanfaatkan
SILPA dan rencana pinjaman daerah;
2. Menjadikan penyertaan modal pemeruntah daerah dalam BUMD sebagai
langkah perbaikan kinerja BUMD yang bersangkutan;
3. Menjadikan penyertaan modal (investasi) daerah sebagai upaya untuk
meningkatkan PAD; dan
4. Melihat kecenderungan keuangan daerah yang mengalami defisit, dan
target pendapatan yang belum terpenuhi, maka perlu antisipasi
pembayaran pokok utang.
Dari analisis dan perkiraan sumber-sumber penerimaan pembiayaan
daerah dan realisasi serta proyeksi penerimaan dan pengeluaran pembiayaan
daerah dalam 3 (tiga) tahun terakhir, proyeksi/target tahun rencana serta 1
(satu) tahun setelah tahun rencana dalam rangka perumusan arah kebijakan
pengelolaan pembiayaan daerah maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai
berikut:
Tabel 3.6
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2015